Jumat, 06 Mei 2011

UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

MATA KULIAH : MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
SE
MESTER : 2 (DUA)


DOSEN PENGAMPU : PROF.DR. WACHIDI, M.Pd


SOAL:

Menurut Bruce Joyce and Marsha Well menyebutkan berbagai macam model pembelajaran diantaranya; Inductive Thingking, Inquiry Training, Memory Model, Biological Science Inquiry Model, Classroom Meeting Model, and Synectics.

Pertanyaan;

1. Berikan pengertian masing-masing model pembelajaran tersebut diatas?

2. Bagaimana langkah-langkah masing-masing model pembelajaran tersebut diatas

3. Pilih salah satu pelajaran yang tepat untuk masing-masing model tersebut diatas, berikan contoh bagaimana mengimplementasikan di kelas atau dilaboratorium

4. Tunjukkan dampak instruksional dan dampak pengiring masing-masing mata pelajaran dalam implementasinya didalam kelas atau dilaboratorium

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 1


1. Pembelajaran Inductive Tingking

Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Model berpikir induktif cenderung lebih mudah digunakan pada materi pembelajaran yang masih bersifat konseptual. Ha ini dapat dilihat pada pola dan karakteristik pembelajaran yang merupakan kategori berpikir induktif ini. Namun, tidak menutup kemungkinan aktifitas yang dikembangkan dalam proses pembelajaran akan melibatkan unsur psikomotorik dari peserta

Langkah-langkahTahap-tahap model induktif meliputi empat aspek antara lain;

a. Mengidentifikasi dan penghitungan data yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari

b. Mengelompokkan objek-objek data menjadi kategori yang anggotanya bersifat umum,

c. Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori sebelumnya (point 2) sehingga data dapat dimanipulasi secara simbolis

d. Mengubah kategori-kategori menjadi ketrampilan/hipotes

Pembelajaran secara induktif banyak digunakan dan diimplementasikan pada pola pembelajaran secara individual. Merupakan kelompok model pembelajaran yang memproses informasi.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 2


2. Latihan Inkuiri (Inquiry Training Model)

Rechard Suchman sebagai tokoh model Latihan Inkuiri ini mengemukakan bahwa tujuan daripada Latihan Inkuiri ialah mengembangkan keterampilan kognitif dalam melacak dan mengolah data-data. Di samping itu untuk meningkatkan kemampuan melihat konsep-konsep logis serta hubungan kausalitas dalam mengolah sendiri informasi secara produktif. Hal tersebut akan mernbawa pebelajar-pebelajar kepada suatu pendekatan baru dalam belajar dimana mereka membangun konsep-konsep melalui analisis episode-episode nyata dan menemukan sendiri hubungan-hubungan antara berbagai variabel.Model ini bertolak dari asumsi bahwa enquiri (pelacakan) adalah persuit of meaning

Langkah-langkah pembelajaran. Suchman yakin bahwa orang terdorong untuk meningkatkan kompleksitas struktur intelektualnya dan mencari hal-hal yang lebih bermakna. Sesuatu bermakna secara intelektual bila aspek-aspek yang terpisah-pisah dalam kesadaran kita dapat dihubungkan satu sama lain. Oleh sebab itu, pelacakan ( inquiry ), makna (meaning),dan ekspansi (expansion) intelek berkaitan erat satu sama lain.Strategi belajar-mengajar ini dikembangkan Suchman ke dalam formatsebagai berikut :

a. Pertama bahan-bahan yang akan dilacak dikernbangkan dan disajikan kepada pebelajar,

b. Kemudian pebelajar dibimbing melacak ke dalam situasi menduga-duga,

c. Akhimya pebelajar menguji/menilai secara tepat proses inkuiri yang telah dilakukan Secara ringkas

model Inkuiri tersebut dapat kita lukiskan sebagai berikut :

(1) SintaksFase

I : Mengemukakan masalahFase

II : Melacak dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik verbal maupun experementasi actual Fase

III : Analisis proses inkuiri

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 3

(2) Prinsip ReaksiPrinsip reaksi Model Latihan Inkuiri ini adalah sebagai berikut :

a.pertanyaan yang diajukan pebelajar memungkinkan pembelajar menjawab: Ya atau Tidak,

b.kegiatan-kegiatan yang menimbulkan suasana kebebasan intelektual,

c.respon-respon atas pebelajar dengan memfokuskan kembalipertanyaan-pertanyaan mereka atau dengan meningkatkan pelacakan.

(3) Sistem SosialPembelajar adalah pengendali interaksi dan jalannya proses inkuiri, tetapikaidah-kaidah inkuiri seperti kerjasama, kebebasan intelektual dan kesamaantetap dipelihara.

(4) Sistem PendukungDukungan yang optimal bagi strategi latihan inkuiri ini ialah kondisi materialyang dipersiapkan dan telah terlatih memahami proses dan strategi inkuiri.Penggunaan model Latihan Inkuiri akan memberi efek-efek pencapaian instructional dan nurturant effects seperti terlihat pada diagram berikut ini :

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 4


Kumpulan atau set model mengajar yang dianggap komprehensif, menurut Tardif (1989) adalah set model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dengan kategorisasi sebagai berikut :

1. Model Information Processing, ( Berpikir induktif (InductiveThinking) Latihan Penelitian (Inquiry Training)

sebuah model mengajar untuk mengembangkan ranah cipta (kognitif). Termasuk model information processing adalah Model Peningkatan Kapasitas Berfikir yang diilhami oleh Jean Piaget (1896 – 1980). Penerapan model ini diarahkan pada pengembangan-pengembangan sebagai berikut :
a. Daya cipta akal siswa
b. berpikir kritis siswa
c. Penilaian mandiri siswa

Langkah-langkah (syntax) (Berpikir induktif (InductiveThinking) Latihan Penelitian (Inquiry Training)


Setelah guru mempersiapkan segala sesuatu yang mendukung penyajiannya, seperti alat peraga, buku sumber dll, ia harus siap melaksanakan tiga macam sintaks model. Langkah-langkah ini biasanya ditempuh dengan menggunakan motede Diskusi dan pemberian tugas yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :

1. langkah konfrontasi. Yaitu guru mengkonfrontasikan atau menghadapkan para siswa pada permasalahan yang menentang, penuh tanda tanya, dan terkadang tak masuk akal. Caranya ialah dengan menajukan pertanyaan yang pelik tetapi masih setara dengan perkembangan ranah kognitif siswa.

2. langkah inquiry, merupakan proses pengunaan intelek siswa dalam memperoleh pengetahuan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan konsep-konsep ke dalam sebuah tatanan yang menurut siswa tersebut penting (Barlow, 1985). Selama proses inquiry guru perlu memberi peluang kepada siswa agar lebih banyak mengembangkan kreativitas sendiri dalam memecahkan masalah.

3 langkah transfer. Pada tahap akhir ini diharapkan kemampuan-kemampuan ranah cipta dan rasa yang sudah dimiliki oleh siswa dapat mempermudah penyelesaian-penyelesaian tugas pembelajaran berikutnya. Selain itu, kiat kognitif siswa dalam memecahkan masalah diharapkan dapat memberi dampak positif atau dapat digunakan lagi untuk memecahkan masalah-masalah baru (Lawson, 1991)

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 5


3. Model Pembelajaran Sinektik

Menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2000:135) semua model mengajar mengandung unsur model berikut: (1) orientasi model, (2) urutan kegiatan (syntax), sistem sosial (social system), (4) prinsip reaksi (principle of reaction), (5) sistem penunjang (support system), dan (6) dampak instruksional dan penyerta (instructional and nurturant effect). Dalam hal ini model pembelajaran sinektik juga harus mencakup semua unsur tersebut.

a. Orientasi Model

Istilah sinektik berasal dari bahasa Yunani yang berarti penggabungan unsur-unsur atau gagasan-gagasan yang berbeda-beda yang tampaknya tidak relevan. Menurut William J.J. Gordon (1980:168), sinektik berarti strategi mempertemukan berbagai macam unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu pandangan baru. Selanjutnya Model Sinektik yang ditemukan dan dirancang oleh William JJ Gordon ini berorientasi meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, ekspresi kreatif, empati dan wawasan dalam hubungan sosial.

b. Rangkaian Kegiatan

Unsur kegiatan atau sintaksis merujuk pada rincian atau tahapan kegiatan model sehingga fase-fase kegiatan model tersebut teridentifikasi dengan jelas. Unsur kedua pembangun model sinektik ini adalah proses belajar mengajar sebagai struktur model pembelajaran.

Ada dua strategi dari model pembelajaran sinektik, yaitu strategi pembelajaran untuk menciptakan sesuatu yang baru (creating something new) dan strategi pembelajaran untuk melazimkan terhadap sesuatu yang masih asing (making the strange familiar). Kedua strategi dari model pembelajaran sinektik dapat dilihat

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 6

pada tabel berikut.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 7

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 8


4. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting Model)

William Glasser sebagai tokoh model Pertemuan Kelas ini bertolak dari pandangan psikologis, yang berasurnsi bahwa kekacauan psikologis yang dialami seseorang karena adanya campur tangan budaya atas kebutuhan vital biologis manusia berupa sex dan aggression. Kebutuhan - kebutuhan vital psikologis manusia yang paling esensial ialah mencintai dan dicintai. Ketidakpuasan dalam hal cinta ini menimbulkan ber bagai sindrom seperti gejala takut tanpa alasan, depresi, dan sebagainya.

Di dalam kelas cinta itu menjelma dalam bentuk tanggung jawab sosial, yaitu suatu tanggung jawab untuk membantu individu-individu lainnya. Tanggung jawab ini akan membawa kepada suatu penilaian diri sendiri dan merasakan sebagai pribadi yang capable. Pendidikan dalam hal ini ialah pendidikan akan tanggung jawab sosial. Pendidikan untuk tanggung jawab sosial ini mencakup berpikir, pernecahan masalah, dan pengambilan keputusan baik sebagai individu maupun kelompok tentang pokok-pokok yang berkaitan dengan siswa itu. menurut Glasser terdapat 3 (tiga) tipe perternuan kelas itu yakni sebagai berikut:

a. Perternuan pemecahan masalah

b. Pertemuan open-ended

c. Perternuan diagnosis pendidikan

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 9

Ketiga tipe tersebut di atas masing-masing berbeda fokusnya. tipe pertemuan pernecahan masalah menyangkut diri sendiri dengan masalah tingkahlaku dan masalah social, tetapi dapat pula mengenai persahabatan, kesendirian dan pilihan jurusan. Orientasi pertemuan selalu positif yang menuju kepada pemecahan dan bukan pada mencari kesalahan. Adapun pada tipe pertemuan open-ended pebelajar diberikan pertanyaan-pertanyaan pemikiran provokatif yang berkaitan dengan kehidupan mereka.Mungkin pula pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berhubungan dengan kurikulum kelas. Perbedaan antara pertemuan open-ended dengan diskusi kelas ialah bahwa pada pertemuan open-ended pertanyaan guru secara khusus tidak mencari jawaban-jawaban faktual. Pembelajar hanya menstimulasi berpikir mengenai apa yang pebelajar tahu atas subjek yang didiskusikan. Sedangkam pertemuan diagnosis pendidikan dikaitkan dengan apa yang sedang dipelajari di kelas. Tujuannya untuk mendapatkan apakah kelas tidak memahami pelajaran. Dalam hal ini bukan untuk menilai peelajar, melainkan untuk menemukan apa yang mereka tahu dan mereka tidak tahu. Jadi pembelajar tidak menilai dalam diskusi-diskusi. Pebelajar boleh menyampaikan pendapat dengan bebas dan menarik kesimpulan tentang apa yang dianggapnya tepat.

Meskipun Glasser mengemukakan 3 (tiga) tipe pertemuan kelas yang berbeda, namun mempunyai mekanisme yang sama. Untuk mendapatkan gambaran tentang struktur model pertemuan kelas ini dapat kita kemukakan sebagai berikut:

(1) Sintaks

Fase I : Pembelajar menciptakan suasana yang tenang.

Fase II : Pembelajar dan pebelajar menyatakan masalah-masalah yang akan didiskusikan.

Fase III : Pembelajar menyuruh pebelajar melakukan penilaian pribadi.

Fase IV : Pembelajar dan pebelajar mengidentifikasikan alternafif segi-segi pelajaran yang akan didiskusikan.

Fase V : Pebelajar membuat suatu commitment tingkah laku.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 10

Fase VI : Pembelajar rnembuat kelompok tindak lanjut tingkah Iaku.

a. Model personal (pengembangan pribadi) Model Sinektik (Synectics Model)
Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)


Model personal berorientasi pada pengembangan pribadi siswa dengan lebih banyak memperhatikan kehidupan ranah rasa, terutama fungsi emosionalnya. Model personal lebih ditekankan pada pembentukan dan pengorganisasian realitas kehidupaan lingkungan. Diharapkan dengan model ini proses belajar-mengajar dapat menolong siswa dalam mengembangkan sendiri hubungan yang produktif dengan lingkungannya.


Model personal lebih bersifat bimbingan dan penyuluhan dalam mengantisipasi atau mengatasi kesulitan belajar siswa, juga untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar siswa yang dianggap bermasalah. Teknik yang lazim digunakan untuk mengimplementasikan model personal adalah teknik wawancara. Dalam wawancara ini siswa dibebaskan menjawab dan mengekspresikan ide dan perasaan kepada guru pembimbing sehubungan dengan masalah yang sedang dialami. Sebaliknya, guru yang berfungsi sebagai pembimbing sangat dianjurkan untuk bersikap empatik, dalam arti menunjukkan respons ranah cipta dan rasa yang penuh pengertian terhadap emosi dan perasaan siswa (Reber, 1988)

b.Langkah-langkah (syntax) Model Sinektik (Synectics Model)

Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)

1. Menentukan situasi yang membantu. Tahapan ini dilakukan pada wawancara awal. Guru harus pandai-pandai menyusun daftar pertanyaan yang membuka jalan bagi siswa klien untuk mengekspresikan secara bebas hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Jadi, tahapan ini lebih bersifat penjajagan masalah.

2. Mendorong/memotivasi siswa klien untuk mengekspresikan segala perasaan yang ada, baik yang bersifat positif maupun negatif.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 11

3. Mengembangkan insight, dalam arti mengerti dan menyadari sendiri tentang arti, sebab, dan akibat perilakunya pada masa lalu yang bermasalah. Peranan guru dalam hal ini memberi akses keterusterangan siswa klien, agar jenis masalah yang akan dipecahkan pada langkah selanjutnya dapat ditentukan rumusannya.

4. Memotivasi siswa klien sambil membantuk membuat keputusan tentang jenis masalah dan membuat rencana pemecahan masalah tersebut. Dalam hal ini, yang dilakukan guru adalah menawarkan alternatif-alternatif penentuan jenis masalah dan prosedur pemecahannya untuk dijadikan acuan siswa tersebut dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi yang mengatasi masalah bukan guru pembimbing melainkan siswa klien itu sendiri.

1. Memotivasi siswa klien untuk mengambil keputusan mengenai jenis masalah dan tindakan-tindakan positif. Guru pembimbing tinggal memantau pelaksanaan tindakan-tindakan siswa tersebut sambil bersiap siaga membantu menyingkirkan atau mengurangi hambatan yang mungkin merintangi tindakan positif siswa.



File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 12


5. Strategi Pembelajran Inkuiri Biologi ( biological science inquiry model )

Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya rencana pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L. Costa,(1985, dalam Trianto, 2007), merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemp (1995, dalam Sanjaya 2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas , Dick dan Carey (1985, dalam Sanjaya 2009) mendifinisikan strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Jadi strategi pembelajaran merupakan teori preskriptif yang berperan sebagai fasilitas untuk mencapai tujuan belajar.

Strategi pembelajaran inkuiri merupakan teori preskriptif yang menggunakan proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk memahami bagaimana melakukan dan bagaimana menggunakan pemahaman tersebut dalam mendiskripsikan fenomena, memformulasikan hipotesis, dan menguji hipotesis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan. (Sanjaya, 2009). Senada dengan pendapat diatas, (Gulo, 2002 dalam Trianto, 2007) menyatakan strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi inkuiri berkaitan dengan penemuan sendiri dalam pembelajaran.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 13

Digunakannya model pembelajaran inkuiri biologi ( biological science inquiry model ) dalam pembelajaran didasari atas berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut.

a. Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk mata pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti dapat meningkatkan hasil elajar siswa. (Joice dan Weil, 1992, dalam Muna 2009)

b. Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan oleh guru.

c. Model pembelajaran inkuri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.

Model pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikembangkan oleh Schwab tahun 1965 yang termuat dalam Biological Science Curriculum Studi (BSCS), dan membahas tentang pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah. (Joice dan Weil,1992, dalam Muna,2009). Esensi dari model pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sedangkan prosedurnya melibatkan siswa dalam penyelidikan masalah yang sebenarnya dengan cara melibatkan dalam penelitian, membantu siswa mnegidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Model pembelajaran inkuiri biologi memiliki empat langkah pembelajaran ( Joice dan Weil, 1992 dalam Muna, 2009). Langkah-langkah tersebut adalah : Investigasi, Penentuan masalah, Identifikasi masalah, dan Penyimpulan /penyelesaian masalah. Oprasional tiap langkah dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No

Tahap pembelajaran

Kegiatan guru

Kegiatan siswa

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 14

1

Investigasi

Memberikan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran pada siswa

Mendorong dan membimbing siswa melakukan pengkajian /investigasi terhadap permasalahan

Mendorong siswa aktif berpikir,belajar dan mencipta, serta mengekplorasi

Mendorong siswa melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada, mengumpulkan data, mengkaji,mengklasifikasikan data

Membaca permasalahan secara umum

Menganalisis masalah

Mengumpulkan data.

Melakukan pengkajian /investigasi terhadap permasalahan

Mencipta dan mengekplorasi

Melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada.

 Mengumpulkan data, mengkaji, mengklasifikasikan data, dan sejenisnya

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 15

2

Penentuan Masalah

Membingbing dan mengarahkan siswa untuk menentukan, memetakan masalah seseuai dengan jenisnya

Membantu siswa untuk melihat keterkaiatan antara kelompok/jenis masalah serta membuat pohon permasalahan dan sejenisnya

 Memverifikasi dan memetakan data

Menentukan masalah sesuai dengan data

Melihat keterkaitan antara kelompok /jenis masalah dan membuat pohon permasalahan dan sejenisnya

3

Identifikasi

Membantu siswa melakukan identifikasi dan verifikasi permasalahan mengembangkan hipotesis

Mendorong siswa mengembangkan hipotesis

Mendorong siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah

Mendorong siswa mengembangkan kesimpulan sementara

Melakukan identifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis mencari berbagai alternatif pemecahan dan pengembangan kesimpulan sementara

Mengembangkan hipotesis

Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah

Mengembangkan kesimpulan sementara

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 16

4

Penyimpulan/penyelesaian masalah

Mendorong siswa untuk mencari pemecahan masalah yang paling tepat

Membimbing siswa menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat

Membimbing dan membantu siswa menetapkan suatu kesimpulan yang paling tepat

Menyimpulkan pemecahan masalah yang paling baik dan tepat untuk menyelesaiakan masalah

Menganilisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat

Menetapkan kesimpulan yang palaing epat

Assesmen dan Penilaian Strategi Pembelajaran Inkuiri Biologi ( biological science inquiry model )

Teknik-teknik penilaian untuk mengukur aktivitas-aktivitas strategi pembelajaran inkuiri biologi hendaknya bersifat lentur dan lebih bervariasi. Dalam hal ini, penilaian lebih ditujukan pada mengakses proses pembelajaran. Sebab itu, lebih banyak digunakan data subyektif untuk menilai pertumbuhan peserta didik. Bentuk-bentuk assesmen yang dapat digunakan dalam penilaian dapat berupa pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, tes dan lain-lain.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 17

Strategi pembelajaran inkuiri biologi adalah alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstrutivistik. Esensi dari model pembelajaran tersebut adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetehuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian atau adanya orientasi pembelajaran dari yang semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang pada siswa untuk memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan melalui proses berpikir dalam pemerosesan informasi.

Model pembelajaran inkuiri bilogi dapat dilaksanakan dengan empat tahapan pembelajaran, yaitu : (1) Investigasi, (2) Penentuan masalah, (3) Identifikasi Masalah, dan (4) Penyimpulan/ penyelesaian masalah.

Aktivitas-aktivitas model pembelajaran inkuiri biologi dapat dievaluasi berdasarkan pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, dan tes.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 18


6. Model pembelajaran Memorization (Memory Model)

dalam penelitian ini didefenisikan sebagai pola atau desain pembelajaran yang menggunakan memori untuk meningkatkan pemahaman dengan strategi membangun hubungan objek-objek yang dipelajari serta hubungan konseptualnya. Jadi memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk belajar dari individu melibatkan memori. Dengan memori individu dapat menyimpan informasi yang diterima sepanjang waktu. Tanpa memori, individu mustahil dapat merefleksikan dirinya sendiri, karena pemahaman diri sangat tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang hanya dapat terlaksana dengan adanya memori.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 19


Pemahaman siswa pada pelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur yaitu siswa dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia serta mengetahui letak/ posisi unsur tersebut dalam sistem periodik unsur.
Hal diatas terjadi karena dari awal siswa mulai belajar kimia, guru kurang menekankan bahwa dasar pelajaran kimia dari kelas X sampai kelas XII yang paling sederhana tapi merupakan hal yang terpenting dalam pelajaran kimia adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan terlebih dahulu nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur dalam tabel periodik agar siswa dapat memahami konsep – konsep kimia. Untuk dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur maka siswa terlebih dahulu dapat menghapalkan nama – nama unsurnya dan posisi/letak unsur dalam tabel periodik. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapalkan nama – nama unsur dan posisi/letaknya dalam tabel sistem periodik karena dalam menghapalkannya siswa seringkali melakukannya dengan cara yang salah yaitu dengan mengucapkannya berulang-ulang kali. Menghapal dengan cara mengucapkan berulangkali mungkin akan berhasil tetapi biasanya yang dihapal seringkali diingat pada saat itu saja (cepat terlupakan).
Berdasarkan permasalahan diatas menurut penulis salah satu model pembelajaran yang tepat untuk menangani permasalahan siswa dalam hal meningkatkan memori/ hapalan agar siswa lebih kreatif sehingga yang dihapal dapat bertahan lebih lama (tidak cepat lupa) adalah dengan model pembelajaran memproses informasi salah satunya dengan model pembelajaran Memorization. Menurut Bruce Joyce et al (2009, 217) memori dapat membangun hubungan sehingga objek-objek yang dipelajari tidak hanya sekedar diingat dengan hapalan saja, tetapi juga dengan hubungan konseptual. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pressley et al adalah bahwa dengan menggunakan model memorization orang dapat menguasai materi lebih cepat dan menyimpannya lebih lama. Model memorization dapat dilakukan dengan metode kata-penghubung (Link-Word Method), metode kata kunci (Key-Word Method) bahkan bisa saja dengan menggunakan sebuah lagu dan lain sebagainya. Model memorization ini berguna untuk menyeimbangkan fungsi kedua otak yaitu otak kiri dan otak kanan dalam mengolah informasi yang didapat. Otak kiri merupakan otak yang bersifat logis, beruntun, parsial dan cenderung memproses informasi satu persatu, sedangkan otak kanan berpikir secara acak, holistik dan kreatif dalam menerima dan menyimpan informasi. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapal karena biasanya dalam proses belajar siswa lebih sering menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri saja karena biasanya saat belajar disekolah siswa dituntut untuk berpikir urut dan logis padahal seharusnya otak kanan juga harus digunakan karena otak kanan sangat membantu dalam proses menghapal cepat, dan berpikir kreatif. Dengan menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dapat meningkatkan efektifitas belajar. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran memorization segala sesuatu yang berhubungan dengan hapalan tidak akan sulit lagi justru akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 20



Penggunaaan model Memorization dalam pembelajaran kimia diharapkan siswa semakin kreatif dalam merangkai kata-kata meningkatkan daya memori siswa serta menjadikan materi pelajaran kimia merupakan suatu hal yang menyenangkan dan bukan merupakan hal yang membosankan lagi. Jika siswa sudah memiliki asumsi bahwa belajar merupakan hal yang menyenangkan maka diharapkan hal tersebut akan meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa.



File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 21


File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 22


File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 23


IMPLEMENTASI STRATEGI INKUIRI BIOLOGI DALAM PEMBELAJARAN

1.Pendahuluan

Pada hekikatnya program pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang “ mengapa hal itu terjadi “. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.

Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian strategi pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan kajian beberapa literatur terdapat banyak strategi pemecahan masalah yang kiranya dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang tejadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktakhiran struktur kognitifnya.

Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan. (Suharsono, 1991 dalam Muna, 2009).

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 24

Mata pelajaran biologi sebagai bagian dari bidang sains, menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman tingkat tinggi yang komprehensif. Namun, dalam kenyataan saat ini siswa cendrung menghafal daripada memahami, padahal pemahaman merupakan modal dasar bagi penguasaan selanjutnya. Siswa dikatakan memahami apabila dapat menunjukkna unjuk kerja pemahaman tersebut pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi, baik pada konteks yang sama maupun pada konteks yang berbeda. (Gardner, 1999 dalam Muna, 2009).

Pemahaman merupakan perangkat standar program pendidikan yang mereflesikan kompetensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan. (Yulaelawaty, 2002). Sedangkan kompetensi seseorang yang telah menyelesaiakan pendidikan dijadikan titik tolak dari kurikulum berbasis kompetensi. Dengan demikian pemahaman merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam belajar biologi. Belajar untuk pemahaman dalam bidang biologi harus dapat dipertimbangkan oleh para pendidik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan mata pelajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka pembelajaran dengan pemecahan masalah menjadi hal yang sangat diperlukan dalam pembelajaran biologi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi pembelajaran inkuiri biologi.

Oleh sebab itu dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pemecahan masalah dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuari biologi.

2.Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivis

Strategi pembelajaran inkuiri biologi merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan paradigma konstruktivisma. Sehubungan dengan hal itu, maka pembahasan tentang strategi pembelajaran inkuiri biologi akan diawali dengan uraian singkat tentang pandangan konstruktivisma dalam pendidikan.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 25

Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara (tentatif) terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cendrung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan konstruktivis lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesaikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman kongkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Pebelajar sendiri yang bertanggung jawab atas pristiwa belajar dan hasil belajarnya. Pebelajar sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikan dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna.

Paradigma konstruktivistik, merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan pemecahan masalah, mengembangkn konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh jawaban benar. Pembelajaran dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi , pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh pebelajar sendiri. Secara umum , terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik ( Brooks & Brooks, 1993 dalam Santiyasa, 2004), yaitu (1) meletakkan permasalah yang relevan dengan kebutuhan pebelajar, (2) menyusun pembelajaran disekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan pebelajar, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan pebelajar, dan (5) menilai pembelajaran secara kontekstual.

Bertolak dari pandangan konstruktivisma bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran pebelajar dan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru kepikiran pebelajar, maka para konstruktivis menghendaki adanya pergeseran yang tajam bagi sosok yang berdiri di depan kelas sebagai guru. Pergeseran dari seseorang yang mengajar menjadi seorang fasilitator. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagai transmiter pembelajaran. Pengajar sebagai fasilitator akan memilki konsekuensi langsung sebagai expert learners, manager, dan mediator.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 26

Sebagai expert learners, pengajar diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk pebelajar, menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran, merubah strategi ketika pebelajar sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotorik pebelajar.

Sebagai manager, pengajar berkewajiban memonitor hasil belajar para pebelajar dan masalah-masalah yang dihadapi mereka, memonitor disiplin kelas dan hubungan interpersonal, dan memonitor ketepatan penggunaan waktu dalam menyelesaikan tugas. Dalam hal ini, pengajar berperan dalam expert teacher yang member keputusan mengenai isi, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal dan pengelompokan pebelajar.

Sebagai mediator, pengajar memandu mengetengahi antar pebelajar, membantu para pebelajar memformulasikan pertanyaan atau menkontruksi representasi visual dari suatu masalah, memandu para pebelajar mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para pebelajar, pemodelan proses berpikir dengan menunjukknan kepada pebelajar ikut berpikir kritis.

File. MAHURI @UAS MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HALAMAN 27


UJIAN AKHIR SEMESTER

MATA KULIAH MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

OLEH : MAHURI

NPM : A2M009125

DOSEN PENGAMPU: PROF.DR. WACHIDI, M.Pd

Diajukan Sebagai Tugas Text Home UAS MataKuliah Model-Model Pembelajaran

Semester 2 (dua)

Program Pascasarjana (S2)

Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar