Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Muasal Sejarah Nama Indonesia

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). 

Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). 

Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa). 

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). 

Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais). Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). 

Nama Insulinde ini kurang populer. Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. 

Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”. Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. 

Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. 

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. 


Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. 

Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan. Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). 

Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiĆ«r (orang Indonesia). Identitas Politik Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. 

Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. 

Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya : “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. 

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.” Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. 

Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda menolak mosi ini. Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Dan setelah itu lahirlah bangsa Indonesia. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Senin, 02 April 2012

n(E)geriku

Bosan aku mengatakan ini.

Bosan aku melakukan hal semacam ini. 

Aku rindu kejayaan sebuah negeri.

Dari yang ada hingga tiada.

 Belum cukup negeri menjadi misteri.

Mulai Proklamasi hingga sampai Reformasi.

Para tikus senang mengotori sang saka.

Hingga akhirnya para pendiri bangsa enggan berdoa dari dalam goa.

Banyak keadilan yang dinilai kurang adil.

Dari sendal jepit yang dimiliki kaum kecil.

Tak ubahnya seekor rubah di kantong tuan.

Melalui profesi kau khianati janji dan memegang kendali untuk bertahan.

Aku sedih melihat kesedihan di langit.

Air mata yang menetes di butanya negeri dan gelak tawa di cangkir para petinggi.

Yang Maha kian hari kian merana.

Hingga tak ada rasa sadar dan salah atas dasar sejarah.

Mulai melihat satu sama lainnya.

Mencari demi masa depan yang belum pasti kebenarannya.

Onggok ketidaktahuan akibat tidak mau mengerti.

Melawan butir falsafah hidup dari tingginya supremasi Garuda.

Pendidikan merasuk pada semangkuk abu.

Mengisi kekosongan disegala sektor dari buku hingga sabu.

Kaum kerja jadi takut bila terus berubah.

Dari hasil panen desa hingga buruh yang tak mau rubuh.

Si tahta kian bingung mengatur jubahnya dari kamar.

Si murba menangis meminum air mata dari dalam jeruji besi.

Model tv jadi rebutan masa kini. Tak laku bila tanpa memakai pakaian yang baru.

Terus disorot hingga mata menjadi melotot.

Dari tiru-tiru barat yang tak menyadari tentang melarat.

Dari berdikari hingga masa actie.

Dari rusaknya hutan hingga hanyutnya pertiwi.

Bukan almamater yang terlipat rapi di almari.

Hingga apatis dan hedon selalu berebut massa di siang hari.

Senjata khas menjadi mainan yang lumrah.

Hukum rimba yang hanya akan membuang darah.

Dari saku hingga uang pribadi.

Baik cair maupun padat menjadi dilema bagi yang mengabdi.

Ya, itu n(E)geriku

Posted by:  Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Jumat, 30 Maret 2012

GERAKAN REFORMASI DI EROPA


Latar belakang gerakan reformasi

Gerakan (perbuatan atau keadaan bergerak; pergerakan atau usaha atau kegiatan di lapangan sosial) reformasi (perubahan secara drastis untuk perbaikan di bidang sosial, poltik, agama dalam suatu masyarakat atau negara) protestan (aliran dalam agama Kristen yang terpisah dari gereja katolik roma pada zaman reformasi abad ke-16 yang dipelopori oleh martin luther) merupakan tahap lanjutan dari gerakan renaisans di italia. Gerakan renaisans melahirkan prinsip nikmati hidup, manusia pada hakikatnya baik, percaya pada akal dan toleransi sedangkan reformasi menekankan prinsip bahwa akhirat dan kehidupan spiritual lebih penting dari kehidupan dunia, manusia pada dasarnya corrupt dan bejat moralnya, percaya pada keimanan dan konformitas (persesuaian; kecocokan; keseuaian sikap dan perilaku dengan nilai dan kaidah yang berlaku).

Kedua gerakan tersebut mempunyai kesamaan yaitu merupakan produk filsafat individualisme (paham yang menghendaki kebebasan berbuat dan menganut suatu kepercayaan bagi setiap orang; paham yang mementingkan hak perseorangan di samping kepentingan masyarakat atau negara) yang menempatkan manusia dalam posisinya yang amat terhormat serta kedua gerakan tersebut lahir dari pengaruh perkembangan kapitalisme (system dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan cirri persaingan di pasar bebas), perdagangan dan merkantilisme (system ekonomi untuk menyatukan dan meningkatkan kekayaan keuangan suatu bangsa dengan pengaturan seluruh ekonomi nasional oleh pemerintah dengan kebijaksanaan yang bertujuan mengumpulkan cadangan emas, memperoleh neraca perdagangan yang baik, mengembangkan pertanian dan industry, dan memegang monopoli atas perdagangan luar negeri) yang marak berkembang pada abad XIV-XVI. Selain itu keduanya lahir akibat perlawanan gigih terhadap dominasi lembaga kepausan dan gereja abad pertengahan.


Gerakan reformasi protestan pada hakikatnya merupakan produk perlawanan terhadap gereja katolisisme. Karena banyaknya kasus yang muncul dari para pemuka agama sehingga mengakibatkan terjadinya demoralisasi (kemerosotan akhlak; kerusakan moral). Sebab-sebab dari reformasi, dapat dilihat dalam krisis yang terjadi di lingkungan gereja katolik, seperti masalah keuangan gereja tentang surat pengampunan menjadi pertanyaan-pertanyaan teologis. Gereja mempunyai milik-milik duniawi, termasuk didalamnya; tanah, pajak, hak pemasaran dan sumber pendapatan lain yang lazim pada zaman pertengahan, juga hal politik yang menjadi sumber kekayaan.

Penyimpangan keagamaan tidak dengan sendirinya bisa melahirkan gerakan reformasi protestan seandainya tanpa diiringi oleh perkembagan kapitalisme dan krisis-krisis ekonomi dikawasan imperium roma. Inilah faktor ekonomis yang menimbulkan akselerasi kelahiran gerakan reformasi. Dari segi doktrin (ajaran atas suatu aliran politik, keagamaan; pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan, secara bersistem, khususnya di penyusunan kebijakan negara) keagamaan, perkembangan kapitalisme menuntut reinterpretasi (penafsiran ulang) terhadap doktrin katolikisme, kegagalan gereja mengantisipasi masalah ini menimbulkan krisis kepercayaan terhadap perkembangan sosial ekonomi yang terjadi.


Dalam kasus reformasi masalah pajak ternyata menimbulkan krisis ekonomi serius terlebih lagi saat penduduk kalangan kelas bawah seperti petani, pekerja, dan lain-lain merasa tertekan akan hal itu. Maka dari itu pada awal munculnya gerakan reformasi banyak tuntutan agar pajak-pajak itu dihentikan atau dikurangi.

Kaum bangsawan atau penguasa lokal mempunyai peran penting dalam membidani lahirnya gerakan reformasi bukan karena memiliki kesamaan cita-cita dengan kaum reformator melainkan juga termotivasi poltik dan cita-cita nasionalisme. Cita-cita politik dan ambisi kekuasaan inilah yang kemudian menggerakan mereka untuk membentuk apa yang dinamakan negara-bangsa.


Bangkitnya kesadaran nasionalisme dan protes terhadap ketimpangan ekonomi maupun penyimpangan agama memberikan fondasi sosial yang kokoh bagi kelahiran gerakan reformasi perotestan. Dengan begitu dapat terlihat bahwa banyaknya penyimpangan keagamaan, korupsi atas nama agama, pajak-pajak yang memberatkan ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal dan kebangkitan nasionalisme eropa membuat remormasi segera terjadi.


Reformasi protestan dibawah luther


Gerakan reformasi yang terjadi di jerman memiliki beberapa faktor yaitu kala gerakan reformasi yang terjadi abad XV-XVI di Jerman masih merupakan Negara agraris (menganai pertanian atau tanah pertanian; mengenai pertanian atau cara hidup petani) dan sektor industri perdagangan dan manufaktur (membuat atau mengahasilkan dengan tangan atau mesin; prsoses mengubah bahan mentah menjadi brang untuk dapat difunakan ata dikonsumsi oleh manusia) belum berkembang. Serta katolisisme yang berwatak konservatif (kolot; bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan dan tradisi yang berlaku) yang paling banyak dan kuat sangat berpengaruh di Negara ini. Penyembahan tarhadap benda dan tokoh dan penjualan surat-surat pengampunan dosa banyak di jual dinegara ini. Faktor lain yang mempunyai hubungan dengan Jerman sebagai tempat pertama reformasi protestan yaitu kaum tani yang merupakan sebagian besar mayoritas penduduk mengalami penderitaan akibat kekuasaan gereja katolisisime. Pajak-pajak yang memberatkan para pekerja dan petani ini sulit dihentikan. Mereka mempersoalkan masalah kepemilikan tanah dan kekayaan ekonomi lainnya, dimana harta kekayaan mereka sering diambil alih oleh gereja tanpa alas an yang jelas.


Yang lebih berpengaruh ketika jerman berada pada fase transisi ekonomi sehingga munculnya gerakan reformasi yang dianggap sebagai hal yang fundamental (bersifat dasar; mendasar atau pokok). Fase transisi ekonomi ini merupakan fase kritis dan rawan. Pada masa meletusnya reformasi, jerman sedang berada dalam fase transisi dari masyarakat feudal(berhubungan dengan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan; mengenai kaum bangsawan; mengenai cara pemilikan tanah pada abad pertengahan di eropa) ke masyarakat ekonomi profit (menuju masyarakat kapitalis). Dengan demikian gerakan sosial, keagamaan atau politik akan mudah terjadi hanya karena dimulai oleh kerusuhan-kerusuhan kecil.


Dalam konteks yang berbeda muncullah Martin Luther sebagai pelopor pembaruan agama, ia melahirkan gerakan reformasi protestan di jerman dengan melakuakan berbagai protes sosial-keagamaan pada masa kekuasaan paus. Martin luther (1483-1546) lahir tahun 1483 yang berasal dari keluarga petani makmur. Ayahnya mengehendaki luther menjadi ahli hukum, sehingga dengan sadar ia mulai menggandrungi mistisisme katolik dan juga berasal dari John Wicliff. Dimasa mudanya luther dikenal sebagai mahasiswa cerdas dan berani, ia kemudian mendalami teologi yang bersumber dari Augustianisme di Universitas Wittenberg, selanjutnya setelah lulus kuliah ia menjadi guru besar tafsir al-kitab di universitas yang sama.


Puncak reformasi yang dilakukan oleh luther ketika paus menjual surat-surat pengampunan dosa diluar batas, dan luther membacakan 99 pernyataan protes kepada gereja dan lembaga kepausan yang menjual surat-surat pengampunan dosa. Ia menilai pembelian surat itu tidak boleh dipaksakan dan harus didasarkan kesukarelaan. Hal lain yang sering didengungkan yaitu bahwa luther menentang doktrin sakramen suci gereja, pastor sebagai mediator antara manusia dengan tuhan, penyembahan tokoh dan benda keramat, karena menimbulkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak logis.


Di sisi lain luther mengatakan bila manusia ingin selamat ia harus melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang dianjurkan Tuhan. Banyak bertaubat langsung kepada tuhan tanpa melalui perantara pastor. Doktrin-doktrin luther ini telah meruntuhkan mitos-mitos kesucian yang berada dibalik kekuasaan gereja dan lembaga imamat.


Desakralisasi (penghilangan kesakralan; proses menghilangnya sifat sakral atau suci) lembaga kependetaan berdampak jauh yang mengakibatkan timbulnya tuntunan agar semua manusia dianggap sama dihadapan tuhan. Desakralisasi itu juga meruntuntuhkan sistem hierarki gereja. Di tambah pula bahwa luther menolak tradisi keagamaan katolik yang sudah berlangsung ratusan tahun yaitu hak membaca dan menafsirkan kitab suci yang disandangkan pada hak istimewa pastor.


Luther telah menggoyahkan sendi-sendi monastisisme katolik yang telah mapan selama berabad-abad lalu ia menganjurkan perkawinan bagi para pastor. Menyadari banyaknya tindakan tak terpuji menyangkut hubungan dengan wanita dikalangan pastor. Perkawinan menurutnya bukan suatu dosa dan merupakan tuntutan biologis yang patut dipenuhi. Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa luther berkaca dari pengalaman sebelumnya.


Disisi lain kekritisan terhadap paus yang di utarakan oleh luther tentang kekuasaan paus yang universal (umum berlaku untuk semua orang atau untuk seluruh dunia; bersifat melingkupi seluruh dunia) mendapat dukungan dari bangsawan dan penguasa. Hal itu disebabkan bahwa paus harus mengakui kekuasaan para pangeran atau penguasa sekuler suatu negara. Hal tersebut berdampak pada perbedaan otoritas politik dan otoritas keagamaan. Dengan kata lain paus harus mengakui kekuasaan otoritas politik penguasa negara dan tidak mencampuradukkan dengan otoritas agama.


Tesisi luther bahwa manusia hanya dapat di selamatkan oleh iman saja adalah gejala individualisme. Penolakannya pada sistem kependetaan yang lama merupakan salah satu alasan luther. Pandangan luther tentang organisasi gereja ialah adanya hubungan antara altar dan tahta, dengan demikian memperkuat tahta terhadap ancaman pemberontakan dan mendukung cita-cita pemerintahan absolut yang luas diterima dalam abad ke-16 dan 17 sewaktu mulai meningkatnya negara-negara nasional.


Ajaran-ajaran luther bukan saja memberikan kepastian rohaniah, tetapi melalui individualisme dari kepercayaan protestan menuju pada tujuan-tujuan untuk perbaikan sosial-ekonomi.


Secara keseluruhan gerakan reformasi dibawahi luther telah berhasil mengubah konsep imperium (kerajaan atau kekaisaran) dunia atau masyarakat universal menjadi konsep negara bangsa. Gerakan reformasi yang dibawa luther membawa semangat federalisme (paham yang menganjurkan pembagian negara atas bagian-bagian yang berotonomi penuh mengenai urusan dalam negeri) yang mengakibatkan imperium suci roma mengalami demoralisasi dan tumbuhnya benih-benih semangat nasionalisme dan separatisme (paham atau gerakan untuk memisahkan diri).


Reformasi Protestan yang dibawa luther mempunyai dampak yang besar yaitu sebagai sebuah gerakan keagamaan yang merasuk pada pada praktik dan pemikiran politik barat. Serta pandangannya mengenai kecocokan antara etos kapitalisme dengan etika keagamaan dan ia juga mengatakan bahwa kerja keras bagi penganut protestanisme merupakan sebuah panggilan tuhan agar memperoleh kekayaan ekonomi dan status sosial, karena bukanlah suatu dosa tetapi justru merupakan bentuk pengabdian kepada tuhan.


Pemikiran John Calvin

Calvin (1509-1564) telah meletakkan dasar teologis, filosofis, dan intelektual yang kokoh dalam keberhasilan gerakan reformasi protestan di eropa. Bedanya ialah dimana gerakan reformasi calvin lebih radikal dibanding luther, luther dinilai terlalu konservatif.

Calvin adalah reformator yang lahir di noyon, picardy, prancis pada tahun 1509. Sebagian hidup calvin dihabiskan di swiss namun dalam status kebangsaannya ia merupakan seorang perancis. Ibu dari calvin snediri sudah meninggal ketika calvin masih berumuran anak-anak. Dan akhirnya ayah calvin menitipkan anaknya kepada tetengganya yang seorang bagsawan untuk di didiknya. Calvin merupakan mahasiswa di universitas paris dan mendalami kajian hukum di orleans. Tahun 1541 ia mulai aktif sebagai penginjil, namun pada tahun 1564 yang pada usia 59 tahun, calvin meninggal akibat penyakit asma dan dyspepsia (gangguan pencernaan) yang dideritanya.

Pemikiran calvin yang terkenal yang menjadi basis teologis (berhubungan dengan pengetahuan ketuhanan berdasar pada teologi) dalam protestanisme yaitu tentang takdir. Calvin menjelaskan bahwa takdir manusia telah ditentukan oleh tuhan, siapapun tidak dapat mengubahnya bahkan pastor sekalipun. Doktrin calvin ini mempunyai kemiripan dengan konsep takdir augustinus bahwa semua manusia berdosa akibat kejatuhan dan dosa adam. Tapi calvin memberi asumsi bahwa manusia bisa selamat bila ia memperoleh rahmat tuhan, sehingga manusia dituntut untuk beramal kebajikan dan hidup asketis demi keagungan tuhan.

Asketisme (paham yangn mempraktekkan kesederhanaan, kejujuran dann rela berkorban) protestan ini mengajarkan orang perlu kaya dan tidak harus takut terhadap kekayaan. Kekayaan tidak mengakibatkan dosa tetapi yan meniimbulkan dosa ialah apabila kekayaan itu diperoleh denga cara haram untuk foya-foya dan kesenangan jasmani. Calvin mengutarakan bahwa perbuatan menyia-nyiakan waktu adalah sebuah dosa terbesar. Asketisme protestan ini juga menjunjung tinggi efisisensi (ketepatan cara dalam menjalankan sesuatu dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya) dan rasionalitas (pemikiran dengan pertimbangan yang logis).

