Kamis, 23 Juni 2011

SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
OLEH: MAHURI GURU SMK NEGERI 4 KOTA BENGKULU

Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisipada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronikmelalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologielektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasirangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasiperangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dankomputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.
Manusia memiliki dua fungsi kedudukan dalam kehidupan ini yaitu sebagai individu dan mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan untuk berkomunikasi diantara sesamanya dan merupakan kebutuhan penting agar dapat melakukan interaksi dengan baik. Atas dasar kebutuhan tersebut, manusia berupaya mencari dan mencipta sistem dan alat untuk saling berinteraksi, mulai dari gambar (bentuk lukisan), isyarat (tangan, asap, dan bunyi), huruf, kata, kalimat, tulisan, surat, sampai dengan telepon dan internet.

Perkembangan sistem informasi dalam kehidupan manusia seiring dengan peradaban manusia itu sendiri sampai akhirnya mengenal istilah Teknologi Informasi (IT/Information Technology). Dimulai dari bentuk gambar yang tak bermakna pada dinding-dinding, prasasti-prasasti, sampai informasi yang kemudian dikenal dengan nama internet. Informasi yang dikekola dan disampaikan juga terus dikembangkan, dari informasi yang sederhana seperti sekedar menggambarkan suatu keadaan, sampai pada informasi strategis seperti taktik bertempur.
Meperhatikan perkembangan informasi tersebut, kita akan mempelajari secara singkat sejarah teknologi infomasi dalam upaya untuk mendapatkan keutuhan ilmu dan pengetahuan tentang teknologi informasi. Sejarah teknologi dapat kita bagi ke dalam masa pra-sejarah, masa sejarah, dan masa modern.
Teknologi informasi merupakan gabungan antara teknologi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Pengembangan teknologi hardware cenderung menuju ukuran yang kecil dengan kemampuan serta kapasitas yang tinggi. Namun diupayakan harga yang relatif semakin murah. Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Perkembangan teknologi informasi telah memunculkan berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi, seperti : e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.
Dengan ditunjang teknologi informasi telekomunikasi data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran. Perkembangan teknologi informasi memacu suatu carabaru dalam kehidupan, dari kehidupan itu dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Sehingga sekarang sedang semarak dengan berbagai terminologi yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.
Ekonomi global juga mengikuti evoluasi dari agraris dengan ciri utama tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Melalui penemuan mesin uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utama modal sebagai faktor produksi yang paling penting. Abad sekarang, cenderung manusia menduduki tempat sentral dalam proses produksi berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused). Telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, memungkinkan diterapkannya cara-cara yang lebih efisien untuk produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam masyarakat atau ekonomi informasi sering disebut sebagai masyarakat pasca industri. Pada era informasi ini, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor penentu dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga dunia ini menjadi suatu kampung global atau Global Village.
A.REVOLUSI INFORMASI DAN KOMUNIKASI GLOBAL
Sejak terjadinya revolusi industri, komunikasi global mulai berkembang dengan sangat pesat dan memiliki pengaruh yang luar biasa. Istilah “Broadcasting The World” (menyiarkan dunia) pun mulai berkembang. Suatu negara dapat mengerti apa yang terjadi di belahan dunia lainnya berkat tumbuh-kembangnya teknologi ini. Saat ini bagian yang sangat penting dari arus informasi internasional lahir melalui perkembangan teknologi dan metode penyiaran. Salah satu area utama dalam komunikasi internasional, yang merupakan perkembangan teknologi terkini, yang menjadi salah satu fenomena hubungan internasional yaitu internet. Internet dapat diartikan sebagai jaringan komputer luas dan besar yang mendunia, yaitu menghubungkan pemakai komputer dari suatu negara ke negara lain di seluruh dunia, di mana di dalamnya terdapat berbagai sumber daya informasi dari mulai yang statis hingga yang dinamis dan interaktif. Secara umum ada banyak manfaat yang dapat diperoleh apabila seseorang mempunyai akses ke internet. Berikut ini sebagian dari apa yang tersedia di internet:
1. Informasi untuk kehidupan pribadi: kesehatan, rekreasi, hobi, dan pengembangan pribadi, rohani, serta sosial.
2. Informasi untuk kehidupan profesional/pekerja: sains, teknologi, perdagangan, saham, komoditas, berita bisnis, asosiasi profesi, asosiasi Universitas Sumatera Utarabisnis, dan berbagai forum komunikasi.
Satu hal yang paling menarik ialah keanggotaan internet tidak mengenal batas negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor-faktor lain yang biasanya dapat menghambat pertukaran pikiran. Internet adalah suatu komunitas dunia yang sifatnya sangat demokratis serta memiliki kode etik yang dihormati segenap anggotanya. Manfaat internet terutama diperoleh melalui kerjasama antar pribadi atau kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu.
Semenjak diciptakannya internet, maka dunia seakan melebihi kapasitas di luar ambang batas. Tidak hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang dapat muncul di berita, tetapi semua orang sekarang dapat berperan dalam menyiarkan seluruh hal, bahkan tentang dirinya sendiri
B. TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi dan teknologi komunikasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat pertukaran pikiran. Perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e- seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

C. PERKEMBANGAN, IMPLIKASI, DAN PEMANFAATAN TI DAN TK DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Teknologi Siaran Sejak PELITA I teknologi berupa siaran radio dan televisi telah diprogramkan. Memang sarana dan prasarana pada waktu itu belum ada atau belum memadai, namun dengan perkembangan teknologi siaran, seperti siaran langsung dari satelit dan pemancar ulang berdaya rendah, telah memungkinkan dicapainya seluruh pelosok tanah air. Teknologi ini terus berkembang sampai dengan PELITA berikutnya, yang kemudian berkembang dengan munculnya televisi swasta dan jaringan televisi siaran lokal.
Satelit Komunikasi Sejak tahun 1976, Indonesia telah memasuki era informasi modern dengan beroperasinya SKSD PALAPA I. Sistem satelit komunikasi ini merupakan kebutuhan yang unik bagi Indonesia, karena keadaan dan letak geografisnya. Dasar pertimbangan pengembangan sistem ini adalah untuk keperluan pendidikan, penerangan, hiburan, pemerintahan, bisnis, pertahanan keamanan, dan perindustrian. Komputer Perkembangan perangkat keras komputer berlangsung sangat pesat. Selain daya muatnya yang semakin besar, kecepatan operasinya juga semakin tinggi. Jika sepuluh tahun yang lalu microprocessor komputer mampu mengakses memori dengan kecepatan perjutaan detik, maka saat ini kecepatannya sudah dihitung dengan permiiliar (nano) detik. Komputer meja atau personal computer saat ini sudah tidak dipandang sebagai barang mewah lagi, melainkan sebagai suatu kebutuhan yang esensial untuk dapat mengikuti kemajuan. Boleh dikatakan tidak ada satu kantorpun yang tidak memiliki dan mengoperasikan komputer.
Teknologi Video (Perekam Video) Perkembangan dalam teknolofi video sejalan dengan perkembangan komunikasi dan komputer, meskipun orientasi utamanya adalah untuk keperluan hiburan. PERKEMBANGAN TI DAN TK MENURUT RAMALAN PARA AHLI Dari dulu sejak sebelum maraknya penggunaan TI dan TK dalam kehidupan dan dalam bidang pendidikan pada khususnya, para ahli telah mengungkapkan ramalannya tentang penggunaan TI dan TK ini. Berikut ini kita bahas beberapa ramalan para ahli tersebut. “Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka” (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Socieiy),” yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “Saat itu juga (Just on Time). Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner. Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication (CMC). Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif
D. PERKEMBANGAN DAN IMPLIKASI TI DAN TI DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Kecenderungan perkembangan dan implikasi dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah:
1. Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning).
2. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan.
3. Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.
DISTANCE LEARNING Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.
Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut:
1. Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya.
2. Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.
3. Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya.
4. Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning
5. Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database.
6. Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web.

E. PEMANFAATAN ATAS PERKEMBANGAN TI DAN TK UNTUK PENDIDIKAN DI INDONESIA
Perpustakaan elektronik (e-library) Revolusi teknologi informasi tidak hanya mengubah konsep pendidikan di kelas tetapi juga membuka dunia baru bagi perpustakaan. Perpustakaan yang biasanya merupakan arsip buku-buku dengan dibantu teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi lebih agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Dengan banyaknya perpustakaan tersambung ke internet, sumber ilmu pengetahuan yang biasanya terbatas ada di perpustakaan menjadi tidak terbatas
Surat elektronik (e-mail) Dengan aplikasi e-mail, seorang guru, orang tua, pengelola, dan siswa dapat dengan mudah saling berhubungan. Pihak sekolah dapat membuat laporan perkembangan siswa dan prestasi belajar baik diminta orang tua atau pun tidak. Dalam kegiatan belajar diluar sekolah, siswa yang menghadapai kesulitam materi pelajaran dapat bertanya lewat e-mail kepada pihak sekolah atau guru bidang studi. Demikian pula untuk guru yang berhalangan hadir dapat memberikan tugas via e-mail kepada siswa.
Ensiklopedia Sebagian perusahaan yang menjalankan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD-ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga duharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tetapi juga video dan audio.
Jurnal atau majalah ilmiah Salah satu argumentasi umumnya di dunia pendidikan Indonesia adalah kurangny akses informasi ke jurnal atau majalah ilmiah yang berada di internet sehingga memudahkan bagi para siswa untuk mengakses informasi ilmiah terkahir yang ada di seluruh dunia.
Pengembangan homepage dan sistim distribusi bahan belajar secara elektronik (digital) Sistem pembelajaran melalui homepage dapat dikembangkan dalam bentuk sekolah maya (virtual school) sehingga semua kegiatan pembelajaran mulai dari akses bahan belajar, penilaian, dan kegiatan administrasi pendukung dapat secara online selama 24 jam. • Video teleconference Keberadaan teknologi informasi video teleconference memungkinkan bagi anak-anak di seluruh dunia untuk saling mengenal dan berhubungan satu dengan lainnya. Video teleconference di sekolah merupakan saranan untuk diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan belajar mengajar yang bersifat social. Disamping itu dapat pula untuk pengamatan proses eksperimen dari seorang guru.
F. REVOLUSI INFORMASI AKAN MEMBAWA PERUBAHAN KEBIASAAN DI SELURUH PENJURU DUNIA.

Teknologi Informasi ( disingkat IT dalam bahasa Inggris ) telah mengubah kebudayaan dan kebiasaan sebagian besar masyarakat dunia. Hal serupa juga terjadi saat revolusi Industri di abad 20, dimana terjadi peralihan secara besar-besaran dari tenaga manusia berganti menjadi tenaga mesin. Apalagi pada negara-negara maju, mereka adalah pioneer saat revolusi-revolusi seperti ini. Dari revolusi tersebut, banyak hal yang mengalami perubahan, petani akan berkurang, buruh akan mulai bertransformasi menjadi seseorang yang lebih memiliki skill, karena memang dituntut untuk itu. Revolusi semacam itu membawa kemajuan dan membuat hidup manusia lebih mudah.

Sekarangpun, tanpa kita sadari, kita sedang dalam proses revolusi informasi. Dimana sistem informasi yang berbasis komputer mulai mendominasi di semua bidang. Memang kita di Indonesia baru saja mulai, namun di luar negri, revolusi ini sudah memasuki tengah proses. Revolusi Informasi akan membawa perubahan-perubahan pada kebudayaan dunia. Salah satu contohnya ialah komunikasi, jika dahulu orang berbicara jarak jauh hanya melalui telepon, maka sekarang bisa terlihat wajahnya melalui video-chat. Chatting dan SMS sudah menjadi standar komunikasi dalam pergaulan. Email sudah mulai menggantikan surat , dan lain-lain.

Teknologi Informasi akan membuat hidup manusia lebih mudah lagi, memang manusia selalu menciptakan penemuan-penemuan yang dapat memudahkan dan membantu mereka untuk tetap bertahan. Dengan teknologi Informasi, rasanya jarak antar tempat di bumi ini semakin dekat, contohnya : saat Anda di Indonesia chatting dengan orang Amerika… jarak Indonesia-Amerika sangat jauh, namun terasa dekat bukan ?

Bukan hanya lewat chatting, game online juga berperan dalam hal ini, pemain-pemain dari seluruh dunia berkumpul dan bermain bersama. Rasanya mereka yang berada di negara lain seperti tetangga kita saja.

Memang salah satu manfaat teknologi informasi adalah memudahkan komunikasi. Dengan memanfaatkan Teknologi Informasi, Komunikasi akan berjalan lebih baik, dulu jika seseorang ingin memesan barang dari luar negeri, harus melalui surat yang lama sekali baru sampai, atau mungkin titip teman / saudara kita yang sedang berlibur atau tinggal di luar negeri. Namun sekarang, cukup beberapa klik saja dari layar monitor, kita sudah bisa membeli barang dari toko yang jaraknya sangat jauh dari kita. Handphone-handphone baru sudah dilengkapi dengan sistem operasi yang canggih, seperti Windows Mobile ataupun Symbian. OS tersebut memungkinkan kita mengirimkan MMS yang membuat komunikasi lebih enak. Hal tersebut juga merupakan imbas dari perkembangan teknologi informasi.

Selain dalam komunikasi, teknologi Informasi juga berperan dalam bidang lain, bahkan yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari kita. Rumah masa depan adalah rumah yang berbasis IT, dalam artian seluruh komponen rumah tersebut terhubung dalam satu jaringan. Jadi seakan-akan rumah tersebut hidup dan mengetahui penghuninya. Mungkin sulit untuk menjelaskan secara teknis, saya akan coba memberikan gambaran berikut :

Saat Anda masuk ke rumah, membuka pintu maka lampu akan otomatis menyala. Sistem komputer rumah akan melihat waktu, jika sore berarti Anda baru pulang kerja. Komputer akan secara otomatis menyalakan pendingin ruangan hingga suhu yang sudah ditentukan. Dilanjutkan dengan menyalakan TV dengan channel yang sudah diatur. Kemudian di kamar mandi, bathtub akan terisi dengan air hangat hingga suhu tertentu dengan sendirinya. Pulang kerja Anda merasa lelah ? Untuk membantu menghilangkan kelelahan Anda, komputer akan memutar musik-musik yang lembut secara otomatis. Lemari pendingin yang juga terhubung dalam jaringan akan menyiapkan minuman kesukaan Anda. Setelah Anda mandi, maka Anda akan pergi ke sebuah layar monitor yang sudah otomatis menampilkan jadwal kerja Anda selama seminggu, jadi Anda dapat melihat kegiatan-kegiatan di kantor esok hari. Kemudian dilanjutkan dengan membuka situs-situs berita secara otomatis, dan bila perlu dengan menggunakan text-to-speech, komputer akan membacakan berita untuk Anda, sehingga Anda hanya cukup bersantai di kursi malas, dan komputer akan membacakan berita-berita untuk Anda.

Mobil Anda juga dilengkapi dengan sistem komputer, dia akan mengenali pemiliknya. Maka saat ia dikendarai oleh pencuri, maka komputer mobil akan mengambil alih kendaraan dan mengantarnya pada kantor polisi terdekat. Anda yang dirumahpun, yang mobilnya kecurian dapat mengetahui dimana mobil Anda berada, bahkan mungkin mengontrol kendaraan Anda dari rumah tersebut, karena Anda memiliki akses ke sistem komputer mobil tersebut. Mobil tersebut juga akan memiliki sistem yang dapat mendiagnosa kondisi mobil, apakah tekanan ban kurang ? oli yang segera habis ? dan lain-lain. Lebih jauh lagi… tempat buang air besar telah dilengkapi sensor canggih yang dapat mendiagnosa kotoran Anda !. Jadi saat Anda buang air, maka sistem komputer akan memeriksa kondisi kesehatan Anda dan menyarankan hal-hal yang mungkin berguna bagi kesehatan Anda, atau langsung mengirim catatan medis ke rumah sakit langganan Anda.

Negara-negara luar telah maju selangkan dengan menggunakan TI dalam jaringan pemerintahan mereka. Bahkan di Korea, lebih dari 2/3 penduduknya adalah pengakses internet, bandingkan Indonesia yang dibawah 5%. Negara-negara maju akan beralih menggunakan teknologi informasi, karena memang selain biaya operasional yang lebih hemat, juga informasi akan tersaji dengan lebih cepat dan lebih mudah. Rumah sakit dengan ribuan pasien tentu akan kesulitan dalam mencari dokumen seseorang dengan manual. Belum lagi jika dokumen / catatan medisnya sudah sobek-sobek dimakan tikus. Sulit, lama, dan beresiko. Cara manual seperti ini sudah seharusnya digantikan oleh sistem berbasis teknologi informasi yang jauh lebih cepat, dan aman.

Sudah saatnya Indonesia beralih menggunakan teknologi informasi. Cara manual sudah tidak lagi efektif di jaman sekarang, jaman sekarang menuntut cepat dan tepat. Dan untuk mencapai cepat-tepat tersebut hanya bisa dilakukan dengan baik oleh komputer. Manusia yang memiliki inteligensi mengontrol komputer dan menggunakan kelebihannya tersebut untuk membantu kerja manusia. Indonesia sekarang judah sudah mulai perlahan beralih ke teknologi informasi, dari mulai membuat Kartu Tanda Penduduk, Surat Izin Mengemudi, hingga Perhitungan suara Pemilihan Umum. Memang agak terlambat jika dibandingkan negara-negara lain, karena dari Sumber Daya Manusianya juga belum mendukung secara total, jangankan menguasai teknologi informasi, rakyat Indonesia masih banyak yang buta huruf. Itu adalah salah satu hambatan perkembangan teknologi informasi di negara kita. Namun lebih baik terlambat dibandingkan tidak sama sekali, akhir-akhir ini juga banyak pelajar yang makin berminat dengan teknologi informasi. Generasi mendatang memang harus siap dengan kemajuan teknologi yang tiada henti. Jika generasi muda kita sudah siap dengan teknologi, maka dalam beberapa tahun mendatang, perkembangan dan penerapan teknologi informasi di Indonesia akan dapat menyamai negara-negara maju.


Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat, maka pengaksesan terhadap data atau informasi yang tersedia dapat berlangsung dengan cepat, efisien serta akurat. Metoda-metoda baru dalam bidang komunikasi via selular juga dihasilkan. Metoda-metoda baru di bidang komunikasi baik terhadap transmisi data maupun content atau isi dari data terus dikembangkan untuk bisa menyesuaikan diri dari pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Sektor pendidikan yang merupakan salah satu sektor pembangunan yang sedang mendapat perhatian besar dari pemerintah merupakan salah satu sektor pembangunan yang sangat potensial untuk dapat diintegrasikan dengan kehadiran teknologi informasi. Dampak dari perkembangan itulah yang menyebabkan dunia pendidikan harus menyelaraskan diri guna peningkatan kualitas dan performa institusi pendidikan untuk bisa bersaing ditengah-tengah arus globalisasi, dan bisa menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa institusi pendidikan tersebut bisa diterima dan diakui oleh banyak pihak yang terkait.

Dengan kemajuan perkembangan pendidikan di Indonesia, baik dari aspek administratif atau teknologi, maka proses pelayanan informasi pendidikan di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk mengembangkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah SMA dan keterlibatan orangtua siswa dalam mengikuti perkembangan dan potensi anak-anaknya di sekolah, dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung, dimana salah satu fasilitas pendukung tersebut adalah aplikasi teknologi informasi dengan mengimplementasikan suatu sistem informasi berbasis jaringan komunikasi global dalam satu komunitas yang menghubungkan beberapa pusat pelayanan informasi aplikasi berbasis SMS.


Teknologi Informasi ( disingkat IT dalam bahasa Inggris ) telah mengubah kebudayaan dan kebiasaan sebagian besar masyarakat dunia. Hal serupa juga terjadi saat revolusi Industri di abad 20, dimana terjadi peralihan secara besar-besaran dari tenaga manusia berganti menjadi tenaga mesin. Apalagi pada negara-negara maju, mereka adalah pioneer saat revolusi-revolusi seperti ini. Dari revolusi tersebut, banyak hal yang mengalami perubahan, petani akan berkurang, buruh akan mulai bertransformasi menjadi seseorang yang lebih memiliki skill, karena memang dituntut untuk itu. Revolusi semacam itu membawa kemajuan dan membuat hidup manusia lebih mudah.

Sekarangpun, tanpa kita sadari, kita sedang dalam proses revolusi informasi. Dimana sistem informasi yang berbasis komputer mulai mendominasi di semua bidang. Memang kita di Indonesia baru saja mulai, namun di luar negri, revolusi ini sudah memasuki tengah proses. Revolusi Informasi akan membawa perubahan-perubahan pada kebudayaan dunia. Salah satu contohnya ialah komunikasi, jika dahulu orang berbicara jarak jauh hanya melalui telepon, maka sekarang bisa terlihat wajahnya melalui video-chat. Chatting dan SMS sudah menjadi standar komunikasi dalam pergaulan. Email sudah mulai menggantikan surat , dan lain-lain.

Teknologi Informasi akan membuat hidup manusia lebih mudah lagi, memang manusia selalu menciptakan penemuan-penemuan yang dapat memudahkan dan membantu mereka untuk tetap bertahan. Dengan teknologi Informasi, rasanya jarak antar tempat di bumi ini semakin dekat, contohnya : saat Anda di Indonesia chatting dengan orang Amerika… jarak Indonesia-Amerika sangat jauh, namun terasa dekat bukan ?

Memang salah satu manfaat teknologi informasi adalah memudahkan komunikasi. Dengan memanfaatkan Teknologi Informasi, Komunikasi akan berjalan lebih baik, dulu jika seseorang ingin memesan barang dari luar negeri, harus melalui surat yang lama sekali baru sampai, atau mungkin titip teman / saudara kita yang sedang berlibur atau tinggal di luar negeri. Namun sekarang, cukup beberapa klik saja dari layar monitor, kita sudah bisa membeli barang dari toko yang jaraknya sangat jauh dari kita. Handphone-handphone baru sudah dilengkapi dengan sistem operasi yang canggih, seperti Windows Mobile ataupun Symbian. OS tersebut memungkinkan kita mengirimkan MMS yang membuat komunikasi lebih enak. Hal tersebut juga merupakan imbas dari perkembangan teknologi informasi.

Selain dalam komunikasi, teknologi Informasi juga berperan dalam bidang lain, bahkan yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari kita. Rumah masa depan adalah rumah yang berbasis IT, dalam artian seluruh komponen rumah tersebut terhubung dalam satu jaringan. Jadi seakan-akan rumah tersebut hidup dan mengetahui penghuninya. Mungkin sulit untuk menjelaskan secara teknis, saya akan coba memberikan gambaran berikut :

Saat Anda masuk ke rumah, membuka pintu maka lampu akan otomatis menyala. Sistem komputer rumah akan melihat waktu, jika sore berarti Anda baru pulang kerja. Komputer akan secara otomatis menyalakan pendingin ruangan hingga suhu yang sudah ditentukan. Dilanjutkan dengan menyalakan TV dengan channel yang sudah diatur. Kemudian di kamar mandi, bathtub akan terisi dengan air hangat hingga suhu tertentu dengan sendirinya. Pulang kerja Anda merasa lelah ? Untuk membantu menghilangkan kelelahan Anda, komputer akan memutar musik-musik yang lembut secara otomatis. Lemari pendingin yang juga terhubung dalam jaringan akan menyiapkan minuman kesukaan Anda. Setelah Anda mandi, maka Anda akan pergi ke sebuah layar monitor yang sudah otomatis menampilkan jadwal kerja Anda selama seminggu, jadi Anda dapat melihat kegiatan-kegiatan di kantor esok hari. Kemudian dilanjutkan dengan membuka situs-situs berita secara otomatis, dan bila perlu dengan menggunakan text-to-speech, komputer akan membacakan berita untuk Anda, sehingga Anda hanya cukup bersantai di kursi malas, dan komputer akan membacakan berita-berita untuk Anda.

