Minggu, 06 November 2011

Membangun Kota Berbudaya Literasi


Daniella Jaladara adalah nama pena Heni, seorang penulis yang sedang naik daun dari kalangan Buruh Migran Indonesia Hong Kong.

Lahir di Ciamis, 2 Mei 1987, merupakan pendiri sekaligus direktur Abatasa Library and Learning Centre, Hong Kong. Menyelesaikan pendidikan formalnya di SMKN 1 Banjar, St. Mary’s University (Cum Laude, Salah Satu Lulusan Terbaik, dan Tercepat Menyelesaikan S1; 2,5 Tahun) dan Universitas 17-08-1945.

Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerpen: Un Dans L’Éternité dan Senja di Pesisir Tsing Ma adalah kumpulan cerpen kedua. Karyanya juga tergabung dalam beberapa antologi di antaranya: Surat Berdarah Untuk Presiden dan Bicaralah Perempuan. Karya-karyanya sebagian besar bercerita tentang realitas kehidupan kaum pekerja migran. Tulisan lainnya tersebar di beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Indonesia di Hongkong. Penghargaan yang pernah diperolehnya adalah:

Juara 1 se-Asia lomba menulis surat untuk presiden dan anugerah BISA
(Be Indonesian Smart and Active) Award.


Penulis bisa dihubungi di:

jaladara10@yahoo.com.hk.

Sejak kecil mengaku sudah belajar menulis.

“Aku belajar menulis sejak SD. Saat itu aku sangat suka membaca buku-bukunya N.H. Dini, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, dan lain lain.”

“Dari membaca tulisan mereka, meskipun saat itu aku tak mengerti keseluruhan tentang tulisan mereka, tapi buku-buku itu berhasil menginspirasiku untuk menulis dan membaca lebih banyak.” Kata Beliau

Sekarang Beliau tinggal di Pataruman Banjar.

Inilah Web Pribadi Beliau

a Little Journey .. a Big World



Bambang Achdiyat, S.Pd. adalah Guru, Motivator dan Penulis Belajar Menuju Ihsan. Lahir di Ciamis, lulusan Universitas Pendidikan Indonesia.


Mari Kita Membangun Kota Berbudaya Literasi

Pada tahun 1987 di Amerika Serikat terbit Cultural Literacy: What Every American Needs to Know karya ED Hirsch Jr dan The Closing of The American Mind karya Allan Bloom. Kedua buku best sellers ini secara kritis menunjukkan menurunnya tingkat literasi generasi muda Amerika dan perlunya tindakan korektif melalui pembenahan kurikulum language art dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Webster’s New Collegiate Dictionary menurunkan batasan literate sebagai orang yang berpendidikan, berbudaya mampu membaca dan menulis (1981:666). Ini satu kesaksian bahwa dalam tradisi Eropa, ciri orang yang berbudaya itu adalah keseimbangan antara kemampuan membaca dan menulis.

Dalam tradisi Indonesia, yang lebih berbudaya ucap-dengar ketimbang berbudaya baca-tulis, batasan literasi cenderung mengabaikan komponen menulis. Tidaklah aneh bahwasanya mayoritas ulama dan dosen di Indonesia tidak mampu menulis buku ajar.

Literacy, diindonesiakan sebagai melek huruf, kemampuan berbaca tulis, kemelekwacaan, atau literasi. Literasi mencakup kemampuan membaca petunjuk meminum obat, mengisi formulir lamaran kerja, sampai menganalisis sebuah artikel atau berita koran. Literasi sebagai sebuah pendidikan adalah kunci untuk mendapatkan akses politik dan fasilitas-fasilitas sosial.

Kecilnya anggaran pendidikan memberi kesan adanya kesengajaan untuk membodohkan sebagian rakyat demi kepentingan politik sang penguasa. Alasannya, orang pandai cenderung kritis, dan kritikan adalah kerikil tajam bagi penguasas otoriter. Sementara itu, rakyat bodoh adalah kerbau setia untuk dipasak hidung.

(To Be Continued)


Ucapan Terima Kasih:

Bapak Drs. Nanang Sudiana, M.Pd. Guru semasa SMA atas motivasinya untuk terus menulis. Great Teacher, selalu rindu atas pengajarannya yang asik banget.

Ibu Hj. Siti S.Pd. & Ibu Nani. S.Pd. Guru semasa SMP yang senantiasa memberikan akses membaca di perpustakaan, merekalah yang memberikan dorongan untuk melahap semua isi perpustakaan kala itu, terima kasih bunda-bunda ku.

Ibu Endang Mudji, yang senantiasa bersemangat mengajarkan pentingnya berbahasa.



Sumber:

Prof. H. Chaedar Alwasilah, M.A. Ph.D.

(Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar