Senin, 29 Agustus 2011

Perjalanan di Bulan Ramadhan 1

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)". (Ar Ruum : 42)




Ayat senada akan kita temukan juga pada Al Quran surat Al Israa':37, Al Hajj:46, Ar Ruum:9, Al An'am:11, dan Ali Imran:137. Tanpa sadar, anjuran untuk melakukan perjalanan di muka bumi ternyata begitu sering diungkapkan dalam Al Quran. Karena itulah, kami coba manfaatkan masa perjalanan jelang idul Fitri ke sanak family di pulau Sumatera dengan sebaik-baiknya. Kami usahakan agar perjalanan tersebut memberi manfaat untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kemampuan bertadabur, menyelami makna-makna lewat segala sesuatu yang kami alami, kami lihat, dan dengar sepanjang perjalanan.





Sejak 19 Agustus 2011, kami sudah berada di Payukumbuh, Sumatera Barat. Memang terlalu jauh dari jadwal idul fitri, tapi banyak ketenangan yang dirasakan karena hal itu. Jalanan belum macet, kendaraan bisa melenggang bebas. Selama 8 hari kami berada di Payakumbuh, di sela-selanya kami bisa berkunjung ke Bukittinggi melihat-lihat tempat khas di sana.



Bagi anak-anak hal tersebut seperti hal baru lagi. Pernah kami ke sana saat mereka masih kecil. Memori mereka tentang hal tersebut mungkin sudah memudar. Kami berkunjung melihat jam gadang, istana bung hatta, dan lobang jepang, sekaligus memandangi ngarai sianok yang terkenal itu.



Saat memasuki gerbang lobang jepang, rasa penasaran Luqman meningkat. Mengapa disebut lobang jepang, apa yang yang dilakukan jepang di indoenesia, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Momentum belajar pun begitu pas, apalagi bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan. Kami bisa cerita tentang masa penjajahan yang dialami bangsa Indonesia dan berbagai peristiwa. Belum lengkap memang, tapi hal itu memunculkan daya tarik untuk belajar sejarah sendiri setelah pulang, seperti yang selama ini sering terjadi.



Kelebihan yang terasa belajar sejarah lewat cerita ketimbang hanya menyalin catatan dari buku pelajaran sejarah saat saya sekolah dulu, anak-anak jadi terlihat antusias, bebas bertanya, bebas dari beban untuk menghafal, dan tentu saja bisa lebih leluasa mengait-ngaitkan dan menanamkan nilai-nilai heroisme secara lebih mendalam.





Mengenal Budaya


Jika anak-anak hanya tinggal di satu tempat tanpa mengenal daerah-daerah lain, pastinya mereka hanya mengenal budaya yang homogen. Hal itu sedikit menyulitkan mereka ketika suatu hari harus beradaptasi di tempat yang berbeda. Saya kini malah merasakan pentingnya program pengenalan lintas budaya dengan mengunjungi banyak daerah yang berbeda. Dari sana anak-anak akan belajar tentang memahami, mengenal alternatif, dan mengharagai orang lain. Bahkan, tak jarang banyak kebiasaan positif di daerah lain bisa menginspirasi mereka untuk menemukan hal-hal baru



Yang paling saya rasakan, anak-anak benar-benar mengalami adaptasi terhadap makanan. Kami yang tinggal di tanah Sunda dan lebih sering makan makanan Sunda harus mau mencoba makanan yang disediakan tuan rumah, tidak menyulitkan mereka. Sebenarnya ada kontras tajam antara makanan Sunda dan Minang, tapi ternyata pengetahuan sebelumnya tentang menghargai makanan yang disajikan membuat adaptasi terjadi lebih mudah dan alami.



Hal lainnya? Insya Allah akan saya ceritakan pada tulisan ke-2. Perjalanan kami ke Aceh Selatan pada tanggal 26 Agustus 2011 tak kalah menakjubkan dan memberi banyak pelajaran.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar