Selasa, 10 Januari 2012

NYAI RORO KIDUL : SEBAGAI SIMBOL KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA

SANG RATU DALAM MITOS 

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai putrid yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. 

Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinannya tersebut. Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja. Keinginan itu takkan terwujud selama Putri Kadita masih ada. Kemudian Dewi dating menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah barang tentu raja menolak hal tersebut. 

Tak kehabisan akal, Dewi Mutiara memanggil seorang dukun untuk memantrai sang putri sehingga sekujur tubuhnya dipenuhi penyakit kulit. Raja merasa sedih tak mampu berbuat apa-apa ketika didesak untuk menyingkirkan sang putrid yang menjadi pergunjingan seluruh negeri. Putrid yang malang itu pun pergi sendirian tanpa tahu kemana harus pergi. Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di Pantai Laut Selatan. Dikisahkan Putri Kadita mendengan suara gaib yang memanggilnya untuk mandi di laut selatan. 

Kadita menuruti suara gaib tersebut. Saat air laun menyentuh kulitnya, dengan mukjizat Sang Widhi, ia sembuh dari penyakitnya seketika juga. Imbal balik dari kesembuhannya, ia kemudian menghuni dan mengatur laut selatan. Ia kemudian terkenal dengan sebutan penguasa pantai selatan atau Nyi Roro Kidul. Cerita tersebut hanya satu dari sekian versi asal mula mitos penguasa pantai selatan. Setiap kelompok masyarakat Jawa yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur memiliki versi yang berbeda tentang keberadaan Nyai Roro Kidul. 

Di Jawa Tengah misalnya, Eksistensi Nyai Roro Kodul tampak pada kepercayaan adanya hubungan mistis antara Panembahan Senopati dengan Ratu Gaib yang digambarkan sebagi wanita yang sangat cantik ini. Panembahan Senopati merupakan pendiri kerajaan Matara Islam. Dikisahkan suatu ketika Panembahan Senopati melakukan tapabrata di Pantai Selatan untuk memohon kekuatan dalam pertempuran dan untuk mengayomi rakyatnya, kesungguhan tapabratanya menarik perhatian Nyai Roro Kidul. 

Terjadilah perjanjian antara kedua penguasa itu. Nyai Roro Kidul bersedia membantu Panembahan Senopati untuk mewujudkan harapannya. Sementara Panembahan Senopati bersedia menjadi suami Nyai Roro Kidul, begitul pula dengan seluruh keturunan raja-raja Mataram selanjutnya. Mitos perjanjuan ini menjadi sebuah legitimasi yang menjadikan kedudukan para raja Mataram ini begitu sacral. Hal ini diaktualisasikan dengan dibangunnya Panggung Sangga Buana pada masa pemerintahan Pakubuwana II. Panggung Sangga Buana, yang lebih tepat disebut sebagai menara, dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Mataram dengan Nyai Roro Kidul. Entah itu untuk berkonsultasi dengan ratu, atau untuk melakukan hubungan selaiknya suami istri. 

 
MENGHARGAI MITOS SEBAGAI KEARIFAN LOKAL

Sebagian masyarakat Jawa jaman sekarang mungkin tidak lagi mempercayai legenda ini. Mereka lebih menganggap legenda ini sebagai kisah yang kebenarannya sangat diragukan. Bahkan bagi orang-orang yang agamis akan menganggap hal tersebut sebagai cerita yang sama sekali tidak pantas untuk dipercaya. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup di dalam zaman atau lingkungan Keraton. Mereka yakin dengan kebenaran eksistensi Nyai Roro Kidul. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan. 


Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbale balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, maka penggunaan symbol pun sering diaktualisasikan. Kraton Kasultanan Yogyakarta misalnya, jika dihubungkan dengan mitos makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut. 


Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola Negara. Sebagai kekuatan kasat mata, Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketentraman. Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan “labuhan” misalnya, sebuah upacara tradisional keratin yang dilaksanakan di tepi laun selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono (Sultan Yogyakarta), menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). 

Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyakarat Yogyakarta. Kepercayaa terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. 

Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan Sultan dengan Ratu Pantai Selatan, sama seperti fungsi Panggung Sangga Buwana. Eksistensi mitos Nyai Roro Kidul, merupakan perwujudan bagaimana masyarakat Jawa memelihara tradisi khas mereka dan mengaktualisasikannya dalam nilai-nilai luhur. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos ini, akan sangat bijak jika kaum cendikiawan yang selalu cenderung pada kekritisan berdasarkan rasio, juga turut menghargai atau menghormati kepercayaan dan kearifan local. 

Posted by: Fazar Shiddieq Karimil Fathah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar