Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Mengangkat Kembali Nilai-Nilai Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 2)

Mencoba memenuhi janji, review hasil seminar saya lanjutkan kembali. Akan tetapi, sebelum saya masuk ke resume materi utama, saya ingin sekali membagi prinsip Kang Zaini yang sangat mencerahkan tentang mekanisme lomba anak-anak. Kang Zaini berprinsip bahwa lomba untuk anak-anak, apapun objek lombanya, sebaiknya tidak menciptakan kompetisi ketat, di mana juaranya begitu terbatas. Anak-anak sedang berada pada tahap belajar. Jika mereka menggambar, maka gambarnya (sejelek/sebagus apapun) adalah proses dan bukan hasil akhir. Penyematan juara pada segelintir anak dan tidak juara pada banyak peserta lainya hanya akan membentuk citra diri negatif terlalu dini pada diri mereka sendiri. Terlebih jika berkali-kali mereka ikut lomba dan tidak juara, maka bukan tidak mungkin akan menghapus semangat anak-anak untuk terus belajar.

Kang Zaini menyarankan, buatlah kategori juara sebanyak mungkin, sehingga (bahkan kalau mungkin) semua peserta menyandang juara pada berbagai kategori: misalnya jika lomba gambar, maka buatlah kategori terlucu, terfavorit, terkreatif, dan lain sebagainya. Jangan sampai penyelenggaraan lomba untuk anak-anak berikut penilaian juri-jurinya menjadi hanya sebuah kompetisi berebut piala, sehingga menafikan dan mengkerdilkan proses belajar yang justru lebih penting dari sekedar juara.

Menjadi Media Stimulasi
Selain mengandung nilai-nilai filosofis sebagaimana telah disampaikan pada tulisan bagian pertama, permainan tradisional kalau diamati, ternyata memenuhi juga manfaat lain, di antaranya stimulasi fisik, emosi, dan sosial. Multiple intelegence yang dipopulerkan oleh Howard Gardner, yang kemudian diaplikasikan di sekolah-sekolah dengan berbagai alat stimulasi rekaan berharga mahal (kadang-kadang) sebenarya bisa dipenuhi dengan aneka permainan dan mainan tradisional berbahan baku benda-benda alam. Selain murah, juga ternyata jauh lebih aman, karena bebas dari unsur toxic (racun).

Pernyataan tersebut di atas sekaligus membuat saya terkoneksi dengan pengetahuan sebelumya tetang alat-alat stimulasi. Dulu, di tengah-tengah membuncahnya pikiran tentang pentingnya stimulasi, saya terbentur dengan masalah lain, yaitu alat-alat stimulasi yang ternyata cukup mahal jika bahan-bahannya memenuhi kriteria aman bagi anak-anak. Balok-balok geometris dari kayu misalnya, kalau beli dari bahan kayu kualitas rendah dan cat kayu biasa (yang pastinya berbau dan ada unsur toxicnya) memang harganya cukup terjangkau, namun harga balok kayu berkualitas baik dan (katanya) aman bisa 2 atau 3 kali lipatnya. Belum lagi peralatan main dari jenis lainnya yang beragam, pastinya butuh dana yang tidak sedikit untuk sebuah proses stimulasi. Ibu-ibu yang kantongnya kering mungkin hanya bisa menelan ludah saja kalau tidak kreatif.

Nah, apa yang disampaikan Kang Zaini benar-benar menyadarkan saya. Ilmu masa lalu dalam membuat alat-alat bermain dari bahan-bahan alam sebenarnya harta tak ternilai. Walaupun sekarang anak-anak saya sudah jauh melewati masa balita, namun pencerahan ini mudah-mudahan tersampaikan kepada keluarga lain yang masih punya anak balita. Jangan cemaskan ketiadaan alat stimulasi, cukup keluarkan ilmu-ilmu masa kecil kita dalam membuat mainan, maka anak-anak masa kini juga bisa menikmati proses stimulasi yang tak kalah hebat kualitasnya.

Berikut ini beberapa permainan yang saya kenal dan menurut hemat saya punya manfaat stimulasi yang luar biasa:

a. Congklak, encrak, bola bekel (melatih kesabaran dan konsentrasi)
b. Permainan kelompok seperti galah asin (untuk anak-anak usia 9 tahun ke atas - melatih kemampuan adaptasi sosial dan disiplin)
c. Sondah mandah, bermain kelereng, gatrik, gasing(untuk stimulasi visual-spasial.
d. Sapintrong, loncat tinggi, sondah mandah (untuk melatih kemampuan fisik dan kegigihan).
e. Membuat mainan dari daun kelapa, jerami, ranting-ranting kayu, ataupun dedaunan (untuk melatih motorik halus.

Bermain Tanah
Tentang bermain tanah. Meskipun selama ini saya memang menyengajakan agar anak-anak sering menyentuh tanah namun motivasinya lebih pada agar mereka memiliki pengalaman sensoris yang lengkap. Jangan sampai, mereka kehilangan kesempatan untuk bermain bebas di luar rumah. Kadang-kadang, ya masih juga ada larangan jika mereka sudah terlalu asyik :).

Akan tetapi, seperti disampaikan Kang Zaini, ternyata bermain tanah memberi efek lebih pada anak-anak selain motivasi saya di atas. Bermain tanah terutama tanah lempung memiliki manfaat yang sama dengan fungsi memainkan playdough. Bahkan di negara-negara Eropa, tanah liat katanya kini sudah menjadi penggati playdough(yang diduga memiliki kandungan racun berbahaya). Sebuah ironi tentu saja, di mana negara-negara maju mengganti playdough dengan tanah liat terbaik (dari Indonesia) tapi orang Indonesia justru berbangga-bangga memakai playdough dari luar.

Orang-orang tua zaman dulu bahkan teryata menganjurkan agar anak-anak dibiarkan sesering mungkin bermain tanah. Hal itu bukan tanpa maksud. Tanah adalah simbol kehidupan, tempat manusia bermula dan berakhir. Tanah juga adalah representasi dari karunia Allah atas manusia, di mana segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia keluar darinya. Lebih jauh, tanah juga memiliki sifat-sifat menyerupai seorang ibu, sehingga muncul ungkapan dari para tetua, “Biarkan anak-anak bermain tanah supaya mereka jadi dekat dengan ibunya”.

Kalau dipikir-pikir , pernyataan tersebut tidaklah berlebihan. Bayangkan saja, meski diinjak-injak setiap hari, dimasuki kotoran setiap beberapa jam, digali untuk diambil bebatuan dan pasir-pasirnya, diterobos beribu-ribu ton alat berat untuk eksplorasi, namun tanah pula-lah yang memberi kehidupan pada makhluk-makhluk yang hidup di permukaannya. Bukankah dari bumi-lah keluar berbagai tetumbuhan yang buahnya mampu mengenyangkan, bahan baku sandang sehingga kita bisa berpakaian, dan mengeluarkan pohon-pohon berkayu yang dengannnya manusia dan bahkan hewan bisa mendirikan tempat tinggal.

Sifat-sifat bumi tersebut tak ubahnya karakter seorang ibu. Meski bayinya menumpahkan kotoran di tubuhnya saban hari, membuatnya pusing karena kerewelannya, dan amat lelah karena memenuhi kebutuhannya, namun ibu tetap menyuapkan makanan pada anaknya, mengganti dan mencuci popoknya, dan memberi tempat tidur yang nyaman setiap hari.

Dengan bermain tanah, baik ditinjau dari sisi kongkretnya (bumi) maupun nilai filosofisnya (ibu) diharapkan anak-anak jadi memilki kedekatan emosional dengannya, tumbuh kecintaannya, tumbuh keinginan besar untuk menjaga dan merawatnya. Jadi, edukasi pada anak tentang save the earth semestinya tidaklah harus bersusah payah”: Cukup ikuti nasihat para leluhur, “Biarkan anak-anak bermain tanah” ^_^.

Demikian resume saya tentang materi Seminar Permainan Tradisional. Banyak hal lain yang mungkin terlewat. Tetapi jangan khawatir, kita bisa mencari tahu lebih jauh dengan mengunjungi 'markas' Komunitas Hong di Jl. Bukit Pakar Utara 35 Dago Bandung. Yuk, belajar lagi permainan tradisional, dan temukan manfaatnya bagi pendidikan anak-anak kita!

Selasa, 05 April 2011

Mengangkat Kembali Nilai-Nilai Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 1)

Alhamdulillah, saya bersyukur sekali, ketika saya begitu antusias memikirkan sesuatu, Allah juga menolong saya dengan "mengirimkan" teman-teman yang memiliki spirit yang sama. Bulan April 2011 ini saya memperoleh sesuatu yang begitu berharga melalui "Seminar Permainan Tradisional", yang diselenggarakan Temasek International School. Kang Muhammad Zaini Alif (dari komunitas Hong!), sebagai pembicara, benar-benar membuat saya terdorong untuk merealisasikan satu lagi item yang menurut saya penting, yaitu mengangkat kembali spirit permainan tradisional bagi anak-anak. Insya Allah akan saya buat dalam 2 bagian, karena terlalu banyaknya bahan yang harus dituliskan.

Sebelumnya, saya memang pernah mencoba mengajarkan anak-anak permainan zaman dulu, ya minimal permainan yang saya ketahui (sebagai jejak masa kecil di kampung). Sudah pernah juga anak-anak saya dan teman-temannya di komplek perumahan kami diajak main bersama. Akan tetapi, praktiknya hanya seumur jagung. Lama-lama mereka menghilang, seiring melemahnya motivasi saya yang waktu itu belum terlalu jelas melihat manfaatnya.

Sehabis mengikuti seminar Kang Zaini, mata saya seperti dibukakan pada sebuah visi yang sangat luhur dari permainan tradisional, yang kini mulai ditinggalkan. Judulnya bolehlah 'permainan', tapi kandungan nilai filosofis dan edukasinya ternyata tidak main-main. Kang Zaini ternyata sudah melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai permainan tradisional di Nusantara. Bukan hanya jenis dan variasinya yang digali, melainkan juga jejak historis dan nilai-nilai filosofis permainan tersebut. Subhanallah, sangat mengagumkan buat saya.

Beliau pernah menulis buku kumpulan permainan hasil penelitian tersebut melalui proyek dana pemerintah, namun sayangnya tak terlacak jejak buku-buku tersebut ada di mana. Tapi kabar baiknya, beliau saat ini sedang berusaha menyusun kembali buku tersebut dengan banyak revisi dan akan diterbitkan untuk umum. Kalau belum ada penerbitnya, mudah-mudahan tulisan ini bisa menghantarkan dan menghubungkan. Bukankah naskah bermutu banyak ditunggu-tunggu para penerbit buku? ^_^

Kembali ke acara seminar. Buat saya ada beberapa hal yang menarik dari paparan Kang Zaini, berikut saya sarikan poin-poinnya. Mudah-mudahan juga akan menginspirasi teman-teman:

1. Permainan anak tradisional di berbagai negara satu sama lain ternyata memiliki kemiripan. Perbedaannya mungkin lebih kepada model, variasi aturan permainan, nama, media yang dipergunakan. Akan tetapi, esensinya tetap sama. Hal ini memang memicu banyak pertanyaan, terutama bagi mereka yang tertarik dengan hubungan temuan arkeologis dengan proses penyebaran budaya serta ras manusia. Terlebih-lebih lagi, kini sedang ramai-ramainya dibahas penelitian mengenai The Lost Continent Atlantis, yang diduga justru berada di Indonesia. Apakah benar, peradaban negeri Atlantis yang hebat itu memang berada di Nusantara? Benarkah telah terjadi banjir besar pada suatu masa di ribuan tahun yang lalu, sehingga manusia terpecah-pecah ke berbagai benua dan melahirkan ras-ras yang masih mengadopsi kebudayaan dari negeri asalnya? Apakah itu juga penyebab dari kemiripan jenis permainan tradisional berbagai negara di dunia yang ada saat ini? Pe er buat kita ^_^.

2. Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu, dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak, dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.

Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan (begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan? :)).

Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.

3. Tahukah permainan paciwit-ciwit lutung? Entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda: Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung (saling mencubit para lutung (monyet), si lutung pindah ke ujung). Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah, dst.

Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya, dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.

4. Permainan berikutnya adalah hompimpa. Lagu pengiringnya kurang lebih sebagai berikut, hompimpa alai hom gambreng dst. Menurut Kang Zaini, kata 'hom' setelah ditelusuri dalam berbagai konteks bahasa memiliki makna yang hampir sama, yaitu Tuhan. Jadi, hompimpa alai hom, artinya dari Tuhan kembali kepada Tuhan (Ummat muslim mungkin mengenal istilah innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Jadi, permainan ini sesungguhnya mengajarkan tentang hakikat kehidupan manusia. Semua makhluk berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, tidak ada yang abadi. Kata 'gambreng!" artinya menyentak atau menyadarkan agar manusia ingat akan hakikat tersebut.

Bagian yang lebih menarik lagi adalah aturan permainan setelah hompimpa. Seingat saya, biasanya hompimpa dipakai sebagai undian dalam permainan ucing sumput (petak umpet), yaitu untuk menentukan siapa yang duluan sembunyi dan siapa yang kebagian mencari.

Dalam permainan petak umpet, pemain yang sudah ditemukan akan diseru, "Hong!"(sambil disebut namanya), maka ia harus keluar dan tidak boleh ke mana-mana. Ia harus berdiri di dekat orang yang menemukannya untuk melihat permainan berlangsung sampai semua pemain yang sembunyi ditemukan. Menurut Kang Zaini lagi, permainan tersebut adalah simbol, bahwa orang-orang yang bermain itu adalah manusia di dunia ini. Ketika mereka akhirnya ditemukan, itu artinya mereka sudah dipanggil kembali kepada Allah. Dan pekerjaan dia adalah menonton manusia lain yang masih sedang "bermain" di dunia ini.

Jika saya kaitkan dengan beberapa ayat Al Quran, maka korelasinya menjadi begitu jelas, dan tentu saja jadi membuat saya juga merenung, apakah mungkin banjir besar pada zaman Atlantis (seperti di-klaim seorang peneliti)itu memang terkait dengan kisah Nabi Nuh A.S? Dan permainan-permainan zaman dulu itu memang dirancang oleh utusan Allah untuk mengajarkan anak-anak tentang hakikat kehidupan dan eksistensi Tuhan lewat permainan? Memang masih misteri, namun sulit dipercaya rasanya jika hanya orang biasa saja yang menciptakan permainan dengan kandungan nilai setinggi itu. Pastinya, siapapun dia/mereka, adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan makrifat yang luar biasa(hanya Allah Yang Maha Mengetahui).


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S Al Hadiid : 20)



BERSAMBUNG



Selasa, 08 Februari 2011

Pendidikan, Kompetisi, dan Pembuktian

Pendidikan adalah keseluruhan proses mempertahankan minat belajar (yang sejatinya sudah dimiliki anak-anak sejak lahir), menggali potensi, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan memberikan bekal keterampilan supaya akhirnya anak-anak mandiri dalam belajar. Lewat pendidikan berbasis rumah saya melihat proses itu paling memungkinkan terjadi untuk keluarga kami, yang berkecimpung di bidang yang juga tidak terlalu formal.

Awalnya saya menjalani keputusan ini dengan banyak perdebatan, bukan dengan orang lain, tapi hakikatnya adalah dengan keyakinan-keyakinan saya sendiri. Jikapun akhirnya pergulatan pemikiran itu bersinggungan dengan pikiran orang lain yang berbeda atau mirip tapi beda esensi, nyatanya saat saya benar-benar yakin dengan konsekuensi pendidikan tanpa sekolah formal semua perdebatan dengan pihak-pihak yang menolak, mencibir, atau sekadar tidak setuju tidak lagi menarik untuk diteruskan.

Saya tidak bisa mengubah pikiran orang lain dan juga tidak punya hak untuk memaksa mereka setuju dengan apa yang saya pilih. Spirit pendidikan rumah adalah kemerdekaan dalam menentukan model pendidikan dan bukan tentang meng-klaim bahwa home-education, homeschooling, atau pendidikan informal adalah cara paling baik sehingga cara lainnya menjadi tidak baik.

Apalagi, begitu banyak contoh, di mana nasib manusia, perubahan manusia, tak pernah bisa diprediksi. Tak sedikit orang yang masa kecilnya 'berantakan' tapi di usia dewasa mampu jadi teladan. Sebaliknya, di masa kecil nampak hebat, namun saat usia kian lanjut, malah berubah mengecewakan. Poin pentingnya, selalu-lah menempatkan segalanya dalam bingkai kerendahan hati di hadapan Allah dan juga di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Kita hanya berusaha sesuai pengetahuan yang kita yakini (namun belum tentu itu yang paling benar), adapun hasilnya? Bagaimana mungkin kita berani menyombongkan diri atas sesuatu yang kita sendiri belum mengetahuinya. Meskipun kita punya harapan besar, namun masa depan anak-anak kita, tak pernah ada yang tahu akhirnya seperti apa. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka.

Kompetisi
Saya menyadari, ada banyak hal yang masih menjadi misteri. Apakah sebenarnya manusia butuh iklim kompetisi untuk menjadi maju ataukah tidak? Menurut saya, kompetisi seringnya hanya menjadi alasan yang temporer dan tidak hakiki. Betapapun seringnya melihat negara yang berprestasi, jika suatu bangsa belum memiliki karakter yang memungkinkan kemajuan itu datang, maka dilombakan atau dikompetisikan sesering apapun hasilnya tak akan jauh berubah.

Apalagi setelah mencoba mempelajari karakteristik pendidikan para nabi utusan Allah, saya menyimpulkan sementara ini, pendidikan bukan butuh kompetisi, melainkan semangat untuk menjadi lebih baik yang keluar dari kesadaran diri. Dan tidak ada semangat perbaikan yang paling hebat pengaruhnya bagi makhluk bumi kecuali semangat meningkatkan ilmu pengetahuan dan membina diri sehingga memiliki akhlak/kepribadian yang mulia. Saya yakin, spirit ini akan membuahkan kondisi yang berbeda dimanapun pendidikan dilaksanakan.


Pembuktian
Mungkin inilah yang tanpa sadar menjadi tujuan kompetisi, namun bisa jadi juga sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan. Membuktikan bahwa para 'pemenang' kompetisi adalah yang terbaik dari sekian banyak orang kini makin sulit untuk dipercaya seratus persen. Pada zaman di mana uang berkuasa, popularitas jadi tujuan, manusia lebih melirik harta benda dan kehormatan semu dibandingkan kejujuran. Karena itulah, mengandalkan kompetisi untuk membuktikan kehebatan seseorang tidaklah lagi terlampau relevan.

Pendidikan adalah sarana untuk mengantarkan manusia pada kedudukan yang terus naik, bukan dalam pandangan materil (kendati hal itu mungkin juga hadir bersamaan), namun dalam parameter yang lebih tinggi yaitu nilai-nilai ilahi yang terbuktikan dalam keseharian kehidupannya, lewat perilakunya. Kemajuan di dunia materi bisa hancur kapan saja dengan kuasa Allah SWT, namun kemajuan kualitas jiwa akan membuat manusia tetap 'tumbuh' dan bahkan menjadi bekal yang bisa dituai saat manusia kembali pada Tuhannya.

Wallahualam bishawwab.

Kamis, 20 Januari 2011

Minat dan Toleransi

Mungkin tidak semua, karena saya belum pernah melakukan survey, namun dari beberapa kawan yang saya kenal, latar belakang pendidikan dan minat mereka (sebagai orang tua) tanpa sadar ikut mewarnai prioritas pelajaran yang 'harus' ditekuni anak-anaknya.

Yang suka sains dan berlatarkan sains, mendorong anak-anaknya memperbanyak porsi sains; yang senang matematika, juga mengarahkan anak-anak menuju suka matematika; yang suka sastra memacu anaknya suka baca-tulis dan sedapat mungkin memacu anak mereka untuk mempublikasikan tulisan sedini mungkin.

Ini bukan persoalan salah atau benar, namun menjadi cermin, bahwa apa yang menurut sebuah keluarga dianggap penting, maka belum tentu demikian juga di keluarga lain. Kita tidak bisa memaksa, baik secara implisit ataupun eksplisit, keluarga-keluarga di luar keluarga kita untuk menyenangi prioritas kita. Apalagi seolah menganggap bahwa minat yang kita geluti juga penting dikuasai oleh semua anak tanpa kecuali.

Saya memandang, semua itu hanyalah persoalan minat dan momentum. Setiap anak akan antusias belajar pada saat yang tepat, yang ternyata tidaklah sama antara satu anak dengan anak lainnya.

Mengajarkan toleransi bisa berawal dari sini. Bukankah dunia ini menjadi ramai dan menyenangkan karena banyak keragaman. Menghargai keragaman, berarti membiarkan orang lain merdeka dengan ciri khas yang mereka miliki tanpa kita harus ikut-ikutan meniru orang lain hanya demi bisa diterima di tengah-tengah mereka.

Menurut saya, itulah ciri manusia independen.

Kamis, 30 September 2010

Pengajaran Digital atau Manual?

"Jika kita tidak memanfaatkan sepenuhnya komunikasi elektronik dalam pendidikan, kita akan seperti nenek moyang kita yang gagal menggunakan alfabet, menolak mencetak buku, atau masih menggosok-gosokkan batang kayu untuk menciptakan api" (Revolusi Cara Belajar, Gordon Dryden & Jeanette Vos:93)


Pernyataan di atas mungkin terlihat sangat kontroversial. Dimuat dalam sebuah buku yang terbit dalam bahasa Inggris tahun 1999, tentunya menjadi catatan tersendiri. Karena kenyataannya dunia komunikasi elektronik pada 11 tahun setelah buku itu terbit, yaitu saat ini, memang sudah sebegitu meluas jangkauannya. Tak terelakkan, kita semua tersentuh kemajuan teknologi tersebut. Akan tetapi, akankah kalimat sarkastis itu benar-benar sebegitu meyakinkan bisa terjadi?

Beberapa hari terakhir ini saya memang sering memikirkan tentang mana yang lebih penting didahulukan bagi anak-anak, mengenal dunia digital dan memperdalamnya sejak dini ataukah lebih dulu mengajak mereka mengeksplorasi dunia nyata? Kesimpulan saya, dua-duanya bisa berjalan beriringan. Meski saya tetap melihat interaksi dengan dunia nyata perlu diperbanyak porsinya, namun saya anggap kedua-duanya adalah penting.

Dunia digital memang akan selalu menunggu sambil dia maju, tapi jika terlalu ekstrim untuk tidak mengenalkan anak-anak pada teknologi digital, maka beberapa manfaat edukatif bermediakan alat ini tentu menjadi luput. Jika tujuannya untuk edukasi, mengapa tidak? Bukankah tanpa disadari, anak-anak sebenarnya tetap akan bersentuhan dengan dunia elektronik dan digital dalam kehidupan sehari-hari, minimalnya dengan alat paling sederhana yaitu handphone (meski hanya 'mengoprek' HP milik orang tuanya) atau televisi. Apa yang mereka akses atau lakukan dengan alat-alat tersebut? Tanpa panduan pastinya bisa segala hal (baik negatif maupun positif) mereka terima.

Yang terpenting menurut saya adalah: (1) Porsi yang seimbang antara belajar di dunia nyata dengan belajar secara digital dan bahkan virtual. Hal ini tak hanya warning untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. (2) Pendampingan orang tua.

Tentang pernyataan Dryden dan Vos di atas, tentunya hanya perjalanan waktu yang bisa membuktikannya. Setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut, pada akhirnya kita tidak akan bisa memaksa orang lain memilih jalan yang kita tempuh. Setiap orang akan mengambil pilihan yang paling sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Selasa, 11 Mei 2010

Makan Ubi, Siapa Takut?

Sekitar 2 tahun yang lalu, saat anak-anak saya, Luqman masih 4 tahun, dan Azkia 6 tahun, saya mencoba memperkenalkan makanan paling mudah olah pada mereka, yaitu ubi kukus. Hasilnya? Mengecewakan. Mereka hanya melihat sekilas, mencicip sedikit, lalu pergi.

Sesaat saya menganggapnya sebagai hal biasa, karena memang mereka tak pernah makan makanan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, setelah saya renungkan lebih jauh, sepertinya hal ini tak hanya sebuah fenomena biasa, tapi juga merupakan tantangan pengasuhan dan pendidikan. Orang Indonesia, orang Sunda lagi. Masak iya nggak mau makan ubi kukus?

Ubi kukus hanyalah satu kasus kecil, tapi yang saya khawatirkan adalah sikap mereka terhadap makanan sederhana seperti ini, yang mungkin melebar ke jenis makanan lain, entah singkong rebus, pisang kukus, urap talas, dll. Tanpa diajari, kemungkinan nantinya mereka akan berpikir bahwa makanan seperti itu tidak layak dijadikan makanan. Maunya roti, biskuit, atau makanan pabrik lainnya. Sungguh saya sangat tak berharap hal itu terjadi.

Walau bagaimanapun, makanan hasil olahan sendiri jauh lebih sehat dibandingkan makanan produksi pabrik, yang pasti memakai pengawet, mungkin memakai pewarna buatan, dan bahan kimia lainnya untuk membuat makanan menarik dan tahan lama.

Selain itu, sebagai orang Indonesia saya berharap, anak-anak harus kenal dan akrab dengan makanan ala Indonesia. Jangan sampai hanya kakinya saja yang menjejak di bumi pertiwi tapi gaya hidupnya jauh dari nilai-nilai ke-Indonesiaan dan justru lebih bangga dengan budaya asing.

Ubi terdepak oleh roti, burger, dan hotdog hanyalah sebuah contoh kecil bahwa anak-anak kini telah terjauhkan dari salah satu produk budaya negerinya sendiri.Betapa banyak hal lain yang sudah tak lagi membawa serta ke-Indonesiaan dalam keseharian anak-anak Indoensia, dari mulai tontonan, mainan, berbahasa, berpakaian, dll. Oh, malangnya Indonesia. Identitasmu tak lagi nampak jelas :(

Kembali ke soal ubi. Akhirnya saya memutuskan untuk memperkenalkan makanan itu lagi dan lagi, dengan memberi mereka contoh bagaimana menikmatinya dan mensyukuri kelezatan alami yang ada di dalamnya. Lega. Tak sampai satu bulan, terapi yang saya lakukan menunjukkan hasilnya. Acara cicip mencicip melebar ke umbi-umbian dan makanan minim olah lainnya, seperti talas kukus, singkong urap, kecipir rebus, kolak labu, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kini mereka mulai akrab dan menyukainya sebagai penganan di sela makanan pokok. Modalnya hanyalah kepercayaan mereka bahwa makanan baru yang diperkenalkan ibunya adalah makanan yang sehat dan tak ada salahnya mereka mencoba.

Sungguh sedih, saat saya mengajak anak-anak berjalan-jalan ke perkampungan di Tanjungsari dan mendatangi beberapa warung kecil, ternyata jajanan anak yang dijual di situ bukan lagi makanan tradisional kayak pisang goreng, kue lapis, jalabria, atau kue apem. Produk yang mereka jual adalah snack buatan pabrik berkemasan yang siap beli dari pasar. Ke-khasan sebuah kampung yang identik dengan kekayaan sumber alam dan kuliner menjadi seolah lenyap. Masyarakat kampung kini hanya menjadi konsumen produk industri tanpa mengimbangi dirinya dengan juga memasarkan produk hasil rumah tangga khas daerah mereka. Semoga ini hanya terjadi di satu atau beberapa kampung dan tidak di semua kampung.

Lanjut ke masalah terapi memperkenalkan makanan minim olah dan makanan tradisional, saya berdoa, mudah-mudahan hal itu juga akan membuat anak-anak menjadi orang yang luwes. Di manapun mereka tinggal, janganlah sampai persoalan makanan menjadi sangat mengganggu. Jangan sampai mereka menjadi anak-anak yang hanya kenal kelezatan yang "direkayasa" manusia dengan bumbu dan aneka proses olah yang rumit. Mereka juga harus kenal kelezatan alami karya cipta Allah Yang Maha Besar, yang tersuguh gratis pada segala jenis bahan makanan hasil bumi.

Mudah-mudahan, dengan mengenal makanan tradisional anak-anak juga terhindar dari sikap mengkastakan makanan. Makanan orang biasa dan makanan orang luar biasa? Meski bagaimanapun kondisi perekonomian keluarga kami, jangan sampai mereka mencitrakan dirinya atau orang lain sebagai orang-orang yang hebat hanya karena mereka makan makanan modern, dan menilai seseorang jadi nggak keren kalau mereka lebih suka makan makanan 'kampung'.

Setiap orang tua punya cara pandang sendiri-sendiri tentang hal ini. Tentunya boleh tidak setuju :)

Rabu, 03 Februari 2010

Jangan Remehkan Anak-Anak

Suatu pagi saya dan anak-anak membaca buku tentang teknologi dan kesehatan. Ketemulah kami dengan pembahasan tentang penyakit ginjal. Mumpung lagi antusias, saya ambil visual dictionary untuk belajar lebih jauh tentang organ ginjal dan fungsi-fungsi setiap bagiannya.

Setelah selesai menelusuri anatomi ginjal, Luqman (5,5 tahun) penasaran juga dengan organ lainnya, dan dia menunjuk lambung sambil berkata, "Mama, di sini ada banyak enzym dan asam lambung. Mama tahu nggak, apa gunanya enzym dan asam lambung itu?" Saya menggeleng untuk mendengar pengetahuan dia tentang itu.

"Enzym dan asam lambung itu gunanya untuk mencernakan makanan" jawab dia yakin. Lagi-lagi. Peristiwa seperti ini sangat sering terjadi untuk topik-topik yang lain. Saya merasa tak pernah mengajari dia tentang ini, tak pernah pula membicarakannya sebelum ini. Dalam beberapa hal seringnya mereka lebih tahu dibandingkan kami orang tuanya.

Hmmmm..... Jangan remehkan anak-anak. Mereka adalah pembelajar alami. Mereka belajar dengan cara yang tidak kita duga. Bedanya dengan sekolah formal, anak-anak home-education belajar tanpa berorientasi menyelesaikan soal ujian. Pengetahuan mereka akan keluar dengan sendirinya ketika mereka menemukan konteks yang sesuai.

Tony Buzan bilang, semua anak yang lahir adalah calon jenius tanpa kecuali.
Tinggal kita beri mereka kesempatan untuk mengeksplor lingkungannya, memberi stimulus yang membangkitkan rasa ingin tahu, dan menginformasikan serangkaian tools, sehingga mereka bisa memperoleh pengetahuan secara mandiri, karena orang tua juga pasti punya keterbatasan ilmu kalau harus menjelaskan semuanya.

Jumat, 22 Januari 2010

Bersosialisasi

Bersosialisasi, masih selalu menjadi persoalan buat anak-anak yang menjalani Home Education (HE. Bukan dalam pengertian bahwa mereka tidak bisa bersosialisasi, namun orang tua kadang-kadang perlu memfasilitasi agar-agar anak-anaknya bertemu anak-anak sebaya lain.

Sejauh ini, beberapa keluarga yang memang sudah berhimpun dalam sebuah grup pendukung bisa saling bertemu sebulan sekali atau sesuai kesepakatan. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menciptakan pertemanan di antara sesama anak-anak HE.

Akan tetapi, kami mencoba membuat alternatif lain untuk melatih anak-anak berkomunikasi dengan teman sebaya. Kami membuka taman bacaan kecil di rumah khusus untuk anak-anak.

Setelah kami perhatikan, ternyata anak-anak HE baik-baik saja dalam bergaul. Mereka juga punya adaptasi yang cukup bagus saat bersama teman-temannya. Terlepas dari semua itu, sesungguhnya bersosialisasi lebih dari sekedar bertemu teman dan bermain, tapi belajar untuk mengenal manusia dan saling memahami.

Sabtu, 14 November 2009

Survival

Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang hal-hal berbau survival. Bagaimana anak-anak nanti bisa bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk manusia yang mencari kerja, mempertahankan kerja, dan juga mencari peluang usaha.

Bukan lagi rahasia jika saat ini lebih banyak jumlah pencari kerja ketimbang lapangan kerja. Kebayang kan, bagaimana lebih beratnya 'perjuangan' anak-anak kelak. Mereka akan dihadapkan pada perhelatan bertahan hidup yang jauh lebih keras. Apalagi jika anak-anak tak mengenyam bangku sekolah, apa jadinya mereka nanti?

Tapi, kekhawatiran itu kemudian menipis saat saya akhirnya percaya satu hal. Kemandirian tidak datang dengan sendirinya. Kemandirian adalah produk pendidikan. Jika anak-anak tidak bisa mandiri pada saat mereka seharusnya sudah mandiri, maka model pendidikan-lah yang harus dievaluasi. Dan kami punya kesempatan untuk menerapkan model pendidikan yang berbeda dengan menjalankan home-education (pendidikan rumah).

Andai pendidikan di bangku sekolah memberi ruang untuk anak-anak belajar tentang survival dan hal itu menyatu sebagai sebuah muatan pendidikan, pasti ada sesuatu yang berbeda bisa dihasilkan dari produk sekolahan. Bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, bukan hanya mendapat selembar kertas ijazah, tapi juga membawa serta mentalitas seorang yang mampu bertahan, yang suka berjuang, yang berkehendak kuat untuk mandiri.

Tanpa sadar, anak-anak sekolah terlalu 'dimanjakan' dengan suasana rutin teratur yang mematikan kreatvitas. Mereka harus berada dalam jadwal yang tak boleh dibantah. Pada waktu-waktu produktif, mereka harus melakukan hanya hal-hal yang diperintahkan dan bukan apa yang mereka minati untuk dipelajari.

Suasana-suasana seperti itu adalah miniatur dunia kerja. Dan jika pendidikan model seperti itu dirasakan anak-anak selama hampir 12 tahun jika sampai SMU dan 16 tahun jika sampai lulus PT, maka bisa dimaklumi jika akhirnya lulusan sekolah akan mencari situasi yang sudah mendarah-daging dalam dirinya yaitu BEKERJA.

Tentu saja tidak ada yang buruk dari bekerja, tapi jika anak-anak memiliki mentalitas mandiri, ia tak akan mengandalkan BEKERJA sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Apalagi jika lapangan kerja ternyata sudah terlalu sesak untuk dimasuki. Go Survive!

Jumat, 23 Oktober 2009

Belajar Membaca: Bisa Karena Biasa

Tulisan ini saya dedikasikan buat teman-teman yang bertanya tentang Cara Mengajar Anak Membaca. Semoga bermanfaat

Zaman dulu, anak 5 tahun bisa membaca adalah sesuatu yang langka. Orang tua juga jadi kecipratan bangga. Tapi saat ini, di mana dunia aksara sudah makin mewabah, akses terhadap bahan bacaan kian mudah, anak 3 tahun bisa membaca juga bukan lagi perkara langka. Persoalannya, bagaimana membuat anak-anak bisa membaca?

Berdasarkan pengalaman saya, cara mengajar anak membaca sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal yang baku, rumit, dan sangat terstruktur. Saya memang mengajar anak pertama dengan metode yang lumayan butuh pengorbanan, yaitu metode Glen Doman. Tiap malam sibuk bikin kartu baca. Tapi lucunya, untuk mengajari anak kedua, saya hanya pakai buku tulis biasa plus pensil/balpoin. Belajarnya hanya 5 menit sebelum tidur atau pas waktu senggang. Saya pun baru memulainya pada usia 4,5 tahun.

Satu hal yang tidak berbeda antara kedua anak saya adalah, mereka sama-sama sangat suka membaca. Luqman, anak kedua, meskipun ia belum lancar baca tapi bisa bertahan lebih dari 30 menit untuk dibacakan buku. Bukan kami yang memintanya, melainkan dia sendiri yang memohon. Kadang-kadang bukan hanya orang tuanya atau kakaknya yang membacakan buku, siapa saja yang datang ke rumah, neneknya ataupun tantenya bisa saja di 'todong' untuk membacakan dia buku. Kesimpulannya, anak-anak sangat akrab dengan buku.

Semalam, saat saya mencicil buku To Kill a Mockingbird, saya menemukan kisah yang menarik. Diceritakan bahwa salah seorang tokoh bernama Scout, saat ia memasuki kelas satu SD telah lancar membaca koran, padahal teman-temannya yang lain baru akan diajari alfabet dan mengeja. Kemampuannya itu membuat gurunya sedikit kesal. Sang guru menyuruh Scout berkata pada ayahnya agar tidak mengajarinya lagi di rumah.

Scout bingung. Ia pun berkata pada gurunya bahwa ayahnya tak pernah mengajarinya. Ayahnya terlalu sibuk. Jika pun ayahnya ada di rumah, ia malah sibuk membaca, sehingga tak sempat untuk mengajarinya membaca.

Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru tidak percaya dan bersikukuh agar Scout menyampaikan pesan pada ayahnya agar berhenti mengajarinya di rumah. Sang guru yakin bahwa tidaklah mungkin seorang anak bisa membaca tanpa diajari siapapun.

Rupanya, memang bukanlah belajar secara sengaja yang membuat Scout bisa membaca, melainkan karena ia selalu berada di dekat dan bahkan di pangkuan ayahnya saat sang ayah (yang seorang pengacara) membaca keras-keras koran, draft undang-undang, ataupun kitab hukum.

Karena saking seringnya hal itu dilakukan. Scout kecil akhirnya bisa memecahkan rahasia kode-kode gabungan huruf tanpa ia sadari. Ia bisa membaca sebagaimana ia bisa mengancingkan baju. Semua tanpa proses yang terstruktur. Semua mengalir sebagai sebuah kebiasaan yang terus menerus.

Nah, dari semua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa, sesungguhnya BISA MEMBACA tak selalu merupakan hasil dari belajar secara terstruktur. Bisa saja hal itu adalah output dari gemar membaca.

Kalau kita tidak menetapkan target kemampuan anak berdasarkan waktu atau usia mereka, maka cara ini adalah yang paling mudah, yaitu: Membacakan buku pada anak-anak setiap hari sampai mereka memiliki ketergantungan luar biasa pada buku. Lama kelamaan hal itu akan membuat mereka tergerak sendiri untuk belajar, entah dengan meminta bantuan kita ataupun belajar dengan sendirinya. Apakah Anda percaya?

Betapa banyak anak yang digegas untuk bisa baca hanya karena syarat untuk masuk sekolah, tapi akhirnya tak suka membaca. Menurut saya, bisa membaca hanyalah alat, sedangkan SUKA MEMBACA adalah target utama. Supaya keduanya tercapai, maka mengakrabkan anak-anak dengan buku sedari kecil, itulah cara yang tepat. Tak perlu buku mahal, buku murah atau buku bekas pun bisa, asalkan isinya bermutu.

Sabtu, 12 September 2009

Tokoh Idola Anak-Anak

Saat berumur 3 tahun anak saya Luqman (sekarang 5 tahun) sempat mengidolakan N**uto, karena anak tetangga kami yang sebaya dengannya sering memakai atribut-atribut sang hero itu. Meskipun tidak pernah menonton filmnya di rumah, rupanya sempat sesekali ia ikut menonton saat main ke rumah temannya itu. Akibatnya, ia jadi suka main tembak-tembakan walaupun pura-pura. Keluar pula kata-kata serampangan, "Bodoh! baong!" dan lain sebagainya.

Karena khawatir tokoh itu terus hidup di kepalanya, saya stop acara kunjungan ke rumah tetangga buat anak saya. Ia hanya boleh main di halaman dan tidak boleh main di dalam rumah temannya. Saya coba ganti sosok tokoh idola buat anak saya dengan memberikan jadwal nonton film animasi lain, waktu itu ada Barrenstein Bear di Space Toon. Alhamdulillah berhasil. Ceritanya sangat bagus, tapi sayang kemudian berhenti penayangannya.

Waktupun berlalu, dan sepertinya tokoh idola itu memang selalu dicari oleh anak saya. Entah mengapa, ia pun jadi nge-fans dengan spiderman. Sampai-sampai ia ingin dibelikan baju bergambar sang hero yang satu ini. Bajunya langsung cepat lecek, karena hampir selang sehari langsung dipakai, kecuali kalau dicuci. Secara reflek dia akan bergerak bak pahlawan yang menyerang musuhnya. Tali dan benang terikat ke sana kemari, dari kaki meja ke kursi, dari rak buku ke lemari. Semua menyerupai jaring laba-laba. Saya sering jatuh kalau tanpa sengaja kaki tersandung tali-tali itu.

Spiderman cukup awet mempengaruhi pikiran Luqman hingga beberapa lama, hingga muncul tokoh baru yang ia lihat dari stiker-stiker pemberian seorang teman untuk anak-anak saya. Lelaki gagah, bersayap kain panjang yang menjuntai di punggungnya. Akibat mengidoalakan tokoh itu, kerudung ibunya pun jadi sasaran. Dengan mengikatkan dua ujung kerudung di lehernya, anak saya sudah berubah jadi seorang superman kecil yang berlari dan kadang melompat dari atas meja.

Namun akhir-akhir ini, sejak saya belikan serial kisah nabi-nabi sepertinya tokoh idola anak saya sudah berubah sama sekali. Dia tidak mau lagi disebut spiderman ataupun superman, tak lagi membuat sayap tiruan di punggungnya, ataupun menjalin tali temali di kaki meja. Tokoh panutannya sekarang adalah sosok anak lelaki yang pemberani yang ada dalam kisah nabi dan sahabat.

Tokoh pertama adalah Nabi Daud a.s. Buku berjudul Daud Sang Penakluk, mengisahkan perlawanan Bani Israil yang dipimpin Raja Thalut terhadap kesewenang-wenangan Jalut. Saat itulah hadir Daud kecil menunjukkan keberaniannya melawan Jalut yang bertubuh besar dan kuat, hingga akhirnya Jalut kalah di tangan Daud. Buku ini minta dibacakan hingga berulang-ulang, dan bahkan Luqman berusaha keras membaca sendiri, padahal sebelumnya agak malas melancarkan bacaannya.

Dan tokoh berikutnya yang kini sedang digandrungi Luqman adalah Ali bin Abi Thalib. Berbagai kisah tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kelihatannya banyak mempengaruhi dia. Memang, awal kekaguman Luqman pada tokoh idolanya selalu dimulai dengan kisah heroik. Dalam film Muhammad The Last Prophet yang ditontonnya berulang-ulang, digambarkan tentang Ali kecil yang tidur di ranjang Nabi untuk mengelabui para pemuka Quraisy. Sungguh itu merupakan keberanian yang sangat menakjubkan di mata anak saya. Apalagi sewaktu membaca kisah perobohan benteng khaibar oleh Ali bin Abi Thalib dengan pedang Zulfikar pemberian Nabi, sepertinya, kekaguman itu semakin hari semakin terpatri.

Dan sekarang Luqman jadi lebih rajin ikut shalat berjamaah bareng papanya dan juga kakaknya, padahal biasanya dia bolong-bolong. Seringnya absen untuk ikut sholat. Saat kami tanya kenapa dia jadi rajin sholat, Luqman pun menjawab, "Karena Ade ingin seperti Ali bin Abi Thalib. Ali kan anak yang rajin sholat!".

Rupanya karena kami sering bercerita bahwa Ali bin Abi Thalib sudah ikut sholat bersama Nabi sejak ia masih kecil, anak saya jadi terus memikirkannya dan ingin menirunya juga. Subhanallah! Betapa hebat pengaruh seorang tokoh idola yang hidup di pikiran anak-anak kita.

Walaupun mungkin agak terlambat, karena harus menunggu hingga anak lelaki saya berumur 5 tahun, saya baru mengerti dan menyadari sekarang bahwa kita, para orang tua, sesungguhnya ikut andil dalam menghadirkan tokoh yang akan digandrungi oleh anak-anak kita. Negatif atau positifnya tokoh idola mereka, tergantung dari apa tayangan, bacaan, dan kisah yang kita sajikan buat mereka. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk konsisten memberikan hanya yang baik untuk anak-anak kita. Amin.

Sabtu, 25 Juli 2009

Pendidikan dan Percakapan

Anak-anak memang tak terhentikan. Gejolak untuk mencoba apa yang mereka pikir asyik untuk dicoba ternyata memang luar biasa besar, walaupun yang mereka coba mungkin membuat orang tuanya sedikit 'gusar'. Saya tak yakin bisa menghentikan mereka saat rasa ingin mencoba itu datang. Larangan hanya didengar beberapa detik lalu menguap ditiup angin. Dan sesungguhnya, tanpa alasan yang kuat saya malah mati kata untuk melarang.

Pagi ini pun mereka sedang mencuri kesempatan bermain di antara pasir sisa bahan bangunan. Saya memilih untuk tidak melarang mereka, karena jikapun mereka berhenti bergumul dengan pasir, mereka akan pindah bermain "tepung" tanah yang melimpah di tepian kebun. Dan itu jauh lebih buruk, karena debu-debu tanah itu akan menghambur terisap atau menerpa wajah dan rambut mereka.

Permainan mereka berdua di atas pasir biasanya tak lepas dari percakapan pura-pura yang sebenarnya menarik untuk disimak. Mereka sedang membuat jalan kereta api, membuat gunung, dan Luqman bilang bahwa rumahnya adalah matrial. Ya, anak lelaki saya itu memang begitu takjub saat pertama kali dibawa papanya pergi berbelanja bahan bangunan. Matanya langsung "scanning" melihat semua yang ada di toko bangunan (matrial) dan mulai bertanya ini dan itu.

Lalu, di tempat yang berbeda, di lapangan rumput dekat rumah kami beberapa anak sekolah main layangan. Dan apa yang saya dengar dari mereka? Berhamburan kata-kata kotor bersahut-sahutan. Nama-nama binatang bergantian disematkan pada lawan bicaranya.

Dari manakah anak-anak itu mendapatkan kosa kata yang sungguh tak nyaman untuk didengar? Di sekolah kah ataukah di rumahnya? Yang jelas, menurut saya kosa kata adalah produk pendidikan. Pendidikan bisa dilakukan di mana saja, di sekolah atau di rumah tidaklah ada bedanya. Namun salahkah jika kami memilih mendidik sendiri anak-anak kami di rumah dan memilihkan teman yang baik untuk mereka karena kami ingin mereka punya kosa kata yang baik, cara berpikir yang baik, dan teman bergaul yang baik?

Selasa, 21 Juli 2009

Hidup Sederhana

Tingkat perekonomian keluarga yang meningkat biasanya mau tidak mau akan berimbas pada perubahan gaya hidup. Jika sebelumnya selalu menimbang dan memilih dengan selektif apapun yang hendak dibeli, setelah ekonomi meningkat kita jadi sembarangan berbelanja. Tak peduli mahal asalkan kita mau, ya beli saja!

Mengingat keluarga adalah pusat pembentukan karakter dan juga gaya hidup anak-anak, maka sesungguhnya sangat diperlukan konsep yang kuat dalam memilih model perilaku hidup yang akan dijalankan. Anak-anak akan menjadi duplikat orang tuanya dalam model kehidupan, kecuali ada keberuntungan mereka menemukan model sendiri di luar kebiasaan keluarganya.

Hidup sederhana adalah satu model yang menurut saya tak boleh berhenti untuk ditularkan pada anak-anak. Tak peduli kita sedang berekonomi kuat ataupun sedang dan juga lemah, latihlah diri kita dan juga anak-anak untuk tetap sederhana. Sederhana bukanlah berarti menyiksa diri, melainkan berusaha ada di pertengahan. Dengan begitu, kita dan anak-anak akan selalu menikmati hidup, meski di zona ekonomi manapun kita berada.

Contoh kongkret latihan buat anak-anak adalah:

Kebiasaan Makan
Biasakan anak-anak makan makanan buatan sendiri yang sederhana tapi sehat (Mungkin tempe, tahu, telur, dan sayuran), bahkan sesekali ajarilah anak-anak untuk makan makanan seadanya yang tersedia di dapur ketika mereka lapar.

Berpakaian
Sentuhlah jiwa sederhana anak-anak dengan kebiasaan berpakaian yang juga sederhana. Tanamkan rasa percaya diri anak bukan pada pakaian yang berharga mahal, sehingga mereka tak perlu minder dengan pakaian yang mereka kenakan hanya karena harganya murah. Sikap konsumtif salah satunya terlahir dari keinginan untuk berpakaian yang mahal bukan?

Mainan
Mainan disinyalir merupakan item yang cukup menghabiskan dana yang besar dalam memenuhi kebutuhan anak, terlebih kini sedang populer sosialisasi pentingnya mainan edukatif. Harganya bahkan bisa mencapai jutaan rupiah jika berasal dari luar negeri. Orang tua yang permisif, biasanya ikut maunya anak-anak membeli mainan ini dan itu, walaupun harganya menguras isi kantong.

Sesungguhnya mainan edukatif tak selalu harus mahal dan tak selalu pula harus dibeli. Isi rumah kita tak jarang bisa sekaligus menjadi mainan edukatif yang murah. Tak percaya? Contohnya saja perabotan rumah tangga. Kalau di toko mainan ada seperangkat cooking toys, maka mengapa tak pakai saja the real cooking ware yang kita miliki. Kalau perabotannya dalam keadaan bersih, anak-anak bisa juga kok memainkan wajan, panci, piring plastik, sendok, garpu, dll.

Dalam konteks mengajarkan hidup sederhana pada anak-anak, semuanya pada akhirnya akan merangsang kreativitas kita sebagai orang tua dan tanpa sadar akan menular pada anak-anak.

Saya sering secara sengaja "mengamankan" kotak mainan anak-anak ke atas lemari. Hasilnya, setelah mereka sedikit kelimpungan pada awalnya, tapi kemudian otot kreatif mereka sepertinya mulai bekerja. Mereka akan ambil selotip, spidol, kertas-kertas, cari gunting, cari kardus bekas atau botol-botol bekas air mineral, cari benang, dan lain-lain. Lalu mereka sibuk mengoprek semua itu hingga jadi sesuatu yang bisa dimainkan. Setelah diperhatikan, nyatanya mereka bisa lebih asyik dengan alat bermain yang mereka ciptakan sendiri.

Hidup sederhana itu sebenarnya indah buat mereka yang menghayatinya. Saya sendiri berharap anak-anak bisa merasakan indahnya hidup sederhana. Karena itulah saya berusaha mengajari mereka untuk memiliki sikap itu sedari mereka kecil.

Salam pendidikan!

Kamis, 09 April 2009

Mitos tentang Belajar

Bertahun-tahun lamanya sejak sekolah lahir, hakikat belajar lambat laun terselubungi mitos-mitos yang mendukung keberadaan institusi tersebut. Apakah itu? Jeanette Vos dalam bukunya yang padat berisi, berjudul The Learning Revolution menuliskan 4 hal, yaitu:

1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar
2. Kecerdasan bersifat tetap
3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran
4. Kita semua belajar dengan gaya yang sama.

Kini, bahkan di sekolah sekalipun, sedikit demi sedikit konsep tentang belajar seperti 4 mitos di atas semakin ditinggalkan. Meski masih "terbata-bata" menerjemahkan paradigma belajar yang lebih menyenangkan, banyak sekolah, khususnya sekolah swasta memberlakukan cara belajar mengajar yang lebih dinamis: Buku pelajaran full color, tempat belajar ditata penuh warna, guru yang bersahabat, metode mengajar berbasis konsep multiple intelligence, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Akan tetapi, ternyata tak semua orang bisa memasuki wilayah belajar senyaman itu, karena kenyamanan yang diperoleh tak bisa dibayar hanya dengan senyuman, melainkan harus dengan merogoh uang jutaan. Sanggupkah?

Terlepas dari sanggup ataupun tidaknya kita mengeluarkan dana jutaan untuk sekolah yang nyaman, saya justru menemukan esensi penting dari semakin gugurnya mitos belajar seperti dikatakan Vos. Menurut saya, sejak jaman dulu, saat sekolah belum se-eksis sekarang, belajar bukanlah pekerjaan, sehingga seseorang yang ingin belajar harus tunduk pada sebuah birokrasi kerja. Belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri. Karena itulah, orang seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari.

Bukankah kisah-kisah para pencari ilmu di masa lalu memang lebih seru. Saking menariknya, sampai-sampai bisa dibuat serial cerita pengembaraan berpuluh atau bahkan beratus-ratus episode. Para pencari ilmu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari guru-guru yang faqih di bidangnya masing-masing, lalu kembali pulang sembari mengamalkannya di sepanjang perjalanan.

Saya rasa, kini pun hal semacam itu masih relevan dan akan terus relevan sepanjang waktu. Modal pentingnya hanyalah satu, yaitu Semangat untuk Belajar. Tanpa semangat belajar, anak lulusan sekolahan pun acapkali tergagap-gagap melihat realitas hidup, karena sesungguhnya mereka tak boleh berhenti belajar jika berniat mengarungi dunia nyata. Selama anak-anak tak kehabisan semangat belajar, mereka akan terus menjadi pembelajar mandiri di manapun mereka berada, dan mereka Insya Allah akan sanggup menghadapi tantangan hidup.

Masih percaya mitos?

Jumat, 20 Februari 2009

"Sekolah" Masa Depan

Mungkin sudah yang ke sekian kalinya hal ini saya katakan: Betapa banyak inspirasi tentang pendidikan menjejali imajinasi saya gara-gara membaca buku Revolusi Cara Belajar. Oleh karena itu pula tak ada habisnya saya ingin ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait di penerbit Mizan yang telah mempersembahkan buku inspiratif ini kepada pembaca di negeri ini, termasuk saya.

Malam ini, saat saya membuka-buka lagi halaman-halaman buku tersebut, saya menemukan paragrap tentang Dr.Pat Nolan. Beliau adalah seorang dosen senior bidang pendidikan dari Universitas Massey di Pinggiran Palmerston North- New Zealand. Pat Nolan menggabungkan rasa cintanya pada pendidikan dengan kecintaan untuk mengeksplorasi alam Selandia Baru: Sungai jernih, hutan, gunung es, dll.

Konsep yang ditawarkan Nolan adalah studi terpadu dengan dunia sebagai ruang kelas. Dia berkata bahwa pengajaran SMU "metode lama" terpisah dari dunia nyata. Setiap mata pelajaran terkotak-kotak dan terisolasi dalam satuan-satuan kecil, sehingga semuanya nampak demikian sempit. Padahal jika berbagai mata pelajaran dikait-kaitkan, entah itu matematika, geografi, fisika, kimia, dll, maka kita dapat memahami dunia dengan lebih baik.

Hal paling menarik dari pendapat Nolan adalah tentang kemungkinan munculnya solusi-solusi baru oleh sekolah, pada berbagai bidang kehidupan, jika proses belajar dilakukan di dunia nyata. Dengan mengubah cara mengajar menjadi lebih aplikatif, setiap siswa diajak untuk mengeksplorasi pengetahuan menjadi basis untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan kehidupan dan bukan semata hanya sebuah teori yang dilupakan setelah lulus sekolah.

Kini, bahkan di tingkat perguruan tinggi di negeri kita, seringkali teori-teori yang diajarkan di ruang kelas mengangkang jauh dari dunia nyata. Mahasiswa berlomba mengejar target SKS tapi kemudian bingung saat hari pertama menyandang gelar sarjana. Mau kemana saya? Mau kerja apa saya? Jadi petani jelas tak mungkin masuk dalam daftar, meski ia seorang sarjana pertanian sekalipun. Lantas mau jadi apa?

Sebuah tanda tanya yang tak akan pernah berakhir. Akankah model "sekolah" dengan orientasi teoritis bisa menghasilkan lulusan yang mampu menghadapi kehidupan nyata dengan penuh rasa percaya diri?

Yuk, bikin sekolah alternatif!

Kamis, 30 Oktober 2008

Mengulang Pelajaran

Mengulang pelajaran adalah salah satu cara agar kegiatan belajar ada jejaknya, menguat dalam ingatan, dan menjadi database untuk dikeluarkan lagi pada saat yang dibutuhkan.

Setiap orang yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti mengenal istilah 'ulangan'. Itulah rutinitas yang paling tidak disukai oleh sebagian besar anak sekolah. Ulangan membuat mereka terpaksa harus membaca ulang pelajaran yang sudah dibahas dan mengingatnya sekuat mungkin agar bisa menjawab soal-soal yang diberikan guru, lalu dilupakan setelah ulangan selesai.

Kalau menelisik maksud pembuatan mekanisme 'ulangan' di sekolah, saya yakin tujuannya sama dengan apa yang saya paparkan di awal, yaitu agar pelajaran terekam lebih dalam saat anak-anak membacanya kembali. Tapi.... sayang hasilnya ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan tersebut. Ulangan pada kenyataannya hanya menjadi sebuah peristiwa yang membebani dan membuat sebagian besar anak-anak mengeluh atau mengambil jalan pintas dengan menyontek buat mereka yang malas.

Bagaimana caranya agar kegiatan mengulang pelajaran jadi menyenangkan buat anak-anak? Saya sendiri tidak tahu persis prosesnya seperti apa, yang jelas saya heran dengan kebiasaan kedua anak saya yang tak pernah bosan mengulang-ulang membaca banyak buku yang sama hingga beberapa kali padahal nggak pernah ada acara ulangan dan tak pernah juga disuruh-suruh. Uniknya, kalau bukunya bertambah, maka bertambah pula lingkaran pengulangan.

Si kecil Luqman yang kini berusia 4 tahun dan belum saya ajari membaca secara khusus, memang masih membutuhkan bantuan kami (saya, papanya, dan kakaknya) untuk membaca buku. Tapi secara prinsip, dia pun termasuk anak yang gila membaca. Tak peduli pagi, siang, sore, atau malam sebelum tidur dia akan minta dibacakan buku pada saat dia menginginkannya. Terlebih sebelum tidur, ia pasti akan membawa setumpuk buku yang diambil secara acak ke tempat tidur dan meminta salah satu dari kami untuk membacakannya. Kalau para pembacanya tidak menawar, pasti semua buku yang dia bawa harus dihabiskan.

Poin yang saya tangkap dengan mengamati kebiasaan kedua anak saya itu adalah bahwa mengulang pelajaran akan menyenangkan kalau anak-anak menyukai kegiatan belajar dan mereka tidak punya beban apa-apa saat melakukannya, bukan karena mengharapkan reward (hadiah)dan bukan pula karena ancaman punishment (hukuman). Mereka mengulang pelajaran karena mereka memang membutuhkan dan menginginkan hal itu.

Saya kira hal itu juga bisa terjadi di sekolah, jika kegiatan belajar di sekolah dibuat lebih menarik, lebih fleksibel, dan kaya dengan pengakuan untuk semua jenis kecerdasan, semua jenis karakter anak. Budaya pemeringkatan anak berdasarkan nilai akumulatif (untuk semua pelajaran) harus mulai dihilangkan agar semua anak memiliki citra diri positif terhadap dirinya, berdasarkan kelebihannya masing-masing.

Salam Pendidikan!

Selasa, 14 Oktober 2008

Berbagi Peran dalam Mendidik Anak

Cari uang urusan ayah dan ngurus anak bagian ibu!

Begitulah kira-kira pandangan lama tentang pembagian peran ayah dan ibu dalam keluarga. Apakah harus sedemikian mutlaknya cara suami-istri mengelola peran untuk mendidik anak-anak?

Saya melihat,paradigma tersebut justru akan membuat proses pendidikan menjadi berat sebelah. Bukan dalam konteks keadilan jender tapi dalam konteks kepentingan anak-anak.

Ada hal-hal yang khas pada sosok ayah dan ibu. Anak-anak perlu mendapatkan input positif dari keduanya agar mereka memiliki figur yang seimbang dalam pendidikan. Anak perempuan kelak akan menjadi ibu dan dari contoh yang diperlihatkan ibunya ia akan belajar tentang pendidikan anak-anak. Demikian pula anak laki-laki suatu saat akan menjadi ayah, sehingga ia perlu figur seorang ayah yang peduli dengan pendidikan anak-anaknya agar kelak ia pun bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab.

Ayah yang jarang terlibat dalam kegiatan belajar anak-anaknya sesungguhnya telah menanamkan citra bahwa bukanlah tugas ayah mengajari anak-anak, itu adalah tugas seorang ibu. Nah, Bagaimanakah pembagian peran ayah dan ibu dalam keluarga Anda? Sharing pengalaman Anda di pendidikan_rumah@yahoogroups.com.

Senin, 13 Oktober 2008

Homeschooling dan Trend Profesi Masa Depan

Homeschooling (HS) sebagai pendidikan alternatif memang masih tetap diragukan orang. Kritik masyarakat terhadap HS tak hanya menyangkut sosialiasi dan legalisasi yang dianggap lemah, melainkan juga pesimisme terkait pekerjaan dan profesi anak-anak kelak setelah dewasa. Kekhawatiran akan hal itu wajar terjadi jika kita melihat pekerjaan dan profesi hanya dari kaca mata formal.

Akan tetapi, seperti kita ketahui era digital telah menyumbangkan informasi bak banjir tak terbendung bagi masyarakat dunia. Hal itu telah melahirkan beragam jenis profesi baru yang seringkali mampu menyingkirkan aspek-aspek formal sebuah pekerjaan. Profesi di masa yang akan datang bisa jadi akan sangat-sangat berbeda dengan definisi profesi yang ada hari ini. Setidaknya akan ada tambahan varian profesi dan pekerjaan selain apa yang kita kenal sekarang.

Oleh karena itu, bersekolah formal ataupun tidak, berijazah formal ataupun tidak, bisa jadi tak lagi berpengaruh banyak terhadap eksistensi seseorang di masa yang akan datang. Skill, wawasan, attitude, dan kemauan belajar adalah penunjang terpenting yang bisa menghapuskan parameter-parameter formal dalam memperoleh kesempatan bekerja dan berkarya serta memperoleh penghasilan yang memadai.

Sampai saat ini, tak dapat disangkal bahwa jaminan pekerjaan dan profesi masih menjadi alasan utama mengapa orang tua menyekolahkan anak-anaknya. Sayangnya, fakta menunjukkan, sekolah formal pun ternyata belum mampu memberikan jaminan itu. Hanya anak-anak yang memiliki kapabilitas bersaing yang akan bisa diserap oleh pasar kerja, yaitu anak-anak yang rajin menambah skill dan wawasan mereka di luar kegiatan akademik.

Anak-anak yang dididik dengan model HS masih mungkin dan bahkan lebih mungkin memiliki kriteria seperti tersebut di atas. Tanpa kurikulum yang mengikat, anak-anak bahkan punya kesempatan lebih banyak untuk menggali potensi terbaik mereka pada beberapa bidang yang disukai. Kita tentu menyadari bahwa bidang-bidang profesi yang digeluti seseorang pada akhirnya hanya satu atau dua saja dari banyak bidang yang ada dan pernah ia kenal dan pelajari secara sepintas di sekolah.

Hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya jika seorang anak mampu memaksimalkan potensi mereka pada bidang-bidang tertentu secara serius, tentu hasilnya juga tidak akan kalah dengan mereka yang bersekolah di sekolah formal, yang mempelajari serba sedikit dari banyak pelajaran yang diberikan.

Ketika seorang anak benar-benar mampu menjadi seorang ahli di bidang yang ia sukai, hasil dari proses belajar yang sangat dalam dari berbagai sumber dan guru terbaik di bidang tersebut, yakinlah bahwa ia akan dicari banyak perusahaan untuk menjadi ahli mereka. Selebihnya, jika anak-anak yang tumbuh menjadi ahli tersebut sekaligus juga memiliki kemampuan enterpreunersip maka ia bisa mempergunakan kemampuannya untuk melakukan usaha mandiri.

Karena pendidikan di negeri ini tengah mengalami banyak persoalan, kehadiran homeschooling mungkin lebih nampak seperti riak-riak protes dan keraguan akan pendidikan formal. Padahal lebih dari itu HS sesungguhnya sebuah pilihan untuk menikmati pendidikan secara merdeka dan berorientasi pada masa depan anak. Bahkan akhirnya anak-anak sendirilah yang dibimbing untuk menentukan masa depan mereka, sehingga mereka tahu harus mempelajari apa dan harus belajar pada siapa.

Minggu, 12 Oktober 2008

Maksimalkan Pendidikan Alternatif

Sudah terlanjur masyarakat menganggap, bahwa pendidikan itu mesti dilakukan di sebuah lembaga formal, seperti halnya sekolah. Sementara itu, serangkaian persoalan klise berkaitan dengan sekolah, seperti gedung yang ambruk, kelas yang rusak, SPP yang mahal, DSP yang membengkak, gurunya kurang, dan banyak persoalan lainnya, sampai saat ini masih sulit untuk dituntaskan. Mayoritas berujung pada persoalan dana, sementara di sisi lain sektor pendidikan disinyalir merupakan tempat yang rawan penyelewengan dana.

Memang ironis dan menyedihkan. Jika pendidikan bertujuan untuk meninggikan kualitas manusia, sehingga tercipta masyarakat yang positif, produktif, dan bertakwa, maka dunia pendidikan di negeri kita nampaknya jauh meninggalkan tujuan itu. Imam Ghazali dalam bukunya Ayyuhal Walad, menetapkan makna pendidikan (tarbiyah) itu, bagaikan seorang petani yang tengah mencabut duri dan membuang tanaman asing yang mengganggu di antara tumbuhan yang ia tanam, agar tanaman tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kapitalisme secara berangsur-angsur memang telah berhasil membumbui hampir semua sisi kehidupan dengan tujuan-tujuan materil, tak terkecuali bidang pendidikan. Sementara itu, berbicara penyelesaian masalah pendidikan yang kompleks, kunci satu-satunya justru adalah kepedulian; dan itu jelas berseberangan dengan prinsip-prinsip kapitalisme.

Menggalang Kepedulian
Sejak subsidi pendidikan dikurangi, efek yang langsung terasa oleh masyarakat, adalah mahalnya biaya sekolah. Terlebih dengan kebijakan otonomi sekolah, maka sekolah tak jauh beda dengan perusahaan. Tidak bisa tidak sekolah harus bisa mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dan jika dimungkinkan tentu bisa meraih keuntungan yang besar sebagaimana layaknya perusahaan.

Hal itu terjadi bahkan sejak level prasekolah, di mana sekarang berjamur Taman Kanak-Kanak dan Play Group yang biayanya mahal bukan kepalang. Kisaran minimal 2 juta hingga mencapai lima atau 6 juta hanya untuk uang pangkalnya saja. Belum lagi SPP dan uang seragam.

Lantas apa yang akan pertama kali dipelajari oleh anak-anak bahkan di usia yang sangat dini? Yakinlah bukan kualitas kurikulumnya, melainkan perasaan ekslusif karena mereka belajar di sekolah yang mahal, fasilitasnya lengkap, dan gedungnya megah. Jadi tidaklah salah bukan, jika kita katakan, bahwa dengan format sekolah seperti yang ada hari ini, anak-anak sudah menampung benih kapitalisme.

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang orang tuanya tak punya uang untuk membayar biaya sekolah semahal itu? Bagaimana pula nasib sekolah yang murid-muridnya dari kalangan kelas akar rumput, yang gedungnya pun tinggal puing-puing? Kesenjangan itu hanya akan semakin menganga lebar andai kita tak menggalang kepedulian.

Kalau pengadaan dana untuk rehabilitasi ratusan bahkan mungkin ribuan gedung sekolah negeri memberatkan pemerintah, sehingga tidak semua sekolah bisa tersentuh dana rehabilitasi, maka sebenarnya pemerintah bisa menggandeng tangan-tangan masyarakat yang masih peduli akan pendidikan. Salah satu contoh yang mungkin patut dipertimbangkan adalah gagasan yang dipaparkan di Tajuk Rencana PR (Jumat, 5/5) tentang program Cinta Almamater. Para alumni setiap sekolah bisa bergotong royong menyumbang ke sekolahnya masing-masing untuk membangun kembali gedung yang roboh, dengan catatan penggunaan dananya diawasi.

Selain berupa dana, masyarakat pun bisa berpartisipasi, seperti yang dicontohkan para sarjana di Ciamis yang membuka sekolah terbuka untuk anak-anak petani.
Adapun kepedulian pemerintah yang diharapkan dalam hal ini, adalah menaungi kegiatan pendidikan alternatif itu dengan pengakuan terhadap legalitas lulusannya, sehingga mereka juga punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Alternatif Pengganti Gedung
Faktor penunjang mahalnya biaya sekolah biasanya dinisbatkan kepada biaya gedung. Setiap siswa baru pasti terkena beban untuk membayar uang bangunan, yang jumlahnya bisa jadi cukup besar. Jika pemerintah mendukung lahirnya sekolah-sekolah alternatif yang dikelola masyarakat, persoalan gedung sebenarnya bisa diminimalisir; dan secara otomatis pula, hal itu akan menekan angka DO (Drop Out) karena biaya sekolah bisa menjadi lebih murah.

Dengan kata lain, gedung bukanlah segalanya untuk mendidik anak. Bukankah sesungguhnya rumah, pantai hutan, taman bermain, dan seluruh permukaan bumi ini adalah sumber-sumber dan sekaligus tempat yang disediakan Tuhan untuk mendidik manusia? Oleh karena itu , terlepas dari persoalan politis, ‘tak punya gedung sekolah’ tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk menghentikan kegiatan pendidikan atau melemahkan semangat para pendidik untuk membimbing.

Kehadiran Sekolah Alam telah membuktikan bahwa anak-anak bisa dan bahkan sangat antusias belajar di alam terbuka. Semangat mereka untuk pergi sekolah seolah tak terhentikan. Mereka selalu menemukan hal baru setiap hari. Karena begitu banyak rahasia di alam yang bisa dipelajari. Peran guru adalah membimbing untuk mengarahkan anak-anak didiknya agar mau melakukan penjelajahan dan pembelajaran terhadap seluruh media belajar yang tersedia di alam. Meskipun dari segi biaya tidak lebih murah dari sekolah konvensional, namun sebagai sebuah alternatif untuk memecahkan kekakuan format pendidikan, model sekolah semacam itu bisa dijadikan pilihan.

Sekolah alternatif untuk anak petani di Ciamis, yang pernah diberitakan di harian Pikiran Rakyat- Bandung, juga merupakan contoh , bahwa anak-anak tetap bisa antusias belajar meski mereka belajar tanpa seragam dan atribut-atribut formal lainnya.. Semangat mereka untuk belajar bisa jadi mengalahkan anak-anak sekolah di kota yang sepatunya berharga ratusan ribu, gedung sekolahnya megah, dan uang sekolahnya jutaan rupiah.

Sebenarnya sudah banyak sekolah-sekolah alternatif didirikan, dan tempat belajarnya bukanlah di dalam sebuah gedung sekolah, seperti umumnya kita temui. Ada orang yang membuat sekolah di kolong jembatan, gerbong kereta api, atau rumah-rumah penduduk. Di satu sisi hal itu mungkin tampak menyedihkan, karena sebenarnya banyak orang kaya yang kelebihan hartanya lebih banyak dipakai untuk berfoya-foya, dan tak tersalurkan untuk mereka yang kekurangan. Namun jika kita berpikir positif, maka keberadaan sekolah ‘darurat’ itu merupakan sumber inspirasi untuk membuat bentuk-bentuk kreatif tempat belajar, di saat kebutuhan menuntut demikian.

Bahkan jika konsep ini bisa diterima, maka murid-murid dari sekolah yang sudah berjalan pun, jika sekiranya gedung sekolah masih belum berfungsi, maka mereka bisa didistribusikan ke beberapa tempat belajar. Rasanya masih banyak juga, terutama di pedesaan, orang tua siswa yang bersedia menyiapkan halaman, teras, ataupun salah satu ruangan di rumahnya (kalau ada) untuk dijadikan tempat belajar sejumlah 5 atau bahkan 10 anak. Bagaimana dengan gurunya? Dengan semangat peduli, rasanya masih banyak juga sarjana pendidikan maupun non kependidikan yang mau menyumbangkan tenaga, pikiran, dan mendedikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk anak-anak. Dan masyarakat yang memiliki kekuatan dana juga bisa “dipanggil” kepeduliannya untuk membayar upah para tenaga sukarela yang mau mengajar. Andai situasi itu bisa terjadi, alangkah indahnya!

Rabu, 24 September 2008

Senangnya, Saat Anak Makin Mandiri

Kemandirian adalah salah satu tujuan pendidikan dan pengajaran. Hal itu tak bisa disangkal merupakan sebuah tolok ukur keberhasilan yang membanggakan bagi para pendidik di manapun.

Proses menuju mandiri berlangsung sejak anak-anak lahir. Tugas orang tua-lah untuk membimbing anak-anak untuk mencapai kemandirian sesuai dengan fase usianya. Hal pertama yang harus disadari adalah kenyataan bahwa belajar menuju kemandirian akan diawali dengan "kesalahan".

Cobalah kita cermati atau kita ingat-ingat perilaku bayi-bayi kita. Awalnya bayi-bayi hanya bisa terlentang dan perlu bantuan kita untuk telungkup, namun lama- kelamaan mereka bisa melakukannya sendiri dengan terus berlatih setiap hari. Seiring usia, bayi pun terus meningkatkan keterampilan fisiknya, dari duduk, merayap, merangkak, berdiri, hingga berjalan. Dan ternyata, ada beberapa hal yang jika sekiranya kita abaikan, perkembangan keterampilan fisik itu jadi terlambat atau bahkan kurang berkembang dengan baik.

Salah satu penyebab yang saya percaya bisa menghambat perkembangan gerak fisik adalah "kurungan" yang kita sediakan buat bayi-bayi kita. Apakah "kurungan" itu? Kurungan itu adalah hambatan-hambatan berupa ruang yang sempit untuk anak-anak bergerak, seperti misalnya roda bayi, kebiasaan sering digendong, dan televisi.

Dengan asumsi bahwa dengan alat bantu berupa roda atau baby-walker, bayi akan lebih cepat berjalan, hal itu kini mulai banyak ditentang secara empirik. Pada kenyataannya, "mobil" bayi itu hanya akan membuat bayi bisa membawa tubuhnya dari satu tempat ke tempat lain tapi tidak menggerakkan otot-otot kaki dan tangan mereka. Tanpa latihan gerak secara alami, justru membuat otot bayi menjadi kurang optimal perkembangannya. Boleh-lah dikatakan, bahwa memang BELAJAR YANG PALING EFEKTIF ADALAH DENGAN MELAKUKANNYA . Buat Anda yang pernah punya pengalaman membesarkan bayi, pasti bisa melihat efek-efek dari setiap pola yang terapkan kepada bayi-bayinya.

Dengan alasan khawatir anaknya akan terluka karena terantuk tembok saat merangkak atau terjatuh saat berdiri, beberapa orang tua memilih untuk terus menggendong bayinya, meski sang bayi sudah berumur 6 - 9 bulan. Dengan alasan tak mau kotor, beberapa orang tua juga terus-menerus memasangkan diapers pada anaknya hingga usia 5 tahun bahkan lebih tanpa melatih mereka untuk bisa buang air di kamar mandi. Dengan alasan kepraktisan, beberapa orang tua juga masih terus memandikan dan menceboki anak-anaknya hingga usia 7 tahun lebih. Dengan alasan tak mau banyak bicara dan agar anaknya tenang saat ia bekerja, beberapa orang tua mendudukkan anaknya di depan televisi hingga berjam-jam lamanya, padahal ia sendiri tahu bahwa acara televisi tidak semuanya baik untuk ditonton oleh anak-anak. Banyak hal, banyak alasan, sering dilontarkan orang tua untuk membuat "kurungan" pada anak-anaknya untuk tumbuh menjadi mandiri.

Benar, bahwa untuk membuat anak bisa melakukan semuanya sendiri membutuhkan pengorbanan, entah itu kotor dan basah saat mereka sedang belajar mengambil minuman dan makanan sendiri, atau kita harus sering mengepel lantai karena anak masih pipis di celana dalam fase latihan tanpa diapers, atau banyak kertas terpakai untuk latihan anak-anak mencorat-coret sampai mereka bisa menulis dan menggambar dengan baik, dan lain-lain.

Jangan remehkan kemandirian anak betapapun dalam hal-hal yang sederhana: Membuang sampah ke tempatnya, membaca buku tanpa disuruh, menyapu tanpa diminta, mengerjakan worksheet tanpa dinilai, merapikan mainan tanpa diperintah, dll. Tahukah, bahwa kemandirian begitu menakjubkan dan membanggakan, bukan hanya bagi para pendidik atau pengajar, melainkan juga bagi anak-anak itu sendiri. Kemampuan untuk mandiri akan membuat anak-anak memiliki rasa percaya diri yang luar biasa dalam menempuh kehidupan.

Sepanjang perjalanan pendidikan yang terus berlangsung, satu demi satu keterampilan hidup harus diperkenalkan dan diajarkan, hingga akhirnya kita akan melihat anak-anak tersenyum bahagia dan optimis menghadapi hidup. Betapa senangnya saat anak makin mandiri. Tidakkah demikian?