Selasa, 05 Agustus 2008

Menyongsong Fajar Persatuan Dunia Islam: Perspektif Ayatullah Khamenei


Oleh: Afifah Ahmad



Potret Dunia Islam

Hari ini, dunia Islam masih berduka. Pesta pembantaian umat manusia yang digelar Amerika di Irak dan Afganistan belum lagi usai, genderang perang sudah kembali ditiupkan di Gaza dan Libanon Selatan. Umat Islam, bertubi-tubi harus menanggung penderitaan yang berkepanjangan. Berdasarkan hasil penelitian OBA[1] yang dikutip Harian Sore menyebutkan selama invasi Amerika di Irak, lebih dari sejuta warga Irak tewas, empat juta kehilangan tempat tinggal sedang hampir separuhnya telah mengungsi ke negara-negara tetangga. Muslim di Palestina, tentu saja mengalami nasib yang lebih buruk, para peneliti kesulitan menentukan angka korban secara pasti. Karena setiap harinya, jumlah korban terus melonjak. Demikian pula, Afganistan dan negara-negara lainnya.

HTML clipboard
Arah politik dunia, memang sedang tidak berpihak kepada umat Islam, terutama pasca peristiwa Sebelas September. Prediksi Hungtinton dalam bukunya Who Are We? menegaskan bahwa musuh baru Amerika adalah Islam, membuat para petinggi gedung putih sibuk merancang sebuah imperium baru bernama “Imperium Americanum” Ide ini, selanjutnya mengilhami mimpi Bush tentang peta baru Timur Tengah dan ternyata menjadi mimpi buruk dunia Islam, seperti disitir Sardar.





Dalam ranah ekonomi, dunia Islam juga masih harus menanggung kegetiran. Enam dari delapan negara-negara paling miskin di dunia adalah negara-negara Islam seperti Etiopia, Afghanistan, Somalia, Nigeria, Mozambiq dan Pakistan.[2] Jika dahulu, kelaparan memaksa negara-negara miskin menerima kolonialisasi dan penjajahan dari banga asing. Maka, hari ini, negara-negara miskin telah menggadaikan kedaulatan negaranya lantaran kewajiban hutang yang bertumpuk. Padahal, pada saat yang sama, dunia Islam mewarisi tiga perempat kekayaan mineral dan minyak dunia.



Di belahan dunia Islam yang lain, umat Islam saling berhadapan hanya karena perbedaan mazhab, partai maupun organisasi. Tak jarang, kondisi ini melahirkan pertumpahan darah. Ratusan, bahkan ribuan nyawa tak berdosa telah ditumbangkan atas nama Islam. Belum lagi, ditebarnya berbagai aliran Islam menambah kekisruhan arena panggung peradaban dunia Islam.



Ayatullah Khamenei dan Perjuangan Dunia Islam

Realitas yang terjadi pada umat Islam, tentu saja menyisakkan tanda tanya besar di kepala kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di dunia Islam. Umat yang dahulu pernah menjadi imperium terbesar di dunia, menaklukan Persia dan Romawi. Umat yang pernah memimpin di berbagai bidang pengetahuan mulai dari teologi, filsafat, kimia, matematika, astronomi, kedokteran sampai obat-obatan. Bahkan, umat yang pernah mengilhami kemajuan Eropa hari ini.



Jauh hari, para cendikiawan muslim semisal Jamaluddin, Abduh dan Iqbal menangkap kekhawatiran ini dan mulai meniupkan ide persatuan Islam. Meski berbeda metode, ketiganya terilhami oleh semangat Pan Islamism yang mencuat abad ke sembilan belasan.[3] Sayangnya, perjuangan mereka belum menemukan simpulnya sampai api revolusi Islam Iran berpijar.



Bola-bola api itu lalu berhamburan ke seluruh penjuru dunia menyiratkan kebangkitan baru dunia islam. Khomeini, menjadi lokomotif dalam gerakan Islam selanjutnya. Keberaniannya menentang para tiran, mengobarkan dada para pemuda muslim di berbagai belahan dunia. Tiba-tiba, dunia dikejutkan oleh sekelompok pemuda Libanon yang mampu memukul mundur Israel. Dunia juga tercengang oleh lemparan batu para pemuda di sudut-sudut Palestina. Di belahan lain, jutaan umat Islam mulai terbuka kesadarannya.



Tetapi, jumlah itu belum sebanding dengan mayoritas muslim yang ada. Masih banyak umat yang tertidur, padahal tantangan ke depan semakin besar. Perjuangan mengangkat martabat muslim masih panjang dan api kebangkitan Islam harus terus berkorbar. Maka, setelah sang guru mangkat, kini Khamenei yang bertugas melanjutkan misi persatuan umat.



Ayatullah Khamenei, tidak kalah serius dari gurunya dalam menyerukan nilai-nilai persatuan. Beberapa tahun pra Revolusi, saat beliau diasingkan di Propinsi Baluchestan, beliau menggagas upaya persatuan bersama Almarhum Maulavi Shahdad, seorang ulama besar Khuzestan. Beliau mengirim pesan kepada almarhum untuk membahas dan merumuskan asas persatuan hakiki antara Sunni dan Syiah. Rencana itupun, akhirnya terealisir setelah revolusi.



Pasca Revolusi, Ayatullah Khamenei semakin gigih memperjuangan persatuan Islam. Beliau sendiri pernah menghadiri konferensi interasional yang dihadiri oleh negara-negara anggota Gerakan Non-Blok dan negara Islam. Saat itu, mayoritas negara tidak berani menyinggung masalah pendudukan Soviet terhadap Afganistan. Hanya pidato beliau, sebagai wakil dari Iran, yang bernada tegas mengkritik AS dan Uni Soviet.



Pada Tahun 1969 Hs, Ayatullah Khamenei memprakarsai berdirinya Majma Takrib Baina al-Mazhab al-Islamiyah, sebuah lembaga yang bertujuan melakukan pendekatan kepada berbagai kelompok Islam. Terutama, mencari titik persamaan antara kelompok Syiah dan Ahli Sunnah. Setiap tahunnya, lembaga ini mengundang berbagai tokoh agama dari berbagai aliran Islam di dunia.



Di samping kiprah tersebut, Ayatullah Khamenei dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya persatuan dunia Islam. Pada setiap musim haji, pesan persatuan tak pernah absen disampaikan kepada para jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Lebih dari itu, beliau secara khusus mencanangkan tahun ini, sebagai tahun kesatuan nasional dan persatuan Islam. Dengan menyaksikan potret dunia Islam yang terjadi saat ini, tentu saja ide tersebut menjadi sedemikian urgen.





Dari sinilah, penulis tertarik untuk mengkaji pemikiran beliau terkait dengan ide-ide persatuan Islam. Konsep persatuan dalam pandangan Ayatullah Khamenei didekati melalui qualitative approach dengan metode content analysis. Dalam hal ini, penulis akan menelaah berbagai naskah pidato serta pesan beliau yang berkenaan dengan tema persatuan, kemudian dianalisis dan diinterpretasi.[4]



Persatuan Islam: Melacak Arti dan Acuan

Secara leksikal, persatuan merupakan gabungan dari beberapa bagian.[5] Persatuan bisa memiliki dua arti, hakiki maupun metaforis. Bersatu secara hakiki adalah meleburnya dua unsur menjadi satu. Dalam realitasnya, persatuan ini mustahil untuk terwujud. Sedangkan secara metaforis, bersatu adalah perubahan dari satu unsur kepada unsur lainnya. Misalnya, perubahan air menjadi uap.



Dalam ranah politik, persatuan mengandung pengertian bersatunya dua atau lebih kelompok atau negara dengan menerima persamaan undang-undang politik, ekonomi dan keamanan.[6] Maka, persatuan Islam berarti bersatunya berbagai kelompok Islam dengan mengedepankan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.



Dalam al-Qur’an, makna persatuan dapat dilacak dalam berbagai terma, misalnya: perdamaian, saling berpegang teguh, saling tolong-menolong, saling berhubungan, persaudaraan, kasih sayang, umat yang satu dan sebagainya.[7]



Al-Qur’an menggambarkan persatuan dari berbagai sisi. Pertama, Qur’an mengisyaratkan bahwa kecenderungan untuk bersatu, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia.[8] Sejak umat pertama tercipta dan menghuni dunia, saat itu pula keinginan untuk bersatu muncul. Manusia, dengan tujuan untuk melangsungkan kehidupan serta mengurangi berbagi kesulitan, saling membantu antara satu dengan yang lainnya. Tetapi, karena berbagai faktor terjadilah pertikaian dan peperangan.



Kedua, Qur’an menjelaskan bahwa salah satu tugas kenabian adalah meluruskan perselisihan yang terjadi di tengah umat serta mengembalikannya kepada seruan Qur’an.[9] Ketiga, Qur’an menyebutkan tentang dampak dan pengaruh persatuan. Misalnya, dengan persatuan, umat Islam akan mencapai kemenangan serta kemuliaan.[10] Selain itu, masih banyak sisi-sisi lainnya yang dijelaskan dalam al-Qur’an.



Adapun riwayat yang menuturkan tentang persatuan, jumlahnya cukup banyak, baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah dengan derajat mutawatir. Misalnya, hadist yang menjelaskan bahwa suatu hari Rasul Saw bersabda: Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang satu sama lain saling membutuhkan. Pada saat itu, Nabi Saw mengisyaratkan pada jari-jarinya.[11]



Tujuan Persatuan Islam: Kejayaan Umat

Sebuah ide, gagasan atau konsep, dapat terealisasikan secara baik, jika disertai tujuan yang mulia sekaligus universal. Demikian pula gagasan persatuan Islam yang digulirkan Ayatullah Khamenei, menyiratkan tujuan yang luhur, sebagaimana ditegaskannya:



Jika kaum Muslimin saling bahu-membahu dan mengasihi, meskipun satu sama lain berbeda keyakinan, dengan syarat tidak menjadi kendaraan musuh, maka dunia Islam akan mencapai kejayaan. Pada saat itulah, Amerika dan sekutunya tidak akan berani menjejakkan kaki di negeri Muslim, mendirikan pangkalan militer apalagi mengancam umat Islam.[12]



Dalam pesan tersebut, kejayaan Islam menjadi tujuan luhur yang tentunya juga menjadi cita-cita seluruh umat muslim di dunia. Dalam pernyataan yang lain, beliau menyebutkan bahwa tujuan itu dapat tercapai, jika seluruh negara Islam bekerjasama dengan baik.[13]



Melacak Akar Perpecahan

Ayatullah Khamenei sepenuhnya menyadari bahwa fenomena yang hari ini menimpa dunia Islam, akibat perpecahan di tubuh kaum Muslimin. Dalam pandangan beliau, terdapat berbagai faktor yang memicu perpecahan umat, baik dalam konteks internal maupun eksternal.





Secara internal, sebagian umat Islam, disadari atau tidak turut menyumbangkan terjadinya perpecahan, diantaranya adalah ketidaktahuan dan kebodohan. Karena faktor itu pula, mereka mengkafirkan sesama muslim. Rahbar, dalam salah satu pernyataannya menjelaskan:



Saat ini, sebagaian kalangan, karena pemikiran yang dangkal serta berbagai alasan yang tak mendasar, menuding mayoritas kaum Muslimin sebagai musyrik, bahkan sampai menghalalkan darah. Mereka, sadar atau tidak, tengah bekerja untuk kepentingan syirik, kekufuran serta kekuatan-kekuatan zalim.[14]



Di samping kebodohan, diabaikannya nilai-nilai moral merupakan faktor lain yang melemahkan persatuan. Disusul faktor-faktor seperti pemisahan agama dan politik, adanya jarak dengan Islam sejati serta keyakinan yang tidak disertai perbuatan, menjadi penyumbang perpecahan umat berikutnya.



Pada skala eksternal, imperialisme memiliki pengaruh kuat dalam melahirkan perpecahan di dunia Islam, baik imperialisme model klasik maupun neo imperialisme. Pasca perang dunia kedua, negara-negara bekas jajahan, termasuk negara Islam, harus menelan konflik lokal yang cukup parah. Saat inipun, para penjajah terus menghembuskan perpecahan di negara-negara muslim dengan menggunakan isu etnis, mazhab maupun partai.



Ayatullah Khamenei, dalam berbagai kesempatan menyebutkan keculasan para penjajah dalam mengobarkan perseteruan di tengah umat. Beliau menyebutkan bahwa pada saat berbagai negara dan para pemimpin dunia berkonsentrasi menyerukan perdamaian, para penjajah malah berupaya keras mematahkan persatuan berbagai bangsa, terutama umat Islam.[15]



Pada kesempatan lain, Ayatullah Khamenei menjelaskan berbagai perangkap yang digunakan kaum Imperialis untuk melemahkan posisi umat Islam, sebagaimana pernyataannya:

Kekuatan penuh Barat, menggunakan berbagai cara seperti budaya, ekonomi, politik dan keamanan untuk melemahkan berbagai negara serta umat Islam. Di samping juga, melakukan pembodohan, perpecahan serta kemiskinan[16]



Merintis Jalan Persatuan: Tinjauan Holistik

Ketika menyaksikan kondisi dunia Islam yang terjadi saat ini, umat sudah sangat menantikan berbagai pencerahan. Ayatullah Khamenei, dalam berbagai pidato dan pesan yang disampaikannya dalam berbagai kesempatan, mengemukakan sejumlah format persatuan yang cukup komprehensif. Dari hasil analisis penulis, setidaknya ada empat format penting dalam merintis jalan persatuan dunia Islam.



Pertama, memperkuat basis spiritualitas. Perjalanan menuju persatuan umat, membutuhkan nafas panjang. Maka menurut Ayatullah Khamenei, setiap umat harus kembali menata pandangan dunianya masing-masing. Setiap gerakan, aksi atau rencana apapun harus mengambil inspirasi dari nilai-nilai tauhid dan kenabian.[17] Setiap umat, harus kembali memperbaiki ketakwaan serta memetik pelajaran Ahklakul karimah dari Qur’an dan sang Nabi suci.



Kedua, menyiapkan dua sarana persatuan umat, kesadaran dan kasih sayang. Menurut Ayatullah Khamenei, untuk membentuk barisan umat yang bersatu diperlukan dua sarana vital yaitu kesadaran dan kasih sayang. Umat Islam, terlebih dahulu perlu menyadari bahaya musuh yang sedang mengancam dan bersikap tegas terhadap mereka. Dalam salah satu pernyataanya, beliau menegaskan:



Seluruh umat Islam di dunia harus lebih waspada menghadapi rencana dan konspirasi musuh-musuh Islam untuk memecah belah kaum muslimin dan terjadinya konflik berdarah sesama umat. Saat ini, musuh di Irak, Palestina, Libanon dan di setiap tempat di dunia Islam sedang berusaha menyulut peperangan saudara antar sesama Muslim. Mereka mempergunakan berbagai macam isu seperti mazhab, etnis, partai politik dan lain-lainnya untuk menggerakkan kaum Muslimin agar saling berhadap-hadapan dan saling bunuh.[18]



Pada sisi lain, umat dibimbing untuk saling mengasihi sesama muslim. Karena, dengan menebar kasih pada sesama Muslim, umat akan tergiring untuk saling menghormati serta tidak saling mencaci.[19] Lebih dari itu, kasih sayang juga dapat mengurangi berbagai ketegangan di tengah umat Islam. Sehingga, agenda persatuan lainnya akan dapat terealisasikan secara baik.



Ketiga, mengoptimalkan sinergi seluruh komponen umat. Dalam pandangan Ayatullah Khamenei, untuk mewujudkan cita-cita persatuan dunia Islam, diperlukan sinergi dari seluruh komponen umat, baik dari kalangan intelektual muslim, tokoh agama, politikus, negarawan, ilmuan, maupun budayawan. Tugas para intelektual adalah mengkaji kembali berbagai isu-isu kontemporer dalam bingkai Islam seperti: hak asasi manusia, kebebasan dan demokrasi, hak-hak perempuan, diskriminasi, memerangi kemiskinan dan keterbelakangan pengetahuan serta membongkar kedok media Barat.[20] Adapun, para politikus serta negarawan di negara-negara Islam harus berani mengambil kebijakan yang bersandar pada kemandirian bangsa serta menolak segala ketergantungan pada kaum Imperialis.[21] Demikian pula, seluruh umat harus bekerja keras dalam bidangnya masing-masing.[22]



Keempat, mengusung agenda yang jelas dan berkesinambungan. Gagasan persatuan umat, harus disertai dengan berbagai agenda yang menjadi persoalan dunia Islam dewasa ini. Dalam hal ini, Ayatullah Khamenei menyiapkan sejumlah tawaran agenda bersama umat Islam. Pertama, memperjuangkan keluarnya tentara asing dari Irak dan Afganistan serta mendukung berdirinya negara yang berdaulat penuh pada kedua negara tersebut. Kedua, Melindungi nyawa, harta, kemuliaan serta kebebasan rakyat Palestina secara materi maupun moral. Ketiga, mengumandangkan syiar-syiar Islam ke seluruh penjuru dunia. Keempat, merekatkan para pemimpin Islam serta menyelesaikan perselisihan diantara mereka. Kelima, berperan aktif dalam OKI dan mengkritisi kembali kebijakan hak veto.[23] Keenam, memanfaatkan momentum hari-hari besar Islam, sebagai upaya menggalang persatuan Islam, seperti Haji, Maulid Nabi dan Asyura.



Penutup: Menyongsong Masa Depan Dunia Islam

Jika hari ini, kita masih mendengar tangisan anak-anak di Palestina, masih menyaksikan kelaparan di Mozambiq atau kita masih berduka untuk Irak, Afganistan, Pakistan dan Tanah Islam lainnya, maka esok hari kita akan menyaksikan ketumbangan kaum imperialis. Dengan optimisme dan persatuan, masa depan dunia Islam akan kembali gemilang. Selamat menyongsong masa depan Islam![]





Penulis: Mahasiswi S1, Jurusan Maarif Islam di Jamiatul Bintul Huda, Qom Republik Islam Iran



Catatan Kaki


--------------------------------------------------------------------------------

[1] ORB: Opinion Research Business, sebuah lembaga independen bersama mitranya the Independent Institute for Administration and Civil Society Studies (IIACSS) mengadakan riset di Irak antara Maret 2003-Agustus 2007. Lihat http://beritasore.com

[2] Bhai, Munnoo, Daily Times, 8 November 2003

[3] Lebih jauh dapat dilihat dalam buku Strategy Wahdat Andisye Islamy jilid 1 hal: 298

[4] Muhadjir Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (2000) hal.68-71.

