Jumat, 16 Januari 2009

Mengejar Kupu-Kupu

Tak disangkal, saat paling asyik buat saya saat masih kanak-kanak dulu adalah bermain. Saya adalah produk kampung. Mainan saya juga jelas mainan ala kampung. Bermain petak umpet, menggali tanah, kucing-kucingan di lapangan rumput, memanjat pohon, dan menjelajah tepian sungai termasuk acara bermain yang paling sering saya lakukan. Lalu bagaimana dengan anak-anak saya?

Sangat besar keinginan saya agar anak-anak mengecap asyiknya bermain bebas seperti saya dulu. Saya kasihan melihat mereka hanya bisa bermain balok-balok atau bersepeda di jalanan komplek yang ramai dilalui kendaraan. Mereka jauh dari alam.

Namun sejak kami pindah rumah ke Tanjungsari, di mana lahan bermain masih cukup luas. Saya menemukan anak-anak saya mulai membaur dan menikmati suasana alami yang masih tersaji gratis di sekitar rumah. Mereka mulai bisa bermain bebas di bawah naungan langit biru yang berhiaskan awan putih berarak . Walaupun awalnya mereka terlihat ragu-ragu mengarungi rumput ilalang yang menghampar ramah, tapi lambat laun keberanian mereka tumbuh. Hal itu mungkin dipicu juga oleh keberanian anak-anak sekitar rumah kami yang setiap sore menghambur ke lapangan ilalang itu untuk mencabuti bunga-bunga rumput sebagai hiasan.

Dan pagi ini (17/1) saya dikejutkan oleh kemahiran anak bungsu saya. Setelah dia mengendap-endap di antara ilalang, tiba-tiba ia datang menghampiri saya. Dengan gembira ia membawa seekor kupu-kupu cantik berwarna kuning tua dengan bercak-bercak hitam di tepian sayapnya. Ia pun berteriak senang, "Mama, Ade berhasil menangkapnya!".

Saya lihat anak saya begitu bahagia dengan kemahiran itu. Saya pun bilang padanya agar melepaskan kembali kupu-kupu itu supaya mereka bebas. Setelah sedikit adu argumentasi, karena ia berisikeras tak mau melepas kupu-kupu itu, akhirnya anak saya rela kupu-kupunya dilepas. Saya ijinkan dia menangkap lagi hanya untuk melihat jenis dan warnanya saja sebentar. Setelah itu dia harus melepasnya lagi.

Sungguh, alam menghadiahi kami sumber belajar yang tiada taranya. Sehabis menangkap kupu-kupu, karena matahari sudah mulai naik, anak-anak masuk rumah dan si kecil Luqman menghambur tergesa-gesa untuk mengambil buku Dunia Serangga, mencari topik tentang kupu-kupu, lalu meminta kakaknya untuk membacakan.

Menyaksikan semua itu, semakin yakinlah saya bahwa belajar tidak ada hubungannya dengan anak-anak sekolah atau tidak, melainkan lebih dipengaruhi oleh cinta atau tidaknya mereka pada kegiatan belajar. Happy homeschooling!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar