Senin, 29 November 2010
ALAT UKUR
16
BAB II
ALAT UKUR DAN KETELITIAN
Pendahuluan
Dalam Fisika dikenal berbagai macam besaran. Besaran tersebut dikelompokkan dalam 2
kategori yakni besaran pokok/dasar dan besaran turunan. Semua besaran fisik dapat dinyatakan dalam
beberapa satuan pokok. Pemilihan satuan standar untuk besaran pokok menghasilkan suatu sistem
satuan. Sistem satuan yang digunakan secara universal dalam masyarakat ilmiah adalah Sistem
Internasional (SI). Berikut klasifikasi besaran-besaran fisika beserta dimensi dan satuannya.
Tabel 1. Besaran fisika, dimensi, dam satuannya
Kategori Nama Besaran Dimensi Satuan SI
Besaran Pokok/ Dasar
Panjang L m (meter)
Massa M kg (kilogram)
Waktu T s (sekon)
Kuat Arus I A (ampere)
Intesitas penyinaran Cd cd (candela)
Suhu
K (kelvin)
Jumlah zat mol mol (mole)
Besaran turunan
Luas L2
m2
Volume L3
m3
Kecepatan LT-1
ms
-1
Momentum MLT-1
kg m s
-1
Percepatan LT-2
m s
-2
Gaya MLT-2
kg m s
-2
= N (newton)
Energi, usaha ML2
T-2
kg m2
s
-2
= J (joule)
Daya ML2
T-3
kg m2
s
-3
= J/s = W (watt)
Intensitas MT-3
kg s
-3
= W m-2
(watt/m2
)
Tekanan ML-1
T-2
kg m-1
s
-2
= N m-2
, Pa (pascal)
Penggunaan alat ukur pada setiap pengukuran sangat ditentukan oleh macam kegunaan, batas
ukur dan ketelitian alat ukurnya. Sebagai contoh untuk mengukur massa suatu benda yang
diperkirakan sebesar 50 kg, maka alat yang harus digunakan haruslah timbangan dengan batas ukur
minimal senilai massa benda itu. Timbangan tersebut harus memiliki ketepatan pengukuran yang baik,
sehingga hasil pengukuran sesuai dengan keadaan sesungguhnya.
Berikut ini adalah karakteristik alat ukur besaran pokok dalam fisika, antara lain jangka sorong,
mikrometer skrup, neraca, stopwatch dan termometer. Alat Ukur dan Ketelitian
17
A. JANGKA SORONG
Gambar 1. Jangka Sorong
Skala tetap pada jangka sorong disebut skala dasar (SD) dengan batas skala 10 cm.
Skala geser pada Jangka Sorong disebut skala pembantu (SP) dengan batas skala10 mm.
Kegunaan Jangka Sorong:
Digunakan untuk mengukur panjang, lebar, tebal, atau pun kedalaman benda/zat .
Ketelitian Jangka Sorong:
Paling tidak ada 2 jenis jangka sorong, yakni jangka sorong yang memiliki ketelitian 0,05 mm dan
yang memiliki ketelitian 0,1 mm.
Contoh penggunaan Jangka Sorong:
Pada pengukuran panjang sebuah balok kayu dengan menggunakan Jangka Sorong dengan
ketelitian 0.01 mm diperoleh penunjukan sebagai berikut:
B. MIKROMETER SEKRUP
Gambar 2.. Mikrometer Sekrup
Kegunaan mikrometer sekrup:
Alat ini biasanya difungsikan untuk mengukur diameter benda-benda berukuran milimeter atau
beberapa centimeter saja.
Ketelitian mikrometer sekrup:
Micrometer sekrup hanya ada satu macam, yakni yang berketelitian 0.01 mm.
Contoh penggunaan mikrometer sekrup:
Pada pengukuran panjang sebuah balok kayu dengan menggunakan Jangka Sorong dengan
ketelitian 0.01 mm diperoleh penunjukan sebagai berikut:
sd
sp
0
0
1 mm + 2 (ketelitian) = 1 mm + 2 x 0.0 mm = 1,01 mm
sd
sp
jangka sorong
0
12
0 12 Alat Ukur dan Ketelitian
18
Jadi panjang balok kayu tersebut adalah
C. Spherometer
Spherometer merupakan alat untuk mengukur jejari kelengkungan suatu permukaan. Biasanya
digunakan untuk mengukur kelengkungan lensa. Spherometer memiliki 4 kaki, dengan 3 kaki yang
permanen dan satu kaki tengah yang dapat diubah-ubah ketinggiannya. Ketelitian spherometer bisa
mencapai 0,01 mm.
D. Neraca Torsi
Neraca torsi digunakan untuk mengukur massa suatu zat. Ketelitian yang dimiliki neraca ini
bermacam-macam antara lain sebesar 0,1 g atau 0,05 g atau 0,01 g.
E. Specific Gravity/Densitometer
Specific gravity adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan (massa jenis) suatu zat cair.
Bedanya dengan densitometer adalah bahwa nilai yang ditunjukkan oleh specific gravity merupakan
nilai relatif terhadap kerapatan air (1 g/ml).
F. Stopwatch
Stopwatch merupakan alat pengukur waktu. Stopwatch yang sering dipakai biasanya
berketelitian 0,1 s atau 0,2 s. Telepon genggam (HP) biasanya juga disertai fasilitas stopwatch.
Ketelitian stopwatch pada telepon genggam biasanya 0,01 s.
G. Temometer
Termometer adalah alat pengukur suhu. Termometer yang biasa digunakan dalam Lab. Fisika
Dasar adalah termometer Celcius dengan ketelitian 0,50
C atau 10
C.
H. Multimeter
Multimeter adalah alat pengukur besaran listrik, seperti hambatan, kuat arus, tegangan, dsb.
Ketelitan alat ini sangat beragam dan bergantung pada besar nilai maksimum yang mampu diukur.
Berhati-hatilah dalam menggunakan alat ini. Perhatikan posisi saklar sesuai dengan fungsinya dan
besar nilai maksimum yang mampu diukur. Jika digunakan untuk mengukur tegangan maka alat ini
harus dirangkai paralel, colok (+) dihubungkan dengan (+) rangkaian, sedangkan colok (-) dengan
bagian (-)nya. Sedangkan jika digunakan untuk mengukur kuat arus yang melalui suatu cabang
rangkaian maka alat ini harus dirangkai secara seri melalui cabang tersebut.
PERTANYAAN
1. Mengapa tidak boleh menggunakan ujung mistar sebagai skala nol. Dan mengapa harus
meletakkan skala mistar berimpit dengan benda yang diukur ?
2. Jelaskan pengertian least count !
3. Apa artinya suatu alat mempunyai ketelitian 10
C; 0,1 g; atau 0,01 mm ?
p = 4,5 mm + 12 x (ketelitian) = 4,5 mm + (12 X 0.01 mm) = 4,62 mm
KEBIJAKAN MUTU,KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA
dan Lingkungan
Tenaris bertujuan untuk mencapai standar tertinggi dari Mutu, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan
Lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip pengembangan berkesinambungan di seluruh operasinya.
Tenaris mengenali kesehatan dan keselamatan kerja karyawanya, kepuasan pelanggannya, perlindungan terhadap
lingkungannya dan pengembangan komunitas sekitarnya yang berinteraksi sebagai prioritas mutlak dan terpadu;
keseluruhan organisasi memiliki orientasi mencapai tujuan-tujuan ini secara terbuka dan transparan.
Tenaris memperkuat manajemennya melalui pelatihan yang terus menerus dan memperbaharui keahlian dan
keterampilan manajemen, memberikan perhatian dalam penilaian dan memotivasi karyawannya; mematuhi
prinsip etika yang diatur dalam Kode Etik dan memelihara keseimbangan antara kualitas hidup mereka dan
kebutuhan bisnisnya.
Tenaris meyadari pentingnya pelaksanaan kebijakan ini melalui sistim manajemen Mutu, Kesehatan, Keselamatan
Kerja, dan Lingkungan, yang mencakup seluruh rantai persediaan, mulai dari pemasok hingga ke pelanggan dan
penggunaan produk-produknya dengan cara yang benar dan efisien sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.
Tenaris berkomitmen untuk menghormati semua persyaratan hukum yang berlaku dan semua persyaratan lainnya
yang terkait dengan mutu, kesehatan, keselamatan, dan hal-hal lingkungan yang dianut.
Tenaris mengkomunikasikan kebijakan ini kepada seluruh organisasi, melibatkan dan melatih karyawannya dalam
penggunaan secara benar Sistim Manajemen Mutu, Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan dan
mengikutsertakan mereka dalam proses penetapan, pengukuran dan perbaikan tujuan-tujuan secara berkala.
Tenaris berusaha untuk menjaga agar kebijakan ini terus diperbaharui, melaksanakan dan memelihara sistim
manajemen, dan secara terus menerus meningkatkan kinerja Mutu, Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan
Oktober 2008
Paolo Rocca
Chief Executive Officer
Tidak ada hal lain yang lebih penting daripada kesehatan dan keselamatan kerja setiap orang yang
bekerja untuk kami dan pengguna produk kami.
Semua luka dan penyakit dikarenakan pekerjaan bisa dan harus dicegah.
Manajemen bertanggung jawab terhadap kinerja kesehatan dan keselamatan kerja.
Keterlibatan karyawan dan pelatihan merupakan hal yang mendasar.
Berkerja dengan aman merupakan syarat dari perkerjaan.
Kesehatan dan keselamatan kerja yang terbaik menunjang hasil bisnis yang baik.
Kesehatan dan keselamatan kerja harus merupakan satu kesatuan didalam semua proses manajemen bisnis.
Mutu adalah keunggulan utama sebagai daya saing kami.
Persyaratan dan harapan dari pelanggan kami harus dipenuhi.
Manajemen mutu merupakan satu kesatuan didalam semua proses bisnis.
Manajemen bertanggung jawab terhadap kinerja mutu.
Kinerja mutu harus dilaksanakan di seluruh sistem rantai persediaan.
Manajemen mutu yang terbaik menunjang hasil bisnis yang baik.
Kami berkomitmen untuk pengembangan bisnis yang berkesinambungan dalam jangka panjang.
Meminimalkan dampak terhadap lingkungan dari operasi kami.
Menggunakan sumber daya alam dan energi dengan seeffisien mungkin.
Manajemen lingkungan merupakan satu kesatuan didalam semua proses bisnis.
Karyawan harus berkomitmen dan bertanggungjawab terhadap dampak lingkungan
Membangun dialog yang terbuka dan transparan dengan semua pihak terkait.
Saluran kepatuhan:
www.compliance-line.com
MODEL PEMBELAJARAN
A. Pengertian Model Pembelajaran
“Model Pembelajaran” adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.
B. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
1. Model Pencapaian Konsep,
2. Model Latihan Penelitian,
3. Model Sinektiks,
4. Model Pertemuan Kelas,
5. Model Investigasi kelompok,
6. Model Jurisprudensial,
7. Model Latihan Laboratoris,
8. Model Penelitian Sosial,
9. Model Kontrol Diri, dan
10. Model Simulasi.
C. Strategi Pelaksanaan Model-Model Pembelajaran
1. Model Pencapaian Konsep (Bruner dkk, 1967)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Sajikan contoh berlabel
• Minta dugaan
• Minta definisi
• Bandingkan contoh positif dan negatif
• Ajukan dugaan
• Berikan definisi
• Minta contoh lain
• Minta nama konsep
• Minta contoh lainnya • Cari contoh lain
• Beri nama konsep
• Cari contoh lainnya
• Tanya Mengapa/ Bagaimana
• Bimbing diskusi • Ungkapkan pikiran
• Diskusikan aneka pikiran
2. Model Latihan Penelitian (Suchman dalam Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Jelaskan Prosedur Penelitian
• Sajikan Situasi Bermasalah
• Pahami Prosedur Penelitian
• Temukan Masalah
• Ajukan Peertanyaan tentang Inti Masalah
• Minta Rincian Masalah
• Beri Tugas Explorasi
• Bimbing Merumuskan Hipotesis
• Pantau Proses Percobaan
• Adakan Diskusi
• Teruskan Diskusi
• Pacu Proses Penyimpulan
• Undang Rekomendasi
• Rumuskan Masalah
• Rinci Masalah
• Cari Data Sementara
• Rumuskan Hipotesis
• Adakan Proses Percobaan
• Kaji Data Hasil Percobaan
• Uji Hipotesis
• Adakan Diskusi
• Buat Kesimpulan
• Berikan Rekomendasi
3. Model Sinektiks (Gordon dalam Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Minta Siswa Mendeskripsikan Suatu Kondisi
• Minta mahasiswa Membuat Analogi Langsung
• Minta siswa Membuat Analogi Personal
• Ajukan Pertanyaan Dilematik/ Konflik
• Minta siswa Membuat Analogi Langsung Lanjut
• Adakan Reviu Hasil Analogi dan Tugas Belajar
• Mendeskripsikan suatu kondisi
• Buat Analogi/ Pengandaian
• Kaji Salah Satu Analogi
• Buat Analogi Personal
• Beri Jawaban atas Pertanyaan Dilematik/ Konflik
• Buat Analogi Baru yang Terkait pada Analogi Lama
• Endapkan Hasil Analogi dalam Kaitan Tugas
4. Model Pertemuan Kelas (Glasser dalam Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Ciptakan Situasi yang Kondusif
• Pancing Munculnya Masalah
• Paparkan Konteks Masalah
• Identifikasi Nilai di Balik Masalah
• Pancing Munculnya Alternatif Tindakan
• Pancing Mahasiswa
• Kaji Komitmen siswa terhadap Perilaku Guru
• Melibatkan Diri dalam Situasi
• Kemukakan Masalah
• Paparkan Konteks Masalah
• Buat Keputusan Nilai Terkait Masalah
• Pilih Alternatif Tindakan Terbaik
• Beri Komentar Umum
• Tunjukkan Komitmen terhadap Perilaku
5. Model Investigasi Kelompok (Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Sajikan Situasi Bermasalah
• Bimbing Proses Eksplorasi
• Pacu Diskusi Kelompok
• Pantau Kegiatan Belajar
• Cek Kemajuan Belajar Kelompok
• Dorong Tindakan
Perulangan • Amati Situasi Bermasalah
• Jelajahi Permasalahan
• Temukan Kunci Permasalahan
• Rumuskan Apa Yang harus Dilakukan
• Atur Pembagian Tugas dalam Kelompok
• Belajar Individual dan Kelompok
• Cek Tugas yang Harus Dikerjakan
• Cek Proses dan Hasil Penelitian Kelompok
• Lakukan Tindak Lanjut
6. Model Penelitian Jurisprudensial (Shaver dalam Joyce & Well, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Perkenalkan bahan-bahan
• Reviu Data yang Tersedia
• Ciptakan Suasana Menantang
• Ajukan Pertanyaan Nilai
• Minta Contoh dan Alasannya
• Minta Satu Pilihan Nilai
• Ajukan Variasi Pelacakan
1
• Temukan dan Pilih Suatu Kasus
• Kaitkan Fakta dengan Kasus
• Rumuskan Satu Masalah
• Identifikasi Konflik Nilai
• Jajagi Berbagai Posisi Nilai
• Antisipasi Konsekuensi Setiap Posisi
• Cari Variasi Contoh yang Mendukung Posisi yang Dipilih
• Beri Argumen atas Pilihan Nilai
• Nyatakan Satu Posisi Nilai
• Beri Penalaran atas Posisi tersebut
• Kaji Kesahihan Posisi Nilai yang Dipilih
7. Model Latihan Laboratoris (Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Beri Stimulasi Suatu Isu
• Ajukan Pertanyaan Pemicu Pendapat yang bertolak Belakang
• Ciptakan Situasi Pemecahan Masalah
Ajukan Pertanyaan Pemicu Keterlibatan
• Ciptakan Situasi yang Mengundang Kepedulian
• Minta untuk Menilai Diri Masing-masing
• Beri Respon Kebutuhan
• Kenali Adanya Kontradiksi
• Diskusikan Pemecahan Kontradiksi tersebut
• Rasakan Perlunya Kebersamaan
• Tunjukkan Kepedulian Terhadap Orang
• Lakukan Penilaian Diri
8. Model Penelitian Sosial (Massialas & Cox dalam Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Sajikan Konteks Masalah
• Ajukan Pertanyaan
• Ajukan Pertanyaan
• Pantau Proses Pengumpulan data
• Kelola Diskusi Kelompok
• Ajukan Pertanyaan
• Sadari Adanya Masalah
• Rumuskan Masalah
• Rumuskan Jawaban Sementara (Hipotesis)
• Berikan Penjelasan beberapa Istilah
• Kumpulkan Data
• Olah dan Analisis Data
• Berikan Penafsiran atas Data
• Uji Kebenaran Hipotesis
• Rumuskan Kesimpulan
• Tarik Generalisasi
9. Model Pengelolaan Kontingensi (Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Identifikasi Perilaku Sasaran
• Rumuskan Perilaku Akhir
• Amati Kemunculan Perilaku
• Catat Konteks Perilaku tersebut
• Pilih Konteks
• Tentukan Penguat
• Gunakan Penguat Sesuai Konteks
• Tata Lingkungan Belajar
• Gunakan Proses Penguatan Secara Teratur
• Ukur Adanya Perubahan
• Pelihara Kondisi yang Baik
• Ketahui Perilaku Akhir sebagai Sasaran belajar
• Sadari Perilaku dalam Konteksnya
• Sadari Adanya Proses Perubahan Perilaku
• Manfaatkan Lingkungan Belajar Sebaik-baiknya
• Sadari Perubahan Perilaku Akhir
10. Model Kontrol Diri (Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Kemukakan Prinsip Kontrol Diri
• Undang siswa Berpartisipasi
• Rumuskan perilaku Khusus
• Kemukakan Langkah Kontrol Diri
• Tentukan Konteks
• Tentukan Hasil
• Susun Program
• Pantau Pelaksanaan Program
• Perbaiki Program
• Pahami Prinsip Kontrol Diri
• Masuklah Ke dalam Situasi Interaksi
• Sadari Perilaku Khusus Sebagai …
• Ikuti Prosedur
• Sadari Konteks dan hasil
• Susun Program Bersama Pengajar
• Ikuti Program dengan Tekun
• Adakan Penyesuaian
10. Model Simulasi (Joyce & Weil, 1986)
KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN SISWA
• Sajikan Berbagai Topik
• Jelaskan Prinsip Simulasi
• Kemukakan Prosedur Umum
• Susun Skenario
• Atur Para Pemeran
• Coba Peran Secara Singkat
• Pantau Proses Simulasi
• Kelola Proses Refleksi
• Beri Komentar
• Beri Penguatan
• Kelola Diskusi Balikan
• Kenali Topik
• Pamahi Prinsip
• Pahami Prosedur
• Pahami Skenario
• Pilih Satu Peran
• Latihan Peranan
• Lakukan Kegiatan Skenario
• Adakan Diskusi Umpan Balik
• Jernihkan Hal yang Tidak Jelas
• Ulangi Diskusi
• Adakan Diskusi Balikan
• Sadari Manfaatnya
D. Model – Model Pengajaran Dalam Pembelajaran Sains
1. Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction / DI)
Pengajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang bersifat teacher center.
Persyaratan pengajaran langsung :
a. Ada alat yang akan didemonstrasikan
b. Harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks)
Sintaks pengajaran langsung :
1) Fase 1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2) Fase 2 : mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
3) Fase 3 : membimbing siswa
4) Fase 4 : mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5) Fase 5 : memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan pene-rapannya.
c. Ada rencana pembelajaran
d. Ada lembar kerja siswa
2. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning / CL)
Pembelajaran kooperatif adalah merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.,
a. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif :
1) Fase 1 : menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
2) Fase 2 : menyampaikan informasi
3) Fase 3 : mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
4) Fase 4 : membimbing kelompok bekerja dan belajar
5) Fase 5 : evaluasi
6) Fase 6 : memberi penghargaan
b. Beberapa variasi dalam model Cooperative Learning
1) Student Teams Achievement Division (STAD)
Persyaratan pelaksanaannya :
a) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4-5 orang tiap kelompok
b) Seluruh siswa diberi kuis (tidak boleh bekerja sama)
c) Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapatkan skor tim
d) Tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan yang lain
e) Bahan/ alat yang harus disediakan guru :
• Lembar Kerja Siswa
• Rencana Pembelajaran
• Alat Evaluasi
• Alat dan Bahan
2) Teams Games Tournaments (TGT)
a) Guru menyiapkan :
• Kartu Soal
• Lembar Kerja Siswa
• Alat/ Bahan
b) Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 orang)
c) Guru mengarahkan aturan permainannya
3) Jigsaw
Persyaratan pelaksanaannya :
a) Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 orang).
b) Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
c) Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d) Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e) Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
f) Ada kuis individu.
g) Persyaratan lain yang perlu disiapkan guru :
• Bahan Kuis
• Lembar Kerja Siswa
• Rencana Pembelajaran
4) Think Pair Share (TPS)
TPS atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Sintaks TPS :
1) Fase 1 : Thinking (berpikir)
2) Fase 2 : Pairing (berpasangan)
3) Fase 3 : Sharing
5) Numbered Head Together (NHT)
NHT atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.
Sintaks NHT :
1) Fase 1 : Penomoran
2) Fase 2 : Mengajukan pertanyaan
3) Fase 3 : Berfikir bersama
4) Fase 4 : Menjawab
4. Model Pengajaran Berdasarkan Permasalahan (Problem Based Instruction / PBI)
Model PBI merupakan penyajian kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Persyaratan yang harus dipenuhi :
Sintaks PBI :
1) Fase 1 : orientasi siswa pada masalah
2) Fase 2 : mengorganisasikan siswa untuk belajar
3) Fase 3 : membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
4) Fase 4 : mengembangkan dan menyajikan hasil kerja siswa
5) Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Sabtu, 27 November 2010
PENCAPAIAN KONSEP DASAR BERFIKIR
PENCAPAIAN KONSEP:
DASAR-DASAR BERFIKIR
By: mahuri
Skenario
Kelas tingkat delapan Mrs. Stern di Hounston, Texas, sedang mempelajari karakteristik dari 14 kota terbesar di Amerika Serikat. Mereka telah mengumpulkan data dalam bentuk ukuran, populasi etnik, tipe-tipe industry, lokasi, dan dekatnya dengan sumber daya alam.
Bekerja dalam kelompok-kelompok para siswa telah mengumpulkan informasi dan menyimpulkannya dalam bentuk bagan yang sekarang telah ditempel disekeliling ruangan. Pada hari rabu bulan November, Mrs. Stern berkata”hari ini mari kita coba sebuah seri latihan yang dirancang untuk membantu kita memahami kota-kota ini lebih baik lagi. Saya telah mengidentifikasi sebuah konsep angka yang membantu kita untuk membandingkan dan membedakannya. Saya akan menandai bagan kita salah satunya iya atau tidak. Jika anda melihat informasi yang kita punya dan berfikir tentang populasi dan karakteristik yang lainnya, anda akan mengidentifikasi ide-ide yang ada dipikiran saya. Saya akan memulai dengan kota yang iya dan satu yang tidak, dan seterusnya. Pikirkan tentang kota yang iya. Kemudian catat setelah iya yang berikutnya yang menurut anda memiliki konektifitas dengan tempat iya yang pertama, dan terus tes ide-ide itu. Mari kita mulai dengan kota kita,” katanya. “Houston adalah iya.”
Para siswa melihat informasi tentang Houston, ukurannya, indiustri, lokasi dan etnik. Kemudian dia menunjuk Baltimore, Maryland.
“Baltimore adalah tidak”, katanya. Kemudian dia menunjuk San Jose, California. “ini adalah iya juga”, dia berkomentar.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 1
Pada akhirnya siswa memutuskan bahwa yang iya itu adalah kota-kota yang berkembang sangat cepat dan rata-rata memiliki iklim yang sejuk.
Latihannya sering dilakukan berulang-ulang. Siswa belajar bahwa mrs. Stern telah mengelompokkan kota-kota pada dasar-dasar hubungan jalan air antar kota, sumber daya alam, etnik, dan beberapa dimensi lainnya.
Pada sekenario ini Mrs. Stern sedang mengajarkan siswanya bagaimana berfikir tentang kota-kota. Pada waktu yang sama dia mengajarkan mereka tentang proses mengkategorisasikan. Ini adalah cara mereka memperkenalkan model pembelajaran yang kita sebut Pencapaian Konsep. Dia ingin mereka belajar secara konseptual tentang apa yang dipelajari dan mempunyai alat untuk mengkrasikan konsep-konsep dan untuk berkomunikasi dengan yang lainnya.
Membantu anak-anak mempelajari konsep secara efisien merupakan tujuan dasar dari sekolah. Sampai saat ini, walaupun, kebanyakan pendidik tidak secara jelas membedakan konsep belajar dari setiap tipe-tipe pembelajaran, walaupun banyak metode yang berguna tidak efisien untuk konsep pembelajaran.
Pada tahun 1960an, Akademi Pergerakan Kembali, dipimpin oleh pelajar-pelajar dari akademi matapelajaran traditional, menitikberatkan pada kepentingan konsep-konsep. Para pelajar itu dalam berbagai bidang menekankan pada pentingnya pembelajaran “ susunan mata pelajaran” dan “cara menemukan” nya. Timbulah Matematika Baru, Komite Ilmu Fisika (PSSC), Ilmu Sosial Baru, Komite Ilmu Biologi (BSSC) adalah beberapa dari hasil yang diperjuangkan, sama halnya dalam bidang linguistic pendekatan membaca, dan susunan pendekatan pada seni, music, dan pendidikan fisika.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 2
Sayangnya, kebanyakan usaha untuk mengubah kurikulum dilaksanakan secara tidak berkelanjutan untuk memaparkan pendidik pada penelitian di bidang konsep dasar dan proses dari konsep pembelajaran. Dari sumber-sumber ini, sejumlah model instruksional untuk mengajarkan konsep telah dihasilkan.
Pada bab ini, kita akan berfokus pada Model Pecapaian Konsep (Concept Attainment Model) yang dikembangkan dari penelitian Jerome Bruner, Jacqueline Goodnow, dan George Austin. Penelitian mereka, yang berjudul A Study of Thinking (Studi Mengenai Pemikiran) menyimpulkan riset bertahun-tahun dalam sebuah proses bagaimana manusia memahami konsep-konsep. Untuk mempelajari bagaimana pembelajaran konsep, Bruner dkk mesti memecahkan pertanyaan “Apakah sebuah konsep itu, dan apa yang dimaksud dengan mengetahui konsep?” Karena pembahasan mereka mengenai esensi dari konsep itu sendiri yang membentuk landasan untuk memahami segala jenis pembelajaran konsep, apapun strategi pengajaran yang digunakan, kita mendeskripsikan secara detil teori Bruner mengenai konsep. Kita juga akan memasukkan ide-idenya mengenai bagaimana siswa memahami suatu konsep, strategi mereka dalam berfikir. Dalam model ini, teori dan praktek memiliki overlap yang besar: cukup mudah untuk mempraktekkan aktivitas dari model tsb, namun untuk melakukannya dengan dampak nyata pada pemikiran konseptual memerlukan pemahaman yang jelas mengenai teori konsep.
Terdapat tiga variasi atau model mengenai pemahaman konsep yang telah disusun dari penelitian Bruner dkk. Masing-masing memiliki set aktifitas yang berbeda (Syntax), namun semuanya dibangun dari dasar konseptual yang umum. Kita mejabarkan ketiga variasi tsb (reception, selection, unorganized material) namun banyak berkonsentrasi pada Model Penerimaan dari Pemahaman Konsep (Receprion Model of Concept Attainment).
Tujuan dan Asumsi
Bruner, Goodnow, dan Austin berpendapat bahwa lingkungan sangatlah beragam dan kita manusia dapat membedakan banyak sekali objek dan aspek objek yang ‘bila kita menggunakan seluruh kemampuan kita untuk mengenali perbedaan-perbedaan yang pada pada berbagai hal dan merespon setiap kejadian yang ditemui sebagai sesuatu yang unik, kita akan terkagum-kagum oleh kekompleksitasan lingkungan kita sediri’.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 3
Bruner dkk mempelajari proses pemikiran yang dinamakan pengelompokkan (categorizing) ini. Mereka melihat pengelompokkan ini sebagai “ alat utama yang olehnya anggota masyarakat berkembang dapat tersosialisasi, karena kategori yang diajarkan pada seseorang dan digunakan secara berkelanjutan mencerminkan budaya tempat mereka berkembang”. Mereka berasusmsi bahwa meski isi dari kategori dapat saja berbeda-beda pada tiap budaya (Masyarakat Eskmimo mengklasifikasikan salju pada beberapa macam, dan orang amerika mengelompokkan mobil pada beberpa jenis pula), kesemua set dari konsep merupakan produk dari proses pemikiran yang hampir sama, dan alat yang digunakan untuk memahami suatu konsep pada dasarya ialah sama.
Pengelompokkan, Pembentuan Konsep, dan Pencapaian Konsep
(Categorizing, Concept Formation, and Concept Attainment).
Proses yang digunakan oleh mak comblang tsb ialah salah satu konsep pemahaman, “pencarian dan pendataan atribut yang dapat digunakan untuk membedakan standar dan non-standar dari berbagai kategori.
Pada pemahaman konsep, konsep tsb sebenarnya sudah ada. Pada kasus pria yang disukai dan tak disukai, tugasnya ialah untuk menentukan contoh ‘ya’ dan ‘tidak’. Pembentukan konsep (concept formation), sebaliknya, ialah tindakan dimana kategori-kategori baru dibentuk; tak bedanya dengan penemuan.
Menurut Bruner, aktifitas pengkategorian pada dasarnya memiliki dua komponen; pembentukan konsep dan pemahaman konsep. Lebih jauh lagi Bruner menyatakan bahwa pembentukan konsep merupakan langkah pertama dari pemahaman konsep. Perbedaan antara pemberntukan konsep dan pemahaman konsep, meskipun tipis, sangatlah penting karena: (1) tujuan dan penekanan dari kedua macam kegiatan pengkategorian ini berbeda, (2) langkah-langkah dari kedua proses pemikiran tidaklah sama, (3) dua proses mental ini memerlukan proses pengajaran yang berbeda.. Model Pemikiran Induktif Hilda Taba (Hilda Taba’s Inductive Thinnking model) ialah sebuah contoh dari strategi pembentukan konsep.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 4
Concept Attainment Teaching (Pengajaran Pencapaian Konsep)
Yang diperlukan untuk pengajaran pemahaman konsep cukup minim: sejumlah contoh yang serupa dalam berbagai hal dan berlainan pada hal-hal lain. Siswa dihadapkan pada contoh-contoh ini dan harus mencari tahu atau diberi tahu apakah tiap contoh mencerminkan konsepnya. Pada tiap contoh yang ditemui, siswa merumuskan dan merumuskan ulang sebuah hipotesis mengenai konsep. Tiap contoh memberikan informasi bermanfaat mengenai karakteristik dan nilai atribut dari konsep tsb.
Proses memilah-milah contoh “ya” dan “tidak” ialah sebuah permainan pemahaman konsep dan merupakan intisari dari pengajaran Model Pemahaman Konsep. Transkrip dibawah ini menunjukkan bagaimana seorang guru menggunakan permainan pemahaman konsep dengan contoh yang relatif sederhana.
Pengajaran konsep memberikan sebuah kesempatan untuk menganalisa proses pemikiran siswa dan membantu mereka unutk mengembangkan strategi yang lebih efektif. Pendekatan ini dapat melibatkan beragam bentuk partisipasi siswa dan control siswa, dan materi untuk memvariasikan kekompleksitasan. Apa yang membedakan pemahaman konsep yang sebenarnya dengan permainan tebak-tebakan belaka ialah penerapan sistematis dari teori konsep yang dijabarkan pada bagian setelah ini.
Teori Mengenai Konsep
Kita telah berulang-ulang menggunakan istilah seperti example, criterial atau essential feature, dan attributive untuk mendeskripsikan aktifitas pengkategorian dan pemahaman konsep. Diambil dari penelitian Bruner dkk, tiap-tiap istilah tsb memiliki makna dan fungsi tersendiri dalam segala bentuk pembelajaran konsep, khususnya pemahaman konsep.
Bruner menilai bahwa setiap konsep memiliki lima elemen: (1) nama; (2) contoh (positif dan negatif); (3) atribut (essensial dan non essensial); (4) nilai atribut; dan (5) aturan. Memahami suatu konsep berarti memahami kesemua elemen dari konsep tsb.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 5
Elemen yang kedua adalah contoh-contoh, dimaksudkan untuk contoh-contoh konsep itu. Pada latihan konsep pencapiain diatas, setiap kata (kite, cat, hat) merupakan contoh konsep. Beberapa merupakan contoh-contoh positif dan beberapa contoh-contoh negative, itulah, beberapa contoh konsep dan yang bukan. Bagian mengetahui sebuah konsep yaitu dengan menyadari contoh-contoh positif konsep itu dan juga perbedaanya yang dekat hubungannya tetapi contoh-contoh negative.
Elemen yang ketiga dan keempat adalah perlengkapan dan nilai dari perlengkapan. Perlengkapan merupakan ciri-ciri umum yang menyebabkan kita untuk meletakkan contoh pada kategori yang sama. Pada kasus buah-buahan bahan-bahan perlengkapan yang perlu adalah daging buah (atau kering), biji, manis (atau asam), dapat dimakan ataupun tidak, dan harga buah itu. Tidak semua cirri-ciri itu hal-hal yang perlu bagi konsep, beberapa konsep mempunyai perlengkapan yang terkadang berhubungan dengan konsep tetapi tidak perlu bagi konsep itu. Sekali lagi, bagian mengetahui konsep adalah dengan membedakan perlengkapan yang perlu dengan yang tidak.
Proses konseptual akan lebih mudah jika objek dan kejadian lebih di standarisasi. Akhirnya peraturan adalah sebuah definisi atau pernyataan menspesifikasi perlengkapan yang perlu pada konsep. Contohnya, kita mengatakan kalau segitiga itu memiliki tiga sisi. Sebuah peraturan biasanya terbentuk pada akhir proses pencapaian konsep. Guru biasanya menggunakan ini sebagai penemuan yang seharusnya simpulan yang ditemukan oleh siswa dalam pencarian perlengkapan konsep. Sebuah peraturan “yang benar” mempengaruhi penggunaan dari konsep elemen yang lainnya-contoh negative dan positif serta perlengkapan yang perlu dan tidak. Peraturan dengan jelas diutamakan pada kealamaian konsep dengan mengindikasi keseluruhan perlengkapan yang diperlukan.
Apa yang membuat konsep itu berbeda dengan yang lainnya yaitu kombonasi dari perlengkapan-perlnagkapan itu. Perbedaan perlengkapan dan nilai uniknya disebut criteria perlengkapan. Jika ada satu criteria perlengkapan yang hilang dari objek, maka objek itu adalah contoh untuk konsep yang lainnya.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 6
Pengepakkan, seperti bentuk, warna, dan rasa merupakan perlengkapan contoh yang dapat anda lihat, tapi seperti harga, hal ini bukan perlengkapan yang perlu bagi konsep. Kita mengarahkan ciri-ciri yang tidak perlu tersebut dalam contoh perlengkapan yang menggangu, dimana membuat konsep itu menjadi lebih rumit untuk menemukan ciri-ciri yang perlu bagi konsep.
Ketika kita mengajar siswa konsep baru, sangat penting bagi kita untuk mengeleminasi “gangguan” dari contoh-contoh yang kita persembahkan untuk mereka. Secara relative hal ini mudah untuk dilakukan ketika contoh konsep adalah objek atau kata-kata pendek sebagaimana contoh latihan vowel. Dalam kehidupan nyata, data dari beberapa kita menemukan konsep tersebut lebih kompleks. Guru-guru SMA bekerja dengan special kompleks dan konsep yang abstrak, seperti, “budaya”, “pendukung”, dan “angka tragis”. Untuk konsep yang kompleks, perlengkapan dan nilai perlengkapan tidak begitu jelas dan contoh-contohnya diisi oleh perlengkapan yang menganggu.
BAHASA PENCAPAIAN KONSEP:
Konsep-konsep Menganalisis
Istilah contoh, contoh positif dan negative, perlengkapan, ciri-ciri yang perlu, criteria perlengkapan, perlengkapan yang menganggu, nilai-nilai perlengkapan, merupakan keseluruhan bagian dari bahasa dimana digunakan oleh Bruner dan teman kuliahnya untuk mendeskripsikan kealamian konsep dan proses pencapaian konsep.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 7
Strategi Menganalisa Pemikiran untuk Menemukan Konsep
Sebagai tambahan menemukan konsep yang tepat, tujuan kedua dari Model Pencapain Konsep adalah untuk memperkenalkan siswa dengan proses konseptual itu sendiri. Hal ini berisi pemahaman hubungan antara data contoh, perlengkapan, dan pola pemikiran yang digunakan untuk menemukan konsep.
Bruner menggunakan istilah strategi untuk dimaksudkan pada urutan yang dibuat oleh orang-orang sebagaimana mereka memasukkan setiap contoh konsep. Untuk mengatisipasi, peneliti menemukan ketetapan proses untuk menemukan konsep. Strategi berfikir tidak selalu memberikan secara jelas oleh seseorang yang menggunakannya, dan mereka tidak diingatkan untuk memperbaikinya, kita menggunakan strategi yang berbeda untuk tipe yang berbeda dari konsep dan perbedaan bermacam-macam materi pembelajaran atau data.
Dengan jelas strategi yang digunakan oleh orang-orang tidak memperbaiki sesuatu. Mereka berubah dengan kealamian konsep yang menjadi terlihat, dengan keanekargaman tekanan yang ada dalam situasi, dengan konsekuensi tingkah laku, contohnya…apa yang paling kreatif tentang pencapaian konsep tingkah laku adalah dimana membentuk pola keputusan yang dibutuhkan mempengaruhi keadaan situasi dalam menemukan jati dirinya masing-masing. Kita tidak tahu strategi mana yang dipelajari.
Sebuah strategi yang ideal adalah salah satu yang paling sfisien dalam menemukan konsep tetapi mempunyai paling tidak nilai penyaringan kognitif hasil dari hapalan yang berlebihan, ambigu, dan lainnya.
FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 8
| CHAPTER 2 PENCAPAIAN KONSEP: OLEH ; MAHURI dan YEMMY |
| DOSEN PENGAMPU: PROF.DR. WACHIDI, M.Pd Diajukan Sebagai Tugas Kelompok Mata Kuliah Model Pembelajaran Semester 2 (Dua) Program Pascasarjana (S2) Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu |
| PROGRAM PASCASARJANA (S2) TEKNOLOGI PENDIDIKAN FKIP UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN AKADEMIK 2010
|
FILSAFAT ILMU
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................. 1
B. Permasalahan .............................................................................. 2
1. Jelaskan apa yang dimaksud perumusan masalah................. 2
2. Sebutkan Persyaratan Masalah Keilmuan............................. 2
3. Sebutkan kekurangan dari masalah keilmuan........................ 2
4. Langkah apa saja yang dilakukan pengamatan Deskripsi...... 2
5. Jelaskan tentang tinjauan pustaka.......................................... 2
6. Jelaskan persepsi mempengaruhi penapsiran........................ 2
7. Apa yang dimaksud teknologi menolong pengamatan.......... 2
8. Apa yang dimaksud dengan pengukuran.............................. 2
9. Sebutkan macam-macam penjelasan.................................... 2
10. Jelaskan macam-macam ramalan......................................... 2
11. Apa yang dimaksud laporan hasil penalaahan keilmuan...... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perumusan Masalah.................................................................... 3
B. Persyaratan Masalah Keilmuan.................................................. 3
C. Ciri-Ciri Masalah Keilmuan....................................................... 4
D. Pengamatan dan Deskripsi........................................................... 4
E. Tinjauan Pustaka.......................................................................... 5
F. Persepsi Mempengaruhi Penafsiran............................................. 6
G. Teknologi Menolong Pengamatan............................................... 6
H. Pengukuran................................................................................... 6
I. Penjelasan..................................................................................... 7
J. Macam-Macam Ramalan............................................................. 8
K. Laporan Hasil Penalaahan Keilmuan........................................... 8
BAB III PENUTUP
Kesimpulan........................................................................................ 9
i Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Perkembangan ilmu merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran. Ilmu meliputi baik pengetahuan maupun cara yang dikembangkan manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Sekarang kebenaran mempunyai berbagai konotasi yang lebih panting atau kurang penting tergantung pendapat individual.
Untuk kebanyakan ilmuan, kebenaran baru diketahui jika mereka dapat meramalkan apa yang akan terjadi di bawah persyaratan tertentu. Mereka puas dengan filsapah “biarlah masing-masing mengatur dirinya sendidri”, dan terserah kepada masing-masing untuk menentukan spesifikasi yang eksak dari tujuan akhir yang dikejarnya.
Ilmuan dapat dianggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Dan juga sistem yang lainnya dia mempunyai komponen yang berhubungan satu sama lain. Komponen utama dari sistem ilmu adalah: 1)perumusan masalah, 2)pengamatan dan deskripsi, 3)penjelasan, 4)ramalan dan kontrol.
Metode keilmuan adalah cara yang singkat dalam mendeskripsikan sistem ilmu yang menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya metode-metode yang spesifik dari tiap-tiap komponen sistem tersebut. Hal yang sangat menolong dalam mempelajari komponen-komponen ini adalah pengertian tentang salah satu dari ciri utama ilmu yakni ilmu memiliki sifat mengoreksi diri sendiri.
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 1
B. Permasalahan
1. Jelaskan apa yang dimaksud perumusan masalah
2. Sebutkan Persyaratan Masalah Keilmuan
3. Sebutkan kekurangan dari masalah keilmuan
4. Langkah apa saja yang dilakukan pengamatan Deskripsi
5. Jelaskan tentang tinjauan pustaka
6. Jelaskan persepsi mempengaruhi penapsiran
7. Apa yang dimaksud teknologi menolong pengamatan
8. Apa yang dimaksud dengan pengukuran
9. Sebutkan macam-macam penjelasan
10. Jelaskan macam-macam ramalan
11. Apa yang dimaksud laporan hasil penalaahan keilmuan
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perumusan Masalah
Akibat rumitnya hakikat manusia dan kehidupan maka tiap masalah keilmuan sudah harus merupakan seleksi dari data yang diberikan oleh penghidupan kepada kita. Sehingga tak seorangpun dalam memecahkan suatu masalah dapat mimilih seluruh fakta.. Para ilmuan dalam merumuskan masalah harus mambatasi diri dengan ruang lingkup yang terbatas apa yang diketahuinya.
Sering dikatakan bahwa hal yang paling penting dalam penelaahan keilmuan adalah merumuskan masalah yang baik. Walaupn kita tidak mengetahui dengan tepat bagaimana memilih masalah yang berguna dalam ilmu. Suatu cara yang dilakukan dalam menentukan dan merumuskan masalah adalah melewati persepsi kita dalam menghadapi kesulitan tertentu.
Masalah yang lebih spesifik kebanyakan ditemukan oleh para ilmuan sendiri. Salah satu syarat utama dalam hubungan antara ilmuan dengan masalah yang sedang dihadapi adalah bahwa dia menaruh perhatian yang besar kepada masalah tersebut. Walaupun begitu dapat kita katakan bahwa karya ilmuan yang terbaik biasanya ditandai dengan api hasrat yang berkobar menyinari ilmuan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
B. Peryaratan Masalah Keilmuan
Ciri yang ideal dari sebuah masalah keilmuan adalah:
· Bahwa masalah itu penting karena pemecahannya berguna,
· Masalah keilmuan adalah penting bila masalah menghubungkan dalam suatu kesatuan pengetahuan yang sebelumnya dianggap berdiri sendiri.
· Masalah adalah penting karena dia mampu mengisi celah yang masih ketinggalan dalam khazanah pengetahuan kita. Setiap maslah yang penting akhirnya akan dikerjakan oleh seseorang
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 3
· Ciri yang lain dari sebuah maasalah dalam ilmu adalah bahwa masalah itu mesti dapat dijawab dengan jelas, atau sebuah masalah tak boleh dirumuskan sedemikian rupa sehingga berapapun jumlah jawaban yang diberikan akan tetap memenuhi syarat.
· Ciri selanjutnya dari masalah keilmuan adalah bahwa setiap jawaban terhadap permasalahan itu mesti dapat diuji oleh orang lain.
C. Ciri-ciri Masalah Keilmuan
Sebuah masalah keilmuan harus dirumuskan sedemikian sehingga pengumpulan data dapat dilakukan secara Objektif. Objektif artinya bahwa data dapat tersedia untuk penelaahan keilmuan tanpa ada hubungannya dengan karakteristik individual dari seorang ilmuan.
Masalah keilmuan harus mengandung unsur pengukuran dan definisi dari variabel yang terdapat dalam masalah tersebut. Jika tidak dicantumkan secara ekpisit keadaan ini merupakan kekurangan dari suatu masalah keilmuan:
· Tanpa adanya ukuran dan definisi maka orang lain tak dapat menguji hasilnya
· Ilmu tidak mengizinkan pengukuran dan definisi yang bersifat pribadi dari seorang ilmuan.
Ukuran dan definisi haruslah objektif sehingga setiap ilmuan yang mempergunakannya dalam hubungannya dengan masalah yang sama akan mendapatkan jawaban yang sama pula. Jika masalah telah dirumuskan dengan baik, hasil hasil perumusan ini disebut hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan yang dapat diuji tentang hubungan sesuatu yang sedang diselidiki yang mempunyai konsekwensi yang dapat kita jabarkan secara deduktif.
D. Pengamatan dan Deskripsi
4 Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010
Manusia kebanyakan berpikir dalam bahasa, semua cabang ilmu pengetahuan mencoba mengembangkan bahasa khusus untuk mengamati dan menguraikan aspek yang lebih luas yang dapat dicakup secara teknis keilmuan. Merupakan ciri dari ilmu yang sedang dalam tahap perintisan di mana diperlukan nama-nama benda baru atau kombinasi dari benda lama.
· Langkah perantara pada hakekatnya berbentuk pemeriksaan, apakah masalah yang kita telaah memang ada dan memungkinkan untuk pengumpulan data.
· Sedangkan langka lain adalah memikirkan metode mana yang akan dipakai dalam pengujian hipotesis dengan memperhatikan waktu, ongkos, tenaga kerja dan efisiensi dari setiap metode yang mungkin diterapkan.
Fakta tak ada artinya tanpa diberi nama. Sebelum melakukan pengamatan dan memberikan uraian harus ditentukan terlebih dahulu apa yang akan kita amati dan bagaimana hubungan antara fakta dengan hipotesis. Ilmu akan memberikan rencana dan struktur kegiatan, namun dasar penelaahan harus dilandaskan secara untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.
E. Tinjauan Pustaka
Langkah selanjutnya dalam sistem penelaahan keilmuan adalah meninjau kepustakaan tentang apa yang telah dilakukan orang lain masa lalu. Karakteristik yang penting dari pengetahuan keilmuan ialah bersifat kumulatif dimana tiap pengetahuan disusun di atas pengetahuan sebelumnya. Langkah pertama yang diambil sesudah merumuskan masalah adalah melakukan tinjauan pustaka.
Pada tinjauan pustaka ini masalah yang terpenting adalah bagaimana membuat catatan dan sistem indeks dari segenap imformasi yang kita dapatkan dari membaca.
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 5
F. Persepsi Mempengaruhi Penafsiran
Fakta baru dapat kita mengerti hanya dalam ruang lingkup sistem pengetahuan dan fakta tak dapat berbicara sendiri. Kita tidak dapat membuat persepsi tanpa melakukan suatu penafsisran. Jadi seorang ilmuwan harus memulai kegiatan dalam pengamatannya dengan menyadari hal ini terlebih dahulu baru menetapkan apa yang akan dicari yang bisa disebut keilmuan.
Ditinjau dari hipotesis yang diajukan, seorang ilmuwan harus memutuskan tingkah laku apa atau benda mana yang akan diamati atau dideskripsikan, dicatat untuk mendapatkan imformasi yang diperlukan sehingga dapat memutuskan dalam kondisi apa pengamatan akan dilakukan.
G. Teknologi Menolong Pengamatan
Pada umumnya para ilmuwan mempergunakan alat apa saja untuk menolong dalam menyelidiki hipotesisnya. Alasan lain kita menggunakan alat atau instrumen teknologi ini disebabkan karena panca indra kita terbatas sifatnya, yang tak mungkin untuk mengamati variabel yang jumlahnya banyak yang timbul dalam suatu situasi yang kompleks.
H. Pengukuran
Hampir semua metode keilmuan memerlukan pengukuran. Pengukuran berarti membandingkan suatu objek tertentu dan memberi angka kepada objek tersebut menurut cara-cara tertentu. Ilmuwan sosial biasanya menggunakan dua tipe perbandingan diantaranya :
· Perbandingan Ordinal
· Perbandingan Kardinal
Perbandingan ordinal adalah perbandingan yang meletakkan dalam urutan ditinjau dari segi tertentu, sedangkan perbandingan kardinal menggunakan bilangan penghitung.
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 1 6 1
I. Penjelasan
Penjelasan dalam ilmu pada dasarnya adalah menjawab pertanyaan “Mengapa”. Penjelasan dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
· Deduktif
· Probabilistik
· Genetis
· Fungsional
Penjelasan deduktif adalah sebuah penjelasan yang terdiri dari rangkaian dimana kesimpulan tertentu disimpulkan setelah menetapkan aksioma atau postulat. (contoh Semua manusia adalah fana, Socrates adalah manusia, maka Socrates adalah fana)
Penjelasan Probabilistik (kemungkinan) adalah sebuah penjelasan yang berbentuk pertanyaan dalam ilmu yang tidak dapat dijawab dengan pasti tetapi dengan kata-kata “mungkin” (contoh mengapa presiden kenedy dibunuh? Kita mungkin menjawab Mungkin pembunuh itu gila.)
Penjelasan Genetis adalah Suatu penjelasan menjawab pertanyaan “Mengapa” dengan apa yang terjadi sebelumnya. Penjelasan genetis kadang-kadang disebut penjelasan historis (contoh: mengapa seorang anak mempunyai tipe rambut tertentu? Yakni dengan memakai faktor keturunan yang dihubungkan dengan karakteristikorang tua)
Penjelasan Fungsional adalah suatu penjelasan yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” dengan jalan menyelidiki tempat dari objek yang sedang diteliti dalam keseluruhan item dimana objek tersebut berada. (contoh anak menghormati bendera, Penjelasan fungsional akan memberikan jawaban bahwa penghormatan tersebut akan menjadikan anak lebih patriotik)
Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 7
J. Macam-macam Ramalan
Kebelum puasan para ilmuwan terhadap hipotesisnya yang tidak disyahkan kebenarannya dengan cara memungkinkan adanya ramalan dan kontol.
· Hukum : Hukum dalam ilmu sosial adalah beberapa keteraturan yang fundamental yang dapat diterapkan kepada hakekat manusia
· Proyeksi : adalah ramalan yang mempelajari kejadian terdahulu dan membuat pernyataan tentang hari depan didasarkan kejadian tersebut.
· Institusional : adalah ramalan yang berdasarkan cara suatu institusi beroperasi.
· Masalah : adalah ramalan yang didasarkan pada penentuan masalah apa yang dihadapi oleh manusia dan masyarakatnya.
· Tahap : adalah suatu cara untuk meramalkan sesuatu yang berdasarkan tahap dari suatu perkembangan yang berurutan.
· Utopia : adalah suatu ramalan terakhir dalam ilmu untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi perdasarkan pengetahuan yang kita ketahui sekarang.
K. Laporan Hasil Penelaahan Keilmuan
Aspek yang terakhir dalam sistem ilmu untuk setiap hasil karya keilmuan adalah penulisan laporan. Sedangkan hasil penemuannya dapat dilaporkan dalam bermacam cara dan cara yang paling umum adalah lewat jurnal keilmuan, menerbitkan buku, monografh. Monografh adalah suatu laporan yang lebih panjang dari sebuah artikel keilmuan dan lebih pendek dari sebuah buku dan lebih bersifat teknis.
Pembakuan kejujuran dalam ilmu adalah tinggi bahkan lebih tinggi dari bidang pengadilan. Kemudian sifat jelas dapat dipahami adalah perlu agar orang lain mengerti apa yang sedang dilaporkan.
Filsafat TGS 2 File@Mahuri 2010 8
BAB III
P E N U T U P
Kesimpulan
1. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia
2. Ilmu dapat dianggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran yang mempunyai komponen-komponen yang berhubungan satu sama lainnya.
3. Ilmu adalah merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa
4. Metode Keilmuan adalah cara yang singkat dalam mendeskripsikan sistem ilmu yang menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya beserta metode-metode yang spesifik dari setiap komponen tersebut.
5. Komponen utama dari sistem ilmu ada 4 macam
· Perumusan masalah
· Pengamatan dan deskripsi
· Penjelasan
· Ramalan dan kontrol
6. Syarat Ilmu
· Objektif = Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakekatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.
· Metodis = adaaran.lah upaya yang dilakukan untuk meminimalisasikan kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari keben
· Sistimatis = Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berati secara utuh , menyeluruh,terpadu dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya
· Universal = kebenaran yang hendak dicapai dan bersifat umum
7. Persepsi adalah proses saat individu mengatur dan menginterprestasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti
8. 9 Inovasi Pendidikan: File@Mahuri 2010 Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010
9. Klarifikasi, pemberian nama dan penataan sifat-sifat tertentu, merupakan bagian yang penting dari bagai mana cara para ilmuwan melakukan pengamatan dan deskripsi.
10. Tinjauan pustaka adalah merupakan salah satu langkah dalam sistem penelaahan keilmuan, yang menggambarkan apa yang dilakukan para ilmuan yang lain dan hal ini akan mencegah duplikasi yang tidak perlu
11. Kita tidak bisa membuat persepsi tanpa melakukan penafsiran terlebih dahulu, kemudian baru menetapkan apa yang akan dicari untuk bisa disebut keilmuan.
Inovasi Pendidikan: File@Mahuri 2010 Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010 1 10
| STRUKTUR ILMU MAKALAH |
| MAHURI Diajukan Sebagai Tugas Individu mata kuliah Filsafat Program Pascasarjana (S2) Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu |
| PROGRAM PASCASARJANA (S2) PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN FKIP UNIVERSITAS BENGKULU 2010 |
DAFTAR PUSTAKA
Peter R. Senn, Struktur Ilmu, dikutip dari buku Social Science and its Methods (Holbrook, 1971), hal, 9-35
Id.wikipedia.org/wiki/ilmu




