LUBUKLINGGAU-HUT RI ke-65 di SMA PGRI I Lubuklinggau dimeriahkan dengan berbagai perlombaan. Selain dari pada itu, pada upacara bendera HUT RI ke-65 pihaknya menampilkan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kota Lubuklinggau tahun 2009.
Dengan harapan dapat memotivasi para siswa siswi di sekolah ini untuk terus berupaya dan menggali potensi diri yang ada. Kegiatan itu dilaksanakan di halaman SMA PGRI I Lubuklinggau, Jalan Pioner Kelurahan Air Kuti Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Selasa (17/8). Kepala Sekolah (Kasek) SMA PGRI I Lubuklinggau Nur Elly, melalui pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Wiliam, kepada wartawan koran ini, mengaku bangga dan kagum melihat kreativitas anak didiknya saat menyambut, memeriahkan dan melaksanakan upacara HUT RI ke-65 tahun 2010 di sekolahnya, Selasa (17/8).
“Ada berbagai lomba digelar menjelang HUT RI di SMA PGRI Lubuklinggau, antara lain pertandingan futsal, bola voli putri, dan lomba pidato Bahasa Inggris antar kelas. Ketiga cabang lomba tersebut telah diperlombakan sebelum menghadapi bulan suci Ramadhan 1431 H. Tujuannya untuk mepererat tali silaturrahmi antara siswa siswi dan dewan guru, serta meningkatkan rasa nasionalisme guru dan siswa di lingkungan SMA PGRI I Lubuklinggau,” jelasnya.
Selasa (17/8) usai upacara bendera, pihaknya mengadakan lomba puisi religi dan kaligrafi, yang dilaksanakan satu hari. Dengan adanya kegiatan lomba tersebut suasana peringatan HUT Kemerdekaan RI di SMA PGRI I Lubuklinggau nampak semarak, karena didukung tinggi antusias dan partisipasi siswa. Mengenai pembagian hadiah bagi pemenang lomba akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Tetapi untuk hari dan waktunya belum dapat ditetapkan,” tandasnya.
Ia menambahkan, Kasek SMA PGRI I Lubuklinggau memberikan apresiasi positif dengan perlombaan yang digelar, karena beberapa lomba yang diadakan pada perayaan HUT RI tahun ini dinilai ada peningkatan partisipasi siswa. Ini tidak terlepas dari peran Kepala sekolah dan Pembina OSIS yang proaktif mengajak warganya terlibat dalam berbagai kegiatan lomba menjelang HUT RI ke-65 ini. “ Kami berterimakasih, karena tahun ini nampak tingkat partisipasi siswa cukup tinggi, dibanding tahun lalu,” ungkap wiliam.
Perlombaan yang telah dilaksanakan ini lanjutnya, sesuai dengan potensi dan minat bakat anak masing-masing. “Kita berharap kepada siswa/siswi melalui perlombaan ini dapat menjadi motivasi bagi mereka. Sehingga siswa siswi SMA PGRI I Lubuklinggau, mampu mendulang prestasi sebaik mungkin,” bebernya.
Untuk diketahui, ditahun 2010 ini sedikitnya 9 orang siswa SMA PGRI I Lubuklinggau tergabung dalam Paskibra 2010. Untuk itu, dalam perekrutan peserta paskibra harus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Adapun kriteria yang telah ditetapkan, seperti tinggi badan minimal 165, terhindar dari narkoba, sehat jasmani dan rohani serta berketerampilan. “alhamdulillah, dengan kita mengikuti kriteria tersebut, siswa kita setiap tahunya ada yang terplih menjadi anggota paskibra,” pungkasnya.(10)
Selasa, 17 Agustus 2010
PPM Lahir untuk Mengisi Kemerdekaan
LUBUKLINGGAU- Komandan Batalyon 14 Resimen Yudha Putra Pemuda Panca Marga (PPM) Kota Lubuklinggau Hamdan Kamal, menegaskan kemerdekaan RI berawal dari gerakan kebangsaan dan tumbuhnya nasionalistik/patriotic di zaman Jepang. Maka dari itu lahirlah bangsa Indonesia dengan mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan RI.
Menurut Hamdan, berdasarkan fakta perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yang dimulai dengan kobaran semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
“Sejak itu lahirlah kebangkitan nasional 1908 dan sumpah pemuda 1928, serta pembentukan ide Indonesia merdeka,” kata Hamdan Kamal, kepada wartawan koran ini, Senin (16/8).
Dengan perjuangan dan perlawanan bersenjata mempertahankan kemerdekaan RI, lanjut Hamdan, didirikanlah LVRI yang dilandasi UU veteran pejuang kemerdekaan RI Juncto Keppres No. 103 tahun 1957 yang berlanjut dengan perjuangan pembelaan kemerdekaan dalam trikora, dwikora dan tim-tim yang memunculkan veteran pembela kemerdekaan RI serta UU tentang Veteran RI, No. 7 tahun 1967 yang mencakup veteran pejuang dan pembela kemerdekaan RI bersama-sama dengan segenap komponen bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional. “Maka lahir Pemuda Panca Marga (PPM),” ujarnya.
Di era reformasi menuju Indonesia Baru, dalam dinamika berbangsa dan bernegara dengan konsep kehidupan demokrasi dan Hak Azazi Manusia (HAM) memberi kesan yang kuat, yang berorientasi kepada dunia barat dengan peranan aktif dari kalangan cendikiawan baik dalam maupun luar negeri. “Dari fenomena perkembangan bangsa dan negara kita sekarang. Saya menghimbau tokoh-tokoh generasi penerus bangsa khususnya (PPM) Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau, untuk merenungi kembali buah pikiran mantan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy yang menyatakan “jangan bertanya apa yang dapat diberikan negara kepada anda, akan tetapi bertanyalah apa yang dapat anda berikan kepada Negara,” bebernya.
Dengan demikian bila diteliti lagi gagasan Kennedy lanjut Hamdan, maka akan sependapat bahwa sebenarnya gagasan itu telah dirancangkan jauh sebelumnya. “Para veteran pejuang kemerdekaan RI (menjadi TNI) berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda tanpa pamrih bersama rakyat Indonesia,” jelasnya.
Seiring dengan hal tersebut, tambah Hamdan, panglima besar Sudirman memberikan pengarahan kepada pemuda kala itu. “Percaya pada kekuatan sendiri, teruskan perjuanganmu, korban sudah cukup banyak, pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian, tentara kita jangan sekali-kali mengenali sifat menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah kita kembali serta pegang teguh disiplin tentara lahir bathin,” bebernya. (10)
Menurut Hamdan, berdasarkan fakta perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yang dimulai dengan kobaran semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
“Sejak itu lahirlah kebangkitan nasional 1908 dan sumpah pemuda 1928, serta pembentukan ide Indonesia merdeka,” kata Hamdan Kamal, kepada wartawan koran ini, Senin (16/8).
Dengan perjuangan dan perlawanan bersenjata mempertahankan kemerdekaan RI, lanjut Hamdan, didirikanlah LVRI yang dilandasi UU veteran pejuang kemerdekaan RI Juncto Keppres No. 103 tahun 1957 yang berlanjut dengan perjuangan pembelaan kemerdekaan dalam trikora, dwikora dan tim-tim yang memunculkan veteran pembela kemerdekaan RI serta UU tentang Veteran RI, No. 7 tahun 1967 yang mencakup veteran pejuang dan pembela kemerdekaan RI bersama-sama dengan segenap komponen bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional. “Maka lahir Pemuda Panca Marga (PPM),” ujarnya.
Di era reformasi menuju Indonesia Baru, dalam dinamika berbangsa dan bernegara dengan konsep kehidupan demokrasi dan Hak Azazi Manusia (HAM) memberi kesan yang kuat, yang berorientasi kepada dunia barat dengan peranan aktif dari kalangan cendikiawan baik dalam maupun luar negeri. “Dari fenomena perkembangan bangsa dan negara kita sekarang. Saya menghimbau tokoh-tokoh generasi penerus bangsa khususnya (PPM) Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau, untuk merenungi kembali buah pikiran mantan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy yang menyatakan “jangan bertanya apa yang dapat diberikan negara kepada anda, akan tetapi bertanyalah apa yang dapat anda berikan kepada Negara,” bebernya.
Dengan demikian bila diteliti lagi gagasan Kennedy lanjut Hamdan, maka akan sependapat bahwa sebenarnya gagasan itu telah dirancangkan jauh sebelumnya. “Para veteran pejuang kemerdekaan RI (menjadi TNI) berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda tanpa pamrih bersama rakyat Indonesia,” jelasnya.
Seiring dengan hal tersebut, tambah Hamdan, panglima besar Sudirman memberikan pengarahan kepada pemuda kala itu. “Percaya pada kekuatan sendiri, teruskan perjuanganmu, korban sudah cukup banyak, pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian, tentara kita jangan sekali-kali mengenali sifat menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah kita kembali serta pegang teguh disiplin tentara lahir bathin,” bebernya. (10)
Berkat Alat Peraga Kesalahan Bisa Ditutupi
Siswi SMAN 2 Lubuklinggau Juara II Lomba Tutur Cerita
Kembali siswi SMA Negeri 2 Lubuklinggau menorehkan prestasi yang membanggakan di tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), setelah Herlya Ulandari (17), berhasil meraih juara II lomba tutur cerita rakyat. Mau tahu ceritanya, berikut laporannya.
Leo Mura, Lubuklinggau
NONA kelahiran Lubuklinggau 4 Maret 1993 ini ternyata memiliki jiwa seni yang luar biasa. Setelah mampu mengalahkan beberapa rekannya di tingkat Kota Lubuklinggau, hingga ia dinobatkan menjadi juara I lomba tutur cerita rakyat tingkat Kota Lubuklinggau. Kini pretasi itu kembali terukir di tingkat Provinsi Sumsel dengan mengalahkan 15 kabupaten/kota di Bumi Sriwijaya ini.
“Meski saya sempat down sebelumnya, namun saya tetap tegar dan berusaha untuk terus maju. Bahkan, saya sempat improvisasi selama 5 menit, kendati suara saya kala itu hilang akibat sering menangis, terlebih ketika down, sebenarnya masa senggang untuk improvisasi suara ada waktu 7 menit, namun saya hanya diberi 5 menit,” kata cewek yang berperawakan kecil kepada wartawan koran ini, Selasa (17/8).
Perlombaan itu, lanjutnya dilaksanakan lima hari di Kota Palembang, dimulai Selasa (27/7) hingga (31/7). Dan pada lomba tersebut ada orang empat yang mewakili Kota Lubuklinggau. Dua dari SMA Negeri 2 Lubuklinggau, dan dua dari SMA Negeri I dan SMA Negeri 4 Lubuklinggau. “Dalam perlombaan tersebut yang dinilai adalah suara, busana dan mimik, pada saat memperagakan tutur cerita yang kita bawa. Dalam perlombaan tutur cerita rakyat kali ini saya sengaja mengambil judul “Burung pungguk merindukan bulan” yang diciptakan oleh Rani R Sansi,” ungkap buah hati dari pasangan Asnawi dan Ny Asri.
Judul itu diambil lanjut Lya, sapaan akrab Herlya, cukup menarik untuk diikut sertakan pada lomba tutur cerita rakyat di tingkat Provinsi Sumsel. Kendati latar berlakang dari judul yang diambil merupakan salah pahaman antara kakak beradik, yang mengakibatkan kakaknya pergi dan terbang ke bulan hingga adiknya menjadi burung. “Dan akhirnya adiknya selalu merindukan kakaknya pergi ke bulan dengan suara yang mengerikan,” ungkap Lya.
Lalu, dengan judul yang cukup manarik dan alat peraga yang lengkap, akhirnya ia mampu mengukir prestasi pada lomba tutur cerita rakyat ditingkat Provinsi Sumsel. “Dalam perlombaan tersebut, saya sengaja menggunakan property yang sesuai dengan judul yang saya ambil, seperti ubi, bakul, serta tampi beras. Dengan banyaknya property yang saya miliki, saya bisa menutupi setiap kesalahan. Dan tim juri pun tidak mencurigai akan kesalahan yang saya lakukan saat itu,” lanjut Lya.
Lantas bagaimana dengan persiapannya sebelum mengikuti perlombaan tersebut. Menurut Siswi SMA Neri 2 Lubuklinggau yang miliki motto “Jalani hidup seperti air yang mengalir” mengaku hanya ada waktu empat hari untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti perlombaan. “Dalam persiapan itu saya dibimbing langsung oleh pembimbing yang memang berkompeten dibidangnya, yakni Jamaluddin. Alhamdulillah beliau yang selalu memotivasi disaat saya down,” imbuh cewek yang tinggal di perumahan Nikan Jaya.
Lya mengucapkan terimakasih kepada pembimbing, saat dia duduk di bangku SMP yakni Rani R Sansi, dan pembimbing di SMA, yakni Jamalludin. Kemudian Kepala Sekolah (Kasek), Sutoro Waka kesiswaan, Paryadi serta guru dan staf di SMA Negeri 2 Lubuklinggau. “Dan kemengan ini saya persembahkan kepada kedua orang tua, dan sahabat yang selalu mensupport setiap kegiatan saya, sehingga bisameraih keberhasilan ini,” ucap Lya.
(*)
Kembali siswi SMA Negeri 2 Lubuklinggau menorehkan prestasi yang membanggakan di tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), setelah Herlya Ulandari (17), berhasil meraih juara II lomba tutur cerita rakyat. Mau tahu ceritanya, berikut laporannya.
Leo Mura, Lubuklinggau
NONA kelahiran Lubuklinggau 4 Maret 1993 ini ternyata memiliki jiwa seni yang luar biasa. Setelah mampu mengalahkan beberapa rekannya di tingkat Kota Lubuklinggau, hingga ia dinobatkan menjadi juara I lomba tutur cerita rakyat tingkat Kota Lubuklinggau. Kini pretasi itu kembali terukir di tingkat Provinsi Sumsel dengan mengalahkan 15 kabupaten/kota di Bumi Sriwijaya ini.
“Meski saya sempat down sebelumnya, namun saya tetap tegar dan berusaha untuk terus maju. Bahkan, saya sempat improvisasi selama 5 menit, kendati suara saya kala itu hilang akibat sering menangis, terlebih ketika down, sebenarnya masa senggang untuk improvisasi suara ada waktu 7 menit, namun saya hanya diberi 5 menit,” kata cewek yang berperawakan kecil kepada wartawan koran ini, Selasa (17/8).
Perlombaan itu, lanjutnya dilaksanakan lima hari di Kota Palembang, dimulai Selasa (27/7) hingga (31/7). Dan pada lomba tersebut ada orang empat yang mewakili Kota Lubuklinggau. Dua dari SMA Negeri 2 Lubuklinggau, dan dua dari SMA Negeri I dan SMA Negeri 4 Lubuklinggau. “Dalam perlombaan tersebut yang dinilai adalah suara, busana dan mimik, pada saat memperagakan tutur cerita yang kita bawa. Dalam perlombaan tutur cerita rakyat kali ini saya sengaja mengambil judul “Burung pungguk merindukan bulan” yang diciptakan oleh Rani R Sansi,” ungkap buah hati dari pasangan Asnawi dan Ny Asri.
Judul itu diambil lanjut Lya, sapaan akrab Herlya, cukup menarik untuk diikut sertakan pada lomba tutur cerita rakyat di tingkat Provinsi Sumsel. Kendati latar berlakang dari judul yang diambil merupakan salah pahaman antara kakak beradik, yang mengakibatkan kakaknya pergi dan terbang ke bulan hingga adiknya menjadi burung. “Dan akhirnya adiknya selalu merindukan kakaknya pergi ke bulan dengan suara yang mengerikan,” ungkap Lya.
Lalu, dengan judul yang cukup manarik dan alat peraga yang lengkap, akhirnya ia mampu mengukir prestasi pada lomba tutur cerita rakyat ditingkat Provinsi Sumsel. “Dalam perlombaan tersebut, saya sengaja menggunakan property yang sesuai dengan judul yang saya ambil, seperti ubi, bakul, serta tampi beras. Dengan banyaknya property yang saya miliki, saya bisa menutupi setiap kesalahan. Dan tim juri pun tidak mencurigai akan kesalahan yang saya lakukan saat itu,” lanjut Lya.
Lantas bagaimana dengan persiapannya sebelum mengikuti perlombaan tersebut. Menurut Siswi SMA Neri 2 Lubuklinggau yang miliki motto “Jalani hidup seperti air yang mengalir” mengaku hanya ada waktu empat hari untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti perlombaan. “Dalam persiapan itu saya dibimbing langsung oleh pembimbing yang memang berkompeten dibidangnya, yakni Jamaluddin. Alhamdulillah beliau yang selalu memotivasi disaat saya down,” imbuh cewek yang tinggal di perumahan Nikan Jaya.
Lya mengucapkan terimakasih kepada pembimbing, saat dia duduk di bangku SMP yakni Rani R Sansi, dan pembimbing di SMA, yakni Jamalludin. Kemudian Kepala Sekolah (Kasek), Sutoro Waka kesiswaan, Paryadi serta guru dan staf di SMA Negeri 2 Lubuklinggau. “Dan kemengan ini saya persembahkan kepada kedua orang tua, dan sahabat yang selalu mensupport setiap kegiatan saya, sehingga bisameraih keberhasilan ini,” ucap Lya.
(*)
Wejangan pada Pengukuhan Paskibraka Tahun 2010

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam Sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Herawati Boediono dan para tamu undangan, para anggota Paskibraka tahun 2010 yang saya cintai dan saya banggakan;
Marilah kita awali, kegiatan kita hari ini dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Atas nama negara dan pemerintah, serta selaku pribadi, saya mengucapkan selamat kepada seluruh anggota Paskibraka Tahun 2010 yang sebentar lagi, insya Allah akan mengemban tugas yang amat mulia dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan negara kita pada tahun 2010 ini.
Adik-adik adalah putra-putri terbaik bangsa yang telah dipilih, dididik, dan dilatih untuk mengemban tugas yang bersejarah ini. Oleh karena itu, laksanakan tugas yang penting ini dengan sebaik-baiknya. Saya juga berharap agar apa yang akan kalian laksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan kita ini dapat meningkatkan motivasi kalian semua untuk berbuat yang lebih baik kepada bangsa dan negara, merintis karier menuju masa depan yang kalian cita-citakan semua.
Saya pada kesempatan yang baik ini, ingin menyampaikan harapan dan arahan kepada semua anggota Paskibraka, agar kalian semua dapat meraih cita-cita yang kalian harapkan. Yang ingin saya sampaikan ini sesungguhnya tiada lain adalah bagaimana putra-putri Indonesia, pemuda Indonesia dapat mengarungi perjalanan karier menuju masa depan yang baik, karena semua tahu bahwa tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang mulia, akan banyak tantangan, rintangan, dan ujian di hadapan kalian semua.
Oleh karena itu, yang akan berhasil adalah mereka yang mampu mengatasi semua tantangan, rintangan, dan ujian itu. Oleh karena itu, pemuda–pemudi Indonesia, putra-putri Indonesia haruslah memiliki karakter yang tangguh dan cara pandang atau mindset yang benar, agar sekali lagi, perjalanan karier kalian ke depan akan senantiasa berhasil.
Lima hal yang kalian perlu camkan, tumbuhkan, dan kembangkan dalam perjalanan karier ke depan. Pertama adalah kalian harus sungguh menjadi putra-putri bangsa yang beriman dan berkarakter.
Yang kedua, kalian harus selalu mengasah ilmu untuk benar-benar menjadi manusia-manusia Indonesia yang cerdas dan rasional.
Yang ketiga, menghadapi tantangan zaman, tantangan era globalisasi, dan era transformasi di negeri kita ini, kalian diharapkan senantiasa bersikap inovatif dan mengembangkan budaya unggul, the culture of excellence, bukan sekedar menjalankan sesuatu, tetapi menjalankan dengan baik do the best, do your best.
Yang keempat, tidak ada sesuatu yang mudah diraih, hampir pasti kalian akan menghadapi masalah, tantangan, cobaan, godaan, ujian yang seolah-olah tidak mudah untuk diatasi. Oleh karena itu, kalian semua harus bermental dan memiliki semangat, harus bisa the can do spirit. Kalau kita punya mental harus bisa, seberat apapun persoalan yang dihadapi insya Allah ada jalan, ada solusi. Tapi kalau kalian mudah menyerah, menganggap segala sesuatunya sulit dan tidak ada jalan keluar, memang kalian tidak akan pernah menemukan solusi dan jalan keluar.
Kemudian yang kelima, di atas segalanya, kalian harus menjadi patriot yang bertanggung jawab. Putra-putri Indonesia yang sungguh mencintai bangsa dan negaranya, sungguh mencintai tanah airnya, sebagaimana yang kalian ikrarkan tadi untuk menjadi anggota Paskibraka.
Itulah lima karakter dan lima cara pandang yang harus kalian bangun dan mantapkan sekarang dan ke depan. Masih dalam kaitan itu semua, saya berharap kalian semua justru bisa menjauhi, bisa menghilangkan sifat dan cara pandang yang justru akan menghalangi perjalanan kalian ke depan untuk meraih cita-cita kalian semua.
Pertama, Jangan kalian memiliki sifat dan sikap yang yang skeptis dan pesimis. Kedua, jangan suka berpikir yang negatif, sinis. Kita tidak akan menjadi bangsa yang cynical. Yang ketiga, jangan pernah mengembangkan sikap dan sifat buruk sangka, itu meracuni pikiran dan hati kalian semua. Yang keempat, jangan terlalu mudah dan terlalu gemar menyalahkan pihak lain, tapi seringlah melakukan introspeksi, mawas diri untuk menemukan apa yang belum benar, apa yang keliru untuk melakukan koreksi dan perbaikan agar akhirnya kalian menjadi lebih baik. Dan yang kelima, juga di atas segalanya jangan menjadi manusia yang tidak beriman, percaya pada tahayul dan hal-hal yang sifatnya tidak rasional.
Insya Allah, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau kalian ingat menjalankan sungguh lima sifat, karakter, dan cara pandang yang baik tadi dan sebaliknya menjauhi, mencegah, tidak terjebak kepada lima sifat dan cara pandang yang buruk tadi, maka terbuka masa depan kalian yang baik, Dan disitulah kalian, insya Allah dengan doa kami semua sinar-sinar kalian akan tumbuh menjadi putra-putri bangsa yang handal, insya Allah menjadi tokoh dan pemimpin di negara yang sama-sama kita cintai ini di masa depan.
Akhirnya, untuk menghadapi tugas pada tanggal 17 Agustus mendatang, saya berharap kalian semua berkonsentrasi, menjaga kesehatan, menjaga jasmani, agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Kepada jajaran Paskibraka yang lain, saya juga mengucapkan selamat bertugas kepada para pembina, pelatih, pengasuh saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas segala upaya dan jerih payahnya menggembleng, mendidik, mempersiapkan anak-anak kita ini untuk mengemban tugas yang amat bersejarah, selamat bertugas, Tuhan beserta kita.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Senin, 16 Agustus 2010
Definisi Merdeka Menurut Kajian Ulama
Oleh: Kurtubi/www.kompasiana.com
Makna kemerdekaan menurut kajian agama yang digagas para ulama senafas dengan semangat HAM, Pancasila dan Undang-undang Dasar.
Menelisik makna kemerdekaan versi ulama sangat menarik. Setidaknya ada empat kata yang senafas dengan makna kemerdekaan yang akan dibahas dalam artikel ini: Dua kata diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir berasal dari makna budaya. Dari keempatnya itu masuk dalam konsep Pancasila dan UUD 45 dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Pertama, Kemerdekaan adalah bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Makna ini diambil dari kata “Itqun Minannar”. Kata ini diambiil dari hadits Nabi yang sering dikaitkan dengan keutamaan bulan ramadhan: “… awaluhu rahmah, wausatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minannar.” (…. puasa ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalha pembebasan dari api neraka).
Konteks dari kata tersebut adalah bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain. Misalnya rakyat Indonesia dikatakan merdeka, manakala tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna hakikat “merdeka”. Jika masih ada ancaman, intimidasi penekanan pihak satu dengan pihak lain itu artinya belum merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti terbebas dari siksaan.
Kedua, Kemerdekaan berarti menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya.
Makna itu terambil dari kata “Fatahriru Roqobah”. Kata ini cukup banyak terdapat dalam al Quran. misalnya dalam satu ayat pada Annisa: 92 saja ada tiga kata. Kata “tahrir” dan “khurriyah” dalam bahasa Arab artinya “merdeka”.
Makna “merdeka” yang diambil dari ungkapan al quran itu adalah: “asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih.” Artinya, memuliakan masyarakat satu dengan yang lain, itulah makna merdeka yang sesungguhnya. Merdeka berarti jika seseorang itu menjadi mulia, tidak ada kelas di dalam kehidupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul.
Lebih mudahnya, konteks di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, setiap warga negara sederajat tidak ada ras, agama dan apapun yang merasa nomor satu atau nomor dua, tetapi masing-masing menghormati, memuliakan satu sama lain. Dalam tatanan dunia ada HAM yang juga senafas dengan ungkapan ini, bahwa setiap manusia sederajat. Bukankah juga dalam quran pun menyebutkan bahwa manusia di hadapan tuhan sama.
Dengan jelas al quran yang menyebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqoqum.” Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jika masih ada yang merasa “tuan”, atau masih ada yang menganggap “itu anak buah saya”, berarti secara pribadi belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak ada kelas.
Kolonialisme zaman dulu menganggap bangsa Indonesia dikategorikan bangsa kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karenanya kata “hurriyah” tidak berlaku saat itu. Bangsa kita dahulu belum merdeka. Namun sekarang, jika dikatakan merdeka, maka mesti merujuk pada kata “hurriyah”, di mana tidak lagi ada kelas-kelas dan merasa nomor satu, baru dikatakan merdeka.
Ketiga, merdeka diambil dari kata Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an “Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah” (Al Balad: 12-13). Kata “fakku” di sini pengertianya “merdeka“. Lebih lengkapnya, para ulama mendefinisikan kata fakku dengan إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d).
Lebih jelasnya, kemerdekaan itu bisa tercapai, manakala bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya kelompok satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, lenyapkan saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil”, dan lain-lain.
Dalam praktek hukum maka mestinya masing-masing komponen bangsa tidak pandang bulu. Jika hukum masih bersembunyi di belakang layar, sedangkan yang tampil adalah “uang”, ini berarti belum “merdeka”. Sebab hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama.
Orang yang bersalah mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar secara hukum harus dibela. Jika bangsa disebut merdeka, maka tidak ada lagi istilah intimidasi, diskriminasi, character assanisation, mengancam pihak lain, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.
Keempat, merdeka diambil dari kata Istiqlal. (Masjid Istiqlal = masjid merdeka). Pengertian istiqlal menurut para ulama adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh pihak lain. Sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri, bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau saja masih ada intervensi negara lain artinya belum merdeka.
Demikian juga bila makna istiqlal bagi individu artinya, seorang individu dikatakan merdeka jika sudah terbebas dari pengaruh “duniawi”, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam rayuan dan godaan lainnya, itupun belum dikatakan mandiri namanya, alias belum merdeka.
Kesimpulannya, pertama, merdeka adalah fakku roqobah, negara dikatakan merdeka jika bebas dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti oleh pihak lain. Kedua, merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan. Ketiga, merdeka adalah fakku, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. Keempat diambil dari kata Istiqlal, merdeka berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain alias mandiri.
Dalam konsep agama orang yang masuk syurga adalah mereka yang “merdeka”, bukan hamba sahaya. Kenapa dikatakan merdeka, karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.
Pendeknya, konsep ulama (syariat) yang diambil dari naskah-naskah wahyu tentang kemerdekaan itu tidak bertentangan dengan UUD, Pancasila dan HAM (Hak Asasi Manusia). Jika apa yang dipaparkan di atas belum bisa dipraktekkan pada bangsa ini, itu artinya belum merasakan makna “kemerdekaan” baik merdeka secara individu atau secara kebangsaan. Karena itu tugas perjuangan ulama/tentara zaman dahulu telah berhasil melepaskan belenggu negara ini dari penjajahan. Sementara giliran kita, memperjuangan kemerdekaan itu agar benar-benar terwujud makna “merdeka” sehingga connect bainal teks wal konteks, bersambung antara tekstual dan kontekstual. Semoga. Wallahu a’lam.
Makna kemerdekaan menurut kajian agama yang digagas para ulama senafas dengan semangat HAM, Pancasila dan Undang-undang Dasar.
Menelisik makna kemerdekaan versi ulama sangat menarik. Setidaknya ada empat kata yang senafas dengan makna kemerdekaan yang akan dibahas dalam artikel ini: Dua kata diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir berasal dari makna budaya. Dari keempatnya itu masuk dalam konsep Pancasila dan UUD 45 dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Pertama, Kemerdekaan adalah bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Makna ini diambil dari kata “Itqun Minannar”. Kata ini diambiil dari hadits Nabi yang sering dikaitkan dengan keutamaan bulan ramadhan: “… awaluhu rahmah, wausatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minannar.” (…. puasa ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalha pembebasan dari api neraka).
Konteks dari kata tersebut adalah bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain. Misalnya rakyat Indonesia dikatakan merdeka, manakala tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna hakikat “merdeka”. Jika masih ada ancaman, intimidasi penekanan pihak satu dengan pihak lain itu artinya belum merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti terbebas dari siksaan.
Kedua, Kemerdekaan berarti menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya.
Makna itu terambil dari kata “Fatahriru Roqobah”. Kata ini cukup banyak terdapat dalam al Quran. misalnya dalam satu ayat pada Annisa: 92 saja ada tiga kata. Kata “tahrir” dan “khurriyah” dalam bahasa Arab artinya “merdeka”.
Makna “merdeka” yang diambil dari ungkapan al quran itu adalah: “asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih.” Artinya, memuliakan masyarakat satu dengan yang lain, itulah makna merdeka yang sesungguhnya. Merdeka berarti jika seseorang itu menjadi mulia, tidak ada kelas di dalam kehidupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul.
Lebih mudahnya, konteks di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, setiap warga negara sederajat tidak ada ras, agama dan apapun yang merasa nomor satu atau nomor dua, tetapi masing-masing menghormati, memuliakan satu sama lain. Dalam tatanan dunia ada HAM yang juga senafas dengan ungkapan ini, bahwa setiap manusia sederajat. Bukankah juga dalam quran pun menyebutkan bahwa manusia di hadapan tuhan sama.
Dengan jelas al quran yang menyebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqoqum.” Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jika masih ada yang merasa “tuan”, atau masih ada yang menganggap “itu anak buah saya”, berarti secara pribadi belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak ada kelas.
Kolonialisme zaman dulu menganggap bangsa Indonesia dikategorikan bangsa kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karenanya kata “hurriyah” tidak berlaku saat itu. Bangsa kita dahulu belum merdeka. Namun sekarang, jika dikatakan merdeka, maka mesti merujuk pada kata “hurriyah”, di mana tidak lagi ada kelas-kelas dan merasa nomor satu, baru dikatakan merdeka.
Ketiga, merdeka diambil dari kata Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an “Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah” (Al Balad: 12-13). Kata “fakku” di sini pengertianya “merdeka“. Lebih lengkapnya, para ulama mendefinisikan kata fakku dengan إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d).
Lebih jelasnya, kemerdekaan itu bisa tercapai, manakala bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya kelompok satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, lenyapkan saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil”, dan lain-lain.
Dalam praktek hukum maka mestinya masing-masing komponen bangsa tidak pandang bulu. Jika hukum masih bersembunyi di belakang layar, sedangkan yang tampil adalah “uang”, ini berarti belum “merdeka”. Sebab hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama.
Orang yang bersalah mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar secara hukum harus dibela. Jika bangsa disebut merdeka, maka tidak ada lagi istilah intimidasi, diskriminasi, character assanisation, mengancam pihak lain, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.
Keempat, merdeka diambil dari kata Istiqlal. (Masjid Istiqlal = masjid merdeka). Pengertian istiqlal menurut para ulama adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh pihak lain. Sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri, bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau saja masih ada intervensi negara lain artinya belum merdeka.
Demikian juga bila makna istiqlal bagi individu artinya, seorang individu dikatakan merdeka jika sudah terbebas dari pengaruh “duniawi”, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam rayuan dan godaan lainnya, itupun belum dikatakan mandiri namanya, alias belum merdeka.
Kesimpulannya, pertama, merdeka adalah fakku roqobah, negara dikatakan merdeka jika bebas dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti oleh pihak lain. Kedua, merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan. Ketiga, merdeka adalah fakku, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. Keempat diambil dari kata Istiqlal, merdeka berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain alias mandiri.
Dalam konsep agama orang yang masuk syurga adalah mereka yang “merdeka”, bukan hamba sahaya. Kenapa dikatakan merdeka, karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.
Pendeknya, konsep ulama (syariat) yang diambil dari naskah-naskah wahyu tentang kemerdekaan itu tidak bertentangan dengan UUD, Pancasila dan HAM (Hak Asasi Manusia). Jika apa yang dipaparkan di atas belum bisa dipraktekkan pada bangsa ini, itu artinya belum merasakan makna “kemerdekaan” baik merdeka secara individu atau secara kebangsaan. Karena itu tugas perjuangan ulama/tentara zaman dahulu telah berhasil melepaskan belenggu negara ini dari penjajahan. Sementara giliran kita, memperjuangan kemerdekaan itu agar benar-benar terwujud makna “merdeka” sehingga connect bainal teks wal konteks, bersambung antara tekstual dan kontekstual. Semoga. Wallahu a’lam.
Jumat, 13 Agustus 2010
Disdik Himbau Guru Jangan Bolos Mengajar
LUBUKLINGGAU-Libur tiga hari menyambut bulan suci Ramadhan 1431 Hijriah, ternyata belum membuat guru puas. Terbukti Jumat (13/8), hari pertama sekolah sejumlah oknum guru bolos dan tidak masuk sekolah.
Investigasi koran ini di lapangan, kemarin, ada beberapa guru SD dan SMA di Kota Lubuklinggau tidak datang mengajar. Sehingga puluhan siswa keluyuran di berbagai tempat, seperti warnet, pasar dan tempat-tempat yang menurut mereka asyik buat nongkrong.
Ulah oknum guru itu mendapatkan perhatian dari Disdik Kota Lubuklinggau. Menurut Kadisdik Kota Lubuklinggau, Hj Septiana Zuraida melalui Sekretaris Dinas, Agus Sugianto menghimbau kepada seluruh guru di Kota Lubuklinggau tidak bolos sekolah. Tujuan guna mengantisipasi terhambatnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saat guru dan siswa menjalani ibadah puasa. Seorang guru yang membolos mengajar sudah pasti merugikan peserta didik.
“Jika seorang guru seharusnya wajib mengajar satu jam di dalam kelas, itu sama dengan merugikan satu rombongan belajar. Jadi berapa ribu anak yang akan merugi kalau ratusan guru yang membolos,” kata Agus Sugianto kepada koran ini, Jumat (13/8).
Menurut Agus Sugianto, kerugian yang dimaksud berupa terhambatnya transfer ilmu dari guru kepada siswa. Secara detail banyaknya guru yang membolos itu terjadi merata di seluruh kota. “Terbatasnya tenaga pendidik di setiap sekolah akan menyulitkan pihak sekolah mencari solusi. Akibatnya jam pelajaran akan berlangsung sia-sia. Jangan sampai gara-gara guru itu membuat peserta didik jadi terbengkalai,” tegasnya.
Ia berharap dengan himbauan ini dapat meningkatkan produktivitas kinerja guru di bulan Ramadhan. “Harusnya puasa atau tidak, guru tetap harus aktif,” ujarnya.
Ia menambahkan salah satu upaya untuk melakukan penilaian terhadap keaktifan guru. Agar daftar absen guru dilengkapi dengan jam kedatangan dan kepulangan. Juga kehadiran mengajar di kelas. “Jika datang hanya absen sama saja bohong,” tuturnya. Lanjut dia, kedatangan guru di dalam kelas yang sering terlambat akan memberikan contoh yang tidak baik bagi siswa siswi. Akibatnya jam belajar siswa juga akan terpotong. Hal itu patut menjadi perhatian kepala sekolah untuk memberikan sanksi pada guru yang bersangkutan.
(10)
Investigasi koran ini di lapangan, kemarin, ada beberapa guru SD dan SMA di Kota Lubuklinggau tidak datang mengajar. Sehingga puluhan siswa keluyuran di berbagai tempat, seperti warnet, pasar dan tempat-tempat yang menurut mereka asyik buat nongkrong.
Ulah oknum guru itu mendapatkan perhatian dari Disdik Kota Lubuklinggau. Menurut Kadisdik Kota Lubuklinggau, Hj Septiana Zuraida melalui Sekretaris Dinas, Agus Sugianto menghimbau kepada seluruh guru di Kota Lubuklinggau tidak bolos sekolah. Tujuan guna mengantisipasi terhambatnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saat guru dan siswa menjalani ibadah puasa. Seorang guru yang membolos mengajar sudah pasti merugikan peserta didik.
“Jika seorang guru seharusnya wajib mengajar satu jam di dalam kelas, itu sama dengan merugikan satu rombongan belajar. Jadi berapa ribu anak yang akan merugi kalau ratusan guru yang membolos,” kata Agus Sugianto kepada koran ini, Jumat (13/8).
Menurut Agus Sugianto, kerugian yang dimaksud berupa terhambatnya transfer ilmu dari guru kepada siswa. Secara detail banyaknya guru yang membolos itu terjadi merata di seluruh kota. “Terbatasnya tenaga pendidik di setiap sekolah akan menyulitkan pihak sekolah mencari solusi. Akibatnya jam pelajaran akan berlangsung sia-sia. Jangan sampai gara-gara guru itu membuat peserta didik jadi terbengkalai,” tegasnya.
Ia berharap dengan himbauan ini dapat meningkatkan produktivitas kinerja guru di bulan Ramadhan. “Harusnya puasa atau tidak, guru tetap harus aktif,” ujarnya.
Ia menambahkan salah satu upaya untuk melakukan penilaian terhadap keaktifan guru. Agar daftar absen guru dilengkapi dengan jam kedatangan dan kepulangan. Juga kehadiran mengajar di kelas. “Jika datang hanya absen sama saja bohong,” tuturnya. Lanjut dia, kedatangan guru di dalam kelas yang sering terlambat akan memberikan contoh yang tidak baik bagi siswa siswi. Akibatnya jam belajar siswa juga akan terpotong. Hal itu patut menjadi perhatian kepala sekolah untuk memberikan sanksi pada guru yang bersangkutan.
(10)
SDN 3 BM II Kekurangan Lokal Belajar
RAWAS ILIR-SD Negeri 3 Beringin Makmur (BM) II, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas, kekurangan lokal belajar. Sehingga Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah tesebut tidak maksimal. Apalagi ruangan lokal yang ada selama ini tidak memadai untuk jumlah murid.
Selain itu di sekolah itu belum ada perbaikan sama sekali dari pemerintah. “Di SDN 3 BM I terdapat 6 lokal akan tetapi tiga lokal diantarannya rusak. Sehingga tidak dapat digunakan untuk KBM,” kata Kepala SDN 3 BM II, Hamraini kepada wartawan koran di ruang kerjanya, Jumat (13/8).
Ia mengatakan lokal yang rusak itu sebelumnya telah diperbaiki dengan menggunakan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS). Kendati dana tersebut tidak mencukupi, maka pihaknya mengadakan rehab ringan. Sebab KBM di sekolah bisa maksimal apabila memiliki ruangan lokal yang cukup yaitu sebanyak 6 lokal. Idealnya dalam satu kelas murid bisa ditempatkan sekitar 30 orang saja, tidak seperti saat ini di dalam satu kelas murid 40 orang.
“Kita sangat berharap sekali kepada Pemkab Mura untuk membantu penambahan ruangan lokal disekolah kami ini, agar proses belajar dan mengajar siswa-siswi disini bisa berjalan dengan efektif tanpa dibatasi oleh waktu karena harus bergantian menggunakan lokal yang ada. Selama ini untuk dana Dana Alokasi Khusus (DAK) SDN 3 tidak mendapatkannya,” Harapnya.
Di lain tempat, Adi, salah seorang wali murid SDN 3 juga menambahkan, Bahwa SDN 3 BM II sudah seharus memiliki fasilitas yang mencukupi sebagaimana sekolah-sekolah lain. “Sebagai wali murid di sekolah kami juga mengharapkan pemerintah membantu menambah ruangan lokal di sekolah ini. Agar KBM murid-murid tidak terganggu lagi akibat kurangnya ruangan belajar mereka,” tambahnya.(10)
Selain itu di sekolah itu belum ada perbaikan sama sekali dari pemerintah. “Di SDN 3 BM I terdapat 6 lokal akan tetapi tiga lokal diantarannya rusak. Sehingga tidak dapat digunakan untuk KBM,” kata Kepala SDN 3 BM II, Hamraini kepada wartawan koran di ruang kerjanya, Jumat (13/8).
Ia mengatakan lokal yang rusak itu sebelumnya telah diperbaiki dengan menggunakan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS). Kendati dana tersebut tidak mencukupi, maka pihaknya mengadakan rehab ringan. Sebab KBM di sekolah bisa maksimal apabila memiliki ruangan lokal yang cukup yaitu sebanyak 6 lokal. Idealnya dalam satu kelas murid bisa ditempatkan sekitar 30 orang saja, tidak seperti saat ini di dalam satu kelas murid 40 orang.
“Kita sangat berharap sekali kepada Pemkab Mura untuk membantu penambahan ruangan lokal disekolah kami ini, agar proses belajar dan mengajar siswa-siswi disini bisa berjalan dengan efektif tanpa dibatasi oleh waktu karena harus bergantian menggunakan lokal yang ada. Selama ini untuk dana Dana Alokasi Khusus (DAK) SDN 3 tidak mendapatkannya,” Harapnya.
Di lain tempat, Adi, salah seorang wali murid SDN 3 juga menambahkan, Bahwa SDN 3 BM II sudah seharus memiliki fasilitas yang mencukupi sebagaimana sekolah-sekolah lain. “Sebagai wali murid di sekolah kami juga mengharapkan pemerintah membantu menambah ruangan lokal di sekolah ini. Agar KBM murid-murid tidak terganggu lagi akibat kurangnya ruangan belajar mereka,” tambahnya.(10)
Langganan:
Komentar (Atom)
