Senin, 09 Februari 2009

Pendidikan Sains terpadu (Science for All)

By Achmad Samsudin

A. Perumusan Masalah
a. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran IPA dewasa ini banyak timbul permasalahan dalam aplikasi pembelajaran di kelas. Salah satu masalah yang cukup mendesak untuk dicari solusinya terutama dengan menggunakan inovasi pendekatan sistem adalah pembelajaran Sains secara terpadu (pendidikan Sains). Aplikasi dari pembelajaran ini biasanya dalam pembelajaran berbasis lingkungan dan lain sebagainya. Pendidikan Sains terpadu (Science for All) lahir karena adanya ketimpangan skema berpikir holistik terintegrasi (menyeluruh dan terpadu) mengenai Sains. Dulu Sains dipelajari secara terpisah sesuai bidang kajian Sainsnya, seperti bidang kajian fisika, kimia, dan biologi. Kemunculan pendidikan Sains juga menimbulkan masalah baru, dulu kita dapat memandang suatu kajian konsep secara mendalam baik secara bidang kajian fisika, kimia, maupun biologi. Tetapi sekarang dengan adanya pendidikan Sains terpadu ini, pembelajaran dalam penerapan konsep yang ditinjau dari ketiga aspek kajian cenderung dangkal. Sehingga, pembelajaran terkesan setengah-setengah dalam penerapan konsep-konsepnya di lapangan. Siswa juga mendapatkan pembelajaran Sains yang tidak maksimal dan kurang mengenai sasaran dalam pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotor.

b. Rumusan Masalah
Siswa-siswa SMP mengalami pembelajaran Sains terpadu tetapi dangkal dalam kajian konsep fisika, kimia, dan biologinya. Sehingga siswa SMP tidak dapat menerapkan konsep-konsep IPA secara terpadu dan mendalam dalam kehidupan sehari-hari.

B. Tujuan
Tujuan pembelajaran Sains terpadu yaitu, siswa SMP dapat menerapkan konsep-konsep IPA secara terpadu dan lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari.
C. Identifikasi Kendala
Dalam penerapan pendidikan Sains terpadu terdapat beberapa kendala diantaranya, yaitu:
1. Kuantitas dan kualitas tenaga pengajar (guru) yang menguasai ketiga kajian ilmu (fisika, kimia, dan biologi) atau Sains secara terpadu masih sangat jarang, bahkan belum ada di Indonesia. Pada dasarnya, hanya tersedia guru fisika, guru kimia, dan guru biologi yang berdiri sendiri-sendiri.
2. Belum adanya kurikulum yang mantap untuk dapat digunakan sebagai panduan bagi guru dalam pembelajaran IPA (Sains) di kelas.
3. Belum adanya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mencetak/menghasilkan calon-calon guru pendidikan Sains terpadu.
4. Sarana prasarana pendukung pembelajaran Sains yang kurang lengkap dan memenuhi standard. Sebagai contoh: Masih jarang Laboratorium IPA terpadu di SMP yang menyediakan alat-alat praktikum untuk bidang fisika, kimia, dan biologi secara lengkap.

D. Alternatif-alternatif Solusi
Sebagai solusi dalam menangani masalah ini, terdapat beberapa alternatif solusi yang ditawarkan, yaitu:
1. Diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu.
2. Melengkapi sarana prasarana penunjang dalam laboratorium IPA untuk pembelajaran Sains.
3. LPTK membuka jurusan dan mencetak calon guru pendidikan Sains.
4. Penggunaan modul pendidikan Sains terpadu yang disusun oleh guru dari ketiga bidang kajian (fisika, kimia, dan biologi).
5. Meningkatkan dana pendidikan untuk alokasi pendanaan dalam pendidikan Sains.



E. Seleksi Alternatif Solusi
Analisis yang digunakan dalam menyeleksi alternatif solusi yaitu Analisis Operasional Profesional secara quantitatif. Analisis ini menekankan penilaian pada tiap-tiap kriteria solusi. Penilaian dilakukan secara numerik dengan penyajian data menggunakan angka-angka. Dari analisis menggunakan numerik, dihasilkan data penilaian kriteria solusi sebagai berikut:

No Aternatif Solusi Efektivitas Efesiensi Kelaikan Skor
Teknis Biaya Waktu
1
Diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu. 85 85 80 90 90 430
2

Melengkapi sarana prasarana penunjang dalam laboratorium IPA untuk pembelajaran Sains. 75 70 85 65 90 385
3 LPTK membuka jurusan dan mencetak calon guru pendidikan Sains. 95 80 80 75 70 400
4 Penggunaan modul pendidikan Sains terpadu yang disusun oleh guru dari ketiga bidang kajian (fisika, kimia, dan biologi). 80 70 90 70 80 390
5 Meningkatkan dana pendidikan untuk alokasi pendanaan dalam pendidikan Sains. 65 65 80 65 85 360

Dari data penilaian terhadap kriteria solusi diperoleh nilai tertinggi sebesar 430 poin untuk solusi pertama yaitu diadakan pelatihan guru tentang pendidikan Sains terpadu. Maka alternatif solusi ini diambil untuk dijadikan solusi.
RENCANA UNTUK:
F. Implementasi
Yang dimaksud implementasi disini yaitu terbatas pada uji coba alternatif solusi yang sudah diseleksi. Rencana implementasinya pada SMP yang diwakili tiap provinsi satu perwakilan sekolah. Pemilihan SMP tiap provinsi berdasarkan random (acak) untuk mengetahui seberapa besar alternatif solusi ini dapat diterapkan. Setelah alternatif solusi ini diterapkan di SMP yang telah dipilih, maka didapatkan hasil yang kurang sempurna atau sumungkin sudah sempurna. Sehingga akan masuk dalam tahap berikutnya yaitu evaluasi.

G. Evaluasi
Langkah evaluasi yaitu memberikan penyempurnaan-penyempurnaan pada instrumen alternatif solusi yang diterapkan. Jika siswa SMP dapat menerapkan konsep pendidikan Sains secara terpadu hasilnya kurang maksimal maka dilakukan evaluasi menyeluruh sebelum didesiminasikan. Jika tujuan yang direncanakan telah terpenuhi dengan baik, dalam hal ini siswa SMP yang diajar oleh guru yang sudah dilatih dalam pendidikan Sains terpadu, maka penyempurnaan (modifikasi) tidak perlu dilakukan dan dapat langsung didesiminasikan ke seluruh SMP di Indonesia. Karena alternatif solusi ini menyangkut lingkup nasional, maka evaluasinya harus menyeluruh dan terpadu.

H. Modifikasi
Jika dalam evaluasi ditemukan beberapa kekurangan dalam pengimplementasiannya, maka diperlukan modifikasi pada sebagian instrumen alternatif solusi. Penyempurnaan bisa dalam teknis pelaksanaan pelatihan ataupun keterlibatan instruktur yang lebih handal. Setelah alternatif solusi yang sudah diseleksi dimodifikasi, langkah yang selanjutnya yaitu desiminasi (penyebaran secara luas) ke seluruh Indonesia dengan melibatkan Lembaga Pendidikan Penjamin Mutu (LPMP), Dinas Pendidikan (Provinsi, Kota/Kabupaten), dan SMP sebagai pelaksana pembelajaran Sains.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar