Rabu, 14 November 2007

Bahasa: Tools Penting Menuju Ilmu Pengetahuan

Pelajaran bahasa seringkali dianggap kurang bergengsi, apalagi kalau hubungannya dengan bahasa Indonesia. Anak sekolah yang tidak tahu arti penting belajar bahasa, pasti sulit untuk menemukan keasyikan saat berada di kelas bahasa, mengerjakan tugas-tugas bahasa, dan bergaul dengan guru bahasa.

Akan tetapi, sejak SD saya termasuk orang yang senang pelajaran bahasa. Mood saya tidak pernah jatuh kalau berurusan dengan pelajaran yang satu ini: baik sastranya maupun gramatikanya, entah bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris; walaupun untuk saat itu saya juga tidak tahu apa tujuan belajar bahasa.

Ketika menginjak SMA, saat saya mulai dipertemukan dengan pelajaran bahasa Asing lain selain Inggris (waktu itu kebetulan Bahasa Jepang yang saya dapat), antusiasme saya untuk belajar bahasa dengan huruf-huruf unik ini sungguh besar. Sayangnya, guru bahasa Jepang saya terlanjur pindah. Sedih juga rasanya. Tapi, karena saya sangat suka, keinginan untuk belajar bahasa ini terus berlanjut. Saya mengambil jurusan Sastra Jepang pada UMPTN tahun 1994. Namun, lagi-lagi tidak berjodoh. Saya gagal masuk PTN di jurusan Sastra Jepang. Sampai akhirnya tahun 1995 saya "terjerumus" masuk sastra Rusia yang notabene juga berhubungan dengan bahasa.

Terlepas dari perjalanan saya menyukai bahasa dan gagal menempuh studi di jurusan yang saya mau, baru kini saya menyadari arti penting mempelajarinya. Bahasa apapun itu, adalah alat untuk mengakses pengetahuan.

Perguruan Tinggi yang mengkhususkan diri dalam mengajarkan bahasa mungkin sudah cukup banyak. Akan tetapi, mengolah muatan pelajaran sehingga benar-benar "ready for used" di lapangan saat mahasiswa lulus mungkin tak banyak PT yang melakukannya. Belajar bahasa seringnya hanya murni untuk bahasa, dan bukan untuk dipergunakan dalam kehidupan. Pelajaran bahasa akhirnya menjadi satu unit studi yang masa belajarnya begitu panjang (4 tahun untuk S1- kalau lulusnya cepat), padahal sesungguhnya bisa diperpendek dengan lebih banyak mengedepankan aplikasi daripada teori.

Bahasa Asing untuk Anak Usia Dini
Anak-anak pada usia "emas" (0 - 5 tahun) akan lebih mudah menyerap pelajaran berkali-kali lipat dari orang dewasa. Oleh karena itu, memberinya stimulus dengan beragam bahasa akan sangat membantu mereka untuk belajar dari banyak sumber pengetahuan di seluruh dunia.

Kalau hingga hari ini, bahasa Asing masih dianggap cukup eksklusif, sehingga kita berpikir bahwa untuk menguasainya anak-anak harus menunggu saat kuliah tiba, sungguh hal itu bukan lagi masanya.

Anak-anak bisa mempelajari banyak bahasa sekaligus lewat cara-cara yang mengasyikan, entah VCD ataupun poster-poster bergambar. Bukan untuk membuat mereka tampak hebat dan brilian. namun semata untuk memberi mereka tools menuju ilmu pengetahuan yang tak terbilang banyaknya di berbagai belahan dunia ini.

Satu hal yang pasti, rambu-rambunya adalah tidak memaksa anak untuk belajar secara khusus pada saat mereka memang belum menyukainya.

Salam pendidikan!

Minggu, 11 November 2007

Pusat Baca Masyarakat Desa: Edukasi Kerakyatan untuk Mencintai Buku

Tak bisa dipungkiri, pembeli buku di negeri kita belumlah seimbang jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Selain itu, fakta menunjukkan bahwa pembeli buku masih didominasi oleh orang kota, atau kalaupun ada orang desa, mereka adalah orang-orang sudah yang bermigrasi atau bersekolah ke kota. Oleh karena itu, wajar jika akhirnya mayoritas penerbit tidak membidik pasar pedesaan untuk pendistribusian buku-bukunya. Pertimbangan marketing menjadi faktor utama.

Akan tetapi, peluang untuk membidik pasar pedesaan sebenarnya masih terbuka lebar. Satu hal yang mungkin tidak disadari, orang desa itu sebenarnya juga konsumtif. Banyak orang desa sekarang ini mampu membeli TV, DVD, lemari es, mesin cuci, kendaraan bermotor, dan peralatan modern lainnya. Artinya, secara finansial sesungguhnya mereka juga mampu. Persoalannya adalah: ada atau tidaknya rasa butuh terhadap buku.

Bertitik tolak dari persoalan tersebut, maka edukasi terhadap masyarakat desa tentang penting dan asyiknya membaca buku adalah program awal. Karena menyuruh orang desa membeli buku pada tahap pertama sudah pasti akan sia-sia.

Prioritas dari program edukasi tersebut adalah menyediakan pusat baca pedesaan atau TBM (Taman Baca Masyarakat) jika kita mempergunakan istilah diknas. Buku-bukunya disuplai oleh orang-orang yang peduli dengan pentingnya membaca buku, sehingga buku-buku yang tersedia di pusat baca bukanlah buku-buku yang isinya kurang bermutu, melainkan buku-buku yang akan menginspirasi orang untuk maju. Setahap demi setahap, dengan semakin tingginya ketertarikan terhadap bahan bacaan, diharapkan buku pun akan diminati masyarakat desa sebagai sebuah produk yang wajib dibeli.

Prosesnya panjang dan lama? Hal itu harus siap dihadapi. Namun bukan tidak mungkin, dengan konsistensi para pengelolanya dan bantuan penuh dari banyak pihak, termasuk insan-insan penerbitan buku, proses itu akan berlangsung lebih cepat.

Bagaimana Mendirikan TBM
Siapapun yang tertarik mendirikan TBM, informasi berikut mungkin bisa dijadikan acuan.

Syarat Berdirinya TBM
1. Tersedia tempat/ruangan yang memadai dan nyaman berukuran minimal 3 x 4 m
2. Lokasi yang mungkin dipergunakan adalah PKBM, balai desa, PAUD, masjid, atau tempat tinggal yang dianggap memadai
3. Tersedia koleksi buku minimal 50 judul buku dengan minimal 2 eksemplar untuk setiap judul. Jadi total buku yang tersedia adalah 100 buku.
4. Tersedia Rak buku sederhana berikut karpet ataupun meja dan kursi.
5. Tersedia Papan Nama TBM
(Sumber: Iklan Layanan Masyarakat, Harian "Pikiran Rakyat" edisi Kamis, 8 November 2007)

Strategi Menghidupkan Taman Bacaan
Penyakit yang seringkali muncul dalam pengelolaan taman bacaan adalah kurangnya pengunjung. Akibatnya, para pengelola atau pengurusnya pun jadi patah arang. Baru seminggu atau paling lama sebulan, taman bacaan sudah tutup lagi.

Program-program pemancing sangatlah penting dalam hal ini. Adanya sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP, atau mungkin juga SMU di setiap kecamatan merupakan modal untuk dijadikan pelanggan taman bacaan. Pengelola TBM bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan siswa-siswanya, seperti bedah buku, lomba bikin resensi, lomba nulis cerita, lomba madding, dan lain sebagainya. Di sinilah para penggiat dan kolektor buku sangat dibutuhkan support-nya, minimal untuk menyediakan hadiah berupa buku bagi para pemenang.

Dampak Signifikan Lain TBM
Lebih jauh dari sekedar menumbuhkan minat baca dan minat membeli buku, kehadiran TBM diharapkan mampu memberikan edukasi tidak langsung bagi generasi muda pedesaan tentang kepedulian terhadap daerah dan masyarakatnya.

Urbanisasi yang tak terbendung dari desa ke kota telah menyebabkan ketimpangan komposisi penduduk. Wilayah perkotaan semakin sesak dan tak tertata karena banyaknya para urban yang mencari nafkah di kota. Salah satu penyebab urbanisasi adalah ketidakmampuan orang desa untuk melihat potensi daerahnya sebagai lahan untuk mencari nafkah.

Sumber daya alam yang melimpah di desa tidak terberdayakan dengan baik karena pengetahuan akan hal itu memang sangat minim. Orang desa akhirnya memilih jalan instan dengan bekerja di kota, entah sebagai buruh, PRT, dan lain-lain, karena langkah itulah yang dianggap lebih cepat membawa mereka pada uang.

Harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik pada masyarakat kita pasti ada di benak banyak orang. Namun melakukan langkah-langkah kecil untuk mewujudkan harapan itu akan jauh lebih berarti daripada merangkai imajinasi besar yang tak terpetakan dalam kapasitas kita masing-masing.

Mensedekahkan minimal 1 saja koleksi buku Anda untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat akan sangat membantu pemerataan wawasan dan pengetahuan pada mereka yang sulit mengaksesnya. Insyaallah, kebajikan itu akan terus mengalir berkahnya hingga kita kembali kepada-Nya. Hal itu disabdakan Nabi Muhammad saw, "Semua amal akan terputus pada saat seseorang telah meninggal dunia, kecuali 3 hal: anak yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal sedekah".

(Mohon Koreksi jika ada kesalahan)

Minggu, 04 November 2007

Mengamati Gaya Belajar Anak

Pernahkah kita mencari tahu, mengapa ada anak yang bisa duduk diam dan ada pula anak-anak yang tak pernah berhenti bergerak; ada anak yang suka mendengarkan cerita tapi ada juga yang lebih suka membaca buku atau melihat-lihat gambar. Selama ini, khususnya di sekolah formal, hal-hal semacam itu mungkin hanya dijadikan catatan, namun tak membuahkan gagasan untuk menerapkan model belajar yang paling sesuai untuk setiap anak yang berbeda tersebut.

Bagi para pendidik rumahan alias orang tua, mengamati gaya anak-anak dalam beraktivitas tidaklah sulit.Namun tahukah kita bahwa gaya setiap anak dalam beraktivitas adalah cerminan dari gaya belajar mereka. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih model belajar paling tepat bagi mereka.

Thomas Amstrong memilah gaya belajar setiap orang menjadi tiga: Visual, Auditori, dan Kinestetik (Haptik). Mereka yang bergaya belajar visual sangat peka dengan gambar dan sesuatu yang menarik indera penglihatan lainnya. Oleh karena itu, anak-anak bertipe visual akan sangat terbantu belajarnya jika kita banyak mempergunakan gambar atau video.

Adapun mereka yang bertipe auditori, akan sangat tertarik dengan stimulasi yang memancing indra pendengaran: mungkin lagu atau musik/irama. Suara mereka biasanya nyaring dan senang berceloteh. Oleh karena itu, sangat baik bagi anak-anak auditori untuk memperoleh bantuan berupa kaset berisi lagu atau kata-kata berirama, dongeng, dan alat-alat stimulasi pendengaran lainnya.

Terakhir adalah gaya belajar kinestetik (haptik). Anak-anak haptik sangat suka bergerak, dan cara mereka belajar memang membutuhkan unsur gerak fisik. Mereka akan tersiksa jika dipaksa untuk duduk diam saat belajar. Namun, gaya belajar yang satu ini memang masih sulit diterima di sekolah formal yang pasti klasikal (terdiri atas banyak anak di dalam kelas). Biasanya, guru yang tidak mengerti akan memberikan label "nakal" atau "pengganggu" pada mereka.

Memilih model belajar yang sesuai dengan gaya belajar anak, sangat penting agar proses belajar selalu berlanjut dengan suasana yang asyik bagi mereka.

Lalu, bagaimana jika gaya belajar anak-anak kita mungkin saja berbeda dengan gaya belajar orang tuanya? Tentu saja, orang tua harus 'legowo' untuk menerapkan model belajar yang sesuai dengan anak-anak. Jika pun kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita bisa minta bantuan nenek, tante, atau teman dekat yang memang memiliki gaya yang cocok untuk mengajar anak-anak kita. Nggak ada salahnya, kan?

Salam pendidikan!

Sekolah Calon 'Orang Tua'

Menjadi orang tua seringnya hanya akibat alamiah, karena sebuah pasangan menikah dan kemudian punya anak. Oleh karena itu, persiapan untuk menjadi orang tua mungkin hanya sedikit orang yang melakukannya dengan matang sebelum menikah.

Kejutan demi kejutan saat pertama kali menjadi ayah atau ibu seringkali tak terbayangkan sebelumnya. Pada beberapa pasangan kejutan-kejutan tersebut bisa dilalui dengan lebih santai karena mereka sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan sebelum anak lahir. Akan tetapi, pada banyak pasangan, ternyata menghadapi anak-anak, terlebih untuk mendidik mereka cukup membuat repot karena mereka sangat awam tentang hal tersebut.

Bagaimana mengatasi persoalan itu? Sekolah untuk Calon Orang tua nampaknya perlu juga didirikan. Meski bukanlah sebuah sekolah formal, namun setidaknya berupa komunitas belajar orang tua (Learning Community for Parents) agar setiap pasangan yang baru menjadi orang tua memiliki bekal untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Contoh kecil, seperti bagaimana menstimulasi gerak fisik bayi seringkali luput dari pengetahuan pasangan baru. Banyak orang tua mempergunakan baby walker pada saat bayi masih berusia 5 atau 6 bulan. Harapannya, supaya bayi bisa bergerak leluasa di tengah keterbatasan fisik mereka yang masih belum bisa berjalan. Akibatnya, banyak bayi pengguna alat itu justru mengalami hambatan dalam merangkak dan lambat bisa berjalan.

Penemuan terbaru menunjukkan bahwa stimulasi motorik kasar yang lebih ampuh justru dengan membiarkan bayi kita mengekplorasi ruangan tanpa bantuan alat apapun. Biarkan mereka merayap, merangkak, dan kemudian belajar berjalan di atas lantai dengan leluasa. Mereka mungkin sesekali terantuk ke lantai, jatuh, atau kepalanya membentur dinding. Kita tidak perlu khawatir secara berlebihan, karena sesungguhnya hal itu sangat berguna bagi mereka untuk menempuh setiap tahapan perkembangan motoriknya.

Calon orang tua semestinya memiliki pengetahuan-pengetahuan dasar seperti itu sebelum anak lahir. Kalau sekolah untuk itu belum banyak didirikan, siapa tahu Anda terinspirasi untuk mendirikannya di lingkungan terdekat.

Salam pendidikan!

Senin, 29 Oktober 2007

Mainan Baru dari Limbah Pohon (Bagian 2)

Ini adalah tulisan kedua tentang mainan dari limbah pohon; sebagai sebuah apresiasi terhadap sumber alam yang murah untuk memancing imajinasi anak-anak.

Pohon Mainan untuk Membuat Hutan
Bahan:
1. Ranting pohon yang banyak cabangnya dengan ukuran sesuai selera
2. Kertas Warna
3. Lem
4. Gunting
5. Pisau


Cara Membuat:
1. Bersihkan ranting dari daun-daun yang masih menempel
2. Untuk mendapatkan ranting yang mulus, kita bisa membersihkan kulitnya dengan menggunakan pisau dan ampelas jika ada
3. Bentuklah kertas warna (yang sesuai untuk warna pohon atau sesuai selera anak) menjadi kumpulan daun berpasangan atau rangkap dua.
4. Tempelkan tiap pasang daun tiruan itu mengapit ranting.
5. Maka jadilah pohon yang siap mengisi hutan buatan.

Tentu kita akan membutuhkan banyak pohon untuk menciptakan sebuah hutan. Tunggu tulisan berikutnya untuk mengetahui cara membuat hutan. Selamat mencoba!

Kamis, 25 Oktober 2007

Mainan Baru dari Limbah Pohon (Bagian 1)


Anda pasti pernah melihat fenomena ini: pohon yang telah dipangkas dibiarkan menumpuk di pojok halaman atau di buang ke tempat yang jauh lalu dibakar setelah kering. Bahkan tukang sampah pun tak mau membawanya karena bisa membuat truk menjadi cepat penuh. Tapi sungguhkah 'limbah' pohon ini sama sekali tak berguna?

Pagi sekitar jam 9 tetangga saya terlihat mengangkut tumpukan ranting dan batang pohon yang baru pangkas untuk dibuang di pinggiran kolam. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya untuk meminta sebagian ranting-ranting itu untuk bahan belajar anak-anak. Sudah lama saya ingin mengajak anak-anak bermain dengan bahan-bahan alam. Sayangnya di perkotaan memang sangat sulit memperoleh bahan-bahan itu, walau hanya sebatang ranting pohon. Bersyukur sekali hari ini ada tetangga yang memangkas pohon di depan rumahnya dan membuang limbahnya.

Sedikit kreativitas sesungguhnya bisa membuat limbah pohon menjadi asyik sebagai mainan anak-anak. Malah anak-anak juga terlihat menikmati proses pembuatannya dengan melibatkan mereka dalam beberapa pekerjaan, seperti menguliti batang pohon serta membersihkan sampah-sampah setelah pekerjaan selesai.

Saya akan menampilkan beberapa mainan yang bisa kita buat dari bahan limbah pohon ini dalam 4 seri tulisan, yaitu kelereng luncur, "pohon" gelas, hutan, peternakan, dll. Inilah yang pertama.

Kelereng Luncur


"Pohon" Gelas


Semoga menjadi inspirasi bagi Anda.

Selasa, 23 Oktober 2007

Memperkenalkan Tanaman Obat


Semenjak saya tahu dan merasakan efek negatif obat-obatan modern, saya semakin tertarik dengan tanaman obat. Saya pikir, dengan pengetahuan yang memadai, beberapa penyakit ringan bahkan juga penyakit berat sesungguhnya bisa diatasi dengan obat-obatan alami. Tujuannya, untuk meminimalkan resiko penurunan kekebalan tubuh.

Oleh karena itulah saya memasukkan pengetahuan tentang tanaman obat dalam kurikulum belajar anak-anak. Saya berharap, dengan mengenal tanaman obat sejak kecil, anak-anak akan lebih akrab dan juga cinta obat-obatan alami.

Tahapan Belajar

Pertama kali yang kami lakukan adalah melihat macam-macam gambar tanaman obat. Setelah itu kami pilih 5 jenis yang paling mudah diperoleh di sekitar kami atau dibeli di warung. Sebagai permulaan kami ambil kunyit, jahe, kencur, lengkuas, dan daun sirih.



Anak-anak diminta untuk mengamati bentuk fisik masing-masing tanaman obat tersebut, membauinya, dan memotongnya untuk melihat bagian dalam khusus untuk umbi-umbian. Sebagai permainan kita juga bisa bermain tebak-tebakan untuk mendeteksi kepekaan penciuman. Dengan mata di terpejam, mintalah anak-anak untuk mencium bau salah satu rempah dan menebak namanya.

Acara belajar bisa dilanjutkan dengan menanam rempah tersebut di dalam pot untuk mengetahui bentuk daun dan batangnya. Mengamati tanaman itu bertunas setiap hari juga mengasyikkan.


Setelah belajar praktis dilakukan, saya mengambil info lebih detail tentang tanaman-tanaman tersebut di wikipedia versi indonesia www.id.wikipedia.org, dan anak-anak pun bisa membacanya pada saat senggang, terutama mengenai karakteristik dan fungsi tanaman-tanaman tersebut dalam pengobatan penyakit.

Semoga menjadi inspirasi bagi Anda