Oleh, MAHURI
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB
Mendefinisikan pendidikan berbasis inkuiri tak ada bedanya dengan kita mendefinisikan pendekatan pendidikan multi dimensi. Terdapat banyak intepretasi visi John Dewey ini, mulai dari konstruktivisme, pendekatan pemecahan masalah, pembelajaran berbasis projek dan sebagainya, kita akhirnya akan menemukan bahwa inti dari inkuiri adalah proses yang berpusat pada siswa. Semua pembelajaran dimulai dengan pebelajar. Apa yang diketahui siswa dan apa yang ingin mereka lakukan dan pelajari merupakan dasar utama pembelajaran.
Pendekatan inkuiri didukung oleh empat karakteristik utama siswa, yaitu (1) secara instintif siswa selalu ingin tahu; (2) di dalam percakapan siswa selalu ingin bicara dan mengkomunikasikan idenya; (3) dalam membangun (konstruksi) siswa selalu ingin membuat sesuatu; (4) siswa selalu mengekspresikan seni. Dari sudut pandang siswa, metode pembelajaran ini merupakan akhir dari paradigma kelas belajar melalui mendengar dan memberi mereka kesempatan mencapai tujuan yang nyata dan autentik. Bagi guru, pendidikan berbasis inkuri merupakan akhir dari paradigma berbicara untuk mengajar dan mengubah peran mereka menjadi kolega dan mentor bagi siswanya. Inkuiri sebagai pendekatan pembelajaran melibatkan proses penyelidikan alam atau materi alam, dalam rangka menjawab pertanyaan dan melakukan penemuan melalui penyelidikan untuk memperoleh pemahaman baru.
A. Pengertian Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inkuiri sebenarnya merupakan prosedur yang biasa dilakukan oleh ilmuwan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannnya dalam kehidupan sehari-hari (Hebrank, 2000; Budnitz, 2003; Chiapetta & Adams, 2004).
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, meng-evaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengko-munikasikan hasilnya. (Depdikbud, 1997; NRC, 2000). Menurut Hacket, (1998) di dalam Standar Nasional Pendidikan Sains di Amerika Serikat, inkuiri digunakan dalam dua terminologi yaitu sebagai pendekatan pembelajaran (scientific inquiry) oleh guru dan sebagai materi pelajaran sains (science as inquiry) yang harus dipahami dan mampu dilakukan oleh siswa. Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan kegiatan inkuiri oleh siswa. Sedangkan sebagai bagian dari materi pelajaran Biologi, inkuiri merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa agar dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Sehubungan dengan hal tersebut, Chiapeta & Adams (2004) menyatakan bahwa pemahaman mengenai peranan materi dan proses sains dapat membantu guru menerapkan pembelajaran yang bermula dari pertanyaan atau masalah dengan lebih baik.
Fokus dari empat aspek inkuiri dalam pembelajaran sains
Meskipun sudah cukup banyak bukti-bukti yang menunjukkan keunggulan inkuiri sebagai model dan strategi pembelajaran, dewasa ini masih banyak guru yang merasa keberatan atau tidak mau menerapkannya di dalam kelas. Kebanyakan guru dan dosen masih tetap bertahan pada strategi pembelajaran tradisional, karena menganggap inkuiri sebagai suatu strategi pembelajaran yang sulit diterapkan (Straits & Wilke, 2002). Meskipun demikian, di dalam kurikulum 2004 dan standar isi dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) juga mencantumkan inkuiri dalam hal ini Metode Ilmiah baik sebagai proses maupun sebagai produk yang diterapkan secara terintegrasi di kelas. Negara lain seperti Amerika Serikat, Standard Nasional Pendidikan Sains (1996), di sana menekankan agar semua pendidik dalam bidang sains pada seluruh jenjang pendidikan untuk menerapkan kegiatan berbasis inkuiri dalam kegiatan pembelajaran khususnya dalam bidang sains.
B. Tingkatan-tingkatan Inkuiri
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topik masalah, sumber masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan Bonnstetter (2000) membedakan inkuiri menjadi lima tingkat yaitu praktikum (tradisional hands-on), pengalaman sains terstruktur (structured science experiences), inkuiri terbimbing (guided inkuiri), inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry), dan penelitian siswa (student research). Klasifikasi inkuiri menurut Bonnstetter (2000) didasarkan pada tingkat kesederhanaan kegiatan siswa dan dinyatakan sebaiknya penerapan inkuiri merupakan suatu kontinum yaitu dimulai dari yang paling sederhana terlebih dahulu.
1. Traditional hands-on
Praktikum (tradisional hands-on) adalah tipe inkuiri yang paling sederhana. Dalam praktikum guru menyediakan seluruh keperluan mulai dari topik sampai kesimpulan yang harus ditemukan siswa dalam bentuk buku petunjuk yang lengkap. Pada tingkat ini komponen esensial dari inkuiri yakni pertanyaan atau masalah tidak muncul, oleh karena itu, Martin-Hansen (2002), menyatakan bahwa praktikum tidak termasuk kegiatan inkuiri.
2. Pengalaman sains yang terstruktur
Tipe inkuiri berikutnya ialah pengalaman sains terstruktur (structured science experiences), yaitu kegiatan inkuiri di mana guru menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur sedangkan analisis hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. Jenis yang ketiga ialah inkuiri terbimbing (guided inquiry), di mana siswa diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya berperan sebagai fasilitator.
3. Inkuri Siswa Mandiri
Inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry), dapat dikatakan sebagai inkuiri penuh (Martin-Hansen, 2002) karena pada tingkatan ini siswa bertanggungjawab secara penuh terhadap proses belajarnya, dan guru hanya memberikan bimbingan terbatas pada pemilihan topik dan pengembangan pertanyaan. Tipe inkuiri yang paling kompleks ialah penelitian siswa (student research). Dalam inkuiri tipe ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari seluruh komponen inkuiri menjadi tangungjawab siswa.
Ahli lain yaitu Callahan, et al (1992) menyusun klasifikasi inkuiri lain yang didasarkan pada intensitas keterlibatan siswa. Ada tiga bentuk keterlibatan siswa di dalam inkuiri, yaitu: (a) identifikasi masalah, (b) pengambilan keputusan tentang teknik pemecahan masalah, dan (c) identifikasi solusi tentatif terhadap masalah.
Ada tiga tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensistas keterlibatan siswa, yaitu:
1. Inkuiri tingkat pertama
Inkuiri tingkat pertama merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif dari guru. Inkuiri tipe ini, tergolong kategori inkuiri terbimbing (guided Inquiry) menurut kriteria Bonnstetter, (2000); Marten-Hansen, (2002), dan Oliver-Hoyo, et al (2004). Sedangkan Orlich, et al (1998) menyebutnya sebagai pembelajaran penemuan (discovery learning) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapkan kepadanya.
Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan baik oleh guru dan luaran pembelajaran sudah dapat diprediksikan sejak awal. Inkuiri jenis ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasar dalam bidang ilmu tertentu. Orlich, et al (1998) menyatakan ada beberapa karakteristik dari inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu: (1) siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi, (2) sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai, (3) guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas, (4) tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas, (5) kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, (6) biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari siswa, (7) guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam kelas.
2. Inkuiri Bebas
Inkuiri tingkat kedua dan ketiga menurut Callahan et al , (1992) dan Bonnstetter, (2000) dapat dikategorikan sebagai inkuiri bebas (unguided Inquiry) menurut definisi Orlich, et al (1998). Dalam inkuiri bebas, siswa difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan. Siswa dimotivasi untuk mengemukakan gagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut. Untuk itu siswa diberi motivasi untuk melatih keterampilan berpikir kritis seperti mencari informasi, menganalisis argumen dan data, membangun dan mensintesis ide-ide baru, memanfaatkan ide-ide awalnya untuk memecahkan masalah serta menggeneralisasikan data. Guru berperan dalam mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan tentatif yang menjadikan kegiatan belajar lebih menyerupai kegiatan penelitian seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Beberapa karakteristik yang menandai kegiatan inkuiri bebas ialah: (1) siswa mengembangkan kemampuannya dalam melakukan observasi khusus untuk membuat inferensi, (2) sasaran belajar adalah proses pengamatan kejadian, obyek dan data yang kemudian mengarahkan pada perangkat generalisasi yang sesuai, (3) guru hanya mengontrol ketersediaan materi dan menyarankan materi inisiasi, (4) dari materi yang tersedia siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa bimbingan guru, (5) ketersediaan materi di dalam kelas menjadi penting agar kelas dapat berfungsi sebagai laboratorium, (6) kebermaknaan didapatkan oleh siswa melalui observasi dan inferensi serta melalui interaksi dengan siswa lain, (7) guru tidak membatasi generalisasi yang dibuat oleh siswa, dan (8) guru mendorong siswa untuk mengkomunikasikan generalisasi yang dibuat sehingga dapat bermanfaat bagi semua siswa dalam kelas.
Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi fokus kegiatan inkuiri harus dapat mengarahkan siswa pada penentuan cara kerja yang tepat serta asumsi mengenai kesimpulan yang akan diperoleh. Pertanyaan yang menjadi pangkal kegiatan inkuiri sangat penting bagi siswa yang belum berpengalaman dalam belajar secara mandiri. Peran guru dalam melatih siswa untuk menyusun pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penelitian sangat penting. Dengan menentukan kriteria pertanyaan ilmiah dan tidak ilmiah, Marbach-Ad & Classen, (2001) hanya berhasil mengantarkan sekitar 41% mahasiswa tingkat awal untuk mampu merumuskan pertanyaan yang dapat mengarahkan pada penelitian. Fakta ini menunjukkan bahwa melatih siswa untuk merumuskan pertanyaan yang dapat mendorong inkuiri tidak mudah. Oleh karena itu, guru harus berusaha mengembang-kan inkuiri mulai dari melatih siswa untuk merumuskan pertanyaan. Bagi siswa sekolah menengah khususnya di Indonesia kegiatan inkuiri perlu dilatih secara bertahap, mulai dari inkuiri yang sederhana (inkuiri-terbimbing) kemudian dikembangkan secara bertahap ke arah kegiatan inkuiri yang lebih kompleks dan mandiri (inkuri-bebas).
Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya. Schamel & Ayres, (1992) mengemukakan bahwa mengajarkan siswa untuk bertanya sangat bermanfaat bagi perkembangannya sebagai saintis karena bertanya dan memformulasikan pertanyaan dapat mengembangkan kemampuan memberi penjelasan yang dapat diuji kebenarannya dan merupakan bagian penting dari berpikir ilmiah. Marbach-Ad & Classen (2001) menemukan bahwa dengan melatih pebelajar membuat pertanyaan atas dasar kriteria-kriteria yang disusun oleh pengajar dapat meningkatkan kemampuan inkuiri pebelajar. Oleh karena itu, pada tahap awal inkuiri guru harus melatih siswa untuk mampu merumuskan pertanyaan dengan baik. Hal ini berkaitan dengan kemampuan dasar siswa SMA yang umumnya masih sulit mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan memerlukan penyelidikan jawaban (Buttemer & Windschitl, 2000). Dalam proses pembelajaran melalui kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan inkuiri atau keterampilan proses sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sikap ilmiah seperti menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur dan kreatif (Prayitno, 2004).
C. Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Pembelajaran berbasis inkuiri, polanya mengikuti metode sains, yang memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar bermakna (University of Washington, 2001, Depdiknas, 2002). Inkuiri sebagai salah satu strategi pembelajaran mengutamakan proses penemuan dalam kegiatan pembelajarannya untuk memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu di dalam pembelajaran inkuiri guru harus selalu merancang kegiatan yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan penemuan di dalam mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan.
Tujuan utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council (2000) adalah: (1) mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep sains; (2) mengembangkan keterampilan ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuwan; (3) membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan.
Melalui pembelajaran yang berbasis inkuiri, siswa belajar sains sekaligus juga belajar metode sains. Proses inkuiri memberi kesempatan kepada siswa untuk memiliki pengalaman belajar yang nyata dan aktif, siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah sekaligus membuat keputusan. Pembelajaran berbasis inkuri memungkinkan siswa belajar sistem, karena pembelajaran inkuiri memungkinkan terjadi integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika siswa melakukan eksplorasi, akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang melibat matematika, bahasa, ilmu sosial, seni, dan juga teknik. Peran guru di dalam pembelajaran inkuiri lebih sebagai pemberi bimbingan, arahan jika diperlukan oleh siswa. Dalam proses inkuiri siswa dituntut bertanggungjawab penuh terhadap proses belajarnya, sehingga guru harus menyesuaikan diri dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa, sehingga tidak menganggu proses belajar siswa.
Langkah pembelajaran inkuri, merupakan suatu siklus yang dimulai dari:
1. observasi atau pengamatan terhadap berbagai fenomena alam
2. mengajukan pertanyaan tentang fenomena yang dihadapi
3. mengajukan dugaan atau kemungkinanjawaban
4. mengumpulkan data berkait dengan pertanyaan yang diajukan
5. merumuskan kesimpulan kesimpulan berdasarkan data.
Joice dan Well (1996) mengungkapkan bahwa terdapat dua model inkuiri, yaitu latihan inkuiri dan inkuri sains. Sintaks inkuiri sains terdiri atas empat fase, yaitu:
1. Fase investigasi dan pengenalan kepada siswa
2. Pengelompokan masalah oleh siswa
3. Identifikasi masalah dalam penyelidikan
4. Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/masalah
Sintaks latihan inkuiri terdiri atas:
1. Orientasi masalah;
2. Pengumpulan data dan verifikasi;
3. Pengumpulan data melalui eksperimen;
4. Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan
5. Analisis proses inkuiri.
Pembelajaran inkuri dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan dan cara bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Melalui pertanyaan tersebut siswa dilatih melakukan observasi terbuka, menentukan prediksi dan kemudian menarik kesimpulan. Kegiatan seperti ini dapat melatih siswa membuka pikirannya sehingga mampu membuat hubungan antara kejadian, objek atau kondisi dengan kehidupan nyata.
D. Implementasi Inkuiri pada pembelajaran Biologi
Standar kompetensi yang dikembangkan dalam kurikulum berbasis kompetensi, merupakan standar minimal pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai dan mampu dilakukan oleh siswa pada setiap tingkatan dalam suatu mata pelajaran. Standar kompetensi untuk bidang Biologi pada jenjang SMA ditekankan pada kemampuan bekerja ilmiah, dan kemampuan memahami konsep-konsep sains serta penerapannya dalam kehidupan (Depdiknas, 2003a). Kemampuan bekerja secara ilmiah harus didukung oleh berkembangnya rasa ingin tahu, kemauan bekerjasama, dan keterampilan berpikir kritis. Kemampuan memahami konsep-konsep biologi dan menerapkannya dalam kehidupan dapat dikembangkan melalui proses belajar siswa secara langsung dan aktif melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Pendekatan pembelajaran Biologi hendaknya tidak lagi terlalu berpusat pada guru melainkan harus lebih berorientasi pada siswa. Peranan guru perlu bergeser dari menentukan “apa yang harus dipelajari” menjadi “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa” . Pengalaman belajar bagi siswa dapat diperoleh melalui rangkaian kegiatan dalam mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman sejawat dan seluruh lingkungan belajarnya. Untuk itulah perlunya dilakukan pengembangan pembelajaran Biologi di SMA dengan mempertimbangkan: 1) empat pilar pendidikan yang direkomen-dasikan oleh UNESCO yaitu belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi (learning to be), belajar untuk mengetahui (learning to know) dan belajar untuk hidup dengan bekerjasama (learning to live together); 2) Inkuiri atau bertanya dalam rangka memperoleh ilmu dan pengetahuan atas dasar rasa ingin tahu (curiosity); 3) pemecahan masalah; dan 4) konstruktivisme sebagai landasan filosofis pembelajaran.
Inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang berperan penting dalam membangun paradigma pembelajaran konstruktivistik yang menekankan pada keaktifan belajar siswa (DeBoer,1991). Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam menggunakan keterampilan proses dengan merumuskan pertanyaan yang mengarah pada kegiatan investigasi, menyusun hipotesis, melakukan percobaan, mengumpulkan dan mengolah data, mengevaluasi dan mengkomunikasikan hasil temuannya dalam masyarakat belajar. Kegiatan inkuiri sangat penting karena dapat mengoptimalkan keterlibatan pengalaman langsung siswa dalam proses pembelajaran. Joyce, et al (2000) menyatakan bahwa inkuiri perlu didesain untuk membelajarkan proses penelitian yang dapat mempengaruhi cara siswa memproses informasi dan mengembangkan komitmen terhadap inkuiri ilmiah. inkuiri juga dapat merangsang pengembangan sikap keterbukaan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cara yang tepat dan semangat kerjasama yang tinggi.
Penerapan inkuiri sangat berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme yang berkembang atas dasar psikologi perkembangan kognitif dari Jean Piaget dan teori scaffolding (penyediaan dukungan untuk belajar dan memecahkan masalah) dari Lev Vygotsky (Slavin, 1994). Kedua ahli tersebut menyatakan perubahan kognitif seseorang hanya akan terjadi jika konsep awalnya mengalami proses ketidak-seimbangan dengan adanya informasi baru. Titik berat teori konstruktivisme adalah gagasan bahwa siswa harus membangun pengetahuannya sendiri. Dengan belajar melalui inkuiri siswa akan terlibat dalam proses mereorganisasi struktur pengetahuannya melalui penggabungan konsep-konsep yang sudah dimiliki sebelumnya dengan ide-ide yang baru didapatkan (Collins, 2002). Dalam inkuiri, siswa dimotivasi untuk terlibat langsung atau berperan aktif secara fisik dan mental dalam kegiatan pembelajaran. Lingkungan kelas di mana siswa aktif terlibat dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran sangat membantu dalam mencapai tujuan belajar (Mestre & Cocking, 2002. Tessier (2003) menyatakan bahwa pendekatan belajar siswa aktif dapat merangsang mening-katnya kualitas pendidikan sains di Amerika Serikat. Siswa yang terlibat secara aktif dalam pembelajaran memiliki retensi yang lebih baik dan lebih mampu mengembangkan diri menjadi pebelajar yang independen dibandingkan siswa yang belajar melalui ceramah.
Chiapetta & Adams, (2004) menyatakan bahwa inkuiri sangat berperan dalam mengembangkan: (1) pemahaman fundamental mengenai konsep, fakta, prinsip, hukum dan teori, (2) keterampilan yang mendorong perolehan pengetahuan dan pemahaman mengenai fenomena alam, (3) pengayaan disposisi untuk menemukan jawaban pertanyaan dan menguji kebenaran pernyataan-pernyataan, (4) pembentukan sikap positif terhadap sains, dan (5) perolehan pengertian mengenai sifat-sifat sains. Melalui inkuiri guru dapat mengembangkan motivasi siswa menjadi lebih baik, memberikan kesempatan untuk belajar dengan mempraktekkan keterampilan intelektual, belajar berpikir rasional, memahami proses-proses intelektual dan belajar bagaimana cara belajar yang lebih baik (Orlich, et al 1998). Bransford, et al (1999) mengemukakan bahwa untuk dapat mengembangkan kompetensi dalam kegiatan inkuiri ilmiah, maka siswa harus (1) memiliki dasar yang mendalam mengenai pengetahuan faktual, (2) memahami fakta dan ide-ide dalam konteks kerangka konseptual, dan (3) memiliki kemampuan mengorganisasikan pengetahuan dengan cara yang memfasilitasikan retrieval dan aplikasi.
Menurut Nurhadi, (2004) inkuiri merupakan salah satu komponen penting dari pendekatan pembelajaran kontekstual dan konstruktivistik yang telah berkembang pesat dalam proses pembaruan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Pendekatan kontekstual, merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada upaya guru untuk membuat kaitan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa serta mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan kontekstual sangat erat kaitannya dengan inkuiri yang menekankan kegiatan siswa pada proses belajar dengan melakukan sehingga siswa tidak hanya belajar untuk sebanyak mungkin menghafal fakta dan konsep yang sudah ada di buku-buku teks saja, melainkan terlibat dalam kegiatan mempelajari proses pencarian dan penemuan fakta-fakta dan konsep-konsep berdasarkan masalah-masalah kontekstual yang ada di sekitarnya.
Kegiatan belajar melalui inkuiri menghadapkan siswa pada pengalaman kongkrit sehingga siswa belajar secara aktif, di mana mereka didorong untuk mengambil inisiatif dalam usaha memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengembangkan keterampilan meneliti serta melatih siswa menjadi pebelajar sepanjang hayat. Melalui kegiatan inkuiri, siswa dengan tingkat perkembangan atau kemampuan yang berbeda dapat bekerja pada masalah-masalah sejenis dan berkolaborasi untuk menemukan pemecahannya. Dalam proses inkuiri, pebelajar termotivasi untuk terlibat langsung atau berperan aktif secara fisik dan mental dalam kegiatan belajar. Lingkungan kelas di mana pebelajar aktif terlibat dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran sangat membantu tercapainya kompetensi atau tujuan pembelajaran (Mestre & Cocking; 2002).
Implementasi inkuiri sangat didukung oleh prinsip-prinsip pembelajaran yang bersandar pada teori konstruktivisme yaitu: 1) belajar dengan melakukan, 2) belajar untuk mengembangkan kemampuan sosial atau kerjasama, dan 3) belajar untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. inkuiri diharapkan dapat memberikan kesempatan dengan lebih leluasa kepada siswa untuk belajar dan bekerja melalui proses inkuiri sebagaimana seorang ilmuwan atau peneliti bekerja. Dengan demikian, siswa mendapat kesempatan untuk mempelajari cara menemukan fakta, konsep dan prinsip melalui pengalamannya secara langsung. Jadi siswa bukan hanya belajar dengan membaca kemudian menghafal materi dari buku-buku teks atau berdasarkan informasi dan ceramah dari guru saja, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih mengembangkan keterampilan berpikir dan bersikap ilmiah.
Berkaitan dengan prinsip kedua, inkuiri pada dasarnya memberikan kesem-patan kepada siswa untuk bekerjasama dalam membangun pemahaman dan kete-rampilannya melalui interaksi dengan lingkungan sosial seperti teman sejawat, guru dan sumber-sumber belajar lain. Interaksi dengan lingkungan memungkin-kan seorang siswa memperbaiki pemahaman dan memperkaya pengetahuannya melalui kegiatan bertanya-jawab atau berdiskusi dalam kelompok belajarnya. inkuiri mendukung prinsip ini karena pada dasarnya kegiatan inkuiri dirancang agar siswa belajar dalam kelompok dan guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator.
Sasaran pembelajaran yang dapat dicapai dengan penerapan inkuiri (Angelo & Cross,1993 dalam Straits & Wilke, 2002)
Sasaran kognitif
1. Memahami bidang khusus dari materi pelajaran
2. Mengembangkan keterampilan proses sains
3. Mengembangkan kemampuan bertanya, memecahkan masalah dan melakukan percobaan
4. Menerapkan pengetahuan dalam situasi baru yang berbeda.
5. Mengevaluasi dan mensintesis informasi, ide dan masalah baru.
6. Memperkuat keterampilan berpikir kritis
Sasaran afektif
1. Mengembangkan minat terhadap pelajaran dan bidang ilmu
2. Memperoleh apresiasi untuk pertimbangan moral dan etika yang relevan dengan bidang ilmu tertentu.
3. Meningkatkan intelektual dan integritas
4. Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan.
Sasaran sosial
1. Bekerja secara kolaboratif
2. Mempresentasikan hasil, prosedur dan interpretasi
3. Mendengarkan dan belajar dari kelompoknya.
Sasaran interdisiplin
1. Mengasosiasikan pemahaman baru terhadap pemahaman awal
2. Membuat kaitan antara pengetahun baru dengan pengetahuan sehari-hari.
Sasaran pemecahan masalah
1. Mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah
2. Menyeleksi tindakan yang sesuai
3. Mengajukan dan mendefinisikan pertanyaan yang khusus (ilmiah)
4. Menulis hipotesis, mendesain percobaan dan mencari informasi pendukung
5. Menganalisis dan menginterpretasi data
6. Membuat spekulasi dan ekstrapolasi atas dasar data, dan bukti empirik
Sasaran Penerapan
1. Memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber
2. Mengembangkan kemampuan menyeleksi tindakan/perangkat yang cocok
3. Menggunakan laboratorium atau perangkat komputer
4. Mengorganisasikan informasi
5. Mengikuti instruksi
Sasaran Metakognitif
1. Mampu mengarahkan diri untuk memulai proses belajar
2. Mampu merefleksikan diri dengan mereview sasaran, tujuan dan luaran (out-come) pembelajaran yang baru.
3. Mampu mengevaluasi diri dengan menilai pertanyaan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
E. Kriteria-kriteria Penting dalam Merancang Inkuiri
Belajar berbasis inkuiri sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. Meskipun demikian, masih banyak guru yang tidak mau dan tidak mampu menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas (Keefer, 1999; Hebrank, 2003). Kebanyakan guru tetap bertahan pada model pembelajaran klasikal yang didominasi oleh kegiatan ceramah di mana arus informasi lebih bersifat satu arah dan kegiatan berpusat pada guru. Hal ini terjadi tidak saja di negara-negara berkembang seperti Indonesia tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris (Keefer, 1999). Mengingat pentingnya peranan inkuiri dalam membantu perkembangan intelektual siswa, maka sekarang di Amerika Serikat, semua pendidik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sangat dianjurkan untuk menerapkan inkuiri sebagai pendekatan/strategi pembelajaran dan juga sebagai materi pelajaran sains (NRC, 1996., Layman, et al 1999., Pearce, 1999., Hebrank, 2000, Hacket, 2004).
Menurut Amin (1987), inkuiri sebagai strategi pembelajaran memiliki beberapa keuntungan seperti: (a) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, (b) menciptakan suasana akademik yang mendukung berlang-sungnya pembelajaran yang berpusat pada siswa, (c) membantu siswa mengem-bangkan konsep diri yang positif, (d) meningkatkan pengharapan sehingga siswa mengembangkan ide untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri, (e) mengembangkan bakat individual secara optimal, (f) menghindarikan siswa dari cara belajar menghafal. Agar penerapan strategi inkuiri dapat berhasil dengan baik, maka guru perlu memahami beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam merancang inkuiri seperti disarankan oleh Keffer (2000) antara lain sebagai berikut:
1. Siswa harus dihadapkan dengan masalah-masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dan sumbernya bisa dari siswa sendiri maupun dari guru. Pada tahap awal, masalah yang akan dipecahkan sebaiknya terstruktur, tidak open-ended (ujung terbuka) dan jawabannya tidak bias.
2. Siswa harus diberi keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan masa-lahnya. Dalam hal ini guru harus dapat menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa. Siswa mungkin akan merasa kesulitan dan berputus asa pada saat mengalami hambatan jika tidak dibantu oleh guru.
3. Siswa harus memiliki informasi awal tentang masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, guru harus berperan dalam memberikan informasi pendukung baik dengan cara melibatkan siswa bekerja bersama guru atau diberikan saran tentang sumber-sumber dan wujud informasi yang dibutuhkan dan dapat dicari dan diperolehnya sendiri.
4. Siswa harus diberikan kesempatan melakukan sendiri dan mengevaluasi hasil kegiatannya. Guru memonitor kegiatan siswa dan memberi bantuan jika siswa betul-betul sudah tidak mampu memecahkan masalahnya.
5. Siswa diberikan waktu cukup untuk bekerja berdasarkan pendekatan baru secara individual maupun berkelompok dan perlu diberikan contoh yang tepat dan agar dapat membedakan contoh salah yang berkaitan dengan masalah.
Dalam rangka mengimplementasikan inkuiri di kelas, Etheredge & Rudinsky (2003) memberikan model sederhana dari suatu kegiatan inkuiri yang umumnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (a) guru berusaha menggali minat dan latar belakang pengetahuan awal siswa dan merancang kegiatan dengan menggunakan variabel tunggal serta menerapkan konsep-konsep sains yang akan dipelajari, (b) guru membantu siswa merumuskan pertanyaan, merancang dan melaksanakan kegiatan inkuiri, dan (c) guru membantu siswa menilai proses dan hasil pembelajaran yang dilakukannya. Agar proses inkuiri dapat berlangsung secara maksimal dan produknya menjadi bermakna bagi guru maupun siswa, maka penerapan inkuiri sebaiknya diawali dari masalah-masalah sederhana, kemudian dikembangkan secara bertahap ke arah permasalahan yang lebih kompleks (Joyce, et al , 2000; Bonnstetter, 2000).
Singkatnya paradigma pembelajaran melalui inkuiri harus dikembangkan secara bertahap dan berlangsung terus menerus. Memang inkuiri bukanlah satu-satunya strategi yang dapat memberikan jawaban terhadap seluruh permasalahan pendidikan sains khususnya Biologi, akan tetapi penerapan inkuiri secara terintegrasi dengan strategi lain dapat memberikan kontribusi positif terhadap proses reformasi pembelajaran Biologi yang sangat perlu dilakukan.
Selasa, 08 Februari 2011
IMPLEMENTASI STRATEGI INKUIRI BIOLOGI DALAM PEMBELAJARAN
Oleh, MAHURI
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB
1.Pendahuluan
Pada hekikatnya program pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang “ mengapa hal itu terjadi “. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.
Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian strategi pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan kajian beberapa literatur terdapat banyak strategi pemecahan masalah yang kiranya dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang tejadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan. (Suharsono, 1991 dalam Muna, 2009).
Mata pelajaran biologi sebagai bagian dari bidang sains, menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman tingkat tinggi yang komprehensif. Namun, dalam kenyataan saat ini siswa cendrung menghafal daripada memahami, padahal pemahaman merupakan modal dasar bagi penguasaan selanjutnya. Siswa dikatakan memahami apabila dapat menunjukkna unjuk kerja pemahaman tersebut pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi, baik pada konteks yang sama maupun pada konteks yang berbeda. (Gardner, 1999 dalam Muna, 2009).
Pemahaman merupakan perangkat standar program pendidikan yang mereflesikan kompetensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan. (Yulaelawaty, 2002). Sedangkan kompetensi seseorang yang telah menyelesaiakan pendidikan dijadikan titik tolak dari kurikulum berbasis kompetensi. Dengan demikian pemahaman merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam belajar biologi. Belajar untuk pemahaman dalam bidang biologi harus dapat dipertimbangkan oleh para pendidik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan mata pelajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka pembelajaran dengan pemecahan masalah menjadi hal yang sangat diperlukan dalam pembelajaran biologi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi pembelajaran inkuiri biologi.
Oleh sebab itu dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pemecahan masalah dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuari biologi.
2.Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivis
Strategi pembelajaran inkuiri biologi merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan paradigma konstruktivisma. Sehubungan dengan hal itu, maka pembahasan tentang strategi pembelajaran inkuiri biologi akan diawali dengan uraian singkat tentang pandangan konstruktivisma dalam pendidikan.
Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara (tentatif) terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cendrung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan konstruktivis lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesaikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman kongkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Pebelajar sendiri yang bertanggung jawab atas pristiwa belajar dan hasil belajarnya. Pebelajar sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikan dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna.
Paradigma konstruktivistik, merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan pemecahan masalah, mengembangkn konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh jawaban benar. Pembelajaran dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi , pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh pebelajar sendiri. Secara umum , terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik ( Brooks & Brooks, 1993 dalam Santiyasa, 2004), yaitu (1) meletakkan permasalah yang relevan dengan kebutuhan pebelajar, (2) menyusun pembelajaran disekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan pebelajar, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan pebelajar, dan (5) menilai pembelajaran secara kontekstual.
Bertolak dari pandangan konstruktivisma bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran pebelajar dan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru kepikiran pebelajar, maka para konstruktivis menghendaki adanya pergeseran yang tajam bagi sosok yang berdiri di depan kelas sebagai guru. Pergeseran dari seseorang yang mengajar menjadi seorang fasilitator. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagai transmiter pembelajaran. Pengajar sebagai fasilitator akan memilki konsekuensi langsung sebagai expert learners, manager, dan mediator.
Sebagai expert learners, pengajar diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk pebelajar, menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran, merubah strategi ketika pebelajar sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotorik pebelajar.
Sebagai manager, pengajar berkewajiban memonitor hasil belajar para pebelajar dan masalah-masalah yang dihadapi mereka, memonitor disiplin kelas dan hubungan interpersonal, dan memonitor ketepatan penggunaan waktu dalam menyelesaikan tugas. Dalam hal ini, pengajar berperan dalam expert teacher yang member keputusan mengenai isi, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal dan pengelompokan pebelajar.
Sebagai mediator, pengajar memandu mengetengahi antar pebelajar, membantu para pebelajar memformulasikan pertanyaan atau menkontruksi representasi visual dari suatu masalah, memandu para pebelajar mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para pebelajar, pemodelan proses berpikir dengan menunjukknan kepada pebelajar ikut berpikir kritis.
3.Strategi Pembelajran Inkuiri Biologi
Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya rencana pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L. Costa,(1985, dalam Trianto, 2007), merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemp (1995, dalam Sanjaya 2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas , Dick dan Carey (1985, dalam Sanjaya 2009) mendifinisikan strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Jadi strategi pembelajaran merupakan teori preskriptif yang berperan sebagai fasilitas untuk mencapai tujuan belajar.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan teori preskriptif yang menggunakan proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk memahami bagaimana melakukan dan bagaimana menggunakan pemahaman tersebut dalam mendiskripsikan fenomena, memformulasikan hipotesis, dan menguji hipotesis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan. (Sanjaya, 2009). Senada dengan pendapat diatas, (Gulo, 2002 dalam Trianto, 2007) menyatakan strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi inkuiri berkaitan dengan penemuan sendiri dalam pembelajaran.
Digunakannya model pembelajaran inkuiri biologi ( biological science inquiry model ) dalam pembelajaran didasari atas berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut.
a. Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk mata pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti dapat meningkatkan hasil elajar siswa. (Joice dan Weil, 1992, dalam Muna 2009)
b. Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan oleh guru.
c. Model pembelajaran inkuri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.
Model pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikembangkan oleh Schwab tahun 1965 yang termuat dalam Biological Science Curriculum Studi (BSCS), dan membahas tentang pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah. (Joice dan Weil,1992, dalam Muna,2009). Esensi dari model pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sedangkan prosedurnya melibatkan siswa dalam penyelidikan masalah yang sebenarnya dengan cara melibatkan dalam penelitian, membantu siswa mnegidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Model pembelajaran inkuiri biologi memiliki empat langkah pembelajaran ( Joice dan Weil, 1992 dalam Muna, 2009). Langkah-langkah tersebut adalah : Investigasi, Penentuan masalah, Identifikasi masalah, dan Penyimpulan/penyelesaian masalah. Oprasional tiap langkah dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini.
No Tahap pembelajaran Kegiatan guru Kegiatan siswa
1 Investigasi Memberikan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran pada siswa
Mendorong dan membimbing siswa melakukan pengkajian /investigasi terhadap permasalahan
Mendorong siswa aktif berpikir,belajar dan mencipta, serta mengekplorasi
Mendorong siswa melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada, mengumpulkan data, mengkaji,mengklasifikasikan data • Membaca permasalahan secara umum
• Menganalisis masalah
• Mengumpulkan data.
• Melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
• Mencipta dan mengekplorasi
• Melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada.
• Mengumpulkan data, mengkaji, mengklasifikasikan data, dan sejenisnya
2 Penentuan Masalah Membingbing dan mengarahkan siswa untuk menentukan, memetakan masalah seseuai dengan jenisnya
Membantu siswa untuk melihat keterkaiatan antara kelompok/jenis masalah serta membuat pohon permasalahan dan sejenisnya • Memverifikasi dan memetakan data
• Menentukan masalah sesuai dengan data
• Melihat keterkaitan antara kelompok /jenis masalah dan membuat pohon permasalahan dan sejenisnya
3 Identifikasi Membantu siswa melakukan identifikasi dan verifikasi permasalahan mengembangkan hipotesis
Mendorong siswa mengembangkan hipotesis
Mendorong siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
Mendorong siswa mengembangkan kesimpulan sementara Melakukan identifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis mencari berbagai alternatif pemecahan dan pengembangan kesimpulan sementara
Mengembangkan hipotesis
Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
Mengembangkan kesimpulan sementara
4 Penyimpulan/penyelesaian masalah Mendorong siswa untuk mencari pemecahan masalah yang paling tepat
Membimbing siswa menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
Membimbing dan membantu siswa menetapkan suatu kesimpulan yang paling tepat Menyimpulkan pemecahan masalah yang paling baik dan tepat untuk menyelesaiakan masalah
Menganilisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
Menetapkan kesimpulan yang palaing epat
4.Assesmen dan Penilaian Strategi Pembelajaran Inkuiri Biologi
Teknik-teknik penilaian untuk mengukur aktivitas-aktivitas strategi pembelajaran inkuiri biologi hendaknya bersifat lentur dan lebih bervariasi. Dalam hal ini, penilaian lebih ditujukan pada mengakses proses pembelajaran. Sebab itu, lebih banyak digunakan data subyektif untuk menilai pertumbuhan peserta didik. Bentuk-bentuk assesmen yang dapat digunakan dalam penilaian dapat berupa pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, tes dan lain-lain.
5.Penutup
Strategi pembelajaran inkuiri biologi adalah alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstrutivistik. Esensi dari model pembelajaran tersebut adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetehuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian atau adanya orientasi pembelajaran dari yang semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang pada siswa untuk memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan melalui proses berpikir dalam pemerosesan informasi.
Model pembelajaran inkuiri bilogi dapat dilaksanakan dengan lima tahapan pembelajaran, yaitu : (1) Investigasi, (2) Penentuan masalah, (3) Identifikasi Masalah, dan (4) Penyimpulan/ penyelesaian masalah.
Aktivitas-aktivitas model pembelajaran inkuiri biologi dapat dievaluasi berdasarkan pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, dan tes.
Daftar Pustaka
Sanjaya, Wina, 2009. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Standar Proses Pendidikan. Jakarta:KencanaMedia Group.
Sadia, Wayan. 2006. Model pembelajaran Berbasis Masalah. Makalah . Disajikan pada DIKLAT Peningkatan Kompetensi Guru Yang diselenggarakan Oleh LPMP Propinsi Bali.
Santiyasa,I Wayan. 2004. Model pembelajaran Problem Solving dan Reasoning. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol (2) No. 2. Hal 26 – 43.
Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.
Muna, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara.
Yulaelawati, E. 2002. Karakteristik Pembelajaran MIPA Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah disajikan pada seminar pembelajaran MIPA di FPMIPA IKIP Negeri Singaraja.
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB
1.Pendahuluan
Pada hekikatnya program pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang “ mengapa hal itu terjadi “. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.
Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian strategi pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan kajian beberapa literatur terdapat banyak strategi pemecahan masalah yang kiranya dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang tejadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan. (Suharsono, 1991 dalam Muna, 2009).
Mata pelajaran biologi sebagai bagian dari bidang sains, menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman tingkat tinggi yang komprehensif. Namun, dalam kenyataan saat ini siswa cendrung menghafal daripada memahami, padahal pemahaman merupakan modal dasar bagi penguasaan selanjutnya. Siswa dikatakan memahami apabila dapat menunjukkna unjuk kerja pemahaman tersebut pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi, baik pada konteks yang sama maupun pada konteks yang berbeda. (Gardner, 1999 dalam Muna, 2009).
Pemahaman merupakan perangkat standar program pendidikan yang mereflesikan kompetensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan. (Yulaelawaty, 2002). Sedangkan kompetensi seseorang yang telah menyelesaiakan pendidikan dijadikan titik tolak dari kurikulum berbasis kompetensi. Dengan demikian pemahaman merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam belajar biologi. Belajar untuk pemahaman dalam bidang biologi harus dapat dipertimbangkan oleh para pendidik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan mata pelajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka pembelajaran dengan pemecahan masalah menjadi hal yang sangat diperlukan dalam pembelajaran biologi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi pembelajaran inkuiri biologi.
Oleh sebab itu dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pemecahan masalah dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuari biologi.
2.Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivis
Strategi pembelajaran inkuiri biologi merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan paradigma konstruktivisma. Sehubungan dengan hal itu, maka pembahasan tentang strategi pembelajaran inkuiri biologi akan diawali dengan uraian singkat tentang pandangan konstruktivisma dalam pendidikan.
Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara (tentatif) terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cendrung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan konstruktivis lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesaikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman kongkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Pebelajar sendiri yang bertanggung jawab atas pristiwa belajar dan hasil belajarnya. Pebelajar sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikan dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna.
Paradigma konstruktivistik, merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan pemecahan masalah, mengembangkn konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh jawaban benar. Pembelajaran dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi , pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh pebelajar sendiri. Secara umum , terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik ( Brooks & Brooks, 1993 dalam Santiyasa, 2004), yaitu (1) meletakkan permasalah yang relevan dengan kebutuhan pebelajar, (2) menyusun pembelajaran disekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan pebelajar, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan pebelajar, dan (5) menilai pembelajaran secara kontekstual.
Bertolak dari pandangan konstruktivisma bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran pebelajar dan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru kepikiran pebelajar, maka para konstruktivis menghendaki adanya pergeseran yang tajam bagi sosok yang berdiri di depan kelas sebagai guru. Pergeseran dari seseorang yang mengajar menjadi seorang fasilitator. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagai transmiter pembelajaran. Pengajar sebagai fasilitator akan memilki konsekuensi langsung sebagai expert learners, manager, dan mediator.
Sebagai expert learners, pengajar diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk pebelajar, menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran, merubah strategi ketika pebelajar sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotorik pebelajar.
Sebagai manager, pengajar berkewajiban memonitor hasil belajar para pebelajar dan masalah-masalah yang dihadapi mereka, memonitor disiplin kelas dan hubungan interpersonal, dan memonitor ketepatan penggunaan waktu dalam menyelesaikan tugas. Dalam hal ini, pengajar berperan dalam expert teacher yang member keputusan mengenai isi, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal dan pengelompokan pebelajar.
Sebagai mediator, pengajar memandu mengetengahi antar pebelajar, membantu para pebelajar memformulasikan pertanyaan atau menkontruksi representasi visual dari suatu masalah, memandu para pebelajar mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para pebelajar, pemodelan proses berpikir dengan menunjukknan kepada pebelajar ikut berpikir kritis.
3.Strategi Pembelajran Inkuiri Biologi
Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya rencana pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L. Costa,(1985, dalam Trianto, 2007), merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemp (1995, dalam Sanjaya 2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas , Dick dan Carey (1985, dalam Sanjaya 2009) mendifinisikan strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Jadi strategi pembelajaran merupakan teori preskriptif yang berperan sebagai fasilitas untuk mencapai tujuan belajar.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan teori preskriptif yang menggunakan proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk memahami bagaimana melakukan dan bagaimana menggunakan pemahaman tersebut dalam mendiskripsikan fenomena, memformulasikan hipotesis, dan menguji hipotesis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan. (Sanjaya, 2009). Senada dengan pendapat diatas, (Gulo, 2002 dalam Trianto, 2007) menyatakan strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi inkuiri berkaitan dengan penemuan sendiri dalam pembelajaran.
Digunakannya model pembelajaran inkuiri biologi ( biological science inquiry model ) dalam pembelajaran didasari atas berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut.
a. Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk mata pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti dapat meningkatkan hasil elajar siswa. (Joice dan Weil, 1992, dalam Muna 2009)
b. Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan oleh guru.
c. Model pembelajaran inkuri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.
Model pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikembangkan oleh Schwab tahun 1965 yang termuat dalam Biological Science Curriculum Studi (BSCS), dan membahas tentang pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah. (Joice dan Weil,1992, dalam Muna,2009). Esensi dari model pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sedangkan prosedurnya melibatkan siswa dalam penyelidikan masalah yang sebenarnya dengan cara melibatkan dalam penelitian, membantu siswa mnegidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Model pembelajaran inkuiri biologi memiliki empat langkah pembelajaran ( Joice dan Weil, 1992 dalam Muna, 2009). Langkah-langkah tersebut adalah : Investigasi, Penentuan masalah, Identifikasi masalah, dan Penyimpulan/penyelesaian masalah. Oprasional tiap langkah dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini.
No Tahap pembelajaran Kegiatan guru Kegiatan siswa
1 Investigasi Memberikan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran pada siswa
Mendorong dan membimbing siswa melakukan pengkajian /investigasi terhadap permasalahan
Mendorong siswa aktif berpikir,belajar dan mencipta, serta mengekplorasi
Mendorong siswa melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada, mengumpulkan data, mengkaji,mengklasifikasikan data • Membaca permasalahan secara umum
• Menganalisis masalah
• Mengumpulkan data.
• Melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
• Mencipta dan mengekplorasi
• Melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada.
• Mengumpulkan data, mengkaji, mengklasifikasikan data, dan sejenisnya
2 Penentuan Masalah Membingbing dan mengarahkan siswa untuk menentukan, memetakan masalah seseuai dengan jenisnya
Membantu siswa untuk melihat keterkaiatan antara kelompok/jenis masalah serta membuat pohon permasalahan dan sejenisnya • Memverifikasi dan memetakan data
• Menentukan masalah sesuai dengan data
• Melihat keterkaitan antara kelompok /jenis masalah dan membuat pohon permasalahan dan sejenisnya
3 Identifikasi Membantu siswa melakukan identifikasi dan verifikasi permasalahan mengembangkan hipotesis
Mendorong siswa mengembangkan hipotesis
Mendorong siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
Mendorong siswa mengembangkan kesimpulan sementara Melakukan identifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis mencari berbagai alternatif pemecahan dan pengembangan kesimpulan sementara
Mengembangkan hipotesis
Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
Mengembangkan kesimpulan sementara
4 Penyimpulan/penyelesaian masalah Mendorong siswa untuk mencari pemecahan masalah yang paling tepat
Membimbing siswa menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
Membimbing dan membantu siswa menetapkan suatu kesimpulan yang paling tepat Menyimpulkan pemecahan masalah yang paling baik dan tepat untuk menyelesaiakan masalah
Menganilisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
Menetapkan kesimpulan yang palaing epat
4.Assesmen dan Penilaian Strategi Pembelajaran Inkuiri Biologi
Teknik-teknik penilaian untuk mengukur aktivitas-aktivitas strategi pembelajaran inkuiri biologi hendaknya bersifat lentur dan lebih bervariasi. Dalam hal ini, penilaian lebih ditujukan pada mengakses proses pembelajaran. Sebab itu, lebih banyak digunakan data subyektif untuk menilai pertumbuhan peserta didik. Bentuk-bentuk assesmen yang dapat digunakan dalam penilaian dapat berupa pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, tes dan lain-lain.
5.Penutup
Strategi pembelajaran inkuiri biologi adalah alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstrutivistik. Esensi dari model pembelajaran tersebut adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetehuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian atau adanya orientasi pembelajaran dari yang semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang pada siswa untuk memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan melalui proses berpikir dalam pemerosesan informasi.
Model pembelajaran inkuiri bilogi dapat dilaksanakan dengan lima tahapan pembelajaran, yaitu : (1) Investigasi, (2) Penentuan masalah, (3) Identifikasi Masalah, dan (4) Penyimpulan/ penyelesaian masalah.
Aktivitas-aktivitas model pembelajaran inkuiri biologi dapat dievaluasi berdasarkan pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, dan tes.
Daftar Pustaka
Sanjaya, Wina, 2009. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Standar Proses Pendidikan. Jakarta:KencanaMedia Group.
Sadia, Wayan. 2006. Model pembelajaran Berbasis Masalah. Makalah . Disajikan pada DIKLAT Peningkatan Kompetensi Guru Yang diselenggarakan Oleh LPMP Propinsi Bali.
Santiyasa,I Wayan. 2004. Model pembelajaran Problem Solving dan Reasoning. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol (2) No. 2. Hal 26 – 43.
Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.
Muna, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara.
Yulaelawati, E. 2002. Karakteristik Pembelajaran MIPA Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah disajikan pada seminar pembelajaran MIPA di FPMIPA IKIP Negeri Singaraja.
MODEL PEMBELAJARAN MEMORIZATION
Oleh, MAHURI
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan sebuah sistem atau cara dalam mencapai tujuan tertentu. Sistem dapat diartikan sebagai satu kesatuan komponen dimana satu sama lainnya saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu (Sanjaya, 2009: 2). Dari konsep tersebut terdapat tiga ciri utama sebuah sistem yaitu suatu sistem memiliki tujuan tertentu, untuk mencapai tujuan sebuah sistem memiliki fungsi-fungsi tertentu, untuk menggerakkan fungsi suatu sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen.
Berdasarkan laporan dari TIMSS (Trends In Mathematic And Science Study) pada tahun 2003 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-35 dalam literasi matematika dan sains dari 46 negara peserta, selanjutnya berdasarkan studi yang dilakukan oleh UNDP tahun 2005 menunjukkan bahwa HDI (Human Development Index), Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara yang disurvei, sementara Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand masing-masing menduduki peringkat ke 25, 33, 61, dan 73. Dari data tersebut sangat jelas memperlihatkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum dilakukan dengan baik.
Pada proses pembelajaran terdapat juga sebuah sistem yang biasanya disebut dengan sistem pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik, Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan sistem pembelajaran merupakan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran dan yang menjadi subjek utamanya adalah siswa. Jadi tujuan utama sistem pembelajaran yang harus dicapai adalah keberhasilan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini guru menjadi desainer pembelajaran dan memiliki tiga tugas utama yaitu: Pertama, sebagai perencana yakni mengorganisasikan semua unsur yang ada agar berfungsi dengan baik, sebab manakala salah satu unsur tidak bekerja dengan baik maka akan merusak sistem itu sendiri. Dalam hal ini guru harus memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semunya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana dan desain pembelajaran. Kedua, sebagai pengelola implementasi sesuai dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan. Dalam hal ini guru bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning). Dengan demikian efektifitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas dan kemampuan guru. Norman Kirby (Sanjaya, 2009: 16) menyatakan bahwa ” One underlying emphasis should be notice-able: that the quality of the teacher is the essential, constant feature in the success of any educational system.” Ketiga, mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efisiensi sistem pembelajaran.
Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut aktivitas, kreatifitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan, secara efektif dan menyenangkan. Saylor (Mulyasa, 2006: 189) mengatakan bahwa “ Instruction is thus implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving, teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting.” Dari pernyataan diatas, guru harus dapat menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran dan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar, serta memilih dan menggunakan strategi dan pendekatan pembelajaran. Semua kegiatan dan fasilitas yang dipilih serta peranan yang dilakukan guru harus tertuju pada kepentingan siswa, yang diarahkan pada kebutuhan siswa, disesuaikan dengan kondisi siswa, dan menguasai apa yang diberikan atau memperoleh perkembangan optimal (Sukmadinata 2009: 197). Dalam hal ini, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan (Mulyasa, 2006: 192). Menurut Lindy Petersen (1995: 16), meskipun guru tidak mungkin mengontrol seluruh aspek setiap masing-masing individu siswa, namun hubungan yang timbul selama proses mengajar dengan masing-masing anak dapat ditingkatkan dan pemahaman guru terhadap psikologi siswa sangat berharga bagaimana cara memotivasi belajar mereka. Jadi guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal, serta menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Selain hal tersebut yang perlu diperhatikan juga adalah lingkungan belajar, karena lingkungan juga mempengaruhi situasi belajar. Siswa tidak akan merasa aman dan tenteram belajar manakala kondisi lingkungan yang tidak mendukung (Yamin, 2007: 111).
Ada beberapa istilah yang cenderung tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran yaitu model, pendekatan, metode dan teknik. Pendekatan dapat diartikan sebagai perangkat asumsi berkenaan dengan hakikat dan belajar-mengajar. Metode adalah rencana menyeluruh tentang penyajian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Sedangkan teknik merupakan kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam kelas sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, dan teknik bersifat operasional (Majid. A, 2008: 132). Selain pendekatan, metode dan teknik dalam pembelajaran sering juga disebutkan strategi, media dan model. J.R. David (Sanjaya, 2009: 186) mengartikan strategi sebagai ”a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.” Media menurut Heinich at al (Sanjaya, 2009: 204) “ Media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the tern refers “ to anything that carries information between a source and a receiver.” Sedangkan model merupakan tahapan pelaksanaan manajemen dan lingkungan belajar.
Sekarang ini banyak ditawarkan berbagai jenis pendekatan, metode, teknik strategi maupun media yang merupakan bagian dari model pembelajaran dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ditemukan dalam pendidikan terlebih lagi yang berhubungan dengan kebutuhan siswa, karena masing-masing hal tersebut dalam dunia pendidikan memiliki manfaat tersendiri. Jika manfaat tersebut dipahami oleh guru maka tidak ada lagi pelajaran yang sulit bagi siswa terlebih lagi pada pelajaran matematika dan sains yang seringkali menurut siswa merupakan pelajaran yang sangat sulit.
Sebenarnya pelajaran matematika dan sains sangat mudah dipahami dan menyenangkan jika siswa memahami dasar – dasar dari pembelajaran tersebut. Khususnya pada pelajaran sains salah satunya kimia. Dasar dari pelajaran kimia adalah perkembangan periodik unsur, sifat – sifat kimia dan fisik unsur serta sifat keperiodikannya melalui pemahaman konfigurasi elektron. Jadi, agar siswa lebih mudah memahaminya maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur tersebut dalam tabel periodik karena pelajaran kimia pada dasarnya berhubungan dengan unsur dan sifat - sifat unsurnya berhubungan dengan posisi/letak unsur. Namun yang terjadi dilapangan siswa yang sudah belajar kimia bahkan yang sudah kelas XII tidak mengenal dan tidak dapat menyebutkan nama – nama unsur dan letak unsur dalam sistem periodik.
Hal diatas terjadi karena dari awal siswa mulai belajar kimia, guru kurang menekankan bahwa dasar pelajaran kimia dari kelas X sampai kelas XII yang paling sederhana tapi merupakan hal yang terpenting dalam pelajaran kimia adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan terlebih dahulu nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur dalam tabel periodik agar siswa dapat memahami konsep – konsep kimia. Untuk dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur maka siswa terlebih dahulu dapat menghapalkan nama – nama unsurnya dan posisi/letak unsur dalam tabel periodik. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapalkan nama – nama unsur dan posisi/letaknya dalam tabel sistem periodik karena dalam menghapalkannya siswa seringkali melakukannya dengan cara yang salah yaitu dengan mengucapkannya berulang-ulang kali. Menghapal dengan cara mengucapkan berulangkali mungkin akan berhasil tetapi biasanya yang dihapal seringkali diingat pada saat itu saja (cepat terlupakan).
Berdasarkan permasalahan diatas menurut penulis salah satu model pembelajaran yang tepat untuk menangani permasalahan siswa dalam hal meningkatkan memori/ hapalan agar siswa lebih kreatif sehingga yang dihapal dapat bertahan lebih lama (tidak cepat lupa) adalah dengan model pembelajaran memproses informasi salah satunya dengan model pembelajaran Memorization. Menurut Bruce Joyce et al (2009, 217) memori dapat membangun hubungan sehingga objek-objek yang dipelajari tidak hanya sekedar diingat dengan hapalan saja, tetapi juga dengan hubungan konseptual. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pressley et al adalah bahwa dengan menggunakan model memorization orang dapat menguasai materi lebih cepat dan menyimpannya lebih lama. Model memorization dapat dilakukan dengan metode kata-penghubung (Link-Word Method), metode kata kunci (Key-Word Method) bahkan bisa saja dengan menggunakan sebuah lagu dan lain sebagainya. Model memorization ini berguna untuk menyeimbangkan fungsi kedua otak yaitu otak kiri dan otak kanan dalam mengolah informasi yang didapat. Otak kiri merupakan otak yang bersifat logis, beruntun, parsial dan cenderung memproses informasi satu persatu, sedangkan otak kanan berpikir secara acak, holistik dan kreatif dalam menerima dan menyimpan informasi. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapal karena biasanya dalam proses belajar siswa lebih sering menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri saja karena biasanya saat belajar disekolah siswa dituntut untuk berpikir urut dan logis padahal seharusnya otak kanan juga harus digunakan karena otak kanan sangat membantu dalam proses menghapal cepat, dan berpikir kreatif. Dengan menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dapat meningkatkan efektifitas belajar. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran memorization segala sesuatu yang berhubungan dengan hapalan tidak akan sulit lagi justru akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan.
Penggunaaan model Memorization dalam pembelajaran kimia diharapkan siswa semakin kreatif dalam merangkai kata-kata meningkatkan daya memori siswa serta menjadikan materi pelajaran kimia merupakan suatu hal yang menyenangkan dan bukan merupakan hal yang membosankan lagi. Jika siswa sudah memiliki asumsi bahwa belajar merupakan hal yang menyenangkan maka diharapkan hal tersebut akan meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis memandang perlu adanya penelitian dalam mengembangkan model pembelajaran memorization untuk meningkatkan pemahaman ”Sistem Periodik Unsur” siswa di SMK Negeri 4 kota Bengkulu
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah: Model pembelajaran Memorizatation Bagaimanakah yang mampu meningkatkan pemahaman siswa pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
C. DEFENISI OPERASIONAL
1. Model pembelajaran Memorization dalam penelitian ini didefenisikan sebagai pola atau desain pembelajaran yang menggunakan memori untuk meningkatkan pemahaman dengan strategi membangun hubungan objek-objek yang dipelajari serta hubungan konseptualnya. Jadi memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk belajar dari individu melibatkan memori. Dengan memori individu dapat menyimpan informasi yang diterima sepanjang waktu. Tanpa memori, individu mustahil dapat merefleksikan dirinya sendiri, karena pemahaman diri sangat tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang hanya dapat terlaksana dengan adanya memori.
2. Pemahaman siswa pada pelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur yaitu siswa dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia serta mengetahui letak/ posisi unsur tersebut dalam sistem periodik unsur.
D. PERTANYAAN PENELITIAN
Agar penelitian lebih terarah rumusan masalah tersebut dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Desain model RPP bagaimana dalam pembelajaran Memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
2. Desain model bagaimana yang dapat peningkatan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia ”Sistem Periodik Unsur” dalam pembelajaran memorization?
3. Apa keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
E. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia adalah:
1. Menghasilkan RPP model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur.
2. Meningkatkan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia dalam sistem periodik unsur setelah belajar model pembelajaran memorization.
3. Mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
F. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan manfaat praktis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, yaitu:
a. Bagi guru, model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
b. Bagi dinas pendidikan, dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah.
c. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan landasan untuk meneliti lebih lanjut pengembangan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran disekolah.
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan sebuah sistem atau cara dalam mencapai tujuan tertentu. Sistem dapat diartikan sebagai satu kesatuan komponen dimana satu sama lainnya saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu (Sanjaya, 2009: 2). Dari konsep tersebut terdapat tiga ciri utama sebuah sistem yaitu suatu sistem memiliki tujuan tertentu, untuk mencapai tujuan sebuah sistem memiliki fungsi-fungsi tertentu, untuk menggerakkan fungsi suatu sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen.
Berdasarkan laporan dari TIMSS (Trends In Mathematic And Science Study) pada tahun 2003 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-35 dalam literasi matematika dan sains dari 46 negara peserta, selanjutnya berdasarkan studi yang dilakukan oleh UNDP tahun 2005 menunjukkan bahwa HDI (Human Development Index), Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara yang disurvei, sementara Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand masing-masing menduduki peringkat ke 25, 33, 61, dan 73. Dari data tersebut sangat jelas memperlihatkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum dilakukan dengan baik.
Pada proses pembelajaran terdapat juga sebuah sistem yang biasanya disebut dengan sistem pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik, Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan sistem pembelajaran merupakan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran dan yang menjadi subjek utamanya adalah siswa. Jadi tujuan utama sistem pembelajaran yang harus dicapai adalah keberhasilan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini guru menjadi desainer pembelajaran dan memiliki tiga tugas utama yaitu: Pertama, sebagai perencana yakni mengorganisasikan semua unsur yang ada agar berfungsi dengan baik, sebab manakala salah satu unsur tidak bekerja dengan baik maka akan merusak sistem itu sendiri. Dalam hal ini guru harus memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semunya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana dan desain pembelajaran. Kedua, sebagai pengelola implementasi sesuai dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan. Dalam hal ini guru bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning). Dengan demikian efektifitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas dan kemampuan guru. Norman Kirby (Sanjaya, 2009: 16) menyatakan bahwa ” One underlying emphasis should be notice-able: that the quality of the teacher is the essential, constant feature in the success of any educational system.” Ketiga, mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efisiensi sistem pembelajaran.
Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut aktivitas, kreatifitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan, secara efektif dan menyenangkan. Saylor (Mulyasa, 2006: 189) mengatakan bahwa “ Instruction is thus implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving, teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting.” Dari pernyataan diatas, guru harus dapat menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran dan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar, serta memilih dan menggunakan strategi dan pendekatan pembelajaran. Semua kegiatan dan fasilitas yang dipilih serta peranan yang dilakukan guru harus tertuju pada kepentingan siswa, yang diarahkan pada kebutuhan siswa, disesuaikan dengan kondisi siswa, dan menguasai apa yang diberikan atau memperoleh perkembangan optimal (Sukmadinata 2009: 197). Dalam hal ini, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan (Mulyasa, 2006: 192). Menurut Lindy Petersen (1995: 16), meskipun guru tidak mungkin mengontrol seluruh aspek setiap masing-masing individu siswa, namun hubungan yang timbul selama proses mengajar dengan masing-masing anak dapat ditingkatkan dan pemahaman guru terhadap psikologi siswa sangat berharga bagaimana cara memotivasi belajar mereka. Jadi guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal, serta menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Selain hal tersebut yang perlu diperhatikan juga adalah lingkungan belajar, karena lingkungan juga mempengaruhi situasi belajar. Siswa tidak akan merasa aman dan tenteram belajar manakala kondisi lingkungan yang tidak mendukung (Yamin, 2007: 111).
Ada beberapa istilah yang cenderung tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran yaitu model, pendekatan, metode dan teknik. Pendekatan dapat diartikan sebagai perangkat asumsi berkenaan dengan hakikat dan belajar-mengajar. Metode adalah rencana menyeluruh tentang penyajian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Sedangkan teknik merupakan kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam kelas sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, dan teknik bersifat operasional (Majid. A, 2008: 132). Selain pendekatan, metode dan teknik dalam pembelajaran sering juga disebutkan strategi, media dan model. J.R. David (Sanjaya, 2009: 186) mengartikan strategi sebagai ”a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.” Media menurut Heinich at al (Sanjaya, 2009: 204) “ Media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the tern refers “ to anything that carries information between a source and a receiver.” Sedangkan model merupakan tahapan pelaksanaan manajemen dan lingkungan belajar.
Sekarang ini banyak ditawarkan berbagai jenis pendekatan, metode, teknik strategi maupun media yang merupakan bagian dari model pembelajaran dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ditemukan dalam pendidikan terlebih lagi yang berhubungan dengan kebutuhan siswa, karena masing-masing hal tersebut dalam dunia pendidikan memiliki manfaat tersendiri. Jika manfaat tersebut dipahami oleh guru maka tidak ada lagi pelajaran yang sulit bagi siswa terlebih lagi pada pelajaran matematika dan sains yang seringkali menurut siswa merupakan pelajaran yang sangat sulit.
Sebenarnya pelajaran matematika dan sains sangat mudah dipahami dan menyenangkan jika siswa memahami dasar – dasar dari pembelajaran tersebut. Khususnya pada pelajaran sains salah satunya kimia. Dasar dari pelajaran kimia adalah perkembangan periodik unsur, sifat – sifat kimia dan fisik unsur serta sifat keperiodikannya melalui pemahaman konfigurasi elektron. Jadi, agar siswa lebih mudah memahaminya maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur tersebut dalam tabel periodik karena pelajaran kimia pada dasarnya berhubungan dengan unsur dan sifat - sifat unsurnya berhubungan dengan posisi/letak unsur. Namun yang terjadi dilapangan siswa yang sudah belajar kimia bahkan yang sudah kelas XII tidak mengenal dan tidak dapat menyebutkan nama – nama unsur dan letak unsur dalam sistem periodik.
Hal diatas terjadi karena dari awal siswa mulai belajar kimia, guru kurang menekankan bahwa dasar pelajaran kimia dari kelas X sampai kelas XII yang paling sederhana tapi merupakan hal yang terpenting dalam pelajaran kimia adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan terlebih dahulu nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur dalam tabel periodik agar siswa dapat memahami konsep – konsep kimia. Untuk dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur maka siswa terlebih dahulu dapat menghapalkan nama – nama unsurnya dan posisi/letak unsur dalam tabel periodik. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapalkan nama – nama unsur dan posisi/letaknya dalam tabel sistem periodik karena dalam menghapalkannya siswa seringkali melakukannya dengan cara yang salah yaitu dengan mengucapkannya berulang-ulang kali. Menghapal dengan cara mengucapkan berulangkali mungkin akan berhasil tetapi biasanya yang dihapal seringkali diingat pada saat itu saja (cepat terlupakan).
Berdasarkan permasalahan diatas menurut penulis salah satu model pembelajaran yang tepat untuk menangani permasalahan siswa dalam hal meningkatkan memori/ hapalan agar siswa lebih kreatif sehingga yang dihapal dapat bertahan lebih lama (tidak cepat lupa) adalah dengan model pembelajaran memproses informasi salah satunya dengan model pembelajaran Memorization. Menurut Bruce Joyce et al (2009, 217) memori dapat membangun hubungan sehingga objek-objek yang dipelajari tidak hanya sekedar diingat dengan hapalan saja, tetapi juga dengan hubungan konseptual. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pressley et al adalah bahwa dengan menggunakan model memorization orang dapat menguasai materi lebih cepat dan menyimpannya lebih lama. Model memorization dapat dilakukan dengan metode kata-penghubung (Link-Word Method), metode kata kunci (Key-Word Method) bahkan bisa saja dengan menggunakan sebuah lagu dan lain sebagainya. Model memorization ini berguna untuk menyeimbangkan fungsi kedua otak yaitu otak kiri dan otak kanan dalam mengolah informasi yang didapat. Otak kiri merupakan otak yang bersifat logis, beruntun, parsial dan cenderung memproses informasi satu persatu, sedangkan otak kanan berpikir secara acak, holistik dan kreatif dalam menerima dan menyimpan informasi. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapal karena biasanya dalam proses belajar siswa lebih sering menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri saja karena biasanya saat belajar disekolah siswa dituntut untuk berpikir urut dan logis padahal seharusnya otak kanan juga harus digunakan karena otak kanan sangat membantu dalam proses menghapal cepat, dan berpikir kreatif. Dengan menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dapat meningkatkan efektifitas belajar. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran memorization segala sesuatu yang berhubungan dengan hapalan tidak akan sulit lagi justru akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan.
Penggunaaan model Memorization dalam pembelajaran kimia diharapkan siswa semakin kreatif dalam merangkai kata-kata meningkatkan daya memori siswa serta menjadikan materi pelajaran kimia merupakan suatu hal yang menyenangkan dan bukan merupakan hal yang membosankan lagi. Jika siswa sudah memiliki asumsi bahwa belajar merupakan hal yang menyenangkan maka diharapkan hal tersebut akan meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis memandang perlu adanya penelitian dalam mengembangkan model pembelajaran memorization untuk meningkatkan pemahaman ”Sistem Periodik Unsur” siswa di SMK Negeri 4 kota Bengkulu
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah: Model pembelajaran Memorizatation Bagaimanakah yang mampu meningkatkan pemahaman siswa pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
C. DEFENISI OPERASIONAL
1. Model pembelajaran Memorization dalam penelitian ini didefenisikan sebagai pola atau desain pembelajaran yang menggunakan memori untuk meningkatkan pemahaman dengan strategi membangun hubungan objek-objek yang dipelajari serta hubungan konseptualnya. Jadi memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk belajar dari individu melibatkan memori. Dengan memori individu dapat menyimpan informasi yang diterima sepanjang waktu. Tanpa memori, individu mustahil dapat merefleksikan dirinya sendiri, karena pemahaman diri sangat tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang hanya dapat terlaksana dengan adanya memori.
2. Pemahaman siswa pada pelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur yaitu siswa dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia serta mengetahui letak/ posisi unsur tersebut dalam sistem periodik unsur.
D. PERTANYAAN PENELITIAN
Agar penelitian lebih terarah rumusan masalah tersebut dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Desain model RPP bagaimana dalam pembelajaran Memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
2. Desain model bagaimana yang dapat peningkatan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia ”Sistem Periodik Unsur” dalam pembelajaran memorization?
3. Apa keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
E. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia adalah:
1. Menghasilkan RPP model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur.
2. Meningkatkan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia dalam sistem periodik unsur setelah belajar model pembelajaran memorization.
3. Mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?
F. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan manfaat praktis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, yaitu:
a. Bagi guru, model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
b. Bagi dinas pendidikan, dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah.
c. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan landasan untuk meneliti lebih lanjut pengembangan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran disekolah.
KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN
Berdasarkan karakteristik dari setiap model pembelajaran tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasi model-model pembelajaran kedalam empat rumpun model, yaitu :
1. Rumpun Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Models).
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan keluarnya serta pengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya. Kelompok model ini menekankan pada peserta didik agar memilih kemampuan untuk memproses informasi sehingga peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah yang memiliki kemampuan dalam memproses informasi. Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat 7 model pembelajaran, yaitu :
a. Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
b. Berpikir induktif (InductiveThinking)
c. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
d. Pemandu Awal (Advance Organizer)
e. Memorisasi (Memorization)
f. Pengembangan Intelek (Developing Intelect)
g. Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)
2. Rumpun Model Personal (Personal Models)
Rumpun model personal bertolak dari pandangan kedirian atau “selfhood” dari individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan yang memungkinkan seseorang dapat memahami diri sendiri dengan baik , sanggup memikul tanggung jawab untuk pendidikan dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Penggunaan model-model pembelajaran dalam rumpun personal ini lebih memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Dalam rumpun model personal ini terdapat 4 model pembelajaran, yaitu :
a. Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
b. Model Sinektik (Synectics Model)
c. Latihan Kesadaran (Awareness Training)
d. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
3. Rumpun Model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model interaksi sosial ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan kerjasama dari para siswa. Model pembelajaran rumpun interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu (a) masalah-masalah sosial diidentifikasi dan dipecahkan atas dasar dan melalui kesepakatanm-kesepakatan yang diperoleh di dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial, dan (b) proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus. Dalam rumpun model interaksi sosial ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
b. Bermain Peran (Role Playing)
c. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential UInquiry)
d. Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
e. Penelitian Ilmu Sosial
4. Rumpun Model Sistem Perilaku (Behavioral Systems)
Rumpun model system perilaku mementingkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki. Model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomunikaksikan keberhasilan. Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
b. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
c. Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control)
d. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development)
e. Latihan Assertif (Assertive Training.
Keempat rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan di atas, menurut Jioyce dan Weil (1986) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintaks (Syntax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada fase-fase /tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model
pembelajaran tertentu. Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang berbeda dengan model induktif
2. Prinsip Reaksi (Principles of Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap model.
3. Sistem Sosial (The Social System adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran (situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam penggunaan model pembelajaran tertentu)
4. Sistem Pendukung (Support System) yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran secara optimal.
5. Dampak Instruksional (Instructional Effect) dan Dampak Pengiring (Nurturant Effects). Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan langsung dengan materi pembelajaran, sementara dampak pengiring adalah hasil belajar samapingan (iringan) yang dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran tertentu.
1. Rumpun Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Models).
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan keluarnya serta pengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya. Kelompok model ini menekankan pada peserta didik agar memilih kemampuan untuk memproses informasi sehingga peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah yang memiliki kemampuan dalam memproses informasi. Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat 7 model pembelajaran, yaitu :
a. Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
b. Berpikir induktif (InductiveThinking)
c. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
d. Pemandu Awal (Advance Organizer)
e. Memorisasi (Memorization)
f. Pengembangan Intelek (Developing Intelect)
g. Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)
2. Rumpun Model Personal (Personal Models)
Rumpun model personal bertolak dari pandangan kedirian atau “selfhood” dari individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan yang memungkinkan seseorang dapat memahami diri sendiri dengan baik , sanggup memikul tanggung jawab untuk pendidikan dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Penggunaan model-model pembelajaran dalam rumpun personal ini lebih memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. Dalam rumpun model personal ini terdapat 4 model pembelajaran, yaitu :
a. Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
b. Model Sinektik (Synectics Model)
c. Latihan Kesadaran (Awareness Training)
d. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
3. Rumpun Model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model interaksi sosial ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan kerjasama dari para siswa. Model pembelajaran rumpun interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu (a) masalah-masalah sosial diidentifikasi dan dipecahkan atas dasar dan melalui kesepakatanm-kesepakatan yang diperoleh di dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial, dan (b) proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus. Dalam rumpun model interaksi sosial ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
b. Bermain Peran (Role Playing)
c. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential UInquiry)
d. Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
e. Penelitian Ilmu Sosial
4. Rumpun Model Sistem Perilaku (Behavioral Systems)
Rumpun model system perilaku mementingkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki. Model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomunikaksikan keberhasilan. Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
b. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
c. Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control)
d. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development)
e. Latihan Assertif (Assertive Training.
Keempat rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan di atas, menurut Jioyce dan Weil (1986) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintaks (Syntax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada fase-fase /tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model
pembelajaran tertentu. Misalnya model eduktif akan menggunakan sintak yang berbeda dengan model induktif
2. Prinsip Reaksi (Principles of Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap model.
3. Sistem Sosial (The Social System adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran (situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam penggunaan model pembelajaran tertentu)
4. Sistem Pendukung (Support System) yaitu segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran secara optimal.
5. Dampak Instruksional (Instructional Effect) dan Dampak Pengiring (Nurturant Effects). Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan langsung dengan materi pembelajaran, sementara dampak pengiring adalah hasil belajar samapingan (iringan) yang dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran tertentu.
Kopi + Rokok = Cabe Rawit
Pagi yang cerah, disaat saya lagi asyik menyelesaikan berita pagi yang menyiarkan kerusuhan di Mesir yang menuntut Husni Mubarak yang berpikir tidak akan mati dan tidak bersedia untuk mundur. Ketika si Adul sebut saja namanya begitu sebab nama lengkapnya Abdulah, muncul di pintu samping rumah saya tepat di ruangan tempat saya lagi nonton TV.
Saya persilahkan saja si Adul masuk dan duduk bersama saya yang lagi asyik menonton tv sebelum saya tanya apa keperluannya untuk mendatangi saya pagi-pagi begini.
Istri saya yang melihat si Adul, menyapanya dan menuju ke dapur untuk membuatkan kopi buat si Adul (maklum kami belum mampu menggaji pembokat), walaupun sebenarnya istri saya sudah siap berangkat lebih dulu ke tempat kerjanya di sekolah dekat tempat tinggal kami.
Setelah mempersilahkan si Adul untuk ngopi, istri saya pamitan pergi dan diikuti dengan ekor matanya si Adul. Saya melihat gelagat ini dan berpikir mungkin Adul ingin menyampaikan pesan rahasia ke saya dan menunggu istri saya pergi dulu.
Penasaran saya pun bertanya apa maksud kedatangannya ke rumah saya sambil menawarinya rokok. Tapi jawaban si Adul membuat saya juga bingung. Katanya dia hanya ingin menemani saya nonton berita di tv. Lho.. ? Tapi saya maklum saja sebab di rumahnya si Adul memang belum punya tv. Yang membuat saya heran, kenapa baru kali ini dia datang nonton bareng dan siarannya berita lagi. Biasanya dia noreng dengan saya pas ada acara live sepak bola.
“Ada apa Dul, apa iya kamu datangi saya pagi-pagi Cuma sekedar nemanin saya nonton tv ?”
“Begini Bos..” Katanya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menyeruput kopinya. Orang ini memang selalu memanggil saya “Bos”, dan selalu saya diamkan saja sepanjang itu bukan pelecehan buat saya.
Adul merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seribuan yang sudah lecek. “Ini bos yang membuat saya mendatangi bos pagi-pagi begini.” Katanya sambil memperlihatkan uang seribu tersebut.
“Waktu saya bangun tidur tadi, saya tidak menjumpai anak-anak dan istri saya. Anak-anak saya ke sekolah dan istri saya sudah pergi ke rumah majikannya buat kerja.” Katanya.
“Terus.. ?” Tanya saya lagi.
“Saya ke dapur mau bikin kopi. Ternyata gulanya habis. Saya merogoh kantong celana saya, mencari uang seribu ini. Rencananya saya mau ke warung si Fardi buat beli gula ketengan yang harganya 700 perak sebungkus itu.” Katanya lagi sambil nyeruput kopinya. Dan saya masih diam menunggu kelanjutan ceritanya.
“Tapi, niat itu saya batalkan dulu bos. Sebab kalau saya beli gula, saya bisa ngopi tapi sisanya yang 300 perak tidak cukup buat beli sebatang rokok. Kalau saya beli rokok sebatang kan harganya 750 perak sebatang. Berarti saya tidak bisa ngopi. Padahal saya ingin ngopi sambil merokok dulu sebelum pergi cari obyekan bos.” Katanya sambil tersenyum dan mohon ijin untuk minta rokok saya sebatang lagi.
Saya sempat terdiam sesaat. “Oo..jadi itu maksudnya kamu mau noreng berita pagi di tv dengan saya ?“
“Iya, bos..Sewaktu saya masih mempertimbangkan antara kopi atau rokok, tiba-tiba bayangan wajahnya bos melintas di benak saya.” Katanya lagi.
“Kok.. jadi wajah saya Dul ?” Tanya saya sedikit bingung.
“Iyalah bos...apa wajahnya Pak Lurah ? Ya..gak lah bos. Sekarang kan masanya BLT sudah lewat..Dan yang pasti kalau ke sini, saya pasti bisa ngopi sambil merokok, sebab bos kan hobinya itu juga..” Ujar Adul sambil tertawa dan membuat saya juga ikut gembira bersamanya.
Sambil menatap punggungnya si Adul yang pamitan pulang, dalam hati saya bergumam bahwa si Adul yang tetangga, saudara sesuku, sebangsa dan setanah air dengan saya ini, barangkali juga sudah lupa dia dengan pedasnya sebiji cabe rawit.-
(Tulisan ini terinspirasi dari harga kopi luwak yang gak masuk akal, cukai tembakau yang selalu naik dan melambungnya harga cabe rawit di negeriku yang tercinta ini. Dan Sekedar info bahwa khusus cabe rawit, sekarang ini telah menjadi status simbol kekayaan seseorang. Artinya untuk menilai seseorang kaya atau tidak, lihatlah pada serpihan cabe yang menempel di giginya...pissss.-)
Saya persilahkan saja si Adul masuk dan duduk bersama saya yang lagi asyik menonton tv sebelum saya tanya apa keperluannya untuk mendatangi saya pagi-pagi begini.
Istri saya yang melihat si Adul, menyapanya dan menuju ke dapur untuk membuatkan kopi buat si Adul (maklum kami belum mampu menggaji pembokat), walaupun sebenarnya istri saya sudah siap berangkat lebih dulu ke tempat kerjanya di sekolah dekat tempat tinggal kami.
Setelah mempersilahkan si Adul untuk ngopi, istri saya pamitan pergi dan diikuti dengan ekor matanya si Adul. Saya melihat gelagat ini dan berpikir mungkin Adul ingin menyampaikan pesan rahasia ke saya dan menunggu istri saya pergi dulu.
Penasaran saya pun bertanya apa maksud kedatangannya ke rumah saya sambil menawarinya rokok. Tapi jawaban si Adul membuat saya juga bingung. Katanya dia hanya ingin menemani saya nonton berita di tv. Lho.. ? Tapi saya maklum saja sebab di rumahnya si Adul memang belum punya tv. Yang membuat saya heran, kenapa baru kali ini dia datang nonton bareng dan siarannya berita lagi. Biasanya dia noreng dengan saya pas ada acara live sepak bola.
“Ada apa Dul, apa iya kamu datangi saya pagi-pagi Cuma sekedar nemanin saya nonton tv ?”
“Begini Bos..” Katanya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menyeruput kopinya. Orang ini memang selalu memanggil saya “Bos”, dan selalu saya diamkan saja sepanjang itu bukan pelecehan buat saya.
Adul merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seribuan yang sudah lecek. “Ini bos yang membuat saya mendatangi bos pagi-pagi begini.” Katanya sambil memperlihatkan uang seribu tersebut.
“Waktu saya bangun tidur tadi, saya tidak menjumpai anak-anak dan istri saya. Anak-anak saya ke sekolah dan istri saya sudah pergi ke rumah majikannya buat kerja.” Katanya.
“Terus.. ?” Tanya saya lagi.
“Saya ke dapur mau bikin kopi. Ternyata gulanya habis. Saya merogoh kantong celana saya, mencari uang seribu ini. Rencananya saya mau ke warung si Fardi buat beli gula ketengan yang harganya 700 perak sebungkus itu.” Katanya lagi sambil nyeruput kopinya. Dan saya masih diam menunggu kelanjutan ceritanya.
“Tapi, niat itu saya batalkan dulu bos. Sebab kalau saya beli gula, saya bisa ngopi tapi sisanya yang 300 perak tidak cukup buat beli sebatang rokok. Kalau saya beli rokok sebatang kan harganya 750 perak sebatang. Berarti saya tidak bisa ngopi. Padahal saya ingin ngopi sambil merokok dulu sebelum pergi cari obyekan bos.” Katanya sambil tersenyum dan mohon ijin untuk minta rokok saya sebatang lagi.
Saya sempat terdiam sesaat. “Oo..jadi itu maksudnya kamu mau noreng berita pagi di tv dengan saya ?“
“Iya, bos..Sewaktu saya masih mempertimbangkan antara kopi atau rokok, tiba-tiba bayangan wajahnya bos melintas di benak saya.” Katanya lagi.
“Kok.. jadi wajah saya Dul ?” Tanya saya sedikit bingung.
“Iyalah bos...apa wajahnya Pak Lurah ? Ya..gak lah bos. Sekarang kan masanya BLT sudah lewat..Dan yang pasti kalau ke sini, saya pasti bisa ngopi sambil merokok, sebab bos kan hobinya itu juga..” Ujar Adul sambil tertawa dan membuat saya juga ikut gembira bersamanya.
Sambil menatap punggungnya si Adul yang pamitan pulang, dalam hati saya bergumam bahwa si Adul yang tetangga, saudara sesuku, sebangsa dan setanah air dengan saya ini, barangkali juga sudah lupa dia dengan pedasnya sebiji cabe rawit.-
(Tulisan ini terinspirasi dari harga kopi luwak yang gak masuk akal, cukai tembakau yang selalu naik dan melambungnya harga cabe rawit di negeriku yang tercinta ini. Dan Sekedar info bahwa khusus cabe rawit, sekarang ini telah menjadi status simbol kekayaan seseorang. Artinya untuk menilai seseorang kaya atau tidak, lihatlah pada serpihan cabe yang menempel di giginya...pissss.-)
Senin, 07 Februari 2011
Kesempatan Raih Beasiswa PBP
Syarat Utama Harus Lulus SNMPTN
MUARA BELITI-Kesempatan emas diberikan khusus bagi calon mahasiswa tahun akademik 2011/2012. Bagi yang berminat, Universitas Sriwijaya (Unsri) memberikan kesempatan khusus bagi para siswa berprestasi di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau untuk meraih beasiswa Program Beasiswa Penuh (PBP).
Demikian dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mura, Edi Iswanto melalui, Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi (Kabid Dikmenti), Totok Sunarto kepada koran ini, Senin (7/2). Untuk bisa meraih beasiswa tersebut, siswa harus memenuhi beberapa persyaratan khusus. Diantaranya, pendaftar minimal duduk di kelas XII SMA/SMK/MA, telah dinyatakan lulus SNMPTN, meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75.
Sejauh ini, tim khusus yang dari Unsri sedang melakukan sosialisasi PBP. Sosialisasi program dan distribusi formulir dilakukan sejak Senin, (31/2) sampai dengan Selasa, (15/2). Sementara pengembalian formulir pendaftaran dibuka mulai Rabu, (16/2) sampai dengan Sabtu (12/2).
“Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam sosialisasi tim dari Unsri di Disdik Kabupaten Mura, Sabtu (5/2), pelaksanaan seleksi administrasi dilakukan Selasa, (1/3) sampai dengan Senin, (14/3). Selain itu, pelaksanaan wawancara calon penerima beasiswa PBP akan dilaksanakan Senin (30/5) sampai dengan Kamis(12/5). Dan pengumuman kelulusan calon mahasiswa yang berhasil meraih beasiswa PBP, Rabu (20/7),” jelas Totok Sunarto.
Perlu diketahui, saat ini Unsri telah berkembang dengan bertambahnya Fakultas menjadi 10 Fakultas dengan 10 Program Studi Diploma (D1 dan D3), 47 Program Studi Sarjana (S1), 9 Program Studi Dokter Spesialis 1, 15 Program Studi Pascasarjana (S2), dan 3 Program Studi Doktor (S3).
Khusus bagi calon penerima beasiswa PBP, akan diberikan keleluasaan untuk memilih seluruh program studi S1.
Hanya saja beasiswa PBP tidak diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin mengambil program studi kedokteran.
Totok menghimbau, agar seluruh kepala SMK/SMA/MA di Kabupaten Mura segera mensosialisasikan kabar gembira ini. Diharapkan guru maupun kepala sekolah untuk bisa memotivasi peserta didiknya untuk bisa meraih kesempatan emas ini. Bagaimanapun, jangan sampai kesempatan ini disepelekan. Jadikan tawaran untuk meraih beasiswa PBP sebagai satu tantangan agar peserta didik semakin termotivasi untuk maju dan mandiri dalam meraih masa depan.
2011 merupakan tahun ketiga Unsri menawarkan diri untuk bisa merekrut pelajar berprestasi dari Kabupaten Mura, untuk menimba ilmu di perguruan tinggi yang selalu menggenggam visi untuk menjadi salah satu pusat pendidikan terkemuka dan berbasis riset.
Dari beasiswa PBP ini, Unsri menawarkan kuota 60 pelajar berprestasi dari seluruh kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Totok Sunarto berharap sebagian mahasiswa yang berhasil merupakan putra-putri kebanggaan Mura.
“Jika ada siswa yang berhasil meraih beasiswa ini, tentu akan menjadi suatu nilai tambah dan akan semakin mengharumkan nama besar sekolah tempat siswa menimba ilmu,” jelasnya.
Bagi yang berminat, siswa maupun sekolah bisa langsung menghubungi Kampus Indralaya, Jalan Palembang-Prabumulih, KM 32 Indralaya, Kabupatan Ogan Ilir Sumsel, kode Pos 30662, Telepon (0711) 580069, serta Website: http://www.imhere.unsri.ac.id.(03)
MUARA BELITI-Kesempatan emas diberikan khusus bagi calon mahasiswa tahun akademik 2011/2012. Bagi yang berminat, Universitas Sriwijaya (Unsri) memberikan kesempatan khusus bagi para siswa berprestasi di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau untuk meraih beasiswa Program Beasiswa Penuh (PBP).
Demikian dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mura, Edi Iswanto melalui, Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi (Kabid Dikmenti), Totok Sunarto kepada koran ini, Senin (7/2). Untuk bisa meraih beasiswa tersebut, siswa harus memenuhi beberapa persyaratan khusus. Diantaranya, pendaftar minimal duduk di kelas XII SMA/SMK/MA, telah dinyatakan lulus SNMPTN, meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75.
Sejauh ini, tim khusus yang dari Unsri sedang melakukan sosialisasi PBP. Sosialisasi program dan distribusi formulir dilakukan sejak Senin, (31/2) sampai dengan Selasa, (15/2). Sementara pengembalian formulir pendaftaran dibuka mulai Rabu, (16/2) sampai dengan Sabtu (12/2).
“Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam sosialisasi tim dari Unsri di Disdik Kabupaten Mura, Sabtu (5/2), pelaksanaan seleksi administrasi dilakukan Selasa, (1/3) sampai dengan Senin, (14/3). Selain itu, pelaksanaan wawancara calon penerima beasiswa PBP akan dilaksanakan Senin (30/5) sampai dengan Kamis(12/5). Dan pengumuman kelulusan calon mahasiswa yang berhasil meraih beasiswa PBP, Rabu (20/7),” jelas Totok Sunarto.
Perlu diketahui, saat ini Unsri telah berkembang dengan bertambahnya Fakultas menjadi 10 Fakultas dengan 10 Program Studi Diploma (D1 dan D3), 47 Program Studi Sarjana (S1), 9 Program Studi Dokter Spesialis 1, 15 Program Studi Pascasarjana (S2), dan 3 Program Studi Doktor (S3).
Khusus bagi calon penerima beasiswa PBP, akan diberikan keleluasaan untuk memilih seluruh program studi S1.
Hanya saja beasiswa PBP tidak diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin mengambil program studi kedokteran.
Totok menghimbau, agar seluruh kepala SMK/SMA/MA di Kabupaten Mura segera mensosialisasikan kabar gembira ini. Diharapkan guru maupun kepala sekolah untuk bisa memotivasi peserta didiknya untuk bisa meraih kesempatan emas ini. Bagaimanapun, jangan sampai kesempatan ini disepelekan. Jadikan tawaran untuk meraih beasiswa PBP sebagai satu tantangan agar peserta didik semakin termotivasi untuk maju dan mandiri dalam meraih masa depan.
2011 merupakan tahun ketiga Unsri menawarkan diri untuk bisa merekrut pelajar berprestasi dari Kabupaten Mura, untuk menimba ilmu di perguruan tinggi yang selalu menggenggam visi untuk menjadi salah satu pusat pendidikan terkemuka dan berbasis riset.
Dari beasiswa PBP ini, Unsri menawarkan kuota 60 pelajar berprestasi dari seluruh kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Totok Sunarto berharap sebagian mahasiswa yang berhasil merupakan putra-putri kebanggaan Mura.
“Jika ada siswa yang berhasil meraih beasiswa ini, tentu akan menjadi suatu nilai tambah dan akan semakin mengharumkan nama besar sekolah tempat siswa menimba ilmu,” jelasnya.
Bagi yang berminat, siswa maupun sekolah bisa langsung menghubungi Kampus Indralaya, Jalan Palembang-Prabumulih, KM 32 Indralaya, Kabupatan Ogan Ilir Sumsel, kode Pos 30662, Telepon (0711) 580069, serta Website: http://www.imhere.unsri.ac.id.(03)
Minggu, 06 Februari 2011
Buku SBY Tidak Beredar di Kabupaten Mura
MUARA BELITI-Beberapa minggu terakhir, peredaran buku yang memuat profil dan motivasi dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat menghebohkan dunia pendidikan di tanah air. Peredaran buku SBY yang sempat terekspose di beberapa media massa ini sebagian besar tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa.
Namun untuk Kabupaten Musi Rawas (Mura), menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Edi Iswanto, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Imam Hanafi, sampai Jumat (4/2) buku-buku tentang SBY tersebut tidak beredar di daerah ini. Kalaupun akan beredar, lanjut Imam Hanafi, tentu masih ada pertimbangan untuk menerimanya, terutama dalam hal dana pengadaan.
“Buku-buku tersebut akan ada di sekolah tentu menggunakan dana. Kalau mengenai isinya, tentu kami sangat terbuka. Buku-buku tersebut sangat bermanfaat untuk peserta didik. Terutama dalam hal kualitas tentu buku-buku ini akan sangat membantu peserta didik untuk mengenal SBY berikut dengan motivasi-motivasi yang dituliskan di dalam buku, ” jelas Imam Hanafi.
Sementara itu, tanggapan serupa diungkapkan Kepala SMP L Sidoharjo, Kecamatan Tugumulyo, Sunardi. Pria yang akrab dipanggil Nardi ini mengatakan, jika buku SBY tersebut beredar di Kabupaten Mura, ia akan sangat banyak pertimbangan untuk memasukkan buku tersebut di sekolah yang dipimpinnya.
Terutama dalam hal kualitas buku, berikut dengan manfaatnya untuk peserta didik. selain itu, ia akan sangat memperhitungkan biaya pengadaan buku tersebut. Sebisa mungkin, buku-buku yang tersedia di perpustakaan SMP L Sidoharjo tetap berkualitas, dan sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di SMP.
Berdasarkan beberapa sumber yang dihimpun koran ini, buku SBY yang telah beredar di sekolah-sekolah baik SD, SMP, maupun SMU di Pulau Jawa, terdiri dari 10 judul yang bersampul karikatur Presiden SBY. Diantara beberapa judul tersebut adalah Jalan Panjang Menuju Istana, Menata Kehidupan Bangsa, Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan, Adil Tanpa Pandang Bulu, Peduli Kemiskinan, Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil, Diplomasi Damai, Berbakti Untuk Bumi, dan Jendela Hati. Peredaran buku-buku di sekolah-sekolah Pulau Jawa masih menjadi kontroversi oleh berbagai pihak. (03)
Namun untuk Kabupaten Musi Rawas (Mura), menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Edi Iswanto, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Imam Hanafi, sampai Jumat (4/2) buku-buku tentang SBY tersebut tidak beredar di daerah ini. Kalaupun akan beredar, lanjut Imam Hanafi, tentu masih ada pertimbangan untuk menerimanya, terutama dalam hal dana pengadaan.
“Buku-buku tersebut akan ada di sekolah tentu menggunakan dana. Kalau mengenai isinya, tentu kami sangat terbuka. Buku-buku tersebut sangat bermanfaat untuk peserta didik. Terutama dalam hal kualitas tentu buku-buku ini akan sangat membantu peserta didik untuk mengenal SBY berikut dengan motivasi-motivasi yang dituliskan di dalam buku, ” jelas Imam Hanafi.
Sementara itu, tanggapan serupa diungkapkan Kepala SMP L Sidoharjo, Kecamatan Tugumulyo, Sunardi. Pria yang akrab dipanggil Nardi ini mengatakan, jika buku SBY tersebut beredar di Kabupaten Mura, ia akan sangat banyak pertimbangan untuk memasukkan buku tersebut di sekolah yang dipimpinnya.
Terutama dalam hal kualitas buku, berikut dengan manfaatnya untuk peserta didik. selain itu, ia akan sangat memperhitungkan biaya pengadaan buku tersebut. Sebisa mungkin, buku-buku yang tersedia di perpustakaan SMP L Sidoharjo tetap berkualitas, dan sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di SMP.
Berdasarkan beberapa sumber yang dihimpun koran ini, buku SBY yang telah beredar di sekolah-sekolah baik SD, SMP, maupun SMU di Pulau Jawa, terdiri dari 10 judul yang bersampul karikatur Presiden SBY. Diantara beberapa judul tersebut adalah Jalan Panjang Menuju Istana, Menata Kehidupan Bangsa, Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan, Adil Tanpa Pandang Bulu, Peduli Kemiskinan, Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil, Diplomasi Damai, Berbakti Untuk Bumi, dan Jendela Hati. Peredaran buku-buku di sekolah-sekolah Pulau Jawa masih menjadi kontroversi oleh berbagai pihak. (03)
Langganan:
Postingan (Atom)
