Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Akreditasi Prodi Psikologi Islam

Psikologi Islam merupakan salah satu ilmu pada zaman keemasan Islam yang memiliki kemiripan dengan Psikologi modern. Tokoh yang berperan dalam ilmu ini antara lain, Al-Kindi dan Al-Farabi yang merupakan pencetus terapi musik. Prodi Psikologi sebagai prodi yang kompetitif dalam mengintegrasikan aspek keilmuan psikologi, keislaman dan keindonesiaan untuk mendukung tercapainya profesionalisme dalam aplikasi psikologi. Prodi psikologi Isalam diharapkan menghasilkan sarjana yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bidang psikologi di era persaingan global serta melakukan reintegrasi epistimologi keilmuan psikologi dan keislaman.

Berikut kami sampaikan info Akreditasi Program Studi Psikologi Islam 2013 di Perguruan Tinggi yang meliputi jenjang diploma, S1 (Sarjana), S2 (Magister), dan S3 (Program Doktor), silakan disimak!

Akreditasi Psikologi Islam


No.WIL.Tk.Perguruan TinggiProgram StudiNo. SKTh. SKPeringkatTgl. Daluwarsa (th-bl-tg)Status Daluwarsa
1 10 S1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, Padang Psikologi Islam 001 2011 C 2016-05-06 masih berlaku
2 02 S1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, Palembang Psikologi Islam 041 2011 C 2016-12-08 masih berlaku
3 07 S1 Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Kediri Psikologi Islam 024 2012 C 2017-08-10 masih berlaku
4 07 S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri Psikologi Islam 024/SK/BAN-PT/Ak-XV/S/I/2013 2013 B 2018-01-25 masih berlaku
5 03 S1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Psikologi Islam 014 2000 B 2005-07-07 Kadaluarsa

Demikian info Akreditasi Jurusan Psikologi Islam 2013 kami sampaikan. Semoga bermanfaat, Amin Ya Rabbal Alamin!

Jumat, 27 Januari 2012

Tips Membangun Harga Diri Anak

Foto : Dok. Pribadi
Harga diri atau self esteem adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Membangun citra diri biasanya diawali pada masa kanak-kanak dan sangat tergantung dari apa yang dia dengar tentang dirinya dari orang lain.

Jadi, jika seorang anak selama masa hidupnya mendengar pujian, motivasi, dan kritikan yang membangun, maka kemungkinan besar anak itu akan berkembang menjadi pribadi yang baik dan memiliki rasa harga diri yang tinggi.Di sisi lain, jika anak selalu dikritik, diperlakukan kasar dan tidak pernah diberikan penghargaan atas prestasi kecil yang dia dapat, maka anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri.

Membangun kepribadian seorang anak normalnya dimulai dari lingkungan rumah. Kepribadian individu mulai terbentuk pada masa kanak-kanak, sehingga orang tua mempunyai tanggung jawab besar dalam pembentukan self esteem sang anak.
Berikut adalah beberapa tips untuk membangun rasa harga diri yang tinggi pada anak, seperti dikutip Lifemojo :

* Jadilah pendengar yang baik: Di tengah kehidupan modern saat ini, seringkali orang tua sulit meluangkan waktu untuk anak-anak mereka. Sesibuk apa pun, wajib bagi Anda untuk membagi waktu bersama anak-anak setiap hari. Tinggalkan semua pekerjaan Anda, duduk dan bicaralah dengan anak Anda seperti halnya Anda berbicara dengan orang dewasa.

* Pujilah Anak Anda: Anak Anda mungkin datang kepada Anda untuk menunjukkan suatu keahlian atau hasil ujian yang diperolehnya di sekolah. Berikan pujian kepada anak Anda untuk karyanya, namun jangan berlebihan.

* Jangan bandingkan: Orang tua sering membandingkan satu anak dengan anak lain atau tetangga dengan maksud bahwa anak Anda dapat berubah dan menjadi seperti yang Anda harapkan. Namun, ini bukanlah cara yang benar karena dapat mengarah ke pembentukan perasaan rendah diri pada anak yang bersangkutan.

* Jangan mengkritik terlalu keras: Kritik yang keras selalu membawa hasil yang merugikan. Jika Anda ingin mengkritik, lakukan dengan kata-kata yang halus dan jangan sampai menyinggung perasaannya.

* Jadilah contoh: Anak-anak umumnya tidak terlalu bisa banyak mengingat nasihat dari orang tua mereka. Akan tetapi mereka cenderung mengamati perilaku dan sikap Anda. Jadi, berikanlah panutan yang baik pada anak-anak Anda.
_ sumber _

Minggu, 02 Oktober 2011

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi

Kita pasti sangat bangga jika diri kita atau orang yang kita sayang memiliki prestasi akademik yang gemilang. Prestasi akademik ini pun dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal/lingkungan. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang :

FAKTOR INTERNAL

1.  Intelegensi

Tingkat intelegensi seseorang dapat dengan mudah dilihat dari prestasi belajarnya di sekolah atau universitas di semua mata pelajaran. Bagi para peserta didik yang memiliki intelegensi tinggi sangat diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki intelegensi kurang. Tetapi faktor ini bkan berarti sebagai faktor penentu karena masih ada lagi banyak faktor yang mempengaruhi.

2.  Motivasi

Motivasi adalah daya penggerak seseorang yang menjadi aktif pada saat-saat tertentu dimana seseorang tersebut ingin mencapai tujuan. Motivasi ini sendiri terbagi menjadi 3 bagian yaitu motivasi internal, motivasi eksternal, dan motivasi berprestasi.
a.       Motivasi Internal : motivasi dari dalam diri sendiri dimana dia ingin mencapai sesuatu yang dia inginkan, biasa disebut dengan “niat”
b.      Motivasi Eksternal : motivasi yang didapat dari orang lain seperti halnya pujian, atau pemberian hadiah atas kesuksesannya.
c.       Motivasi berprestrasi : dimana seseorang memiliki keinginan bejuang untuk sukses dan memilih kegiatan yang berorientasi sukses. Motivasi ini tidak jauh berbeda dengan motivasi internal.

3.  Kepribadian

Kepribadian merupakan suatu organisasi yang  dinamis dari sistem psikofisik yang dinamis seseorang yang menentukan bagaimana individu dapat menyesuaikan diri dan menjadi bagian tersendiri dalam lingkungannya. Kepribadian ini dapat berubah dan diwujudkan dengan tingkah laku.


FAKTOR EKSTERNAL

1.  Lingkungan rumah

Lingkungan rumah dalam hal ini orang tua memiliki peranan palin penting untuk membentuk dan menjadi guru untuk anaknya. Orang tua merupakan pengasuh, guru, juga psikolog untuk anak dan membantu proses sosialisasi anak

2.  Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman dimana anak terdorong untuk berprestasi di pelajaran. Sedangkan contoh kelas yang baik adalah kelas yang memiliki jumlah murid yang tidk terlalu banyak sehingga guru bis memonitoring dan mengawasi proses belajar anak.

Itulah faktor yang mempengaruhi bagus tidaknya prestasi akademik seseorang. Semoga info ini bisa membantu Anda untuk membentuk putera-puteri Anda menjadi seseorang yang baik.

Rabu, 17 Agustus 2011

Kecerdasan Emosional Anak



Kepada anak sering diajarkan cara berpikir realistis dan optimistis, bahwa kadang kala nilai di sekolah dapat naik atau turun, seperti halnya kesehatan, kalau tidak dijaga, bisa turun. Agar anak bisa berpikir realistis dan optimistis sebaiknya membekalinya dengan kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotient) sejak dini. Supaya anak tidak memiliki masalah perilaku di usia dewasanya.

Penelitian Carroll Izard, Ph.D. dari University of Delaware di Newark menunjukkan, anak-anak yang sulit memahami perasaan-perasaan mereka dan orang lain, akan rentan terhadap masalah-masalah perilaku dan pembelajaran di usia lebih besar.

Cara yang mudah untuk mengajarkan kecerdasan emosional, misalnya dengan:

1.    Kartu emosi

Kartu buatan sendiri dengan gambar yang menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda-beda bisa membantu anak mengenali macam-macam perasaan seperti marah atau kaget. Tanyakan pada anak Anda, kapan ia pernah merasakan hal yang sama.

2.    Curahan hati

Anak harus siap membuka diri bila anak ingin bercerita tentang sekolahnya. Anda harus mampu berempati terhadap masalahnya. Jika ia tidak suka bercerita, sering-seringlah bertanya setiap ia pulang sekolah. Bila kurang efektif, pancing anak agar bercerita. Caranya, menceritakan pengalaman masa kecil Anda di sekolah, baik yang menyenangkan atau yang buruk. Mungkin hal itu akan merangsang anak untuk bercerita.

3.    Membaca dongeng atau buku bersama

Cari buku-buku yang fokus pada berbagai jenis perasaan. Pilihlah dongeng yang memberikan pesan  moral. Dari kisah-kisah itu anak akan mengetahui bahwa ada banyak orang yang juga mengalami masalah di sekolah atau di rumah. Selain itu, taburilah mereka dengan pesan-pesan moral dan nasihat menjalani hidup untuk meningkatkan kecerdasan moralnya.

4.    Bermain peran atau drama

Latihan memainkan kejadian-kejadian emosional bersama anak. Misalnya, berpura-pura sakit, mendapat nilai ujian yang jelek, atau lainnya. Libatkan pula saudara dan teman-temannya.

5.    Libatkan anak dengan kegiatan olahraga atau organisasi

Anak akan belajar bagaimana bekerja sama dengan orang lain dan belajar bagaimana memahami sikap teman-teman yang berbeda dengan dirinya. Bila memungkinkan, ajak mereka berkemah, ke gunung, hutan, atau pantai untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Hal ini juga erat hubungannya untuk meningkatkan kecerdasan spiritual anak. Tempat ibadah juga dapat Anda manfaatkan untuk hal ini.

6.    Puji dan motivasilah anak.

Bila anak mendapat nilai jelek, beri motivasi bahwa ia masih bisa mencapai nilai yang lebih baik besok atau ujian berikutnya. Anda punjangan marah bila ia mendapat nilai buruk. Pujilah, asal jangan berlebihan bila berhasil mencapai prestasi. Anak harus belajar bahwa dirinya memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi tidak mungkin ia bisa pandai di semua pelajaran. Anak yang perfeksionis cenderung menjadi depresi dibandingkan dengan anak lain. Beri tahu pula agar jangan takut berbuat salah. Karena pengalaman juga merupakan pelajaran berharga untuk menghadapi hidup.

Dengan demikian anak akan mengetahui mana perilaku yang seharusnya dan tidak seharusnya.Kecerdasan sosial anak akan terbangun dari karakter kecerdasan emosi yang diajarkan kepada mereka sejak dini.

Sabtu, 13 November 2010

Kenali Diri Sebelum Mengenali Orang Lain

google picture
Pernahkan anda merasa bahwa diri anda berbeda dari orang lain? Atau anda merasa diri anda unik? Sebagai makhluk sosial, pasti kita tidak lepas berinteraksi antara satu dengan lainnya. Pasti suatu saat kita pernah mengalami benturan atau pergesekan yang efeknya bisa positif atau negative.
Pada tulisan sebelumnya di sini, saya menulis tentang pergesekan dan benturan yang terjadi sebagai efek dari karakter manusia terhadap pola asuh anak, sehingga mengakibatkan virus rendah diri yang sangat berbahaya.
Tidak berapa lama saya publish tulisan tersebut muncul komentar dari para kompasianer, yang paling membanggakan saya komentar dari Pak Prayitno Ramelan, begini beliau berkomentar:
“Benar Ibu Guru Lady, boleh rendah hati tapi jangan rendah diri. Harus yakin akan dirinya. Sepuh tips-nya itu bagus dan sangat berguna bagi Kakung ini dalam membangun dan meningkatkan motivasi cucu-cucu saya deh. Terima kasih pencerahannya ya. Good Luck. Salam, selamat tahun baru 2010.”
Ternyata virus rendah diri yang berbahaya itu juga pernah menyerang beberapa kompasianer pada masa kecil mereka, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya menyebutkan abang-abang ahmed-tsar-blenzinky, Ferdi Xn, ragile, yasser fauzan, bahkan diri saya juga termasuk di dalamnya (sssst…jangan bilang siapa-siapa ya)
Komentar kang ibeng muncul juga akhirnya, walaupun tidak mengatakan pernah mengalaminya, namun beliau ada permintaan.
“Mantab….!!!! biar telat yang penting baca…hehehhee. Phlegmatis Melankolis dan Koleris Melankolis saya kurang paham. Minta tolong dikasih pencerahan dong…difinisikan maksudnya, hehehehe biar saya tambah pinter. Trims day”.
Menjawab permintaan Kang Ibeng, dalam tulisan ini saya menulis tentang penjelasan tipe dan karakter tersebut.
Dalam pergaulan sehari-hari sangat lazim kita merasakan perbedaan karakter manusia. Perbedaan karakter orang di sekitar kita terkadang sesuai dengan karakter kita, namun tidak sedikit membuat jurang perbedaan yang cukup dalam.
Hasilnya adalah, jika positif biasanya akan menimbulkan motivasi diri kita untuk bisa lebih baik dari orang lain. Sedangkan jika negatif biasanya akan rusaknya hubungan diantara sesama manusia, misalnya perkelahian, perceraian, permusuhan dan sebagainya. Rusaknya hubungan tersebut bisa jadi disebabkan kita tidak mengenali sifat dan karakter diri kita dan juga tidak mengetahui karakter manusia lainnya.


Membedakan orang dari sifat dan karakternya dapat dipelajari dari buku-buku psikologi, salah satunya buku yang ditulis oleh Florence Littauer yang berjudul “Personality Plus“. Dalam buku tersebut kita seperti terbawa kepada topik klasik psikologi, yang konon sudah ditetapkan Hippocrates 2400 tahun yang lalu, yaitu empat kepribadian: Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis.
Satu persatu dari keempat sifat dasar yang dikemukakan Florence Littauer dalam bukunya “Personality Plus” sebagai berikut :
1. Kepribadian Sanguis (Sanguis yang Populer)
Kemampuan orang Sanguinis yang Populer untuk melangsungkan percakapan yang mengasyikkan apakah mengenai sesuatu merupakan segi plus yang membuat iri hati orang lain; tetapi kalau dibawa sampai ke ujung yang ekstrim, orang Sanguinis yang Populer bicara terus-menerus, memonopoli, menyela, dan menyimpang terlalu jauh dari kebenaran.
Bergaul dengan orang sanguin ini sebenarnya menyenangkan, jika dia bercerita dia bisa menggambarkan sesuatu dengan baik, sehingga pikiran kita diajak untuk merangkai katanya-katanya seperti sebuah film di kepala kita, saking bagusnya penggambaran ceritanya.
2. Kepribadian Melankolis (Melankolis yang Sempurna) :
Orang Melankolis yang Sempurna memiliki pemikiran analitis yang mendalam dan merupakan ciri khas yang jenius, banyak dihormati oleh mereka yang pikirannya lebih dangkal, walaupun demikian kalau dibawa sampai ke titik ekstrim, dia jadi menyebabkan kemurungan dan menekan perasaan.
Kadangkala bergaul dengan orang melankolis menimbulkan kebosanan dalam diri kita, semuanya serba teratur dan teliti, segala sesuatu dikerjakan dengan langkah-langkah yang jelas dan terstruktur. Kalau lama dalam proses pengerjaan bukan karena malas tetapi karena hasilnya harus sempurna. Ciri-ciri kalau kita bertemu dengan orang Melankolis ini biasanya dilihat dari kamar tidur/kantornya, semuanya serba rapi, tertib dan terpola (keculai kalau punya asisten/istri yang siap membereskan arisip-arsip yang berantakan).
Dan orang Melankolis ini susah sekali diyakinkan, perlu data-data otentik yang mendukung argumentasi kita. Dan secara ekstrim dalam hal keuangan orang Melankolis cenderung (sory lho.. dalam titik extrim) pelit, tapi untuk mengenai hasil pekerjaan, Orang Melankolis jagonya. Sangat pandai mengorganisasi sesuatu.
3. Kepribadian Koleris (Koleris Kuat) :
Bakat orang Koleris yang Kuat untuk kepemimpinan yang cepat dan tajam sangat diperlukan dalam setiap tahap kehidupan pada zaman sekarang; tetapi kalau dibawa sampai titik esktrim, orang Koleris yang Kuat jadi sok berkuasa, mendominasi, dan manipulatif. Setiap pemimpin mempunyai sifat ini, tegas, lugas, dan salah satu untuk mengenai ciri-ciri kepribadian ini adalah selalu ingin di depan tidak mau kalah dengan orang lain.
Secara extrim, orang dengan kepribadian ini menjadi orang yang diktaktor, selalu tampil dominan dan tidak mau dibawah orang lain, pinginnya selalu diatas dalam segala hal. Orang dengan kepribadian Koleris sangat mahir untuk urusan mengorganisir banyak orang dengan sifatnya yang tegas.
4. Kepribadian Phlegmatis (Phlegmatis yang Damai) :
Sifat orang Phlegmatis Damai yang mudah bergaul merupakan perpaduan yang mengagumkan dan menjadikannya orang yang paling disukai dalam kelompok mana saja; namun kalau dibawa sampai ke titik ekstrim, orang Phlegmatis yang Damai tidak peduli melakukan apa pun, masa bodoh, dan tidak punya kepastian.
Ciri-cirinya yang mudah dilihat adalah tidak mempunyai sikap yang jelas dalam mengambil keputusan, tidak mau secara tegas memihak sesuatu yang belum diketahuinya, cenderung damai dan tidak mau berkonfrontasi secara langsung dengan orang lain. Terkadang orang Phlegmatis memang harus didikte untuk mengerjakan sesuatu (secara extrim), biasanya orang phlegmatis kurang mahir untuk urusan-urusan yang detail, seperti yang paling sederhana merapikan kamarnya, tetapi seorang Phlegmatis bisa menjadi peloby yang ulung dan bisa diandalkan untuk urusan berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain, karena sifatnya yang kalem dan tenang.
Kepribadian Campuran dari Kepribadian Dasar
Keempat tipe kepribadian tersebut, menurut Littauer, juga bisa bercampur dalam diri seseorang. Littauer membedakannya menjadi empat:
Campuran alami adalah: Sanguinis Koleris dan Melankolis Phlegmatis.
Campuran pelengkap yang berorientasi hubungan adalah: Sanguinis Phlegmatis
Campuran pelengkap yang berorientasi tujuan adalah: Koleris Melankolis
Campuran berlawanan dianggap sebagai pertikaian batin adalah: Sanguinis Melankolis dan Koleris Phlegmatis.
Sedangkan yang mempunyai sedikit dari segalanya, dengan asumsi sudah mengikuti tes kepribadian dengan benar, dianggap mungkin Phlegmatis, mungkin orang sempurna, atau mungkin orang yang masa kecilnya terlalu diarahkan, dikontrol, dan ditindas sehingga tidak mengenali diri sendiri.
Nah, kira-kira anda masuk tipe yang mana ya? Kenali diri kita sendiri sebelum mengenali orang lain.
Sumber: http://www.bagi-bagi-info.co.cc
 Sumber juga sebagai penulis aktif di www.kompasiana.com

Sabtu, 12 Juni 2010

Tugas Psikologi Perkembangan pra UAS


1.      Teori Ivan Petrovich Pavlov tentang behavioristik
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Ia tidak pernah memiliki hambatan serius dalam sepanjang kariernya meskipun terjadi kekacauan dalam revolusi rusia.
Pavlov lahir di kota kecil di Rusia tengah, anak seorang pendeta ortodoks pedesaan. Pada awalnya ia berniat mengikuti jejak ayahnya, namun mengurungkan dan pergi ke universitas di St. Petersburg untuk mengajar pada tahun 1870. Dari sinilah karir seorang pavlov mulai berjalan hingga ia memimpin institut Fisiologi Pavlovian di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan oleh pavlov menggunakan anjing sebagai subyek penelitian.
pavlov_eksperimen_anjing
Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:
Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
Gambar ketiga. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction  atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:
  1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan

  2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.

  3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur

  4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.

Menilik psikologi behavioristik menggunakan suatu pendekatan ekperimental, refleksiologis objektif pavlov tetap merupakan model yang luar biasa dan tidak tertandingi.
Bila dicontohkan dalam kehidupan nyata teori pavlov ini bisa diterapkan. Sebagai contoh untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda mempunyai pasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu (CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secara otonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda.
Berdasarkan teori, ketika hal itu dilakukan secara berulang-ulang,  selanjutnya cukup dengan bertemu dengan anda tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka (CR) dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS, UCR, dan CR seperti ekperimen yang telah dilakukan oleh pavlov. Menarik bukan?

2.      a)  Classic Conditioning
      Classical conditioning (pengkondisian klasik) di kemukakan oleh seorang psikolog Rusia bernama Ivan pavlov. Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam hal ini stimuli netral diasosiasian dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Tedapat dua tipe stimuli dan dua tipe respon, yaitu: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR).
Pavlov melakukan penelitian mengenai pengkondisian klasikal dengan menggunakan anjingnya dan diasosiasikan dengan bel.
Saat sebelum pengkondisian:
US                          ->                           UR
makanan                                           anjing berliur

stimulus netral             ->                   tidak ada respon
Bel                                                         anjing tidak berliur

Pengkondisian:

Stimulus   + US                  ->                           UR
Bel + makanan                                        anjing berliur

Setelah pengkondisian:
CS                           ->                           CR
Bel                                              anjing berliur
 6a00d834204f4c53ef00e54f5fa59f8834-800wi
Penjelasan:
Unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Dalam eksperimen Pavlov, air liur anjing yang merespon makanan adalah UR. Sebuah conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan sengan US. Diantara stimuli yang terkondisikan dalam eksperimen Pavlov adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makanan, seperti suara pintu tertutup sebelum makanan ditmpatkan di piring anjing. Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
  
Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan dalam pengkondisian klasik
Generalisasi dalam pengkondisian klasikal adalah tendensi dari stimuli baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes, & Benjamin, 2001 dikutip dari Psikologi Pendidikan). Dalam eksperimen Pavlov, anjing akan merespon stimuli suara yang mirip dengan suara bel.
Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespons stimuli lainnya (Murphy, Baker, & Fouquet, 2001 dikutip dari Psikologi Pendidikan). Dalam eksperimen Pavlov, Pavlov hanya akan memberikan makan setelah bel dibunyikan dan bukan suara lain.
Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya  unconditioned stimulus (US). Dalam eksperimen Pavlov, Pavlov membunyikan bel berulang kali tetapi tidak memberikan makanan. Akhirnya anjing tidak berliur lagi ketika bel dibunyikan.
b)  Operant Conditioning
         Operant Conditioning (prngkondisian operant) adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
Pada awalnya penelitian mengenai operant conditioning dilakukan oleh E.I. Thorndike. Namun penelitian yang dilakukan oleh Skinner lebih sederhana dan lebih dapat diterima secara luas.
Hukum efek (law effect) yang dikumukakan Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.

Skinner mengungkapkan bahwa konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi. Konsekuensi—imbalan atau hukuman bersifat sementara (kontingen) pada perilaku organisme.
Penguatan dan hukuman
Penguatan (imbalan) (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sedangkan hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Penguatan ada 2 macam, yaitu:
1.      Penguatan positif (positive reinforcement). Penguatan positif digunakan untuk meningkatkan perilaku. Frekuensi respon akan meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
2.      Penguatan negatif (negative reinforcement). Penguatan negatif diberikan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Frekuensi respon akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan) (Frieman, 2002 dikutip dari Psikologi Pendidikan).
Perbedaan antara penguatan positif dan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan.
Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan dalam pengkondisian operant
Generalisasi pada pengkondisian operant adalah memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama atau mirip.
Diskriminasi adalah pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan.
Pelenyapan terjadi ketika respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.
Prompt dan shaping juga merupakan strategi yang berdasarkan operant conditionging. Prompt adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Sedangkan shaping adalah mengajari perilaku  baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran.



Tugas Psikologi Perkembangan


Sigmund Freud
Pada Gangguan Kepribadian



Sigmund Freud's pendapat tentang gangguan kepribadian yang keluar sangat jelas dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Menurut teori ini, perkembangan psikoseksual mengikuti urutan tertentu dan dapat mengakibatkan seseorang mengembangkan kepribadian yang sehat atau kepribadian yang tidak sehat.

Dasarnya Freud percaya bahwa setiap orang berkembang melalui tahap-tahap yang didasarkan pada zona sensitif seksual tertentu. Jika setiap tahap tidak selesai dengan sukses, anak menjadi terpaku pada zona sensitif seksual tertentu dan ketika anak menjadi dewasa, ia baik melalui indulgensi atau di bawah pada zona indulgensi.

Tahap-tahap perkembangan psikoseksual teori adalah teori kepribadian Sigmund Freud pada gangguan dan tahapan adalah sebagai berikut:

  • Oral Stage: Tahapan ini dimulai dari kelahiran dan terakhir sampai 18 bulan. Selama tahap ini, anak memperoleh kenikmatan lisan melalui mengisap dan sebagian besar waktu anak sibuk dengan kegiatan oral. Menurut Freud, terlalu banyak atau terlalu sedikit kegemaran dapat mengakibatkan kepribadian lisan. Seseorang dengan kepribadian ini cenderung merokok berlebihan, minum alkohol, lebih dari makan atau menggigit kuku. Dalam hal kepribadian, orang-orang dengan kepribadian lisan terlalu banyak bergantung pada orang lain, mereka mudah ditipu dan akan selalu menjadi pengikut dan tidak pernah pemimpin. Namun, tipe kepribadian ini dapat melawan dorongan tersebut dan menjadi pesimis dan menjadi agresif terhadap orang lain.


  • Anal Stage: Mulai dari 18 bulan dan berlangsung sampai anak adalah 3 tahun. Di sini, anak memperoleh kesenangan dari menghilangkan dan mempertahankan tinja. Melalui orang tua, anak belajar untuk mengendalikan kenikmatan anus. Namun, dampak dari hasil fiksasi anal dalam terobsesi dengan kebersihan, kesempurnaan dan kontrol. Tetapi juga diketahui bahwa tipe kepribadian anal dapat menjadi kacau dan sangat berantakan.


  • Tahap tahap phalik: Mulai dari 3 tahun dan berlangsung hingga 6 tahun. Di sini, anak switch zona kesenangan ke alat kelamin. Menurut Freud, itu adalah selama tahap ini bahwa anak mengembangkan Kompleks Oedipus dan pandangan ayahnya sebagai saingan untuk menarik perhatian ibunya. Juga, anak menjadi takut bahwa ayahnya akan menghukum dia karena perasaan terhadap ibu. Takut sama ini mendorong anak untuk mengidentifikasi dengan ayah dan mulai meniru-nya bukan melawan dia, dan ini yang membantu anak untuk mengembangkan karakteristik maskulin dan membantu untuk menekan perasaan seksual terhadap ibunya. Sebuah fiksasi di tahap ini menyebabkan anak laki-laki secara seksual menyimpang, bingung tentang identitas seksual dan lemah.


  • Latency Stage: Tahap ini dimulai pada 6 tahun dan terakhir sampai masa pubertas. Selama tahap ini semua dorongan seksual ditekan dan anak-anak cenderung untuk bermain dengan anak lain yang sama jenis kelamin.



  • Tahap genital: Mulai dari pubertas. Ini adalah tahap akhir perkembangan psikoseksual di mana kebutuhan seksual menimbulkan kembali. Pada tahap ini, karena pengalaman masa lalu, seorang anak berkonsentrasi pada lawan jenis dan zona utama kenikmatan adalah alat kelamin.




Erik H. Erikson
Psikoananalitik Kontemporer

 STRUKTUR KEPRIBADIAN

 Ego Kreatif

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego ini dapat menemukan menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego bukan menjadi budak lagi, namun dapat mengatur id, superego dan dibentuk oleh konteks cultural dan historik. Berikut adalah ego yang sempurna menurut Erikson
  1. Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.

  2. Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan pronsip realita dari Freud.

  3. Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama.


Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, mengorganisir dan mensitesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yakni
  1. Body Ego: Mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/ fisiknya sendiri.

  2. Ego Ideal: Gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.

  3. Ego Identity: Gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.


Teori Ego dari Erikson memandang bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego.

CIRI KHAS PSIKOLOGI EGO ERIKSON
  1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemasakan ego yang sehat.

  2. Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.

  3. Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang taksadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id.

  4. Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadarn diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan keberkelanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.


PENGARUH MASYARAKAT

Walaupun kapasitas yang dibawa sejak lahir penting dalam perkembangan kepribadian, bagian terbesar ego muncul dan dibentuk oleh masyarakat. Ego muncul bersama kelahiran sebagai potensi yang harus ditegakkan di dalam lingkungan kultural. Masyarakat yang berbeda, dengan perbedaan kebiasaan cara mengasuh anak, cenderung membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai budayanya.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN: TEORI PSIKOSOSIAL

PRINSIP EPIGENETIK

Menurut Erikson, ego berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mengikuti prinsip epigenetik, istilah yang dipinjam dari embriologi. Perkembangan epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ embrio. Ego berkembang mengikuti prinsip epigenetik, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu (yang disediakan oleh hereditas untuk berkembang). Tahap perkembangan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembangan sebelumnya (tetapi tidak mengganti perkembangan tahap sebelumnya itu).

ENAM POKOK PIKIRAN TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ERIKSON

  1. Prinsip Epigenetik: Perkembangan kepribadian mengiuti prinsip epigenetik.

  2. Interaksi Bertentangan: Di setiap tahap ada konflik psikososial, antara elemen sintonik (syntonic = harmonious) dan distonik (dystonic = disruptive). Kedua elemen itu dibutuhkan oleh kepribadian.

  3. Kekuatan Ego: Konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego. Dari sisi jenis sifat yang dikembangkan, kemenangan aspek sintonik akan memberi ego sifat yang baik, disebut Virtue. Dari sisi  enerji, virtue akan meningkatkan kuantitas ego atau kekuatan ego untuk mengatasi konflik sejenis, sehingga virtue disebut juga sebagai kekuatan dasar (basic strengh).

  4. Aspek Somatis: Walaupun Erikson membagi tahapan berdasarkan perkembangan psikososial, dia tidak melupakan aspek somatis/biologikal dari perkembangan manusia.

  5. Konflik dan Peristiwa Pancaragam (Multiplicity of Conflict and Event): Peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangan kepribadian selanjutnya. Identitas ego dibentuk oleh konflik dan peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.

  6. Di setiap tahap perkembangan, khususnya dari masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas (identity crisis), yang dinamakan Erikson “titik balik, periode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi”.











FASE-FASE PERKEMBANGAN

1.    FASE BAYI (0-1 TAHUN)
Pararel dengan Fase Oral dari Freud, namun bagi Erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata; bayi adalah saat untuk memasukkan (incorporation), bukan hanya melalui mulut (menelan) tetapi juga dari semua indera. Tahap sensori oral ditandai oleh dua jenis inkorporasi: mendapat (receiving) dan menerima (accepting). Tahun pertama kehidupannya, bayi memakai sebagian besar waktunya untuk makan, eliminasi (buang kotoran), dan tidur. Ketika ia menyadari ibu akan memberi makan/minum secara teratur, mereka belajar dan memperoleh kualitas ego atau identitas ego yang pertama, perasaan kepercayaan dasar (basic trust). Bayi harus mengalami rasa lapar, haus, nyeri, dan ketidaknyamanan lain, dan kemudian mengalami perbaikan atau hilangnya kondisi yang tidak menyenangkan itu. Dari peristiwa itu bayi akan belajar mengharap bahwa hal yang menyakitkan ke depan bisa berubah menjadi menyenangkan. Bayi menangkap hubungannya dengan ibu sebagai sesuatu yang keramat (numinous).

2.    FASE ANAK-ANAK (1-3 TAHUN)
Dalam teori Erikson, anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol alat-alat anus saja, tetapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh yang lain seperti urinasi, berjalan, melempar, memegang, dan sebagainya. Pada tahun kedua, penyesuaian psikososial terpusat pada otot anal-uretral (Anal-Urethral Muscular); anak belajar mengontrol tubuhnya, khususnya yang berhubungan dengan kebersihan. Pada tahap ini anak dihadapkan dengan budaya yang menghambat ekspresi diri serta hak dan kewajiban. Anak belajar untuk melakukan pembatasan-pembatasan dan kontrol diri dan menerima kontrol dari orang lain. Hasil mengatasi krisis otonomi versus malu-ragu adalah kekuatan dasar kemauan. Ini adalah permulaan dari kebebasan kemauan dan kekuatan kemauan (benar-benar hanya permulaan), yang menjadi ujud virtue kemauan di dalam egonya.  Pada tahap ini pola komunikasi mengembangkan penilaian benar atau salah dari tingkah laku diri dan orang lain, disebut bijaksana (judicious).

3.    USIA BERMAIN (3-6 TAHUN)
Pada tahap ini Erkson mementingkan perkembangan pada fase bermain, yakni; identifikasi dengan orang tua (odipus kompleks), mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan menentukan tujuan. Erikson mengakui gejala odipus muncul sebagai dampak dari fase psikososeksual genital-locomotor, namun diberi makna yang berbeda. Menurutnya, situasi odipus adalah prototip dari kekuatan yang abadi dari kehidupan manusia. Aktivitas genital pada usia bermain diikuti dengan peningkatan fasilitas untuk bergerak. Inisiatif yang dipakai anak untuk memilih dan mengejar berbagai tujuan, seperti kawain dengan ibu/ayah, atau meninggalkan rumah, juga untuk menekan atau menunda suatu tujuan. Konflik antara inisiatif dengan berdosa menghasilkan kekuatan dasar (virtue) tujuan (purpose). Tahap ini dipenuhi dengan fantasi anak, menjadi ayah, ibu, menjadi karakter baik untuk mengalahkan penjahat.

4.    USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN)
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakain enerjinya untuk mempelajari teknologi dan budayanya serta interaksi sosialnya. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry – inveriority).


Dari konflik antar ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan (competency). Di sekolah, anak banyak belajar tentang sistem, aturan, metoda yang membuat suatu pekrjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

5.    ADOLESEN (12-20 TAHUN)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya, karena orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Bagi Erikson, pubertas (puberty) penting bukan karena kemasakan seksual, tetapi karena pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan datang. Pencarian identitas ego mencapai puncaknya pada fase ini, ketika remaja berjuang untuk menemukan siapa dirinya. Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolesen adalah kesetiaan (fidelity); yaitu setia dalam beberapa pandangan idiologi atau visi masa depan. Memilih dan memiliki ediologi akan memberi pola umum kehidupan diri, bagaimana berpakaian, pilihan musik dan buku bacaan, dan pengaturan waktu sehari-hari.

6.    DEWASA AWAL (20-30 TAHUN)
Pengalaman adolesen dalam mencari identitas dibutuhkan oleh dewasa-awal. Perkembangan psikoseksual tahap ini disebut perkelaminan (genitality). Keakraban (intimacy) adalah kemampuan untuk menyatukan identitas diri dengan identitas orang lain tanpa ketakutan kehilangan identitas diri itu. Cinta adalah kesetiaan yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. Cinta selain di samping bermuatan intimasi juga membutuhkan sedikit isolasi, karena masing-masing partner tetap boleh memiliki identitas yang terpisah. Ritualisasi pada tahap ini adalah Afiliasi, refleksi dari kenyataan adanya cinta, mempertahankan persahabatan, ikatan kerja.

7.    DEWASA (30-65 TAHUN)
Tahap dewasa adalah waktu menempatkan diri di masyarakat dan ikut bertanggung jawab terhadap apapun yang dihasilkan dari masyarakat. Kualitas sintonik tahap dewasa adalah generativita, yaitu penurunan kehidupan baru, serta produk dan ide baru. Kepedulian (care) adalah perluasan komitmen untuk merawat orang lain, merawat produk dan ide yang membutuhkan perhatian. Kepedulian membutuhkan semua kekuatan dasar ego sebelumnya sebagai kekuatan dasar orang dewasa. Generasional adalah interaksi antara orang dewasa dengan generasi penerusnya bisa berupa pemberian hadiah atau sanjungan, sedangkan otoritisme mengandung pemaksaan. Orang dewasa dengan kekuatan dan kekuasaannya memaksa aturan, moral, dan kemauan pribadi dalam interaksi.

8.    USIA TUA (>65 TAHUN)
Menjadi tua sudah tidak menghasilkan keturunan, tetapi masih produktif dan kreatif dalam hal lain, misalnya memberi perhatian/merawat generasi penerus – cucu dan remaja pada umumnya. Tahap terakhir dari psikoseksual adalah generalisasi sensualitas (Generalized Sensuality): memperoleh kenikmatan dari berbagai sensasi fisik, penglihatan, pendengaran, kecapan, bau, pelukan, dan juga stimulasi genital. Banyak terjadi pada krisis psikososial terakhir ini, kualita distonik “putus asa” yang menang. Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan mentalnya menurun. Pada tahap usia tua, ritualisasinya adalah integral; ungkapan kebijaksanaan dan pemahaman makna kehidupan. Interaksi yang tidak mementingkan keinginan dan kebutuhan duniawi.