Siapkah Indonesia?
Budi Rahardjo
Pusat Penelitian Antar Univeristas bidang Mikroelektronika (PPAUME)
Institut Teknologi Bandung
2000
Email: br@paume.itb.ac.id
Abstrak
Teknologi Informasi dan Internet sudah merasuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Tulisan ini membahas implikasinya dalam bidang Pendidikan, Bisnis, dan Pemerintahan baik di luar negeri maupun di Indonesia. Internet yang mendobrak batas ruang dan waktu menciptakan peluang dan juga masalah-masalah baru.
Pendahuluan
Dimana saja anda membaca, saat ini, sulit untuk menghindari dari informasi atau tulisan tentang teknologi informasi (information technology, IT ) dan Internet. Hal ini tidak saja terjadi di negara Amerika sana, akan tetapi di Indonesia juga. Surat kabar dan majalah dipenuhi dengan cerita sukes dan gagal dari individu atau perusahaan yang merangkul IT dan Internet. Tulisan singkat ini akan sedikit mengulas implikasi IT terhadap bidang Pendidikan, Bisnis, dan Pemerintahan.
Sebelum mebahas lebih lanjut, mari kita bahas dahulu apa yang dimaksud dengan IT dan Internet. Teknologi Informasi adalah sama dengan teknologi lainnya, hanya informasi merupakan komoditas yang diolah dengan teknologi tersebut. Dalam hal ini, teknologi mengandung konotasi memiliki nilai ekonomi. Teknologi pengolah informasi ini memang memiliki nilai jual, seperti contohnya teknologi database, dan security. Kesemuanya dapat dijual. Bentuk dari teknologi adalah kumpulan pengetahuan (knowledge) yang diimplementasikan dalam tumpukan kertas (stacked of papers), atau sekarang dalam bentuk CD-ROM. Tumpukan kertas inilah yang anda dapatkan jika anda membeli sebuah teknologi dalam bentuk patent atau bentuk HaKI (Intellectual Property Rights) lainnya.
Apa memang benar “informasi” merupakan sebuah komoditas? Jawaban singkat adalah ya. Sebagai contoh, jika anda mengetahui bahwa besok nilai tukar rupiah akan jatuh dengan drastis, maka anda akan bergegas ke bank untuk menukarkan rupiah anda dengan dollar. Demikian pula jika anda mengetahui bahwa akan terjadi sebuah demonstrasi di daerah tertentu, maka anda akan menghindari daerah tersebut. Contoh-contoh di atas menujukkan bahwa informasi telah menjadi komoditas yang berharga. Itulah sebabnya kita memiliki surat kabar, majalah, tabloid dan sekarang situs web yang berubah secara cepat seperti Detik.com , Astaga! , satunet , dan masih banyak situs web lainnya. Kesemuannya mengandalkan informasi sebagai komoditas.
Implikasi IT dan Internet
Di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat, IT dan Internet sudah betul-betul merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai hal dapat kita lihat implikasinya. Berbagai dokumen dapat kita baca untuk melihat hal ini. Tulisan ini hanya membahas implikasi dalam bidang Pendidikan, Bisnis, dan Pemerintahan saja.
Implikasi di bidang Pendidikan
Sejarah IT dan Internet tidak dapat dilepaskan dari bidang pendidikan. Internet di Amerika mulai tumbuh dari lingkungan akademis (NSFNET), seperti diceritakan dalam buku “Nerds 2.0.1”. Demikian pula Internet di Indonesia mulai tumbuh dilingkungan akademis (di UI dan ITB), meskipun cerita yang seru justru muncul di bidang bisnis. Mungkin perlu diperbanyak cerita tentang manfaat Internet bagi bidang pendidikan.
Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi malasah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?.) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Mekanisme akses perpustakaan dapat dilakukan dengan menggunakan program khusus (biasanya menggunakan standar Z39.50, seperti WAIS ), aplikasi telnet (seperti pada aplikasi hytelnet ) atau melalui web browser (Netscape dan Internet Explorer). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.
Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Irian dapat berdiskusi masalah kedokteran dengan seoran pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
Sharring information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.
Distance learning dan virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Bahkan tak kurang pakar ekonomi Peter Drucker mengatakan bahwa “Triggered by the Internet, continuing adult education may wll become our greatest growth industry”. (Lihat artikel majalah Forbes 15 Mei 2000.) Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja.
Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia:
• Akses ke perpustakaan;
• Akses ke pakar;
• Menyediakan fasilitas kerjasama.
Inisiaif-inisiatif penggunaan IT dan Internet di bidang pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sedang giat kami lakukan adalah program “Sekolah 2000”, dimana ditargetkan sejumlah sekolah (khususnya SMU dan SMK) terhubung ke Internet pada tahun 2000 ini. (Informasi mengenai program Sekolah 2000 ini dapat diperoleh dari situs Sekolah 2000 di http://www.sekolah2000.or.id) Inisiatif seperti ini perlu mendapat dukungan dari kita semua. Ingat, ini masa depan anak cucu kita semua.
Implikasi di Bidang Bisnis
Berita atau informasi manfaat IT dan Internet di bidang bisnis nampaknya sudah sedemikian banyak sehingga jika dituliskan akan menjadi sebuah buku. Perlu diingat bahwa IT dapat dijadikan produk atau dapat digunakan sebagai alat (tools). Jadi sebuah perusahaan dapat menghasilkan produk IT atau dapat menggunakan IT untuk menghasilkan produk atau layanannya. Untuk yang terakhir ini, IT dijadikan sebagai tools, bukan sebagai end product.
Adanya Internet mendobrak batasan ruang dan waktu. Sebuah perusahaan di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pasar Amerika dibandingkan dengan perusahaan di Eropa, atau bahkan dengan perusahaan di Amerika. Dahulu hal ini mungkin akan sulit dilakukan karena perusahaan lokal akan memiliki akses yang lebih mudah kepada pasar lokalnya. Perlu diingat, hal yang sebaliknya (perusahaan luar mengakses pasar Indonesia) dapat juga dilakukan dengan mudah. Jika hal ini tidak mendapat perhatian, maka pasar dalam negeri kita akan dijarah oleh perusahaan asing.
IT dan Internet dipercaya menjadi salah satu penopang ekonomi Amerika Serikat. Demikian percayanya mereka kepada hal ini sehingga pemerintah Amerika sangat bersungguh-sungguh untuk menjaga dominasi mereka dalam hal ini. Berbagai inisiatif dilaksanakan oleh pemerintah Amerika Serikat seperti dapat dilihat pada dokumen-dokumen yang dapat diperoleh di Web site mereka:
• “Digital Economy 2000” (diperoleh dari http://www.ecommerce.gov)
Ekonomi yang berbasis kepada IT dan Internet ini bahkan memiliki nama sendiri: New Digital Networked Economy. Dalam ekonomi baru ini banyak kaidah ekonomi lama (old economy) yang dijungkirbalikkan. Pasar modal seperti NASDAQ yang didominasi oleh saham perusahaan yang berbasis teknologi ramai diburu dan dimonitor oleh pelaku bisnis. Saham-saham perusahaan teknologi, terutama yang berbasis IT dan Internet, dicari-cari oleh orang meskipun perusahaan tersebut masih dalam keadaan merugi. Ini berbeda dengan kaidah old economy. Apakah ini sehat atau tidak, banyak sudah kajian tentang hal ini. Ada yang mengatakannya sebagai bubble economy [Lihat refrensi “Internet Bubble”]. Point yang ingin disampaikan adalah ini ekonomi baru yang mesti kita simak dan kaji dengan seksama.
Di dalam industri software telah terjadi sebuah perubahan filosofi. Source code program yang semula dijaga kerahasiaannya sekarang dibuka dan dapat dibaca oleh siapa saja. Bagaimana perusahaan bisa menjual produk softwarenya? Perubahan filosofi ini dituangkan dalam sebuah model yang disebut model “Bazaar” dengan implementasi yang disebut “open source”. Contoh keberhasilan pendekatan ini adalah adanya operating system Linux yang gratis dan perusahaan Redhat yang mengkomersialkan produk Linux tersebut. (Diskusi lengkap mengenai filosofi ini dapat dilihat pada buku Eric Raymond, pada bagian “bahan bacaan”.)
Hilangnya batasan ruang dan waktu dengan adanya Internet membuka peluang baru untuk melakukan pekerjaan dari jarak jauh. Istilah teleworker atau teleworking mulai muncul. Seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dari rumah tanpa perlu pusing dengan masalah lalulintas.
Kesemua hal di atas menunjukkan adanya peluang-peluang baru di dalam bisnis dengan adanya IT dan Internet.
Di Indonesia ada berbagai inisiatif untuk menumbuhkan bisnis dan industri IT & Internet seperti program Nusantara 21, program Telematikan Indonesia, dan program Bandung High-Tech Valley (BHTV) . Kesemuanya ini diharapkan dapat memacu Indonesia sehingga tidak tertinggal di dalam dunia IT dan Internet.
Implikasi di Bidang Pemerintahan
Implikasi IT dan Internet kepada bidang Pemerintahan agar kurang banyak dibahas, meskipun istilah e-government sering muncul dalam tulisan dan pemberitaan. IT dan Internet memaksa pemerintah untuk menjalankan pemerintahan dengan transparan. Pejabat-pejabat harus dapat dihubungi melalaui e-mail. Birokrasi untuk melakukan pelaporan dapat dikikis dengan menggunakan Internet.
Aplikasi IT yang berhubungan dengan pemerintahaan adalah aplikasi yang dapat mendekatkan pejabat dengan rakyatnya. Town house meeting dapat dilaksanakan melalui teleconferencing. Demonstrasi dari mahasiswa dan rakyat dapat dikurangi atau bahkan dihindari bila mereka dapat melakukan dialog (baik secara tatap mata maupun secara elektronik) dengan para pejabat. Mengapa tidak menggunakan teleconferencing dimana rakyat langsung dapat menghadap dan berdialog dengan pejabat, meskipun letak fisik diantara keduanya cukup jauh?
Di Indonesia, IT sebetulnya sudah lama digunakan di bidang pemerintahaan. Penggunaan Internet juga sudah dimulai dengan adanya aplikasi “RI-NET” sebagai salah satu aplikasi pemacu program Telematika Indonesia. Aplikasi RI-NET ini memberikan akses email kepada para pejabat, memberikan layanan web (homepage) yang dapat diakses di http://www.ri.go.id, memberikan layanan pertukaran informasi multimedia, dan di kemudian hari akan memiliki aplikasi Decission Support System.
Salah satu contoh aplikasi lain adalah penggunaan web untuk menampilkan hasil pemilu yang baru lalu. Pengguna Internet di mana saja dapat melihat hasil pemilu secara on-line dan real-time di http://www.kpu.go.id dan http://www.hasilpemilu99.or.id. Hal ini memberikan keterbukaan (transparansi) pada proses pemilu. Hasilnya dapat kita lihat bahwa tidak banyak orang yang mengeluhkan masalah hasil pemilu yang baru lalu.
Penutup
Tulisan yang singkat ini semoga dapat memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca sekalian, bahwa IT dan Internet sudah tidak dapat kita hindari. Bahkan, semestinya IT dan Internet kita gunakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia.
Kendala di Indonesia
Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin.
Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan infrastruktur telekomunikasi. Jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal. Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah.
Penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Penggunaan Internet devices lain seperti Internet TV diharapkan dapat menolong. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.
Isi atau content yang berbahasa Indonesia masih langka. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius. Perlu kita upayakan kegiatan-kegiatan atau inisiatif untuk memperkaya materi yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia. Proses ini harus dilakukan secara sadar dan proaktif.
Implikasi di bidang lain
IT dan Internet juga dapat mengubah kultur kita sehari-hari. Dahulu orang dapat bekerja dengan santai. Sekarang dengan adanya Internet, persaingan menjadi global sehingga orang ditantang untuk menghadapi saingan global. Tadinya orang berfikir bahwa adanya komputer (dan Internet) dapat membuat pekerjaan kita menjadi lebih mudah dan santai. Akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Kita bekerja lebih lama, bahkan pekerjaan sering dibawa ke rumah. Kalau dulu ada istilah “working 9 to 5” (bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore), maka sekarang kita bekerja “5 to 9” (mulai dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam). Tentu hal ini akan berimplikasi kepada kehidupan kita, seperti kehidupan rumah tangga. Contoh di Silicon Valley menunjukkan banyaknya rumah tangga yang pecah dan juga banyaknya pekerja yang tetap single. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, siapkah kita menghadapi kehidupan seperti ini?
Bahan Bacaan
1. Stephen Segaller, “Nerds 2.0.1: A brief history of the Internet”, TV Books, L.L.C., 1998. Buku ini menceritakan awal kejadian Internet beserta tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
2. James W. Michaels and Dirk Smillie, “Webucation: Some smart investors are betting big bucks that Peter Drucker is right about the brilliant future of online adult education,” Forbes, 15 Mei 2000.
3. United States Government Electronic Commerce Policy
http://www.ecommerce.gov
Situs web ini berisi informasi tentang electonic commerce, lengkap dengan dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat.
4. Anthony B. Perkins, dan Michael C. Perkins, “The Internet Bubble: Inside the overvalued world of high-tech stocks – and what you need to know to avoid the coming shakeout”, HarperBusiness, 1999. Buku ini menceritakan tentang saham Internet dan IT yang menjadi rebutan sehingga mahal harganya.
5. Eric S. Raymond, “The Cathedral and the Bazaar: Musings on Linux and Open Source by an Accidental Revolutionary”, O’Reilly & Associates, Inc., 1999. Buku ini bercerita tentang konsep open source dan menjelaskan kesuksesan Linux.
Rabu, 01 September 2010
PEMBERDAYAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DATA UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN
oleh:
Rhiza S. Sadjad
rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/
PENDAHULUAN
Era berikutnya yang akan dilalui oleh perjalanan sejarah peradaban manusia di muka bumi ini adalah era informasi, setelah berlalunya era pertanian dan era industri pada masa-masa sebelumnya. Berbagai ciri era baru ini telah dikemukakan oleh para pakar; antara lain misalnya oleh Rogers [1986], yang memberikan indikasi berupa terwujudnya suatu “masyarakat informasi” yaitu masyarakat yang sebagian besar anggotanya berfung-
1800-
1820 1820-
1840 1840-
1860 1860-
1880 1880-
1900 1900-
1920 1920-
1940 1940-
1960 1960-
1980
Gambar 1
Perubahan komposisi angkatan kerja di Amerika Serikat 1800-1980
(Sumber: Everett M. Rogers, [1986], “Communication Technology”, hal. 11)
si sebagai pekerja informasi (lihat gambar 1). Lebih lanjut Rogers mendefinisikan pekerja informasi sebagai : “ .........individuals whose main activity is producing, processing, or distributing information, and producing information technology. Typical information worker occupations are teachers, scientists, newspaper reporters, computer programmers, consultants, secretaries, and managers. These individuals write, teach, sell advice, give orders, and otherwise deal in information.” Penulis ingin menggaris-bawahi, bahwa menurut Rogers sebagaimana diuraikan di atas, salah satu jenis profesi penting dalam era informasi adalah profesi guru, yang pekerjaan utamanya adalah mengajar. Pada bagian lain dari bukunya, Rogers menyebutkan bahwa lembaga sosial kunci dalam masyarakat informasi adalah research university, yang punya peranan sentral dalam masyarakat sebagaimana pabrik baja dalam masyarakat industri dan sawah-ladang dalam masyarakat pertanian . Dengan ini penulis ingin memperlihatkan betapa pentingnya peranan sistem pendidikan (universitas, guru, aktivitas mengajar, semua ini merupakan bagian-bagian penting sistem pendidikan) pada era informasi mendatang.
Satuan dasar informasi adalah bit . Data yang dikirim dan diterima melalui saluran-saluran komunikasi dalam sistem komunikasi data tersusun dari bit-bit digital. Dalam era informasi, sistem komunikasi data adalah sarana penunjang utama untuk sistem distribusi informasi, sebagaimana sistem transportasi merupakan sarana penunjang utama dalam sistem distribusi produk industri dalam era industri dan era pertanian sebelumnya.
Makalah ini berupaya mendiskusikan bagaimana kiranya hubungan semua ini, khususnya sistem pendidikan dan sistem komunikasi data, dalam era terbentuknya masyarakat informasi pada masa mendatang.
SISTEM PENDIDIKAN
Titik sentral semua sistem pendidikan, baik pendidikan formal, informal mau pun non-formal, adalah hubungan manusiawi yang terbentuk antara pendidik dan peserta-didik. Hubungan ini secara teknis bisa saja direduksi menjadi “proses belajar-mengajar”, tapi jelas proses belajar-mengajar saja tidak dapat mencerminkan keseluruhan sistem pendidikan. Proses yang terjadi dalam sistem pendidikan juga tidak dapat direduksi menjadi sekedar suatu proses transfer pengetahuan atau ketrampilan saja. Lebih-lebih lagi, sistem pendidikan jelas tidak mungkin dipandang secara sederhana sebagai sekedar proses distribusi informasi belaka. Tapi proses belajar mengajar, transfer pengetahuan dan ketrampilan serta proses distribusi informasi adalah beberapa elemen kunci dalam sistem pendidikan. Tujuan bersama (common goal) semua proses dalam sistem pendidikan adalah perkembangan peradaban manusia di muka bumi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Perkembangan peradaban pun, tidak dapat disempitkan menjadi sekedar “pewarisan nilai-nilai”, melainkan lebih dari itu, adalah segenap upaya dan budidaya manusia agar dapat mempertahankan fungsi utama keberadaannya di muka bumi, yaitu membangun pengabdian yang menyeluruh kepada Sang Maha Pencipta sebagaimana telah ditetapkanNya.
Dengan begitu kualitas sistem pendidikan sangat tergantung pada “empati” yang terbentuk dalam hubungan antara para pendidik dengan peserta-didiknya masing-masing. Tanpa terbentuknya “empati” ini, proses apa pun dalam sistem pendidikan sebagaimana yang antara lain disebutkan di atas, akan kering dari makna sesungguhnya, tinggal menjadi kerangka-kerangka teknis belaka. Tidak heran jika kualitas produk sistem pendidikan yang terbaik justru diperoleh melalui proses-proses “tradisional” dalam sistem pendidikan, seperti metode belajar-mengajar "talk and chalk" di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di dunia serta hubungan kiyai-santri di pesantren-pesantren tradisional di tanah-air. Universitas Islam Antar-Bangsa (Islamic International University) di Malaysia yang sangat modern, justru menerapkan sistem “usrah” (dengan profesor duduk melingkar bersama dengan para asisten dan mahasiswa-nya) dalam kuliah-kuliah di Fakultas Teknik sekali pun.
Para pakar pendidikan boleh bersepakat bahwa penggunaan teknologi non-konvensional untuk menjalankan proses-proses dalam sistem pendidikan tidak akan meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi – tentu saja – bukan berarti introduksi teknologi non-konvensional itu tidak ada gunanya sama-sekali. Walau pun tidak meningkatkan kualitas secara signifikan, penggunaan teknologi kependidikan jelas dapat meningkatkan kuantitas sistem pendidikan (yang berarti meluasnya peluang dan kesempatan bagi peserta-didik) tanpa terlalu banyak mengurangi kualitasnya.
Tanpa campur-tangan teknologi non-konvensional, peningkatan kuantitatif dari proses-proses dalam sistem pendidikan - yang berarti terbukanya kesempatan dan peluang bagi lebih banyak peserta-didik serta lebih meluasnya materi pendidikan - dengan sendirinya mengandung konsekuensi logis menurunnya kualitas (degradasi) sistem pendidikan secara drastis. Harapan pada aplikasi teknologi non-konvensional dalam berbagai proses pendidikan hanya terletak pada minimisasi terjadinya degradasi ini saja. Dengan perkataan lain, teknologi non-konvensional diberdayakan dan dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pendidikan, hanya untuk menolong agar kualitas sistem pendidikan tidak menurun sedrastis dibandingkan ketika dilakukan upaya peningkatan kuantitatif tanpa introduksi teknologi non-konvensional.
SISTEM KOMUNIKASI DATA
Kendala utama dari perluasan kuantitatif sistem pendidikan adalah terbatasnya ruang dan waktu. Pendidik yang memenuhi standar serta sesuai dengan kebutuhan tidak selalu berada dalam satu dimensi ruang dan waktu dengan peserta-didik yang memerlukan kehadirannya. Dengan demikian, kesempatan peserta-didik untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tinggi secara langsung melalui proses-proses pendidikan yang konvensional (“talk and chalk”, santri-kiyai, usrah) dari pendidik yang sesuai pun terbatas dan langka sekali. Inovasi teknologi komunikasi data dapat diberdayakan untuk menembus kendala ruang dan waktu ini. Materi pendidikan yang dipilah-pilah menjadi paket-paket informasi dapat dikirim dan ditansfer kesana-kemari melintasi ruang melalui sistem komunikasi data bit demi bit tanpa kesulitan. Dengan sistem pemberkasan (filing-systems) data elektronik, materi-materi pendidikan yang bermutu dapat pula disimpan dan diakses sewaktu-waktu diperlukan, melintasi dimensi waktu.
Teknologi Internet yang berintikan sistem komunikasi data paket, telah membuka kemungkinan yang hampir tak terbayangkan sebelumnya tentang “globalisasi” sistem informasi. Dunia menjadi satu tanpa batas, rentang waktu menjadi tak berarti, kemarin dan esok, hari ini, sama saja. Ratusan juta terminal data telah terhubung satu sama lain – baik secara permanen mau pun temporer - di seluruh penjuru dunia dengan kapasitas total trilyunan bit informasi yang sewaktu-waktu dapat di-transfer dan di-akses ke sana ke mari. Pada kurun waktu di masa depan yang tak akan terlalu lama lagi, kita akan menyaksikan konvergensi media, semua berbasis komunikasi data. TV, Radio, suratkabar, telepon, telegraf, facsimile, semua akan menyatu dengan sistem perbankan, travel-bureau, supermarket, penerbitan, pusat-pusat perbelanjaan, seluruhnya menjadi “on-line” dengan sistem komunikasi data. Lantas bagaimana dengan sistem pendidikan? Universitas, perpustakaan, kursus-kursus ketrampilan, sekolah, sekarang ini pun sudah bisa “on-line”, berkat sistem komunikasi data. Secara teoritis berarti kendala ruang dan waktu sudah teratasi, kapasitas sistem pendidikan menjadi tak terbatas, kuantitas dapat ditingkatkan semaksimum mungkin. Peningkatan kuantitas yang maksimum ini jelas tidak akan serta-merta diikuti oleh peningkatan kualitas, bahkan untuk mempertahankannya saja sudah akan sulit sekali.
Haruslah disadari sepenuhnya bahwa pemberdayaan sistem komunikasi data untuk pengembangan sistem pendidikan hanya akan meningkatkan kuantitas dan kapasitas sistem pendidikan dengan seminimal mungkin mencegah degradasi mutunya, tetapi sekali-sekali tidak akan pernah dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan itu sendiri. Sebuah universitas “on-line” dapat saja dibangun dengan menerapkan secara intensif sistem komunikasi data yang canggih, tapi yang akan dihasilkan hanyalah suatu “virtual university” atau universitas semu di dunia maya, sama sekali bukan universitas yang sesungguhnya. Tapi di lain fihak, menanggapi keberadaan universitas semu ini dengan sikap negatif saja juga tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana pun, pemanfaatan sistem komunikasi data untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan jelas akan meningkatkan kapasitas serta memperluas peluang anak-didik untuk memperoleh materi yang lebih banyak dan mendapatkan akses ke pusat-pusat informasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan terakses karena keterbatasan ruang dan waktu, walau pun semua ini tetap tidak akan pernah menjadi alternatif pengganti dari sistem pendidikan konvensional. Analogi-nya, walau pun dengan sistem komunikasi data dimungkinkan untuk membaca suratkabar secara “on-line” dengan komputer melalui Internet, tidaklah serta-merta orang akan berhenti berlangganan suratkabar dan ganti berlangganan ISP (Internet Service Provider) saja, sebab membaca suratkabar “on-line” tetap saja berbeda dengan membaca suratkabar yang “real” sambil minum kopi menunggu terhidangnya sarapan pagi di meja makan.
Dengan sistem komunikasi data melalui Internet kita dapat meng-akses perguruan-perguruan tinggi kelas dunia lalu menikmati sajian materi-materi kuliah dari profesor-profesor terkemuka di bidangnya. Harus difahami dengan jelas bahwa menikmati sajian para profesor ini melalui sistem komunikasi data tetap saja berbeda dengan duduk sendiri “in person” di kelas sang profesor dan memperhatikannya bermain dengan “talk and chalk”-nya. sambil ber-“chit-chat” tentang materi kuliah yang dibawakannya. “Real education” tetap memerlukan interaksi langsung antara pendidik dan peserta-didik dalam ruang dan waktu yang sama. Tapi masalahnya, berapa banyak peserta-didik mendapatkan peluang untuk suatu kemewahan ber-“chit-chat” langsung dengan pendidiknya, serta berapa banyakkah materi yang dapat dibahas dalam pertemuan yang begitu singkat? Sistem komunikasi data memungkinkan berkembang lebih luasnya kesempatan dan peluang bagi peserta-didik yang lebih banyak untuk sekedar ikut mencicipi berbagai “kemewahan” sistem pendidikan, walau pun tetap tidak pernah akan memberi kesempatan pada peserta-didik ini untuk merasakan “the real education”-nya. Ibaratnya, bisa saja dibuat daging kepiting tiruan (artificial crab) yang murah-meriah sehingga bisa lebih banyak orang yang dapat merasakan enaknya daging kepiting, tapi merasakan daging kepiting yang aslinya tentu hanya menjadi kehormatan bagi sebagian kecil orang saja.
Pemberdayaan penggunaan sistem komunikasi data untuk sistem pendidikan sama sekali tidak dapat dimaksudkan sebagai alternatif pengganti dari sistem pendidikan yang ada, melainkan hanya bersifat suplementer (tambahan) dan komplementer pelengkap) kepada sistem pendidikan yang ada, yang telah dibangun selama berabad-abad dengan akar tradisi dan metode yang telah baku, sesuai dengan harkat, martabat dan fithrah manusia sendiri.
Singkatnya, sistem komunikasi data berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana penunjang sistem pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pendidikan, untuk memperbesar peluang akses ke berbagai pusat informasi pendidikan dan memperbesar peluang anak-didik untuk mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu dalam berinteraksi dengan para pendidik, tapi ini semua hanyalah meningkatkan kuantitas sistem pendidikan, dan sama sekali tidak meningkatkan kualitasnya.
PENUTUP
Era informasi global yang kita akan segera hadapi menjanjikan berbagai kecanggihan yang menakjubkan dalam penerapan teknologi komunikasi data. Banyak hal yang beberapa tahun lalu hanya berupa khayalan akan segera menjadi kenyataan. Berbagai inovasi dalam bidang sistem informasi ini akan sangat bermanfaat jika diterapkan sebagai sarana penunjang sistem pendidikan, terutama untuk meningkatkan secara kuantitatif kapasitas proses pendidikan dalam mengatasi berbagai kendala akibat keterbatasan ruang dan waktu. Tapi kualitas sistem pendidikan hanya dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas interaksi langsung antara pendidik dan anak-didik. Sistem komunikasi data yang bagaimana pun canggihnya hanya akan mengurangi seminimal mungkin degradasi kualitas sistem pendidikan ketika ditingkatkan secara kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nasution, Zulkarimein, [1989], “Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif”, Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.
2. Rogers, Everett M., [terj. Zulkarnaina Mohd. Mess], [1991], “Teknologi Komunikasi”, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur.
3. Rogers, Everett M., [1986], “Communication Technology”, The Free Press, Collier Macmillan Publ., London.
4. Schweber, William, [1996], “Electronic Communication Systems”, Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs, NJ.
BIODATA
Rhiza S. Sadjad, lahir di Bogor tahun 1957, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Bogor, kemudian melanjutkan ke ITB Bandung pada tahun 1975. Menyelesaikan program pendidikan S-1 di ITB dan meraih gelar Ir. (Sarjana Teknik) di Jurusan Teknik Elektro tahun 1981. Sampai tahun 1983 mengajar di Fakultas Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, sebelum pindah ke Makassar dan mengajar di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sampai sekarang. Pada tahun 1987 melanjutkan studi ke Amerika Serikat, menyelesaikan program pendidikan S-2 dan S-3 dengan meraih gelar M.S.E.E (1989) dan Ph.D. (1994) dalam bidang keahlian Automatic Control Systems dari University of Wisconsin-Madison. Saat ini, selain mengajar di Program Pasca Sarjana Fakultas Teknik dan FISIPOL Universitas Hasanuddin serta berbagai perguruan tinggi swasta di Makassar, juga menjabat sebagai Koordinator Proyek TPSDP Program Studi Teknik Elektro UNHAS dan Ketua Divisi Informasi dan Komputer di Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS.
Rhiza S. Sadjad
rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/
PENDAHULUAN
Era berikutnya yang akan dilalui oleh perjalanan sejarah peradaban manusia di muka bumi ini adalah era informasi, setelah berlalunya era pertanian dan era industri pada masa-masa sebelumnya. Berbagai ciri era baru ini telah dikemukakan oleh para pakar; antara lain misalnya oleh Rogers [1986], yang memberikan indikasi berupa terwujudnya suatu “masyarakat informasi” yaitu masyarakat yang sebagian besar anggotanya berfung-
1800-
1820 1820-
1840 1840-
1860 1860-
1880 1880-
1900 1900-
1920 1920-
1940 1940-
1960 1960-
1980
Gambar 1
Perubahan komposisi angkatan kerja di Amerika Serikat 1800-1980
(Sumber: Everett M. Rogers, [1986], “Communication Technology”, hal. 11)
si sebagai pekerja informasi (lihat gambar 1). Lebih lanjut Rogers mendefinisikan pekerja informasi sebagai : “ .........individuals whose main activity is producing, processing, or distributing information, and producing information technology. Typical information worker occupations are teachers, scientists, newspaper reporters, computer programmers, consultants, secretaries, and managers. These individuals write, teach, sell advice, give orders, and otherwise deal in information.” Penulis ingin menggaris-bawahi, bahwa menurut Rogers sebagaimana diuraikan di atas, salah satu jenis profesi penting dalam era informasi adalah profesi guru, yang pekerjaan utamanya adalah mengajar. Pada bagian lain dari bukunya, Rogers menyebutkan bahwa lembaga sosial kunci dalam masyarakat informasi adalah research university, yang punya peranan sentral dalam masyarakat sebagaimana pabrik baja dalam masyarakat industri dan sawah-ladang dalam masyarakat pertanian . Dengan ini penulis ingin memperlihatkan betapa pentingnya peranan sistem pendidikan (universitas, guru, aktivitas mengajar, semua ini merupakan bagian-bagian penting sistem pendidikan) pada era informasi mendatang.
Satuan dasar informasi adalah bit . Data yang dikirim dan diterima melalui saluran-saluran komunikasi dalam sistem komunikasi data tersusun dari bit-bit digital. Dalam era informasi, sistem komunikasi data adalah sarana penunjang utama untuk sistem distribusi informasi, sebagaimana sistem transportasi merupakan sarana penunjang utama dalam sistem distribusi produk industri dalam era industri dan era pertanian sebelumnya.
Makalah ini berupaya mendiskusikan bagaimana kiranya hubungan semua ini, khususnya sistem pendidikan dan sistem komunikasi data, dalam era terbentuknya masyarakat informasi pada masa mendatang.
SISTEM PENDIDIKAN
Titik sentral semua sistem pendidikan, baik pendidikan formal, informal mau pun non-formal, adalah hubungan manusiawi yang terbentuk antara pendidik dan peserta-didik. Hubungan ini secara teknis bisa saja direduksi menjadi “proses belajar-mengajar”, tapi jelas proses belajar-mengajar saja tidak dapat mencerminkan keseluruhan sistem pendidikan. Proses yang terjadi dalam sistem pendidikan juga tidak dapat direduksi menjadi sekedar suatu proses transfer pengetahuan atau ketrampilan saja. Lebih-lebih lagi, sistem pendidikan jelas tidak mungkin dipandang secara sederhana sebagai sekedar proses distribusi informasi belaka. Tapi proses belajar mengajar, transfer pengetahuan dan ketrampilan serta proses distribusi informasi adalah beberapa elemen kunci dalam sistem pendidikan. Tujuan bersama (common goal) semua proses dalam sistem pendidikan adalah perkembangan peradaban manusia di muka bumi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Perkembangan peradaban pun, tidak dapat disempitkan menjadi sekedar “pewarisan nilai-nilai”, melainkan lebih dari itu, adalah segenap upaya dan budidaya manusia agar dapat mempertahankan fungsi utama keberadaannya di muka bumi, yaitu membangun pengabdian yang menyeluruh kepada Sang Maha Pencipta sebagaimana telah ditetapkanNya.
Dengan begitu kualitas sistem pendidikan sangat tergantung pada “empati” yang terbentuk dalam hubungan antara para pendidik dengan peserta-didiknya masing-masing. Tanpa terbentuknya “empati” ini, proses apa pun dalam sistem pendidikan sebagaimana yang antara lain disebutkan di atas, akan kering dari makna sesungguhnya, tinggal menjadi kerangka-kerangka teknis belaka. Tidak heran jika kualitas produk sistem pendidikan yang terbaik justru diperoleh melalui proses-proses “tradisional” dalam sistem pendidikan, seperti metode belajar-mengajar "talk and chalk" di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di dunia serta hubungan kiyai-santri di pesantren-pesantren tradisional di tanah-air. Universitas Islam Antar-Bangsa (Islamic International University) di Malaysia yang sangat modern, justru menerapkan sistem “usrah” (dengan profesor duduk melingkar bersama dengan para asisten dan mahasiswa-nya) dalam kuliah-kuliah di Fakultas Teknik sekali pun.
Para pakar pendidikan boleh bersepakat bahwa penggunaan teknologi non-konvensional untuk menjalankan proses-proses dalam sistem pendidikan tidak akan meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi – tentu saja – bukan berarti introduksi teknologi non-konvensional itu tidak ada gunanya sama-sekali. Walau pun tidak meningkatkan kualitas secara signifikan, penggunaan teknologi kependidikan jelas dapat meningkatkan kuantitas sistem pendidikan (yang berarti meluasnya peluang dan kesempatan bagi peserta-didik) tanpa terlalu banyak mengurangi kualitasnya.
Tanpa campur-tangan teknologi non-konvensional, peningkatan kuantitatif dari proses-proses dalam sistem pendidikan - yang berarti terbukanya kesempatan dan peluang bagi lebih banyak peserta-didik serta lebih meluasnya materi pendidikan - dengan sendirinya mengandung konsekuensi logis menurunnya kualitas (degradasi) sistem pendidikan secara drastis. Harapan pada aplikasi teknologi non-konvensional dalam berbagai proses pendidikan hanya terletak pada minimisasi terjadinya degradasi ini saja. Dengan perkataan lain, teknologi non-konvensional diberdayakan dan dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pendidikan, hanya untuk menolong agar kualitas sistem pendidikan tidak menurun sedrastis dibandingkan ketika dilakukan upaya peningkatan kuantitatif tanpa introduksi teknologi non-konvensional.
SISTEM KOMUNIKASI DATA
Kendala utama dari perluasan kuantitatif sistem pendidikan adalah terbatasnya ruang dan waktu. Pendidik yang memenuhi standar serta sesuai dengan kebutuhan tidak selalu berada dalam satu dimensi ruang dan waktu dengan peserta-didik yang memerlukan kehadirannya. Dengan demikian, kesempatan peserta-didik untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tinggi secara langsung melalui proses-proses pendidikan yang konvensional (“talk and chalk”, santri-kiyai, usrah) dari pendidik yang sesuai pun terbatas dan langka sekali. Inovasi teknologi komunikasi data dapat diberdayakan untuk menembus kendala ruang dan waktu ini. Materi pendidikan yang dipilah-pilah menjadi paket-paket informasi dapat dikirim dan ditansfer kesana-kemari melintasi ruang melalui sistem komunikasi data bit demi bit tanpa kesulitan. Dengan sistem pemberkasan (filing-systems) data elektronik, materi-materi pendidikan yang bermutu dapat pula disimpan dan diakses sewaktu-waktu diperlukan, melintasi dimensi waktu.
Teknologi Internet yang berintikan sistem komunikasi data paket, telah membuka kemungkinan yang hampir tak terbayangkan sebelumnya tentang “globalisasi” sistem informasi. Dunia menjadi satu tanpa batas, rentang waktu menjadi tak berarti, kemarin dan esok, hari ini, sama saja. Ratusan juta terminal data telah terhubung satu sama lain – baik secara permanen mau pun temporer - di seluruh penjuru dunia dengan kapasitas total trilyunan bit informasi yang sewaktu-waktu dapat di-transfer dan di-akses ke sana ke mari. Pada kurun waktu di masa depan yang tak akan terlalu lama lagi, kita akan menyaksikan konvergensi media, semua berbasis komunikasi data. TV, Radio, suratkabar, telepon, telegraf, facsimile, semua akan menyatu dengan sistem perbankan, travel-bureau, supermarket, penerbitan, pusat-pusat perbelanjaan, seluruhnya menjadi “on-line” dengan sistem komunikasi data. Lantas bagaimana dengan sistem pendidikan? Universitas, perpustakaan, kursus-kursus ketrampilan, sekolah, sekarang ini pun sudah bisa “on-line”, berkat sistem komunikasi data. Secara teoritis berarti kendala ruang dan waktu sudah teratasi, kapasitas sistem pendidikan menjadi tak terbatas, kuantitas dapat ditingkatkan semaksimum mungkin. Peningkatan kuantitas yang maksimum ini jelas tidak akan serta-merta diikuti oleh peningkatan kualitas, bahkan untuk mempertahankannya saja sudah akan sulit sekali.
Haruslah disadari sepenuhnya bahwa pemberdayaan sistem komunikasi data untuk pengembangan sistem pendidikan hanya akan meningkatkan kuantitas dan kapasitas sistem pendidikan dengan seminimal mungkin mencegah degradasi mutunya, tetapi sekali-sekali tidak akan pernah dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan itu sendiri. Sebuah universitas “on-line” dapat saja dibangun dengan menerapkan secara intensif sistem komunikasi data yang canggih, tapi yang akan dihasilkan hanyalah suatu “virtual university” atau universitas semu di dunia maya, sama sekali bukan universitas yang sesungguhnya. Tapi di lain fihak, menanggapi keberadaan universitas semu ini dengan sikap negatif saja juga tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana pun, pemanfaatan sistem komunikasi data untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan jelas akan meningkatkan kapasitas serta memperluas peluang anak-didik untuk memperoleh materi yang lebih banyak dan mendapatkan akses ke pusat-pusat informasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan terakses karena keterbatasan ruang dan waktu, walau pun semua ini tetap tidak akan pernah menjadi alternatif pengganti dari sistem pendidikan konvensional. Analogi-nya, walau pun dengan sistem komunikasi data dimungkinkan untuk membaca suratkabar secara “on-line” dengan komputer melalui Internet, tidaklah serta-merta orang akan berhenti berlangganan suratkabar dan ganti berlangganan ISP (Internet Service Provider) saja, sebab membaca suratkabar “on-line” tetap saja berbeda dengan membaca suratkabar yang “real” sambil minum kopi menunggu terhidangnya sarapan pagi di meja makan.
Dengan sistem komunikasi data melalui Internet kita dapat meng-akses perguruan-perguruan tinggi kelas dunia lalu menikmati sajian materi-materi kuliah dari profesor-profesor terkemuka di bidangnya. Harus difahami dengan jelas bahwa menikmati sajian para profesor ini melalui sistem komunikasi data tetap saja berbeda dengan duduk sendiri “in person” di kelas sang profesor dan memperhatikannya bermain dengan “talk and chalk”-nya. sambil ber-“chit-chat” tentang materi kuliah yang dibawakannya. “Real education” tetap memerlukan interaksi langsung antara pendidik dan peserta-didik dalam ruang dan waktu yang sama. Tapi masalahnya, berapa banyak peserta-didik mendapatkan peluang untuk suatu kemewahan ber-“chit-chat” langsung dengan pendidiknya, serta berapa banyakkah materi yang dapat dibahas dalam pertemuan yang begitu singkat? Sistem komunikasi data memungkinkan berkembang lebih luasnya kesempatan dan peluang bagi peserta-didik yang lebih banyak untuk sekedar ikut mencicipi berbagai “kemewahan” sistem pendidikan, walau pun tetap tidak pernah akan memberi kesempatan pada peserta-didik ini untuk merasakan “the real education”-nya. Ibaratnya, bisa saja dibuat daging kepiting tiruan (artificial crab) yang murah-meriah sehingga bisa lebih banyak orang yang dapat merasakan enaknya daging kepiting, tapi merasakan daging kepiting yang aslinya tentu hanya menjadi kehormatan bagi sebagian kecil orang saja.
Pemberdayaan penggunaan sistem komunikasi data untuk sistem pendidikan sama sekali tidak dapat dimaksudkan sebagai alternatif pengganti dari sistem pendidikan yang ada, melainkan hanya bersifat suplementer (tambahan) dan komplementer pelengkap) kepada sistem pendidikan yang ada, yang telah dibangun selama berabad-abad dengan akar tradisi dan metode yang telah baku, sesuai dengan harkat, martabat dan fithrah manusia sendiri.
Singkatnya, sistem komunikasi data berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana penunjang sistem pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pendidikan, untuk memperbesar peluang akses ke berbagai pusat informasi pendidikan dan memperbesar peluang anak-didik untuk mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu dalam berinteraksi dengan para pendidik, tapi ini semua hanyalah meningkatkan kuantitas sistem pendidikan, dan sama sekali tidak meningkatkan kualitasnya.
PENUTUP
Era informasi global yang kita akan segera hadapi menjanjikan berbagai kecanggihan yang menakjubkan dalam penerapan teknologi komunikasi data. Banyak hal yang beberapa tahun lalu hanya berupa khayalan akan segera menjadi kenyataan. Berbagai inovasi dalam bidang sistem informasi ini akan sangat bermanfaat jika diterapkan sebagai sarana penunjang sistem pendidikan, terutama untuk meningkatkan secara kuantitatif kapasitas proses pendidikan dalam mengatasi berbagai kendala akibat keterbatasan ruang dan waktu. Tapi kualitas sistem pendidikan hanya dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas interaksi langsung antara pendidik dan anak-didik. Sistem komunikasi data yang bagaimana pun canggihnya hanya akan mengurangi seminimal mungkin degradasi kualitas sistem pendidikan ketika ditingkatkan secara kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nasution, Zulkarimein, [1989], “Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif”, Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.
2. Rogers, Everett M., [terj. Zulkarnaina Mohd. Mess], [1991], “Teknologi Komunikasi”, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur.
3. Rogers, Everett M., [1986], “Communication Technology”, The Free Press, Collier Macmillan Publ., London.
4. Schweber, William, [1996], “Electronic Communication Systems”, Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs, NJ.
BIODATA
Rhiza S. Sadjad, lahir di Bogor tahun 1957, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Bogor, kemudian melanjutkan ke ITB Bandung pada tahun 1975. Menyelesaikan program pendidikan S-1 di ITB dan meraih gelar Ir. (Sarjana Teknik) di Jurusan Teknik Elektro tahun 1981. Sampai tahun 1983 mengajar di Fakultas Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, sebelum pindah ke Makassar dan mengajar di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sampai sekarang. Pada tahun 1987 melanjutkan studi ke Amerika Serikat, menyelesaikan program pendidikan S-2 dan S-3 dengan meraih gelar M.S.E.E (1989) dan Ph.D. (1994) dalam bidang keahlian Automatic Control Systems dari University of Wisconsin-Madison. Saat ini, selain mengajar di Program Pasca Sarjana Fakultas Teknik dan FISIPOL Universitas Hasanuddin serta berbagai perguruan tinggi swasta di Makassar, juga menjabat sebagai Koordinator Proyek TPSDP Program Studi Teknik Elektro UNHAS dan Ketua Divisi Informasi dan Komputer di Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS.
PENGUMUMAN BEASISWA BUMN PEDULI PENDIDIKAN
Melalui No. MoU-11/MBU/2009, tanggal 15-10-2009, UPI telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Negara BUMN, untuk menyalurkan Beasiswa BUMN Peduli Pendidikan dengan total nominal RP 1.000.000.000,00 (satu milyard rupiah).
1. Peruntukan Beasiswa
Beasiswa diberikan kepada mahasiswa jenjang program Strata 1 (S1) untuk semua tingkat (tingkat I s/d IV), yang dinyatakan berhak dan memenuhi peryaratan, dengan jangka waktu selama yang bersangkutan mengikuti pendidikan di UPI. Alokasi dana/orang/tahun Rp 3.000.000,00, diberikan kepada 109 mahasiswa.
2. Syarat-syarat mengajukan beasiswa :
a. Persyaratan umum ;
• Terdaftar sebagai mahasiswa UPI, Strata 1 (S1)
• Mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor
• Membuat surat keterangan bahwa yang bersangkutan sedang tidak menerima beasiswa dari pihak manapun dan tidak dalam status ikatan dinas dari lembaga/instansi/yayasan lain. Jika dalam status ikatan dinas, maka harus melepaskan dahulu dari ikatan beasiswa yang diterimanya.
• Memiliki rekening di Bank BRI
• Melampirkan foto copy KTM yang masih berlaku
• Bagi mahasiswa lama, melampirkan transkrip nilai/Prestasi akademik/IPK minimal 2.25, bagi mahasiswa yang baru masuk, memiliki nilai akademik/raport yang baik
• Melampirkan surat keterangan tidak mampu/SKTM disahkan oleh pejabat yang berwewenang
• Melampirkan keterangan penghasilan orang tua bagi yang masih bekerja/pensiunan atau surat keterangan penghasilan orang tua dari yang berwenang.
• Melampirkan foto copy kartu keluarga
b. Pesyaratan khusus ;
• Penerima harus mampu mempertahankan atau meningkatkan prestasi akademik melebihi prestasi sebelumnya
• Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 2,5 apabila telah menempuh pendidikan selama 4 (empat) semester
• Bersedia untuk mencantumkan Program BUMN Peduli Beasiswa pada skripsi
• Bersedia untuk berpartisipasi dalam aktivitas komunikasi dan publikasi yang dilakukan oleh Kementerian BUMN.
Proses Pendaftaran dan Seleksi :
Proses pendaftaran dikoordinasikan melalui fakultas masing-masing, untuk selanjutnya dilakukan seleksi berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Hasil seleksi dari tiap Fakultas akan disampaikan kepada Rektor UPI untuk memperoleh Surat Keputusan Penetapan.
Demikian, agar yang berkepentingan maklum
Bandung, Juni 2010
a.n. Rektor
Pembantu Rektor
Bidang Akademik dan Kemahasiawaan
Prof. H. A.Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D
NIP. 19530330 198002 1001
1. Peruntukan Beasiswa
Beasiswa diberikan kepada mahasiswa jenjang program Strata 1 (S1) untuk semua tingkat (tingkat I s/d IV), yang dinyatakan berhak dan memenuhi peryaratan, dengan jangka waktu selama yang bersangkutan mengikuti pendidikan di UPI. Alokasi dana/orang/tahun Rp 3.000.000,00, diberikan kepada 109 mahasiswa.
2. Syarat-syarat mengajukan beasiswa :
a. Persyaratan umum ;
• Terdaftar sebagai mahasiswa UPI, Strata 1 (S1)
• Mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor
• Membuat surat keterangan bahwa yang bersangkutan sedang tidak menerima beasiswa dari pihak manapun dan tidak dalam status ikatan dinas dari lembaga/instansi/yayasan lain. Jika dalam status ikatan dinas, maka harus melepaskan dahulu dari ikatan beasiswa yang diterimanya.
• Memiliki rekening di Bank BRI
• Melampirkan foto copy KTM yang masih berlaku
• Bagi mahasiswa lama, melampirkan transkrip nilai/Prestasi akademik/IPK minimal 2.25, bagi mahasiswa yang baru masuk, memiliki nilai akademik/raport yang baik
• Melampirkan surat keterangan tidak mampu/SKTM disahkan oleh pejabat yang berwewenang
• Melampirkan keterangan penghasilan orang tua bagi yang masih bekerja/pensiunan atau surat keterangan penghasilan orang tua dari yang berwenang.
• Melampirkan foto copy kartu keluarga
b. Pesyaratan khusus ;
• Penerima harus mampu mempertahankan atau meningkatkan prestasi akademik melebihi prestasi sebelumnya
• Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 2,5 apabila telah menempuh pendidikan selama 4 (empat) semester
• Bersedia untuk mencantumkan Program BUMN Peduli Beasiswa pada skripsi
• Bersedia untuk berpartisipasi dalam aktivitas komunikasi dan publikasi yang dilakukan oleh Kementerian BUMN.
Proses Pendaftaran dan Seleksi :
Proses pendaftaran dikoordinasikan melalui fakultas masing-masing, untuk selanjutnya dilakukan seleksi berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Hasil seleksi dari tiap Fakultas akan disampaikan kepada Rektor UPI untuk memperoleh Surat Keputusan Penetapan.
Demikian, agar yang berkepentingan maklum
Bandung, Juni 2010
a.n. Rektor
Pembantu Rektor
Bidang Akademik dan Kemahasiawaan
Prof. H. A.Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D
NIP. 19530330 198002 1001
Sejarah Pendidikan Islam
Materi Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Kompetensi : Memiliki pemahaman atas dasar-dasar pendidikan berbasis Sejarah Islam
Bobot SKS : 2 sks
Dosen : Drs. Ibnu Anshori, SH, MA/Muhlisin, S.Ag
==========================================================================
I Pendahuluan
1. Pengertian sejarah Pendidikan Islam
2. Obyek dan metode sejarah pendidikan Islam
3. Paradigma pendidikan Islam perpektif historis
4. Sejarah pendidikan islam sebagai ilmu
5. Kegunaan sejarah pendidikan Islam
6. Periodisasi sejarah pendidikan Islam
II. Sejarah Pendidikan Zaman Purba/Pra Islam
1. Sejarah pendidikan Mesir Purba,
2. Sejarah pendidikan India Purba,
3. Sejarah pendidikan Tiongkok Purba,
4. Sejarah pendidikan Arab Purba
5. Sejarah pendidikan di Yunani Purba,
6. Sejarah pendidikan Romawi Purba
III. Pendidikan Islam masa perintisan
1. Pendidikan masa Jahiliyah Arab
2. Pendidikan Islam masa Rasulullah
3. Pendidikan Islam masa khulafa al Rasyidin
4. Pendidikan Islam masa dinasti Bani Umayyah
5. Materi, Metode dan karakteristik konsep pendidikan Islam masa perintisan
6. Pendidikan wanita dalam lintasan sejarah
IV Pendidikan Islam Masa Kemajuan
1. Latar belakang sosial politik kejayaan pendidikan Islam
2. Cikal bakal institusi /pelembagaan pendidikan islam
3. Pertumbuhan madrasah -madrasah
4. Sejarah pendidikan madrasah Nizamiyah
5. Sejarah madrasah di Mekkah dan Madinah
6. Pendidikan islam di Spanyol
7. Pendidikan islam pada masa Turki Usmani
V Pendidikan Islam Masa Kejayaan
1. Sejarah pendidikan al – Azhar
2. Kontribusi Madrasah dalam mencetak ulama
3. Karakteristik hubungan siswa dan guru
4. Karakteristik kurikulum madrasah-madrasah
5. Sistem pendanaan madrasah
6. Perpustakaan dan forum keilmuan di madrasah
7. Pengaruh pemikiran Yunani dalam pendidikan islam
8. Pemikir pendidikan islam dan pengaruh mazhab
VI Pendidikan Islam Masa Kemunduran
1. Latar belakang sosial politik kemunduran pendidikan Islam
2. Faktor – faktor Penyebab kemunduran Islam
3. Kebangkitan (Aufklarung) pendidikan barat
4. Profil pendidikan Islam pada masa kemunduran.
5. Ulama terkenal pada masa kemunduran.
VII. Pendidikan Islam Masa Pembaharuan
1. Pemikiran pembaharuan Islam
2. Pola pembaharuan pendidikan Islam
3. Faktor pendorong pembaharuan pendidikan islam
4. Karakteristik implikasi dari sistem pembaharuan
VIII Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
1. Karakter pendidikan zaman Hindu-Budha
2. Awalnya masuknya Islam ke Indonesia.
3. Pendidikan Islam masa permulaan di Indonesia.
4. Pendidikan Islam pada masa raja-raja Islam
5. Pendidikan Islam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi
6. Pendidikan islam masa Wali Songo di Jawa dan sekitarnya .
IX Pendidikan Islam Masa Penjajahan
1. Pengaruh Portugis dan Spanyol
2. Masa penjajahan Belanda.
3. Masa penjajahan Jepang
4. Usaha- usaha rakyat di lapanga pendidikan
5. Pendidikan Islam masa kebangkitan nasional.
6. Pendidikan Islam masa kemerdekaan
X. Pendidikan Islam Setelah Kemerdekaan
1. Pendidikan Islam masa Orde lama
2. Pendidikan Islam dan Orde Baru
3. Kebijakan pendidikan orde baru
4. Keadaan pendidikan wanita secara umum
5. Beberapa perintis pendidikan wanita.
6. Pendidikan wanita Islam masa pembangunan
Referensi
- Muhammad Yunus, Sejarah Pendidikan Islam
- Team Penyusun, Sejarah Pendidikan Islam, Ditbin
- Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya.
- Muh. Muin Mursi, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah
- Husain Haekal, Sejarah Hidup Nabi.
- Philip, K Hitti, History of the Arab.
- Fayyud Mahmud, History of Islam
- Amin Al-Najjar, Aliran Khowarij Mengungkap Perselisihan Umat.
- MA.Shaban, Sejarah Islam Penafsiran baru
- Abbas Mahmud al-Akkad, Kecemerlangan Umar Ibn Al-Khattab.
- Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam
- Fahrur Rozy Dalimunte, Sejarah pendidikan Islam
- Ira. M. Lapidus, A History of Islamic Societies.
- C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Islam
- Asma Hasan Fahmi, Sejarah Filsafat Pendidikan Islam.
- Jujun S. Sumantri, Ilmu dalam perspektif.
- Hasan Langgunung, Pendidikan Islam menghadapi Abad 21
- Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam
- Fathiyah Hasan Sulaiman, Al-Madhahib al-Tarbawi in al-Ghazali
- Fazlur Rohman, Islam
- Harun Nasution dan Azyumardi Azra Perkembangan Modern dalam Islam
- Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam
- Muh. Al-Babhiy, Pemikiran Islam
- Mustofa Maufur, Jamaluddin Al Afghani Pergerakan dan Pemikirannya
- John, L. Esposito, Ancaman Islam Mitos atau Realitas, Terj. Alwiyah Abdurrahman
- Taufiq Abdullah, Sejarah Umat Islam Indonesia
- Uka Tjandra Sasmita, Sejarah Nasional Indonesia
- G. W.J. Drewes, New Light on the Coming of Islam to Indonesia
- Soewito Santoso, Babad Tanah Jawi
- Umar Hasyim, Sunan Giri
- Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, Terj. Nawawi Rambe
- Solikin Salam, Sekitar Wali Songo
- Mahmun Chusain, Pendidikan Islam dalam Lintasan Sejarah
- Karel A. Steen Brink, Pesantren Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern
- Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren
- Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942
- Wasty Soemarto, Landasan Historis Pendidikan Indonesia
- Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari terbit Islam Indonesia Masa Penjajahan Jepang
- Choirul Anam, Perkembangan dan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama (NU)
- Abdurrahman Shaleh, Penyelenggaraan Madrasah Peraturan perundangan
- Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi, Selayang Pandang Sejarah Para Ulama
- Ari H Gunawan, Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia
- Dawam Raharjo, Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan
- A. Malik Fadjar, Sintesa Antara Perguruan Tinggi dan Pesantren
- Nuril Huda, Pedoman Majlis Ta’lim
- A. Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia
- Harus Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan
- Djumhur dan Dana Saputra, Sejarah Pendidikan Islam
- Tim Penyusun, Pustaka Azzat, Leksikon Islam 2
- Asghar Ali Engineer, Perempuan dalam Syari’ah, Perspektif Feminis dalam Penafsiran Islam
-
Kompetensi : Memiliki pemahaman atas dasar-dasar pendidikan berbasis Sejarah Islam
Bobot SKS : 2 sks
Dosen : Drs. Ibnu Anshori, SH, MA/Muhlisin, S.Ag
==========================================================================
I Pendahuluan
1. Pengertian sejarah Pendidikan Islam
2. Obyek dan metode sejarah pendidikan Islam
3. Paradigma pendidikan Islam perpektif historis
4. Sejarah pendidikan islam sebagai ilmu
5. Kegunaan sejarah pendidikan Islam
6. Periodisasi sejarah pendidikan Islam
II. Sejarah Pendidikan Zaman Purba/Pra Islam
1. Sejarah pendidikan Mesir Purba,
2. Sejarah pendidikan India Purba,
3. Sejarah pendidikan Tiongkok Purba,
4. Sejarah pendidikan Arab Purba
5. Sejarah pendidikan di Yunani Purba,
6. Sejarah pendidikan Romawi Purba
III. Pendidikan Islam masa perintisan
1. Pendidikan masa Jahiliyah Arab
2. Pendidikan Islam masa Rasulullah
3. Pendidikan Islam masa khulafa al Rasyidin
4. Pendidikan Islam masa dinasti Bani Umayyah
5. Materi, Metode dan karakteristik konsep pendidikan Islam masa perintisan
6. Pendidikan wanita dalam lintasan sejarah
IV Pendidikan Islam Masa Kemajuan
1. Latar belakang sosial politik kejayaan pendidikan Islam
2. Cikal bakal institusi /pelembagaan pendidikan islam
3. Pertumbuhan madrasah -madrasah
4. Sejarah pendidikan madrasah Nizamiyah
5. Sejarah madrasah di Mekkah dan Madinah
6. Pendidikan islam di Spanyol
7. Pendidikan islam pada masa Turki Usmani
V Pendidikan Islam Masa Kejayaan
1. Sejarah pendidikan al – Azhar
2. Kontribusi Madrasah dalam mencetak ulama
3. Karakteristik hubungan siswa dan guru
4. Karakteristik kurikulum madrasah-madrasah
5. Sistem pendanaan madrasah
6. Perpustakaan dan forum keilmuan di madrasah
7. Pengaruh pemikiran Yunani dalam pendidikan islam
8. Pemikir pendidikan islam dan pengaruh mazhab
VI Pendidikan Islam Masa Kemunduran
1. Latar belakang sosial politik kemunduran pendidikan Islam
2. Faktor – faktor Penyebab kemunduran Islam
3. Kebangkitan (Aufklarung) pendidikan barat
4. Profil pendidikan Islam pada masa kemunduran.
5. Ulama terkenal pada masa kemunduran.
VII. Pendidikan Islam Masa Pembaharuan
1. Pemikiran pembaharuan Islam
2. Pola pembaharuan pendidikan Islam
3. Faktor pendorong pembaharuan pendidikan islam
4. Karakteristik implikasi dari sistem pembaharuan
VIII Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
1. Karakter pendidikan zaman Hindu-Budha
2. Awalnya masuknya Islam ke Indonesia.
3. Pendidikan Islam masa permulaan di Indonesia.
4. Pendidikan Islam pada masa raja-raja Islam
5. Pendidikan Islam di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi
6. Pendidikan islam masa Wali Songo di Jawa dan sekitarnya .
IX Pendidikan Islam Masa Penjajahan
1. Pengaruh Portugis dan Spanyol
2. Masa penjajahan Belanda.
3. Masa penjajahan Jepang
4. Usaha- usaha rakyat di lapanga pendidikan
5. Pendidikan Islam masa kebangkitan nasional.
6. Pendidikan Islam masa kemerdekaan
X. Pendidikan Islam Setelah Kemerdekaan
1. Pendidikan Islam masa Orde lama
2. Pendidikan Islam dan Orde Baru
3. Kebijakan pendidikan orde baru
4. Keadaan pendidikan wanita secara umum
5. Beberapa perintis pendidikan wanita.
6. Pendidikan wanita Islam masa pembangunan
Referensi
- Muhammad Yunus, Sejarah Pendidikan Islam
- Team Penyusun, Sejarah Pendidikan Islam, Ditbin
- Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya.
- Muh. Muin Mursi, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah
- Husain Haekal, Sejarah Hidup Nabi.
- Philip, K Hitti, History of the Arab.
- Fayyud Mahmud, History of Islam
- Amin Al-Najjar, Aliran Khowarij Mengungkap Perselisihan Umat.
- MA.Shaban, Sejarah Islam Penafsiran baru
- Abbas Mahmud al-Akkad, Kecemerlangan Umar Ibn Al-Khattab.
- Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam
- Fahrur Rozy Dalimunte, Sejarah pendidikan Islam
- Ira. M. Lapidus, A History of Islamic Societies.
- C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Islam
- Asma Hasan Fahmi, Sejarah Filsafat Pendidikan Islam.
- Jujun S. Sumantri, Ilmu dalam perspektif.
- Hasan Langgunung, Pendidikan Islam menghadapi Abad 21
- Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam
- Fathiyah Hasan Sulaiman, Al-Madhahib al-Tarbawi in al-Ghazali
- Fazlur Rohman, Islam
- Harun Nasution dan Azyumardi Azra Perkembangan Modern dalam Islam
- Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam
- Muh. Al-Babhiy, Pemikiran Islam
- Mustofa Maufur, Jamaluddin Al Afghani Pergerakan dan Pemikirannya
- John, L. Esposito, Ancaman Islam Mitos atau Realitas, Terj. Alwiyah Abdurrahman
- Taufiq Abdullah, Sejarah Umat Islam Indonesia
- Uka Tjandra Sasmita, Sejarah Nasional Indonesia
- G. W.J. Drewes, New Light on the Coming of Islam to Indonesia
- Soewito Santoso, Babad Tanah Jawi
- Umar Hasyim, Sunan Giri
- Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, Terj. Nawawi Rambe
- Solikin Salam, Sekitar Wali Songo
- Mahmun Chusain, Pendidikan Islam dalam Lintasan Sejarah
- Karel A. Steen Brink, Pesantren Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern
- Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren
- Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942
- Wasty Soemarto, Landasan Historis Pendidikan Indonesia
- Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari terbit Islam Indonesia Masa Penjajahan Jepang
- Choirul Anam, Perkembangan dan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama (NU)
- Abdurrahman Shaleh, Penyelenggaraan Madrasah Peraturan perundangan
- Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi, Selayang Pandang Sejarah Para Ulama
- Ari H Gunawan, Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia
- Dawam Raharjo, Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan
- A. Malik Fadjar, Sintesa Antara Perguruan Tinggi dan Pesantren
- Nuril Huda, Pedoman Majlis Ta’lim
- A. Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia
- Harus Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan
- Djumhur dan Dana Saputra, Sejarah Pendidikan Islam
- Tim Penyusun, Pustaka Azzat, Leksikon Islam 2
- Asghar Ali Engineer, Perempuan dalam Syari’ah, Perspektif Feminis dalam Penafsiran Islam
-
PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Pengantar Ilmu Pendidikan
Penyusun Buku : Drs. Amir Daien Indrakusuma
Penerbit Buku : “Usaha Nasional”
Tahun Terbit buku : Juli 1973
Tebal Buku : 218 Halaman
BAB I
PENDAAHULUAN
Ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah.Setelah melihat pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat ilmu pengetahuan sebagai berikut:
• Ilmu pengetahuan harus ada obyeknya Adapun obyek ilmu pengetahuan adalah obyek material dan formal. Obyek matrial adalah bahan yang menjadi sasaran suatu ilmu pengetahuan sedangkan obyek formal adalah sudut pembahasan suatu ilmu pengetahuan, misal: ilmu jiwa dan ilmu manusia yang kwdua macam ilmu pengetahuan itu mempunyai obek material sama (manusia), akan tetapi obyek formalnya berbeda. Oleh karena itu obyek material ilmu pengetahuan dapat sama sedang obyek formalnya berbeda.
• Ilmu pengetahuan harus metodis : ilmu pengetahuan dalam mengdakan pembahasan serta penyelidikan untuk suatu ilnmi pengrtahuan harus menggunakan metode yang ilmiah.
• Ilmu pengetahuan harus sistematis.
• Harus mempunyai dinamika : ilmi pengetajhuan harus tumbuh dan berkembang untuk mepunyai kesempuranaan.
• Harus praktis : ilmi pengetahuan harus berguna dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
• Harus diabadikan untuk kesejahteraan manusia.
Kedudukan ilmu pendidikan itu berada di tengah-tengah ilmu yang lain. Ilmu pendidiakan ialah suatu llmu pengetahuan yang membahas masalah yamg behubungan dengan pendidikan,syarat ilmu pendidikan adalah bersifat teoritis,praktis,dan normatif.
1.1 Syarat Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah uraian yang sistematis, metodis tentang suatu masalah.
1.2 Ilmu Pengetahuan Suatu Ilmu
Karena ilmu pendidikan mempunyai obyek, metode dan sistematis.
1.3 Kedudukan Ilmu Pendidikan
Kedudukannya di tengah-tengah ilmu pengetahuan yang lain.
1.4 Sifat Ilmu Pendidikan
Sifat ilmu pendidikan adalah praktis, teoritis dan normatif.
1.5 Obyek Ilmu Pendidikan
Obyek ilmu pendidikan adalah anak didik, pendidik, materi, metode, evaluasi, alat pendidikan, lingkungan dan dasar pendidikan.
1.6 Ilmu bantu ilmu pendidikan
Ilmu bantu ilmu pendidikan adalah ilmu biologi, ilmu jiwa dan ilmu-ilmu sosial.
A. Syarat – Syarat Ilmu Pengetahuan
Suatu ilmu pengetahuan harus mamanuhi tiga persyaratan pokok dan beberapa persysaratan tambahan. Diantaranya:
Persyaratan pokok
Suatu ilmu harus mempunyai obyek tertentu
Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan metode – metode yang sesuai
Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan sistematika tertentu
Persyaratan tambahan
Suatu ilmu pengetahuan harus mempunyai dinamika
Suatu ilmu pengetahuan harus praktis
Suatu ilmu pengetahuan harus diabdikan untu kesejahteraan umat manusia
B. Ilmu Pendidikan Sebagia Ilmu
Setelah kita tahu apa yang menjadi persyaratan suatu ilmu pengetahuan . tentunya kita mengetahui bahwa ilmu pendidikan telah memenuhi persyaratan – persyaratan tersebut.
Ilmu pendidikan mempunyai obyek , metode, dan systematika . tidak hanya itu ilmu pendidikan juga telah memenuhi persyaratan tambahan lainnya. Misal, praktis , dinamika dan tentunya diabdikan untuk kesejahteraan umat manusia.
C. Kedudukan Ilmu Pendidikan
Guna mempermudah untuk mengetahui kedudukan ilmu pendidikan, coba kita perhatikan bagan berikut.
Ilmu pengetahuan
Matematika - Ilmu Berhitung
- Ilmu Aljabar
- Ilmu Ukur
- Ilmu Mekanik
Fisika - ilmu Alam
- ilmu Kimia
- Geologi
- Mineralogi
Biologi - Botani
- Zoologi
- Antropologi
- Etnologi
Social sciences - Ilmu Jiwa
- Ilmu Logika
- Ilmu Ethika
- Ilmu Hukum
- Ilmu Ekonomi
- Ilmu Pendidikan
- Sosiologi
Metafisika - Ontologi
- Antropologi Filsafat
- Cosmologi
- Theodicee
Dari bagan diatas maka kita ketahui bahwa kedudukan ilmu pendidikan terletak di tengah – tengah ilmu – ilmu yang lain.
D. Sifat – Sifat Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah – masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai mana setiap ilmu mempunyai siafatnya masing – masing begitu juga dengan ilmu pendidikan.
Sifat ilmu pendidikan diantaranya : - Teoritis
- Praktis
- Normatif
E. Obyek – Obyek Ilmu Pendidikan
Adapun obyek dari ilmu pendidikan yaitu :
Anak Didik
Pendidik
Materi Pendidikan
Metodologi Pengajaran
Evaluasi Pengajaran
Alat – Alat Pendidikan
Milieu Atau Lingkungan Sekitar
Dasar Dan Tujuan Pendidikan
F. Ilmu – Ilmu Bantu Ilmu Pendidikan
Ilmu bantu yang diperlukan dalam ilmu pendidikan antara lain :
Ilmu – Ilmu Biologi, misal; Embriologi, Anatomi, Fisiologi dan lain sebagainya.
Ilmu jiwa, misal; Ilmu Jiwa Umum, Ilmu Jiwa Perkembangan, Ilmu Jiwa Social.
Ilmu – Ilmu Social, misal; Social, Ekonomi, Hukum, dan lain sebagainya.
BAB II
PENDIDIKAN
Adapun unsur-unsur pendidikan adalah:
1.Anak didik : pihak yang menjadi obyek utama pendidikan
2. Pendidik : pihak yang menjadi subyek dari pelaksanaan pendidikan
3. Materi : bahan atau pengalaman belajar yang disusun menjadi kurikulum
4. Alat pendidikan : tindakan yang menjdi kelamgsungan mendidik
5. Lingkumgan : keadaan yang berbengaruh terhadap hasil pendidikan
6.Dasar dan landasan pendidikan : landasan yang menjadi fundamental dari segala kegiatn pendidikan.
Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan tematis,yang dilakukan seseorang untuk mempengaruhi agar anak mempunyai siafat dan tabiat yang sesuai dengan tujan pendidikan .Yang menjadi eksistensi mendidik terletak pada tujuan mendidik, sedang mengajar eksistensinya terletak pada materinya.Oleh karena itu daapat disimpulkan mendidik lebih luas dari pda mengajar,dan mengajar merupakan sarana dalam mendidik.
Adapun faktor-faktoryang membatasi kemampuan pendidikan :
Faktor anak didik:di dalam anak didik terdpt potensi-potensi yang butuh pendidikan dari luar
Faktor pendidik:guru mempunyai metode penyampian yang berbeda dan beragam.
Faktor lingkumgan:limgkungan sangat berpengaruh baik positif maupun negatif.
Lama pendidikan tidak akhirnya.Menurut Lengeverd bahwa di saat ketika anak itu telah sadar atau mengenal kewibawaan(gezaag).Adapun ciri-cirinya:adanya kestabilan,sifat tanggung jawab dan sifat berdiri sendiri.
Menurut sarjanawan pendidikan dari Barat lma pendidikan jika anak telah berumur 20 atau 21 tahun sedang menurut bangsa Timur,bahwa prndidikan tidak hanya di mulai sejak prenatal melainkan di mulai sejak anak diciptakan(konsepsi).
Dasardan tujuan merupakan salah masalah ynng sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan.Oleh karen itu dasar akan mennetukn corak dan isi dari pensdidikn akan menuju arah mana anak dibawa
2.1 Apakah Pendidikan itu?
Pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa.
2.2 Mendidik dan Mengajar
Mendidik lebih luas dari pada mengajar, mengajar hanyalah merupakan alat atau sarana di dalam mendidik. Sedangkan mendidik harus mempunyai tujuan nilai-nilai yang tinggi.
2.3 Batas-batas Kemampuan Penduduk
Adapun faktor-faktor yang membatasi kemampaun pendidikan adalah :
1) Faktor yang terletak pada anak didik
2) Faktor yang terletak pada si pendidik
3) Faktor yang ada pada lingkungan.
2.4 Lama Pendidikan dan Kedewasaan
Menr langeveld, batas bawah dari pendidikan itu ada saat dimana anak telah mengenal kewibawaan.
2.5 Macam-macam Pendidikan
1) Membedakan menurut filsafat atau pandangan hidup
2) Membedakan menurut aspek-aspek pendidikan
3) Membedakan menurut tingkatnya
4) Membedakan menurut umumnya
5) Membedakan menurut tempat pendidikannya
6) Membedakan menurut isi pendidikan
7) Membedakan menurut sifat anak didik
8) Membedakan menurut sifat pelaksanaan
A. Apakah Pendidikan Itu ?
Mengenai pertanyaan apa pendidikan itu dapat kita jawab. Bahwasannya dalam buku ini dikemukakan dua pengertian secara umum, berikut pengertian tersebut:
Definisi I : Pendidikan ialah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sitematis, yang dilakukan oleh orang – orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat yang sesuai dengan cita – cita pendidikan.
Definisi II : bantuan yang diberikan secara sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohani.
B. Mendidik Dan Mengajar
Secara teoritis pengertian mendidik dan mengajar tidaklah sama. Mengajar berarti menyerahkan atau manyampaikan ilmu pengaetahuan atau keterampilandan lain sebagainya kepada orang lain, dengan menggunakan cara – cara tertentu sehingga ilmu – ilmu tersebut bisa menjadi milik orang lain.
Lain halnya mendidik, bahwa mendidik tidak hanya cukup dengan hany memberikan ilmu pengetahuan ataupun keterampilan, melainkan juga harus ditanamkan pada anak didik nilai – nilai dan norma – norma susila yang tinggi dan luhur.
Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa mendidik lebih luas dari pada mengajar. Mengajar hanyalah alat atau sarana dalam mendidik .dan mendidik harus mempunyai tujuan dan nilai – nilai yang tinggi.
C. Batas – Batas Kemampuan Pendidikan
Adapun factor – factor yang membatasi kemampuan pendidikan ialah :
Faktor anak didik, Anak didik adalah pihak yang dibantu. Pada dasarnya dalam diri anak tersebut sudah terdapat potensi – potensi yang kemungkinan dapat dikembangkan yang mana dalam pengembangannya membutuhkan bantuan pihak lain.
Factor si pendidik, Pendidik adalah pihak yang memberi bantuan kepada anak didik . dalam hal ini pendidik memberi bantuan guna mengemabangkan potensi – potensi yang ada dalm diri anak didik.para pendidik tentunya mempunyai cara – cara tersendiri guna memberikan bantuan anak dan cara tersebut belum tentu sesuai dengan anak, inilah yang menjadi penentu pada akhirnya dalam keberhasilan pendidikan.
Factor lingkungan, Lingkungan disini dapat berupa benda – benda, orang –orang , dan lain sebagainya yang ada di sekitar anak didik. Suatu hal disekitar anak dapat memberi pengaruh langsung terhadap pembentukan dan perkembangan anak.
D. Lama Pendidikan Dan Kedewasaan
Yang dimaksud lama pendidikan disini adalah hal yang menyangkut kapan pendidikan itu dimulai (batas bawah) dan kapan pendidikan itu berakhir (batas atas). Menurut langeveld batas bawah dari pendidikan itu ialah saat dimana anak mulai mengakui dan menerima pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain.
Sedangkan batas atas dari pendidikan adalah apabila anak telah mencapai tinggkat dewasa dalam arti rohaniah. Adapun ciri – cirinya yaitu : adanya sifat kestabilan (kemantapan), adanya sifat tanggung jawab, adanya sifat kemandirian.
E. Macam – Macam Pendidikan
Ditinjau dari segi pelaksanaan pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut:
Pendidikan menurut filsafat atau pandangan hidup
Pendidikan Nasionalis
Pendidikan Kolonialis
Pendidikan Komunis
Pendidikan Liberalis
Pendidikan Islam
Dan lain sebagainya
Menurut segi – segi atau aspek – aspek pendidikan.
Pendidikan Akhlak atau Budi Pekerti
Pendidikan Kecerdasan
Pendidikan Keindahan
Pendidikan Kewarga Negaraan
Pendidikan Jasmani
Dan sebagainya
Menurut tingkatan – tingkatannya
Pendidikan Pra Sekolah
Pendidikan Dasar
Pendidikan Menengah
Pendidikan Tinggi
Pebedaaan menurut umur
Pendidikan Prenatal
Pendidikan Bayi
Pendidikan Anak
Pendidikan Pemudah
Pendidikan Orang Dewasa
Pembedaan menurut tempat pendidikan
Pendidikan Di Rumah
Pendidikan Di Sekolah
Pendidikan Masyarakat
Menurut isi pendidikan
Pendidikan Umum
Pendidikan Kejuruan
Menurut segi pelaksanaan
Pendidikan Formal
Pendidikan Non Formal
Pendidikan Informal
Menurut sifat atau keadaaan anak didik
Pendidikan Biasa
Pendidikan Luar Biasa
BAB III
DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Hubungan kurikulum dengan falsafah dapat digambarkan sebagai berikut:
Menurut M.J.Langeveld bahwa pandangan pendidikan yang cocok untuk pendidikan adalah mengakui manusia sebagai makhluk sosial,individual dan dwi tunggal.dapun tujuan pendidikan adalah:
Tujuan umum:membentuk Insan Kamil
Tujuan khusus:tujuamn dalam rangka mencapai tujuan umum
Tujuan tak lengkap:tujuan dari masing-masing aspek pendidikan sendiri
Tujuan insidental:tujuan seketika karena timbul secara kebetulan
Tujuan sementara:tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan
Tujuan perantara(intermediasi):alat untuk mencapai tujuan yang lain
3.1 Filsafat sebagai Dasar dan Tujuan Pendidikan
Karena setiap negara membentuk dasar an tujuan pendidikan di negaranya.
3.2 Hubungan Kurikulum dan Dasar dan Tujuan Pendidikan.
Hubungannya sangat erat, dan dapat digambarkan sebagai berikut:
3.3 Azazi manusia dalam Pendidikan
Manusia mempunyai hakekat sebagai manusia dwitunggal, individu dan soial serta manusia susila.
3.4 Aspek-aspek Pendidikan
Aspek pendidikan diantaranya : pendidikan akhlak, kecerdasan, sosial, kewarganegaraan, keindahan, kesenian, agama dan kesejahteraan keluarga.
3.5 Macam-macam Tujuan Pendidikan
Tujuan dalam pendidikan adalah : tujuan umum, khusus, tak lengkap, insidental, sementara, perantara.
A. Filsafat Negara Sebagai Dasar Dan Tujuan Pendidikan
Mengingat sangat urgentna masalah pendidikan bagi bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara di dunia ini menangani secara langsung masalah – masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Terutama yang menyangkut masalah kebijakan atau policy. Dalam hal ini masing – masing negara mempunyai kebijakan sendiri – sendiri yang sesuai dengan keadaan.
B. Hubungan Kurikulum Dengan Dasar Dan Tujuan Pedidikan
Kurikulum adalah sebagai alat pembenmtukan. Alat pembentuk merid. Kita tahu dasar pendidikan akan menentukan corak dan isi pendidikan . dan isi pendidikan itu tidak lain adalah kurikulum. Denagn demikian maka dasar pendidikan menentukan corak dan isi kurikulum.
Disamping itu, kurikulum sebagai alat pembentuk haruslah disesuaikan dengantujuan pendidikan.
C. Azasi Manusia Dalam Pendidikan
Manusia pada hakekatnya mempunyai beberapa macam azasi, antara lain:
Bahwasanya manusia itu adalah makhluk dwi tunggal, manusia terdiri atas unsur rohaniah dan unsur jasmaniah. Unsur halus dan unsur kasar. Badan halus dan badan wadag. Unsur jiwa dan unsur raga.
Bahwasannya manusia mempunya dua macam sifat azasi ; sebagai makhluk indifidual dan sebagai makhluk social.
Manusia sebagai makhluk susila ; makhluk bertuhan , makhluk bertaqwa.
D. Aspek – Asapek Pendidikan
Pendidikan budi pekerti atau pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak adalah dasar dan fundament bagi semua pendidikan yang lain . karena pendidikan menyangkut pendidikan moral.
Pendidikan kecerdasan. Pendidikan kecerdasan adalah merupakan tugas pokok dari sekolah disamping tugas – tugas yang lain. Tujuan pendidikan kecerdasan ini adalah mendidik anak agar mampu berfikir secara kritis, logis, kreatif, dan berfikir secara reflektif.
Pendidikan social atau kemasyarakatan. Pendidikan ini berhubungan dengan pergaulan anak didik dan proses adaptasi lingkungan. Pendidikan social bertujuan untuk mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama dan dapat ambil bagian atau berpartisipasi secara aktif didalmnya.
Pendidikan kewarga negaraan . manusia selain hidup berkelompok kecil yaitu keluarga juga manusia terkelompok dalam kelompok besar yaitu negara. Oleh karena itu pendidikan dirasa penting untuk diberikan guna memberi wawasan pada anak didik agar kelak menajadi warga yang baik dan berguna.
Pendidikan keindahan atau estetika. Pada dasarnya pendidikan estetika bukanlah aspek yang begitu penting namun sesuatu tentang keindahan itu ada dalam setiap aspek kehidupan kita. Oleh karena itu tak salah tentunya kalau hal ini juga dipelajari. Pendidikan ini bertujuan agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan.
Pendidikan jasmani . pendidikan ini tidak hannya utnuk membentuk tubuh yang atletis , melainkan juga bertujuan untuk membentuk watak.
Pendidikan Agama. Agama tidak lain adalah sumber moral. Oleh karena itu tujuan pendidikan agama tidak lain adalah menuntun anak untuk menjadi anal yang bermoral, manusia yang berbudi luhur, manusia yang bertaqwa kepada tuhan, manusia yang meyakini dan mengamalkan ajaran – ajaran agama.
Pendidikan kesejahteraan keluarga, tujuan pendidikan ini secara luas adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk terwujudnya keluarga yang sejahtera menuju kepada terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
E. Macam – Macam Tujuan Pendidikan
Tujuan umum. Menurut kohnstamm dan gunning, tujuan umum pendidikan adalah untuk membentuk insan kamil atau manusia sempurna. Sedangkan menurut kihajar dwantara, tujuan akhir pendidikan ialah agar anak sebagai manusia (individu) dan sebagai anggota masyarakat (manusia sosial) , dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya.
Tujuan khusus. Adalah tujuan – tujuan pendidikan yang telah disesuaikan dengan keadaan tertentu, dalam rangka untuk mencapai yujuan umum pendidikan.
Tujuan tak lengkap. Adalah tujuan dari masing – masing aspek pendidikan.
Tujuan insidental adalah tujuan yang timbul secara kebetulan. Secara mendadak, misal tujuan untuk mengadakan hiburan atau variasi dalam kehidupan sekolah.
Tujuan sementara adalah tujuan – tujuan yang ingin kita capai dalam fase – fase tertentu dari pendidikan.
Tujuan perantara adalah merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan – tujuan lain. Misal mempelajari bahasa guna mempelajari literatur – literatur asing.
F. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Pendidikan Di Indonesia
Dasar dan tujuan pendidikan di indonesia dari masa kemasa selalu mengalami perbaikan – perbaikan yang diharapkan agar dapat membenahi sitem pendidikan di indonesia. Berikut kami cantumkan bagan perkembangan kebijakan pemerintah tentang pendidikan :
BAGAN
SEJARAH PERKEMBANGAN KEBIJAKSANAAN
PENDIDIKAN DISEKOLAH
Undang – Undang Pend. y . a . d
Tap . MPRS no. XXVII Th 1966
Pen. Pres. No. 19 Th 1965
Tap MPRS no. 11 Th 1960
Dekrit Presiden
5 Juli 1959
UU no.12 Th 1954
UU no. 4 Th 1950
UUD 45
BAB IV
PERKEMBANGAN ANAK
Anak merupakan obyek utamadari pendidikan dan di dalam anak mempunyai pembawaan yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa pembwaan itu berperan pada perkembngan sebagai berikut:
1.Aliran nativisme”perkembangan seorang anak ditentukan oleh pembawaannya”.
2.Aliran naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai dengan alamnya sendiri”
3.Aliran predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
Sedangkan aliran tentang lingkungan berperan pada perkembangan adalah sebagai berikut:
a. Teori Tabularasa(John Lock)”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada pembwaan apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong”.
b. Emanual Kant”manusi tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu berarti bahwa pendidikn sanggup membuat manusia yang bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang terkenal dengan teori konvergensimya ”perkembangan anak ityu tidak hamya totyentuakn oleh pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja.
Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi, perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.
Dalam suatu pendidikan terdapat siatu limgkungan yang biasa kita sebut Tri pusat pendidikan,yaitu:
Lingkungan kluarga:merupakan limgkumgan pendidikan yang pertama karena dalam anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan.
Limgkumgn sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan lanjutan pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang menghubungkan kehiupan keluarga dan masyarakat.
Lingkungan masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di atas dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Lingkungan alam :limgkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan tanah
2. Lingkungan sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat
4.1 Peran Pembawaan dalam Perkembangan
Terdapat aliran-aliran yang berpendapat :
a. Nativisme adalah perkembangan ini ditentukan oleh pembawaannya
b. Naturalisme (J.J. Rousseaw) adalah anak lahir m,embawa sifat-sifat sendiri.
c. Presditinasi/Predertiminasi adalah nasib
4.2 Peran Lingkungan Terhadap Lingkungan
a. Teori Tabularasa (John Lock) : anak dilahirkan dalam keadaan masih bersih, tidak ada pembawaan apa-apa.
b. Emmanual Kant : Manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan dengan demikian, bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja
4.3 Teori Konvergensi :
Perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh pembawaan saja dan tidak oleh lingkungan saja akan tetapi oleh dua-duanya.
4.4 Beberapa aspek Perkembangan
Aspek perkembangan yaitu : perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan.
A. Peran Pembawaaan Dalam Perkembangan
Pembawaan atau bakat adalah merupakan potensi – potensi , atau kemungkinan – kemungkinan yang memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk berkembang menjadi sesuatu. Berkembang tidaknya potensi yang ada pada anak masih sangat tergantung pada faktor – faktor pendidikan yang lain .
B. Peranan Lingkungan Dalam Pearkembangan
Lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak baik secara lanmg sung maupun tak langsung. Baik secara disengaja maupun tidak disengaja .
C. Teori Konvergensi Dalam Perkembangan
Menurut teori konvergensi bahwa perkembangan anak itu tidak hanya ditentukn oleh perkembangan saja, dan juga tidak hanya ditentukan oleh lingkungan saja. Melainkan perkembangan anak ditentukan dari hasil kerja sama antara kedua faktor tersebut.
D. Peranan Aktivitas Pribadi Dalam Perkembangan
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang aktif . makhluk yang didalam dirinya terdapat kecenderungan , terdapat naluri untuk membentuk dirinya sendiri, pada manusia terdapat kemampuan dan kemauan untuk menggerakan dan mengarahkan kemana perkambangan itu ditujukan, inilah yang dimaksud peranan aktivitas pribadi.
E. Bebebrapa Aspek Dalam Perkembangan
Perkembangan motoprik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan – gerakan
Perkembanagn pengamatan, ingatan dan fantasi
Penghamatan, perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada permulaan. Yaitu mula – mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju kehal – hal yang khusus.
Ingatan , berkembang sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah juga kemampuan daya ingatnya
Fantasi,mulai berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus berkembang.
Perkembangan berfikir, kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Mulai kanak – kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang bulat
Perkembangan kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego) dalam hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego tersebut sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut semakin berkurang akibat bertambahnya pengalaman – pengalaman hidup dalam masyarakat.
Perkembangan kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya kedewasaan.
BAB V
LEMBAGA DAN PUSAT – PUSAT PENDIDIKAN
5.1 Orang Tua sebagai Lembaga Pendidikan karena orang tua merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak
5.2 Yayasan sebagai lembaga pendidikan karena orang tua tidak bisa mendidik anak secara penuh, sehingga mereka menitipkan anaknya ke lembaga sekolah
5.3 Lembaga keagamaan sebagai lembaga pendidikan karena lembaga ini mempunyai bidang pendidikan yang mana orang tua kurang mampu untuk melaksanakannya.
5.4 Negara sebagai lembaga pendidikan merupakan suatau lembaga persekutuan hidup yang tinggi.
5.5 Tri pusat pendidikan diantaranya : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
5.6 Perkumpulan pemuda.
5.7 Catatan tambahan tentang lingkungan
1) Lingkungan alam : Klemotologis, geografis, keadaan tanah
2) Lingkungan sosial : keluarga dan masyarakat
A. Orang Tua Sebagai Lembaga Pendidikan
Orang tua merupakan orang yang pertama dan terutama yang wajib bertanggung jawab atas pendidikan anak. Hal ini dikarenakan orang tua adalah orang yang menjadikan sebab seorang anak itu ada di dunia ini. Dan hal itu dikarenakan juga anak dilahirkan didunia ini tanpa mempunyai daya sama sekali oleh karena itu kepada siapa lagi anak bergantung diri kalau tidak pada orang tua.
B. Yayasan – Yayasan Sebagai Lembaga Pendidikan
Orang tua sebagi tempat menggantungkan bagi anak itu adalah tempat bergantung diri yang wajar. Tapi pada kenyataannya tidak semua anak memperoleh tempat menggantungkan diri yang wajar ini. Denagn demikian mereka terpaksa memperoleh tempat penggantungan diri pada orang lain. Kebanyakan dari mereka ditampung di yayasan – yayasan yang mana disana mereka mendapatkan pendidikan.
C. Lembaga Keagamaan Sebagai Lembaga Pendidikan
Kiranya tidak dapat disangsikan lagi, bahwa lembaga keagamaan mempunyai tugas dalam penyelenggaraan pendidikan agama bagi umatnya.lembaga keagamaan mempunyai tanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak – anak termasuk juga orang dewasa.
D. Negara sebagai lembaga pendidikan
Guna mendapat warga negara - warga negara yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, warga negara - warga negara yang memiliki kesadaranakan tugas dan kewajiban, warga negara - warga negara yang memiliki kepandaian dan kecakapan, serta berjiwa pengabdian , mutlak perlu adanya pendidikan bagi calon – calon warga negara.pendidikan yang mempersiapkan anak agar dapat menjadi warga negara seperti yang dicita – citakan oleh negara. Disini negara berperan dalam penentuan kebijakan – kebijakan masalah – masalah pendidikan.
E. Tri Pusat Pendidikan
Tripusat pendidikan adalah pendidikan yang berlangsung pada tiga lingkungan.yaitu: lingkungan keluarga , lingkungan sekolah, dan lingkungan masyuarakat. Perpaduan antar ketiganya menentukan keberhasilan dalam suatu pendidikan.
F. Perkumpulan Pemuda
Perkumpulan pemuda juga termasuk lembaga pendidikan karena dalam perkumpulan ini pihak yang ikut didalamnya akan mendapatkan segudang pengalaman yang itu semua sangat berguna bagi pengetahuan – pengtahuan masing – masing individu.
BAB VI
BEBERAPA MASALAH DALAM PELAKSANAAN
Adapun masalah-masalah dalam pelaksanaan pendidikan yaitu:
a. Kewibawaan:pengakuan secara sukarel;a terhdap pengaruh yang datang dari orang lain.
b. Tanggung jawab:yang dimksud tanggung jawab di sini adalah bertanggung jawab atas pendidikan anak
c. Alat dan faktor.Keadaan yang ikut serta menntukan berhasilnya pendidikan disebut faktor pendidikan, sedangkan Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan.Alat pendidkan ada dua:
1. Alat preventif:alat yang bersifat pencegahan
2. Alat represif/kuratif/korektif: bertujuan untuk menyadarkan kepada yang benar
d. Hukuman dan ganjaran
e. Motivasi belajar:kekuatan-kekuatan yang memberikan dorongan kepada kegiatan belajar murid
6.1 Kewibawaan dalam pendidikan merupakan sayarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan.
6.2 Tanggung jawab pendidikan yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah tanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pada anak.
6.3 Alat dan alat semua keadaan yang ikut serta menentukan pada hasilnya pendidikan dinamakan faktor pendidikan sedang langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan.
6.4 Hukuman dan ganjaran, hukuman merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan anak, sedang ganjaran kebalikan dari hukuman.
6.5 Motivasi belajar kekuatan-kekuatan yang dapat memberi dorongan kepada kegiatan belajar murid
A. Kewibawaan Dalam Pendidikan
Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan disini ialah pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap anjuran dan pengaruh yang datang dari orang lain. Jadi penerimaan dan pengakuan anjuran dari oramg lain itu diterima dengan sukarela atas dasar sadar keikhlasan, atas kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa, rasa takut akan sesuatu, dan sebagainya.
B. Tanggung Jawab Pendidikan
Disini kita membicarakan siapakah yang bertanggung jawab pada hasil pendidikan. Yang bertanggung jwab pada hasil pendidikan adalah :
Pada pendidikan anak maka tanggung jawab sepenuhnya adalah di tangan pendidik
Pada pendidikan orang dewasa maka tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh si terdidik sendiri. Yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pendidikan dirinya.
Pada perguruan tinggi yang menjadi obyek adalah mahasiswa – mahasiswa, yang merupakan orang – orang yang telah dewasa atau dianggap dewasa.
C. Alat Dan Factor Pendidikan
Faktor pendidikan adalah hal – hal yang ikut serta menentukan pada keberhasilan pendidikan. Sedangkan alat – alat pendidikan adalah langkah – langkah yang diambil dmi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. Faktor – faktor pendidikan berupa sebagai kondisi – kondis atau situasi – situasi. Sedangkan alat – alat pendidikan berupa bentuk – bentuknya.
Termasuk faktor pendidikan anatara lain : keadaan gedung sekolah, keadaan perlengkapan sekolah,keadaaan alat – alat sekolah, keadaaan alat – alat pelajaran, dan fasilitas – fasilitas yang lain.
Mengenai alat pendidikan dapat digolongkan menjadi dua ;
Alat pendidikan preventif, alat pendidikan yang berupa pencegahan:
Tata tertib
Anjuran dan perintah
Larangan
Paksaan
disiplin
Alat pendidikan represif, disebut juga alat pendidikan kuratif atau korektif:
Pemberitahuan
Teguran
Peringatan
Hukuman
ganjaran
D. Hukuman Dan Ganjaran
Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkna kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa.dan dengan adanya nestapa itu anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.
Dalam hukuman terdapat dua macam prinsip mengadakan hukuman:
Hukuman diadakan karena pelanggaran
Hukuman diadakan dengan tujuan ag ar tidak terjadi pelanggaran
Adapun dalam hukuman ini ada beberapateori:
Teori hukuman alam
Teori ganti rugi
Teori menakut – nakuti
Teori balas dendam
Teori memperbaiki
E. Motivasi Belajar
Motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua macam :
Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang ada pada diri anak sendiri :
Adanya kebutuhan
Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
Adanya aspirasi atau cita - cita
Motivasi ekstrinsik, ialah motivasi yang datang dari luar anak didik :
Ganjaran
Hukuman
Persaingan atau kompetisi
BAB VII
PERSYARATAN PENDIDIK
7.1 Persyaratan jasmani dan rohani untuk menjadi guru harus sehat jasmanai dan rohani
7.2 Persyaratan pengetahuan pendidikan untuk menjadi guru profesional maka harus mempunyai wawasan dan IP yang luas.
7.3 Persyaratan kepribadian seorang guru harus mempunyai kecerdasan, kecakapan, pengetahuan dan sikap, minat, tabi’at, keteladanan dan sebagainya.
7.4 Persyaratan-persyaratan khusus, biasanya disesuaikan dengan pandangan dan falsafah hidup bagus sendiri-sendiri.
7.5 Persyaratan menurut Ronggowarsito :
1) Bangsaneng awiryo (berkebangsaan tinggi)
2) Bangsaneng sajano (orang yang baik)
3) Bangsaneng aguno (pandai)
4) Hawicerito (kaya cerita)
5) Nawung krido (mempunyai pandangan yang tinggi)
6) Asih ing murid (cinta kepada anak didik)
Sambegana (mempunyai daya ingat
A. Persyaratan Jasmaniah Dan Kesehatan
Guru adalah petugas lapangan dalam pendidikan. Oleh karena itu syarat pertama yang harus dipenuhi oleh seorang guru antara lain
Guru tidak boleh mempunyai cacat tubuh yang nyata.
Guru harus sehat jasmani (tidak sakit apapun)
Guru harus sehat jiwa
B. Persyaratan Pengetahuanm Pendidikan
Untuk menjadi seorang guru perlu adanya pendidikan khusus. Adapun pengetahuan – pengetahuan yang penting bagi seorang guru antara lain:
Pengetahuan tentang pendidikan
Pengetahuan psikologi
Pengetahuan tentang kurikulum
Pengetahuan tentang metode mengajar
Pengetahuan tentang dasar dan tujuan pendidikan
Pengaetahuan tentang moral, nilai – nilaidan norma – norma
C. Persyaratan Kepribadian
Kepribadian pada dasarnya adalah keseluruhan dari ciri – ciri dan tingkah laku dari seseorang. Dalam pembicaraan disini pengertian kepribadian lebih ditekankankepada kelakuan, tabiat, sikap dan minat.
Kelakuan dan tabiat adalah sesuatu yang berhubungan dengan moral. Dalam kaitannya persyaratan seorang guru. Guru haruslah mempunyai kepribadian yang luhur. Sebab guru adalah sosok yang dijadikan panutan oleh anak didik.
D. Persyaatan – Persyaratan Khusus
Persyaratan ini antara lain :
Seorang guru harus berjiwa pancasila
Menurut uu no. 4 tahun 1950, babx pasal 15 bunyinya : “ syarat utama untuk menjadi guru, selain ijazah dan syarat – syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat – sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3, dan pasal 4, dan pasal 5 dari undang – undang ini.”
Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran
Pasal 4 tentang dasar – dasar pendidikan dan pengajaran
Pasal 5 tentang bahasa
E. Persyaratan Menurut Ronggo Warsito
Menurut rangga warsita oranmg yang pantas menjadi guru adalah
orang yang dari keturunan terhormat
orang yang taat beribadah
orang yang bermoral tinggi
dan lain sebagainya
Judul Buku : Pengantar Ilmu Pendidikan
Penyusun Buku : Drs. Amir Daien Indrakusuma
Penerbit Buku : “Usaha Nasional”
Tahun Terbit buku : Juli 1973
Tebal Buku : 218 Halaman
BAB I
PENDAAHULUAN
Ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah.Setelah melihat pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat ilmu pengetahuan sebagai berikut:
• Ilmu pengetahuan harus ada obyeknya Adapun obyek ilmu pengetahuan adalah obyek material dan formal. Obyek matrial adalah bahan yang menjadi sasaran suatu ilmu pengetahuan sedangkan obyek formal adalah sudut pembahasan suatu ilmu pengetahuan, misal: ilmu jiwa dan ilmu manusia yang kwdua macam ilmu pengetahuan itu mempunyai obek material sama (manusia), akan tetapi obyek formalnya berbeda. Oleh karena itu obyek material ilmu pengetahuan dapat sama sedang obyek formalnya berbeda.
• Ilmu pengetahuan harus metodis : ilmu pengetahuan dalam mengdakan pembahasan serta penyelidikan untuk suatu ilnmi pengrtahuan harus menggunakan metode yang ilmiah.
• Ilmu pengetahuan harus sistematis.
• Harus mempunyai dinamika : ilmi pengetajhuan harus tumbuh dan berkembang untuk mepunyai kesempuranaan.
• Harus praktis : ilmi pengetahuan harus berguna dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
• Harus diabadikan untuk kesejahteraan manusia.
Kedudukan ilmu pendidikan itu berada di tengah-tengah ilmu yang lain. Ilmu pendidiakan ialah suatu llmu pengetahuan yang membahas masalah yamg behubungan dengan pendidikan,syarat ilmu pendidikan adalah bersifat teoritis,praktis,dan normatif.
1.1 Syarat Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah uraian yang sistematis, metodis tentang suatu masalah.
1.2 Ilmu Pengetahuan Suatu Ilmu
Karena ilmu pendidikan mempunyai obyek, metode dan sistematis.
1.3 Kedudukan Ilmu Pendidikan
Kedudukannya di tengah-tengah ilmu pengetahuan yang lain.
1.4 Sifat Ilmu Pendidikan
Sifat ilmu pendidikan adalah praktis, teoritis dan normatif.
1.5 Obyek Ilmu Pendidikan
Obyek ilmu pendidikan adalah anak didik, pendidik, materi, metode, evaluasi, alat pendidikan, lingkungan dan dasar pendidikan.
1.6 Ilmu bantu ilmu pendidikan
Ilmu bantu ilmu pendidikan adalah ilmu biologi, ilmu jiwa dan ilmu-ilmu sosial.
A. Syarat – Syarat Ilmu Pengetahuan
Suatu ilmu pengetahuan harus mamanuhi tiga persyaratan pokok dan beberapa persysaratan tambahan. Diantaranya:
Persyaratan pokok
Suatu ilmu harus mempunyai obyek tertentu
Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan metode – metode yang sesuai
Suatu ilmu pengetahuan harus menggunakan sistematika tertentu
Persyaratan tambahan
Suatu ilmu pengetahuan harus mempunyai dinamika
Suatu ilmu pengetahuan harus praktis
Suatu ilmu pengetahuan harus diabdikan untu kesejahteraan umat manusia
B. Ilmu Pendidikan Sebagia Ilmu
Setelah kita tahu apa yang menjadi persyaratan suatu ilmu pengetahuan . tentunya kita mengetahui bahwa ilmu pendidikan telah memenuhi persyaratan – persyaratan tersebut.
Ilmu pendidikan mempunyai obyek , metode, dan systematika . tidak hanya itu ilmu pendidikan juga telah memenuhi persyaratan tambahan lainnya. Misal, praktis , dinamika dan tentunya diabdikan untuk kesejahteraan umat manusia.
C. Kedudukan Ilmu Pendidikan
Guna mempermudah untuk mengetahui kedudukan ilmu pendidikan, coba kita perhatikan bagan berikut.
Ilmu pengetahuan
Matematika - Ilmu Berhitung
- Ilmu Aljabar
- Ilmu Ukur
- Ilmu Mekanik
Fisika - ilmu Alam
- ilmu Kimia
- Geologi
- Mineralogi
Biologi - Botani
- Zoologi
- Antropologi
- Etnologi
Social sciences - Ilmu Jiwa
- Ilmu Logika
- Ilmu Ethika
- Ilmu Hukum
- Ilmu Ekonomi
- Ilmu Pendidikan
- Sosiologi
Metafisika - Ontologi
- Antropologi Filsafat
- Cosmologi
- Theodicee
Dari bagan diatas maka kita ketahui bahwa kedudukan ilmu pendidikan terletak di tengah – tengah ilmu – ilmu yang lain.
D. Sifat – Sifat Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah – masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai mana setiap ilmu mempunyai siafatnya masing – masing begitu juga dengan ilmu pendidikan.
Sifat ilmu pendidikan diantaranya : - Teoritis
- Praktis
- Normatif
E. Obyek – Obyek Ilmu Pendidikan
Adapun obyek dari ilmu pendidikan yaitu :
Anak Didik
Pendidik
Materi Pendidikan
Metodologi Pengajaran
Evaluasi Pengajaran
Alat – Alat Pendidikan
Milieu Atau Lingkungan Sekitar
Dasar Dan Tujuan Pendidikan
F. Ilmu – Ilmu Bantu Ilmu Pendidikan
Ilmu bantu yang diperlukan dalam ilmu pendidikan antara lain :
Ilmu – Ilmu Biologi, misal; Embriologi, Anatomi, Fisiologi dan lain sebagainya.
Ilmu jiwa, misal; Ilmu Jiwa Umum, Ilmu Jiwa Perkembangan, Ilmu Jiwa Social.
Ilmu – Ilmu Social, misal; Social, Ekonomi, Hukum, dan lain sebagainya.
BAB II
PENDIDIKAN
Adapun unsur-unsur pendidikan adalah:
1.Anak didik : pihak yang menjadi obyek utama pendidikan
2. Pendidik : pihak yang menjadi subyek dari pelaksanaan pendidikan
3. Materi : bahan atau pengalaman belajar yang disusun menjadi kurikulum
4. Alat pendidikan : tindakan yang menjdi kelamgsungan mendidik
5. Lingkumgan : keadaan yang berbengaruh terhadap hasil pendidikan
6.Dasar dan landasan pendidikan : landasan yang menjadi fundamental dari segala kegiatn pendidikan.
Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan tematis,yang dilakukan seseorang untuk mempengaruhi agar anak mempunyai siafat dan tabiat yang sesuai dengan tujan pendidikan .Yang menjadi eksistensi mendidik terletak pada tujuan mendidik, sedang mengajar eksistensinya terletak pada materinya.Oleh karena itu daapat disimpulkan mendidik lebih luas dari pda mengajar,dan mengajar merupakan sarana dalam mendidik.
Adapun faktor-faktoryang membatasi kemampuan pendidikan :
Faktor anak didik:di dalam anak didik terdpt potensi-potensi yang butuh pendidikan dari luar
Faktor pendidik:guru mempunyai metode penyampian yang berbeda dan beragam.
Faktor lingkumgan:limgkungan sangat berpengaruh baik positif maupun negatif.
Lama pendidikan tidak akhirnya.Menurut Lengeverd bahwa di saat ketika anak itu telah sadar atau mengenal kewibawaan(gezaag).Adapun ciri-cirinya:adanya kestabilan,sifat tanggung jawab dan sifat berdiri sendiri.
Menurut sarjanawan pendidikan dari Barat lma pendidikan jika anak telah berumur 20 atau 21 tahun sedang menurut bangsa Timur,bahwa prndidikan tidak hanya di mulai sejak prenatal melainkan di mulai sejak anak diciptakan(konsepsi).
Dasardan tujuan merupakan salah masalah ynng sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan.Oleh karen itu dasar akan mennetukn corak dan isi dari pensdidikn akan menuju arah mana anak dibawa
2.1 Apakah Pendidikan itu?
Pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa.
2.2 Mendidik dan Mengajar
Mendidik lebih luas dari pada mengajar, mengajar hanyalah merupakan alat atau sarana di dalam mendidik. Sedangkan mendidik harus mempunyai tujuan nilai-nilai yang tinggi.
2.3 Batas-batas Kemampuan Penduduk
Adapun faktor-faktor yang membatasi kemampaun pendidikan adalah :
1) Faktor yang terletak pada anak didik
2) Faktor yang terletak pada si pendidik
3) Faktor yang ada pada lingkungan.
2.4 Lama Pendidikan dan Kedewasaan
Menr langeveld, batas bawah dari pendidikan itu ada saat dimana anak telah mengenal kewibawaan.
2.5 Macam-macam Pendidikan
1) Membedakan menurut filsafat atau pandangan hidup
2) Membedakan menurut aspek-aspek pendidikan
3) Membedakan menurut tingkatnya
4) Membedakan menurut umumnya
5) Membedakan menurut tempat pendidikannya
6) Membedakan menurut isi pendidikan
7) Membedakan menurut sifat anak didik
8) Membedakan menurut sifat pelaksanaan
A. Apakah Pendidikan Itu ?
Mengenai pertanyaan apa pendidikan itu dapat kita jawab. Bahwasannya dalam buku ini dikemukakan dua pengertian secara umum, berikut pengertian tersebut:
Definisi I : Pendidikan ialah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sitematis, yang dilakukan oleh orang – orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat yang sesuai dengan cita – cita pendidikan.
Definisi II : bantuan yang diberikan secara sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohani.
B. Mendidik Dan Mengajar
Secara teoritis pengertian mendidik dan mengajar tidaklah sama. Mengajar berarti menyerahkan atau manyampaikan ilmu pengaetahuan atau keterampilandan lain sebagainya kepada orang lain, dengan menggunakan cara – cara tertentu sehingga ilmu – ilmu tersebut bisa menjadi milik orang lain.
Lain halnya mendidik, bahwa mendidik tidak hanya cukup dengan hany memberikan ilmu pengetahuan ataupun keterampilan, melainkan juga harus ditanamkan pada anak didik nilai – nilai dan norma – norma susila yang tinggi dan luhur.
Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa mendidik lebih luas dari pada mengajar. Mengajar hanyalah alat atau sarana dalam mendidik .dan mendidik harus mempunyai tujuan dan nilai – nilai yang tinggi.
C. Batas – Batas Kemampuan Pendidikan
Adapun factor – factor yang membatasi kemampuan pendidikan ialah :
Faktor anak didik, Anak didik adalah pihak yang dibantu. Pada dasarnya dalam diri anak tersebut sudah terdapat potensi – potensi yang kemungkinan dapat dikembangkan yang mana dalam pengembangannya membutuhkan bantuan pihak lain.
Factor si pendidik, Pendidik adalah pihak yang memberi bantuan kepada anak didik . dalam hal ini pendidik memberi bantuan guna mengemabangkan potensi – potensi yang ada dalm diri anak didik.para pendidik tentunya mempunyai cara – cara tersendiri guna memberikan bantuan anak dan cara tersebut belum tentu sesuai dengan anak, inilah yang menjadi penentu pada akhirnya dalam keberhasilan pendidikan.
Factor lingkungan, Lingkungan disini dapat berupa benda – benda, orang –orang , dan lain sebagainya yang ada di sekitar anak didik. Suatu hal disekitar anak dapat memberi pengaruh langsung terhadap pembentukan dan perkembangan anak.
D. Lama Pendidikan Dan Kedewasaan
Yang dimaksud lama pendidikan disini adalah hal yang menyangkut kapan pendidikan itu dimulai (batas bawah) dan kapan pendidikan itu berakhir (batas atas). Menurut langeveld batas bawah dari pendidikan itu ialah saat dimana anak mulai mengakui dan menerima pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain.
Sedangkan batas atas dari pendidikan adalah apabila anak telah mencapai tinggkat dewasa dalam arti rohaniah. Adapun ciri – cirinya yaitu : adanya sifat kestabilan (kemantapan), adanya sifat tanggung jawab, adanya sifat kemandirian.
E. Macam – Macam Pendidikan
Ditinjau dari segi pelaksanaan pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut:
Pendidikan menurut filsafat atau pandangan hidup
Pendidikan Nasionalis
Pendidikan Kolonialis
Pendidikan Komunis
Pendidikan Liberalis
Pendidikan Islam
Dan lain sebagainya
Menurut segi – segi atau aspek – aspek pendidikan.
Pendidikan Akhlak atau Budi Pekerti
Pendidikan Kecerdasan
Pendidikan Keindahan
Pendidikan Kewarga Negaraan
Pendidikan Jasmani
Dan sebagainya
Menurut tingkatan – tingkatannya
Pendidikan Pra Sekolah
Pendidikan Dasar
Pendidikan Menengah
Pendidikan Tinggi
Pebedaaan menurut umur
Pendidikan Prenatal
Pendidikan Bayi
Pendidikan Anak
Pendidikan Pemudah
Pendidikan Orang Dewasa
Pembedaan menurut tempat pendidikan
Pendidikan Di Rumah
Pendidikan Di Sekolah
Pendidikan Masyarakat
Menurut isi pendidikan
Pendidikan Umum
Pendidikan Kejuruan
Menurut segi pelaksanaan
Pendidikan Formal
Pendidikan Non Formal
Pendidikan Informal
Menurut sifat atau keadaaan anak didik
Pendidikan Biasa
Pendidikan Luar Biasa
BAB III
DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Hubungan kurikulum dengan falsafah dapat digambarkan sebagai berikut:
Menurut M.J.Langeveld bahwa pandangan pendidikan yang cocok untuk pendidikan adalah mengakui manusia sebagai makhluk sosial,individual dan dwi tunggal.dapun tujuan pendidikan adalah:
Tujuan umum:membentuk Insan Kamil
Tujuan khusus:tujuamn dalam rangka mencapai tujuan umum
Tujuan tak lengkap:tujuan dari masing-masing aspek pendidikan sendiri
Tujuan insidental:tujuan seketika karena timbul secara kebetulan
Tujuan sementara:tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan
Tujuan perantara(intermediasi):alat untuk mencapai tujuan yang lain
3.1 Filsafat sebagai Dasar dan Tujuan Pendidikan
Karena setiap negara membentuk dasar an tujuan pendidikan di negaranya.
3.2 Hubungan Kurikulum dan Dasar dan Tujuan Pendidikan.
Hubungannya sangat erat, dan dapat digambarkan sebagai berikut:
3.3 Azazi manusia dalam Pendidikan
Manusia mempunyai hakekat sebagai manusia dwitunggal, individu dan soial serta manusia susila.
3.4 Aspek-aspek Pendidikan
Aspek pendidikan diantaranya : pendidikan akhlak, kecerdasan, sosial, kewarganegaraan, keindahan, kesenian, agama dan kesejahteraan keluarga.
3.5 Macam-macam Tujuan Pendidikan
Tujuan dalam pendidikan adalah : tujuan umum, khusus, tak lengkap, insidental, sementara, perantara.
A. Filsafat Negara Sebagai Dasar Dan Tujuan Pendidikan
Mengingat sangat urgentna masalah pendidikan bagi bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara di dunia ini menangani secara langsung masalah – masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Terutama yang menyangkut masalah kebijakan atau policy. Dalam hal ini masing – masing negara mempunyai kebijakan sendiri – sendiri yang sesuai dengan keadaan.
B. Hubungan Kurikulum Dengan Dasar Dan Tujuan Pedidikan
Kurikulum adalah sebagai alat pembenmtukan. Alat pembentuk merid. Kita tahu dasar pendidikan akan menentukan corak dan isi pendidikan . dan isi pendidikan itu tidak lain adalah kurikulum. Denagn demikian maka dasar pendidikan menentukan corak dan isi kurikulum.
Disamping itu, kurikulum sebagai alat pembentuk haruslah disesuaikan dengantujuan pendidikan.
C. Azasi Manusia Dalam Pendidikan
Manusia pada hakekatnya mempunyai beberapa macam azasi, antara lain:
Bahwasanya manusia itu adalah makhluk dwi tunggal, manusia terdiri atas unsur rohaniah dan unsur jasmaniah. Unsur halus dan unsur kasar. Badan halus dan badan wadag. Unsur jiwa dan unsur raga.
Bahwasannya manusia mempunya dua macam sifat azasi ; sebagai makhluk indifidual dan sebagai makhluk social.
Manusia sebagai makhluk susila ; makhluk bertuhan , makhluk bertaqwa.
D. Aspek – Asapek Pendidikan
Pendidikan budi pekerti atau pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak adalah dasar dan fundament bagi semua pendidikan yang lain . karena pendidikan menyangkut pendidikan moral.
Pendidikan kecerdasan. Pendidikan kecerdasan adalah merupakan tugas pokok dari sekolah disamping tugas – tugas yang lain. Tujuan pendidikan kecerdasan ini adalah mendidik anak agar mampu berfikir secara kritis, logis, kreatif, dan berfikir secara reflektif.
Pendidikan social atau kemasyarakatan. Pendidikan ini berhubungan dengan pergaulan anak didik dan proses adaptasi lingkungan. Pendidikan social bertujuan untuk mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama dan dapat ambil bagian atau berpartisipasi secara aktif didalmnya.
Pendidikan kewarga negaraan . manusia selain hidup berkelompok kecil yaitu keluarga juga manusia terkelompok dalam kelompok besar yaitu negara. Oleh karena itu pendidikan dirasa penting untuk diberikan guna memberi wawasan pada anak didik agar kelak menajadi warga yang baik dan berguna.
Pendidikan keindahan atau estetika. Pada dasarnya pendidikan estetika bukanlah aspek yang begitu penting namun sesuatu tentang keindahan itu ada dalam setiap aspek kehidupan kita. Oleh karena itu tak salah tentunya kalau hal ini juga dipelajari. Pendidikan ini bertujuan agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan.
Pendidikan jasmani . pendidikan ini tidak hannya utnuk membentuk tubuh yang atletis , melainkan juga bertujuan untuk membentuk watak.
Pendidikan Agama. Agama tidak lain adalah sumber moral. Oleh karena itu tujuan pendidikan agama tidak lain adalah menuntun anak untuk menjadi anal yang bermoral, manusia yang berbudi luhur, manusia yang bertaqwa kepada tuhan, manusia yang meyakini dan mengamalkan ajaran – ajaran agama.
Pendidikan kesejahteraan keluarga, tujuan pendidikan ini secara luas adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk terwujudnya keluarga yang sejahtera menuju kepada terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
E. Macam – Macam Tujuan Pendidikan
Tujuan umum. Menurut kohnstamm dan gunning, tujuan umum pendidikan adalah untuk membentuk insan kamil atau manusia sempurna. Sedangkan menurut kihajar dwantara, tujuan akhir pendidikan ialah agar anak sebagai manusia (individu) dan sebagai anggota masyarakat (manusia sosial) , dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya.
Tujuan khusus. Adalah tujuan – tujuan pendidikan yang telah disesuaikan dengan keadaan tertentu, dalam rangka untuk mencapai yujuan umum pendidikan.
Tujuan tak lengkap. Adalah tujuan dari masing – masing aspek pendidikan.
Tujuan insidental adalah tujuan yang timbul secara kebetulan. Secara mendadak, misal tujuan untuk mengadakan hiburan atau variasi dalam kehidupan sekolah.
Tujuan sementara adalah tujuan – tujuan yang ingin kita capai dalam fase – fase tertentu dari pendidikan.
Tujuan perantara adalah merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan – tujuan lain. Misal mempelajari bahasa guna mempelajari literatur – literatur asing.
F. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Pendidikan Di Indonesia
Dasar dan tujuan pendidikan di indonesia dari masa kemasa selalu mengalami perbaikan – perbaikan yang diharapkan agar dapat membenahi sitem pendidikan di indonesia. Berikut kami cantumkan bagan perkembangan kebijakan pemerintah tentang pendidikan :
BAGAN
SEJARAH PERKEMBANGAN KEBIJAKSANAAN
PENDIDIKAN DISEKOLAH
Undang – Undang Pend. y . a . d
Tap . MPRS no. XXVII Th 1966
Pen. Pres. No. 19 Th 1965
Tap MPRS no. 11 Th 1960
Dekrit Presiden
5 Juli 1959
UU no.12 Th 1954
UU no. 4 Th 1950
UUD 45
BAB IV
PERKEMBANGAN ANAK
Anak merupakan obyek utamadari pendidikan dan di dalam anak mempunyai pembawaan yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa pembwaan itu berperan pada perkembngan sebagai berikut:
1.Aliran nativisme”perkembangan seorang anak ditentukan oleh pembawaannya”.
2.Aliran naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai dengan alamnya sendiri”
3.Aliran predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
Sedangkan aliran tentang lingkungan berperan pada perkembangan adalah sebagai berikut:
a. Teori Tabularasa(John Lock)”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada pembwaan apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong”.
b. Emanual Kant”manusi tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu berarti bahwa pendidikn sanggup membuat manusia yang bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang terkenal dengan teori konvergensimya ”perkembangan anak ityu tidak hamya totyentuakn oleh pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja.
Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi, perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.
Dalam suatu pendidikan terdapat siatu limgkungan yang biasa kita sebut Tri pusat pendidikan,yaitu:
Lingkungan kluarga:merupakan limgkumgan pendidikan yang pertama karena dalam anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan.
Limgkumgn sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan lanjutan pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang menghubungkan kehiupan keluarga dan masyarakat.
Lingkungan masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di atas dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Lingkungan alam :limgkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan tanah
2. Lingkungan sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat
4.1 Peran Pembawaan dalam Perkembangan
Terdapat aliran-aliran yang berpendapat :
a. Nativisme adalah perkembangan ini ditentukan oleh pembawaannya
b. Naturalisme (J.J. Rousseaw) adalah anak lahir m,embawa sifat-sifat sendiri.
c. Presditinasi/Predertiminasi adalah nasib
4.2 Peran Lingkungan Terhadap Lingkungan
a. Teori Tabularasa (John Lock) : anak dilahirkan dalam keadaan masih bersih, tidak ada pembawaan apa-apa.
b. Emmanual Kant : Manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan dengan demikian, bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja
4.3 Teori Konvergensi :
Perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh pembawaan saja dan tidak oleh lingkungan saja akan tetapi oleh dua-duanya.
4.4 Beberapa aspek Perkembangan
Aspek perkembangan yaitu : perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan.
A. Peran Pembawaaan Dalam Perkembangan
Pembawaan atau bakat adalah merupakan potensi – potensi , atau kemungkinan – kemungkinan yang memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk berkembang menjadi sesuatu. Berkembang tidaknya potensi yang ada pada anak masih sangat tergantung pada faktor – faktor pendidikan yang lain .
B. Peranan Lingkungan Dalam Pearkembangan
Lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak baik secara lanmg sung maupun tak langsung. Baik secara disengaja maupun tidak disengaja .
C. Teori Konvergensi Dalam Perkembangan
Menurut teori konvergensi bahwa perkembangan anak itu tidak hanya ditentukn oleh perkembangan saja, dan juga tidak hanya ditentukan oleh lingkungan saja. Melainkan perkembangan anak ditentukan dari hasil kerja sama antara kedua faktor tersebut.
D. Peranan Aktivitas Pribadi Dalam Perkembangan
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang aktif . makhluk yang didalam dirinya terdapat kecenderungan , terdapat naluri untuk membentuk dirinya sendiri, pada manusia terdapat kemampuan dan kemauan untuk menggerakan dan mengarahkan kemana perkambangan itu ditujukan, inilah yang dimaksud peranan aktivitas pribadi.
E. Bebebrapa Aspek Dalam Perkembangan
Perkembangan motoprik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan – gerakan
Perkembanagn pengamatan, ingatan dan fantasi
Penghamatan, perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada permulaan. Yaitu mula – mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju kehal – hal yang khusus.
Ingatan , berkembang sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah juga kemampuan daya ingatnya
Fantasi,mulai berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus berkembang.
Perkembangan berfikir, kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Mulai kanak – kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang bulat
Perkembangan kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego) dalam hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego tersebut sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut semakin berkurang akibat bertambahnya pengalaman – pengalaman hidup dalam masyarakat.
Perkembangan kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya kedewasaan.
BAB V
LEMBAGA DAN PUSAT – PUSAT PENDIDIKAN
5.1 Orang Tua sebagai Lembaga Pendidikan karena orang tua merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak
5.2 Yayasan sebagai lembaga pendidikan karena orang tua tidak bisa mendidik anak secara penuh, sehingga mereka menitipkan anaknya ke lembaga sekolah
5.3 Lembaga keagamaan sebagai lembaga pendidikan karena lembaga ini mempunyai bidang pendidikan yang mana orang tua kurang mampu untuk melaksanakannya.
5.4 Negara sebagai lembaga pendidikan merupakan suatau lembaga persekutuan hidup yang tinggi.
5.5 Tri pusat pendidikan diantaranya : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
5.6 Perkumpulan pemuda.
5.7 Catatan tambahan tentang lingkungan
1) Lingkungan alam : Klemotologis, geografis, keadaan tanah
2) Lingkungan sosial : keluarga dan masyarakat
A. Orang Tua Sebagai Lembaga Pendidikan
Orang tua merupakan orang yang pertama dan terutama yang wajib bertanggung jawab atas pendidikan anak. Hal ini dikarenakan orang tua adalah orang yang menjadikan sebab seorang anak itu ada di dunia ini. Dan hal itu dikarenakan juga anak dilahirkan didunia ini tanpa mempunyai daya sama sekali oleh karena itu kepada siapa lagi anak bergantung diri kalau tidak pada orang tua.
B. Yayasan – Yayasan Sebagai Lembaga Pendidikan
Orang tua sebagi tempat menggantungkan bagi anak itu adalah tempat bergantung diri yang wajar. Tapi pada kenyataannya tidak semua anak memperoleh tempat menggantungkan diri yang wajar ini. Denagn demikian mereka terpaksa memperoleh tempat penggantungan diri pada orang lain. Kebanyakan dari mereka ditampung di yayasan – yayasan yang mana disana mereka mendapatkan pendidikan.
C. Lembaga Keagamaan Sebagai Lembaga Pendidikan
Kiranya tidak dapat disangsikan lagi, bahwa lembaga keagamaan mempunyai tugas dalam penyelenggaraan pendidikan agama bagi umatnya.lembaga keagamaan mempunyai tanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak – anak termasuk juga orang dewasa.
D. Negara sebagai lembaga pendidikan
Guna mendapat warga negara - warga negara yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, warga negara - warga negara yang memiliki kesadaranakan tugas dan kewajiban, warga negara - warga negara yang memiliki kepandaian dan kecakapan, serta berjiwa pengabdian , mutlak perlu adanya pendidikan bagi calon – calon warga negara.pendidikan yang mempersiapkan anak agar dapat menjadi warga negara seperti yang dicita – citakan oleh negara. Disini negara berperan dalam penentuan kebijakan – kebijakan masalah – masalah pendidikan.
E. Tri Pusat Pendidikan
Tripusat pendidikan adalah pendidikan yang berlangsung pada tiga lingkungan.yaitu: lingkungan keluarga , lingkungan sekolah, dan lingkungan masyuarakat. Perpaduan antar ketiganya menentukan keberhasilan dalam suatu pendidikan.
F. Perkumpulan Pemuda
Perkumpulan pemuda juga termasuk lembaga pendidikan karena dalam perkumpulan ini pihak yang ikut didalamnya akan mendapatkan segudang pengalaman yang itu semua sangat berguna bagi pengetahuan – pengtahuan masing – masing individu.
BAB VI
BEBERAPA MASALAH DALAM PELAKSANAAN
Adapun masalah-masalah dalam pelaksanaan pendidikan yaitu:
a. Kewibawaan:pengakuan secara sukarel;a terhdap pengaruh yang datang dari orang lain.
b. Tanggung jawab:yang dimksud tanggung jawab di sini adalah bertanggung jawab atas pendidikan anak
c. Alat dan faktor.Keadaan yang ikut serta menntukan berhasilnya pendidikan disebut faktor pendidikan, sedangkan Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan.Alat pendidkan ada dua:
1. Alat preventif:alat yang bersifat pencegahan
2. Alat represif/kuratif/korektif: bertujuan untuk menyadarkan kepada yang benar
d. Hukuman dan ganjaran
e. Motivasi belajar:kekuatan-kekuatan yang memberikan dorongan kepada kegiatan belajar murid
6.1 Kewibawaan dalam pendidikan merupakan sayarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan.
6.2 Tanggung jawab pendidikan yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah tanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pada anak.
6.3 Alat dan alat semua keadaan yang ikut serta menentukan pada hasilnya pendidikan dinamakan faktor pendidikan sedang langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan.
6.4 Hukuman dan ganjaran, hukuman merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan anak, sedang ganjaran kebalikan dari hukuman.
6.5 Motivasi belajar kekuatan-kekuatan yang dapat memberi dorongan kepada kegiatan belajar murid
A. Kewibawaan Dalam Pendidikan
Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan disini ialah pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap anjuran dan pengaruh yang datang dari orang lain. Jadi penerimaan dan pengakuan anjuran dari oramg lain itu diterima dengan sukarela atas dasar sadar keikhlasan, atas kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa, rasa takut akan sesuatu, dan sebagainya.
B. Tanggung Jawab Pendidikan
Disini kita membicarakan siapakah yang bertanggung jawab pada hasil pendidikan. Yang bertanggung jwab pada hasil pendidikan adalah :
Pada pendidikan anak maka tanggung jawab sepenuhnya adalah di tangan pendidik
Pada pendidikan orang dewasa maka tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh si terdidik sendiri. Yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pendidikan dirinya.
Pada perguruan tinggi yang menjadi obyek adalah mahasiswa – mahasiswa, yang merupakan orang – orang yang telah dewasa atau dianggap dewasa.
C. Alat Dan Factor Pendidikan
Faktor pendidikan adalah hal – hal yang ikut serta menentukan pada keberhasilan pendidikan. Sedangkan alat – alat pendidikan adalah langkah – langkah yang diambil dmi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. Faktor – faktor pendidikan berupa sebagai kondisi – kondis atau situasi – situasi. Sedangkan alat – alat pendidikan berupa bentuk – bentuknya.
Termasuk faktor pendidikan anatara lain : keadaan gedung sekolah, keadaan perlengkapan sekolah,keadaaan alat – alat sekolah, keadaaan alat – alat pelajaran, dan fasilitas – fasilitas yang lain.
Mengenai alat pendidikan dapat digolongkan menjadi dua ;
Alat pendidikan preventif, alat pendidikan yang berupa pencegahan:
Tata tertib
Anjuran dan perintah
Larangan
Paksaan
disiplin
Alat pendidikan represif, disebut juga alat pendidikan kuratif atau korektif:
Pemberitahuan
Teguran
Peringatan
Hukuman
ganjaran
D. Hukuman Dan Ganjaran
Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkna kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa.dan dengan adanya nestapa itu anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.
Dalam hukuman terdapat dua macam prinsip mengadakan hukuman:
Hukuman diadakan karena pelanggaran
Hukuman diadakan dengan tujuan ag ar tidak terjadi pelanggaran
Adapun dalam hukuman ini ada beberapateori:
Teori hukuman alam
Teori ganti rugi
Teori menakut – nakuti
Teori balas dendam
Teori memperbaiki
E. Motivasi Belajar
Motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua macam :
Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang ada pada diri anak sendiri :
Adanya kebutuhan
Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
Adanya aspirasi atau cita - cita
Motivasi ekstrinsik, ialah motivasi yang datang dari luar anak didik :
Ganjaran
Hukuman
Persaingan atau kompetisi
BAB VII
PERSYARATAN PENDIDIK
7.1 Persyaratan jasmani dan rohani untuk menjadi guru harus sehat jasmanai dan rohani
7.2 Persyaratan pengetahuan pendidikan untuk menjadi guru profesional maka harus mempunyai wawasan dan IP yang luas.
7.3 Persyaratan kepribadian seorang guru harus mempunyai kecerdasan, kecakapan, pengetahuan dan sikap, minat, tabi’at, keteladanan dan sebagainya.
7.4 Persyaratan-persyaratan khusus, biasanya disesuaikan dengan pandangan dan falsafah hidup bagus sendiri-sendiri.
7.5 Persyaratan menurut Ronggowarsito :
1) Bangsaneng awiryo (berkebangsaan tinggi)
2) Bangsaneng sajano (orang yang baik)
3) Bangsaneng aguno (pandai)
4) Hawicerito (kaya cerita)
5) Nawung krido (mempunyai pandangan yang tinggi)
6) Asih ing murid (cinta kepada anak didik)
Sambegana (mempunyai daya ingat
A. Persyaratan Jasmaniah Dan Kesehatan
Guru adalah petugas lapangan dalam pendidikan. Oleh karena itu syarat pertama yang harus dipenuhi oleh seorang guru antara lain
Guru tidak boleh mempunyai cacat tubuh yang nyata.
Guru harus sehat jasmani (tidak sakit apapun)
Guru harus sehat jiwa
B. Persyaratan Pengetahuanm Pendidikan
Untuk menjadi seorang guru perlu adanya pendidikan khusus. Adapun pengetahuan – pengetahuan yang penting bagi seorang guru antara lain:
Pengetahuan tentang pendidikan
Pengetahuan psikologi
Pengetahuan tentang kurikulum
Pengetahuan tentang metode mengajar
Pengetahuan tentang dasar dan tujuan pendidikan
Pengaetahuan tentang moral, nilai – nilaidan norma – norma
C. Persyaratan Kepribadian
Kepribadian pada dasarnya adalah keseluruhan dari ciri – ciri dan tingkah laku dari seseorang. Dalam pembicaraan disini pengertian kepribadian lebih ditekankankepada kelakuan, tabiat, sikap dan minat.
Kelakuan dan tabiat adalah sesuatu yang berhubungan dengan moral. Dalam kaitannya persyaratan seorang guru. Guru haruslah mempunyai kepribadian yang luhur. Sebab guru adalah sosok yang dijadikan panutan oleh anak didik.
D. Persyaatan – Persyaratan Khusus
Persyaratan ini antara lain :
Seorang guru harus berjiwa pancasila
Menurut uu no. 4 tahun 1950, babx pasal 15 bunyinya : “ syarat utama untuk menjadi guru, selain ijazah dan syarat – syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat – sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3, dan pasal 4, dan pasal 5 dari undang – undang ini.”
Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran
Pasal 4 tentang dasar – dasar pendidikan dan pengajaran
Pasal 5 tentang bahasa
E. Persyaratan Menurut Ronggo Warsito
Menurut rangga warsita oranmg yang pantas menjadi guru adalah
orang yang dari keturunan terhormat
orang yang taat beribadah
orang yang bermoral tinggi
dan lain sebagainya
Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam
meningkatkan kualitas manusia, yang juga merupakan komponen
variabel dalam menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh
karena itu pembangunan pendidikan di Kabupaten Musi Rawas harus
mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan
mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan
di masa depan.
A. PERMASALAHAN
Secara garis besar permasalahan pendidikan meliputi : (1).
tingkat pendidikan penduduk relatif rendah; (2) dinamika perubahan
struktur penduduk belum sepenuhnya teratasi dalam pembangunan
pendidikan; (3) masih terdapat kesenjangan tingkat pendidikan yang
cukup lebar antar kelompok masyarakat; (4) fasilitas pelayanan
pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama
dan yang lebih tinggi belum tersedia secara merata; (5) kualitas
pendidikan relatif masih rendah dan belum mampu memenuhi
kebutuhan kompetensi peserta didik ; (6) pembangunan pendidikan
belum sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan
lulusan; (7) belum terkoordinasinya pendidikan tinggi di Kabupaten
Musi Rawas; (8) manajemen pendidikan belum berjalan secara efektif
dan efisien ; (9) anggaran pembangunan pendidikan belum tersedia
secara memadai.
B. SASARAN
Sasaran pembangunan pendidikan sampai dengan tahun 2010
adalah meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan
meningkatnya mutu pendidikan. Sasaran pembangunan pendidikan
sebagai berikut:
1. Meningkatnya taraf pendidikan penduduk ;
2. Meningkatnya kualitas pendidikan ;
3. Terpenuhinya kebutuhan pendidikan
4. Meningkatnya APK dan APM setiap jenjang pendidikan
66
C. ARAH KEBIJAKAN
Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, peningkatan akses
masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas akan
dilaksanakan dalam kerangka arah kebijakan sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan
tahun yang bermutu;
2. Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta
aksara;
3. Meningkatkan perluasan dan pemerataan pendidikan melalui
jalur formal dan non formal;
4. Meningkatkan perluasan pendidikan anak usia dini;
5. Menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antar kelompok
masyarakat dengan memberikan akses yang lebih besar kepada
kelompok masyarakat miskin, perdesaan dan terpencil serta
masyarakat penyandang cacat;
6. Menyusun Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal disetiap jenjang
pendidikan dalam rangka pembinaan akhlak mulia;
7. Menyediakan materi dan peralatan pendidikan (teaching and
learning materials) terkini baik yang berupa materi cetak seperti
buku pelajaran maupun yang berbasis teknologi informasi dan
komunikasi dan alam sekitar;
8. Meningkatkan jumlah dan kualitas pendidik serta meningkatkan
kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik agar lebih
mampu mengembangkan kompetensinya dan komitmen dalam
melaksanakan tugas pengajaran;
9. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi di bidang
pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran,
fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi
pendidikan, alat bantu manajemen satuan pendidikan, dan
infrastruktur pendidikan;
10. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
pendidikan termasuk pembiayaan dan penyelenggaraan
pendidikan berbasis masyarakat serta dalam peningkatan mutu
layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan,
dan evaluasi program pendidikan;
11. Meningkatkan penelitian dan pengembangan pendidikan untuk
penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan
pendidikan.
67
D. PROGRAM
1. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini;
2. Pengembangan kurikulum dan bahan ajar yang bermutu serta
perintisan model-model pembelajaran PAUD;
3. Peningkatan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan
anak usia dini kepada orangtua dan masyarakat.
2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan
pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau,
baik melalui jalur formal maupun non-formal, sehingga seluruh anak
usia sekolah (7–15 tahun) dapat memperoleh pendidikan.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi :
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas
termasuk pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) dan Sekolah
Unggul khususnya di Kawasan Agropolitan Center dan
Agropolitan distrik, Ruang Kelas Baru (RKB), laboratorium
terpadu, perpustakaan, buku pelajaran dan peralatan peraga
pendidikan, yang disertai dengan penyediaan pendidik dan
tenaga kependidikan secara merata, bermutu dan tepat lokasi;
2. Penyediaan alternatif pendidikan dasar melalui jalur formal
maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan, kondisi, dan
potensi anak termasuk anak dari keluarga miskin dan yang
tinggal di wilayah perdesaan dan terpencil;
3. Penerapan kurikulum Nasional dan lokal yang disesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya
dan seni;
4. Penerapan Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal di sekolahsekolah
baik formal maupun non formal;
5. Penyediaan materi pendidikan, media pengajaran dan
teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga, buku
pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan dan
teknologi;
6. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik;
7. Penerapan manajemen berbasis sekolah;
68
8. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan,
pembiayaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan
pendidikan dasar.
9. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan,
monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan pendidikan dasar.
10. Pelayanan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
3. Program Pendidikan Menengah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan
pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan
terjangkau bagi penduduk yang mencakup SMA, SMK, MA, dan Paket
C. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan termasuk
pembangunan USB, RKB, laboratorium terpadu di Agropolitan
Distrik dan Agropolitan Center, perpustakaan, buku pelajaran
dan peralatan peraga pendidikan;
2. Rehabilitasi fisik gedung;
3. Pengembangan Sekolah Unggul yang dipusatkan di Agropolitan
Distrik dan Agropolitan Center;
4. Penerapan dan pengembangan kurikulum nasional dan lokal,
bahan ajar, dan model-model pembelajaran yang mengacu
pada standar nasional;
5. Penerapan Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal di sekolahsekolah
baik formal maupun non formal;
6. Penataan bidang keahlian pada pendidikan menengah kejuruan
yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja, yang
didukung kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri;
7. Penyediaan materi pendidikan, media pengajaran dan
teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga pendidikan,
buku pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan dan
teknologi serta materi pelajaran yang berbasis teknologi
informasi;
8. Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan menengah
baik formal maupan non formal;
9. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan
memberi perhatian pada anak yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa;
69
10. Penerapan manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang
memberi wewenang dan tanggungjawab pada satuan
pendidikan;
11. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan
pendidikan menengah;
12. Penyiapan pelaksanaan Program Pendidikan 12 Tahun;
13. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan,
monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan pendidikan menengah;
14. Pelayanan kesehatan dan kesehatan reproduksi bagi remaja di
sekolah menengah.
4. Program Pendidikan Non Formal
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penguatan satuan-satuan pendidikan non-formal melalui
pengembangan standarisasi, akreditasi, dan sertifikasi serta
penguatan kemampuan manajerial pengelolanya;
2. Peningkatan intensifikasi perluasan akses dan kualitas
penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional bagi
penduduk buta aksara tanpa diskriminasi jender;
3. Menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk
menyelenggarakan pendidikan non-formal;
4. Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang
memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan nonformal
sesuai dengan minat, potensi, dan kebutuhan;
5. Pengembangan kebijakan, monitoring, evaluasi, dan
pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan non
formal;
5. Program Pendidikan Penyuluhan Pemuda dan Olahraga
serta Pendidikan Luar Sekolah
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Pengembangan dan Pembinaan Olahraga;
2. Pengembangan Pembinaan Generasi Muda / Pelajar;
3. Pengembangan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
70
6. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas,
kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan untuk mampu
melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan,
dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan
pendidikan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Peningkatan rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan
melalui pengangkatan, penempatan, dan penyebaran pendidik
dan tenaga kependidikan didasarkan pada ketepatan
kualifikasi, jumlah, kompetensi dan lokasi;
2. Peningkatan kualitas layanan pendidik dengan melakukan
pendidikan dan latihan agar memiliki kualifikasi minimun dan
sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar;
3. Penerapan sistem standarisasi dan sertifikasi profesi pendidik,
serta penerapan standar profesionalisme dan sistem
pemantauan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan yang
berbasis kinerja kelas, sekolah atau satuan pendidikan lainnya;
4. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi
pendidik dan tenaga kependidikan;
5. Penerapan peraturan dan kebijakan tentang guru sebagai
profesi serta kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi
guru.
7. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan
Perpustakaan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi perluasan
dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan melalui:
1. Pembangunan Perpustakaan Daerah di setiap Agropolitan
Distrik dan Agropolitan center;
2. Pembuatan dan pemeliharaan koleksi perpustakaan dan taman
bacaan masyarakat;
3. Pengadaan sarana dan revitalisasi perpustakaan keliling dan
perpustakaan masyarakat;
4. Mendorong tumbuhnya perpustakaan masyarakat dan
Peningkatan peran serta masyarakat dalam menyediakan
fasilitas buku-buku bacaan;
5. Peningkatan kemampuan pengelola perpustakaan melalui
pendidikan dan latihan serta mengembangkan jabatan
fungsional Pustakawan;
71
6. Peningkatan fungsi perpustakaan untuk mewujudkan
perpustakaan sebagai tempat yang menarik, terutama bagi
anak dan remaja untuk belajar dan mengembangkan
kreativitas;
7. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan yang
bermutu;
8. Peningkatan intensitas pelaksanaan kampanye dan promosi
budaya baca melalui media masa dan cara-cara lainnya.
8. Program Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan data dan informasi pendidikan sebagai dasar
perumusan kebijakan pembangunan pendidikan;
2. Penerapan kurikulum pendidikan sesuai dengan tujuan
pembangunan;
3. Pengembangan inovasi pengelolaan pendidikan agar lebih
efisien dan efektif.
9. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Menerapkan aturan-aturan yang berpedoman pada Undangundang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
2. Peningkatan kapasitas institusi yang bertanggungjawab dalam
pembangunan pendidikan;
3. Pengembangan manajemen pendidikan secara terpadu dan
holistik;
4. Pengembangan sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif,
transparan dan akuntabel;
5. Peningkatan efektivitas peran dan fungsi Dewan Pendidikan
dan Komite Sekolah;
6. Pengembangan sistem pengelolaan pembangunan pendidikan,
sistem kendali mutu dan jaminan kualitas;
7. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi
pendidikan.
meningkatkan kualitas manusia, yang juga merupakan komponen
variabel dalam menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh
karena itu pembangunan pendidikan di Kabupaten Musi Rawas harus
mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan
mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan
di masa depan.
A. PERMASALAHAN
Secara garis besar permasalahan pendidikan meliputi : (1).
tingkat pendidikan penduduk relatif rendah; (2) dinamika perubahan
struktur penduduk belum sepenuhnya teratasi dalam pembangunan
pendidikan; (3) masih terdapat kesenjangan tingkat pendidikan yang
cukup lebar antar kelompok masyarakat; (4) fasilitas pelayanan
pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama
dan yang lebih tinggi belum tersedia secara merata; (5) kualitas
pendidikan relatif masih rendah dan belum mampu memenuhi
kebutuhan kompetensi peserta didik ; (6) pembangunan pendidikan
belum sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan
lulusan; (7) belum terkoordinasinya pendidikan tinggi di Kabupaten
Musi Rawas; (8) manajemen pendidikan belum berjalan secara efektif
dan efisien ; (9) anggaran pembangunan pendidikan belum tersedia
secara memadai.
B. SASARAN
Sasaran pembangunan pendidikan sampai dengan tahun 2010
adalah meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan
meningkatnya mutu pendidikan. Sasaran pembangunan pendidikan
sebagai berikut:
1. Meningkatnya taraf pendidikan penduduk ;
2. Meningkatnya kualitas pendidikan ;
3. Terpenuhinya kebutuhan pendidikan
4. Meningkatnya APK dan APM setiap jenjang pendidikan
66
C. ARAH KEBIJAKAN
Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, peningkatan akses
masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas akan
dilaksanakan dalam kerangka arah kebijakan sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan
tahun yang bermutu;
2. Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta
aksara;
3. Meningkatkan perluasan dan pemerataan pendidikan melalui
jalur formal dan non formal;
4. Meningkatkan perluasan pendidikan anak usia dini;
5. Menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antar kelompok
masyarakat dengan memberikan akses yang lebih besar kepada
kelompok masyarakat miskin, perdesaan dan terpencil serta
masyarakat penyandang cacat;
6. Menyusun Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal disetiap jenjang
pendidikan dalam rangka pembinaan akhlak mulia;
7. Menyediakan materi dan peralatan pendidikan (teaching and
learning materials) terkini baik yang berupa materi cetak seperti
buku pelajaran maupun yang berbasis teknologi informasi dan
komunikasi dan alam sekitar;
8. Meningkatkan jumlah dan kualitas pendidik serta meningkatkan
kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik agar lebih
mampu mengembangkan kompetensinya dan komitmen dalam
melaksanakan tugas pengajaran;
9. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi di bidang
pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran,
fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi
pendidikan, alat bantu manajemen satuan pendidikan, dan
infrastruktur pendidikan;
10. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
pendidikan termasuk pembiayaan dan penyelenggaraan
pendidikan berbasis masyarakat serta dalam peningkatan mutu
layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan,
dan evaluasi program pendidikan;
11. Meningkatkan penelitian dan pengembangan pendidikan untuk
penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan
pendidikan.
67
D. PROGRAM
1. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini;
2. Pengembangan kurikulum dan bahan ajar yang bermutu serta
perintisan model-model pembelajaran PAUD;
3. Peningkatan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan
anak usia dini kepada orangtua dan masyarakat.
2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan
pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau,
baik melalui jalur formal maupun non-formal, sehingga seluruh anak
usia sekolah (7–15 tahun) dapat memperoleh pendidikan.
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi :
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas
termasuk pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) dan Sekolah
Unggul khususnya di Kawasan Agropolitan Center dan
Agropolitan distrik, Ruang Kelas Baru (RKB), laboratorium
terpadu, perpustakaan, buku pelajaran dan peralatan peraga
pendidikan, yang disertai dengan penyediaan pendidik dan
tenaga kependidikan secara merata, bermutu dan tepat lokasi;
2. Penyediaan alternatif pendidikan dasar melalui jalur formal
maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan, kondisi, dan
potensi anak termasuk anak dari keluarga miskin dan yang
tinggal di wilayah perdesaan dan terpencil;
3. Penerapan kurikulum Nasional dan lokal yang disesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya
dan seni;
4. Penerapan Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal di sekolahsekolah
baik formal maupun non formal;
5. Penyediaan materi pendidikan, media pengajaran dan
teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga, buku
pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan dan
teknologi;
6. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik;
7. Penerapan manajemen berbasis sekolah;
68
8. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan,
pembiayaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan
pendidikan dasar.
9. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan,
monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan pendidikan dasar.
10. Pelayanan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
3. Program Pendidikan Menengah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan
pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan
terjangkau bagi penduduk yang mencakup SMA, SMK, MA, dan Paket
C. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan termasuk
pembangunan USB, RKB, laboratorium terpadu di Agropolitan
Distrik dan Agropolitan Center, perpustakaan, buku pelajaran
dan peralatan peraga pendidikan;
2. Rehabilitasi fisik gedung;
3. Pengembangan Sekolah Unggul yang dipusatkan di Agropolitan
Distrik dan Agropolitan Center;
4. Penerapan dan pengembangan kurikulum nasional dan lokal,
bahan ajar, dan model-model pembelajaran yang mengacu
pada standar nasional;
5. Penerapan Peraturan Daerah tentang pelajaran budi pekerti,
akidah, akhlak dan ibadah sebagai muatan lokal di sekolahsekolah
baik formal maupun non formal;
6. Penataan bidang keahlian pada pendidikan menengah kejuruan
yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja, yang
didukung kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri;
7. Penyediaan materi pendidikan, media pengajaran dan
teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga pendidikan,
buku pelajaran, buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan dan
teknologi serta materi pelajaran yang berbasis teknologi
informasi;
8. Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan menengah
baik formal maupan non formal;
9. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan
memberi perhatian pada anak yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa;
69
10. Penerapan manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang
memberi wewenang dan tanggungjawab pada satuan
pendidikan;
11. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan
pendidikan menengah;
12. Penyiapan pelaksanaan Program Pendidikan 12 Tahun;
13. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan,
monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan pendidikan menengah;
14. Pelayanan kesehatan dan kesehatan reproduksi bagi remaja di
sekolah menengah.
4. Program Pendidikan Non Formal
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penguatan satuan-satuan pendidikan non-formal melalui
pengembangan standarisasi, akreditasi, dan sertifikasi serta
penguatan kemampuan manajerial pengelolanya;
2. Peningkatan intensifikasi perluasan akses dan kualitas
penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional bagi
penduduk buta aksara tanpa diskriminasi jender;
3. Menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk
menyelenggarakan pendidikan non-formal;
4. Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang
memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan nonformal
sesuai dengan minat, potensi, dan kebutuhan;
5. Pengembangan kebijakan, monitoring, evaluasi, dan
pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan non
formal;
5. Program Pendidikan Penyuluhan Pemuda dan Olahraga
serta Pendidikan Luar Sekolah
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Pengembangan dan Pembinaan Olahraga;
2. Pengembangan Pembinaan Generasi Muda / Pelajar;
3. Pengembangan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
70
6. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas,
kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan untuk mampu
melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan,
dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan
pendidikan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Peningkatan rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan
melalui pengangkatan, penempatan, dan penyebaran pendidik
dan tenaga kependidikan didasarkan pada ketepatan
kualifikasi, jumlah, kompetensi dan lokasi;
2. Peningkatan kualitas layanan pendidik dengan melakukan
pendidikan dan latihan agar memiliki kualifikasi minimun dan
sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar;
3. Penerapan sistem standarisasi dan sertifikasi profesi pendidik,
serta penerapan standar profesionalisme dan sistem
pemantauan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan yang
berbasis kinerja kelas, sekolah atau satuan pendidikan lainnya;
4. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi
pendidik dan tenaga kependidikan;
5. Penerapan peraturan dan kebijakan tentang guru sebagai
profesi serta kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi
guru.
7. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan
Perpustakaan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi perluasan
dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan melalui:
1. Pembangunan Perpustakaan Daerah di setiap Agropolitan
Distrik dan Agropolitan center;
2. Pembuatan dan pemeliharaan koleksi perpustakaan dan taman
bacaan masyarakat;
3. Pengadaan sarana dan revitalisasi perpustakaan keliling dan
perpustakaan masyarakat;
4. Mendorong tumbuhnya perpustakaan masyarakat dan
Peningkatan peran serta masyarakat dalam menyediakan
fasilitas buku-buku bacaan;
5. Peningkatan kemampuan pengelola perpustakaan melalui
pendidikan dan latihan serta mengembangkan jabatan
fungsional Pustakawan;
71
6. Peningkatan fungsi perpustakaan untuk mewujudkan
perpustakaan sebagai tempat yang menarik, terutama bagi
anak dan remaja untuk belajar dan mengembangkan
kreativitas;
7. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan yang
bermutu;
8. Peningkatan intensitas pelaksanaan kampanye dan promosi
budaya baca melalui media masa dan cara-cara lainnya.
8. Program Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Penyediaan data dan informasi pendidikan sebagai dasar
perumusan kebijakan pembangunan pendidikan;
2. Penerapan kurikulum pendidikan sesuai dengan tujuan
pembangunan;
3. Pengembangan inovasi pengelolaan pendidikan agar lebih
efisien dan efektif.
9. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi:
1. Menerapkan aturan-aturan yang berpedoman pada Undangundang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
2. Peningkatan kapasitas institusi yang bertanggungjawab dalam
pembangunan pendidikan;
3. Pengembangan manajemen pendidikan secara terpadu dan
holistik;
4. Pengembangan sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif,
transparan dan akuntabel;
5. Peningkatan efektivitas peran dan fungsi Dewan Pendidikan
dan Komite Sekolah;
6. Pengembangan sistem pengelolaan pembangunan pendidikan,
sistem kendali mutu dan jaminan kualitas;
7. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi
pendidikan.
Internet Untuk Pendidikan
Budi Rahardjo
PT INDOCISC
PT Work IT Out Solusi Tenaga Indonesia
PPAU Mikroelektronika ITB
2001
Internet berawal dari institusi pendidikan dan penelitian di Amerika Serikat. Penggunaan Internet untuk kepentingan bisnis baru dilakukan semenjak tahun 1995, belum genap enam (6) tahun yang lalu. Di luar negeri, Internet ini sering diasosiasikan dengan perguruan tinggi, sementara di Indonesia, Internet lebih diasosiasikan dengan bisnis (ISP, e-commerce) dan entertainment.
Makalah ini berusahan untuk menjabarkan manfaat atau fungsi Internet bagi pendidikan, khususnya di pendidikan Indonesia.
Manfaat Internet Bagi Pendidikan
Agak janggal bagi penulis untuk menuliskan manfaat Internet bagi pendidikan. Namun, untuk memperjelas maka akan penulis ulas secara singkat manfaat Internet bagi pendidikan.
Akses ke sumber informasi. Sebelum adanya Internet, masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan (di seluruh dunia) adalah akses kepada sumber informasi. Perpustakaan yang konvensional merupakan sumber informasi yang sayangnya tidak murah. Buku-buku dan journal harus dibeli dengan harga mahal. Pengelolaan yang baik juga tidak mudah. Sehingga akibatnya banyak tempat di berbagai lokasi di dunia (termasuk di dunia Barat) yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Adanya Internet memungkinkan mengakses kepada sumber informasi yang mulai tersedia banyak. Dengan kata lain, masalah akses semestinya bukan menjadi masalah lagi.
Internet dapat dianggap sebagai sumber informasi yang sangat besar. Bidang apa pun yang anda minati, pasti ada informasi di Internet. Contoh-contoh sumber informasi yang tersedia secara online antara lain:
• Library
• Online Journal
• Online courses. MIT mulai membuka semua materi kuliahnya di Internet.
Di Indonesia, masalah kelangkaan sumber informasi konvensional (perpustakaan) lebih berat dibanding dengan tempat lain. Adanya Internet merupakan salah satu solusi pamungkas untuk mengatasi masalah ini.
Akses ke pakar. Internet menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga memungkinan seorang siswa berkomunikasi dengan pakar di tempat lain. Seorang siswa di Makassar dapat berkonsultasi dengan dosen di Bandung atau bahkan di Palo Alto, Amerika Serikat.
Media kerjasama. Kolaborasi atau kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan dapat terjadi dengan lebih mudah, efisien, dan lebih murah.
Permasalahan Internet Untuk Pendidikan
Penjabaran di atas tentunya membawa kita pada pertanyaan mengapa kita belum banyak menggunakan Internet untuk keperluan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa alasan, dimana sebagian akan diungkapkan pada bagian-bagian di bawah ini.
Kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Suka atau tidak suka, sebagian besar informasi di Internet tersedia dalam bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu keunggulan (advantage).
Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia. Kita sadari bahwa tidak semua orang Indonesia akan belajar bahasa Inggris. Untuk itu sumber informasi dalam bahasa Indonesia harus tersedia. Saat ini belum banyak sumber informasi pendidikan yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Konsep berbagi (sharring), misalnya dengan membuat materi-materi pendidikan di Internet, belum merasuk. Inisiatif langka seperti ini sudah ada namun masih kurang banyak. Contohnya:
• Untukmu Indonesia
http://untukmu.Indonesiaforum.org
Akses Internet masih mahal. Meskipun sudah tersedia, akses ke Internet masih mahal. Namun hal ini diharapkan akan menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Diharapkan akselerasi penurunan harga menjadi fokus utama dari Pemerintah. Mekanisme lain adalah adanya subsidi dari pemerintah untuk institusi pendidikan.
Akses Internet masih susah diperoleh. Beberapa daerah di Indonesia masih belum memiliki jalur telepon yang dapat digunakan untuk mengakses Internet.
Guru belum siap. Guru di Indonesia masih belum siap untuk menggunakan Internet sebagai bagian dari pengajarannya. Padahal guru merupakan salah satu pengguna yang dapat memanfaatkan Internet sebaik-baiknya. Salah satu contohnya adalah mencari soal-soal latihan untuk kelasnya. Jika setiap guru di Indonesia membuat dua (2) soal dan menyimpannya di Internet, maka akan ada ribuan bahkan bisa jutaan soal yang dapat digunakan untuk latihan di kelas.
Penutup
Internet merupakan salah satu produk teknologi yang dapat membantu kita meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan. Meskipun masih banyak tantangan, kita masih dapat memanfaatkan Internet sebesar mungkin.
PT INDOCISC
PT Work IT Out Solusi Tenaga Indonesia
PPAU Mikroelektronika ITB
2001
Internet berawal dari institusi pendidikan dan penelitian di Amerika Serikat. Penggunaan Internet untuk kepentingan bisnis baru dilakukan semenjak tahun 1995, belum genap enam (6) tahun yang lalu. Di luar negeri, Internet ini sering diasosiasikan dengan perguruan tinggi, sementara di Indonesia, Internet lebih diasosiasikan dengan bisnis (ISP, e-commerce) dan entertainment.
Makalah ini berusahan untuk menjabarkan manfaat atau fungsi Internet bagi pendidikan, khususnya di pendidikan Indonesia.
Manfaat Internet Bagi Pendidikan
Agak janggal bagi penulis untuk menuliskan manfaat Internet bagi pendidikan. Namun, untuk memperjelas maka akan penulis ulas secara singkat manfaat Internet bagi pendidikan.
Akses ke sumber informasi. Sebelum adanya Internet, masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan (di seluruh dunia) adalah akses kepada sumber informasi. Perpustakaan yang konvensional merupakan sumber informasi yang sayangnya tidak murah. Buku-buku dan journal harus dibeli dengan harga mahal. Pengelolaan yang baik juga tidak mudah. Sehingga akibatnya banyak tempat di berbagai lokasi di dunia (termasuk di dunia Barat) yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Adanya Internet memungkinkan mengakses kepada sumber informasi yang mulai tersedia banyak. Dengan kata lain, masalah akses semestinya bukan menjadi masalah lagi.
Internet dapat dianggap sebagai sumber informasi yang sangat besar. Bidang apa pun yang anda minati, pasti ada informasi di Internet. Contoh-contoh sumber informasi yang tersedia secara online antara lain:
• Library
• Online Journal
• Online courses. MIT mulai membuka semua materi kuliahnya di Internet.
Di Indonesia, masalah kelangkaan sumber informasi konvensional (perpustakaan) lebih berat dibanding dengan tempat lain. Adanya Internet merupakan salah satu solusi pamungkas untuk mengatasi masalah ini.
Akses ke pakar. Internet menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga memungkinan seorang siswa berkomunikasi dengan pakar di tempat lain. Seorang siswa di Makassar dapat berkonsultasi dengan dosen di Bandung atau bahkan di Palo Alto, Amerika Serikat.
Media kerjasama. Kolaborasi atau kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan dapat terjadi dengan lebih mudah, efisien, dan lebih murah.
Permasalahan Internet Untuk Pendidikan
Penjabaran di atas tentunya membawa kita pada pertanyaan mengapa kita belum banyak menggunakan Internet untuk keperluan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa alasan, dimana sebagian akan diungkapkan pada bagian-bagian di bawah ini.
Kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Suka atau tidak suka, sebagian besar informasi di Internet tersedia dalam bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu keunggulan (advantage).
Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia. Kita sadari bahwa tidak semua orang Indonesia akan belajar bahasa Inggris. Untuk itu sumber informasi dalam bahasa Indonesia harus tersedia. Saat ini belum banyak sumber informasi pendidikan yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Konsep berbagi (sharring), misalnya dengan membuat materi-materi pendidikan di Internet, belum merasuk. Inisiatif langka seperti ini sudah ada namun masih kurang banyak. Contohnya:
• Untukmu Indonesia
http://untukmu.Indonesiaforum.org
Akses Internet masih mahal. Meskipun sudah tersedia, akses ke Internet masih mahal. Namun hal ini diharapkan akan menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Diharapkan akselerasi penurunan harga menjadi fokus utama dari Pemerintah. Mekanisme lain adalah adanya subsidi dari pemerintah untuk institusi pendidikan.
Akses Internet masih susah diperoleh. Beberapa daerah di Indonesia masih belum memiliki jalur telepon yang dapat digunakan untuk mengakses Internet.
Guru belum siap. Guru di Indonesia masih belum siap untuk menggunakan Internet sebagai bagian dari pengajarannya. Padahal guru merupakan salah satu pengguna yang dapat memanfaatkan Internet sebaik-baiknya. Salah satu contohnya adalah mencari soal-soal latihan untuk kelasnya. Jika setiap guru di Indonesia membuat dua (2) soal dan menyimpannya di Internet, maka akan ada ribuan bahkan bisa jutaan soal yang dapat digunakan untuk latihan di kelas.
Penutup
Internet merupakan salah satu produk teknologi yang dapat membantu kita meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan. Meskipun masih banyak tantangan, kita masih dapat memanfaatkan Internet sebesar mungkin.
Langganan:
Komentar (Atom)