Rabu, 17 September 2008
VARIABEL DAN HIPOTESIS DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN IPA
VARIABEL DAN HIPOTESIS
Tujuan
Setelah perkuliahan ini diharapkan dapat:
Menjelaskan tentang pengertian variabel dan menyebutkan lima jenis variabel yang dapat dikaji oleh peneliti pendidikan
Membedakan variabel kuantitatif dan variabel kategorial
Menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas
Menjelaskan pengertian hipotesis dan merumuskan dua hipotesis yang dapat dikaji dalam penelitian pendidikan
Menjelaskan dua keuntungan dan dua kekurangan dari rumusan pertanyaan penelitian yang ditetapkan sebagai hipotesis
Membedakan dan memberi contoh hipotesis langsung dan tak langsung.
Pentingnya mempelajari hubungan
Ciri terpenting pertanyaan penelitian adalah mencerminkan adanya hubungan yang akan diselidiki, meskipun tidak semua pertanyaan penelitian menunjukkan adanya hubungan. Kadang-kadang peneliti tertarik untuk mengkaji informasi deskriptif, menemukan tentang ”apa yang dirasakan” atau mendeskripsikan bagaimana ”tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu”.
Misalnya:
Perubahan apakah yang terjadi pada guru di sekolah dengan diimplementasikannya kurikulum baru?
Bagaimanakah pendapat orang tua tentang program konseling di sekolah?
Bagaimanakah cara guru melakukan pembelajaran berbasis kegiatan hands-on?
Bagaimanakah aktivitas siswa bila guru melakukan pembelejaran teori yang terpadu dengan praktikum?
Contoh di atas tidak menunjukkan adanya hubungan, karena peneliti hanya ingin mengidentifikasi karakteristik, tingkah laku, perasaan atau pendapat. Biasanya digunakan untuk memperoleh informasi sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian berikutnya. Masalah di atas merupakan pertanyaan penelitian yang sangat deskriptif, yang tidak memberikan gambaran tentang apa yang ada di balik ’pendapat’, ’perasaan’, ’tingkah laku’, dan ’kegiatan’. Penjelasannya sangat terbatas sehingga untuk menggali apa yang ada di balik semuanya itu diperlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam suatu penelitian diharapkan kita menemukan jawaban yang bersifat komprehensif tentang situasi, fenomena, tingkah laku dan karakteristik lainnya. Dengan memperoleh jawaban diharapkan kita dapat belajar tentang alam sekitar kita. Kita belajar memahami dunia dengan belajar memberikan penjelasan tentang bagaimana masing-masing bagian berhubungan satu dengan yang lain. Berdasarkan penjelasan itulah kita mulai mendeteksi pola atau hubungan antara masing-masing bagian.
Oleh karena itu dalam merumuskan hipotesis sebaiknya kita memunculkan adanya hubungan, meski kadang-kadang perumusan hubungan seringkali tidak bermakna, sehingga penelitian menjadi dangkal. Misalnya, bila sampel sangat kecil, rumusan hipotesis dan metodologinya tidak tepat, maka dapat terjadi penarikan kesimpulan yang keliru.
A. VARIABEL
1. Apakah variabel itu?
Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau obyek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi obyek, gaya belajar, harapan hidup.
Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.
Contoh:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ’reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan ’reinforcement’ dengan 3 cara berbeda, yaitu dengan:
(1) pujian verbal
(2) hadiah imbalan uang
(3) nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.
Maka: ’reinforcement’ merupakan suatu variabel (yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan.
Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk ’kursi’ tanpaknya mudah.
Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya ’moltivasi’ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel ’motivasi’ ini dapat diukur.
Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan lebih jelas dan bermakna.
2. Variabel kuantitatif dan kategorial
a.
b.
Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinum dari yang rendah sampai tinggi misalnya badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasai belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B.
Variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5-0, misalnya:
o 5 (amat sangat berminat),
o 4 (sangat berminat),
o 3 (berminat),
o 2 (cukup berminat),
o 1 (kurang berminat),
o 0 (tidak berminat).
Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter, dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram, dll.
Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan ”perlakuan” atau ”metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama.
Berikut ini ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?
1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender
Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atu lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan fisika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agrsif pada anak
2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitaif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru
3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan orang ayah
o Gender guru dan subyek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaam partai politik
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ole peneliti:
1) Secara konseptual: variabel ’kecemasan” menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi ’ada’ atau ’tidak ada’ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan.
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi ’tinggi’, ’sedang’, ’rendah’ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).
3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil
Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel.
Misalnya:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang ‘diciptakan’ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.
Secara umum
1 variabel kuantitatif
1 variabel kategorial
Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, minat.
Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri malalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing
4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)
Hubungan antara variabel bebas dan veriabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Variabel bebas diasumsikan sebaggai dugaan ‘penyebab’ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil.
Tidak semua variabel independent merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut:
“Hubungan antara keberhasilan siswa dalam fisika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”.
5. Variabel extraneous (variabel ekstra)
Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya.
Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan.
Misalnya: variabel apakah yang dapat mempengarui pembelajaran siswa di kelas?
Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
Kepribadian guru,
Tingkat kecerdasan siswa,
Posisi jam mengajar,
Buku ajar yang digunakan,
Bentuk kegiatan pembelajaran,
Metode mengajar
Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subyek penelitian ini tidak bervariasi.
B. HIPOTESIS
1. Apakah hipotesis itu?
Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?
Hipotesis: Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya.
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran tradisional?
Hipotesis: hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional.
Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.
2. Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argumen teoretis.
Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan berarti semakin memperkuatt gagasan awal teori relativitas Einstein.
3. Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual meskipun ada kekeliruan. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.
b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistik terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengmabilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.
4. Hipotesis yang signifikan
Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:
Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga.
Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukaki kelas regular daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas regular.
Hipotesis 3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran koperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.
Dari 3 hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meniliti lebih lanjut.
5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggim kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah.
Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:
1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional.
Mari kita simpulkan
1. Apa yang dimaksud dengan variabel?
2. Apa yang dimaksud dengan konstanta?
3. Bagaimana kita membedakan variabel bebas dan tak bebas dalam penelitian?
4. Apa beda antara variabel kuantitatif dan variabel kategori?
5. Apa yang dimaksud dengan variabel ekstra?
6. Apa yang dimaksud dengan hipotesis?
7. Bagaimana kita dapat menentukan kebermaknaan suatu hipotesis?
8. Bagaimana kita membedakan hipotesis terarah dan tak terarah?
Sabtu, 13 September 2008
Riset Analisa Karya dan Produk Pendidikan
2. Animasi Pendidikan
3. Film-Film Pendidikan
Assalamu'alaikum wr wb
Kali ini, kita coba mengenal kepribadian kita lebih jauh yuk, caranya?
Just read this one
Dalm dunia psikologi, dikenal yg namanya 4 tipe kepribadian:
1. Sanguinis
2. Melankolis,
3. Koleris &
4. Plegmatis, atau
Aada juga yang langsung mengkategorikannya sesuai dengan sifat dominan masing-masing tipe,
yaitu:
1. Sanguinis Populer
2. Melankolis Sempurna,
3. Koleris Kuat &
4. Plegmatis Damai.
Nah trus saya & anda termasuk yg mana? sok atuh disimak yg berikut ini
KOLERIS pada umumnya mempunyai:
KEKUATAN:
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target
* Bebas dan mandiri
* Berani menghadapi tantangan dan masalah
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini".
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
* Membuat dan menentukan tujuan
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan
* Tidak begitu perlu teman
* Mau memimpin dan mengorganisasi
* Biasanya benar dan punya visi ke depan
* Unggul dalam keadaan darurat
KELEMAHAN:
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
* Senang memerintah
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran
* Terlalu kaku dan kuat/ keras
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya)
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer
kalau MELANKOLIS:
KEKUATAN:
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
* Sensitif
* Mau mengorbankan diri dan idealis
* Standar tinggi dan perfeksionis
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
* Hemat
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
* Kalau sudah mulai, dituntaskan.
* Berteman dengan hati-hati.
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
* Sangat memperhatikan orang lain
KELEMAHAN:
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
* Mengingat yang negatif & pendendam
* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan
* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan
* Hidup berdasarkan definisi
* Sulit bersosialisasi
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)
* Memerlukan persetujuan
kalau PLEGMATIS:
KEKUATAN:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
* Penengah masalah yg baik
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah
* Baik di bawah tekanan
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
* Rasa humor yg tajam
* Senang melihat dan mengawasi
* Berbelaskasihan dan peduli
* Mudah diajak rukun dan damai
KELEMAHAN:
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
* Takut dan khawatir
* Menghindari konflik dan tanggung jawab
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
* Terlalu pemalu dan pendiam
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
* Kurang berorientasi pada tujuan
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
* Tidak senang didesak-desak
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.
kalau SANGUINIS:
KEKUATAN:
* Suka bicara
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
* Antusias dan ekspresif
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu
* Hidup di masa sekarang
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
* Umumnya hebat di permukaan
* Mudah berteman dan menyukai orang lain
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
* Menyukai hal-hal yang spontan
KELEMAHAN:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
* Susah untuk diam
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah
* Susah datang tepat waktu jam kantor
* Prioritas kegiatan kacau
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
* Egoistis
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
* Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
B. Mendorong Tindakan Belajar
Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).
1. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.
2. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar
jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
terpisah.
Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
2.1. Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
2.2. Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
2.3. Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.
2.4. Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
2.5. Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.
A. PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Pengertian Psikologi
Secara harafiah (Syah, 1997 / hal. 7)
Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.
William James (Syah, 1997/ hal. 8) menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental
John B. Watson (Syah, 1997 / hal.8) mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.
Caplin (Syah, 1997 / hal. 8) mendefinisikan psikologi sebagai
“..... the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment”
(Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).
Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld (Sarwono dalam Syah, 1997 / hal.8) mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.
Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal.8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.
Syah (1997 / hal.9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
2. Pengertian Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Syah, 1997 / hal.10)
Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
Menurut McLeod (Syah, 1997 / hal. 10)
Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop).
Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan
Tardif (Syah, 1997 / hal. 10)
Secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Secara luas dan representatif, pendidikan ialah .....the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan)
Menurut Dictionary of Psychology (Syah, 1997 / hal. 11)
Pendidikan diartikan sebagai ..... the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution.
Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya.
Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction)
Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal. 11)
3. Pengertian Psikologi Pendidikan
Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)
b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
e. Penyenggaraan pendidikan keguruan
Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)
Tardif (Syah, 1997 / hal. 13)
Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13)
seperti dikutip dari berbagai sumber:
1. http://sahabatjiwa.multiply.com/journal/item/6/Sanguinis_Melankolis_Koleris_atau_Plegmatis_ya
2. http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm
Buku Sekolah Elektronik Departemen Pendidikan Nasional

(Sebuah Solusi Keterjangkauan Pendidikan)
Disusun Oleh:
Angga Fuja W.*
Arif Nurahman*
Bambang Achdiyat*
Faculty of Sciences and Mathematics, Indonesia University of Education
and
Follower Open Course Ware at Massachusetts Institute of Technology
Cambridge, USA
Department of Physics
http://web.mit.edu/physics/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Physics/index.htm
&
Aeronautics and Astronautics Engineering
http://web.mit.edu/aeroastro/www/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Aeronautics-and-Astronautics/index.htm
"That for every action there is an equal and opposite reaction"
-"Isaac Newton"-
"...there are no simple answers
to how education can contribute
towards disarmament and development.
But increasing awareness through education
seems to be a way towards the kind of mobilisation
that is necessary..."
-"Magnus Haavelsrud, Norwegian peace educator"-
Buku Teks Pelajaran Murah
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
Disampaikan oleh:
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Di Jakarta, 20 Agustus 2008
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan penuh rasa gembira dan bangga menyuguhkan sejumlah buku teks pelajaran layak-pakai yang hak ciptanya telah dilmiliki Departemen Pendidikan Nasional.
Buku-buku teks pelajaran tersebut tersedia di situs Depdiknas yang diberi nama Situs Buku Sekolah Elektronik yang disingkat BSE atau e-Book. Jumlah seluruhnya saat ini ada empat ratus tujuh (407) judul buku dan Insya Allah setiap tahunnya akan bertambah.
Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakan pakainya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah ditetapkan sebagai Buku Teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 46 Tahun 2007, Permendiknas Nomor 12 Tahun 2008, Permendiknas Nomor 34 Tahun 2008, dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2008.
Buku-buku teks pelajaran yang telah dimiliki hak ciptanya oleh Depdiknas ini dapat digandakan, dicetak, difotokopi, dialihmediakan, dan/atau diperdagangkan oleh perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum dalam rangka menjamin akses dan harga buku yang terjangkau oleh masyarakat. Masyarakat dapat pula mengunduh (down load) langsung dari internet jika memiliki perangkat komputer yang tersambung dengan internet, serta menyimpan file buku teks pelajarann tersebut.
Untuk penggandaan yang bersifat komersial, harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemerintah berharap melalui Program Masal Buku Murah ini, buku teks pelajaran lebih mudah diakses sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh
Selamat belajar. Selamat mereguk ilmu, pengetahuan, dan teknologi melalui Buku Teks Pelajaran yang bermutu dan terjangkau.
(Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA)
Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga mantan Menteri Keuangan RI, Saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional
Selamat Datang di Dunia Tanpa Kertas
Intro:
An e-book (for electronic book: also ebook) is the digital media equivalent of a conventional printed book. Such documents are usually read on personal computers, or on dedicated hardware devices known as e-book readers or e-book devices.
An e-book is a specialized type of e-text.
Many cell phones can also be used to read ebooks.
Digital media (as opposed to analog media) usually refers to electronic media that work on digital codes. Today, computing is primarily based on the binary numeral system. In this case digital refers to the discrete states of "0" and "1" for representing arbitrary data.
Computers are machines that (usually) interpret binary digital data as information and thus represent the predominating class of digital information processing machines. Digital media ("Formats for presenting information" according to Wiktionary:Media) like digital audio, digital video and other digital "content" can be created, referred to and distributed via digital information processing machines. Digital media represents a profound change from previous (analog) media.
Digital data is per se independent of its interpretation (hence representation). An arbitrary sequence of digital code like "0100 0001" might be interpreted as the decimal number 65, the hexadecimal number 41 or the glyph "A". See also: ASCII, Code.
SELAMAT datang di era paperless.
Abad ke-21, sebuah era di mana kertas sudah tidak terlalu diperlukan lagi dalam dokumentasi. Di seluruh dunia, termasuk
e-document.
Noerrachman Saleh, Konsultan Dokumen Astragraphia menjelaskan bahwa kebutuhan akan e-document di masa kini sudah tidak terelakkan lagi. ”Orang lebih suka menyimpan data secara elektronik sebab pengolahannya lebih mudah. Selain itu problem sampah kertas dan keterbatasan tempat penyimpanan juga menjadi alasan tersendiri,” jelas Noer dalam sebuah seminar di Tasikmalaya.
Segala jenis pengetahuan di dunia ini pada dasarnya tersimpan pada tempatnya masing-masing. Sebagian besar, yaitu 42 persen, tersimpan dalam otak manusia. Lalu sebanyak 24 persen tersimpan dalam bentuk dokumen kertas. Baru disusul dalam bentuk dokumen elektronik sebesar 22 persen. Terakhir, ada pengetahuan yang ditampung dalam elektronik database, yaitu sebesar 12 persen. Demikian data yang dihimpun
Metode konvensional mengenalkan kita pada penyimpanan data dengan buku atau kertas. Diawali dengan perpustakaan tradisional, yaitu kumpulan buku tanpa katalog. Berkembang kemudian menjadi perpustakaan semi modern, di mana katalog dilakukan secara manual.
Lalu ada pula katalog secara komputer.
Di era TI, lahir yang disebut dengan perpustakaan digital. Lalu yang paling canggih adalah perpustakaan virtual, ketika semua koleksi buku bisa diakses melalui internet.Yang terakhir ini bukan lagi sekedar konsep, melainkan sudah menjadi kenyataan. Sudah cukup banyak perpustakaan online di negara maju.
Untuk menuju ke arah perpustakaan virtual ini, terlebih dulu kita harus mengenal teknologi bagaimana dokumen pada sehelai kertas bisa diolah menjadi database komputer. Secara teknis, proses terciptanya sebuah e-document tidak terlalu rumit. Manfaat dari e-document salah satunya adalah minimalisasi tempat. Bayangkan, setumpukan data atau buku bisa dirangkum menjadi sebuah disket kecil (Flash Disk).
Noer menjelaskan bagaimana proses ini berjalan. Pertama, semua dokumentasi kertas melalui sistem scanning untuk bisa ditampakan dalam komputer. Dari sini bisa diolah lagi mana dokumen yang benar-benar penting atau tidak. Klasifikasi ini disebut dengan sistem verification. Dari sini menuju ke proses index, yaitu pengelompokan daftar isi yang ditujukan untuk memudahkan pencarian data. Dalam indexing ini dilakukan kategorisasi berupa tipe dokumen, tanggal, nama pembuat serta kata kunci.
Noer menjelaskan dalam sistem indexing bisa dilakukan dengan metode manual atau otomatis.
Setelah itu barulah di-release dalam bentuk disket atau CD ROM maupun hard disk.
Pada bentuk terakhir, data bisa diformat dalam bentuk HTML, Acrobat, Word atau ASCII.
”Walaupun ada yang optimis dengan paperless, ada pula yang tidak. Pada kenyataannya jumlah kertas di dunia ini terus meningkat. Ini membuktikan bahwa informasi sudah sedemikian membanjir, baik yang tersimpan secara elektronik maupun kertas,” kata Noer.
Perpustakaan Digital
A digital library is a library in which collections are stored in digital formats (as opposed to print, microform, or other media) and accessible by computers. The digital content may be stored locally, or accessed remotely via computer networks. A digital library is a type of information retrieval system.
The first use of the term digital library in print may have been in a 1988 report to the Corporation for National Research Initiatives, The term digital libraries was first popularized by the NSF/DARPA/NASA Digital Libraries Initiative in 1994. The older names electronic library or virtual library are also occasionally used, though electronic library nowadays more often refers to portals, often provided by government agencies, as in the case of the Florida Electronic Library. The DELOS Digital Library Reference Model defines a digital library as:
"An organization, which might be virtual, that comprehensively collects, manages and preserves for the long term rich digital content, and offers to its user communities specialised functionality on that content, of measurable quality and according to codified policies."
Astragraphia merupakan usaha jasa dokumentasi digital yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dalam mengembangkan proyek Warung Informasi dan Teknologi (Warintek).
Sejak tahun 2000 mereka mengolah
data dan koneksi Warintek antara Sentra Informasi Perpustakaan Digital Iptek Nasional dengan sejumlah perguruan tinggi dan pengguna umum Warintek. Salah satunya adalah Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya,
Jawa Barat.
Warintek Unsil yang berdiri resmi pada Juni 2001 ini merupakan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh KRT dengan cara menyediakan fasilitas TI. Perpustakaan Unsil sendiri bisa dikategorikan sebagai perpustakaan digital, di mana sistem katalognya telah dilakukan dengan komputer.
Menurut Drs. Yoni Dharmawan, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Perpustakaan Unsil yang membawahi Warintek, selain menyediakan sarana TI mereka juga mempunyai beberapa program.
”Kami mengadakan pelatihan staf perpustakaan untuk materi CDS/ISIS selama satu minggu. Instrukturnya berasal dari Institut Pertanian Bogor (IBP). Materinya meliputi pembuatan basis data baru, pemasukan data, penyuntingan data, penelusuran data, pembuatan file dan pencetakan,” jelas Yoni.
Program lain adalah pengembangan basis data koleksi perpustakaan dan katalog online. Di sini, staf perpustakaan diharap bisa membangun basis data koleksi yang nantinya akan disediakan kepada masyarakat dalam bentuk katalog komputer. Pembimbing dan instrukturnya berasal dari IPB. Saat ini sudah terbangun basis data sebanyak 2400 entri. Penambahan terus dilakukan oleh staf perpustakaan dengan laju penambahan rata-rata 100 entri per minggu.
Program berkut adalah pelatihan browsing internet dan email. Staf perpustakaan dan Warintek dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan internet agar bisa melayani masyarakat pengguna dengan baik.Yoni juga menyebut adanya program pengembangan basis data teknologi tepat guna, pelatihan internet bagi dosen, mahasiswa maupun masyarakat umum.
Menurut penuturan Roni, petugas Warintek Unsil, pengunjung Warintek lumayan ramai. ”Setiap saat selalu saja ada yang datang, baik dari mahasiswa maupun orang luar,” ungkap pemuda yang sudah
Namun Roni menekankan bahwa
References:
References
- ^ Greenstein, Daniel I., Thorin, Suzanne Elizabeth. The Digital Library: A Biography. Digital Library Federation (2002) ISBN 1933645180. Accessed June 25, 2007.
- ^ Kahn, R. E., & Cerf, V. G. (1988). The Digital Library Project Volume I: The World of Knowbots, (DRAFT): An Open Architecture For a Digital Library System and a Plan For Its Development. Reston, VA: Corporation for National Research Initiatives.
- ^ Edward A. Fox. The Digital Libraries Initiative - Update and Discussion, Bulletin of the America Society of Information Science, Vol. 26, No 1, October/November 1999.
- ^ L. Candela et al: The DELOS Digital Library Reference Model - Foundations for Digital Libraries. Version 0.98, February 2008 (PDF)
- ^ Koehler, AEC. Some Thoughts on the Meaning of Open Access for University Library Technical Services Serials Review Vol. 32, 1, 2006, p. 17
- ^ "The DSpace team recognized the value of the OAIS framework and recast the repository’s architecture to accommodate this archival framework" {{{author}}}, MIT's DSpace experience: a case study, [[{{{publisher}}}]], 2004.
- ^ Agosti, M., Candela, L., Castelli, D., Ferro, N., Ioannidis, Y., Koutrika, G., Meghini, C., Pagano, P., Ross, S., Schek, H.-J., & Schuldt, H. (2006). A Reference Model for DLMSs Interim Report. In L. Candela, & D. Castelli (Eds.), Deliverable D1.4.2 - Reference Model for Digital Library Management Systems [Draft 1]. DELOS, A Network of Excellence on Digital Libraries -- IST-2002-2.3.1.12, Technology-enhanced Learning and Access to Cultural Heritage. Online at: http://146.48.87.122:8003/OLP/Repository/1.0/Disseminate/delos/2006_WP1_D142/content/pdf?version =1
- ^ Gonçalves, M. A., Fox, E. A., Watson, L. T., & Kipp, N. A. (2004). Streams, Structures, Spaces, Scenarios, Societies (5S): A Formal Model for Digital Libraries. ACM Transactions on Information Systems (TOIS),22 (2), 270-312.
- ^ Committee on Institutional Cooperation: Partnership announced between CIC and Google, 6 June 2007, Retrieved 7 July 2007.
- ^ European Commission steps up efforts to put Europe’s memory on the Web via a “European Digital Library” Europa press release, 2 March 2006
- ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age." Library Resources & Technical Services. 44(2) (2000):97-104.
- ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
- ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age: An Overview." Library Resources & Technical Services 44(2) (2000):97-104.
- ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
- ^ Breeding, Marshall. “Preserving Digital Information.”. Information Today 19:5 (2002).
- ^ Teper, Thomas H. "Where Next? Long-Term Considerations for Digital Initiatives." Kentucky Libraries 65(2)(2001):12-18.
- ^ Pymm, Bob. "Building Collections for All Time: The Issue of Significance." Australian Academic & Research Libraries. 37(1) (2006):61-73.
- ^ Antique Books
- ^ Kelly, Kevin (2006-05-14). "Scan This Book!", New York Times Magazine. Retrieved on 2008-03-07. "When Google announced in December 2004 that it would digitally scan the books of five major research libraries to make their contents searchable, the promise of a universal library was resurrected. ... From the days of Sumerian clay tablets till now, humans have "published" at least 32 million books, 750 million articles and essays, 25 million songs, 500 million images, 500,000 movies, 3 million videos, TV shows and short films and 100 billion public Web pages."
- ^ Stanford Copyright & Fair Use - Digital Preservation and Copyright by Peter B. Hirtle
See also
- List of digital library projects
- DELOS - European Network of Excellence on Digital Libraries
- Digital obsolescence
- Digital preservation
- Dynamic web page
- European Conference on Digital Libraries
- Electronic journal
- Institutional Repository
- Library of Congress Digital Library project
- National Digital Information Infrastructure and Preservation Program
- National repository
- Open Content Alliance
- Repository (publishing)
- Storage Resource Broker
- Book scanning
- Optical character recognition
- Digital Collections Selection Criteria
- Intellectual Property and Art Digitization
External links
General
- Digital library article at LISWiki, a Library and information science wiki
- Malte Herwig; "Putting The World's Books On The Web"
- BRICKS Building Resources for Integrated Cultural Knowledge Services
- CNRI-DARPA: D-Lib Magazine Electronic publication that primarily focuses on digital library research and development
- DLEEX - user made digital library with online-reading service
- DLI Digital Libraries Initiative web page
- REnKnow.Net Renewable Energies Knowledge - Transfer Network
- The Scope of the Digital Library
- Online version of Internetworking Technologies by Rahul Banerjee
Deals with the architectures of leading digital libraries in the world (chapter 10) - RAS metadata repository based framework for reusable software assets
- Digital Libraries, a book by William Y. Arms
- IR Research, A collection of works regarding Institutional Repositories
- IFLA Digital Libraries, resources and projects
- PADI (Preserving Access to Digital Information) - A National Library of Australia initiative; PADI is a subject gateway to international digital preservation resources.
- DigitalPreservationEurope - An EU project for digital preservation practices
Conferences
- ECDL - European Conference on Digital Libraries
- ICADL - International Conference on Asian Digital Libraries
- JCDL - ACM and IEEE Joint Conference on Digital Libraries
National and international archives
- Akhter Hameed Khan Digital Library - Islamabad by Ata ur Rehman
- Azerbaijan Electronic Library Network (Kitab.Az) Azerbaijan's online network of electronic catalogues
- The eGranary Digital Library Millions of digital resources for those with inadequate Internet connectivity
- Gallica Digital library of the Bibliothèque National de France (in French).
- The Library of Congress, Digital Preservation
- National Science Digital Library (NSDL)
Online library of resources for science, technology, engineering, and mathematics education and research - PIONIER Digital Libraries - Network of digital libraries in Poland
- UK Higher Education & Research Libraries - A link list maintained at Exeter University by Ian Tilsed.
- National Library of Australia - Digital Collections.
- Project GutenbergLibrary of over 17,000 free e books.
- Digital Library of India Free-to-read, searchable collection of one million books, predominantly in Indian languages.
- PANDORA - Australia's Web Archive - A collection of Australian online publications, developed by the National Library of Australia and Partners.
- VIDYA - Amrita University's Web Archive designed and built by Ajai Narendran - An extensive collection of learning material comprising of Audio and Video lectures collected from across the globe. This unique attempt at locally archiving quality learning material brought in a global touch to learning and redefined teaching & learning at Amrita University, Coimbatore, India. This initiative was presented at the Amrita International Colloquium on Digital Libraries (ACDL-2005). Vidya Story opens up new path ways to creating low cost web archives
Book archives
- UPenn: The Online Books Page Search for free online books by author, title, keyword, etc.
- BookGlutton Read and share free online books.
- Asiaing: News on free online books Collection of free ebooks.
- Internet Public Library Search for free online books by author, title, keyword, etc.
- pdfbooks.co.za A project to convert many of Project Gutenberg's books to PDF format.
- Llyfrau o'r Gorffennol / Books from the Past Collection of Welsh books of national cultural interest which have long been out of print.
- Google Book Search Search for books from numerous sources. Full text available for works in the public domain.
Major subject archives
- The American Journeys Project a digital library whose contents center on the exploration of North America.
- Biodiversity Heritage Library - major collection of open access taxonomic literature from Linnaeus through current (600,000 plus pages)
- Core Historical Literature of Agriculture (CHLA) Agricultural texts published between ca. 1850-1950, selected by scholars for their historical importance.
- European Navigator: The first Digital Library on the history of the European Union
- dLIST dLIST: Digital Library of Information Science and Technology, an open access archive of Information Sciences materials
- ETANA - Electronic Tools and Ancient Near Eastern Archives Electronic library for the Ancient Near East
- Home Economics Archive: Research, Tradition and History (HEARTH) Home Economics and related texts published between ca. 1850-1950, selected by scholars for their historical importance.
- Kabbalah Digital Library One of the largest multi-language collections of ancient and modern Kabbalistic writings.
- The International Children's Digital Library
- The Internet Classics Archive Ancient Greek and Latin texts (plus some Chinese and Persian) with English translations.
- Library of Congress, Web Capture
- OpenMED@NIC Open access archive of Medical and Allied Sciences.
- The ACM Portal a digital library containing the full-text repository of papers that have been published by the Association for Computing Machinery.
- NYPL Digital Library Collections from the New York Public Library covering Black culture and experience, history, literature, maps and more.
- Marine PhotoBank a leading visual resource that enables people from all over the planet to collect, share and download marine photos, images and graphics that shed light on how humans have affected life in the ocean.
Tools
- Repurposing Open Source Software for Agile Digital Image Library Development
- Digital Commons: Hosted Repository Platform
- University of Southampton: E-Prints for Digital Repositories
- MIT & HP: DSpace digital repository
- UNESCO: Greenstone Digital Library Software
- Search engines that include public digital libraries
- DL-Harvest DL-Harvest, an open access aggregator for Information Sciences
- BRICKS Framework BRICKS open-source framework for Digital Libraries
- Digital Library eXtension Service University of Michigan, Digital Library eXtension Service — digital library software system for full text books, image databases, finding aids, bibliographic data, etc.
- Fedora Commons Open source digital object repository and community.
- DSpace Open source digital object repository and community.
- Digital Preservation Management an online tutorial, developed by Cornell University Library, about Digital Preservation and the implementation of short-term strategies for long-term problems.
- Agrega is a federation of repositories of the spaninsh education community
Readers
E-book readers may be specifically designed for that purpose, or intended for other purposes as well. The term is restricted to hardware devices, not software programs.
Specialized devices have the advantage of doing one thing well. Specifically, they tend to have the right screen size, battery lifespan, lighting and weight. A disadvantage of such devices is that they are often expensive when compared to generic devices such as laptops and PDAs.
Prominent examples include:
- Plastic Logic (2009 estimate)[6]
- Kindle by Amazon (2007)
- Cybook Gen3 by Bookeen (2007)
- Hanlin eReader by Jinke (distributed as "Lbook" in Ukraine, Russia, Estonia and Kazakhstan, and as "BeBook" in Europe) (2007)
- Sony Reader by Sony (2006)
- iLiad by iRex (2006)
- Librié by Sony (2004)
See also
- Accessible publishing
- Blook
- Digital edition
- Digital library
- Expanded Books
- Electronic Publishing
- List of digital library projects
- Networked book
- OpenBerg
- OverDrive, Inc.
- OpenReader Consortium
- Project Gutenberg
- Safari Books Online
- Webserial
Notes
- ^ http://ivan.web.id/documents/32.html; http://www.economist.com/business/displaystory.cfm?story_id=9231860
- ^ Giving It Away - Forbes.com
- ^ For instance the screen resolution of Amazon Kindle is 167 ppi versus 600-2400 ppi for a typical laser printer.
- ^ How authors can take advantage of ebooks.
- ^ The Book Standard is closed
- ^ DEMOfall 2008: Plastic Logic's Reader Is Thinner, Less Ugly Than Kindle, By Brian X. Chen, Wired, September 08, 2008
References
- Jacob Hiller (Sept 28, 2008). How authors can take advatange of ebooks., The Automated Ebook
- Doctorow, Cory (February 12, 2004). Ebooks: Neither E, Nor Books, O'Reilly Emerging Technologies Conference
- James, Bradley (November 20, 2002). The Electronic Book: Looking Beyond the Physical Codex, SciNet
- Lynch, Clifford (May 28, 2001). The Battle to Define the Future of the Book in the Digital World, First Monday - Peer reviewed journal on the Internet
- Read An E-book Week [1]
- Menta, Robert (December 26, 2000). Read an e-book to your child, go to jail?, MP3 Newswire
- Pastore, Michael (January 28, 2008). 30 Benefits of Ebooks, Epublishers Weekly
- Flint, Eric (2000). "Building the Baen Free Library". Retrieved on 2007-07-19.
External links
| ||||||||||||||||||||||||
Buku Sekolah Elektronik dari BSE untuk SD/MI
Sumber: Kak Rauden Sah
Kelas 1
Kelas 2
Kelas 3
Kelas 4
Kelas 5
Kelas 6
Download Buku Sekolah Elektronik Untuk SMP/MTs Gratis Kelas 7, 8, 9. untuk download silahkan klik link-link di bawah ini :
Kelas 7
Kelas 8
Kelas 9
Menu Download dari DEPDIKNAS
Kelas 10
| kelas10_inter-language_joko-priyana.zip | |||
| kelas10_mtk_hendi.zip | |||
| kelas10_sistem-refrigerasi-dan-tata-udara.zip | |||
| kelas10_teknik-pembibitan-tanaman_paristiyanti.zip |
Kelas 11
Kelas 12
Penulis*:
1. Penggagas Sistem Sekolah Berbasis Lingkungan di Daerah Jawa Barat dan Banten
2. Founder The
3.
(Ketiganya adalah Mahasiswa Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan
