Selasa, 10 Februari 2009

Sekolah-Sekolah Impian Kita

Sekolah-Sekolah Impian Kita


Banjar International Cyber School
Sekolah Makanan, Minuman, Pariwisata dan Rekreasi Tradisional





Banjar Innovation Research & Development School

Himpunan Pelajar Kota Banjar


Masyarakat Ilmu dan Teknologi Kota Banjar


Banjar Innovation Research & Development for Agricultural


Banjar English Club


Sekolah Cyber Seni dan Budaya Kota Banjar

(Banjar Art and Culture School)




JURNAL UMUM PENDIDIKAN KOTA BANJAR



Silahkan Pengunjung yang Budiman Mendownload Buku ini secara free mengikuti aturan dan petunjuk yang disediakan selamat mendownload! "Pendidikan untuk Peradaban"

Buku Teks Pelajaran Murah
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

http://bse.depdiknas.go.id/




Download Buku


Software Pendukung










Sambutan


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya, Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan penuh rasa gembira dan bangga menyuguhkan sejumlah buku teks pelajaran layak-pakai yang hak ciptanya telah dilmiliki Departemen Pendidikan Nasional.
Buku-buku teks pelajaran tersebut tersedia di situs Depdiknas yang diberi nama Situs Buku Sekolah Elektronik yang disingkat BSE atau e-Book. Jumlah seluruhnya saat ini ada empat ratus tujuh (407) judul buku dan Insya Allah setiap tahunnya akan bertambah.
Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakan pakainya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah ditetapkan sebagai Buku Teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 46 Tahun 2007, Permendiknas Nomor 12 Tahun 2008, Permendiknas Nomor 34 Tahun 2008, dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2008.
Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para penulis yang telah berdedikasi dalam perwujudan buku teks pelajaran sebagai sumber belajar yang sangat berguna bagi kepentingan peserta didik dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya untuk masa depan bangsa yang gemilang.
Buku-buku teks pelajaran yang telah dimiliki hak ciptanya oleh Depdiknas ini dapat digandakan, dicetak, difotokopi, dialihmediakan, dan/atau diperdagangkan oleh perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum dalam rangka menjamin akses dan harga buku yang terjangkau oleh masyarakat. Masyarakat dapat pula mengunduh (down load) langsung dari internet jika memiliki perangkat komputer yang tersambung dengan internet, serta menyimpan file buku teks pelajarann tersebut.
Untuk penggandaan yang bersifat komersial, harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Saya berharap melalui Program Masal Buku Murah ini, buku teks pelajaran lebih mudah diakses sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah di luar negeri dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar yang bermutu dan terjangkau.
Selamat belajar. Selamat mereguk ilmu, pengetahuan, dan teknologi melalui Buku Teks Pelajaran yang bermutu dan terjangkau.


Jakarta, 20 Agustus 2008
Menteri Pendidikan Nasional


BAMBANG SUDIBYO
(2008-08-18)



Hak Cipta 2008 Depdiknas
Dikembangkan Oleh Pustekkom

Cornell University Library

Kepada Para Pengunjung dipersilahkan untuk Mendownload, Sumber Belajar ini!
(Menjadi Solusi Pendidikan Bertaraf International yang Terjangkau oleh Semua Kalangan)
"KARENA PENDIDIKAN UNTUK PERADABAN"

Just Click it!

arXiv.org e-Print archive

Open e-print archive with over 100.000 articles in physics, 10.000 in mathematics, and 1000 in computer science.


Physics

Mathematics

Nonlinear Sciences

Computer Science

Quantitative Biology

Statistics


About arXiv


Librarians March on Inauguration Day


Harvard Libraries at Banjar Cyber School just Click It!


Harvard University

Harvard University (bahasa Indonesia: Universitas Harvard) adalah universitas swasta di Cambridge, Massachusetts, AS dan anggota Ivy League.

Ia didirikan pada 8 September 1636 dan merupakan perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat. Awalnya bernama New College, ia dinamakan ulang menjadi Harvard College pada 13 Maret 1639 untuk menghormati penyumbang terbesarnya, John Harvard, seorang mantan mahasiswa Universitas Cambridge.

Rujukan terawal yang memanggil Harvard sebagai "universitas" dan bukan "college" terjadi pada tahun 1780.


WELCOME TO THE HARVARD LIBRARIES

This web site is an online gateway to the extraordinary library resources of Harvard University and serves as an important research tool for Harvard's current students, faculty, staff, and researchers who hold Harvard IDs and PINs. The site also provides practical information on each of the more than 80 libraries that form the Harvard system. Visitors and guests should consult the Library's Frequently Asked Questions before navigating the site.


Digital Collections at Harvard

Harvard provides open, online access to a growing number of its subject-specific collections, including Daguerreotypes at Harvard. View more collections.



Massachusetts Institute of Technology

Massachusetts Institute of Technology

Motto: Mens et Manus
Motto in English: Mind and Hand[1]




MIT OpenCourseWare (MIT OCW) is an initiative of the Massachusetts Institute of Technology (MIT) to put all of the educational materials from its undergraduate- and graduate-level courses online, free and openly available to anyone, anywhere, by the end of the year 2007. MIT OpenCourseWare can be considered as a large-scale, web-based publication of MIT course materials. The project was announced in October 2002. This project is jointly funded by the William and Flora Hewlett Foundation, the Andrew W. Mellon Foundation, and MIT. The initiative has encouraged a number of other institutions to make their course materials available as open educational resources.

As of November 2007, over 1800 courses were available online. While a few of these are limited to chronological reading lists and discussion topics, a majority provided homework problems and exams (often with solutions) and lecture notes. Some courses also include interactive web demonstrations in Java or Matlab, complete textbooks written by MIT professors, and streaming video lectures.

As of August 2008, of the over 1800 courses available, only 26 included complete video lectures, and not all of these have complete lecture notes. The lack of lecture notes makes it difficult to follow some lectures, for example, when the lecturer is referring to slides being projected in the lecture hall. The selection of available courses is somewhat incomplete. For example, prerequisite classes for a given course are frequently not available. However, the quality of those courses which include complete materials is very high, and many of the lecturers are extremely compelling. The video is available in streaming mode, but may also be downloaded for viewing offline, though the procedure for downloading is not explicitly given. Many video and audio files are also available from iTunes U.

Contents


Edited by: -H2O-

Profile Sekolah di Kota Banjar

Profile Sekolah di Kota Banjar

A school (from Greek σχολή (scholē), originally meaning "leisure", and also "that in which leisure is employed", "school"), is an institution designed to allow and encourage students (or "pupils") to learn, under the supervision of teachers. Most countries have systems of formal education, which is commonly compulsory. In these systems, students progress through a series of schools. The names for these schools vary by country (discussed in the Regional section below), but generally include primary school for young children and secondary school for teenagers who have completed primary education.

In addition to these core schools, students in a given country may also have access to and attend schools both before and after primary and secondary education. Kindergarten or pre-school provide some schooling to very young children (typically ages 3-5). University, vocational school, college or seminary may be available after (or in lieu of) secondary school. A school may also be dedicated to one particular field, such as a school of economics or a school of dance. Alternative schools may provide nontraditional curriculum and methods.

There are also non-government schools, called private schools. Private schools may be for children with special needs when the government does not supply for them; religious, such as Christian Schools, Khalsa Schools, Torah Schools and others; or schools that have a higher standard of education or seek to foster other personal achievements. Schools for adults include institutions of corporate training and Military education and training.

In homeschooling and online schools, teaching and learning take place outside of a traditional school building.

Schools portal


1. PAUD

(Membangun PAUD yang Berkualitas International, Berkarakteristik Lokal dan Menasional)

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

  • Infant (0-1 tahun)
  • Toddler (2-3 tahun)
  • Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
  • Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

Satuan pendidikan penyelenggara


a.
b.
c.
d.

2. Sekolah Dasar (SD)



Sekolah Dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari Kelas 1 sampai Kelas 6. Saat ini murid Kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan Sekolah Dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat).

Pelajar Sekolah Dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni Sekolah Dasar (atau sederajat) 6 tahun dan Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Sekolah Dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, Sekolah Dasar Negeri berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan di kecamatan.

Budaya

  • Sekolah Dasar negeri di Indonesia umumnya menggunakan seragam putih merah untuk hari hari biasa, seragam coklat untuk pramuka/ hari tertentu, dan pada sekolah-sekolah tertentu menggunakan seragam putih-putih untuk upacara bendera
  • Upacara bendera dilaksanakan setiap hari Senin pagi sebelum dimulai pelajaran.

Lihat pula


a.

SDN 3 BANGUNHARJA ROAD TO INTERNATIONAL SCHOOL

b.
c.
d.
e.

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Sekolah Menengah Pertama (SMP - SLTP)

Sekolah Menengah Pertama (disingkat SMP), adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Dasar (atau sederajat). Sekolah Menengah Pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari Kelas 7 sampai Kelas 9. Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004, sekolah ini pernah disebut Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Murid Kelas 9 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan Sekolah Menengah Pertama dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan (atau sederajat).

Pelajar Sekolah Menengah Pertama umumnya berusia 13-15 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni Sekolah Dasar (atau sederajat) 6 tahun dan Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Sekolah Menengah Pertama diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan Sekolah Menengah Pertama Negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, Sekolah Menengah Pertama Negeri merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Lihat pula

Di Kota Banjar

a. SMPN 5 Banjar
b. SMPN 3 Banjar
c.
d.SMPN 2 Banjar Road To International School
e.
f.

4. Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menegah Kejuruan dan Setingkatnya (SMA/SMK/MA)

Sekolah Menengah Atas


Sekolah Menengah Atas (disingkat SMA), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah Menengah Atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari Kelas 10 sampai Kelas 12. Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004, sekolah ini disebut Sekolah Menengah Umum (SMU).

Pada tahun kedua (yakni Kelas 11), siswa SMA dapat memilih salah satu dari 3 jurusan yang ada, yaitu Sains, Sosial, dan Bahasa. Pada akhir tahun ketiga (yakni Kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan Sekolah Menengah Atas dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja.

Pelajar Sekolah Menengah Atas umumnya berusia 15-18 tahun. SMA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah - yakni Sekolah Dasar (atau sederajat) 6 tahun dan Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat) 3 tahun - maskipun sejak tahun 2005 telah mulai diberlakukan program wajib belajar 12 tahun yang mengikut sertakan SMA di beberapa daerah, contohnya Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

Sekolah Menengah Atas diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan Sekolah Menengah Atas Negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, Sekolah Menengah Atas Negeri merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Referensi

  1. ^ "Wajar 12 Tahun Diberlakukan", KOMPAS, 11 Maret 2006

Lihat pula



a. http://sman1banjar.sch.id/ (SMAN 1 BANJAR Andal dalam Imtaq, Kompetitif dalam Prestasi)

Web- Blog RSBI SMAN 1 Banjar Click it!

(R SMA BI)

http://smansabanrsbi.blogspot.com/

SMAN 2 Banjar

http://sman2banjar.multiply.com/

SMAN 3 Banjar

http://sman3banjar-12ipa1.blogspot.com/



d.
e.
f.
g.
h.

Senin, 09 Februari 2009

Pendidikan Sains terpadu (Science for All)

By Achmad Samsudin

A. Perumusan Masalah
a. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran IPA dewasa ini banyak timbul permasalahan dalam aplikasi pembelajaran di kelas. Salah satu masalah yang cukup mendesak untuk dicari solusinya terutama dengan menggunakan inovasi pendekatan sistem adalah pembelajaran Sains secara terpadu (pendidikan Sains). Aplikasi dari pembelajaran ini biasanya dalam pembelajaran berbasis lingkungan dan lain sebagainya. Pendidikan Sains terpadu (Science for All) lahir karena adanya ketimpangan skema berpikir holistik terintegrasi (menyeluruh dan terpadu) mengenai Sains. Dulu Sains dipelajari secara terpisah sesuai bidang kajian Sainsnya, seperti bidang kajian fisika, kimia, dan biologi. Kemunculan pendidikan Sains juga menimbulkan masalah baru, dulu kita dapat memandang suatu kajian konsep secara mendalam baik secara bidang kajian fisika, kimia, maupun biologi. Tetapi sekarang dengan adanya pendidikan Sains terpadu ini, pembelajaran dalam penerapan konsep yang ditinjau dari ketiga aspek kajian cenderung dangkal. Sehingga, pembelajaran terkesan setengah-setengah dalam penerapan konsep-konsepnya di lapangan. Siswa juga mendapatkan pembelajaran Sains yang tidak maksimal dan kurang mengenai sasaran dalam pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotor.

b. Rumusan Masalah
Siswa-siswa SMP mengalami pembelajaran Sains terpadu tetapi dangkal dalam kajian konsep fisika, kimia, dan biologinya. Sehingga siswa SMP tidak dapat menerapkan konsep-konsep IPA secara terpadu dan mendalam dalam kehidupan sehari-hari.

B. Tujuan
Tujuan pembelajaran Sains terpadu yaitu, siswa SMP dapat menerapkan konsep-konsep IPA secara terpadu dan lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari.
C. Identifikasi Kendala
Dalam penerapan pendidikan Sains terpadu terdapat beberapa kendala diantaranya, yaitu:
1. Kuantitas dan kualitas tenaga pengajar (guru) yang menguasai ketiga kajian ilmu (fisika, kimia, dan biologi) atau Sains secara terpadu masih sangat jarang, bahkan belum ada di Indonesia. Pada dasarnya, hanya tersedia guru fisika, guru kimia, dan guru biologi yang berdiri sendiri-sendiri.
2. Belum adanya kurikulum yang mantap untuk dapat digunakan sebagai panduan bagi guru dalam pembelajaran IPA (Sains) di kelas.
3. Belum adanya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mencetak/menghasilkan calon-calon guru pendidikan Sains terpadu.
4. Sarana prasarana pendukung pembelajaran Sains yang kurang lengkap dan memenuhi standard. Sebagai contoh: Masih jarang Laboratorium IPA terpadu di SMP yang menyediakan alat-alat praktikum untuk bidang fisika, kimia, dan biologi secara lengkap.

D. Alternatif-alternatif Solusi
Sebagai solusi dalam menangani masalah ini, terdapat beberapa alternatif solusi yang ditawarkan, yaitu:
1. Diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu.
2. Melengkapi sarana prasarana penunjang dalam laboratorium IPA untuk pembelajaran Sains.
3. LPTK membuka jurusan dan mencetak calon guru pendidikan Sains.
4. Penggunaan modul pendidikan Sains terpadu yang disusun oleh guru dari ketiga bidang kajian (fisika, kimia, dan biologi).
5. Meningkatkan dana pendidikan untuk alokasi pendanaan dalam pendidikan Sains.



E. Seleksi Alternatif Solusi
Analisis yang digunakan dalam menyeleksi alternatif solusi yaitu Analisis Operasional Profesional secara quantitatif. Analisis ini menekankan penilaian pada tiap-tiap kriteria solusi. Penilaian dilakukan secara numerik dengan penyajian data menggunakan angka-angka. Dari analisis menggunakan numerik, dihasilkan data penilaian kriteria solusi sebagai berikut:

No Aternatif Solusi Efektivitas Efesiensi Kelaikan Skor
Teknis Biaya Waktu
1
Diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu. 85 85 80 90 90 430
2

Melengkapi sarana prasarana penunjang dalam laboratorium IPA untuk pembelajaran Sains. 75 70 85 65 90 385
3 LPTK membuka jurusan dan mencetak calon guru pendidikan Sains. 95 80 80 75 70 400
4 Penggunaan modul pendidikan Sains terpadu yang disusun oleh guru dari ketiga bidang kajian (fisika, kimia, dan biologi). 80 70 90 70 80 390
5 Meningkatkan dana pendidikan untuk alokasi pendanaan dalam pendidikan Sains. 65 65 80 65 85 360

Dari data penilaian terhadap kriteria solusi diperoleh nilai tertinggi sebesar 430 poin untuk solusi pertama yaitu diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu. Maka alternatif solusi ini diambil untuk dijadikan solusi.
RENCANA UNTUK:
F. Implementasi
Yang dimaksud implementasi disini yaitu terbatas pada uji coba alternatif solusi yang sudah diseleksi. Rencana implementasinya pada SMP yang diwakili tiap provinsi satu perwakilan sekolah. Pemilihan SMP tiap provinsi berdasarkan random (acak) untuk mengetahui seberapa besar alternatif solusi ini dapat diterapkan. Setelah alternatif solusi ini diterapkan di SMP yang telah dipilih, maka didapatkan hasil yang kurang sempurna atau sumungkin sudah sempurna. Sehingga akan masuk dalam tahap berikutnya yaitu evaluasi.

G. Evaluasi
Langkah evaluasi yaitu memberikan penyempurnaan-penyempurnaan pada instrumen alternatif solusi yang diterapkan. Jika siswa SMP dapat menerapkan konsep pendidikan Sains secara terpadu hasilnya kurang maksimal maka dilakukan evaluasi menyeluruh sebelum didesiminasikan. Jika tujuan yang direncanakan telah terpenuhi dengan baik, dalam hal ini siswa SMP yang diajar oleh guru yang sudah dilatih dalam pendidikan Sains terpadu, maka penyempurnaan (modifikasi) tidak perlu dilakukan dan dapat langsung didesiminasikan ke seluruh SMP di Indonesia. Karena alternatif solusi ini menyangkut lingkup nasional, maka evaluasinya harus menyeluruh dan terpadu.

H. Modifikasi
Jika dalam evaluasi ditemukan beberapa kekurangan dalam pengimplementasiannya, maka diperlukan modifikasi pada sebagian instrumen alternatif solusi. Penyempurnaan bisa dalam teknis pelaksanaan pelatihan ataupun keterlibatan instruktur yang lebih handal. Setelah alternatif solusi yang sudah diseleksi dimodifikasi, langkah yang selanjutnya yaitu desiminasi (penyebaran secara luas) ke seluruh Indonesia dengan melibatkan Lembaga Pendidikan Penjamin Mutu (LPMP), Dinas Pendidikan (Provinsi, Kota/Kabupaten), dan SMP sebagai pelaksana pembelajaran Sains.