Pemikiran calvin tentang konsep pemikirannya merupakan inspirasi dari ajaran nabi-nabi hedrew dan al-kitab baik perjanjian lama maupun perjanjian baru. Lalu sumber inspiratif lainnya timbul dari Lutheranisme, dimana ada kemiripan berupa doktrin asketisme duniawi, anti terhadap sakramen suci dan monastitisme menunjukkan bahwa luther membawa pengaruh terhadap calvin. Dan sumber lain yang menginspiratif dia membuat konsep sedemikian rupa yaitu dari sumber-sumber ajaran islam, namun faktor ini baru perupa dugaan sementara. Pengikut calvin diskotlandia menamakan dirinya prebyterian, di inggris puritan. Di beberapa negara lain seperti belanda, perancis, jerman, polandia, dan hungaria, tersebut calvinissangat berpengaruh

Bila dikaji lebih terstruktur terlihat perbedaan antara calvin dan luther ialah dalam konsepnya tentang hubungan antara kristus dengan penganut-penganut. Bagi luther keselamatan hanya dengan iman saja. Bagi calvin kekuasaan tuhan dan dosa manusia yang tak dapat ditebus mewarnai seluruh konsep. Dosa adalah pusat dari ajarannya.

Dampak reformasi protestan di barat

Dampak dari gerakan reformasi protestan yang pertama adalah dampak sosial politik terhadap eropa dan negara-negara barat pada umumnya. Hal ini terlihat dikala western christendom menjadi negara nasional kecil tanpa memiliki pusat kekuasaan. Dalam kehidupan sosial dan politik terjadi pula pergeseran. Paus kehilangan kekuasaannya dengan makin kuatnya negara-negara nasional. Akibat yang lain adalah tercampurnya masalah keagamaan dengan urusan politik; lebih dari seratus tahun sampai tahun 1468, eropa dilanda perang saudara, perang antar negara dengan masalah agama yang tercampur masalah politik. Sedangkan Dalam hal keagamaan, reformasi menghasilkan; gereja katolik terpecah, dan susunan yang lama ditinggalkan. Gereja dan dunia kristen direorganisasi kembali. Serta moralitas individual dan mulai penyelidikan teologis yang bebas. Agama kristen banyak di nasionalisasir. Dan dogma-dogma katolik semakin sempit dengan perlawanannya terhadap protestanisme karena selalu menarik garis-garis pemisah yang jelas. 

Zaman pertengahan didasarkan pada kepercayaan, baik dalam masalah keagamaan atau kehidupan sosial. Pandangan sosial pada zaman pertengahan ini dimanifestasikan pada susunan masyarakat dan sikap gereja terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Ditengah pandangan yang demikian ini borjuasi tumbuh sebagai kekuatan perusak atai pembangun.

Peradaban zaman pertengahan adalah peradaban otoritas dan katolisisme adalah agama yang mendasarkan diri pada otoritas, sedangkan protestanisme berdasarkan inner personal conviction, suatu agama individual.
Reformasi merupakan awal lahirnya gagasan demokrasi yang dijiwai oleh etika dan nilai keagamaan. Karena gerakan reformasi telah menumbuhkan kesadaran indivisual akan oentingnya hak-hak politik.

Melahirkan suatu keadaan dan kondisi yang menjurus pada terbentuknya negara kekuasaan. Karena pada prakteknya gerakan ini menimbulkan benih-benih kekuasaan absolut di eropa, hal itu juga memberikan andil terhadap munculnya konsepsi hak-hak ketuhanan para penguasa atau raja.

Reformasi bertanggung jawab terhadap intoleransi dan perang saudara dan agama dibarat akibat adanya perbedaan calvinisme dan katolik tersebut sehingga banyak kerugian yang di derita oleh kedua belah pihak selama berabad-abad. Karya seni bahkan hingga gereja dan bangunan keagamaan dihancurkan oleh kaum protestan dengan mengatasnamakan Tuhan. Contohnya di inggris dengan kaum puritan (orang yang hudup saleh dan menganggap kemewahan dan kesenangan sebagai dosa; anggota mazhab protestan yang pernah berkembang abad ke-16 dan abad ke -17 di inggris yang berpendirian bahwa kemewahan dan kesenangan adalah dosa) sebagai subjek dalam pelaku utamanya. Pembaharuann yang terjadi di inggris yang merupakan jalan tengah antara katolisisme dan protestanisme, yang akhirnya menjadi gereja sendiri.

Lain halnya di prancis, dimana kampung halaman calvin ini melahirkan 5 kali perang saudara antara tahun 1562-1593. Mulai dari kota hingga desa mengalami keretakan dalam tingkat sosial yang tinggi serta dalam agama sangat sensitif. Perang saudara terus terjadi selama itu hingga menimbulkan banyak korban jiwa, namun lambat laun terdapat motif dibalik adanya peperangan yang dimanfaatkan sebagian orang untuk mendapatkan tempat dalam perpolitikan dalam lingkup kaum feodal. Sedangkan di negeri belanda pemberontakan dimulai tahun 1572 adalah akibat gerakan calvinisme.


Hampir seluruh eropa mencekam setelah adanya gerakan reformasi protestan ini bahkan di belanda, di belanda hal ini memancing pemberontakan rakyat terutama kaum tani, karena bila rakyat tak bayar pajak maka akan di bunuh. Pangeran philip merasa dikhianati oleh rakyatnya sehingga beliau mengirimkan pasukan untuk mengikis berkembangnya kaum protestan. Namun rakyat tak hanya diam mereka meskipun terdesak dan juga membuat pihak rakyat yang menjadi korban namun pada tahun 1609 terjadilah perang atas nama Tuhan yang di mulai dari rakyat menuntut banyaknya korban dengan tujuan pangeran philip, dan pada akhirnya pangeran philip bisa dikalahkan. 


Kedua reformasi ini juga mengakobatkan terbaginya agama kristen menjadi sekte-sekte kecil; lutheranisme, calvinisme; anglicanisme; quakerisme; katholikisme. Meskipun di tijau dari segi doktrin-doktrin fundamentalnya sekte-sekte ini tidak memiliki prinsip berbeda, tatapi timbulnya sekte ini menyebabkan kesan keretakan serius dalam agama kristen. Akibatnya banyak bagian eropa terkotak-kotak dalam berbagai sekte, dimana pembagian ini dalam lingkup agama; dari jerman utara dan negara sakndinavia (swedia dan norwegia) menganut lutheranisme; skotlandia dan belanda serta perancis menganut calvinisme; dan negara-negara eropa lainnya seperti spanyol dan italia tetap menganut katolisisme (ortodoks).


posted by Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Minggu, 11 Maret 2012

PERMULAAN PERDAGANGAN BELANDA DAN INGGRIS DI INDONESIA

A. PERDAGANGAN BELANDA

Pada pertengahan pertama abad XVI, keadaan perdagangan Belanda masih tetap seperti keadaan abad-abad sebelumnya.Pelayaran yang diselenggarakan masih berkisar antara Eropa Utara dengan Eropa Selatan.Pelabuhan-pelabuhan di negeri Belanda masih berfungsi sebagai tempat pemberhentian dan pemuatan barang-barabg ke kapal. Dalam lapangan perdagangan internasional, kota Antwerpen menempati peran yang penting. 

Kapal – kapal dari berbagai bangsa dating ke Antwerpen membawa barang-barang yang berasal dari Cadiz, Lisabon, Inggris, dan juga dari daerah timur.Eksport terpenting Antwerpen adalah laken. Hamper semua pedagang besar Eropa memiliki kantor dagang sebagai perwakilan di kota ini. Ketika terjadi perselisihan antara Belanda dengan Spanyol, Antwerpen memihak kepada Belanda.Pada akhir abad XVI pedagang-pedagang Belanda mulai mengadakan pelayaran di Laut Tengah.

Dalam tahun 1580 terjadi perubahan politik akibat dikalahkannya Portugas atas Spanyol.Akibatnya pedagang Belanda mengalami kesusahan dalam perdagangan.Para pedagang Belanda akhirnya merasa perlu untuk menemukan sendiri jalan ke arah timur, ke daerah sumber barang-barang yang sebelumnya dapat diperoleh di Lisabon. Kondisi-kondisi objektif yang dimiliki oleh para pedagang Belanda sebagai dorongan untuk menemukan jalan ke timur (Hindia) adalah : 

1. Modal yang mereka miliki sebagai keuntungan perdagangan laut timur sudah cukup untuk mengadakan penjelajahan ke dunia Timur. 

2. Syarat-syarat teknis sudah terpenuhi untuk melakukan penjelajahan samudra. 


3. Sejak tahun 1594 prdagang-pedagang Belanda dilarang melakukan kegiatan dagang di Lisabon melalui dekrit yang dikeluarkan oleh raja Phillipus II dari Spanyol. Tujuan dikeluarkannya dekrit tersebut adalah untuk mematika sumber perekonomian Belanda, sehingga tidak mampu membiayai perangnya melawan Spanyol. 

Portugis yang sudah terlebih dahulu dating ke Asia menguasai Lautan Hindia dan Teluk Persia hingga Selat Malaka tidak menghendaki bangsa Eropa lain mendekati wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu, pedagang-pedagang Belanda berlayar menjahui daerah-daerah yang membentang di Lautan Hindia tersebut. Itulah sebabnya pedagang-pedagang Belanda yang melakukan espedisi pertamanya ke perairan Indonesia, setelah dari ujung selatan benua Afrika langsung menuju ke Jawa yang belum diduduki Portugis.Pedagang-pedagang Belanda banyak menaruh kepercayaan kepada keberhasilan ekspedisi dagang pertama yang mencapai wilayah Indonesia.

Dari masa penjelajahan itu banyak diperoleh informasi yang cukup lengkap mengenai perdagangan tradisional yang ada di Indonesia dan Asia pada umumnya.Jika melihat latar belakang kehadiran pedagang-pedagang Belanda ke Indonesia, maka secara ekonimis kehadiran mereka ini semata-mata adalah untuk berdagang.Hal ini berbeda bila dibanding dengan motif kehadiran Portugis dan Spanyol yang setengah-tengah.

Oleh karena semangat dagang yang lebih besar yang dimiliki oleh orang-orang Belanda, maka mereka berusaha membentuk organisasi dagang yang benar-benar rapi dalam rangka memperoleh keuntungansecara ekonomis.Pada tahun 1602 terwujud dibentuknya Vereenigde Oost Indische Compsgnie (VOC) yang terbentuk atas prakarsa dari Johan van Oldenbarneveld. Keja sama pedagang-pedagang VOC ini dianggap penting karena alasan-alasan berikut : 1. Secara bersama-sama diperlukan adanya suatu kekuatan untuk menghadapi kekuasaan Spanyol dan Portugis. 2. Perjalanan yang jauh dan penuh resiko dalam pelayaran dapat diperingan dengan kerjasama di antara mereka. 3. Untuk dapat mempertahankan diri di Asia, maka mereka harus memegang monopoli perdagangan. 

Segera setelah VOC berdiri dibentuk, pada tahun 1602 itu pula organisasi ini memperoleh hak octroi dari staten general yang isinya adalah monopoli perdagangan di wilayah yang membentang antara Tanjung Harapan (Afrika Selatan) hingga selat MagelhaensAmerika Selatan). Semua hak yang dimiliki VOC itu secara ketatanegaraan sebenarnya merupakan hak yang dimiliki oleh suatu Negara yang berdaulat.Untuk memperkuat kedudukan VOC di Indonesia, pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa. Hak-hak istimewa VOC tersebut antara lain : 

a. Hak monopoli dagang 

b. Hak membuat dan mencetak uang 

c. Hak membentuk tentara 

d. Hak menyatakan perang ataupun membuat perjanjian Tujuan diberikannya hak octroi itu dimaksudkan: 

1. Mencegah terjadinya persaingan diantara pedagang-pedagang Belanda sendiri. 

2. Mampu secara bersama-sama mengahadapi persaingan sesama pedagang Eropa dan pedagang Asia. 

3. Memberikan kekuasaan kepada para pedagang untuk mengadakan perlawanan terhadap Spanyol dan Portugis. 

Bagi para pendiri VOC (kebanyakan pendirinya adalah bekas anggota-anggota compagnie van verre ). Kumpeni dagang Belanda ini dimulai dengan modal 6,5 juta gulden yang terbagi atas saham-saham. Untuk memperkuat kedudukan kumpeni di Indonesia, De Heren Seventien pada tahun 1609 memutuskan untuk memberikan pimpinan pusat kepada perusahanny yang adaa di Indonesia. 

Untuk pertama kali Pieter both diangkatsebagai pimpinan tertinggi kumpeni di Indonesia sebagai Gebernur Jenderal di Ambon.Dalam melaksanakan tugasnya, gubernur jenderal dibantu oleh beberapa Dewan Hindu yang merupakan penasehat-penasehat yang ahli dalam masalah-masalah penduduk bumiputera.Fungsi seorang gubernur jenderal adalah sebagai kepala militer, kepala pemerintahan sipil, dan kepala perdagangan.Dengan demikian Ambon berfungsi sebagai pusatmiliter, pusat pemerintahan dan pusat dagang.Sementara itu dalam perdagangan, posisi Portugis semakin terdesak akibat sifat perdagangannya yang agresif.

Namun saingan berat yang muncul adalah pedagang-pedagang Inggris.Pada masa kepimpinan gubernur jenderal dipegang oleh J.P.Coen diputuskan untuk melakukan perlawanan terhadap pedagang-pedagang dari Inggris. J.P.Coen memidahkan pusat kegiatan dari Ambon ke Batavia.Pemindahan ini dimaksudkan untuk mendapatkan pangkalan militer dan pangkalan dagang yang dekat dengan pelayaran-pelayaran menuju Tanjung Harapan, India, Melayu dan Asia Timur. 

B. Perdagangan Inggris 

Kedatangan bangsa Inggris ke Indonesia dirintis oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish.Dengan mengikuti jalur yang dilalui Magellan, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia.Armadanya berhasil membawa rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris lewat Samudera Hindia. Perjalanan beriktunya dilakukan pada tahun 1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama. 

 Pengalaman kedua pelaut tersebut mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasioalnya.Hal ini dilakukan dalam rangka menggalakan ekspor wol, menyaingi perdagangan Spanyol, dan mencari rempah-rempah.Ratu Elizabeth I kemudian memberi hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus perdagangan dengan Asia.

EIC kemudian mengirim armadanya ke Indonesia.Armada EIC yang dipimpin James Lancestor berhasil melewati jalan Portugis (lewat Afrika). Kedatangan mereka ke dunia timur juga didorong oleh kebutuhan untuk mencari daerah pasaran bagi hasil industrinya,terutama tektils dan lebih utama lagi adalah wool. Perdagang-pedagang Inggris juga membawa rempah-rempah ke Eropa tetapi Inggris tidak melibatkan diri dalam perdagangan rempah-rempah karena sudah banyak saingan di Eropa yaitu Portugis dan Belanda. 

Di wilayah Asia, Inggris sedapat mungkin menghindari bentrokan dengan Eropa yang lain. Perang perdagangan dilakukan jika keadaan sangat terpaksa. Ekspedisi Inggris ke dunia Timur dilakukan dengan menghindari pos-pos dagang yang telah dikuasai oleh bangsa lain. Ketika berlangsung ekspedisi antara tahun 1577 – 1580 di bawah Francis Drake, tebukalah harapan untuk melakukan penjajahan lebih lanjut. Periode antara 1591 – 1602 dilaksanakan secara sungguh-sungguh usaha untuk menemukan jalan ke Asia.Usaha mereka akhirnya berhasil yaitu dibuktikan dengan diselenggarakanya hubungan perdagangan dengan Aceh dan Banten sejak tahun 1602.

Secara keseluruhan perdagangan Inggris di Asia dilaksanakan dengan lebih tenang dibanding dengan saingannya dari Eropa.Di wilayah Indonesia, Inggris tidak menemukan sesuatu yang mereka cari.Oleh karena itu, perhatian mereka terhadap Indonesia tidak begitu besar. Kurangnya perhatian terhadap Indonesiadisebabkan oleh 2 hal, yaitu : 

1. Indonesia tidak memiliki cukup persediaan bahan untuk keperluan indusri tekstil, yaitu kapas. 

2. Belanda yang sudah dahulu masuk ke Indonesia menggunakan kekerasan dalam menghadapi pesaing-pesaing dagangnya. 

C. Perkembangan Kumpeni Dagang Belanda 

Pada awalnya, tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia hanya untuk membeli rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya. 

Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli perdagangan rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin. Dengan memonopoli perdagangan rempah-rempah, bangsa Eropa menjadi satu-satunya pembeli bahan-bahan ini. Akibatnya, harga bahan-bahan ini pun sangat ditentukan oleh mereka. Untuk memperoleh hak monopoli perdagangan ini, bangsa Eropa tidak jarang melakukan pemaksaan. Penguasaan sering dilakukan terhadap para penguasa setempat melalui suatu perjanjian yang umumnya menguntungkan bangsa Eropa. Selain itu, mereka selalu turut campur dalam urusan politik suatu daerah.Bangsa Eropa tidak jarang mengadu domba berbagai kelompok masyarakat dan kemudian mendukung salah satunya. 

Dengan cara seperti ini, mereka dengan mudah dapat mempengaruhi penguasa untuk memberikan hak-hak istimewa dalam berdagang Pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan-perhitungan ekonomis selalu digunakan dalam mengambil semua tindakan.Usaha mereka selalu diarahkan untuk memperoleh keuntungan secara materi.Untuk itulah mereka berusaha merebut daerah-daerah strategis secara ekonomis, yaitu daerah-daerah penghasil rempah-rempah dan lada. Keberhasilan menguasai daerah produsen dan daerah perdagangan milik Portugis dan Spanyol di Asia itu bagi negeri Belanda memiliki arti : 

1. Perang melawan Portugis dan Spanyol dapat diperluas hingga Asia. 

2. Keuntungan perdagangan Asia bagi Portugis dan Spanyol merupakan dana pendukung perang yang sangat diandalkan bagi Negara-negara tersebut. Karena maksud seperti itulah, sejak berdirinya kumpeni dagang VOC, pemerintah negeri Belanda telah memberikan kekuasaan yang sangat luas kepada persekutuan dagang ini. Di Maluku, khususnya di Ternate dan Ambon, VOC berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah. Ketika Ambon sedang melawan Portugis, Belanda segera melibatkan diri dalam kemelut itu.Atas bantuan Belanda, maka Ambon berhasil mendesak pedagang-pedagang Portugis keluar dari Ambon. 

Di Ternate, karena bantuan yang diberikan kepada sultan Ternate ketika menghadapi ancaman dari Portugis dan Spanyol, kumpeni Belanda akhirnya memperoleh hak beli utama atas rempah-rempah di Ternate. Bahkan olehsultan akhirnya VOC dianggap sebagai pelindung.Demikian pula dengan keberadaan Spanyol di Tidore.Namun oleh VOC keberadaan Spanyol tidak terlalu membahayakan kedudukan Belanda di Maluku.Spanyol akhirnya juga terusir dari Tidore pada tahun 1663.

Pesaing-pesaing mereka tinggal pedagang-pedagang Jawa.Kumpeni cukup sulit dalam menghadapi pedagang-pedagang Jawa ini. Beberapa factor yang menyebabkan kumpeni Belanda sulit untuk menggantikan peranan pedagang Jawa : 


1. Perdagangan yang dilakukan di Indonesia Timur adalah perdagangan bebas, artinya pada tingkat pasar, pedagang-pedagang lokal melakukan hubungan dagang dengan siapa saja. 

2. Pedagang-pedagang Jawa menguasai bahan penukar yang dibutuhkan oleh pedagang-pedagang Maluku. Untuk mengalahkan pedagang-pedagang Jawa di Maluku, maka kumpeni Belanda berusaha untuk memotong perdagangan mereka di wilayah barat. Dengan cara seperti itu menjadikan peran pedagang Jawa di Maluku menjadi mundur. Di kepulauan Banda VOC juga berusaha memperoleh monopoli pembelian atas pala. Mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperoleh monop[oli dagang di Banda. Kemantapan ekonomi dan politik orang-orang Belanda sebenarnya baru dicapai ketika mereka memindahkan pusat kegiatannya dari Ambon ke Batavia pada tahun1619. Dikatakan sebagai peletak dasar kekuasaan Belanda di Indonesia, karena tindakan-tindakan berikut : 

1. Memindahkan pangkalan tetap dari Ambon ke Batavia 

2. Mengeyahkan semua pedagang asing dari Maluku 

3. Mulai menaruh perhatian terhadap daerah pedalaman Jawa Pada permulaan abad XVII, Malaka yang dikuasai oleh Portugis merupakan ancaman militer yang terpendam bagi orang-orang Belanda.Bagi pedagang-pedagang Portugis, Malaka merupakan pelindung yang diandalkan bagi perdagangan mereka.Jalur selat Malaka lebih menguntungkan untuk pelayaran menuju Eropa. Kebutuhan akan tekstil sebagai bahan penukar perdagangan dengan daerah Maluku dicukupi oleh India, namun mereka tidak memperolehnya secara langsung. 

Pada tahun 1641 Malaka diserang oleh kapal-kapal Belanda dan sejak itu perdagangan Malaka sama sekali jatuh. Pusatperdagangan Indonesia sebelah barat digantikan oleh Batavia.Puncak kekuasaan VOC di perairan Indonesia adalah akhir abad XVII. Angkatan laitnya menguasai Samudra Hindia dan membantu mempertahankan monopoli-monopoli perdagangan di Maluku, Makassar, Banten dan daerah-daerah lain. 

Kekuasaan VOC di darat sebatas hanya meliputi beberapa pulau rempah-rempah di Maluku dan beberapa tempat bertahan berupa benteng-benteng pertahanan di kota-kota pantai.Kebesaran perdagangan laut yang dimiliki pada akhir abad XVII oleh Belanda belum didukung oleh penguasaan atas daratan di Indonesia. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Jumat, 17 Februari 2012

SOE HOK GIE

Sebagai seorang peranakan China yang dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, Soe Hok Gie, tentu tak menyangka dirinya akan menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan demokrasi Bangsa Indonesia. Dibesarkan dalam nuansa peralihan dari penjajahan menuju pemerintahan demokratis, Gie tumbuh menjadi seorang remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu, kritis, peka akan kondisi sosial dan pantang baginya untuk mengalah pada hal yang ia anggap salah. 

Konsep kritis dan perlawanan yang ia lakukan, diilhami dari keyakinannya bahwa hanya dengan melawan maka kebenaran sejati akan terlihat. Bahwa para pejuang, Soekarno, Hatta, dan lainnya, melakukan perlawanan tanpa henti untuk mewujudkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Putra pasangan Soe Lie Piet, yang merupakan seorang penulis, dan Ni Hoe An ini menyelesaikan pendidikan dasarny di Sin Hwa Scholl, sebuah sekolah khusus peranakan China. 

Kemudian ia menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya di SMP Strada, sebuah sekolah yang diasuh para Broeder Katholik dan melanjutkan ke SMA Kanisius. Dalam catatan hariannya yang tertanggal 10 Desember 1959, di masa sekolah inilah kritik Soe Hok Gie mulai mengungkapkan pemikirannya terhadap politik dan keadaan negrinya. Hari itu ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan seseorang, bukan pengemis tapi terpaksa mengais makanan ditempat sampah karena kelaparan. 

Sementara dilingkungan istana, Gie menggambarkan kondisi ironis dengan menyinggung penguasa saat itu, Presiden Soekarno, yang beristri banyak. Detik inilah mulai terlihat perubahan pola pemikiran Gie. Gie yang dulunya mengagumi semangat juang Soekarno, perlahan mulai mengkritisi kebijakan-kebijakannya dalam pemerintahan. Bagi Gie, para pemimpin yang duduk di pemerintahan saat itu, adalah kumpulan generasi tua yang mengacau. Mereka adalah orang-orang yang mengkhianati apa yang diperjuangkan. 

Lulus dari SMA, Gie melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia. Selain konsisten di bidang akademis, ia lebih banyak mengisi kegiatannya dengan diskusi sastra dan seni, serta mendekatkan diri pada alam. Meski kepekaannya terhadap masalah politik telah muncul sejak di sekolah menengah, tak sedikit pun ia tertarik untuk masuk kedalam pusaran politik. Gie melihat kondisi kampusnya, UI, yang telah dirasuki kepentingan politis partai-partai nasional. Banyak mahasiswa yang menjadi kader-kader organisasi eksternal. 

Organisasi ini merupakan peranakan partai nasional yang tentu saja menanamkan ideologi dan pandangan pergerakannya jauh ke dalam otak mahasiswa. Kondisi politik Indonesia di era 60an itu, digambarkan dengan kedekatan Soekarno dan PKI. Keduanya seolah saling bahu-membahu demi mempertahankan kekuasaan. Pihak militer pun turut mengawasi kedekatan keduanya. 

Dengan massa yang besar dan dukungan Soekarno, bukan tidak mungkin ideologi komunis yang dibawa PKI akan mengakar di Indonesia. Hal ini menjadi ancaman bagi partai-partai lain dengan ideologi yang bertentangan seperti liberalis, islam, dll. Karenanya muncul pergolakan yang tak kasat mata antar partai. Kemelut politik yang dilakukan partai-partai tersebut, justru tampak lebih nyata dan radikal di kalangan pergerakan mahasiswa. Dengan kata lain, pergerakan mahasiswa menjadi alat bagi kepentingan politik nasional. Mahasiswa dengan ideologi sama bersatu mengumpulkan kader dan begitu mengutamakan kepentingan kelompok. 

Masing-masing kelompok berkoar-koar akan melakukan perubahan untuk negeri yang lebih baik. Namun, fakta didalam kampus, justru terjadi pertentangan dan adegan saling menjatuhkan kelompok lain yang beda ideologi. Gie sendiri berusaha untuk tidak terseret dalam arus politik intervensi di pergerakan kampus. Dalam sebuah catatannya ia menulis : “Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. 

Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun”. Namun sebagai seorang intelegensia atau kaum cendekia, Gie memiliki prinsip bahwa mahasiswa adalah The happy selected few, orang-orang yang dipilih oleh keberuntungan sehingga dapat mengecap pendidikan tertinggi di tengah ketertinggalan sosial dan kepahitan ekonomi. Untuk itu mahasiswa memiliki tugas untuk memperbaiki keadaan. Mahasiswa menanggung beban dan tanggung jawab untuk menemukan konsepsi paling tepat demi membangun kemakmuran negara. Dalam salah satu tulisannya Gie mengatakan : “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. 

Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”. Jadi akan ada saatnya bagi Gie dan seluruh mahasiswa, untuk melakukan gebrakan menentang segala sesuatu yang salah kaprah. Gie memulai perannya. Ia bergabung dengan GMSos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan menerbitkan tulisan-tulisan tanpa nama (underground campaign), berisi kritik terhadap pemerintah. 

Selain itu, bersama sahabatnya, Herman Lantang, ia membentuk senat mahasiswa sastra yang bebas dari intervensi politik. Paska Peristiwa Gerakan 30 September 1965, kondisi sosial politik hampir tak terkendali. PKI yang diduga sebagai dalang dari peristiwa berdarah yang mengorbankan para perwira tinggi militer itu, mendapat kecaman dari berbagai pihak. Militer dibawah pimpinan Soeharto mulai bergerak meringkus semua yang berhubungan dengan PKI. Bukan hanya D.N. Aidit dan pasukannya yang terlibat G 30 S, melainkan keseluruhan pengurus, ormas dan anggota PKI, bahkan yang diduga sebagai anggota dengan PKI. 

Dilain pihak, pemerintah justru menaikkan harga barang pokok yang tentu saja menyusahkan rakyat. Tahun 1966, kelompok-kelompok mahasiswa akhirnya menggabungkan diri dalam satu wadah yang dinamakan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI). Memutuskan untuk melakukan demonstrasi dengan tiga tuntutan (TRITURA). Gie juga ikut ambil bagian dalam pergerakan mahasiswa ini. Merurutnya, militer tidak mungkin bergerak karena posisinya terjepit, antara kepentingan pemerintah dan desakan rakyat. 

Sementara jika rakyat yang bergerak, akan terjadi chaos. Karenanya, lebih baik mahasiswa yang bergerak. dalam catatannya ia menulis : “Kuputuskan akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”. Rangkaian aksi mahasiswa meliputi demonstrasi ke sekretariat negara pada tanggal 10 Januari 1966, dilanjutkan aksi di rawamangun pada 11 Januari. 12 Januari longmarch dari Kampus UI Salemba ke Gedung DPR-GR, menempuh jarak 15 km. 13 Januari Gie dan ribuan mahasiswa melakukan gerakan bersepeda. 

Keseluruhan aksi ini dilakukan oleh hampir seluruh mahasiswa UI dengan menyebarkan pesan tritura dan kecaman terhadap pemerintah. Respon Soekarno terhadap aksi ini mengecewakan. Soekarno terkesan tidak serius dalam menindak tegas PKI. Aksi-aksi terpisah terus berlangsung, kecaman terhadap soekarno pun mengalir deras karena KAMI juga didukung oleh militer yang kontra Soekarno. 

Selama hampir satu tahun terjadi ketidakpastian di pemerintahan. Dualisme kepemimpinan muncul ketika Jendral Soeharto digadang-gadang sebagai pahlawan G 30 S dan Presiden Soekarno kehilangan kharismanya lantaran tidak dapat mempertanggungjawabkan peristiwa G 30 S serta tidak mau mengecam PKI. Akhirnya pada tanggal 20 Februari 1967, sesuai ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966, Soekarno mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan presiden kepada Soeharto. Lengsernya Soekarno merupakan keberhasilan bagi gerakan aksi mahasiswa tahun 1966, atau biasa disebut angkatan ’66. Kondisi perkuliahan di kampus UI kembali normal. Gie menjadi salah satu staf pengajar di almamaternya. Ia masih aktif menulis tentang banyak hal, bukan dengan sembunyi-sembunyi lagi, melainkan dengan terang mencantumkan namanya. 

Namun, ketenangan tak berlangsung lama. Jauh dari harapan Gie akan sebuah pemerintahan yang adil dan bersih dari korupsi, disekitar awal tahun 1969 dugaan kasus tindak korupsi di pemerintahan terkuak dengan cepat. Akan tetapi kasus-kasus tersebut menghilang secepat kemunculannya. Pelanggaran pemerintahan orde baru seolah menjadi rahasia umum yang tak ingin disinggung karena basis pemerintahan ini adalah kekuatan militer. Meski begitu, ketakutan terhadap kekuatan orde baru nyatanya tak mampu menghambat getar-getar kritik politis yang mulai bangkit kembali.dalam pemikiran Gie. Ia memulai perlawanannya sendiri dengan bersenjatakan otak, hati, pena dan mesin ketik. Tulisan-tulisannya mulai beredar mengkritik polah pemerintah orde baru. 

Gie berusaha menguak apa yang terjadi dibalik penumpasan PKI. Melalui tulisannya ia berusaha menggiring opini publik untuk mencermati kekejaman praktek penumpasan PKI. Kritik Gie bukan hanya untuk pemerintah, tapi juga untuk banyak kalangan yang ia anggap salah. Melalui kritikannya yang pedas, Gie bukan hanya mendapatkan decak kagum, tapi juga makian dan ancaman pembunuhan. Seolah tak peduli, Gie tetap teguh pada prinsip-prinsipnya seperti pohon Oak yang tetap tegak melawan angin. Baginya, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Perlawanan Gie, berakhir di penghujung 1969. 

Dalam pendakian terakhirnya di Gunung Semeru, Gie meninggal karena menghirup gas beracun. Dikisahkan tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, ia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan sahabatnya, Herman Lantang. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Jumat, 10 Februari 2012

INTERVENSI DALAM PERANG KOREA 1950 – 1958

Salah satu perang paling berpengatuh di dunia adalah Perang Korea. Latar belakang Perang Korea adalah keadaan social ekonomi pasca Perang Dunia II dan lahirnya Perang Dingin. Dalam Perang Dingin Amerika Serikat (AS) di blok barat dan Uni Soviet (US) di blok timur, melakukan intervensi dalam urusan dalam negeri Negara lain dengan tujuan untuk memperluas pengaruh keduanya. Terutama di Negara-negara Asia Pasifik, diantaranya Vietnam (Vietnam Utara dan Selatan), Jerman (Jerman barat dan timur), dan terutama Korea (Korea Utara dan Selatan). Selama berabad-abad, Korea berdiri sebagai sebuah wilayah dibawah kekuasaan monarki. 


Hingga akhirnya kekuasaan tersebut kehilangan taringnya saat Jepang melakukan invansi dan menduduki Korea. Konflik Korea bermula dari perjanjian Postdam tanggal 26 Juli yang berisi Korea akan dimerdekakan, namun 8 Agustus 1945 US menyerang Jepang yang saat itu menduduki Korea. Pasukan US menyerang pasukan Jepang lewat semenanjung Korea dan mencapai garis batas 380 Lintang Utara. Hingga pada tanggal 14 Agustus 1945 pasukan Jepang menyerah dengan menyatakan bahwa pasukan Jepang yang berada di sebelah Utara batas 380 LU, menyerah kepada US. Dan pasukan Jepang menyerah kepada AS di wilayah sebaliknya di selatan garis batas 380. Dari titik inilah terjadi pembagian wilayah Korea menjadi dua bagian. 

Garis 380 dijadikan sebagaii pertahanan demarkasi AS dan US. Pertikaian antara dua kekuatan, bahkan sevara tidak langsung menghalangi cita-cita Bangsa Korea untuk menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu. Selain itu, AS dan US membentengi ideologinya di wilayah Korea, dimana AS mengembangkan paham Liberal Kapitalis di Korea Selatan, sedangkan US mengembangkan paham Sosialis Komunis di Korea Utara. Adanya pertentangan ideology di dua wilayah Korea menjadikan keduanya berselisih dalam berbagai hal. Korut yang merasa hak-haknya tidak diakui oleh PBB dalam siding umum yang mengesahkan laporan tentang hasil Pemilihan di Korsel dan mengatakan pemerintahan Korsel merupakan pemerintahan satu-satunya yang sah. 

Dari hal ini US mendukung hak Korut untuk merdeka dengan cara kekerasan atau perang yang nantinya pasokan perang disokong US dalam Perang Korea. Perang Korea sendiri mengalami pasang surut kemenangan, baik di pihak Selatan maupun Utara yang dibantu oleh AS dan US. Di mulai dari serang Korut yang mendadak di tahun 1950 sehingga Korsel berhasil diduduki oleh Korut. Bahkan Korut mengumumkan Perang yang didengungkan hingga seluruh Korea. Serangan Korut ini didukung oleh peralatan militer yang canggih dari US sepertti pesawat terbang Starmovik dan pesawat pemburu Yak, tank dan mobbil lapis baja dari Cina Utara. 

Korut juga didukung oleh 100.000 tentara. Berbeda dengan Korsel yang hanya mempunyai 95.000 tentara. Dari keadaan ini Korut berhasil menduduki Ibukota Korsel, Seoul, di tahun yang sama 1950 pada bulan Juni dengan wilayah yang dikuasai hinggal 80 mil persegi dari 12 kota. Hal ini semakin memperburuk keadaan posisi Korsel sehingga AS melakukan reaksi terhadap perang tersebut dengan alas an membendung Komunisme di Korea. 

AS membantu pihak Korsel. Berbagai langkah dilakukan AS guna melindungiii Korsel, dari mulai resolusi PBB, kebijakan mengerahkan angkatan militernya untk melindungi Korsel dari serangan Korut, hingga serangan langsung untuk merebut kembali Seoul kembali ke pangkuan Korsel. Mengetahui sekutunya kalah, RRC turut mengintervensi menyerang Korsel. Bantuan dari RRC ini berlangsung hingga bulan November yang mengakibatkan kemenangan kembali di pihak Korut. Hal ini memicu reaksi AS dan PBB. Bakan hal itu tidak menutup kemungkinan seluruh anggota PBB sejumlah 15 negara ikut terjun dalam Perang Korea, sementara Korut hanya dibantu oleh US dan RRC. 

Namun hal tersebut semakin memperburuk keadaan Korea, sehingga mendorong pihak yang bersengketa untuk melakukan gencatan senjata dan perundingan baik di pihak Korsel maupun Korut. Upaya penyelesaian Perang Korea selanjutnya seringkali gagal karena pertentangan kedua Negara Korea yang tetap tidak mau kalah. Sama seperti kedua Negara penyokongnya, AS dan US. Pada akhirnya Perang Korea berakhir tanpa ada pihak yang menang dan kalah. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Rabu, 01 Februari 2012

PERGERAKAN PEMUDA INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA

Peranan pemuda dalam perubahan selalu tercatat dalam sejarah setiap negeri. Termasuk di Indonesia, peran dan semangat pemuda telah muncul bahkan ketika jaman penjajahan Belanda. Ada banyak alas an yang melatarbelakangi munculnya pergerakan melawan Pemerintahan Hindia Belanda. Khususnya pergerakan pemuda pada masa Hindia Belanda dalam melawan Pemerintahan Hindia Belanda yang menyiksa dan merampas hak rakyat pribumi. 

Tetapi menurut Sartono Kartodiharjo, yang melatarbelakangi pergerakan pemuda melawan pemerintah Hindia adalah fase atau masa Kolonial Belanda di Indonesia. Pertama, fase kolonialisme VOC pada tahun 1602 sampai tahun 1799. Kedatangan Belanda di Indonesia pada mulanya bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang/berniaga. Akan tetapi pada tahun 1602, Belanda mendirikan organisasi perkumpulan kongsi dagang yang berlayar di wilayah Hindia Belanda yang bernama Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC). 

Kongsi dagang ini awalnya didirikan untuk menyaingi Portugis dan Spanyol yang telah lebih dulu bercokol di nusantara. Namun, dengan hak octroi yang dimiliki VOC, lambat laun VOC seolah menjadi Negara yang berdiri di bawah Negara induknya, Belanda. Hal ini berimbas pada perilaku pemerintahan VOC yang semena-mena melakukan perluasan kekuasaan dengan mengadu domba penguasa local. Kekuasaan VOC menjadi awal kolonialisme di Indonesia. 

Fase kedua, adalah kolonialisasi konservatif tahun 1800 sampai 1811. Kolonialisme konservatif adalah masa setelah keruntuhan VOC, ketika pemerintahan diambil alih oleh Belanda. Di masa ini kita mengenal istilah kerja rodi atau kerja paksa yang dipopulerkan oleh pemerintahan Daendels. Proyek jalan Anyer – Panarukan, menjadi saksi kekejaman Belanda masa itu. 

Fase ketiga, adalah masa tanam paksa antara tahun 1816 sampai 1869. System tanam paksa merupakan system baru pemerintah Hindia Belanda untuk menutup kerugian financial negeri Belanda yang luar biasa parah akibat perang. Pada masa ini Hindia Belanda dipimpin oleh Ven Den Bosch. System tanam paksa merupakan ekspolitasi besar-besaran yang dilakukan pemerintahan Hindia Belanda. Tanah mereka direbut secara paksa, rakyat jelata ditekan untuk bekerja dengan upah yang minim, bahkan juga tanpa upah. 

Terlebih untuk kegiatan ekspor, rakyat pula yang mendapat beban pajaknya. Fase keempat, adalah system colonial liberal liberal yang diterapkan tahun 1870 sampai 1900. Di masa ini muncul pemikiran Trias Van Deventer yang meningingkan adanya politik balas budi untuk bangsa pribumi. Salah satu hal yang ditekankan adalah masalah pendidikan peribumi. Mulai masa ini pribumi diijinkan mengeyam bangku pendidikan. Meski demikian, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melanjutkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Fase kelima, adalah masa antara 1900 – 1942. Pada masa ini perusahaan-perusahaan di Indonesia dengan bebas berkembang sehingga ada system administrasi yagn digagas untuk pembangunan departemen-departemen. Dalam pemerintahan peran pejabat pribumi-pribumi mengalami banyak peningkatan. 


Fase-fase tersebut dinilai Sartono Kartodiharjo, menjadi latar belakang munculnya pergerakan pemuda. Berawal dari kesadaran akan penderitaan rakyat selama tiga abad di bawah kaki Belanda, kemudian munculnya kaum terpelajar, hingga pada abad ke-20 di Indonesia mengalami keadaan yang disebut Zaman Kemajuan. Disebut demikian, karena segala bidang yang ada mulai maju, terutama dalam bidang pendidikan. Sebagai contoh, didirikan sekolah yang diperuntukkan bagi kaum wanita yang bernama Hoofdenschool, kemudian Sekolah Dokter Jawa (STOVIA). Pada abad ini juga berdiri sebuah perkumpulan yang bernama “BUDI UTOMO” pada tanggal 20 Mei 1908 yang diilhami Dr. Wahiding Sudirohusodo. Tujuan yang hendak dicapai Wahidin adalah meningkatkan derajat pribumi melalui pendidikan. 

Setelah Budi Utomo berdiri sebagai organisasi pertama di Indonesia, muncul pula banyak organisasi lain seperti Organisasi Sarekat Islam yang berdiri pada tahun 1911 di kota Solo didirikan oleh Haji Samanhudi, Indische Party oleh Tiga Serangkai yaitu Douwes Dekker atau Dokter Setia Budi, Dr, Tjipto Mengunkusoemo, dan Soewardi Surjaningrat pada tahun 25 Desember 1912. Kemudian pada tahun 1914, berdirilah Indische Democratische Verenegning (ISDV) yang kemudian berganti nama Partai Komunis Indinesia (PKI). 


Hampir semua organisasi yang muncul di awal, hanya mewakili golongan atau kalangan tertentu. Namun, berdirinya organisasi-organisasi tersebut, juga memicu munculnya organisasi kepemudaan walaupun masih dalam taraf kesukuan. Tujuan mereka sama, Indonesia merdeka terlepas dari colonialism Belanda. Hanya saja, mereka masih terikat factor kesukuan dan ikatan wikayah. Seperti organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian dikenal dengan nama Jong Java. Berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta dan dipimpin oleh Satiman Wiryo Sandjojo. Anggotanya hanya berasal dari Jawa dan Madura saja. 

Jong Java menjadi organisasi yang besar dan kegiatannya berkisar pada bidang social, kebudayaan dan teori politik. Berdirinya Jong Java mendorong pemuda suku lain untuk mendirikan organisasi. Demikian pula para pemuda Sumatera. Mereka mendirikan Jong Sumantranen Bond (JSB), yaitu perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra menjadi pemimpin bangsa serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. 

Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki enam cabang, empat di Jawa dan dua di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittinggi. Beberapa tahun kemudian, para pemuda Batak keluar dari perkumpulan ini dikarenakan didominasi oleh pemuda dari Minangkabau dalam kepengurusannya. Para pemuda Batak ini mendirikan perkumpulannya sendiri, Jong Batak. Kelahiran JSB pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjahja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa kondisi Sumatra belum matang bagi sebuah pergerakan di bidang politik dan umum. Tanpa menghiraukan suara-suara mirig itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori oleh kaum muda ini. 


Mereka menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Aktivis JSB, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada edisi perdana surat kabar Jong Sumatra. Surat kabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi ataas konflik yang terjadi. Tanah Sumatra memang dikenal dengan penghasil jago-jago pergerakan. Banyak diantaranya yang mengawali karier organisasinya melalui JSB, seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916 – 1918. Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi surat kabar Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. 

Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul “Hindiana”. Sedangkan Yamin merupakan salah satu putra Sumatra yang paling dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada tahun 1926 – 1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. 


Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan pemakaian bahasa nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan gagasan Yamin, mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Pertumbuhan gerakan pemuda ayng bersifat kedaerahan di Indonesia telah membawa pengaruh di kalangan pemuda pelajar yang berkumpul di pusat kegiatan pendidikan, terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta. Untuk memenuhi keinginan itu maka berdirilah Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Celebes (Sulawesi) dan perkumpulan pemuda lainnya. Walaupun anggota pendukungnya relative kecil tetapi nama organisasi cukup besar. Tujuan berdirinya organisasi pemuda lainnya seperti Jong Java, yaitu mengeratkan tali persaudaraan, memajukan budaya daerah, dan memperkuat persatuan pemuda. 

Faham persatuan dan Indonesia merdeka makin berkembang dalam masyarakat Indonesia. Di samping organisasi yang berpegang pada daerahnya terdapat pula kelompok yang dengan tegas menhendaki persatuan yaitu “Perhimpunan Indonesia”. Pada awal berdirinya PI berawal dari didirikannya Indische Vereniging pada tahun 1908 di Belanda, organisasi ini bersifat moderat. Sebagai perkumpulan social mahasiswa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan tanah air. Pada awalnya Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi social. 

Memasuki tahun 1913, dengan dibuangnya tokoh Indische Partij ke Belanda maka dibuatlah pokok pemikiran pergerakan yaitu Hindia untuk Hindia yang menjadi nafas baru perkumpulan mahasiswa Indonesia. Iwa Kusuma Sumantri sebagai ketua menyatakan 3 asas pokok Indische Vereniging yaitu 

1). Indonesia menentukan nasibnya sendiri, 

2). Kemampuan dan kekuatan sendiri, 

3). Persatuan dalam menghadapi Belanda. Tahun 1925 Indische Vereniging berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuan Indonesia merdeka. Karena status anggota PI adalah mahasiswa, hal ini berarti posisi mereka tanpa ikatan social politik tertentu dan tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kedudukan. Sehingga mereka tidak khawatir dalam bertindak terang-terangan melawan pemerintah Belanda. 

Organisasi ini juga membuat lambing untuk Indonesia diantaranya merah putih sebagai bendera. Semenjak berakhirnya PD I perasaan anti kolonialis dan imperialis di kalangan pimpinan dan anggota PI semakin menonjol, apabila setelah ada seruan dari Presiden AS, Woodrow Wilson, mengenai hak untuk menentukan nasib bangsa sendiri. Tahun 1925 PI semakin tegas memasuki kancah politik, yang juga didorong juga oleh kebangkiatan nasionalisme di Asia – Afrika. Di samping itu, muncul kesadaran mewujudkan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia semata. 

Hal itu hanya bias dicapai oleh rakyat Indonesia sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun dan pada prinsipnya menghindari perpecahan demi tercapainya tujuan. Dengan pemikiran yang demikian tegas, wajarlah apabila PI menjadi satuancaman terhadap kredibilitas pemerintah Belanda dalam menjalanjan kolonialismenya di Indonesia. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh aktivis PI di Belanda maupun di luar negeri, diantaranya ikut serta dalam kongres Liga Demokrasi Perdamaian Internasional pada tahun 1926 di Paris. Dalam kongres itu Mohammad Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan akan kemerdekaan Indonesia. 

Demikian pula pendapat-pendapat merekan banyak disampaikan ke tanah air. Aksi-aksi yang dilakukan menyebabkan mereka dituduh melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Karena tuduhan penghasutan untuk pemberontakan terhadap Belanda, maka tahun 1927 tokoh-tokoh PI diantaranya M. Hatta, Nasir Pamuncak, Abdul Majid Djojonegoro dan Ali Sastroamidjojo ditangkap dan diadili. Dalam organisasi kepemudaan yang ada pada saat itu ada beberapa pemimpin yang mempunyai gagasan untuk merintis persatuan nasional seluruh masyarakat Indonesia. Mereka itu adalah M. Tabrani, Sumarto, Suwarso, Bahder Djohan, Jamaludin, Sarbaini, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinontoan, Hamami, dan Sanusi Pane. 

Sebelumnya mereka mengadakan pertemuan untuk membahas gagasan tersebut da pada akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Kongres Pemuda I dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926. Tujuan kongres adalah untuk menanamkan semangat kerja sama antar perkumpulan pemuda untuk menjadi dasar persatuan Indonesia dalam arti yang lebih luas. Usaha menggalang persatuan dan kesatuan dalam Kongres Pemuda I ini belum terwujud, karena rasa kedaerahan masih kuat. Sementara itu para pelajar di Jakarta dan Bandung melihat adanya dua kepentingan yang bertentangan dalam penjajahan, yang mereka sebut sebagai antithesis colonial yang sangat merugikan pihak Indonesia. 

Antithesis ini akan dihapus apabila penjajahan sudah lenyap. Untuk itu, maka para pelajar dari berbagai daerah pada bulan September 1926 mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di Jakarta. PPPI memperjuangkan Indonesia merdeka. Pada tahun 1928 alam politik di Indonesia sudah dipenuhi oleh jiwa persatuan. Rasa kebangsaan dan cita-cita Indonesia merdeka telah menggema di jiwa para pemuda Indonesia. Atas inisiatif PPPI, maka diadakan Kongres Pemuda II di Jakarta, yang dihadiri oleh utusan organisasi-organisasi pemuda dan berhasil diikrarkan sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. 

Kongres Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Maksud dan tujuan Kongres Pemuda II ialah 

1). Hendak melahirkan cita-cita perkumpulan Pemuda Indonesia, 

2). Membicarakan masalah pergerakan Pemuda Indonesia, 

3). Memperkuat perasaan kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia. Pada Kongres tersebut dikumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman, dan dikibarkan bendera Merah Putih yang dipandang sebagai bendera pusaka bangsa Indonesia. 

Peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 18 Oktober 1928 merupakan salah satu puncak Pergerakan Nasional, maka sampai sekarang peristiwa bersejarah ini diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda dan dimaknai sebagai lahirnya pergerakan Indonesia Muda.

Lahirnya Indonesia muda tidak lepas dari perjuangan PPPI yang didukung oleh organisasi kepemdaan yang ada dan telah mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi dan dibantu oleh seluruh rakyat Indonesia, karena pergerakan pemuda merupakan pergerakan rakyat dalam melawan penjajah. 

Perjuangan PPPI untuk menyatukan perkumpulan pemuda kedaerahan ke dalam perkumpulan pemuda yang bersuarakan kebangsaan Indonesia telah terealisasi dengan berdirinya Indonesia Muda. Dalam perjuangan tersebut tertuang cita-cita untuk kemerdekaan dan keagungan nusa dan bangsa juga diterima oleh pemuda pada khususnya inilah yang tercatat dalam sejarah Indonesia pada masa penjajahan pemerintah Hindia – Belahda. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah