Jumat, 17 Agustus 2012
Aral Bukan "Laut Yang Hilang"
Sabtu, 21 Juli 2012
Riyadhah Ramadhan: Sedikit Tapi Kontinyu
Anak-anak kami bisa dikatakan agak terlambat untuk mulai berpuasa dibandingkan anak-anak lain yang bahkan sudah mulai pada usia 6 tahun. Baru di usia 8 Azkia mulai ingin belajar puasa setengah hari, dan di usia 9 tahun nyaris penuh, kecuali batal karena perjalanan jauh kami ke Sumatra Barat dan Aceh tahun lalu.
Sementara itu, si kecil Luqman, tahun lalu, di usia 7 tahun baru mulai mencoba puasa setengah hari sampai jam 3. Namun Ramadhan tahun ini, di hari pertama shaum, terlihat ia berusaha begitu keras. Setelah pukul 12 siang berdentang, ia masih bertahan, menjelang jam 3 ia minta izin berbuka dengan air tapi puasa lagi setelah itu. Saat maghrib tiba, ia tidak mau berbuka makan duluan kecuali bersama-sama.
Kunci inti yang saya simpulkan dalam menanamkan keinginan untuk berpuasa itu sebenarnya lahir dari integritas orang tua. Ketika orang tua menganggap penting puasa Ramadhan, memuliakan hari-hari di bulan ini maka lambat laun anak-anak akan memperoleh aliran energi untuk melakukan hal yang sama. Seperti sebuah celotehan ringan seorang kawan, "Untuk menjadikan anak-anak menjadi baik itu, gampang. Jadilah orang tua yang berakhlak baik, insya Allah anak-anaknya juga akan baik."
Segepok tips hanya diperlukan bagi mereka yang kurang memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Percayalah, dengan interaksi yang baik, dengan komunikasi yang baik, yang terjalin antara kita dan anak-anak, nilai-nilai itu tidak perlu dijejalkan, melainkan cukup hanya dicontohkan dan anak-anak akan tergerak untuk menirunya dengan kesadaran sendiri. Adapun pemahaman mereka tentang hakikat amalan yang mereka tiru adalah fase berikutnya, sebagai sebuah perjalanan spiritual mereka sendiri.
Saya tidak membuat form isian untuk melatihkan disiplin Ramadhan. Saya ganti form riyadhah dan semacamnya dengan cukup melatihkan sedikit (1-2) kebiasaan baru yang bisa mereka jangkau secara konsisten. Sederet aktivitas yang terlalu penuh bisa jadi malah tidak sanggup mereka jalani. Akibatnya, mereka tidak memiliki kesan yang baik dengan Ramadhan.
Ketidakmampuan mencapai target bagi anak-anak tidaklah sederhana. Ketika impuls saraf di otak akan melontarkan energi listrik yang luar biasa sehingga gairah belajar naik saat anak berhasil mencapai sesuatu, maka ketika gagal dan terlalu banyak gagalnya, akan berdampak sebaliknya.
Kita tidak perlu membandingkan anak kita dengan anak lain. Setiap anak berkembang sesuai kapasitasnya. Terpenting, proses belajar tidak pernah berhenti. Proses adalah tahapan yang jauh lebih penting untuk dihargai daripada hasil. Tugas manusia adalah berikhtiar, sementara hasilnya ada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Berkehendak.
Buat saya, perubahan kecil yang bisa dijalankan secara kontinyu jauh lebih baik daripada perubahan banyak yang hanya sesekali bisa dilakukan. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit”(HR Bukhari dan Muslim).
Wallahu'alam bishshowwab. Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan.
Kamis, 19 Juli 2012
Foto Pertama di Dunia Yang di Upload ke Internet
Begitu dilihat, kesan pertama jelas sekali foto ini terlihat buruk, terlebih dengan kemajuan teknologi photoshop ataupun facebook. Tapi justru foto ini adalah foto bersejarah. foto dari empat perempuan dalam pose menggoda diyakini sebagai gambar pertama yang pernah di upload ke internet.
Para wanita yang menarik ditampilkan dalam gambar 20 tahun yang lalu. Mereka adalah anggota dari sebuah band parodi yang merupakan pekerja di laboratorium CERN. Band, yang dikenal sebagai Les Cernettes Horribles, beranggotakan asisten administrasi di laboratorium dan mitra ilmuwan, menurut Motherboard website, yang telah meneliti asal foto itu.
Citra mereka yang diupload karena penemu world wide web, Tim Berners-Lee, bekerja di CERN pada saat itu. Silvano de Gerrano, yang mengambil gambar, bekerja dengan Mr Berners-Lee sebagai pengembang TI di laboratorium. Dia juga berhasil dan menulis lagu untuk Cernettes dan mengambil gambar mereka ketika mereka muncul di sebuah festival musik oleh administrator CERN.
Ketika Berners-Lee dan timnya menguji versi baru dari sistem web mereka – salah satu yang dapat mendukung foto – ia mendekati Mr de Gennaro, yang melewatinya gambar band. “Ketika sejarah terjadi, Anda tidak tahu bahwa Anda di dalamnya,” kata Mr de Gennaro Motherboard.
pengembang IT Silvano de Gennaro
Bapak Berners-Lee menyerahkan foto, yang diambil pada tanggal 18 Juli 1992, untuk programmer pada proyek web, Jean-François Groff, yang bekerja di atasnya. Bapak Groff mengatakan Motherboard itu, sampai saat itu, tim hanya meletakkan program web di internet untuk seratus outlet, sebagian besar laboratorium fisika.
Dia mengatakan itu membantu meyakinkan bos di CERN popularitas potensi internet.
Berners-Lee
“Untuk meyakinkan manajemen bahwa kita harus terhubung ke Internet CERN dan tidak hanya ke jaringan eksklusif, ‘katanya,’ kita harus berjuang untuk meyakinkan mereka betapa berguna internet itu nanti. Itu sebabnya kami hanya menempatkan hal yang serius di atasnya. Jadi semacam revolusi untuk berkata, “Sekarang mari kita lakukan sesuatu yang menyenangkan dengan internet”.
Jumat, 18 Mei 2012
Muasal Sejarah Nama Indonesia
Kamis, 17 Mei 2012
Belajar, Proses, dan Sunatullah
Proses. Bahkan para wali Allah pun memperoleh ilmunya melalui belajar. Ilmu tidak turun dengan begitu saja kepada mereka, melainkan dengan belajar. Proses adalah sunatullah, dan belajar adalah salah satu wujud kongkret sebuah proses. Mengapa harus menentang sunatullah itu?
Berharap agar kemerdekaan dalam belajar terpenuhi mengingat sekolah formal dirasa terlalu mengekang, tidak harus menghancurkan sunnah-sunnah yang sudah ditetapkan Allah. Manusia di dunia fana ini bergelut dengan proses. Manusia di dunia fana ini bergelut dengan usaha-usaha. Demikian juga halnya untuk membuat anak-anak berpengetahuan, berkepribadian baik, berketerampilan, dan ideal-ideal lainnya tidak cukup hanya dengan menyerahkan mereka pada 'alam' tanpa proses belajar.
Jikapun ada keberhasilan yang diperoleh dengan cara tersebut, maka hasilnya untung-untungan. Ketika lingkungan yang membentuknya memang menggiring anak pada bertumbuhnya kemampuan-kemampuan, mungkin mereka akan mencapai taraf yang diharapkan, namun ketika kondisi lingkungan ternyata sebaliknya, bagaimana? Suatu hari saya yakin kita akan menyesal karena membiarkan waktu berlalu tanpa usaha, dan menggerus kesempatan anak-anak untuk mencapai kemampuan-kemampuan diri sebagai bekal hidup mereka.
Seperti juga berharap ada sajian makanan tertentu di meja makan, manusia membutuhkan ikhtiar dari mulai menyediakan bahan bakunya hingga belajar proses mengolahnya. Sekali lagi saya meyakinkan diri saya sendiri: Ikhtiar adalah sunatullah untuk kehidupan di dunia fana ini. Maksimalkanlah ikhtiar untuk semua urusan, baru sisanya bertawakal kepada Allah.
Aplikasinya, orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal seperti saya, harus menuntun diri untuk konsisten dengan jadwal belajar anak-anak, betapapun sebentarnya. Jangan malas dan jangan lengah. Ilmu yang kita miliki akan dimintai pertanggungan jawab. Amanah yang diembankan juga akan ditanyai bagaimana kita menjaganya. Dan anak-anak adalah amanat besar bagi orang tuanya.
Rabu, 16 Mei 2012
Foto Jurnalistik Merekam Lalu Menggugat
Foto jurnalistik banyak dimitoskan dengan aneka anggapan bahwa cabang fotografi ini sangat ”sakral”. Ada yang mengatakan bahwa foto jurnalistik harus selesai saat kamera selesai dijepretkan, tak boleh diutak-atik lagi. Ada pula yang mengatakan bahwa foto jurnalistik sangat netral dan jujur, alias sangat obyektif.
Pada kenyataannya, dunia jurnalistik secara umum tidaklah mungkin netral. Memilih narasumber saja sudah merupakan kesubyektifan. Mengapa si A yang dipilih dan bukan si B? Demikian pula foto jurnalistik. Dia tidaklah netral sama sekali karena, kalau terlalu netral, dia sungguh tak punya daya apa-apa.
Pemihakan
Foto jurnalistik haruslah memihak, dan keberpihakan itu harus kepada ”sesuatu yang benar”, paling tidak berpihak kepada orang banyak yang selalu merupakan ”pihak yang menderita”.
Beberapa alinea di atas sungguh pantas untuk membawa kita memahami pameran foto yang diselenggarakan Galeri Foto Jurnalistik Antara di markas mereka di Pasar Baru, Jakarta, 20 Januari 2012 sampai 20 Februari 2012 (dengan temu wicara pada 11 Februari 2012 pukul 14.30). Selain diadakan tahunan sebagai kilas balik 2011, pameran ini juga diadakan sebagai peringatan 20 tahun berdirinya galeri jurnalistik satu-satunya di Indonesia ini.
Menyaksikan pameran ini dengan melihat foto demi foto mengikuti alur yang sudah dibuat, atau membaca buku katalognya yang mempunyai alur sama, terasa benar bahwa pameran ini ”menyuarakan sesuatu”.
”Kita harus selalu menggugat,” kata Oscar Motuloh, kurator sekaligus pemimpin galeri ini.
Gugatan pameran terasa dengan pengelompokan foto dalam kelompok-kelompok tertentu. Foto-foto dipilih dengan jeli sehingga sangat terasa arah yang diberikan kurator akan gugatannya pada beberapa ketidakberesan negeri ini. Foto Miranda Swaray Goeltom, Nazaruddin, dan Nunun Nurbaeti—terkait kasus korupsi—yang ada sungguh membawa kita agar selalu mengggugat penyelesaian masalah hukum yang melingkari mereka semua.
Bahwa pameran ini juga membawa kegeraman umum pada berbagai ketidakadilan negeri ini sangat tecermin pada penempatan foto orangutan yang dipasang langsung di samping foto Gayus Tambunan, terpidana kasus pencucian uang. Menyentak, lucu, cerdas, sekaligus menyesakkan! Arbain Rambey
sumber : http://kfk.kompas.com/blog/view/113302-Foto-Jurnalistik-Merekam-Lalu-Menggugat
catatan : sengaja tulisan ini saya copy utuh untuk share kepada anda tanpa ditambah atau dikurangi apapun. semoga bermanfaat.












