

UJIAN TENGAH SEMESTER
PROGRAM MEGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FKIP UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2010
MATA KULIAH : LANDASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN
SEMESTER : 1 (SATU)
DOSEN PENGAMPU : PROF.DR. JOHANES SAPRI, M.Pd
: DR. SUHIRMAN, M.Pd
SOAL :
1. Teknologi Pendidikan (TP) dilandasi oleh falsafah dan teori. Coba anada jelaskan bila anda memandang TP dari sudut ontologi (apa), Epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa)
2. Anda juga telah mengetahui ada 4 revolusi dalam dunia pendidikan. Menurut persepsi dan predeksi anda apakah dimungkinkan muncul revolusi ke 5 dengan kehadiran TP dalam memecahkan masalah yang menyelimuti pengembangan dan pembangunan pendidikan di Indonesia
3. Ada beberapa kawasan TP dan keberuntungannya antara masing-masing kawasan. Coba anada pilih salah satu kawasan, bagaimanakah penerapannya dalam membelajarkan peserta didik. (pilih pada jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, PT)
4. Dalam Teknologi Pendidikan / teknologi pembelajaran menurut saettler yang mengacu pada pendapat Thorndike, ada beberapa prinsip pembelajaran (1) aktifitas diri, (2) minat/motivasi, (3) Kesiapan mental, (4) Individualisasi, (5) Sosialisasi. Bagaimana pandangan anda tentang penerapannya dengan menghadirkan produk teknologi dalam pembelajaran bagi peserta didik.
5. Suatu statement diungkapkan bahwa”makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan”. Hal ini merupakan konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi pendidikan. Bagaimana pendapat anda?
JAWABAN :
1.
|
|
Ø Ontologi (apa), merupakan asas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakekat realitas dari objek tsb.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh. Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani.
Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaistas. Realistas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh penulis adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.
|
|
1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah:
a. yang-ada (being)
b. kenyataan/realitas (reality)
c. eksistensi (existence)
d. esensi (essence)
e. substansi (substance)
f. perubahan (change)
g. tunggal (one)
h. jamak (many)
Dari perspektif ontologi diatas maka muncul masalah baru dalam Teknologi Pembelajaran (Yusuf hadi Miarso : 2004) yaitu:
a. Adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, prodoser media dan sebagainya) pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televise, radio, dan sebagainya), alat (jaringan televise, radio), cara-cara tertentu dalam mengolah/menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung.
b. Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik seccara konseptual maupun secara faktual.
c.
|
|
Ketiga poin diatas itulah yang merupakan ruang lingkup ujud obyek penelaahan (ontology) Teknologi Pembelajaran. Suatu obyek yang bukan merupakan lingkup bidang pengetahuan lain.
Ø Epistemologi (bagaimana), merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan.
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
|
|
Sebelum penerjemahan kata science, dalam bahasa Indonesia tersedia dua pilihan kata, yakni pengetahuan dan ilmu. Yang berlaku umum, pilihan jatuh pada kata ilmu. Penerjemahan science menjadi ilmu dalam bahasa Indonesia berimplikasi pada perubahan makna ilmu menjadi science, bukan sebaliknya. Akibatnya, hal-hal yang sebelumnya disebut ilmu menjadi bukan ilmu atau belum menjadi ilmu dalam artian science. Kemudian scientific knowledge diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah.
Science sendiri dipakai untuk dalam dua pengertian. Pertama, science yang triadic terdiri dari ontology, epistemology dan aksiologi, yakni cabang science, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi disiplin ilmu seperti fisika, kimia, biologi. Kedua, dalam artian yang metodis, yakni science atau scientific knowledge yang secara tradisional menggunakan metode induksi. Demarkasi antara science dan non-science secara tradisional biasanya pada metode induksi ini.
Diatas telah dipaparkan bahwa Teknologi Pembelajaran sebagai ilmu pengetahuan. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana mendapatkan pengetahuan Teknologi Pembelajaran? Menurut Abdul Gafur (2007) adalah dengan cara:
a. Telaah secara simultan keseluruhan masalah-masalah belajar
b. Pengintegrasian secara sistemik kegiatan pengembangan, produksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi.
c. Mengupayakan sinergisme atau interaksi terhadap seluruh proses pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar
Ø Aksiologi (untuk apa), merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yg telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tsb.
| |||
| |||
Aksiologi mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada nilai-nilai moral .
|
|
Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theory of value). Nilai menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak manusia, yang diciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia. Pendekatan naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak absolut atau ma’sum (infallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai secara umum hakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi (kebutuhan/keinginan) manusia.
Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran sebelumnya menentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual tetapi hanya merupakan ekspresi emosi-emosi atau tingkah laku (attitude). Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian penting dari tindakan manusia. Bagi mereka, drama kemanusiaan adalah sebuah axiological tragicomedy.
|
|
a. Produktif
b. Ilmiah
c. Individual
d. Serentak / actual
e. Merata
f. Berdaya serap tinggi
Teknologi Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi (A.L Zachri:2004).
http://unikharynizar.multiply.com/journal/item/5
2. Menurut persepsi dan prediksi saya dimungkinkan muncul revolusi ke- 5 dengan kehadiran TP dalam memecahkan masalah yang menyelimuti pengembangan dan pembangunan pendidikan di Indonesia karena Teknologi Pembelajaran secara aksiologis akan menjadikan pendidikan produktif, ilmiah, individual, serentak atau actual, merata, dan berdaya serap tinggi (Abdul Gafur:2007). Dengan kehadiran Teknologi Pendidikan saya optimis akan timbul revolusi dalam pendidikan. Seperti yang diungkapkan Abdul Gafur pendidkan akan selalu produktif menghasilkan perkembangan dan pembangunan di bidang pendidikan. Atas dasar pendapat tersebut akan selalu terjadi perkembangan dan pembangunan revolusi di bidang pendidikan.
Ø Revolusi 1 : Terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerah sebagian tanggung jawab pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggung jawab untuk itu.
Ø Revolusi ke 2: Terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahi tanggung jawab untuk mendidik.
Ø Revolusi ke 3 : Muncul ditemukannya mesin cetak, yang memungkinkan tersebarnya iconic dan numeric dalam bentuk buku dan media cetak lainnya.
Ø Revolusi ke 4 : Berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik.
|
| ||||
3. Kawasan TP dan keterhubungannya dengan pembelajaran di perguruan tinggi
Teknologi pendidikan menurut AECT tahun 2004, maka teknologi pendidikan adalah teori dan praktek dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan mengevaluasi proses dan sumber belajar. Oleh karena itu, kawasan bidang garapan teknologi pendidikan adalah seperti digambarkan dalam diagram berikut:
Jadi, seorang sarjana teknologi pendidikan dapat menjadi profesi sebagai berikut:
1.
|
|
2. Pengembang proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pengembangan teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbantuan komputer dan teknologi terpadu lainnya.
3. Pemanfaat/pengguna proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pemnafaatan media pembelajaran, difusi inovasi pendidikan, implementasi dan institusionalisasi model inovasi pendidikan, serta penerapan kebijakan dan regulasi pendidikan.
4. Pengelola proses dan sumber belajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi pengelolaan proyek, pengelolaan aneka sumber belajar, pengelolaan sistem penyampaian, dan pengelolaan sistem informasi pendidikan.
5. Evaluator/peneliti proses dan sumber relajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi melakukan analisis masalah, pengukuran acuan patokan, evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan penelitian kawasan pendidikan lanilla.
6. Prof Yusufhadi Miarso, tahun 2004 telah melakukan suatu survey dan menganalisis kompetensi teknologi pendidikan untuk jenjang S1, S2, S3 seperti digambarkan dalam diagram sebagai berikut:
7.
|
|
4. Menurut Saettler selanjutnya kontribusi Thorndike dalam teknologi pembelajaran adalah dengan rumusannya tentang prinsip-prinsip : (1) Aktivitas diri; (2) minat/motivasi; (3) Kesiapan mental; (4) Individualisasi, dan (5) Sosialisasi. Untuk melaksanakan prinsip – prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun dengan tetap memperhatikan minat dan respon anak terhadap stimulasi yang diberikan. Stimulasi itu perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak, dan kecuali itu perbedaan individual perlu diperhatikan dengan jalan merancang dan mengatur situasi sedemikan rupa serta dengan menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru.
Sattler (1968) menulusuri sejarah teknologi pembelajaran, dan berpendapat bahwa Thorndike pada thn 1901 dengan teori psikologi perkembangannya merupakan landasan pertama ke arah teknologi pembelajaran. Tiga dalil utama yang dikemukan oleh Thorndike, yakni;
Ø Dalil latihan dan ulangan: makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan.
Ø Dalil akibat: menyatakan prinsip hubungan senang tidak senang. Respons akan diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang.
Ø Dalil kesiapan: karena perkembangan sistem syaraf maka unit perilaku tertentu akan lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan unit perilaku yang lain.
Teori Penguatan (reinforcement). Pembelajaran menurut Skinner, secara sederhana merupakan pengaturan kemungkinan penguatan.
|
|
a. Peristiwa di mana perilaku berlangsung
b. Perilaku itu sendiri
c. Akibat perilaku itu
Prinsip yang dijabarkan dari teori pengauatan ini, di antaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung utk lebih bertahan;
• Penguatan positif lebih berarti dari yang negatif.
• Penguatan yg langsung lebih efektif dari penguatan tertunda.
• Penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari yang jarang.
Teori dan prinsip-prinsip Skinner ini antara lain diaplikasikan bentuk “mesin pengajar” (teaching machine).
• Prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Skinner tsb. hingga sekarang masih banyak dipakai dalam membuat Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK = Computer Assisted Instruction (CAI).
• Skinner jg berpendapat bahwa utk mengendalikan belajar manusia secara efektif diperlukan bantuan peralatan, yang akan bertindak mekanisme penguat (AECT, 1977).
Pandangan saya tentang penerapan teknologi dalam pembelajaran adalah sangat menentukan mutu pendidikan yang akan datang. Rendahnya kualitas produk pendidikan tersebut merupakan gambaran kualitas penyelenggaraan sistem pendidikan dimana terkait banyak unsur, namun proses belajar mengajar merupakan jantungnya pendidikanyang harus diperhitungkan karena pada kegiatan pembelajaran inilah transportasi berbagai konsep, nilai serta materi pendidikan diintegrasikan.
|
|
Electronic Learning (E-Learning) pada hakekatnya adalah belajar atau pembelajaran yang memanfaatkan teknologi komputer atau internet. Teknologi ini merupakan pembelajaran berbasis web (web based Instruction)
5. Pendapat saya tentang statement diungkapkan bahwa “Makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan”.adalah sangat setuju hal ini terjadi dengan terpatrinya kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Semakin sering respon diulang dan dilakukan akan semakin dicamkan dan terbentuk pada apapun itu namanya termasuk pada binatang.
Contoh: pada anjing yang diberikan respon dengan membunyikan lonceng untuk memberikan makan. Hal ini bila dilakukan berulang-ulang akan terbentuk stimulus pada diri anjing. Setiap lonceng berbunyi berarti saatnya makan. Pada saat tertentu bel sudah dibunyikan tetapi tidak ada makanan yang tersedia, maka air liur anjing akan keluar dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena kebiasaan dan respon yang selalu diulang-ulang dan mendapatkan stimulus pada diri anjing.
|
|
UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH LANDASAN TENOLOGI PENDIDIAN |
OLEH : MAHURI NPM : A2M009125 DOSEN PENGAMPU: PROF.DR. JOHANES SAPRI, M.Pd DR. SUHIRMAN, M.Pd Diajukan Sebagai Tugas Text Home UTS Mata Land. TP Semester 1 (Satu) Program Pascasarjana (S2) Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu |
PROGRAM PASCASARJANA (S2) TEKNOLOGI PENDIDIKAN FKIP UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN AKADEMIK 2010 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar