Rabu, 17 September 2008

VARIABEL DAN HIPOTESIS DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN IPA

Pertemuan 3
VARIABEL DAN HIPOTESIS

Tujuan
Setelah perkuliahan ini diharapkan dapat:
 Menjelaskan tentang pengertian variabel dan menyebutkan lima jenis variabel yang dapat dikaji oleh peneliti pendidikan
 Membedakan variabel kuantitatif dan variabel kategorial
 Menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas
 Menjelaskan pengertian hipotesis dan merumuskan dua hipotesis yang dapat dikaji dalam penelitian pendidikan
 Menjelaskan dua keuntungan dan dua kekurangan dari rumusan pertanyaan penelitian yang ditetapkan sebagai hipotesis
 Membedakan dan memberi contoh hipotesis langsung dan tak langsung.

Pentingnya mempelajari hubungan

Ciri terpenting pertanyaan penelitian adalah mencerminkan adanya hubungan yang akan diselidiki, meskipun tidak semua pertanyaan penelitian menunjukkan adanya hubungan. Kadang-kadang peneliti tertarik untuk mengkaji informasi deskriptif, menemukan tentang ”apa yang dirasakan” atau mendeskripsikan bagaimana ”tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu”.
Misalnya:
 Perubahan apakah yang terjadi pada guru di sekolah dengan diimplementasikannya kurikulum baru?
 Bagaimanakah pendapat orang tua tentang program konseling di sekolah?
 Bagaimanakah cara guru melakukan pembelajaran berbasis kegiatan hands-on?
 Bagaimanakah aktivitas siswa bila guru melakukan pembelejaran teori yang terpadu dengan praktikum?
Contoh di atas tidak menunjukkan adanya hubungan, karena peneliti hanya ingin mengidentifikasi karakteristik, tingkah laku, perasaan atau pendapat. Biasanya digunakan untuk memperoleh informasi sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian berikutnya. Masalah di atas merupakan pertanyaan penelitian yang sangat deskriptif, yang tidak memberikan gambaran tentang apa yang ada di balik ’pendapat’, ’perasaan’, ’tingkah laku’, dan ’kegiatan’. Penjelasannya sangat terbatas sehingga untuk menggali apa yang ada di balik semuanya itu diperlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam suatu penelitian diharapkan kita menemukan jawaban yang bersifat komprehensif tentang situasi, fenomena, tingkah laku dan karakteristik lainnya. Dengan memperoleh jawaban diharapkan kita dapat belajar tentang alam sekitar kita. Kita belajar memahami dunia dengan belajar memberikan penjelasan tentang bagaimana masing-masing bagian berhubungan satu dengan yang lain. Berdasarkan penjelasan itulah kita mulai mendeteksi pola atau hubungan antara masing-masing bagian.
Oleh karena itu dalam merumuskan hipotesis sebaiknya kita memunculkan adanya hubungan, meski kadang-kadang perumusan hubungan seringkali tidak bermakna, sehingga penelitian menjadi dangkal. Misalnya, bila sampel sangat kecil, rumusan hipotesis dan metodologinya tidak tepat, maka dapat terjadi penarikan kesimpulan yang keliru.

A. VARIABEL
1. Apakah variabel itu?
 Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau obyek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi obyek, gaya belajar, harapan hidup.
 Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya  sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.
Contoh:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ’reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan ’reinforcement’ dengan 3 cara berbeda, yaitu dengan:
(1) pujian verbal
(2) hadiah imbalan uang
(3) nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.
 Maka: ’reinforcement’ merupakan suatu variabel (yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan.
Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk ’kursi’ tanpaknya mudah.
Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya ’moltivasi’ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel ’motivasi’ ini dapat diukur.
Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan lebih jelas dan bermakna.

2. Variabel kuantitatif dan kategorial

a.













b.











Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinum dari yang rendah sampai tinggi misalnya badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasai belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B.
Variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5-0, misalnya:
o 5 (amat sangat berminat),
o 4 (sangat berminat),
o 3 (berminat),
o 2 (cukup berminat),
o 1 (kurang berminat),
o 0 (tidak berminat).
Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter, dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram, dll.

Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan ”perlakuan” atau ”metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama.

Berikut ini ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?
1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender


Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atu lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan fisika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agrsif pada anak
2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitaif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru
3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan orang ayah
o Gender guru dan subyek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaam partai politik

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ole peneliti:
1) Secara konseptual: variabel ’kecemasan” menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi ’ada’ atau ’tidak ada’ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan.
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi ’tinggi’, ’sedang’, ’rendah’ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).

3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil
Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel.
Misalnya:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang ‘diciptakan’ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.

Secara umum
1 variabel kuantitatif

1 variabel kategorial



Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, minat.
Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri malalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing

4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)
Hubungan antara variabel bebas dan veriabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:






Variabel bebas diasumsikan sebaggai dugaan ‘penyebab’ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil.
Tidak semua variabel independent merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut:
“Hubungan antara keberhasilan siswa dalam fisika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”.

5. Variabel extraneous (variabel ekstra)
Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya.
Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan.
Misalnya: variabel apakah yang dapat mempengarui pembelajaran siswa di kelas?
Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
 Kepribadian guru,
 Tingkat kecerdasan siswa,
 Posisi jam mengajar,
 Buku ajar yang digunakan,
 Bentuk kegiatan pembelajaran,
 Metode mengajar
Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subyek penelitian ini tidak bervariasi.

B. HIPOTESIS
1. Apakah hipotesis itu?
Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?
Hipotesis: Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya.

Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran tradisional?
Hipotesis: hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional.
Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.

2. Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argumen teoretis.
Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan berarti semakin memperkuatt gagasan awal teori relativitas Einstein.

3. Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual meskipun ada kekeliruan. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.
b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistik terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengmabilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.
4. Hipotesis yang signifikan
Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:
Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga.
Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukaki kelas regular daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas regular.
Hipotesis 3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran koperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.

Dari 3 hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meniliti lebih lanjut.

5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggim kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah.
Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:
1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional.

Mari kita simpulkan
1. Apa yang dimaksud dengan variabel?
2. Apa yang dimaksud dengan konstanta?
3. Bagaimana kita membedakan variabel bebas dan tak bebas dalam penelitian?
4. Apa beda antara variabel kuantitatif dan variabel kategori?
5. Apa yang dimaksud dengan variabel ekstra?
6. Apa yang dimaksud dengan hipotesis?
7. Bagaimana kita dapat menentukan kebermaknaan suatu hipotesis?
8. Bagaimana kita membedakan hipotesis terarah dan tak terarah?

Sabtu, 13 September 2008

TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN NASIONAL DAN INTERNATIONAL

1. Nasional
2. International

Riset Analisa Karya dan Produk Pendidikan

1. Buku-Buku
2. Animasi Pendidikan
3. Film-Film Pendidikan

Assalamu'alaikum wr wb


Kali ini, kita coba mengenal kepribadian kita lebih jauh yuk, caranya?
Just read this one
.
Dalm dunia psikologi, dikenal yg namanya 4 tipe kepribadian:

1. Sanguinis
2. Melankolis,
3. Koleris &
4. Plegmatis, atau
Aada juga yang langsung mengkategorikannya sesuai dengan sifat dominan masing-masing tipe,

yaitu:

1. Sanguinis Populer
2. Melankolis Sempurna,
3. Koleris Kuat &
4. Plegmatis Damai.
Nah trus saya & anda termasuk yg mana? sok atuh disimak yg berikut ini


KOLERIS pada umumnya mempunyai:

KEKUATAN:

* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target
* Bebas dan mandiri
* Berani menghadapi tantangan dan masalah
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini".
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
* Membuat dan menentukan tujuan
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan
* Tidak begitu perlu teman
* Mau memimpin dan mengorganisasi
* Biasanya benar dan punya visi ke depan
* Unggul dalam keadaan darurat

KELEMAHAN:
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
* Senang memerintah
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran
* Terlalu kaku dan kuat/ keras
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya)
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer

kalau MELANKOLIS:

KEKUATAN:

* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
* Sensitif
* Mau mengorbankan diri dan idealis
* Standar tinggi dan perfeksionis
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
* Hemat
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
* Kalau sudah mulai, dituntaskan.
* Berteman dengan hati-hati.
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
* Sangat memperhatikan orang lain

KELEMAHAN:
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
* Mengingat yang negatif & pendendam
* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan
* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan
* Hidup berdasarkan definisi
* Sulit bersosialisasi
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)
* Memerlukan persetujuan

kalau PLEGMATIS:
KEKUATAN:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
* Penengah masalah yg baik
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah
* Baik di bawah tekanan
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
* Rasa humor yg tajam
* Senang melihat dan mengawasi
* Berbelaskasihan dan peduli
* Mudah diajak rukun dan damai

KELEMAHAN:
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
* Takut dan khawatir
* Menghindari konflik dan tanggung jawab
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
* Terlalu pemalu dan pendiam
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
* Kurang berorientasi pada tujuan
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
* Tidak senang didesak-desak
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

kalau SANGUINIS:
KEKUATAN:
* Suka bicara

* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
* Antusias dan ekspresif
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu
* Hidup di masa sekarang
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
* Umumnya hebat di permukaan
* Mudah berteman dan menyukai orang lain
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
* Menyukai hal-hal yang spontan

KELEMAHAN:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
* Susah untuk diam
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah
* Susah datang tepat waktu jam kantor
* Prioritas kegiatan kacau
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
* Egoistis
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
* Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B. Mendorong Tindakan Belajar

Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1. Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar

jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1. Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2. Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3. Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4. Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5. Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.



PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Pengertian Psikologi
Secara harafiah (Syah, 1997 / hal. 7)
Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.

William James (Syah, 1997/ hal. 8) menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental

John B. Watson (Syah, 1997 / hal.8) mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.

Caplin (Syah, 1997 / hal. 8) mendefinisikan psikologi sebagai
“..... the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment”
(Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).

Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld (Sarwono dalam Syah, 1997 / hal.8) mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal.8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.

Syah (1997 / hal.9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

2. Pengertian Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Syah, 1997 / hal.10)
Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan

Menurut McLeod (Syah, 1997 / hal. 10)
Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop).
Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan

Tardif (Syah, 1997 / hal. 10)
Secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Secara luas dan representatif, pendidikan ialah .....the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan)

Menurut Dictionary of Psychology (Syah, 1997 / hal. 11)
Pendidikan diartikan sebagai ..... the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution.
Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya.
Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction)

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal. 11)
Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.

3. Pengertian Psikologi Pendidikan
Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
e. Penyenggaraan pendidikan keguruan

Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah ...... a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process.
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.

Tardif (Syah, 1997 / hal. 13)
Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13)
Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being. Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.



seperti dikutip dari berbagai sumber:

1. http://sahabatjiwa.multiply.com/journal/item/6/Sanguinis_Melankolis_Koleris_atau_Plegmatis_ya

2. http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm

Buku Sekolah Elektronik Departemen Pendidikan Nasional


Buku Sekolah Elektronik Departemen Pendidikan Nasional

(Sebuah Solusi Keterjangkauan Pendidikan)

Disusun Oleh:
Angga Fuja W.*
Arif Nurahman*
Bambang Achdiyat*


Department of Physics
Faculty of Sciences and Mathematics, Indonesia University of Education

and

Follower Open Course Ware at Massachusetts Institute of Technology
Cambridge, USA
Department of Physics
http://web.mit.edu/physics/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Physics/index.htm
&
Aeronautics and Astronautics Engineering
http://web.mit.edu/aeroastro/www/
http://ocw.mit.edu/OcwWeb/Aeronautics-and-Astronautics/index.htm












"That for every action there is an equal and opposite reaction"
-"Isaac Newton"-

"...there are no simple answers
to how education can contribute
towards disarmament and development.
But increasing awareness through education
seems to be a way towards the kind of mobilisation
that is necessary..."

-"Magnus Haavelsrud, Norwegian peace educator"-

Buku Teks Pelajaran Murah
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Disampaikan oleh:

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Di Jakarta, 20 Agustus 2008

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan penuh rasa gembira dan bangga menyuguhkan sejumlah buku teks pelajaran layak-pakai yang hak ciptanya telah dilmiliki Departemen Pendidikan Nasional.
Buku-buku teks pelajaran tersebut tersedia di situs Depdiknas yang diberi nama Situs Buku Sekolah Elektronik yang disingkat BSE atau e-Book. Jumlah seluruhnya saat ini ada empat ratus tujuh (407) judul buku dan Insya Allah setiap tahunnya akan bertambah.

Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakan pakainya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah ditetapkan sebagai Buku Teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 46 Tahun 2007, Permendiknas Nomor 12 Tahun 2008, Permendiknas Nomor 34 Tahun 2008, dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2008.

Buku-buku teks pelajaran yang telah dimiliki hak ciptanya oleh Depdiknas ini dapat digandakan, dicetak, difotokopi, dialihmediakan, dan/atau diperdagangkan oleh perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum dalam rangka menjamin akses dan harga buku yang terjangkau oleh masyarakat. Masyarakat dapat pula mengunduh (down load) langsung dari internet jika memiliki perangkat komputer yang tersambung dengan internet, serta menyimpan file buku teks pelajarann tersebut.

Untuk penggandaan yang bersifat komersial, harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemerintah berharap melalui Program Masal Buku Murah ini, buku teks pelajaran lebih mudah diakses sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah di luar negeri dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar yang bermutu dan terjangkau.

Selamat belajar. Selamat mereguk ilmu, pengetahuan, dan teknologi melalui Buku Teks Pelajaran yang bermutu dan terjangkau.

(Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA)
Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga mantan Menteri Keuangan RI, Saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional


Selamat Datang di Dunia Tanpa Kertas

Intro:

An e-book (for electronic book: also ebook) is the digital media equivalent of a conventional printed book. Such documents are usually read on personal computers, or on dedicated hardware devices known as e-book readers or e-book devices.

An e-book is a specialized type of e-text.

Many cell phones can also be used to read ebooks.

Digital media (as opposed to analog media) usually refers to electronic media that work on digital codes. Today, computing is primarily based on the binary numeral system. In this case digital refers to the discrete states of "0" and "1" for representing arbitrary data.

Computers are machines that (usually) interpret binary digital data as information and thus represent the predominating class of digital information processing machines. Digital media ("Formats for presenting information" according to Wiktionary:Media) like digital audio, digital video and other digital "content" can be created, referred to and distributed via digital information processing machines. Digital media represents a profound change from previous (analog) media.

Digital data is per se independent of its interpretation (hence representation). An arbitrary sequence of digital code like "0100 0001" might be interpreted as the decimal number 65, the hexadecimal number 41 or the glyph "A". See also: ASCII, Code.

Florida's digital media industry association, Digital Media Alliance Florida, defines digital media as "the creative convergence of digital arts, science, technology and business for human expression, communication, social interaction and education"

SELAMAT datang di era paperless.

Abad ke-21, sebuah era di mana kertas sudah tidak terlalu diperlukan lagi dalam dokumentasi. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, setiap institusi mulai merambah apa yang disebut dengan
e-document.

Noerrachman Saleh, Konsultan Dokumen Astragraphia menjelaskan bahwa kebutuhan akan e-document di masa kini sudah tidak terelakkan lagi. ”Orang lebih suka menyimpan data secara elektronik sebab pengolahannya lebih mudah. Selain itu problem sampah kertas dan keterbatasan tempat penyimpanan juga menjadi alasan tersendiri,” jelas Noer dalam sebuah seminar di Tasikmalaya.

Segala jenis pengetahuan di dunia ini pada dasarnya tersimpan pada tempatnya masing-masing. Sebagian besar, yaitu 42 persen, tersimpan dalam otak manusia. Lalu sebanyak 24 persen tersimpan dalam bentuk dokumen kertas. Baru disusul dalam bentuk dokumen elektronik sebesar 22 persen. Terakhir, ada pengetahuan yang ditampung dalam elektronik database, yaitu sebesar 12 persen. Demikian data yang dihimpun Delphi tahun 1997.

Metode konvensional mengenalkan kita pada penyimpanan data dengan buku atau kertas. Diawali dengan perpustakaan tradisional, yaitu kumpulan buku tanpa katalog. Berkembang kemudian menjadi perpustakaan semi modern, di mana katalog dilakukan secara manual.
Lalu ada pula katalog secara komputer.

Di era TI, lahir yang disebut dengan perpustakaan digital. Lalu yang paling canggih adalah perpustakaan virtual, ketika semua koleksi buku bisa diakses melalui internet.Yang terakhir ini bukan lagi sekedar konsep, melainkan sudah menjadi kenyataan. Sudah cukup banyak perpustakaan online di negara maju.

Untuk menuju ke arah perpustakaan virtual ini, terlebih dulu kita harus mengenal teknologi bagaimana dokumen pada sehelai kertas bisa diolah menjadi database komputer. Secara teknis, proses terciptanya sebuah e-document tidak terlalu rumit. Manfaat dari e-document salah satunya adalah minimalisasi tempat. Bayangkan, setumpukan data atau buku bisa dirangkum menjadi sebuah disket kecil (Flash Disk).

Noer menjelaskan bagaimana proses ini berjalan. Pertama, semua dokumentasi kertas melalui sistem scanning untuk bisa ditampakan dalam komputer. Dari sini bisa diolah lagi mana dokumen yang benar-benar penting atau tidak. Klasifikasi ini disebut dengan sistem verification. Dari sini menuju ke proses index, yaitu pengelompokan daftar isi yang ditujukan untuk memudahkan pencarian data. Dalam indexing ini dilakukan kategorisasi berupa tipe dokumen, tanggal, nama pembuat serta kata kunci.

Noer menjelaskan dalam sistem indexing bisa dilakukan dengan metode manual atau otomatis. Ada lagi sistem aplikasi indexing dengan Optical Character Reader (OCR). Dengan aplikasi ini maka kita bisa mencari kata per kata data dalam file yang dimaksud.
Setelah itu barulah di-release dalam bentuk disket atau CD ROM maupun hard disk.

Pada bentuk terakhir, data bisa diformat dalam bentuk HTML, Acrobat, Word atau ASCII.
”Walaupun ada yang optimis dengan paperless, ada pula yang tidak. Pada kenyataannya jumlah kertas di dunia ini terus meningkat. Ini membuktikan bahwa informasi sudah sedemikian membanjir, baik yang tersimpan secara elektronik maupun kertas,” kata Noer.

Perpustakaan Digital

A digital library is a library in which collections are stored in digital formats (as opposed to print, microform, or other media) and accessible by computers. The digital content may be stored locally, or accessed remotely via computer networks. A digital library is a type of information retrieval system.

The first use of the term digital library in print may have been in a 1988 report to the Corporation for National Research Initiatives, The term digital libraries was first popularized by the NSF/DARPA/NASA Digital Libraries Initiative in 1994. The older names electronic library or virtual library are also occasionally used, though electronic library nowadays more often refers to portals, often provided by government agencies, as in the case of the Florida Electronic Library. The DELOS Digital Library Reference Model defines a digital library as:

"An organization, which might be virtual, that comprehensively collects, manages and preserves for the long term rich digital content, and offers to its user communities specialised functionality on that content, of measurable quality and according to codified policies."


Astragraphia merupakan usaha jasa dokumentasi digital yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dalam mengembangkan proyek Warung Informasi dan Teknologi (Warintek).

Sejak tahun 2000 mereka mengolah
data dan koneksi Warintek antara Sentra Informasi Perpustakaan Digital Iptek Nasional dengan sejumlah perguruan tinggi dan pengguna umum Warintek. Salah satunya adalah Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya,
Jawa Barat.

Warintek Unsil yang berdiri resmi pada Juni 2001 ini merupakan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh KRT dengan cara menyediakan fasilitas TI. Perpustakaan Unsil sendiri bisa dikategorikan sebagai perpustakaan digital, di mana sistem katalognya telah dilakukan dengan komputer.

Menurut Drs. Yoni Dharmawan, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Perpustakaan Unsil yang membawahi Warintek, selain menyediakan sarana TI mereka juga mempunyai beberapa program.
”Kami mengadakan pelatihan staf perpustakaan untuk materi CDS/ISIS selama satu minggu. Instrukturnya berasal dari Institut Pertanian Bogor (IBP). Materinya meliputi pembuatan basis data baru, pemasukan data, penyuntingan data, penelusuran data, pembuatan file dan pencetakan,” jelas Yoni.
Program lain adalah pengembangan basis data koleksi perpustakaan dan katalog online. Di sini, staf perpustakaan diharap bisa membangun basis data koleksi yang nantinya akan disediakan kepada masyarakat dalam bentuk katalog komputer. Pembimbing dan instrukturnya berasal dari IPB. Saat ini sudah terbangun basis data sebanyak 2400 entri. Penambahan terus dilakukan oleh staf perpustakaan dengan laju penambahan rata-rata 100 entri per minggu.

Program berkut adalah pelatihan browsing internet dan email. Staf perpustakaan dan Warintek dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan internet agar bisa melayani masyarakat pengguna dengan baik.Yoni juga menyebut adanya program pengembangan basis data teknologi tepat guna, pelatihan internet bagi dosen, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Menurut penuturan Roni, petugas Warintek Unsil, pengunjung Warintek lumayan ramai. ”Setiap saat selalu saja ada yang datang, baik dari mahasiswa maupun orang luar,” ungkap pemuda yang sudah lima tahun bekerja di Unsil. Dengan membayar ongkos sewa 4000 rupiah per jam, semua orang bisa mengakses internet dan informasi dari CD ROM yang tersedia.
Namun Roni menekankan bahwa Indonesia belum bisa sepenuhnya paperless. Terbukti, mahasiswa di kampus Unsil masih tetap membutuhkan buku-buku konvensional


References:

References

  1. ^ Greenstein, Daniel I., Thorin, Suzanne Elizabeth. The Digital Library: A Biography. Digital Library Federation (2002) ISBN 1933645180. Accessed June 25, 2007.
  2. ^ Kahn, R. E., & Cerf, V. G. (1988). The Digital Library Project Volume I: The World of Knowbots, (DRAFT): An Open Architecture For a Digital Library System and a Plan For Its Development. Reston, VA: Corporation for National Research Initiatives.
  3. ^ Edward A. Fox. The Digital Libraries Initiative - Update and Discussion, Bulletin of the America Society of Information Science, Vol. 26, No 1, October/November 1999.
  4. ^ L. Candela et al: The DELOS Digital Library Reference Model - Foundations for Digital Libraries. Version 0.98, February 2008 (PDF)
  5. ^ Koehler, AEC. Some Thoughts on the Meaning of Open Access for University Library Technical Services Serials Review Vol. 32, 1, 2006, p. 17
  6. ^ "The DSpace team recognized the value of the OAIS framework and recast the repository’s architecture to accommodate this archival framework" {{{author}}}, MIT's DSpace experience: a case study, [[{{{publisher}}}]], 2004.
  7. ^ Agosti, M., Candela, L., Castelli, D., Ferro, N., Ioannidis, Y., Koutrika, G., Meghini, C., Pagano, P., Ross, S., Schek, H.-J., & Schuldt, H. (2006). A Reference Model for DLMSs Interim Report. In L. Candela, & D. Castelli (Eds.), Deliverable D1.4.2 - Reference Model for Digital Library Management Systems [Draft 1]. DELOS, A Network of Excellence on Digital Libraries -- IST-2002-2.3.1.12, Technology-enhanced Learning and Access to Cultural Heritage. Online at: http://146.48.87.122:8003/OLP/Repository/1.0/Disseminate/delos/2006_WP1_D142/content/pdf?version =1
  8. ^ Gonçalves, M. A., Fox, E. A., Watson, L. T., & Kipp, N. A. (2004). Streams, Structures, Spaces, Scenarios, Societies (5S): A Formal Model for Digital Libraries. ACM Transactions on Information Systems (TOIS),22 (2), 270-312.
  9. ^ Committee on Institutional Cooperation: Partnership announced between CIC and Google, 6 June 2007, Retrieved 7 July 2007.
  10. ^ European Commission steps up efforts to put Europe’s memory on the Web via a “European Digital Library” Europa press release, 2 March 2006
  11. ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age." Library Resources & Technical Services. 44(2) (2000):97-104.
  12. ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
  13. ^ Gertz, Janet. "Selection for Preservation in the Digital Age: An Overview." Library Resources & Technical Services 44(2) (2000):97-104.
  14. ^ Cain, Mark. “Managing Technology: Being a Library of Record in a Digital Age”, Journal of Academic Librarianship 29:6 (2003).
  15. ^ Breeding, Marshall. “Preserving Digital Information.”. Information Today 19:5 (2002).
  16. ^ Teper, Thomas H. "Where Next? Long-Term Considerations for Digital Initiatives." Kentucky Libraries 65(2)(2001):12-18.
  17. ^ Pymm, Bob. "Building Collections for All Time: The Issue of Significance." Australian Academic & Research Libraries. 37(1) (2006):61-73.
  18. ^ Antique Books
  19. ^ Kelly, Kevin (2006-05-14). "Scan This Book!", New York Times Magazine. Retrieved on 2008-03-07. "When Google announced in December 2004 that it would digitally scan the books of five major research libraries to make their contents searchable, the promise of a universal library was resurrected. ... From the days of Sumerian clay tablets till now, humans have "published" at least 32 million books, 750 million articles and essays, 25 million songs, 500 million images, 500,000 movies, 3 million videos, TV shows and short films and 100 billion public Web pages."
  20. ^ Stanford Copyright & Fair Use - Digital Preservation and Copyright by Peter B. Hirtle

See also

External links

General

Conferences

  • ECDL - European Conference on Digital Libraries
  • ICADL - International Conference on Asian Digital Libraries
  • JCDL - ACM and IEEE Joint Conference on Digital Libraries

National and international archives

Book archives

Major subject archives

Tools


Readers

E-book readers may be specifically designed for that purpose, or intended for other purposes as well. The term is restricted to hardware devices, not software programs.

Specialized devices have the advantage of doing one thing well. Specifically, they tend to have the right screen size, battery lifespan, lighting and weight. A disadvantage of such devices is that they are often expensive when compared to generic devices such as laptops and PDAs.

Prominent examples include:

See also

Notes

References

External links


Buku Sekolah Elektronik dari BSE untuk SD/MI

Sumber: Kak Rauden Sah

ebook

Kelas 1

buku sdkelas01_bahasa-kita-bindo_jaruki.zip

buku sdkelas01_belajar-bahasa-indonesia-itu-menyenangkan_ismail.zip

buku sdkelas01_bindo_umri.zip

buku sdkelas01_dunia-mtk_kismianti.zip

buku sdkelas01_indahnya-bindo-sastra_suyatno.zip

buku sdkelas01_ipa_sholehudin.zip

buku sdkelas01_ipa_sri.zip

buku sdkelas01_ips_edi.zip

buku sdkelas01_ips_indrastuti.zip

buku sdkelas01_ips_inoki.zip

buku sdkelas01_mtk_djaelani.zip

buku sdkelas01_mtk_purnomosidi.zip

buku sdkelas01_pkn_setiati.zip

buku sdkelas01_pkn_suliasih.zip

buku sdkelas01_pkn_tijan.zip

buku sdkelas01_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 2

buku sdkelas02_aku-bangga-bindo_ismoyo.zip

buku sdkelas02_bahasa-indonesia-umri_nuraini.zip

buku sdkelas02_cinta-berbahasa_indonesia_tri.zip

buku sdkelas02_indahnya-bindo_suyatno.zip

buku sdkelas02_ipa_heri-sulistyanto.zip

buku sdkelas02_ipa_sri-purwati.zip

buku sdkelas02_ipa_syaeful.zip

buku sdkelas02_ips-mengenal-lingkungan-sekitar_nurhadi.zip

buku sdkelas02_ips_kuswanto.zip

buku sdkelas02_ips_tri-jaya-suranto.zip

buku sdkelas02_mtk_buchori.zip

buku sdkelas02_mtk_purnomosidi.zip

buku sdkelas02_pkn_lili.zip

buku sdkelas02_pkn_sajari.zip

buku sdkelas02_pkn_setiati.zip

buku sdkelas02_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 3

buku sdkelas03_aku-bangga-bindo_ismoyo.zip

buku sdkelas03_bahasa-indonesia_kaswan.zip

buku sdkelas03_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas03_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas03_bindo_mei.zip

buku sdkelas03_cerdas-berhitung-mtk_nur.zip

buku sdkelas03_ilmu-pengetahuan-sosial_saleh-muhammad.zip

buku sdkelas03_ipa_mulyati.zip

buku sdkelas03_ipa_priyono.zip

buku sdkelas03_ips_muhammad-nursa-ban.zip

buku sdkelas03_ips_sunarso.zip

buku sdkelas03_pkn_prayoga.zip

buku sdkelas03_pkn_purwanto.zip

buku sdkelas03_pkn_slamet.zip

buku sdkelas03_sains-ipa_sularmi.zip

buku sdkelas03_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 4

buku sdkelas04_ayo-belajar-mtk_burhan.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_kaswan.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_umri-nuraini.zip

buku sdkelas04_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas04_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas04_cerdas-pengetahuan-sosial_retno.zip

buku sdkelas04_ilmu-pengetahuan-sosial_sadiman.zip

buku sdkelas04_ipa_budi-wahyono.zip

buku sdkelas04_ipa_heri.zip

buku sdkelas04_ipa_poppy.zip

buku sdkelas04_ips_tantya.zip

buku sdkelas04_pkn_prayoga.zip

buku sdkelas04_pkn_ressi-kartika.zip

buku sdkelas04_pkn_sarjan.zip

buku sdkelas04_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

Kelas 5

buku sdkelas05_bahasa-indonesia_umri.zip

buku sdkelas05_bindo-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas05_bindo_sri.zip

buku sdkelas05_bindo_suyatno.zip

buku sdkelas05_gemar-mtk_sumanto.zip

buku sdkelas05_ipa_choiril.zip

buku sdkelas05_ips_endang.zip

buku sdkelas05_ips_reny.zip

buku sdkelas05_ips_syam.zip

buku sdkelas05_mtk_soenarjo.zip

buku sdkelas05_pkn_ikhwan_sapto_darmono.zip

buku sdkelas05_pkn_najib.zip

buku sdkelas05_pkn_setiati.zip

buku sdkelas05_sd_ilmu-pengetahuan-alam_heri.zip

buku sdkelas05_senang-belajar-ipa-rositawaty.zip

Kelas 6

buku sdkelas06-bahasa-indonesia_samidi.zip

buku sdkelas06_bahasa-indonesia-membuatku-cerdas_edi.zip

buku sdkelas06_bahasa-indonesia_sukini.zip

buku sdkelas06_bersahabat-dengan-mtk_dadi.zip

buku sdkelas06_bindo_sukini.zip

buku sdkelas06_gemar-mtk_sumanto.zip

buku sdkelas06_ilmu-pengetahuan-alam_heri-sulistyanto.zip

buku sdkelas06_ipa_dwi.zip

buku sdkelas06_ipa_yayat.zip

buku sdkelas06_ips_arif.zip

buku sdkelas06_ips_indrastuti.zip

buku sdkelas06_ips_sanusi-fattah.zip

buku sdkelas06_ips_widodo.zip

buku sdkelas06_kewarganegaraan_resi-kartika-dewi.zip

buku sdkelas06_pkn_setiati.zip

buku sdkelas06_pkn_sunarso.zip

buku sdkelas06_senang-belajar-ipa_rositawaty.zip

buku sdlampiran_03_03_2009.zip

Download Buku Sekolah Elektronik Untuk SMP/MTs Gratis Kelas 7, 8, 9. untuk download silahkan klik link-link di bawah ini :

Kelas 7

buku smpkelas07_aktif-bindo_dewi.zip

buku smpkelas07_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas07_bahasa-indonesia-bahasa-kebangsaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas07_bahasa-indonesia_endah.zip

buku smpkelas07_bahasa-inggris_kumalarini.zip

buku smpkelas07_bindo-jendela-ilmu-pengetahuan_romiyatun.zip

buku smpkelas07_bindo_atikah.zip

buku smpkelas07_english-in-focus_artono.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam-terpadu_anni-winarsih.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam_teguh-sugiarto.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-alam_wasis.zip

buku smpkelas07_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas07_ipa_agus.zip

buku smpkelas07_ips_iwan.zip

buku smpkelas07_ips_muh-nurdin.zip

buku smpkelas07_ips_waluyo.zip

buku smpkelas07_kompetisi-berbahasa-indonesia_nia.zip

buku smpkelas07_kompetisi-berbahasa-indonesia_ratna.zip

buku smpkelas07_matematika_atik.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas07_mtk_wagiyo.zip

buku smpkelas07_pendidikan-kewarganegaraan_sugeng.zip

buku smpkelas07_pengetahuan-sosial-1_didang.zip

buku smpkelas07_scaffolding_joko.zip

buku smpkelas07_smp_matematika_dewi_nuharini.zip

Kelas 8

buku smpkelas08_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia-bahasa-kebanggaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia_kisyani.zip

buku smpkelas08_bahasa-indonesia_yulianti-setyorini.zip

buku smpkelas08_bahasa-inggris_utami.zip

buku smpkelas08_bindo-sastra_asep.zip

buku smpkelas08_english-in-fokus_artono.zip

buku smpkelas08_galeri-pengetahuan-sosial-terpadu_sri.zip

buku smpkelas08_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas08_ilmu_pengetahuan_alam_rinie.zip

buku smpkelas08_ipa_saeful.zip

buku smpkelas08_ipa_wasis.zip

buku smpkelas08_ips_nanang.zip

buku smpkelas08_ips_sanusi-fatah.zip

buku smpkelas08_matematika-endah_budi.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas08_mudah-belajar-mtk_nuniek.zip

buku smpkelas08_pendidikan-kewarganegaraan_dadang.zip

buku smpkelas08_scaffolding_joko.zip

buku smpkelas08_smp_matematika_dewi_nuharini.zip

buku smpkelas08_terampil-berbahasa-indonesia_dewaki.zip

Kelas 9

buku smpkelas09_bahasa-dan-sastra-indonesia_maryati.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia-bahasa-kebangsaanku_sarwiji.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_asep_sudarmawarti.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_nasharyati.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_sri.zip

buku smpkelas09_bahasa-indonesia_yulianti.zip

buku smpkelas09_bahasa-inggris_gunarso.zip

buku smpkelas09_bahasa_indonesia_atikah_anindyarini.zip

buku smpkelas09_english-in-fokus_artono.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_dewi-ganawati.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_nur-kuswanti.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-alam_sukis.zip

buku smpkelas09_ilmu-pengetahuan-sosial_wayan.zip

buku smpkelas09_ipa_elok-sudibyo.zip

buku smpkelas09_ips_ratna-sukmayani.zip

buku smpkelas09_ips_sanusi.zip

buku smpkelas09_ips_sutarto.zip

buku smpkelas09_matematika_ichwan.zip

buku smpkelas09_matematika_sulaiman.zip

buku smpkelas09_matematika_wahyudin_djumanta.zip

buku smpjendela-ilmu-pengetahuan-bahasa-dan-sastra-indonesia_dwi.zip

buku smpkelas09_mudah-belajar-mtk_naniek.zip

buku smpkelas09_pegangan-mtk_wagiyo.zip

buku smpkelas09_pelajaran-bahasa-indonesia_tri.zip

buku smpkelas09_pendidikan-kewarganegaraan_sugeng.zip

Menu Download dari DEPDIKNAS

ebook

Kelas 10

buku smakelas10_inter-language_joko-priyana.zip

buku smakelas10_mtk_hendi.zip

buku smakelas10_sistem-refrigerasi-dan-tata-udara.zip

buku smakelas10_teknik-pembibitan-tanaman_paristiyanti.zip

Kelas 11

buku smakelas11_bahasa-indonesia_euis.zip

buku smakelas11_bahasa_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas11_developing-english-competencies_achmad-doddy.zip

buku smakelas11_interlanguage_joko.zip

buku smakelas11_interlanguage_senior_high_school_joko.zip

buku smaelas11_ipa_ips_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas11_sistem-refrigerasi-dan-tata-udara.zip

buku smakelas11_sma_matematika_bahasa_pangarso.zip

buku smakelas11_sma_matematika_wahyudin.zip

buku smakelas11_terampil-berbahasa-indonesia_gunawan.zip

Kelas 12

buku smas12_bahasa-dan-sastra-indonesia_ipa-ips_muhammad-rohmadi.zip

buku smakelas12_bahasa_aktif-dan-kreatif-berbahasa-indonesia_adi.zip

buku smakelas12_bahasa_mahir-mtk_geri.zip

buku smas12_developing-english-competencies_ipa-ips_achmad-doddy.zip

buku smakelas12_interlanguage_joko.zip

buku smakelas12_ipa_ips_aktif-dan-kreatif-bindo_adi.zip

buku smakelas12_mtk_toali.zip

buku sma_sma_bahasa-dan-sastra-indonesia_bahasa_muhammad-rohmadi.zip

buku smakelas12_sma_matematika-aplikasi_ipa_pesta-e-s.zip

buku smakelas12_sma_matematika_bahasa_pangarso.zip

Penulis*:
1. Penggagas Sistem Sekolah Berbasis Lingkungan di Daerah Jawa Barat dan Banten
2. Founder The Sundanese Cyber School Alliance
3. Founder Ciamis Cyber School

(Ketiganya adalah Mahasiswa Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Follwer in Open Course Ware at The Massachusetts Institute of Technology (MIT) Cambridge, Massachusetts, United States)