Kamis, 31 Januari 2008

Visi Banjar Cyber School

Visi Kami

RENCANA STRATEGIS BANJAR CYBER SCHOOL

50 Tahun Mendatang

Tahun 2008-2010 Tahap Persiapan dan Penguatan Fondasi Organisasi

2010-2015

5 Tahun Ke-1

Fokus Pelayanan dan Peningkatan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini
serta
Pemerataan Akses TIK di Seluruh Sekolah Kota Banjar

Wajib Belajar 12 Tahun


2015-2020

5 Tahun Ke-2

1. Peningkatan Jumlah Siswa Berprestasi di Kota Banjar

2. Proyek 1000 Guru Super Kota Banjar




2020-2025

5 Tahun Ke-3

Sistem Pendidikan Kota Terbaik di Periangan Timur dan Jawa Barat




2025-2030

5 Tahun Ke-4





2030-2035

5 tahun Ke-5


2035-2040

5 Tahun Ke-6



2040-2045

5 Tahun Ke-7


2045-2050

5 tahun Ke-8



2050-2055

5 Tahun Ke-9




2055-2060

5 Tahun Ke-10

Anggaran Rumah Tangga Banjar Cyber School

Anggaran Rumah Tangga

ANGGARAN RUMAH TANGGA
BANJAR CYBER SCHOOL
(BCS)

BAB I

PENGURUS PUSAT
Pasal 1
Ketentuan Umum

Pasal 2
Susunan

Pasal 3
Tugas dan Kewajiban

Pasal 4
Persidangan

Pasal 5
Pemilihan Pengurus

Pasal 6
Kriteria dan Persyaratan Calon Kepala Sekolah dan Sekretaris Umum

BAB II
PERSYARATAN ANGGOTA PENGURUS

BAB IIII
PENGURUS KOMUNITAS ANGKATAN

BAB IV
MUSYAWARAH NASIONAL

BAB V
KEANGGOTAAN

BAB VI
DISIPLIN ORGANISASI SEKOLAH

BAB VII
KEUANGAN DAN HARTA KEKAYAAN

BAB VIII
LAMBANG


Anggaran Dasar Banjar Cyber School

Anggran Dasar

MUKADIMAH

Bahwa kami para Pelajar Kota Banjar dalam keinginan untuk mewujudkan sikap hidup dan pengabdian kepada Bangsa dan Negara yang bersumber pada cita-cita luhur Bangsa Indonesia, dengan rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa bersepakat untuk membentuk suatu organisasi yang disebut BANJAR CYBER SCHOOL yang berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 serta bersifat kekeluargaan.

BAB I

NAMA, PENDIRIAN DAN KEDUDUKAN


Pasal 1

Nama

Organisasi ini bernama BANJAR CYBER SCHOOL, disingkat BCS.

Pasal 2

Pembentukan

BANJAR CYBER SCHOOL didirikan dalam upaya perbaikan terhadap kualitas pendidikan di Kota Banjar dan sekitarnya pada Januari Tahun 2008 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Pasal 3

Kedudukan

BANJAR CYBER SCHOOL berpusat di KOTA BANJAR


BAB II


ASAS, DASAR, SIFAT DAN TUJUAN

Pasal 4

Asas, Dasar dan Sifat

BANJAR CYBER SCHOOL berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, serta bersifat kekeluargaan.

Pasal 5

Tujuan

Tujuan BANJAR CYBER SCHOOL adalah :

a. Mempererat dan membina tali silaturahmi kekeluargaan diantara PELAJAR di KOTA BANJAR dan Sekitarnya.

b. Membantu meningkatkan kualitas, citra dan reputasi PENDIDIKAN di KOTA BANJAR terutama sebagai media belajar Pelajar dalam melaksanakan proses pendidikan.

c. Membina dan memelihara kerjasama dengan pemerintah, organisasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

d. Melaksanakan dan memelihara hubungan kerjasama dengan Lembaga Pemerintahan, Masyarakat, Swasta dan Lainnya dalam upaya penigkatan kualitas pendidikan dilingkungan Kota Banjar dan Sekitarnya.

e. Menjalankan usaha-usaha dan aktif memberikan bantuan yang diperlukan demi kelancaran tugas dan tercapainya tujuan (Visi & Misi Pendidikan) dan kesejahteraan para Pelajar, baik spiritual maupun material.

f. Mendorong para Pelajar untuk mengembangkan serta menerapkan ilmu dan keahlian guna dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan Negara pada khususnya serta umat manusia pada umumnya.

Kebutuhan e-Learning di Kota Banjar

Kebutuhan e-learning di Kota Banjar
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, U.S.A. 







(Buku Karya, Burrhus Frederic Skinner, He was the Edgar Pierce Professor of Psychology at Harvard University )

Introduction
E-learning (or sometimes electronic learning or eLearning) is a term which is commonly used, but does not have a common definition[1]. Most frequently it seems to be used for web-based distance education, with no face-to-face interaction. However, also much broader definitions are common. For example, it may include all types of technology-enhanced learning(TEL), where technology is used to support the learning process. Although pedagogy is usually not part of the definition, some authors do include it. For example in this definition, where e-learning is said to be: "pedagogy empowered by digital technology" [2].
It is important to realize that the term e-learning is ambiguous. It is nearly impossible to define what it is, as it has different meanings to different people [1]. Furthermore, it is often used interchangeably with various other related terms, such as distance learning, distributed learning, and electronic learning[3]. The meaning of the term also seems to be dependent on the context in which it is used. In companies, it often refers to the strategies that use the company network to deliver training courses to employees. Lately in most Universities, e-learning is used to define a specific mode to attend a course or programmes of study where the students rarely or never meet face-to-face, nor access on-campus educational facilities, because they study online.

E-Learning also often refers to the first generation of systems supporting the learning process (such as LMS, LCMS), that relied on the idea of replicating the concept of the classroom in an online setting. E-Learning, that was affected (with some delays) by the Dot-com bubble, and many failures can be reported related to this initial vision [4].

This E-Learning vision constrasts with more recent approaches (often termed Learning 2.0, in reference to the Web 2.0) relying more on collaboration, informal learning, and blended learning (using technology to enhance, rather than replace, the physical pedagogical processes).
(Wikipedia)


Contents 

Pada tahun-tahun terakhir ini, dunia pendidikan kita tak putus- putusnya diterpa oleh berbagai persoalan yang tidak ringan. Mulai dari mutu dan fasilitas pendidikan yang dipertanyakan, kekurangan tenaga pengajar, korupsi, sampai melonjaknya biaya pendidikan yang semakin lama terasa semakin tidak terjangkau oleh masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Namun di sisi lain dunia, pendidikan juga mengalami banyak kemajuan. Keberadaan internet telah mengubah paradigma berpikir konvensional serta berhasil menawarkan alternatif pembelajaran dalam pendidikan. Salah satunya adalah e-Learning. 

Dengan e-Learning belajar tidak lagi dibatasi oleh tempat dan waktu. e-Learning menjadi salah satu solusi bagi problematika dunia yang semakin sibuk dengan menawarkan fleksibilitas dan mobilitas yang lebih tinggi. Pembaca mungkin sudah mengetahui atau mungkin sudah mendalami lebih jauh mengenai e-learning atau metode pembelajaran jarak jauh melalui internet. disini saya akan sedikit membahas mengenai metode tersebut. Di beberapa negara, e-learning telah menjadi suatu gerakan nasional.

Di Asia Tenggara, negara-negara yang diketahui tengah menggarap secara serius inisiatif e-learning selain Filipina, juga Thailand. Saat ini e-learning tidak hanya digunakan di sekolah-sekolah atau universitas. Beberapa perusahaan di Indonesia sudah mulai melakukan inisiatif untuk mengembangkan metode pembelajaran ini. 

Tujuannya adalah tentu untuk meningkatkan kualitas SDM bagi Sekolah, Organisasi dan Perusahaan. selain lebih efisien, penggunaan e-learning juga dapat memberikan dampak yang positif bagi keuangan perusahaan. sebuah perusahaan tidak perlu melakukan training khusus untuk para karyawannya untuk mengenal dan mendalami mengenai perusahaan maupun bisnis perusahaan. 

Apalagi untuk sebuah perusahaan yang cabangnya tersebar di seluruh indonesia. seorang karyawan bisa belajar dimanapun dan kapanpun mereka berada hanya melalui fasilitas internet. Bisa di kantor ataupun di warnet sekalipun. Sehubungan dengan perkembangan tersebut maka sepantasnya Kota Banjar, khususnya Dinas Pendidikan dapat membangun sebuah e-learning demi kemajuan pada sektor pendidikan. 

Salah satu perangkat e-learning yang sangat penting peranannya adalah Learning Management System (LMS). 

LMS adalah sebuah paket solusi yang dirancang untuk penyampaian, pelacakan, pelaporan dan pengelolaan materi belajar, serta memantau kemajuan siswa dan interaksi siswa. Agar kursus-kursus atau modul-modul pembelajaran dapat berjalan dengan baik di semua LMS yang ada. Maka dibuat sebuah spesifikasi yang memenuhi standar internasional. Spesifikasi tersebut diberi nama Sharable Content Object Reference Model (SCORM). 

SCORM dikembangkan oleh United States Department of Defense (DoD) untuk mendukung pengembangan e-learning. SCORM adalah framework berbasis XML yang berfungsi untuk mendefinisikan dan mengirimkan seluruh informasi yang dibutuhkan oleh LMS.

Content Issues

Content is a core component of e-learning and includes issues such as pedagogy and learning object re-use.

Pedagogical elements

Pedagogical elements are an attempt to define structures or units of educational material. For example, this could be a lesson, an assignment, a multiple choice question, a quiz, a discussion group or a case study. These units should be format independent, so although it may be in any of the following methods, pedagogical structures would not include a textbook, a web page, a video conference or Podcast.
When beginning to create e-Learning content, the pedagogical approaches need to be evaluated. Simple pedagogical approaches make it easy to create content, but lack flexibility, richness and downstream functionality. On the other hand, complex pedagogical approaches can be difficult to set up and slow to develop, though they have the potential to provide more engaging learning experiences for students. Somewhere between these extremes is an ideal pedagogy that allows a particular educator to effectively create educational materials while simultaneously providing the most engaging educational experiences for students.
Pedagogical approaches or perspectives
It is possible to use various pedagogical approaches for eLearning which include:
§ instructional design - the traditional pedagogy of instruction which is curriculum focused, and is developed by a centralized educating group or a single teacher.
§ social-constructivist - this pedagogy is particularly well afforded by the use of discussion forums, blogs, wiki and on-line collaborative activities. It is a collaborative approach that opens educational content creation to a wider group including the students themselves. The One Laptop Per Child Foundation attempted to use a constructivist approach in its project[22]
§ Laurillard's Conversational Model[23] is also particularly relevant to eLearning, and Gilly Salmon's Five-Stage Model is a pedagogical approach to the use of discussion boards [24].
§ Cognitive perspective focuses on the cognitive processes involved in learning as well as how the brain works.[25]
§ Emotional perspective focuses on the emotional aspects of learning, like motivation, engagement, fun, etc.[26]
§ Behavioural perspective focuses on the skills and behavioural outcomes of the learning process. Role-playing and application to on-the-job settings.[27]
§ Contextual perspective focuses on the environmental and social aspects which can stimulate learning. Interaction with other people, collaborative discovery and the importance of peer support as well as pressure.[28]

Reusability, standards and learning objects

Much effort has been put into the technical reuse of electronically-based teaching materials and in particular creating or re-using Learning Objects. These are self contained units that are properly tagged with keywords, or other metadata, and often stored in an XML file format. Creating a course requires putting together a sequence of learning objects. There are both proprietary and open, non-commercial and commercial, peer-reviewed repositories of learning objects such as the Merlot repository.
A common standard format for e-learning content is SCORM whilst other specifications allow for the transporting of "learning objects" (Schools Framework) or categorizing metadata (LOM).
These standards themselves are early in the maturity process with the oldest being 8 years old. They are also relatively vertical specific: SIF is primarily pK-12, LOM is primarily Corp, Military and Higher Ed, and SCORM is primarily Military and Corp with some Higher Ed. PESC- the Post-Secondary Education Standards Council- is also making headway in developing standards and learning objects for the Higher Ed space, while SIF is beginning to seriously turn towards Instructional and Curriculum learning objects.
In the US pK12 space there are a host of content standards that are critical as well- the NCES data standards are a prime example. Each state government's content standards and achievement benchmarks are critical metadata for linking e-learning objects in that space.
An excellent example of e-learning that relates to knowledge management and reusability is Navy E-Learning, which is available to Active Duty, Retired, or Disable Military members. This on-line tool provides certificate courses to enrich the user in various subjects related to military training and civilian skill sets. The e-learning system not only provides learning objectives, but also evaluates the progress of the student and credit can be earned toward higher learning institutions. This reuse is an excellent example of knowledge retention and the cyclical process of knowledge transfer and use of data and records.
References
1. ^ a b Dublin, L. (2003). If You Only Look Under the Street Lamps... Or Nine e-Learning Myths. The eLearning Developers' Journal, 1-7.
3. ^ Oblinger, D.G. & Hawkins, B.L. (2005). The Myth about E-Learning. EDUCAUSE review, 14-15.
4. ^ Paulsen, M.F. (2009). "Resting in e-learning peace". Int. J. Networking and Virtual Organisations 6 (5): 460–475.
5. ^ Means, B.; Toyama, Y.; Murphy, R.; Bakia, M.; Jones, K. (2009), Evaluation of Evidence-Based Practices in Online Learning: A Meta-Analysis and Review of Online Learning Studies, retrieved 20 August 2009
6. ^ a b Zemsky, R.; Massy, W. (2004), Thwarted Innovation: What Happened to elearning and Why., Report for The Weatherstation Project of The Learning Alliance at the University of Pennsylvania in cooperation with the Thomson Corporation, p. 51., pp. 51
8. ^ EC (2000). Communication from the Commission: E-Learning - Designing "Tejas at Niit" tomorrow’s education. Brussels: European Commission
9. ^ Nagy, A. (2005). The Impact of E-Learning, in: Bruck, P.A.; Buchholz, A.; Karssen, Z.; Zerfass, A. (Eds). E-Content: Technologies and Perspectives for the European Market. Berlin: Springer-Verlag, pp.79-96
11. ^ Hebert, D. G. (2007). "Five Challenges and Solutions in Online Music Teacher Education". Research and Issues in Music Education 5 (1).
13. ^ [1]
14. ^ [2]
16. ^ Karrer, T (2007) Understanding eLearning 2.0. Learning circuit
17. ^ Downes, S (2005) E-Learning 2.0. http://www.downes.ca/post/31741
18.^ Redecker, Christine (2009). "Review of Learning 2.0 Practices: Study on the Impact of Web 2.0 Innovations on Education and Training in Europe". JRC Scientific and technical report. (EUR 23664 EN – 2009).
19. ^ Karrer, T (2008) Corporate Long Tail Learning and Attention Crisis http://elearningtech.blogspot.com/2008/02/corporate-learning-long-tail-and.html
20. ^ a b Seely Brown, John; Adler, Richard P. (2008). "Minds on Fire:Open Education, the Long Tail, and Learning 2.0". Educause review (January/February 2008): 16-32.
22. ^ [3]
24. ^ E-moderating: The Key to Teaching and Learning Online - Gilly Salmon , Kogan Page, 2000, ISBN 0-7494-4085-6
25.^ Bloom, B. S., and D. R. Krathwohl. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1
26. ^ Bååth, J. A. (1982) "Distance Students' Learning - Empirical Findings and Theoretical Deliberations"
27.^ Areskog, N-H. (1995) The Tutorial Process - the Roles of Student Teacher and Tutor in a Long Term Perspective
28. ^ Black, J. & McClintock, R. (1995) "An Interpretation Construction Approach to Constructivist Design."
29. ^ Graziadei, W.D., 1993. Virtual Instructional Classroom Environment in Science (VICES) in Research, Education, Service & Teaching (REST) [4]

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

Rabu, 30 Januari 2008

Cyber School di Kota Banjar Suatu Keniscayaan

ٱقْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذي Ø®َÙ„َÙ‚
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan.
﴿Ø®َÙ„َÙ‚َ الْØ¥ِÙ†ْسانَ Ù…ِÙ†ْ عَÙ„َÙ‚ٍ﴾
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
﴿ٱقْرَØ£ْ Ùˆَ رَبُّÙƒَ الْØ£َÙƒْرَÙ…ُ﴾
3. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah,
﴿ٱلَّذي عَÙ„َّÙ…َ بِالْÙ‚َÙ„َÙ…ِ﴾
4. yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
﴿عَÙ„َّÙ…َ الْØ¥ِÙ†ْسانَ ما Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ْ﴾
5. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.





By:
Arip Nurahman
Department of Physics Education
Faculty of Sciences and Mathematics, Indonesia University of Education

and

Follower Open Course Ware at Massachusetts Institute of Technology
Cambridge, USA
Department of Physics
http://web.mit.edu/physics/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Physics/index.htm
&
Aeronautics and Astronautics Engineering
http://web.mit.edu/aeroastro/www/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Aeronautics-and-Astronautics/index.htm
















Abstract


Virtual education refers to instruction in a learning environment where teacher and student are separated by time or space, or both, and the teacher provides course content through course management applications, multimedia resources, the Internet, videoconferencing, etc. Students receive the content and communicate with the teacher via the same technologies.[1]

Introduction

Characteristics of virtual education

Virtual education is a term describing online education using the Internet. This term is primarily used in higher education where so-called Virtual Universities have been established.

Virtual courses – a synonym is online courses – are courses delivered on the Internet. "Virtual" is used here to characterize the fact that the course is not taught in a classroom face-to-face but through some substitute mode that can be associated with classroom teaching.

A virtual program (or a virtual course of studies) is a study program in which all courses or at least a significant portion of the courses are virtual courses.

Instruction modes for virtual education

Many virtual study programs are mainly text based, using HTML, PowerPoint, or PDF documents. Multimedia technologies have been investigated for many years and eventually found their way into practice. Today a wide spectrum of instruction modes is available, including the following:
  • Virtual Classroom: A virtual classroom is a learning environment created in the virtual space. The objectives of a virtual classroom are to improve access to advanced educational experiences by allowing students and instructors to participate in remote learning communities using personal computers; and to improve the quality and effectiveness of education by using the computer to support a collaborative learning process. The explosion of the knowledge age has changed the context of what is learnt and how it is learnt – the concept of virtual classrooms is a manifestation of this knowledge revolution.
  • Hypertext courses: Structured course material is used as in a conventional distance education program. However, all material is provided electronically and can be viewed with a browser. Hyperlinks connect text, multimedia parts and exercises in a meaningful way.
  • Video-based courses are like face-to-face classroom courses, with a lecturer speaking and Powerpoint slides or online examples used for illustration. Video-streaming technologies is used. Students watch the video by means of freeware or plug-ins (e.g. Windows Media Player, RealPlayer).
  • Audio-based courses are similar but instead of moving pictures only the sound track of the lecturer is provided. Often the course pages are enhanced with a text transcription of the lecture.
  • Animated courses: Enriching text-oriented or audio-based course material by animations is generally a good way of making the content and its appearance more interesting. Animations are created using Macromedia Flash or similar technologies.
  • Web-supported textbook courses are based on specific textbooks. Students read and reflect the chapters by themselves. Review questions, topics for discussion, exercises, case studies, etc. are given chapterwise on a website and discussed with the lecturer. Class meetings may be held to discuss matters in a chatroom, for example.[2]
  • Peer-to-peer courses are courses taught "on-demand" and without a prepared curriculum. A new field of online education has emerged in 2007 through new online education platforms.

Communication and Interaction

Students in virtual education typically acquire knowledge in a uni-directional manner first (e.g. by studying a video, reading a textbook chapter). Subsequent discussions of problems, solving exercises, case studies, review questions, etc. help the students to understand better what they learned before. Electronic media like a discussion forum, chat room, voice mail, e-mail, etc. are often employed for communication.

Homework assignments are normally submitted electronically, e.g. as an attachment to an e-mail. When help is needed, lecturers, tutors, or fellow students, or a help desk are available, just like in a real university. The difference is that all communication goes via electronic media.

Platforms

Most virtual study programs use an e-learning platform (learning management system – LMS) to administer students and courses and to provide learning content. Examples of such systems are WebCT, Moodle, eFront and ATutor; there are also propriotary e-learning platforms like Tooling University.
  • Second Life has recently become a virtual classroom for major colleges and universities, including Princeton, Rice University, University of Derby (UK), Vassar, the Open University (UK),[3]. In 2007 Second Life started to be used for foreign language tuition [4]. Both Second Life and real life language educators have begun to use the virtual world for language tuition. English (as a foreign language) has gained a presence through several schools, including the British Council], which has focused on the Teen Grid. Spain’s language and cultural institute, the Instituto Cervantes has an island on Second Life.[5] A list of educational projects (including some language schools) in Second Life can be found on the SimTeach site.[6]
  • WebEx is also increasingly used as an online learning platform and classroom for a diverse set of education providers such as Fox School of Business for Templer University, Grades Grow, Minnesota State Colleges and Universities, and Sachem.[7] Webex is a Cisco Web Meetings and Collaboration Solution.[8] The platform has worked for educational institutions because of real time collaboration using an interactive whiteboard, chat, and VOIP technology that allows audio and video sharing. In distance learning situations, while replacing the classroom with features, institutions have also looked for security features which are inherently strong in a Cisco powered collaboration environment. The downside is that Webex is not a free platform.

Contents

Cyber School di Kota Banjar Suatu Keniscayaan

Di tengah kepenatan krisis moneter yang melanda kawasan Asia termasuk Indonesia dewasa ini termasuk segala implikasinya terhadap dunia pendidikan, terselip "secuil" berita dimulainya sebuah percontohan cyber school di Bandung  yang tak begitu mendapatkan publikasi luas, meskipun sebetulnya sangat penting dan patut dinilai tinggi. Seperti dilaporkan kantor berita Antara, ibukota propinsi Jawa Barat itu menjadi proyek percontohan pembentukan jaringan pendidikan melalui internet, sebagai upaya mewujudkan sarana komunikasi di bidang pendidikan menuju era Cyber School atau sekolah-sekolah yang tiada mengenal batas teritorial.

Sejak dunia internet berkembang pada awal 1990-an, dan mulai memasuki Indonesia, kita diperkaya dengan sejumlah kosa kata (vocabulary) yang benar-benar baru dan terkesan sedikit ‘gagah’ seperti cyber-space, cyber-city, cyber-school, cyber-medicine. Kata cyber dikonotasikan dengan sesuatu yang maya, sehingga kata cyber-space secara mudah dapat diartikan dengan dunia maya suatu dunia yang kasat mata tetapi bisa dilihat dan dirasakan dengan perantara produk teknologi, seperti komputer dan peranti telekomunikasi. Lalu, dari mana dan bagaimana kata cyberspace itu muncul dan mulai meluas?

Ternyata, istilah itu berasal dari sebuah karya fiksi ilmiah. Pada tahun 1984, terbit Neuromancer, sebuah fiksi ilmiah yang berkisah seputar jalinan hubungan antara otak manusia dan jaringan komputer. Dalam novel karangan William Gibson itulah, istilah cyber-space muncul untuk pertama kalinya. Kini, di ujung abad ke-20 ini, teknologi informasi dan komunikasi kian berkembang luar biasa, sehingga gambaran cyber-space yang dikhayalkan Gibson kian menjadi nyata.

Akhirnya kita bisa memahami makna cyber-space secara lebih konseptual. Yang paling sederhana adalah konsep dari Joan Buick dan Zoean Jevtiec, pengarang buku panduan bergambar buat para pemula, Mengenal Cyberspace. "Cyberspace akhirnya diartikan sebagai kombinasi teknologi informasi, penyimpanan, dan pencarian dengan telekomunikasi global dan reproduksi audio-visual domestik," tulis Buick dan Jevtic.

Lebih filosofis lagi, cyber-space pada tingkat tertentu, dapat dilihat – bahkan dirasakan -- sebagai gaya hidup. "Gaya hidup web," kata jugermaut industri perangkat lunak dan CEO Microsoft, Bill Gates. Ia memang percaya world wide web yang merupakan kehandalan internet akan memberikan manfaat dan sejumlah kemudahan bagi kehidupan manusia – termasuk untuk mewujudkan suatu "masyarakat tanpa kertas", terutama untuk masa yang akan datang. Gagasannya tentang masa depan memang tidak bisa dipisahkan dengan gagasannya mengenai suatu jaringan dunia, di mana "sebuah komputer pada setiap meja, dan di setiap rumah".

Internet Janjikan Kemudahan

Keunggulan internet terutama terletak pada potensi dan efektivitasnya yang menjanjikan kemudahan. The world on your fingertips – dunia berada di telapak tangan Anda. Ungkapan yang mulai lazim di dunia teknologi komunikasi ini tampaknya akan semakin bermakna dengan terwujudnya jaringan komunikasi adimarga (superhighway) di dunia pada abad ke-21. Suatu rekayasa manusia "memperkecil" dunia hingga berada dalam genggaman tangan, dengan mengakselerasi penyampaian informasi dan komunikasi interaktif secara elektronis.

Karenanya, beberapa saat lagi, wajah kota metropolitan dunia segera berubah. Pemandangan orang berbelanja di swalayan, menekan tombol ATM untuk membayar rekening, atau keramaian tempat bermain anak-anak, suatu saat akan sirna. Semua urusan yang dulunya membutuhkan waktu, tenaga dan jarak, nanti cukup diselesaikan sambil duduk di depan layar komputer dan dengan klik-klik-klik, semua beres. Untuk berbelanja, setelah memasukkan account number, dan klik, tak lama barang yang dipesan akan segera diantar melalui delivery services.

Begitupun untuk berkorespondensi, tak perlu repot-repot menulis surat, memasukkan ke amplop, membubuhi perangko dan mengantarkannya ke bis surat, tetapi cukup mengirim e-mail (electronic-mail) yang hanya membutuhkan pulsa telepon lokal untuk mengirim pesan ke mana saja ke berbagai belahan dunia. Tidak itu saja, Anda bisa berbicara langsung dengan rekan koresponden Anda, sambil melihat wajahnya secara langsung, dan itu tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Kontak dan komunikasi jarak jauh memang sangat efektif dan efisien (yang juga berarti murah) dilakukan dengan memanfaatkan jalur internet. Gagasan ini pula yang mulai membuat orang untuk melakukan seminar, wawancara, konferensi jarak jauh atau check-up kesehatan, termasuk untuk pendidikan atau sekolah jarak jauh melalui internet. Kuliah di web seperti virtual university sudah lama dimulai di AS, mahasiswa tinggal menyimak kuliah-kuliah pada jam tertentu di layar komputer dan mengikuti ujian secara interaktif. Jadi waktu yang biasa digunakan untuk berangkat ke kampus, atau berjalan dari ruang kuliah yang satu ke ruang yang lain bisa dihemat dan dimanfaatkan untuk bekerja part-time atau untuk urusan lainnya.

Percontohan Cyber School di Indonesia

Meski sejak beberapa bulan terakhir ini, Indonesia mencanangkan proyek Nusantara-21, kita melihat belum ada langkah yang bisa dikatakan sebagai kemajuan terhadap gagasan tersebut. Berbeda dengan negara tetangga kita, Singapura yang sudah meluncurkan Singapore-ONE (One Network for Everyone) atau Malaysia yang sudah memulai proyek MSC (Multimedia Super Corridor). Malaysia bahkan mengundang Bill Gates berbicara di Kuala Lumpur pertengahan Maret lalu. Dalam proyek itu, Malaysia yang juga berhasil menggaet Gates untuk berinvestasi, membangun sekolah-sekolah cerdas (Smart Schools) dan sebuah lembaga diklat untuk melahirkan programmer handal, Malaysian Young Programmer Club (MyPC).

Maka, tanpa gembar-gembor sebelumnya dan bukan merupakan bagian dari rencana Nusantara-21 yang kini entah mengendap di mana  di tengah krisis moneter pula, tiba-tiba sebuah percontohan cyber school yang menggunakan berbagai fasilitas internet seperti net meeting, tele-conferencing dan video-conferencing (berbeda dengan virtual school atau virtual university yang sekadar memanfaatkan tutorial lewat fasilitas web semata) untuk sejumlah SMU (Sekolah Menengah Umum) sudah dilakukan di Bandung. Artinya, cyber school terkesan lebih aktif, tetap membutuhkan ruang kelas, ruang seminar dan sejumlah peralatan labor – dan boleh dikatakan lebih "nyata".

Sebagai tahap awal merealisasikan pembentukan jaringan pendidikan itu ke seluruh Indonesia, Sonny Sugema College (SSC) sebagai penyedia fasilitas, saat ini baru merangkul sejumlah SMU Depdikbud di Kotamadya Bandung, kata Presiden Direktur SSC, H. Sonny Sugema, MBA di Bandung, (Antara, 15/4/98). Dalam acara peresmian jaringan pendidikan melalui internet antara SSC bekerjasama dengan Kandepdikbud Kotamadya Bandung dan PT Indosat, ia mengatakan, dalam tahap selanjutnya selain SMU akan dikembangkan ke sekolah-sekolah lanjutan pertama (SLTP) dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Jaringan pendidikan melalui internet yang pertama kali diterapkan di Indonesia itu, menurut Sonny, sampai saat ini sudah terjaring tujuh SMU Negeri di Bandung yang telah diresmikan dan online serta memiliki web sites (situs web/halaman informasi) di internet, yaitu SMUN 23, SMUN 2, SMUN 3, SMUN 5, SMUN 8, SMUN 22 dan SMUN 1, sekaligus dijadikan proyek percontohan dalam pengembangan kegiatan selanjutnya.

Dalam mewujudkan terbentuknya jaringan pendidikan tersebut, untuk langkah awal, PT Indosat sebagai provider (penyedia jasa layanan internet) telah bersedia memberikan 27 account (suatu saluran dari provider yang memungkinkan komputer mengakses atau diakses internet) secara cuma-cuma kepada SSC selama enam bulan. SSC sebagai penyedia fasilitas hosting dan multimedia gratis kepada sekolah-sekolah, mendistribusikan ke 27 account gratis tersebut ke 27 sekolah dan lembaga terkait yang sudah menjadi anggota jaringan pendidikan.

Untuk hosting, SSC menyediakan fasilitas multimedia secara cuma-cuma kepada sekolah-sekolah yang sudah menjadi anggota. Fasilitas yang ditawarkan meliputi free e-mail dan free homepage basic design secara gratis, net meeting, tele-conferencing dan video-conferencing yang memungkinkan sekolah-sekolah tersebut menyelenggarakan proses belajar mengajar jarak jauh.

Sebuah "Exercise" yang Menantang

Dengan telah diresmikannya pembentukan jaringan pendidikan tersebut, dalam waktu yang tidak lama lagi seluruh lembaga kependidikan -- tak terkecuali kantor-kantor dinas pendidikan dan kebudayaan dari pelosok daerah -- kantor pusat, sekolah-sekolah, mulai dari TK sampai PT, di Indonesia akan terkoneksi ke internet. Lembaga-lembaga pendidikan itu akan segera online dan mengadakan komunikasi interaktif secara real time dengan menggunakan fasilitas multimedia ke samudera informasi tanpa batas di cyber space internet.

Gagasan cyber school semacam ini memang relevan untuk dikembangkan dalam mengantisipasi masa depan yang kian kompetitif di tengah aroma persaingan teknologi informasi. Memang bagi Indonesia, hambatan seperti krisis moneter dewasa ini sangat mengganggu, tetapi yang namanya gagasan cemerlang tak mesti dilaksanakan esok hari. Sebab hal itu bisa dibahas dan diagendakan dulu, tetapi yang paling penting, harus ditangkap signifikansi gagasannya. Dan dengan keyakinan dan asumsi bahwa krisis moneter akan segera berlalu, kita memang tak perlu kecut untuk menyusun strategi masa depan.

Teladan di depan mata kita adalah Malaysia. Negeri jiran yang juga terkena imbas krisis moneter itu justeru tak menyurutkan langkahnya sedikit pun untuk membangun proyek raksasa MSC. Perdana Menteri Mahathir Mohammad justru sedang giat-giatnya melobi dan menarik minat investor asing untuk menanamkan dolarnya di Malaysia. Usaha itu ternyata tidaklah keliru: investor ternyata berbondong-bondong menanamkan modalnya – bahkan tak kurang boss Microsoft Bill Gates "jatuh cinta" pada proyek itu. Krisis moneter ternyata tidak membuat Malaysia harus "tidur mendengkur".

Itulah sebabnya, berita yang kelihatan "kecil" mengenai proyek percontohan cyber school di Bandung, sebenarnya memuat gagasan besar dan memberitahu kita bahwa sejarah baru telah dimulai. Masalahnya sekarang, bagaimana kita, atau yang lebih penting lagi pemerintah, menyikapi mendukungnya? Inilah kondisi yang bisa dikatakan sebagai point of no return, karenanya, harus dilanjutkan.

Cyber school akan membuat para siswa akan bersentuhan langsung dengan teknologi informasi, dalam hal ini internet. Para siswa akan dihadapkan pada sebuah dunia belantara informasi dan sebuah exercise yang sangat menantang. Tak pelak lagi, ada sejumlah prasyarat-prasyarat penting yang harus dimiliki sebelum siswa bersentuhan dengan internet. Yang dituntut tentu saja kesiapan mereka berhadapan dengan teknologi. Apa saja yang mencakup kesiapan itu?

Kesiapan itu, sebenarnya tak jauh dari keseharian mereka sebagai siswa: bahwa mereka harus benar-benar mencintai pelajaran-pelajaran mereka sendiri seperti matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS dan lain-lain, yang sangat berguna ketika mereka sedang mengakses informasi, terutama ketika melakukan penjelajahan dan pencarian (searching). Dengan materi pelajaran yang sama, tapi disampaikan lewat fasilitas internet, mungkin bisa mengurangi kebosanan siswa yang sering muncul. Mereka akan lebih bergairah. Di sini membuktikan bahwa teknologi, dalam hal ini internet, hanyalah sebuah alat, bukan tujuan, dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan.

Teknologi juga akan mengajarkan mereka efisiensi, kecermatan, ketelatenan dan bahkan kesigapan. Dengan proyek percontohan cyber school mereka akan segera familiar dengan istilah-istilah teknologi, suatu bekal yang amat penting dan relevan dalam menghadapi abad mendatang. Apa pun minat para siswa, apakah di bidang eksakta atau sosial, jangan jauhkan mereka dari teknologi, karena itu akan merugikan mereka. Akses teknologi akan dibutuhkan oleh semua orang, oleh semua bidang.

Kesiapan siswa saja, tentulah tidak cukup. Fasilitator yang menyelenggarakan program ini tentu membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Sehingga, kalau bukan subsidi yang akan diberikan, pemerintah bisa mendukungnya dengan terus melaksanakan deregulasi dan debirokratisasi yang dapat mempermulus berkembangnya industri jasa teknologi informasi dan sekaligus, pada saat yang sama, mendukung dunia pendidikan lewat cyber school.

Salah satu contoh yang paling aktual adalah menjeritnya para pengguna internet di Indonesia berhubung makin mahalnya pulsa telepon lokal di Indonesia  sebagaimana diketahui koneksi internet digemari justru karena menggunakan pulsa lokal. Ini mungkin mendesak untuk diperhatikan oleh pemerintah, mengingat besarnya animo masyarakat Indonesia terhadap internet. Tetapi animo yang besar itu lambat-laun akan menurun jika solusi pulsa telepon tak juga kunjung dipecahkan. Bila itu terjadi, tentu merupakan langkah mundur  set-back bagi Indonesia, dan untuk memulainya lagi tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat dan kerja keras lagi.

Bila pulsa telepon lokal tetap mahal, atau malah tambah mahal, program apapun yang memanfaatkan teknologi internet tak akan jalan dengan baik, termasuk kegiatan cyber school yang secara sukarela telah dipelopori SSC dan PT Indosat di Bandung.


Peluang Kota Banjar

Memang kedengaranya utopis sekali hal diatas untuk Kota Banjar yang baru berusia 4 tahun tapi kemungkinan untuk itu adalah suatu keniscayaan dengan dibangunnya WAN (Wide Area Network)yang terintegrasi untuk sekolah menegah maka itu sebuah langkah yang sangat prestisius dimana komitmen kearah perkembangan teknologi perlu disadari oleh generasi muda. Berharaplah dan yakinlah itu akan terjadi.

Mampuhkah Kota Banjar mewujudkan Cyber School?


Kita pasti bisa, yakin harus bisa!

References

  1. ^ Kurbel, Karl: Virtuality on the Students' and on the Teachers' sides: A Multimedia and Internet based International Master Program; ICEF Berlin GmbH (Eds.), Proceedings on the 7th International Conference on Technology Supported Learning and Training – Online Educa; Berlin, Germany; November 2001, pp. 133–136
  2. ^ Loutchko, Iouri; Kurbel, Karl; Pakhomov, Alexei: Production and Delivery of Multimedia Courses for Internet Based Virtual Education; The World Congress "Networked Learning in a Global Environment: Challenges and Solutions for Virtual Education", Berlin, Germany, May 1 – 4, 2002
  3. ^ Parker, Quin (2007-04-06). "A second look at school life", The Guardian. Retrieved on 2007-06-16.
  4. ^ Dorveaux, Xavier (2007-07-15). "Apprendre une langue dans un monde virtuel", Le Monde. Retrieved on 2007-07-15.
  5. ^ Cervantes Second Life
  6. ^ Institutions and Organizations in SL - SimTeach
  7. ^ Business School to Use WebEx to Connect Classrooms Around the World
  8. ^ Cisco Expands Collaboration Support
Wikibooks
Wikibooks has a book on the topic of



(Arip Nurahman, Guru dan Dosen Profesional)