Minggu, 24 Februari 2008

MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MEKANIKA MELALUI PENYAJIAN SECARA LOGIS



Fernando Espizona. Physics Education Journal vol 39 no 2 Maret 2004

A. LATAR BELAKANG
Pemahaman siswa tentang konsep gaya yang seharusnya terkandung dalam Hukum Newton (terutama Hukum II Newton) dapat mengalami pergeseran makna, dimana hal tersebut sangat bergantung pada situasi lingkungan. Non Newtonian diartikan sebagai pemahaman gaya yang seolah-olah sebanding dengan kecepatan dan mempunyai arah yang sama dengan kecepatan. Di sini terjadi konflik antara intuisi siswa tentang gerak dengan Hukum II Newton tentang gerak. Hal ini ditambah dengan kebiasaan siswa dalam mengerjakan soal yang terpaku pada: diketahui, ditanyakan, dan dijawab. Siswa cenderung kurang mengetahui lebih jauh tentang peristiwa (alur kejadian suatu konsep) dari soal tersebut.

B. MASALAH DAN PERTANYAAN PENELITIAN
Bagaimanakah solusi menangani kerancuan antara pemahaman tentang gaya dengan momentum? Bagaimanakah kita mengajarkan pemahaman terhadap konsep gaya dan momentum agar tidak menjadi kacau?

C. LANDASAN TEORI
Penyajian konsep secara urut dan logis mungkin tidak menjadi masalah bagi golongan Newtonian maupun non Newtonian. Nampaknya pengaruh non Newtonian terjadi karena ada konsep momentum yang berkaitan dengan gaya. Gaya bisa didefinisikan perubahan momentum tiap satuan waktu sehingga seolah-olah ada hubungan antara gaya dengan kecepatan. Bahkan mungkin juga pada umumnya, gaya menyebabkan percepatan dan arahnya akan sama dengan percepatan dan sangat mungkin nantinya searah dengan kecepatan. Tetapi tidak boleh ditinggalkan konsep bahwa arah kecepatan tidak seharusnya searah dengan arah gaya. Terutama dalam peristiwa gerak dengan kecepatan yang berubah.
Penulis juga banyak menjumpai di buku-buku SMA yang masih mendahulukan konsep gaya dari pada konsep momentum dulu. Dapat disimpulkan, hampir sebagian besar pembelajaran fisika di Indonesia mendahulukan konsep gaya dulu baru kemudian konsep momentum. Dalam Kertiasa, N. (1994) dijabarkan urutan materi mendahulukan konsep gaya baru kemudian konsep momentum. Begitu juga yang terjadi pada Giancolli (2001) juga mempunyai tata urutan materi yang sama, yaitu konsep gaya dulu baru kemudian konsep momentum.
Tidak ada prasyarat satu dengan yang lain pada materi gaya dan momentum. Sehingga dapat disajikan dengan bebas, mana dulu yang akan disampaikan. Pada umumnya, pembelajaran fisika selama ini terlebih dahulu disampaikan materi gaya, baru kemudian momentum. Namun dalam penyajian biasanya dicoba dikaitkan antara satu dengan yang lain. Bila dilihat materi keseluruhan kita dapat mengatakan bahwa materi gaya bisa merupakan bagian dari materi momentum. Untuk itu kiranya perlu dicoba penyajian materi tentang momentum dulu kemudian materi tentang gaya.

D. METODOLOGI (metode penelitian, subyek penelitian, instrument)
Dipilih populasi yang terdiri dari tiga kelompok siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yang terdiri dari 269 yang terdaftar dalam pembelajaran. Dua sub group masing-masing 70 siswa yang mendapat pembelajaran tradisional yaitu tentang gaya dulu baru momentum dan yang lain 66 siswa yang mendapat pembelajaran momentum dulu kemudian tentang gaya.
Kelompok pertama mengerjakan serangkaian aktivitas dalam `kertas tulis` tentang tes pemahaman gaya dan kelompok yang lain untuk memahami tentang momentum. Aktivitas diadministrasikan pada hari pertama dari kelas untuk menguji pemahaman tentang konsep sebelum pembelajaran. Dua kelompok yang lain dirancang sebagai perlakuan instuksional eksperimen dan kontrol. Satu kelompok dengan gaya sebelum momentum dan kelompok kedua dengan momentum sebelum gaya.
Berikutnya kedua kelompok itu diminta menggambarkan lintasan dari gerak proyektil dan dipilih tiga titik tertentu. Masing-masing titik, siswa harus menggambarkan arah dari momentum dan arah dari gaya yang terjadi pada partikel proyektil tersebut.

E. HASIL / TEMUAN
Dari 269 siswa yang diukur kemampuannya dalam pemahaman pada gaya dan momentum didapatkan data bahwa kemampuan memahami konsep momentum lebih tinggi dari pada pemahaman konsep gaya. Momentum diperoleh skor rata–rata 51 sedangkan konsep gaya diperoleh skor 38 dapat dikatakan bahwa kedua rata–rata itu signifikan berbeda.
Miskonsepsi yang berhubungan dengan gaya dapat dikurangi dengan membelajarkan konsep momentum dahulu baru konsep tentang gaya. Pembahasan momentum sebelum gaya meningkatkan performa (penampilan) siswa ketika berhadapan dengan gaya, dibandingkan dengan sebelumnya.

F. KOMENTAR
Keunggulan: Penelitian ini benar-benar mengungkap fakta sederhana namun kadang tidak disadari oleh para pengajar fisika dasar. Sehingga menimbulkan kesadaran untuk lebih berhat-hati dalam memilih urutan materi dan metode yang diajarkan. Penelitian ini juga dapat menimbulkan ide untuk meneliti secara menyeluruh tentang urutan materi pembelajaran yang sejauh ini dirasakan kurang dalam keberhasilannya. Contoh instumen yang digunakan cukup jelas dan menarik serta mengangkat hal–hal yang biasanya dalam pembelajaran sangat ditegaskan yaitu tentang gerak parabola.
Kelemahan: Tidak dirinci (dijabarkan) tentang bagaimana pembelajaran yang dilakukan pada saat treatmen (perlakuan). Bisa saja dengan treatmen yang bagus dapat mencapai hasil yang sama baiknya untuk kedua topik perkuliahan (pembelajaran). Sejauh ini dalam urutan pembelajaran di fisika dasar masih digunakan urutan gaya dulu baru kemudian momentum, untuk mahasiswa yang cukup pandai memang tidak pernah ada masalah dengan itu.

National Science Education Standards (NSES)


Panggilan untuk Beraksi
Negara ini telah menetapkan (established) sebuah tujuan dimana semua siswa harus menerima literasi sains. Standard Pendidikan Sains Nasional didesain untuk memungkinkan (enable) Negara mencapai tujuan itu. Mereka menerangkan sebuah visi pendidikan sains yang akan membuat literasi sains untuk semua realitas di dalam abad 21. mereka menunjuk kea rah (toward) sebuah tujuan (destination) dan menyediakan (provide) sebuah peta penunjuk jalan untuk bagaimana mendapatkannya.
Semua dari kita mempunyai acuan (stake), secara individual dan social, dalam literasi sains. Pemahaman pada sains membuat itu menjadi mungkin untuk setiap orang berbagi dalam kesempurnaan (richness) dan kegembiraan (excitement) secara menyeluruh dalam dunia alamiah. Literasi sains memungkinkan orang-orang untuk menggunakan prinsip-prinsip sains dan proses dalam pembuatan keputusan personal dan untuk berpartisipasi dalam diskusi mengenai isu-isu sains yang mempengaruhi (affect) lingkungan sosial. Dasar suara (sound grounding) dalam sains memperkuat (strengthen) berbagai skil yang orang pakai setiap hari, seperti pemecahan masalah secara kreatif, berpikir kritis, bekerja secara kooperatif dalam kelompok, penggunaan teknologi secara efektif, dan penilaian hidup – selama belajar (valuing life – long learning). Dan produktivitas ekonomi masyarakat kita dihubungan dengan ketat (tightly) pada skil sains dan teknologi gaya kerja kita.
Berbagai macam individu akan memainkan sebuah peran kritis dalam meningkatkan (improving) pendidikan sains: guru; supervisor sains; pengembang kurikulum; penerbit; yang bekerja dalam museum, kebun binatang, dan pusat sains; ilmuan dan insinyur yang dipunyai negara; tenaga administrasi sekolah; anggota tambahan sekolah; orang tua; anggota bisnis dan indudtri; dan legislative dan pekerja publik lainnya.
Individu dari semua kelompok dilibatkan (involve) dalam pengembangan Standard Pendidikan Sains Nasional, dan sekarang semua harus beraksi bersama-sama dalam kepentingan negara. Pencapaian literasi sains akan menghabiskan waktu karena standard meminta (call for) perubahan dramatis melalui sistem sekolah. Mereka menekankan (emphasize) sebuah jalan baru pada pengajaran dan belajar mengenai sains yang mencerminkan bagaimana sians sendiri dikerjakan, penekanan inkuiri sebagai sebuah jalan pencapaian pengetahuan dan pemahaman mengenai dunia. Mereka juga memohon (invoke) perubahan dalam siswa diajar, bagaimana performan mereka dinilai, bagaimana guru dididik dan dijaga langkahnya (pace), dan dalam hubungan antara sekolah dan the rest of the community – termasuk ilmuan dan insinyur negara. Standard membuat perolahan (acquiring) pengetahuan sains, pemahaman, dan kemampuan sebagai aspek sentral dalam Pendidikan, hanya sains yang menjadi aspek sentral dari masyarakat kita.
Standard Pendidikan Sains Nasional didapat (premised) dalam sebuah hukuman (conviction) yang semua siswa berhak (deserve) dan harus memiliki kesempatan untuk menjadi literasi yang saintifik. Standard melihat ke arah depan dalam semua pikiran orang amerika, familiar dengan ide dan proses sains dasar, dapat lebih berasa (fuller) dan hidup lebih produktif. Ini adalah visi harapan besar dan optimisme untuk amerika, salah satu yang dapat berbuat seperti gaya unik bertenaga (powerful unifying force dalam masyarakat kita. Kita digembirakan dan berharap lebih mengenai perbedaan bahwa Standard akan membuat hidup setiap individu dan vitalitas dari Negara.

NSES (National Science Education Standards, 1996)

Rabu, 20 Februari 2008

PENCIPTAAN TATA SURYA



Tata Surya (Solar System) merupakan salah satu bagian dari Galaksi Bima Sakti (Milky way). Sistem peredaran planet-planet terhadap matahari ini tercipta sejak dahulu kala. Para pakar astronomi mempunyai beberapa pendapat yang berbeda-beda mengenai terciptanya Tata Surya. Akan dibahas penciptaan Tata Surya yang cukup familiar dinatara kita, diantaranya yaitu:

1. Teori Big Bang (Dentuman Besar)
Menurut para ahli, teori ini yang banyak dipercaya yang paling mungkin terjadi bagi terciptanya Tata Surya kita. Big Bang atau dentuman besar merupakan sebuah teori dimana tata surya kita terbentuk karena ledakan sebuah bintang yang bersifat kontruktif bukan destruktif. maksudnya konstruktif yaitu bintang yang meledak menghasilkan bongkahan yang besar dan kecil-kecil. Selanjutnya, bongkahan besar itu lama-kelamaan tersusun menjadi matahari sedangkan bongkahan kecil yang berevolusi terhadap matahari sebagai planet-planet dan benda angkasa lainnya. Masing-masing planet mempunyai garis edar sendiri-sendiri terhadap matahari.

2. Teori Bintang Kembar
Teori bintang kembar menjelaskan kepada kita bahwa sebelumnya terdapat dua bintang. Dimana salah satu bintang tersebut meledak membentuk planet-planet dan yang bintang besar menjadi pusatnya yang selanjutnya menjadi matahari. Dimana setiap planet-planet baru yang tersusun tersebut mengitari matahari (bintang besar) pada lintasan orbitnya masing-masing.

3. Teori Kabut Nebula
Menurut teori nebula, sebelumnya tata surya kita terbentuk dari debu-debu angkasa yang memilin (berputar pada porosnya). Perputaran ini mengakibatkan lama-kelamaan debu angkasa ini menggumpal dan mendingin. Saat berputar, bagian terluar dari pilinan ini terpental keluar yang selanjutnya mendingin dan membentuk planet-planet.
Dari ketiga teori penciptaan Tata Surya kita yang familiar bagi kita, terutama kaum pendidik dalam hal ini Guru dan peserta didik (siswa), sedikit banyak memberikan gambaran bagi kita bahwa alam semesta khususnya sistem tata surya kita tercipta dengan begitu agungnya. Sehingga hasil ciptaaNya ini dapat kita manfaatkan sebagai tempat tinggal seperti halnya Bumi. walaupun teori yang berkembang berbeda-beda, kita dapat mengambil hikmah dan sarinya, bahwa pemikiran manusia itu selalu berkembang.

Secercah torehan tinta By Syam
Buat temanku yang lagi butuh materi ini Anik Pkl

Senin, 18 Februari 2008

Pedoman Penulisan Jurnal di BALITBANG DIKNAS

Pedoman Penulisan Jurnal di BALITBANG DIKNAS

oleh: Arip Nurahman
Guru dan Dosen Profesional
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University. Cambridge. U.S.A


Dewasa ini, merebaknya komunikasi data dan informasi global melalui fasilitas Internet merupakan salah satu gejala baru dalam globalisasi informasi yang semakin cepat dan meluas. Kami menyadari bahwa para pemakai Internet selalu membutuhkan informasi- informasi terbaru cyberspace dalam dunia yang terus berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan para pengguna internet kami bermaksud memperkenalkan Balitbang Depdiknas.



Login:

Username: Aripnurahman
Password: pendidikankami




  1. Naskah belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain, diketik dengan 2 spasi pada kertas kuarto, jumlah 10-30 halaman dilengkapi abstrak sebanyak 100-150 kata dan kata kunci sebanyak 5 pengertian (deskriptor). Naskah dikirim ke alamat redaksi dalam bentuk ketikan dan disertai disketnya. Berkas naskah dalam disket diketik dengan menggunakan pengolah kata Microsoft Word.
  2. Naskah yang dapat dimuat dalam jurnal ini meliputi tulisan tentang kebijakan, penelitian, pemikiran, reviu teori/konsep/metodologi, resensi buku baru, dan informasi lain yang berkaitan dengan permasalahan pendidikan dan kebudayaan.
  3. Artikel hasil penelitian memuat judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi. Isi artikel mempunyai struktur dan sistematika serta presentase jumlah halaman sebagai berikut.
    1. Pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah, dan tujuan penelitian (10%).
    2. Kajian Literatur mencakup kajian teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan (15%).
    3. Metodologi yang berisi rancangan/model, sampel dan data, tempat dan waktu, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data (10%).
    4. Hasil dan Bahasan (50%).
    5. Simpulan dan Saran (15%).
    6. Pustaka Acuan. (Sistematika/stuktur ini hanya sebagai pedoman umum. Penulis dapat mengembangkannya sendiri asalkan sepadan dengan pedoman ini).
  4. Artikel pemikiran dana atau reviu teori memuat judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi. Isi artikel mempunyai struktur dan sistematika serta persentasenya dari jumlah halaman sebagai berikut.
    1. Pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penulisan (10%).
    2. Kajian literatur dan pembahasan serta pengembangan teori/konsep (70%).
    3. Simpulan dan saran (20%).
    4. Pustaka Acuan. Sistematika/struktur ini hanya sebagai pedoman umum. Penulis dapat mengembangkannya sendiri asalkan sepadan).
  5. Artikel resensi buku selain menginformasikan bagian-bagian penting dari buku yang diresensi juga menunjukkan bahasan secara mendalam kelebihan dan kelemahan buku tersebut serta membandingkan teori/konsep yang ada dalam buku tersebut dengan teori/konsep dari sumber-sumber lain.
  6. Khusus naskah hasil penelitian yang disponsori oleh pihak tertentu harus ada pernyataan (acknowledgement) yang berisi informasi sponsor yang mendanai dan ucapan terima kasih kepada sponsor tersebut.
  7. Pustaka Acuan disajikan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis.
Bruner,J. 1960. The process of education. New York: Vintage
Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengabdosian Inovasi. Forum Penelitian, I (1): 33-47.
  1. Tata cara penyajian kutipan, rujukan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Terbitan JIP. Naskah diketik dengan memperhatikan aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (terbaru).
  2. Pengiriman naskah disertai dengan alamat, nomor telepon, fax atau E-mail (bila ada). Pemuatan atau penolakan naskah akan diberitahukan secara tertulis. Naskah yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan, kecuali atas permintaan penulis. Kepada penulis diberikan 2 eksemplar jurnal sebagai tanda bukti pemuatan.
  3. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

    Terbit enam kali setahun (2 Bulanan)

    pada bulan Januari, Maret, Mei Juli, September, November.

    ISSN 0215-2673


    Penanggung jawab

    Prof. DR. H. Mansyur Ramly


    Penyunting Ahli

    Dr. Burhanuddin Tola, M.A., Dr. Siskandar, M. A., Ade Cahyana, M.Sc.,

    Dra. Diah Harianti, M.Psi., Dr. Agung Purwadi, M.Eng.


    Penyunting Mitra Bestari

    Prof. Made Komang Tantra, M.Sc, Ph.D.