GURU SEBAGAI MOTOR REVOLUSI INFORMASI

GURU SEBAGAI MOTOR REVOLUSI INFORMASI
OLEH : MAHURI GURU SMK NEGERI 4 KOTA BENGKULU
Karakteristik Perubahan Proses Belajar Perubahan Proses Belajar Peran Peserta Pendidikan (1) Dari pelatihan ke penampilan (2) Dari ruang kelas ke di mana dan GURU: kapan saja (3) Dari kertas ke “on line” atau - fasilitator pembelajaran, pelatih, saluran kolaborator, navigator pengetahuan, dan (4) Dari fasilitas fisik ke fasilitas mitra belajar jaringan kerja - memberikan lebih banyak alternatif dan (5) Dari waktu siklus ke waktu tanggung jawab kepada setiap siswa dalam nyata proses pembelajaran MURID: - partisipan aktif dalam proses pembelajaran - beralih dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain Rosenberg, 2001; Prof Moh Surya, 2006 6
Peranan Guru dalam Revolusi Informasi Konselor Manajer Pembelajar Pengarang Pelatih pembelajaran Partisipan Pemimpin (coaches) menciptakan satu situasi interaksi kemandirian dan terus menerus kreatif dan guru tidak hanya mampu belajar-mengajar, otonomi yang belajar dalam inovatif berperilaku menggerakkan memberikan di mana siswa seluas-luasnya rangka menghasilkan mengajar akan orang lain untuk peluang yang melakukan dalam mengelola menyegarkan berbagai karya tetapi juga mewujudkan sebesar- perilaku keseluruhan kompetensinya yang akan berperilaku perilaku menuju besarnya bagi pembelajaran kegiatan belajar- serta digunakan untuk belajar dari tujuan bersama siswa untuk dalam suasana mengajar dengan meningkatkan melaksanakan interaksinya (dalam mengembangkan psikologis yang mendinamiskan kualitas tugas-tugas dengan siswa pendidikan) cara-cara kondusif dan seluruh sumber- profesionalnya profesionalnya pembelajarannya tidak ada jarak sumber penunjang sendiri yang kaku pembelajara dengan guru Guru sebagai Pelaku Aktif Revolusi Informasi "Reinventing Education", Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995)
A.Tantangan dan Usulan: Menyiapkan Guru untuk Revolusi Informasi •
 Tantangan # 1: Menyiapkan Metoda Pembelajaran Baru – Menetapkan proses belajar mengajar dengan berpusat pada siswa – Guru sebagai fasilitator pembelajaran dan selalu terbaharui
 Tantangan # 2: Menyiapkan Infrastruktur e-Learning – Penetapan visi pembelajaran digital di sekolah untuk semua stakeholder pendidikan di sekolah (sekolah, guru, siswa, orangtua) – Penyiapan infrastruktur pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi – Penyiapan metoda pembelajaran (pedagogi) – Penyiapan perangkat yang tepat dan relevan untuk sekolah, guru, siswa
 Tantangan # 3: Memanfaatkan sumber daya digital – Mengembangan konten dan pembelajaran berbasis digital – Memanfaatkan Internet sebagai sumber daya informasi dan kolaborasi – Blog sebagai Sumber Daya Informasi dan Penyebaran Pengetahuan
B. Guru Sebagai Motor Revolusi Informasi
Karakteristik Perubahan Proses Belajar Perubahan Proses Belajar Peran Peserta Pendidikan (1) Dari pelatihan ke penampilan (2) Dari ruang kelas ke di mana dan GURU: kapan saja (3) Dari kertas ke “on line” atau - fasilitator pembelajaran, pelatih, saluran kolaborator, navigator pengetahuan, dan (4) Dari fasilitas fisik ke fasilitas mitra belajar jaringan kerja - memberikan lebih banyak alternatif dan (5) Dari waktu siklus ke waktu tanggung jawab kepada setiap siswa dalam nyata proses pembelajaran MURID: - partisipan aktif dalam proses pembelajaran - beralih dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain Rosenberg, 2001; Prof Moh Surya, 2006 6
1. Peranan Guru dalam Revolusi Informasi Konselor Manajer Pembelajar Pengarang Pelatih pembelajaran Partisipan Pemimpin (coaches) menciptakan satu situasi interaksi kemandirian dan terus menerus kreatif dan guru tidak hanya mampu belajar-mengajar, otonomi yang belajar dalam inovatif berperilaku menggerakkan memberikan di mana siswa seluas-luasnya rangka menghasilkan mengajar akan orang lain untuk peluang yang melakukan dalam mengelola menyegarkan berbagai karya tetapi juga mewujudkan sebesar- perilaku keseluruhan kompetensinya yang akan berperilaku perilaku menuju besarnya bagi pembelajaran kegiatan belajar- serta digunakan untuk belajar dari tujuan bersama siswa untuk dalam suasana mengajar dengan meningkatkan melaksanakan interaksinya (dalam mengembangkan psikologis yang mendinamiskan kualitas tugas-tugas dengan siswa pendidikan) cara-cara kondusif dan seluruh sumber- profesionalnya profesionalnya pembelajarannya tidak ada jarak sumber penunjang sendiri yang kaku pembelajara dengan guru Guru sebagai Pelaku Aktif Revolusi Informasi "Reinventing Education", Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995) 7
2. Tantangan dan Usulan: Menyiapkan Guru untuk Revolusi Informasi • Tantangan # 1: Menyiapkan Metoda Pembelajaran Baru – Menetapkan proses belajar mengajar dengan berpusat pada siswa – Guru sebagai fasilitator pembelajaran dan selalu terbaharui • Tantangan # 2: Menyiapkan Infrastruktur e-Learning – Penetapan visi pembelajaran digital di sekolah untuk semua stakeholder pendidikan di sekolah (sekolah, guru, siswa, orangtua) – Penyiapan infrastruktur pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi – Penyiapan metoda pembelajaran (pedagogi) – Penyiapan perangkat yang tepat dan relevan untuk sekolah, guru, siswa • Tantangan # 3: Memanfaatkan sumber daya digital – Mengembangan konten dan pembelajaran berbasis digital – Memanfaatkan Internet sebagai sumber daya informasi dan kolaborasi – Blog sebagai Sumber Daya Informasi dan Penyebaran Pengetahuan 14
C. Solusi Sistem Informasi Siswa (SISFOSIS) Online yang Real Time

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat, maka pengaksesan terhadap data atau informasi yang tersedia dapat berlangsung dengan cepat, efisien serta akurat. Metoda-metoda baru dalam bidang komunikasi via selular juga dihasilkan. Metoda-metoda baru di bidang komunikasi baik terhadap transmisi data maupun content atau isi dari data terus dikembangkan untuk bisa menyesuaikan diri dari pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Sektor pendidikan yang merupakan salah satu sektor pembangunan yang sedang mendapat perhatian besar dari pemerintah merupakan salah satu sektor pembangunan yang sangat potensial untuk dapat diintegrasikan dengan kehadiran teknologi informasi. Dampak dari perkembangan itulah yang menyebabkan dunia pendidikan harus menyelaraskan diri guna peningkatan kualitas dan performa institusi pendidikan untuk bisa bersaing ditengah-tengah arus globalisasi, dan bisa menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa institusi pendidikan tersebut bisa diterima dan diakui oleh banyak pihak yang terkait.

Dengan kemajuan perkembangan pendidikan di Indonesia, baik dari aspek administratif atau teknologi, maka proses pelayanan informasi pendidikan di Indonesia dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk mengembangkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah SMA dan keterlibatan orangtua siswa dalam mengikuti perkembangan dan potensi anak-anaknya di sekolah, dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung, dimana salah satu fasilitas pendukung tersebut adalah aplikasi teknologi informasi dengan mengimplementasikan suatu sistem informasi berbasis jaringan komunikasi global dalam satu komunitas yang menghubungkan beberapa pusat pelayanan informasi aplikasi berbasis SMS.




D. Tingkat Kesiapan Guru TIK dalam Pelaksanaan Kurikulum 2006
Dalam rangka mensukseskan KTSP diperlukan kemandirian guru, terutama dalam melaksanakan, menyesuaikan, mengadaptasikan KTSP tersebut dalam pembelajaran dikelas. Kemandirian ini penting dalam kaitanya dengan penyesuaian KTSP dengan situasi aktual didalam kelas, serta menyesuaikan KTSP dengan perbedaan karakteristik perserta didik yang beragam. Dengan demikian, implementasi KTSP yang ditunjang oleh kemandirian guru diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, yang akan bermuara pada peningkatan prestasi belajar peserta didik dan prestasi sekolah secara keseluruhan. Menurut Mulyasa ( 2006: 164 ) agar sebagai guru TIK dapat melaksanakan pembelajaran TIK yang sejalan dengan KTSP maka hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut :

1. Menguasai dan memahami kompetensi dasar.
Sebagai guru TIK hendaknya harus menguasai dan memahami kompetensi. Hal ini ditujukan agar dalam proses pembelajaran, guru secara terarah mampu menguasai materi yang diajarkan sehingga tidak menyimpang dari apa yang telah ditentukan. Selain itu dalam kaitanya guru harus menguasai dan memahami kompetensi dasar, maka hendaknya guru TIK dituntut tangung jawab yang lebih besar dalam menguasan sarana dan prasaran yang hubunganya sangat erat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

2. Guru hendaknya menyukai apa yang diajarkanya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
Guru adalah semua orang yang berweenang dan bertangung jawab untuk membimbimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun secara klasikal, disekolah maupun diluar sekolah. (Djamarah: 1997:32 ). Dari uraian tersebut hendaknya guru mampu menjaga pofesi dengan menerapkan sikap profesionalisme dalam bekerja. Menurut Drs. Syaiful Bahri Djamarah.(1997 ) guru memiliki beberapa tugas antara lain:
1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan, dan pengalaman yang dimilikinya.
2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar negara kita pancasila.
3. Menyiapakan anak menjadi warga negara yang baik sesuai undangundang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No.11 Tahun 1983.
4. Sebagai perantara dalam belajar.
5. Sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik kearah kedewasaan.
6. Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
7. Guru sebagai penegak disiplin.
8. Guru sebagai administator dan manajer.
9. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi (tidak terpaksa)
10. Guru sebagai perencana kurikulum.
11. Guru sebagai pemimpin.
12. Guru sebagai Sponsor dalam kegiatan anak-anak.

Selain itu menurut Soetjipto ( 1999 : 43-52 ) tugas sebagai guru, guru diwajibkan mampu mengembangkan sikap profesional keguruan. Hal ini ditujukan agar berlagsungnya proses pendidikan dapat berjalan lancar tanpa melalui banyak hambatan . Adapun sikap professional yang harus dikembangkan antara lain:
1. Sikap terhadap peraturan perundang-undangan.
2. Sikap terhadap organisasi profesi.
3. Sikap terhadap teman sejawat.
4. Hubungan guru berdasarkan lingkungan kerja.
5. Hubungan guru berdasarkan lingkungan keseluruhan.
a. Sikap tehadap anak didik.
b. Sikap terhadap teman kerja.
c. Sikap terhadap pemimpin.
d. Sikap terhadap pekerjaan.

Dengan adanya penjabaran tugas guru dan sikap professional yang harus dimiliki guru diharapkan mampu dijadikan sebagai acuan setiap guru dan mampu dilaksanakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan dalam pengajaran termasuk proses pengajaran KTSP.

3. Guru sebaiknya memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan dan prestasinya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, Sehingga dalam pembelajaran guru harus berusaha melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Mengurangi metode ceramah.
2. Memberikan tugas yang berbeda pada setiap peserta didik.
3. Mengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuanya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran.
4. Memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran.
5. Menghubungi spesialis, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan
6. Menggunakan prosedur yang bervareasi dalam membuat penilaian dan laporan.
7. Memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kemampuan yang sama.
8. Mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuan masing-masing pada setiap pembelajaran
9. Mengusahakan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran. ( Mulyasa,2006 : 163 ).

4. Guru sebaiknya siap mengunakan metede yang bervareasi dalam mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik.

Agar pembelajaran materi TIK dapat diterima oleh siswa dengan baik maka guru diharapkan mampu menguasai metode mengajar dan menerapakan salah salah satu metode yang dirasa sesuai dalam penyampai pada pokok materi pelajaran tertentu, yang diharapkan saat pembelajaran itu berlangsung dapat diterima siswa dengan baik. Adapun metode mengajar pun dapat dibedakan 3 aspek, yaitu:
1. Aspek penyampaian pesan
1. Metode ceramah Dalam pelajaran TIK guru perlu memberikan pelajaran berupa materi secara teoritik, untuk itu berlangsung proses pembicaraan yang disampaikan oleh guru.
2. Metode tanya jawab Untuk mengetahui apakah siswa benar-benar sudah menguasai materi.
3. Metode demonstrasi Dalam pembelajaran TIK guru dapat memperlihatkan hasil dari penerapan salah satu materi seperti pembuatan wabsite.
4. Metode eksperimen Metode ini dapat diterapkan pada saat anak menerapkan teori ke dalam praktek.
5. Metode tugas dan resitasi Cara belajar mengajar di mana guru dengan siswa merencanakan bersama-sama suatu soal, problema atau kegiatan yang harus diselesaikan siswa dalam waktu itu. Metode melatih Guru harus memberikan latihan pada siswa agar siswa sudah benar-benar paham dan mampu dalam penguasaan alat atau media tersebut.
2. Aspek pendekatan pengajaran.
a. Metode problem salving Dasar metode ini mendorong anak berfikir secara sistematik dengan menghadapkannya kepada problem.
b. Metode discovery dan inguary Pembelajaran inguary adalah pembelajaran dimana guru dan siswa mempelajari gejala-gejala dengan pendekatan dan jiwa ilmuan.
c. Teknik penjernihan nilai Metode mengajar dimana guru menolong siswa untuk menetapkan nilai pilihannya dari sejumlah alternatif nilai yang dihadapinya.
d. Role playing Suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendramatisasikan sikap tingkah laku atau enghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam hubungannya sosial sehari-hari di masyarakat.
e. Simulasi Suatu kegiatan atau latihan yang menggambarkan atau mewakili keadaan yang sebenarnya. Maksudnya adalah siswa dengan bimbingan guru melakukan peran dalam situasi tiruan untuk mencoba menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

3. Aspek pengorganisasian siswa
a. Karya wisata Dengan pendekatan pengajaran ini dapat dilakukan dengan membawa siswa ke universitas-universitas yang menunjang pada pembelajaran TIK.
b. Kerja kelompok Guru memberikan tugas kelompok dengan pembuatan website.
c. Diskusi Yaitu guru dapat bertukar pikiran dengan siswa yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas siswa dan guru.
d. Proyek Pengajaran proyek atau utuh didefinisikan sebagai suatu sistem penyampai materi pelajaran yang ditujukan pada suatu masalah untuk di pecahkan secara utuh yang memiliki arti tersendiri. (Teori Belajar Mengajar, 1990

5. Guru sebaiknya mampu mengeliminasi bahan – bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitanya dalam pembentukan kompetensi.

Dengan mengeliminasi bahan-bahan yang dirasa kurang penting dalam pembentukan kompetensi hendaknya dapat memanfaatkan waktu secara efisien guna memperoleh hasil yang optimal. Sehingga apabila dalam proses pembelajaran terdapat sisa waktu, dapat dimanfaatkan untuk mengulang materi pelajaran yang dirasa belum mencapai hasil yang optimal.

6. Guru sebaiknya mengikuti perkembangan pengetahuan yang mutahir.
Guru diharapkan mampu memberikan informasi kepada peserta didik mengenai sesuatu yang baru. Yang nantinya diharapkan bermanfaat bagi kehidupan peserta didik dan sekaligus dapat menambah wawasan dan pembentukan pola pikir kearah yang lebih baik.
7. Menyiapkan proses pembelajaran
Penguasaan atas proses pembelajaran adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, menyusun program perbaikan dan pengayaan. Kusus guru kelas SD menyusun program bimbingan dan konseling. (Ganesa, 2006 : 34 ).

EVALUASI MODEL COUNTENANCE STAKE

EVALUASI MODEL COUNTENANCE STAKE
Oleh: Mahuri

a. Judul:
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda: Suatu Penelitian Evaluatif Berdasarkan Stake’s Countenance Model Mengenai Program Pendidikan Sistem Ganda Pada SMK Negeri 4 Kota Bengkulu.
b. Latar Belakang Masalah:
Memasuki kerjasama ekonomi Negara-negara Asia Tenggara melalui Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) sejak tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun 2020 akan menimbulkan persaingan ketat baik barang jadi/komoditas maupun jasa. Ini berarti Indonesia harus meningkatkan daya saing baik mutu hasil produksi maupun jasa. Peningkatan daya saing ini dimulai dari penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang merupakan faktor keunggulan menghadapi persaingan yang dimaksud. Jika kita tidak bisa mengantisipasi persiapan SDM yang berkualitas antara lain, berpendidikan, memiliki keahlian dan keterampilan terutama bagi tenaga kerja dalam jumlah yang memadai, maka Indonesia akan menjadi korban perdagangan bebas. Oleh karena itu, negara kita perlu menyiapkan SDM pada tingkat menengah yang memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri atau dunia usaha.
Kepala Badan Pusat Statistik Jakarta menyatakan, bahwa Jumlah angkatan kerja yang menganggur hingga Februari 2005 mencapai10,9 juta orang. Tambahan pengangguran terjadi karena peningkatan angkatan kerja lebih besar daripada ketersediaan lapangan kerja. Jumlah angkatan kerja bertambah 1,8 juta orang yakni dari 104 juta orang pada Agustus 2004 sampai dengan Februari 2005 meningkat menjadi 105,8 juta orang (Maksum, 2005:1). Hal ini menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan belum dapat menampung seluruh pencari kerja (Marsudi, dkk, 2008:1). Hal senada disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia (Yudhoyono, 2006:1), bahwa pemerintah juga menargetkan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi jumlah tingkat pengangguran yang saat ini berkisar 10,24 persen dari total angkatan kerja. Oleh karena itu perlu ada reformasi dalam sistem pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap kerja. Jika tidak, maka pendidikan hanya menghasilkan pengangguran baru yang tidak terserap di lapangan kerja.
Menghadapi kondisi tersebut di atas, pendidikan menengah kejuruan diperhadapkan pada berbagai permasalahan, antara lain: masalah konsepsi, program dan operasional pendidikan. Jika masalah ini dilihat dari segi konsepsi, maka dapat digambarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) pendidikan kejuruan berorientasi pada pasokan (supply driven oriented), tidak pada permintaan (demand-driven); (2) program pendidikan kejuruan hanya berbasis sekolah (school-based program); (3) tidak adanya pengakuan terhadap pengalaman belajar yang diperoleh sebelumnya (no recognition of prior learning); (4) kebuntuan (dead-end) karier tamatan SMK; (5) guru-guru SMK tidak berpengalaman industri (no industrial experience); (6) adanya tanggapan keliru bahwa pendidikan hanya merupakan tanggung jawab Depdikbud/ Depdiknas; (7) pendidikan kejuruan lebih berorientasi pada lapangan kerja sector formal; dan (8) ketergantungan SMK kepada subsidi pemerintah terutama dibidang pembiayaan (Soenaryo, 2002:223).
Salah satu SMK yang telah melaksanakan PSG sejak tahun 1999 adalah SMK Negeri 4 Kota Bengkulu yang sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah visi dan misi yang telah ditetapkan bisa tercapai atau tidak. Evaluasi yang dilakukan baru dari aspek menilai hasil belajar peserta didik yang berupa EBTA, Uji Kompetensi, EBTANAS, UAN/UN dan Ujian Nasional Komponen Produktif dengan pendekatan project work (kerja proyek) untuk mata diklat produktif, akan tetapi evaluasi program secara keseluruhan belum pernah dilakukan. Untuk melihat efektivitas pelaksanaan program tidak hanya dilihat dari factor siswanya saja tetapi faktor-faktor lain harus diperhatikan juga. Misalnya; guru, kurikulum, sarana dan prasarana, pembiayaan, kegiatan belajar mengajar disekolah, kegiatan praktik kerja di industri, hubungan industri atau institusi pasangan dan faktor lainnya. Dari permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian secara mendalam berupa evaluasi program “Pendidikan Sistem Ganda” (PSG) pada SMK Negeri 4 Kota Bengkulu.
c. Rumusan Masalah:
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah penelitian ini menitik beratkan pada evaluasi pelaksanaan program yaitu bagaimanakah efektivitas pelaksanaan pendidikan sistem ganda berdasarkan standar objektif atau kriteria yang telah ditentukan ditinjau dari tahapan-tahapan masukan (antecedents), proses (transactions), dan hasil (outcomes).
d. Pertanyaan Penelitian:
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi pertanyaa penelitiannya adalah:
1. Bagaimanakah prosedur rekruitmen peserta didik, persyaratan administrasi guru produktif, pengembangan kurikulum dengan keterlibatan industri/asosiasi, kalender pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah dan di industri (institusi pasangan) sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan yang ditetapkan, serta pembiayaan pelaksanaan program sistem ganda pada tahapan masukan (Antecedents) di SMKN 4 Kota Bengkulu?
2. Bagaimanakah kegiatan pembelajar di sekolah yang terdiri dari; penguasaan guru dalam penyiapan administrasi/bahan pembelajaran, penguasaan guru dalam kegiatan pembelajaran,interaksi guru dan siswa, pengelolaan praktek kerja siswa; dan bagaimana kegiatan pelatihan kerja di industri (institusi pasangan) yang terdiri dari; identitas industri; kompetensi instruktur; dan proses praktek kerja di industry (institusi pasangan), pelaksanaan program pendidikan sistem ganda pada tahapan proses (transactions) SMKN 4 Kota Bengkulu?
3. Bagaimanakah hasil ujian nasional, hasil ujian nasional komponen produktif dengan pendekatan project work; dan sertifikasi; dan keterserapan tamatan di dunia kerja pada tahapan hasil (outcomes) di SMKN 4 Kota Bengkulu?
e. Tujuan Penelitian:
Berdasarkan pertanyaan evaluasi diatas maka tujuan evaluasi ini adalah:
1. Mengetahui efektivitas program PSG yang berhubungan dengan system rekruitmen peserta didik, persyaratan administrasi guru, kurikulum dengan keterlibatan industri/asosiasi, realisasi kalender pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah dan di industri (institusi pasangan) sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan yang ditetapkan, serta pembiayaan pelaksanaan program sistem ganda pada tahapan masukan (antecedent) di SMKN 4 Kota Bengkulu.
2. Mengetahui efektivitas program PSG yang berhubungan dengan penguasaan guru dalam penyiapan administrasi/bahan pembelajaran, penguasaan guru dalam kegiatan pembelajaran, Interaksi guru dengan peserta didik, dan pengelolaan praktek kerja industri di sekolah sedangkan di di industri (institusi pasangan) mencakup; identitas industri, kompetensi instruktur dan proses praktek kerja siswa di industry (institusi pasangan) pelaksanaan program PSG pada tahapan proses (transactions) di SMKN 4 Kota Bengkulu.
3. Mengetahui efektivitas program PSG yang berhubungan dengan hasil ujian nasional dan uji nasional komponen produktif dengan pendekatan project work dan sertifikasi, dan keterserapan tamatan pada dunia kerja, pada tahapan hasil (outcomes) di SMKN 4 Kota Bengkulu.
f. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pendidikan kejuruan baik secara teoretis maupun praktis;
1.Teoretis, diharapkan berguna sebagai bahan untuk memperjelas konsepsi tentang program Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
2. Praktis, dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan informasi kepada pihak pengambil keputusan dalam menyelenggarakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG), yaitu; (a) Kepala SMKN 4 Kota Bengkulu sebagai penyelenggara program pendidikan sistem ganda (PSG); (b) Kepala Dinas Pendidikan propinsi Bengkulu melalui Kepala Sub Dinas Pendidikan Kejuruan Provinsi Bengkulu; (c) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu; d) Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional; (e) Industri (institusi pasangan) sebagai pihak yang menerima siswa praktek kerja;
3. Siswa yang mengikuti Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
4. Menjadi contoh atau model Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Bidang Keahlian Pariwisata atau Bidang Keahlian lainnya pada SMK.
g. Tinjauan Teoritis:
1. Pengertian Evaluasi
Berbagai macam evaluasi yang dikenal dalam bidang kajian ilmu. Salah satunya adalah evaluasi program yang banyak digunakan dalam kajian kependidikan. Evaluasi program mengalami perkembangan yang berarti sejak Ralph Tyler, Scriven, John B. Owen, Lee Cronbach, Daniel Stufflebeam, Marvin Alkin, Malcolm Provus, R. Brinkerhoff dan lainnya. Banyaknya kajian evaluasi program yang membawa implikasi semakin banyaknya model evaluasi yang berbeda cara dan penyajiannya, namun jika ditelusuri semua model bermuara kepada satu tujuan yang sama yaitu menyediakan informasi dalam kerangka “decision” atau keputusan bagi pengambil kebijakan.
Terdapat beberapa definisi tentang evaluasi yang dikemukan oleh pakar, diantaranya: (Kufman and Thomas, 1980:4) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses yang digunakan untuk menilai. Hal senada dikemukakan oleh (Djaali, Mulyono dan Ramly, 2000:3) mendefinisikan evaluasi dapat diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau standar objektif yang dievaluasi. Selanjutnya (Sanders, 1994:3) sebagai ketua The Joint Committee on Standars for Educational Evaluation mendefinisikan evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistimatis tentang kebenaran atau keberhasilan suatu tujuan.
Evaluasi program menurut Joint Commite yang dikutip oleh (Brinkerhof, 1986:xv)f adalah aktivitas investigasi yang sistematis tentang sesuatu yang berharga dan bernilai dari suatu obyek. Pendapat lain (Denzin and Lincoln, 2000:983) mengatakan bahwa evaluasi program berorientasi sekitar perhatian dari penentu kebijakan dari penyandang dana secara karakteristik memasukkan pertanyaan penyebab tentang tingkat terhadap mana program telah mencapai tujuan yang diinginkan. Selanjutnya menurut(McNamara, 2008:3) mengatakan evaluasi program mengumpulkan informasi tentang suatu program atau beberapa aspek dari suatu program guna membuat keputusan penting tentang program tersebut. Keputusan-keputusan yang diambil dijadikan sebagai indikatorindikator
penilaian kinerja atau assessment performance pada setiap tahapan evaluasi dalam tiga kategori yaitu rendah, moderat dan tinggi (Issac and Michael, 1982:22).
Berangkat dari pengertian di atas maka evaluasi program merupakan suatu proses. Secara eksplisit evaluasi mengacu pada pencapaian tujuan sedangkan secara implisit evaluasi harus membandingkan apa yang telah dicapai dari program dengan apa yang seharusnya dicapai berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks pelaksanan program, kriteria yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan pelaksanaan dan hal yang dinilai adalah hasil atau prosesnya itu sendiri dalam rangka pengambilan keputusan. Evaluasi dapat digunakan untuk memeriksa tingkat keberhasilan program berkaitan dengan lingkungan program dengan suatu “judgement” apakah program diteruskan, ditunda, ditingkatkan, dikembangkan, diterima atau ditolak.
2. Pendidikan Sistem Ganda
Pendidikan sistem ganda (dual system) sudah berkembang lama di beberapa negara. Kerjasama antara Republik Arab Mesir dan Republik Federasi German berlangsung puluhan tahun yaitu sejak tahun 1950an keduanya telah bekerjasama dibidang pendidikan teknik dan pelatihan kejuruan. Pendidikan sistem ganda berkaitan dengan sistem pendidikan yang menekankan pendidikan teori dan praktek. Berabad-abad yang lalu, Jerman telah mengadopsi suatu system pendidikan sistem ganda dengan beberapa modifikasi dijalankan untuk mengatasi perubahan dalam masyarakat dan memenuhi permintaan masyarakat.
a. Pengertian Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Pendidikan sistem ganda merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian professional tertentu (Djojonegoro, 1999:46). Sedangkan menurut (Wena: 1997:30) mengatakan bahwa pemanfaatan dua lingkungan belajar di sekolah dan di luar sekolah dalam kegiatan proses pendidikan itulah yang disebut dengan program PSG. Hal senada dikemukan oleh (Nasir, 1998:21) mengatakan bahwa Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ialah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang memadukan program pendidikan di sekolah dan program pelatihan di dunia kerja yang terarah untuk mencapai tujuan pendidikan kejuruan. Sedangkan pendidikan system ganda (dual system) adalah memadukan pelatihan kejuruan paruh waktu dikombinasikan dengan belajar paruh waktu. (The Educational System in Germany, 1999:1).
Dari pengertian diatas, tampak bahwa PSG mengandung beberapa pengertian, yaitu: (1) PSG terdiri dari gabungan subsistem pendidikan di sekolah dan subsistem pendidikan di dunia kerja/industri; (2) PSG merupakan program pendidikan yang secara khusus bergerak dalam penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional; (3) penyelenggaraan program pendidikan di sekolah dan dunia kerja/industry dipadukan secara sistematis dan sinkron, sehingga mempu mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan; dan (4) proses penyelenggaraan pendidikan di dunia kerja lebih ditekankan pada kegiatan bekerja sambil belajar (learning by doing) secara langsung pada keadaan yang nyata.
b. Tujuan Pendidikan Sistem Ganda
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan PSG bertujuan: (1) menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja; (2) meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan/kecocokan (link and match) antara lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia kerja; (3)meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas profesional dengan memanfaatkan sumberdaya pelatihan yang ada di dunia kerja; (4) memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan (Djojonegoro, 1999:75).
c. Karakteristik Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Pelaksanaan PSG pada SMK sesuai dengan konsep sistem ganda memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) Institusi Pasangan dan (b) Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama yang tediri dari: (1) Standar Kompetensi/Keahlian Tamatan; (2) Standar Pendidikan dan Pelatihan (materi, waktu, pola pelaksanaan); (3) Penilaian dan Sertifikasi; (4) Kelembagaan; dan (5) Nilai Tambah dan insentif.
3. Evaluasi Model Countenance Stake’s
Model evaluasi yang digunakan adalah Stake’s Countenance Model, Center for Instructional Research and Curriculum Evaluation University of Illinois. Model Stake’s sama dengan model CIPP dan CSE-UCLA (Center for Study of Evaluation at the University of California at Los Angeles) dimana ketiganya cendrung komprehensip dan mulai dari proses evaluasi selama tahap perencanaan dari pengembangan program (Kaufman and Susan, 1980:123). Stake mengidentifikasi 3 (tiga) tahap dari evaluasi program pendidikan dan faktor yang mempengaruhinya yaitu:
1. Antecedents phase; sebelum program diimplementasikan: Kondisi/ kejadian apa yang ada sebelum implementasi program? Apakah kondisi/kejadian ini akan mempengaruhi program?
2. Transactions phase; pelaksanaan program: Apakah yang sebenarnya terjadi selama program dilaksanakan? Apakah program yang sedang dilaksanakan itu sesuai dengan rencana program?
3. Outcomes phase, mengetahui akibat implementasi pada akhir program. Apakah program itu dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan? Apakah klien menunjukkan perilaku pada level yang tinggi disbanding dengan pada saat mereka berada sebelum program dilaksanakan? (Kaufman,1982:123). Setiap tahapan tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu description (deskripsi) dan judgment (penilian).
Model Stake akan dapat memberikan gambaran pelaksanaan program secara mendalam dan mendetail. Oleh karena itu persepsi orang-orang yang terlibat dalam sistem pendidikan seperti perilaku guru, peran kepala sekolah, peran industri, perilaku siswa dan situasi proses belajar mengajar di sekolah dan pelatihan kerja di industri adalah kenyataan yang harus diperhatikan.
h. Metodologi Penelitian
1. Metode penelitian
Model penelitian evaluasi yang digunakan yaitu Stake’s Countenance Model yang dikembangkan oleh Robert E. Stake. Evaluasi model ini terdiri dari tiga tahapan/pase yaitu; masukan (antecedents), proses (transactions), dan hasil (outcomes).
Setiap tahapan dibagi menjadi dua tahapan yaitu deskripsi (description) dan keputusan/penilaian (judgment), Model Stake ini berorientasi pada pengambilan keputusan (decision oriented) dan teknik pengambilan keputusan aktualitas pada setiap tahap evaluasi atau aspek dengan cara melakukan pengukuran pada setiap fokus evaluasi yang dirangkum dalam matrik yang diadaptasikan dalam caseorder effect matrix (Sabarguna, 2005:27).
2. Sabjek Penelitian
Sabjek penelitian adalah SMK Negeri 4 Kota Bengkulu. Alasannya adalah karena sekolah tersebut telah melaksanakan program PSG pada Program Keahlian Teknik Mesin dan pelayaran di Propinsi Bengkulu.

3. Waktu evaluasi
Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2011 sampai dengan Juni 2011. Sedangkan penyusunan laporan dilakukan sejak awal penelitian.
4. Desain Evaluasi
Berdasarkan teori stake’s diatas, maka dikembangkan desain penelitian sebagai berikut:
5. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Untuk keperluan penelitian ini, pemilihan informan dilakukan secara purposif, yaitu berdasarkan maksud dan tujuan penelitian.
Kriteria/ Standar / objektif dalam evaluasi ini adalah:
a. Masukan (anttecedents):
1. Perekrutan siswa baru dilakukan dengan melalui seleksi dan harus memenuhi persyaratan. Hasil seleksi menunjukkan rata –rata siswa yang diterima adalah siswa yang mendapat nilai yang baik yaitu skor akademis diperoleh dengan rata – rata nilai hasil ujian nasional atau nilai SKHU 6,0 dan seleksi tes kemampuan atau tes penerimaan siswa baru dengan rata – rata 5,0.
2. Guru dan instruktur. Guru memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 atau D4 dan berpengalaman mengajar minimal 2 tahun serta telah mengalami pengalaman diklat atau on the job training, sedangkan instruktur minimal D3 berpengalaman dibidangnya mempunyai pengalaman membimbing minimal 1 tahun menguasai materi latihan kerja dan strategi pembimbingan.
3. Sarana dan prasarana. Keberadaan fasilitas dan bahan praktek harus layak antaralain:
• Prasarana yaitu tersedianya ruang belajar, ruang praktik, aula, lapangan olah raga, kantin, toilet.
• Sarana pendukung belajar meliputi sumber belajar (buku/ modul), media belajar (radio/ tape, TV, OHP, LCD, Komputer) dan teknologi informasi.
• Bahan praktek antaralain format tiket, format laporan, ATK, dan sebagainya.
4. Pembiayaan. Sumber biaya didapat dari dana rutin, dana penunjang pendidikan, dana bantuan oang tua, unit produksi, sharing institusi pasangan.
b. Proses (transactions)
1. Kegiatan pembelajaran disekolah:
• Guru produktif dalam penyiapan administrasi/ bahan pembelajaran mencakup pembuatan program pembelajaran (silabus/ RPP) berdasarkan kompetensi, penyusunan modul pembelajaran berdasarkan kompetensi, penyusunan penilaian/ Uji kompetensi.
• Guru produktif dalam kegiatan pembelajaran antaralain penguasaan materi, pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competensi based training) dengan system blok, keterampilan menggunakan media/ metode yang bervariasi, penggunaan modul pembelajaran berdasarkan kompetensi, penggunaan bahan/ peralatan praktek terutama computer/ software, pemberian uji kompetensi setiap akhir pembelajaran dari setiap unit kompetensi, dan pemberian materi remedial tes bagi siswa yang belum kompeten.
• Interaksi dengan siswa, memberikan perhatian kepada siswa, memberikan umpan balik, intensitas umpan balik.
• Pengelolaan praktek kerja siswa dalam hal naskah kerjasama dengan industry penempata kerja siswa dan seminar hasil praktek kerja siswa.
2. Kegiatan pelatihan siswa di insdutri (institusi pasangan). Identitas industry tempat praktek kerja siswa dan pengalaman industry (institusi pasangan) yang menerima siswa praktek selama 1 tahun.
3. Latar belakang pendidikan instruktur minimal D3 atau setara, pengalaman kerja minimal 1 tahun, penguasaan materi dengan praktek kerja siswa strategi/ metode pembimbingan yang bervariasi.
4. Proses pelatihan kerja siswa di industri (institusi pasangan) yaitu pelaksanaan praktek kerja di industry berdasarkan program keahlian siswa minimal empat bulan, keahlian siswa dalam menggunakan peralatan/ bahan praktek kerja, pengisian jurnal oleh siswa dengan lengkap dari pekerjaan yang dilatihkan sebanyak 90%dari jumlah siswa dan monitoring minimal 1x sebulan.
c. Hasil (outcomes/output) antaralain:
1. Prestasi akademik berdasarkan hasil skor Ujian Nasional (UN) yang terdiri dari tiga mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.0, Bahasa Inggris minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.01, dan Matematika minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 5. 6
2. Ujian Nasional Komponen Produktif dengan pendekatan project work untuk mata pelajaran produktif minimal 90% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.0 dan mendapat sertifikat.
3. Keterserapan tamatan di dunia kerja minimal ≥ 50% dari jumlah tamatan yang lulus uji kompetensi sesuai dengan program keahliannya dengan tenggang waktu enam bulan.
Berdasarkan Kriteria/Standar objektif tersebut maka focus dari evaluasi ini adalah:
a. Pada tahapan masukan (anttecedents) yang akan di evaluasi antaralain adalah prosedur perekrutan siswa, persyaratan administrasi guru produktif, pengembangan kurikulum dengan keterlibatan industri/ asosiasi, kalender pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah dan di industry (institusi pasangan) yang mendukung ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan dan biaya pelaksanaan program system ganda.
b. Pada tahapan proses (transactions) yang akan dievaluasi antaralain adalah kegiatan proses belajar mengajar yang terdiri dari: penguasaan guru dalam penyiapan adminstrasi/ bahan pembelajaran, penguasaan guru dalam kegiatan pembelajaran interaksi guru dan siswa, pengelolaan praktek kerja siswa dan kegiatan pelatihan kerja di industry (institusi pasangan) yang terdiri dari identitas, kompetensi instruktur, dan proses praktek kerja di industry (institusi pasangan) pelaksanaan program pendidikan system ganda.
b. Hasil (outcomes/output) yang akan dievaluasi antaralain adalah hasil ujian nasional, hasil ujian nasional komponen produktif dengan pendekatan project work; sertifikasi dan keterserapan tamatan di dunia kerja.
i. Hasil Penelitian
1. Masukan (antecedents).
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi masukan terdapat 6 aspek dan 12 sub aspek, yang telah memenuhi standar objektif yakni 5 aspek dan 9 sub aspek, 1 sub aspek dan 1 aspek yang tidak memenuhi standar objektif yaitu pembiayaan, 1 sub aspek yang bisa ditolerir yaitu pendidikan minimal guru produtif dan 2 sub aspek yang perlu perbaikan yaitu tes wawancara dan keterlibatan industri dalam rekruitmen siswa.


2. Proses (transaction)
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan sub evaluasi proses, 7 aspek dan 30 sub aspek. Dari 30 sub aspek ada 27 sub aspek yang memenuhi standar objektif, 1 aspek yang tidak terpenuhi standar objektif tetapi dapat ditolerir yaitu pengisian jurnal siswa dan 2 sub aspek yang perlu perbaikan yaitu penyusunan naskah kerjasama dengan industry (institusi pasangan) dan penilaian praktek kerja siswa.
3. Hasil (outcomes)
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan sub evaluasi hasil, terdapat 2 aspek telah memenuhi standar objektif, 1 aspek yang dapat ditolerir yaitu keterserapan tamatan di dunia kerja.
j. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Antecedents (Masukan)
 Pembiayaan system ganda tidak tercapai karena beban pendidikan sebesar 80% persen diambil dari iuran pendidikan. Seharusnya sekolah mencari sumber pendanaan dari lainnya dan tidak mengikat. Salah satunya mengembangkan unit produksi mencari sponsor baik dari alumni ataupun dari masyarakat pada umumnya.
 Perekrutan siswa perlu diperbaiki karena pada prosedur/ system seleksi masih ada yang diterima siswa nilai ujian nasionalnya dibawah standar yang telah ditentukan dan pada tes wawancara tidak melibatkan pihak industri untuk menentukan kelulusan seleksi untuk memberi gambaran profil siswa yang dikehendaki oleh industry baik dari segi kognitif, efektif dan psikomotorik.
 Persyaratan administrasi guru mencapai kriteria atau standar objektif terlihat dari latarbelakang pendidikan guru dan pengalaman guru mengajar.
 Kurikulum pendidikan sistem ganda dikembangkan berdasarkan kebutuhan industry melalui sinkronasi atau maping kurikulum.
 Kalender pendidikan sistem ganda dibuat selama tiga tahun. Kalender pendidikan dibuat sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar mangajar sehingga pembelajaran berjalan secara efektif.
 Sarana dan prasarana belajar sebagai bagian pendukung yang berpengaruh baik yang langsung maupun tidak langsung terhadap keberhasilan program pendidikan sistem ganda.

b. Transaction (Proses)
 Penguasaan guru dalam penyiapan administrasi/ bahan pembelajaran membantu siswa sehingga menjadi lebih mudah belajar.
 Ketercapaian guru dalam penguasaan kegiatan pembelajaran karena adanya dukungan yang kuat dari Kepala Sekolah, ketersediaan fasilitas yang baik di sekolah, pengalaman diklat guru-guru produktif terutama tentang pembelajaran competency based training (CBT) dan competency based assessment (CBA) yang diselenggarakan oleh Makassar tourism Training Project (MTTP) for Tourism and Travel Department-SMKN 4 Kota Bengkulu.
 Interaksi guru dengan siswa dalam pembelajaran mencapai kriteria atau standar objektif terlihat dari guru yang selalu memberikan perhatian dan membantu siswa ketika menghadapi kesulitan dalam belajar.
 Pengelolaan praktek kerja siswa mencapai kriteria atau standar objektif dalam hal penempatan praktek kerja siswa, tetapi dalam hal naskah administrasi tidak tercapai karena ada industry yang mau bekerja sama dengan sekolah tanpa diberikan naskah admininstrasi oleh pihak sekolah.
 Idenstitas industry mencakup tempat praktek kerja siswa dan pengalaman industry menerima praktek kerja mencapai kriteria karena sudah lama membangun kerjasama dengan sekolah.
 Kompetensi instruktur mencapai kriteria atau standar objektif karena hanya satu yang memiliki latarbelakang SMK, tetapi pada umumnya instruktur sudah membimbing lebih dari satu tahun dan menguasai materi secara profesional serta penguasaan strategi yang baik.
 Proses praktek kerja siswa di industri (institusi pasangan) yang tidak mencapai kriteria dan perlu diperbaiki adalah penilaian hasil praktek kerja industry karena prosedur penilaian tidak tepat. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pedoman penilain di industri.
c. Outcome (hasil)
Dalam keterserapan dunia kerja dapat ditolerir karena industry tidak mengenal sekolah secara dekat dengan segala kompetensi yang dimiliki siswa.
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
a. Umum, banyaknya aspek yang mencapai kategori tinggi pada setiap tahapan evaluasi, ini menunjukkan bahwa program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada SMKN 4 Kota Bengkulu berhasil. Walaupun masih terdapat beberapa sub aspek yang perlu perbaikan. Artinya, keberhasilan tersebut dapat dijadikan acuan sedang yang belum berhasil dijadikan bahan pertimbangan untuk mengoptimalisasikan pelaksanaan PSG.
b. Khusus, beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan untuk penyempurnaan program pendidikan sistem ganda sebagai berikut:
SMKN 4 Kota Bengkulu antaralain adalah:
 Sekolah perlu melibatkan secara langsung industri dalam penerimaan siswa baru, membuat naskah kerjasama/ Momorandum of Undersatanding (MOU) dengan industri, meningkatkan kualifikasi pendidikan guru produktif UJP, menyusun program diklat yang dilatihkan di industri (institusi pasangan), menyusun pedoman penilaian praktek kerja, penilaian di industi sepenuhnya dilakukan oleh instruktur dan meningkatkan intensitas monitoring sehingga guru secara tidak langsung akan mendapat pengalaman tentang kesesuaian kompetensi siswa dengan kebutuhan kerja yang ada di industri.
 Pembiayaan pendidikan yang banyak dibebankan kepada siswa kiranya dapat dikurangi dengan memberdayakan sumber daya yang dimiliki sekolah. Bahkan, kalau memungkinkan gratis melalui program pendidikan wajib belajar 12 tahun; dan
 Untuk meningkatkan capaian keterserapan tamatan dapat dilakukan berbagai kegiatan yaitu lebih meningkatkan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competency based training), lebih meningkatkan peran Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di sekolah, meningkatkan dan mengembangkan kerjasama dengan Association of Indonesia Tours and Travel Agency (ASITA) terutama dalam penyaluran tenaga kerja, Membuat program pendidikan dan pelatihan dengan Mitra Internasional (MI).
Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu Dan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Bengkulu; (1) Untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan PSG di SMKN 4 Kota Bengkulu, maka sebaiknya memperhatikan hasil penelitian evaluasi ini terutama temuan yang masih memerlukan penyempurnaan, (2) Khusus untuk biaya pendidikan yang banyak dibebankan kepada sekolah sudah saatnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Bengkulu dan atau pemerintah Kota Bengkulu untuk meningkatkan jumlah biaya pendidikan antara lain melalui program pendidikan wajib belajar 12 tahun. Bila memungkinkan, masuk bagian dari pendidikan gratis.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional;
(1) Melalui Pendidikan Sistem Ganda (PSG) sebagai gabungan subsistem pendidikan di sekolah dan subsistem pendidikan di dunia kerja merupakan sisitem pendidikan kejuruan yang efektif yang dapat meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan kerja. Oleh karena itu, perlu mengintensifkan monitoring, evaluasi dan supervisi serta pembinaan keterlaksanaan program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Bila memungkinkan ada sebuah lembaga yang menangani secara khusus.
(2) memanfaatkan hasil penelitian sebagai salah satu bahan kajian untuk pengembangan program Pendidikan Sisten Ganda (PSG).
Para Peneliti Lain: Perlu dilakukan penelitian lanjutan temuan-temuan yang diperoleh dalam penelitian evaluasi program ini baik secara terminal maupun longitudinal tentang program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Khususnya menyangkut efektifitas keterlibatan indusri dalam pelaksanaan pelatihan kerja siswa.

MODEL EVALUASI KIRK PATRICK

MODEL EVALUASI KIRK PATRICK
Oleh: Mahuri


A. Pendahuluan
Mutu pendidikan dipengaruhi banyak faktor, yaitu siswa, pengelola sekolah (kepala sekolah, guru, staf, dan dewan/komite sekolah), lingkungan (orangtua, masyarakat, dan sekolah), kualitas pembelajaran, dan kurikulum (Suhartoyo, 2005:2). Hal senada juga dikemukakan oleh Mardapi (2003:8) bahwa usaha peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik.

Salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan dengan demikian adalah proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan salah satu faktor penting untuk efektivitas pembelajaran adalah faktor evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran. Evaluasi dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik tetapi juga mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output, maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Optimalisasi sistem evaluasi menurut Mardapi (2003:12) memiliki dua makna, yaitu 1) sistem evaluasi yang memberikan informasi yang optimal dan 2) manfaat yang dicapai dari evaluasi. Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
Bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik. Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru (Mardapi, 2000:2).

Konteks program pembelajaran di sekolah menurut Mardapi (2003:8) bahwa keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai siswa. Di sisi lain evaluasi pada program pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan pembelajaran dan tingkat ketercapaian tujuannya. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program pembelajaran di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan penilaian.

Perkembangan bisnis dan persaingan antar organisasi dewasa ini bergerak dengan cepat dan dinamis. Program pelatihan dan pengembangan (training and development) sebagai bagian integral dari proses pengembangan SDM menjadi penting dan strategis dalam mendukung visi dan misi organisasi. Untuk menjamin kualitas penyelenggaraan program pelatihan, maka diperlukan suatu fungsi kontrol yang dikenal dengan evaluasi. Evaluasi pelatihan memiliki fungsi sebagai pengendali proses dan hasil program pelatihan sehingga akan dapat dijamin suatu program pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien. Evaluasi pelatihan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam program pelatihan. Evaluasi pelatihan lebih difokuskan pada peninjauan kembali proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan yang dikaitkan dengan kinerja SDM.

Stufflebeam dan Guba (1974) mengemukakan bahwa The purpose of evaluation is to provide information to aid decision making at several levels in the implementation of a program”

Djuju Sudjana (2006) menyatakan berbagai macam tujuan evaluasi, yaitu
1. Memberikan masukan untuk perencanaan program
2. Memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program
3. Memberi masukan untuk memodifikasi program
4. Memperoleh informasi tentang factor pendukung dan penghambat program.
5. Memberi masukan untuk motivasi dan Pembina pengelola dan pelaksana program
6. Memberi masukan untuk memahami landasan keilmuan agi evaluasi program.

B. Model Evaluasi Kirkpatrick
Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald. L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.
Keempat level dapat dirinci sebagai berikut:
• Reaksi dilakukan untuk mengukur tingkat reaksi yang didisain agar mengetahui opini dari para peserta pelatihan mengenai program pelatihan.
• Pembelajaran mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan.
• Perilaku diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan.
• Hasil untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruha.
• Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut.

a. Level 1: Reaksi
Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah:
1. Instruktur/ pelatih. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan pelatih dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.
2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.
3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.
4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.
5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.
6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.
9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

b. Level 2: Pembelajaran
Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

c. Level 3: Perilaku
Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

d. Level 4: Hasil
Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki. .
Proses pengukuran dan pengumpulan data evaluasi yang lebih rinci dapat dilihat dari tabel 1 berikut:



Tabel 1
Proses Pengukuran dan Pengumpulan Data
Level Evaluasi Deskripsi Metode Pengumpulan Data
1. Reaksi Mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap program pelatihan yang diikuti. Survai dengan skala pengukuran yaitu skala Likert.
2. Pembelajaran Mengukur tingkat pembelajaran yang dialami oleh peserta pelatihan. Formal tes (tertulis)
3. Perilaku Mengukur implementasi hasil pelatihan di tempat kerja. Action Plan, observasi
4. Hasil Mengukur keberhasilan pelatihan dari sudut pandang bisnis dan organisasi yang disebabkan adanya peningkatan kinerja/komtenesi peserta pelatihan. Evaluasi action plan dan data laporan hasil kerja.

Pengukuran dan evaluasi adalah instrumen yang berguna untuk membantu menginternalisasi hasil pelatihan. Uraian secara rinci tentang bidang kerja evaluasi yang mencakup level data, fokus data dan kegunaan data dapat dilihat pada tabel-2 berikut ini.

Tabel 2
Bidang Kerja Evaluasi
Bidang Evaluasi
Level Data Fokus Data Kegunaan Data
Level1:
Reaksi dan atau kepuasan dan rencana tindakan Fokus pada program pelatihan, fasilitator dan bagaimana aplikasinya. Untuk mengungkap apa yang dipikirkan peserta terhadap program – kepuasan terhadap program pelatihan dan pelatih. Mengukur dimensi lain: rencana tindakan peserta sebagai hasil pelatihan, bagaimana implementasi kebutuhan, program, atau proses yang baru, bagaimana mengguna kan kapabilitas baru. Digunakan untuk menyesuaikan atau memperbaharui isi, desain, atau pelaksanaan pelatihan. Proses dari pengembangan rencana tindakan, mempertinggi transfer dari pelatihan tempat kerja. Data rencana tindakan dapat digunakan untuk menentukan poin fokus untuk tindak lanjut evaluasi serta membandingkan hasil yang ada dengan standar. Temuan ini dapat ditujukan untuk peningkatan mutu program.
Level 2:
Belajar Fokusnya adalah pada partisipan serta berbagai dukungan mekanik untuk belajar. Mengukur pengetahuan, fakta, proses, prosedur, teknik atau keterampilan yang telah diperoleh dari pelatihan. Mengukur hasil belajar harus objektif, dengan indikator kuantitatif mengenai pengetahuan serta pengertian yang telah dimiliki. Data ini digunakan untuk membuat pengaturan program, isi, desain dan pelaksanaan.
Level 3:
Aplikasi dan atau implementasi pekerjaan Fokusnya adalah pada partisipan, tempat kerja, dan dukungan mekanis untuk mengaplikasikan hasil belajar. Mengukur perubahan perilaku pada pekerjaan. Ini juga meliputi aplikasi spesifik dari keterampil an, pengetahuan khusus yang telah dipelajari dalam pelatihan. Ini diukur setelah hasil pelatihan di implementasi kan di tempat kerja. Menghasilkan data yang mengindikasikan frekuensi dan efektifitas aplikasi pekerjaan. Jika berhasil perlu diketahui kenapa, agar dapat adaptasi pengaruh yang mendukung dalam situasi lain. Jika tidak berhasil, perlu diketahui penyebabnya, agar dapat mengkoreksi situasi untuk mem fasilitasi implementasi yang lain.
Level 4:
Dampak Fokus pada akibat dari proses pelatihan dalam hasil spesifik organisasi. Menentukan pengaruh pelatihan dalam meningkatkan kinerja organisasi. Menyangkut data seperti penghematan biaya, peningkatan hasil, penghematan waktu atau peningkaan kualitas. Menyangkut data subjektif, seperti: kepuasan konsumen atau karyawan, penguatan pelanggan, peningkatan dalam waktu merespon konsumen. generalisasi data ini meliputi: pengumpulan data sebelum dan sesudah pelatihan dan penghubungannya kepada hasil dari pelatihan dan pengukuran bisnis dengan menganalisa perhitungan peningkatan kinerja bisnis.
Level 5:
ROI Fokusnya ada pada keuntungan finansial sebagai hasil dari pelatihan. Merupakan hasil evaluasi nilai finansial akibat bisnis pada pelatihan, dibandingkan dengan biaya pelatihan. Data akibat bisnis dikonversi ke nilai finansial untuk aplikasi dalam rumus untuk menghitung Return on investment. Ini menunjukkan hasil sesungguhnya dari program dalam batasan kontribusinya ke tujuan perusahaan. Ini direpresentasikan sebagai nilai ROI atau Cost-Benefit Ratio, biasanya dalam persen (%) .
Benefit Fokus pada nilai tambahan dari pelatihan dalam batasan non finansial Data yang tidak terukur ini adalah data yang tidak perlu dikonversi dalam nilai moneter. Ini disebabkan kurang objektifnya data sehingga sulit untuk dikonversi kedalam nilai moneter. Terkadang terlalu mahal untuk mengkonversi data tertentu kedalam nilai moneter. Data subjektif yang timbul dalam evaluasi akibat bisnis mungkin masuk dalam kategori ini (peningkatan kepuasan konsumen atau karyawan, penguatan pelanggan, peningkatan dalam waktu merespon konsumen). Keuntungan lain yang tidak terukur diantaranya: peningkatan komitmen organisasi, peningkatan kerja tim, peningkatan pelayanan costumer, pengurangan konflik dan pengurangan stres. Seringkali data ini berupa hal sebagai hasil postif dari pelatihan, tetapi organisasi tidak memiliki cara moneter untuk mengukurnya. Data yang tidak terukur dalam batasan moneter tidak bisa dibandingkan dengan biaya pelatihan, sehingga ROI pun tidak bisa ditentukan, ini menempatkan data dalam kategori yang tidak bisa diukur.

C.Kriteria/ Standar objektif dalam evaluasi ini adalah:
1. Masukan (anttecedents):
a. Perekrutan siswa baru dilakukan dengan melalui seleksi one line dan harus memenuhi persyaratan. Hasil seleksi menunjukkan rata –rata siswa yang diterima adalah siswa yang mendapat nilai yang baik yaitu skor akademis diperoleh dengan rata – rata nilai hasil ujian nasional atau nilai SKHU 6,0 dan seleksi tes kemampuan atau tes penerimaan siswa baru dengan rata – rata 5,0.
b. Guru dan instruktur. Guru memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 atau D4 dan berpengalaman mengajar minimal 2 tahun serta telah mengalami pengalaman diklat atau on the job training, sedangkan instruktur minimal D3 berpengalaman dibidangnya mempunyai pengalaman membimbing minimal 1 tahun menguasai materi latihan kerja dan strategi pembimbingan.
c. Sarana dan prasarana. Keberadaan fasilitas dan bahan praktek harus layak antaralain:
 Prasarana yaitu tersedianya ruang belajar, ruang praktik, aula, lapangan olah raga, kantin, toilet.
 Sarana pendukung belajar meliputi sumber belajar (buku/ modul), media belajar (radio/ tape, TV, OHP, LCD, Komputer) dan teknologi informasi.
 Bahan praktek antaralain format tiket, format laporan, ATK, dan sebagainya.
 Pembiayaan. Sumber biaya didapat dari dana rutin, dana penunjang pendidikan, dana bantuan oang tua, unit produksi, sharing institusi pasangan.

2. Proses (transactions)
a. Kegiatan pembelajaran disekolah:
 Guru produktif dalam penyiapan administrasi/ bahan pembelajaran mencakup pembuatan program pembelajaran (silabus/ RPP) berdasarkan kompetensi, penyusunan modul pembelajaran berdasarkan kompetensi, penyusunan penilaian/ Uji kompetensi.
 Guru produktif dalam kegiatan pembelajaran antaralain penguasaan materi, pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competensi based training) dengan system blok, keterampilan menggunakan media/ metode yang bervariasi, penggunaan modul pembelajaran berdasarkan kompetensi, penggunaan bahan/ peralatan praktek terutama computer/ software, pemberian uji kompetensi setiap akhir pembelajaran dari setiap unit kompetensi, dan pemberian materi remedial tes bagi siswa yang belum kompeten.
 Interaksi dengan siswa, memberikan perhatian kepada siswa, memberikan umpan balik, intensitas umpan balik.
 Pengelolaan praktek kerja siswa dalam hal naskah kerjasama dengan industry penempata kerja siswa dan seminar hasil praktek kerja siswa.

b. Kegiatan pelatihan siswa di insdutri (institusi pasangan). Identitas industry tempat praktek kerja siswa dan pengalaman industry (institusi pasangan) yang menerima siswa praktek selama 1 tahun.

c. Latar belakang pendidikan instruktur minimal D3 atau setara, pengalaman kerja minimal 1 tahun, penguasaan materi dengan praktek kerja siswa strategi/ metode pembimbingan yang bervariasi.

d. Proses pelatihan kerja siswa di industri (institusi pasangan) yaitu pelaksanaan praktek kerja di industry berdasarkan program keahlian siswa minimal empat bulan, keahlian siswa dalam menggunakan peralatan/ bahan praktek kerja, pengisian jurnal oleh siswa dengan lengkap dari pekerjaan yang dilatihkan sebanyak 90%dari jumlah siswa dan monitoring minimal 1x sebulan.

3. Hasil (outcomes/output) antaralain:
a. Prestasi akademik berdasarkan hasil skor Ujian Nasional (UN) yang terdiri dari tiga mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.0, Bahasa Inggris minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.01, dan Matematika minimal 50% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 5. 6
b. Ujian Nasional Komponen Produktif dengan pendekatan project work untuk mata pelajaran produktif minimal 90% jumlah tamatan memperoleh nilai ≥ 7.0 dan mendapat sertifikat.
c. Keterserapan tamatan di dunia kerja minimal ≥ 50% dari jumlah tamatan yang lulus uji kompetensi sesuai dengan program keahliannya dengan tenggang waktu enam bulan.

Berdasarkan Kriteria/Standar objektif tersebut maka focus dari evaluasi ini adalah:
1. Pada tahapan masukan (anttecedents) yang akan di evaluasi antaralain adalah prosedur perekrutan siswa, persyaratan administrasi guru produktif, pengembangan kurikulum dengan keterlibatan industri/ asosiasi, kalender pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah dan di industry (institusi pasangan) yang mendukung ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan dan biaya pelaksanaan program system ganda.
2. Pada tahapan proses (transactions) yang akan dievaluasi antaralain adalah kegiatan proses belajar mengajar yang terdiri dari: penguasaan guru dalam penyiapan adminstrasi/ bahan pembelajaran, penguasaan guru dalam kegiatan pembelajaran interaksi guru dan siswa, pengelolaan praktek kerja siswa dan kegiatan pelatihan kerja di industry (institusi pasangan) yang terdiri dari identitas, kompetensi instruktur, dan proses praktek kerja di industry (institusi pasangan) pelaksanaan program pendidikan system ganda.
3. Hasil (outcomes/output) yang akan dievaluasi antaralain adalah hasil ujian nasional, hasil ujian nasional komponen produktif dengan pendekatan project work; sertifikasi dan keterserapan tamatan di dunia kerja.

D. Hasil Penelitian
1. Masukan (antecedents).
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi masukan terdapat 6 aspek dan 12 sub aspek, yang telah memenuhi standar objektif yakni 5 aspek dan 9 sub aspek, 1 sub aspek dan 1 aspek yang tidak memenuhi standar objektif yaitu pembiayaan, 1 sub aspek yang bisa ditolerir yaitu pendidikan minimal guru produtif dan 2 sub aspek yang perlu perbaikan yaitu tes wawancara dan keterlibatan industri dalam rekruitmen siswa.

2. Proses (transaction)
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan sub evaluasi proses, 7 aspek dan 30 sub aspek. Dari 30 sub aspek ada 27 sub aspek yang memenuhi standar objektif, 1 aspek yang tidak terpenuhi standar objektif tetapi dapat ditolerir yaitu pengisian jurnal siswa dan 2 sub aspek yang perlu perbaikan yaitu penyusunan naskah kerjasama dengan industry (institusi pasangan) dan penilaian praktek kerja siswa.
3. Hasil (outcomes)
Hasil-hasil analisis evaluative selanjutnya dirangkum pada case-order effect matrix menunjukkan bahwa berdasarkan sub evaluasi hasil, terdapat 2 aspek telah memenuhi standar objektif, 1 aspek yang dapat ditolerir yaitu keterserapan tamatan di dunia kerja.

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Antecedents (Masukan)
 Pembiayaan system ganda tidak tercapai karena beban pendidikan sebesar 80% persen diambil dari iuran pendidikan. Seharusnya sekolah mencari sumber pendanaan dari lainnya dan tidak mengikat. Salah satunya mengembangkan unit produksi mencari sponsor baik dari alumni ataupun dari masyarakat pada umumnya.
 Perekrutan siswa perlu diperbaiki karena pada prosedur/ system seleksi masih ada yang diterima siswa nilai ujian nasionalnya dibawah standar yang telah ditentukan dan pada tes wawancara tidak melibatkan pihak industri untuk menentukan kelulusan seleksi untuk memberi gambaran profil siswa yang dikehendaki oleh industry baik dari segi kognitif, efektif dan psikomotorik.
 Persyaratan administrasi guru mencapai kriteria atau standar objektif terlihat dari latarbelakang pendidikan guru dan pengalaman guru mengajar.
 Kurikulum pendidikan sistem ganda dikembangkan berdasarkan kebutuhan industry melalui sinkronasi atau maping kurikulum.
 Kalender pendidikan sistem ganda dibuat selama tiga tahun. Kalender pendidikan dibuat sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar mangajar sehingga pembelajaran berjalan secara efektif.
 Sarana dan prasarana belajar sebagai bagian pendukung yang berpengaruh baik yang langsung maupun tidak langsung terhadap keberhasilan program pendidikan sistem ganda.

b. Transaction (Proses)
 Penguasaan guru dalam penyiapan administrasi/ bahan pembelajaran membantu siswa sehingga menjadi lebih mudah belajar.
 Ketercapaian guru dalam penguasaan kegiatan pembelajaran karena adanya dukungan yang kuat dari Kepala Sekolah, ketersediaan fasilitas yang baik di sekolah, pengalaman diklat guru-guru produktif terutama tentang pembelajaran competency based training (CBT) dan competency based assessment (CBA) yang diselenggarakan oleh Makassar tourism Training Project (MTTP) for Tourism and Travel Department-SMKN 4.
 Interaksi guru dengan siswa dalam pembelajaran mencapai kriteria atau standar objektif terlihat dari guru yang selalu memberikan perhatian dan membantu siswa ketika menghadapi kesulitan dalam belajar.
 Pengelolaan praktek kerja siswa mencapai kriteria atau standar objektif dalam hal penempatan praktek kerja siswa, tetapi dalam hal naskah administrasi tidak tercapai karena ada industry yang mau bekerja sama dengan sekolah tanpa diberikan naskah admininstrasi oleh pihak sekolah.
 Idenstitas industry mencakup tempat praktek kerja siswa dan pengalaman industry menerima praktek kerja mencapai kriteria karena sudah lama membangun kerjasama dengan sekolah.
 Kompetensi instruktur mencapai kriteria atau standar objektif karena hanya satu yang memiliki latarbelakang SMK, tetapi pada umumnya instruktur sudah membimbing lebih dari satu tahun dan menguasai materi secara profesional serta penguasaan strategi yang baik.
 Proses praktek kerja siswa di industri (institusi pasangan) yang tidak mencapai kriteria dan perlu diperbaiki adalah penilaian hasil praktek kerja industry karena prosedur penilaian tidak tepat. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pedoman penilain di industri.

b. Outcome (hasil)
Dalam keterserapan dunia kerja dapat ditolerir karena industry tidak mengenal sekolah secara dekat dengan segala kompetensi yang dimiliki siswa.
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
a. Umum, banyaknya aspek yang mencapai kategori tinggi pada setiap tahapan evaluasi, ini menunjukkan bahwa program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada SMKN 4 Kota Bengkulu berhasil. Walaupun masih terdapat beberapa sub aspek yang perlu perbaikan. Artinya, keberhasilan tersebut dapat dijadikan acuan sedang yang belum berhasil dijadikan bahan pertimbangan untuk mengoptimalisasikan pelaksanaan PSG.
b. Khusus, beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan untuk penyempurnaan program pendidikan sistem ganda sebagai berikut:
SMKN 4 Kota Bengkulu antaralain adalah:
 Sekolah perlu melibatkan secara langsung industri dalam penerimaan siswa baru, membuat naskah kerjasama/ Momorandum of Undersatanding (MOU) dengan industri, meningkatkan kualifikasi pendidikan guru produktif UJP, menyusun program diklat yang dilatihkan di industri (institusi pasangan), menyusun pedoman penilaian praktek kerja, penilaian di industi sepenuhnya dilakukan oleh instruktur dan meningkatkan intensitas monitoring sehingga guru secara tidak langsung akan mendapat pengalaman tentang kesesuaian kompetensi siswa dengan kebutuhan kerja yang ada di industri.
 Pembiayaan pendidikan yang banyak dibebankan kepada siswa kiranya dapat dikurangi dengan memberdayakan sumber daya yang dimiliki sekolah. Bahkan, kalau memungkinkan gratis melalui program pendidikan wajib belajar 12 tahun; dan
 Untuk meningkatkan capaian keterserapan tamatan dapat dilakukan berbagai kegiatan yaitu lebih meningkatkan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competency based training), lebih meningkatkan peran Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di sekolah, meningkatkan dan mengembangkan kerjasama dengan Association of Indonesia Tours and Travel Agency (ASITA) terutama dalam penyaluran tenaga kerja, Membuat program pendidikan dan pelatihan dengan Mitra Internasional (MI).

Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu Dan Dinas Pendidikan Kota Bengkulu; (1) Untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan PSG di SMKN 4 Kota Bengkulu, maka sebaiknya memperhatikan hasil penelitian evaluasi ini terutama temuan yang masih memerlukan penyempurnaan, (2) Khusus untuk biaya pendidikan yang banyak dibebankan kepada sekolah sudah saatnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Bengkulu dan atau pemerintah Kota Bengkulu untuk meningkatkan jumlah biaya pendidikan antara lain melalui program pendidikan wajib belajar 12 tahun. Bila memungkinkan, masuk bagian dari pendidikan gratis.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional; (1) Melalui Pendidikan Sistem Ganda (PSG) sebagai gabungan subsistem pendidikan di sekolah dan subsistem pendidikan di dunia kerja merupakan sisitem pendidikan kejuruan yang efektif yang dapat meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan kerja. Oleh karena itu, perlu mengintensifkan monitoring, evaluasi dan supervisi serta pembinaan keterlaksanaan program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Bila memungkinkan ada sebuah lembaga yang menangani secara khusus. (2) memanfaatkan hasil penelitian sebagai salah satu bahan kajian untuk pengembangan program Pendidikan Sisten Ganda (PSG).

Para Peneliti Lain: Perlu dilakukan penelitian lanjutan temuan-temuan yang diperoleh dalam penelitian evaluasi program ini baik secara terminal maupun longitudinal tentang program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Khususnya menyangkut efektifitas keterlibatan indusri dalam pelaksanaan pelatihan kerja siswa.