Kamis, 01 Desember 2011

Menyentuh Pelajaran Akademik secara Informal

Anak-anak saya sekarang sudah 9 dan 7 tahun. Kalau merujuk tahapan perkembangan anak, memang sudah memasuki fase operasional kongkret, usia siap belajar terstruktur. Sekarang kami membuat jadwal belajar akademik secara rutin setiap hari dengan persetujuan mereka. Waktunya diatur oleh mereka sendiri tapi diusahakan selalu tetap setiap harinya. Dan atas permintaan mereka, kami mulai jam 9 pagi. Maksimal durasi belajar kami tetapkan hanya 30 menit, namun faktanya sering lebih pendek ^_^.

Kami mulai memakai kurikulum sekolah formal sebagai salah satu bahan. Dengan begitu, jika suatu hari berniat ikut ujian kesetaraan, anak-anak tidak lagi kaget dengan formulasi pelajaran yang diujikan. Kami mencoba untuk bersikap pertengahan saja soal model pendidikan ini. Hari ini kami memilih pendidikan informal dan besok-besok mungkin tertarik dengan formal, ijazah kesetaraan dari lembaga nonformal adalah mediatornya. Jadi, tak ada ruginya juga menyiapkan anak-anak untuk berakrab-akrab dengan pelajaran KURNAS, toh mereka juga jadi mendapat tambahan ilmu.

Saya akui, buku pelajaran sekolah tidak terlalu menarik untuk dibaca anak-anak. Topiknya bermanfaat, tapi penyusunan isinya, dari mulai tipografinya, layoutnya, ilustrasinya, kalimat-kalimatnya, dan pertanyaan-pertanyaannya cenderung membosankan. Jadi bagaimana?

Awalnya kami pun enggan memakai kurnas, tapi kemudian membalik cara berpikir. Bukankah beberapa hal dalam hidup ini juga tidak menyenangkan kita. Reaksi dan cara kita berpikirlah yang membuat semuanya berbeda. Karena itulah, kami coba bersahabat dengan BSE (Buku Sekolah Elektronik) dan mengambil intisari pelajarannya. Sesudah itu, metode penyampaian kami coba otak-atik dengan berkreasi sendiri, dan alhamdulillah anak-anak mulai terbiasa juga menikmati KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pelajaran sekolah tapi secara informal.

Jadwal belajar akademik berbahan baku kurnas kami coba permudah: Hanya 5 hari seminggu (Senin - Jumat), 1 atau 2 mata pelajaran per hari maksimal 30 menit. Satu kali belajar kami tetapkan hanya satu bab. Jika rata-rata buku pelajaran berisi 10 bab, maka dengan belajar seminggu sekali untuk setiap pelajaran, insya Allah anak-anak sudah selesaikan semuanya dalam 10 minggu (2,5 bulan) . Saya kira hal itu cukup ringan untuk dilaksanakan.

Muatan Ekstra
Tentu saja, jika sebelumnya anak-anak hanya belajar hal-hal yang mereka suka, penambahan kurnas tidak membuat hobi mereka jadi 'terlarang'. Bisa kita hitung sendiri, belajar akademik 30 menit, maka sisa waktu untuk yang lain masih sangat banyak. Anak-anak bisa baca buku yang mereka suka, bermain-main di kebun, bikin-bikin craft bersama teman-temannya, nonton film anak-anak atau film-film dokumenter, dan banyak lagi.

Untuk menambah keterampilan, Azkia pilih kursus Bahasa Inggris 2x seminggu (@1 jam per pertemuan), kursus piano 1x per minggu (@30 menit). Luqman suka mekanika, dan mulai mau lagi belajar robotika seminggu sekali. Dan mungkin yang lain-lainnya jika mereka sudah mulai tertarik untuk belajar.

Namun muatan ekstra yang terpenting dan kami usahakan tetap konsisten adalah hafalan Quran. Setiap hari, meski hanya 5 atau 10 menit kami rutinkan kegiatan tersebut supaya mejadi habit. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi kekuatan pada hati kami untuk konsisten.

Belajar, selain merupakan hak, juga merupakan kewajiban bagi seorang mukmin setelah dewasa. Ketidaktahuan bisa mematikan langkah dan menyuburkan kebodohan. Seorang mukmin haruslah cerdas dan berpengetahuan. Satu-satunya jalan untuk mencapai titik tersebut adalah belajar.

Menurut saya, tugas orang tua pada anak-anak dalam hal ini, bukan hanya mengikuti apa yang mereka mau, tapi juga menumbuhkan rasa senang dan butuh terhadap belajar. Dengan begitu, ketika sudah tiba waktunya anak-anak masuk usia taklif belajar hal-hal yang lebih tinggi dalam agama dan kehidupan bermasyarakat, mereka sudah bisa mengatasi faktor-faktor penghambatnya. Mudah-mudahan, insya Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar