Selasa, 09 Oktober 2007

Gambar Tempel


Bermain dengan benda-benda seni ternyata membuat anak-anak belajar berkonsentrasi. Beberapa waktu lalu, kami tertarik untuk bermain dengan kertas warna dan sisa serutan pensil.

Mungkin tak seberapa indah hasilnya, namun anak-anak belajar untuk sabar dan hati-hati saat menempel.


Kamis, 04 Oktober 2007

Kekuatan Pikiran dalam Pengasuhan Anak

Masa kecil adalah masa pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan pada manusia. Diakui atau tidak, perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi kita tentang kehidupan dipengaruhi oleh masa kecil kita. Ajaibnya, semua itu dibentuk bukan lewat tutorial, melainkan diawali oleh pikiran dan persepsi orang tua atas anak-anaknya. Tak percaya?

Sebuah buku berjudul Mind Power for Children yang ditulis oleh John Kehoe dan Nancy Fischer menjelaskan tentang hal tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Buku setebal 201 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Think Yogyakarta.

Persepsi kita terhadap anak-anak ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadari.

Bayangkan ketika kita sedang merasa kesal pada anak-anak saat mereka membuat gaduh. Wajah kita berubah kusut, suara kita menjadi sedikit tegang, dan mungkin meledak jika tak sempat terkontrol. Lalu apa yang mungkin dipikirkan anak-anak tentang kita dengan sikap tersebut? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.

Pada bagian awal buku ini dikatakan, "Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut."

Kekuatan Kata-Kata
Ketika kita sekolah dulu, mungkin pernah mendengar istilah diksi (pilihan kata). Ternyata, hal itu sangat penting diperhatikan dalam mengarahkan pikiran kita dan anak-anak.

Kata-kata adalah lukisan verbal dari pikiran dan perasaan. Kesan yang ditangkap anak-anak dari kata-kata yang kita ucapkan akan diolah sedemikian rupa oleh otak mereka.

Satu hal yang menarik, anak-anak ternyata akan lebih fokus pada kata terakhir yang mereka dengar daripada uraian kata di awal kalimat, betapapun penting dan panjangnya kata-kata pada awal kalimat tersebut.

Beberapa waktu lalu kami sekeluarga pergi mengunjungi kerabat di Jakarta. Di dalam bis kami lihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih berusia kurang lebih satu tahun. Anak itu nampak manis dalam gendongan ibunya, sampai kemudian sang ibu berkata pada anaknya, "Ade, jangan rewel ya, jangan nangis!" Ajaibnya, tak lama kemudian anak itu malah merengek-rengek dan bahkan menangis keras tanpa alasan yang jelas.

Saya dan suami senyum-senyum. Ya, teori tentang efek kata terakhir pada anak ternyata benar-benar terbukti. Kalimat yang diucapkan si ibu adalah kalimat negatif, "Jangan rewel!" namun kesan paling dalam yang didengar anak ternyata terletak pada kata terakhir yaitu 'rewel".

Lawan dari kalimat negatif adalah kalimat positif. Mempergunakan kalimat positif akan mengarahkan pikiran kita pada apa yang kita inginkan, sedangkan kalimat negatif mengarahkan pikiran pada apa yang tidak kita inginkan.

Misalnya kalimat, "Saya tak mau gagal lagi." Itu adalah kalimat negatif yang lebih mungkin dipersepsi pikiran kita menjadi "gagal lagi". Namun sesungguhnya kalimat itu bisa berubah postif jika pilihan kata yang kita gunakan adalah, "Kali ini saya akan berhasil".

Mengajarkan Pikiran Positif pada Anak
Melatih anak untuk berpikir positif juga diawali dengan melatih mereka untuk mempergunakan kalimat positif dan menghindari kalimat negatif.

Bagaimana menjelaskan tentang perbedaan pikiran negatif dan positif pada anak-anak menurut penulis buku ini adalah dengan membuat perumpamaan. Pikiran itu ibarat taman. Pikiran positif itu adalah bunga yang membuat kita senang ketika melihatnya, sedangkan pikiran negatif adalah rumput liar yang membuat bunga terlihat kacau dan kita yang melihatnya merasa terganggu. Supaya bunga tumbuh dengan baik, maka sesering mungkin kita harus menyingkirkan rumput liar yang ada di sekelilingnya.

Kekuatan Afirmasi
Beragam hal dalam kehidupan anak-anak terkait pertemanan, persepsi diri, kemampuan-kemampuan intelektual, ataupun optimisme pribadi erat hubungannya dengan bagaimana mereka memikirkan itu semua.

Afirmasi adalah cara paling mudah untuk mengarahkan pikiran dan bahkan keadaan yang negatif menjadi positif. Sebuah penggalan cerita berikut akan menjelaskan hal itu:

Ketika Charles, anak laki-lakiku sakit, ia pergi ke dokter karena kutil yang sangat sakit, berakar di dalam kakinya. Dia dijadwalkan akan diobati dengan mencabut kutil itu seminggu kemudian. Tetapi ketika hari itu tiba, Charles mengatakan kepadaku bahwa kutil itu hampir hilang. Ketika mengeceknya. aku melihat memang benar demikian dan meminta dokter agar membatalkan janjinya. Ketika aku bertanya kepada Charles apa yang telah dia lakukan, dia mengatakan kepadaku bahwa setiap pagi dia melihat kakinya dan berkata, "kakiku bertambah baik dan baik setiap hari." Dia telah menggunakan teknik afirmasi untuk menyembuhkan penyakitnya.

Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namun tak ada salahnya kan menyimak buku ini, untuk menyumbangkan suplemen positif bagi pikiran kita.

Senin, 01 Oktober 2007

Ketika Sekolahku Roboh

Hari Sabtu, jam 11 siang waktu itu, entah mengapa Pak guru sudah mengakhiri pelajaran di kelas. Jelas lebih awal dari seharusnya. Anak-anak sih senang sekali. Apalagi di akhir pekan seperti itu, untuk belajar memang bawaannya agak malas. Yang terbayang adalah liburan setelah selama 6 hari berturut-turut dihadapkan pada situasi yang rutin.

Ruangan kelas kami paling ujung, dan memang satu-satunya ruangan yang masih tersisa dari 5 ruangan kelas yang ada. Sisanya sudah tak bisa dipakai lagi. Atapnya rusak dan bahkan sudah condong. Bangunan itu masih bisa berdiri hanya karena ditopang oleh beberapa bilah bambu besar.

Ya, hanya bermodal keberanian saja tampaknya, guru kami mau mengisi satu kelas paling ujung yang masih lumayan utuh. Habis, di mana lagi kami harus belajar kalau hampir semua ruangan rusak.

Tanpa berpikir apa-apa, hari Sabtu itu kami semua pulang dengan riang. Jarak sekolah ke rumah sekitar 20 menit berjalan kaki. Saat pulang adalah saat yang paling berkesan. Kadang-kadang kami melewati jalan pintas yang penuh dengan pohon buah-buahan. Semilir angin sejuk menyambut kami di tengah rimbunnya pepohonan.

Kurang lebih pukul 14.30, terdengar ribut-ribut di jalanan. Rasa penasaran membuat saya keluar. Seorang tetangga berteriak-teriak, "Sakola runtuh! sakola runtuh! (sekolah roboh! sekolah roboh!".

Tak percaya rasanya mendengar berita itu. Saya pergi bersama teman-teman menengok sekolah yang baru beberapa jam lalu masih berdiri. Tertegun kami melihat bangunan sekolah yang kini sudah rata dengan tanah, termasuk kelas paling ujung tempat kami belajar.

Entah, perasaan sedih dan juga senang bercampur jadi satu. Sedihnya, karena kami tak tahu harus belajar di mana setelah itu, namun senangnya, karena kami pulang cepat, sehingga tak sempat jadi korban.

Kenangan itu begitu melekat hingga saya lulus kuliah saat ini. Selama beberapa minggu kami belajar di rumah dinas guru kami, sampai kemudian pindah ke balai desa dengan jam belajar yang lebih pendek karena harus bergantian dengan kelas-kelas yang lain.

Peristiwa itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Saya tak mengira, kalau ternyata kini pun peristiwa robohnya bangunan sekolah tetap terjadi di berbagai wilayah, dan sebagian malah menimbulkan korban.

Mungkin, sebenarnya ini merupakan cermin, betapa buruknya negara menjamin keberlangsungan pendidikan secara merata. Karena di saat banyak bangunan sekolah yang roboh, ternyata dengan cepatnya pusat-pusat perbelanjaan berdiri di sudut-sudut kota; gedung-gedung perkantoran pun dipugar berkali-kali, meski sebenarnya masih layak pakai.

Andai pendidikan adalah prioritas yang penting bagi negara, mungkin tak akan ada lagi cerita tentang sekolah roboh. Yang ada adalah anak-anak yang antusias, guru yang berdedikasi, dan masyarakat yang maju, baik spiritual maupun intelektualnya.

Salam pendidikan!

Kamis, 27 September 2007

Homeschooling: Pendidikan Berbasis Keluarga

Siapapun yang tertarik dengan tema-tema seputar homeschooling (HS), informasi ini mungkin cukup bermanfaat.

HS sudah mulai hangat dan bahkan kini agak "panas" dibicarakan di ruang publik. Selain karena terbitnya buku-buku HS karya penulis lokal yang promonya cukup gencar, atau mungkin juga karena HS ternyata sudah mampu menarik perhatian dan menyulut respon subjektif anggota dewan dan pakar pendidikan.

HS memang unik, tapi bukan berarti aneh. Pendidikan anak yang dipayungi oleh institusi keluarga adalah fondasi pendidikan yang paling sempurna. Kemunculan istilah HS yang berasal dari barat hanyalah sebuah istilah yang memudahkan penyebutan. Namun pada faktanya, pendidikan keluarga yang dimotori oleh orang tua sudah hidup berabad-abad lamanya, bahkan mungkin sejak zaman Nabi Adam a.s.

Kita tentu belum lupa bahwa para Nabi adalah para pendidik utama anak-anaknya dan memiliki pendidik yang terbaik semasa kecilnya. Tanggung jawab pendidikan itu mereka aktualisasikan lewat fase-fase kehidupan bersama anak-anak yang alami namun penuh dengan visi.

Nabi Ibrahim a.s mendidik langsung putranya Ismail dengan ajaran Allah lewat peristiwa-peristiwa nyata kehidupan. Bahkan sejak awal Ismail sudah dilibatkan dalam pendirian Baitullah ('Rumah' Allah)di Makkah dan dilatih sikap pengorbanannya lewat peristiwa penyembelihan. Semua itu memang bukanlah kebetulan, melainkan gabungan antara ketaatan dan usaha seorang manusia dan bimbingan Sang Khalik.

Begitu pula dengan Nabi Musa a.s, Nabi Isa a.s, beliau semua tumbuh terdidik dengan hadirnya orang-orang yang sangat peduli dengan pendidikan mereka. Nabi Musa a.s memiliki Aisiyah dan Bunda kandungnya sebagai pengasuh dan juga pengarah, meski beliau hidup dalam lingkungan Firaun yang zhalim. Adapun Nabi Isa a.s memiliki Maryam sebagai pengasuh dan pendidik yang disucikan Allah.

Demikian halnya dengan Nabi Muhammad saw terhadap putrinya Fathimah Az Zahra dan sepupunya Ali bin Abi Thalib, pendidikan untuk mereka telah dilakukan sejak kecil dengan tempaan-tempaan hidup yang keras, yang akhirnya mengokohkan iman serta akhlak dan pribadi mereka. Hal itulah yang akhirnya menjadi harta berharga yang mampu memelihara kualitas keturunan Nabi setelah Nabi tiada.

Bagaimana dengan kita? Anak-anak pada zaman ini sesungguhnya tengah dikelilingi oleh srigala-srigala lapar yang sedang mengumpulkan teman. Kapitalisme menjelma dalam berbagai wujud, termasuk dalam dunia pendidikan. Kini, anak-anak lebih membutuhkan fondasi pendidikan dari keluarganya jauh lebih besar daripada anak-anak zaman dulu. Karena tanpa fondasi yang kuat, mereka akan lebih mudah terbawa arus.

Mencermati gaya hidup anak-anak dan remaja saat ini, terasa hati miris dan juga khawatir. Media yang menjajakan produk dan nilai-nilai liberalisme moral bertebaran di mana-mana hingga ruang untuk mengingatkan manusia akan tujuan hidup dan hakikat kematian nyaris tak tersisa. Dan ironisnya, media-media itu justru dilegalkan oleh pemerintah.

Beberapa pihak sering menafikan bahwa media tidaklah berpengaruh besar terhadap perilaku anak-anak. Namun benarkah demikian? Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Media ternyata telah menjadi rujukan anak-anak untuk menciptakan citra atas dirinya. Pakaian mereka, cara mereka berbicara, cara mereka bergaul, cara mereka belajar, dan cara mereka bersikap, nyaris semuanya adalah hasil copy-paste dari idola mereka yang dipublikasikan besar-besaran oleh media.

Lalu, siapa yang bisa bertanggung jawab jika sebagian besar anak dan remaja tumbuh tanpa jati diri dan akhlak yang terpuji. Saya pikir, media ataupun para idola itu tak akan mau bertanggung jawab atau bahkan tak pernah merasa bersalah. Ya, tentu saja tidak ada lagi yang bisa mengemban tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak-anaknya kecuali ORANG TUA.

Pesan Al Quran surat At Tahrim (66) ayat 6 berbunyi, “Hai, orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakunya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sehubungan dengan HS, sesungguhnya ada misi yang indah yang tersimpul dari homeschooling, home-education, home-learning, atau apapun namanya, yaitu mengembalikan basis pendidikan anak-anak yang selama beberapa waktu terakhir secara tidak sadar bertumpu pada lingkungan dan sekolah formal, kembali kepada keluarga.

Jangan simpulkan HS sebagai rival sekolah formal, karena spirit HS sesungguhnya telah hidup jauh sebelum sekolah formal ada. Kalau saja kata “sekolah” agak mengganggu persepsi kita yang sudah terlanjur melekat pada sekolah formal, maka saya lebih suka menyebutnya pendidikan rumah. Sebuah frasa yang menaungi wilayah yang lebih luas dari sekedar kegiatan belajar-mengajar atau tutorial.

Saya percaya, bahwa sekolah formal saja tak akan sanggup memberikan kebutuhan pendidikan anak-anak kita tanpa pendidikan yang komprehensif di dalam keluarga. Satu hal yang paling penting dalam hal ini adalah akhlak. Sekolah formal mungkin bisa melakukan transfer pengetahuan pada anak-anak, namun belum tentu mampu menghembuskan nilai-nilai moral dari setiap pengetahuan.

Misalnya saja ilmu tentang jenis-jenis kebutuhan dalam ilmu sosial: kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Apa yang diketahui anak-anak tentang hal itu selain hapalan tentang contoh-contohnya? Saya kira hanya guru yang memiliki visi yang mampu mengaitkan pengetahuan itu dengan konteks moral, misalnya bagaimana kebutuhan sekunder dan tersier seperti pakaian mewah atau mobil mewah bisa dikesampingkan jika kita masih melihat orang-orang yang kelaparan dan tak punya pakaian layak masih terlihat di sekitar kita.

Akhlak adalah produk pengetahuan. Pengetahuan yang baik dan ditransfer dengan cara serta visi yang baik lebih mungkin menghasilkan anak-anak yang berakhlak baik. Adapun pengetahuan yang baik, namun disampaikan dengan cara dan semangat yang kering dari para pengajarnya, hanya akan menjadi sebuah hapalan yang mungkin segera terlupakan setelah materi itu selesai diujikan dalam test.

Kita tentu tak bisa menuntut banyak dari guru dan sekolah formal untuk melakukan prombakan pembelajaran. Oleh karena itu, orang tualah ujung tombak dalam menancapkan nilai-nilai transenden sebuah pengetahuan yang tak terbilang banyaknya ini.

Mari kita usahakan, “Make a good family for the best country”.

Salam Pendidikan!

Senin, 24 September 2007

Berkunjung ke Perpustakaan


Hari Senin, 24 September 2007 adalah pengalaman pertama buat Azkia dan Luqman pergi ke perpustakaan umum. Selama ini kami lebih sering ke toko buku untuk berburu bacaan-bacaan baru.

Jarak perpustakaan daerah tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya kurang lebih 20 menit, kami sudah tiba di sana. Setelah mengamati sekeliling kami naik ke lantai dua, karena di sanalah ruangan untuk buku-buku anak. Seorang petugas memberitahu kami tentang hal tersebut, ketika kami terlihat mencari-cari.

Waah, sekarang ruangan anak tampak lebih nyaman. Dengan beralaskan karpet, kami bisa membaca sambil duduk lesehan. Beberapa bantal besar juga terlihat ada di tengah ruangan, tak ketinggalan juga boneka-boneka berjejer di atas rak buku.


Koleksi bukunya sekarang lumayan bertambah, tapi masih tetap kurang untuk perpustakaan sebesar itu. Kebanyakan buku yang ada sudah berusia lanjut. Terlihat lapuk dan memang hasil terbitan lama. Hanya beberapa ensiklopedi yang terlihat masih bagus, tapi sayangnya tak bisa dipinjam ke rumah.

Si kecil Luqman memilih beberapa buku lalu duduk bersama papanya minta dibacakan. Tapi baru 15 menit berlalu, dia sudah mulai bosan. “Mama, pulang yuk! Adek pengen makan nasi…” Jadilah ia diajak dulu jalan-jalan keluar untuk beli makanan.


Sementara azkia terlihat masih penasaran dengan beberapa rak yang belum dilihat-lihat. Sampai akhirnya dia menemukan satu rak berisi buku bilingual. Ia memang sedang suka baca buku bilingual. Keinginannya untuk belajar bahasa Inggris sangat besar.

Akhir-akhir ini, tanpa sadar ia sudah membaca lebih dari 10 buku bilingual, dan selalu tertarik membaca teks-teks bahasa Inggris yang ia lihat di majalah ataupun di brosur-brosur produk.

Awalnya kami hanya membacakannya sekali untuk setiap kalimat, lalu dia menirunya. Setelah makin banyak kata-kata yang dia tahu cara mengucapkannya, kini hanya kata-kata yang dianggap baru yang kami koreksi pengucapannya.

Setelah menghabiskan kurang lebih 4 buku, Azkia siap pulang karena Luqman sudah datang. Itulah pengalaman pertama ke perpustakaan dan mereka cukup menikmatinya.

Kamis, 20 September 2007

Saat Kami Mulai Homeschooling Terstruktur


Inilah mungkin momentum yang paling dinanti. Setelah kurang lebih 4 tahun lalu saya memutuskan untuk menjalankan homeschooling (HS) bagi anak-anak, tanggal 19 September 2007 saya beritikad untuk menjalankan HS secara lebih terstruktur.

Hal tersebut dipicu oleh semakin nyatanya sinyal-sinyal kesiapan anak pertama saya Azkia (5 tahun) untuk diajari secara sengaja. Kalau saya tidak segera tanggapi, bisa-bisa spirit belajarnya menguap sebelum menjadi energi yang memberdayakan.

Tanggal 20 September hari Kamis 2007, Sejak pagi saya mulai menyiapkan beragam lembar kerja dari berbagai sumber, termasuk dari internet dan ensiklopedi yang ada di rumah. Wow! ternyata asyik juga menjadi guru. Sumber-sumber dari internet yang sebagian besar berbahasa Inggris sedikit menjadi kendala, namun juga memicu semangat untuk menggali lagi sisa-sisa kemampuan berbahasa yang cukup lama tak pernah dipergunakan.

Beberapa website yang menyediakan free worksheet untuk sains dan matematika seperti www.HomeEducationResources.com dan www.funteaching.com cukup membantu saya dalam penyediaan bahan-bahan awal.

Satu hal yang menambah semangat adalah antusiasme anak-anak yang saya beritahu tentang akan dimulainya kegiatan sekolah di rumah. Mereka ikut sibuk dan menunggu-nunggu apa yang terjadi.

Beberapa poster baru tentang herbivora animal, tanaman obat, peralatan dapur, dan rambu-rambu lalu lintas saya pasang di dinding untuk memicu gagasan dan rasa penasaran mereka. Ruang belajar yang selama ini ditata seadanya dibuat lebih kondusif dan memancing semangat.Buku-buku yang awalnya sering berserakan setelah dibaca, kini punya tempatnya sendiri.

Pelajaran pertama Azkia hari ini adalah menulis. Selama ini dia belajar menulis secara autodidak. Walaupun secara prinsip sudah bisa menulis, namun komposisi huruf masih sekenanya. Karena dia sendiri yang minta diajari menulis, saya rasa tidak ada salahnya mengajari dia cara menulis yang baik, setidaknya secara estetis tidak terlalu kacau.

Saya rancang form untuk menulis di komputer dan dicetak di kertas HVS A4. Setelah itu, dibukukan dengan mempergunakan strapler dan lakban hitam. Covernya dari kertas concorde 220 gram berwarna biru. Saya beri judul: Buku Belajar Menulis Azkia Ainul Mardhiah, di beri dekorasi bunga, dan di bagian bawahnya ditambahkan kata: "homeschooling". Sudah bisa ditebak, Azkia senang sekali, karena ia merasa istimewa dengan buku pribadi seperti itu.

Setelah acara menulis selesai, saya mulai memperkenalkan konsep worksheet sebagai tantangan. Sebuah teks dengan kata-kata yang tidak lengkap. Dia harus mengisi kata yang kosong dengan daftar kata yang ada di sebuah kotak. Isi teks sebenarnya sudah sering dia baca sebelumnya di ensiklopedi, sehingga worksheet itu hanya sebagai reminder saja.

Hari sudah sore, pelajaran terstruktur dicukupkan dulu. Saya tahu, gumpalan rasa penasaran masih mengganggu Azkia. Tapi, masih ada esok, yang siap memberi tantangan berbeda.

Selasa, 18 September 2007

Ketika Anak Bersikap Baik


"Nasinya masih dimasak. Tunggu sebentar ya," ujar saya pada anak-anak. Mereka sudah minta makan siang, sementara saya agak terlambat memasak nasi.

Tak disangka si sulung Azkia berkata, "Nggak apa-apa. Kakak lagi sibuk beres-beres kok. Mama terusin aja kerja lagi."

Wah, merdu sekali terdengar di telinga. Begitulah ketika anak-anak sedang bersikap manis, kata-kata dan sikap mereka begitu menyenangkan.

Tapi saya sedikit merenung juga, kenapa adakalanya anak-anak be te sehingga prilaku mereka bikin kesal, tapi adakalanya juga mereka bersikap manis. Setelah dipikir-pikir, nampaknya itu tergantung juga dari sikap kita.

Anak-anak pun sesungguhnya punya ego bawaan sejak lahir, dan ego itu akan bekerja manakala benteng pertahanan mereka diserang dengan kata-kata atau sikap orang lain, termasuk orang tuanya, yang kurang menyenangkan. Sebaliknya, anak-anak juga makhluk yang tahu berterimakasih. Mereka akan bersikap sangat santun ketika orang tuanya juga ramah pada mereka.

Jadi, ramahlah pada anak untuk mendapatkan senyum dan sikap manis mereka yang indah.