Selasa, 19 Oktober 2010

Disdik Tidak Gunakan DAK 2010

LUBUKLINGAU-Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau tidak akan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2010 bidang pendidikan dalam bentuk fisik. Sebab, belum adanya jawaban mengenai perpanjangan waktu penggunaan DAK 2010.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik Kota Lubuklinggau Septiana Zuraida, melalui Sekretaris didampingi Kabid Program Niriyol Neldi, kepada wartawan koran ini, Selasa (19/10).

“Meskipun petunjuk teknis (Juknis) telah terbit, namun pihaknya masih menunggu jawaban dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), terhadap permohonan perpanjangan waktu penggunaan DAK 2010. Sebab tidak akan optimal pengerjaan DAK jika penggunaan dana tersebut dibatasi hanya pada tahun berjalan per 31 Desember,” terang Niriyol.

Dikatakannya, sisa waktu yang ada pada tahun 2010 ini diprediksikan tidak cukup untuk penggunaan DAK 2010. Untuk itu, sebelum ada keputusan terhadap permohonan itu, pihaknya tidak akan melakukan DAK dalam bentuk fisik. “Bila tetap digunakan tahun ini, dananya dikhawatirkan tidak akan terserap semua dan mengalami banyak kendala karena waktu yang terlalu singkat,” bebernya.

Oleh karena itu, DAK 2010 hanya digunakan untuk pengadaan buku dan alat peraga pembelajaran sekolah, mulai dari SD hingga SMP. “Mengenai jumlah pengadaan tersebut belum dapat ditentukan,” ujarnya.(10)

Disdik Tidak Gunakan DAK 2010

LUBUKLINGAU-Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau tidak akan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2010 bidang pendidikan dalam bentuk fisik. Sebab, belum adanya jawaban mengenai perpanjangan waktu penggunaan DAK 2010.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik Kota Lubuklinggau Septiana Zuraida, melalui Sekretaris didampingi Kabid Program Niriyol Neldi, kepada wartawan koran ini, Selasa (19/10).

“Meskipun petunjuk teknis (Juknis) telah terbit, namun pihaknya masih menunggu jawaban dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), terhadap permohonan perpanjangan waktu penggunaan DAK 2010. Sebab tidak akan optimal pengerjaan DAK jika penggunaan dana tersebut dibatasi hanya pada tahun berjalan per 31 Desember,” terang Niriyol.

Dikatakannya, sisa waktu yang ada pada tahun 2010 ini diprediksikan tidak cukup untuk penggunaan DAK 2010. Untuk itu, sebelum ada keputusan terhadap permohonan itu, pihaknya tidak akan melakukan DAK dalam bentuk fisik. “Bila tetap digunakan tahun ini, dananya dikhawatirkan tidak akan terserap semua dan mengalami banyak kendala karena waktu yang terlalu singkat,” bebernya.

Oleh karena itu, DAK 2010 hanya digunakan untuk pengadaan buku dan alat peraga pembelajaran sekolah, mulai dari SD hingga SMP. “Mengenai jumlah pengadaan tersebut belum dapat ditentukan,” ujarnya.(10)

Septiana: Budaya Batik Hargai Warisan Bangsa Indonesia


Septiana Zuraida


LUBUKLINGGAU-Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Lubuklingau Septiana Zuraida, mengatakan penyeragaman pemakaian batik merupakan upaya untuk membudayakan batik lokal. Terutama dikalangan pelajar Kota Lubuklinggau.

Menurut dia, di daerah lain dan sekolah lain sebagain telah memberlakukan penyeragaman batik. “Untuk itu program batik akan diberlakukan secara bertahap,” kata Septiana Zuraida kepada wartawan koran ini, Selasa (19/10). Jadi, upaya untuk membudayakan batik di kalangan pelajar di Kota Lubuklinggau agar bisa bersama-sama menjaga dan menghargai budaya bangsa Indonesia, sekaligus memberikan dukungan kepada pemerintah untuk menjaga dan melestarikan salah satu budaya bangsa Indonesia. “Maka upaya memberlakukan batik di kalangan pelajar bukan paksaan dan ini merupakan himbauan kepada pelajar dan masyarakat guna menghargai dan melestarikan warisan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Guna melestarikan budaya bangsa lanjut Septiana, keseragaman batik bagi pelajar akan diberlakukan pada hari Sabtu. Dan celana untuk tetap disesuai dengan jenjang siswa itu sendiri. “Dan awal ini batik yang siswa/siswi pakai masih dibebaskan dan belum ada keseragaman. Kedepan, kita berharap kepada pemerintah Kota Lubuklinggau untuk memiliki batik tersendiri,” jelasnya.

Ia mengatakan, pemberlakukan keseragaman batik merupakan hasil kesepakatan pada rapat pembinaan Kepala Sekolah (Kasek) yang diadakan di SMK Negeri 2 Lubukinggau, Senin (18/10). Dikatakannya akhir dari rapat tersebut menghasilkan lima komitmen yang telah disepakati oleh seluruh pendidik.

“Kelima statement tersebut, yakni pertama mengevaluasi tugas dan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah, menginginkan setiap siswi untuk mengenakan rok panjang, membudayakan pakaian batik di kalangan pelajar, pendataan siswa putus sekolah dan terakhir himbauan pelarangan bagi siswa untuk tidak menggunakan kendaraan roda dua ke sekolah,” ungkapnya.(10)















SMA PGRI I Adakan LDKS

F-Leo/Linggau Pos
MENYANYIKAN : Ketua Yayasan PGRI Lubuklinggau, M Nasir beserta Kepala SMA PGRI I Lubuklinggau, Nur Elly, Kabid Dikmenti Rudi Erwandi Dan Waka Kurikulum Endrik Prasetyo saat menyanyikan lagu wajib pada pembukaan LDKS di Laboratorium IPA, Selasa (19/10).


LUBUKLINGGAU-Untuk membentuk keperibadian siswa, maka SMA PGRI I Lubuklinggau adakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Kegiatan itu dilaksanakan di ruang laboratorium SMA PGRI I, Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Selasa(19/10). Tujuan diadakan latihan ini untuk meningkatkan pengetahuan pelajar dalam bidang kepemimpinan serta menanamkan rasa kebersamaan.

Kegiatan tersebut dibuka Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Perguruan Tinggi (Dikmenti) Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau Rudi Erwandi di ruang laboratorium IPA SMA PGRI 1 Lubuklinggau. Demikian dikatakan Kepala SMA 1 PGRI Lubuklinggau Nur Elly, kepada wartawan koran ini, Selasa (19/10).

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu tindak lanjut dari hasil rapat perangkat pengelola SMA PGRI I Lubuklinggau mengenai pembentukan LDKS 2010. Dengan pelatihan ini dapat membentuk dan menjaring pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 serta Keputusan Presiden (Kepres) No 5 tahun 1997 tentang badan pembinaan koordinasi generasi muda, serta kerangka dasar latihan kepemimpinan dan keterampilan. Kegiatan ini juga melatih siswa untuk hidup disiplin, berani, dan dapat diandalkan dan memberi pemahaman lebih luas mengenai ruang lingkup organisasi.

Dikatakannya, LDKS diikuti oleh 120 siswa yang terdiri dari siswa kelas X dan XI. Kemudian perserta diseleksi sehingga menjadi 60 orang dengan rincian 30 siswa kelas X dan 30 siswa kelas XI. “Pelatihan tersebut berlangsung tiga hari, Selasa (19/10) hingga Kamis (21/10). Dan dari 60 siswa yang mengikuti LDKS, nantinya akan diciutkan kembali menjadi 45 orang untuk dijadikan pengurus OSIS SMA PGRI I Lubuklinggau,” jelasnya.

Disamping itu latihan dasar ini merupakan salah satu upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas, pengembangan bakat, minat dan prestasi, baik dibidang akademik maupun non akademik. Sehingga pelajar di Kota Lubuklinggau, khususnya siswa SMA PGRI 1 Lubuklinggau mampu bersaing di era glonalisasi.

Kabid Dikmenti Rudi Erwandi, mengatakan seorang pemimpin tidak cukup dengan bakat alami yang ia miliki sejak lahir. Untuk itulah perlu adanya binaan dan pelatihan, mengenai kepemimpinan kepada pelajar guna membekali diri. Banyak kita temukan pemimpin yang hanya berpatokan pada bakat alaminya saja. Akan tetapi mereka banyak tidak mengetahui dalam penguasaan konsep.

Manfaatlah kesempatan ini untuk memahami dan menggali sosok pemimpin yang sebenarnya. Rudi juga mengingatkan peserta latihan untuk tidak menggunakan sepeda motor ke sekolah, dan putri untuk tidak mengenakan rok pendek ke sekolah. Dengan harapan dapat menghindar dari hal-hal tidak diinginkan bagi pelajar di Kota Lubuklinggau.

Ketua Yayasan PGRI Lubuklinggau M Nasir, mengatakan potensi untuk menjadi seorang pemimpin sebenarnya dapat dilihat sejak anak masih kecil. Latihan ini menghadirkan pemateri, Rudi Erwandi, perwakilan dari Disdik Kota Lubuklinggau, Ketua DPD KNPI Lubuklinggau Hasbi, KPAID Kota Lubuklinggau Sakban, Kapolres Lubuklinggau dan Pengurus Besar Ikatan Alumni Latihan Kepemimpinan (PB IKA LKS) Kota Lubuklinggau.(10)

STIE STMIK Mura Gelar Bakti Sosial

f-Istimewa/Linggau Pos

FOTO BERSAMA : Pembantu Ketua (Puket) II, Suprianto dan Presma STIMIK, Juinas Apri serta Presma STIE, Febri Habibi Asril foto bersama anak panti Hubbul Aitam, Lubuk Kupang, Selasa (19/10).


LUBUKLINGGAU-Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Sekolah Manajemen Ilmu Komputer (STIE-STMIK) Mura, melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serahkan bantuan ke panti asuhan dan Pondok Pesantren (Ponpes), Selasa (19/10). Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan setelah Orientasi Pengenalan Pendidikan Kampus (OPDIK) tahun akademik 2010/2011.

Ketua BEM STMIK Mura Juinas Apri, mengatakan bantuan berupa beras, mie instant di peruntukan bagi panti asuhan Al-Kautsar dan Ponpes Hubbul Aitam. Bantuan berupa 100 Kg beras dan 13 karton mie instant untuk Panti Asuhan Al-Kautsar Kelurahan Rahma Kecamatan Lubuklinggau Selatan I. Kemudian 140 Kg beras serta 12 karton mie instant ke Panti Hubbul Aitam, Kelurahan Lubuk Kupang Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.

Kegiata ini lanjutnya, merupakan suatu kepedulian lembaga STIE STMIK Mura beserta BEM STIE STMIK Mura yang nantinya bisa menjadi suatu apresiasi bagi masyarakat khususnya kepada mahasiswa untuk peduli terhadap sesama. “Kita harap melalui bakti sosial ini dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada allah SWT,” kata Juinas Aprti, kepada wartawan koran ini, Selasa (19/10).

Hadir dalam kesempatan itu Pembantu Ketua (Puket) II Supriyanto, dan seluruh peseta BEM STIE STMIK Mura.(10)

Senin, 18 Oktober 2010

Si Kabayan diajar di EMAITI

("Saya ingin Jadi Dosennya Pak. Prof. Habibie"~Fahmi Ramadhan~)
SDN Bangunharja

Join a Study Group

MIT OpenCourseWare has teamed up with OpenStudy so you can quickly and easily connect with others working on this course. Through this site, you can find other students interested in this course: work together on assignments, ask each other questions about the exams, or just discuss the topics of the course.

  • Get help when you need it
    Ask a question and get matched with someone who can answer it immediately and in real time.
  • Work on assignments together
    There's no need to take an OpenCourseWare course alone. Learn together!
  • Connect with others around the world
    Meet other studying the same MIT courses as you. Help them or get help yourself if you need it.

Sign up Join Using Facebook

Already an OpenStudy user? Log in here.

About this Study Group

OCW has partnered with OpenStudy to offer an online study group for this course. We need your feedback to determine whether more study groups should be offered for OCW courses.

These study groups are not moderated or managed by OCW, and you cannot earn credit for participating in them. To participate, you will need to register with OpenStudy or log in with your Facebook account.

About OpenStudy

Open Study logoOpenStudy is a social study network for students to ask questions, give help, collaborate and meet others. Founded by professors and students from Georgia Tech and Emory University, and funded by the National Science Foundation and the Georgia Research Alliance, OpenStudy believes that students can teach other students through collaborative learning. Learn more about OpenStudy.



~Si Kabayan jadi Guru~

"Anak-anak jangan lupa sholat subuh, mandi, sarapan dan pamitan pada orang tua ya!"



("Saya ingin jadi pemain sepak bola Profesional"~ Viky~)


"abi-abi.,.,abi heula nu ngacung mah.,.abi!" ~ Anak-anak SDN Ciruum~




("Abi mah pokonamah hoyong jadi BOS" ~ Ilham Budi L.~)



Jumat, 15 Oktober 2010

Teori Belajar Humanistik

Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori belajar berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilaku bukan sudut pandang pengamatan.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan diri secara individu untuk mengenal diri mereka sendiri bahwa mereka adalah pribadi yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada pada diri mereka.
Adalah Carl Rogers yang lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Chicago sebagai tokoh penting dalam teori belajar humanistik. Rogers membedakan dua tipe belajar yakni kognitif (kebermaknaan) dan experiential (pengalaman)
 Menurut Rogers, yang penting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip Pendidikan dan Pembelajaran, yaitu : 1) menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal- hal yang tidak ada artinya. 2) Siswa akan mempelajari hal- hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. 3) pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan referensi dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. 4) belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dalam bukunya Freedom To Learn, diuraikannya mengenai prinsip- prinsip humanistik yaitu:
·         Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
·         Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
·         mempunyai relevansi dengan maksud – maksud sendiri.
·         Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam & cenderung untuk ditolaknya.
·         Tugas tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar semakin kecil.
·         Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
·         Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
·         Belajar diperlancar bilamana siswa melibatkan dalam proses belajar dan ikut tanggung jawab terhadap proses belajar itu.
·         Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa secara utuh baik perasaan maupun intelektualitasnya, merupakan cara yang memberikan hasil yang mendalam dan lestari. 
·         Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri, juga penilaian dari orang lain merupakan cara ke dua yang penting.
·         Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern adalah belajar mengenai proses belajar. Serta keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan menyatukannya terhadap diri sendiri.
Aplikasi Teori Humanistik lebih merujuk pada spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya dari pada hasil belajar yang secara umum:
1.       Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
2.       Mendorong siswa untuk peka berfikir kritis,memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
3.       Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari prilaku yang ditunjukkan.
4.       Guru menerima siswa apa adanya,berusaha memahami jalan pikiran siswa,tidak menilai secara normative tetapi mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas segala resiko perbuatan / proses belajarnya.
5.       Memberikan kesempatan siswa untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
6.       Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok diterapkan untuk materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, moral, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial.
Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat  oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma yang berlaku, disiplin.
Inti dari pendekatan humanistik pada proses belajar adalah bagaimana guru dapat berlaku sebagai fasilitator bagi anak didiknya. Hal ini populer pada perlakuan pendekatan pembelajaran di Indonesia yang dikenal dengan PAKEM atau Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan yang secara teori berangkat dari menyatukan teori humanistik dan teori pembelajaran langsung atau Contextual Teaching and Learning (CTL).