Hallo semuanya,
Tulisan ini didedikasikan hanya untuk bangsa tercinta kita, yaitu Indonesia. Betapa semrawutnya kondisi saat ini tidak seharusnya menumpulkan harapan kita akan masa depan yang lebih baik. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui ataupun menyalahkan. Kita bertukar pikiran hanya untuk mencari solusi terbaik, siapa tahu solusi ini bisa diimplementasikan dalam kondisi riil.
Tulisan, tanggapan, pengetahuan, artikel rekan-rekan sangat diharapkan sekali agar wawasan kita semua bertambah. Saya selaku pembuat blog ini sangat bisa jadi memiliki banyak kelemahan (seperti keahlian menulis yang masih amatiran!). mungkin ini semua bisa di-cover oleh rekan-rekan semuanya.
Ok, partisipasi rekan-rekan dalam blog inisangat dinantikan. Makasih banyak!
Senin, 01 November 2004
Senin, 30 Agustus 2004
BAHASA INGGRIS: IRONI DOSEN UNMUL DAN KUALITAS PENDIDIKAN KITA
BAHASA INGGRIS: IRONI DOSEN UNMUL DAN KUALITAS PENDIDIKAN KITA
Dunia pendidikan (terutama di Kaltim) sekali lagi harus berkabung mendengar berita dari rektor UNMUL mengenai rendahnya kemampuan berbahasa Iggris para dosennya yang sudah berpendidikan master (Kaltim Post, 30/8/04). Jika yang sudah magister saja hanya memiliki skor TOEFL rata-rata dibawah 300 maka bisa dibayangkan mereka yang masih belum magister. Ini betul-betul membuktikan bahwa keinginan kita untuk ‘meleverage’ kualitas pendidikan di Kaltim setara dengan ASEAN adalah bak mimpi disiang bolong. Mengapa demikian?
Dengan bekal kemampuan pemahaman bahasa Inggris yang sangat minim tersebut jelas sekali bahwa para dosen tersebut tidak akan mampu meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku-buku referensi dan jurnal yang berbahasa Inggris. Selama ini para mahasiswa program master kita hanyalah belajar melalui buku-buku terjemahan. Kalau ada diktat yang berbahasa Inggris maka mereka harus menerjemahkannya lebih dahulu agar bisa menyusun makalah dari diktat tersebut. Para master dan doktor yang baru bisa belajar jika materinya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jelas tidak akan memiliki pemahaman yang lengkap mengenai materi yang dipelajarinya karena banyak konsep-konsep maupun istilah dalam bahasa Inggris yang sulit atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesa. Jika dipaksakan maka penerjemahannya akan ‘corrupted’ alias tidak mewakili pemahaman aslinya.
Jika para dosen tersebut tidak mampu ‘berkomunikasi’ dengan diktat berbahasa Inggris maka tentu saja ia tidak akan memberikan materi perkuliahannya dari diktat-diktat berbahasa Inggris. Padahal kita tahu belaka betapa terbatasnya buku-buku diktat kuliah yang sudah diterjemahkan dan betapa buruknya penerjemahan kita. Begitu sebuah buku diterjemahkan bisa dipastikan informasi yang disampaikan sudah agak basi karena sudah terbit lagi buku-buku baru dengan infomasi-informasi yang lebih ‘up to date’. Jadi ini adalah ‘pemiskinan akademis’ yang terstruktur. Jika kita hanya bisa menyerap 50% materi yang kita pelajari dan kita ajarkan pada mahasiswa kita maka maksimal mereka hanya akan menyerap 50 % s/d 80 % dari apa yang kita berikan. Dan begitu seterusnya sehingga sebetulnya mahasiswa kita sebenarnya hanya dapat menyerap 25% dari materi yang seharusnya ia peroleh sesuai dengan silabus. Dan pendidikan kita akan semakin tertinggal dan tertinggal karena ketidakmampuan dosen-dosen kita membaca materi berbahasa Inggris. Sungguh ironis!
Ini semakin membuktikan kekuatiran saya bahwa kualitas SDM kita dibidang pendidikan sudah masuk dalam fase krisis (hasil penelitian secara nasional menunjukkan bahwa 50 s/d 60 % guru-guru kita tidak layak mengajar) dan sampai saat ini saya masih belum melihat adanya visi dari pemerintah kita untuk memperbaiki keadaan ini. Just no vision at all.
Coba lihat ‘bekas murid’ kita Malaysia. dengan tegas mereka menetapkan bahwa menjelang 2005, 75 % dosen di perguruan tinggi haruslah sudah bertitel Ph.D alias Doktor. Selain itu menjelang 2010, 100 % guru sekolah menengah dan 50 % guru SD harus bertitel S-1. Ini artinya guru-guru dan dosen harus sekolah lagi dan cutinya ditanggung oleh negara alias dibayar penuh. Memang berat bagi guru dan dosen untuk bersekolah lagi, tapi itu memang tuntutannya. Kalau tak mampu memenuhi persyaratan dengan bersekolah lagi ya silakan cari pekerjaan lain. Profesi guru atau dosen bukanlah profesi sambilan yang bisa dikerjakan asal-asalan. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan memiliki kualifikasi tertentu yang bisa memenuhi persyaratan tersebut.
Apa implikasinya jika pemerintah menetapkan demikian? Artinya pemerintah harus sudah memiliki perencanaan yang matang mengenai bagaimana meningkatkan kualifikasi para pendidik tersebut dalam jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, jika kita bersungguh-sungguh ingin meningkatkan kualitas pendidikan di level perguruan tinggi maka kita harus berani menetapkan suatu target umpamanya 100 % dosen perguruan tinggi harus sudah berpendidikan Master S2 pada tahun 2008, umpamanya. Mereka yang belum mencapai level tersebut diminta untuk mengambil masternya sesuai dengan jurusan masing-masing (jangan seperti sekarang ini dimana hampir semua dosen mengambil MM untuk masternya padahal bukan bidang keilmuannya) dan jika sampai tahun 2008 belum mencapai master maka ia harus dilengserkan dari profesinya tersebut. Kejam? Lebih kejam lagi jika kita membiarkan kualitas pendidikan bagi anak-anak kita dimasa mendatang semakin terpuruk dan terpuruk karena toleransi kita yang berlebihan dalam kualitas dan membiarkan bangsa kita menjadi ‘mediocre’.
Jika suatu daerah yang memiliki umpamanya 200 dosen yang belum memiliki kualifikasi magister dan pemerintah bersedia mensubsidi Rp. 10.000.000,- bagi setiap dosen tersebut maka biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah hanyalah sebesar Rp. 2M. Suatu angka yang sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan kualitas yang bisa kita capai dengan nila tersebut.
Kembali ke masalah bahasa Inggris, nampaknya kita masih akan menghadapi masalah yang sama sampai belasan tahun yang akan datang. Mengapa? Meskipun semangat untuk mempelajari bahasa Inggris semakin lama semakin kuat tapi tidak diikuti dengan pemahaman tentang bagaimana melakukan peningkatan kualitas tersebut secara komprehensif. Selama ini kita melakukan perbaikan tambal sulam dan selalu berharap perbaikan secara instan, umpamanya mengirim beberapa orang guru bahasa Inggris ke luar negeri untuk belajar sebulan sampai tiga bulan. Perbaikan kualitas pengajar maupun sarana dan prasarana belajarnya membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan konsisten.
Kualitas guru-guru bahasa Inggris kita saya yakin juga ‘sangat menyedihkan’ kualitasnya sehingga mengharapkan output yang berkualitas dari pengajar yang tidak berkuliatas adalah seperti katak merindukan bulan. Guru-guru yang tidak berkualitas jelas tidak akan mampu mengembangkan metodologi pengajarannya agar berkualitas, mudah dan menarik, apalagi jika harus menggunakan berbagai sumber informasi orisinil.
Sarana dan prasarana belajar juga sangat menentukan. Untuk dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik kita harus melatih keempat komponen berbahasa yaitu : Listening, Speaking, Reading, dan Writing sebanyak mungkin. Ada ahli yang menyatakan bahwa minimal kita harus berlatih 10.000 jam agar dapat menguasainya.
Tapi apa yang bisa kita dengar jika kita tidak memiliki radio dan siaran berbahasa Inggris untuk melatih ‘listening’ kita? Bagaimana kita meningkatkan kemampuan ‘speaking’ kita jika tidak tersedia guru atau partner yang fasih berbahasa Inggris dan yang tersedia hanya guru-guru dan pelatih yang sama kacaunya bahasa Inggrisnya dengan kita? Bagaimana kita bisa berlatih ‘reading’ jika tidak ada bacaan ataupun media cetak yang memadai untuk itu?
Sebagai perbandingan, di Sabah maupun Sarawak ada beberapa radio, koran maupun media cetak yang berbahasa Inggris. Penerbitan buku-buku bacaan dalam bahasa Inggris juga marak. Bahkan buku Harry Poter yang tebalnya sebantal tersebut ‘sengaja’ tidak diterjemahkan dalam bahasa Melayu agar anak-anak SD mereka ‘terpaksa’ harus membaca dalam bahasa aslinya. Padahal bahasanya cukup berat meskipun bagi guru bahasa Inggris kita. Toh mereka tetap membacanya sehingga mereka memang telah benar-benar terbiasa membaca buku-buku dan media cetak berbahasa Inggris sejak kanak-kanak. Bandingkan dengan dosen magister kita yang untuk membaca makalah setebal 10 halaman saja harus membayar penerjemah agar mampu memahaminya.
Itulah sebabnya saya tidak mendukung muatan lokal bahasa Inggris di sekolah dasar kita karena kita memang tidak memiliki perangkat untuk itu. Sedangkan guru-guru bahasa Inggris di SMP dan SMA saja kita kekurangan lha kok malah ditambah dengan mulok bahasa Inggris di SD. Akhirnya mulok tersebut dilaksanakan dengan asal-asalan di SD-SD kita untuk memenuhi formalitas administratif belaka. Semangat sih boleh tapi kita tidak boleh naif dan menyederhanakan permasalahan hanya dengan semangat dan angan-angan besar. Kita harus sadar bahwa ada dampak negatif membayangi program asal-asalan tersebut. Dan itu ‘ongkos akademik’nya sangat besar dan harus dibayar di masa mendatang.
So what? Nampaknya memang tidak ada solusi instan bagi penyelesaian permasalahan pendidikan kita karena semuanya kait-mengait. Mungkin memang sudah saatnya kita belajar khusus pada ‘bekas murid’ kita Malaysia dalam menyusun strategi peningkatan kualitas pendidikan. Tak perlu malu-malu mengakui kelemahan kita. Toh mereka sudah terbukti berhasil ‘meleverage’ kualitas pendidikan mereka hanya dalam satu generasi sementara orientasi pendidikan kita semakin tidak jelas mau dibawa kemana.
Ada pendapat yang menarik mengenai pengajaran bahasa Inggris di Malaysia oleh Datuk Seri Rafidah Azis, pimpinan Wanita UMNO dan International Trade and Industry Minister di Kuala Lumpur tentang ketakutan beberapa orang di Malaysia bahwa bahasa Inggris akan mengurangi atau menghilangkan nasionalisme bangsa. “Ignore the language chauvinists,” katanya, “Master the English language. Or else, prepare to lose out as a nation.” . Mastering English "does not make one less Malay or less Malaysian", tambahnya.
Anda boleh setuju boleh tidak tentunya.
Balikpapan, 30/8/04
Satria Dharma
Dewan Pendidikan Kota Balikpapan
Dunia pendidikan (terutama di Kaltim) sekali lagi harus berkabung mendengar berita dari rektor UNMUL mengenai rendahnya kemampuan berbahasa Iggris para dosennya yang sudah berpendidikan master (Kaltim Post, 30/8/04). Jika yang sudah magister saja hanya memiliki skor TOEFL rata-rata dibawah 300 maka bisa dibayangkan mereka yang masih belum magister. Ini betul-betul membuktikan bahwa keinginan kita untuk ‘meleverage’ kualitas pendidikan di Kaltim setara dengan ASEAN adalah bak mimpi disiang bolong. Mengapa demikian?
Dengan bekal kemampuan pemahaman bahasa Inggris yang sangat minim tersebut jelas sekali bahwa para dosen tersebut tidak akan mampu meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku-buku referensi dan jurnal yang berbahasa Inggris. Selama ini para mahasiswa program master kita hanyalah belajar melalui buku-buku terjemahan. Kalau ada diktat yang berbahasa Inggris maka mereka harus menerjemahkannya lebih dahulu agar bisa menyusun makalah dari diktat tersebut. Para master dan doktor yang baru bisa belajar jika materinya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jelas tidak akan memiliki pemahaman yang lengkap mengenai materi yang dipelajarinya karena banyak konsep-konsep maupun istilah dalam bahasa Inggris yang sulit atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesa. Jika dipaksakan maka penerjemahannya akan ‘corrupted’ alias tidak mewakili pemahaman aslinya.
Jika para dosen tersebut tidak mampu ‘berkomunikasi’ dengan diktat berbahasa Inggris maka tentu saja ia tidak akan memberikan materi perkuliahannya dari diktat-diktat berbahasa Inggris. Padahal kita tahu belaka betapa terbatasnya buku-buku diktat kuliah yang sudah diterjemahkan dan betapa buruknya penerjemahan kita. Begitu sebuah buku diterjemahkan bisa dipastikan informasi yang disampaikan sudah agak basi karena sudah terbit lagi buku-buku baru dengan infomasi-informasi yang lebih ‘up to date’. Jadi ini adalah ‘pemiskinan akademis’ yang terstruktur. Jika kita hanya bisa menyerap 50% materi yang kita pelajari dan kita ajarkan pada mahasiswa kita maka maksimal mereka hanya akan menyerap 50 % s/d 80 % dari apa yang kita berikan. Dan begitu seterusnya sehingga sebetulnya mahasiswa kita sebenarnya hanya dapat menyerap 25% dari materi yang seharusnya ia peroleh sesuai dengan silabus. Dan pendidikan kita akan semakin tertinggal dan tertinggal karena ketidakmampuan dosen-dosen kita membaca materi berbahasa Inggris. Sungguh ironis!
Ini semakin membuktikan kekuatiran saya bahwa kualitas SDM kita dibidang pendidikan sudah masuk dalam fase krisis (hasil penelitian secara nasional menunjukkan bahwa 50 s/d 60 % guru-guru kita tidak layak mengajar) dan sampai saat ini saya masih belum melihat adanya visi dari pemerintah kita untuk memperbaiki keadaan ini. Just no vision at all.
Coba lihat ‘bekas murid’ kita Malaysia. dengan tegas mereka menetapkan bahwa menjelang 2005, 75 % dosen di perguruan tinggi haruslah sudah bertitel Ph.D alias Doktor. Selain itu menjelang 2010, 100 % guru sekolah menengah dan 50 % guru SD harus bertitel S-1. Ini artinya guru-guru dan dosen harus sekolah lagi dan cutinya ditanggung oleh negara alias dibayar penuh. Memang berat bagi guru dan dosen untuk bersekolah lagi, tapi itu memang tuntutannya. Kalau tak mampu memenuhi persyaratan dengan bersekolah lagi ya silakan cari pekerjaan lain. Profesi guru atau dosen bukanlah profesi sambilan yang bisa dikerjakan asal-asalan. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan memiliki kualifikasi tertentu yang bisa memenuhi persyaratan tersebut.
Apa implikasinya jika pemerintah menetapkan demikian? Artinya pemerintah harus sudah memiliki perencanaan yang matang mengenai bagaimana meningkatkan kualifikasi para pendidik tersebut dalam jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, jika kita bersungguh-sungguh ingin meningkatkan kualitas pendidikan di level perguruan tinggi maka kita harus berani menetapkan suatu target umpamanya 100 % dosen perguruan tinggi harus sudah berpendidikan Master S2 pada tahun 2008, umpamanya. Mereka yang belum mencapai level tersebut diminta untuk mengambil masternya sesuai dengan jurusan masing-masing (jangan seperti sekarang ini dimana hampir semua dosen mengambil MM untuk masternya padahal bukan bidang keilmuannya) dan jika sampai tahun 2008 belum mencapai master maka ia harus dilengserkan dari profesinya tersebut. Kejam? Lebih kejam lagi jika kita membiarkan kualitas pendidikan bagi anak-anak kita dimasa mendatang semakin terpuruk dan terpuruk karena toleransi kita yang berlebihan dalam kualitas dan membiarkan bangsa kita menjadi ‘mediocre’.
Jika suatu daerah yang memiliki umpamanya 200 dosen yang belum memiliki kualifikasi magister dan pemerintah bersedia mensubsidi Rp. 10.000.000,- bagi setiap dosen tersebut maka biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah hanyalah sebesar Rp. 2M. Suatu angka yang sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan kualitas yang bisa kita capai dengan nila tersebut.
Kembali ke masalah bahasa Inggris, nampaknya kita masih akan menghadapi masalah yang sama sampai belasan tahun yang akan datang. Mengapa? Meskipun semangat untuk mempelajari bahasa Inggris semakin lama semakin kuat tapi tidak diikuti dengan pemahaman tentang bagaimana melakukan peningkatan kualitas tersebut secara komprehensif. Selama ini kita melakukan perbaikan tambal sulam dan selalu berharap perbaikan secara instan, umpamanya mengirim beberapa orang guru bahasa Inggris ke luar negeri untuk belajar sebulan sampai tiga bulan. Perbaikan kualitas pengajar maupun sarana dan prasarana belajarnya membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan konsisten.
Kualitas guru-guru bahasa Inggris kita saya yakin juga ‘sangat menyedihkan’ kualitasnya sehingga mengharapkan output yang berkualitas dari pengajar yang tidak berkuliatas adalah seperti katak merindukan bulan. Guru-guru yang tidak berkualitas jelas tidak akan mampu mengembangkan metodologi pengajarannya agar berkualitas, mudah dan menarik, apalagi jika harus menggunakan berbagai sumber informasi orisinil.
Sarana dan prasarana belajar juga sangat menentukan. Untuk dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik kita harus melatih keempat komponen berbahasa yaitu : Listening, Speaking, Reading, dan Writing sebanyak mungkin. Ada ahli yang menyatakan bahwa minimal kita harus berlatih 10.000 jam agar dapat menguasainya.
Tapi apa yang bisa kita dengar jika kita tidak memiliki radio dan siaran berbahasa Inggris untuk melatih ‘listening’ kita? Bagaimana kita meningkatkan kemampuan ‘speaking’ kita jika tidak tersedia guru atau partner yang fasih berbahasa Inggris dan yang tersedia hanya guru-guru dan pelatih yang sama kacaunya bahasa Inggrisnya dengan kita? Bagaimana kita bisa berlatih ‘reading’ jika tidak ada bacaan ataupun media cetak yang memadai untuk itu?
Sebagai perbandingan, di Sabah maupun Sarawak ada beberapa radio, koran maupun media cetak yang berbahasa Inggris. Penerbitan buku-buku bacaan dalam bahasa Inggris juga marak. Bahkan buku Harry Poter yang tebalnya sebantal tersebut ‘sengaja’ tidak diterjemahkan dalam bahasa Melayu agar anak-anak SD mereka ‘terpaksa’ harus membaca dalam bahasa aslinya. Padahal bahasanya cukup berat meskipun bagi guru bahasa Inggris kita. Toh mereka tetap membacanya sehingga mereka memang telah benar-benar terbiasa membaca buku-buku dan media cetak berbahasa Inggris sejak kanak-kanak. Bandingkan dengan dosen magister kita yang untuk membaca makalah setebal 10 halaman saja harus membayar penerjemah agar mampu memahaminya.
Itulah sebabnya saya tidak mendukung muatan lokal bahasa Inggris di sekolah dasar kita karena kita memang tidak memiliki perangkat untuk itu. Sedangkan guru-guru bahasa Inggris di SMP dan SMA saja kita kekurangan lha kok malah ditambah dengan mulok bahasa Inggris di SD. Akhirnya mulok tersebut dilaksanakan dengan asal-asalan di SD-SD kita untuk memenuhi formalitas administratif belaka. Semangat sih boleh tapi kita tidak boleh naif dan menyederhanakan permasalahan hanya dengan semangat dan angan-angan besar. Kita harus sadar bahwa ada dampak negatif membayangi program asal-asalan tersebut. Dan itu ‘ongkos akademik’nya sangat besar dan harus dibayar di masa mendatang.
So what? Nampaknya memang tidak ada solusi instan bagi penyelesaian permasalahan pendidikan kita karena semuanya kait-mengait. Mungkin memang sudah saatnya kita belajar khusus pada ‘bekas murid’ kita Malaysia dalam menyusun strategi peningkatan kualitas pendidikan. Tak perlu malu-malu mengakui kelemahan kita. Toh mereka sudah terbukti berhasil ‘meleverage’ kualitas pendidikan mereka hanya dalam satu generasi sementara orientasi pendidikan kita semakin tidak jelas mau dibawa kemana.
Ada pendapat yang menarik mengenai pengajaran bahasa Inggris di Malaysia oleh Datuk Seri Rafidah Azis, pimpinan Wanita UMNO dan International Trade and Industry Minister di Kuala Lumpur tentang ketakutan beberapa orang di Malaysia bahwa bahasa Inggris akan mengurangi atau menghilangkan nasionalisme bangsa. “Ignore the language chauvinists,” katanya, “Master the English language. Or else, prepare to lose out as a nation.” . Mastering English "does not make one less Malay or less Malaysian", tambahnya.
Anda boleh setuju boleh tidak tentunya.
Balikpapan, 30/8/04
Satria Dharma
Dewan Pendidikan Kota Balikpapan
Selasa, 16 Desember 2003
BAHASA INGGRIS DAN MITOS ITU
Apa yang disebut mitos? Mitos adalah sesuatu yang kita percayai dan telah diangap sebagai sebuah kebenaran sejak dahulu tapi sebenarnya tidak benar. Salah satu contoh adalah mitos bahwa cula badak merupakan aprodisiak yang ampuh sehingga badak dibunuhi dan culanya dipreteli untukaprodisiak. Celakanya itu cuma mitos yang tidak ada landasan ilmiahnya. Badak dibunuh untuk sesuatu yang tidak benar.
Begitu juga dengan belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris diyakini akan dapat membuat para pegawai akan meningkat kinerjanya. Lebih daripada itu, belajar bahasa Inggris juga akan dapat membuat sebuah bangsa akan mampu maju dan berkembang di era kesejagatan yang kita sebut era globalisasi itu. Pokoknya kalau tidak bisa bahasa Inggris dianggap ‘kurang gaul’ dan tidak akan mampu berpretasi dalam karirnya. Akibatnya, hampir semua pemimpin daerah memaksa aparat-aparatnya untuk kursus bahasa Inggris. Maka maraklah kursus bahasa Inggris bagi pegawai pemda di hampir semua daerah.
Tapi apa yang terjadi? Setelah belajar bahasa Inggris dan kursus ke berbagai lembaga yang paling top dengan biaya yang paling mahalpun ternyata tidak mampu mendongkrak kemampuan berbahasa Inggris para aparat yang rata-rata memang kemampuan bahasa Inggrisnya payah. Apakah dengan itu berarti para aparat tersebut kinerjanya buruk dan tidak punya ‘masa depan’? Tidak. Itu hanya mitos.
Masalah penggunaan bahasa (dan budaya) asing (bahasa Inggris) sebenarnya telah menjadi perdebatan panjang sejak jaman Sutan Takdir Alisyahbana pada tahun 60-an. Kita terombang-ambing antara mengadopsinya menjadi bahasa kedua atau tetap menjadikannya sebagai bahasa asing. Perlakuan atara keduanya tentu berbeda dan dampaknya juga tentu berbeda. Sebagai contoh, beberapa negara tetap mempertahankan bahasa nasionalnya dan bertekad untuk tidak mempopulerkan penggunaan bahasa Inggris. Negara-negara tersebut adalah Jepang, Prancis, Jerman, Italia, dll. Kalau Anda berkunjung kesana jangan harap Anda akan mendapat jawaban jika bertanya dalam bahasa Inggris. Mereka sangat bangga dengan bahasa nasional mereka dan mereka menuntut agar setiap orang yang datang ke negara mereka menggunakan bahasa nasional mereka.
Beberapa negara lain, sebaliknya, beranggapan bahwa hanya dengan menguasai bahasa Inggris secara penuh dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari kemajuan bangsa akan diperoleh. Mereka mempopulerkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, seperti India, Singapura, sebagian Kanada, Philipina, dan bahkan menjadikannya sebagai bahasa nasional karena faktor sejarah seperti Australia, New Zealand, dan Amerika. Di negara-negara tersebut Anda dapat dengan mudah menggunakan bahasa Inggris karena bahasa tersebut dipergunakan secara meluas dalam kehidupan sehari-hari.
Malaysia sendiri yang semula ingin mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan tidak ‘menggalakkan’ penggunaan bahasa Inggris kini mulai banting setir setelah melihat bahwa ‘bahasa Melayu is going nowhere’ karena bangsa penggunanya tidak memiliki pengaruh di dunia internasional dan semakin kecil pengaruhnya. Sebaliknya, bahasa Inggris semakin menampakkan pengaruh kuatnya dalam era kesejagatan ini. Mereka kini mulai mengambil sikap tegas untuk mempopulerkan bahasa Inggris di kelas-kelas mereka sejak sekolah dasar. Di negara tersebut buku-buku Harry Potter tidak diterjemahkan dan jika ingin membacanya silakan baca dalam bahasa aslinya.
Bagaimana dengan bangsa kita? Apakah kita telah mengambil keputusan sejak perdebatan panjang pada jaman Sutan Takdir Alisyahbana yang menguras energi kita tersebut? Dengan segala kerendahan hati saya katakan tidak. Kita tidak pernah ‘menyelesaikan’ perdebatan tersebut dan tidak pernah berani melangkah dari sekedar berdebat dan mulai mengambil keputusan seperti Jepang mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan bahasa mereka bagi pelajar-pelajar mereka dan lebih memilih untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka. ‘Get the content, leave the language behind’ adalah prinsip mereka. Mereka berkeyakinan bahwa tanpa menguasai bahasa Inggris pun mereka akan sanggup menjadi bangsa besar. Budaya bangsa tidak akan mereka kompromikan sedikitpun. Suatu sikap yang sangat heroik.
Orang-orang Jepang memang pada akhirnya tidak mahir berbahasa asing (dibandingkan dengan orang-orang kita, misalnya) tapi mereka tetap memperoleh ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat dengan cara menterjemahkannya. Hampir tidak ada buku-buku penting yang tidak mereka terjemahkan dan terbitkan daam bahasa jepang. Disini berlaku pepatah “Siapa melangkah lebih jauh melihat lebih banyak”. Bangsa Jepang tetap unggul dan maju meski mereka tidak fasih berbahasa Inggris. Sangat jarang ada orang Jepang yang fasih berbahasa Inggris. Jauh lebih mudah mencari orang yang mengerti bahasa Inggris di Indonesia ketimbang di Jepang. Jepang juga tidak mau ‘repot-repot’ untuk ‘menginggriskan’ petunjuk-petunjuk jalan umum mereka. Kalau tidak bisa membaca huruf dan berbahasa Jepang, silakan tersesat!
Nah, bagaimana dengan Indonesia? Kita ternyata tidak melangkah kemana-mana. Kita bersikap ambigu. Menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa yang penting dengan perlakuan yang sama seperti negara Singapura dan Filipina tidak kita lakukan karena yang kontra tentu akan menghantam sikap ‘tidak nasionalis’ tersebut habis-habisan. Tetapi, sebaliknya, menterjemahkan semua buku bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia juga tidak Lagipula kita tidak punya daya dan biaya untuk itu. Kita berada dalam posisi mendua. Akibatnya ya seperti sekarang ini. Bahasa Indonesia kita perkosa habis-habisan tapi bahasa Inggris juga tidak kita kuasai.
Sayang sekali karena ‘perdebatan’ tersebut tidak ditutup dengan suatu kebulatan tekad untuk mengambil sikap akhirnya kita mencari kesimpulan di luar arena diskusi dan berusaha sendiri-sendiri untuk mencari jawaban. Akhirnya tidak terjadi usaha untuk menjawab masalah secara nasional melainkan secara individu. Artinya tidak ada kesepakatan secara nasional dan kita diminta untuk menjawab sendiri kemana kita menuju. Apa dampaknya? Akhirnya permasalahan besar ini tidak pernah ditangani secara nasional dan orang berjuang sendiri-sendiri untuk memecahkannya dan sering terjerumus pada mitos-mitos. Saya melihat betapa banyak orang yang telah ‘terjerumus’ oleh salah satu mitos yaitu bahwa setiap orang yang ingin hidup di era globalisasi ini harus menguasai bahasa Inggris. Mitos ? Ya, tentu saja karena ternyata bangsa Jepang tetap dapat menjadi bangsa besar tanpa harus menguasai bahasa Inggris. Orang Prancis yang tetap menganggap bahasanya sebagai bahasa paling unggul dan bahasa Inggris hanya sebagai alternatif tapi tetap unggul sebagai sebuah bangsa. ‘Terjerumus’? Ya, karena banyak orang yang menghabiskan banyak waktu, biaya dan energinya untuk berlajar bahasa Inggris sepanjang hidupnya tanpa pernah mampu memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-harinya ataupun dalam bidang pekerjaannya.
Perlu dipahami bahwa untuk menguasai ketrampilan berbahasa Inggris seperti yang kita idam-idamkan umpamanya : dapat menggunakannya secara fasih dengan orang asing, bisa membaca buku-buku berbahasa Inggris, dapat mendengarkan percakapan berbahasa Inggris di radio dan televisi, membutuhkan proses yang sangat panjang dan rumit. Kalau ada kursus yang berani menjamin Anda akan dapat melakukan itu hanya dalam bilangan bulan, percayalah itu cuma iklan jualan kecap. Kalau tidak percaya tanyalah kepada semua orang yang pernah ikut kursus tersebut apakah mereka telah mampu menggunakan bahasa Inggris secara aktif sesuai dengan promosinya. Tidak ada cara ajaib untuk bisa menguasai bahasa asing.
Jadi bagaimana? Menurut saya, tidak ada gunanya bagi para aparat kepemerintahan untuk ikut kursus bahasa Inggris dengan tujuan seperti di atas. Pertama, ketrampilan berbahasa Inggris yang mereka butuhkan akan memakan waktu, biaya dan energi yang sangat besar yang mungkin akan lebih bermanfaat jika mereka gunakan untuk mempelajari bidang pekerjaan masing-masing. Bahkan mereka yang belajar khusus bahasa Inggris di perguruan tinggi sebagai mayor mereka banyak yang tidak dapat menguasai ketrampilan berbahasa Inggris yang tinggi seperti yang diharapkan. Dalam sebuah tes pada guru-guru bahasa Inggris di Balikpapan terungkap bahwa kemampuan mereka ternyata menyedihkan. Padahal mereka telah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun. Kalau ingin menguasai bahasa asing dengan baik mulailah sejak kanak-kanak dan gunakan metode yang benar. Jika sudah tua akan sulit untuk menguasainya. Kedua, tanpa bisa berbahasa Inggris pun kita akan dapat berprestasi dan meningkatkan kinerja dengan baik. Banyak sekali contoh orang-orang hebat da berprestasi tinggi yang sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris. Bangsa Jepang, Prancis, Jerman, Italia, dll telah membuktikannya. Jika kita membutuhkan kemampuan berbahasa Inggris karena banyaknya tamu-tamu asing dan karena kita butuh berkomunikasi dengan dunia internasional kita dapat menyewa penerjemah yang hebat. Itu jauh lebih simpel dan murah. Bukankah para konsultan asing yang datang ke daerah semuanya membawa penerjemah? Mereka tentu tidak akan repot-repot belajar bahasa Indonesia untuk masuk ke daerah kita. Efektif dan efisien. Seringkali saya sedih mendengar betapa para pejabat kita bicara tergagap-gagap dalam bahasa Inggris yang kacau struktur dan maknanya. Padahal mereka adalah orang yang menguasai pekerjaan mereka dan fasih mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Tak perlu kita malu kalau tidak bisa berbahasa Inggris. Bangsa-bangsa besar lainnya juga tidak. Malulah kalau tidak menguasai bidang pekerjaan kita dan tidak mampu mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Soal bahasa Ingrisnya serahkan pada ahlinya. Mereka belajar untuk itu.
Sebuah sekolah dasar terkemuka di Balikpapan pernah menyatakan sebagai sekolah yang unggul dimana salah satu faktornya adalah 19 dari 50 guru sekolah tersebut bisa berbahasa Inggris dengan baik. Dan itu dibuktikan dengan hasil tes masuk mereka.
Ini juga sebuah mitos. Karena kalau boleh diketahui seberapa bermanfaatkah pengetahuan berbahasa Inggris mereka bagi pekerjaan mereka sebagai guru ? Apakah dengan pengetahuan mereka yang ‘baik’ tersebut membuat mereka mendengarkan berita-berita dalam bahasa Inggris, membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, menulis dalam bahasa Inggris, dan berbicara dengan orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris? Artinya, kemampuan berbahasa Inggris tersebut membuat mereka mampu mengembangkan diri mereka baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan mereka sebagai guru. Saya meragukannya.
Jika ternyata kemampuan mereka berbahasa Inggris tidak membuat mereka mendengar, membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, terutama yang berhubungan dengan tugas mereka sebagai guru, tapi kita menganggap bahwa penguasaan bahasa Inggris bagi guru-guru adalah penting bagi pekerjaan mereka, maka saya menganggap bahwa kita masih memperlakukan bahasa Inggris sebagai mitos, sesuatu yang tidak benar tapi kita percayai sebagai suatu kebenaran.
Apa yang hendak saya katakan adalah bahwa kita harus terus melangkah dan tidak berhenti pada mitos belaka. Jika bahasa Inggris kita tetapkan sebagai persyaratan bagi guru-guru kita maka kita harus tahu untuk apa bahasa Inggris tersebut kita persyaratkan. Kita bisa melangkah lebih jauh dengan mewajibkan mereka untuk membaca buku-buku ataupun referensi dalam bahasa Inggris kemudian mereka diminta untuk menerapkannya dalam pengajaran sehari-hari. Jadi bahasa Inggris disini digunakan sebagai alat untuk membantu mereka dalam belajar mengembangkan diri, dan bukan sekedar untuk ‘keren-kerenan’ ataupun untuk kepentingan klaim bahwa kita mengembangkan bahasa Inggris di sekolah kita.
Apakah dengan ini lantas saya menganggap bahasa Inggris tidak penting bagi bangsa kita? Tentu saja tidak. Tapi itu masalah lain. Mungkin kita perlu waktu untuk mendiskusikan masalah ini lebih intens dalam topik yang lain.
Begitu juga dengan belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris diyakini akan dapat membuat para pegawai akan meningkat kinerjanya. Lebih daripada itu, belajar bahasa Inggris juga akan dapat membuat sebuah bangsa akan mampu maju dan berkembang di era kesejagatan yang kita sebut era globalisasi itu. Pokoknya kalau tidak bisa bahasa Inggris dianggap ‘kurang gaul’ dan tidak akan mampu berpretasi dalam karirnya. Akibatnya, hampir semua pemimpin daerah memaksa aparat-aparatnya untuk kursus bahasa Inggris. Maka maraklah kursus bahasa Inggris bagi pegawai pemda di hampir semua daerah.
Tapi apa yang terjadi? Setelah belajar bahasa Inggris dan kursus ke berbagai lembaga yang paling top dengan biaya yang paling mahalpun ternyata tidak mampu mendongkrak kemampuan berbahasa Inggris para aparat yang rata-rata memang kemampuan bahasa Inggrisnya payah. Apakah dengan itu berarti para aparat tersebut kinerjanya buruk dan tidak punya ‘masa depan’? Tidak. Itu hanya mitos.
Masalah penggunaan bahasa (dan budaya) asing (bahasa Inggris) sebenarnya telah menjadi perdebatan panjang sejak jaman Sutan Takdir Alisyahbana pada tahun 60-an. Kita terombang-ambing antara mengadopsinya menjadi bahasa kedua atau tetap menjadikannya sebagai bahasa asing. Perlakuan atara keduanya tentu berbeda dan dampaknya juga tentu berbeda. Sebagai contoh, beberapa negara tetap mempertahankan bahasa nasionalnya dan bertekad untuk tidak mempopulerkan penggunaan bahasa Inggris. Negara-negara tersebut adalah Jepang, Prancis, Jerman, Italia, dll. Kalau Anda berkunjung kesana jangan harap Anda akan mendapat jawaban jika bertanya dalam bahasa Inggris. Mereka sangat bangga dengan bahasa nasional mereka dan mereka menuntut agar setiap orang yang datang ke negara mereka menggunakan bahasa nasional mereka.
Beberapa negara lain, sebaliknya, beranggapan bahwa hanya dengan menguasai bahasa Inggris secara penuh dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari kemajuan bangsa akan diperoleh. Mereka mempopulerkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, seperti India, Singapura, sebagian Kanada, Philipina, dan bahkan menjadikannya sebagai bahasa nasional karena faktor sejarah seperti Australia, New Zealand, dan Amerika. Di negara-negara tersebut Anda dapat dengan mudah menggunakan bahasa Inggris karena bahasa tersebut dipergunakan secara meluas dalam kehidupan sehari-hari.
Malaysia sendiri yang semula ingin mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan tidak ‘menggalakkan’ penggunaan bahasa Inggris kini mulai banting setir setelah melihat bahwa ‘bahasa Melayu is going nowhere’ karena bangsa penggunanya tidak memiliki pengaruh di dunia internasional dan semakin kecil pengaruhnya. Sebaliknya, bahasa Inggris semakin menampakkan pengaruh kuatnya dalam era kesejagatan ini. Mereka kini mulai mengambil sikap tegas untuk mempopulerkan bahasa Inggris di kelas-kelas mereka sejak sekolah dasar. Di negara tersebut buku-buku Harry Potter tidak diterjemahkan dan jika ingin membacanya silakan baca dalam bahasa aslinya.
Bagaimana dengan bangsa kita? Apakah kita telah mengambil keputusan sejak perdebatan panjang pada jaman Sutan Takdir Alisyahbana yang menguras energi kita tersebut? Dengan segala kerendahan hati saya katakan tidak. Kita tidak pernah ‘menyelesaikan’ perdebatan tersebut dan tidak pernah berani melangkah dari sekedar berdebat dan mulai mengambil keputusan seperti Jepang mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan bahasa mereka bagi pelajar-pelajar mereka dan lebih memilih untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka. ‘Get the content, leave the language behind’ adalah prinsip mereka. Mereka berkeyakinan bahwa tanpa menguasai bahasa Inggris pun mereka akan sanggup menjadi bangsa besar. Budaya bangsa tidak akan mereka kompromikan sedikitpun. Suatu sikap yang sangat heroik.
Orang-orang Jepang memang pada akhirnya tidak mahir berbahasa asing (dibandingkan dengan orang-orang kita, misalnya) tapi mereka tetap memperoleh ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat dengan cara menterjemahkannya. Hampir tidak ada buku-buku penting yang tidak mereka terjemahkan dan terbitkan daam bahasa jepang. Disini berlaku pepatah “Siapa melangkah lebih jauh melihat lebih banyak”. Bangsa Jepang tetap unggul dan maju meski mereka tidak fasih berbahasa Inggris. Sangat jarang ada orang Jepang yang fasih berbahasa Inggris. Jauh lebih mudah mencari orang yang mengerti bahasa Inggris di Indonesia ketimbang di Jepang. Jepang juga tidak mau ‘repot-repot’ untuk ‘menginggriskan’ petunjuk-petunjuk jalan umum mereka. Kalau tidak bisa membaca huruf dan berbahasa Jepang, silakan tersesat!
Nah, bagaimana dengan Indonesia? Kita ternyata tidak melangkah kemana-mana. Kita bersikap ambigu. Menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa yang penting dengan perlakuan yang sama seperti negara Singapura dan Filipina tidak kita lakukan karena yang kontra tentu akan menghantam sikap ‘tidak nasionalis’ tersebut habis-habisan. Tetapi, sebaliknya, menterjemahkan semua buku bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia juga tidak Lagipula kita tidak punya daya dan biaya untuk itu. Kita berada dalam posisi mendua. Akibatnya ya seperti sekarang ini. Bahasa Indonesia kita perkosa habis-habisan tapi bahasa Inggris juga tidak kita kuasai.
Sayang sekali karena ‘perdebatan’ tersebut tidak ditutup dengan suatu kebulatan tekad untuk mengambil sikap akhirnya kita mencari kesimpulan di luar arena diskusi dan berusaha sendiri-sendiri untuk mencari jawaban. Akhirnya tidak terjadi usaha untuk menjawab masalah secara nasional melainkan secara individu. Artinya tidak ada kesepakatan secara nasional dan kita diminta untuk menjawab sendiri kemana kita menuju. Apa dampaknya? Akhirnya permasalahan besar ini tidak pernah ditangani secara nasional dan orang berjuang sendiri-sendiri untuk memecahkannya dan sering terjerumus pada mitos-mitos. Saya melihat betapa banyak orang yang telah ‘terjerumus’ oleh salah satu mitos yaitu bahwa setiap orang yang ingin hidup di era globalisasi ini harus menguasai bahasa Inggris. Mitos ? Ya, tentu saja karena ternyata bangsa Jepang tetap dapat menjadi bangsa besar tanpa harus menguasai bahasa Inggris. Orang Prancis yang tetap menganggap bahasanya sebagai bahasa paling unggul dan bahasa Inggris hanya sebagai alternatif tapi tetap unggul sebagai sebuah bangsa. ‘Terjerumus’? Ya, karena banyak orang yang menghabiskan banyak waktu, biaya dan energinya untuk berlajar bahasa Inggris sepanjang hidupnya tanpa pernah mampu memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-harinya ataupun dalam bidang pekerjaannya.
Perlu dipahami bahwa untuk menguasai ketrampilan berbahasa Inggris seperti yang kita idam-idamkan umpamanya : dapat menggunakannya secara fasih dengan orang asing, bisa membaca buku-buku berbahasa Inggris, dapat mendengarkan percakapan berbahasa Inggris di radio dan televisi, membutuhkan proses yang sangat panjang dan rumit. Kalau ada kursus yang berani menjamin Anda akan dapat melakukan itu hanya dalam bilangan bulan, percayalah itu cuma iklan jualan kecap. Kalau tidak percaya tanyalah kepada semua orang yang pernah ikut kursus tersebut apakah mereka telah mampu menggunakan bahasa Inggris secara aktif sesuai dengan promosinya. Tidak ada cara ajaib untuk bisa menguasai bahasa asing.
Jadi bagaimana? Menurut saya, tidak ada gunanya bagi para aparat kepemerintahan untuk ikut kursus bahasa Inggris dengan tujuan seperti di atas. Pertama, ketrampilan berbahasa Inggris yang mereka butuhkan akan memakan waktu, biaya dan energi yang sangat besar yang mungkin akan lebih bermanfaat jika mereka gunakan untuk mempelajari bidang pekerjaan masing-masing. Bahkan mereka yang belajar khusus bahasa Inggris di perguruan tinggi sebagai mayor mereka banyak yang tidak dapat menguasai ketrampilan berbahasa Inggris yang tinggi seperti yang diharapkan. Dalam sebuah tes pada guru-guru bahasa Inggris di Balikpapan terungkap bahwa kemampuan mereka ternyata menyedihkan. Padahal mereka telah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun. Kalau ingin menguasai bahasa asing dengan baik mulailah sejak kanak-kanak dan gunakan metode yang benar. Jika sudah tua akan sulit untuk menguasainya. Kedua, tanpa bisa berbahasa Inggris pun kita akan dapat berprestasi dan meningkatkan kinerja dengan baik. Banyak sekali contoh orang-orang hebat da berprestasi tinggi yang sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris. Bangsa Jepang, Prancis, Jerman, Italia, dll telah membuktikannya. Jika kita membutuhkan kemampuan berbahasa Inggris karena banyaknya tamu-tamu asing dan karena kita butuh berkomunikasi dengan dunia internasional kita dapat menyewa penerjemah yang hebat. Itu jauh lebih simpel dan murah. Bukankah para konsultan asing yang datang ke daerah semuanya membawa penerjemah? Mereka tentu tidak akan repot-repot belajar bahasa Indonesia untuk masuk ke daerah kita. Efektif dan efisien. Seringkali saya sedih mendengar betapa para pejabat kita bicara tergagap-gagap dalam bahasa Inggris yang kacau struktur dan maknanya. Padahal mereka adalah orang yang menguasai pekerjaan mereka dan fasih mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Tak perlu kita malu kalau tidak bisa berbahasa Inggris. Bangsa-bangsa besar lainnya juga tidak. Malulah kalau tidak menguasai bidang pekerjaan kita dan tidak mampu mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Soal bahasa Ingrisnya serahkan pada ahlinya. Mereka belajar untuk itu.
Sebuah sekolah dasar terkemuka di Balikpapan pernah menyatakan sebagai sekolah yang unggul dimana salah satu faktornya adalah 19 dari 50 guru sekolah tersebut bisa berbahasa Inggris dengan baik. Dan itu dibuktikan dengan hasil tes masuk mereka.
Ini juga sebuah mitos. Karena kalau boleh diketahui seberapa bermanfaatkah pengetahuan berbahasa Inggris mereka bagi pekerjaan mereka sebagai guru ? Apakah dengan pengetahuan mereka yang ‘baik’ tersebut membuat mereka mendengarkan berita-berita dalam bahasa Inggris, membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, menulis dalam bahasa Inggris, dan berbicara dengan orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris? Artinya, kemampuan berbahasa Inggris tersebut membuat mereka mampu mengembangkan diri mereka baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan mereka sebagai guru. Saya meragukannya.
Jika ternyata kemampuan mereka berbahasa Inggris tidak membuat mereka mendengar, membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, terutama yang berhubungan dengan tugas mereka sebagai guru, tapi kita menganggap bahwa penguasaan bahasa Inggris bagi guru-guru adalah penting bagi pekerjaan mereka, maka saya menganggap bahwa kita masih memperlakukan bahasa Inggris sebagai mitos, sesuatu yang tidak benar tapi kita percayai sebagai suatu kebenaran.
Apa yang hendak saya katakan adalah bahwa kita harus terus melangkah dan tidak berhenti pada mitos belaka. Jika bahasa Inggris kita tetapkan sebagai persyaratan bagi guru-guru kita maka kita harus tahu untuk apa bahasa Inggris tersebut kita persyaratkan. Kita bisa melangkah lebih jauh dengan mewajibkan mereka untuk membaca buku-buku ataupun referensi dalam bahasa Inggris kemudian mereka diminta untuk menerapkannya dalam pengajaran sehari-hari. Jadi bahasa Inggris disini digunakan sebagai alat untuk membantu mereka dalam belajar mengembangkan diri, dan bukan sekedar untuk ‘keren-kerenan’ ataupun untuk kepentingan klaim bahwa kita mengembangkan bahasa Inggris di sekolah kita.
Apakah dengan ini lantas saya menganggap bahasa Inggris tidak penting bagi bangsa kita? Tentu saja tidak. Tapi itu masalah lain. Mungkin kita perlu waktu untuk mendiskusikan masalah ini lebih intens dalam topik yang lain.
Senin, 04 Maret 2002
A TIME OF PANIC BUYING : BERKAH (ATAU BENCANA? OTONOMI DAERAH
A TIME OF PANIC BUYING :
BERKAH (ATAU BENCANA?) OTONOMI DAERAH
Pernah dengar kisah ‘mengharukan’ tentang petani cengkeh kita ? Suatu ketika petani cengkeh kita memperoleh panenan yang melimpah. Harga cengkeh di pasaran juga sedang top. Pokoknya di luar dugaan lah! Tak pelak merekapun jadi bingung dengan begitu banyaknya uang di tangan mereka. Merekapun akhirnya berbelanja habis-habisan. Apapun yang ditawarkan pada mereka akan disikat habis. Pakaian, makanan, tivi, motor, kulkas, mobil mewah, semua dibeli tanpa berkedip. Lha wong duit melimpah je !
Tapi setelah itu barulah mereka sadar bahwa tivi dan kulkas ternyata tidak bisa dipakai karena listrik belum masuk ke desa mereka. Terpaksa kulkas dimanfaatkan jadi lemari pakaian daripada nggak kepake. Motor masih bisa dipakai meski susah payah tapi mobil mewah terpaksa cuma jadi barang pajangan karena mereka ternyata belum bisa nyetir. Lagipula jalanan masih berupa jalan pematang.
Kata teman saya yang kerja di valas mereka itu sedang mengalami ‘panic buying’. Kita membeli apa saja karena kita punya uang begitu banyak dan semua barang yang ada dalam angan-angan kita terasa ‘murah’ harganya. Itu adalah masa-masa ketika kita tiba-tiba memiliki begitu banyak uang tanpa kita sangka-sangka padahal selama ini kita merasa begitu miskin dan hanya bisa berkhayal seperti Oppie Andaresta ketika ia melantunkan tembangnya ‘Andai Aku Jadi Orang Kaya’.
Rasa-rasanya masa-masa itu kini terulang lagi, tapi dalam skala yang lebih besar. Terkisahlah di Negara Borneo bagian Wetan beberapa orang bersaudara tiba-tiba mendapat uang ganti rugi dari tanah mereka yang terkena proyek tambang emas. Uang ganti rugi itu begitu besar sehingga anak anak mereka yang masih TK pun mereka beri bagian dalam jumlah yang bahkan masih sulit untuk dipahami oleh mereka. Tentu saja dengan himbauan agar dibelanjakan dengan bijaksana. Tapi namanya orang kaya. Uang begitu banyak dan semua bisa dibeli. Akhirnya apapun ide yang melintas, apapun barang yang ditawarkan bakal diborong habis.
Melihat hal ini seorang pengusaha yang cerdik segera menawari mereka untuk berkongsi bisnis di bidang angkutan taksi. “Penumpang bahkan sudah antri untuk menyewa mobil kita begitu mereka tahu bahwa kita akan beli mobil taksi,” begitu kata si pengusaha meyakinkan. Untuk lebih meyakinkan mereka si pengusaha membuat sebuah proposal sebagai berikut :
Pengeluaran :
Pembelian mobil Rp. 100.000.000,-
Perkiraan pendapatan :
Setoran perhari Rp 200.000,- X 30 hari X 12 bulan X 2 tahun Rp. 144.000.000
Dari sini kita bisa melihat bahwa dalam 2 tahun saja modal sudah akan kembali beserta keuntungan yang akan dibagi sesuai dengan kongsi masing-masing (sipengusaha sendiri punya bagian 20 % meski tidak perlu keluar duit untuk ikut kongsi) . Siapa yang tidak ngiler melihat angka-angka tersebut ? Maka tanpa berpikir panjang (OKB memang jarang yang berpikir panjang) beberapa dari merekapun langsung sepakat dan rame-rame menyerahkan uang kepada pengusaha tadi untuk membeli mobil angkutan taksi tersebut.
Tapi ketika mobil tiba barulah muncul masalah. Ternyata si pengusaha dan para tokoh kita ini tidak punya garasi untuk menyimpan kendaraan tersebut (nggak bilang sih kalau mobil perlu garasi !). rencana untuk segera mengoperasikan taksi tersebut lantas buyar karena ternyata banyak kendala untuk mengoperasikannya. Dengar-dengar katanya mobil yang dibeli ternyata tidak cocok untuk jenis jalan yang akan dilalui (katanya ini hanya masalah teknis !). Yang lebih celaka lagi katanya si pengusaha ini ternyata belum pernah menjadi pengusaha taksi ! Perhitungan yang disodorkan ternyata juga tidak masuk akal karena untuk mencapai angka tersebut berarti mobil harus berjalan terus non-stop selama 2 tahun. Jadi nggak boleh masuk bengkel.
Melihat ini anak-anak dan istri merekapun jadi ngomel. Bahkan salah seorang istri mereka nyeletuk, “Sampeyan ini kok ya gampang men percaya sama orang tho Pak…Pak !.” Impian untuk memperoleh keuntungan seperti dalam proposal terpaksa dibuyarkan dan bahkan bayangan rugi besar dan dicibir orang banyak mulai membuat para tokoh kita ini tidak bisa tidur nyenyak. Para tokoh kita ini terpaksa mumet memikirkan bagaimana agar usaha taksi ini bisa jalan padahal semula rencananya mereka tinggal ongkang-ongkang kaki tunggu setoran masuk.
Another story,
Karena sangat pingin menjadi pintar dan berkemampuan global (maklum hantu AFTA sudah mengetuk pintu) maka para tokoh kita tersebut berlomba-lomba membeli segala sesuatu yang berlabel ‘peningkatan SDM’. Mulai dari ‘mampu berbahasa Inggris cas-cis-cus’, ‘anak-anak diterima di PTN’, ‘memiliki gelar MBA, MM, MPD, DR (HC ataupun tak HC), bahkan PhD’ dibeli dengan tanpa melihat harga. Ada yang menyuruh semua anggota keluarganya untuk kursus bahasa Inggris. Mulai dari bapak, emak, anak, sopir dan pembokat semuanya tanpa kecuali harus belajar bahasa Inggris. Panggil guru bahasa Inggris paling top. Ada pula yang mencanangkan agar anaknya yang semula ‘bungul’ harus menjadi ‘unggul’. Anak yang biasanya sehari belajar 5 jam dituntut untuk belajar 8 jam sehari. “Biar cepat lulus,” katanya. Padahal “Education is not a race of information but a walk of invention’ demikian kata orang bijak.
Istri, sopir dan pembantu dikuliahkan S2 bekerja sama dengan institut paling tersohor di negeri itu (padahal rankingnya di di negara-negara tetangga cuman ranking 21). Ada lagi yang lebih ‘spektakuler’ dengan menyediakan dana edhan-edhanan untuk mendirikan suatu universitas internasional bekerjasama dengan negara-negara tetangga yang kebetulan memang lebih baik kualitasnya. Semua pelajaran harus diberikan dalam bahasa Inggris dan oleh para dosen yang fasih berbahasa Inggris. Pokoknya kalau lulus harus sudah setara dengan lulusan luar negeri dan bahasa Inggrisnya sudah cas-cis-cus. Titik.
Tapi kemudian ternyata hasilnya tidak seperti yang direncanakan. Belajar bahasa Inggris ternyata sulit setengah mati meski guru paling top sudah dipanggil (maklum dasar pengetahuannya sangat rendah, memori sudah payah dan masalah sehari-hari sudah setumpuk). Gaji guru sudah dikatrol tapi toh kinerjanya tidak kunjung naik. Sekolah sudah gratis tapi yang belajar tetap tidak bergairah. S2 sudah diikuti tapi hanya bikin pusing kepala dan buang waktu. Relevansi dengan peningkatan kualitas SDM tetap tanda tanya. Kerjasama dengan institusi top ternyata tidak memuaskan karena ternyata mereka sendiri kekurangan SDM dan kerjasama hanya jadi proyek. Untunglah bahwa proyek mendirikan universitas internasional belum dilaksanakan dan baru sebatas wacana. Disamping ‘salah disain’ proyek tersebut bisa jadi ‘proyek salah kaprah part II’ seperti proyek taksi sebelumnya.
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami bersama. Ada pepatah kuno yang berkata, “Money can buy books but cannot buy knowledge” Ini pepatah kuno memang tapi nampaknya perlu kita pahami pada saat dan situasi kini. Peningkatan kualitas SDM memang harus bertahap dan tidak bisa dilakukan dengan sulap kecepatan tangan. Ada proses-proses yang harus dilalui dan proses-proses tersebut tidak bisa diganti dengan uang berapa gebokpun. Ada seorang teman yang berkata, “Seandainya ada kapsul yang kalau kita makan kita bisa langsung bisa berbahasa Inggris, saya akan beli berapa puluh jutapun harganya,” Tentu saja ia bergurau karena kapsul tersebut tidak pernah ada.
Untuk bisa berbahasa Inggris kita harus melalui proses belajar dan berlatih. Dan itu bisa makan waktu bertahun-tahun. Sebagai contoh, untuk bisa mengikuti kuliah di Australia atau Amerika disyaratkan nilai TOEFL atau IELTS sejumlah tertentu. Dan untuk bisa memperoleh nilai tersebut dibutuhkan pengetahuan yang diperoleh dengan proses tertentu pula. Hal ini memang sering membuat kita jadi kurang sabar. “Mengapa kita tidak membeli saja sertifikat TOEFL atau IELTS agar bisa lolos persyaratan kuliah di sana ?” demikian usul seseorang secara iseng (atau mungkin keblinger), “Bukankah kita punya banyak uang yang bisa dipakai untuk membeli apa saja ?” Celakanya ide ini dianggap masuk akal dan itulah yang terjadi saat ini. Kita ramai-ramai membeli sertifikat apa saja dan menganggapnya sebagai paspor untuk memasuki dunia global. Berbagai gelar kita buru, berbagai kursus kita ikuti. Setifikat memang bisa kita beli, gelarpun bisa kita deretkan di belakang nama kita, but knowledge …? We are just fooling ourself, demikian sebuah bait lagu entah siapa penyanyinya.
Kalau siswa SMP dan SMU kita tidak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam bahasa Inggris sebaiknya kita tidak bermimpi untuk mengirim mereka belajar ke luar negeri. Apalagi bermimpi untuk membangun perguruan tinggi berskala internasional di daerah (dengar-dengar Habibie dulu membutuhkan waktu 10 tahun sebelum mendirikan IPTN). Saya kuatir jangan-jangan kita akan beli micro-wave, tapi kali ini akan kita pakai sebagai rak sepatu.
Balikpapan, 4 Maret 2002
Satria Dharma
STIKOM BALIKPAPAN
BERKAH (ATAU BENCANA?) OTONOMI DAERAH
Pernah dengar kisah ‘mengharukan’ tentang petani cengkeh kita ? Suatu ketika petani cengkeh kita memperoleh panenan yang melimpah. Harga cengkeh di pasaran juga sedang top. Pokoknya di luar dugaan lah! Tak pelak merekapun jadi bingung dengan begitu banyaknya uang di tangan mereka. Merekapun akhirnya berbelanja habis-habisan. Apapun yang ditawarkan pada mereka akan disikat habis. Pakaian, makanan, tivi, motor, kulkas, mobil mewah, semua dibeli tanpa berkedip. Lha wong duit melimpah je !
Tapi setelah itu barulah mereka sadar bahwa tivi dan kulkas ternyata tidak bisa dipakai karena listrik belum masuk ke desa mereka. Terpaksa kulkas dimanfaatkan jadi lemari pakaian daripada nggak kepake. Motor masih bisa dipakai meski susah payah tapi mobil mewah terpaksa cuma jadi barang pajangan karena mereka ternyata belum bisa nyetir. Lagipula jalanan masih berupa jalan pematang.
Kata teman saya yang kerja di valas mereka itu sedang mengalami ‘panic buying’. Kita membeli apa saja karena kita punya uang begitu banyak dan semua barang yang ada dalam angan-angan kita terasa ‘murah’ harganya. Itu adalah masa-masa ketika kita tiba-tiba memiliki begitu banyak uang tanpa kita sangka-sangka padahal selama ini kita merasa begitu miskin dan hanya bisa berkhayal seperti Oppie Andaresta ketika ia melantunkan tembangnya ‘Andai Aku Jadi Orang Kaya’.
Rasa-rasanya masa-masa itu kini terulang lagi, tapi dalam skala yang lebih besar. Terkisahlah di Negara Borneo bagian Wetan beberapa orang bersaudara tiba-tiba mendapat uang ganti rugi dari tanah mereka yang terkena proyek tambang emas. Uang ganti rugi itu begitu besar sehingga anak anak mereka yang masih TK pun mereka beri bagian dalam jumlah yang bahkan masih sulit untuk dipahami oleh mereka. Tentu saja dengan himbauan agar dibelanjakan dengan bijaksana. Tapi namanya orang kaya. Uang begitu banyak dan semua bisa dibeli. Akhirnya apapun ide yang melintas, apapun barang yang ditawarkan bakal diborong habis.
Melihat hal ini seorang pengusaha yang cerdik segera menawari mereka untuk berkongsi bisnis di bidang angkutan taksi. “Penumpang bahkan sudah antri untuk menyewa mobil kita begitu mereka tahu bahwa kita akan beli mobil taksi,” begitu kata si pengusaha meyakinkan. Untuk lebih meyakinkan mereka si pengusaha membuat sebuah proposal sebagai berikut :
Pengeluaran :
Pembelian mobil Rp. 100.000.000,-
Perkiraan pendapatan :
Setoran perhari Rp 200.000,- X 30 hari X 12 bulan X 2 tahun Rp. 144.000.000
Dari sini kita bisa melihat bahwa dalam 2 tahun saja modal sudah akan kembali beserta keuntungan yang akan dibagi sesuai dengan kongsi masing-masing (sipengusaha sendiri punya bagian 20 % meski tidak perlu keluar duit untuk ikut kongsi) . Siapa yang tidak ngiler melihat angka-angka tersebut ? Maka tanpa berpikir panjang (OKB memang jarang yang berpikir panjang) beberapa dari merekapun langsung sepakat dan rame-rame menyerahkan uang kepada pengusaha tadi untuk membeli mobil angkutan taksi tersebut.
Tapi ketika mobil tiba barulah muncul masalah. Ternyata si pengusaha dan para tokoh kita ini tidak punya garasi untuk menyimpan kendaraan tersebut (nggak bilang sih kalau mobil perlu garasi !). rencana untuk segera mengoperasikan taksi tersebut lantas buyar karena ternyata banyak kendala untuk mengoperasikannya. Dengar-dengar katanya mobil yang dibeli ternyata tidak cocok untuk jenis jalan yang akan dilalui (katanya ini hanya masalah teknis !). Yang lebih celaka lagi katanya si pengusaha ini ternyata belum pernah menjadi pengusaha taksi ! Perhitungan yang disodorkan ternyata juga tidak masuk akal karena untuk mencapai angka tersebut berarti mobil harus berjalan terus non-stop selama 2 tahun. Jadi nggak boleh masuk bengkel.
Melihat ini anak-anak dan istri merekapun jadi ngomel. Bahkan salah seorang istri mereka nyeletuk, “Sampeyan ini kok ya gampang men percaya sama orang tho Pak…Pak !.” Impian untuk memperoleh keuntungan seperti dalam proposal terpaksa dibuyarkan dan bahkan bayangan rugi besar dan dicibir orang banyak mulai membuat para tokoh kita ini tidak bisa tidur nyenyak. Para tokoh kita ini terpaksa mumet memikirkan bagaimana agar usaha taksi ini bisa jalan padahal semula rencananya mereka tinggal ongkang-ongkang kaki tunggu setoran masuk.
Another story,
Karena sangat pingin menjadi pintar dan berkemampuan global (maklum hantu AFTA sudah mengetuk pintu) maka para tokoh kita tersebut berlomba-lomba membeli segala sesuatu yang berlabel ‘peningkatan SDM’. Mulai dari ‘mampu berbahasa Inggris cas-cis-cus’, ‘anak-anak diterima di PTN’, ‘memiliki gelar MBA, MM, MPD, DR (HC ataupun tak HC), bahkan PhD’ dibeli dengan tanpa melihat harga. Ada yang menyuruh semua anggota keluarganya untuk kursus bahasa Inggris. Mulai dari bapak, emak, anak, sopir dan pembokat semuanya tanpa kecuali harus belajar bahasa Inggris. Panggil guru bahasa Inggris paling top. Ada pula yang mencanangkan agar anaknya yang semula ‘bungul’ harus menjadi ‘unggul’. Anak yang biasanya sehari belajar 5 jam dituntut untuk belajar 8 jam sehari. “Biar cepat lulus,” katanya. Padahal “Education is not a race of information but a walk of invention’ demikian kata orang bijak.
Istri, sopir dan pembantu dikuliahkan S2 bekerja sama dengan institut paling tersohor di negeri itu (padahal rankingnya di di negara-negara tetangga cuman ranking 21). Ada lagi yang lebih ‘spektakuler’ dengan menyediakan dana edhan-edhanan untuk mendirikan suatu universitas internasional bekerjasama dengan negara-negara tetangga yang kebetulan memang lebih baik kualitasnya. Semua pelajaran harus diberikan dalam bahasa Inggris dan oleh para dosen yang fasih berbahasa Inggris. Pokoknya kalau lulus harus sudah setara dengan lulusan luar negeri dan bahasa Inggrisnya sudah cas-cis-cus. Titik.
Tapi kemudian ternyata hasilnya tidak seperti yang direncanakan. Belajar bahasa Inggris ternyata sulit setengah mati meski guru paling top sudah dipanggil (maklum dasar pengetahuannya sangat rendah, memori sudah payah dan masalah sehari-hari sudah setumpuk). Gaji guru sudah dikatrol tapi toh kinerjanya tidak kunjung naik. Sekolah sudah gratis tapi yang belajar tetap tidak bergairah. S2 sudah diikuti tapi hanya bikin pusing kepala dan buang waktu. Relevansi dengan peningkatan kualitas SDM tetap tanda tanya. Kerjasama dengan institusi top ternyata tidak memuaskan karena ternyata mereka sendiri kekurangan SDM dan kerjasama hanya jadi proyek. Untunglah bahwa proyek mendirikan universitas internasional belum dilaksanakan dan baru sebatas wacana. Disamping ‘salah disain’ proyek tersebut bisa jadi ‘proyek salah kaprah part II’ seperti proyek taksi sebelumnya.
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami bersama. Ada pepatah kuno yang berkata, “Money can buy books but cannot buy knowledge” Ini pepatah kuno memang tapi nampaknya perlu kita pahami pada saat dan situasi kini. Peningkatan kualitas SDM memang harus bertahap dan tidak bisa dilakukan dengan sulap kecepatan tangan. Ada proses-proses yang harus dilalui dan proses-proses tersebut tidak bisa diganti dengan uang berapa gebokpun. Ada seorang teman yang berkata, “Seandainya ada kapsul yang kalau kita makan kita bisa langsung bisa berbahasa Inggris, saya akan beli berapa puluh jutapun harganya,” Tentu saja ia bergurau karena kapsul tersebut tidak pernah ada.
Untuk bisa berbahasa Inggris kita harus melalui proses belajar dan berlatih. Dan itu bisa makan waktu bertahun-tahun. Sebagai contoh, untuk bisa mengikuti kuliah di Australia atau Amerika disyaratkan nilai TOEFL atau IELTS sejumlah tertentu. Dan untuk bisa memperoleh nilai tersebut dibutuhkan pengetahuan yang diperoleh dengan proses tertentu pula. Hal ini memang sering membuat kita jadi kurang sabar. “Mengapa kita tidak membeli saja sertifikat TOEFL atau IELTS agar bisa lolos persyaratan kuliah di sana ?” demikian usul seseorang secara iseng (atau mungkin keblinger), “Bukankah kita punya banyak uang yang bisa dipakai untuk membeli apa saja ?” Celakanya ide ini dianggap masuk akal dan itulah yang terjadi saat ini. Kita ramai-ramai membeli sertifikat apa saja dan menganggapnya sebagai paspor untuk memasuki dunia global. Berbagai gelar kita buru, berbagai kursus kita ikuti. Setifikat memang bisa kita beli, gelarpun bisa kita deretkan di belakang nama kita, but knowledge …? We are just fooling ourself, demikian sebuah bait lagu entah siapa penyanyinya.
Kalau siswa SMP dan SMU kita tidak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam bahasa Inggris sebaiknya kita tidak bermimpi untuk mengirim mereka belajar ke luar negeri. Apalagi bermimpi untuk membangun perguruan tinggi berskala internasional di daerah (dengar-dengar Habibie dulu membutuhkan waktu 10 tahun sebelum mendirikan IPTN). Saya kuatir jangan-jangan kita akan beli micro-wave, tapi kali ini akan kita pakai sebagai rak sepatu.
Balikpapan, 4 Maret 2002
Satria Dharma
STIKOM BALIKPAPAN
Langganan:
Komentar (Atom)