Minggu, 14 Februari 2010

STIKES Fithrah Aldar Gelar Wisuda Angkatan II

LUBUKLINGGAU-Sedikitnya tujuh mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKES Fithrah Aldar Lubuklinggau diwisuda. Pelaksanaan wisuda kali ini merupakan angkatan kedua diadakan keluarga besar STIKES Fithrah Aldar Lubuklinggau, artinya 13 mahasiswa telah diluluskan. Acara tersebut dipusatkan di Ball Room Hotel Sempurna Lubuklinggau, Sabtu (13/2).

“Kami berharap dengan wisuda kali ini, mahasiswa lulusan Fithrah Aldar mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan masyarakat. Sehingga dapat berguna bagi masyarakat, bangsa, negara, dan bagi dirinya sendiri,” harap Ketua Program S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKES Fithrah Aldar Lubuklinggau, Murawati Aini.

Sementara itu, Walikota Lubuklinggau, Riduan Effendi, yang diwakili Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Lubuklinggau, Hermansyah Unip menjelaskan, sesuai dengan Undang Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mengamanatkan bahwa pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk itu Pemkot Lubuklinggau telah berupaya secara maksimal melaksanakan amanat tersebut.

“Guna mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan yang akan semakin berat dan kompleks, maka Pemkot Lubuklinggau selalu berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan hal tersebut,” kata Hermasnyah.

Dalam kesempatan itu dia berharap, kepada para wisudawan/wisudawati untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam rangka mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan masyarakat.

“Saya berkeyakinan jika semua dapat bersatu padu dan merapatkan barisan akan dapat dicapai suatu hasil yang maksimal, sehingga mampu memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan di Kota Lubuklinggau. Pada kesempatan ini juga saya mengajak kepada semua pihak terutama yang terlibat secara langsung dalam proses penyelenggaraan pendidikan, untuk terus berjuang bersama dan membangun manusia Indonesia yang berkualitas sebagai perwujudan dalam mengemban amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelasnya.(05)

Jumat, 12 Februari 2010

Awas Ada Harvard "Prikitiw"

Senangya Ilmu Komputer




David J. Malan, Ph.D.

Instructor

Lebih lengkap di:

dmalan@harvard.edu
http://www.cs.harvard.edu/malan/

http://cs50.tv/.

Harvard College

blog.cs50.net.

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

"Adapun bentuk latihan diri yang dapat kita lakukan untuk menggapai bening hati ini adalah Menilai kekurangan atau keburukan diri. Patut diketahui bahwa bagaimana mungkin kita akan mengubah diri kalau kita tak tahu apa-apa yang harus kita ubah bagaimana mungkin kita memperbaiki diri kalau kita tak tahu apa yg harus diperbaiki. Maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan bersungguh-sungguh untuk belajar jujur mengenal diri sendiri dengan cara Memiliki waktu khusus untuk tafakur."
~Aa Gym~

Kamis, 11 Februari 2010

Sekolah Alam



Sekolah Alam


Belajar Kepada Rayap

Kita tentunya telah mengenal rayap dengan baik, siapa yang tidak kenal rayap. Hewan yang satu ini cendrung dikenal sebagai hama bagi kayu penopang rumah-rumah, namun siapa sangka kita dapat belajar dari rayap ini, semoga!

Oleh:

Marshall

Setiap musim penghujan, seringkali kita diganggu oleh segerombolan laron yang mengitari lampu diruang tamu atau di ruangan lain yang bisa menjadi sangat menjengkelkan. bandel..! kata nenek. memang wajar sih, soalnya binatang yang satu ini termasuk kategori yang "pantang menyerah" dalam urusan bikin jengkel. Sudah di sapu dan dibersihkan, masih saja banyak yang berterbangan. Lampu dimatikan, mereka berjatuhan, yang akhirnya makin membuat kita sibuk dengan bulu2 yang berterbangan. Masih kata nenek sih, mereka itu sedang dalam perjalanan menuju bulan..

Lupakan saja tentang legenda laron menuju bulan dalam rangka mengikuti sayembara. Hal yg harus anda perhatikan setelah kejadian itu adalah "memberikan perlindungan yang optimal terhadap barang-barang dan bagian rumah yang terbuat dari kayu..! "
Dalam perjalanannya menuju bulan..ups.. mengitari lampu maksud saya, ada yg kemudian jatuh cinta kepada rekan sekelompoknya. Nah, sepasang laron yg sudah saling jatuh hati ini akhirnya jatuh beneran ke lantai (tanah) menanggalkan sayapnya dan kemudian diiringi rasa cinta mereka bergandengan (seperti anak kecil main kereta-keretaan) mencari lubang yang dapat dipakai untuk berbulan madu.

Dalam rumah tangga laron (
Ordo Orthoptera) yg masih beranggotakan 2 personal inilah awal sebuah kerajaan dibentuk. Mula-mula semua pekerjaan mereka lakukan sendiri, seperti menggotong telur ke sudut penetasan, menyingkirkan tanah longsor, menutup celah bocor, dan berbagi makanan tentunya. Namun ketika sudah banyak telur yang menetas, maka "raja dan ratu" laron tadi sudah resmi dinobatkan.
Pekerjaan pun diambil alih oleh anak-anak laron sebagai rakyat jelata, mereka disebut rayap, alih-alih laron seperti bapak-ibunya.
Sementara itu, sang ratu laron hanya bertugas berkembang biak. bertelur dan terus bertelur. Tidak tanggung-tanggung, satu hari ratu laron bisa menghasilkan 18ribu telur. Yupz, 30 butir tiap menit selama 10 jam kerja. Ya, meskipun kadang2 dia juga mengambil cuti barang beberapa hari. bahkan ratu
Macrotermes Natalensis dari afrika pernah dihitung sampai 80ribu butir telur perharinya.

Ratu rayap yg terus-menerus bersalin ini bisa berumur panjang sampai 20 tahun. karena selain kerjanya cuma seperti itu, mulai dari pelayanan sampai gizi makanan ditanggung terjamin. Makan-nya di suapin loh..!

Anak-anak mandul yang militan

Anak-anak yg menetas dari telur kerajaan rayap ini berbeda-beda sosok tubuhnya. Ada yang mempunyai rahang yang luar biasa besarnya, sehingga ditugaskan sebagai serdadu. Kasta perajurit bagian gigit-menggigit ini bisa jantan dan bisa betina, tetapi semuanya mandul karena alat kelamin mereka tidak tumbuh sempurna. Dan kasta yg lainnya adalah saudara para rayap serdadu ini. Mereka memiliki rahang yg tidak begitu besar namun cukup kuat untuk menggerogoti kayu mati sampai keropos. Juga bertugas menyuapi anak2 dan sang ratu selain menggotong apa saja yg perlu digotong. Mereka juga dari jantan dan betina. Dan kesemuanya mandul.

Kemandulan masal ini karena dulu telur yg ditetaskan menjadi mereka ini tidak dibuahi. Semacam telur hermafrodit. Kalau ada telur yg dibuahi oleh sperma sang raja rayap, anak yg kemudian lahir tentu saja normal. Tetapi ternyata sang ratu punya kebijakannya sendiri. Kalau ia memandang perlu agar sang anak tidak tumbuh menjadi anak subur, maka ia akan memberikan hormon
feromon primer yg akan membuat macet perkembangan kelamin anak tersebut (yg nantinya akan terus menjadi robot mandul). Yang diberikan lewat mulut ketika anak bertugas menyuapi ibunya. Namun ketika sang ratu memandang perlu untuk menghasilkan anak yg akan meneruskan generasinya, ia tidak memberikan hormon pencegah dan membiarkan anak itu tumbuh menjadi mahluk berkelamin~bisa jantan, bisa betina~, yg nantinya akan kita sebut laron.

Mengabil Hikmah dari Rayap

Oleh: Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika & Tri Wahyuni

Dua puluh lima tahun ber"gaul" dengan rayap, Prof Dodi menyebut banyak nilai-nilai yang bisa diambil manusia dari kehidupan rayap.

Pertama, nilai kebersamaan. Rayap adalah serangga yang tergolong social insect dimana tidak bisa hidup sendirian. Karena tidak ada yang patut dibanggakan dari rayap yang bertumbuh sangat kecil, jalan sangat lambat, lembek dan buta. "Tetapi hati-hati bila rayap sudah bersama, mereka bisa membentuk satu kekuatan untuk merusak tanah, kayu maupun pohon," ujarnya.

Nilai kedua adalah disiplin. Karena para rayap itu bekerja sesuai dengan bidang kerjanya dan tepat waktu. Misalnya, rayap pekerja akan giat bekerja dan ratu rayap yang terus bereproduksi.

Nilai ketiga adalah bela negara, khusus untuk rayap tentara yang berani mati untuk membela koloninya.

Nilai keempat adalah rayap adalah pekerja keras. Tidak ada waktu bagi mereka untuk bermalas-malasan. Pembagian kerja dilakukan secara bergantian.

Dan nilai kelima adalah efisiensi. Rayap memakan bangsanya sendiri yang sedang sekarat sehingga tidak ada yang terbuang percuma. Sehingga tidak ada protein yang membusuk yang bisa mencemari lingkungan. Proteinnya diselamatkan para pekerja untuk energi lagi.

Pada musim tertentu, rayap menjadi laron dan beterbangan di bawah sinar lampu secara berpasang-pasangan. Setelah melepas sayapnya, pasangan rayap itu melakukan perkawinan dan mencari lokasi untuk membuat koloni. Bila dia berasal dari rayap kayu kering, biasanya sasarannya mencari kayu kering pula. Misalnya saja mebel. Dia masuk lewat retakan kecil mebel tadi. Rayap bisa masuk ke dalam rumah melalui fondasi atau kayu dinding rumah. Sedangkan laron yang berasal dari rayap tanah akan kembali ke tanah.

"Satu koloni rayap itu bisa mencapai jutaan ekor. Karena itu, jangan tertipu telah berhasil memberantas rayap di rumah, karena sebenarnya koloninya sudah berkembang men- capai jutaan ekor di dalam tanah.


Termite
Fossil range: 228–0 MaLate Triassic - Recent
Formosan subterranean termite soldiers (red colored heads) and workers (pale colored heads).
Scientific classification
Kingdom:Animalia
Phylum:Arthropoda
Class:Insecta
Subclass:Pterygota
Infraclass:Neoptera
Superorder:Dictyoptera
Order:Isoptera
Families

Mastotermitidae
Kalotermitidae
Termopsidae
Hodotermitidae
Rhinotermitidae
Serritermitidae
Termitidae



Semoga Bermanfaat
Wallohulam Bissawab!

Selasa, 09 Februari 2010

Pameran Pendidikan Kota Banjar Ke-1

Keluarga Pelajar Kota Banjar

Pelaksanaan : 30-01-2010 Hari sabtu
Pukul 07.00-17.00
Tempat GBI
Rekomendasi dinas : dihadiri +/- 1500 siswa SMA se Kota Banjar

Momen yang sangat menggembirakan ini adalah hasil dari kerja sama antar seluruh Pelajar Kota Banjar yang mendambakan kemajuan Pendidikan di Kota Banjar dan seluruh "stake holder"nya.


Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Banjar dan di dukung oleh SMAN Bertaraf Internasional 1 Banjar, para pelajar Kota Banjar bahu-membahu bekerjasama mewujudkan pameran ini, melalui semangat kebersamaan dan kekeluargaan akhirnya mereka mampu melaksanakan Ivent yang sangat meriah ini.

Disamping itu di adakan seminar dengan Narasumber:

1. Yoyo Suhyo, MD., M.Med.Ed.

(Candidate Ph.D. Medical Education. Groningen University, Netherlands.
Dosen UGM. Alumni SMAN 1 Banjar, Kota Banjar)

alamat:

Radiopoetro Building 6th
J.L. Farmako, Sekip Utara
Yogyakarta 55281-Indonesia.
Phone: +62-274-562139
Hp: +628174123116
E-mail: yo2suhoyo@yahoo.com

2. Nararya Rahadian Budiono

Universitas Negeri Jogjakarta


Moderator:

Arip Nurahman

Universitas Pendidikan Indonesia

&

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University,

Cambridge. USA.


Visi dan Misi Ke Depan:


1. Semoga di tahun-tahun mendatang acara pelaksanaan pameran ini lebih baik lagi

2. Adanya perhatian lebih dari Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat Kota Banjar

3. Semoga Pameran ini terus berlanjut di setiap tahun dan menjadi salah satu indikator kemajuan pendidikan Kota Banjar

4. Menjadikan para pelajar Kota Banjar berprestasi dan berdaya saing tinggi dengan kualitas yang mumpuni

5. Mengantarkan para pelajar Kota Banjar meraih harapan dan impiannya

6. Pelajar Kota Banjar Mempunyai Kualitas Internasional dan cinta terhadap budaya lokal

7. Memupuk Kebersamaan dan Kekeluargaan Seluruh Pelajar Kota Banjar

8. Mewujudkan Pelajar Kota Banjar yang ber-IMTAQ dan ber-IPTEKS


Pelajar dari Kota Banjar


Karya KMKB, Bandung Jawa Barat

KMKB, Keluarga Mahasiswa Kota Banjar, Bandung Jawa Barat

Banjar Institute of Government Studies

(BIGS)

Pusat Panalungtikan Kabijakan Stratehis Pemkot Banjar

Visi

CSGS

Centre for Strategic and Goverenment Studies


Misi

1. Panalungtikan dina Widang Pendidikan

2. Panalungktikan dina Widang Kasehatan

3. Panalaungtikan dina Widang Ekonomi

Program

1. Menerbitkan Buletin 1 tahun 2 Kali


Terima Kasih Kepada Seluruh Pelajar Kota Banjar yang telah "Berjibaku" demi terselenggaranya ivent yang luar biasa ini, kita yakin dengan pendidikan yang Berkualitas Kota Kita Tercinta akan lebih maju lagi.

Semoga! Kita Bisa!

Jayalah Kota Banjar!

http://pendidikan-keilmuan.blogspot.com/

Senin, 08 Februari 2010

Pembelajaran Kemampuan Berpikir Kritis dalam Aplikasi Bidang Kedokteran

Kajian Kritis tentang Permasalahan Sekitar Pembelajaran Kemampuan Berpikir Kritis
Sudaryanto
Program Diploma Ilmu Pendidikan Kedokteran
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Pendahuluan
Ilmu kedokteran merupakan bidang ilmu terapan, dimana pengetahuan yang kompleks digunakan untuk memecahkan satu masalah yang sama. Hal ini berbeda dengan ilmu murni dimana pengetahuan dan masalah yang dicari pemecahannya bersifat horisontal. Proses berpikir logis lebih tepat digunakan pada penelitian ilmu murni, sedangkan masalah di kedokteran menggunakan proses berpikir yang lebih luas yaitu rasional dan obyektif. Proses berpikir rasional dan obyektif dikenal dengan istilah berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan kunci utama keberhasilan dalam menyelesaikan masalah klinis sebagai prerequisite dari kompetensi clinical reasoning.
Clinical reasoning tidak hanya ditentukan dari proses yang digunakan oleh seorang dokter untuk menentukan keputusan klinik, melainkan dari pemahaman individu terhadap materi pengetahuan dan pengorganisasian pengetahuan. Pemahaman individu terhadap materi pengetahuan ditentukan oleh cara yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang didapatkan melalui proses berpikir kritis mempunyai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Mahasiswa kedokteran seharusnya mengoleksi pengetahuan dengan kualitas pemahaman yang lebih baik. Hal ini memerlukan pengajaran yang menggunakan strategi perpikir kritis terhadap semua pokok bahasan di kedokteran.
Pada prakteknya penerapan proses belajar mengajar kurang mendorong pada pencapaian kemampuan berpikir kritis. Dua faktor penyebab berpikir kritis tidak berkembang selama pendidikan adalah kurikulum yang umumnya dirancang dengan target materi yang luas sehingga dosen lebih terfokus pada penyelesaian materi dan kurangnya pemahaman dosen tentang metode pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Anderson et al., 1997; Bloomer, 1998; Kember, 1997 Cit in Pithers RT, Soden R., 2000).
Tulisan ini bertujuan memberikan kajian tentang permasalahan cara belajar berpikir kritis terhadap pokok bahasan di kedokteran, serta panduan dalam program pengembangan staf yang memberikan perhatian untuk membantu siswa menjadi seorang yang mampu berpikir kritis.
Keterampilan Intelektual dan Perkembangan Kognitif
Pendekatan belajar yang diperlukan dalam meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari dipengaruhi oleh perkembangan proses mental yang digunakan dalam berpikir (perkembangan kognitif) dan konsep yang digunakan dalam belajar. Perkembangan merupakan proses perubahan yang terjadi sepanjang waktu ke arah positif. Jadi perkembangan kognitif dalam pendidikan merupakan proses yang harus difasilitasi dan dievaluasi pada diri mahasiswa sepanjang waktu mereka menempuh pendidikan termasuk kemampuan berpikir kritis. Rath et al (1966) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis adalah interaksi antara pengajar dan siswa. Mahasiswa memerlukan suasana akademik yang memberikan kebebasan dan rasa aman bagi siswa untuk mengekspresikan pendapat dan keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu komponen berpikir kritis yang perlu dikembangkan adalah keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual merupakan seperangkat keterampilan yang mengatur proses yang terjadi dalam benak seseorang. Berbagai jenis keterampilan dapat dimasukkan sebagai keterampilan intelektual yang menjadi kompetensi yang akan dicapai pada pogram pengajaran. Keterampilan tersebut perlu diidentifikasi untuk dimasukkan baik sebagai kompetensi yang ingin dicapai maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan proses pengajaran.
Bloom mengelompokkan keterampilan intelektual dari keterampilan yang sederhana sampai yang kompleks antara lain pengetahuan/pengenalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keterampilan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi pada taksonomi Bloom merupakan keterampilan pada tingkat yang lebih tinggi (Higher Order Thinking) (Cotton K.,1991). Kesepakatan yang diperoleh dari hasil lokakarya American Philosophical Association (APA, 1990) tentang komponen keterampilan intelektual yang diperlukan pada berpikir kritis antara lain interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self regulation (Duldt-Battey BW, 1997).
Masing-masing komponen tersebut merupakan kompetensi yang perlu disusun dan disepakati oleh para dosen tentang perilaku apa saja yang seharusnya dapat ditunjukkan oleh mahasiswa pada tiap-tiap komponen di tiap-tiap tingkat sepanjang program pendidikan.
Strategi pembelajaran berpikir kritis
Kember (1997) menyatakan bahwa kurangnya pemahaman pengajar tentang berpikir kritis menyebabkan adanya kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau melakukan penilaian keterampilan berpikir pada siswa. Seringkali pengajaran berpikir kritis diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan memecahkan masalah merupakan sebagian dari kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R., 2000).
Review yang dilakukan dari 56 literatur tentang strategi pengajaran keterampilan berpikir pada berbagai bidang studi pada siswa sekolah dasar dan menengah menyimpulkan bahwa beberapa strategi pengajaran seperti strategi pengajaran kelas dengan diskusi yang menggunakan pendekatan pengulangan, pengayaan terhadap materi, memberikan pertanyaan yang memerlukan jawaban pada tingkat berpikir yang lebih tinggi, memberikan waktu siswa berpikir sebelum memberikan jawaban dilaporkan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Dari sejumlah strategi tersebut, yang paling baik adalah mengkombinasikan berbagai strategi. Faktor yang menentukan keberhasilan program pengajaran keterampilan berpikir adalah pelatihan untuk para pengajar. Pelatihan saja tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan berpikir jika penerapannya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, tidak disertai dukungan administrasi yang memadai, serta program yang dijalankan tidak sesuai dengan populasi siswa (Cotton K., 1991).
Penulis menilai strategi belajar kelas lebih sesuai pada pengajaran tingkat dasar dan menengah seperti hasil-hasil penelitian yang dilaporkan pada artikel tersebut. Pada pendidikan tingkat lanjut mahasiswa dipersiapkan untuk dapat belajar lebih mandiri sebagai modal yang diperlukan pada saat bekerja. Artikel tersebut juga melaporkan bahwa strategi pengajaran yang diarahkan melalui komputer (CAI) mempunyai hubungan positif terhadap perkembangan intelektual dan pencapaian prestasi. Strategi tersebut dapat menjadi pilihan dalam pendidikan tinggi, sehingga mahasiswa dapat mengatur cara belajarnya secara mandiri.
Strategi pengajaran berpikir kritis pada program sarjana kedokteran yang dilakukan di Melaka Manipal Medical College India adalah dengan memberikan penilaian menggunakan pertanyaan yang memerlukan keterampilan berpikir pada level yang lebih tinggi dan belajar ilmu dasar menggunakan kasus klinik untuk mata kuliah yang sudah terintegrasi menggunakan blok yang berbasis pada sistem organ. Setelah kuliah pendahuluan, mahasiswa diberikan kasus klinik serta sejumlah pertanyaan yang harus dijawab beserta alasan sebagai penugasan. Jawaban didiskusikan pada pertemuan berikutnya untuk meluruskan adanya kesalahan konsep dan memperjelas materi yang belum dipahami oleh mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa pada program tersebut menunjukkan prestasi yang lebih baik dalam mengerjakan soal-soal hapalan maupun soal yang menuntut jawaban yang memerlukan telaah yang lebih dalam. Mahasiswa juga termotivasi untuk belajar (Abraham RR., et al., 2004).
Penelitian tersebut membuktikan dua hal dalam pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1. Dengan menggunakan konteks yang relevan seperti masalah klinik yang dipahami oleh mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus meningkatkan prestasi akademisnya.
2. Cara penilaian yang memerlukan telaah yang lebih dalam, mendorong siswa untuk belajar secara lebih bermakna daripada sekedar belajar untuk menghapal.
Artikel di atas menyatakan bahwa pertanyaan diberikan setelah memperoleh kuliah pendahuluan konsep dasar dari ilmu dasar yang dipelajari. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang diberikan telah disusun oleh dosen dengan konsep yang jelas sehingga tidak memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menentukan informasi yang diperlukan untuk membangun konsep sendiri. Sedangkan salah satu karakter seorang yang berpikir kritis adalah self regulatory, sehingga pengajaran tersebut dapat dikombinasikan dengan strategi lain agar mahasiswa dapat menentukan informasi secara mandiri. Artikel tersebut juga tidak menjelaskan bagaimana proses diskusi yang dilakukan pada kelas besar, sehingga setiap mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menyampaikan argumentasi dari jawaban pertanyaan yang diberikan. Penulis beranggapan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dapat dimasukkan ke dalam study guide sebagai salah satu sumber belajar ketika mahasiswa dalam belajar mandiri pada strategi Problem Based Learning.
Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok kecil juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Resnick L., 1990; Rimiene V., 2002; Gokhale A.A., 2005). Dengan berdiskusi siswa mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun pemahaman, meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.
Evaluasi kemampuan berpikir kritis
Evaluasi merupakan proses pengukuran pencapaian tujuan yang diinginkan dengan menggunakan metode yang teruji validitas dan reliabilitasnya. Beberapa penelitian mengevaluasi kemampuan berpikir kritis dari aspek keterampilan intelektual seperti keterampilan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang berbasis taxonomi Bloom1,3. Sedangkan tujuan pengajaran berpikir kritis meliputi keterampilan dan strategi kognitif, serta sikap.
Colucciello menggabungkan berbagai elemen yang digunakan dalam penelitian dan komponen pemecahan masalah keperawatan serta kriteria yang digunakan dengan komponen keterampilan dan sikap berpikir kritis. Elemen tersebut antara lain menentukan tujuan, menyusun pertanyaan atau membuat kerangka masalah, menunjukkan bukti, menganalisis konsep, interpretasi, asumsi, perspektif yang digunakan, keterlibatan, dan kesesuaian. Dengan kriteria antara lain: kejelasan, ketepatan, ketelitian, keterkaitan, keluasan, kedalaman, dan logikal2. Dia juga membandingkan dengan inventory yang sudah ada seperti California Critical Thinking Test (CCTT) untuk mengevaluasi keterampilan berpikir kritis dan Critical Thinking Disposition Inventory (CTDI) untuk mengevaluasi sikap berpikir kritis2.
Evaluasi juga menilai kesesuaian rencana dengan penerapan di lapangan (evaluasi proses) yang termasuk di dalamnya adalah mengevaluasi budaya akademik dalam kelas dan budaya akademik dalam fakultas yang dilakukan secara sistematis baik oleh dosen maupun administrator yang dinyatakan oleh Orr and Klein, 19914. Penilaian mahasiswa terhadap dosen dapat menggunakan berbagai karakteristik sikap yang menghambat atau mendorong kemampuan berpikir kritis yang telah dibahas sebelumnya.
Kesimpulan
Strategi pengajaran yang mendorong mahasiswa berpikir kritis terhadap pokok bahasan di kedokteran dapat menggunakan berbagai strategi pengajaran yang menggunakan pendekatan di bawah ini:
• Pembelajaran Aktif
• Pembelajaran Kolaboratif
• Pembelajaran Kontekstual
• Menggunakan pendekatan higher order thinking
• Self directed learning
Kombinasi dari berbagai strategi di lebih dianjurkan oleh karena dapat mencapai berbagai aspek dari komponen berpikir kritis. Teknologi pengajaran yang menerapkan kombinasi dari berbagai strategi yang ada saat ini misalnya Problem Based Learning (PBL). Fakultas Kedokteran perlu mengembangkan strategi pengajaran tersebut dalam pengajaran agar mahasiswa dapat belajar materi kedokteran melalui proses berpikir kritis. Dengan demikian mahasiswa dapat memberi makna yang lebih dalam (bukan sekedar mendapat materi yang dalam) dari materi yang dipelajari. Pemahaman terhadap makna pokok bahasan yang dipelajari mempunyai hubungan dengan kemampuan clinical reasoning sebagai kompetensi seorang dokter.

Sabtu, 06 Februari 2010

Awas Ada Harvard "Prikitiw"

Senangnya Ilmu Komputer



David J. Malan, Ph.D.

Instructor

Lebih lengkap di:

dmalan@harvard.edu
http://www.cs.harvard.edu/malan/

http://cs50.tv/.

Harvard College

blog.cs50.net.

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

"Kawan sejati yang memiliki komitmen untuk saling mengkoreksi semata-mata untuk kebaikan bersama yang memiliki komitmen untuk saling mewangikan mengharumkan memajukan dan diantara menjadi cermin bagi satu yang lainnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tentu saja dengan niat dan cara yang benar jangan sampai malah saling membeberkan aib yang akhirnya terjerumus pada fitnah."

~Aa gym~

Rabu, 03 Februari 2010

Jangan Remehkan Anak-Anak

Suatu pagi saya dan anak-anak membaca buku tentang teknologi dan kesehatan. Ketemulah kami dengan pembahasan tentang penyakit ginjal. Mumpung lagi antusias, saya ambil visual dictionary untuk belajar lebih jauh tentang organ ginjal dan fungsi-fungsi setiap bagiannya.

Setelah selesai menelusuri anatomi ginjal, Luqman (5,5 tahun) penasaran juga dengan organ lainnya, dan dia menunjuk lambung sambil berkata, "Mama, di sini ada banyak enzym dan asam lambung. Mama tahu nggak, apa gunanya enzym dan asam lambung itu?" Saya menggeleng untuk mendengar pengetahuan dia tentang itu.

"Enzym dan asam lambung itu gunanya untuk mencernakan makanan" jawab dia yakin. Lagi-lagi. Peristiwa seperti ini sangat sering terjadi untuk topik-topik yang lain. Saya merasa tak pernah mengajari dia tentang ini, tak pernah pula membicarakannya sebelum ini. Dalam beberapa hal seringnya mereka lebih tahu dibandingkan kami orang tuanya.

Hmmmm..... Jangan remehkan anak-anak. Mereka adalah pembelajar alami. Mereka belajar dengan cara yang tidak kita duga. Bedanya dengan sekolah formal, anak-anak home-education belajar tanpa berorientasi menyelesaikan soal ujian. Pengetahuan mereka akan keluar dengan sendirinya ketika mereka menemukan konteks yang sesuai.

Tony Buzan bilang, semua anak yang lahir adalah calon jenius tanpa kecuali.
Tinggal kita beri mereka kesempatan untuk mengeksplor lingkungannya, memberi stimulus yang membangkitkan rasa ingin tahu, dan menginformasikan serangkaian tools, sehingga mereka bisa memperoleh pengetahuan secara mandiri, karena orang tua juga pasti punya keterbatasan ilmu kalau harus menjelaskan semuanya.