Minggu, 23 Desember 2007

Siluet 'Sang Pemimpi'

Hari Minggu, 23 Desember ini kami sudah ditinggal bertiga sejak pagi. Suami saya pergi ke acara penting yang sudah lama diagendakan. Jika keluarga lain menjadikan hari Minggu sebagai liburan bersama, kami sedikit berbeda. Jadwal kami bukan ditentukan oleh hari-hari kerja umum, tapi oleh agenda-agenda yang kami buat sendiri. Bisa jadi justru di hari Senin kami bisa bersama-sama, tapi di hari Sabtu dan Minggu kami malah bekerja. Ya, begitulah kiranya khas para pekerja mandiri. Semua menjadi lebih fleksibel.

Uniknya di minggu ini, anak-anak terasa lebih kooperatif. Papanya pergi mereka santai, cium tangan dan ucapan selamat jalan begitu lancar. Si kecil Luqman yang biasanya melarang papanya pergi, kali ini terlihat rela. Dia langsung melesat, berlari menuju rumah temannya yang hanya terpisah satu rumah dari rumah kami.

Saya menghentikan sementara pekerjaan yang belum kelar. Hari ini saya meniatkan diri untuk membaca. Buku kedua Andrea Hirata yang saya beli hari Jumat (21/12) "Sang Pemimpi", menyisakan tiga per empat bagian untuk dituntaskan. Dan... seperti halnya Laskar Pelangi, saya menemukan di sana kalimat-kalimat 'sakti' yang menggugah kesadaran. Persahabatan dan saling berbagi membuat saya iri. Keberanian untuk bermimpi yang disuguhkan Andrea membuat saya berusaha menata kembali jalan pikiran yang selama ini tak terarah. Pelajaran berharga: Jangan remehkan siapapun, jangan segan untuk membantu siapapun, jangan takut untuk bermimpi.

Pelajaran-pelajaran itu mengalir mengisi pikiran saya yang sejenak berhenti membaca karena harus mencuci piring dan menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Ajaibnya, saya tiba-tiba disuguhi pemandangan yang tak biasa. Azkia menawarkan diri untuk membantu saya merapikan piring-piring bersih di rak.

"Mama, Kakak bantu merapikan piring-piring yang ringan, ya..." ujarnya.
Saya mengangguk saja. Tapi tak lama kemudian anak lelaki saya Luqman juga datang ke dapur. Bukan hanya piring plastik yang dirapikan, tapi juga gelas dan piring kaca diambilnya. Sesekali ia melirik saya yang masih mencuci sisa perabotan yang kotor, seolah meminta ijin untuk membantu. Lewat sudut mata saya menangkap kilatan pisau di tangannya. Ingin mencegah, tapi saya coba biarkan. Untuk merapikan pisau dan sendok yang tempatnya jauh di atas, anak kecil itu memanjat ember besar yang memang terletak di sebelah rak. Kakaknya mengambil sendok-sendok dari bawah, si adik meletakkannya di tempat sendok. Nah, rapilah sudah! Mereka berdua bekerja dengan sempurna. Surprise di hari yang agak mendung ini. Sayang baterai kamera sedang low, jadi saya tak sempat mengabadikan momentum indah itu.

Namun sebagai hadiah, saya berjanji mengajak mereka membuat mainan setelah makan siang. Indah sekali! Spirit of "Sang Pemimpi" yang memengaruhi pikiran dan jiwa saya ternyata menyebar ke sekeliling saya. Waktunya berubah menjadi lebih baik, waktunya berubah menjadi lebih optimistik, waktunya berbagi apapun dengan sahabat dan orang-orang yang kita sayangi. Itulah model kehidupan yang ditawarkan 'Sang Pemimpi'. Dan sepertinya, itu pula hidup yang saya impikan. Selalu semangat!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar