Tampilkan postingan dengan label Evaluasi Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evaluasi Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2009

Soal Salah Cetak, UN Susulan Ditolak


By admin
Friday, May 01, 2009 08:12:00



Soal Salah Cetak, UN Susulan Ditolak

Jumat, 1 Mei 2009 | 08:12 WIB

KUDUS, KOMPAS.com - Sejumlah kepala sekolah (Kasek) di Kabupaten Kudus, sepakat menolak ujian susulan, menyusul temuan kesalahan cetak naskah soal ujian nasional (UN)untuk mata pelajaran bahasa Inggris pada Selasa (28/4).

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, Oky Sudarto, di Kudus, Jumat mengatakan, secara psikologis ujian susulan justru akan membebani pelajar. Untuk itu, muncul kesepakatan kepala sekolah menolak wacana ujian susulan, ujarnya.

Berdasarkan pertemuan antara kepala sekolah dan sub rayon, katanya, para kasek menanggapi persoalan naskah soal UN tersebut murni kesalahan percetakan bukan kesalahan siswa, sehingga tidak dapat dibebankan kepada siswa dengan cara melaksanakan ujian susulan.

Dari sisi psikologis memang kurang menguntungkan para siswa. Kami mengusulkan sebanyak 11 soal tersebut dibetulkan, ujar Oky yang juga Kepala SMP 1 Kudus. Selain itu, sejumlah kepala sekolah juga mempertimbangkan beban yang akan diemban pada ujian susulan nanti akan memengaruhi nilai yang akan dicapainya.

Sebelumnya, Koordinator Tim Pemantau Independen (TPI) SMP/MTs/SMK Kudus Hendy Hendro HS mengungkapkan, ujian ulangan hanya dapat dilaksanakan ketika terjadi kebocoran, sehingga jalan satu-satunya mengatasi persoalan salah cetak naskah soal tersebut dengan menganulir sebelas soal yang salah itu untuk dibetulkan.

Akmal Aslim, guru dari MTs Negeri 1 Kudus, menambahkan, pihaknya menyayangkan kinerja Pura Group, karena kesalahan cetak naskah soal UN tersebut dapat merugikan siswa. Kerja keras siswa mempersiapkan UN, masih harus dibebani dengan permasalahan kesalahan naskah soal tersebut.

Ia berharap Dinas Pendidikan Jateng dalam mengambil kebijakan terkait kasus kesalahan cetak naskah soal UN itu, tidak merugikan para siswa.

ABI
Sumber : Ant

Sumber: Kompas.Com
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/01/
08123425/Soal.Salah.Cetak..UN.Susulan.Ditolak

Ini Dia, Sebagian Daftar Pelanggaran UN Itu


By admin
Monday, May 04, 2009 18:03:00



Evaluasi Ujian Nasional
Ini Dia, Sebagian Daftar Pelanggaran UN Itu

Senin, 4 Mei 2009 | 18:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain kualitas cetak naskah soal UN, persoalan yang paling banyak disorot oleh media massa adalah kebocoran soal dan kecurangan-kecurangan. Hal tersebut menjadi evaluasi sementara hasil pemantauan dan laporan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai penyelenggara UN siang tadi (4/5) di Kantor Depdiknas, Jakarta.

Menurut Prof.Dr. Mungin Eddy Wibowo, Ketua BSNP, hasil pemantauan dan laporan yang masuk ke BSNP menggambarkan, bahwa masih banyak pelanggaran di UN terjadi akibat menyalahi Prosedur Operasional Standar (POS) UN yang sudah ditetapkan. Tetapi ini masih bersifat sementara karena semua laporan belum semuanya masuk dari penyelenggara UN di tingkat provinsi serta para pemantau UN, kami masih akan mengkajinya lebih jauh temuan di lapangan, kata Mungin.

Beberapa pelanggaran tersebut antara lain:

- Guru mata pelajaran masih hadir di sekolah

- Masih dijumpai siswa yang membawa ponsel ke dalam ruang UN

- Pengawas ruang UN berkeliling ruangan UN dan pintu ruang ditutup

- Masih adanya pejabat dan wartawan yang masuk ke ruangan saat UN berlangsung meskipun di pintu ruang bertuliskan Dilarang Masuk

- Masih ada pengawas ruang UN yang tidak melakukan pengeliman amplop Lembar Jawaban UN (LJUN)

Kasus Pembocor Soal di Bengkulu Selatan

Dalam evaluasi tersebut Mungin juga membenarkan adanya upaya pembocoran soal UN SMA oleh para oknum kepala sekolah dan guru di Kabupaten Bengkulu Selatan. Peristiwa yang memalukan dan menjadi sorotan media massa tersebut kini sedang dalam penanganan Polres Bengkulu Selatan.

Berdasarkan laporan evaluasi sementara itu disebutkan, keterangan Polres dan barang bukti menyebutkan bahwa Kepala SMAN I Bengkulu Selatan telah mencuri sampul soal cadangan dan menyimpannya dalam kardus khusus. Setelah dilakukan cross check oleh Polres Bengkulu Selatan, ternyata rombongan oknum kepala sekolah sedang melakukan pembahasan jawaban soal-soal UN di Masjid SMAN I Bengkulu Selatan.

Akibat kejadian itu, sebanyak 25 orang sudah diamankan di Mapolres Bengkulu Selatan berikut barang bukti berupa soal UN. Rombongan pembocor soal tersebut terdiri dari 10 Kepala Sekolah SMA Negeri, 4 Kepala SMA Swasta, 1 Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN), seorang pejabat eselon III Dinas Pendidikan Pemudan dan Olahraga (Disdikpora), serta 9 orang guru.

Sejauh ini tidak ditemukan kebocoran soal karena modus pencurian itu sudah lebih dulu ketahuan oleh polisi dan soal UN belum sempat jatuh ke tangan siswa, terang Mungin.

Mungin menyebutkan, ada upaya tim sukses yang berusaha menginginkan target-target tertentu terkait standar kelulusan. Kasus ini masih dalam penyelidikan polisi dan bila benar terbukti kami siap memberikan sanksinya, tambah Mungin.

Ihwal sanksi itu, Mungin mengatakan bahwa para kepala sekolah, guru atau pejabat terkait itu akan dibebastugaskan dan tidak diikutsertakan dalam UN/UASBN selanjutnya. Sementara penyelenggara yang terbukti melanggar juga tidak dibolehkan lagi menyelenggarakan UN, tegas Mungin.

LTF

Sumber: Kompas.Com
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/04/1803269
/Ini.Dia..Sebagian.Daftar.Pelanggaran.UN.Itu.

Sabtu, 16 Mei 2009

Evaluasi Pembelajaran yang Membelajarkan

EVALUASI PEMBELAJARAN YANG MEMBELAJARKAN
9 06 2008
window.google_render_ad();

Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all 1971).
Stufflebeam et.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu ;
- Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyarakat.
- Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode yang berbeda
- Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif
- Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan
- Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
- evaluasi adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
- Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.
- Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.
- Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.10.
Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan terpaku pada angka soalan tes.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut.
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran.
Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.
Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu ;1. Fungsi selektif, 2. Fungsi diagnostik, 3. Fungsi penempatan, 4. Fungsi keberhasilan.
Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah ;1. Perbaikan sistem, 2. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat, 3. Penentuan tindak lanjut pengembangan.

PRINSIP PRINSIP EVALUASI

- evaluasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran, materi pembelajaran dan metode pengajaran.
- Keterlibatan peserta didik, prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif, tapi kebutuhan mutlak.
- Koherensi, evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur
- Pedagogis, Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa
- Akuntabel, Hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.

TEKNIK EVALUASI
Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes.
1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.
- Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.
- Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui
- Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai
- Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja.
- Pengamatan atau observasi, adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. (2) Observasi sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan.
- Riwayat hidup, evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.
2. Teknik tes. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu :
tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.

PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI

Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut :
a. perencanaan (mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi, teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana, penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb
-pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan
- verifiksi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb
- pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS
- penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.
PENUTUP
Proses Evaluasi Pembelajaran perlu mendapat penekanan dalam proses pembelajaran. Evaluasi bukanlah semata-mata untuk mendefinisikan murid yang berhasil dan tidak berhasil, melainkan sebuah proses yang akan memperbaiki mutu pembelajaran dan mengetahui seberapa efektif pembelajaran yang dilakukan.
Dimodifikasi dari http://sylvie.edublogs.org

UAN Dalam Perspektif Desentralisasi Pendidikan


Artikel:UAN Dalam Perspektif Desentralisasi Pendidikan
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Ki Gunawan
Saya Pengamat di Yogyakarta
Tanggal: 12 Juli 2003
Judul Artikel: UAN Dalam Perspektif Desentralisasi Pendidikan
Topik: Sistem Evaluasi

Ketika UU No. 22/1999 dan No. 25/1999 diberlakukan dan disusul dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional tentang sistem manajemen berbasis sekolah dan pemberian kewenangan terhadap daerah (bahkan sekolah) dalam mengelola pendidikan, timbul secercah harapan akan semakin membaiknya pembangunan pendidikan. Model pembangunan pendidikan yang sangat bersifat sentralistik dan monolitik serta menafikan perbedaan, secara drastis mestinya berubah menjadi desentralistik dan pluralistik sehingga kepentingan dan kebutuhan serta potensi dan kemampuan daerah menjadi lebih terperhatikan dan terbangkitkan. Dengan desentralisasi pendidikan yang direpresentasikan melalui model pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah dan Manajemen Berbasis Masyarakat, segenap komponen sekolah menjadi semakin berperan. Penyusunan kurikulum nasional yang mengabaikan akar budaya dan kebutuhan masyarakat setempat, dengan pemberian kewenangan besar kepada daerah, mestinya tidak akan terulang kembali. Pemberian kewenangan yang besar kepada para guru melalui manajemen berbasis sekolah dan kurikulum berbasis kompetensi pun diasumsikan akan mengembalikan harga diri dan rasa percaya diri pada guru yang di masa lalu sangat terpuruk akibat sistem yang bersifat sangat instruktif. Akan tetapi, melihat kebijakan Depdiknas akhir-akhir ini, harapan yang mulai timbul tampaknya akan layu sebelum berkembang. Salah satu contoh yang paling aktual adalah pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang penuh kontroversial. UAN sebagai alat uji bagi siswa kelas terakhir ALTP dan SMU/SMK dalam kenyataannya tidak lain merupakan manifestasi keengganan pusat melepaskan kewenangannya dalam pengelolaan pendidikan. Celakanya, keengganan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan yang cukup sehingga muncullah kebijakan kontroversial yang sangat membingungkan menyangkut hal-hal seperti soal ujian ulang dan hak siswa tak lulus ujian untuk melanjutkan pendidikan. Berbeda dengan ujian, evaluasi bermakna penilaian secara terus-menerus, komprehensif, dan berkelanjutan terhadap kemampuan siswa selama belajar di sekolah dan merupakan bagian integral dari proses pembelajaran di sekolah. Dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi, Depdiknas sendiri menggariskan bahwa penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan. Penilaian berkelanjutan mengacu kepada penilaian yang dilaksanakan oleh guru itu sendiri dengan proses penilaian yang dilakukan secara transparan. Penilaian dilakukan secara komprehensif dan mencakup aspek kompetensi akademik dan keterampilan hidup. Proses perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan penilaian dilaksanakan oleh para guru dengan penanggung jawab Kepala Sekolah sehingga kinerja seluruh komponen sekolah benar-benar dinilai dan kemampuan guru merancang, memilih alat evaluasi, menyusun soal, dan memberi penilaian benar-benar diuji. Dari sisi siswa, evaluasi jelas akan merupakan sebuah proses yang 'biasa' yang tidak memerlukan persiapan khusus yang menyita seluruh energinya karena evaluasi tersebut dijalankan oleh sekolahnya, gurunya, dan yang terpenting bahan evaluasi adalah apa yang telah diperoleh selama proses pembelajaran. UAN yang menempatkan Pusat sebagai otoritas yang berwewenang secara penuh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan tindak lanjutnya melalui SPO (Standar Prosedur Operasional) yang sangat rinci dan ketat. Dibandingkan dengan EBTANAS yang masih memperhitungkan nilai yang diperoleh siswa pada semester-semester sebelumnya dalam penentuan nilai kelulusan, model UAN sekarang menempatkan nilai UAN murni sebagai satu-satunya nilai penentu kelulusan siswa. Padahal, semasa EBTANAS diberlakukan, segenap komponen pendidikan seolah diburu untuk mengejar pencapaian nilai EBTANAS murni yang tinggi sehingga semua daya dan dana benar-benar terkuras. Dapat dibayangkan apa yang terjadi sekarang dengan evaluasi model UAN. Belum lagi dengan kebijakan-kebijakan yang saling bertentangan perihal pemahaman 'lulus' dan 'tamat' yang diberlakukan Depdiknas hanya karena ketidakmampuannya mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi. Sungguh mengherankan UAN yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan prinsip evaluasi dibebani tujuan dan fungsi yang sangat penting SK 017/U/2003 menyebutkan tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa; mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah; dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, provinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah, kepada masyarakat. Kemudian, UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional; pendorong peningkatan mutu pendidikan; bahan dalam menentukan kelulusan siswa; dan bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tujuan dan fungsi tersebut tidak berbeda jauh dengan fungsi EBTANAS dulu, tujuan dan fungsi yang tampaknya tidak pernah dievaluasi, bahkan beberapa sebetulnya tak berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu tujuan dan fungsi UAN yang berhubungan dengan mutu, misalnya. Sejauh ma na hasil UAN (sebelumnya selama bertahun-tahun hasil EBTANAS) digunakan sebagai pendorong peningkatan mutu. Selama ini hasil EBTANAS sampai dengan UAN dari tahun ke tahun tidak pernah meningkat secara signifikan. Kegunaan hasil UAN sebagai pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pun nyatanya tidak pernah terlaksana. Lulusan SLTP tetap harus mengikuti tes masuk SLTA dan lulusan SLTA pun tetap harus mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi. Ditinjau dari pemberdayaan guru dan siswa, UAN sama sekali tidak berguna. Otoritas guru untuk merencanakan, menyusun, dan memberikan penilaian kepada siswa-siswanya sebagai bagian integral dari tugasnya telah direbut. Seperti di masa-masa lalu guru tetap tidak dipercaya mampu melakukan tugasnya dengan baik. UAN lalu menjadi semacam pusat perhatian dalam proses pembelajaran. Dan, seperti juga EBTANAS di masa lalu, seluruh proses pembelajaran dipusatkan kepada upaya untuk sukses dalam UAN sehingga hakikat proses pembelajaran menjadi terabaikan. Mestinya UAN yang jelas-jelas bertentangan secara diametral dengan prinsip-prinsip desentralisasi pendidikan dan menghabiskan dana yang lumayan besar mulai tahun depan dihapus saja. Biarkan sekolah mengevaluasi sendiri hasil kerjanya. Kalau Pemerintah ingin melakukan kontrol terhadap kualitas pendidikan dapat saja setiap tahun terhadap siswa-siswa setiap kelas di semua jenjang pendidikan diberikan semacam tes standar dengan pemilihan sekolah peserta tes diambil dengan cara random sample di tiap daerah yang dianggap dapat mewakili rata-rata nasional. Tes standar semacam ini selain untuk mengetahui kualitas pendidikan juga dapat dijadikan semacam tes diagnostik untuk ditindaklanjuti.