    Ketua Penyunting

    Drs. Subijanto, M.Ed.

    Penyunting Pelaksana

    Dr. Herry Widyastono, M.Pd., Dr. Retno Wahyuningsih. W.,

    Dr. Nonny Swediati, Ir. Siswo Wiratno, M.M.,

    Dra. Ida Kintamani Dewi, M. Sc., Puji Astuti, SE., M.M.,

    Drs. Sutjipto, M. Pd., Dra. Lestyani Yuniarsih, M.Ed.Adm.


    Pelaksana Tata Usaha

    Drs. Kasidjo, M.M., Syahril S Lubis, Bandiyah, S.IP.

    Penerbit

    Badan Penelitian dan Pengembangan

    Departemen Pendidikan Nasional

    Izin Terbit

    SK MENPEN NO. 1045/SK/Ditjen

    PPG/STT/1986 Tgl. 7 Agustus 1986

    dan SK MENPEN NO.:88/Ditjen PPG/K/1995

    Tgl. 30 Mei 1995

    “Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan” semula bernama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayan dan diterbitkan sejak no. 001 tahun I bulan November 1995. Akreditasi Jurnal ini telah diperbarui dengan Surat Keputusan Dirjen Dikti DepdiknasRI, No. 39/Dikti/Kep/2004 sebagai Jurnal Ilmiah Nasional.

    Alamat Penyunting dan Tata Usaha

    Sekretariat Balitbang Depdiknas

    Jl.Jend. Sudirman, Senayan

    Kotak Pos 4104, Jakarta 12041

    Telepon: (021)5731665, pes. 510, 511

    Fax: (021) 5721244 - 45

    Homepage http://www.depdiknas.go.id

    E-mail: Jurnal_dikbud@depdiknas.go.id

    Distribusi

    Bagian Umum,

    Sekretariat Balitbang Depdiknas

    Tata Usaha menerima artikel tentang kebijakan, penelitian, pemikiran, reviu teori/konsep/metodologi, resensi buku baru, dan informasi lain yang berkaitan dengan permasalahan pendidikan dan kebudayaan.

    Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis
Sumber: BALITBANG Diknas

Rembuk Nasional

Rembuk Nasional Pendidikan 2008: Bahas Pemantapan Sembilan Terobosan Kebijakan Pendidikan

Oleh: Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, U.S.A.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menggelar Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) 2008 pada 4 sampai dengan 6 Februari 2008. Bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Depdiknas, Sawangan, Depok, kegiatan tahunan ini akan membahas pemantapan sembilan terobosan kebijakan di bidang pendidikan.

Sekretaris Jenderal Depdiknas, Dodi Nandika, selaku Ketua Panitia RNP Tahun 2008, menjelaskan, pada RNP 2008 akan dibahas tiga materi pokok yakni, evaluasi capaian kinerja pembangunan pendidikan tahun 2005-2007,

Pemantapan pelaksanaan sembilan terobosan kebijakan pendidikan, dan peningkatan pemahaman terhadap tujuh isu pokok pendidikan.

"Tiga isu pokok ini dianggap sangat signifikan sebagai bagian dari pelaksanaan rencana strategis (renstra) Depdiknas 2005-2009," katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Pusat Informasi dan Humas Depdiknas, Jakarta, Rabu (30/1/2008).

RNP 2008 dengan tema "Pemantapan Pencapaian Target Renstra 2005-2009" direncanakan dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada Senin, 4 Februari 2008. Kegiatan ini akan diikuti oleh sebanyak 1.225 peserta, terdiri atas para pengambil kebijakan di bidang pendidikan, diantaranya Pimpinan Komisi X DPR RI, Ketua Panitia Ad-Hoc III DPD RI, Pejabat Eselon I dan II Depdiknas, Gubernur, Bupati/Walikota, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota,

Ajang ini juga akan melibatkan para rektor perguruan tinggi negeri dan koordinator perguruan tinggi swasta (Kopertis), Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Depdiknas di daerah, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Pendidikan, Atase Pendidikan, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, serta Dubes/KWRI RI di UNESCO.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mewujudkan kesepahaman berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan dalam rangka meningkatkan pemerataan dan perluasan akses, meningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta meningkatkan tata kelola (good governance), akuntabilitas, dan citra publik.

Melalui RNP 2008 diharapkan dapat mengevaluasi program dan target kinerja pembangunan pendidikan selama tahun 2005 s.d. 2009 pada tiap-tiap unit utama di Depdiknas. Selain itu, makin mantapnya pelaksanaan sembilan terobosan kebijakan pendidikan.

Terobosan kebijakan pendidikan tersebut meliputi:

Pendanaan pendidikan,
Peningkatan kualifikasi,
Kompetensi,
dan Sertifikasi Guru dan Dosen,
Penetapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk e-pembelajaran dan e-administrasi, Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan.

Selanjutnya,
Rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan,
Reformasi perbukuan,
Peningkatan mutu,
Relevansi,
dan daya saing pendidikan secara komprehensif,
Penguatan tata kelola,
Akuntabilitas,
dan citra publik pendidikan secara komprehensif,
Serta pendidikan nonformal dan informal untuk menggapai yang tak terjangkau
(reaching the unreached).

Sementara, tujuh isu pokok pendidikan yakni:

1. Penuntasan Program Wajar Dikdas Sembilan Tahun,
2. Pemberantasan angka buta aksara,
3. Peningkatan akses ke sekolah menengah dan

4. Perimbangan jumlah siswa sekolah menengah atas (SMA) dibandingkan dengan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK),
5. Peningkatan akses dan kualitas perguruan tinggi, terutama melalui peningkatan kapasitas perluasan politeknik,
6. Redistribusi guru dan
7. Antisipasi kekurangan guru dalam waktu lima tahun ke depan.

Selanjutnya, evaluasi pelaksanaan ujian nasional (UN), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), e-administration, e-learning, akreditasi sekolah/madrasah dan perguruan tinggi, bantuan operasional sekolah (BOS) dan BOS buku, rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru dan dosen, dan pendidikan kecakapan hidup, evaluasi pelaksanaan otonomi satuan pendidikan dan peran serta masyarakat.

Pada pembukaan RNP 2008, direncanakan Mendiknas akan meluncurkan beberapa hasil program baru Depdiknas yakni:

1. Nomor Induk Siswa Nasional (NISN);
2. Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN);
3. Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK);
4. Pangkalan Data Informasi Berbasis Web (Padati-Web);
5. Direktori Doktor; dan
6. Perpustakaan Maya.

Selama kegiatan berlangsung, Pusat Informasi dan Humas (PIH) Depdiknas akan menyediakan fasilitas media center guna menunjang kegiatan jurnalistik bagi media cetak dan elektronik.

sumber: diknas info

Jumat, 15 Februari 2008

STRUKTUR BOLA MATA


RESEPTOR & LINTASAN
INDERA PENGLIHATAN
MEKANISME & PERSEPSI
INDERA PENGLIHATAN
Rangsangan ? Kiasma optikus ? saraf optikus ( N II ) ? retina ? lensa ?Cahaya semua serabut dr bag.nasal retina menyeberangi garis tengah & ?bergabung dg serabut2 yg berasal dr bag. Temporal retina mata yg lain radiasi optik /? nukleus/ korpus genukulatum lateral ?traktus optikus korteks visual di puncak lobus oksipital,?optic projection fibers area kalkarina.


RESEPTOR & FUNGSI NEURAL RETINA
A. ANATOMI & FUNGSI UNSUR PENYUSUN RETINA

Lapisan-lapisan retina :
Lapisan pigmen
Lapisan fotoreseptor, tdd sel batang & sel kerucut, yg menonjol pd lap.pigmen.
Membran pembatas luar
Lapisan inti luar, mrp susunan lapis inti sel batang & sel kerucut.
Lapisan pleksiform luar, mrp lapis aseluler & mrp t4 sinaps sel fotoreseptor dg sel bipolar & sel horisontal
Lapisan inti dalam, mrp tubuh sel bipolar & sel horisontal. Lapis ini mdpt nutrisi dr a.retina sentral.
Lapisan pleksiform dalam, mrp lapis aselular, t4 sinaps sel bipolar, sel amakrin dg sel ganglion.
Lapisan ganglionik
Lapisan serabut saraf optik, mrp lapis akson sel ganglion menuju saraf optik
Membran pembatas dalam, mrp membran hialin antara retina & badab kaca.

Cahaya sp.sel batang? lap.retina dlm ? h.vitreus ? lensa ? & ?kerucut ?jarak yg ditempuh mrp ketebalan yg besarnya bbrp ratus mikron mll jar. Non homogen.?mengurangi tajam penglihatan
?Di tengah retina ada daerah sgt kecil < u/ penglihatan akut? makula ?1mm & rinci.
fovea.? 0,4 mm ?Bag. Tengah makula
mendeteksi lbh rinci bayangan visual.?Fovea seluruhnya tdd sel kerucut yg punya struktur khusus
Dlm daerah tsb pemda, sel ganglion, lap.inti dlm & lap.pleksiform cahaya tiba di konus tanpa mendpt?terletak lbh tersebar di satu sisi memperjelas tajam persepsi?peredaman o/ bbrp lapis retina penglihatan.

Diagram fotoreseptor
4 segmen fungsional utama :
Segmen luar
Segmen dalam
Inti
Badan sinaps
Dlm segmen luar ditemukan fotokimia peka cahaya/warna :
rodopsin?Sel batang
iodopsin?Sel kerucut
Struktur hampir sama tp kepekaan thd spektrum cahaya berbeda.

Segmen dlm mengandung sitoplasma sel & organela sitoplasmik biasa. Yg berperan menyediakan sebagian besar energi? mitokondria ?terpenting u/ berfgnya fotoreseptor.
Badan sinaps,mrp bag.dr sel batang& berhub. Sel horisontal?kerucut & sel bipolar.
Lapisan pigemen retina
Pigmen hitam melanin dlm lap.pigmen & mencegah pantulan cahaya dr?koroid bguna u/ penglihatan yg jelas.?bag.lengkung bola mata
Tanpa pigmen kekacauan? cahaya dipantulkan kesemua jurusan dlm bola mata ? tdk menimbulkan kontras titik gelap?penyinaran diretina & terang yg dibutuhkan u/ mbtk bayangan yg tepat.
Ex. Pd albino.
Lap.pigmen jg menyimpan sejml besar vit. A

Perdarahan masuk dlm mata bersama? a.retina sentral ?nutrisi u/ lap.dlm retina bercabang” u/ mensuplai seluruh permukaan retina.?saraf optik
Lap.luar retina termasuk segmen lur sel batang & sel kerucut yg melekat pada koroid (mrp jar.kaya pemda) bergantung pd difusi pemda koroid u/ nutrisinya t.u O2

B. FOTOKIMIAWI PENGLIHATAN
* oleh sel batang
Rodopsin.?Segmen luar sel batang mengandung 40 % pigmen peka cahaya
Rodopsin ini kombinasi : protein skotopsin & senyawa protein retinal tipe khusus yg disbt 11-cisretinal.
Hanya btk 11-cisretinal saja yg dpt berikatan dg skotopsin agar dpt mensintesa rodopsin


* Oleh sel kerucut
Fotokimiawi penglihatan warna
Fotokimiawi dlm sel kerucut hampir sama persis dg sel batang, perbedaannya pada protein OPSIN :
SKOTOPSIN?Sel batang
FOTOPSIN?Sel kerucut

Pigmen peka warna sel kerucut (iodopsin) mrp kombinasi antara RETINAL dg FOTOPSIN.
Dlm bermacam” sel kerucut tdpt 3 tipe fotokimiawi yg menyebabkan sel kerucut punya kepekaan yg selektif thd warna.
Fotokimiawi tsb:
Pigmen peka warna biru
Pigmen peka warna hijau
Pigmen peka warna merah

Sifat absorpsi dr pigmen yg tdpt dlm ke3 mcm kerucut menunjukkan bahwa puncak absorpsi adl pd panjang gelombang cahaya sebesar 445, 535, & 570 mili mikron.
Panjang gelombang tsb mrpkan puncak sensitivitas cahaya u/ setiap tipe kerucut.


C. PENGLIHATAN WARNA
Teori Young-Helmholtz :
ada 3 tipe sel kerucut, dimana setiap kerucut ini dpt berespon scr ? dibuat perincian lbh lanjut ?maksimal thd berbagai mcm warna mekanisme daya lihat thd warna.


interpretasi warnanya.?Cahaya monokromatik tertangkap o/ sel kerucut sesuai panj.gelombang
Seseorang dpt jg mempunyai sensasi warna kuning bila ada cahaya merah & cahaya hijau yg dipancarkan ke mata scr bersamaan merangsang sel kerucut merah & timbul sensasi warna kuning?sel kerucut hijau walaupun sebenarnya tdk ada panj.gelombang yg sesuai dg warna kuning.


Rangsangan yg kurang lebih sama besar pd sel kerucut merah, hijau & memberi sensasi penglihatan warna putih.?biru
tdk ada panjang gelombang warna putih.?Ternyata
kombinasi semua panjang gelombang cahaya.?Berarti warna putih
BUTA WARNA
orang tdk dpt membedakan bbrp warna dr warna yg lain.?Bila mata tdk punya sekelompok sel kerucut yg dpt menerima warna
buta warna “merah-hijau”.?Bila sel kerucut merah / hijau (-)
“kelemahan warna”.?Bila salah atu macam/lebih sel kerucut mengalami kelainan tp msh berfg sebagian
seluruh spektrum penglihatan akan memendek pd akhir gelombang yg panjang.?Protanopi : orang yg tdk punya sel kerucut merah
punya spektrum panjang gelombang yg normal. ????Deuteranopi : orang yg tdk punya sel kerucut warna hijau

kurangnya reseptor u/ warna biru.?Kelemahan warna biru
spektrum penglihatan org tsb lbh banyak sensasi warna hijau, kuning, jingga?Bila reseptor warna biru (-) & merah.
tdk adanya gen warna yg sesuai dlm kromosom X.?Buta warna
dlm 1 kromosom ini harus ada ke 3 gen warna.? ♂ hanya punya 1 kromosom X
deuteranopi.? protanopi, 6% ?2% ♂
jarang buta warna merah-hijau.?♀ punya 2 kromosom X



TUGAS BACA
Adaptasi dalam gelap & cahaya.
Perangsangan sel btang & kerucut, sel nipolar, sel horisontal, sel amakrin & sel ganglion.
Fungsi korteks penglihatan primer.
Penentuan garis & batas oleh korteks penglihatan primer.
Analisis warna o/ korteks penglihatan primer.

DOWNLOAD STRUKTUR BOLA MATA VERSI POWERPOINT

Prev: KESEHATAN IBU & BAYI SETELAH MELAHIRKAN
Next: Otot kerangka tubuh manusia

Syam 2008 (id.wikipedia.org)

Senin, 11 Februari 2008

Kualitas Pendidikan Finlandia adalah yang Terbaik di Dunia

Para Guru dan Dosen Profesional, Amin!

"Saya meyakini bahwa Kualitas Pendidikan di Indonesia akan menjadi yang terbaik pada tahun 2028, atau bahkan lebih cepat dari itu"
~Arip Nurahman~

Di tambah dan di edit oleh:

Arip Nurahman

(Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. U.S.A.)

Negara Finlandia bukan hanya terkenal karena negaranya mampu menjadi markas besar perusahaan NOKIA, Perusahaan Telepon genggam terbesar di Dunia, namun tahukah kita, bahwa negara ini adalah negara terbaik dalam bidang pendidikan, menurut sumber OECD (Organization for Economic Cooperation Development).

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di Dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa negara yang menduduki peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai Indonesia dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat 1 Dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD ). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA, yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan keunggulannya dalam pendidikan untuk anak-anak lemah mental (PLB).

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No. 1 Dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan, Finlandia memang menganggarkan biaya yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau membombardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya?

Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas Gurunya.


1. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula.

2. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.

3. Lulusan terbaik dari sekolah menengah biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!

Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

"Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan siswa, bagaimana cara untuk lolos ujian," ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekerja dengan lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan.

"Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah," Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. "Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel.

Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan," sambungnya.

Siswa yang lambat akan mendapatkan dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya , bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut malah akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.

Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

"Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa," kata seorang guru, "maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!"

Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Semoga Bermanfaat!

Ucapan Terima Kasih yang Setinggi-tingginya Kepada Sahabat-Sahabat terbaik dan Inspirator-inspirator terunggulku Wabil Khusus kepada:

Gerombolan MQ (Penjaga Mesjid Manbaul Ullum First Generation)

Deni Nugraha, Nararya Rahadiyan B., Widiya Prima M., Ade Akhyar Nurdin
(Gak Pake Top) ^_^, Ismail Muhammad Syahid.

Ucapanku: "Kade euy tong paroho dahar, sare anu cukup jeung solat, sing rajin digawe jang bekel rumah tangga, najan paanggang raga jeung sukma, tanwande ulah era jeung karagok silih mamatahan dina kabeneran jeung kasabaran, kuring mah ngan saukur mere dunga!, brall geura mariang cuprih pangarti teangan kasenangan dunya, tong poho jalma leutik"

wasalam wr.wb.

sumber:Fergus Bordewich dan lainnya


Arip Nurahman
Guru dan Dosen Profesional