Tampilkan postingan dengan label inspirasi pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Desember 2010

Jalan Pagi

Olah raga itu penting, karena itulah mungkin olah raga dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah. Sayang, semasa sekolah dulu saya dan sebagian besar teman-teman di kelas tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Apalagi kalau jam pelajaran olah raga pas kebetulan di jam 10 ke atas, di mana matahari sudah mulai naik. Suasana jadi tak nyaman. Panas, itu sudah pasti. Berolah raga ya karena terpaksa takut nilai di rapor jadi jelek.

Semua itu terjadi di masa lalu. Saat kini saya menjalankan pendidikan di rumah, di mana waktu beraktivitas bisa diatur sendiri, maka jalan pagi adalah olah raga murah yang agak sering saya lakukan bersama anak-anak dibandingkan olah raga lainnya. Anak-anak memang akan bersepeda sampai siang baik ada ataupun tak ada acara jalan kaki. Namun saat jalan pagi adalah saat yang istimewa. Ketika itulah ada unsur rekreasi, belajar, menjauhkan pandangan untuk kesehatan mata, dan mencari benih-benih tumbuhan.

Beberapa acara jalan pagi kami tidak semua terekam di blog ini, tapi sekedar mengingatkan diri sendiri, hasil jalan pagi kini sudah terlihat. Azkia (8 tahun) sekarang jadi kuat berjalan jauh, begitu juga Luqman (6 tahun). Anak-anak juga jadi peka dengan tetumbuhan atau segala sesuatu yang unik di perjalanan. Selain itu, beberapa tanaman yang kami temukan benihnya di perjalanan, kini sudah mulai tumbuh. Ada pohon kersen yang benihnya kami ambil dari selokan; dahlia mulai berbunga, bunga kenikir/cosmos 3 warna sudah mampu mengundang serangga bertamu ke pekarangan, tanaman tekokak dari selokan tumbuh tinggi hampir berbunga. Begitulah sepanjang tahun ini acara jalan pagi memberi manfaat buat kami.

Catatan terbaru jalan pagi kami adalah tanggal 22 Desember 2010. Setelah berkali-kali menunjukkan tumbuhan yang akarnya berbau seperti balsam, saya ajak anak-anak mencabut tumbuhan itu di sepanjang jalan yang kami temui. Menunggu saat lapang saya ingin mencoba mengajak anak-anak 'meneliti' tanaman tersebut. Sungguhkah itu memang tanaman yang jadi bahan dasar balsam?? Bahkan saya juga penasaran ingin tahu ^_^.

Jalan pagi, meski melewati jalanan yang hampir sama, kami menemukan hal-hal baru yang berbeda. Karena itulah, akan coba kami pertahankan itu sebagai sarana belajar murah yang menyehatkan. Sekalian sebagai 'pelajaran; olah raga. ^_^



Senin, 20 Desember 2010

Mendekatkan Anak dengan Al Quran

Sebenarnya saya tidak pe de menulis soal ini karena saya pun masih belajar untuk menghidupkan rumah dengan Al-Quran. Terlebih lagi dalam hal mempraktikkan akhlaq Quran, waah, jauh sekali! Saya masih belepotan. Akan tetapi, tentunya bukan berarti harus menyerah. Tetap saja kami sebagai seorang muslim berkewajiban untuk membuat anak-anak mengenal, tertarik, dan menyukai kitab sucinya.

Selain merutinkan belajar setiap ba'da Maghrib, saya coba menggunakan media-media lain, seperti buku, film, dan memasang kembali poster-poster yang bertemakan Al-Quran. Kumpulan poster berisi nama-nama surat dalam Al-Quran berikut artinya saya simpan juga di sini. Poster tersebut berukuran A4 dalam format PDF. Anda yang membutuhkan poster-poster tersebut bisa mengunduhnya tanpa meminta ijin terlebih dulu.

Belajar hafalan Quran dengan metode isyarat juga kami coba. Memang masih bolong-bolong, tapi kami tetap menyimpan niat untuk melanjutkannya. Insha Allah. Mudah-mudahan diberi kemudahan untuk konsisten.

Yang paling penting, tetaplah memiliki keinginan untuk dekat dengan Quran, walau tantangannya mungkin tak terbilang. Mudah-mudahan Allah SWT meneguhkan setiap niat baik dan memberi kita kekuatan untuk istiqomah mengusahakannya. Amin.


Selasa, 23 November 2010

Buletin: Sarana Murah Menyebarluaskan Pengetahuan

Ada ketimpangan pengetahuan dan informasi antara anak-anak kota dan desa. Harus diakui, di kota kita lebih mudah menemukan sumber-sumber pembelajaran dibandingkan di desa. Bahkan di daerah dengan perbedaan jarak 1 atau 2 jam perjalanan saja dari kota, kita akan temukan 2 hal yang tidak setara. Kota kecil tidak punya toko buku dan juga sulit ditemukan bahkan juga kios-kios buku bekas di sana, sedang di kota yang lebih besar kita bisa temukan dengan mudah buku-buku bagus dengan harga diskon.

Kehadiran internet yang mampu menjadi gudang informasi sesungguhnya kini bisa mengentaskan ketimpangan itu. Akan tetapi, ternyata masih sedikit keluarga dan anak-anak yang terakses dengan internet di daerah pinggiran. Jika pun mereka melakukan aktivitas virtual, kebanyakan masih pada taraf penjelajahan tanpa arah.

Karena itulah, melalui perpustakaan, saya terpikir untuk kembali melakukan hobi lama, yaitu membuat buletin 8 halaman. Salah satu tujuannya adalah untuk 'membumikan' informasi-informasi dari dunia virtual yang mungkin tidak bisa terakses oleh semua anak.

Pembuatan buletin tidaklah terlalu sulit, cukup dengan layout sederhana, menggunakan printer skala rumah, lalu diperbanyak dengan foto copy. Namun saya percaya manfaatnya dalam jangka panjang jauh lebih besar daripada biaya alakadarnya yang kita sisihkan. Buletin, dengan jumlah halaman yang sedikit lebih mengundang rasa ingin membaca ketimbang lembaran buku tebal. Jika isinya benar-benar dibuat berkualitas, maka kelebihan format buletin bisa menjadi daya dorong minat anak-anak pada ilmu pengetahuan.

Penerbitan perdana, 24 November 2010. Naskah masih assembling dan masih saya yang mengisi rubrik. Secara bertahap, Azkia dan juga teman-temannya akan saya coba stimulus untuk mengisi buletin ini, terutama untuk tulisan imajinatif.

Mudah-mudahan langkah ini bisa terus berlanjut. Bagi para pembaca yang punya sumber daya memadai, mungkin juga bisa melakukan hal yang sama. Mengeluh dengan sistem pendidikan yang kurang memuaskan pasti tak akan pernah ada habisnya. Lebih baik kita ciptakan kepingan-kepingan solusi sesuai kapasitas kita masing-masing.

Salam pendidikan!

Kamis, 28 Oktober 2010

Belajar Sejarah Lewat Film dan Buku

Pelajaran sejarah biasanya kurang diminati anak-anak, terlebih sejarah nasional. Sejarah seolah identik dengan kesan membosankan, penuh dengan hafalan, dan banyak lagi alasan lainnya. Padahal sejarah adalah salah satu media agar anak-anak belajar dari peristiwa di masa lalu, menelusuri benang merah peradaban yang membentuk jati diri bangsanya ataupun keyakinannya.

Awalnya, kami pun sedikit ragu, jangan-jangan anak-anak kami juga sulit menyukai sejarah, apalagi mereka tidak bersekolah formal. Akan tetapi, saya cukup terpana, ketika kami mencoba memulainya dari film.Beberapa waktu lalu, kami mengunduh film Tjut Njak Dhien di sini, dan menontonnya bersama anak-anak.

Tayangan filmnya memang sedikit mengandung unsur kekerasan, tapi dengan pendampingan dan penjelasan pada bagian tersebut, efek negatifnya bisa diantisipasi. Bagaimana kami tahu intisari film itu yang mereka cerna dan bukan adegan kekerasannya? Karena kami mengajak mereka mengobrol, menceritakan ulang, dan mendiskusikannya. Dan alhamdulillah, mereka ternyata mampu mencerna semuanya sesuai harapan kami.

Setelah itu? Beruntung kami juga menemukan buku serial pahlawan yang ditulis dengan gaya populer, terbitan Bee Media Indonesia. Salah satunya adalah seri tentang Cut Nyak Dien dan Teuku Umar. Buku tersebut menjadi penguat data dan mampu membuat rasa kesejarahan lebih nyata.

Belajar sejarah tidak lagi menjadi masalah. Anak-anak menyukainya sebagai bagian yang perlu diketahui. Buat saya, hal itu sudah cukup menyenangkan. Karena jika minat belajar sudah tumbuh, anak-anak akan mencari tahu sendiri bahan-bahan yang ingin mereka ketahui.

Salam Pendidikan!

Selasa, 28 September 2010

Menangkap Kupu-Kupu Lagi

Dulu saya pernah memposting tulisan berjudul, Mengejar Kupu-Kupu. Tulisan itu saya buat ketika kami baru 26 hari tinggal di rumah baru di Tanjungsari. Tak terasa sekarang sudah hampir mendekati masa 2 tahun kami menempati kawasan ini, dan anak saya Luqman ternyata masih menyimpan rasa penasaran terhadap kupu-kupu yang tidak terlalu jinak. Ia ingin mencoba menangkapnya, walau kemudian dilepaskannya kembali.

Berbekal jaring penangkap ikan (lamit kalau kata orang Sunda ^_^), sejak kemarin ia terus tertarik untuk mengubahnya menjadi penangkap kupu-kupu. Ia terinspirasi dari buku yang memperlihatkan alat itu dipakai anak-anak untuk berburu kupu-kupu. Awalnya saya membeli 'lamit' memang hanya untuk menangkap ikan yang ada di kolam kecil kami. Kemudian berubah jadi penjaring kupu-kupu, sepertinya bukanlah ide yang perlu ditolak.


Satu hal yang menarik, kupu yang biasanya sangat liar dan terbang cekatan itu bahkan bisa terdiam di tangan anak saya selama kurang lebih 3 menit. Caranya hanya dielus-elus dan "memakai kekuatan pikiran" (begitu kata Luqman ^^).

Waah, sebenarnya mungkin juga ada pengaruh film MATILDA (anak yang memiliki kekuatan imajinasi sehingga bisa membebaskan teman-temannya dari seorang kepala sekolah yang jahat). Luqman menontonnya hingga beberapa kali dan begitu takjub dengan kehebatan MATILDA. Dengan pendampingan, film itu bisa sekalian mengajarkan pada anak-anak tentang hebatnya pikiran yang pantang menyerah. Tokoh Matilda yang sangat mandiri dan percaya diri membuat anak-anak belajar tentang kebalikan dari imperior.

Nah, setelah kemahiran menangkap kupu-kupu ini makin baik, dan pasti besoknya dan besoknya lagi diulang, rencananya saya akan membuatkan penangkaran kupu-kupu mini buat anak-anak. Setidaknya untuk mempertahankan benih kecintaan belajar sains sejak dini?

Senin, 23 Agustus 2010

Menjelajah

Menjelajah mungkin terdengar terlalu keren ya. Tapi biarlah disebut begitu, supaya terasa sebagai sesuatu yang menakjubkan. Kegiatan ini menjadi sering kami lakukan dalam satu tahun terakhir.

Anak-anak saya ajak berjalan menyusuri pesawahan, sungai, dan perkampungan di belakang komplek perumahan kami. Meski sudah berulang-ulang kami lakukan, selalu saja ada hal baru yang kami temui.

Kalau merujuk pada konsep Charlotte Mason dalam menjalankan home-education, kegiatan menjelajah alam ini adalah bagian penting yang sangat ia anjurkan.

Salah satu tujuannya adalah melatih mereka untuk terbiasa berinteraksi dengan alam sekitar, sehingga tumbuhlah rasa memiliki dan rasa ingin menjaga alam tempat mereka hidup. Selain itu, menurut Charlotte, dengan mengajak anak-anak memperhatikan aneka tetumbuhan dengan seksama, akan melatih mereka untuk memiliki rentang perhatian yang panjang terhadap sesuatu.

Sekarang ini, malah anak-anak bisa mengajak teman mainnya untuk ikut serta. Menjelajah jadi kegiatan murah yang tak kalah serunya dengan bermain di arena bom bom car di mall.

Di perjalanan kadang-kadang kami berhenti melihat-lihat para petani bekerja di sawah. Hari Minggu, 22 Agustus kemarin, malah Luqman minta berhenti untuk melihat pembuatan bata merah. Pengalaman baru buat anak-anak.

Kamis, 10 Juni 2010

Kelomang dan Gunanya Ilmu

Sering, setelah kini saya melewati masa sekolah, menjadi ibu, dan membelikan anak-anak buku-buku ilmu pengetahuan muncul pertanyaan pada diri sendiri, buat apa ya sebenarnya belajar ini dan itu? Kalau tidak relevan dengan apa yang kita geluti dan kita butuhkan, ilmu biasanya jadi tidak menarik untuk dipelajari. Biologi misalnya. Apa ya gunanya mengetahui daur hidup hewan? Mengetahui makanan mereka ataupun habitat tempat mereka hidup? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab sampai kemudian terjadi sebuah peristiwa, yang entah kebetulan atau mungkin juga disengaja diberikan 'alam' untuk menjawab pertanyaan saya ^_^.

Suatu hari, menjelang sore saya masih membereskan benda-benda yang berserakan di halaman. Sepintas, sudut mata saya menangkap sebuah gerakan kecil di atas paving block, tapi setelah dilihat hanya ada sebutir batu putih lonjong di sana. Setelah terdiam sebentar, ternyata gerakan itu muncul lagi. Rupanya, benda berbentuk batu lonjong itu-lah yang bergerak.

Saya pun panggil anak-anak. Seperti biasa, ini sering saya lakukan saat menemukan hal-hal baru yang menarik. Tentunya supaya mereka juga tak melewatkan keajaiban-keajaiban yang ada di sekitarnya.

Azkia dan Luqman berseru, "Itu kelomang, Mah!". Malah saya juga belum tahu apa nama hewan itu, tapi anak-anak dengan yakin justru langsung mengenalinya. Seingat saya, kelomang hidup di laut, tapi sekarang ada di darat? Sebuah keanehan. Pikir saya.

"Tapi betul, Mah. Itu memang kelomang," kata Azkia lagi.
"Ya sudah, coba cari di internet, apa ini memang benar kelomang." Anak-anak pun mengganggu papanya untuk dicarikan info tentang kelomang. Setelah searching, ternyata benar, hewan itu memang kelomang.

Sayangnya, kami tidak terlalu membaca dengan detail tentang hewan ini lebih jauh. Karena pengetahuan awal kami, kelomang itu berasal dari laut dan pastinya suka hidup di air, kami pun memasukkannya ke dalam stoples dan diberi bebatuan kecil. Kami beri pisang sebagai makanannya, karena katanya kelomang suka makan tumbuhan.

Setelah semalaman kelomang menginap di stoples, di dapur kami, penasaran saya cari lagi info tentang kelomang di internet. Terkejut juga. Ternyata, kelomang tak hanya hidup di laut. Ada juga jenis kelomang yang hidup di darat dan tidak terlalu menyukai air, sehingga tak boleh direndam terlalu lama di air supaya tetap hidup.

Hampir meloncat, saya periksa stoples kelomang. Ups! Ternyata kelomang kecil itu memang sudah tiada. Sayang sekali! Sejak saat itu-lah saya mulai mengerti apa gunanya mengetahui kehidupan hewan secara spesifik. Salah satunya adalah untuk menjaga kelestarian mereka. Keberuntungan kami menemukan kelomang memang tinggal kenangan, tapi hikmahnya, saya tak lagi meremehkan gunanya ilmu pengetahuan. Ilmu (apapun itu), pasti berguna, meski kita tidak tahu kapan itu akan digunakan.

Salam pendidikan!

Kamis, 18 Maret 2010

Anak Usia Dini dan Komputer


Belajar menggunakan komputer di usia dini. Beberapa orang tua mungkin kurang setuju dan justru menundanya. Beberapa alasan penundaan adalah karena takut anak ketagihan dan jadi kurang banyak bergerak.

Tapi bagi keluarga kami, komputer justru sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan belajar. Luqman (5,5 tahun) yang senang menggambar terakomodasi dengan program corel draw. Hanya dengan mengajari sedikit pengetahuan teknis, ia terus berkreasi sendiri. Hobinya adalah menggambar aneka dinosaurus. Adapun kakaknya, Azkia (7,5) tahun, menggunakan komputer untuk menuliskan gagasan, cerita-cerita, atau apapun yang ingin ditulisnya. Mereka berdua punya folder sendiri-sendiri.

Selain itu, komputer juga jadi sarana menonton CD/DVD film-film kesukaan mereka atau sesekali bermain game edukatif dari internet. Kami sengaja tidak menyediakan TV khusus di rumah. Kalaupun mau sesekali menonton, kami hanya memiliki TV tuner yang tersambung ke monitor komputer.

Tentang rasa khawatir mereka ketagihan, sampai saat ini kami tidak melihat gejala itu. Bergerak dan beraktivitas di luar tetap jauh lebih banyak durasinya dibandingkan berada di depan komputer.

Satu hal yang menarik, mereka belajar tanpa tutorial khusus. Mereka belajar hanya dengan banyak melihat kami (orang tuanya) bekerja. Tak terasa, kemampuan menggunakan komputer mereka jauh sekali dibandingkan saya pada saat sudah menginjak semester 8 kuliah. Saya kira, anak-anak sekarang memang diuntungkan dengan teknologi yang semakin mudah dan canggih, dan hampir semua anak sangat cepat belajar dengan bantuan teknologi.

Rabu, 03 Maret 2010

Petugas Cilik Taman Bacaan

Alhamdulillah, taman bacaan atau lebih tepatnya tempat peminjaman buku yang kami buka tetap diminati anak-anak. Dalam seminggu bisa 2 atau 3 kali anak-anak tetangga datang meminjam dan mengembalikan buku.

Karena kadang-kadang saya sedang ada pekerjaan, beberapa kali saya serahkan tugas mencatat pengembalian dan peminjaman pada Azkia (7,5 tahun). Hal itu sekalian untuk memperlancar kemampuan menulisnya.

Akhir-akhir ini, seperti sudah menjadi rutinitas, Azkia dengan senang hati tetap menjalankan tugas itu meski saya tidak sedang sibuk. Dan teman-temannya pun sudah mulai biasa dengan pengalihan tugas itu. Belajar dari praktik ini semoga ada gunanya. Tidak bersekolah formal, anak-anak bisa jadi apa saja, termasuk jadi petugas cilik taman bacaan :D

Selasa, 08 Desember 2009

Ingin Seperti HAMKA

Tadi siang kami berangkat keluar untuk membeli beberapa keperluan. Saat
bersiap-siap, Azkia berceloteh, "Mama, kebanyakan anak kan bersekolah,
sedangkan kakak dan Ade kan tidak sekolah."

"Memangnya Kakak ingin sekolah ya?" tanya saya. "Boleh kok kalau Kakak mau sekolah," lanjut saya.

"Tidak. Cuma Kakak baca di buku, Si Malik itu hanya sekolah sampai kelas dua SD, terus berhenti," katanya.

"Terus bagaimana akhirnya setelah dia besar?" tanya saya.

"Dia tetap rajin belajar, senang membaca, sampai akhirnya dia bisa
pergi ke Mekkah," kata Azkia lagi disambung juga Luqman menimpali.

"Memangnya buku apa sih yang Kakak maksud?" tanya saya. Benar-benar saya belum 'ngeh!' buku yang dia ceritakan.

"HAMKA!" jawab Azkia dan Luqman.

"Ooooh HAMKA ya. Terus jadi apa HAMKA setelah dia dewasa?" tanya saya lagi.

"Dia jadi penulis besar Mama! Dan dia pernah dipenjara, tapi dia tetap saja membaca dan menulis waktu dia dipenjara".

"Ade mau Mama!" seru Luqman.

"Mau apa?" tanya saya

"Mau seperti Hamka! Rajin belajar, suka membaca, dan jadi orang yang baik"

Ups!

Saya terkejut sekaligus bangga dengan anak-anak dan juga penulis buku
biografi Hamka. Yang paling saya salut, tampilan buku itu sebenarnya
tidak menarik kalau dibandingkan buku anak-anak saat ini yang full
color dan indah, sebagiannya malah sudah robek karena cetakan lama.
Tapi ternyata, ketika anak-anak membacanya, buku itu mampu membuat
mereka memiliki impian yang mulia.

Tampilan buku anak memang perlu menarik untuk menggaet para pembaca
cilik menyukai kegiatan membaca. Tapi, isi buku anak juga sebaiknya
memuat sesuatu yang berbobot untuk mensuplai kebutuhan 'gizi' akal dan
ruhani mereka. Tantangan besar bagi para penulis buku anak.

Rabu, 12 Agustus 2009

Sharing Membuat Jadwal Belajar

Bagi orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal mungkin tidak terlalu harus dipusingkan dengan kegiatan membuat jadwal. Biasanya sekolah sudah membuatkan jadwal harian yang tetap. Anak-anak tinggal mengikutinya tanpa harus berpikir bagaimana mengelola jadwal belajar.

Sementara itu, bagi keluarga praktisi pendidikan rumah, membuat jadwal belajar adalah tantangan tersendiri. Meskipun secara umum para pendidik rumahan menganut keyakinan bahwa anak-anak bisa belajar apa saja tanpa dibatasi waktu, namun kami sendiri menganggap jadwal tetap perlu, terutama untuk melatih kedisiplinan anak dan juga orang tuanya khusus untuk pelajaran-pelajaran tertentu yang butuh konsistensi.

Adapun jadwal harian kami yang diusahakan tetap dalam seminggu terakhir ini adalah sebagai berikut:
1. Setelah bangun pagi boleh nonton VCD, entah film animasi fiktif ataupun animasi yang bermuatan pelajaran. Mereka bebas tentukan sendiri sesuai persediaan CD yang kami miliki.

2. Setelah sarapan (sekitar jam 7.30) mereka Belajar IQRO, dan papanya yang mengambil peran sebagai tutor. Maklum, pagi-pagi ibu-ibu masih punya banyak urusan sisa sehabis memasak.

3. Jam 8.00 anak-anak diajak keluar untuk memanaskan badan, entah bermain sepeda di lapangan, atau mengurusi tanaman bersama saya. Yang jelas, targetnya adalah membuat tubuh mereka terkena sinar matahari pagi dan bergerak.

4. Sekitar jam 9 atau 9.30 kami mulai masuk naungan. Istirahat sebentar.

5. Acara berikutnya adalah belajar hal-hal yang sifatnya terstruktur. Pelajaran yang sedang ditempuh secara terstruktur saat ini adalah matematika untuk Azkia dan membaca untuk Luqman adiknya. Kami biasa belajar di teras depan, karena suasananya lebih asyik, bisa sambil melihat tanaman dan menghirup udara segar.

6. Biasanya kami menghabiskan waktu belajar seperti ini hingga adzan dzuhur berkumandang.

7. Sehabis sholat dzuhur dan makan siang, anak-anak boleh melakukan kegiatan bebas. Mau menggambar, mau bikin-bikin hasta karya, mau mengisi worksheet, teka-teki, ataupun hanya membaca buku. Karena panas sudah sangat terik di siang hari, semua kegiatan dilakukan di rumah.

8. Menjelang sore, anak-anak biasa keluar lagi, ngoprek air, ber-eksperimen ini dan itu di luar rumah sampai tiba waktu mandi.

9. Saat hari sudah gelap, sesudah shalat Isya anak-anak bersiap untuk tidur. Selain minta diceritakan kisah-kisah atau dongeng oleh papanya, sebuah buku pasti sudah mereka siapkan. Luqman mengambil buku kesukaannya, dan sekarang sedang tertarik untuk dibacakan berulang-ulang buku berjudul ALAM. Azkia sudah jadi pembaca. Dia akan asyik dengan bacaannya sendiri menjelang tidur.

10. Pengetahuan-pengetahuan populer yang bisa diperoleh dari membaca buku tidak menjadi fokus kami. Saya percaya, anak-anak mendapatkan input yang lebih banyak dari yang kami perkirakan dengan membaca buku sendiri.

Bedanya dengan sekolah formal, kami tidak membuat ulangan-ulangan tertulis untuk mengetes ingatan mereka tentang isi buku. Kami hanya sering mengajak mereka mengobrol sehingga mereka terkoneksi dengan pengetahuan yang sudah mereka dapat sebelumnya.

Ya, begitulah sharing kami tentang pembuatan jadwal belajar. Setiap keluarga pasti punya ritme yang berbeda-beda. Selamat berkreasi!

Minggu, 19 Juli 2009

Pestisida

Dalam perjalanan pulang dari museum geologi (Minggu, 19 Juli), sehabis acara launching Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah (ASPIRASI) wilayah Bandung, anak saya Luqman duduk di samping saya. Ia sempat tertidur di bis, tapi di jalan tol ia terbangun. Matanya langsung segar. Mungkin karena melihat pesawahan di sepanjang jalan.

Tak berapa lama setelah itu, anak saya tiba-tiba berkata, “Mama, coba kita punya penyemprot pestisida…”

“Kenapa?” Tanya saya.
“Supaya tanaman-tanaman tidak dimakan hama” katanya.

Pernyataan anak saya itu tiba-tiba menyadarkan saya, bahwa dia sedang ingin tahu. Dan anak HE bisa belajar di mana saja, tak terkecuali di bis. Inilah saatnya mentransfer pengetahuan tentang apa itu pestisida dan apa bahayanya. Dia memang masih 5 tahun, tapi justru karena masih 5 tahun setiap informasi akan jadi lebih melekat, bukan?

Saya pun jadi cerita tentang untuk apa pestisida dibuat dan apa bahayanya pestisida jika termakan oleh makhluk hidup. Saya jadi cerita tentang bukunya Rachel Carson “Silent Spring”, yang mengisahkan tentang musim semi yang jadi sepi karena burung-burung sudah tak lagi dapat bersuara. Mereka sakit bahkan mati, karena makanan yang mereka makan sudah banyak mengandung racun pestisida.

Saya pun bilang pada anak saya, “Itulah kenapa kita menanam sayur sendiri di kebun… Supaya sayur yang kita makan tidak mengandung pestisida. Sayuran yang dibeli di pasar biasanya selalu disemprot pakai pestisida oleh para petaninya”.

Anak saya terdiam menyimak. Kemudian dia bertanya, “Kenapa para petani memakai pestisida?”
“Mungkin karena mereka tidak tahu bahayanya,” ujar saya.
"Kalau Ateu (Maksudnya tantenya yang kuliah di jurusan Hama Penyakit Tanaman)?"
Saya bilang, "Ateu pake pestisida untuk belajar..."

Setelah bis mulai keluar dari tol Cileunyi dan berbelok ke arah Jatinangor, Luqman tiba-tiba berseru, “Kalau kita punya sawah, kita akan menanam padi-nya nggak pake pestisida. Jadi, kalau ada burung-burung yang makan padi kita, mereka nggak mati!”

Duh… jadi haruuuuu banget hati ini mendengar kata-katanya. Berarti dia, anak yang kemarin (18 Juli) berulang tahun yang ke- 5 itu mengerti apa yang dikatakan ibunya. Semoga pengetahuan dan pemahaman itu membekas hingga ia dewasa.

Jumat, 03 Juli 2009

Film Alternatif Lebih Ramah Anak



Semua orang tua pasti miris melihat tayangan televisi yang mayoritas tidak cocok untuk anak-anak. Selain tayangan orang dewasa pada jam anak-anak, ternyata masalahnya juga terdapat pada pilihan film-film anak yang kebanyakan miskin nilai edukasi positif.

Tak perlulah disebutkan apa saja film-film semacam itu, yang jelas ciri-ciri umumnya meliputi: Menampilkan adegan kekerasan dan mengekspos kata-kata 'kotor' (misalnya: Bodoh! Brengsek! Kurang ajar! dan kata makian lainnya).

Memindahkan kesenangan anak dari menonton pada kegiatan membaca buku memang paling ideal. Akan tetapi tak semudah itu memindahkan minat anak yang sudah terlanjur maniak nonton. Selain itu, sebenarnya juga tak ada salahnya anak-anak menonton jika tontonannya bermanfaat dan tidak berlebihan durasinya.

Nah, info ini mungkin berguna buat teman-teman sesama orang tua yang belum tahu tentang alternatif film yang lebih "ramah" anak, tentunya sebagai pengganti tontonan televisi yang kini makin riskan. Berikut daftar film-film-nya:

1. Postman PAT (Cerita boneka tentang seorang tukang pos yang baik hati, suka menolong, dan kreatif. Terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000, kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)

2. Bob The Builder (Cerita boneka seputar kegiatan membuat bangunan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000--- kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)

3. Aku Anak Jenius (Seri ilmu pengetahuan animasi yang menarik. Belajar sains jadi asyik dan tidak membosankan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 12.500 atau 10 ribuan kalau discount)

4. VCD edutalk Bahasa - berbagai bahasa: Inggris, Jepang, Arab(harga agak lebih mahal tapi variatif. Kelebihannya: memakai native speaker sehingga bisa melatih spelling anak-anak menjadi lebih baik)

5. Serial I Can Speak English (Harga 50 ribuan, isi 2 atau 3 CD. Isinya campuran film animasi dan dialog anak-anak oleh native speaker)

6. Edu-games Bobi Bola (VCD interaktif animasi yang cukup mendidik, harga agak lebih mahal)

7. Serial Tupi dan Ping (Kategori: film animasi Islami)

8. Serial Fireman Sam (Film boneka tentang sebuah tim Pemadam Kebakaran yang dipimpin oleh Sam yang kreatif dan senang mengajari anak-anak)

Mungkin banyak film lainnya yang kami belum tahu. Pada prinsipnya, meski mungkin akan terasa mahal jika membeli seri-seri film itu sekaligus, tapi kita bisa mencicilnya. Beli 1 VCD untuk 1 minggu atau mungkin 2 minggu atau mungkin 1 bulan. Jangan khawatir anak-anak bosan, toh film-film animasi di televisi juga biasanya terus diulang-ulang sampai beberapa kali untuk satu judul.

Berinvestasi sedikit untuk isi otak anak-anak jauh lebih baik daripada segalanya murah meriah di TV tapi merusak mereka di kemudian hari. Setuju?! :)

Kamis, 30 Oktober 2008

Semua Butuh Waktu

Malam kemarin (30/10/2008) saya mendapatkan sebuah pengalaman menarik dari putri saya Azkia (6 tahun). Sejak saya memutuskan untuk mulai mengajari dan mengajaknya sholat lima waktu, perjalanan ternyata tak semulus yang diharapkan. Ya, kadang masih zig-zag. Adakalanya ia melakukan shalat tapi wajahnya sedikit keruh, namun sering juga sholat dilakukan dengan wajah yang riang.

Saya sudah siap dengan semua itu, karena dalam banyak kebiasaan lainnya, sejak ia bayi sampai sekarang nyatanya saya menemukan satu prinsip yang sama, yaitu: Menanamkan Kebiasaan Membutuhkan Waktu. Jadi, saya hanya perlu menahan diri untuk tidak cepat menyerah. Tugas saya adalah tetap konsisten mengajaknya sampai ia terbiasa, sampai ia menganggap kebiasaan tersebut sebagai kebutuhan dalam hidupnya, meski saya juga tidak tahu kapan itu terjadi.

Sekitar seminggu sebelumnya Azkia pernah bertanya pada papanya, "Kenapa ya Pa, kakak suka malas untuk sholat?" Lantas papanya berkata, "Karena di dalam diri kita ada syaitan yang selalu membisiki hati agar kita malas." Dan seterusnya, terjadilah dialog pendek tentang apa itu syaitan, bahwa syaitan itu adalah musuh manusia yang tidak terlihat oleh mata,dan sebagainya.

Kembali ke peristiwa malam kemarin, saat Shalat Maghrib tiba, Azkia yang sudah tiduran di kasur sejak sore terlihat malas-malasan lagi ketika saya mengajaknya sholat. Mmmm.... saya tahu, memaksa bukanlah cara yang tepat. Jadi, akhirnya saya bilang, "Kakak ngantuk ya? Nggak mau sholat?" Dan ia pun mengangguk. "Ya sudah. Nggak apa-apa, tapi besok sholat lagi ya!".

Tapi beberapa saat kemudian, ketika saya turun dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu, Azkia juga ikut turun. Saya tanya, "Mau ke mana?". Dia pun menunjuk ke kamar mandi. "Mau wudhu?", tanya saya. Ia pun mengangguk. Saya dan papanya tertawa, dan papanya bilang, "Kakak sudah bisa melawan musuh. Ya, kan?".

Pelajaran malam tadi membuat saya semakin yakin, bahwa anak-anak hanya perlu waktu untuk memiliki kebiasaan yang kita harapkan. Dan menjadi orang tua memang membutuhkan cadangan kesabaran yang lebih dari sekedar biasanya.

Kamis, 16 Oktober 2008

Contoh Poster Untuk Stimulasi Membaca

Beberapa waktu lalu saya pernah memposting tulisan tentang manfaat poster untuk kegiatan belajar. Kali ini saya tampilkan beberapa contoh poster stimulasi kemampuan membaca yang bisa dipergunakan di rumah maupun di kelas-kelas prasekolah atau bahkan Sekolah Dasar. Semoga memberikan inspirasi dan bermanfaat.





Menggambar, Menggunting, Lalu Buatlah Cerita

Hobi anak-anak, terutama si kecil Luqman ( 4 tahun) sekarang ini adalah menggambar, menggunting, dan mendongeng. Kereta api, rumah, mobil, dan ikan adalah gambar favoritnya. Percaya dirinya lumayan tinggi. Dia bisa menggambar dengan cepat dan dengan cepat pula menggunting gambar yang dibuatnya, lalu dibuatlah cerita tentang gambar itu tanpa merasa minder gambarnya akan dibilang jelek.

Nah, karena hobinya itu, kertas-lah yang paling sering diminta. Sekarang koleksi gambarnya mereka kumpulkan dalam sebuah stoples. Sebagian gambar juga dihasilkan dari print out dari komputer. Tentu saja gambarnya sudah jadi, di-copy dari internet. Nggak apa-apa kan ya copy-paste dari internet, asalkan bukan untuk keperluan komersial.
Dan... Salah satu kebiasaan mereka saat menggambar dan menggunting adalah berceloteh, berisi dialog cerita apa saja yang mereka ingat. Hal itu bisa jadi tak mungkin dilakukan jika dia berada dalam sebuah kelas. Celotehan mereka bisa membuat anak lain terganggu, kan...

Saya kira, itulah kiranya salah satu kelebihan homeschool yang kami rasakan buat keluarga kami: Membuat anak-anak bisa mengeksplorasi gagasan dengan cara yang khas, tanpa khawatir gagasannya dicela atau dikomentari secara berlebihan. Keep homeschool buat yang menganggapnya cocok!

Selasa, 23 Oktober 2007

Memperkenalkan Tanaman Obat


Semenjak saya tahu dan merasakan efek negatif obat-obatan modern, saya semakin tertarik dengan tanaman obat. Saya pikir, dengan pengetahuan yang memadai, beberapa penyakit ringan bahkan juga penyakit berat sesungguhnya bisa diatasi dengan obat-obatan alami. Tujuannya, untuk meminimalkan resiko penurunan kekebalan tubuh.

Oleh karena itulah saya memasukkan pengetahuan tentang tanaman obat dalam kurikulum belajar anak-anak. Saya berharap, dengan mengenal tanaman obat sejak kecil, anak-anak akan lebih akrab dan juga cinta obat-obatan alami.

Tahapan Belajar

Pertama kali yang kami lakukan adalah melihat macam-macam gambar tanaman obat. Setelah itu kami pilih 5 jenis yang paling mudah diperoleh di sekitar kami atau dibeli di warung. Sebagai permulaan kami ambil kunyit, jahe, kencur, lengkuas, dan daun sirih.



Anak-anak diminta untuk mengamati bentuk fisik masing-masing tanaman obat tersebut, membauinya, dan memotongnya untuk melihat bagian dalam khusus untuk umbi-umbian. Sebagai permainan kita juga bisa bermain tebak-tebakan untuk mendeteksi kepekaan penciuman. Dengan mata di terpejam, mintalah anak-anak untuk mencium bau salah satu rempah dan menebak namanya.

Acara belajar bisa dilanjutkan dengan menanam rempah tersebut di dalam pot untuk mengetahui bentuk daun dan batangnya. Mengamati tanaman itu bertunas setiap hari juga mengasyikkan.


Setelah belajar praktis dilakukan, saya mengambil info lebih detail tentang tanaman-tanaman tersebut di wikipedia versi indonesia www.id.wikipedia.org, dan anak-anak pun bisa membacanya pada saat senggang, terutama mengenai karakteristik dan fungsi tanaman-tanaman tersebut dalam pengobatan penyakit.

Semoga menjadi inspirasi bagi Anda

Sabtu, 11 Agustus 2007

Obrolan Sebelum Tidur

Malam tiba, aura tidur mulai keluar. Sprei pun sudah dirapikan. Sebagian anak mungkin masih punya sisa energi untuk melanjutkan rasa penasaran mereka terhadap sesuatu. Termasuk anak kedua saya Luqman, menjelang tidur seringkali masih asyik dengan tali temali yang diikatkan di kursi atau meja. Sementara kakaknya Azkia, biasanya masih sibuk dengan pensil warna dan gambarnya yang sedang diwarnai. Semua mengalir tanpa komando, dan kami menikmatinya.

Saat mereka merasa siap untuk tidur,dengan kaki bersih dan perasaan damai menghampiri kami, sebuah perbincangan pendek tak terasa bergulir malam itu.

Terinspirasi dari buku 10 Prinsip Spiritual Parenting, saya mengajak anak-anak menikmati saat menjelang tidur itu. Saya katakan pada mereka, "Alhamdulillah, enak sekali ya bisa tidur di atas kasur. Anak-anak jalanan mungkin tak punya kasur untuk tidur".

"Kenapa anak-anak jalanan nggak punya kasur?" tanya si kecil Luqman antusias.

"Karena papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur. Mungkin juga mereka tidak punya rumah untuk berteduh kalau hujan dan panas," kata saya.

"Tapi kan ada pohon," celetuk Azkia.
"Iya, sih! Tapi kalau anginnya kencang, mereka bisa kedinginan," ujar saya.

Luqman tercenung dan berkata, "Jadi, anak-anak jalanan nggak punya kasur buat tidur. Papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur, iya Ma?"

"Iya. Jadi kita harus bersyukur kepada Allah karena kita masih bisa tinggal di rumah yang punya dinding, tidak akan kedinginan dan kehujanan,"

Celotehan pun melebar ke mana-mana, hingga kue-kue yang kadang tidak dihabiskan setelah dibeli. Mereka punya pendapat dan kadang-kadang menyimpulkan sendiri.

Sering setelah malam itu, kami membiasakan diri untuk mengajak anak-anak mengobrol tentang sesuatu sebelum tidur. Memasukkan nilai-nilai mungkin cukup sulit jika berwujud perintah dan larangan ketika mereka sedang beraktivitas. Tetapi menjelang tidur, ternyata hal itu nampak begitu alami, mengalir tanpa protes dan kemarahan.

Kamis, 19 Juli 2007

Kekuatan Poster untuk Media Belajar

Media audio-visual sebagai sarana belajar mengalami pertumbuhan pesat. Orang memang sudah semakin jauh beralih ke media tersebut untuk mengajarkan apapun. Televisi dan teknologi compact disc memungkinkan setiap orang untuk mengeksplorasi pengetahuan tanpa harus terlalu lelah bekerja. Lalu bagaimana dengan poster?

Poster memang sudah mulai banyak dipakai orang untuk menyajikan pelajaran. Namun umumnya poster akhirnya hanya jadi pajangan penghias ruangan. Fungsi poster sebagai media belajar tak mampu tercapai karena faktor-faktor khusus sebuah "poster belajar" tidak terpenuhi (kriteria poster belajar hasil evaluasi saya: tunggu pada postingan berikutnya).

Sifat poster yang statis sebenarnya memiliki kelebihan dibandingkan media elektronik yang menyajikan gambar bergerak. Karena sifat statisnya, poster yang ditempel di dinding akan memungkinkan anak-anak untuk melihatnya sesering mungkin tanpa harus menyalakan komputer atau televisi.

Satu hal yang paling penting, poster yang dirancang dalam ukuran yang tepat memungkinkan setiap anak untuk belajar dengan mengaktifkan otak bawah sadar mereka. Kita tentu sudah pernah mendengar tentang betapa efektifnya belajar dengan kekuatan otak bawah sadar.

Otak bawah sadar mencerna informasi dengan system kerja otak kanan, di mana setiap informasi masuk tanpa melalui proses menyaring. Semua mengalir masuk tanpa beban. Berbeda dengan otak sadar, yang diyakini membawa sifat-sifat otak kiri yang cenderung melakukan pemilahan atau penyaringan informasi karena sifat kritisnya.

Anak-anak dan orang dewasa sama dalam satu hal, yaitu lebih efektif belajar jika pelajaran disajikan secara menyenangkan atau memanggil sensor otak kanannya ketimbang dengan metode yang membosankan. Sayangnya, kegiatan belajar di sekolah formal justru disajikan kepada anak-anak sebagai sesuatu yang berat, penuh dengan beban.

Banyak orang tua juga ternyata menganggap anak-anak balita itu malas kalau diajak belajar hanya karena anak kurang konsentrasi atau cepat bosan. Padahal dengan metode yang tepat ternyata anak-anak bisa belajar melampaui dugaan kita, salah satunya dengan menyulap bahan ajar menjadi poster.

Anak saya Azkia mulai belajar membaca pada usia 2,5 tahun mempergunakan metode Glenn Doman. Kelemahan saya adalah lupa. Jadi, penyajian kata seringkali bolong-bolong ---tidak kontinyu. Oleh karena itu saya berpikir tentang poster.

Saya coba tempelkan kartu-kartu ala Doman di dinding berbaris ke bawah. Dengan begitu saya bisa lebih mudah mengingat “tugas” membacakan kata. Hasilnya? Menakjubkan! Azkia ternyata bisa belajar cepat.

Lalu metode itu saya pakai juga buat mensuplai pelajaran lain, seperti kosa kata bahasa Inggris dan Arab.

Saya malah yakin, bahwa hampir semua pelajaran tekstual bisa ditransfer lewat poster . Anak-anak tidak terbebani dan orang tua yang sering lupa seperti saya juga terbantu untuk mengingat materi yang sedang diajarkan.