Artikel:MENGELIMINASI KESULITAN SISWA MENJAWAB SOAL UJIAN NASIONAL BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN
Judul: MENGELIMINASI KESULITAN SISWA MENJAWAB SOAL UJIAN NASIONAL BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN

Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian PENELITIAN / RESEARCH.

Nama & E-mail (Penulis): burhanuddin

Saya Guru di SMKN 1 Watansoppeng

Topik: pembelajaran TOEIC

Tanggal: 4 JULI 2008


MENGELIMINASI KESULITAN SISWA MENJAWAB SOAL UJIAN NASIONAL BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN TOEIC BERTAHAP TERMODIFIKASI DI SMKN 1 WATANSOPPENG

ABSTRAK. Burhanuddin. 2007.

Mengeliminasi Kesulitan Siswa Menjawab Soal Ujian Nasional Bahasa Inggris Melalui Pembelajaran TOEIC Bertahap Termodifikasi Di SMKN 1 Watansoppeng.Laporan Penelitian. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal Ujian Nasional dengan menggunakan pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppeng; (2) bagaimana meningkatkan hasil belajar Ujian Nasional Bahasa Inggris dengan menggunakan pola pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppeng. Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang bertujuan (1) untuk mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal Ujian Nasional dengan menggunakan pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi;(2) untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris siswa dengan menggunakan pola pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi. Cara pemecahan masalah adalah melalui prosedur penelitian tindakan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan evaluasi/refleksi.Jumlah siklus yang dilaksanakan yaitu sebanyak dua siklus, pada setiap siklus diberikan tes awal dan tes akhir untuk melihat keampuhan Pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan siswa menjawab soal ujian Bahasa Inggris dari siklus pertama ke siklus kedua. Skor akhir siklus pertama adalah rata-rata pencapaian siswa sebesar 4,63 dengan skor tertinggi yaitu 6,83 dan skor terendah 3,50. Sedangkan pada siklus kedua dengan ujian Nasional 2005/2006 yaitu pencapaian skor rata-rata sebesar 6,27. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 8,80 dan skor terendah 3,80. Begitu juga dengan ujian Nasional 2006/2007 yaitu pencapaian skor rata-rata siswa sebesar 6,16. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 8,00 dan skor terendah 4,40. Dengan demikian pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi dapat mengeliminasi kesulitan siswa menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007 sebesar 61,6%. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (2005: 65-66). Upaya pembaharuan pendidikan sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, adalah re-orientasi pendidikan ke arah pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam pembelajaran berbasis kompetensi tersebut tersirat adanya nilai-nilai pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pribadi yang integral, produktif, kreatif dan memiliki sikap kepemimpinan dan berwawasan keilmuan sebagai warga negara yang bertanggung-jawab. Indikator ini akan terwujud apabila diiringi dengan upaya peningkatan mutu dan relevansi sumber daya manusia (SDM) melalui proses pada berbagai jenjang pendidikan, khususnya pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan. Relevansi pendidikan kejuruan sebagai strategi dalam pemenuhan tenaga kerja di dunia usaha dan industri sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal dalam peningkatan mutu SDM. Hal ini disebabkan karena pelaksanaan dan pengembangan pendidikan teknologi kejuruan masih jauh tertinggal, baik komparasi international maupun nasional. Menurut Dudung Agus (2004) pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi masalah serius yaitu: (1) cukup banyak lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan pendidikan (putus sekolah) yang jika tidak bekerja akan menambah jumlah pengangguran, (2) lulusan sekolah menengah yang tidak mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dari sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari, dan (3) secara komparatif mutu pendidikan di Indoensia sangat rendah di dunia. Data lain menunjukkan bahwa Human Developmen Index ( HDI) Indonesia menduduki peringkat 112 dari 115 negara yang disurvei bahkan berada di bawah Vietnam (Sonhadji Ahmad, 2004). Selanjutnya menurut Maksum, H (2004) mengatakan sejumlah masalah yang dihadapi oleh pendidikan kejuruan antara lain adalah: (1) belum optimalnya pencapaian kompetensi lulusan, (2) rendahnya mutu lulusan, (3) perlunya penyesuaian relevansi antara lulusan dengan pasar kerja, (4) kepedulian industri terhadap pendidikan kejuruan, (5) sarana dan prasarana pendukung pembelajaran yang belum memadai.Menyikapi persoalan di atas, Direktorat Pembinaan SMK dalam Kebijakan Umum dikatakan bahwa sejalan dengan arah Kebijakan Nasional Pembangunan Pendidikan sebagaimana dituangkan dalam Renstra Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005 - 2009, prioritas pembangunan ke depan diarahkan pada pemerataan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik. Sedangkan upaya mengembangkan mutu, relevansi, dan daya saing SMK diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas lulusan sehingga akan dapat meningkatkan jumlah lulusan SMK yang berwirausaha atau bekerja di dalam maupun luar negeri melalui realisasi SMK bertaraf Internasional, SMK berbasis keunggulan lokal, Inovasi pengembangan SMK, pengadaan peralatan pembelajaran SMK, pengembangan SMK model, pengembangan perpustakaan, sertifikasi uji kompetensi, pengembangan kewirausahaan, pengembangan club bakat dan minat, sertifikasi Bahasa Inggris, beasiswa prestasi, Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK, dan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) http://publik.ditpsmk.net/program. Untuk mengantisipasi permasalahan di atas maka lahirlah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Menurut Bintaro dan Handoyo (2004) bahwa KBK lahir dari anggapan adanya perbedaan individu siswa menuntut perubahan prilaku guru di kelas. Jika selama ini guru merupakan sumber informasi (teacher center) dan pelaku utama dalam proses pembelajaran, maka melalui pendekatan kompetensi, guru sebagai manager dan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh siswa sendiri sebagai pelaku pembelajaran (student center learning). Dengan demikian dalam kelas dituntut peranan seorang guru dalam mengoptimalkan pembelajaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh J.J. Hasibuan (1993) bahwa mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks (a highly complexion process). Disebut kompleks karena dituntut daripadanya kemampuan personal, professional, dan sosial-kultural secara terpadu dalam proses belajar-mengajar. Dikatakan kompleks karena dituntut daripadanya Fenomena yang digambarkan di atas haruslah disikapi bijak oleh guru sebagai motor penggerak keberhasilan siswa untuk peningkatan kompetensi yang mampu bersaing didunia kerja. Salah satu sekolah kejuruan yang telah menerapkan pola manajemen berbasis ISO 9001:2000 adalah SMKN 1 Watansoppeng. Sekolah ini juga telah berhasil menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Sebagai sebuah sekolah bertaraf internasional tentu harus menampilkan sesuatu yang membedakan dengan sekolah lain. Dan yang membedakan itu adalah managemen kepala sekolah, proses pembelajaran di kelas yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi perserta didik untuk berpartisipasi aktif, nilai kelulusan siswa yang tercapai sesuai target, dan adanya akuntabilitas dan transparansi publik. Dalam proses pembelajaran di kelas minimal 50% jurusan produktif menggunakan Bahasa Inggris, begitu juga dengan Matematika dan Bahasa Indonesia harus menggunakan bahasa Inggris dalam pembelajaran. Kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan harapan. Dalam pengamatan penulis hampir seluruh guru produktif masih menggunakan bahasa Indonesia dalam pembelajaran. Begitu juga guru Matematika dan bahasa Indonesia. Persoalannya adalah jika guru Matematika , Bahasa Indonesia dan guru-guru lain menggunakan Bahasa Inggris, apakah siswa memahaminya. Setelah melakukan wawancara terbuka non terstruktur dengan beberapa siswa, ternyata mereka belum mampu untuk menerima pembelajaran dengan menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Ada dugaan bahwa ketidaksiapan dan ketidak mampuan siswa tersebut terkait dengan nilai Bahasa Inggris mereka dibawah rata-rata. Tabel 1.1 Data Tentang Nilai Lulusan Bahasa Inggris SMKN 1Watansoppeng Tahun Rata-rata nilai Tertinggi Terendah Std. Deviasi Klasifikasi 2004/2005 4,40 5,83 3,30 0,65 E 2005/2006 6,01 6,80 4,40 0,51 C (Sumber: (WMM) Wakil Manajemen Mutu SMKN1 Watansoppeng, 2007) Dengan memperhatikan tabel di atas nampaklah bahwa masalah yang dihadapi siswa SMKN 1Watansoppeng adalah ada kesenjangan antara kualitas lulusan dengan kebutuhan masyarakat di era globalisasi. Kebutuhan masyarakat diera globalisasi ini sebagaimana yang tersirat dalam dokumen ISO 9001:2000 adalah minimal ketercapaian nilai siswa 7,00 sebesar 20%. Kenyataannya adalah pada tahun 2004/2005 jumlah siswa yang mencapai 7,00 adalah 0%, begitu juga pada tahun 2005/2006 jumlah siswa yang mencapai angka 7,00 sebesar 0%. Gambaran lain yang menunjukkan adanya kesulitan siswa menjawab soal-soal Ujian Nasional Bahasa Inggris adalah ketika dilakukan "Try Out" tiga mata pelajaran UAN. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 1.2 di bawah ini: Tabel 1.2. Rekapitulasi Nilai Try Out Mata Pelajaran UN 2006/2007. Mata Pelajaran Rata-rata nilai Tertinggi Terendah Std. Deviasi Matematika 3,78 6,00 2,00 1,06 Bahasa Indonesia 4,82 6,60 2,00 1,05 Bahasa Inggris 3,63 5,60 1,20 1,06 (Sumber: (WMM) Wakil Manajemen Mutu SMKN1 Watansoppeng, 2007) Dari data di atas nampak jelas bahwa diantara tiga mata pelajaran yang masuk UN ( Ujian Nasional), ternyata Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling sulit bagi siswa. Ini berarti bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki mulai dari input, proses, output, dan outcome jurusan ini memerlukan pembenahan sesegera mungkin, terlebih lagi sekolah ini masuk sebagai sekolah bertaraf internasional. Kenyataannya untuk bersaing ditingkat kabupaten saja sulit, apalagi nasional terlebih lagi internasional. Saat ini kita berada berada pada era AFTA yang menuntut percepatan perbaikan mutu di semua aspek penyelenggaraan pendidikan terutama kemampuan terhadap penguasaan Bahasa Inggris. Berkaitan dengan paparan di atas, bahwa penelitian ini berawal dari berbagai kesulitan belajar Bahasa Inggris siswa di SMKN 1 Watansoppeng. Hal tersebut menarik untuk diteliti dan dicarikan solusinya. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Gibbs (dalam Ungsi Antara Oku Marmai) bahwa untuk mengadakan perubahan demi perbaikan mutu, sehingga lulusan yang dihasilkan unggul dalam menghadapi persaingan yang makin ketat dan meningkat, maka perlu diadakan penelitian strategis tentang pengajaran dan pembelajaran, sehingga dapat diketahui secara nyata apa, mengapa, dan bagaimana upaya-upaya yang seharusnya dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan yang diharapkan. Hasil-hasil penelitian demikian sangat perlu karena berguna dalam memberikan informasi kepada para pembuat kebijaksanaan di bidang pendidikan dan penelitian (http://www.depdiknas.go.id/). Sejalan dengan pendapat di atas, Sidi mengungkapkan bahwa guru sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan mutu peningkatan pendidikan masih perlu ditingkatkan kemampuannya, mengingat perubahan yang terjadi begitu cepat dan pengetahuan terus berkembang begitu pesat. Untuk mengatasi seperti itu dibutuhkan guru yang pandai meneliti dan sekaligus memperbaiki proses pembelajarannya. Hal itu sangat diperlukan karena kemampuan meneliti merupakan cerminan guru yang profesional (dalam Sukidin dkk, 2002:2). B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: a. Bagaimana mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal UN ( Ujian Nasional) dengan menggunakan pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppeng tahun ajaran 2006/2007. b. Bagaimana meningkatkan hasil belajar Ujian Nasional Bahasa Inggris dengan menggunakan pola pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppeng tahun ajaran 2006/2007? 2. Pemecahan Masalah Untuk memcahkan masalah penelitian yang telah dirumuskan, akan dilakukan dilakukan dengan pembelajaran pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi. Pemecahan masalah tersebut menggunakan konteks Penelitian Tindakan kelas yang dikemukakan oleh Kurt Lewin yaitu melalui empat aspek, (1) Planning, (Perencanaan), (2) Acting (pelaksanaan tindakan), (3) Observing (Pengamatan), dan (4)Reflecting (Refleksi),( dalam Dediknas, 2004: 13). Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: a. Melakukan test awal Test awal ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan awal siswa, dan dari hasil test inilah kemudian dilakukan identifikasi kesulitan siswa. b. Memberikan Perlakuan/ Tindakan. Tindakan yang diberikan adalah pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi sesuai dengan rencana siklus yang telah ditetapkan. Dalam memberikan tindakan ini, materi TOEIC yang diberikan mengacu pada materi bahasa Inggris SMK, begitu juga kuantitas soal dengan 60 nomor yang terbagi dalam dua section yaitu listening dan Reading. c. Pemberian Test Pada akhir tiap siklus diberikan test untuk melihat hasil belajar siswa. C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas 3 SMKN 1 Watansoppeng. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai sebagai berikut: 1. Untuk mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal UN ( Ujian Nasional) dengan menggunakan pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppengt ahun ajaran 2006/2007. 2. Untuk meningkatkan hasil belajar Ujian Nasional Bahasa Inggris dengan menggunakan pola pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi pada siswa SMKN 1 Watansoppeng tahun ajaran 2006/2007. D. Manfaat Hasil Penelitian Hasil dari pelaksanaan Penelitian Tindakan kelas yang merupakan'self-reflective teaching' ini diharapkan akan memberikan manfaat yang berarti bagi: 1. Guru: dengan dilaksanakan penelitian tindakan kelas ini, guru dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi yang dapat memperbaiki dan mengoptimalkan pembelajaran di kelas, sehingga permasalahan-permasalahan yang dihadapi baik oleh guru dan siswa dapat dikurangi atau dieliminasi. Disamping itu dengan diberikan contoh penelitian tindakan ini, guru akan terbiasa melakukan penelitian kecil tapi bermakna yang tentunya akan bermanfaat bagi peningkatan kualiats pembelajaran serta profesionalisme guru itu sendiri. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan budaya meneliti para guru dalam mencari solusi terhadap permasalah pembelajaran khususnya Bahasa Inggris. 2. Bagi siswa: hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang mengalami kesulitan di dalam pembelajaran, karena dengan mengetahui secara lengkap kesulitan dan kelemahan, maka dapat melakukan tindakan preventif secara dini sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan munculnya kesulitan lain. 3. Bagi sekolah: menjadi bahan informasi yang bermanfaat sehingga diharapkan sekolah dapat menyusun kebijakan yang berpihak pada guru dan siswa, sehingga nantinya dapat meningkatkan kualitas lulusan. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakikat Pembelajaran Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjukkan apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Dua konsep ini menjadi padu dalam suatu kegiatan manakala terjadi interaksi antara guru dan siswa pada saat pembelajaran brlangsung. Inilah makna belajar dan mengajar sebagi suatu proses. Pembelajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif. Mengingat kedudukan siswa sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek dalam pembelajaran, maka inti proses pembelajarn tidak lain adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Inilah yang merupakan inti proses pembelajaran. Menurut Sabri (2005:34) perubahan diri siswa dalam proses pembelajarn memiliki tiga sifat yaitu masing-masing: (1) bersifat intensional, (2) bersifat positif-aktif, dan (3) bersifat efektif-fungsional. 1) Perubahan intensional yaitu perubahan yang terjadi karena pengalaman atau praktek yang dilakukan proses belajar dengan sengaja dan disadari, bukan terjadi secara kebetulan. 2) Perubahan yang bersifat positif-aktif. Perubahan yang bersifat positif yaitu perubahan yang bermanfaat sesuai dengan harapan belajar, disamping menghasilkan sesuatu yang baru dan baik disbanding sebelumnya, sedangkan perubahan yang bersifat aktif yaitu perubahan yang terjadi karena usaha yang dilakukan siswa, bukan terjadi dengan sendirinya. 3) Perubahan yang bersifat efektif yaitu perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi siswa. Adapun yang bersifat fungsional yaitu perubahan yang relatif tetap serta dapat diproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan. Selanjutnya dia mengatakan, bahwa perubahansebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan, atau apresiasi. 2. Urgensi Pembelajaran Bahasa Inggris Pembelajaran bahasa Inggris berfungsi sebagai alat pengembangan diri anak didik dalam semua aspek pembelajarannya, yaitu: (1) kepribadian; (2) ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; (3) wawasan global; dan (4) kapabilitas komunikasi internasional (Puskur, 2001:8). Bahasa merupakan kapabilitas manusia yang membuat kita mampu berkomunikasi, belajar, berpikir, memberikan penilaian dan mengembangkan nilai-nilai. Belajar Bahasa Inggris adalah mempelajari makna-makna yang disepakati oleh kelompok penutur asli Bahasa tersebut, la merupakan alat pokok untuk berperan serta dalan kehidupan kultural masyarakat berbahasa Inggris. Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah disamping merupakan wilayah pembelajaran tersendiri, tetapi juga sebagai alat yang digunakan dalam belajar konsep dan gagasan-gagasan baru. Melalui belajar Bahasa Inggris, anak didik dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan disposisi yang membuat mereka mampu berkomunikasi, dan membuat perbandingan lintas bahasa dan budaya. Dengan belajar Bahasa Inggris, mereka memperluas pemahaman terhadap diri sendiri dan bahasa mereka sendiri, memperluas jaringan pergaulan, dan memperkuat keterampilan keaksaraan dan menghitung. Hal ini membuat mereka mampu memberikan sumbangan positif dan produktif sebagai warga Negara Indonesia yang bercirikhas keberagaman budaya dan juga sebagai warga global. Belajar Bahasa Inggris secara komunikatif dapat menunjuk pengembangan anak dan pembelajar sebagai komunikator. Mereka memperoleh kemampuan komunikatif dalam bahasa Inggris, pemahaman budaya masyarakat berbahasa Inggris, dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap keragaman cara berpikir dan cara menghargai. Dalam konteks Indonesia, belajar Bahasa Inggris dapat memacu penguasaan penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni karena kebanyakan buku ditulis dalam bahasa ini. Disamping itu, belajar Bahasa Inggris dapat meningkatkan wawasan budaya sampai ketingkat global. B. Kajian Hasil Penelitian 1. Pengertian dan Gejala Kesulitan Belajar Kesulitan merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan untuk mencapai tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih keras lagi untuk dapat mengatasinya. Hambatan tersebut mungkin disadari atau mungkin juga tidak disadari oleh orang yang mengalami hambatan dalam proses mencapai hasil belajarnya yang optimal. Akibatnya prestasi yang diraihnya berada pada hasil yang semestinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:971) dinyatakan bahwa kesulitan adalah sesuatu yang sukar atau dalam keadaan yang sulit. Seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar akan menunjukkan ciri-ciri sebagai manifestasi dari adanya masalah yang dialami, seperti yang dituliskan oleh Mappaitta Muhkal (1997:6) sebagai berikut: (a) menunjukkan hasil belajar yang lebih rendah (dibawah nilai rata-rata yang dicapai oleh kelompoknya, (b) hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya,(c) lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, (d) menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, (e) menunjukkan tingkah laku yang berkelainan dan, (f) menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.Untuk itu diperlukan diagnosis dalam rangka menyelesaikan maslah yang dihadapi siswa tersebut. Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar. Seperti yang dituliskan oleh Nurminah (1999:13) sebagai berikut: a. Menentukan siswa yang berprestasi rendah tetapi pada dasarnya siswa tersebut dapat berprestasi baik. b. Menghitung nilai rata-rata kelas. c. Menandai siswa yang memperoleh nilai prestasi dibawah rata-rata kelas. d. Membuat pringkat dalam kelompok siswa. 2. Kesulitan dalam Menjawab Soal Bahasa Inggris Ujian Nasional Dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SMK bahkan di setiap jenjang pendidikan, tidak semua peserta didik dapat menyerap dan memahami materi yang diberikan. Hal ini disebabkan karena setiap peserta didik mempunyai potensi, karakter dan intelegensi yang berbeda-beda. Sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Dalyono (2005:229) bahwa aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya berlangsung secara wajar, kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Ujian Nasional Bahasa Inggris terdiri atas dua section. Section pertama dinamakan listening section yang terdiri atas empat bagian. Bagian pertama pictures yaitu siswa diberikan gambar dan mencocokan gambar tersebut dengan pilihan yang dibacakan melalui kaset. Bagian kedua adalah question-Response yaitu siswa mendengarkan pertanyaan dan respons yang ada di kaset. Tingkat kesulitan bagian ini adalah dituntut keterampilan mendengar, pemahaman dialog yang muaranya adalah penguasaan vocabulary yang memadai. Jika siswa lemah dalam mendengar dan kurang kosa-kata, maka besar kemungkinan mengalami kesulitan dalam menjawab. Bagian ketiga adalah short conversations yaitu siswa diperdengarkan percakapan antara dua orang melalui kaset, dan dari percakapan tersebut siswa menjawab soal yang diberikan secara tertulis. Tingkat kesulitan bagian ini adalah siswa harus memahami pertanyaan atau soal, selain itu siswa dituntut untuk fokus terhadap dialog percakapan dalam kaset. Jika siswa tidak memahami soal, maka besar kemungkinan siswa mengalami kesulitan dalam menjawab soal secara benar. Bagian keempat adalah short talks yaitu siswa diberikan pembicaraan pendek yang dibacakan oleh satu orang. Short talks tersebut dapat berupa pengumuman, iklan, berita cuaca dan lain-lain. Tingkat kesulitan bagian ini adalah satu pembicaraan memuat lebih dari satu soal, sehingga siswa dituntut untuk memahami beberapa soal dan saat itu pula siswa harus konsentrasi terhadap kaset. Selanjutnya section kedua adalah reading section. Dalam section ini terdiri atas tiga bagian yaitu (1) incomplete dialogues/sentences; (2) error recognition; dan (3) reading comprehension.Berdasarkan hasil pemantauan dan perbincangan dengan beberapa murid SMKN 1 Watansoppeng diperoleh informasi bahwa kesulitan yang paling umum dirasakan oleh siswa adalah bagian listening, dan pada reading section yaitu bagian error recognition. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pada bagian yang lain tidak menemui kesulitan. 3. Model Pembelajaran TOEIC Bertahap Termodifikasi Model pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi sebenarnya berawal dari pola pembelajaran yang dikembangkan oleh Mirjam Anugerahwati (2004) dengan empat tahap, kemudian dimodifikasi oleh peneliti baik nama maupun tahapannya dan selanjutnya disebut bertahap termodifikasi dengan membagi menjadi tiga tahap seperti bagan berikut ini: Gambar 2. Skema Pembelajaran Bertahap Termodifikasi Pada tahap pertama (Building Knowledge Of Material) siswa diberikan pengetahuan, pemahamam konsep tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan, strateginya bagaimana, dan bagaimana materi itu. Selanjutnya pada tahap kedua Modelling of material siswa diberikan contoh tentang materi itu, baik pada bagian picture, Question-response, short conversations, short talks, incomple sentences, error recognition, dan reading materials. Selanjutnya pada tahap ketiga, siswa bekerja secara individu untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan atau mengaplikasikan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang telah dilalui pada tahap sebelumnya. BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Tindakan Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berbasis kelas, tindakan dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Inggris. Tindakan yang dimaksud adalah mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal UN (Ujian Nasional) Bahasa Inggris melalui pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi. Prosedur atau langkah-langkah tindakan kelas meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan evaluasi/refleksi. Langkah-langkah tindakan yang ditempuh merupakan kerja yang berulang (daur ulang atau bersiklus) hingga diperoleh hasil yang valid dari suatu proses penelitian yang bersifat sirkular-reflektif yang dapat disimpulkan sebagai jawaban masalah penelitian yang sedang dilaksanakan. B. Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 1 Watansoppeng Kabupaten Soppeng. Subjek penelitian adalah siswa kelas 3 tahun pelajaran 2006/2007 yang terdiri atas 36 siswa. Siswa tersebut semuanya berjenis kelamin perempuan. C. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data mengikuti prosedur kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan selama dua bulan mulai dari tahap perencanaan sampai tahap pelaporan yaitu tanggal satu Maret sampai tanggal satu Mei yang dirancang atas dua siklus penelitian yaitu: a. Siklus pertama berlangsung selama 5 kali pertemuan ( tiga minggu yaitu minggu I,II, dan III Maret 2007). b. Siklus kedua berlangsung selama 5 kali pertemuan (tiga minggu yaitu minggu IV Maret sampai minggu II April 2007). Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk data mengenai perubahan sikap, kehadiran dan keaktifan atau kesungguhan siswa mengikuti kegiatan belajar diambil dengan cara pengamatan atau observasi. 2. Data mengenai kemampuan siswa mengeliminasi kesulitan dalam menjawab soal-soal UAN Bahasa Inggris diambil dari kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal UAN baik yang dimodifikasi sendiri oleh peneliti maupun UAN Bahasa Inggris 2006/2007. Secara rinci pelaksanaan kedua siklus tersebut di atas diuraikan sebagai berikut: Siklus 1. Siklus pertama ini dibagi atas empat tahapan sesuai dengaan kriteria Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu tahapan perencanaan, tahapan tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi. a. Tahap perencanan 1) Mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran penelitian seperti: menyediakan tape recorder, kaset untuk listening, lembar jawaban test evaluasi, mempersiapkan alat perekam data / camera. 2) Membuat instrumen penelitian yang meliputi penyusunan program pembelajaran, pembuatan alat observasi untuk melihat kondisi pembelajaran Bahasa Inggris, mendesain alat evaluasi. 3) Adapun materi yang akan diajarkan yaitu: listening section yang meliputi (1) pictures; (2) question-response; (3) short conversations; dan (4) short talks. Sedangkan pada reading section meliputi (1) incomplete dialogues/sentences; (2) error recognition; dan (3) reading comprehension. b. Tahap Tindakan 1) Melakukan tindakan sebagaimana skenario pembelajaran yang telah disusun dengan memberikan materi model pembelajaran TOEIC. 2) Mengidentifikasi kemampuan awal siswa dalam menjawab soal ujian Bahasa Inggris dengan jalan memberi test awal. 3) Mengidentifikasi kesulitan siswa dalam menjawab soal ujian Bahasa Inggris dengan jalan menganalisis hasil test kemampuan awal mereka. 4) Jumlah pertemuan yaitu sebanyak lima kali, pertemuan pertama sampai empat adalah proses pembelajaran sedangkan pada pertemuna lima adalah tahap evaluasi. 5) Mengamati prilaku siswa yang nampak ketika pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya. c. Tahap Observasi Observasi dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah kehadiran, keaktifan belajar siswa mulai pertemuan pertama sampai terakhir. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun oleh peneliti. Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik keaktifan siswa mengikuti pelajaran, mengerjakan soal-soal yang diberikan maupun tanggapan-tanggapan yang diberikan siswa. d. Tahap Refleksi Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini, demikian pula hasil evaluasinya. Dari hasil yang didapatkan, peneliti membuat kesimpulan apakah hasil yang didapatkan sudah dapat meningkatkan hasil belajar, atau apakah kesulitan siswa sudah dapat dieliminasi hingga 60%, dan apakah persentase siswa yang mendapatkan nilai tujuh diatas 20%. Hasil analisis data yang dilaksanakan dalam tahap ini dipergunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya. Siklus II Pada dasarnya, hal-hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulang kembali tahap-tahap yang dilakukan pada siklus sebelumnya di samping itu, dilakukan juga sejumlah rencana baru untuk memperbaiki atau merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman yang diperoleh pada siklus I. a. Tahap Perencanaan 1) Pada dasarnya tahap-tahap yang telah dilakukan pada siklus I akan kembali diulang pada siklus 2 ini setelah memperoleh refleksi. 