Kamis, 03 Februari 2011

SMAN Terawas Kekurangan Lokal Belajar

Terpaksa Berlajar di Perpustakaan dan Laboratorium

STL ULU TERAWAS-Para pelajar SMA Negeri Terawas harus rela belajar dengan kondisi yang seadanya. Kekurangan lokal tidak menyurutkan minat dan semangat mereka belajar meskipun harus belajar di ruang Laboratorim Bahasa dan ruang perputakaan.
Salah seorang wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku sangat menghawatirkan kondisi ini. Ia takut, jika kondisi ini tidak lekas mendapat solusi dari pihak Dinas Pendiidkan (Disdik) Kabupaten Mura, yakni penambahan ruang kelas, dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa-siswi SMA Negeri Terawas. Lokal belajar yang tersedia di SMA ini hanya delapan. Sementara yang dibutuhkan 12 lokal, karena saat ini pelajar yang menimba ilmu di lembaga ini sudah mencapai 468 orang. Buakn itu saja akibat dari rendahnya kualitas pelaksanaan pembangunan sekolah ini oleh pihak kontraktor, bagian lantai ruang kelas dan teras sekolah sudah banyak yang rusak.
Kepala SMA Negeri Terawas, Romli saat dihubungi Koran ini mengakui sekolah yang dipimpinnya masih kekurangan minial lima lokal belajar. Menurut Romli, dua tahun lalu, memang lokal yang disediakan masih cukup untuk menampung peserta didik. Namun, sejak tahun pelajaran 2009/2010 minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke SMA Negeri Terawas sangat besar. Sampai saat ini, untuk mensiasati agar siswa bisa belajar dengan lebih tenang, sekolah melakukan penyekatan ruang laboratorium bahasa dan memanfaatkan ruangan perpustakaan.
SMA Negeri Terawas merupakan salah satu sekolah standar nasional (SSN) di Kabupaten Mura. Artinya, sekolah ini adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi Setandar Nasional Pendidikan, yaitu standar sarana dan prasarana, standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar tenaga pendidik dan kependidikan. Lalu standar pula pelaksanaan manajemen, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
Romli berharap, pemerintah Kabupaten Mura segera mengabulkan permintaan orang tua/wali siswa, agar kekhawatiran tersebut lekas terpenuhi. Sebab, sekolah juga menginginkan bisa semakin maju dengan fasilitas yang lebih baik. Sehingga generasi bangsa yang menimba ilmu di sekolah tersebut dapat mengukir prestasi di masa depan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mura (Disdik Mura), Edi Iswanto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Program, Yontar, mengatakan kondisi yang dialami siswa SMA Negeri Terawas tersebut sudah diketahui Disdik. Menurut Yontar, dalam waktu dekat Disdik akan mengupayakan penambahan lokal belajar di sekolah ini. Hanya saja, pihaknya belum bisa memastikan waktu pelaksanaan pembangunan ruang belajar.
(03)



Pers Harus Perhatikan Fungsinya Sebagai Media Pendidikan

STL ULU TERAWAS - Salah satu fungsi pers yang tertuang pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 sebagai media pendidikan. Dalam menjalankan fungsi ini tentu pers diharapkan mampu menyampaikan informasi yang bersifat mendidik.
Namun, fungsi ini terkadang masih dikesampingkan oleh kalangan perusahaan pers, lantaran tuntutan bisnis dan persaingan pasar. Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat termasuk peserta didik menanggapi masalah ini. Caranya, kalangan pelajar betul-betul tahu dan dapat menentukan bahan bacaan dan tontonan yang tepat dan bermanfaat.
Demikian dikemukakan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau, Solihin, saat menyampaikan materi tentang “Fungsi Pers Bagi Pelajar”, kepada pengurus OSIS dan siswa-siswi SMA Negeri Terawas, Rabu(2/2).
Saat ini perusahaan pers memang mengarah pada prospek bisnis, agar produk pers laku di pasar hingga perusahaan pers  bisa hidup layak dan mandiri. Dengan hidup dari pasar, pers dapat melaksanakan fungsinya yang maksimal sebagaimana dikehendaki oleh UU No 40 tahun 1999 tentang Pers. Untuk dapat hidup dari pasar,  maka para pelaju jurnalis harus kreatif dan berlomba menciptakan inovasi-inovasi, guna mencari pangsa pasar tersendiri. Mereka tentu berharap apa yang disampaikan dapat menarik minat masyarakat untuk menyaksikan, membaca maupun mendengarkan.
Menurut pria kelahiran Bingin Teluk, Kecamatan Rawas Ilir, yang juga Direktur Harian Pagi Linggau Pos dan Musi Rawas Ekpres, fenomena tersebut merupakan bentuk kreativitas pers dalam mengembangkan fungsinya sebagai media hiburan. Hal ini memang sudah terbilang kebablasan. Karena kreativitas dari kretativitas dan inovasi dari fungsi pers sebagai media hiburan, terkadang berbenturan dengan  fungsi pers lainnya, terutama fungsi pendidikan.
Namun, lanjut Solihin, publik tidak akan mampu menghalangi kreatifitas insan pers ini. Dan yang harus dilakukan masyarakat termasuk pelajar adalah bisa memilih media massa yang tepat dalam memuat informasi, dan infromasi  yang disajikan bermanfaat, dan ada kaitannya dengan dunia pendidikan.
Karena Pers selain berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, juga sebagai media informasi, kontrol sosial dan lembaga ekonomi. Salah satu peranan pers sebagai media pendidikan, pers harus mampu meningkatkan minat baca masyarakat, terutama pelajar. Meningkatkan minat baca harus dibarengi dengan memberikan informasi yang berkualitas dan sesuai dengan yang dibutuhan masyarakat, dalam hal ini pelajar.
Jika pelajar sudah tinggi minat bacanya, maka generasi muda Indonesia akan mampu menggali dan manampung banyak informasi. Dengan banyak informasi dan pengetahuan maka pelajar kreativ, inovasi sehingga peserta didik akan mampu lebih kritis dalam menganalisa perkembangan dunia ke depan.
“Dengan cara ini, media mampu membantu untuk melahirkan Sumaber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mampu hidup mandiri. Itu artinya, media mampu menggiring masyarakat dan generasi muda untuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia yang sebenarnya,” jelas Solihin.
Sosialisasi yang berlangsung di ruangan Laboratorium Bahasa SMA Negeri Terawas ini, Solihin memberikan beberapa motivasi kepada lebih kurang 50 siswa yang hadir sebagai peserta. Antusiasme peserta sangat terlihat melalui sesi tanya jawab. Bahkan, keingintahuan siswa-siswi tersirat dari beberapa pertanyaan yang disampaikan.
Kepala SMA Negeri Terawas, Romli mengaku sangat mendukung kegiatan yang dipelopori OSIS SMA Negeri Terawas ini. Ia sangat bersyukur melihat semangat dan kekreatifan siswa-siswinya dalam mengikuiti kegiatan tadi. Ia berharap, alumni yang lahir dari SMA Negeri Terawas berkualitas, berakhlak mulia, kreatif dan siap bersaing untuk menjadi yang terbaik.(03)

Selasa, 01 Februari 2011

Berpikir Kritis II


Mahasiswa Berbakti Untuk Pendidikan
Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang
(An Evaluation and Criticism )

Contents

Strategi Berpikir Kritis di dalam Belajar

Studi berpikir kritis suatu subyek atau masalah dengan pengertian yang luas (terbuka).

Proses dimulai dengan sutau pernyataan apa yang akan dipelajari, menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan, dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasarkan pada kejadian. Alasan-alasan, penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli membandingkan dan membentuk lembaga penilaian.

Masuk dengan pikiran terbuka:

  • Jelaskan tujuan Anda, apa yang Anda ingin pelajari
    Bereskan dan yakinkan subyek Anda dengan guru Anda atau ahli.

Topik dapat dengan frase yang sederhana:


"Peran Gender di dalam permainan video game”
"Sejarah Politik Perancis di antara Perang Besar pada paruh abad ke-20“
"Penanaman Pohon Mahogoni di Amerika Tengah”
"Peraturan Perpipaan Domestik di Daerah Pinggiran Kota”
"Kosa kata dan Struktur Kerangka Manusia”

  • Pikirkan apa yang Anda ketahui tentang subyek
    Apa yang Anda sudah ketahui akan membantu Anda di dalam studi ini?
    Apa prasangka Anda?
  • Sumber apa yang penting untuk Anda, dan penentuan garis waktu Anda?
  • Memperoleh informasi
    Menutup pikiran tidak akan membuka pilihan Anda dan
    peluang kesempatan.
  • Bertanyalah
    Apa prasangka para pengarang terhadap informasi?
  • Aturlah apa yang Anda kumpulkan ke dalam pola-pola pemahaman
    Carilah kaitannya
  • Ajukan pertanyaan (lagi)
  • Pikirkan bagaimana Anda akan mendemonstrasikan pelajaran Andaesuai
    sesuai dengan topik Anda. Ya! Bagaimana Anda mencipatakan ujian
    Tentang apa yang Anda pelajari?
    Dari yang sederhana ke yang lebih sulit (1-6) terapan:

1.

Daftar, label, identitas

Demonstrasi Pengetahuan

2.

Defininisikan, jelaskan,
ringkaskan dengan kata-kata
Anda sendiri

Pengertian/Pemahaman

3.

Pecahkan, terapkan ke situasi baru

Gunakan pelajaran Anda, dan terapkan

4.

Bandingkan dan tentangkan, perbedaan antara item

Analisis

5.

Ciptakan, gabungkan, invent

Sintesis

6.

Alihkan, rekomendasikan, nilai

Evaluasi dan jelaskan menga


Pikirkan di dalam aturan bagaimana membuat pelajaran Anda sebagai petualangan di dalam penjelajahan!

Ringkasan Berpikir Kritis:

  • Tentukan fakta-fakta di dalam situasi baru atau subyek tanpa prasangka
  • Tempatkan fakta-fakta dan informasi ini sedemikian rupa di dalam pola Sehingga Anda memahaminya
  • Menerima atau menolak sumber nila dan kesimpulan yang didasarkan pada pengalaman, penilaian, dan keyakinan Anda.

Contoh Kasus Berpikir Kritis

Contents

Profesor Toshiko Kinosita mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang (Kompas, 24 Mei 2002).

Pendapat Guru Besar Universitas Waseda Jepang tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat saat ini pemerintah Indonesia mulai melirik pendidikan sebagai investasi jangka panjang, setelah selama ini pendidikan terabaikan. Salah satu indikatornya adalah telah disetujuinya oleh MPR untuk memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN atau APBD. Langkah ini merupakan awal kesadaran pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.

Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.

Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini.

Di Amerika Serikat (1992) seseorang yang berpendidikan doktor penghasilan rata-rata per tahun sebesar 55 juta dollar, master 40 juta dollar, dan sarjana 33 juta dollar. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia.

Misalnya rata-rata, antara pedesaan dan perkotaan, pendapatan per tahun lulusan universitas 3,5 juta rupiah, akademi 3 juta rupiah, SLTA 1,9 juta rupiah, dan SD hanya 1,1 juta rupiah.

Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya.

(Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA: University of Chicago Illinois, 1982, h.121).

Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.

Nilai Balik Pendidikan

Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisik yaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi.
(Ace Suryadi, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan: Isu, Teori dan Aplikasi. Balai Pustaka: Jakarta, 1999, h.247).

Pilihan investasi pendidikan juga harus mempertimbangkan tingkatan pendidikan. Di Asia nilai balik sosial pendidikan dasar rata-rata sebesar 27 %, pendidikan menengah 15 %, dan pendidikan tinggi 13 %. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka manfaat sosialnya semakin kecil. Jelas sekali bahwa pendidikan dasar memberikan manfaat sosial yang paling besar diantara tingkat pendidikan lainnya. Melihat kenyataan ini maka struktur alokasi pembiayaan pendidikan harus direformasi. Pada tahun 1995/1996 misalnya, alokasi biaya pendidikan dari pemerintah Indonesia untuk Sekolah Dasar Negeri per siswa paling kecil yaitu rata-rata hanya sekirat 18.000 rupiah per bulan, sementara itu biaya pendidikan per siswa di Perguruan Tinggi Negeri mendapat alokasi sebesar 66.000 rupiah per bulan. Dirjen Dikti, Satrio Sumantri Brojonegoro suatu ketika mengemukakan bahwa alokasi dana untuk pendidikan tinggi negeri 25 kali lipat dari pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang lebih banyak dialokasikan pada pendidikan tinggi justru terjadi inefisiensi karena hanya menguntungkan individu dan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Reformasi alokasi biaya pendidikan ini penting dilakukan mengingat beberapa kajian yang menunjukkan bahwa mayoritas yang menikmati pendidikan di PTN adalah berasal dari masyarakat mampu. Maka model pembiayaan pendidikan selain didasarkan pada jenjang pendidikan (dasar vs tinggi) juga didasarkan pada kekuatan ekonomi siswa (miskin vs kaya). Artinya siswa di PTN yang berasal dari keluarga kaya harus dikenakan biaya pendidikan yang lebih mahal dari pada yang berasal dari keluarga miskin. Model yang ditawarkan ini sesuai dengan kritetia equity dalam pembiayaan pendidikan seperti yang digariskan Unesco.

Itulah sebabnya Profesor Kinosita menyarankan bahwa yang diperlukan di Indonesia adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Proses pendidikan pada pendidikan dasar setidaknnya bertumpu pada empat pilar yaitu:

learning to know,
learning to do,
leraning to be dan
learning live together

yang dapat dicapai melalui delapan kompetensi dasar yaitu:
membaca,
menulis,
mendengar,
menutur,
menghitung,
meneliti,
menghafal dan
menghayal.

Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Selain itu pendidikan dasar seharusnya “benar-benar” dibebaskan dari segala beban biaya. Dikatakan “benar-benar” karena selama ini wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah gratis. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Fungsi

Non Ekonomi

Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin
(Yin Cheong Cheng, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C: The Palmer Press, 1996, h.7).

Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.

Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.

Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.

Kesimpulan


Jelaslah bahwa investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Selama orde baru kita selalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu hancur lebur karena tidak didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berpendidikan. Orde baru banyak melahirkan orang kaya yang tidak memiliki kejujuran dan keadilan, tetapi lebih banyak lagi melahirkan orang miskin. Akhirnya pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati sebagian orang dan dengan tingkat ketergantungan yang amat besar.

Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik. Inilah saatnya bagi negeri ini untuk merenungkan bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik untuk mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pendidikan juga sebagai alat pemersatu bangsa yang saat ini sedang diancam perpecahan. Melalui fungsi-fungsi pendidikan di atas yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan maka negeri ini dapat disatukan kembali. Dari paparan di atas tampak bahwa pendidikan adalah wahana yang amat penting dan strategis untuk perkembangan ekonomi dan integrasi bangsa. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama.

Bila demikian, ke arah mana pendidikan negeri ini harus dibawa?

Bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik?

Marilah kita renungkan bersama.

"Friends are a very rare jewel, indeed, they make you smile and encourage you to succeed, they lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their heart to us."

To Be Continued!


Sumber:


1.http://pendidikan-keilmuan.blogspot.com
2.Fisika Bumi Siliwangi Innovation, Research and Development Center
3.Speech from:
Prof. Eisuke Saito Ph.D. (The First International Seminary on Lesson Study, JICA, Japan International Cooperation Agency)
5.The Sundanese Cyber School Alliance

Ucapan Terima Kasih:
1. Dra. Roswati Mudjiarto M.Pd.

(Dosen Senior di Jurusan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia) Sebagian tulisan ini adalah atas motivasi beliau


2.Bpk. Taufik Hidayat M.Sc., Ph.D.
(Dosen FPMIPA UPI, Doktor Bioteknologi dari Tokyo University)


3. Yusuf Kurniawan S.Pd.*

( Seorang Pendidik di SMKN Raja Desa)


Disusun Ulang Oleh:
1.Agung Febrianto (Mahasiswa Ekonomi UNSOED)
2. Ade Akhyar N. (Mahasiswa Teknik Geology UNSOED)
3. Riki (Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Indonesia)
4. Kurniawan (Mahasiswa STIK Bina Putera Banjar)
5. Arip Nurahman (Mahasiswa Pendidikan Fisika FPMIPA UPI, Follower Open Course Ware At MIT-Harvard University. USA.)

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

Budut Lakukan Razia Rambut



f-Sulis/Linggau Pos 
GUNTING : Ketua Yayasan Budi Utomo, Elven Asmar, sedang menggunting rambut salah seorang siswa yang terjaring razia rambut. Foto diabadikan Selasa (1/2).

LUBUKLINGGAU-
Yayasan Budi Utomo (Budut) Lubuklinggau terus berupaya meningkatkan kedisplinan peserta didiknya. Salah satu upaya yang dilakukan secara rutin adalah razia rambut terhadap peserta didik laki-laki. Demikian kemukakan Ketua Yayasan Budi Utomo, Elven Asmar, kepada koran ini, Senin (1/2).
Menurut mantan Ketua DPRD Kota Lubuklinggau ini, razia rambut memang jadi momok bagi para siswa di semua sekolah. Hanya mendengar kata razia rambut bisa membuat para siswa dilanda kepanikan luar biasa, dan pastinya akan melakukan segala macam cara untuk lolos dari “prosesi” menakutkan itu. Dikatakan menakutkan karena jika siswa terjaring razia ini, maka ketua yayasan maupun guru yang bersangkutan akan melakukan pemotongan rambut secara acak.
Uniknya lagi, tidak sedikit siswa yang terjaring akan mendapati hasil potongan dengan model “bowl cut” atau potongan model mangkok. Razia yang rutin dilakukan setiap awal bulan ini menjadi satu cambuk bagi peserta didik laki-laki untuk lebih rapi, disiplin, dan tidak terkesan seperti anak nakal.
Ditambahkan Elven, setiap kali razia dilaksanakan akan terjaring lebih dari 15 siswa. Sementara ini, siswa yang sering terjaring masih pada tingkat SMK. Sedangkan siswa tingkat SMP sudah rapi dan disiplin. (Mg04)

Honor Guru Bantu Bersumber dari BOS

MUARA BELITI - Tahun anggaran 2011 maksimum penggunaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk belanja pegawai bagi sekolah negeri hanya 20 persen. Ketentuan itu berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 37 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis (Jukni) Penggunaan BOS .
Dan dengan diberlakukannya ketentuan itu pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas (Disdik Mura) yakin tidak akan berdampak buruk terhadap dunia pendidikan di daerah ini. Demikian dijelaskan Kepala Disdik Mura, Edi Iswanto, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Imam Hanafi, kepada koran ini, Selasa (1/2).
Imam Hanafi menjelaskan, saat ini baik Guru Tidak Tetap (GTT) daerah maupun pusat, atau guru Tenaga Kerja Sementara (TKS) yang bertugas di Kabupaten Mura, sudah mendapat gaji bulanan yang diserahkan setiap triwulan.
Sementara biaya tenaga pengajar yang masih mengambil dari dana BOS biasanya untuk honorarium yang diangkat komite sekolah. Menurut Imam Hanafi, jumlah guru honor yang diangkat komite sekolah tidak begitu banyak.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Disdik, sekolah yang bersangkutan memberikan honorarium kepada tenaga pengajar berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan.
“Jadi pihak sekolah memang menggunakan dana BOS untuk memberikan honor bagi tenaga pengajar yang diangkat komite sekolah. Mayoritas sekolah yang menerapkan cara ini memang sekolah kekurangan guru, dan didominasi SD. Kalaupun ada yang mnegajar di SMP maupun SMA, biasanya honor yang diberikan disesuaikan dengan jam mengajar guru yang bersangkutan,” jelas Imam Hanafi.
Penggunaan dana untuk honor diharapkan mempertimbangkan rasio jumlah siswa dan guru, sesuai dengan ketentuan pemerintah yang ada dalam Permendiknas Nomor 15 Tahun 2010 tentang SPM Pendidikan Dasar di kabupaten/kota.
Menurut Imam Hanafi, sejauh ini adanya kebijakan Permendiknas No 37 tahun 2010, tidak menimbulkan dampak yang signifikan bagi sekolah di Kabupaten Mura. Dan dana BOS di Kabupaten Mura, selain digunakan untuk operasional sekolah, dana BOS juga dibayar untuk honor guru honorer.(03)

Alumnus SMK Yadika Laku di Pasar Tenaga Kerja


Ibramsyah

Upaya SMK Yadika Menciptakan Tenaga Profesional
Sebagai satu-satunya SMK yang terakreditasi A di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau, SMK Yadika Lubuklinggau berkomitmen untuk tidak membiarkan alumninya menganggur. Hal ini dibuktikan dengan cara menjalin kerja sama dengan sejumlah industri kecil, menengah dan besar, baik di dalam maupun di luar Kota Lubuklinggau. Berikut laporannya.

Sulis, Lubuk Kupang

Yayasan Abdi Karya (Yadika) merupakan yayasan berwawasan nasional, yang berdiri sejak tahun 1976. Sudah 4 tahun Yadika mengabdi untuk membangun manusia yang berpendidikan, berwawasan luas dan memiliki keterampilan. Menurut Kepala SMK Yadika Lubuklinggau, Ibramsyah apa yang dilakukan Yadika berawal dari sebuah nadzar, untuk membangun lembaga pendidikan dan kesehatan. Bahkan secara nasional, Yadika sudah cukup diakui.
Sementara SMK Yadika Lubuklinggau, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Lubuk Kupang, baru empat tahun dibuka. Meskipun demikian peserta didik di sekolah yang dibangun empat lantai ini sudah cukup banyak.
SMK Yadika membuka empat program kejuruan, diantaranya program keahlian keuangan, administrasi perkantoran, teknik komputer jaringan, dan otomotif. Dalam pasar kerja, keempat program keahlian ini cukup diminati. Menurut Ibramsyah, sebagian besar perusahaan membutuhkan tenaga kerja sesuai dengan keempat program keahlian tadi.
Dalam hal pembinaan dan peningkatan kualitas peserta didik, SMK Yadika memiliki beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang bisa dimanfaatkan siswa-siswi untuk menyalurkan potensi dan bakat yang dimiliki. Sebagian besar siswa aktif dalam kegiatan tersebut.
Fasilitas dan sarana prasarana pendidikan yang disediakan seperti, ruang belajar 8x9 meter, laboratorium komputer, akuntansi, bahasa inggris, dan Laboratorium. Kemudian di lembaga pendidikan ini ada juga laboratorium mengetik, internet, komputer dan jaringan, administrasi perkantoran, serta Balai Latihan Kerja (BLK) Otomotif dan unit produksi.
Selain itu, dalam kegiatan ekstrakurikuler seluruh siswa dapat menggali potensi diri dengan memanfaatkan fasilitas utama bertaraf nasional, seperti perpustakaan, ruang band, studio perkusi, fasilitas olehraga lengkap, kolam renang, sport centre dan masih banyak fasilitas lainnya.
Selain itu, setiap siswa berkesempatan untuk mengikuti satu bulan kelas industri. Setelah mengikuti kelas industri ini, maka siswa bersangkutan akan mendapatkan sertifikat ganda, yang menunjukkan kompetensi yang dimilikinya. Kedua sertifikat tersebut adalah sertifikat kompetensi yang diakui secara nasional, dan sertifikat praktik kerja dari industri yang memberikan materi sekaligus praktik dalam kelas industri.
Uniknya lagi, SMK Yadika memberikan penghargaan yang luar biasa bagi peserta didiknya yang berprestasi. Selain memberikan beasiswa, ada bonus menarik yang selalu diberikan pasca penerimaan rapor per semester. Untuk menjamin mutu alumni, SMK Yadika menerapkan kurikulum industri terapan, tujuannya untuk memperluas jaringan relasi. Kemudian SMK Yadika saat ini sedang mengusulkan ijin bursa kerja khusus di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Lubuklinggau.
Menurut Ibramsyah, upaya ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab SMK Yadika agar tamatan SMK Yadika Lubuklinggau tidak ada yang menganggur. “Alhamdulillah, lulusan pertama tahun pelajaran 2009/2010, 75 persen alumni diterima di perusahaan. Dan pada tahun pelajaran 2010/2011 terbukti sangat diminati masyarakat. Bahkan tidak sedikit siswa SMK Yadika berasal dari Provinsi Bengkulu, Kabupaten Empat Lawang, dan Kota Palembang. Bahkan ada pula yang berasal dari Jakarta, Jombang, serta Provinsi Jawa Timur, dan Kota Bandung, ” jelas Ibramsyah.
Meski banyak yang diterima di dunia kerja, tidak sedikit pula alumni SMK Yadika melanjutkan kuliah sembari bekerja part time(separo waktu/ setengah hari). Hal inilah yang membuktikan bahwa alumni SMK memiliki peluang ganda. Selain berpeluang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, alumni SMK juga siap untuk bekerja. Setelah lulus dari SMK Yadika tidak begitu saja alumni ini dilepas, namun kerjasama dengan 24 perusahaan besar selama ini cukup membantu alumni untuk dapat langsung memasuki dunia kerja. Dan secara kualitas, alumni SMK Yadika sudah diakui di pasar kerja.
Menurut Ibramsyah, tidak semua siswa yang masuk di SMK Yadika memiliki prestasi akademik tinggi. Namun, justru itulah yang menjadikan tantangan para guru di SMK Yadika untuk menghasilkan output yang sama, dalam artian siap berkompetisi, berprestasi dalam akademik sekaligus terampil di bidangnya.
Ia juga berusaha menjawab mengenai keraguan masyarakat selama ini. Bahwa di Yadika, justru sebagian besar siswa dan tenaga pengajarnya muslim. Di SMK Yadika disiapkan musholah, dan seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan yang dianutnya. Mengenai biaya di SMK Yadika sangat terjangkau. “Sekolah di Yadika, fasilitas moderen dengan biaya daerah,” jelas Ibramsyah.(*)

Disdik Lakukan Pra Sosialisasi UN-SD



Imam Hanafi

MUARA BELITI - Perubahan signifikan pada penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) SD tahun pelajaran 2010/2011 membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas (Disdik Mura), harus melakukan langkah-langkah yang tepat. Salah satunya melaksanakan pra sosialisasi ke pihak sekolah melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Disdik di kecamatan. Pasalnya ada yang harus dipahami pihak penyelanggara UN SD di tahun pelajaran 2010/2011, yaitu mengenai ketentuan kelulusan peserta didik.
Pra sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang mekanisme baru kepada para kepala sekolah sekaligus guru kelas VI se-Kabupaten Mura.
Demikian dikemukakan Kepala Disdik Kabupaten Mura, Edi Iswanto, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Imam Hanafi, kepada koran ini, Selasa (1/2).
Imam Hanafi menjelaskan, pelaksanaan pra sosialisasi dilakukan di setiap kecamatan. Dengan cara mengumpulkan seluruh kepala sekolah SD dan guru kelas IV di setiap wilayah kerja KUPT Disdik di kecamatan. Selanjutnya tim dari Disdik akan menyampaikan beberapa mekanisme sesuai dengan Permendiknas Nomor 2 Tahun 2011, tentang Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional pada SD/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), yang diundangkan pada 17 Januari 2011.
Pra sosialisasi ini sudah dilakukan sejak Sabtu (29/1). Baru tiga kecamatan yang telah menerima pra sosialisasi mengenai mekanisme baru penyelenggaraan UN SD tersebut diantaranya, Kecamatan Muara Beliti, Kecamatan Karang Jaya, dan Kecamatan Rawas Ulu.
Dan dalam waktu dekat Disdik akan melakukan pra sosialisasi ke Kecamatan Jayaloka dan Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut (TPK).
Rencananya, seluruh kepala sekolah dari 428 SD di Kabupaten Mura, akan mendapatkan pra sosialisasi ini. Diharapkan setelah mengikuti pra sosialisasi, sekolah akan lebih siap menghadapi penyelenggaraan UN SD.
“Tindak lanjut dari kegiatan pra sosialisasi yang kami laksanakan, akan dilaksanakan sosialisasi secara formal oleh tim sosialisasi dari Disdik Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Jadi sementara ini pra sosialisasi dilakukan untuk memberikan gambaran utama mengenai perubahan mekanisme pelaksanaan UN SD yang akan dilaksanakan 9 hingga 11 Mei mendatang. Kami juga sudah mengimformasikan kepada pihak sekolah untuk segera mempersiapkan rekapitulasi nilai rapor murid kelas VI dari semester ganjil kelas IV sampai semester ganjil kelas VI,” jelas Imam Hanafi.
Perlu diketahui, pasal 21 Permendiknas Nomor 2 Tahun 2011 menyebutkan, peserta didik dinyatakan lulus US pada SD, MI, dan SDLB apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan nilai Sekolah (S)/ Madrasah (M).
Nilai S/M diperoleh dari rata-rata gabungan nilai US/M, dan nilai rata-rata rapor semester 7, 8, 9, 10, dan 11, dengan pembobotan 60 persen untuk nilai US/M, dan 40 persen untuk nilai rata-rata rapor.
Kemudian di pasal 22 dijelaskan pula bahwa kelulusan peserta didik setelah mengikuti UN ditentukan berdasarkan Nilai Akhir (NA). NA diperoleh dari nilai rata-rata gabungan nilai S/M, dan dari nilai UN, dengan formula 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai S/M. (03)