[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2003

[6] Ensiklopedia Bustani juz 2 hal 440

[7] اصلحوا، واعتصموا، تعاونوا، رابطوا، اخوه، موده، امه واحده

[8] Qs. al-Baqarah :213

[9] Qs. an-Nahl : 64

[10] Qs. al-Anfal : 45-46

[11] Bukhari, bab keutamaan saling menolong kaum Mukmin hal: 87 CD

[12] Pesan Ayatullah Khamenei 11/7/1367

[13] Ibid, disampaikan pada acara Konferensi Persatuan Islam sedunia

[14] Ibid, pesan Haji 4 Dzulhijah 1428 Hq

[15] Ibid, acara pertemuan dengan sejumlah ulama, para Imam Jum’at, pengajar di seminari Ahli Sunnah asal propinsi Chestan-u Baluchestan, Khurasan dan Mazandaran, 5/10/1386

[16]Ibid, acara Kongres Haji, 19/10/84

Lihat: http://farsi.khamenei.ir/FA/Message/detail.jsp?id=841019C

[17] Lihat buku Mansyur Ittihad Milli va Insijam-e Islamy hal: 167

[18] Pesan Ayatullah Khamenei kepada umat Islam sedunia pada 24 Khordad 1386 Hs.

[19] Ibid hal: 171

[20] Pesan Ayatullah Khamenei pada para jamaah Haji, 8/11/82.

Lihat: http://farsi.khamenei.ir/FA/Message/detail.jsp?id=821108A

[21] Ibid

[22] Pesan Ayatullah Khamenei dalam Kongres Haji, 19/10/84



[23] Ibid, pesan Haji, 8/11/82.





Daftar Pustaka



Al-Qur’an

Alwi, Hasan dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2003 M

Amirardusy, Muhammad Husain, Taamul Masalah-e Wahdat islamy az Dirbaz ta Diruz, Tehran: Majma Jahani Taqrib Madzahib Islamy, 1384 Hs.

Muhadjir Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rakesarasin,2000.

Mutaqi, Ahmad, Strategy Wahdat Andisye Islamy, jilid 1, Qom: Daftar Tablighat Islamy, 1375 Hs

Sabziyan, Ali Akbar, Mansyur Ittihad Milli va Insijam-e Islamy, Qom: Intisyarat-e Khadim-e Ridha as, 1386 Hs

Sumber Internet:

http://beritasore.com

http://farsi.khamenei.ir



data diambill dari
http://islamalternatif.net/iph/content/view/155/32/

Allah dan Tuhan,



by Muhsin Labib


Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental pula. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah Kekuatan Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari kebetulan atau insiden. Manusia yang memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan Yang Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan bertujuan. Sedangkan manusia yang memandang alam sebagai akibat dari serangkaian peristiwa acak (chaos) adalah manusia yang pesimis, nihilis, absurd, dan risau akan kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat diprediksi.
Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas pentas sejarah telah memberikan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang digunakan masing-masing, kepada kausa prima alam keberadaan. Orang Persia menyebutnya Yazdan atau Khoda. Orang Inggris menyebutnya Lord atau God. Kita menyebutnya Tuhan atau Sang Hyang. Dialah Tuhan Yang Maha Sempurna. Kepercayaan pada “yang adikodrati,” merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, baik terbentuk dalam sebuah lembaga transendental yang disebut “agama” maupun tidak diagamakan. Kendati demikian, konsep dan keyakinan tentang Tuhan telah berkembang dan terpecah dalam beberapa aliran ketuhanan.

Tuhan sejak babak pertama peradaban sampai sekarang telah menjadi objek pengimanan dan penolakan. Manusia, sebelum dibagi dalam kelompok agama, bahkan sebelum dibagi dalam kelompok monoteis dan politeis, telah terbagi dalam dua aliran besar, ateisme dan teisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani atheos (tanpa Tuhan), dari a (tidak) dan Theos (Tuhan). Ia adalah aliran yang menolak adanya Tuhan Pencipta alam semesta. Dalam bahasa Arab disebut al-Ilhad.

Kata yang memberikan signifikansi Wujud Pencipta dalam al-Quran sangat banyak. Semuanya dapat dibagi dalam beberapa dimensi dan konteks.

Pertama, kata yang menunjuk Tuhan dipergunakan sebagai nama umum atau atribut universal.

Kedua, kata yang menunjuk Tuhan digunakan dalam dua bentuk sekaligus, universal dan personal.

Ketiga, kata yang menunjuk Tuhan digunakan sebagai nama umum semata.
Keempat, kata yang mengandung arti kesempurnaan dan kebaikan (Asmaul Husna). Kata “Tuhan,” misalnya, yang bila digunakan sebagai nama umum, maka huruf “t” di depannya dikecilkan (tuhan), dan bila digunakan untuk menunjuk nama khusus, maka huruf “t” di depannya dibesarkan (Tuhan). Demikian pula “God” dalam bahasa Inggris atau “Khoda” dalam bahasa Parsi. Karena itu, bila ada yang mengartikan la ilaha illallah dengan “tiada tuhan selain Tuhan” bisa ditolerir.

Kelima, kata yang menunjuk “Tuhan” digunakan sebagai nama personal (alam syakhshi) semata. Dalam bahasa Arab, kata “Allah” sebagai lafzhul jalalah (nama kebesaran) dipergunakan dan ditetapkan sebagai nama personal (alam syakhshi). Sedangkan ar-Rahman ditetapkan sebagai predikat khusus. Selain dari kata Allah (yang merupakan nama khusus) dan kata ar-Rahman (yang merupakan sifat khusus), tidak bersifat khusus.1 Itulah sebabnya, mengapa kata “rabb,” “ilah,” “khalik” digunakan untuk selain Allah, bahkan “ra’uf” dan “rahim” digunakan untuk Nabi saw, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu. Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 128).

Atas dasar itu, kata “Allah,” baik berupa kata baku (jamid) atau pun kata olahan (musytaq), ditetapkan sebagai sebuah “nama personal,” dan ia tidak mempunyai arti selain Zat Yang Adikodrati Swt. Namun, tatkala Zat Kudus tersebut tidak dapat diinderakan, maka untuk mengenali arti “Allah,” mereka menggunakan sebuah simbol yang berkonotasi secara eksklusif pada Allah seperti “Zat Yang Menghimpun sifat-sifat kesempurnaan,” bukan berarti kata “Allah” ditetapkan untuk mengartikan rangkaian pengertian-pengertian ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa pembahasan seputar materi dan bentuk kata ini tidak akan dapat membantu kita untuk memahami artinya sebagai sebuah nama personal (alam syakhshi).

Kata personal “Allah” karena oleh sebagian besar mufasir dianggap sebagai ism ma’rifah dengan alif dan lam (kata tertentu), menurut kaidah kesusasteraan, kurang tepat dikaitkan dengan sebutan panggilan “ya.” Karena itulah, bisa dipastikan kalimat “Ya Allah” (Wahai Allah) tidak terdapat dalam al-Quran.2 Kata “Ya” diganti dengan huruf mim yang di-syaddah-kan dan di-fathah-kan pada bagian akhir kata Allah, maka jadilah “Allahumma.” Kata panggilan khas ini ditemukan satu kali dalam surah Ali Imran ayat 26, satu kali dalam surah al-Maidah ayat 114, satu kali dalam surah al-Anfal ayat 32, satu kali dalam surah Yunus ayat 10, dan satu kali dalam surah az-Zumar ayat 46.3

Namun kata “Allah” menurut sebagian ulama bukanlah bentuk ma’rifah dari kata ilah. Kata ini dianggap berasal dari bahasa Ibrani yang diadaptasi ke dalam bahasa Arab. Kata ini menurut mereka juga yang berarti Zat Tuhan Yang Mahaesa. Oleh karena itu, dalam Agama Ortodoks Suriah, bahkan sekte-sekte Kristen lainnya, diyakini sebagai kata atau nama personal Tuhan Bapa.4

Dalam kitab suci al-Quran, kata yang juga memberikan signifikansi pada Allah adalah “ilah” dan “rabb.” Kata “ilah” juga digunakan dalam syahadat, la ilaha illallah. Kata “ilah” adalah bentuk kata yang mengikuti wazan “fi’al” yang berarti “maf’ul.” Ilah berarti “ma’bud” (yang disembah), seperti “kitab” yang berarti “maktub” (yang ditulis). Dengan demikian, la ilaha illallah dapat diartikan “tiada yang layak disembah selain Allah.”5

Kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia, misalnya, hampir memiliki arti yang berdekatan dengan “tuan” yang berarti “majikan” atau “pemilik,” seperti tuan rumah yang berarti pemilik rumah,6 atau kata “Hyang” yang memiliki arti berdekatan dengan “eyang’ yang berarti kakek atau nenek. Hanya saja, yang perlu diperjelas, apakah “Tuhan” menunjuk “Sang Pencipta” (Khalik) ataukah menunjuk “Yang disembah” (al-ilah, al-ma’bud). Kata “tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang lebih dekat dengan “ar-rab” dalam bahasa Arab yang berarti “Maha Pengatur.” Seandainya “Tuhan” atau “Ilah” berarti “Pencipta” (Khalik), maka syahadat la ilaha illallah berarti “tiada pencipta selain Allah.” Tentu syahadat dengan arti seperti ini tidak mengecualikan seluruh kaum Quraisy penyembah berhala dan kaum musyrik lainnya, yang sejak semula meyakini Allah sebagai Pencipta. (QS. Lukman: 25)

Dalam al-Quran, kata “Allah” disebutkan sebanyak 930 kali7 sedangkan kata “ilah” (tanpa dhamir) disebutkan sebanyak 80 kali.8

Arti “ilah” dalam rangkaian syahadat (kalimah at-tahlil) bisa berarti “al-ma’bud” atau yang disembah, dan bisa pula berarti al-ma’bud bil haq.9 Apabila arti pertama dipilih, maka setiap sesuatu yang dalam kenyataan disembah selain Allah dapat dianggap sebagai ilah. Apabila arti kedua yang dipilih, maka berarti ilah hanya bisa disandang oleh Allah, sebab al-ma’budiyah (ke-tersembah-an) merupakan derivasi dari ar-rububiyah.

Kata “rabb” dalam al-Quran disebutkan sebanyak 84 kali. Satu dalam surah al-Fatihah, satu dalam surah al-Baqarah, satu dalam surah al-Maidah, empat dalam surah al-An’am, enam dalam surah al-A’raf, satu dalam surah at-Taubah, dua dalam surah Yunus, satu dalam surah ar-Ra’d, satu dalam surah al-Isra, satu dalam surah al-Kahfi, satu dalam surah Maryam, satu dalam surah Thaha, dua dalam surah al-Anbiya, tiga dalam surah al-Mukminun, lima belas dalam surah asy-Syu’ara, empat dalam surah an-Naml, satu dalam surah al-Qashash, satu dalam surah as-Sajdah, satu dalam surah Saba, satu dalam surah Yasin, enam dalam surah ash-Shaffat, satu dalam surah Shad, satu dalam surah az-Zumar, tiga dalam surah Ghafir, satu dalam surah Fushshilat, tiga dalam surah az-Zukhruf, dua dalam surah ad-Dukhan, tiga dalam surah al-Jatsyiyah, satu dalam surah adz-Dzariyat, satu dalam surah an-Najm, dua dalam surah ar-Rahman, satu dalam surah al-Waqi’ah, satu dalam surah al-Hasyr, satu dalam surah al-Haqqah, satu dalam surah al-Ma’arij, satu dalam surah al-Muzzammil, satu dalam surah an-Naba, satu dalam surah at-Takwir, satu dalam surah al-Muthaffifin, satu dalam surah al-Quraisy, satu dalam surah al-Falaq, dan satu dalam surah an-Nas.10

Selain berupa kata personal Allah, ilah, dan rabb, Tuhan juga merupakan entitas penghimpun semua nama-nama terbaik (Asmaul Husna). Kata Asmaul Husna disebutkan empat kali dalam al-Quran, satu dalam surah al-A’raf ayat 180, satu dalam surah al-Isra ayat 110, satu dalam surah Thaha ayat 8, dan satu dalam surah al-Hasyr ayat 24.11 Dengan demikian, nama dan sifat yang memberikan signifikansi kebaikan dan kesempurnaan maksimum adalah milik Allah. Karenanya, nama dan sifat manusia berasal dari Allah sebagai Pemilik Absolut nama-nama terbaik. Dalam sebuah hadis, Nabi saw memerintahkan kita untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang menekankan tentang posesi atau kepemilikan Tuhan atas semua nama terbaik. (QS. al-Hadid [57]: 4; QS. al-A’raf [7]: 180; QS. Thaha [20]: 8; QS. al-Isra [17]: 110; dan QS. al-Hasyr [59]: 24)

الله لااله الاهو, له الاسماء الحسنى
.ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها
Menurut sebagian mufasir mutakhir, tidak ada dalil qath’i (definitif) tentang ketentuan jumlah Asmaul Husna, meskipun yang populer dalam riwayat disebutkan berjumlah 99.12 Setiap nama (ism) dalam alam keberadaan adalah sebaik-baik nama (Ahsanul Asma). Semuanya adalah milik Allah Swt. Karena itulah, jumlah nama Allah tidaklah terbatas.13

Dengan nama-nama terbaik yang banyak dan mencakup spektrum dimensi dan nilai kesempurnaan maksimal itulah, hamba-hamba-Nya berpeluang untuk berkomunikasi dengan Allah. Seorang yang papa dan dirundung kemiskinan dapat memanggil-Nya dengan nama al-Karim, ar-Raziq, dan ar-Razzaq. Seseorang yang bergelimang dosa dapat memohon ampunan-Nya dengan memanggil-Nya “al-Ghaffar.” Seseorang yang ingin mendapatkan petunjuk dapat menyeru-Nya dengan nama al-Hadi dan sebagainya.

Yang patut diketahui ialah bahwa kata asma juga dapat diartikan sebagai sifat-sifat, karena ism dalam Ilmu Sharf mencakup ismul fa’il dan ash-shifat al-musyabbahah. Menurut Allamah Thabathaba’i, Asmaul Husna adalah setiap kata yang menunjukkan arti predikatif seperti ilah, al-hayy, dan lainnya. Sedangkan kata “Allah,” adalah alam syakhshi (nama personal) atau alam adz-dzat, yang merupakan nama personal bagi Tuhan.14

Kata ism yang dikaitkan (diidhafahkan) dengan Allah dan Rabb, berjumlah 18 kali, yaitu empat dalam surah al-An’am, satu dalam surah al-Maidah, lima dalam surah al-Hajj, satu dalam surah ar-Rahman, dua dalam surah al-Waqi’ah, satu dalam surah al-Haqqah, satu dalam surah al-Muzzammil, satu dalam surah al-Insan, satu dalam surah Hud, dan satu dalam surah al-Naml. Jika Bismillâhirrahmânirrahîm dianggap sebagai pembuka dan bagian dari setiap surah, kecuali surah al-Bara’ah, maka jumlah keseluruhan ism yang kaitkan pada Allah dan Rabb berjumlah 131.15

Ismul A’zham (nama kebesaran), menurut opini masyarakat Arab, adalah ismul lafzhi yang merupakan salah satu dari asma Allah, yang bila diseru dalam doa, maka dikabulkan. Namun, anehnya, ia tidak tergolong dalam Asmaul Husna yang populer, dan tidak pula dianggap sebagai bagian dari lafzhul jalalah. Menurut mereka, Ismul A’zham terdiri atas huruf-huruf tak dikenal (huruf majhulah) dengan komposisi yang tak dikenal pula. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kata Allah dalam basmalah itulah yang dimaksud dengan Ismul A’zham.16

Asma Allah atau Asmaul Husna kadangkala dikaitkan dengan sifat-sifat Allah (shifatullah). Menurut Sayid Quthub, firman Allah itu mengandung makna bahwa manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (Asmaul Husna). Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliyah yang mengingkari nama “ar-Rahman,” selain nama “Allah.”17

Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu, tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya hadis dari Ibnu Abbas, bahwa di suatu malam Nabi saw beribadah, dan dalam bersujud beliau mengucapkan, “Ya Allah, Ya Rahman.” Ketika Abu Jahal, tokoh musyrik Mekah yang sangat memusuhi kaum beriman, mendengar tentang ucapan Nabi saw dalam sujudnya itu, ia berkata, “Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua tuhan, dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi.” Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi saw karena kaum Ahlulkitab pernah mengatakan kepada beliau, ‘Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama ar-Rahman, padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat.’”18

Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja, dan keduanya menunjuk kepada Hakikat, Zat atau Wujud yang satu dan sama. Zamakhsyari, Baidhawi dan Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama “Dia” dalam kalimat “maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik” dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama “Allah” atau “ar-Rahman,” melainkan kepada sesuatu yang dinamai, yaitu Zat (Esensi) Wujud Yang Mahamutlak itu sendiri. Sebab, suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain, tetapi kepada suatu zat atau esensi. Jadi, Zat Yang Mahaesa itulah yang bernama “Allah” dan atau “ar-Rahman” serta nama-nama terbaik lainnya, bukannya “Allah” bernama “ar-Rahman” atau “ar-Rahim.”

Jadi yang bersifat Mahaesa itu bukanlah nama-Nya, melainkan Zat atau Esensi-Nya, sebab Dia mempunyai banyak nama. Karena itu, Baidhawi menegaskan bahwa paham Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama, melainkan kepada esensi. Maka Tauhid yang benar ialah “Tawhid adz-Dzat” bukan “Tawhid al-Ism” (Tauhid Esensi, bukan Tauhid Nama).19

Pandangan ketuhanan yang sangat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Imam Ja’far Shadiq as, guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam Sejarah Islam, baik untuk kalangan Ahlusunah maupun Syiah. Dalam sebuah penuturan, ia menjelaskan nama “Allah” dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam, “Allah” (kadang-kadang dieja, “Al-lah”) berasal “ilah” dan “ilah” mengandung makna “ma’luh,” (yang disembah), dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tauhid. Engkau mengerti, wahai Hisyam?” Hisyam mengatakan lagi, “Tambahilah aku ilmu.” Imam Ja’far Shadiq as menyambung, “Bagi Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung, ada sembilan puluh sembilan nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu tuhan. Tetapi Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung adalah suatu Makna (Esensi) yang dirujuk oleh nama-nama itu, sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia…”20

Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi, dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Imam Ja’far Shadiq as itu, berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Quran memang tidak tergambarkan, dan tidak sebanding dengan apa pun. Berkenaan dengan ini, Imam Ali bin Abi Thalib ra mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita, dia mengatakan, “Allah” artinya “Yang Disembah” (al-Ma’bud), yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya’lahu) dan dicekam (yu’lahu) oleh-Nya. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan, dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran.21

Dan Imam Muhammad Baqir ra menjelaskan, “Allah” maknanya “Yang Disembah” yang agar makhluk (aliha, tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyah). Orang Arab mengatakan, ‘Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya, dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi’a) kepada sesuatu yang ia takuti atau khawatirkan.’”[]


Catatan Kaki:
1. M. Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Quran, hal. 62-63, Muassasah al-A’lami li al-Mathbu’at, 1991.

2. Dalam kaidah gramatika Arab, tidak dibenarkan seseorang memanggil dengan Ya al-‘Alim, misalnya, dengan tidak membuang alif dan lam.

3. Op.Cit., Muhammad Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, hal.96, Istanbul.

4. Summa Theologica, Ia, q. 2, a.l. Louis Leahy SJ, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 141, Pustaka Filsafat.

5. M. Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif al-Quran, vol.1, hal.26, Jami’ah Mudarrisin, Qom, 1987.

6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 963, Balai Pustaka.

7. Yaitu sebanyak 107 kali dalam QS. al-Baqarah, 116 kali dalam QS. Ali Imran, 32 kali dalam QS. an-Nisa, 38 kali dalam QS. al-Maidah, 41 kali dalam QS. al-An’am, 6 kali dalam QS. al-A’raf, 35 kali dalam QS. al-Anfal, 67 kali dalan QS. at-Taubah, 20 kali dalam QS. Yunus, 5 kali dalam QS. Hud, 28 kali dalam QS. Yusuf, 1 kali dalam QS. ar-Ra’d, 10 kali dalam QS. Ibrahim, 29 kali dalam QS. an-Nahl, 3 kali dalam QS. al-Isra, 8 kali dalam QS. al-Kahfi, 2 kali dalam QS. Maryam, 5 kali dalam QS. Thaha, 1 kali dalam QS. al-Anbiya, 15 kali dalam QS. al-Hajj, 4 kali dalam QS. al-Mukminun, 37 kali dalam QS. an-Nur, 4 kali dalam QS. ar-Furqan, 7 kali dalam QS. an-Naml, 9 kali dalam QS. al-Qashash, 13 kali dalam QS. al-Ankabut, 9 kali dalam QS. ar-Rum, 3 kali dalam QS. Lukman, 1 kali dalam QS. as-Sajdah, 34 kali dalam QS. al-Ahzab, 2 kali dalam QS. as-Saba, 7 kali dalam QS. Fathir, 2 kali dalam QS. Yasin, 4 kali dalam QS. ash-Shaffat, 1 kali dalam QS. Shad, 24 kali dalam QS. az-Zumar, 18 kali dalam QS. Ghafir, 2 kali dalam QS. Fushshilat, 19 kali dalam QS. Syura, 1 kali dalam QS. az-Zukhruf, 1 kali dalam QS. ad-Dukhan, 6 kali dalam QS. al-Jastiyaah, 1 kali dalam QS. al-Ahqaf, 15 kali dalam QS. Muhammad, 21 kali dalam QS. al-Fath, 7 kali dalam QS. al-Hujurat, 1 kali dalam QS. at-Thur, 2 kali dalam QS. an-Najm, 8 kali dalam QS. al-Hadid, 18 kali dalam QS. al-Mujadalah, 9 kali dalam QS. al-Hasyr, 9 kali dalam QS. al-Mumtahanah, 1 kali dalam QS. ash-Shaf, 4 kali dalam QS. al-Jumu’ah, 6 kali dalam QS. al-Munafiqun, 9 kali dalam QS. at-Taghabun, 8 kali dalam QS. ath-Thalaq, 8 kali dalam QS. at-Tahrim, 2 kali dalam QS. al-Mulk, 3 kali dalam QS. Nuh, 1 kali dalam QS. al-Jinn, 1 kali dalam QS. al-Muzzammil, 3 kali dalam QS. al-Muddatstsir, 2 kali dalam QS. al-Insan, 1 kali dalam QS. an-Nazi’at, 1 kali dalam QS. at-Takwir, 1 kali dalam QS. al-Insyiqaq, 2 kali dalam QS. al-Buruj, 1 kali dalam QS. al-Ghasyiyah, 1 kali dalam QS. at-Tin, 1 kali dalam QS. al-Bayyinah, dan 1 kali dalam QS. al-Ikhlas.

8. Empat kali dalam QS. al-Baqarah, lima kali dalam QS. Ali Imran, dua kali dalam QS. an-Nisa, dua kali dalam QS. al-Maidah, empat kali dalam QS. al-An’am, lima kali dalam QS. al-A’raf, dua kali dalam QS. at-Taubah, satu kali dalam QS. Yunus, empat kali dalam QS. Hud, satu kali dalam QS. ar-Ra’d, satu kali dalam QS. Ibrahim, tiga kali dalam QS. al-Nahl, satu kali dalam QS. al-Kahfi, satu kali dalam QS. Thaha, empat kali dalam QS. al-Anbiya, satu kali dalam QS. al-Hajj, lima kali dalam QS. al-Mukminun, enam kali dalam al-Nahl, enam kali dalam QS. al-Qashash, satu kali dalam QS. Fathir, satu kali dalam QS. ash-Shaffat, satu kali dalam QS. Shad, satu kali dalam QS. az-Zumar, empat kali dalam QS. Ghafir, satu kali dalam QS. Fushshilat, dua kali dalam QS. az-Zukhruf, satu kali dalam QS. ad-Dukhan, satu kali dalam QS. Muhammad, satu kali dalam QS. ath-Thur, dua kali dalam QS. al-Hasyr, satu kali dalam QS. at-Taghabun, satu kali dalam QS. al-Muzzamil, dan satu kali dalam QS. an-Nas.

9. M. Fuad Abdul-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, vol.14, hal.122, Muassasah al-A’lami li al-Mathbu’at, 1991.

10. Ibid., hal.362-365.

11. Ibid., hal.459.

12.Lihat, ad-Durrul Manstur; al-Mustadrak; Sunan Thabarani; dan Sunan Baihaqi.

13. Berdasarkan pendapat ini, jumlah Asmaul Husna yang dapat ditemukan dalam al-Quran sebanyak 127, yaitu: al-Ilah, al-Ahad, al-Awwal, al-Akhir, al-A’la, al-Akram, al-A’lam, ar-Rahman ar-Rahimin, Ahkam al-Hakimin, Ahsan al-Khaliqin, Ahl at-Taqwa, Ahl al-Maghfirah, at-Tawwab, al-Jabbar, al-Jami’, al-Hakim, al-Halim, al-Hayy, al-Haq, al-Hamîd, al-Hasîb, al-Hafîzh, al-Khafi, al-Khabir, al-Khaliq, al-Khallaq, al-Khair, Khair al-Hakimin, Khair al-Makirin, Khair ar-Raziqin, Khair al-Fashilin, Khair al-Fatihin, Khair al-Ghafirin, Khair al-Waritsin, Kahir ar-Rahimin, Khair al-Munzilin, Dzu al-‘Arsy, Dzu ath-Thaul, Dzu al-Intiqam, Dzu al-Fadhl al-Azhim, Dzu ar-Rahmah, Dzu al-Quwwah, Dzu al-Jalal wa al-Ikram, Dzu al-Ma’arij, ar-Rahman, ar-Ra’uf, ar-Rabb, ar-Rafi’ ad-Darajat, ar-Razzaq, ar-Raqib, as-Sami’, as-Salam, as-Sari’ al-Hisab, Sari’ al-‘Iqab, asy-Syahid, asy-Syakir, asy-Syakur, Syadid al-‘Iqab, Syadid al-Mihal, ash-Shamad, azh-Zhahir, al-‘Alim, al-Aziz, al-‘Afwu, al-‘Aliy, al-‘Azhim, ‘Allam al-Ghuyub, ‘Alim al-Ghayb wa asy-Syahadah, al-Ghaniy, al-Ghafur, al-Ghalib, Ghafir adz-Dzam, al-Ghaffar, Faliq al-Ishbah, Faliq al-Habb wa an-Nawa, al-Fathir, al-Fattah, al-Qawiy, al-Quddus, al-Qayyum, al-Qahir, al-Qahhar, al-Qarib, al-Qâdir, al-Qadîr, Qabil at-Tawb, al-Qa’im ‘ala Kulli Nafs bima Kasabat, al-Kabir, al-Karim, al-Kafi, al-Lathif, al-Malik, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-Mutakabbir, al-Mushawwir, al-Majîd, al-Mujib, al-Mubin, al-Mawla, al-Muhith, al-Muqit, al-Muta’al, al-Muhyi, al-Mutabayyin, al-Mutaqaddir, al-Musta’an, al-Mubdiy’, Malik al-Mulk, al-Nashîr, an-Nur, al-Wahhab, al-Wahid, al-Walîy, al-Wâliy, al-Wasiy’, al-Wakil, al-Wadud, al-Hadiy. Lihat, al-Mu’jam al-mufahras, vol.8, hal.361-363.

14. Ibid., hal.124.

15. Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, hal.459, Istanbul.

16. M.H. Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, vol.8, hal.359, Muassasah al-Alami li al-Mathbu’at, Beirut, 1991.

17. QS. al-Isra [17]: 110.

18. Sayid Quthub, Fi Zhilal al-Quran, jil.5, juz.15, hal.73, Dar asy-Syuruq, Kairo, 1987.

19. Untuk pembahasan ini, lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Baidhawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil; Zamaksyari, al-Kasysyaf; Bagdadi, Tafsir al-Khazin; dan Nasafi, Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil, dan lain-lain.

20. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib ra, menurut sebuah penuturan; [tulisan Arab].

21. Ibid.

Bagaiman Seorang Berpikir

Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

Buku ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana mestinya" dan mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana mestinya". Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al-Mu'minuun, 23:115)

Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)


Dari Harun Yahya.com

Jumat, 01 Agustus 2008

Imam Khomeini statement........

Kenapa Selalu Berpecah-belah ? Imam Khomeini


Sesungguhnya kita tidak mengetahui tujuan perpecahan dan bergolong-golongan itu. Apakah perpecahan itu tercetus karena kepentingan dunia semata-mata, atau perkara manakah yang menyebabkan Saudara berpecah-belah karena dunia? Sesungguhnya perpecahan Saudara tentang urusan keduniaan itu suatu perkara yang aneh! Ya Allah, bagaimana hal ini bisa terjadi pada Saudara yang berilmu pengetahuan dan memakai sorban?!

Sesungguhnya seorang ulama yang membayangkan hubungannya dengan Allah dibalik alam tabi’i (alam tabiat) ini, seorang alim yang terdidik di madrasah Islam, yang melalui proses pembenahan syakhsyiyyah yang kokoh, mengetahui benar-benar bahwa adalah mustahil mempunyai hasrat dan tujuan yang bersifat keduniaan serta didorong oleh keserakahan hawa nafsu. Sesungguhnya dia tidak berpikir demikian untuk menghadapi perselisihan, masalah krisis pribadi dan bergolong-golongan karena kepentingan dunia.

Wahai, dai-dai yang menyeru ke jalan Allah, yang ingin mengikuti pimpinan Amirul Mu’minin ‘Alî kw atau sekurang-kurangnya yang memperhatikan sedikit banyak sejarah hidupnya niscaya dapat melihat bahwa Saudara telah terlalu jauh dari corak kepemimpinan beliau dan perjalanaan hidup beliau. Adakah Saudara mengetahui tentang sifat zuhud, ketakwaan dan kehidupan yang sederhana serta suci itu? Adakah Saudara melaksanakan dan mengamalkan yang demikian itu? Adakah Saudara memahami tentang jihad kepemimpinan yang agung ini yang terus-menerus menentang kezaliman, thaghut, dan penindasan serta tindakan beliau membela golongan yang teraniaya (tertindas), mustadh’afin dan tersiksa? Sekiranya Saudara telah memahaminya, kenapa saudara tidak ingin melaksanakannya?

Mereka yang sedang menyalakan api kerusakan dunia sekarang ini, serta menyebarkan huru-hara dan kekacauan adalah golongan yang berlomba-lomba untuk menguasai umat manusia (berebut pengaruh). Mereka mencoba mengeruk perbendaharaan mereka dan menghisap manfaat serta mengekalkan penjajahan dan penindasan terhadap negara-negara yang lemah dan tertindas di bawah kekuasaan ekonomi mereka.

Oleh karena itu, semestinya Saudara menghadapi peperangan setiap hari dengan orang-orang yang seperti ini. Saudara harus menempa perjuangan untuk membebaskan umat manusia dari golongan mustakbirin atau para penindas dunia yang menggunakan berbagai nama atau tipu muslihat, untuk membebaskan bangsa dunia, membangunkan mereka dan mempertahankan kemerdekaan mereka, tetapi di balik slogan-slogan ini mereka memasok senjata-senjata kepada pemimpin-pemimpin bangsa manusia yang tertindas. Inilah peperangan menurut logika dan perhitungan golongan yang mengejar dunia, serta mengikuti pertimbangan mereka yang serakah. Sementara peperangan yang sedang Saudara hadapi adalah menentang dan membongkar segala perhitungan mereka.

Sesungguhnya apabila kita tanyakan kepada mereka, "Mengapa mereka tidak hanya berperang dan bertarung?" Mereka akan menjawab, "Kami menghendaki kelangsungan keamanan negara tersebut dan mengeruk kekayaan kami untuk mereka."

Akan tetapi apabila Saudara ditanya, "Mengapa Saudara tidak berperang dan bertarung menghadapi mereka?" Apakah jawaban Saudara? Sedangkan Saudara-saudara tidak mempunyai kepentingan dunia seperti mereka untuk menghadapi pertentangan ini.

Sesungguhnya kedudukan Saudara seperti seorang pembeli yang mengambil barang dari ulama Islam yang dirujuk (marja’i), sedikit sekali mengeluarkan belanja kepada golongan yang lain untuk membeli perlengkapan perang guna menghadapi para penindas itu. Oleh karena itu, kenapa kita berselisih dengan mereka, adakah saudara dapat memperhatikan ini?

Saya sempat membaca lembaran-lembaran khusus bersifat dokumen yang dikeluarkan oleh Gereja Vatikan untuk dikirimkan ke Washington. Saya temukan di dalamnya perhitungan-perhitungan musuh-musuh Islam sedemikian rupa, sebagaimana yang saya sebutkan di atas, yang memusatkan perhatian kepada pusat-pusat pengkajian kita. Lalu, adakah setelah saya beberkan ini semua, Saudara masih juga cenderung kepada kepentingan dunia?

Walhasil, segala sebab yang membawa kepada perselisihan dan perpecahan yang menghilangkan tujuan suci tertentu adalah merujuk kepada cinta dunia. Jikalau perselisihan dalam bentuk ini masih terdapat di antara Saudara, ini berarti bahwa Saudara tidak atau belum ke luar lingkaran cinta dunia yang masih bersarang di hati Saudara. Hal ini menunjukkan kepentingan duniawi yang terbatas dan telah menyebabkan perlombaan yang begitu jelek di lingkungan Saudara.

Saudara menghendaki kedudukan itu. Sedangkan pada waktu yang sama orang lain pun menghendaki kedudukan yang sama pula. Oleh karena itu, cinta dan rakus kepada dunia menguasai hati, dari keadaan yang seperti ini tidak boleh tidak, akan mendorong kepada perpecahan, hasud dan dengki.

Adapun dukungan gerakan Islam "Hizbullah" yang mengorek rasa kecintaan kepada dunia dari hati mereka dan membersihkannya dari kecenderungan yang rendah itu, tidak akan mengalami kerusakan dan musibah seperti ini. Seandainya para Nabi as. berkumpul di sebuah kota yang sama pada hari ini, maka sudah pasti tidak akan terdapat perselisihan di antara mereka dan niscaya mereka akan membentuk suatu shaf atau angkatan perjuangan seperti bangunan yang tersusun rapi (bunyânun marshûsh). Karena mereka semua mempunyai tujuan yang tunggal. Hati mereka semuanya menghadapi dan menuju kepada Allah SWT semata. Dalam waktu yang sama mereka tidak menghadapi wabah cinta dunia dan mereka tidak menyukainya.

Apabila Saudara meneliti, sesuaikah semua amal dan tindakan Saudara sekarang ini dengan apa yang dilakukan dan dilalui oleh Imam ‘Alî kw?

Ingatlah, ketika ke luar dari dunia ini, niscaya Saudara akan dapati masih jauhnya perilaku kita dari corak kepemimpinan beliau. Dan ingatlah, bahwa Saudara harus bertabiat dan kembali kepada akhlak Islam, sekiranya Saudara ingin mengikuti langkah-langkah yang mulia itu. Pikirkanlah jalan yang akan menyelamatkan saudara dari azab Allah sebelum kesempatan itu terlepas. Ketahuilah bahwa perpecahan dan sikap bergolong-golongan seperti yang disebutkan tadi amat merugikan dan terhina. Sikap seperti ini adalah perbuatan keji, bahaya dan menghancurkan.

Adakah Saudara kini terlibat dengan perselisihan itu? Adakah kelompok dan mazhab Saudara mempunyai berbagai perpecahan pula? Kenapa Saudara tidak sadar? Dan kenapa pula Saudara tidak saling ingat-mengingatkan serta tidak mewujudkan saling pengertian (kasih sayang) dan persaudaraan di kalangan Saudara? Kenapa....? Dan kenapa...?

Perpecahan ini sungguh berbahaya dan akan membawa kerusakan yang tidak dapat dielakkan lagi, akan menjadi perangkap besar pada pusat-pusat pengkajian Islam kita. Keadaan yang demikian ini telah menghapuskan kedudukan Saudara di kalangan masyarakat dan merupakan bayangan Saudara di mata umat. Tidak diragukan, kondisi semacam ini tidak sekadar membahayakan dan memelaratkan Saudara, tetapi seluruh umat Islam turut terseret ke dalam perangkap ini.

Lebih jauh lagi keadaan semacam ini membahayakan Islam itu sendiri. Alangkah sedihnya sekiranya perbedaan dan krisis yang terjadi di kalangan Saudara itu membawa bahaya kepada umat Islam. Saudara niscaya akan terjerumus ke lembah dosa yang sulit diampuni sebab ia merupakan sebesar-besar maksiat dan penentangan terhadap Allah. Hal itu merusakkan masyarakat manusia dan membuka pintu yang seluas-luasnya kepada musuh-musuh Islam untuk menguasai umat dengan berbagai tipu daya mereka.

Semoga tangan-tangan keji tidak menyelusup ke dalam pusat-pusat pengkajian kita dan menanamkan benih-benih kemunafikan, perpecahan dan kekacauan di dalamnya. Anasir-anasir jahat itu sungguh berupaya menghasilkan pemikiran-pemikiran yang rusak sehingga menjadi beban syariat bagi Saudara untuk menghadapi krisis dan perpecahan. Sehingga masing-masing golongan memandang golongan lain bertanggungjawab terhadap kerusakan dengan berdasarkan kaidah hukum syar’i.

Kondisi seperti ini memungkinkan musuh-musuh Islam menghancurkan cita-cita kita yang tunggal, yaitu membebaskan umat Islam. Ketahuilah bahwa mereka yang terdidik di pusat-pusat pengkajian Islam ini saja yang dapat menjawab persoalan ini.

Sesungguhnya menjadi kewajiban bagi Saudara untuk berhati-hati dan mengingat masalah ini, dan janganlah Saudara termasuk dalam perangkap setan, sehingga salah seorang dari Saudara berkata, "Sesungguhnya dari segi syariat Saya diminta bertanggung jawab dalam masalah ini, sementara yang lain juga mengatakan bahwa secara syariat Saya mempunyai tanggung jawab melakukan hal ini, yang bertentangan dengan pihak sebelumnya." Dengan demikian timbullah pertentangan dan pertarungan di antara kedua golongan. Dalam keadaan semacam ini, setan mengambil kesempatan untuk mengambil tanggung jawab syariat sendiri terhadap manusia dan melalaikan mereka dari tanggung jawab yang sebenarnya, dan dalam situasi yang lain hawa nafsu juga menguasai manusia.

Sesungguhnya tidak terdapat dalam hukum syara’ dan tidak pula menjadi kewajiban keagamaan, membolehkan seorang muslim menghina dan mencela muslim yang lain, atau seorang muslim memburuk-burukkan saudara muslim yang lain dalam agama. Keadaan semacam ini tidak terdapat dalam hukum syariat Islam. Malahan itu merupakan ciri-ciri kecintaan dan kerakusan terhadap dunia yang juga disebut semangat keakuan dan mementingkan diri semata-mata. Lebih jauh lagi hal ini adalah pengaruh setan yang telah menyelusup di antara kita, sehingga menimbulkan keadaan yang kacau di antara kita. Permusuhan seperti ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, sebaliknya adalah sifat ahli neraka.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni nereka." (QS. Shâd, 38:64). Neraka jahanam merupakan tempat yang layak bagi permusuhan dan pertengkaran, karena penghuni neraka saling bercakaran di antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, sekiranya saudara bertentangan di dunia pada jalan yang batil, sudah barang tentu itu merupakan gambaran perjalanan yang sama, yang dilalui oleh para penghuni neraka jahanam. Apakah saudara ingin mengambil tempat mereka?

Sebenarnya dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan akhirat tidak akan terdapat pertarungan dan perpecahan. Ahli akhirat jauh berada di puncak dan mengawasi kepentingan dunia, mereka hidup dalam suasana kasih sayang dan bersih di antara satu sama lain. Hati mereka dipenuhi dengan pancaran kasih kepada Allah semata. Oleh karena itu kecintaan kepada Allah ini menjadi sebab alamiah yang membawa kecintaan hamba-hamba Allah kepada orang-orang yang beriman. Selanjutnya kasih sayang hamba-hamba Allah itu adalah di bawah naungan kasih sayang Allah SWT.

Sesungguhnya manusia akan terdorong memasuki api neraka jahanam karena amal-amalnya yang buruk, dan jalan hidupnya yang hina. Ya, amal orang-orang yang menyeleweng akan membawa mereka ke neraka. Rasulullah Saww bersabda, bahwa: "Kami akan diberi ganjaran setelah menemui kematian dan kebinasaan. Apabila seseorang tidak melakukan sesuatu yang mendorong ia ke neraka jahanam, maka ia akan menghadapi berbagai ujian hidup, yakni melalui peringkat kehidupan yang sulit dan penuh ranjau."

Sesungguhnya menerima dunia ini sama artinya menerima neraka dan bergelimang dalam apinya. Manusia tidak akan menyadari hakikat ini sampai ia berpindah ke alam akhirat. Pada waktu ini ia masih berpindah ke alam akhirat, ia masih ditutup oleh hijab dan beberapa penutup. Setelah berpindah ke alam akhirat, ia baru akan memahami apa yang difirmankan oleh Allah: "(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambanya" (QS. Ali Imrân, 3:182).

Di sana juga mereka memahami firman Allah: "Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: Aduhai, celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan itu tertulis. dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. Al-Kahfi 18:49).

Setiap apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini dan apa yang dilahirkan, akan dapat dilihat di akhirat nanti. Mereka akan melihat dengan nyata. Allah berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya dan barangsiapa kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat juga balasannya". (QS. Al-Zalzalah, 99:7-8).

Sebenarnya setiap amal manusia dan tindakan atau perbuatannya akan dibeberkan di sana seperti film yang menggambarkan dengan nyata keadaan di dunia dan pasti dipaparkan di akhirat nanti. Tidak ada seorang pun yang dapat menafikan segala tindakannya, karena yang kita lihat di hadapan kita kelak adalah amal-amal yang kita lakukan berdasarkan bukti yang diberikan oleh anggota-anggota panca indera kita sendiri yang menjadi saksi terhadap kita. Allah berfirman: "Kulit mereka menjawab: Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai berkata (pula)". (QS. Fushshilat, 41:21).

Di sana Saudara tidak bisa mengingkari atau menafikan segala amal yang telah dilakukan. Sebab Saudara berada di hadapan Allah yang berkuasa menuturkan segala sesuatu dengan berupaya mengambil saksi dari segala sesuatu. Renungkanlah barang sejenak, bahwa Saudara akan berhadapan dengan yang mempunyai kekuasaan dan pandangan, Yang Mengetahui semua perkara. Ingatlah akibat buruk yang akan menimpa diri Anda yang lalai dan janganlah Saudara lupa terhadap azab kubur, alam barzakh serta kedahsyatan yang ada di dalamnya. Beramallah dengan seolah-olah Saudara melihat neraka jahanam.

Sesungguhnya seseorang yang melihat adanya akibat buruk itu akan mengubah corak hidupnya selama ini. Sekiranya Saudara benar-benar meyakini dengan mengakui perkara-perkara ini dan memperhatikan kehidupan saudara sendiri dengan dasar apa yang dikehendaki dan sebagaimana yang dilukiskannya, semoga dapat menjaga seluruh amal dan perbuatan dalam rangka berusaha memperbaiki dan membersihkan diri dan ruhani. []

ini adalah subuah saduran......

Menuhankan Tuhan

Sebagai hamba bertuhanlah seharusnya
Sebagai ciptaan seharusnya mengerti bahwa dicipta
Sebagai akibat semestinya menyadari sang penyebab
Sebagai wujud yang mungkin selayaknya mengabdi pada wujud wajib
Sebagai penyembah terus menatap sang sembahan
Dalam dekap keterbatasan memanggil-Mu. . .Tuhan
Disekat kebodohan merabai kerifan
Di belantara kegelapan memandang wujud wajib-Mu
Dalam kefakiran datang dan mengurai damba
Berdiri di mihrab dalam lain suci wuzu
Membentang sajadah penyesalan
seluas hati
tertunduk diam
berpeluh tangis
Lantunan kebahasaan suci dipenuhi getar
Tenggelam di aura kasih
Terguyur anugrah cinta
Tersedu-sedu suara membelah kelam sunyi
Bertata krama dengan-Mu
Mengurai keluh
Mencicipi manisnya samudra makna ayat suci
Meraup dahaga perpisahan dengan dunia
sepenuh hati berkata
Tuhan maafi kami
Tuhan Ulurkan tangan pertolongan-Mu

Zaman Sekarang Apa Masih Ada Manusia Sempurna.......?

Apakah sekarang masih ada manusia sempurna?
Untuk menjawab pertanyaan ini secara sederhana dapat kita bahas terkait sudah selesai apa belum tugas nabi Muhammad saw dalam menyampaikan ajaran islam secara menyeluruh di semua lapisan masyarakat dipenjuru dunia serta terkait ada tidaknya penerus nabi Muhammad saw, tentu penerus ini bukan sebagai seorang nabi tapi sekedar meneruskan perjuangan nabi muhammad untuk menyampaikan ajaran islam kepada seluruh ummat manusia.

Dalam sejarah bisa kita ketahui bahwa pada saat nabi wafat keadaan zaman masih sangat memprihatinkan. Sarana transportasi dan informasi sangat terbatas. Untuk melakukan perjalanan hanya ada onta, kuda, keledai, gajah dan berbagai hewan tunggangan yang lain. Secanggih-canggihnya alat informasi hanya berupa surat itupun disampaikan dengan berjalankaki. Semua kenyataan ini memberitahu kita bahwa ajaran islam pada waktu itu masih belum tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Padahal islam itu tidak hanya untuk bangsa arab saja. Kenyataan ini mengharuskan adanya seorang penerus bagi penyampaian ajaran islam sepeninggal Nabi saw. Disamping itu ajaran islam yang terangkum didalam alquran perlu dijaga dari berbagai penyimpangan sehingga sampai kepada masyarakat dengan utuh tanpa cacat. Alquran sendiri terdapat dua jenis ayat yaitu ayat yang jelas dan ayat yang tidak jelas. Masyarakat tidak akan mampu memahami dan memanfaatkan ayat yang tidak jelas sebagai lampu penunjuk jalan mereka menuju kesempurnaan tanpa adanya seorang pembimbing. Pemimpin islam itulah yang menjadi penjabar ilmu yang tersimpan dalam quran. Dan pemimpin islam ini juga manifestasi ungkapan qurani bahwa Allah Yang menurunkan quran dan Dia juga yang akan menjaganya. Jadi pemimpin ini menjadi orang yang bertugas untuk menjadi penyampai ajaran islam bagi seluruh manusia dan sebagai rujukan dalam masalah ilmu quran meneruskan apa yang sudah Nabi lakukan. Merekalah orang yang benar-benar mengahami seluk beluk tafsir alquran. Dan mereka juga harus dijamin dan dipilih oleh Zat yang telah menurunkan alquran. Kita bisa mengetahui siapa yang menjadi penerus Nabi dengan melihat jaminan yang disampaikan Allah swt serta dari ucapan Nabi Muhammad saw. Jaminan ini kami uraikan di akhir pembahasan sarat dari seorang pemimpin.

Tidak ada sedikitpun keraguan bahwa nabi Muhammad saw adalah salah satu contoh dari sosok manusia sempurna. Namun ketika ingin mengetahui siapa yang mampu mencapai derajat kepemimpinan tersebut di zaman ini tentu kita perlu menapaki beberapa uraian.
konsep ini telah dibahas oleh para pakar filsafat dengan panjang lebar sepanjang sejarah. Mulla shadra, Mawlawi Rumi, dan beberapa filusuf yang lain telah menguraikan pandangan mereka terkait manusia sempurna dalam buku-buku mereka.
Terkait ada tidaknya penerus kepemimpinan Nabi Muhammad saw di zaman ini pertama kita bahas sarat-sarat orang yang pantas untuk memimpin manusia. Sebagaimana kita ketahui bersama, Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin ummat manusia tentu beliau telah memiliki berbagai persaratan sebagai seorang pemimpin. Diantara sarat-sarat seorang pemimpin pertama, Seorang pemimpin harus memiliki ilmu yang luas, ketika ilmu pemimpin ini tidak luas dia tidak akan mampu memimpin secara sempurna ilmu yang luas disini mencakup seluruh keilmuan baik ilmu duniawi maupun ilmu ghaib(tentang akhirat dan semacamnya). Dengan ilmu ini dia bisa mengatur pemerintahan dengan sempurna, memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat, menjadi sumber rujukan dalam berbagai disiplin keilmuan, menjadi obor bagi perjalanan ruhani ummat manusia, tidak tertipu oleh berbagai tipu daya, serta berbagai hal yang membutuhkan kecakapan keilmuan.

Kedua, harus pemberani. Ketika pemimpin tidak berani dia tidak akan mampu memimpin secara adil. Untuk menegakkan keadilan di masyarakat penegak hukum harus memiliki sifat berani. Ketika keberanian pemimpin ini masih terbatasi oleh satu dua dari anggota masyarakat maka minimal dia tidak bisa berlaku adil dan tegas terhadap beberapa gelintir orang tersebut dimana secara otomatis dia juga telah zalim terhadap masyarakat yang lemah, yaitu masyarakat yang telah dizalimi oleh orang yang ditakuti pemimpin tadi. Jadi jelas seorang pemimpin harus memiliki sifat berani sehingga penegakkan keadilan di masyarakat tidak terbatasi. Ketiga, pemimpin harus zuhud. Ketika seorang pemimpin tidak zuhud (tidak cinta dunia) maka dia tidak akan bisa mengadili dengan baik, tidak akan bisa memimpin dengan adil. Hal ini bisa diumpamakan dengan seorang hakim yang mau menerima sogokan. Mungkinkah seorang hakim yang masih mau menerima sogokan bisa berlaku dengan adil? Dalam sejarah dapat kita lihat banyak sekali pemimpin negara besar yang tumbang karena mereka rakus dengan harta, wanita, kekuasaan atau berbagai keduniawian yang lain. Jadi seorang pemimpin harus zuhud karena pemimpin dalam islam dia secara otomatis juga menjadi seorang hakim bagi masyarakat. Keempat, pemimpin harus mampu menguasai hawa nafsunya. Seorang pemimpin yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya dia tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Ketika tidak bisa memimpin dirinya sendiri bagaimana bisa dia memimpin orang lain? Mengikuti hawa nafsu merupakan bibit untuk tidak zuhud terhadap dunia.


Kelima harus ikhlas, seorang pemimpin harus ikhlas dalam segala perbuatannya. Jadi semua hal yang dilakukan hanya dengan dasar keridhaan Allah swt. Jadi dia memimpin karena Allah untuk Allah dan dengan caranya Allah swt. Keenam, memiliki akhlak yang menarik. '. . .sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu" Qs (3 : 159). Secara fitrah manusia mencintai akhlak yang baik dan mulia. Mereka memiliki ketertarikan khusus kepada para pemilik akhlak mulia. Dan Nabi sendiri di puji oleh Allah swt juga karena akhlak mulia beliau " innaka la'ala khuluqin adzim" sesungguhnya padamu terdapat akhlak yang agung. Dan beliau juga menyatakan bahwa beliau diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak "inni liutammima makarimal akhlaq". Jadi seorang pemimpin islam harus memiliki akhlak yang mulia dan menarik. Sebenarnya masih ada sifat lain yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin islam namun kami cukupkan dengan beberapa sifat diatas untuk mempersingkat pembahasan.Secara sepakat kita mengatakan bahwa semua sifat itu sudah dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Sekarang untuk orang yang bertugas meneruskan misi beliau apakah bisa melakukan tugas dengan sempurna ketika tidak memiliki sifat diatas.

Penerus nabi juga bertugas sebagaimana apa yang harus nabi lakukan oleh karena itu mereka harus memiliki sifat-sifat sebagai seorang pemimpin islam. Jadi mereka juga harus memiliki sifat kepemimpinan diatas serta berbagai sifat kepemimpinan yang lain.siapakah mereka ini? Mari kita tilik bersama. Dalam surah alfatihah kita temukan bahwa kita disuruh minta petunjuk untuk sampai ke jalan yang lurus dan penjelasan jalan lurus disini juga dijelaskan sebagai jalan mereka yang mendapatkan nikmat. nikmat apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Ketika dianggap sebagai nikmat berupa hidup, sehat, apalagi nikmat makanan bukankah hewan juga mendapatkan nikmat itu. Jadi nikmat yang dimaksud disini tentu yang lain. Nikmat yang dijadikan standar bahwa orang yang mendapat nikmat itu pasti berada di jalan shirathal mustaqim. Nikmat yang dimaksud adalah nikmat mendapat ilmu alquran, ilmu yang dengannya bisa membimbing orang lain ke jalan yang lurus. Bukankah Allah juga mengatakan" Kemudian kami wariskan ilmu kitab kepada hamba kami yang terpilih" surah al fathir : 32. Dalam ayat lain juga mengatakan "Tanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak tahu "surah an nahl : 43. Hal ini juga sesuai dengan surah waqiah : 75-79 bahwa alquran yang mulia tidak dapat di sentuh (dipahami, dikenali makna menyentuh disini sesuai atau sama dengan al a'raf: 201 dan albaqarah:275) kecuali oleh mereka yang telah disucikan. Siapa yang telah disucikan itu bisa di simak pada surah al ahzab : 33. Mereka itulah ahlul bait nabi alaihimu salam. Dalam hadis juga bisa di lihat shahih turmuzi juz 2 hal 329 dan shahih muslim juz 2 bab fadhail ali bin Abi thalib. Jadi manusia sempurna itu sampai sekarang masih ada yaitu pemimpin islam yang bertugas menjaga keilmuan islam yang suci seorang pemimpin dari ahlul bait Nabi saw.
Bimillah…..
Allahumma sholli ala muhammad wa alih

Abdullah bin Saba

Abdullah bin Saba di gaung-gaungkan sebagai seorang yahudi yang telah bejasa mendesain sebuah madzhab islam.
Mungkin terdengar unik karena disini kita akan bahas dari sebuah sisi yang menelaah ulang apakah benar sang tokoh ini pernah ada dan mencicipi suap makanan di bumi atau tidak, dari beberapa peneliti mereka menyatakan bahwa Abullah Bin Saba adalah sosok fiktif yang tidak pernah ada dalam sejarah. Sekarang siapakah sebenarnya Abdullhah Bin Saba?
Berbicara tentag Abdullah Bin Saba adalah berbicara tetang sejarah, mau tidak mau kita harus mengorek kata dari berbagai sumber sejarah, walau keberadaan aqal kita tentu berperan juga dalam pembuktian kebenaran sejarah ini.

Di zaman khalifah Harun Al Rashid hidup seorang yang belakangan dikenal sebagai seorang pembohong oleh para peneliti di ilmu tarikh maupun ilmu rijal. Orang yang beruntung itu bernama Saif bin Umar Al Tamimi(meninggal 170 H) tokoh kita ini menulis dua buha buku
1. Al Futuh Wa Ar ridhah dia bercerita tentang penaklukan daerah-daerah dan perang terhadapa kaum murtad,
2. Al Jamal wa Masir A’isyah wa Ali mengenai perang jamal antara Aisyah dan Ali Bin Abi Thalib.

Diberitakan bahwa dalam buku ini sang tokoh mengobrak abrik sejarah, dia menulis nama-nama sahabat fiktif. Dalam buku itu ditemukan 150 sahabat fiktif hal ini diungkapkan oleh Murtadha al Askari(dalam Abdullah Bin saba wa Asathir Ukhra yangberarti Abdullah Bin dSaba dan dongeng –dongeng lain , Dar Az Zahra, Beirut, 1983). Ternasuk dalam kelompok sahabat fiktif yang dikarang dalam buku itu adalah Abdullah bin Saba, dalam buku itu diceritakan Abdullah bin Saba telah menciptakan sebuah ajaran yang dikenal dengan nama Syiah. Selain itu sang tokoh yang ateis ini juga memasukkan nama-nama kota dan sungai yang tidak pernah ada dalam sejarah Sangat perlu disayangkan adalah bahwa apa yang di tulis oleh Sa’if Bin Umar ini dinukil 0leh perawi yang lain tanpa mengindahakan siapa itu Sai’if Bin Umar. Untuk lebih jelas dapat dibuka juga As Syayid Al Murtadha al Askari,khamsun Wa Mi’ah Sahabi Mukhtalaq(150 sahabat fiktif ) beirut , 1968 2 jilid