Jumat, 03 Juli 2009

sekilas Tentang Kitab Rujukan Hadis orang Syiah

Kitab al Kafi adalah kitab rujukan termashur dikalangan syiah imamiyah. Kitab hadis karya syekh Kulaini memang dikenal juga sebagai satu rangkaian dengan kitab rujukan yang lain yang tergabung dalam Kutub Arba'ah tapi dibanding ketiga kitab rujukan yang lain kitab yang disusun kurang lebih selama 20 tahun di desa Kulain di daerah Rey ini memiliki kelebihan spesifik.

Sebelumnya perlu disampaikan juga bahwa ulama syiah tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kitab hadist dan riwayatnya rujukan orang syiah seratus persen tidak terdapat riwayat buatan yang disusupkan dan semacamnya. Dalam ilmu rijal para ulama syiah tidak berhenti mengkaji hadis dan riwayat dalam kitab rujukan yang ada. Memang ada segolongan pecahan shi'ah yang dikenal dengan khabariah yang meyakini bahwa kitab arba'ah yang terdiri atas kitab Al Kafi. At Tahdzib, Al Ihtibshar dan Man Layahdharul Faqih adalah seratus persen shahih. Golongan ini selain dulu jumlahnya sangat sedikit sekarang sudah tidak ada lagi pengikutnya.

Kondisi keilmuan dan idiologi masyarakat Rey waktu itu begitu majemuk. Hali terlihat dari beberapa tulisan syekh Kulaini untuk menjawab berbagai pertanyaan dari golongan bermacam-macam. Pembuatan buku ini dilakukan ditengah-tengah masyarakat dengan ragam pemikirannya menjadi alasan akan keunggulan keilmuan penulis. Letak daerah kulain yang jauh dari pusat pemerintahan juga menjadi pendukung sehingga Syekh kulaini lebih bebas untuk berkarya.

Kelebihan al Kafi dari tiga kitab yang lain diantaranya:

1. Riwayat yang terdapat dalam Kitab ini tersusun rapi sesuai kuat, jelas dan lemahnya riwayat baik dari segi sanad maupun segi yang lain.

2. Riwayat yang terdapat didalamnya dinuqil hanya dari tiga orang langsung ke sumbernya. Jadi keaslian hadist semakin lebih dapat dipercaya mengingat jarak yang masih begitu dekat.

3. Memiliki judul-judul yang pendek dan menunjukkan kandungan yang terdapat pada masing-masing riwayat.

4. Riwayat yang ada ditulis apa adanya tanpa menambahkan penjelasan-penjelasan tertentu didalamnya. Hal ini cukup membantu mencegah adanya tasbih antara penjelasan dengan riwayat asli.

5. Semua sanad dari masing-masing hadist dan riwayat disebutkan detail. Hal ini menjadi poin lain yang membedakan Al Kafi dengan tiga kitab yang lain.

6. Riwayat yang dinuqil adalah riwayat yang bisa menjadi bab tersendiri dan disitu juga dihindari penukilan hadist yang saling bertentangan.

7. Riwayat diletakkan sesuai masing-masing bab.

8. Penyusunan riwayat rapi dan logis serta detail. Dari pembahasan Aqal, kejahilan, ilmu baru kemudian pada pembahasan tauhid. Pembahasan tentang ilmu ma'rifat juga diletakkan diawal pembahasan. Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan tauhid sampai pada pembahasan imamah. Untuk masalah akhlak diteruskan dengan pembahasan furu' dan masalah hukum fikih. Pada ahir pembahasan terdapat riwayat dengan tema umum.

9. Pengelompokan pembahasan fikih, aqidah, dan ahlak menjadi nilai lebih dibanding tiga kitab arba'ah yang lain.

10. Penulis masih sempat hidup dijaman 4 wakil Imam zaman dan juga di jaman Imam Hasan al Askari. Kedekatan ini menjadi nilai positif atas karya-karya besarnya.

Mengingat pentingnya kitab ini pada bulan Mei 2009 diadakan pertemuan guna mengumpulkan artikel-artikel yang membahas tentang kitab rujukan terpenting orang syiah ini. Salah satu poin penting adalah bahwa pengkaji yang datang dari berbagai penjuru dunia itu sebagian bukan orang islam. Sebuah keprihatinan ketika didapati adanya masyarakat syiah yang menyebutkan nama kitab araba'ah saja tidak bisa. Jangankan kitab arba'ah, nahjul balaghah dan shahifah sajadiyah saja masih asing untuk beberapa kalangan. Di Hauzah Ilmiah Qum pembahasan masalah nahjul balaghah shahifah sajadiah dan berbagai ilmu hadis dan Qur'an masih minim. Penelitian terkait kitab rujukan syiah juga kurang begitu diminati. Kebanyakan masih cenderung pada ilmu fikih dan cabang-cabangnya.

Budaya membaca terjemah Al Qur'an, shahifah sajadiah, nahjul balaghah ketika digalakkan akan sangat bermanfaat. Karena dengan begitu akan dipahami pelajaran-pelajaran yang tersimpan darinya. Kitab mafatihul jinan dan kitab doa yang lain tidak hanya sebuah doa untuk dibaca tapi banyak pelajaran yang bisa dipelajari. Muatan keilmuan dari masalah kemasyarakatan, politik ekonomi sering disinggung didalamnya. Jadi jangan sampai orang syiah asing dengan kitabnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar