Minggu, 19 Juli 2009

Pestisida

Dalam perjalanan pulang dari museum geologi (Minggu, 19 Juli), sehabis acara launching Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah (ASPIRASI) wilayah Bandung, anak saya Luqman duduk di samping saya. Ia sempat tertidur di bis, tapi di jalan tol ia terbangun. Matanya langsung segar. Mungkin karena melihat pesawahan di sepanjang jalan.

Tak berapa lama setelah itu, anak saya tiba-tiba berkata, “Mama, coba kita punya penyemprot pestisida…”

“Kenapa?” Tanya saya.
“Supaya tanaman-tanaman tidak dimakan hama” katanya.

Pernyataan anak saya itu tiba-tiba menyadarkan saya, bahwa dia sedang ingin tahu. Dan anak HE bisa belajar di mana saja, tak terkecuali di bis. Inilah saatnya mentransfer pengetahuan tentang apa itu pestisida dan apa bahayanya. Dia memang masih 5 tahun, tapi justru karena masih 5 tahun setiap informasi akan jadi lebih melekat, bukan?

Saya pun jadi cerita tentang untuk apa pestisida dibuat dan apa bahayanya pestisida jika termakan oleh makhluk hidup. Saya jadi cerita tentang bukunya Rachel Carson “Silent Spring”, yang mengisahkan tentang musim semi yang jadi sepi karena burung-burung sudah tak lagi dapat bersuara. Mereka sakit bahkan mati, karena makanan yang mereka makan sudah banyak mengandung racun pestisida.

Saya pun bilang pada anak saya, “Itulah kenapa kita menanam sayur sendiri di kebun… Supaya sayur yang kita makan tidak mengandung pestisida. Sayuran yang dibeli di pasar biasanya selalu disemprot pakai pestisida oleh para petaninya”.

Anak saya terdiam menyimak. Kemudian dia bertanya, “Kenapa para petani memakai pestisida?”
“Mungkin karena mereka tidak tahu bahayanya,” ujar saya.
"Kalau Ateu (Maksudnya tantenya yang kuliah di jurusan Hama Penyakit Tanaman)?"
Saya bilang, "Ateu pake pestisida untuk belajar..."

Setelah bis mulai keluar dari tol Cileunyi dan berbelok ke arah Jatinangor, Luqman tiba-tiba berseru, “Kalau kita punya sawah, kita akan menanam padi-nya nggak pake pestisida. Jadi, kalau ada burung-burung yang makan padi kita, mereka nggak mati!”

Duh… jadi haruuuuu banget hati ini mendengar kata-katanya. Berarti dia, anak yang kemarin (18 Juli) berulang tahun yang ke- 5 itu mengerti apa yang dikatakan ibunya. Semoga pengetahuan dan pemahaman itu membekas hingga ia dewasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar