Sabtu, 13 September 2008

Buku Sekolah Elektronik Departemen Pendidikan Nasional


Buku Sekolah Elektronik Departemen Pendidikan Nasional

(Sebuah Solusi Keterjangkauan Pendidikan)

Disusun Oleh:
Angga Fuja W.*
Arif Nurahman*
Bambang Achdiyat*


Department of Physics
Faculty of Sciences and Mathematics, Indonesia University of Education

and

Follower Open Course Ware at Massachusetts Institute of Technology
Cambridge, USA
Department of Physics
http://web.mit.edu/physics/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Physics/index.htm
&
Aeronautics and Astronautics Engineering
http://web.mit.edu/aeroastro/www/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Aeronautics-and-Astronautics/index.htm












"That for every action there is an equal and opposite reaction"
-"Isaac Newton"-

"...there are no simple answers
to how education can contribute
towards disarmament and development.
But increasing awareness through education
seems to be a way towards the kind of mobilisation
that is necessary..."

-"Magnus Haavelsrud, Norwegian peace educator"-

Buku Teks Pelajaran Murah
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Disampaikan oleh:

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Di Jakarta, 20 Agustus 2008

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan penuh rasa gembira dan bangga menyuguhkan sejumlah buku teks pelajaran layak-pakai yang hak ciptanya telah dilmiliki Departemen Pendidikan Nasional.
Buku-buku teks pelajaran tersebut tersedia di situs Depdiknas yang diberi nama Situs Buku Sekolah Elektronik yang disingkat BSE atau e-Book. Jumlah seluruhnya saat ini ada empat ratus tujuh (407) judul buku dan Insya Allah setiap tahunnya akan bertambah.

Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakan pakainya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah ditetapkan sebagai Buku Teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 46 Tahun 2007, Permendiknas Nomor 12 Tahun 2008, Permendiknas Nomor 34 Tahun 2008, dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2008.

Buku-buku teks pelajaran yang telah dimiliki hak ciptanya oleh Depdiknas ini dapat digandakan, dicetak, difotokopi, dialihmediakan, dan/atau diperdagangkan oleh perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum dalam rangka menjamin akses dan harga buku yang terjangkau oleh masyarakat. Masyarakat dapat pula mengunduh (down load) langsung dari internet jika memiliki perangkat komputer yang tersambung dengan internet, serta menyimpan file buku teks pelajarann tersebut.

Untuk penggandaan yang bersifat komersial, harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemerintah berharap melalui Program Masal Buku Murah ini, buku teks pelajaran lebih mudah diakses sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah di luar negeri dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar yang bermutu dan terjangkau.

Selamat belajar. Selamat mereguk ilmu, pengetahuan, dan teknologi melalui Buku Teks Pelajaran yang bermutu dan terjangkau.

(Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA)
Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga mantan Menteri Keuangan RI, Saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional


Selamat Datang di Dunia Tanpa Kertas

Intro:

An e-book (for electronic book: also ebook) is the digital media equivalent of a conventional printed book. Such documents are usually read on personal computers, or on dedicated hardware devices known as e-book readers or e-book devices.

An e-book is a specialized type of e-text.

Many cell phones can also be used to read ebooks.

Digital media (as opposed to analog media) usually refers to electronic media that work on digital codes. Today, computing is primarily based on the binary numeral system. In this case digital refers to the discrete states of "0" and "1" for representing arbitrary data.

Computers are machines that (usually) interpret binary digital data as information and thus represent the predominating class of digital information processing machines. Digital media ("Formats for presenting information" according to Wiktionary:Media) like digital audio, digital video and other digital "content" can be created, referred to and distributed via digital information processing machines. Digital media represents a profound change from previous (analog) media.

Digital data is per se independent of its interpretation (hence representation). An arbitrary sequence of digital code like "0100 0001" might be interpreted as the decimal number 65, the hexadecimal number 41 or the glyph "A". See also: ASCII, Code.

Florida's digital media industry association, Digital Media Alliance Florida, defines digital media as "the creative convergence of digital arts, science, technology and business for human expression, communication, social interaction and education"

SELAMAT datang di era paperless.

Abad ke-21, sebuah era di mana kertas sudah tidak terlalu diperlukan lagi dalam dokumentasi. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, setiap institusi mulai merambah apa yang disebut dengan
e-document.

Noerrachman Saleh, Konsultan Dokumen Astragraphia menjelaskan bahwa kebutuhan akan e-document di masa kini sudah tidak terelakkan lagi. ”Orang lebih suka menyimpan data secara elektronik sebab pengolahannya lebih mudah. Selain itu problem sampah kertas dan keterbatasan tempat penyimpanan juga menjadi alasan tersendiri,” jelas Noer dalam sebuah seminar di Tasikmalaya.

Segala jenis pengetahuan di dunia ini pada dasarnya tersimpan pada tempatnya masing-masing. Sebagian besar, yaitu 42 persen, tersimpan dalam otak manusia. Lalu sebanyak 24 persen tersimpan dalam bentuk dokumen kertas. Baru disusul dalam bentuk dokumen elektronik sebesar 22 persen. Terakhir, ada pengetahuan yang ditampung dalam elektronik database, yaitu sebesar 12 persen. Demikian data yang dihimpun Delphi tahun 1997.

Metode konvensional mengenalkan kita pada penyimpanan data dengan buku atau kertas. Diawali dengan perpustakaan tradisional, yaitu kumpulan buku tanpa katalog. Berkembang kemudian menjadi perpustakaan semi modern, di mana katalog dilakukan secara manual.
Lalu ada pula katalog secara komputer.

Di era TI, lahir yang disebut dengan perpustakaan digital. Lalu yang paling canggih adalah perpustakaan virtual, ketika semua koleksi buku bisa diakses melalui internet.Yang terakhir ini bukan lagi sekedar konsep, melainkan sudah menjadi kenyataan. Sudah cukup banyak perpustakaan online di negara maju.

Untuk menuju ke arah perpustakaan virtual ini, terlebih dulu kita harus mengenal teknologi bagaimana dokumen pada sehelai kertas bisa diolah menjadi database komputer. Secara teknis, proses terciptanya sebuah e-document tidak terlalu rumit. Manfaat dari e-document salah satunya adalah minimalisasi tempat. Bayangkan, setumpukan data atau buku bisa dirangkum menjadi sebuah disket kecil (Flash Disk).

Noer menjelaskan bagaimana proses ini berjalan. Pertama, semua dokumentasi kertas melalui sistem scanning untuk bisa ditampakan dalam komputer. Dari sini bisa diolah lagi mana dokumen yang benar-benar penting atau tidak. Klasifikasi ini disebut dengan sistem verification. Dari sini menuju ke proses index, yaitu pengelompokan daftar isi yang ditujukan untuk memudahkan pencarian data. Dalam indexing ini dilakukan kategorisasi berupa tipe dokumen, tanggal, nama pembuat serta kata kunci.

Noer menjelaskan dalam sistem indexing bisa dilakukan dengan metode manual atau otomatis. Ada lagi sistem aplikasi indexing dengan Optical Character Reader (OCR). Dengan aplikasi ini maka kita bisa mencari kata per kata data dalam file yang dimaksud.
Setelah itu barulah di-release dalam bentuk disket atau CD ROM maupun hard disk.

Pada bentuk terakhir, data bisa diformat dalam bentuk HTML, Acrobat, Word atau ASCII.
”Walaupun ada yang optimis dengan paperless, ada pula yang tidak. Pada kenyataannya jumlah kertas di dunia ini terus meningkat. Ini membuktikan bahwa informasi sudah sedemikian membanjir, baik yang tersimpan secara elektronik maupun kertas,” kata Noer.

Perpustakaan Digital

A digital library is a library in which collections are stored in digital formats (as opposed to print, microform, or other media) and accessible by computers. The digital content may be stored locally, or accessed remotely via computer networks. A digital library is a type of information retrieval system.

The first use of the term digital library in print may have been in a 1988 report to the Corporation for National Research Initiatives, The term digital libraries was first popularized by the NSF/DARPA/NASA Digital Libraries Initiative in 1994. The older names electronic library or virtual library are also occasionally used, though electronic library nowadays more often refers to portals, often provided by government agencies, as in the case of the Florida Electronic Library. The DELOS Digital Library Reference Model defines a digital library as:

"An organization, which might be virtual, that comprehensively collects, manages and preserves for the long term rich digital content, and offers to its user communities specialised functionality on that content, of measurable quality and according to codified policies."


Astragraphia merupakan usaha jasa dokumentasi digital yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dalam mengembangkan proyek Warung Informasi dan Teknologi (Warintek).

Sejak tahun 2000 mereka mengolah
data dan koneksi Warintek antara Sentra Informasi Perpustakaan Digital Iptek Nasional dengan sejumlah perguruan tinggi dan pengguna umum Warintek. Salah satunya adalah Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya,
Jawa Barat.

Warintek Unsil yang berdiri resmi pada Juni 2001 ini merupakan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh KRT dengan cara menyediakan fasilitas TI. Perpustakaan Unsil sendiri bisa dikategorikan sebagai perpustakaan digital, di mana sistem katalognya telah dilakukan dengan komputer.

Menurut Drs. Yoni Dharmawan, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Perpustakaan Unsil yang membawahi Warintek, selain menyediakan sarana TI mereka juga mempunyai beberapa program.
”Kami mengadakan pelatihan staf perpustakaan untuk materi CDS/ISIS selama satu minggu. Instrukturnya berasal dari Institut Pertanian Bogor (IBP). Materinya meliputi pembuatan basis data baru, pemasukan data, penyuntingan data, penelusuran data, pembuatan file dan pencetakan,” jelas Yoni.
Program lain adalah pengembangan basis data koleksi perpustakaan dan katalog online. Di sini, staf perpustakaan diharap bisa membangun basis data koleksi yang nantinya akan disediakan kepada masyarakat dalam bentuk katalog komputer. Pembimbing dan instrukturnya berasal dari IPB. Saat ini sudah terbangun basis data sebanyak 2400 entri. Penambahan terus dilakukan oleh staf perpustakaan dengan laju penambahan rata-rata 100 entri per minggu.

Program berkut adalah pelatihan browsing internet dan email. Staf perpustakaan dan Warintek dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan internet agar bisa melayani masyarakat pengguna dengan baik.Yoni juga menyebut adanya program pengembangan basis data teknologi tepat guna, pelatihan internet bagi dosen, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Menurut penuturan Roni, petugas Warintek Unsil, pengunjung Warintek lumayan ramai. ”Setiap saat selalu saja ada yang datang, baik dari mahasiswa maupun orang luar,” ungkap pemuda yang sudah lima tahun bekerja di Unsil. Dengan membayar ongkos sewa 4000 rupiah per jam, semua orang bisa mengakses internet dan informasi dari CD ROM yang tersedia.
Namun Roni menekankan bahwa Indonesia belum bisa sepenuhnya paperless. Terbukti, mahasiswa di kampus Unsil masih tetap membutuhkan buku-buku konvensional


References:

References

  1. ^ Greenstein, Daniel I., Thorin, Suzanne Elizabeth. The Digital Library: A Biography. Digital Library Federation (2002) ISBN 1933645180. Accessed June 25, 2007.
  2. ^ Kahn, R. E., & Cerf, V. G. (1988). The Digital Library Project Volume I: The World of Knowbots, (DRAFT): An Open Architecture For a Digital Library System and a Plan For Its Development. Reston, VA: Corporation for National Research Initiatives.
  3. ^ Edward A. Fox. The Digital Libraries Initiative - Update and Discussion, Bulletin of the America Society of Information Science, Vol. 26, No 1, October/November 1999.
  4. ^ L. Candela et al: The DELOS Digital Library Reference Model - Foundations for Digital Libraries. Version 0.98, February 2008 (PDF)
  5. ^ Koehler, AEC. Some Thoughts on the Meaning of Open Access for University Library Technical Services Serials Review Vol. 32, 1, 2006, p. 17
  6. ^ "The DSpace team recognized the value of the OAIS framework and recast the repository’s architecture to accommodate this archival framework" {{{author}}}, MIT's DSpace experience: a case study, [[{{{publisher}}}]], 2004.
  7. ^ Agosti, M., Candela, L., Castelli, D., Ferro, N., Ioannidis, Y., Koutrika, G., Meghini, C., Pagano, P., Ross, S., Schek, H.-J., & Schuldt, H. (2006). A Reference Model for DLMSs Interim Report. In L. Candela, & D. Castelli (Eds.), Deliverable D1.4.2 - Reference Model for Digital Library Management Systems [Draft 1]. DELOS, A Network of Excellence on Digital Libraries -- IST-2002-2.3.1.12, Technology-enhanced Learning and Access to Cultural Heritage. Online at: http://146.48.87.122:8003/OLP/Repository/1.0/Disseminate/delos/2006_WP1_D142/content/pdf?version =1
  8. ^ Gonçalves, M. A., Fox, E. A., Watson, L. T., & Kipp, N. A. (2004). Streams, Structures, Spaces, Scenarios, Societies (5S): A Formal Model for Digital Libraries. ACM Transactions on Information Systems (TOIS),22 (2), 270-312.
  9. ^ Committee on Institutional Cooperation: Partnership announced between CIC and Google, 6 June 2007, Retrieved 7 July 2007.
  10. ^ European Commission steps up efforts to put Europe’s memory on the Web via a “European Digital Library” Europa press release, 2 March 2006
  11. ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age." Library Resources & Technical Services. 44(2) (2000):97-104.
  12. ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
  13. ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age: An Overview." Library Resources & Technical Services 44(2) (2000):97-104.
  14. ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
  15. ^ Breeding, Marshall. “Preserving Digital Information.”. Information Today 19:5 (2002).
  16. ^ Teper, Thomas H. "Where Next? Long-Term Considerations for Digital Initiatives." Kentucky Libraries 65(2)(2001):12-18.
  17. ^ Pymm, Bob. "Building Collections for All Time: The Issue of Significance." Australian Academic & Research Libraries. 37(1) (2006):61-73.
  18. ^ Antique Books
  19. ^ Kelly, Kevin (2006-05-14). "Scan This Book!", New York Times Magazine. Retrieved on 2008-03-07. "When Google announced in December 2004 that it would digitally scan the books of five major research libraries to make their contents searchable, the promise of a universal library was resurrected. ... From the days of Sumerian clay tablets till now, humans have "published" at least 32 million books, 750 million articles and essays, 25 million songs, 500 million images, 500,000 movies, 3 million videos, TV shows and short films and 100 billion public Web pages."
  20. ^ Stanford Copyright & Fair Use - Digital Preservation and Copyright by Peter B. Hirtle

See also

External links

General

Conferences

  • ECDL - European Conference on Digital Libraries
  • ICADL - International Conference on Asian Digital Libraries
  • JCDL - ACM and IEEE Joint Conference on Digital Libraries

National and international archives

Book archives

Major subject archives

Tools


Readers

E-book readers may be specifically designed for that purpose, or intended for other purposes as well. The term is restricted to hardware devices, not software programs.

Specialized devices have the advantage of doing one thing well. Specifically, they tend to have the right screen size, battery lifespan, lighting and weight. A disadvantage of such devices is that they are often expensive when compared to generic devices such as laptops and PDAs.

Prominent examples include:

See also

Notes

References

External links


Buku Sekolah Elektronik dari BSE untuk SD/MI

Sumber: Kak Rauden Sah

ebook

Kelas 1

buku sdkelas01_bahasa-kita-bindo_jaruki.zip

buku sdkelas01_belajar-bahasa-indonesia-itu-menyenangkan_ismail.zip

buku sdkelas01_bindo_umri.zip

buku sdkelas01_dunia-mtk_kismianti.zip

buku sdkelas01_indahnya-bindo-sastra_suyatno.zip

buku sdkelas01_ipa_sholehudin.zip

buku sdkelas01_ipa_sri.zip

buku sdkelas01_ips_edi.zip

buku sdkelas01_ips_indrastuti.zip

buku sdkelas01_ips_inoki.zip

buku sdkelas01_mtk_djaelani.zip

buku sdkelas01_mtk_purnomosidi.zip

buku sdkelas01_pkn_setiati.zip

buku sdkelas01_pkn_suliasih.zip

buku sdkelas01_pkn_tijan.zip

buku sdkelas01_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 2

buku sdkelas02_aku-bangga-bindo_ismoyo.zip

buku sdkelas02_bahasa-indonesia-umri_nuraini.zip

buku sdkelas02_cinta-berbahasa_indonesia_tri.zip

buku sdkelas02_indahnya-bindo_suyatno.zip

buku sdkelas02_ipa_heri-sulistyanto.zip

buku sdkelas02_ipa_sri-purwati.zip

buku sdkelas02_ipa_syaeful.zip

buku sdkelas02_ips-mengenal-lingkungan-sekitar_nurhadi.zip

buku sdkelas02_ips_kuswanto.zip

buku sdkelas02_ips_tri-jaya-suranto.zip

buku sdkelas02_mtk_buchori.zip

buku sdkelas02_mtk_purnomosidi.zip

buku sdkelas02_pkn_lili.zip

buku sdkelas02_pkn_sajari.zip

buku sdkelas02_pkn_setiati.zip

buku sdkelas02_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 3

buku sdkelas03_aku-bangga-bindo_ismoyo.zip

buku sdkelas03_bahasa-indonesia_kaswan.zip

buku sdkelas03_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas03_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas03_bindo_mei.zip

buku sdkelas03_cerdas-berhitung-mtk_nur.zip

buku sdkelas03_ilmu-pengetahuan-sosial_saleh-muhammad.zip

buku sdkelas03_ipa_mulyati.zip

buku sdkelas03_ipa_priyono.zip

buku sdkelas03_ips_muhammad-nursa-ban.zip

buku sdkelas03_ips_sunarso.zip

buku sdkelas03_pkn_prayoga.zip

buku sdkelas03_pkn_purwanto.zip

buku sdkelas03_pkn_slamet.zip

buku sdkelas03_sains-ipa_sularmi.zip

buku sdkelas03_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 4

buku sdkelas04_ayo-belajar-mtk_burhan.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_kaswan.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_umri-nuraini.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas04_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas04_cerdas-pengetahuan-sosial_retno.zip

buku sdkelas04_ilmu-pengetahuan-sosial_sadiman.zip

buku sdkelas04_ipa_budi-wahyono.zip

buku sdkelas04_ipa_heri.zip

buku sdkelas04_ipa_poppy.zip

buku sdkelas04_ips_tantya.zip

buku sdkelas04_pkn_prayoga.zip

buku sdkelas04_pkn_ressi-kartika.zip

buku sdkelas04_pkn_sarjan.zip

buku sdkelas04_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 5

buku sdkelas05_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas05_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas05_bindo_sri.zip

buku sdkelas05_bindo_suyatno.zip

buku sdkelas05_gemar-mtk_sumanto.zip

buku sdkelas05_ipa_choiril.zip

buku sdkelas05_ips_endang.zip

buku sdkelas05_ips_reny.zip

buku sdkelas05_ips_syam.zip

buku sdkelas05_mtk_soenarjo.zip

buku sdkelas05_pkn_ikhwan_sapto_darmono.zip

buku sdkelas05_pkn_najib.zip

buku sdkelas05_pkn_setiati.zip

buku sdkelas05_sd_ilmu-pengetahuan-alam_heri.zip

buku sdkelas05_senang-belajar-ipa-rositawaty.zip

Kelas 6

buku sdkelas06-bahasa-indonesia_samidi.zip

buku sdkelas06_bahasa-indonesia-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas06_bahasa-indonesia_sukini.zip

buku sdkelas06_bersahabat-dengan-mtk_dadi.zip

buku sdkelas06_bindo_sukini.zip

buku sdkelas06_gemar-mtk_sumanto.zip

buku sdkelas06_ilmu-pengetahuan-alam_heri-sulistyanto.zip

buku sdkelas06_ipa_dwi.zip

buku sdkelas06_ipa_yayat.zip

buku sdkelas06_ips_arif.zip

buku sdkelas06_ips_indrastuti.zip

buku sdkelas06_ips_sanusi-fattah.zip

buku sdkelas06_ips_widodo.zip

buku sdkelas06_kewarganegaraan_resi-kartika-dewi.zip

buku sdkelas06_pkn_setiati.zip

buku sdkelas06_pkn_sunarso.zip

buku sdkelas06_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

buku sdlampiran_03_03_2009.zip

Download Buku Sekolah Elektronik Untuk SMP/MTs Gratis Kelas 7, 8, 9. untuk download silahkan klik link-link di bawah ini :

Kelas 7

buku smpkelas07_aktif-bindo_dewi.zip

buku smpkelas07_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas07_bahasa-indonesia-bahasa-kebangsaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas07_bahasa-indonesia_endah.zip

buku smpkelas07_bahasa-inggris_kumalarini.zip

buku smpkelas07_bindo-jendela-ilmu-pengetahuan_romiyatun.zip

buku smpkelas07_bindo_atikah.zip

buku smpkelas07_english-in-focus_artono.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam-terpadu_anni-winarsih.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam_teguh-sugiarto.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam_wasis.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas07_ipa_agus.zip

buku smpkelas07_ips_iwan.zip

buku smpkelas07_ips_muh-nurdin.zip

buku smpkelas07_ips_waluyo.zip

buku smpkelas07_kompetisi-berbahasa-indonesia_nia.zip

buku smpkelas07_kompetisi-berbahasa-indonesia_ratna.zip

buku smpkelas07_matematika_atik.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas07_mtk_wagiyo.zip

buku smpkelas07_pendidikan-kewarganegaraan_sugeng.zip

buku smpkelas07_pengetahuan-sosial-1_didang.zip

buku smpkelas07_scaffolding_joko.zip

buku smpkelas07_smp_matematika_dewi_nuharini.zip

Kelas 8

buku smpkelas08_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia-bahasa-kebanggaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia_kisyani.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia_yulianti-setyorini.zip

buku smpkelas08_bahasa-inggris_utami.zip

buku smpkelas08_bindo-sastra_asep.zip

buku smpkelas08_english-in-fokus_artono.zip

buku smpkelas08_galeri-pengetahuan-sosial-terpadu_sri.zip

buku smpkelas08_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas08_ilmu_pengetahuan_alam_rinie.zip

buku smpkelas08_ipa_saeful.zip

buku smpkelas08_ipa_wasis.zip

buku smpkelas08_ips_nanang.zip

buku smpkelas08_ips_sanusi-fatah.zip

buku smpkelas08_matematika-endah_budi.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas08_mudah-belajar-mtk_nuniek.zip

buku smpkelas08_pendidikan-kewarganegaraan_dadang.zip

buku smpkelas08_scaffolding_joko.zip

buku smpkelas08_smp_matematika_dewi_nuharini.zip

buku smpkelas08_terampil-berbahasa-indonesia_dewaki.zip

Kelas 9

buku smpkelas09_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia-bahasa-kebangsaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_asep_sudarmawarti.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_nasharyati.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_sri.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_yulianti.zip

buku smpkelas09_bahasa-inggris_gunarso.zip

buku smpkelas09_bahasa_indonesia_atikah_anindyarini.zip

buku smpkelas09_english-in-fokus_artono.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_dewi-ganawati.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_nur-kuswanti.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_sukis.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas09_ipa_elok-sudibyo.zip

buku smpkelas09_ips_ratna-sukmayani.zip

buku smpkelas09_ips_sanusi.zip

buku smpkelas09_ips_sutarto.zip

buku smpkelas09_matematika_ichwan.zip

buku smpkelas09_matematika_sulaiman.zip

buku smpkelas09_matematika_wahyudin_djumanta.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas09_mudah-belajar-mtk_naniek.zip

buku smpkelas09_pegangan-mtk_wagiyo.zip

buku smpkelas09_pelajaran-bahasa-indonesia_tri.zip

buku smpkelas09_pendidikan-kewarganegaraan_sugeng.zip

Menu Download dari DEPDIKNAS

ebook

Kelas 10

buku smakelas10_inter-language_joko-priyana.zip

buku smakelas10_mtk_hendi.zip

buku smakelas10_sistem-refrigerasi-dan-tata-udara.zip

buku smakelas10_teknik-pembibitan-tanaman_paristiyanti.zip

Kelas 11

buku smakelas11_bahasa-indonesia_euis.zip

buku smakelas11_bahasa_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas11_developing-english-competencies_achmad-doddy.zip

buku smakelas11_interlanguage_joko.zip

buku smakelas11_interlanguage_senior_high_school_joko.zip

buku smaelas11_ipa_ips_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas11_sistem-refrigerasi-dan-tata-udara.zip

buku smakelas11_sma_matematika_bahasa_pangarso.zip

buku smakelas11_sma_matematika_wahyudin.zip

buku smakelas11_terampil-berbahasa-indonesia_gunawan.zip

Kelas 12

buku smas12_bahasa-dan-sastra-indonesia_ipa-ips_muhammad-rohmadi.zip

buku smakelas12_bahasa_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas12_bahasa_mahir-mtk_geri.zip

buku smas12_developing-english-competencies_ipa-ips_achmad-doddy.zip

buku smakelas12_interlanguage_joko.zip

buku smakelas12_ipa_ips_aktif-dan-kreatif-bindo_adi.zip

buku smakelas12_mtk_toali.zip

buku sma_sma_bahasa-dan-sastra-indonesia_bahasa_muhammad-rohmadi.zip

buku smakelas12_sma_matematika-aplikasi_ipa_pesta-e-s.zip

buku smakelas12_sma_matematika_bahasa_pangarso.zip

Penulis*:
1. Penggagas Sistem Sekolah Berbasis Lingkungan di Daerah Jawa Barat dan Banten
2. Founder The Sundanese Cyber School Alliance
3. Founder Ciamis Cyber School

(Ketiganya adalah Mahasiswa Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follwer in Open Course Ware at The Massachusetts Institute of Technology (MIT) Cambridge, Massachusetts, United States)

MASALAH PENELITIAN & ETIKA DALAM PENELITIAN

MASALAH PENELITIAN
Apa yang dimaksud dengan “masalah penelitian”?

Masalah penelitian adalah masalah yang layak untuk diteliti
Merupakan masalah yang menimbulkan ketidakpuasan, atau tidak sesuai dengan harapan
Sesuatu yang dirasa menyulitkan sehingga perlu diubah
Suatu proses yang tidak berjalan baik
Kondisi yang perlu ditingkatkan
Kesulitan yang harus diatasi
Pertanyaan yang memerlukan jawaban
PERTANYAAN PENELITIAN
Pada umumnya masalah penelitian merupakan pertanyaan yang
akan menjadi fokus penyelidikan dan menentukan metode yang akan
digunakan. Berikut ini adalah contoh pertanyaan penelitian yang
menentukan arah bagi metodologi yang akan digunakan;

Apakah pembelajaran yang berpusat pada siswa lebih mampu meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pembelajaran tradisional? (penelitian eksperimental)
Pembelajaran seperti apakah yang umumnya terjadi setiap hari di sekolah dasar? (penelitian etnografi)
Apakah dalam buku sains SD terdapat miskonsepsi? (Analisis isi)
Bagaimana kita dapat memprediksi siswa manakah yang mengalami kesulitan belajar pada topik listrik? (penelitian korelasional)
Bagaimana sikap orang tua terhadap program konseling di sekolah? (penelitian survey)
Pertanyaan di atas seringkali muncul dalam tugas guru atau peneliti
berdasarkan observasi atau pengalamannya, dan pertanyaan ini
seringkali memerlukan penyelidikan yang lebih mendalam. Untuk itu
seorang peneliti perlu mengumpulkan sejumlah informasi untuk
menjawabnya.

Ada pula pertanyanyaan yang sulit dijaring informasinya, misalnya:
Apakah filsafat perlu dimasukkan dalam kurikulum sma?
Apa makna kehidupan?

Pertanyaan pertama, berkaitan dengan nilai: baik dan buruk; perlu dan
tidak perlu; Jadi, tidak dapat diamati. Namun pertanyaan pertama di
atas dapat menjadi pertanyaan penelitian bila kalimatnya diubah:
“Apakah masyarakat merasa perlu memasukkan filsafat dalam kurikulum SMA?”

Dengan pertanyaan di atas, kita dapat mengumpulkan data untuk
menjawab pertanyaan penelitian.
Pertanyaan kedua bersifat metafisika, di luar jangkauan pengalaman
kita dan bersifat transcendental. Pertanyaan ini memerlukan jawaban
yang bersifat akumulasi dari sejumlah informasi.

Karakteristik pertanyaan penelitian
Pertanyaan bersifat feasible; dapat diselidiki sesuai dengan tenggat waktu, energi dan dana yang terbatas.
Pertanyaan jelas: dapat dipahami oleh orang lain.
Pertanyaan bermakna untuk diteliti karena akan memberikan kontribusi penting secara keilmuan.
Pertanyaan hendaknya menyelidiki hubungan meskipun tidak selalu.

Baik kita bahas satu persatu!
1. Pertanyaan penelitian harus feasible
Pertanyaan penelitian yang feasible adalah pertanyaan yang dapat diteliti
melalui sumber-sumber yang ada. Pertanyaan tertentu misalnya tentang
“eksplorasi ruang angkasa”, atau “efek jangka panjang terhadap para astronot
yang mengikuti program penelitian ruang angkasa” jelas memerlukan dana
yang sangat besar dan waktu yang lama. Dalam bidang farmasi, kedokteran,
pertanian, dan militer, penelitian dilakukan oleh orang yang terlibat langsung
dalam kegiatan praktik. Namun dalam bidang pendidikan, masih penelitian
yang dilakukan oleh guru masih sangat kurang. Pada umumnya dilakukan oleh
orang di “luar” sekolah, seperti dosen dan mahasiswanya yang ditunjang oleh
waktu dan dana yang terbatas, sehingga mungkin saja fisibilitasnya tidak ada.

Contoh:
Bagaimana pendapat siswa tentang program pembelajaran berbasis komputer untuk topik tentang model-model atom? (feasible)
Bagaimana efeknya terhadap hasil belajar siswa, bila masing-masing siswa memiliki komputer pribadi untuk digunakan selama satu? (tidak terlalu feasible)

2. Pertanyaan penelitian harus jelas
Pertanyaan penelitian harus mencerminkan apa yang akan diteliti, atau
yang menjadi fokus penelitian.

Contoh:
a. Apakah pembelajaran berorientasi humanistik efektif?
Bagi sebagian orang kata yang digaris bawahi di atas mungkin jelas, tetapi orang lain mungkin tidak memahami apa yang dimaksud dengan “pembelajaran berorientasi humanistik” tersebut. Apa karakteristiknya? Bagaimana strategi pembelajarannya? Bagaimana kegiatan pembelajarannya? Apa kegiatan siswa dan kegiatan guru? Media apa yang digunakan?
Bagaimana perasaan guru terhadap kelas khusus bagia anak cacat?
“Guru” dalam pertanyaan di atas perlu diklarifikasi: guru kelas berapa? Mengajar apa? Siswa usia berapa yang dilibatkan? Pengalaman belajar apa yang diberikan?
“Perasaan guru” juga ambiguous. Apakah berarti pendapat guru? Reaksi emosional guru? Atau tentang kegiatan guru?
“Kelas khusus” dan “anak cacat” juga perlu diklarifikasi.
Dalam konsep pendidikan saat ini banyak istilah yang perlu dijelaskan,
misalnya: kurikulum inti, kegiatan pembelajaran, pengelolaan yang
efektif, pendekatan konstruktivisme, dll.

Oleh karena itu perlu ada penjelasan istilah, yang dapat dilakukan
melalui:
Pendekatan kamus: ada banyak keterbatasan; kurang dianjurkan
Definisi istilah melalui contoh.
Mendefinisikan istilah secara operasional, bagaimana kegiatan dilakukan, bagaimana data dijaring, termasuk variabel bebas atau variabel tak bebas.
Definisi operasional sangat membantu dalam menjelaskan istilah.

Penjelasan istilah sangat penting bagi peneliti untuk menentukan arah
bagi teknik pengumpulan dan analisis data.
3. Pertanyaan penelitian harus bermakna
Maksudnya berharga untuk diteliti dan memiliki kontribusi secara
keilmuan karena suatu penelitian memerlukan energi, waktu,
materi, dana, dan sumber-sumber lain yang perlu dihargai maka
hasilnyapun perlu dihargai sebagai karya penelitian.

Untuk itu peneliti perlu bertanya tentang: Apa manfaat hasilnya?
Apakah mempunyai implikasi untuk meningkatkan praktis
pembelajaran? Apakah untuk menentukan arah kebijakan? Apakah
untuk perencanaan program?

Ada 2 kelemahan proposal yaitu (1) terlalu banyak asumsi (2) terlalu
membesar-besarkan implikasi penelitiannya.
4. Pertanyaan bersifat etis
Rumusan pertanyaan hendaknya tidak menyinggung
perasaan pihak lain, baik secara langsung maupun tak
langsung. Kalimat sopan dan tertata dengan baik.

Tambahan: untuk penelitian korelasional atau
kausal komparatif, petanyaan penelitian
hendaknya mencerminkan hubungan yang akan
dikaji. Untuk penelitian lain kadang-kadang juga
memerlukan pertanyaan yang mencerminkan hubungan.
KESIMPULAN
Masalah penelitian sebaiknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
Pertanyaan penelitian hendaknya dapat memberi arah bagi proses penelitian
Pertanyaan penelitian yang baik memiliki 4 ciri: feasible, jelas, bermakna, dan etis; kadang-kadang perlu mencerminkan adanya hubungan
Ada 3 cara menjelaskan istilah: definisi kamus, definisi melalui contoh, dan definisi operasional
Definisi operasional menggambarkan tentang bagaimana suatu istilah diukur atau diidentifikasi

ETIKA DALAM PENELITIAN
Etika berkaitan dengan “benar” atau “salah” dalam melaksanakan
penelitian. Seorang peneliti perlu memperhitungkan apakah
penelitiannya layak atau tak layak untuk dilakukan. Pada dasarnya
semua peneliti berharap agar hasil penelitiannya tidak menyinggung
perasaan subyek yang ditelitinya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti dalam
Melakukan penelitiannya:
Dalam merencanakan penelitian, peneliti bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi terhadap kemungkinan penerimaan setempat. Mencari informasi tentang adat kebiasaan, cara menyapa, bertanya atau melindungi partisipan
Mempertimbangkan apakah subyek partisipan adalah orang yang beresiko atau kurang beresiko karena mengenal peneliti.
Peneliti juga bertanggung jawab terhadap perlakuan etis dari para kolaborator, asisten, mahasiswa, atau siapapun yang terlibat dalam penelitian pada saat berlangsungnya penelitian
Perlu ada perjanjian yang jelas dan jujur antara peneliti dengan partisipan penelitian. Penghargaan atau komitmen lainnya.
Metodologi: sebelum melakukan studi, peneliti mempunyai tanggung jawab khusus untuk (i) menentukan teknik yang diperkuat oleh nilai keilmuan, pendidikan dan nilai setempat (ii) menentukan prosedur alternatif (iii) mencari cara agar partisipan dapat memberikan penjelasan yang diperlukan..
Peneliti menghargai kebebasan individual untuk bertindak sebagai partisipan atau mengundurkan diri
Setelah data terkumpul, peneliti hendaknya memberi informasi kepada partisipan tentang hakikat penelitiannya untuk menghindari miskonsepsi.

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MULTIMEDIA INTERAKTIF (MMI) OPTIKA GEOMETRI UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN MEMPERBAIKI SIKAP BELAJAR SISWA

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MULTIMEDIA

INTERAKTIF (MMI) OPTIKA GEOMETRI UNTUK

MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN

MEMPERBAIKI SIKAP BELAJAR SISWA


Achmad Samsudin1), Aloysius Rusli2), dan Andi Suhandi3)

1) Prodi Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,

2) Departemen Fisika ITB Bandung,

3) Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung

achmadsamsudin@yahoo.com

arusli@fi.itb.ac.id

andisuhandi@upi.edu


Abstract

To enhance concept mastery and to improve the learning attitude, a multimedia based intructional model of geometrical optics is applied. This research is quasi-experimental with subjects in one of the junior high schools in Kudus, Central Java. Research data were collected by using a concept mastery pretest and posttest, and a questionnaire. Data analysis was conducted by using t-test and normalized gain scores. Results of this research show that: The instruction model using interactive multimedia is usefull, effective to enhance the physics concept mastery and to improve the learning attitude of students.


Keywords: instruction model, interactive multimedia, geometrical optics, concept mastery, learning attitude.



1. Pendahuluan

Mutu pendidikan, khususnya pendidikan sains di Indonesia masih rendah. Hasil studi The Third International Mathemathics and Science Study tahun 2003 melaporkan bahwa kemampuan sains siswa SMP (eighth-grade student) Indonesia hanya berada pada peringkat ke-37 dari 46 negara (TIMMS, 2004). Rendahnya mutu pendidikan di tingkat nasional, ternyata tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Kudus. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata hasil ujian sekolah di Kabupaten Kudus yang hanya mencapai nilai 5,84 dari skala ideal 10. Rendahnya mutu pendidikan sains di SMP tercermin dengan rendahnya penguasaan konsep siswa. Selain penguasaan konsep siswa yang rendah, sikap belajar siswa pada aspek motivasi maupun aktivitas siswa dalam pembelajaran di kelas juga kurang baik (buruk).

Rendahnya penguasaan konsep dan buruknya sikap belajar siswa disebabkan oleh pembelajaran konvensional yang masih mengedepankan metode ceramah, tanpa memperhatikan aktivitas belajar yang berpusat dari siswanya (student centered). Pembelajaran konvensional yang berlangsung cenderung berjalan satu arah dari guru ke siswa (teacher centered), menyebabkan pembelajaran terkesan hanya menransfer pengetahuan dari guru ke siswa saja. Pembelajaran fisika yang berpusat dari guru ini berjalan kurang efektif dalam mengembangkan ranah kognitif (penguasaan konsep) dan ranah afektif (sikap belajar) siswa, sehingga penguasaan konsep dan sikap belajar siswa di kelas masih rendah.

Pembelajaran konvensional yang menghasilkan penguasaan konsep dan sikap belajar siswa yang rendah, perlu diperbaiki dengan cara menerapkan model, pendekatan, dan strategi pembelajaran yang menggunakan bantuan media. Salah satu alternatif penggunaan media dalam pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas adalah media komputer dan internet. Media komputer dan internet cukup bagus untuk digunakan dalam pembelajaran yang banyak mengandung konsep-konsep, prinsip, prosedur, dan sikap siswa (Arsyad, 2002); sehingga penguasaan konsep siswa dapat lebih meningkat dan sikap belajar siswa dapat menjadi lebih baik.

Media komputer dan internet ini dapat dimanfaatkan dalam bentuk suatu model pembelajaran yang berbasis multimedia interaktif. Model pembelajaran ini selanjutnya dapat disebut dengan model pembelajaran Multimedia Interaktif (MMI). Model pembelajaran MMI ini dapat digunakan untuk semua materi atau konsep dalam fisika secara umum. Penggunaan model pembelajaran MMI di kelas dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa dan memperbaiki sikap belajar siswa.

Model pembelajaran MMI dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa secara umum, yaitu konsep-konsep yang bersifat konkret. Selain bagus digunakan dalam pembelajaran yang mengandung konsep-konsep yang bersifat konkret, model pembelajaran MMI ini juga sangat baik digunakan dalam konsep-konsep yang bersifat abstrak bagi siswa. Pada prinsipnya model pembelajaran MMI dapat menampilkan berbagai animasi dan simulasi dari beberapa konsep yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (Lee, Nicoll, dan Brooks, 2005). Optika Geometri merupakan salah satu konsep fisika yang mengandung banyak konsep-konsep yang bersifat abstrak, sehingga sesuai dengan penggunaan model pembelajaran MMI.

Dalam artikel ini dipaparkan hasil studi eksperimen tentang penggunaan model pembelajaran Multimedia Interkatif (MMI) dalam meningkatkan penguasaan konsep fisika dan memperbaiki sikap belajar siswa. Studi eksperimen dilakukan di salah satu SMP di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah dengan mengambil materi bahasan Optika Geometri. Sebagai pembanding hasil digunakan model pembelajaran konvensional.



2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Desain penelitian digunakan adalah The Randommized Control-Group Pretest-Posttest Control Group Design (Fraenkel, 1993). Dengan menggunakan desain ini, terlebih dahulu dipilih secara acak dua kelas, satu kelas untuk kelompok eksperimen dan satu kelas untuk kelompok kontrol. Selanjutnya kedua kelompok siswa ini diberi tes awal untuk mengetahui kemampuan awal mereka tentang materi yang akan dipelajari. Setelah itu kedua kelompok diberi perlakuan, kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan model MMI, sedangkan kelompok kontrol diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan model konvensional, yaitu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan dimana dalam proses pembelajaran berpusat pada guru dengan metode pembelajaran utama yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab.

Subyek penelitian ini adalah siswa SMP kelas VIII salah satu SMP di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah, dengan jumlah sampel 77 orang siswa yang terbagi dalam dua kelompok yaitu 39 siswa kelompok eksperimen dan 38 siswa kelompok kontrol. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan instrumen penelitian berupa tes konseptual Optika Geometri dalam bentuk tes objektif dan angket sikap belajar siswa.

Keunggulan penggunaan model dalam meningkatkan penguasaan konsep ditinjau berdasarkan perbandingan nilai gain yang dinormalisasi (N-gain), antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Gain yang dinormalisasi (N-gain) dapat dihitung dengan persamaan: (Hake, 1999)

... 1)

Disini dijelaskan bahwa g adalah gain yang dinormalisasi (N-gain) dari kedua pendekatan, Smaks adalah skor maksimum (ideal) dari tes awal dan tes akhir, Spost adalah skor tes akhir, sedangkan Spre adalah skor tes awal. Tinggi rendahnya gain yang dinormalisasi (N-gain) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) jika g 0,7, maka N-gain yang dihasilkan dalam kategori tinggi, (2) jika 0,7 > g 0,3, maka N-gain yang dihasilkan dalam kategori sedang, dan (3) jika g <>N-gain yang dihasilkan dalam kategori rendah.

Sikap belajar siswa diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari angket yang dibagikan kepada siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan model MMI selesai dilakukan. Angket yang diberikan kepada siswa, kemudian dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan kaidah skala Liekert dengan rentang skala 1 sampai dengan 3. Artinya, sikap siswa cenderung lebih baik dari sebelum menggunakan model pembelajaran MMI dinyatakan dengan skala 3. Siswa yang merasa sikapnya masih sama saja atau tidak terdapat perubahan setelah menggunakan model pembelajaran MMI dinyatakan dengan skala 2. Siswa yang merasa sikapnya cenderung menurun atau lebih buruk dari sebelum menggunakan model pembelajaran MMI dinyatakan dengan skala 1. Jika rata-rata skor sikap belajar siswa di atas 2, maka dapat diartikan siswa merasakan adanya perbaikan sikap belajar. Sedangkan, jika rata-rata skor sikap belajar siswa di bawah 2, maka dapat diartikan siswa merasakan adanya penurunan sikap belajar.



3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambar 1 menunjukkan rekapitulasi rata-rata skor hasil tes penguasaan konsep Optika Geometri untuk kelompok kontrol dan kelompok eksprimen. Rata-rata skor tes awal siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol relatif tidak berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelompok kontrol dan eksperimen memiliki tingkat penguasaan konsep awal Optika Geometri yang hampir sama. Skor rata-rata N-gain kelompok eksperimen sebesar 42,1 %, termasuk kategori sedang. Sedangkan skor rata-rata N-gain kelompok kontrol sebesar 31,1 %, juga termasuk kategori sedang. Dari pengujian signifikansi perbedaan dua rata-rata, didapat bahwa secara signifikans skor rata-rata N-gain kelompok eksperimen lebih tinggi dari skor rata-rata N-gain kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran MMI dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep Optika Geometri siswa dibanding penggunaan model pembelajaran konvensional.

Gambar 1. Perbandingan Skor Rerata Tes Awal, Tes Akhir, dan N-gain Penguasaan Konsep untuk Kedua Kelompok


Skor rata-rata penguasaan konsep siswa pada setiap sub konsep Optika Geometri dapat dilihat pada Gambar 2. Data-data pada gambar tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penguasaan konsep siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk setiap sub konsep mengalami peningkatan. Peningkatan penguasaan konsep untuk kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan penguasaan konsep untuk kelompok kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa model pembelajaran MMI ini lebih cocok digunakan untuk meningkatkan penguasaan konsep Optika Geometri dibanding model pembelajaran konvensional.


Keterangan:

  1. Cahaya

  2. Pemantulan pada cermin lengkung

  3. Pembiasan pada lensa tipis


Gambar 2. Perbandingan Tes Awal, Tes Akhir, dan N-gain Setiap Sub Konsep antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Peningkatan penguasaan konsep kelompok eksperimen yang paling tinggi terjadi pada sub konsep cahaya (46,8 %) dan yang terendah terjadi pada sub konsep pemantulan pada cermin lengkung (38,7 %). Peningkatan penguasaan konsep kelompok kontrol yang paling tinggi juga terjadi pada sub konsep cahaya (34,7 %) dan yang terendah terjadi pada sub konsep pembiasan pada lensa tipis (29,3 %).

Sub konsep cahaya mengalami peningkatan penguasaan konsep yang paling tinggi untuk kedua kelompok. Hal ini sesuai dengan hasil temuan bahwa soal-soal yang diterapkan dalam sub konsep cahaya termasuk kategori mudah dan sedang saja, sehingga siswa tidak banyak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal konsep ini dan N-gain yang diperoleh paling besar dibandingkan yang lain. Sub konsep cahaya dalam model pembelajaran MMI juga mengandung gambar-gambar fenomena alamiah secara mendetail dibandingkan sub konsep yang lain, sehingga tanggapan siswa merasa terbantu dengan tampilan gambar fenomena ini. Implikasinya penguasaan konsep siswa untuk sub konsep cahaya mengalami peningkatan yang paling besar dibandingkan dengan yang lainnya. Pemantulan pada cermin lengkung mengalami peningkatan penguasaan konsep yang paling rendah, untuk kelompok eksperimen yaitu 38,7 %. Hal ini terjadi karena soal-soal pada konsep cermin lengkung (cekung dan cembung) banyak terdapat soal-soal yang mengandalkan pemahaman konsep yang mendalam. Soal-soal pada konsep cermin lengkung tidak hanya soal penerapan rumus saja (C3), melainkan pada aspek analisis (C4), dan evaluasi (C5) dalam Taksonomi Bloom yang direvisi.

Gambar 3 menunjukkan bahwa sikap siswa rata-rata mengalami perbaikan dalam setiap indikator setelah melakukan pembelajaran dengan model MMI. Perbaikan sikap belajar siswa yang paling tinggi terjadi pada indikator menyelesaikan soal-soal yang ada menunjukkan sikap keaktifan siswa dan berusaha memperhatikan pelajaran di kelas menunjukkan sikap perhatian (2,7), sedangkan yang terendah terjadi pada indikator semangat dalam memahami materi menunjukkan motivasi (2,5). Pada semua indikator cenderung lebih memperbaiki sikap belajar siswa dari sebelumnya.

Perbaikan sikap belajar siswa terjadi untuk semua indikator. Hal ini sesuai dengan hasil temuan bahwa siswa merasa termotivasi dan senang setelah menggunakan model pembelajaran MMI, sehingga sikap mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi dapat disimpulkan, selain meningkatkan penguasaan konsep, model pembelajaran MMI juga dapat memperbaiki sikap belajar siswa. Temuan ini sesuai dengan yang diungkapkan Sudarman (2007); Sutinah (2006); Jamaludin (2007) bahwa pembelajaran dengan model MMI dalam pemanfaatan software dan internet dapat meningkatkan aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude) siswa.

Keterangan:

  1. Menyelesaikan soal-soal yang ada (keaktifan siswa)

  2. Berusaha memahami teori yang diajarkan (memahami sendiri)

  3. Ketertarikan dengan materi fisika (pengulangan konsep)

  4. Semangat dalam memahami materi (motivasi)

  5. Berusaha memperhatikan pelajaran di kelas (perhatian)


Garis putus-putus (- - -) menunjukkan bahwa batas dimana sikap belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran MMI masih sama saja dibanding dengan sebelum pembelajaran (model pembelajaran konvensional)


Gambar 3. Respons Siswa tentang Sikap Belajar untuk Setiap Indikator


Kesimpulan

Dari hasil pengolahan dan analisis data dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran Multimedia Interaktif (MMI) secara signifikan dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep Optika Geometri dibanding model pembelajaran konvensional. Selain itu, penggunaan model pembelajaran MMI Optika Geometri juga dapat memperbaiki sikap belajar siswa.

Daftar Pustaka


Arsyad, A. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Fraenkel, J. R. dan Wallen, N. E. (1993). How to Design and Evaluate Research in Education (second ed.). New York: McGraw-Hill Book Co.

Hake, R. R. (1999). Analyzing Change/Gain Scores. [Online]. Tersedia: http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903&L=aera-d&P=R6855 [22 April 2008]

Jamaludin, A. (2007). Internet Menuju Sekolah: Jardiknas. [Online]. Tersedia: ade_smkams@yahoo.co.id [12 Desember 2007]

Lee, Nicoll, dan Brooks. (2002). A Comparison of Inquiry and Worked Example Web-Based Instruction Using Physlets. Dalam Computers & Education [Online], Vol 10 (5), 7 halaman. Tersedia: www.elsevier.com/locate/compedu [12 Maret 2007]

Sudarman. (2007). ”Problem Based Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah”. Jurnal Pendidikan Inovatif. 2, (2), 68-73.

Sutinah, A. (2006). Pembelajaran Interaktif Berbasis Multimedia di Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia: www.google.com/pembelajaran/ interaktif/sutinah [12 Desember 2007]


TIMMS. (2004). Highlihts from The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMSS). Washington, D.C: National Center for Statistics (NCES), Institute of Education Sciences, U.S. Departement of Education.




Jumat, 12 September 2008

Bermain Drama

Anak-anak menonton film pasti sudah biasa, tapi anak-anak menjadi pemain film, bahkan tanpa sutradara, itu baru luar biasa.

Itulah yang terjadi pada anak-anak saya. Sejak kami belikan VCD beberapa film ini: Fireman Sam (Si Pemadam Kebakaran), Postman PAT (Si Tukang Pos), dan Bob the Builder (Si Ahli Bangunan). Anak-anak akan memainkan tokoh-tokoh dalam film itu secara bergantian. Kadang-kadang mereka mainkan skenario pemadam kebakaran dan mereka jadikan benda-benda yang mereka mainkan sebagai tokoh-tokoh dalam film itu. Tentu saja benda-benda yang jadi tokoh film tidaklah menyerupai aslinya, melainkan hanya balok-balok atau kotak kardus yang mereka imajinasikan sebagai tokoh, dan merekalah yang menjadi pengisi suaranya.

Anehnya, mungkin karena mereka menonton dan memainkannya kembali, mereka jadi hafal dialog-dialog film itu secara persis. Sambil sibuk memindahkan kotak dan perlengkapan main, atau bahkan saat menggunting kertas dan mewarnai gambar biasanya mereka bergumam-gumam dalam sebuah dialog dengan intonasi yang persis sama dengan film aslinya.

Peralatan dan perlengkapan main yang mereka pakai hanyalah perlengkapan sederhana yang ada di rumah. Mereka pakai kardus bekas yang sengaja saya sediakan, kertas-kertas, gunting, pensil, buku-buku, dan lain-lain. Biasanya, buku dijadikan laptop, kursi kecil mereka jadikan mobil. Semua properti itu diubah-ubah sesuai keperluan skenario.

Nah, sudah jadi lah mereka para pemain drama. Orang dewasa mungkin sering kesulitan menghafal skenario, itu tidak terjadi pada anak-anak. Mereka menikmati setiap dialog dan ... nampaknya permainan itu demikian mengasyikkan sehingga selalu mereka lakukan setiap hari tanpa bosan. Hal positifnya, kosa kata mereka jadi bertambah dan kemahiran berbicara jadi meningkat. Mungkin mau mencobanya juga di rumah? Filmnya bisa apa saja asalkan bermuatan positif, tidak mengandung unsur kekerasan, dan tidak mengandung kata-kata yang negatif.

Selasa, 09 September 2008

Bertani Yuk!


Kegiatan pertanian cukup menarik untuk dilakukan bersama anak-anak. Tentu saja pertanian yang dimaksud dilakukan dalam porsi sederhana: Asal anak-anak terlibat dan kenal dan mudah-mudahan akhirnya jadi suka dan cinta pertanian. Buat keluarga yang tidak punya halaman yang luas dan bahkan mungkin sudah tidak menyisakan tanah kosong kecuali ruang bersemen di depan atau di belakang rumah, solusinya adalah memanfaatkan polybag atau pot sebagai tempat menanam.

Saat ini kami sedang menikmati pertumbuhan sawi putih yang kami tanam sekitar 1,5 bulan yang lalu. Kebetulan, sawi putih adalah sayuran kesukaan Azkia. Setelah kami coba menanamnya, banyak hal baru kami temukan. Sawi putih yang senang tempat lembab ini begitu cepat tumbuh. Dalam 3 hari benih yang kami tabur di atas semaian sudah bermunculan. Hampir tak percaya bahwa itu adalah bibit kecil sawi putih, karena bentuknya memang berbeda dengan sawi putih dewasa.

Setelah sawi cukup besar, mulailah muncul ulat sayur yang gemuk di salah satu helai daunnya. Wah, tentu saja itu jadi tontonan mengasyikkan buat anak-anak. Hal menarik lainnya adalah kemunculan banyak belalang kecil di halaman gara-gara sayuran kami itu. Meskipun anak-anak senang bukan main melihat belalang yang melompat-lompat saat di sentuh, tapi tentu saja fokus kami adalah sayurannya. Jadi, kami usir......

Sekarang sawi putih kami sedang menjalani masa pertumbuhan yang pesat. Setiap pagi selalu terlihat pertumbuhan yang berarti. Modalnya hanya menyirami mereka secara rutin pagi dan sore. O'ya. Media tanam yang kami pakai adalah tanah, pupuk kandang, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1.

Banyak tetangga yang ikut memperhatikan pertumbuhan sawi-sawi kami. Tahukah, ternyata mereka juga penasaran ingin melihat sawi-sawi itu mencapai bentuk sempurna, sama dengan sawi putih yang biasa mereka beli di warung sayur.

Sebagai salah satu kegiatan belajar praktis ala homeschooler, bertani kecil-kecilan seperti ini sangat menantang dan pastinya menghasilkan :) Mau mencoba?

Minggu, 07 September 2008

Cara Lain Membuat Playdough

Beberapa waktu lalu saya sempat memposting cara membuat lilin mainan atau playdough. Akan tetapi, ternyata cara saya itu kurang efisien, karena daya tahannya hanya bisa 1 minggu maksimal. Ada cara lain yang membuat playdough buatan kita bisa tahan lebih lama sampai 1 bulan. Ini dia resep dan cara membuatnya.....


Bahan

- Tepung terigu 200 gram (yang kualitasnya tidak terlalu bagus)
- Garam 1 cangkir
- 1 - 2 gelas air
- 2 sendok minyak goreng
- Pewarna makanan


Cara membuatnya
- Campurkan tepung dengan air, aduk sampai rata
- Masukkan garam dan minyak goreng
- Panaskan adonan di atas kompor dengan api kecil sampai kental dan kalis (tidak lengket di panci)
- Setelah dingin pisahkan gumpalan adonan menjadi beberapa bagian
- Warnai setiap bagian dengan warna berbeda
- Nah, playdough siap digunakan.
- Simpan kembali playdough di lemari es setelah dipakai. Gunakan wadah tertutup supaya adonan tidak tertetesi air.

Selamat mencoba!


Selasa, 02 September 2008

Kurikulum Tentang Obat dan Kesehatan

Suatu pagi saya membaca sebuah berita di salah satu koran terbitan Bandung, tentang jaminan kesehatan untuk rakyat miskin yang kini agak semakin sulit didapat. Terpajanglah foto antrian para pasien GAKIN yang penuh sesak di loket administrasi sebuah rumah sakit. Sebuah potret yang pasti juga akrab kita saksikan jika kita sesekali menyambangi rumah sakit pemerintah untuk menengok kerabat atau mungkin ada anggota keluarga kita yang dirawat di sana.

Di luar konteks bahwa memang ada strata sosial yang berlaku di sebuah lembaga pengobatan resmi, saya pikir masalah lainnya yang juga penting adalah paradigma masyarakat tentang obat dan kesehatan. Beberapa pertanyaan cukup mengganggu pikiran saya, di antaranya adalah: Tak adakah cara lain untuk mengobati sebuah penyakit selain ke rumah sakit, sehingga orang terkategori pasien miskin rela mengantri susah payah, harus pula membawa beberapa lembar surat, untuk sebuah diagnosis dan resep obat?

Malah dengan adanya tambahan persyaratan untuk askeskin, peluang untuk memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit pun kian menyempit. Jika pun bisa, banyak hal yang harus dikorbankan, di mana salah satunya adalah waktu yang diulur. Tak jarang ada banyak pasien tak tertolong jiwanya hanya karena keterlambatan birokrasi di bagian administrasi.

Namun, tanpa harus menunggu jawaban mereka, saya bisa menebak jawabannya apa: Yaitu, karena mereka dan pada umumnya masyarakat bahkan mungkin termasuk kita, tidak mengerti bagaimana mendeteksi sebuah penyakit dan apa yang bisa dijadikan obat.

Ilmu Kesehatan
Kesehatan adalah bidang yang terpenting ke-dua setelah pangan atau pertanian. Mengapa begitu? Pasti kita tahu, karena hal itu terkait dengan jiwa manusia. Sayangnya, justru ilmu tentang kesehatan justru menjadi bidang yang eksklusif, yang hanya bisa dipelajari oleh orang-orang yang bersekolah di bidang kesehatan, entah itu kedokteran, kebidanan, ataupun keperawatan. Sebuah sekolah yang biayanya juga tak mungkin dijangkau oleh orang-orang "kebanyakan".

Jika kesehatan dianggap sebagai bidang yang penting bagi masyarakat, semestinya hal itu disosialisaikan dan diajarkan sejak seseorang mulai menempuh pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal.

Setidaknya, setiap orang tahu bagaimana menjaga kesehatan mereka dan tahu alternatif-alternatif obat yang bisa mereka usahakan jika tindakan medis modern tidak bisa dijalani karena mahalnya biaya berobat.

Obat-Obatan Alami
Banyak harapan bisa disandarkan pada obat-obatan dari bahan alami. Namun tantangannya lagi-lagi adalah paradigma dan juga pengetahuan. Kalau kita selalu berpikir bahwa sesuatu yang dinamakan obat adalah pil, kapsul, atau cairan dari rumah sakit atau dokter, dan selain itu tak bisa dijadikan obat, maka hal itu akan mensugesti pikiran kita setiap kali kita sakit. Selain itu, kenyataannya, pengetahuan tentang resep-resep pengobatan alami dari warisan orang-orang tua dulu tidak diwarisi oleh generasi sekarang.

Banyak tanaman yang tumbuh di sekitar tempat tinggal kita bisa dijadikan obat, bahkan untuk penyakit-penyakit berat. Namun karena ketidaktahuan kita, tanaman itu mungkin akan kita basmi habis karena dianggap mengganggu. Sebagai gantinya, kita pun kembali menyambangi rumah-sakit yang penuh sesak untuk mendapatkan obat saat kita sakit.

Ironis sekali jika kemiskinan menjadi dalih kita tak bisa sehat karena mahalnya biaya berobat ke rumah sakit, padahal di halaman rumah kita ada obat mujarab yang bisa kita peroleh secara gratis. Semua hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.

Lebih dari itu, budaya instan yang sudah menghinggapi hampir seluruh masyarakat hingga ke pedesaan. Hal itu menyebabkan kegiatan meracik obat dari bahan alami kurang diminati. Memang sangat wajar, karena dengan obat pabrik kita hanya cukup membuka bungkusnya lalu meminumnya, sedangkan obat-obatan alami membutuhkan beberapa tahapan proses yang tak semua orang telaten untuk melakukannya.

Sejak Dini
Tak kenal maka tak sayang. Ajari anak-anak kita sejak dini dengan pengetahuan tentang kesehatan, tentang obat-obatan hasil alam yang sudah dianugerahkan Allah pada manusia. Dengan begitu, mudah-mudahan ragam penghambat penggunaan obat alami yang dialami orang-orang dewasa saat ini tidak terjadi pada mereka kelak.

Setiap orang bisa berbeda pendapat, tapi inilah pendapat saya.
Salam pendidikan!