Senin, 02 April 2012

n(E)geriku

Bosan aku mengatakan ini.

Bosan aku melakukan hal semacam ini. 

Aku rindu kejayaan sebuah negeri.

Dari yang ada hingga tiada.

 Belum cukup negeri menjadi misteri.

Mulai Proklamasi hingga sampai Reformasi.

Para tikus senang mengotori sang saka.

Hingga akhirnya para pendiri bangsa enggan berdoa dari dalam goa.

Banyak keadilan yang dinilai kurang adil.

Dari sendal jepit yang dimiliki kaum kecil.

Tak ubahnya seekor rubah di kantong tuan.

Melalui profesi kau khianati janji dan memegang kendali untuk bertahan.

Aku sedih melihat kesedihan di langit.

Air mata yang menetes di butanya negeri dan gelak tawa di cangkir para petinggi.

Yang Maha kian hari kian merana.

Hingga tak ada rasa sadar dan salah atas dasar sejarah.

Mulai melihat satu sama lainnya.

Mencari demi masa depan yang belum pasti kebenarannya.

Onggok ketidaktahuan akibat tidak mau mengerti.

Melawan butir falsafah hidup dari tingginya supremasi Garuda.

Pendidikan merasuk pada semangkuk abu.

Mengisi kekosongan disegala sektor dari buku hingga sabu.

Kaum kerja jadi takut bila terus berubah.

Dari hasil panen desa hingga buruh yang tak mau rubuh.

Si tahta kian bingung mengatur jubahnya dari kamar.

Si murba menangis meminum air mata dari dalam jeruji besi.

Model tv jadi rebutan masa kini. Tak laku bila tanpa memakai pakaian yang baru.

Terus disorot hingga mata menjadi melotot.

Dari tiru-tiru barat yang tak menyadari tentang melarat.

Dari berdikari hingga masa actie.

Dari rusaknya hutan hingga hanyutnya pertiwi.

Bukan almamater yang terlipat rapi di almari.

Hingga apatis dan hedon selalu berebut massa di siang hari.

Senjata khas menjadi mainan yang lumrah.

Hukum rimba yang hanya akan membuang darah.

Dari saku hingga uang pribadi.

Baik cair maupun padat menjadi dilema bagi yang mengabdi.

Ya, itu n(E)geriku

Posted by:  Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar