Sabtu, 05 Juni 2010

Jejak Si KABAYAN (Heu.,.heuy.,.Dedeuh) Petualangan The Kabayanman



Jejak Si KABAYAN

1. kabayan mendapat ide untuk membuat konsep the city of wisdom, ini harus dimulai dengan the School of wisdom dimana sekolah harus menjadi basis utama pendidikan

hidup pendidikan untuk peradaban!



The House of Wisdom (Arabic: بيت الحكمة‎; Bait al-Hikma) was a key institution in the Translation Movement - a library and translation institute in Abbassid-era Baghdad, Iraq.[1] It is considered to have been a major intellectual center of the Islamic Golden Age. The House of Wisdom acted as a society founded by Abbasid caliphs Harun al-Rashid and his son al-Ma'mun who reigned from 813-833 CE. Based in Baghdad from the 9th to 13th centuries, many of the most learned Muslim scholars were part of this excellent research and educational institute. In the reign of al-Ma'mun, observatories were set up, and The House was an unrivalled centre for the study of humanities and for sciences, including mathematics, astronomy, medicine, chemistry, zoology and geography. Drawing on Persian, Indian and Greek texts—including those of Pythagoras, Plato, Aristotle, Hippocrates, Euclid, Plotinus, Galen, Sushruta, Charaka, Aryabhata and Brahmagupta—the scholars accumulated a great collection of knowledge in the world, and built on it through their own discoveries. Baghdad was known as the world's richest city and centre for intellectual development of the time, and had a population of over a million, the largest in its time.[2] The great scholars of the House of Wisdom included Al-Khawarizmi, the "father" of algebra, which takes its name from his book Kitab al-Jabr.

Origins

In the Abbasid Empire, translated many foreign works into Arabic and Persian , built large libraries, and welcomed scholars persecuted by the Byzantine Empire [3]. There was also an imperial library in Ctesiphon (now Al-Mada'in)[4][5], and works were also translated at the Academy of Gundishapur, during the Islamic conquest of Persia. In 750, the Abbasid dynasty replaced the Umayyad dynasty as head of the Islamic empire, and in 762, the caliph al-Mansur (reigned 754 - 775) built Baghdad and made it his capital (the previous capital being Damascus). The Abbasid dynasty had a strong Persian bent[3], and adopted many practices from the Sassanid empire - among those, that of translating foreign works, except that now works were translated into Arabic. For this purpose, al-Mansur founded a palace library, modeled after the Sassanid Imperial Library.

The House of Wisdom was originally concerned with translating and preserving Persian works, first from Pahlavi (Middle Persian), then from Syriac and eventually Greek and Sanskrit.

Works on astrology, mathematics, agriculture, medicine, and philosophy were thus translated.

The Barmakids were influential in the ensuing movement of restoring and preserving Persian culture. They are also credited with the founding of the first paper mill in Baghdad. The secret of papermaking had been obtained from Chinese prisoners taken at the Battle of Talas (751). Previously, copyists would used papyrus (which is fragile) or parchment (which is expensive). The introduction of paper thus facilitated the multiplication of books and libraries.

The concept of the library catalog was also introduced in the House of Wisdom and other medieval Islamic libraries, where books were organized into specific genres and categories.[6]

Under Al-Ma'mun

Under the sponsorship of caliph al-Ma'mun (reigned 813 - 833), it seems that the House of Wisdom took on new functions related to mathematics,and astrology. The focus also shifted from Persian to Greek texts.

At that time, the library was directed by the poet and astrologer Sahl ibn-Harun (d. 830); the other scholars associated with the library are Mohammed ibn Musa al-Khwarizmi (780 - 850), the Banu Musa brothers (Mohammed Jafar ibn Musa, Ahmad ibn Musa, and al-Hasan ibn Musa), and Yaqub ibn Ishaq al-Kindi (801 - 873).

Hunayn ibn Ishaq (809 - 873) was placed in charge of the translation work by the caliph. The most renowned translator was the Sabian Thabit ibn Qurra (826 - 901). Translations of this era were superior to earlier ones, however, soon after, the emphasis on translation work declined, as new ideas became more important.

The House of Wisdom flourished under al-Ma'mun's successors al-Mu'tasim (reign 833 - 842) and al-Wathiq (reign 842 - 847), but declined under the reign of al-Mutawakkil (reign 847 - 861), mainly because Ma'mun, Mu'tasim, and Wathiq followed the sect of Mu'tazili, while al-Mutawakkil followed orthodox Islam. He wanted to stop the spread of Greek philosophy which was one of the main tools in Mu'tazili theology.

The House of Wisdom eventually acquired a reputation as a center of learning, although universities as we know them did not yet exist at this time — transmission of knowledge was done directly from teacher to student, without any institutional surrounding. Madrasahs soon began to develop in the city from the 9th century, and in the 11th century, Nizam al-Mulk founded the Al-Nizamiyya of Baghdad, considered one of the first universities[7] and the "largest university of the Medieval world".[8]

Destruction

Along with all other libraries in Baghdad, the House of Wisdom was destroyed during the Mongol invasion of Baghdad in 1258. It was said that the waters of the Tigris ran black for six months with ink from the enormous quantities of books flung into the river.

. Other Houses of Wisdom

Some other places have also been called House of Wisdom:

  • In Hamdard University, Pakistan, a library was founded by Hakim Said in 1989. It was named as Bait Ul-Hikmah . It is considered as the second biggest library in Asia.[9]

. Notes

  1. ^ Iraq: The 'Abbasid Caliphate, Encyclopedia Britannica
  2. ^ George Modelski, World Cities: –3000 to 2000, Washington DC: FAROS 2000, 2003. ISBN 2-00309-499-4. See also Evolutionary World Politics Homepage.
  3. ^ a b Wiet. Baghdad
  4. ^ Ctesiphon
  5. ^ Ctesiphon
  6. ^ Micheau, Francoise, "The Scientific Institutions in the Medieval Near East", pp. 988-991 in (Morelon & Rashed 1996, pp. 985-1007)
  7. ^ Al-Ghazali on Repentance
  8. ^ A European Civil Project of a Documentation Center on Islam
  9. ^ http://www.ihikmah.com/about.php?id=2

. References

. External links

. See also



Konon, ada seorang raja muda yang pandai. Ia memerintahkan semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mereka segera mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan. Raja itu, yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun, berkata kepada mereka, “Saya tidak mungkin dapat membaca ribuan buku. Ringkaslah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu.”

Setelah sepuluh tahun bekerja, para mahaguru itu berhasil meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.
“Itu masih terlalu banyak,” kata sang raja. “Saya telah berusia tujuh puluh tahun. Peraslah semua kebijaksanaan itu ke dalam inti yang paling dasariah.

Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua kebijaksanaan di dunia ini ke dalam hanya satu buku.
Tapi pada waktu itu raja berbaring di tempat tidur kematiannya.
Maka pemimpin kelompok mahaguru itu memeras lagi kebijaksanaan-kebijaksanaan itu ke dalam hanya satu pernyataan, “Manusia hidup, lalu menderita, kemudian mati. Satu-satunya hal yang tetap bertahan adalah cinta.”

Rabu, 02 Juni 2010

1587 Guru Diusulkan Masuk Database

MUSI RAWAS-Ada 1587 guru honorer di lingkungan Kabupaten Mura diusulkan untuk dimasukan dalam database 2010. ke 1587 itu merupakan guru SD/SMP/SMA serta staf di Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) dan Tenaga Lapangan Dikmas (TLD) di 21 Kecamatan. 
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mura (Kadisdik-Mura), Edi Iswanto melalui Kasi Kepegawaian, Marzani menjelaskan, data tersebut merupakan rekapitulasi KUPT masing-masing kecamatan. Untuk itu pihaknya mengupayakan untuk dapat mengantarkan segera daftar usulan itu kepihak yang berhak dalam penentuan data base tersebut. “Berkas tersebut akan kami kirim ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Mura,” kata Marzani kepada wartawan koran ini di ruang kerjanya, Rabu (2/6).
Menurut Marzani, tenaga pengajar dilingkungan Kabupaten Mura saat ini mayoritas tamatan SMA dan SPG. Untuk itu di tahun ajaran 2010/2011 pihaknya mengupayakan untuk melakukan pemerataan guru. “Bagi guru yang tamatan SMA akan dialihkan ke Tata Usaha (TU). Artinya tidak diizinkan untuk mengajar kembali. Namun bagi guru tamatan SPG akan tetap mengajar, walau mereka hanya tamatan SPG, sebab kita mencari guru yang benar-benar memiliki jiwa pendidik,” jelas Marzani.
Untuk itu, jika pemerataan itu sudah dilakukan nantinya pihaknya mengharapkan tidak akan terjadi hal yang serupa dengan apa yang dialami sebelumnya, seperti banyaknya siswa yang belum berhasil pada Ujian Nasional lalu.(10)

Kemenag Sosialisasikan Peningkatan Mutu Guru RA

MUSI RAWAS-Guna meningkatkan mutu pendidikan Raudatul Atfal (RA) di Kabupaten Musi Rawas (Mura), maka Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mura, mengadakan sosilisasi guru RA tentang peningkatan mutu guru RA, Rabu (2/6).
Dalam pelaksanaan sosialisasi, juga dibahas Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Sosialisasi itu dilaksanakan di Aula Kemenag Kabupaten Mura Kelurahan Ulak Lebar Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Sedikitnya 30 guru RA di Kabupaten Mura ikuti sosialisasi tersebut.
Kapala Bidang Madarasah Pendidikan Dasar (Kabid-Mapenda) Kemenag Kabupaten Mura, Habibullah Angkasa menjelaskan, sosialisasi ini selain untuk meningkatkan mutu pendidikan, pihaknya juga mengupayakan untuk memberi perhatian khusus terhadap Ikatan Guru Raudatul Atfal (IGRA) di kabupaten Mura. “Seperti tunjangan fungsional untuk non PNS maupun PNS, selain itu juga bagi guru RA akan disetarakan dengan guru-guru yang ada MI/MTs dan MA,” kata Habibullah.
Untuk itu, pihaknya akan mengupakan bagi RA untuk mendapatkan bantuan blogren, seperti bantuan rehap sarana dan prasarana. Ditahun ini RA yang mendapatkan blogren itu baru satu RA, maka dari itu pihaknya mengupayakan untuk mendapatkan blogren lebih dari satu. Sebab menurut pantauan di lapangan RA membutuhkan lebih banyak ruangan. “Jika dilihat dari keunggulan kopetitifnya, RA jauh ketinggalan dari Taman Kanak-kanak (TK), mulai dari sarana dan prasarana hingga Sumber Daya Manusia (SDM). Akan tetapi RA harus menonjolkan keunggulan komparatif, terutama dalam menuju Mura Darussalam,” jelasnya.
Ia mengharapkan, dengan menonjolkan keunggulan komparatif, dapat memberikan ekspantasi kepada masyarakat untuk dapat memasukkan anaknya ke RA. “Dan tidak ada perbedaan antara TK dan RA. Yang membedakan TK dengan RA hanya wilayah pembinaannya saja. Saya harap guru RA dapat menjadikan pekerjaan itu sebagai pekerjaan utama. Sebab guru RA sifatnya mengabdi,” terangnya.
Dalam meningkatkan mutu lanjut Habibullah, guru RA akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan Madrasah Ibtidaiyah, seperti pembinaan dan pelatihan, seminar workshop dan sebagainya.(10)

Dua Siswa Tidak Lulus Ujian Ulangan

Mura Hanya Satu Siswa

LUBUKLINGGAU-Sedikitnya dua siswa SMK Kota Lubuklinggau dan satu siswa SMA Swasta Kabupaten Musi Rawas (Mura), dinyatakan tidak lulus ujian ulang. Ketiga siswa itu terpaksa harus mengikuti ujian paket C, Selasa (22/6) mendatang.

“Dalam pelaksanaan ujian paket C tersebut, seluruh mata pelajaran yang dinyatakan lulus harus diikuti lagi. Lain halnya dengan pelaksanaan ujian ulangan lalu,” demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Lubuklinggau, Septiana Zuraida, melalui Sekretaris Disdik Kota Lubuklinggau, Agus Sugianto, didampingi Kabid Dikmenti, Rudi Erwandi, kepada wartawan koran ini, Rabu (2/6).
Menurut Rudi Erwandi, untuk siswa SMA yang mengikuti ujian ulangan baik IPA maupun IPS lulus 100 persen, dengan jumlah peserta 195 siswa yang terdiri dari 44 pelajar SMA dan 151 pelajar SMK. Untuk siswa SMK yang tidak lulus tersebut pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Kita upayakan di tahun ajaran 2010/2011 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia itu akan lebih ditingkatkan lagi, baik dari metode pembelajaran hingga teknis pembelajaran, seperti cara penyampaian materi dan sebagainya. Hal ini juga dapat mengevaluasi guru, mengapa anak didik mereka bisa tidak lulus,” terangnya.
Kadisdik Mura, Edi Iswanto melalui Kabid Dikmenti, Toto Sunarto mengatakan, kelulusan di kabupaten sangat berbeda dengan tingkat kelulusan siswa di Kota Lubuklinggau. Untuk tingkat kelulusan di Kabupaten Mura siswa untuk jurusan IPA lulus 100 persen, dan siswa IPS ada satu orang yang tidak lulus pada ujian ulangan.
“Siswa tersebut gagal pada mata pelajaran sosiologi dengan nilai 3,80. Seandainya ia bisa menjawab dua soal lagi anak itu akan lulus, sebab nilainya kurang 0,20 untuk mencukupi standar kelulusan 4,0 dari yang ditetapkan. Sementara nilai mata pelajaran lain jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai ujian ulangan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, seperti pelajaran Bahasa Indonesia 7,60, Bahasa Inggris 7,40, Matematika 9,00 Ekonomi 8,50 dan geografi 8,20. “Sementara untuk mata pelajaran sosiologi hanya 3,80. Sebelum mengikuti ujian ulangan, nilai itu merupakan nilai tertinggi di antara nilai siswa yang mengikuti ujian ulangan. Akan tetapi setelah mengikuti ujian ulangan, nilai itu berubah menjadi yang terkecil dari hasil ujian ulangan untuk mata pelajaran sosiologi itu,” kata Toto Sunarto.
Untuk itu siswa yang tidak lulus tersebut harus mengikuti ujian paket C. “Hal itu sangat disayangkan untuk mengikuti ujian paket C, jika dilihat dari nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi dan Geografi yang tergolong besar. Mengenai SMA Nibung alhamdulillah lulus semua untuk mata pelajaran Biologi,” pungkasnya.(10)

MEMAKSIMALKAN KAMERA PONSEL






Buat anda yang hobi jepret sana jepret sini baik yang amatir atau mau ke pro, gimana caranya kamu ketika menemukan moment foto yang bagus dan yang sempat dibawa hanya kamera ponsel ?
Jangan keburu kesal sebab kamera ponsel dapat dimaksimalkan hasilnya dengan setingan resolusi besar dan pencahayaan alami yang cukup seperti contoh gambar - gambar ini.
Gambar ini diambil dengan kamera ponsel Nokia E71 dengan pemilihan sudut pengambilan yang saya rasa cukup tepat.

Selasa, 01 Juni 2010

BEM dan BGK STKIP-PGRI Kunjungi Pulau Kidak

Jalani Agenda Utama IBGK

LUBUKLINGGAU-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Lubuklinggau, bersama Bujang Gadis Kampus (BGK) STKIP-PGRI Lubuklinggau, berunjungi ke Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Kunjungan pengurus dan angota BEM, serta BGK STKIP-PGRI Lubuklinggau itu disambut Kepala Desa (Kades) Pulau Kidak, Soleh, serta tokoh masyarakat setempat, Tarsusi. Demikian dikemukakan Wakil Presiden BEM STKIP-PGRI Lubuklinggau, Syaiful Fahmi kepada koran ini, Selasa (1/6).
Dia menambahkan, kunjungan itu merupakan perjalanan yang pertama kalinya dilakukan oleh Ikatan Bujang Gadis Kampus (IBGK) STKIP-PGRI Lubuklinggau. Hal itu juga merupakan salah satu agenda utama dari organisasi IBGK yang dimoderatori wakil Presiden BEM STKIP-PGRI Lubuklinggau dan para pengurus IBGK STKIP-PGRI Lubuklinggau.
“Perjalanan itu sangat berkesan, terutama dengan penyajian panorama alam yang alami, hamparan batu, air dan hijau hutan yang terjaga selalu mengiringi perjalanan kami menuju Desa Pulau Kidak. Jalan bebatuan sempat menghalangi langkah kami menuju salah satu objek wisata yang termasyur di Kabupaten Mura, yang dapat menghilangkan rasa penat kami selama dalam perjalanan. Ini adalah salah satu bukti kongkrit yang dilakukan oleh BEM STKIP-PGRI Lubuklinggau dan IBGK STKIP-PGRI Lubuklinggau untuk ikut serta dan berpartisipasi dalam rangka memajukan objek wisata yang ada di Kabupaten Mura,” katanya.
Terutama Goa yang dikenal dengan Goa Napalicin. Goa itu merupakan Goa alami tanda-tanda kekuasan sang pencipta. Dengan pembentukan bebatuan yang alami, bunga anggrek yang indah dan tetesan air yang mengalir dari ujung-ujung batu, membuat rombongan BGK menjadi takjub dengan kekuasaan sang kholiq. “Suasana yang sunyi didalam goa membuat kami enggan beranjak dari goa tapi waktu yang membatasi mengharuskan kami untuk segera kembali ke pulau kidak,” paparnya.
Syaiful berharap melalui perjalanan ini agar menjadi suatu inspirasi bagi pemuda yang ada di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura untuk tetap berpartisipasi dalam memajukan daerah, dan mengembangkan potensi yang ada.
Selain itu, BEM STKIP-PGRI Lubuklinggau beserta IBGK STKIP-PGRI Lubuklinggau kunjungi SD Negeri dan SMP Negeri Pulau Kidak. “Disana kami disambut dengan baik oleh dewan guru dan siswa/siswi. BGK STKIP-PGRI Lubuklinggau, Aji Ornando Saputra dan Gusti Sapitri beserta rombongan memberi sedikit wejangan tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan adalah salah satu hal utama penunjang dalam perubahan masyarakat yang menuju ke-Islaman, karena dengan pendidikan yang baik maka baik pula pemahaman kita terhadap agama. Oleh karena itu motivasi anak-anak menjadi target kami untuk tetap bersekolah mencapai impian dan cita-cita mereka,” jelasnya.
Kepala SDN Pulau Kidak, Ibu Nilawati mengharapkan kepada mahasiswa khususnya STKIP-PGRI Lubuklinggau agar dapat memilih kuliah kerja nyata di daerah pulau kidak, dikarenakan belum pernah ada yang melakukan KKN di daerah itu.(10)

Keberangkatan Peserta Porprov Bakal Tertunda

LUBUKLINGGAU-Sedikitnya puluhan pelajar yang tergabung sebagai peserta Pekan Olahraga Tingkat Provinsi (Porprov) di Palembang pada Minggu (20/6) mendatang mengeluh. Pasalnya, saat pengiriman peserta Proprov bersamaan dengan pelaksanaan Ujian Umum Bersama (UUB) tingkat SD/SMP/SMA.
“Kami menginginkan kebijakan dari pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lubuklinggau untuk mengambil kebijakan dan mencari solusi untuk anak yang mengikuti Porprov tersebut. Sebab kami tidak ingin mengorbankan masa depan anak kami,” jelas Samsul S Komar Ketua Ikatan Pencak Silat (IPSI) Lubuklinggau mengatakan kepada wartawan koran ini ketika dijumpai di Dispora Lubuklinggau, Selasa (1/6).
Komar menambahkan, dari seluruh cabang olahraga (Cabor) yang akan di pertandingkan ke tingkat Provinsi, sebagian besar merupakan pelajar SMP dan SMA dilingkungan pendidikan Kota Lubuklinggau. “Untuk itu kami berharap ada dispensasi kepada anak tersebut, sebab keberangkatan anak pada ajang Porprov merupakan salah satu kompetisi yang nantinya akan mengangkat imange Kota Lubuklinggau,” harapnya.
Sedangkan, yang perlu dipertimbangkan lagi yakni untuk Cabor Pencak Silat, Karate, Tekwondo, dan Tinju. Sebab cabor tersebut pada Kamis (17/6) segera diberangkatkan ke palembang. “Keberangkatan yang itu, untuk menetralisir berat badan peserta,” ujar Samsul S Komar.(10)