Rabu, 16 Februari 2011
ALAT UKUR PNEUMATIS
1. Pengukur Tekanan Kompresi ( Pressure Gauge )
Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan kompresi pada silinder engine, yang ditentukanoleh kondisi piston, ring piston, dan katup. Cara Menggunakan
a. Lepaskan semua busi
b. Masukkan presssure gauge pada lubang busi sambil di tekan dengan tangan
c. Pada posisi pedal gas diinjak penuh, transmisi netral, engine di start ± 3 detik hingga tercapai tekanan maksimum pada pengukuran tekanan kompresi
d. Tekanan kompresi dapat dibaca langsung pada alat
2. Pengukur Vakum ( Vacuum Gauge )
Alat ini digunakan untuk mengukur kevakuman pada intake manifold dan pompa bahan bakar.
Cara Menggunakan
a. Pasangkan selang alat ukur pada intake manifold dibawah katup throttle atau pada pipa isap pompa bahan bakar.
b. Hidupkan engine dan periksa besarnya kevakuman pada alat ukur.
3. Pengukur Kebocoran Pendingin ( Radiator Cup Tester )
Alat ini digunakan untuk mengetahui adanya kebocoran pada sistem pendingin.
Alat ini dilengkapi dengan pompa udara dan pengukur tekanan untuk menaikkan
tekanan di dalam sistem pendinginan sekaligus mengetahui tekanan yang dihasilkan.
Cara Menggunakan
a. Lepaskan tutup radiator
b. Pasang alat pengukur pada tempat tutup radiator
c. Tekan pompa tangan berulang-ulang hingga tekanan mencapai ukuran spesifdikasi
d. Amati tekanan pada alat ukur ± 1 menit, apakah terjadi penurunan
e. Jika terjadi penurunan tekanan berarti ada kebocoran pada sistem pendinginan
4. Hidrometer
Hidrometer berfungsi untuk mengukur berat
jenis elektrolit battery. Berat jenis elektrolit
berubah menurut tingkat isi battery. Berat jenis
battery penuh adalah 1,26 – 1,28. Berat jenis
juga dipengaruhi oleh suhu, sehingga rumus
ini digunakan untuk menentukan
hubungannya:
S20 = St + 0,007 (t – 20)
Dimana:
S20 = berat jenis koreksi
St = berat jenis terukur
t = suhu saat pengukuran
5. Nozzle Tester
Nozzle tester digunakan untuk memeriksa tekanan pembukaan injector dan kondisi injector (kebocoran setelah injeksi.
ALAT UKUR MEKANIS

1. Mistar Baja
Mistar baja adalah alat ukur yang terbuat dari baja tahan karat. Permukaan dan bagian sisinya rata dan halus, di atasnya terdapat guratan-guratan ukuran, ada yang dalam satuan inchi, sentimeter dan ada pula yang gabungan inchi dan sentimeter/milimeter.
Fungsi lain dari penggunaan mistar baja antara lain: - mengukur lebar - mengukur tebal serta, - memeriksa kerataan suatu permukaan benda kerja. Di samping itu mistar baja (steelrule) dapat dipergunakan untuk mengukur dan menentukan batas-batas ukuran juga biasa dipergunakan sebagal pertolongan menarik garis pada waktu menggambar pada permukaan benda pekerjaan. Setiap menarik. garis hanya
dilakukan satu kali, lihat Gambar:

Mistar baja juga dapat digunakan untuk mengukur diameter luar secara kasar. Dalam pelaksanaannya harus dibantu dengan menggunakan alat ukur lain seperti jangka bengkok dan bagian diameter dalam diperlukan bantuan jangka kaki.
2. Meteran Lipat
Meteran lipat ini biasanya terbuat dari bahan aluminium atau baja. Dilihat dari segi konstruksinya sebelumnya merupakan gabungan dan mistar baja dengan sambungan engsel pada setiap ujungnya. Mengingat kemungkinan ausnya engsel dan ketidaktirusan garis pengukuran sewaktu melakukan pengukuran, maka meteran lipat tidak akan memberikan hasil yang Iebih baik dibandingkan dengan pengukuran mistar baja biasa.
3. Meteran Gulung
Ma
l ukur ini dibuat dan pelat baja yang Iebih tipis dari ada mistar baja. Sifatnya lemas/lentur sehingga dapat digunakan untuk mengukur bagian-bagian yang cembung dan menyudut seperti: mengukur panjang, keliling bidang Iengkung (bundar). Sepanjang mistar ini terdapat ukuran-ukuran satuan inchi dan metrik. Meteran gulung dapat digunakan dari 1 meter sampai 30 meter. Pada ujungnya terdapat kait yang gunanya untuk mengait ujung benda kerja sehingga mendapat ukuran yang tepat. Penggunaan alat ukur ini tidak untuk pengukuran yang tepat sekali (presisi).4. Jangka Bengkok
Guna jangka bengkok digunakan untuk mengukur tebal, lebar, panjang dan garis tengah benda bulat secara kasar. Alat ini terbuat dari baja perkakas dengan ujungnya dikeraskan. Bentuknya ada yang dilengkapi dengan mur penyetel dan ada pula yang tidak. Panjang kakinya, dalam inchi, merupakan ukuran jangka bengkok.
5. Jangka KakiJangka kaki digunakan antara lain untuk mengukur diameter lubang dan jarak sesuatu celah. Bentuk kakinya menghadap keluar dan panjang kakinya itulah ukuran jangka kaki dalam inchi. Hasil pengukuran yang diperoleh adalah ukuran kasar. Disebabkan ke dua kakinya itu mengeper bila menyentuh bidangbidang yang diukur, maka kita perlu banyak berlatih menggunakan jangka ini untuk memperhalus perasaan jari-jari. Dengan jari-jari yang tidak perasa kesalahan ukur mudah terjadi.
6. Mistar Geser ( Vernier Caliper )Alat ukur ini digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam, kedalaman lubang dan jarak anatara dua buah titik, yang membutuhkan ketelitian hingga 0,02 mm untuk satuan metrik, dan 0,001 inch untuk satuan inch.
Konstruksi jangka sorong tipe standar dijelaskan seperti di atas. Rahang pengukur dalam (a) akan sesuai pada lubang dan digunakan untuk mengukur dimensi dalam. Rahang pengunci luar (g) akan mencekam pada bagian luar dari suatu benda, digunakan untuk mengukur dimensi luar. Batang pengukur kedalaman (c) digunakan untuk menentukan ukuran kedalaman dari bagian benda yang dilakukan dengan menempelkan ujung batang pengukur utama pada permukaan lubang, sedangkan ujung batang pengukur kedalaman menempel pada dasar lubang. Batang pengukur kedalaman hanya dilengkapi pada jangka sorong dengan daerah pengukuran sampai dengan 300 mm. Jangka sorong dengan daerah pengukuran 600 mm dan 1000 mm tidak dilengkapi dengan batang pengukur kedalaman. Bagian alat pengukuran dalam letaknya terpisah dengan bagian alat pengukur luar. Ketika baut pengunci kendur, rahang bagian bawah akan bergerak bebas. Baut ini baru dikencangkan setelah dilakukan pengukuran pada benda. Baut pengunci final digunakan untuk mengunci rahang bagian bawah yang setelah dilakukan pengukuran, sehingga jangka sorong dapat dilepas dari benda yang diukur dan dapat dilihat hasilnya
tanpa ukurannya berubah akibat pelepasan tersebut. Ulir penyetelan halus digunakan untuk mengunci rahang secara presisi sehingga didapatkan hasil pengukuran dengan akurasi yang lebih tinggi.
Tingkat ketelitian dari jangka sorong tergantung pada banyaknya pembagian pada skala vernier-nya. Pembagian ini umumnya sebanyak 10,50 atau 100 skala. Pembagian 10 skala akan menghasilkan 0,1 cm dibagi 10 = 0,01 cm. Sehingga jangka sorong itu akan memiliki tingkat ketelitian 0,01 cm.
* Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,1 mm
Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,1 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,1 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,1 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 10 strip (divisi). Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
n = 9 ⁄ 10 = 0,9 mm
i = x – n
= 1 – 0,9 = 0,1 mm
Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,1 mm
* Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,05 mm
Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,05 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,1 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,05 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 20 strip (divisi). Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
n = 19 ⁄ 20 = 0,95 mm
i = x – n
= 1 – 0,95= 0,05 mm
Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,05 mm
* Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,02mm
Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,02 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,02 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,02 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 50 strip (divisi).
Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
n = 49 ⁄ 50 = 0,98 mm
i = x – n
= 1 – 0,98= 0,02 mm
Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,02 mm
* Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci
Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci, skala utamanya setiap i inci dibagi menjadi 16 bagian, berarti satu bagian skala utama (x) nilainya sama dengan 1/16 inci. Pada skala noniusnya dibagi dalam 8 bagian. Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci mempunyai selisih antara x dan n sebesar 1/128 inci. Besarnya x = 1/16 inci, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Panjang skala utama dihitung mulai garis nol sampai garis terakhir pada skala nonius yaitu : /16 inci.
Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
n = 7⁄16 / 16 = 7 / 8 x 1 / 128 = 7/128
i = x – n
= 1/16 – 7/128 = 8/128 – 7/128 = 1/128
Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 1/128 inci
* Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,001 inci
Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/1000 inci atau 0,001, skala utamanya setiap i inci dibagi menjadi 40 bagian, berarti satu bagian skala utama (x) nilainya = 1/40 inci atau 0,025 inci.
Pada skala noniusnya dibagi dalam 25 bagian. Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,001 inci mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,001 inci. Besarnya x = 1/40 inci, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Panjang skala utama dihitung mulai garis nol sampai garis terakhir pada skala nonius yaitu : 1,225 inci. Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
n = 1,225 / 25 = 0,049 inci
i = x – n
= 0,050 - - 0,049 = 0,001 inci
Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) adalah : 0.001 inci
Cara membaca ukuran pada jangka sorong terdiri dari dua langkah, yaitu membaca skala utama dan membaca skala vernier. Angka pada skala utama yang digunakan adalah yang terletak di sebelah kiri angka 0 (nol) pada skala vernier. Pada gambar dibawah, skala utama menunjukkan angka 3,1 cm. Pembacaan skala vernier dilakukan dengan menentukan garis pada skala vernier yang paling tepat berimpit segaris dengan garis pada skala utama. Angka pada garis tersebut menunjukkan nilai pada skala vernier.
Pada gambar dibawah, garis yang berimpit dengan skala utama adalah garis ke empat, yang menandakan nilai 0,4 mm atau 0,04 cm. Hasil pengukuran total adalah
penjumlahan skala utama dan skala vernier. Ukuran benda pada gambar 4 adalah 3,1 + 0,04 cm = 3,14 cm.

Cara Menggunakan mistar geser
Hasil pengukuran benda ukur dengan menggunakan mistar geser sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a. faktor si pengukur
b. benda yang diukur
c. pengaruh lingkungan
d. cara menggunakan alat ukur.
Adapun cara penggunaan mistar geser anatara lain sebagai berikut :
• Bersihkan benda yang akan diukur dan alat ukur
• Periksa bahwa skala vernier bergerak dengan bebas, dan angka nol pada skala
bertemu dengan tepat
• Pada waktu melakukan pengukuran, usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran di ujung rahang mistar geser menghasilkan pembacaan yang kurat akurat
• Tempatkan mistar geser tegak lurus dengan benda yang diukur
7. Mikrometer
Mikrometer merupakan alat ukur linier langsung dengan tingkat ketelitian yang lebih
tinggi hingga mencapai 0,001 mm. Ada 3 macam mikrometer yaitu : mikrometer dalam, mikrometer luar, dan mikrometer kedalaman.
a). Macam-macam Mikrometer
(1). Mikrometer luar ( Outside Micrometer )
Mikrometer luar digunakan untuk mengukur dimensi luar

(2). Mikrometer dalam ( Inside Micrometer )
Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur dimensi dalam

(3). Mikrometer kedalaman ( Dept Micrometer )
Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kedalaman


b). Cara Membaca Skala Pengukuran Mikrometer
(1). Mikrometer luar dengan tingkat ketelitian 0,01 mm
Jarak tiap strip diatas garis horisontal pada outer sleeve adalah 1 mm, dan jarak tiap strip diwah garis adalah 0,5 mm. Pada skala timble tiap strip nilainya 0,01 mm. Hasil pengukuran pada mikrometer adalah jumlah pembacaan ketiga skala tersebut.
(2). Mikrometer luar dengan tingkat ketelitian 0,001 mmJarak tiap strip diatas garis horisontal pada outer sleeve adalah 1 mm, dan jarak tiap strip diwah garis adalah 0,25 mm. Pada skala thimble tiap strip nilainya 0,01 mm dan pada skala vernier 0,001 mm. Hasil pengukuran pada mikrometer adalah jumlah pembacaan ketiga skala tersebut.
c). Cara Menyetel titik “ 0 “(1). Apabila kesalahannya kurang dari 0,02 mm
* Kuncilahlah spindle dengan lock clamp
* Putar outer sleeve dengan kunci penyetel
sampai tanda “ 0 “ pada thimble lurus dengan
garis horisontal pada outer sleeve
* Periksa kembali tanda “ 0 “ setelah penyetelan
(2). Apabila kesalahannya lebih dari 0,02 mm* Kuncilah spindle dengan lock clamp
* Kendorkan ratchet stoper sampai thimble
bebas
* Luruskan tanda “ 0 “ thimble dengan garis
pada outer sleeve dan kencangkan kembali
dengan ratchet stoper
* Periksa kembali tanda “ 0 “ setelah penyetelan
Cara membaca skala pada mikrometerPertama-tama perhatikan bilangan bulat pada skala utama barrel, lalu perhatikan apakah terbaca skala setengah milimeter pada bagian atas skala utama (ada kalanya dibawah), dan akhirnya bacalah skala perseratusan pada lingkaran. Nilai ukuran dari gambar dibaca sbb :
¬.-Skala utama = 10 x 1,00 mm = 10,00 mm
¬.-Skala minor = 1 x 0,50 mm = 0,50 mm
¬.-Skala pemutar = 16 x 0,01 mm = 0,16 mm
Nilai = 10,66 mm
Melakukan teknik pengukuran
a) Mengukur diamter dalam dengan mikrometer dalam

Gambar 2.4. dalam
b) Mengukur diameter luar dengan micrometer dan jangka sorong

8. Dial Indikator ( Dial Dauge )
Dial indikator digunakan untuk mengukur kebengkokan, run out, kekocakan, end play, back lash, kerataan, dengan tingkat ketelitian anatara 0,01 mm hingga 0,001 mm (tergantung tipe dial indikator).

Prinsip kerja jam ukur secara mekanis, dimana gerak linier sensor diubah menjadi gerak rotasi oleh jarum penunjuk pada piringan dengan perantaraan batangbergigi dan susunan roda gigi. Pegas koil berfungsi sebagai penekan batang bergigi hingga sensor selalu menekan ke bawah. Sedangkan pegas spiral berfungsi sebagai penekan sistem transmisi roda gigi sehingga permukaan gigi yang berpasangan selalu menekan pada sisi yang sama untuk kedua arah putaran (untuk menghindari backlash) yang mungkin terjadi karena profil gigi yang tidak sempurna atau sudah aus. Jam ukur juga dilengkapi dengan jewel untuk mengurangi gesekan pada dudukan poros roda gigi. Ketelitian dan kecermatan jam ukur berbeda – beda ada yang kecermatannya 0,01 ; 0,02 ; 0,005 dan kapasitas ukurnya juga berbeda – beda , misalnya : 20, 10, 5, 2, 1 mm . Untuk jam ukur dengan kapasitas besar, terdapat jam kecil dalam piringan yang besar dimana satu putaran jarum besar sama dengan tanda satu angka jam kecil. Pada piringan terdapat skala yang dilengkapi dengan tanda batas atas dan tanda batas bawah.
Piringan skala dapat diputar untuk kalibrasi posisi nol.
Dalam penggunaannya, dial indikator tidak dapat berdiri sendiri, sehingga memerlukan batang penyangga dan blok magnet.
Prosedur Penggunaan Dial Indikator
(1) Posisi
spindle dial indikator harus tegaklurus dengan permukaan yang diukur.
(2) Garis imajinasi dari mata si pengukur ke
jarum penunjuk harus tegak lurus pada
permukaan dial indikator pada saat sedang
membaca hasil pengukuran.
(3) Dial indikator harus dipasang dengan teliti
pada batang penyangganya, artinya dial
indikator tidak boleh goyang.
(4) Putarlah outer ring dan stel pada posisi
nol. Gerakkan spindle ke atas dan ke bawah,
kemudian periksalah bahwa jarum penunjuk
selalu kembali ke posisi nol setelah spindle
dibebaskan.
(5) Usahakan dial indikator tidak sampai terjatuh, karena terdapat mekanisme pengubah yang presisi.
(6) Jangan memberi oli atau grease diantara spindle dan tangkainya, karena akan
menghambat gerakan spindle.
Melakukan teknik pengukuran

9. Kaliper dan Pembagi
Kaliper digunakan untuk pengukuran kasar, baik untuk permukaan luar maupun dalam. Alat tidak mengukur secara langsung namun harus dicocokkan dengan penggaris atau alat ukur lainnya. Kaliper yang digunakan di bengkel adala jenis kaliper pegas terdiri dari dua kaki dengan pegas yang dilengkapi mur dan baut untuk mengencangkannya. Pembagi terdiri dari dari dua kaki yang lurus dengan ujung yang tajam dan keras. Alat ini dipakai untuk mentransfer dimensi, membuat lingkaran dan menggambar bagan. Ada dua tipe caliper gauge yaitu inside caliper dan outside caliper. Yang umum dopakai di otomotif adala inside caliper.

Dial calliper atau jangka kaki dengan pembacaan indikator, digunakan untuk mengukur
lebar lubang atau celah, ketelitian alat ukur ini mencapai 0,025 mm. Kemampuan jarak
ukurnya bervariasi sesuai dengan nomor yang dikeluarkan pabrik, antara lain :
No. 1 untuk jarak ukur antara 6~18 mm
No. 2 untuk jarak ukur antara 10~22 mm
No. 3 untuk jarak ukur antara 20~32 mm
No. 4 untuk jarak ukur antara 30~42 mm
No. 5 untuk jarak ukur antara 40~52 mm
No. 6 untuk jarak ukur antara 50~62 mm
No. 7 untuk jarak ukur antara 60~72 mm
No. 8 untuk jarak ukur antara 70~82 mm
No. 9 untuk jarak ukur antara 80~92 mm
No. 10 untuk jarak ukur antara 90~102 mm
Untuk jarak ukur yang lebih panjang maka digunakan dial calliper yang mempunyai
batang geser seperti pada gambar berikut.
Dial calliper yang mempunyai batang geser ini mempunyai jarak ukur antara 55 sampaidengan 600 mm dengan ketelitian 0,01 mm.
Metoda pengukuran :
1. Ukur diameter dalam dengan vernier caliper. Misal hasil pengukuran 8,40 mm, selanjutnya set mikrometer ke angka mendekati hasil ukur vernier caliper dan kelipatan dari 0,5 mm yaitu 5,50 mm.
2. Tempatkan kaki-kaki caliper diantara anvil dan spindle mikrometer. Gerakan caliper sampai mendapatkan angka terkecil. Kemudian set dial gauge ke ”0”.
3. Tekan tombol caliper gauge dan masukan lug pada diameter dalam benda yang akan diukur dan bebaskan tombol. Gerakan caliper sampai didapat pembacaan terkecil. Jika pembacaan menunjukan 0,08 mm, berarti diameter dalam adalah 8,42 mm (8,50 – 0,08).
10. Cylinder Gauge
Alat ukur ini digunakan untuk mengukur diameter silinder dengan ketelitian 0,01 mm, alat ini dilengkapi dengan mikrometer dan dial indikator.

Cara pemilihan replacement rod dan washer :
- ukur diameter silinder dengan vernier caliper
- Lihat angka dibelakang koma, apakah lebih besar atau lebih kecil dari 0,5 mm
- Contoh ;
Bila hasil pengukuran : 52,30 mm, pilih sbagai berikut :
Replacement rod : 50 mm
Replacement washer : 2 mm
Bila hasil pengukuran : 52,70 mm, pilih sebagai berikut :
Replacement rod : 50 mm
Replacement washer : 3 mm
Cara melakukan pengukuran seperti tampak pada gambar
1. Ukur diameter silinder dengan vernier caliper. Pilih replacement rod dan washer yang sesuai, dan pasangkan pada silinder gauge. Bila hasil pengukuran diameter adalah 91,00 mm, gunakan replacement rod 90 mm dan replacement washer 1 mm.
2. Set mikrometer pada 91 mm (seperti hasil ukur diatas), masukan replacement rod dan measuring point kedalam mikrometer dan dial gauge diset ke ”0”
3. Masukan cylinder gauge pada posisi diagonal kedalam silinder, geraka cylinder gauge sampai diperoleh hasil pembacaan terkecil. Bila hasil pembacaan adalah 0,08 mm sebelum ”0”, berarti diameter silinder adalah 0,08 mm lebih besar dari 91 mm. Karena itu diameter silinder adalah 90,08 mm (91,00 + 0,08)
11. Pengukur Celah (feeler gauges)
Kaliper celah adalah alat ukur yang biasa digunakan untuk memeriksa jarak-jarak yang kecil atau ukuran celah-celah diantara dua permukaan. Karena daerah antara permukaan ini sangat sempit maka diperlukan alat ukur tak berskala yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran tersebut. Alat ini dipakai secara luas dalam bidang pemesinan, fitting dan otomotif. Contoh penggunaannya adalah untuk menyetel pisau mesin frais atau memeriksa kelonggaran katup pada mesin. Kaliper celah dibuat dari baja yang lentur dan berkualitas tinggi. Tiap set terdiri dari 10 buah kaliper atau lebih, dijepit pada penjepit baja dengan pena yang berfungsi sebagai gantungan pada saat kaliper itu digunakan. Sebuah Kaliper celah yang berisi 10 kaliper masingmasing kalipernya mempunyai ukuran yang tertera pada tiap-tiap kaliper, dimulai dari ukuran 0,05; 0,10; 0,15; 0,20; 0,30; 0,40; 0,50; 0,60; 0,70; dan 0,80 milimeter. Ada juga kaliper celah dengan ukuran dalam inch. Ukuran terkecil dari kaliper celah adalah sekaligus menunjukkan tingkat ketelitian yang dapat dicapai dari alat ukur tersebut. Sehingga kaliper celah dengan ukuran kaliper terkecil 0,05 mm akan mempunyai ketelitian 0,05 mm. Kaliper-kaliper ini mempunyai panjang tiap kaliper kira-kira 100 mm dengan bentuk ujung yang bulat atau ada juga yang tirus pada sisi lebarnya.

Pengukuran celah dilakukan dengan memasukkan salah satu kaliper yang sesuai dengan celah yang di ukur. Jangan coba untuk memaksakan kaliper yang tidak sesuai atau terlalu sesak karena bisa menyebabkan kaliper bengkok dan mungkin akan terjadi perubahan bentuk yang tetap. Apabila kaliper terlalu tebal bisa dipilih kaliper lain dengan ukuran di bawahnya. Ketelitian pengukuran dapat diperoleh dengan menggabungkan beberapa kaliper. Apabila sebuah kaliper dapat masuk dengan longgar, coba ditambahkan dengan kaliper yang dengan ukuran terkecil. Kaliper-kaliper tersebut dapat ditambahkan sehingga didapatkan ukuran yang pas. Sehingga ukuran celah adalah jumlah dari ukuran kaliper yang dapat masuk dengan pas tersebut.
ALAT UKUR OTOMOTIF II
Yang dimaksud dengan alat ukur disini adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur secara presisi, yang diperlukan di dalam kita melakukan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan otomotif khususnya dan peralatan teknik atau pekerjaan logam lainnya.
Alat ukur yang banyak dipergunakan di otomotif dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu :
1) Alat Ukur Mekanis
2) Alat Ukur Pneumatis
3) Alat Ukur Elektris dan Elektronis
Yang Harus Diperhatikan Dalam Menggunakan Alat Ukur Mengingat pengukuran yang harus dilakukan menuntut kepresisian yang tinggi, maka dalam menggunakan alat-alat ukur untuk pemeliharaan dan perbaikan otomotif, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
• Pelajari cara pemakaiannya dengan seksama, karena jika tidak, pembacaannya salah.
• Benda yang diukur harus bersih dari debu, minyak pelumas dsb.
• Perhatikan suhu benda yang diukur, harus dalam keadaan normal, usahakan suhu
benda yang diukur dan alat ukur harus sama.
ALAT UKUR OTOMOTIF
A. SISTEM PENGUKURAN
Kualitas produk merupakan masalah yang tidak bisa diabaikan, oleh karenanya pengetahuan tentang pengukuran yang dilakukan terhadap benda kerja merupakan produk yang sangat vital dalam menjamin kualitas dari produksi yang dihasilkan. engetahuan tentang pengukuran yang dimaksud adalah pengetahuan teknik untuk melakukan pengukuran atas bagian-bagian dan suatu benda hasil produksi, baik mengukur dimensi ataupun sifat geometris, berat, temperatur, kekerasan dari suatu produk atau parts mesin dengan alat dengan cara yang tepat, sehingga hasil pengukurannya dianggap sebagai hasil yang paling dekat dengan ukuran sesungguhnya.
1.1 Klasifikasi Pengukuran
Untuk mendapatkan pengukuran dengan tepat, dituntut adanya pengetahuan dan kemampuan mengoperasikannya yang memadai dan kemampuan untuk membedakan berbagai sistem pengukuran sesuai dengan spesifikasi/geometris benda yang akan diukur. Dengan kata lain setiap orang yang bekerja dalam bidang teknik harus mengetahui teknik pengukuran yang mempunyai ruang lingkup tentang bagaimana cara menggunakan alat ukur dengan benar dan pengetahuan lain yang berkaitan erat dengan masalah pengukuran. Hanya saja penggunaan alat ukur tersebut juga akan dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya : besar benda yang akan diukur, kondisi (fisik) benda yang akan diukur, posisi benda yang akan diukur, tingkat ketelitian yang direncanakan, efesien, dsb. Dalam praktiknya pengkuran dapat diklasifikasikan antara lain ; - Panjang - Berat - Temperatur - Sudut - Kerataan
1.2 Unit Pengukuran dan Konversi
Sistem pengukuran yang digunakan khususnya dalam bidang teknik adalah sistem matrik dan ada juga yang menggunakan sistem imperial (pembagaian dalam satuan Inggeris) khususnya pengukuran panjang, berat, dan temperatur. Dasar dari unit pengukuran dalam bidang keteknikan adalah: Jenis Pengukuran Besaran Metrik/ imperial Panjang meter(m)/ feet Temperatur Celcius ( 0 C )/ Fahtenheit Berat kilogram (kg) /pound
1.2.1 Panjang
Mengukur panjang suatu benda merupakan pengukuran yang dimulai dengan menarik garis dari sutu titik ke titik ke dua dengan lurus atau dapat dikatakan suatu garis lurus. Jika pengukuran yang dilakukan terhadap garis tengah lingkaran atau diameter pada dasarnya adalah menarik garis lurus dari sisi pertama ke sisi yang lain. Dalam sistem matrik unit yang sering digunakan dalam ilmu teknik dalam mengukur panjang adalah milimeter (mm ). Dimana 1000 mm sama dengan 1 m (1000 mm = 1 m). Jika pengukuran yang sangat panjang satuan yang digunakan adalah kilometer. Dimana 1000 meter sama dengan satu kilometer. (1000 m = 1 km).
Pada sistem Imperial, feet merupakan satauan yang digunakan untuk mengukur panjang dalam bengkel (workshop) dan sebagian industri pemesinan. Pengukuran panjang yang ukuran pendek digunakan satuan inchi (in atau “) 12” = 1 ft. Satuan lain yang digunakan dalam pengukuran panjang dalam sistim imperial adalah yard (yd) dan mile (3 ft = 1 yd), (5280 ft = 1 mile). Satuan yang digunakan dalam satuan metrik dan imperial dapat dihitung dengan sistim konversi faktor. Beberapa bengkel (workshop) teknik untuk memudahkan dalam menerjemahkan/pembacaan ukuran digunakan tabel konversi. Dalam praktiknya konversi antara ukuran metrik ke ukuran imperial atau sebaliknya, hasil konversi untuk metrik digunakan dua angka debelakang koma sedangkan untuk imperial digunakan 3 angka debelakang koma. Untuk konversi milimeter ke inchi, 1 in = 25,4 mm. Konversi 10 mm ke inchi. (10 mm : 25,4 = 0,394”) Konversi 44,45 mm ke dalam satuan inchi, 44,45 mm : 25,4 = 1,75” Konversi 2” ke mm 2” X 25,4 = 50,8 mm. Pengukuran yang menggunakan satuan imperial ukuran yang ditulis sering menggunakan bilangan pecahan seperti 1/2 ” jika ukurannya kurang dari satu. Ukuran pada satuan inchi ditulis tidak menggunakan bilangan berkoma/desimal tetapi dengan bilangan pecahan. Konversi 3/8 inchi ke bilangan desimal 3 : 8 = 0,375 “ Jika ukuran bilangan bulat dengan pecahan ( contoh 11/2 “). Untuk memudahkan dalam konversi bilangan ini dapat dilakukan dengan cara menjadikan bilangan pecahan kedalam bilangan berkoma.
Contoh:
Konversi 11.1/16” ke dalam mm
Penyelesaian; 11/16” 11 : 16 = 0,688” 111/16” = 1,688” 01,688” X 25,4 = 42,88 mm. Konversi feet ke meter dan milimeter, 1 m = 3,2808 ft; 3’ : 3,2808 = 0,91441 m = 914,41 mm.
Bentuk konversi yang sering digunakan dalam bengkel (workshop) adalah bengan cara memisahkan konversi antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan Contoh;
Konversi 21/2” ke dalam Inchi Penyelesaian; 1/2” = 12.7 mm 2” = 50,8 mm 21/2” = 63,50 mm Konversi 12,54 mm ke inchi Penyelesaian; 10 mm = 0,3937” 2 mm = 0,0787” 0,54 mm = 0,0213” 12,54 mm = 0,4937”
Tabel: Konversi bilangan desimal, pecahan dalam milimeter dan inchi
1.2.2 Temperatur
Pengukuran temperatur satuan yang digunakan dalam satuan metrik adalah Celcius (0C). Sistim imperial satuan yang digunakan adalah Fahrenheit (oF). Pada sistim metrik temperatur sering juga disebut skala perseratus. Celcius dan skala perseratus simbol yang digunakan sama. Konversi 0C ke 0F (0C x 5 9 ) + 32 = 0F Konversi 0F ke 0C (0F – 32) X 9 5 -0C.2.2 Contoh; Konversi 350C ke 0F (0C x 5 9 ) + 32 = 0F (35 x 5 9 ) + 32 = 0F 63 + 32 = 0F 65 = 0F Konversi 1980F ke 0C (0F – 32) X 9 5 = 0C (189 – 32) X 9 5 = 0C 166 X 9 5 = 0F 92,2 = 0F
1.2.3 Berat
Satuan untuk mengukur/menimbang berat yang digunakan dalam sistem metrik adalah gram (g), kilogram (kg), dan ton. Konfersi gram ke kilogram dan kilogram ke ton adalah; 1000 g = 1 kg 1000kg = 1 ton
Pada sistim imperial satuan untuk mengukur berat adalah ounce (oz), pound (lb), dan ton (t). 16 oz = 1 lb 2240 lb = 1 t.
Perubahan kilogram ke pound, 1 kilogram = 2.2046 pound.
Perubahan pound ke kilogram, 1 pound = 1/2.x 2046 kilogram
Perubahan gram ke ounce, 1 gram = 28,35 ounce (oz)
Perubahan ounce ke gram, 1 ounce = 1/28,35 ounce (oz)
B. KLASIFIKASI PENGUKURAN
Banyak cara yang dilakukan oleh juru teknik dalam melakukan proses pengukuran semuanya itu bertujuan untuk mendapatkan hasil pengukuran seakurat mungkin. Hal tersebut akan sangat tergantung pada jenis, bentuk, posisi bahkan temperatur dari benda ukur ataupun alat ukur yang digunakan. Sesuai dengan jenis-jenis pengukuran yang biasa dilaksanakan, maka alat ukur pun ada beberapa jenis dengan cara pemakaian yang berlainan. Berdasarkan sifatnya alat ukur ukur itu dapat dibagi:
1. Pengukuran langsung yaitu dengan menggunakan alat ukur langsung, hasil pengukuran dapat langsung dibaca alat ukur tersebut. Contoh; mikrometer, jangka sorong, mistar ukur, dsb.
2. Pengukuran tak langsung, yaitu pengukuran menggunakan alat ukur tidak langsung, alat ukur jenis pembanding atau pembantu dan standar. Hasil pengukuran diukur oleh alat ukur langsung.
3. Pengukuran dengan kaliber batas ( limit gage) yaitu pengukuran menggunakan alat ukur batas/kaliber. Pengukuran ini tidak menentukan ukuran suatu dimensi dengan pasti, melainkan hanya menunjukkan apakah dimensi tersebut terletak di dalam atau di luar daerah toleransi. Cara pengukuran seperti ini dimaksudkan untuk mempercepat pemeriksaan atas produksi masal, dan alat ukur yang digunakan adalah jenis kaliber GO dan NO GO gauges.
4. Pengukuran dengan cara membandingkan yaitu pengukuran dengan cara ini tidak menentukan dimensi ataupun toberansi suatu benda ukur secara langsung. Pengukuran dengan cara ini menggunakan perbandingan dengan bentuk standar misalnya untuk pengecekkan/pemeriksaan bentuk konis.
Æ’ Pengukuran Linier
- Pengukuran Linier Langsung
- Pengukuran Linier Tidak Langsung
Æ’ Pengukuran sudut
Æ’ Pengukuran dengan Pembanding (Comparative length)
Æ’ Pengukuran Kelurusan (Straightness)
Æ’ Pengukur Kerataan Permukaan (Flatness) 27
Æ’ Pengukuran Kebulatan (Roundness)
Æ’ Pengukuran Profile
Æ’ Pengukuran GO-NOT GO
Æ’ Pengukuran dengan Microscopes
Æ’ Pengukur Serbaguna Khusus
Pengukuran Linier Langsung
Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran linier langsung sebagai berikut :
1. Mistar Ukur
a. Meteran Gulungan
b. Meteran Lipat
c. Mistar Ukur Berkait
d. Mistar Ukur Pendek
2. Mistar Ingsut/Jangka Sorong
a. Mistar Ingsut Skala Nonius
b. Mistar Ingsut Jam Ukur
c. Mistar Ingsut Pengukur Tinggi
Macam Bentuk Mistar Ingsut : 1) Tak Sebidang, 2) Jarak Senter, 3) Alur Dalam, 4)
Pipa, 5) Posisi Dan Lebar Alur, 6) Tekanan Ringan, 7) Kedalaman, 8) Serba Guna, 9) Digital.
3. Micrometer
4. Mesin Ukur
a. mekanik
b. optik
Pengukuran Linier Tak Langsung
Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran linier tidak langsung sebagai berikut :
1. Alat Ukur Standar
- Blok Ukur (Bentuknya Balok, Untuk Mengecek Dimensi Alat Ukur Dan Mengkalibrasi Alat Ukur Langsung)….. Terbatas S/D 150 Mm
- Batang Ukur (Bentuk Batang Silindris)
- Kaliber Induk Tinggi 28
2. Alat Ukur Pembanding
- Jam Ukur (Dial Indicator)
- Pupitas (Dial Test Indicator)
- Komparator
- Pengukur T (Telescope Gauge)
- Pengukur Lubang Kecil (Small Hole Gauge)
- Kaliber Batas (Limit Gauge) :
1) Kaliber Poros Bentuk Silindris, 2) Kaliber Lubang Bentuk Bola , Bola Dibelah, Tongkat, 3) Kaliber Celah (Tidak Dapat Disetel Dan Dapat Disetel), 4) Kaliber Konis, Kaliber Ring Konis, 5) Kaliber Posisi, 6) Kaliber Radius, 7) Kaliber Ketebalan, 8) Kaliber Ulir Dalam, 9) Kaliber Ulir Trapesium Dan Segiempat.
- Rol Dan Bola Baja :
1) Jarak Luar/Celah, 2) Diameter Dalam, 3) Radius Luar Dan Dalam, 4) Poros Dan Lubang Konis, 5) Sudut, 6) Ulir Dan Roda Gigi.
Pengukuran sudut
- Protaktor
- Batang Sinus
- Perangkat Kombinasi
- Blok Pengukur Sudut
- Kepala Bagi
Pengukuran dengan Pembanding (Comparative length) Alat ukur yang digunakan :
- Dial indicator
- Electronic gage
- Gage blocks
Pengukuran Kelurusan (Straightness)
- Autocollimator
- Transit
- Laser beam
Pengukur Kerataan Permukaan
- Sipat
- Perangkat Kombinasi
- Alat ukur permukaan
- Meterprofil
- Optimal plat
- Interferometry
Pengukuran Kebulatan (Roundness)
- Dial indicator Circular tracing
Pengukuran Profile
- Radius or fillet gage
- Dial indicator
- Optical comparator
- Coordinate measuring machines
Pengukuran GO-NOT GO
- Plug gage
- Ring gage
- Snap gage
Pengukuran dengan Microscopes
- Toolmaker’s
- Light section
- Scanning electron
- Laser scan
Pengukur Serbaguna Khusus
- Pneumatik
- Listrik
- Elektronik
- Laser
PERALATAN SERVIS OTOMOTIF
PEMAKAIAN ALAT
Peralatan yang tidak diatur dan berceceran di sekitar bengkel akan menyulitkan penggunaan dan pencarian alat tersebut. Jika hal tersebut terjadi, pekerjaan yang ada pada bengkel akan terganggu dan memberikan citra yang buruk bagi bengkel tersebut. Berbagai macam alat tangan digunakan pada waktu menservis kendaraan. Tujuan utamanya adalah agar pekerjaan dilaksanakan dengan aman, tepat dan cepat. Untuk mencapai ini Anda harus bisa memilih alat yang paling tepat serta mengetahui bagaimana menggunakannya secara benar Aturan Pemakaian Alat Secara Umum :
1. Pilihlah alat yang paling cocok untuk melakukan suatu pekerjaan dengan aman dan efisien.
2. Kurangi waktu yang terbuang untuk mencari alat yang akan digunakan dan percepat pengecekan setiap alat. Hal ini diperoleh dengan jalan menyimpannya pada tempat yang telah ditentukan dalam kotaknya serta menyampan secara teratur.
3. Lindungi kendaraan dari kotoran, serta hindarkan terlepasnya alat yang sedang digunakan. Hal ini dilakukan dengan cara selalu membersihkan oli dari alat serta selalu menjaga agar alat tetap bersih.
4. Pada waktu memberikan alat kepada orang lain, hadapkanlah tempat memegang alat tersebut kepada orang tersebut sehingga ia tidak perlu lagi memutar alat yang dimaksud.
5. Apabila kepala alat tumpul, longgar atau cacat, atau gerakannya keras, alat harus diperbaiki atau diganti bagian yang perlu diganti. Alat diusahakan selalu dalam keadaan siap pakai.
Keamanan :
1. Jangan menggunakan peralatan yang sudah retak, atau ukurannya sudah berubah atau aus
2. Jagalah peralatan tetap bersih, terutama dari minyak, peralatan yang berminyak akan tergelincir/ selip dari genggaman pemakainya
Pemeliharaan :
1. Lap peralatan dari debu, minyak atau gemuk yang menempel
2. Lumasi bagian-bagian yang memerlukannya
3. Simpanlah peralatan pada kotak atau dinding tempel dengan rapi
4. Gantilah alat jika terjadi keausan, perubahan ukuran atau rusak
Penataan peralatan yang biasa dilakukan adalah :
1. Menata dan menyimpan peralatan didalam kotak (Caddy) , kotak yang kecil
dapat dijinjing dan kotak yang besar diberi roda untuk didorong. Peralatan dalam
kotak biasanya dipakai dan menjadi tanggung jawab seorang mekanik, biasanya
berisikan peralatan tangan pada umumnya.
2. Menata peralatan pada papan tempel, penataan semacam ini untuk peralatan
khusus dan jumlahnya terbatas.
Laporan Pertanggung Jawaban Divisi Pendidikan KMKB
Bismillahirrahmanirrohim
Assalamualikum wr.wb.
Salam Damai dan Sejahtera untuk Kita Semua
"Peace cannot be kept by force, it can only be achieved by understanding"
Yang kami hormati para pimpinan dan pejabat teras KMKB beserta jajaran,
Para sesepuh dan pendiri KMKB yang kami muliakan,
Hadirin sekalian para anggota muda KMKB penuh semangat dan antusias, yang begitu kami sayangi dan banggakan.
Ijinkan kami menyampaikan laporan, laporan yang mungkin tidak begitu berkenan dalam benak dan hati saudara sekalian.
Laporan dari divisi kementrian Pendidikan KMKB guna menggoreskan sedikit cita dan harap, asa serta doa untuk kemajuan KMKB di masa depan.
Sebelum itu perkenalkan profile Divisi Kementrian Pendidikan KMKB:
"Berjalan Bersama Meraih Cita dan Asa"
KMKB Educational Division (Divisi Pendidikan)
Rancangan Anggaran & Program Divisi Pendidikan
Visi
Menjadi Wasilah bagi Para Pelajar untuk Meraih Asa dan Citanya
Misi
Menyediakan Konsultasi Pendidikan yang Berkualitas dan Terjangkau
Motto Divisi Pendidikan KMKB:
SMART/ SMARTER
S= Specific
M= Measurable
A= Attainable
R= Relevant
T= Time-bound
E= Evaluate
R= Reevaluate
"Pengenalan dunia akademik mahasiswa kepada calon anggota baru dan sharing pengetahuan antar anggota KMKB tentang dunia kampus"
Program
Short Term (Jangka Pendek) 1-3 Tahun Kedepan
1. Menyediakan Media Pembelajaran yang Berkualitas
2. Menyediakan Informasi-informasi Pendidikan
3. Menyediakan Alamat-alamat kosan
4. Menyediakan Hubungan dan link beasiswa dalam dan luar negeri
5. Menyediakan Konsultasi dan Bimbingan
Middle Term (Jangka Menengah) 5-8 Tahun Kedepan
6. Inovasi, Penelitian dan Pengembangan Antar Universitas/ Perguruan Tinggi
7. Sport Team KMKB (KMKB FC=Futsal, Sepak Bola, Basket dan Lainnya )----> Liga KMKB di Bandung
8. Membuat Proposal dan Detail Rencana Pembangunan Asrama KMKB di Bandung
Long Term (Jangka Panjang) 10-15 Tahun Kedepan
9. Pengadaan Pelatihan Olimpiade bagi adik-adik pelajar di Kota Banjar
10. Penerapan dan Pengembangan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni) mutakhir
11. Organizational Social Responsibility
12. Awal Pembangunan ASRAMA KMKB
Kami sadar bahwa dalam mengemban amanah yang diberikan, tidaklah begitu memuaskan para anggota KMKB semuanya.
Di bawah ini tertera beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan
1. Tour de' Campus
2. KMKB Goes to Village
3. KMKB Sport
4. KMKB Education Service
Kelemahan, Tantangan dan hambatan
*Sinergitas dan Persatuan dirasakan belum terbentuk secara solid di antara kami
*Kesamaan Visi dan tujuan yang belum begitu terpatri dalam diri kami masing-masing
*Kesibukan Internal antar anggota
*Serta hambatan dan tatangan lainnya yg tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Kekuatan dan Peluang
Dengan begitu banyaknya Anggota Muda KMKB yang berstatus Mahasiswa PENDIDIKAN harusnya menjadi modal dan peluang guna pengaplikasian langsung Ilmu yang kami dapatkan.
Masa Depan dan Harapan
Menjadi ladang amal dan pengaplikasian ilmu yang kita dapatkan, sarana silaturahmi, kekelurgaan guna meningkatkan pengembangan diri, perbaikan keterampilan;
K= Knowledge
A = Attitude
S = Skill
E = Experience
T = Technique
Guna menjadi bekal di masa depan agar selamat dunia dan akhirat, amin.
Lampiran menyusul
Penutup
Kiranya laporan ini kami sampaikan atas kekurangan selama ini, mohon maaf atas segala hilap dan salah, semoga Kementrian Pendidikan di masa depan mampu memperbaikinya dan menunjukan performa lebih mantap dari pendahulunya, sekian.
Do'a dan dukungan selalu menyertai KMKB
Wasalam wr.wb.
ada satu hadiah dan kenang-kenangan dari kami
Mars KMKB
Bangun pemudi pemuda KMKB
Tangan bajumu singsingkan untuk KMKB
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra KMKB
Bertingkah laku halus hai putra KMKB
Disusun Oleh:
KMKB'rs UPI
1. Ana Saomi
2. Arie Bagus R.
3. Arip Nurahman
4. Eka Kadarisman, dan Kawan-kawan.
Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya
Jampe-jampe harupat
Prak ibadah satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek cacap engke sareupna
Wallohalam bissawab.
Sumber:
1. KMKB
2. Foto-foto Francisca C.
Selasa, 15 Februari 2011
717 Mahasiswa STKIP-PGRI Laksanakan KKN
LUBUKLINGGAU-717 mahasiswa semester VII STKIP-PGRI Lubuklinggau, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di 60 lokasi yang tersebar di 10 kecamatan, Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan dua kecamatan di Kota Lubuklinggau. Penyerahan sekaligus pelepasan mahasiswa KKN ini dilaksanakan Senin (14/2), di halaman Kantor Bupati Mura.
Ketua STKIP-PGRI Lubuklinggau, Lukman Nawi kepada koran ini, Selasa (15/2) mengatakan, 595 mahasiswa melaksanakan KKN di 50 lokasi yang tersebar di 10 kecamatan, Kabupaten Mura. Diantaranya Kecamatan sumber Harta, STL Ulu Terawas, Selangit, Karang Jaya, Rawas Ulu, Rupit, Suka Karya, Tuah Negeri, Muara Beliti, dan Tiang Pumpung Kepungut. Sementara 122 mahasiswa lainnya tersebar di 10 lokasi di pinggiran Kota Lubuklinggau, yaitu di Kecamatan Lubuklinggau Selatan I dan Lubuklinggau Utara II.
KKN mahasiswa STKIP-PGRI Lubuklinggau ke XXI ini dilaksanakan Senin (14/2) hingga Kamis (14/3). Diharapkan dari pelaksanaan KKN ini masing-masing mahasiswa dapat memberikan bimbingan kepada masyarakat. Selain itu, dengan ilmu yang selama ini telah didapat dari bangku kuliah, dapat memberikan karya nyata bagi masyarakat pedesaan sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk ikut secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Disamping itu, Lukman Nawi dihimbau setiap mahasiswa bisa beradaptasi dengan masyarakat desa, agar tidak terjadi kendala dalam pelaksanaan KKN.
Dalam pelaksanaan KKN, mahasiswa dapat berkoordinasi dengan pemeintah kecamatan dan kelurahan/desa.
Menurut Lukman Nawi, dengan adanya penyebaran pelaksanaan KKN, dapat memberi motivasi dan memancing animo anak dan orang tua akan pentingnya pendidikan terhadap anak terutama anak di usia dini.
Selain itu, dengan penyebaran KKN ini juga mampu mensosialisasikan ilmu mereka kepada masyarakat dan sejumlah anak yang berada di daerah kecamatan. Sehingga mampu membangkitkan minat orang anak tua dan pelajar di daerah untuk melanjutkan pedidikannya kejenjang Perguruan Tinggi (PT).
Dan Selasa (15/2), Lukman Nawi bersama dosen pembimbing melaksanakan kunjungan langsung ke beberapa posko KKN di Kecamatan Rawas Ulu. Salah satunya posko KKN di Desa Sungai Baung.
Lukman Nawi menjelaskan, untuk membimbing mahasiswa yang tersebar dalam 60 posko KKN ini, STKIP-PGRI menagamanahkannya kepada 60 dosen pembimbing. Dosen yang diutus ini akan membimbing dan mengarahkan peserta KKN dalam melaksanakan program kerja selama KKN. (03)


