Sabtu, 03 Oktober 2009

Sekilas Cerita dari Harvard University :Harmonisasi Peradaban (Harmony Among Civilization)

Harmonisasi antar Peradaban
(Prospek Perdamaian antara Timur dan Barat)





"Wa'alaikum salam, Rip. Leres, SBY kersa rurumpaheun ka Harpad, sareng masihan wejangan deuih ka pala santri di dieu.. Kumaha aya kitu cariosna ka ditu? wilujeng."

~Dadi Darmadi, Ph.D., Mahasiswa Post Doctoral di Harvard University~

Harvard Kennedy School

Boston & Cambrdige - Sekelompok mahasiswa Universitas Harvard melakukan demonstrasi di luar gedung kampus Harvard di Boston, Selasa petang, sesaat sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di kampus tersebut untuk memberikan kuliah umum.

Mereka berunjuk rasa untuk menyampaikan terima kasih atas kepemimpinan Presiden Yudhoyono dan Indonesia dalam memperjuangkan penanganan terhadap perubahan iklim.

Michelle Kissenkoetter, Dominic Maxwell, Michael Blomfield dan Joel Kenrick, berteriak-teriak sambil membentangkan poster-poster yang mereka bawa ketika iring-iringan kendaraan yang membawa Presiden Yudhoyono dan rombongan melintas untuk memasuki gerbang kampus.

Keempatnya adalah mahasiswa Master in Public Policy di John F. Kennedy School of Government di Universitas Harvard.

Poster-poster berwarna kuning dan merah muda yang mereka usung itu antara lain bertuliskan "Thank You Indonesia", "Harvard Says, Indonesia`s Our Climate Change HERO", "President Yudhoyono Climate Change World Leader" dan "The Earth Our Future, Thank You Yudhoyono".

"Kami ini adalah mahasiswa Harvard dari berbagai bangsa. Kami ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemimpin negara Anda, sangat kami hargai, dihargai oleh Amerika dan dunia," kata Michelle kepada wartawan.

Dominic, sementara itu, mencatat kontribusi besar yang diberikan oleh Indonesia, yang melalui KTT Perubahan Iklim di Bali dua tahun lalu mampu merekatkan negara-negara untuk melakukan perundingan dalam menangani pemanasan global.

"Apa yang telah dilakukan Indonesia sangat berarti karena negara-negara setelah itu (KTT Bali) mau melakukan perundingan, dan sekarang perundingan telah mengarah ke pertemuan di Kopenhagen, Denmark," kata Dominic.

Kopenhagen pada Desember 2009 nanti akan menjadi tuan rumah pertemuan tentang perubahan iklim yang diharapkan akan menghasilkan kesepakatan global tentang langkah-langkah yang akan dijalankan pasca berakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012 tentang penanganan perubahan iklim.

Ketika berita ini dibuat, Presiden Yudhoyono sedang menyampaikan pidato di depan para mahasiswa dan akademisi Universitas Harvard dengan mengangkat `harmonisasi peradaban` sebagai tema utama pidatonya.

Joel Kenrick mengatakan dirinya tidak dapat mengikuti kuliah umum Presiden Yudhoyono karena kehabisan tiket tanda masuk ruangan --yang pada Selasa petang dipenuhi sekitar 800 orang.

Isu utama yang akan disampaikan adalah harmonisasi peradaban dewasa ini. Indonesia, kata SBY, bisa menjadi contoh bagaimana berbagai peradaban bertemu dan berjalan secara harmonis.

Sejak Abad ketiga, di Indonesia sudah terdapat tiga peradaban besar yaitu Barat dengan nilai-nilai kristiani, Timur dengan Hindu serta Cina, dan terakhir peradaban Islam.

"Tapi bisa rukun. Dunia juga bisa begitu," Kata SBY ketika memberikan arahan sebelum tiba di Amerika beberapa waktu lalu.

Indonesia, terang SBY, juga memiliki pikiran dan rekomendasi bagaimana mengakhiri konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah dan bagaimana hubungan Islam dengan Barat.

"Bagaimana sebetulnya situasi dunia di mana Amerika bisa berperan tentang situasi di Irak, Afganistan, dan Palestina, dari kacamata seorang Indonesia, pemimpin yang mayoritas penduduknya Islam untuk mencari solusi dan pendekatan baru," tegasnya.

Selain itu, hubungan Indonesia dengan Amerika akan turut disampaikannya dalam pidato yang rencananya berdurasi 40 menit itu. Amerika, semestinya menjalin hubungan strategis dan tidak boleh berpikir dengan cara pandang lama.

"Tidak boleh masih dengan cara dulu Amerika melihat Indonesia, human right misalnya. Kita harus punya goal, interest di era baru," pungkasnya.
SBY introduced nine suggestions to enact harmony among civilizations.

President Susilo Bambang Yudhoyono, popular by the acronym SBY, proposed nine ways to create harmony among nations during his public lecture before the Kennedy School of Government, Harvard University.

SBY started his lecture by sharing several jokes, including saying that although he had never gone to Harvard, some of the Indonesian ministers and government officials, including his son, Indonesian military member Captain Agus Harimurti, studied in Harvard. “Those who went to Harvard finally end up working for me,” SBY said, which again generated laughter.

SBY introduced nine suggestions to enact harmony among civilizations and nations around the world and to build understanding between western countries, the United States and Islamic countries.

The first idea is the use of soft power, which is diplomacy, instead of hard power or military approach. What Indonesia did in order to achieve peaceful state in Aceh was one good example.

Several numbers of dialogues, from inter-civilization dialogues to the Global Intermedia Dialogue and other forms of dialogues between religions are a more effective way to match perceptions and overcome differences. In Indonesia, the success was accomplished when there was eventually peace in Poso and Maluku after prolonged conflicts, which led to religious disputes, took place.

Other ideas include seeking the solutions of political conflicts that have set up a gap between western countries and Islamic countries, promoting the voice of the moderates in the society, encouraging multiculturalism and tolerance, assuring globalization could be functioning and beneficial for everything, reforming the administration of international institutions, raising global awareness of education and various trans-national problems.

As if responding to the speech of President Barack Obama to the Moslem world at the Cairo University a few months ago which proposed “a new beginning” between the US and Islamic countries, President SBY, who represents countries with the most Moslems in the world, offered “Reinventing A New World”.

The “new world” means a whole new world that is based on nine ideas which according to SBY, would be able to support the creation of harmony among civilizations.

Agus Harimurti Yudhoyono, eldest son of President SBY, He is now at Harvard University, Boston, United States. Agus education sector master of public administration at the university who is familiar with the science of social economy.
(Foto Sebelah kanan)

Kapten Inf Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 10 Agustus 1978; umur 31 tahun) adalah anak pertama Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herawati. Ia menikahi Annisa Larasati Pohan pada awal Juli 2005.

Agus menyelesaikan pendidikan SMA di SMA Taruna Nusantara tahun 1997 kemudian selesai dari Akademi Militer tahun 2000. Agus kemudian menyelesaikan gelar Master di bidang Strategic Studies di Institute of Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura pada 2006. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Harvard University, Seperti ayahnya, Kapten Agus juga mengabdi di militer.

Pertanyaan Seputar Pidato SBY dari Mahasiswa-mahasiswa Harvard
Setelah menyampaikan pidato sekira 45 menit, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan pertanyaan-pertanyaan kritis dari mahasiswa-mahasiwa Harvard Kennedy School, John F Kennedy School of Government, Cambridge Massachusetts, Amerika Serikat.

"Bagaimana penjelasan anda mengenai kasus pelanggaran HAM di Timor Timur," ujar salah satu mahasiswa dalam sesi tanya jawab pertama, seperti dilaporkan wartawan okezone Amirul Hasan.

SBY pun menjelaskan proses rekonsiliasi yang dijalani oleh kedua negara dalam menyelesaikan kasus ini. Menurut SBY, kedua negara sama-sama memiliki keinginan kuat untuk menyesaikan masalah ini.

"Kami melihat masa depan yang baik, dan kami ingin Timor Timur bisa tetap melanjutkan pembangunan perekonomian dan negaranya," ujar SBY saat menjawab pertanyaan itu, Selasa waktu setempat atau Rabu (30/9/2009) waktu Indonesia.

SBY juga ditanya mengenai proses demokratisasi di Myanmar, proyek nuklir Iran dan penanggulangan teroris di Indonesia.

Yang paling mengejutkan adalah salah seorang mahasiswa Harvard yang berasal dari Indonesia mengaku masih mendapatkan diskriminasi karena memiliki agama yang berbeda dari teman-temannya semasa kuliah di Indonesia.SBY mengakui, bahwa ada bebarapa kasus diaskriminasi, namun, saat ini secara menyeluruh Indonesia sudah mampu mengatasi hal itu. Dia mencontohkan struktur menteri pada kabinetnya.

"Mrs Mari Elka Pangestu Menteri perdagangan, yang merupakan keturunan Cina bisa menjadi menteri," kata SBY sambil mengarah ke Mari yang duduk di hadapannya.

PENYEBAB KONFLIK

Dari; Bpk. Romi Satria Wahono, B.Eng., M.Eng., D.Eng.

(Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang, Doctor ilmu Komputer dari Saitama University, Jepang serta Founder Ilmu Komputer)

Ada beberapa faktor yang bisa kita analisa sebagai penyebab atau paling tidak bisa pemicu terjadinya suatu konflik.

Faktor pertama adalah karena ambisi untuk menunjukkan eksistensi dan pamer kekuatan (power showing). Kalau Woodrow Wilson mengatakan pada saat perang dunia pertama bahwa perang yang dia lakukan ini bertujuan untuk mengakhiri semua peperangan (war to end all wars). Dan George W. Bush mengatakan bahwa perang melawan terorisme adalah perang untuk menghapuskan kejahatan (wipe out evil). Pada hakekatnya semua ingin mengakselerasi eksistensi diri dan identitas politik (identity politics) di mata dunia internasional. Kemudian mengklaim bahwa tindakan (negara) mereka sendirilah yang benar. Faktor ini juga termasuk faktor penting penyebab konflik politik (revolusi, kudeta) ataupun fenomena ethnic cleansing dan genocide yang beberapa dekade ini cukup marak di dunia (Serbia-Bosnia, Serbia-Kosovo, Tutsi-Hutu di Rwanda).

Kedua, konflik dan perang adalah bisnis model baru yang sangat menguntungkan. Cukup mencengangkan bahwa Amerika sebagai negara yang paling banyak terlibat konflik dan perang, ternyata juga sebagai penjual senjata paling banyak di dunia. Iraq sebagai musuh tetap Amerika dalam beberapa dekade ini mencatatkan diri sebagai negara pengimpor senjata terbesar di dunia. Tak bisa kita pungkiri bahwa perang adalah merupakan bisnis besar.

Negara Pengekspor Senjata
(milyar dolar/tahun)

Negara Pengimpor Senjata
(milyar dolar/tahun)

Amerika Serikat ($18) Irak dan Iran ($6)
Rusia ($4.5) Arab Saudi ($3)
Perancis ($4) India ($3)
Kuba ($2) Vietnam ($2)
Cina ($2) Libya ($2)

Selain keuntungan dari penjualan senjata, kekayaan alam bisa jadi daya tarik lain. Bukan suatu rahasia lagi bahwa Amerika juga mengagendakan eksplorasi minyak dalam setiap keterlibatan konflik dengan negara lain, khususnya negara dalam wilayah Timur Tengah. Demikian juga dengan Australia yang “ada maunya” dibalik dukungan terhadap kemerdekaan Timor Timur. Kini pemerintah baru Timor Timur pusing dengan tuntutan Australia perihal penentuan ulang batasan maritim dalam Timor Gap Treaty 1989, dan juga pembagian royalti masalah minyak di celah timor.

Faktor ketiga adalah faktor kemiskinan, ketidakadilan dan gap sosial yang terlalu besar. Anthony Georgieff berargumentasi bahwa pada era diatas tahun 1990, lebih dari 80% konflik dan peperangan di dunia disebabkan karena faktor kemiskinan dan krisis perekonomian [Georgieff-2000]. Negara miskin lebih besar memiliki peluang konflik dibandingkan dengan negara kaya (dengan perbandingan 3 banding 1). Sekjen PBB Kofi Annan menambahkan dalam salah satu pidatonya bahwa selain faktor kemiskinan, adanya ketidakadilan dan gap sosial-ekonomi yang cukup besar termasuk penyebab konflik yang penting.

Saya cukup terkejut dengan tulisan seorang jurnalis New York Times bernama Barbara Crossette sekitar 4 tahun yang lalu [Crossette-1998]. Dia menyatakan dalam laporan tentang human development bahwa 20 persen orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86 persen semua barang-barang dan servis yang ada di dunia. Sementara kebalikannya 20 persen orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi 1,3 persennya. Dan lebih dahsyatnya lagi ditambahkan bahwa, 20 persen orang terkaya di dunia tersebut juga menkonsumsi 45 persen dari seluruh daging dan ikan, 85 persen dari seluruh energi, 84 persen dari seluruh kertas, menguasai 74 persen dari seluruh jaringan telepon dan 87 persen seluruh kendaraan yang ada di dunia.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa tiga orang terkaya dunia memiliki aset yang sekurang-kurangnya jumlah total dari GDP (Gross Domestic Product) 48 negara berkembang. Kemudian Swedia dan Amerika memiliki 681 dan 626 line telepon untuk setiap 1000 orang. Di lain pihak Afghanistan, Kamboja, Republik Kongo hanya memiliki 1 line telepon untuk 1000 orang.

Disamping menjadi masalah serius di Indonesia, ternyata besarnya gap kaya-miskin ini juga merupakan pekerjaan rumah bagi dunia. Kenyataan ini terus terang membuat pertanyaan tentang kapan konflik di dunia ini akan berakhir semakin susah terjawab.

Penulis dan Om Romi Satria W.

(Cakepan siapa ya?) (so keren nih ye.,^_^)

REFERENSI:
[Crossette-1998] Barbara Crosette, Kofi Annan’s Astonishing Facts!, The New York Times, September 27, 1998.
[Georgieff-2000] Anthony Georgieff, World: Swedish Report Emphasizes Role Of Poverty In War, Radio Free Europe, Radio Liberty, 2000.
[Strauss-2002] Steven D. Strauss, World Conflicts, Alpha Books, 2002.

http://www.youtube.com/watch?v=UZMlkQPsKNs

Oke Zone dan Antara.

(Lagi baca supaya dapat menjadi manusia yang bermanfaat amin ^_^)

Wallohualam bissawab! semoga bermanfaat! wasalam wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar