Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Menghitung Kebutuhan Guru

Foto: dokumen pribadi pendidikan-tomi-blogspot.com

Hasil studi Dirjen PMPTK Depdiknas (sebelum namanya diganti dan dirjennya dilebur) menunjukkan masih banyak guru yang mismatch, masih banyak sekolah yang kekurangan guru mata pelajaran tertentu, masih banyak penumpukan guru pada sekolah tertentu dan masih banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan minimal.
Dalam rangka membina dan mengembangkan profesi guru dan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pengelolaan guru, perlu direncanakan pemenuhan kebutuhan, pemindahan, dan pemerataan guru baik guru PNS maupun nonPNS pada sekolah negeri maupun swasta.
TUJUAN
Menghitung kebutuhan guru di setiap sekolah
Menentukan jumlah kekurangan atau kelebihan guru, baik guru kelas maupun guru mata pelajaran
Mengambil kebijakan dalam rangka pengusulan formasi baru atau meredistribusi ketenagaan guru
DASAR PERHITUNGAN
1. Dasar untuk menghitung kebutuhan guru pada setiap sekolah :
-  jumlah siswa
-  jumlah kelas/ rombongan belajar (rombel)
-  jumlah jam setiap mata pelajaran sesuai kurikulum
-  beban wajib mengajar bagi guru
-  jenis dan jenjang satuan pendidikan sesuai dengan tipe sekolah
2. Jumlah jam wajib mengajar guru :
-  Guru mata pelajaran dan guru kelas adalah 24 jam pelajaran (jpl) per minggu
-  Kepala Sekolah 6 jam pelajaran perminggu
-  Wakil Kepala Sekolah 12 jam pelajaran perminggu
-  Guru BK minimal membina 150 siswa atau maksimal 225 siswa
3. Dalam hal menghitung kebutuhan guru untuk formasi CPNS, guru dihitung berdasarkan
-  Sekolah yang dianalisis adalah sekolah negeri
-  Guru yang dianalisis hanya guru PNS
 Hasil perhitungan kebutuhannya adalah merupakan formasi CPNS
4. Perhitungan kebutuhan guru pada sekolah juga memperhitungkan guru honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) yang ada pada sekolah tersebut untuk setiap mata pelajaran
5. Perhitungan untuk mata pelajaran IPS pada jenjang SMP meliputi guru mata pelajaran Ekonomi, Sejarah, dan Geografi. Sedangkan untuk jenjang SMA dirinci dalam mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan Geografi
6. Perhitungan guru mata pelajaran IPA untuk jenjang SMP meliputi guru mata pelajaran Fisika dan Biologi. Sedangkan, untuk jenjang SMA dirinci dalam mata pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi
PRINSIP PERHITUNGAN GURU SD/MI
Setiap kelas harus memiliki 1 (satu) orang guru kelas.
Setiap SD/MI harus memiliki 1 (satu) orang Kepala Sekolah
Setiap SD/MI harus memiliki minimal 1 (satu) orang guru Agama dan 1 (satu) orang guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Jika sekolah terdapat siswa yang menganut lebih dari 1 (satu) Agama, maka perhitungan guru Agama disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku

Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SD/MI

KG = ∑ K + 1 KS + 1 GA + 1 GP
KG          :               Kebutuhan Guru
∑ K          :               Jumlah Rombongan Belajar
KS           :               Kepala Sekolah
GA          :               Guru Agama
GP          :               Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

PRINSIP PERHITUNGAN GURU SMP/MTs

Setiap 1 (satu) orang guru mata pelajaran memiliki beban mengajar wajib minimal 24 jam pelajaran perminggu.
Kepala Sekolah wajib mengajar tatap muka 6 jam pelajaran perminggu atau wajib membimbing dan memberikan bimbingan dan konseling kepada sekurang-kurangnya 40 orang siswa.
Wakil Kepala Sekolah minimal 1 (satu) orang dan maksimum 4 (empat) orang, tergantung jumlah siswa dan keberadaan jumlah kelas yang ada. Untuk SMP/MTs, kriteria jumlah Wakil Kepala Sekolah adalah :
                - Rombongan Belajar <9 1="1" kepala="kepala" p="p" satu="satu" sekolah="sekolah" wakil="wakil">                - Rombongan Belajar 10-18, 2 (dua) Wakil Kepala Sekolah
                - Rombongan Belajar 19-27, 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah
                - Rombongan Belajar >28, 4 (empat) Wakil Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah wajib mengajar sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran perminggu atau memberikan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 70 orang siswa.
Untuk Guru Bimbingan dan Konseling (BK), 1 (satu) orang guru membimbing 150-225 orang siswa, dan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Guru BK untuk satu sekolah
Khusus untuk Guru Agama, rumus dibawah hanya dipakai untuk 1 (satu) agama. Apabila disekolah terdapat lebih dari 1 (satu) pendidikan agama yang diajarkan, disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku
Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SMP/MTs
KG =
(SMP1 x SK1) + (SMP2 x SK2) + (SMP3 x SK3)
SW
KG          :               Kebutuhan Guru
∑MP      :               Jumlah jam mata pelajaran perminggu pada mata pelajaran tertentu di satu tingkat
∑ K          :               Jumlah Kelas pada suatu tingkat yang mengikuti pelajaran tertentu
∑ W        :               Jumlah jam wajib mengajar perminggu

PRINSIP PERHITUNGAN GURU SMA/MA

Setiap 1 (satu) orang guru mata pelajaran memiliki beban mengajar wajib minimal 24 jam pelajaran perminggu.
Kepala Sekolah wajib mengajar tatap muka 6 jam pelajaran perminggu atau wajib membimbing dan memberikan bimbingan dan konseling kepada sekurang-kurangnya 40 orang siswa.
Wakil Kepala Sekolah minimal 1 (satu) orang dan maksimum 4 (empat) orang, tergantung jumlah siswa dan keberadaan jumlah kelas yang ada. Untuk SMA/MA, kriteria jumlah Wakil Kepala Sekolah adalah :
                - Rombongan Belajar <9 1="1" kepala="kepala" p="p" satu="satu" sekolah="sekolah" wakil="wakil">                - Rombongan Belajar 10-18, 2 (dua) Wakil Kepala Sekolah
                - Rombongan Belajar 19-27, 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah
                - Rombongan Belajar >28, 4 (empat) Wakil Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah wajib mengajar sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran perminggu atau memberikan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 70 orang siswa.
Untuk Guru Bimbingan dan Konseling (BK), 1 (satu) orang guru membimbing 150-225 orang siswa, dan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Guru BK untuk satu sekolah
Khusus untuk Guru Agama, rumus dibawah hanya dipakai untuk 1 (satu) agama. Apabila disekolah terdapat lebih dari 1 (satu) pendidikan agama yang diajarkan, disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku
Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SMA/MA

KG =
(SMP1 x SK1) + (SMP2 x SK2) + (SMP3 x SK3) + ... (SMPn x SKn)
SW
KG          :               Kebutuhan Guru
∑MP      :               Jumlah jam mata pelajaran perminggu pada mata pelajaran tertentu di satu tingkat
∑ K          :               Jumlah Kelas pada suatu tingkat yang mengikuti pelajaran tertentu
∑ W        :               Jumlah jam wajib mengajar perminggu
CONTOH
Kebutuhan guru mata pelajaran Matematika di SMA A.
Jika di SMA A terdapat :
Kelas X : ada 6 kelas @ 4 jam/minggu      = 6 x 4   = 24 jam/minggu
Kelas XI IPA : ada 4 kelas @ 4 jam/minggu             = 4 x 4   = 16 jam/minggu
Kelas XI IPS : ada 1 kelas @ 4 jam/minggu             = 1 x 4   = 4 jam/minggu
Kelas XI Bhs : ada 1 kelas @ 3 jam/minggu            = 1 x 3   = 3 jam/minggu
Kelas XII IPA : ada 4 kelas @ 4 jam/minggu           = 4 x 4   = 16 jam/minggu
Kelas XII IPS : ada 1 kelas @ 4 jam/minggu            = 1 x 4   = 4 jam/minggu
Kelas XII Bhs : ada 1 kelas @ 3 jam/minggu           = 1 x 3   = 3 jam/minggu
Jumlah                                                                                 = 70 jam/minggu
Maka kebutuhan guru mata pelajaran Matematika di SMA A adalah 70/24 atau 2,91 atau 3 orang guru.

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Kekurangan jumlah kebutuhan guru pada satuan pendidikan berimplikasi pada penetapan formasi dan kebijakan rekrutmen guru baru.
Kelebihan jumlah kebutuhan guru pada satuan pendidikan menuntut adanya kebijakan redistribusi dalam rangka pemerataan guru.
Kebijakan Penetapan Formasi dan Rekrutmen Guru
Penetapan formasi guru baru didasarkan atas kebutuhan riil satuan pendidikan, baik untuk guru kelas maupun guru mata pelajaran.
Pelaksanaan rekrutmen guru baru didasarkan atas pertimbangan obyektif, transparan dan akuntabel.
Rekrutmen guru baru didasarkan atas pertimbangan persyaratan minimum kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan UU. No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kebijakan Redistribusi untuk Pemerataan Guru
Perlu diciptakan keseimbangan jumlah guru sehingga tercipta komposisi guru yang merata pada setiap sekolah.
Secara bertahap dilakukan redistribusi atau pemindahan guru dari sekolah yang kelebihan guru ke sekolah yang membutuhkannya.
Apabila telah dilakukan pemerataan ke sekolah lain tetapi masih tersisa, dapat dilakukan mempromosikan guru sebagai pengawas sekolah atau memprogramkan alih spesialisasi sesuai keahlian lainnya.
Penempatan CPNS guru perlu direncanakan sebagai bagian dan upaya pemerataan guru untuk setiap kab/kota.
Pemindahan guru dari sekolah yang kekurangan guru perlu direncanakan sebaik-baiknya serta disosialisasikan kepada guru yang akan dipindahkan.
Pemindahan guru ke sekolah – sekolah pedalaman/terpencil bukan merupakan bagian dari hukuman kepada guru yang melanggar disiplin.

Jumlah Wakil Kepala Sekolah yang diakui sesuai dengan Permen Diknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pelaksanaan distribusi guru dianggap selesai per 31 Desember 2011 sesuai dengan penegasan Permen Diknas Nomor 30 Tahun 2011tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan.
Semoga Bermanfaat

Minggu, 02 Oktober 2011

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi

Kita pasti sangat bangga jika diri kita atau orang yang kita sayang memiliki prestasi akademik yang gemilang. Prestasi akademik ini pun dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal/lingkungan. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang :

FAKTOR INTERNAL

1.  Intelegensi

Tingkat intelegensi seseorang dapat dengan mudah dilihat dari prestasi belajarnya di sekolah atau universitas di semua mata pelajaran. Bagi para peserta didik yang memiliki intelegensi tinggi sangat diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki intelegensi kurang. Tetapi faktor ini bkan berarti sebagai faktor penentu karena masih ada lagi banyak faktor yang mempengaruhi.

2.  Motivasi

Motivasi adalah daya penggerak seseorang yang menjadi aktif pada saat-saat tertentu dimana seseorang tersebut ingin mencapai tujuan. Motivasi ini sendiri terbagi menjadi 3 bagian yaitu motivasi internal, motivasi eksternal, dan motivasi berprestasi.
a.       Motivasi Internal : motivasi dari dalam diri sendiri dimana dia ingin mencapai sesuatu yang dia inginkan, biasa disebut dengan “niat”
b.      Motivasi Eksternal : motivasi yang didapat dari orang lain seperti halnya pujian, atau pemberian hadiah atas kesuksesannya.
c.       Motivasi berprestrasi : dimana seseorang memiliki keinginan bejuang untuk sukses dan memilih kegiatan yang berorientasi sukses. Motivasi ini tidak jauh berbeda dengan motivasi internal.

3.  Kepribadian

Kepribadian merupakan suatu organisasi yang  dinamis dari sistem psikofisik yang dinamis seseorang yang menentukan bagaimana individu dapat menyesuaikan diri dan menjadi bagian tersendiri dalam lingkungannya. Kepribadian ini dapat berubah dan diwujudkan dengan tingkah laku.


FAKTOR EKSTERNAL

1.  Lingkungan rumah

Lingkungan rumah dalam hal ini orang tua memiliki peranan palin penting untuk membentuk dan menjadi guru untuk anaknya. Orang tua merupakan pengasuh, guru, juga psikolog untuk anak dan membantu proses sosialisasi anak

2.  Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman dimana anak terdorong untuk berprestasi di pelajaran. Sedangkan contoh kelas yang baik adalah kelas yang memiliki jumlah murid yang tidk terlalu banyak sehingga guru bis memonitoring dan mengawasi proses belajar anak.

Itulah faktor yang mempengaruhi bagus tidaknya prestasi akademik seseorang. Semoga info ini bisa membantu Anda untuk membentuk putera-puteri Anda menjadi seseorang yang baik.

Kamis, 23 Juni 2011

Dana BOS... Dibolak-balik, Sana dan Sini

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan monitoring penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS) sampai triwulan kedua 2011 ini, Ombudsman berencana memberikan draft rekomendasi kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Rekomendasi tersebut diberikan terkait sejumlah permasalahan yang ditemukan Ombudsman di lapangan.
Selain menyampaikan permintaan sekolah-sekolah di daerah untuk mengembalikan mekanisme penyaluran dana BOS kepada mekanisme yang sebelumnya, Ombudsman meminta agar Kemdiknas mampu meningkatkan pengawasan dalam penyaluran dana BOS tersebut.
"Saran kami, pemerintah mengembalikan mekanisme penyaluran dana BOS sebagaimana skema sebelumnya atau mempertahankan skema penyaluran dana BOS seperti saat ini, dengan catatan melalui pengawasan yang lebih komprehensif," kata Budi Santoso, Anggota Ombudsman Bidang Penyelesaian Laporan dan Pengaduan, Budi Santoso kepada Kompas.com, Jumat (24/6/2011), di Kantor Ombudsman, Kuningan, Jakarta Selatan.
Budi menjelaskan, saran tersebut memang belum final. Namun, berdasarkan survey Ombudsman, sekolah-sekolah di daerah cenderung meminta mekanisme penyaluran dana BOS dikembalikan seperti mekanisme penyaluran sebelumnya. Adapun mekanisme penyaluran pada 2005 sampai 2010 dilakukan dengan transfer langsung dari pusat ke rekening sekolah.
"Menurut mereka, itu lebih efektif dan tidak terlalu birokratis seperti sekarang. Tanpa mengurangi sisi akuntabilitas. Faktanya, penyaluran dana BOS lebih cepat dengan mekanisme sebelumnya. Sekolah meminta dikembalikan kepada mekanisme terdahulu, meski realitas politiknya lain," ujarnya.
Ia menilai, pemerintah daerah bersikeras ingin dilibatkan dalam proses penyaluran dana BOS. Karena menurutnya, daerah akan merasa punya kebanggaan ketika dipercaya mengurus penyaluran dana BOS yang jumlahnya ratusan Miliar.
"Inilah pangkal permasalahannya, ketika daerah tak berani berinovasi. Hanya menunggu APBD disahkan, yang ternyata pengesahannya lebih banyak yang molor,"
Meski begitu, Budi mengaku, dirinya hanya berkapasitas memberikan opsi. Mengenai kebijakan apa yang akan diambil, itu tetap menjadi wewenang pemerintah.
Ia mengatakan, ada beberapa alasan yang mendorong pemerintah tetap menggunakan mekanisme baru. Salah satunya adalah menghindari rong-rongan dari pemerintah daerah.
"Kita lebih banyak memberikan alternatif usulan jika pemerintah mau mempertahankan mekanisme baru, karena yang kami dengar di beberapa kesempatan mereka cenderung mempertahankan cara penyaluran dengan mekanisme baru. Salah satu pertimbangannya adalah menghindari protes dari daerah. Karena jika ditarik kembali oleh pusat, maka daerah akan bertanya, ini kok resentralisasi ke pusat lagi?," ujarnya.
Budi menambahkan, selama ini daerah mengeluh karena merasa jika pendidikan adalah urusan pemerintah kota atau daerah. Pada dasarnya, pengawasan terhadap penyaluran dana BOS menjadi elemen terpenting.
"Karena dapat menjamin ketepatan dan kecepatan penyalurannya," tambahnya.

Rabu, 06 April 2011

Ijazah Dan Gelar

Jangan bangga dengan gelar Magister Pasar Gelap
Untuk apa punya ijazah kalau tidak pernah kuliah ? Untuk apa pula punya gelar kalau tidak punya nalar ?

Pertanyaan yang tercetus ketika kalangan perguruan tinggi, tokoh pendidikan, dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan merasa kaget dan dilecehkan dengan praktik jual-beli gelar dan ijazah yang dilakukan beberapa waktu yang lalu oleh Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) dan oknum- oknum lain yang terlibat. Beruntung, praktik tidak terpuji yang memanipulasi institusi pendidikan ini akhirnya dibongkar juga oleh Mabes Polri (2005 lalu).

Praktik manipulatif dengan kedok lembaga pendidikan atau topeng perguruan tinggi itu sebetulnya sudah lama beroperasi, dan masalah ini patut mendapat perhatian dari semua pihak agar tidak ada lagi orang-orang yang bangga menyandang gelar akademik ilegal yang dibeli sekian juta rupiah. Sanksi tegas sebagaimana dimuat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Bab XX Pasal 67-69, juga harus diterapkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Tindakan ini mendesak dilakukan untuk membuktikan komitmen pemerintah dan semua pihak terkait bagi kemajuan dan kehormatan dunia pendidikan di Indonesia. Ini persoalan penting, sebab lazimnya gelar akademik dan ijazah, diterima oleh seseorang sebagai tanda telah selesainya masa pendidikan tinggi formal dalam strata tertentu.
Untuk memperoleh gelar dan ijazah itu terlebih dahulu seseorang harus lulus ujian akhir atau telah membuat dan menyelesaikan skripsi (S1), tesis (S2), dan disertasi (S3).
Membuat dan menghasilkan karya tulis ilmiah dan akademik itu bukan hal gampang; begitu juga dengan mem-pertanggungjawabkan-nya di hadapan dewan penguji bukanlah perkara mudah.
Banyak faktor yang telah dikorbankan untuk mendapatkannya bukan sekedar dengan sekian juta rupiah fulus saja kemudian berbangga dengan ijazah dan gelar yang didapatnya dari pasar gelap tersebut. . . . . . .
Kenapa Masyarakat Bangsa Kita Cenderung Mengejar Gelar ?

Secara sosiologis, praktik jual- beli gelar dan ijazah ini menunjukkan masih kuatnya pengaruh gelar dan budaya feodal dalam sistem sosial masyarakat Indonesia. Hal ini setidaknya berkaitan dengan status sosial yang akan dimiliki orang-orang yang bergelar tersebut, dan akspektasi sosial yang diharapkan mereka akan diberikan oleh masyarakat. Orang yang memiliki gelar akademik atau lulusan perguruan tinggi biasanya secara langsung maupun tidak langsung akan menduduki status sosial tertentu di masyarakat.

Menurut Max Weber (1978), status dapat berarti sebuah klaim yang efektif bagi penghargaan sosial yang berkenaan dengan privileges positif atau negatif; yang secara tipikal didasarkan pada: (a) gaya hidup; (b) pendidikan formal; dan (c) warisan turun-temurun atau prestise pekerjaan.

Dalam pandangan sosiologis ini terlihat bahwa status di dalamnya inheren terdapat pengakuan atau keinginan untuk diakui oleh orang lain atau masyarakat sehingga bisa memperoleh privileges, bentuk-bentuk hak istimewa atau perlakuan khusus dan fasilitas kemudahan dalam akses sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Dari perspektif ini bisa dipahami mengapa banyak orang yang begitu silap dan ambisius untuk memiliki gelar akademik atau kesarjanaan, meskipun tidak melalui jalur pendidikan tinggi yang resmi dan formal. Orang-orang yang silau dengan gelar ini mempunyai persepsi bahwa gelar akademik yang dimiliki secara tidak sah itu akan menjadi tiket bagi peningkatan status sosial atau kenaikan pangkat dan jabatan di tempat kerja mereka.

Berbeda dengan itu, maka gelar akademik yang diraih oleh seseorang secara legal dan prosedural termasuk kategori status yang diusahakan atau diperoleh karena upaya dan proses pendidikan formal yang telah rampung dijalaninya.

Hal yang menurut Donald J Treiman, adalah status seperti ini disebutnya sebagai status attainment, yakni suatu proses yang harus dilalui setiap individu dalam meraih kedudukan dalam stratifikasi sistem sosial di masyarakat. Dalam stratifikasi sosial seperti ini, maka pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan menjadi faktor-faktor kunci yang menentukan.

No Reason !

Gelar akademik yang diperoleh dengan cara membeli sekian juta rupiah, bisa dipastikan bahwa gelar itu tidak ada reason- nya alias tanpa nalar. Begitu pula dengan ijazah kesarjanaan yang dimiliki seseorang dengan cara membayar, maka di samping tidak akan diakui resmi oleh pemerintah atau Kementrian Pendidikan Nasional, juga tidak ada garansi akademis bagi si pemiliknya. Gelar seperti itu tidak lebih dari sekadar topeng kepalsuan dan kebanggaan semu belaka, tanpa nalar, nilai, dan etika.

Nalar dalam gelar akademik bisa dipahami dari hal-hal berikut ini;

  1. Gelar akademik yang dimiliki oleh seseorang, misalnya sarjana hukum atau sarjana ekonomi, maka berarti pemilik gelar tersebut telah selesai studi di fakultas hukum atau fakultas ekonomi dengan berbagai persyaratan, proses, dan prosedur yang sudah dijalaninya.
  2. Penyandang gelar tersebut dipandang memiliki kompetensi dan wawasan keilmuan di bidang hukum atau ekonomi.
  3. Penyandang gelar akademik tadi mempunyai hak dan kewajiban yang melekat, baik untuk peningkatan kualitas hidupnya maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian pada masyarakat.
  4. Pada gelar akademik yang disandang oleh seseorang, terdapat nilai-nilai moral dan komitmen yang berhubungan langsung dengan Tuhan, sebagaimana tersurat dalam ikrar prasetya kesarjanaan.

Karena itu, gelar yang dibeli dan ijazah yang ditebus dengan fulus, sekali lagi, adalah tanpa nalar dan tidak mempunyai makna. Yang ada di dalamnya hanya rasionalitas kalkulatif dan transaksi ekonomi antara penjual gelar dan ijazah dengan pembelinya, khas gaya hidup masyarakat modern. Kasus seperti inilah yang oleh C Wright Mills disebutnya sebagai rasionalitas tanpa nalar (rationality without reason).

Sebab bagaimana mungkin di dalam praktik jual-beli gelar dan ijazah itu terdapat nilai-nilai kejujuran ilmu pengetahuan, nalar moral serta komitmen Ketuhanan dan kemanusiaan, jika di dalamnya terdapat kebohongan dan kepalsuan? Gelar dan ijazah itu tidak memiliki makna dan tidak representatif dengan kapasitas pemegangnya. Mempunyai gelar tanpa nalar dan ijazah tanpa kuliah itu selain telah membohongi diri sendiri, juga sangat riskan disalahgunakan untuk menipu orang lain.

Pada hakikatnya, diakui atau tidak, orang-orang yang menyandang gelar akademik dan memiliki ijazah dengan cara-cara yang tidak terpuji dan tidak patut itu telah melakukan kebohongan publik dan penipuan terhadap masyarakat luas. Selama orang-orang seperti itu pamer dan bangga dengan gelar-gelar ilegal dan ijazah palsu itu, maka selama itu pula mereka sedang berbohong dan menipu diri di tengah khalayak. Sungguh sebuah tragedi kemanusiaan.

Minggu, 03 April 2011

How to Have a Professional Teacher's Appearance

Teachers are professionals, but you can't always tell by the appearance. While you can't judge a book by its cover, some people never open the cover. All teachers want to be respected. They have earned a degree and they put a lot of work into their classroom. Follow this advice and, at a glance, you will be considered a professional!


Instructions

    • 1
      Practice personal hygiene. Another saying, cleanliness is next to godliness. Well, it won't make you a god or goddess, but it can affect how your students and their parents view you. Bath regularly. Use deodorant. In you wear perfume or cologne, go light. Brush your teeth and, if necessary, have breath mints on hand. Clean and comb your hair in a style that can last all day long. You may have an impromptu conference after school!
    • 2
      Guru Eropa

      Dress for success. Your clothes should be clean and pressed. It should reflect your position. When you bend over, your underwear shouldn't show. When you lift your arms, your stomach should remain hidden. Bras should be worn but not visible. Jeans and tee shirts are very comfortable, but they do not have a professional look. This doesn't mean you have to wear denim dresses with chalkboard designs or ties with schoolhouses on them. Use your own style, but consider your position. Some looks are just not right in the classroom. If you look sloppy, don't be surprised when you are not treated in a professional manner. . . . . .




  • 3
    Consider every aspect of your appearance. Another part of the dress is your shoes. Tennis shoes are great for p.e. classes, but a shoe with a more professional look should be worn in the classroom. Go for comfort that looks good.
  • 4

    Remember your face! The most important part of your appearance is your demeanor. If you wear a constant scowl or loudly complain, you will not be looked at as a professional teacher. Your countenance should be one that is attractive to the children and the way you address them should be gracious and professional.
  • 5
    Guru Amrik
    Go into your classroom and make it look professional too. Add framed copies of your degrees to the wall behind your desk. This establishing the fact that you have a degree and are qualified to teach.
  • 6

    All in all, none of these things will make you a better teacher. In fact, a terrible teacher can look very professional. If you want to be treated as a professional, be willing to dress the part and act the part. Then more beyond that, and be professional too!
  • source : www.ehow.com

    Senin, 31 Januari 2011

    Tips Menghindarkan Anak Dari Pornografi

    Maraknya kasus video porno yang sempat mengguncangkan masyarakat baru-baru ini, membuat tak hanya orang dewasa, anak-anak kecil pun kerap mendengar mengenai masalah itu, antara lain lewat tayangan media, teman-teman, atau orang sekitar. Tak heran jika para orangtua merasa khawatir anaknya terekspos materi pornografi yang sudah sangat bebas. Di bawah ini adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan supaya anak terhindar dari pornografi:

    1. Tunjukkan wewenang Anda sebagai orangtua.
    Lakukan hal ini secara bijaksana dan lembut. Tunjukkan bahwa Anda tetap orangtuanya walau hubungan Anda dengannya terjalin seperti sahabat.

    Sebagai orangtua, Andalah yang berhak mengambil keputusan akhir tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan anak. Anda berhak mengetahui siapa saja temannya, di mana ia berada, dan apa yang sedang ia lakukan.

    2. Berikan contoh yang baik.
    Orangtua adalah yang pertama kali akan dicontoh anak di rumah. Jika ingin anak berperilaku baik, Anda juga harus melakukan hal yang sama. Jangan malah ikut-ikutan mengunduh video porno.

    3. Pasang pengaman di komputer atau televisi.
    Saat ini tersedia banyak software yang bisa digunakan untuk mencegah dibukanya situs-situs porno di internet atau saluran-saluran khusus dewasa di televisi. Pasanglah software itu di rumah sebagai pengamanan.

    4. Kontrol "password" internet.
    Jangan berlakukan sistem otomatis pada sambungan internet di rumah, melainkan terapkan sistem manual. Saat anak masih kecil, yang boleh mengetahui password ini hanya Anda dan suami. Ganti password secara teratur supaya keamanannya terjaga.


    5. Letakkan komputer atau televisi di ruang publik.
    Maksudnya, ruangan yang dipakai bersama-sama anggota keluarga lain, misalnya ruang keluarga. Dengan demikian, Anda bisa mengawasi apa saja yang sedang ditonton atau diakses anak.

    Hindari memberikan komputer atau televisi pribadi sepanjang anak belum membutuhkannya. Namun, jika ia memilikinya, Anda harus mengetahui password komputer atau akun jaringan sosialnya supaya tetap bisa melakukan pengawasan terhadap anak.

    6. Buat aturan soal internet.
    Selain menentukan waktu pemakaian internet, tentukan juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan internet. Poin-poin berikut ini, dari www.protectyourkids.info, bisa Anda terapkan padanya:
    * Jangan pernah memberikan informasi pribadi di forum umum.
    * Jangan membalas e-mail, obrolan, atau diskusi yang membuatnya merasa tidak nyaman.
    * Jangan memberikan informasi atau foto kepada orang tak dikenal.
    * Jangan memberikan password kepada orang lain, kecuali orangtua.
    * Jangan klik link apa pun dari orang tak dikenal.
    * Jangan langsung memercayai orang yang baru saja dikenal. Mereka bisa saja berbohong. Jadi, ia mesti selalu berhati-hati.
    * Jangan mau diajak bertemu secara langsung oleh orang yang dikenal lewat internet.
    * Jangan membeli barang apa pun atau memberikan informasi tentang kartu kredit tanpa seizin orangtua.
    * Selalu beri tahu orangtua jika ada seseorang atau suatu hal di internet yang membuatnya tidak nyaman.
    * Selalu ikuti aturan penggunaan internet dari orangtua.

    7. Jangan berikan ponsel canggih.
    Kalau anak memang membutuhkan ponsel, berikan ponsel yang paling sederhana, tanpa kamera, video, ataupun internet. Ponsel seperti itulah yang ia butuhkan saat ini. Katakan padanya bahwa fungsi utama ponsel adalah untuk berkomunikasi. Jika memerlukan internet, ia bisa gunakan komputer di rumah.

    8. Dampingi saat menonton televisi atau menggunakan internet, terutama untuk yang masih kecil.
    Sebaiknya Anda yang memegang remote control-nya. Setiap kali muncul adegan yang kurang pantas, segera ganti salurannya dan tunjukkan ketidaksukaan Anda. Tujuannya agar anak menjadi terbiasa dan tahu bahwa yang seperti itu memang tidak pantas. Ia pun tak akan tertarik pada hal-hal semacam itu meskipun sedang tidak berada dalam pengawasan Anda. Lakukan tindakan yang sama pada media lain. Ketika ia sudah lebih besar, Anda bisa berdiskusi soal seks dan memberikan penjelasan lebih mendalam.

    9. Sediakan waktu untuk keluarga.
    Banyak orang mengakses pornografi karena merasa bosan dan tidak memiliki kegiatan lain. Inilah sebabnya keluarga sebaiknya menghabiskan waktu bersama-sama, setidaknya sekali seminggu. Ajak anak ke taman, makan di luar, atau yang lainnya, supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya mengenai kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan. Dengan demikian, ia tidak berpaling ke televisi atau internet untuk mencari hiburan.

    10. Sertakan mereka dalam kegiatan bermanfaat.
    Daftarkan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Pilihan lain adalah bekerja sama dengan para orangtua di sekolah atau lingkungan rumah. Anda bisa menyediakan aktivitas kecil-kecilan untuk mereka, misalnya, mendirikan klub membaca atau melukis.

    11. Periksa teman anak.
    Bukan tidak mungkin anak mendapatkan materi pornografi dari temannya. Jadi, tidak ada salahnya jika Anda cermat memilih dengan siapa ia bisa bergaul. Kalau tahu bahwa teman anak suka dengan hal-hal berbau pornografi, bicaralah dengan orangtua teman anak tersebut.

    Sebagai sesama orangtua, katakan bahwa Anda menginginkan yang terbaik untuk masa depan kedua anak. Apabila cara ini tidak berhasil, jauhkan anak dari sang teman.

    12. Libatkan diri dalam kegiatan akademis anak.
    Cari tahu apa saja yang diajarkan dan yang sedang terjadi di sekolah. Anda bisa berbicara dengan wali kelasnya. Utarakan keprihatinan Anda tentang isu pornografi. Bekerja samalah dengannya beserta orangtua lain untuk mencegah murid-murid terekspos pada hal itu di sekolah. Contohnya, dengan memasang sistem pengaman pada komputer-komputer di sekolah.

    13. Beri penjelasan secara baik-baik dan dengan tenang.
    Jika anak ketahuan sedang melihat materi pornografi, jangan langsung marah. Tanyakan baik-baik alasannya. Berilah penjelasan mengapa hal itu tidak pantas untuknya.

    Minggu, 23 Januari 2011

    About KTSP

    try out
    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah seperangkat kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2006/2007 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
    Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat: •    kerangka dasar dan struktur kurikulum, •    beban belajar, •    kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan •    kalender pendidikan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Walaupun pada akhirnya, penyusunan kurikulum berbasis lokal ini akan di finishing dengan ujian secara nasional..nah..lo. Mengapa demikian ? Sebab, coba lihat lagi point pertama dari KTSP itu yakni kerangka dasar dan struktur kurikulumnya (termasuk bahan ajarnya). Secara Nasional ini standar dan sama dalam membentuk pengetahuan siswa. Jadi jelas sudah bahwa yang berbasis lokal itu adalah strategi pendekatan pada pelaksanaan-nya dalam proses kegiatan belajar dan mengajar.
    Semoga ini bisa menginspirasi anda agar tidak lagi berpolemik tentang pelaksanaan Ujian Nasional.

    Jumat, 15 Oktober 2010

    Teori Belajar Humanistik

    Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori belajar berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilaku bukan sudut pandang pengamatan.
    Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan diri secara individu untuk mengenal diri mereka sendiri bahwa mereka adalah pribadi yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada pada diri mereka.
    Adalah Carl Rogers yang lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Chicago sebagai tokoh penting dalam teori belajar humanistik. Rogers membedakan dua tipe belajar yakni kognitif (kebermaknaan) dan experiential (pengalaman)
     Menurut Rogers, yang penting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip Pendidikan dan Pembelajaran, yaitu : 1) menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal- hal yang tidak ada artinya. 2) Siswa akan mempelajari hal- hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. 3) pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan referensi dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. 4) belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

    Dalam bukunya Freedom To Learn, diuraikannya mengenai prinsip- prinsip humanistik yaitu:
    ·         Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
    ·         Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
    ·         mempunyai relevansi dengan maksud – maksud sendiri.
    ·         Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam & cenderung untuk ditolaknya.
    ·         Tugas tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar semakin kecil.
    ·         Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
    ·         Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
    ·         Belajar diperlancar bilamana siswa melibatkan dalam proses belajar dan ikut tanggung jawab terhadap proses belajar itu.
    ·         Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa secara utuh baik perasaan maupun intelektualitasnya, merupakan cara yang memberikan hasil yang mendalam dan lestari. 
    ·         Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri, juga penilaian dari orang lain merupakan cara ke dua yang penting.
    ·         Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern adalah belajar mengenai proses belajar. Serta keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan menyatukannya terhadap diri sendiri.
    Aplikasi Teori Humanistik lebih merujuk pada spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya dari pada hasil belajar yang secara umum:
    1.       Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
    2.       Mendorong siswa untuk peka berfikir kritis,memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
    3.       Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari prilaku yang ditunjukkan.
    4.       Guru menerima siswa apa adanya,berusaha memahami jalan pikiran siswa,tidak menilai secara normative tetapi mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas segala resiko perbuatan / proses belajarnya.
    5.       Memberikan kesempatan siswa untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
    6.       Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

    Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok diterapkan untuk materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, moral, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial.
    Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
    Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat  oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma yang berlaku, disiplin.
    Inti dari pendekatan humanistik pada proses belajar adalah bagaimana guru dapat berlaku sebagai fasilitator bagi anak didiknya. Hal ini populer pada perlakuan pendekatan pembelajaran di Indonesia yang dikenal dengan PAKEM atau Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan yang secara teori berangkat dari menyatukan teori humanistik dan teori pembelajaran langsung atau Contextual Teaching and Learning (CTL).

    Selasa, 28 September 2010

    Pribadi Dibalik Coretan

    Proyektif Menggambar adalah cara untuk membantu orang untuk mengekspresikan hal-hal yang mereka temukan namun sulit untuk diungkapkan ke dalam kata-kata.

    Scott O. Lilienfeld, James M. Wood, dan Howard N. Garb pernah menulis sebuah makalah pada tahun 2000 berjudul The Scientific Status of Projective Techniques yakni mengenai tes proyektif terhadap psikologi seseorang.

    Sebagaimana tulisan tangan, coretan-coretan atau bentuk yang kita gambar, dapat mencerminkan sebagaian karakter dominan yang ada pada pribadi kita masing-masing.

    So..berikut ini penjelasannya :
    • Binatang = Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan berarti memiliki pribadi yang ramah. Hewan kecil mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Sedangkan hewan liar mencerminkan agresivitas.
    • Tanda panah = Tanda panah ke kiri berarti sedang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.

    • Burung = Memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh petimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan.

    • Kotak-kotak dan bentuk geometris = Pribadi yang terorganisir dan problem solver yang baik.

    • Lingkaran = Flesksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Memiliki iman yang kuat sehingga memiliki jiwa optimis dan pantang menyerah.

    • Bunga = Riang, ceria, bahagia menjadi diri sendiri, menikmati hidup, dan sedang mencari cinta.

    • Simbol mata uang = Sedang banyak uang atau sama sekali tidak punya uang dan berharap bisa punya uang banyak.

    • Mata = Mencerminkan cara memandang dunia. Mata kecil mencerminkan perenungan dan mata yang besar menunjukkan kecurigaan dan perasaan yang sangat sensitif
    • Anting = Suka membesar-besarkan segala sesuatu.

    • Wajah dengan warna redup = Sikap waspada.

    • Wajah dengan warna gelap = Karakter dominan namun labil.

    • Jerapah = Ingin mengetahui seberapa besar daya tarik terhadap lawan jenis, semakin panjang leher jerapah yang digambar, semakin dalam pesona dalam diri yang ingin digali.

    • Happy face = Perilaku yang ditampilkan tidak sejalan dengan hati nurani. Namun pribadi ini senang menebar keceriaan disekitarnya dan senang bertemu dengan banyak orang juga bersahabat dengan siapapun.

    • Jantung hati = Penuh cinta, welas asih, dan pengertian.

    • Inisial = Ingintahu lebih banyak tentang pemilik inisial dimaksud.

    • Bentuk yang saling bertautan = Mencerminkan pemikiran yang logis dan senang berbagi segala hal dengan orang-orang di sekeliling

    • Garis bergerigi = Sedang merasa terhimpit dan marah. Apabila garis tersebut melingkari suatu objek mencerminkan rasa balas dendam. Namun jika garis tersebut melingkar tapat diatas suatu objek berarti sedang marah terhadap sesuatu

    • Ciuman = Mendambakan cinta

    • Pisau = Sisi agresif yang tersembunyi

    • Benang kusut = Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelnding begitu saja. Lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam

    • Bibir = Bibir tipis menunjukkan kekhawatiran dan bibir terbuka mencerminkan perhatian dan rasa cinta kasih

    • Kumis = Apabila suka menambahkan kumis, kacamata, atau tanduk pada foto/gambar orang, berarti sedang menginginkan untuk dapat hidup mandiri
    • Uang Keinginan untuk meraih sukses, kekuatan, dan jabatan lebih dari yang dimiliki saat ini

    • Nama = Menulis nama seseorang berulang kali menandakan rasa penasaran dan perhatian terhadap si pemilik nama. Sedangkan coretan nama sendiri disertai desain khusus disekitarnya melambangkan pencarian jati diri

    • Gurita = Simbol dari kelahiran kembali. Sama maknanya seperti laba dan naga. Bisa juga sedang merasa jenuh dan tidak menarik

    • Batu dan kerikil = Pribadi yang rendah hati dan memiliki pikiran bahwa hidup penuh dengan tantangan dan cobaaan yang harus dihadapi.

    • Pasangan = Kekhawatiran akan perpisahan. Dapat juga mencerminkan cara pandang yang seimbang antara segi positif dan negatif

    • Tanda tanya = Keraguan yang selalu menyelimuti pikiran

    • Hujan = Depresi yang cukup dalam

    • Pelangi = Usaha untuk mencerminkan rasa stres dan kesedihan yang selama ini terpendam

    • Bintang = Sosok yang optimis, tangguh, dan tidak mudah larut dalam kekecewaan karena memiliki sifat ambisius dan yakin terhadap cita-cita
    • Sosok tegak = Haus perhatian

    • Matahari = Sedang senang dan bahagia

    • Garis-garis = Pesimis dengan ide-ide baru dan memerlukan motivasi dari orang-orang terdekat

    • Segitiga = Pandai mengatur segala sesuatu dengan baik

    • Wajah cemberut = Menunjukkan mood yang sedang tidak bagus dan rasa tidak suka terhadap orang lain

    • Unicorn = Mengekspresikan harapan dan perasaan yang murni

    • Vampir = Suka mengambil keuntungan dari orang lain

    • Gunung = Amarah yang meledak-ledak

    • Aliran air = Aliran air yang tenang melambangkan suasana hati yang damai. Laut yang penuh ombak bergulung menandakan kekhawatiran akan bencana

    • Rumah kecil dikelilingi pagar = Keinginan akan kasih sayang, kehangatan, dan kenyamanan dari sebuah rumah

    • Huruf X dan O = Pribadi yang kompetitif dan serius dalam menghadapi hidup

    • Huruf Y = Tidak yakin dalam mengambil keputusan

    • Angka 0 = Lambang dari segala sesuatu yang bersifat kontradiktif. Bisa juga mencerminkan perasaan terpuruk

    • Huruf Z = Tipe pekerja keras.

    Sabtu, 18 September 2010

    SIG dan Perencanaan

         Penyajian informasi keruangan dalam bentuk peta tidak lagi menjadi kebutuhan eksklusif orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu keruangan (geografi, geologi, landsekap, dll). Dapat dimengerti apabila gejala ini timbul kepermukaan, mengingat yang dibutuhkan ternyata tidak cukup dengan hanya mengandalkan informasi dalam bentuk tabel dan angka-angka tetapi juga dalam bentuk peta.
         Kebutuhan akan informasi keruangan yang cepat, tepat, akurat, mudah dan murah makin mengusik para ahli sistem informasi sampai terbentuknya suatu sistem informasi keruangan berkomputer yang dinamakan Sistem Informasi Geografis (SIG) atau dalam bahasa Inggris Geographical Information System (GIS).
        SIG dan sistem informasi lainnya menjadi semacam sisi lain dari keping mata uang informasi. SIG menghasilkan informasi dalam bentuk peta dengan segala atributnya berupa data tabular dan citra.
        Untuk menghasilkan peta digital dapat digunakan sistem pengolah gambar semacam CAD sedangkan data tabular bisa dibuat melalui spreadsheet, dbase, dll, dan untuk mengolah data statistik telah banyak program statistik yang dijual di pasaran. Akan tetapi itu bukanlah SIG yang dimaksud dalam tulisan ini.

       Enviromental Systems Research Institute (ESRI) sebagai sebuah institut yang banyak mencurahkan perhatian terhadap sistem ini menyebutkan bahwa : "…..a GIS (Geographical Information System) is only a GIS if it permits spatial operations on the data." Pengelolaan data tabular sebagai atribut peta dalam SIG akan mampu mengelola dua jenis data (tabular dan keruangan) secara bersamaan.
       Dalam pengelolaan SIG yang perlu mendapat perhatian tidak hanya sekedar aspek peta digital meskipun ini hal yang utama. Hal lain yang tidak kalah penting adalah aspek pengelolaan database yang dikandungnya yang merupakan atribut peta. 
       SIG merupakan suatu sistem yang unik sehingga perlu berbagai macam latar belakang pengetahuan untuk mengelolanya diantaranya pengetahuan mengenai geografi (ilmu bumi), kartografi (ilmu desain perpetaan), geodesi (ilmu tentang ukuran-ukuran permukaan bumi), selanjutnya mengerti sistem operasional database, dan tentu saja yang "akrab" dengan komputer atau bisa juga dalam bentuk sebuah tim dengan berbagai latar belakang keahlian dan pengetahuan seperti tersebut diatas untuk suatu hasil yang padat karya.
        Jika masih sebatas memindahkan lembaran kertas peta ke bentuk peta digital yang dapat ditampilkan di layar computer, belum dapat dikatakan sebagai SIG. Hal ini baru merupakan digitasi peta. Sedangkan aspek informasinya belum nampak.
        Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) adalah sebuah sistem yang mampu membangun, memanipulasi, dan menampilkan informasi yang memiliki referensi geografis (georeferences).
        SIG dapat menyerap dan mengolah data dari bermacam sumber yang memiliki sekala dan struktur yang berbeda. Selain itu SIG juga dapat melakukan operasi data-data keruangan yang bersifat kompleks.
         Hal ini jika dikaitkan dengan system perencanaan untuk suatu produk kebijakan pembangunan, maka SIG akan sangat membantu dalam memberikan referensi pengambilan keputusan dengan perhitungan yang matang. Sebab informasi yang diberikan oleh SIG dalam bentuk informasi geografis yang dipadukan dengan hasil olahan tabulasi data yang telah dianalisis, merupakan basic data dari perencanaan itu sendiri.
        Kelompok pembuat keputusan pada pemerintahan yang baik, selamanya ingin mendapatkan informasi awal yang baik pula. Untuk itu SIG dapat memberikan informasi keruangan yang dapat divisualisasikan dalam bentuk peta digital, juga atribut informasi data yang telah dianalisis untuk tujuan yang lebih jelas seperti yang diinginkan.
       Dengan demikian, kemungkinan kurang efisiennya suatu produk kebijakan pembangunan dapat diminimalisir bahkan ditiadakan.

    Sabtu, 31 Juli 2010

    MUDAHNYA MEMAHAMI CARA BELAJAR ANAK

    Pedagogi dalam arti literasi berarti “seni mendidik anak”. Pedagogi juga menjadi kemampuan professional yang harus melekat pada diri seorang guru. Guru yang memiliki kompetensi pedagogi yang mumpuni, cenderung bereksplorasi dengan anak didiknya sehingga setiap ada kesempatan, guru tersebut senantiasa mencari ide dalam strategi mengajar yang akan diterapkannya terhadap siswa. Inilah yang dimaksud dengan “kompetensi professional” dalam undang-undang guru dan dosen.
    Hal ini sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang sulit untuk diterapkan setiap guru, jika saja guru memahami konsep memetakan karakteristik belajar anak. Pemetaan karakteristik belajar individu menurut DePorter & Hernacki (2001), terbagi atas karakteristik perilaku individu yang memiliki cara belajar visual, auditorial dan kinestetik.
    Adapun ketiga karakteristik belajar tersebut dapat dikenali melalui perilaku individu sebagai berikut :
    1.    Karakteristik cara belajar visual; a) rapi dan teratur, b) berbicara dengan cepat, c) mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik teliti dan rinci, d) mementingkan penampilan, e) lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, f) mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual, g) memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik, h) biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar, i) sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis), j) merupakan pembaca yang cepat dan tekun, k) lebih suka membaca daripada dibacakan, l) dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, m) ia selalu bersikap  waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan, n) jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara, o) lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain, p) sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak', lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah, q) lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada music, r) seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata.

    2.    Karakteristik cara belajar auditorial; a) sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja, b) mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik, c) lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca, d) jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras, e) dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara, f) mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita, g) berbicara dalam irama yang terpola dengan baik, h) berbicara dengan sangat fasih, i) lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya, j) belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat, k) senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar, l) mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi, m) lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya, n) lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik.
    3.    Karakteristik cara belajar kinestetik; a) berbicara dengan perlahan, b) menanggapi perhatian fisik, c) menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka, d) berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain, e) banyak gerak fisik, f) memiliki perkembangan otot yang baik, g) belajar melalui praktek langsung atau manipulasi, h) menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung, i) menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca, j) banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal), k) tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama, sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut, l) menggunakan kata-kata yang mengandung aksi, m) pada umumnya tulisannya jelek, n) menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik), o) ingin melakukan segala sesuatu.
    Setelah memahami ketiga karakteristik belajar individu ini, selanjutnya guru diharapkan dapat memetakan cara belajar siswa di kelas. Lalu bagaimanakah tehnik observasi cara memetakannya ?
    Pada prakteknya, cara pemetaan untuk mengenali cara belajar anak di kelas dengan dasar tiga karakteristik di atas dapat dilakukan dengan cara menyampaikan materi ajar dengan tehnik penggunaan media visual selama 3 hari dan pada hari ke 4 dilaksanakan evaluasi atas hasil belajar mereka. Selanjutnya dibuatkan matrix kategori perolehan skor dengan kategori perolehan nilai tinggi, sedang dan rendah. Sehingga setiap anak dapat dipantau akan masuk pada kategori mana dari ketiga kategori yang ditetapkan tersebut. Pemberian nilai evaluasi tetap seperti apa yang sudah diterapkan sebagaimana biasa, hanya saja rentang penilaian seharusnya dapat dibagi 3 sesuai kategori yang ditetapkan. Demikian pula untuk karakteristik auditorial dan kinestetik.
    Untuk guru SD dapat dilakukan pada setiap hari berturut pada kelas yang dipegangnya, namun untuk guru mata pelajaran di SMP dan SM (kecuali mata diklat produktif SMK tehnik obervasinya berbeda), dapat dilakukan per pertemuan pada setiap kelas yang dimasuki sehingga kemungkinan akan memakan waktu yang cukup lama tapi dapat memetakan(mengenali) siswa pada lebih banyak kelas.
    Pada akhirnya setelah proses ini terlaksana, kita akan memperoleh data dari tiga tabel yakni tabel hasil observasi dari setiap karakteristik yang telah diterapkan. Inilah proses akhir yang akan menuntun guru dalam menerapkan strategi atau perlakuan pendekatan pembelajaran seperti apa yang akan diterapkan kedepan.
    Dari tabel ini kita dapat melihat siapa saja siswa yang masuk dalam kategori tinggi untuk setiap tabel dan namanya tetap ada dalam skala kategori yang ditetapkan, itulah siswa yang tergolong cerdas, perlu dicatat, cerdas bukan pintar. Sebab anggapan pintar sering membuat kita salah menilai siswa. Jika siswa umumnya masuk dalam kategori sedang maka berbahagialah anda sebagai guru, bahwa kerja anda selama ini tidak terlalu sia-sia. Namun jika beberapa orang diantaranya namanya terus masuk dalam kategori rendah pada setiap tabel, maka mereka inilah yang memerlukan sedikit kerja ekstra dari guru untuk meningkatkan pengetahuan mereka untuk nangkring pada kategori sedang dan mereka ini pula yang seharusnya tempat duduknya pada baris pertama sampai ketiga dari depan di kelas. Inilah tujuan pemetaan kompetensi anak di kelas.
    Setelah membaca dan mencobanya semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda yang berprofesi pendidik, juga tehnik observasinya dapat anda gunakan pada karya ilmiah PTK atau lainnya. Adapun contoh tabel anda bisa download di sini.

    Catatan kaki : tanggapilah dengan positif agar hasilnya positif dan jika anda ingin mengkopinya cantumkan sumbernya : by.Tommy, http://pendidikan-keilmuan.blogspot.com.
         

    Rabu, 21 Juli 2010

    MANUSIA DAN RASA INGIN TAHU

    Rasa ingin tahu, juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.
    Ada dua macam perkembangan alam pikiran manusia, yakni perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya dan perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman purba hingga dewasa ini.

    Sejarah Pengetahuan Manusia

    Manusia selalu merasa ingin tahu maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui atau wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya.
    A. Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metafisika. Mitologi ialah pengetahuan tentang mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.
    Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan panca indera manusia serta keingintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
    Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), ekliptika (bidang edar Matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap.
    Tonggak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar di bidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya memantulkan sinar matahari, dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.

    Sejarah Perkembangan IPA

    Dengan bertambah majunya alam pikiran dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif dan penalaran induktif.
    Penalaran deduktif ialah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik simpulan yang bersifat khusus. Sedangkan penalaran induktif (empiris) ialah cara berpikir dengan menarik simpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus.
    Karena himpunan pengetahuan yang diperoleh dari penalaran deduktif dan induktif tidak dapat diandalkan sebagai ilmu pengetahuan maka muncullah ilmu yang secara teoretis didapat dari pengamatan dan eksperimentasi terhadap gejala-gejala alam. Konsep itu disebut Ilmu Pengetahuan Alam.

    Metode Ilmiah dan Implementasinya

    Pengetahuan tentang mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan bahkan percaya adanya dewa diperoleh dengan cara berprasangka, berintuisi dan coba-coba (trial and error)
    Suatu pengetahuan dapat dikatakan pengetahuan yang ilmiah apabila memenuhi syarat-syarat antara lain; objektif, metodik, sistematik dan berlaku umum. Salah satu syarat ilmu pengetahuan tersebut harus diperoleh melalui metode ilmiah. Kriteria metode ilmiah yang digunakan dalam penelitian antara lain harus berdasarkan fakta, bebas prasangka, menggunakan prinsip-prinsip analisis, hipotesis, berukuran objektif serta menggunakan teknik kuantitatif atau kualitatif.
    Alur berpikir yang mencakup metode ilmiah dapat dijabarkan dalam langkah-langkah yang mencerminkan tahapan kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah operasional metode ilmiah, yaitu perumusan masalah, penyusun kerangka berpikir, pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan simpulan.
    Metode ilmiah mempunyai keterbatasan maupun keunggulan. Keterbatasan metode ilmiah adalah ketidaksanggupannya menjangkau untuk menguji adanya Tuhan, membuat kesimpulan yang berkenan dengan baik dan buruk atau sistem nilai dan juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan keindahan. Sedangkan keunggulannya, antara lain:
    1.    mencintai kebenaran yang objektif dan bersikap adil;
    2.    kebenaran ilmu tidak absolut sehingga dapat dicari terus-menerus;
    3.    mengurangi kepercayaan pada tahayul, astrologi maupun peruntungan, dan lain-lain.
    Peranan matematika terhadap IPA sangat besar, karena matematika merupakan alat bantu untuk mengatasi sebagian permasalahan menghadapi lingkungan hidupnya. Contoh pada zaman modern ini, pembuatan mesin-mesin, pabrik bahkan perjalanan ke ruang angkasa.
    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) terbagi menjadi IPA kualitatif dan IPA kuantitatif. IPA kualitatif hanya mampu menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat aktual, sedangkan IPA kuantitatif adalah IPA yang dihasilkan oleh metode ilmiah yang didukung oleh data kuantitatif dengan menggunakan statistik.

    Sumber : Buku Ilmu Alamiah Dasar karya Santi  Dewiki dkk.

    Jumat, 16 Juli 2010

    Teori perkembangan kognitif

    Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

    •      Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
    •      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
    •      Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
    •      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
    Periode sensorimotor
    Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
    1.    Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
    2.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
    3.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
    4.    Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
    5.    Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
    6.    Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
    Tahapan praoperasional
    Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
    Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
    Tahapan operasional konkrit
    Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
    Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
    Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
    Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
    Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
    Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
    Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
    Tahapan operasional formal
    Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
    Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
    Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
         Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
         Universal (tidak terkait budaya)
         Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
         Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
         Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
         Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
    Proses perkembangan
    Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
    Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
    Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
    Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
    Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
    Referensi:
         Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
         Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.
         Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
         Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
         Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241–259.
         Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
         Seifer, Calvin "Educational Psychology"
         Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.