2) Dari hasil refleksi serta tanggapan yang diberikan siswa, guru menyusun rencana baru yang akan dibuat tindakannya. b. Tahap Tindakan Tindakan pada siklus kedua ini adalah melanjutkan langkah-langkah yang telah dilakukan pada siklus pertama yang dianggap perlu dalam memecahkan persoalan yang muncul pada siklus I. Pelaksanaan pembelajaran pada tahap ini lebih dipertajam dan lebih ketat serta dengan menyediakan waktu konsultasi pada setiap akhir pembelajaran. Pada siklus 2 ini materi pembelajaran di setiap bagian seperti (1) pictures; (2) question-response; (3) short conversations; dan (4) short talks lebih diperketat dengan cara menanya siswa satu persatu alasan pemilihan jawaban dari soal latihan yang diberikan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang kesulitan-kesulitan siswa. Begitu juga pada reading section (1) incomplete sentences; (2) error recognition; dan (3) reading comprehension semuanya dilakukan lebih cermat lagi.c. Tahap ObservasiSecara umum, tahap observasi kedua ini adalah melanjutkan kembali kegiatan pada siklus pertama, dilaksanakan pada saat proses belajar-mengajar. Observasi yang dilakukan ditingkatkan lagi kecermatannya dan dapat diupayakan secara maksimal agar murid telah berpartisipasi secara aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar.. d. Tahap Refleksi Pada tahap ini, umumnya tetap mengikuti kegiatan seperti yang dilaksanakan pada siklus I. Hasil tes akhir siklus 2 yang diperoleh siswa diharapkan akan lebih baik daripada tes akhir siklus 1 sebagai akibat dari tindakan perbaikan, dan pengoptimalan penggunaan strategi pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi yang dilaksanakan selama dua siklus. Sebagai implikasi dari rfleksi ini, selanjutnya dibuat kesimpulan apakah pembelajarn TOEIC bertahap termodifikasi dapat mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris sebesae 60% atau tidak. D. Metode Analisis Data Data yang terkumpul akan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk menganalisis secara kuantitatif, digunakan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan karakteristik dari subjek penelitian yaitu nilai rata-rata, nilai tertinggi, nilai terendah, standar deviasi, sedangkan untuk menganalisis secara kualitatif digunakan teknik kategori. Adapun untuk keperluan analisis kualitatif digunakan teknik kategori tingkat penguasaan menurut Wayang Nurkencana dan PPN Sumarta (dalam Abidin, 2005: 17) yaitu tingkat penguasaan siswa 90% - 100% dikategorikan sangat tinggi, 80% - 89% dikategorikan tinggi, 65% - 79% dikategorikan sedang, 55% - 64% dikategorikan rendah, dan 54% - 0% dikategorikan sangat rendah. E. Cara Pengambilan Kesimpulan Yang menjadi indikator keberhasilan atau indikator kinerja penelitian tindakakan ini adalah bila kesulitan yang dialami oleh siswa dalam menjawab soal ujian Bahasa Inggris dapat dieliminasi hingga 60%. Bila ini dapat dilakukan berarti kemampuan siswa dalam menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris diharapkan dapat mencapai kebenaran minimal 60%, atau nilai mereka rata-rata 6,00. Indikator lainnya adalah bila persentase siswa yang memperoleh nilai 7,00 sebesar 20% sebagaimana sasaran mutu ISO 9000:2001 dalam dokumen ISO SMKN1 Watansoppeng. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Selintas Tentang Setting Penelitian ini dilaksanakan SMKN 1 Watansoppeng dengan subjek penelitian kelas 3 tahun pelajaran 2006/2007. Lokasi sekolah sekitar satu kilometer dari pusat kota Watansoppeng. Subjek penelitian sebanyak 36 orang yang semuanya adalah perempuan. Gambar 3. Lokasi SMKN 1 Watansoppeng B. Uraian Penelitian Secara Umum-Keseluruhan Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang dimaksudkan untuk mengeliminasi kesulitan siswa menjawab soal Ujian Nasional yang sasaran akhirnya adalah dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris melalui pembelajaran TOEIC termodifikasi. Jumlah siklus sebanyak dua siklus yang digambarkan dibawah ini: Siklus 1 Tabel 4.1 Distribusi Skor Tes Awal siklus I URAIAN NILAI STATISTIK Subyek 36 Skor Tertinggi 4,67 Skor Terendah 2,5 Skor Rata-Rata 3,17 Median 3,0 Standar Deviasi 0,56 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Tes Awal Siklus I No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 0 - 54 Sangat Rendah 36 100 2 55 - 64 Rendah 0 0 3 65 - 79 Sedang 0 0 4 80 - 89 Tinggi 0 0 5 90 - 100 Sangat Tinggi 0 0 Jumlah 36 100 Analisis deskripsi terhadap hasil belajar siswa pada tes awal dan tes akhir ssiklus I seperti pada tabel 4.1 dan 4.2 di atas, menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa sebelum diadakan penelitian tindakan kelas (PTK) adalah 3,17 atau 31,7% dari skor ideal (total) yang mungkin dicapai yaitu 10 sedangkan skor terendah yang mungkin dicapai adalah 0. Apabila skor hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan dalam lima kategori, maka diproleh distribusi skor yaitu sebanyak 100% siswa dikelompokkan dalam kategori sangat rendah. Skor terendah yang dicapai adalah 2.50 dan skor tertinggi adalah 4,67. Tabel 4.3 Distribusi Skor Tes Akhir siklus I URAIAN NILAI STATISTIK Subyek 36 Skor Tertinggi 6,83 Skor Terendah 3,5 Skor Rata-Rata 4,63 Median 4,42 Standar Deviasi 0,76 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tes Akhir Siklus I No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 0 - 54 Sangat Rendah 32 89 2 55 - 64 Rendah 3 8 3 65 - 79 Sedang 1 3 4 80 - 89 Tinggi 0 0 5 90 - 100 Sangat Tinggi 0 0 Berdasarkan tabel 4.3 dan tabel 4.4 di atas dapat dijelaskan bahwa setelah dilakukan evaluasi kepada siswa hasilnya adalah skor rata-rata yang dicapai siswa adalah 4,63, skor tertinggi adalah 6,83 dan skor terendah 3,50. Jika nilai siswa tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori maka hasilnya adalah sebanyak 32 orang atau 89% siswa termasuk kategori sangat rendah, sebanyak tiga atau delapan persen siswa termasuk kategori rendah, dan satu orang termasuk kategori sedang.. Tabel 4.5 Distribusi Skor Tes Awal siklus 2 URAIAN NILAI STATISTIK Subyek 36 Skor Tertinggi 7,17 Skor Terendah 3,00 Skor Rata-Rata 4,82 Median 4,67 Standar Deviasi 0,92 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tes Awal Siklus 2 No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 0 - 54 Sangat Rendah 29 81 2 55 - 64 Rendah 3 8 3 65 - 79 Sedang 4 11 4 80 - 89 Tinggi 0 0 5 90 - 100 Sangat Tinggi 0 0 Jumlah 36 100 Data pada tabel 4.5 dan 4.6 di atas yang menggambarkan tentang kemampuan siswa dalam mengerjakan tes Bahasa Inggris yang diberikan menunjukkan bahwa skor rata-rata yang dicapai 4,82, skor tertinggi adalah 7,17 dan skor terendah adalah 3,00. Apabila skor siswa tersebut sikelompokkan ke dalam lima kategori maka didapat 29 orang atau sebesar 81% tergolong sangat rendah, sebanyak tiga orang atau delapan persen tergolong rendah, dan empat orang atau 11% tergolong sedang. Tabel 4.7 Distribusi Skor Tes Akhir siklus 2 Soal Ujian Nasional 2005/2006 URAIAN NILAI STATISTIK Subyek 36 Skor Tertinggi 8,80 Skor Terendah 3,80 Skor Rata-Rata 6,27 Median 6,1 Standar Deviasi 1,15 Data di atas menggambarkan bahwa kemampuan siswa dalam menjawab soal Bahasa Inggris yang ditandai dengan nilai menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai adalah 8.80, skor terendah 3,80, dan skor rata-rata 6,27. Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tes Akhir Siklus 2 dengan Soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2005/2006. No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 0 - 54 Sangat Rendah 9 25 2 55 - 64 Rendah 14 39 3 65 - 79 Sedang 10 28 4 80 - 89 Tinggi 3 8 5 90 - 100 Sangat Tinggi 0 0 Jumlah 36 100 Tabel 4.8 di atas memberikan gambaran bahwa sebanyak sembilan orang atau 25% dalam kategori sangat rendah, 14 orang atau 39% dalam kategori rendah, sebanyak 10 orang atau 28% siswa dalam kategori sedang dan tiga orang atau delepan persen dalam kategori tinggi. Tabel 4.9 Distribusi Skor Tes Akhir siklus 2 Soal Ujian Nasional 2006/2007 URAIAN NILAI STATISTIK Subyek 36 Skor Tertinggi 8,00 Skor Terendah 4,40 Skor Rata-Rata 6,16 Median 6,20 Standar Deviasi 1,04 Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tes Akhir Siklus 2 dengan Soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007. No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 0 - 54 Sangat Rendah 7 19 2 55 - 64 Rendah 15 42 3 65 - 79 Sedang 13 36 4 80 - 89 Tinggi 1 3 5 90 - 100 Sangat Tinggi 0 0 Jumlah 36 100 Data pada tabel 4.10 di atas memberikan gambaran bahwa hasil belajar Bahasa Inggris siswa setelah dikelompokkan menjadi lima kategori terdapat yaitu tujuh orang dalam kategori sangat rendah, sebanyak 15 orang dalam kategori rendah, 13 orang atau 36% dalam kategori sedang dan satu orang kategori tinggi. C. Penjelasan Per siklus a) Siklus 1 Siklus pertama berlangsung selama empat lima kali pertemuan. Pertemuan pertama sampai empat adalah proses pembelajaran, sedangkan pada pertemuan lima adalah evaluasi. Materi yang diajarkan siklus ini mengacu pada pembelajaran TOEIC yang terdiri dari dua section yaitu listening and reading reading section. Pada pertemuan pertama dan dua yang diajarkan adalah listening section yang mencakup pictures, question-response, short conversations, dan short talks. Karena orientasi penelitian ini adalah bagaimana mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris, maka tidak ditekankan pada satu pokok materi tetapi secara menyeluruh dalam artian akumulasi pengetahuan dari kelas satu hingga kelas tiga. Untuk maksud tersebut, buku yang menjadi acuan adalah "Building Skill For The TOEIC Test" karya Gina Richardson dan Michele Peters, dan "30 Days To TOEIC Test" karya Chauncey Group. Alasan pemilihan buku tersebut karena setelah latihan diberikan penjelasan dan sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa.SMK. Pada pertemuan tiga dan empat yang dibahas adalah reading section yang meliputi incomplete sentences, error recognition, dan reading comprehension. Selanjutnya untuk melihat keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran model TOEIC bertahap ini, peneliti merekam dengan menggunakan lembar observasi. Tabel 4.11 Rekaman Keaktifan Siswa Mengikuti Pembelajaran Siklus 1 No Perilaku yang Diamati Frekuensi Untuk Setiap Pertemuan 1 2 3 4 5 1 Kehadiran siswa 36 35 35 36 Tes Akhir Siklus 1 2 Siswa bertanya berkaitan dengan materi 3 2 5 6 3 Kedisiplinan masuk tepat waktu 35 35 35 36 4 Jumlah siswa kurang perhatian saat pembelajaran berlangsung 5 5 4 2 5 Jumlah siswa yang mencatat materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru 36 35 35 36 6 Jumlah siswa yang mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru 36 35 35 36 7 Kerapihan buku catatan siswa 31 31 33 36 Tabel 4.12 Nilai Tes Awal Pada Siklus 1 NO NAMA SISWA JUMLAH BENAR JUMLAH NILAI Listening Reading 1 Mardewi 5 10 15 2,50 2 Amalia Febrianti 10 18 28 4,67 3 Fitri Apriani 6 12 18 3,00 4 Riskah Damayanti 6 11 17 2,83 5 Yulismayanti 7 12 19 3,17 6 Astriani Ridwan 5 12 17 2,83 7 Anda Satriani 5 12 17 2,83 8 Garnis 5 13 18 3,00 9 Nurbaya M 8 13 21 3,50 10 Fitrih 5 13 18 3,00 11 Andi Syahria Juwita 10 16 26 4,33 12 Agustina 7 14 21 3,50 13 E r n i 5 12 17 2,83 14 Erfiani Rijal 4 12 16 2,67 15 Hadriani 7 13 20 3,33 16 Hasriani 8 12 20 3,33 17 K a s m a 11 12 23 3,83 18 Kasmasanti 10 11 21 3,50 19 Mukrimatunnisa 11 17 28 4,67 20 Mulianasari 6 12 18 3,00 21 Nunung Sri Handini 8 14 22 3,67 22 Nur Asniwati 5 11 16 2,67 23 Nurazizah 5 12 17 2,83 24 Nurdiana 5 11 16 2,67 25 Nurhatisari 5 11 16 2,67 26 Nurul Fatimah 6 12 18 3,00 27 Nurul Ummi Rahim 6 11 17 2,83 28 Nuryani 6 11 17 2,83 29 Riska Puspatisari 6 12 18 3,00 30 Risnah 5 12 17 2,83 31 Sartika 6 11 17 2,83 32 ST. Fatimah 9 16 25 4,17 33 Suhartini 6 12 18 3,00 34 Sulfaidah 7 13 20 3,33 35 Yuliana 5 12 17 2,83 36 Aswira Adil 5 10 15 2,50 JUMLAH 236 448 684 114,00 RATA-RATA 6,56 12,44 19,00 3,17 Median 3,00 Standar deviasi 0,56 Tabel 4.13 Nilai Tes Akhir Siklus 1 NO NAMA SISWA JUMLAH BENAR JUMLAH NILAI Listening Reading 1 Mardewi 8 13 21 3,50 2 Amalia Febrianti 14 24 38 6,33 3 Fitri Apriani 10 14 24 4,00 4 Riskah Damayanti 10 14 24 4,00 5 Yulismayanti 10 14 24 4,00 6 Astriani Ridwan 9 15 24 4,00 7 Anda Satriani 9 13 22 3,67 8 Garnis 9 15 24 4,00 9 Nurbaya M 11 18 29 4,83 10 Fitrih 8 17 25 4,17 11 Andi Syahria Juwita 13 24 37 6,17 12 Agustina 11 18 29 4,83 13 E r n i 8 17 25 4,17 14 Erfiani Rijal 8 18 26 4,33 15 Hadriani 11 18 29 4,83 16 Hasriani 12 19 31 5,17 17 K a s m a 15 26 41 6,83 18 Kasmasanti 12 18 30 5,00 19 Mukrimatunnisa 15 23 38 6,33 20 Mulianasari 10 16 26 4,33 21 Nunung Sri Handini 12 19 31 5,17 22 Nur Asniwati 12 15 27 4,50 23 Nurazizah 12 16 28 4,67 24 Nurdiana 12 17 29 4,83 25 Nurhatisari 12 17 29 4,83 26 Nurul Fatimah 10 15 25 4,17 27 Nurul Ummi Rahim 10 16 26 4,33 28 Nuryani 10 17 27 4,50 29 Riska Puspatisari 10 17 27 4,50 30 Risnah 12 16 28 4,67 31 Sartika 10 16 26 4,33 32 ST. Fatimah 15 16 31 5,17 33 Suhartini 10 15 25 4,17 34 Sulfaidah 10 16 26 4,33 35 Yuliana 10 15 25 4,17 36 Aswira Adil 10 14 24 4,00 JUMLAH 390 611 1001 166,83 RATA-RATA 10,83 16,97 27,81 4,63 Median 4,42 Standar Deviasi 0,76 b) Siklus 2 Sebagaimana halnya pada siklus pertama, maka pada siklus dua ini adalah mengulang apa yang dilakukan pada siklus pertama, namun tingkat ketelitian dan kuantitas pertanyaan kepada setiap siswa lebih ditingkatkan. Salah satu contohnya adalah ketika diberikan latihan, maka satu persatu siswa ditanya tentang alasan pemilihan jawaban yang mereka berikan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengorek keterangan tentang kesulitan mendasar yang dialami oleh siswa. Tabel 4.14 Nilai Tes Awal Pada Siklus 2 NO NAMA SISWA JUMLAH BENAR JUMLAH NILAI Listening Reading 1 Mardewi 8 10 18 3,00 2 Amalia Febrianti 17 23 40 6,67 3 Fitri Apriani 10 15 25 4,17 4 Riskah Damayanti 14 15 29 4,83 5 Yulismayanti 12 15 27 4,50 6 Astriani Ridwan 10 14 24 4,00 7 Anda Satriani 8 14 22 3,67 8 Garnis 9 15 24 4,00 9 Nurbaya M 13 20 33 5,50 10 Fitrih 9 18 27 4,50 11 Andi Syahria Juwita 15 26 41 6,83 12 Agustina 12 19 31 5,17 13 E r n i 8 15 23 3,83 14 Erfiani Rijal 8 17 25 4,17 15 Hadriani 12 19 31 5,17 16 Hasriani 12 18 30 5,00 17 K a s m a 16 27 43 7,17 18 Kasmasanti 12 19 31 5,17 19 Mukrimatunnisa 16 23 39 6,50 20 Mulianasari 13 18 31 5,17 21 Nunung Sri Handini 13 21 34 5,67 22 Nur Asniwati 12 16 28 4,67 23 Nurazizah 10 16 26 4,33 24 Nurdiana 10 17 27 4,50 25 Nurhatisari 12 18 30 5,00 26 Nurul Fatimah 10 16 26 4,33 27 Nurul Ummi Rahim 10 17 27 4,50 28 Nuryani 9 19 28 4,67 29 Riska Puspatisari 12 19 31 5,17 30 Risnah 12 17 29 4,83 31 Sartika 11 17 28 4,67 32 ST. Fatimah 17 18 35 5,83 33 Suhartini 10 14 24 4,00 34 Sulfaidah 11 16 27 4,50 35 Yuliana 9 14 23 3,83 36 Aswira Adil 11 13 24 4,00 JUMLAH 413 628 1041 173,50 RATA-RATA 11,47 17,44 28,92 4,82 Median 4,67 Standar Deviasi 0,92 Tabel 4.15 Nilai Tes Akhir Pada Siklus 2 dengan soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2005/2006. NO NAMA SISWA JUMLAH BENAR JUMLAH NILAI Listening Reading 1 Mardewi 6 13 19 3,80 2 Amalia Febrianti 12 32 44 8,80 3 Fitri Apriani 8 22 30 6,00 4 Riskah Damayanti 10 25 35 7,00 5 Yulismayanti 9 28 37 7,40 6 Astriani Ridwan 7 20 27 5,40 7 Anda Satriani 8 20 28 5,60 8 Garnis 9 21 30 6,00 9 Nurbaya M 10 25 35 7,00 10 Fitrih 9 22 31 6,20 11 Andi Syahria Juwita 11 29 40 8,00 12 Agustina 9 26 35 7,00 13 E r n i 7 20 27 5,40 14 Erfiani Rijal 7 20 27 5,40 15 Hadriani 8 27 35 7,00 16 Hasriani 6 24 30 6,00 17 K a s m a 12 32 44 8,80 18 Kasmasanti 8 24 32 6,40 19 Mukrimatunnisa 10 28 38 7,60 20 Mulianasari 8 22 30 6,00 21 Nunung Sri Handini 9 27 36 7,20 22 Nur Asniwati 9 21 30 6,00 23 Nurazizah 8 24 32 6,40 24 Nurdiana 7 23 30 6,00 25 Nurhatisari 10 27 37 7,40 26 Nurul Fatimah 8 23 31 6,20 27 Nurul Ummi Rahim 7 25 32 6,40 28 Nuryani 7 21 28 5,60 29 Riska Puspatisari 10 25 35 7,00 30 Risnah 9 17 26 5,20 31 Sartika 9 21 30 6,00 32 ST. Fatimah 8 27 35 7,00 33 Suhartini 8 14 22 4,40 34 Sulfaidah 7 16 23 4,60 35 Yuliana 10 17 27 5,40 36 Aswira Adil 6 15 21 4,20 JUMLAH 306 823 1129 225,80 RATA-RATA 8,50 22,86 31,36 6,27 Median 6,10 Standar Deviasi 1,15 Tabel 4.16 Nilai Tes Akhir Pada Siklus 2 dengan Soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007. NO NAMA SISWA NILAI 1 Mardewi 4,40 2 Amalia Febrianti 8,00 3 Fitri Apriani 6,40 4 Riskah Damayanti 6,60 5 Yulismayanti 6,60 6 Astriani Ridwan 6,20 7 Anda Satriani 5,60 8 Garnis 6,20 9 Nurbaya M 5,60 10 Fitrih 7,20 11 Andi Syahria Juwita 7,20 12 Agustina 5,80 13 E r n i 7,60 14 Erfiani Rijal 6,20 15 Hadriani 7,20 16 Hasriani 6,20 17 K a s m a 7,60 18 Kasmasanti 5,80 19 Mukrimatunnisa 6,80 20 Mulianasari 6,00 21 Nunung Sri Handini 6,60 22 Nur Asniwati 5,80 23 Nurazizah 7,00 24 Nurdiana 5,40 25 Nurhatisari 7,60 26 Nurul Fatimah 6,40 27 Nurul Ummi Rahim 6,20 28 Nuryani 5,60 29 Riska Puspatisari 7,00 30 Risnah 6,20 31 Sartika 6,80 32 ST. Fatimah 4,40 33 Suhartini 4,00 34 Sulfaidah 4,20 35 Yuliana 5,20 36 Aswira Adil 4,00 JUMLAH 221,60 RATA-RATA 6,16 TERTINGGI 8,00 TERENDAH 4,00 STANDAR DEVIASI 1,04 MEDIAN 6,20 D. Proses Menganalisis Data Pada intinya proses menganalisis data dimulai sejak awal penelitian hingga selesainya penelitian ini, namun analisis data lebih fokus ketika selesai diberikan evaluasi baik pada siklus pertama maupun pada siklus dua. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif menurut Suharsimi Arikunto (1999:245) digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah- pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Analisis kuantittatif akan disajikan berupa skor rata-rata siswa dari setiap siklus, skor tertinggi, skor terendah, median dan standar deviasi. Proses pengambilan kesimpulan dilakukan setelah selesai refleksi dari dua siklus. E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan a) Siklus 1 Untuk melihat keampuhan tindakan yang diberikan berupa pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi kepada siswa dalam rangka untuk mengeliminasi kesulitan dalam menjawab soal ujian Bahasa Inggris, maka dilakukan evaluasi. Bentuk soal yang diberikan berupa 60 soal pilihan ganda yang terdiri atas listening section sebanyak 30 soal dan reading section section sebanyak 30 soal. Hasil dari evaluasi tersebut adalah rata-rata jumlah soal benar dijawab adalah untuk listening section adalah 10,83 dari maksimal jumlah benar 30. Sedangkan pada reading section sebesar 16, 97. Selanjutnya skor rata-rata pencapaian siswa adalah 4,63 dengan skor tertinggi yaitu 6,83 dan skor terendah 3,50. Jumlah siswa yang mencapai 0-54 sebanyak 32 orang dalam kategori sangat rendah, skor antara 55-64 sebanyak tiga orang dalam kategori rendah dan skor antara 65-79 yaitu satu orang dalam kategori sedang. Memperhatikan deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pada siklus pertama ini kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal Bahasa Inggris sangat rendah. Dengan demikian pembelajaran TOIEC bertahap hanya mampu mengeliminasi kesulitan menjawab soal sebesar 46%. Sedangkan indikator keberhasilan adalah mampu mengeliminasi kesulitan sebesar 60%, oleh karena itu pada siklus 1 ini dianggap belum berhasil. b) Siklus 2 Pada siklus dua ini siswa diberikan evaluasi akhir sebanyak dua kali. Evaluasi pertama diberikan soal Ujian Nasional Bahasa Ingris SMK 2005/2006 dengan kode PI (E2). Alasan peneliti memberi dua kali evaluasi adalah evaluasi pertama dimaksudkan untuk melihat tingkat kesiapan siswa menghadapi Ujian Nasional 2006/2007. Sedangkan evaluasi pada Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007 adalah untuk melihat tingkat keberhasilan penelitian ini. Jumlah nomor sebanyak 50 soal pilihan ganda dengan komposisi listening section sebanyak 15 nomor dan reading section sebanyak 35 nomor. Hasil dari evaluasi pertama ini menunjukkan bahwa dari 36 peserta, skor rata-rata pencapaian adalah 6,27. Skor perolehan tertinggi adalah 8.80 dan terendah 3,80. Jika dikelompokkan dalam lima kategori maka yang mendapat nilai 0-54 sebanyak sembilan orang dalam kelompok sangat rendah, skor antara 55-64 sebanyak 14 orang dalam kelompok rendah, skor antara 65-79 sebanyak 10 orang atau 28% dlam kelompok sedang, sedangkan kelompok tinggi yang memperoleh skor antara 80 -90 sebanyak tiga orang. Memperhatikan deskripsi di atas, maka dapat diberikan interpretasi bahwa pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi dapat mengeliminasi kesulitan dlaam menjawab soal ujian Bahasa Inggris sebesar 62,7%. Dengan memperhatikan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 60%, maka pada siklus dua ini pembelajaran dianggap berhasil. Selanjutnya hasil evaluasi pada Ujian Nasional Bahasa Inggris yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 17 April 2007 adalah skor rata-rata pencapaian siswa yaitu 6,16. Sedangkan skor tertinggi yang dicapai adalah 8,00 dan skor terendah adalah 4,40. Jika dikelompokkan dalam lima kategori mengenai tingkat penguasaan mereka terhadap materi, maka terdapat tujuh orang sebagai kelompok sangat rendah, 15 orang dalam atau 42% dalam kategori kategori rendah, 13 orang atau 36% dalam kategori sedang, dan satu orang dalam kelompok tinggi. Dari hasil evaluasi di atas nampak bahwa tingkat kesulitan dalam menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris tahun 2006/2007 melalui pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi dapat dieliminasi sebesar 61,6%. Jika dihubungkan dengan indikator yang telah ditetapkan bahwa penelitian ini dianggap berhasil jika mampu mengeliminasi tingkat kesulitan menjawab soal Bahasa Inggris sebesar 60%. Dan ternyata indikator tersebut telah terbukti sehingga dianggap bahwa pembelajaran TOEIC bertahap dapat meningkatkan kualitas dan hasil belajar Bahasa Inggris siswa. Selanjutnya jika merujuk pada sasaran mutu SMKN 1 Waansoppeng dalam dokumne ISO 9000:2001 bahwa nilai Ujian Nasional Bahasa Inggris minimal 20% mendapat nilai tujuh ke atas. Hasilnya adalah siswa yang mendapat nilai tujuh keatas sebanyak sembilan orang atau sebesar 25%. Dengan demikian pembelajaran TOEIC bertahap dapat mengeliminasi kesulitan siswa menjawab soal Bahasa Inggris. Selanjutnya berdasarkan hasil rekaman keaktifan siswa mengikuti pembelajaran yang diambil dari hasil pengamatan dengan menggunakan lembar observasi nampak bahwa terdapat frekwensi kektifan dari pertemuan awal hingga pertemuan akhir di setiap siklus. Salah satu indikasinya adalah kuantitas siswa bertanya meningkat, yang menurut peneliti bahwa ada keinginan siswa untuk mengetahui lebih baik lagi. Begitu juga tingkat kehadiran siswa mengikuti pembelajaran dan kerapihan catatan siswa menunjukkan indikasi yang meningkat. Sehingga dengan demikian diasnggap bahwa pembelajaran model TOEIC bertahap ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang berlangsung selama dua siklus, dapat disimpulkan hasil-hasilnya sebagai berikut: 1. Kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan terhadap penyelesaian soal ujian Bahasa Inggris yaitu skor rata-rata adalah 3,17 dengan skor tertinggi yaitu 4,67 dan skor terendah sebesar 2,50. 2. Skor akhir siklus pertama adalah rata-rata pencapaian siswa sebesar 4,63 dengan skor tertinggi yaitu 6,83 dan skor terendah 3,50. 3. Rata-rata pencapaian skor siswa pada awal siklus dua adalah 4,82. Skor tertinggi yang dicapai adalah 7,17 dan skor terendah adalah 3.00. 4. Hasil belajar siswa pada akhir siklus dua dengan ujian Nasional 2005/2006 yaitu pencapaian skor rata-rata sebesar 6,27. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 8,80 dan skor terendah 3,80. 5. Hasil belajar siswa pada akhir siklus dua dengan ujian Nasional 2006/2007 yaitu pencapaian skor rata-rata sebesar 6,16. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 8,00 dan skor terendah 4,40. 6. Pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi dapat mengeliminasi kesulitan siswa menjawab soal Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007 sebesar 61,6%. Pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil Belajar Bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya nilai rata-rata Bahasa Inggris tahun ini sedikit lebih bagus. Meskipun demikian jika dikategorikan tingkat penguasaan siswa berada pada tingkat rendah. B. Saran-saran Dari hasil penelitian yang diperoleh, baik peningkatan hasil belajar siswa maupun perubahan positif yang dialami siswa, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Pihak guru Bahasa Inggris khususnya di sekolah kejuruan agar senantiasa mencari inovasi-inovasi dalam pembelajarn untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris. Salah satu tekhnik pembelajaran yang dapat mengeliminasi kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal ujian Bahasa Inggris adalah pembelajaran TOEIC bertahap termodifikasi. 2. Pihak sekolah; kiranya dapat menfasilitasi dan mendorong tumbuh kembangya budaya meneliti dikalangan guru agar kendala yang dihadapi murid dan guru dapat dicarikan solusinya. Sehingga pada akhirnya dari budaya meneliti ini akan dapat meningkatkan profesionalisme guru berkaitan dengan bidang tugasnya. DAFTAR PUSTAKA Abidin. 2005. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN 216 Dualimpoe Kabupaten Wajo Melalui Pemberian Latihan Mencongak.Laporan Penelitian. Bintaro dan Handoyo. 2004. Peran Industri, Pemda dan Assosiasi Profesi dalam Pengembangan KBK. Jakarta: Panitia Konvensi Nasional Aptekindo II dan temu Karya XIII FT/FPTK/JPTK Se-Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. 2004.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan. Dudung Agus. 2004. Pendidikan Teknologi Kejuruan dalam Mengatasi Pengangguran. Jakarta: Panitia Konvensi Nasional Aptekindo II dan temu Karya XIII FT/FPTK/JPTK Se-Indonesia. Dedikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. J.J. Hasibuan dan Moedjiono.1993. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Maksum, H. 2004. Relevansi Pengembangan Teknologi Kejuruan dengan Kebutuhan Pengembanagan Daerah. Jakarta: Panitia Konvensi Nasional Aptekindo II dan temu Karya XIII FT/FPTK/JPTK Se-Indonesia. Mappaita Muhkal. 1997. Pengajaran Remedial Matematika Berdasarkan Hasil Diagnosis Kesulitan Belajar Siswa. Laporan Hasil Penelitian IKIP Ujung Pandang. M. Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mijam Anugerahwati. 2004. Pembelajaran Teks Deskriptif Bahan Pelatihan Terintegrasi Guru SMP. Jakarta: Depdiknas. Nurminah. 1999. Deskripsi kesulitan belajar Siswa Kelas 1 SMU Negeri 1 Takalar Pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret. Skripsi. FPMIPA IKIP Ujung Pandang. Puskur. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah menengah Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Sabri,A. 2005. Strategi Belajar Mengajar dan Mikro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching. Suharsimi Arikunto. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi IV. Jakarta : Rineka Cipta. Sukidin, Basrowi, Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. ( tanpa tempat): Insan Cendikia. Ungsi Antara Oku Marmai. 2007. Hubungan dan Upaya Penelitian dan Pengajaran dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tinggi. http://www.depdiknas.go.id/ Diakses pada tanggal 15 Juni 2007. Lampiran Lembar Observasi Rekaman Keaktifan Siswa Mengikuti Pembelajaran Siklus 1 No Perilaku yang Diamati Frekuensi Untuk Setiap Pertemuan 1 2 3 4 5 1 Kehadiran siswa 36 35 35 36 Tes Akhir Siklus 1 2 Siswa bertanya berkaitan dengan materi 3 2 5 6 3 Kedisiplinan masuk tepat waktu 35 35 35 36 4 Jumlah siswa kurang perhatian saat pembelajaran berlangsung 5 5 4 2 5 Jumlah siswa yang mencatat materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru 36 35 35 36 6 Jumlah siswa yang mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru 36 35 35 36 7 Kerapihan buku catatan siswa 31 31 33 36 Lembar Observasi Rekaman Keaktifan Siswa Mengikuti Pembelajaran Siklus 2 No. Perilaku yang Diamati Frekuensi Untuk Setiap Pertemuan 1 2 3 4 5 1 Kehadiran siswa 36 36 34 35 Tes Akhir Siklus 2 2 Siswa bertanya berkaitan dengan materi 4 5 4 7 3 Kedisiplinan masuk tepat waktu 36 36 34 35 4 Jumlah siswa kurang perhatian saat pembelajaran berlangsung 3 3 2 1 5 Jumlah siswa yang mencatat materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru 36 36 34 35 6 Jumlah siswa yang mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru 36 36 34 35 7 Kerapihan buku catatan siswa 36 36 34 35 DATA HASIL PENELITIAN NO NAMA SISWA SIKLUS 1 SIKLUS 2 Jumlah benar JML Nilai Jumlah benar JML Nilai List. Read List Read 1 Mardewi 8 13 21 3,50 6 13 19 3,80 2 Amalia Febrianti 14 24 38 6,33 12 32 44 8,80 3 Fitri Apriani 10 14 24 4,00 8 22 30 6,00 4 Riskah D 10 14 24 4,00 10 25 35 7,00 5 Yulismayanti 10 14 24 4,00 9 28 37 7,40 6 Astriani Ridwan 9 15 24 4,00 7 20 27 5,40 7 Anda Satriani 9 13 22 3,67 8 20 28 5,60 8 Garnis 9 15 24 4,00 9 21 30 6,00 9 Nurbaya M 11 18 29 4,83 10 25 35 7,00 10 Fitrih 8 17 25 4,17 9 22 31 6,20 11 A. Syahria J 13 24 37 6,17 11 29 40 8,00 12 Agustina 11 18 29 4,83 9 26 35 7,00 13 E r n i 8 17 25 4,17 7 20 27 5,40 14 Erfiani Rijal 8 18 26 4,33 7 20 27 5,40 15 Hadriani 11 18 29 4,83 8 27 35 7,00 16 Hasriani 12 19 31 5,17 6 24 30 6,00 17 K a s m a 15 26 41 6,83 12 32 44 8,80 18 Kasmasanti 12 18 30 5,00 8 24 32 6,40 19 Mukrimatunnisa 15 23 38 6,33 10 28 38 7,60 20 Mulianasari 10 16 26 4,33 8 22 30 6,00 21 Nunung Sri H 12 19 31 5,17 9 27 36 7,20 22 Nur Asniwati 12 15 27 4,50 9 21 30 6,00 23 Nurazizah 12 16 28 4,67 8 24 32 6,40 24 Nurdiana 12 17 29 4,83 7 23 30 6,00 25 Nurhatisari 12 17 29 4,83 10 27 37 7,40 26 Nurul Fatimah 10 15 25 4,17 8 23 31 6,20 27 Nurul Ummi R 10 16 26 4,33 7 25 32 6,40 28 Nuryani 10 17 27 4,50 7 21 28 5,60 29 Riska P 10 17 27 4,50 10 25 35 7,00 30 Risnah 12 16 28 4,67 9 17 26 5,20 31 Sartika 10 16 26 4,33 9 21 30 6,00 32 ST. Fatimah 15 16 31 5,17 8 27 35 7,00 33 Suhartini 10 15 25 4,17 8 14 22 4,40 34 Sulfaidah 10 16 26 4,33 7 16 23 4,60 35 Yuliana 10 15 25 4,17 10 17 27 5,40 36 Aswira Adil 10 14 24 4,00 6 15 21 4,20 JUMLAH 390 611 1001 166,83 306 823 1129 225,80 RATA-RATA 10,83 16,97 27,81 4,63 8,50 22,86 31,36 6,27 Median 4,42 6,10 Standar Deviasi 0,763055 1,15 Data Hasil Nilai Ujian Nasional Bahasa Inggris 2006/2007 NO NAMA SISWA NILAI 1 Mardewi 4,40 2 Amalia Febrianti 8,00 3 Fitri Apriani 6,40 4 Riskah Damayanti 6,60 5 Yulismayanti 6,60 6 Astriani Ridwan 6,20 7 Anda Satriani 5,60 8 Garnis 6,20 9 Nurbaya M 5,60 10 Fitrih 7,20 11 Andi Syahria Juwita 7,20 12 Agustina 5,80 13 E r n i 7,60 14 Erfiani Rijal 6,20 15 Hadriani 7,20 16 Hasriani 6,20 17 K a s m a 7,60 18 Kasmasanti 5,80 19 Mukrimatunnisa 6,80 20 Mulianasari 6,00 21 Nunung Sri Handini 6,60 22 Nur Asniwati 5,80 23 Nurazizah 7,00 24 Nurdiana 5,40 25 Nurhatisari 7,60 26 Nurul Fatimah 6,40 27 Nurul Ummi Rahim 6,20 28 Nuryani 5,60 29 Riska Puspatisari 7,00 30 Risnah 6,20 31 Sartika 6,80 32 ST. Fatimah 4,40 33 Suhartini 4,00 34 Sulfaidah 4,20 35 Yuliana 5,20 36 Aswira Adil 4,00 JUMLAH 221,60 RATA-RATA 6,16 TERTINGGI 8,00 TERENDAH 4,00 STANDAR DEVIASI 1,04 MEDIAN 6,20 Rekaman Saat Evaluasi Evaluasi Siklus 1 Evaluasi Siklus 2 Curriculum Vitae 1 Nama Burhanuddin, S.Pd 2 NIP 132273792 3 Jabatan Guru Dewasa 4 Pangkat/ Gol. Ruang Penata III/c 5 Tempat dan Tanggal lahir Mangkuntu Soppeng, 31 Desember 1971 6 Jenis kelamin Laki - laki 7 Agama Islam 8 Mata Pelajaran yang diajarkan Bahasa Inggris 9 Masa kerja guru 06 Tahun 07 bulan 10 Pendidikan Terakhir SDN 28 Malaka Soppeng tahun 1984 SMPN 3 Watansoppeng tahun 1987 SMAN 1 Watansoppeng tahun 1990 D3/A.III. Bahasa Inggris UNHALU 1993 S.I/A.IV Bahasa Inggris UNHALU 1999. 11 Sekolah a. Nama sekolah SMKN 1 Watansoppeng b. Jalan Jl. Merdeka No. 118 Watansoppeng c. telepon (0484) 21033 12 Alamat rumah a. Jalan BTN Husada Permai C.2 No 10 b. Kelurahan Lalabata Rilau d. Telepon / HP 085242569174 e. Email Etc_smkn1soppeng@yahoo.co.id. Bathcity_bursmenker@yahoo.com. 13 Pengalaman Penelitian yang relevan 1. Finalis lomba Inovasi Pembelajaran dan pengelolaan Sekolah pada SIMNAS III di Hotel Kinasih Bogor 17 s.d 20 Oktober 2005. 2. Peserta pada lomba Inovasi Pembelajaran se-Prov. Sulawesi Selatan dan Prov. Sulawesi Barat di LPMP Makassar tgl 9 s.d 11 November 2006

Catatan: Penulis adalah mahasiswa pada program Magister Administrasi Pemerintahan Daerah Universitas Indonesia Timur Makasar.

Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan


Artikel:Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan
Judul: Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Ngadirin
Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta
Topik: Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan
Tanggal: 8 Desember 2004

UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) SEBAGAI ISSUE KRITIS PENDIDIKAN
Nama : Ngadirin
No. Mahasiswa : 765 703
Kuliah : Issue-issue Kritis Pendidikan
Tahun Akademik : 2004/2005
Dosen : Prof. Dr. Soedijarto, MA
Program/Jurusan : S3/Manajemen Pendidikan
Perguruan Tinggi: Universitas Negeri Jakarta
1. Pendahuluan
merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi. Dengan demikian evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali. Ujian akhir nasional (UAN) merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan Pemerintah yang, menurut pendapat saya, merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) yang sebelumnya dihapus. Benarkah UAN merupakan alat ukur yang sesuai untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan? Makalah ini mencoba untuk mengupas apakah evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab pertanyaan tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan. Pembahasan dimulai dari tujuan pendidikan, evaluasi, dan diakhiri dengan rekomendasi tentang perlu dan tidaknya evaluasi yang bersifat nasional. 2. Kurikulum dan Evaluasi Sebelum berbicara tentang evaluasi, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang kurikulum sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mencakup fokus program, media instruksi, organisasi materi, strategi pembelajaran, manajemen kelas, dan peranan pengajar (Arieh Lewy, 1977:7-8). Di Indonesia sekarang sedang dikembangkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Kurikulum 2004, 2003 ¡V belum disahkan tetapi telah dipublikasikan baik via website maupun cetak oleh Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas). Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam draft tersebut merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Selanjutnya dijelaskan bahwa kompetensi dapat diketahui melalui sejumlah hasil belajar dengan indikator tertentu. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Cara mencapai kompetensi yang dibakukan disesuaikan dengan keadaan daerah dan atau sekolah. Berkaitan dengan hal ini dalam pelaksanaan kurikulum dikenal istilah diversifikasi kurikulum, maksudnya adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik. Evaluasi yang diterapkan seharusnya dapat menjawab pertanyaan tentang ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Untuk mengingat kembali, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan "bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" (Pasal 3). Dalam tujuan pendidikan di atas terdapat beberapa kata kunci antara lain iman dan takwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis. Konsekuensinya adalah evaluasi yang diterapkan harus mampu melihat sejauh mana ketercapaian setiap hal yang disebutkan dalam tujuan tersebut. Evaluasi harus mampu mengukur tingkat pencapaian setiap komponen yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Pertanyaannya adalah bagaimana pelaksanaan evaluasi pendidikan di Indonesia? Apakah evaluasi yang dipakai dapat menjawab semua pertanyaan tentang tingkat pencapaian tujuan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional? Pada bagian berikut akan dibahas penerapan sistem evaluasi di Indonesia dalam bentuk UAN. 3. UAN dan Permasalahannya Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkn pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting? Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab semua informasi yang diperlukan dalam pencapaian tujuan? Apakah UAN dapat memberikan informasi tentang keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa? Apakah UAN dapat menjawab tingkat kreativitas dan kemandirian peserta didik? Apakah UAN dapat menjawab sikap demokratis anak? Dapatkah UAN memberikan semua informasi tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tersebut? Evaluasi seharusnya dapat memberikan gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan tiga informasi penting yaitu penempatan, mastery, dan diagnosis. Penempatan berkaitan dengan pada level belajar yang mana seorang anak dapat ditempatkan sehingga dapat menantang tetapi tidak frustasi? Mastery berkaitan dengan apakah anak sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menuju ke tingkat berikutnya? Diagnosis berkaitan dengan pada bagian mana yang dirasa sulit oleh anak? (McNeil, 1977:134-135). UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan. Dalam Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 terdapat ketidaksinambungan antara tujuan, fungsi, dan bentuk ujian. Pertama, bahwa pelaksanaan UAN bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes. Dari pernyataan tersebut muncul beberapa pertanyaan antara lain: "« Dapatkah tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran memberikan gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik? "« Dapatkah tes tersebut memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian? "« Dapatkah tes tertulis melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak? "« Dapatkah tes di ujung tahun ajaran menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya? "« Bagaimana kalau terjadi anak sakit pada saat mengikuti tes? "« Apakah hasil tes dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak selama mengikuti pelajaran? Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk memperoleh jawabannya bila dengan hanya memberikan tes pada akhir tahun pelajaran. Hasil belajar bukan hanya berupa pengetahuan yang lebih banyak bersifat hafalan, tetapi juga berupa keterampilan, sikap, motivasi, dan perilaku yang tidak semuanya dapat diukur dengan menggunakan tes karena melibatkan proses belajar. Dengan kata lain terjadi pertentangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan bentuk ujian yang diterapkan, karena pengukuran hasil belajar tidak bisa diukur hanya dengan memberikan tes di akhir tahun pelajaran saja. Kedua, tujuan ujian sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Mendiknas di atas adalah untuk mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Lagi pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan-pertanyaan di atas muncul, seperti apakah mutu pendidikan dapat diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun ajaran? Apalagi bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku siswa, apakah bisa dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu pendidikan pada tingkat nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi pelaksanaan UAN sebagaimana yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu disebut Ebtanas) berbeda dari tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka akibatnya tidak bisa dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan sekarang. Selain itu mutu pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya memberikan tes pada beberapa mata pelajaran ¡§penting¡¨ saja, apalagi dilaksanakan sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu pendidikan terkait dengan semua mata pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya pengetahuan koqnitif saja. UAN tidak akan dapat menjawab pertanyaan seberapa jauh perkembangan anak didik dalam mengenal seni, olah raga, dan menyanyi. UAN tidak akan mampu melihat mutu pendidikan dari sisi percaya diri dan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bersikap demokratis. Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu menyediakan informasi yang cukup mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang diinginkan masih terlalu jauh untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN. Ketiga, ujian bertujuan untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Adalah ironis kalau UAN dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan pendidikan, karena pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang semuanya itu tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata lain, UAN belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu ¡§diversifikasi kurikulum¡¨. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan kota-kota besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan penerapan UAN untuk semua sekolah di Indonesia telah melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidak adilan karena ibarat mengetes atletik tingkat pelatnas yang setiap hari dilatih dengan segala sarana dan prasarana termasuk pelatih yang memadai dengan atletik kampung yang memiliki sarana seadanya. Tentu saja hasilnya jauh berbeda, tetapi kebijakan yang diambil adalah menyamakan mereka. Pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨ juga memiliki permasalahan tersendiri. Benarkah hanya matematika, bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran penting? Bagaimana kalau ada anak yang memiliki bakat untuk melukis, apakah itu berarti bahwa pelajaran seni jelas merupakan pelajaran penting bagi dia? Bagaimana juga dengan anak yang bercita-cita menjadi olahragawan yang berarti bahwa pelajaran olah raga merupakan pelajaran yang penting bagi dia? Kalau begitu kata ¡§penting¡¨ di sini untuk siapa? Pelaksanaan UAN pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung mengajarkan mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain, padahal tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari kondisi ini adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan pengujian. Beberapa orang berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan kebijakan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Kebijakan UAN dilaksanakan bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah. Selain itu pada saat yang sama juga dikenalkan kebijakan otonomi sekolah melalui manajemen berbasis sekolah. Evaluasi sudah seharusnya menjadi hak dan tanggung jawab daerah termasuk sekolah, tetapi pelaksanaan UAN telah membuat otonomi sekolah menjadi terkurangi karena sekolah harus tetap mengikuti kebijakan UAN yang diatur dari pusat. Selain itu UAN berfungsi untuk menentukan kelulusan siswa. Padahal pendidikan merupakan salah satu bidang yang diotonomikan, kecuali sistem dan perencanaan pendidikan yang diatur secara nasional termasuk kurikulum. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan otonomi sekolah yang berhak meluluskan siswa adalah sekolah melalui kebijakan manajemen berbasis sekolah. UAN telah dijadikan alat untuk ¡§menghakimi¡¨ siswa, tetapi dengan cara yang tanggung karena dengan memberikan batasan nilai minimal 4.00. Dengan menetapkan nilai serendah itu, maka berarti bahwa standar mutu pendidikan di Indonesia memang ditetapkan sangat rendah. Kalau direnungkan, apa arti nilai 4 pada suatu ujian. Nilai 4 dapat diartikan hanya 40% dari seluruh soal yang diujikan dikuasai, padahal secara umum pada bagian lain diakui bahwa nilai yang dapat diterima untuk dinyatakan cukup atau baik adalah di atas 6. Dengan kata lain, UAN selain menetapkan standar mutu pendidikan yang sangat rendah telah ¡§menghakimi¡¨ semua siswa tanpa melihat latar belakang, situasi, kondisi, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar yang dialami terutama siswa di daerah pedesaan. 4. Bagaimana Evaluasi Pendidikan Seharusnya Dilakukan Evaluasi harus mampu menjawab semua informasi tentang tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Pendidikan yang diarahkan untuk melahirkan tenaga cerdas yang mampu bekerja dan tenaga kerja yang cerdas tidak dapat diukur hanya dengan tes belaka (Soedijarto, 1993a:17). Untuk itu evaluasi harus mampu menjawab kecerdasan peserta didik sekaligus kemampuannya dalam bekerja. Sistem evaluasi yang lebih banyak berbentuk tes obyektif akan membuat peserta didik mengejar kemampuan kognitif dan bahkan dapat dicapai dengan cara mengafal saja. Artinya anak yang lulus ujian dalam bentuk tes obyektif belum berarti bahwa anak tersebut cerdas apalagi terampil bekerja, karena cukup dengan menghafal walaupun tidak mengerti maka dia dapat mengerjakan tes. Sebagai konsekuensinya harus dikembangkan sistem evaluasi yang dapat menjawab semua kemampuan yang dipelajari dan diperoleh selama mengikuti pendidikan. Selain itu pendidikan harus mampu membedakan antara anak yang mengikuti pendidikan dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan. Dengan kata lain evaluasi tidak bisa dilakukan hanya pada saat tertentu, tetapi harus dilakukan secara komperehensif atau menyeluruh dengan beragam bentuk dan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (Soedijarto, 1993b:27-29). Bisakah UAN dipertahankan? Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa UAN banyak bertentangan bahkan dengan tujuannya sendiri, sehingga sulit dipertahankan. Seandainya Pemerintah tetap memilih untuk mempertahankan UAN maka selama itu perdebatan dan ¡§ketidakadilan¡¨ akan terjadi di dunia pendidikan karena memperlakukan tes yang sama kepada semua anak Indonesia yang kondisinya diakui berbeda-beda. Selain itu salah satu prinsip pendidikan adalah berpusat pada anak, artinya pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Seorang anak yang berpotensi untuk menjadi seorang seniman tidak bisa dipaksakan untuk menguasai matematika kalau dia sendiri tidak menyukainya dan berpikir tidak relevan dengan seni yang digelutinya. Memperlakukan semua anak dengan memberikan UAN sama artinya menganggap semua anak berpotensi sama untuk menguasai mata pelajaran yang diujikan, padahal kenyataannya berbeda. Bagaimana evaluasi pendidikan yang sebaiknya dilakukan? Menurut pendapat saya, evaluasi sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Sistem penerimaan siswa pada jenjang berikutnya dilakukan dengan cara diberikan tes masuk oleh sekolah masing-masing. Dengan cara demikian, maka setiap sekolah akan menetapkan standar sendiri melalui tes masuk yang dipakai. Sekolah yang berkualitas akan memiliki tes masuk yang relevan, dan sekolah yang kurang bermutu akan ditinggalkan masyarakat. Selain itu sekolah yang menghasilkan lulusan yang tidak bisa menerobos ke sekolah berikutnya juga akan ditinggalkan masyarakat. Dengan demikian akan terjadi persaingan sehat antar sekolah dalam menghasilkan lulusan yang terbaik dalam arti dapat melanjutkan ke sekolah berikutnya. Sistem penerimaan dengan mengacu pada UAN akan berakibat pada manipulasi data, bahkan membuka peluang terjadinya kecurangan. Pada umumnya sekolah berlomba-lomba untuk meluluskan siswa-siswanya dengan cara memberikan nilai kelulusan yang tinggi. Tetapi dengan adanya tes masuk pada sekolah berikutnya (kecuali masuk SLTP harus lanjut karena masih dalam cakupan wajib belajar), maka sekolah akan berlomba untuk membuat siswanya disamping lulus juga diterima di sekolah berikutnya. Sistem evaluasi yang diserahkan sepenuhnya ke sekolah bukan berarti tidak diperlukan pedoman atau petunjuk teknis. Pedoman untuk melakukan evaluasi tetap diperlukan dalam memberikan guidance bagi guru agar dalam melakukan evaluasi tetap mengacu kepada kaedah-kaedah evaluasi yang berlaku secara umum. Jika UAN tetap dipertahankan maka tujuan dan pelaksanaannya harus dimodifikasi. Sebagai contoh bahwa UAN bukan bertujuan untuk menentukan kelulusan siswa tetapi dipakai sebagai pengendalian mutu pendidikan. Artinya UAN tidak perlu dikaitkan dengan kelulusan siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pendidikan pada umumnya. Dengan tujuan ini maka standar nilai UAN haruslah minimal 6 sebagaimana pada umumnya dan hanya berpengaruh pada kredibilitas sekolah. Sistem pelaporan hasil belajar dalam bentuk raport perlu direformasi dengan bentuk lain yang lebih komperehensif. Sebagai contoh apa arti seorang anak memperoleh nilai 8 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di raportnya? Apakah itu berarti anak tersebut menguasai pidato dengan baik, dapat menulis puisi, dan mampu berdebat? Informasi nilai yang ada diraport tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sehingga nilai raport perlu dimodifikasi sehingga dapat memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang kemampuan yang telah dimiliki anak. Sebagai contoh, bahwa untuk laporan hasil belajar bahasa Indonesia perlu mencakup kemampuan tentang membaca, berbicara, mengemukakan pendapat, kemampuan menulis, membuat karangan, berpidato, sikap menghargai orang lain, dan sebagainya. Hal yang sama dikembangkan untuk mata pelajaran yang lain. Model penilaian dengan menggunakan portfolio mungkin lebih baik daripada sistem raport yang digunakan saat ini.
Referensi:
Arieh Lewy (Editor). 1977. Handbook of Curriculum Evaluation. Paris: International Institute for Educational Planning
McNeil, John D. 1977. Curriculum A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company Pusat Pengembangan Kurikulum. 2003. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar (draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993a. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu.Jakarta: Balai Pustaka Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993b. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah