Tampilkan postingan dengan label Manajemen Kesiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Kesiswaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2009

PSB Online yang Lebih Berkuwalitas

Artikel:
PSB Online yang Lebih Berkuwalitas


Judul: PSB Online yang Lebih Berkuwalitas
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Zainul Abidin, S.Pd.
Saya Guru di MTs Negeri 1 Bojonegoro
Topik: PSB Online
Tanggal: 17 Juli 2008

Selesai sudah kesibukan dari dan para wali murid yang mana kurang lebih selama tujuh hari selalu memantau posisi putra-putrinya dalam daftar urutan calon siswa baru pada beberapa sekolah yang menerapkan PSB Online. Begitu juga dengan seluruh panitia yang setiap hari harus memasukkan data-data calon siswa baru dalam data base PSB Online sampai larut malam agar hasil dari PSB Online dapat terupdate setiap hari, bahkan setiap saat.

Kesibukan tersebut akan bertambah bila dalam sistem komputerisasi mengalami kerusakan, ini akan mengakibatkan entri data akan terhambat dan calon siswa baru pun tidak bisa melihat update terakhir saat itu. Kerusakan seperti ini rentan terjadi pada sekolah yang menerapkan sistem PSB Online tapi letak geografis sekolah tersebut jauh dari jaringan internet yang bagus.

Sistem PSB Online sangat membantu dari kerja panitia PSB juga calon siswa baru serta para wali murid. Dengan PSB Online calon siswa cukup mendaftar pada satu tempat (satu sekolah) tapi bisa melakukan banyak pilihan yang disediakan dengan cara mengisi pilihan yang ada pada formulir tersebut, sehingga apabila calon siswa tersebut tidak masuk pada pilihan pertama langsung akan dialihkan pada sekolah pilihan kedua secara otomatis, begitu juga bila tidak masuk pada sekolah pilihan kedua dan seterusnya.

Dengan cara seperti itu calon siswa baru atau wali murid tidak susah payah untuk mencabut berkas pada sekolah tempat mendaftar apabila tidak diterima pada sekolah tersebut. Dengan cara itu pula panitia PSB di setiap sekolah tidak terlalu disibukkan dengan para pendaftar baru limpahan dari sekolah yang lain.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa PSB Online sangat membantu para calon siswa baru dalam proses pendaftaran pada sekolah tertentu Namun bagaimana dengan kuwalitas PSB Online tersebut?

Ada beberapa sisi positif yang dihasilkan dari PSB Online, yaitu dapat meminimalisir unsur nepotisme. Orang tua wali calon siswa baru lebih sulit untuk melobi panitia PSB atau Kepala sekolah, karena semua sistem diproses secara online. Disini kepala sekolah lebih bisa tidur nyenyak……

Sisi positif yang lain adalah calon siswa baru dan orang tuanya serta panitia lebih ringan kerjanya. Calon siswa baru tinggal melihat hasil update setiap saat lewat salah satu sekolah atau lewat internet. Calon siswa tidak usah mencabut berkas bila tidak diterima pada pilihan pertama.

PSB Online lebih berkuwalitas bila ada test tulis.

PSB Online akan lebih berkuwalitas bila sistem yang sudah berjalan saat ini dilengkapi dengan adanya test tulis, pedoman urutan siswa baru yang diterima tidak hanya berdasarkan dari nilai UNAS/UASBN sekolah sebelumnya dan prestasi siswa saja. Dengan adanya test tulis (Bahasa. Indonesia, Matematika, IPA untuk PSB tingkat SMP dan ditambah Bahasa Iggris untuk PSB tingkat SLTA) maka hasil dari PSB tersebut akan lebih berkwalitas tidak hanya dalam segi teknis saja tapi juga dalam segi akademis.

Dengan adanya test tulis calon siswa baru yang nilai UNAS/UASBN rendah masih bisa bersaing dengan calon siswa yang mempunya nilai UNAS/UASBN yang lebih tinggi Test tulis ini juga akan lebih objektif karena calon siswa baru yang test tulis akan mengerjakan soal-soal yang ada dengan kemampuannya sendiri (diasumsikan siswa yang ikut tes tidak saling mengenal karena dari sekolah yang berbeda). Kita semua tahu bahwa siswa yang nilai UNAN/UASBN-nya tinggi tidak semuanya berasal dari siswa yang pandai kesehariannya, bisa dari siswa yang kebetulan tempat duduknya pada saat UNAS/UASBN berdekatan dengan siswa pandai sehingga siswa yang kurang pandai bisa “mencontek” karena mereka saling kenal.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa PSB Online dengan Tes Tulis akan lebih objektif dan lebih berkuwalitas dibandingkan dengan PSB Online tanpa test tulis. Sekarang tinggal dari unsur pendidikan tingkat atas (Diknas tingkat Daerah) yang bisa menentukan bisakah sistem ini diterapkan. Kalau dilihat saat ini dalam segi teknologi kita sudah siap. Jaringan internet dan alat scanner LJK juga sudah tersedia.

Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita

Artikel:
Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita


Judul: Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Tarmansyah, Sp.Th, M.Pd. SEN
Saya Dosen di PLB FIP Universitas Negeri Padang
Topik: Special Need Education
Tanggal: 29 Desember 2008

Konsep dasar komunikasi total bagi tunagrahita, membahas tentang pengertian dan proses komunikasi secara umum sebagai pola pengembangan komunikasi bagi tuna grahita digunakan model komunikasi shane.

Penjelasan tentang istilah komunikasi total yang membedakan antara sistem komunikasi tunarungu dengan sistem komunikasi tunagrahita. Selanjutnya diuraikan mengenai aspek interaksi, aspek ekspresi dan aspek pragmatis.

Pemeriksaan dengan cara tingkatan non-linguistis, kemungkinan-kemungkinan komunikasi pada penyandang tuna grahita yang mengalami gangguan berat dalam berkomunikasi. Dalam kajian ini membahas tentang tunagrahita, sebab-sebab kesulitan dalam berkomunikasi. Pemeriksaan khusus sifat kesulitan antara lain mengenai kemampuan pendengaran. Pemeriksaan tingkat kognitif, komunikasi resetif dan ekspresif, aspek pragmatis dalam berkomunikasi.

Kajian selanjutnya tentang cara-cara menggunakan sistem visual, sistem komunikasi visual, macam-macam komunikasi visual.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem komunikasi total. Dalam kajian ini dibahas bagaimana memilih komunikasi yang paling tepat untuk masing-masing klien dengan gangguan komunikasinya. Selanjutnya dibahas jenis-jenis klien yang membutuhkan bantuan komunikasi total terdiri dari 3 kelompok. Terapi komunikasi membahas model-model layanan komunikasi dalam hal kajian ini di bahas 2 model layanan. Sebagai upaya menetapkan suatu diagnosa kelainan komunikasi di sajikan penafsiran formulir skrining gangguan komunikasi. Untuk latihan mendiagnosa jenis kelainan komunikasi bagi tunagrahita di tampilkan beberapa macam kasus klient dengan berbagai macam jenis gangguan.

Faktor-Faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar

Artikel:
Faktor-Faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar


Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis): Prof. Sarlito Wirawan Sarwono
Saya Dosen/Guru Besar Fakultas Psikologi UI
Tanggal: 3 Juni 2003
Judul Artikel: Faktor-Faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar
Artikel-Artikel Prof. Sarlito: Yang Lain
Topik: Mengatasi Malas Belajar Pada anak

Bulan-bulan tertentu menjelang Ebtanas dan UMPTN, setiap tahun, adalah musimnya orangtua mengkonsultasikan anak-anaknya untuk tes bakat pada psikolog. Persoalan orangtua (belum tentu persoalan anak juga) adalah bahwa anaknya, walaupun sudah kelas 3 SMU, belum jelas mau memilih jurusan apa di perguruan tinggi. Karena takut bahwa anaknya gagal di tengah jalan, maka orangtua pun mengkonsultasikan anaknya kepada psikolog.

Sementara itu, dari pengamatan saya di ruang praktek, di pihak anaknya sendiri kurang nampak ada urgensi pada permasalahan yang sedang dihadapinya. Rata-rata anak memang ingin lulus UMPTN di Universitas-universitas favorit (UI, ITB), tetapi tidak terbayangkan betapa ketatnya persaingan yang harus dihadapinya1. Kalau tidak lulus UMPTN, pilihan untuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta) masih banyak. Kalau tidak diterima di Trisakti atau Atmajaya, masih banyak PTS yang lain. Bagi yang orangtuanya mampu, kuliah di luar negeri2 bahkan lebih banyak lagi peluangnya.

Tidak adanya perasaan urgensi (kegawatan) lebih nampak lagi pada hampir-hampir tidak adanya persiapan yang serius. Kebanyakan anak tidak mempunyai kebiasaan belajar yang teratur, tidak mempunyai catatan pelajaran yang lengkap, tidak membuat PR, sering membolos (dari sekolah maupun dari les), seringkali lebih mengharapkan bocoran soal ulangan/ujian atau menyontek untuk mendapat nilai yang bagus.

Di sisi lain, cita-cita mereka (yang karena kurang baiknya hubungan anak-orangtua, sering dianggap tidak jelas) adalah sekolah bisnis (MBA). Dalam bayangan mereka, MBA berarti menjadi direktur atau manajer, kerja di kantor yang mentereng, memakai dasi atau blazer dan pergi-pulang kantor mengendarai mobil sendiri. Hampir-hampir tidak terbayangkan oleh mereka proses panjang yang harus dilakukan dari jenjang yang paling bawah untuk mencapai posisi manajer atau direktur tsb.

Sikap "jalan pintas" ini bukan hanya menyebabkan motivasi belajar yang sangat kurang, melainkan juga menyebabkan timbulnya gaya hidup yang mau banyak senang, tetapi sedikit usaha, untuk masa sepanjang hidup mereka. Dengan perkataan lain, anak-anak ini selamanya akan hidup di alam mimpi yang sangat rawan frustrasi dan akibat dari frustrasi ini bisa timbul banyak masalah lain3.

Teori Brofenbrenner

Untuk memahami mengapa anak-anak bersikap jalan pintas sehingga malas belajar (banyak yang sejak SD), dan untuk membantu orangtua mencari cara pencegahan serta jalan keluarnya, saya mengajak anda sekalian untuk mengkaji sebuah teori yang dikemukakan oleh Brofenbrenner4.

Teori Brofenbrenner yang berparadigma lingkungan (ekologi) ini menyatakan bahwa perilaku seseorang (termasuk perilaku malas belajar pada anak) tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan di luarnya.

Adapun lingkungan di luar diri orang (dalam makalah ini selanjutnya akan difokuskan pada anak atau siswa SD-SLTA) oleh Brofenbrenner di bagi dalam beberapa lingkaran yang berlapis-lapis (lihat diagram**):

  1. Lingkaran pertama adalah yang paling dekat dengan pribadi anak, yaitu lingkaran sistem mikro yang terdiri dari keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman bermain, tetangga, rumah, tempat bermain dan sebagainya yang sehari-hari ditemui oleh anak.

  2. Lingkaran kedua adalah interaksi antar faktor-faktor dalam sistem mikro (hubungan orangtua-guru, orangtua-teman, antar teman, guru-teman dsb.) yang dinamakannya sistem meso.

  3. Di luar sistem mikro dan meso, ada lingkaran ketiga yang disebut sistem exo, yaitu lingkaran lebih luar lagi, yang tidak langsung menyentuh pribadi anak, akan tetapi masih besar pengaruhnya, seperti keluarga besar, polisi, POMG, dokter, koran, televisi dsb.

  4. Akhirnya, lingkaran yang paling luar adalah sistem makro, yang terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat, budaya dsb.

Makalah ini, dengan mengikuti teori Brofenbrenner tersebut di atas, akan menguraikan bagaimana sistem makro yang terjadi di dunia dan Indonesia, melalui sistem-sistem lain yang lebih kecil (exo, meso dan mikro) berpengaruh pada kepribadian dan perilaku anak, termasuk perilaku malas belajar yang sedang kita biacarakan ini.

Sistem Makro

Kiranya hampir semua orangtua dan pendidik (dan semua orang juga) merasakan bahwa jaman sekarang ini terlalu banyak sekali perubahan. Para orangtua dari generasi "Tembang Kenangan" tidak bisa mengerti, apalagi menikmati, lagu-lagu favorit anak-anak mereka yang dibawakan oleh Dewa atau Westlife group. Bahkan generasi yang remaja di tahun 1980-an (generasi Stevie Wonder, Lionel Richie) juga sulit menerima lagu-lagu sekarang. Sulitnya, di kalangan generasi muda sendiri juga terdapat banyak versi musik (rap, reggae, house, salsa dsb.) yang masing-masing punya penggemar masing-masing. Di sisi lain musik-musik tradisional seperti keromcong dan gending Jawa, juga mengalami perubahan versi sehingga muncul musik campur-sari yang sekarang sedang populer di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk generasi mudanya. Sementara itu, musik dangdut, yang tadinya monopoli masyarakat lapis bawah, justru berkembang menjadi lebih universal dengan mulai memasuki dunia kelas menengah atas.

Perubahan-perubahan yang drastis dan sekaligus banyak ini juga terjadi pada bidang-bidang lain. Wayang orang dan wayang kulit yang saya gemari di masa kecil dan merupakan kegemaran juga dari ayah saya dan nenek-moyang saya, sekarang praktis tidak mempunyai lahan hidup lagi. Modifikasi dari kesenian tradisional (wayang kulit berbahasa Indonesia dan berdurasi hanya 2 jam diselingi musik dang dut, atau ketoprak humor), hanya bisa mengembangkan penggemarnya sendiri tanpa bisa mengangkat kembali kesenian tradisional sebagai mana bentuk aslinya.

Dalam setiap sektor kehidupan yang lain pun terdapat perubahan yang cepat. Karena itu jangan heran jika istilah-istilah "prokem" di jaman tahun 1980-an sudah tidak dimengerti lagi oleh anak-anak "gaul" angkatan 1990-an yang punya gaya bahasa "funky" tersendiri. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi perkembangannya adalah yang paling cepat. Anak SD sekarang sudah terampil menggunakan komputer, sedangkan eyang-eyang mereka menggunakan HP saja masih sering salah pencet. Video Betamax yang sangat modern di tahun 1980-an, sekarang sudah menjadi barang musium dengan adanya VCD (Video Digital Disc) dan yang terbaru DVD (Digital Video Disc; yang sebentar lagi pasti akan usang juga).

Dampak dari perubahan cepat ini sangat dahsyat sekali. Jika dalam bidang sosial budaya kita hanya mengamati kekacauan yang sulit dimengerti, dalam politik, perkembangan dan perubahan yang teramat sangat cepat ini telah meruntuhkan beberapa negara (Rusia, Yugoslavia), setidak-tidaknya telah menimbulkan banyak konflik yang menggoyangkan stabilitas dalam negeri dan menelan banyak korban harta dan jiwa (seperti yang sedang terjadi di Indonesia).

Para ilmuwan, setelah menganilis situasi yang dahsyat di seluruh dunia tsb. di atas, menyimpulkan bahwa saat ini kita sedang memasuki era Postmodernism (disingkat: Posmo)5 . Menurut para pemikir Posmo, jaman sekarang kira-kira sama dahsyatnya dengan jaman revolusi industri (ditemukannya mesin uap, listrik, mesiu dsb.) di akhir abad XIX yang juga berdampak berbagai peperangan, revolusi (perancis, Rusia), depresi ekonomi, kemerdekaan berbagai negara kolonial, penyakit menular dsb. yang kemudian kita kenal sebagai jaman modern. Perbedaan antara jaman modern dengan jaman sebelumnya adalah bahwa kendali kekuasaan (dalam bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik) beralih ke tangan-tangan pemilik modal, pekerja, pemikir dsb., dari penguasa sebelumnya yaitu para raja, bangsawan, tuan tanah dsb. Dalam bidang musik misalnya, supremasi Beethoven sudah diambil alih oleh Elvis Presley, sedangkan kekuasaan Paus di Roma sudah tersaingi oleh berbagai versi agama Kristen lain yang tersebar di seluruh dunia (termasuk versi Katolik Roma di Philipina, misalnya). Di Jawa, misalnya, pusat kebudayaan di Kraton Mataram6, segera beralih ke Ismail Marzuki dan Chaeril Anwar setelah revolusi kemerdekaan. Dalam politik, ideologi yang berdasarkan feodalisme beralih ke ideologi komunisme (revolusi Rusia) atau liberalisme (revolusi kemerdekaan Amerika Serikat). Tetapi di zaman tradisional maupun di zaman modern, masih terasa adanya pusat-pusat kekuasaan, yang oleh manusia (dari sudut pandang psikologi) sangat diperlukan sebagai patokan atau pedoman hidup, sebagai tolok ukur untuk menilai mana yang benar atau salah, baik atau buruk, indah atau jelek.

Di dalam politik, misalnya, sampai dengan awal tahun 1990-an masih ada dua kekuatan utama di dunia (super powers) yaitu blok Barat (AS dan Eropa Barat) dan blok Timur. Upaya negara-negara dunia ke-3 untuk membangun KTT Non-Blok tidak banyak artinya, karena anggota-anggotanya tetap saja terpecah antara yang condong ke Blok Barat dan Blok Timur.

Tetapi di jaman Posmo ini, tidak ada lagi pusat-pusat kekuasaan seperti itu. Tidak ada tokoh, aliran, partai politik, ideologi, dan sebagainya yang mampu menonjol atau dominan dalam waktu yang cukup lama. Semua orang, aliran, ideologi dsb. bisa bisa timbul-tenggelam setiap saat. Bahkan agama pun, yang merupakan pranata yang paling konservatif, berubah-ubah dengan cepat sekali dengan timbul-tenggelamnya berbagai aliran, sekte dan bahkan agama-agama baru. Maka dapat dimengerti bahwa masyarakat awam di lapis bawah akan terperangkap dalam kebingungan-kebingungan karena hampir tidak ada tolok ukur yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari.

Sistem Exo

Pengaruh Posmo pada sistem exo dapat dilihat dan dirasakan dengan perubahan drastis dalam berbagai pranata sosial, politik dan ekonomi. Di Indonesia kita dapat menyimaknya dalam berbagai gejala seperti berubahnya fungsi Polri dari aparat pertahanan dan keamanan menjadi fungsi keamanan, ketertiban dan penegakkan hukum (karena itu Polri keluar dari ABRI). Dalam bidang perekonomian, pemerintah kehilangan kendalinya terhadap sistem moneter, karena begitu banyaknya yang bisa ikut bermain dalam sistem moneter, sehingga nilai valuta asing menjadi sangat fluktuatif. Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan nasional, yang tadinya seragam untuk seluruh Indonesia, makin bervariasi dengan banyaknya sekolah yang berorientasi pada bermacam-macam agama, sekolah yang bekerja sama dengan luar negeri, sekolah-sekolah alternatif yang dikelola LSM dan sebagainya, sementara di tingkat perguruan tinggi berkembang terus-menerus berbagai gelar baru (bahkan ada gelar-gelar palsu) dan peraturan-peraturan Depdiknas pun berubah-ubah setiap saat.

Di bidang media massa dan sarana komunikasi dan perhubungan, terdapat makin banyak alternatif. Jika di tahun 1960-an hanya ada radio dan telpon yang diputar dengan tangan dan hubungan ke luar Jawa sangat langka dan lama, sekarang sudah tersedia berbagai alternatif seperti televisi fax (dari satu stasiun saja di tahun 1963, menjadi puluhan stasiun dengan sarana satelit), HP, internet, fax, bus antar propinsi (dari Banda Aceh sampai Kupang), pesawat udara (sehingga Jakarta-Jayapura hanya beberapa jam saja) dsb., sehingga hampir tidak ada lagi daerah yang masih terisolir seperti Kabupaten Lebak di zaman Max Havelaar.

Dalam bidang kehidupan berkeluarga, sistem kekerabatan (keluarga besar) sudah makin ditinggalkan orang dan beralih ke pada sistem keluarga inti. Bahkan akhir-akhir ini sudah banyak orang yang memilih untuk tidak menikah (single family) atau menjadi orangtua tunggal (single parent family). Rata-rata usia menikah makin meningkat (di kalangan menengah-ke atas sudah mencapai 26 tahun dan 30 tahun bagi wanita dan pria). Psangan nikah pun ditentukan sendiri oleh anak, bukan orangtua. Upacara-upacara perkawinan masih dilakukan secara tradisional, tetapi hanya simbolik saja, karena upacara-upacara itu sama sekali tidak mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya dari pasangan yang bersangkutan (uoacaranya berbahasa Jawa, padahal pengantin sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa, bahkan sangat boleh jadi psangan sudah berhubungan seks jauh sebelum upacara adat yang disakralkan itu).

Sistem Meso dan Mikro

Yang dimaksud dengan sistem Mikro adalah orang-orang yang terdekat dengan anak dan setiap hari berhubungan dengan anak (ayah-ibu, kakak-adik, oom, tante, opa, pembantu, supir, teman sekolah, guru dsb.), maupun tempat-tempat di mana anak sehari-hari berada (rumah, lingkungan tetangga, kebun, sekolah, kota dsb.). Interaksi antara unsur-unsur dalam sistem Mikro tersebut dinamakan sistem Meso.

Sehubungan dengan berkembangnya Posmo (yang oleh Alvin Toffler dinamakan "The Third Wave" QUOTATION), maka sistem Mikro dan Meso anak juga akan berubah drastis. Orangtua, guru, guru ngaji, orangtuanya teman-teman, apalagi televisi, tidak lagi satu bahasa dan seia-sekata dalam mendidik anak-anak. Di masa lalu, setiap ucapan orangtua hampir selalu konsisten dengan arahan guru di sekolah atau omongan orang-orang di surau atau di pasar. Tetapi sekarang apa yang dikatakan orangtua sangat berbeda dengan yang ditayangkan di TV, atau dengan omongan orangtuanya teman, atau nasihat ibu guru. Bahkan antara ayah dan ibu saja sering tidak sepaham, karena ibu-ibu jaman sekarang sudah sadar jender, punya penghasilan sendiri (bahkan kadang-kadang lebih besar dari suaminya), jadi merasa berhak juga untuk memutuskan dalam lingkungan rumah tangga.

Buat orangtua sendiri, yang dirasakan adalah bahwa anak tidak lagi hanya mendengarkan orangtua sendiri. Anak makin sering membantah, bahkan melawan orangtua, karena ia melihat banyak contoh di luar yang tidak sama dengan apa yang dikatakan orangtuanya. Jika anak dilarang menyetir pad usia 14 tahun, ia segera bisa menunjuk anak lain yang diijinkan nyetir sejak SD; jika anak disuruh sholat, ia segera mengacu pada Pak De-nya yang tidak sholat. jika ia dilarang pulang malam, ia malah pulang pagi, karena semua temannya mengajaknya ke disko atau ke kafe.

Anak

Sementara itu, anak sendiri tetap saja anak seperti sejak jaman dahulu kala. Semasa kecil anak-anak membentuk kepribadiannya melalui masukan dari lingkungan primernya (keluarga). Sampai usia 5-8 tahun ia masih menerima masukan-masukan (tahap formative). Menjelang remaja (usia ABG) ia mulai memberontak dan mencari jati dirinya dan akan makin menajam ketika ia remaja (makin sulit diatur) sehingga masa ini sering dinamakan masa pancaroba.

Masa pancaroba ini pada hakikatnya merupakan tahap akhir sebelum anak memasuki usia dewasa yang matang dan bertanggung jawab, karena ia sudah mengetahui tolok ukur yang harus diikuti dan mampu menetapkan sendiri mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk dan mana yang indah dan jelek.

Tetapi masa pancaroba dalam diri individu itu akan lebih sulit mencapai kemantapan dan kematangan jika kondisi di dunia luar juga pancaroba terus, seperti halnya di era Posmo ini. Dampaknya adalah timbulnya generasi remaja dan dewasa muda yang terus berpancaroba sampai dewasa. Generasi inilah yang saya temui di ruang praktek dengan kebingungan memilih jurusan yang mana, bimbang karena pacarnya tidak disetujui orangtua, kehabisan akal karena hamil di luar nikah atau karena tidak bisa keluar dari kebiasaan menyalah gunakan Narkoba.

Perubahan Paradigma

Menghadapi era Posmo yang serba tidak jelas ini, kesalahan paling besar, tetapi yang justru paling sering dilakukan, adalah mendidik anak berdasarkan tradisi lama dan tanpa alternatif. Artinya, semua yang diajarkan oleh orangtua mutlak harus diikuti, orangtua penya hak dan kekuasaan atas anak, anak harus berbakti kepada orangtua dsb. Di sekolah para guru pun masih sering berpatokan pada pepatah "guru adalah digugu/dipatuhi dan ditiru), sehingga benar atau salah guru harus selaludipatuhi. Demikian pula dalam bidang agama, bahkan politik (masing-masing elit politik dan kelompok mahasiswa merasa dialah yang paling benar).

Jika dihadapakan terus-menerus dengan pendekatan otoriiter, maka anak-anak yang sedangserba kebingungan akan makin bingung sehingga makin tidak percaya diri, atau justru makin memberontak dan menjadi pelanggar hukum. Karena itu dalam era sistem Makro yang diwaranai oleh Posmo ini, pendidikan pada anak harus berorientasi pada pengembangan kemampuan anak untuk membuat penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan cepat. Dengan perkataan lain, anak harus dididik untuk menilai sendiri yang mana yang benar/salah, baik/tidak baik atau indah/jelek dan atas dasar itu ia memutuskan perbuatan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Anak yang dididik untuk selalu mentaati perintah orangtua, dalam pemberrontakannya akan mencari orang lain atau pihak lain (dalam sistem Mikro-nya) yang bisa dijadikannya acuan baru dan selanjutnya ia akan mentaati saja ajakan atau arahan orang lain itu (yang sangat boleh jadi justru menjerumuskan).

Penutup

Harus diakui bahwa menjadi orangtua atau pendidik jaman sekarang sangat sulit. Pertama, karena kebanyakan orantua belum pernah mengalami situasi seperti sekarang ini di masa kecilnya; kedua, karena mereka cenderung meniru saja cara-cara mendidik yang dilakukan oleh orangtua atau senior merekasendiri di masa lalu; dan yang ketiga, memang sangat sulit untuk mengubah pola pikir seseorang dari pola pikir tradisional dan pola pikir alternatif sesuai dengan tuntutan jaman sekarang.

Tetapi bagaimana pun berat dan sulitnya, upaya itu harus dilakukan, karena kalau tidak maka kita akan menjerumuskan generasi muda kita dalam kesulitan yang lebih besar.

Catatan kaki

* Dibacakan pada seminar "Mengatasi Malas Belajar Pada anak", diselenggarakan oleh POMDA FPsi UI, Jakarta 5 Mei 2001.

1 Hasil UMPTN UI tahun 2000 menunjukkan bahwa daya tampung program -program studi IPA = 5% (FK = 3,5%; Geografi 15%), sedangkan IPS hanya 1,5% (Hubungan Internasional = 0,8%; Psikologi = 3,5%; Sastra Inggris = 1,5%; Sastra Jawa = 16%).

2 Sebelum Krismon favorit adalah AS dan Inggris, sekarang Australia.

3 Perwujudan frustrasi bisa berbentuk agresivitas pada lingkungan (keluarga, atasan, system, pemerintah, bahkan lingkungan alam), agresivitas pada diri sendiri (depresi, menyalahkan diri sendiri, perasaan berdosa, bunuh diri) atau pelarian dari kenyataan (menganut fanatisme agama atau aliran golongan yang sempit atau narkoba).

4 Brofenbrenner, U. 1979: The Ecology of Human Development, Cambridge, MA: Harvard University Press.

** Gambar 1: Skema pengaruh lingkungan pada perilaku anak (Model Ekologi dari Brofenbrenner, 1979).

Diagram Brofenbrenner

5 Sim, S, 1999: The Icon Critical Dictionary of Postmodern Thought, Cambridge: Icon Books

6 Para pencipta musik dan tari Jawa klasik seluruhnya adalah para Sultan dan bangsawan.

RAIH SUKSES MELALUI ORIENTASI MAHASISWA AKADEMIK

Artikel:
RAIH SUKSES MELALUI ORIENTASI MAHASISWA AKADEMIK


Judul: RAIH SUKSES MELALUI ORIENTASI MAHASISWA AKADEMIK
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Pujiati Sari
Saya Mahasiswi di Universitas Tadulako
Topik: Orientasi Mahasiswa Akademik, Solusi atau Musibah?
Tanggal: 14 September 2008

By Pujiati Sari

Menuntut ilmu merupakan aktivitas yang harus kita jalani mulai dari kita lahir hingga sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu seperti kalau kita menggapai cita-cita atau keinginan bukanlah hal yang mudah. Untuk meraihnya/mencapainya kita harus berjuang dan berusaha keras dan tekun, yaitu belajar sungguh-sungguh dan dibarengi dengan berdoa. Usaha yang tidak dibarengi dengan doa kemungkinan kesuksesan akan menjadi kesia-siaan (tidak afdhal). Dan jika kita hanya berdoa tanpa ada suatu usaha, itu juga sia-sia dan dipastikan keinginan atau cita-cita tidak akan tercapai.

Menuntut ilmu yang lazim dalam dunia pendidikan formal dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK), ke Sekolah Dasar (SD), selanjutnya ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga ke perguruan tinggi, merupakan sebuah proses pendidikan yang panjang dan perlu pengorbanan yang sangat besar sehingga kita dapat meraihnya. Di perguruan tinggi inilah yang rasanya sebagai anak tangga terakhir untuk menggapai cita-cita. Di perguruan tinggi pula lah kita dapat mengalami suatu perubahan yang lebih terasa. Dari masa remaja yang labil beralih menjadi sosok orang dewasa dalam mencari kestabilan diri. Perubahan ini tentunya membutuhkan suatu proses atau waktu dan pengemblengan atau pelatihan mulai dari sekarang, sehingga ketika telah matang menjadi dewasa, barulah kita bisa/memiliki kemampuan yang memadai untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat dengan keahlian dan keprofesionalan yang tinggi.

Proses pembelajaran masa SMA dan perguruan tinggi merupakan dua sisi berbeda. Di SMA kita masih lebih banyak mendapat bimbingan dan selalu diperhatikan oleh guru, sedangkan di perguruan tinggi (dunia kampus) kita harus berusaha dan belajar sendiri atau mandiri walaupun ada dosen pembimbing kita.

Begitulah kehidupan di kampus, menurut beberapa kakak senior. Mahasiswa dituntut untuk bersikap lebih mandiri, dan harus berjiwa kepemimpinanan (leader), agar kita kelak memiliki mental yang kuat, kemampuan maksimal baik gonitif, psikomtor, dan afektif. Untuk menggapai semua itu, banyak kegiatan yang harus dilalui termasuk saat-saat pertama menjadi mahasiswa, misalnya masa orientasi mahasiswa baru.

Sudah menjadi tradisi di perguruan tinggi untuk mengadakan kegiatan, yang lazimnya disebut Orientasi Mahasiswa Akademik. Orientasi Mahasiswa Akademik atau yang biasa disingkat menjadi ¡§ORMIK¡¨, merupakan proses awal adaptasi bagi mahasiswa baru untuk dapat mengenal ruang lingkup unversitas, fakultas serta jurusan baik meliputi visi misi, layanan mahasiswa, peraturan akademik dan kemahasiswaan(Moh.Aris, 2008).

Jika kita cermati, ORMIK berarti suatu kegiatan yang mendidik dan bukan sekedar sebuah kegiatan penyiksaan atau kegiatan yang mengutamakan kekerasan. ORMIK ini berisi kegiatan yang mendidik dan menguji mental peserta dengan cara yang tidak berlebihan.

Banyak tanggapan atau alasan-alasan yang cenderung menganggap bahwa ORMIK merupakan kegiatan yang menimbulkan ekses negatif. Sehingga banyak yang menganggap pula bahwa kegiatan ini hanyalah sebuah kegiatan yang sepele dan tidak berguna. Contoh alasan-alasan yang biasa dilontarkan oleh calon mahasiswa, yaitu

fæ Si A : ¡§Friend, aku malas dech ikut kegiatan ORMIK. Tidak ada gunanya ikut begituan.¡¨

fæ Si B : ¡§Kalau aku sih, ikutnya tahun depan aja. Soalnya tahun ini aku tidak mood mengikuti kegiatan ORMIK. Yang pastinya aku ikut, karena kalau nggak ikut, nanti tidak dapat piagam. Piagam itu penting loch.¡¨

fæ Si C : ¡§Eh, biar tidak ikut ORMIK, tidak apa-apa kan? Katanya sih, asal ada orang dalam atau panitia yang dikenal, so piagam, kan bisa kita beli!¡¨
( Baginya uang adalah segala-galanya. Dengan ada uang, maka segalanya bisa dibeli. Uang baginya adalah raja. Tapi, satu hal yang harus diingat bahwa kepintaran dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan, itulah yang tidak bisa dibeli).

fæ Si D : ¡§So pasti saya ikut kegiatan ini. Apa saya juga kan, suka dengan pengalaman-pengalaman baru, teman-teman baru, dan tentunya dapat...gebetan baru.¡¨

fæ Si E : ¡§Ih...malas saya ikuti kegiatan ORMIK. Soalnya, kita disuruh bawa inilah, bawa itulah...untuk perlengkapan ORMIK. Sepertinya hanya menghambur-hamburkan uang saja. Terus, kegiatan ini hanya akan membuat kita cape dan lelah saja.¡¨

Kelima tanggapan di atas merupakan sebagaian dari keluhan-keluhan yang sering kita dengar dari Calon Mahasiswa. Keluhan-keluhan yang menganggap bahwa mengikuti ORMIK itu seperti suatu beban yang sangat berat. Dengan adanya keluhan-keluhan ini, maka sudah dapat kita simpulkan bahwa sebagian atau bahkan kebanyakan dari calon mahasiswa yang mengikuti kegiatan ORMIK ini, tidak didasari dengan niat yang ikhlas. Sehingga tujuan ORMIK secara keseluruhan, tidak tercapai sepenuhnya.

Pentingkah mengikuti ORMIK? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh calon mahasiswa. Karena keingintahuannya, seorang calon mahasiswa biasanya mencari tahu alasan-alasan, mengapa kita harus mengikuti ORMIK. Memang banyak calon mahasiswa yang menganggap bahwa ORMIK itu tidak penting-penting amat, hanya membuat habis waktu, uang dan tenaga saja. Bagi sebagian dari mereka, bahwa ORMIK hanyalah sebuah kegiatan konyol yang berisi kekerasan dan penganiayaan dari kakak senior (panitia ORMIK). itulah pandangan sebagian dari mereka yang belum mengetahui apa tujuan dan manfaat sebenarnya ORMIK itu.

Ada juga sebagian peserta yang mengikuti ORMIK hanya berniat untuk bisa mendapatkan piagam penghargaan, karena piagam ini sangat bermanfaat saat kita mau menyelesaikan kuliah, dengan mengikuti ORMIK, maka mahasiswa tersebut dianggap sah terdaftar sebagai mahasiswa universitas tersebut. Jika seorang peserta mengikuti kegiatan ini, niatnya hanya untuk mengejar-ngejar piagam penghargaan saja, itu adalah suatu niat yang tidak baik. Semestinya, seorang peserta harus berniat mengikuti kegiatan ini untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang baru, yang belum didapatkan sebelumnya. Dengan mengikuti kegiatan ini, peserta juga akan menjalani suatu proses pengenalan, proses pelatihan, mulai dari hal yang kecil hingga sampai yang besar, sekalipun dengan cara yang sangat cepat.

Yang perlu peserta tanamkan dalam lubuk hati, yaitu selalu bersikap kritis dan memiliki rasa kengintahuan yang tinggi, sehingga dalam menuntut ilmu pun juga tidak sia-sia. Sebuah pepatah lama mengatakan bahwa ¡§sambil menyelam, minum air¡¨. Jadi, saat mengikuti ORMIK kita harus betul-betul mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias dan dengan menaati segala tata tertib yang berlaku, dan setelah itu barulah kita mengharapkan agar bisa diluluskan, sehingga nantinya kita bisa mendapatkan piagam penghargaan. Jadi, kedua-duanya bisa kita dapatkan. Dua tujuan, sekaligus langsung kita capai dengan hanya mengikuti satu kegiatan saja. Ini berarti bahwa segala sesuatunya sangat bergantung pada niat. Kalau niat kita baik, maka hasilnya insya Allah akan memuaskan. Dan sebaliknya pula, kalau niat kita jelek, hasilnya juga tidak memuaskan.

Sebelum mengikuti kegiatan ORMIK, seorang calon mahasiswa tentunya ingin mencari tahu kegiatan-kegiatan apa saja yang dijadwalkan. Kegiatan ORMIK yang biasanya dilaksanakan dari jam 07.00 hingga 17.30 sore, tentunya ada serangkaian kegiatan yang telah tersusun. Inilah yang menuntut agar peserta mulai bersikap disiplin, contohnya peserta harus datang dan pulang ke rumah tepat pada waktunya, istirahat pada waktunya, belajar pada waktunya, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan ORMIK, antara peserta dan senior (panitia ORMIK) biasanya saling menyalahkan. Kedua-duanya saling ego-mengego (angkuh). Memang sih, naluri seseorang itu selalu beranggapan bahwa dirinya yang paling benar dan tidak merasa dirinya bersalah, karena seseorang itu lebih sering mengingat kebaikannya sendiri daripada kejelekan (aib)nya sendiri, dan sebaliknya seseorang cenderung lebih mengingat keburukan (aib) orang lain dibandingkan kebaikannya. Nah... inilah sifat manusia kebanyakan. Jadi, dalam hal ORMIK, sebenarnya yang salah adalah peserta (junior)nya, karena peserta banyak yang membuat kesalahan (ulah), membangkang, dan tidak menaati tata tertib yang berlaku saat mengikuti ORMIK. Dan bagi peserta, hal yang dilakukannya itu baik dan wajar-wajar saja. Padahal mingkin sangat menyimpang dari tata tertib yang berlaku. Inilah yang membuat panita (senior) menjadi sangar dan jengkel kepada peserta karena susahnya diatur. Padahal mereka bukan anak kecil lagi, harusnya bisa mengatur dirinya sendiri.

Kalau peserta tidak membuat ulah, tentu saja panitia ORMIK tidak ada yang jengkel kepada mereka. Tapi, biasanya peserta dituntut oleh panitia untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun. Memang, sepertinya hanyala hal yang sepele, tetapi itu bisa menimbulkan resiko yang luar biasa. Contoh: satu orang peserta saja yang melakukan kesalahan yang kecil, maka semua pesertalah yang akan menanggung akibatnya. Peserta dituntut begini agar tercipta rasa kebersamaan (sepenanggung, seperasaan). Apa yang dirasakan oleh salah satu peserta, maka harus dirasakan pula oleh peserta yang lainnya juga.

Dalam sebuah opini yang telah dipublikasikan oleh koran harian Radar Sulteng, yaitu opini yang dilontarkan oleh Ikbal. Ikbal yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik ini menambahkan, bahwa selama ini berkembang stigma tentang keberadaan Ormik yang sudah saatnya dihapuskan. Menurutnya selama ini seakan-akan kehadiran Maba setiap tahunnya di Universitas Tadulako hanya dijadikan sebagai lahan empuk, baik sebagai obyek perpoloncoan, ataupun tindakan diskriminasi lainnya, yang bila dilihat dari kacamata akademis, sangat tidak mendidik dan tidak memiliki orientasi akademis. Bahkan secara ekstrim bagi sebagian kalangan, ada yang menganggap bahwa kehadiran Maba adalah sebuah proyek yang harus diperebutkan. Ini lah sebuah ekses negatif dari kegiatan ORMIK

"Kita tanpa ada sedikitpun keinginan untuk bersuudzon (berprasangka buruk) dengan siapapun, tapi ini berdasarkan fakta dan realita, maka dari itu kita semua tanpa terkecuali, apakah itu mahasiswa ataupun birokrasi untuk sama-sama melakukan introspeksi, apakah memang selama ini tindakan kita benar-benar tulus memberikan gambaran tentang nuansa akademis di Untad kepada para Maba, atau ada kepentingan terselubung. Karena kalau kita bertindak hanya karena ada kepentingan, maka sampai kapanpun antara kalangan birokrasi dan mahasiswa tidak akan pernah mendapatkan titik temu," tandas Ikbal. (Hanif,2008).

Dilihat dari opini yang telah dikemukakan oleh mahasiswa di atas, sebenarnya yang harus di salahkan yaitu bentuk pengimplementasian dari Kegiatan tersebut. Orang-orang atau panitia yang melaksanakan kegiatan ini, tidak memahami betul-betul, apa makna dan tujuan dari ORMIK itu sendiri. Sehingga terjadilah penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Kadangkala panita ORMIK (senior) bertingkah angkuh dan kasar kepada peserta, tentunya ini semua mempunyai tujuan tertentu. Sifat jelek ini sebenarnya hanyalah sebatas acting atau dibuat-buat saja oleh panitia. Ini semua tujuannya untuk menguji mental peserta. Banyak panitia yang mengetes para pesertanya hanya untuk mengetahui seberapa kuatnya mental pesertanya. Tapi, terkadang panitia terlalu kasar dan melebih-lebihkan masalah, biasanya juga diantara beberapa panitia, ada yang memanfaatkan situasi, misalnya mencoba berbuat jahil kepada para junior dengan cara yang kejam dan telah keluar dari konsep pendidikan. Panitia juga terkadang tidak tanggung-tanggung untuk membalas dendam kepada peserta, pembalasan dendam ini biasanya karena dulu panitia ORMIK juga pernah dikerjain sebelumnya. Jadi, mereka tidak rela jika peserta melewati masa ORMIK-nya hanya dengan tertawa dan gembira riang. Mereka ingin melihat para peserta menangis dan bisa merasakan juga seperti yang telah dirasakan oleh kakak senior sebelumnya. Ini seolah-olah sudah menjadi tradisi dalam kegiatan ORMIK, sehingga menimbulkan ekses negatif dari anggapan dan pandangan orang-orang mengenai kegiatan tersebut. Tapi, sebenarnya itu adalah anggapan yang sangat keliru mengenai kegiatan ini. Seseorang yang memahami betul-betul bahwa pendidikan itu sangatlah penting, sebenarnya itulah orang yang berpikir secara sehat dan matang.

Suatu kegiatan dapat kita ketahui baik dan buruknya, bermanfaat atau tidak bermanfaat, dengan menelaah setiap aktivitas dalam suatu kegiatan tertentu yang telah dijadwalkan. Penulis sangat meyakini bahwa seseorang yang gigih dalam menuntut ilmu dan mengaggap bahwa pendidikan itu penting, pastinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang baru, seperti pepatah lama mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Dengan adanya pengalaman, maka kita bisa belajar banyak dari pengalaman yang kita dapatkan (mengambil hikmahnya). Jadi, Orang tersebut pasti senang menghadapi segala sesuatu karena akan menjadi pengalaman atau pengetahuan yang baru. Dalam kegiatan ORMIK, pasti orang yang memahami akan sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, karena baginya kegiatan itu sangat bermanfaat.

Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan ORMIK merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, karena dalam ORMIK terdapat serangkaian kegiatan yang berupa pembelajaran peserta.. Dalam kegiatan tersebut, banyak materi penting dipresentasekan khusus untuk peserta. Seperti berupa materi-materi pengenalan universitas, organisasi-organisasi, lembaga-lembaga yang berkaitan dengan universitas, dan visi - misi serta program kerjanya. Ini semua merupakan materi yang sangat penting dan sangat bermanfaat bagi peserta, ketika nanti akan resmi menjadi mahasiswa. Materi yang disampaikan saat kegiatan tersebut, tentunya banyak yang belum diketahui dan belum didapatkan ketika di masa SMA dulu.

Tujuan dan manfaat yang bisa diperoleh calon mahasiswa (peserta) ketika mengikuti kegiatan ORMIK, yaitu:

1. Mengenal seluk beluk universitas yang dituju, agar mahasiswa mengetahui secara cepat, hal menyangkut universitas, baik visi & misinya, program kerjanya, dan lain sebagainya.

2. Mengenal lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi yang ada. Tujuannya yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi apa saja yang terdapat di universitas, sehingga ketika menjadi mahasiswa kemungkinan bisa menjadi anggota bahkan pengurus di lembaga atau organisasi yang diminatinya.

3. Saling mengenal dan dapat menumbuhkan hubungan baik antara peserta dan panitia ORMIK, juga dapat mempererat tali persaudaraan dan rasa solidaritas yang tinggi, baik antar sesama peserta, maupun antara peserta dan panita ORMIK, sehingga terjadi keakraban saling mengenal dengan cepat antara satu dengan yang lainnya. Hal ini sangat penting, karena dengan demikian maka akan terbentuk pengintegrasian rasa solidaritas yang tinggi. Kebersamaan dan persatuan sangatlah penting dalam komunitas kampus. Hal ini untuk membuktikan kalau bangsa Indonesia yaitu bangsa yang berbhehineka tunggal ika, walau berbeda-beda namun tetap satu jua. Jadi, perbedaan-perbedaan yang ada janganlah dijadikan suatu penghalang untuk berkreativitas dalam kebersamaan, tapi jadikanlah perbedaan-perbedaan tersebut menjadi suatu modal utama kita untuk saling berbagi dan bergotong-royong antar sesama.

4. Melatih dan menguji mental peserta, agar kelak mejadi mahasiswa yang tidak mudah putus asa, bermental kuat, dan tahan banting serta sabar dalam menghadapi problematika kehidupan kampus, keluarga, maupun yang datangnya dari masyarakat luas. Ini dapat diartikan bahwa hidup tidaklah mudah. Hidup sangat membutuhkan perjuangan, dan sudah pasti bahwa perjuangan sangatlah membutuhkan sebuah pengorbanan.

5. Menciptakan jiwa seorang pemimpin (leader) pada peserta untuk meneruskan kembali perjuangan yang pernah kakak senior lakukan demi pencapaian visi dan misi suatu institusi atau organisasi. Hal ini sangat penting, mengingat bahwa sekarang ini jiwa kepemimpinan sudah mulai luntur pada generasi muda, sehingga sangat sulit mencari seorang kader pemimpin di masa depan nantinya. Peserta juga harus bisa bersikap lebih kritis dan berani dalam menghadapi kemelut kehidupan globalisasi ini.

6. Peserta ORMIK dituntut untuk selalu bersikap disiplin, dan menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya. Sikap-sikap ini tidak hanya berlaku sementara saat kegiatan ORMIK berlangsung, akan tetapi harus berlanjut sampai kita menjalani setiap aktivitas sehari-hari kita. Harus kita tanamkan dari sekarang bahwa kunci utama kesuksesan adalah disiplin dalam bertindak.

7. Dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dapat menanamkan nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai moral, agar peserta tidak hanya pintar secara intelektual dan emosional akan tetapi juga pintar secara spiritual. Dalam segala rangkaian aktivitas pada kegiatan ORMIK, harus ada pula pengupayaan pengintegrasian nilai-nilai spiritual ke dalam setiap aktivitas yang dijalani.

Penulis telah menguraikan dalam tulisan ini bahwa Orientasi Mahasiswa Akademik itu merupakan suatu solusi atau pemecahan suatu masalah, dan bukanlah suatu kegiatan yang malah mendatangkan musibah kepada peserta ORMIK. Dengan mengikuti ORMIK, maka peserta akan meraih kesuksesan. Insya Allah, sukses dalam hal keintelektualan dan berprilaku. Jika ada orang yang beranggapan bahwa ORMIK itu adalah suatu musibah, maka pernyataan demikian adalah pernyataan yang keliru.

Oleh penulis, orang yang menganggap demikian adalah orang yang memandang atau menelaah kegiatan ORMIK dari satu sisi saja, baginya ORMIK menimbulkan ekses negatif. Padahal tidak demikian, Jika kita kaji dan telaah, maka kegiatan ORMIK itu lebih banyak manfaatnya, dan sangat kecil peluangnya untuk menimbulkan kerugian atau dampak negatif. Jadi, bagi calon mahasiswa, janganlah ragu-ragu untuk mengikuti kegiatan ORMIK ini. Mantapkanlah niat dan pikiran bahwa dengan mengikuti kegiatan ini, anda akan mengalami suatu perubahan yang sifatnya maju dan membangun. Yang Insya Allah dapat:

"« Merubah diri anda, yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.

"« Merubah sikap dan cara berpikir anda, yang tadinya seperti anak kecil, kini menjadi anak dewasa yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berpikiran positif, dan disiplin, bertanggung jawab dan menimbulkan sifat saling tolong menolong (gotong royong) terhadap sesama.

"« Melatih dan Insya Allah dapat merubah diri anda, yang tadinya adalah seorang pengecut atau bermental lemah, kini sedikit demi sedikit bisa menjadi seorang leader (kader), utamanya menjadi seorang kader yang memimpin dirinya sendiri dahulu kemudian memimpin orang lain di sekitarnya.

Cakupan dari kegiatan ORMIK untuk mencapai tujuan ORMIK sendiri, yaitu adanya pengenalan, pengarahan dan pelatihan / penggemblengan. Ketiga cakupan ini yang akan merubah segalanya apa ada pada peserta. Kegiatan ORMIK ini sangat penting bagi peserta, karena peserta merupakan pemuda atau pemudi yang akan diwariskan untuk meneruskan kembali perjuangan bangsa ini, yaitu bangsa Indonesia. Sebuah pepatah Sayidina Ali mengatakan, ¡§Fiyadi subbani amrol ummati wafi ihdaamihaa hayataha¡¨ dan ¡§Syubbaanul yaum rijaalul god¡¨, yang artinya bahwa di tangan para pemudalah maju-mundurnya suatu bangsa. Jadi, saat ini pemuda memikul beban yang sangat berat dan harus dipertanggungjawabkan. Apalah jadinya suatu bangsa ini ke depannya, jika pemuda yang selama ini diharap-harapkan ternyata hanyalah pemuda yang lemah, bodoh, penakut dan berprilaku menyimpang? Suatu hal yang bisa saja terjadi di kemudian hari, jika seluruh komponen masyarakat dan umumnya sebagai bangsa Indonesia, tidak memulai dari sekarang untuk melakukan suatu perubahan bersama.

Suatu perubahan dan kemajuan bagi bangsa ini dapat kita lakukan tentunya, dengan cara, seluruh komponen masyarakat, baik siswa atau mahasiswa, masyarakat dan pemerintah dapat saling bekerja sama dan berusaha untuk melakukan suatu tindakan atau kreatifitas yang bermanfaat. Untuk melakukan suatu perubahan, jangan hanya sebatas ucapan dan janji-janji semata, tapi itu semua harus dibuktikan dengan melakukan tindakan-tindakan atau usaha-usaha nyata, yang tentunya juga harus dibarengi dengan berdoa. Juga melalui kegiatan Orientasi Mahasiswa Akademik ini, diharapkan seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, agar harus selalu mengingat tujuan dari pendidikan itu sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita tidak perlu malu menjadi bangsa Indonesia, tapi yang harus kita tanamkan dalam lubuk hati yaitu kita bangga menjadi bangsa Indonesia.

Akhir kata penulis, Raihlah kesuskesanmu dengan mengikuti kegiatan ORMIK, agar kelak di masa depan nantinya, kita dapat mencapai tujuan negara Indonesia tercinta ini, yaitu menjadi bangsa Indonesia yang adil, tentram dan makmur.

Hidup mahasiswa! hidup bangsaku! Hidup Indonesiaku!

DAMPAK PERILAKU RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SISWA

Artikel:
DAMPAK PERILAKU RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SISWA


Judul: DAMPAK PERILAKU RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SISWA
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih
Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang
Topik: ETIKA
Tanggal: 8 Juli 2008

DAMPAK PERILAKU RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SISWA

Oleh: Rustantiningsih

A. Latar Belakang

Merebaknya isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkoba, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, merusak milik orang, merampas, menipu, mencari bocoran soal ujian, perjudian, pelacuran, pembunuhan, dan lain-lain sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena sudah menjurus kepada tindak kriminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja, terutama para pelajar dan mahasiswa.

Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang sebenarnya paling besar memberi kontribusi terhadap situasi seperti ini. Masalah moral yang terjadi pada siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama namun juga menjadi tanggung jawab seluruh pendidik.

Apalagi jika komunitas suatu sekolah terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan ras. Berbagai konflik akan dengan mudah bermunculan. Jika kondisi semacam ini tidak di atasi maka akan timbul konflik-konflik yang lebih besar. Akibatnya masalah moral, etika akan terabaikan begitu saja.

Padahal tujuan dari pendidikan di Indonesia adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Manusia yang mempunyai kepribadian, beretika, bermoral, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian tujuan pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya seperti yang disarikan dari UU No 20. tahun 2003, bab II, pasal 3, bahwa manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab belum terwujud.

Untuk itu perlu ditanamkan sikap jujur, saling menghargai, bertoleransi dalam diri setiap siswa, karena sikap ini mempunyai dampak luas bagi kehidupan orang lain dalam masyarakat dan negara. Dampak yang luas dan serius ini dapat dirasakan sejak Juli 1997 hingga sekarang. Krisis yang berkepanjangan tersebut tidak hanya krisis moneter dan ekonomi saja, tetapi sudah menjadi krisis multidimensi, yaitu menyentuh banyak bidang, termasuk krisis kepemimpinan, kepercayaan, dan moral (Indah dkk, 2003:14). Sikap jujur, bertoleransi, berdisiplin akan menjadi budaya masyarakat bangsa apabila perilaku religius menjadi kebiasaan sehari-hari. Perilaku religius akan mendekatkan insan manusia terhadap Tuhannya sehingga dapat meningkatkan iman dan takwa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka permasalahan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dapat dilakukan sebagai pendidik pada anak didiknya dalam membiasakan berperilaku religius?

2. Dampak apa sajakah dari perilaku religius yang tampak dalam pembentukan etika siswa?

C. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan penyusunan makalah

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk:

a. Mendeskripsikan tindakan pendidik dalam menumbuhkan kebiasaan berperilaku religius.

b. Mendeskripsikan dampak perilaku religisu dalam pembentukan etika siswa.

2. Manfaat penyusunan makalah

Penyusunan makalah ini bermanfaat secara:

a. Teoretis, untuk mengkaji kebiasaan perilaku religius di sekolah dasar dalam menumbuhkan etika bagi peserta didik.

b. Praktis, bermanfaat bagi:
(1) para pendidik agar pendidik dapat menanamkan perilaku religius dalam membentuk etika peserta didik
(2) dosen, untuk mempersiapkan para pendidik agar memahami tentang pembiasaan perilaku di sekolah dasar yang dapat membentuk etika peserta didik.
(3) mahasiswa agar memahami tentang pembiasaan perilaku di sekolah dasar yang dapat membentuk etika peserta didik.

II. PEMBAHASAN

A. Perilaku Religius

Perilaku religius merupakan perilaku yang dekat dengan hal-hal spiritual. Perilaku religius merupakan usaha manusia dalam mendekatkan dirinya dengan Tuhan sebagai penciptanya. Religiositas merupakan sikap batin seseorang berhadapan dengan realitas kehidupan luar dirinya misalnya hidup, mati, kelahiran, bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan sebaginya (Indah dkk, 2003:17). Sebagai orang yang ber- Tuhan kekuatan itu diyakini sebagai kekuatan Tuhan. Kekuatan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan hidup seseorang apabila ia mampu menemukan maknanya. Orang mampu menemukannya apabila ia berani merenung dan merefleksikannya.

Melalui refleksi pengalaman hidup memungkinkan seseorang menyadari memahami, dan menerima keterbatasan dirinya sehingga terbangun rasa syukur kepada Tuhan sang pemberi hidup, hormat kepada sesama dan lingkungan alam. Untuk dapat menumbuhkan nilai-nilai religius seperti ini tidaklah mudah.

Pembelajaran moral yang dapat dilakukan menggunakan model terintegrasi dan model di luar pengajaran. Hal ini memerlukan kerjasama yang baik antara guru sebagai tim pengajar dengan pihak-pihak luar yang terkait.

Nilai-nilai religiositas ini dapat diajarkan kepada siswa melalui beberapa kegiatan yang sifatnya religius. Kegiatan religius akan membawa siswa pada pembiasaan berperilaku religius. Perilaku religius akan menuntun siswa untuk bertindak sesuai moral dan etika.

Antara moral dan etika sebenarnya tidak sama. Moral adalah hal yang mengatakan bagaimana kita hidup. Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik (Suseno, 2000:14-17)

Moral dan etika dapat dipupuk dengan kegiatan religius seperti yang sudah dilakukan di SD Anjasmoro 01-02, Semarang. Kegiatan religius yang dapat diajarkan kepada siswa di sekolah tersebut yang dapat dijadikan sebagai pembiasaan, diantaranya:
(1) berdoa atau bersyukur,
(2) melaksanakan kegiatan di mushola
(3) merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya,
(4) mengadakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya.

Berdoa merupakan ungkapan syukur secara langsung kepada Tuhan. Ungkapan syukur dapat pula diwujudkan dalam relasi seseorang dengan sesama, yaitu dengan membangun persaudaraan tanpa dibatasi oleh suku, ras, dan golongan. Kerelaan memberikan ucapan selamat hari raya kepada teman yang tidak seiman merupakan bentuk-bentuk penghormatan kepada sesama yang dapat dikembangkan sejak anak usia sekolah dasar. Ungkapan syukur terhadap lingkungan alam misalnya menyiram tanaman, membuang sampah pada tempatnya, dan memperlakukan binatang dengan baik.

Berbagai kegiatan di mushola sekolah juga dapat dijadikan pembiasaan untuk menumbuhkan perilaku religius. Kegiatan tersebut di antaranya salat dzuhur berjamaah setiap hari, sebagai tempat untuk mengikuti kegiatan belajar baca tulis Al Quran, dan salat Jumat berjamaah. Pesan moral yang didapat dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk berperilaku sesuai moral dan etika.

Kegiatan lain yang dapat membentuk moral dan etika dari perilaku religius yaitu merayakan hari besar sesuai dengan agamanya. Untuk yang beragama Islam momen-momen hari raya Idul Adha, Isra Mikraj, Idul Fitri dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan iman dan takwa. Begitu juga bagi yang beragama Nasrani, perayaan Natal dan Paskah akan dapat dijadikan momen penting untuk menuntun siswa agar bermoral dan beretika.

Sekolah juga dapat menyelenggarakan kegiatan keagamaan lainnya diwaktu yang sama untuk agama yang berbeda, misalnya kegiatan pesantren kilat bagi yang beragama Islam dan kegiatan rohani lain bagi yang beragama Nasrani maupun Hindu. Kegiatan religius lainnya dapat juga ditumbuhkan melalui kegiatan berkemah. Kemah religius misalnya dengan menghadirkan dai cilik bagi yang beragama Islam dan mendatangkan buder bagi yang beragama Nasrani.

Dengan demikian akan tumbuh toleransi beragama, saling menghargai perbedaan, sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis, tentram dan damai. Siswa akan merasakan indahnya kebersamaan dalam perbedaan. Mereka akan merasa bahwa semua adalah saudara yang perlu dihormati, dihargai, dikasihi, dan disayangi seperti keluarga sendiri.

B. Dampak Perilaku Religius dalam Menumbuhkan Etika

Pembiasaan berperilaku religius di sekolah ternyata mampu mengantarkan anak didik untuk berbuat yang sesuai dengan etika. Dampak dari pembiasaan perilaku religius tersebut berpengaruh pada tiga hal yaitu: (1) Pikiran, siswa mulai belajar berpikir positif (positif thinking). Hal ini dapat dilihat dari perilaku mereka untuk selalu mau mengakui kesalahan sendiri dan mau memaafkan orang lain. Siswa juga mulai menghilangkan prasangka buruk terhadap orang lain. Mereka selalu terbuka dan mau bekerjasama dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan agama, suku, dan ras.

(2) Ucapan, perilaku yang sesuai dengan etika adalah tutur kata siswa yang sopan, misalnya mengucapkan salam kepada guru atau tamu yang datang, mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu, meminta maaf jika melakukan kesalahan, berkata jujur, dan sebagainya. Hal sekecil ini jika dibiasakan sejak kecil akan menumbuhkan sikap positif. Sikap tersebut misalnya menghargai pendapat orang lain, jujur dalam bertutur kata dan bertingkah laku.

(3) Tingkah laku, tingkah laku yang terbentuk dari perilaku religius tentunya tingkah laku yang benar, yang sesuai dengan etika. Tingkah laku tersebut di antaranya empati, hormat, kasih sayang, dan kebersamaan.

Jika siswa sudah terbiasa hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kebiasaan religius, kebiasaan-kebiasaan itu pun akan melekat dalam dirinya dan diterapkan di mana pun mereka berada. Begitu juga sikapnya dalam berucap, berpikir dan bertingkah laku akan selalu didasarkan norma agama, moral dan etika yang berlaku. Jika hal ini diterapkan di semua sekolah niscaya akan terbentuk generasi-generasi muda yang handal, bermoral, dan beretika.

III. PENUTUP

A. Simpulan

Dari pembahasan tentang menumbuhkan etika melalui perilaku religius di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

a. Kegiatan religius di sekolah seperti:
(1) berdoa atau bersyukur,
(2) melaksanakan kegiatan di mushola
(3) merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya,
(4) mengadakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya akan membiasakan perilaku religius. Perilaku religius tersebut dapat menuntun siswa untuk bertingkah laku sesuai etika.


b. Dampak dari pembiasaan perilaku religius dalam menumbuhkan etika yaitu terbentuknya sikap siswa dalam berpikir, berucap, dan bertingkah laku yang sesuai dengan etika.

B. Saran

Untuk membiasakan siswa berperilaku religius dan bertingkah laku sesuai dengan etika tidak mudah. Dalam hal ini diperlukan usaha yang kontinu, dan diperlukan kerjasama antara guru atau pendidik, orang tua, dan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Indah Ivonna dkk. 2003. Pendidikan Budi Pekerti. Yogyakarta. Kanisius.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas.

Suseno-Franz Magnis. 2000. Etika Dasar. Yogyakarta. Kanisius

Pendidikan Mahasiswa berkebutuhan khusus

Artikel:
Pendidikan Mahasiswa berkebutuhan khusus


Judul: Pendidikan Mahasiswa berkebutuhan khusus
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Endang Rahayu
Saya Dosen di Jakarta
Topik: Merekapun punya hak untuk belajar
Tanggal: 25 Juni 2008

secara formal saya adalah pemerhati pendidikan, dan saat ini saya mencoba untuk menceritakan pengalaman pribadi mengenai putra/putri yang berkebutuhan khusus lanjutan setelah mereka lulus SLTA.

Anak saya lulus SMA tahun 2007 dengan nilai sedang. Mencoba untuk mendaftar ke sebagian besar Universitas/Akademi mengalami hambatan karena anak saya menggunakan kursi roda.Setahun sebelumnya saya menggagas buka lanjutan SLTA disalah satu Perguruan Tinggi di Jakarta bagi putra/i berkebutuhan khusus seperti autis ringan,downsyndrome,tunagrahita ringan dll.Jumlah mahasiswa sekitar 20 orang saat itu. Kenyataannya program pendidikan tidak jalan.Akhirnya saya mencoba mendirikan pendidikan non degree bidang budidiya ikan dan tanaman dengan dibina oleh Institut Pertanian Bogor. Seluruh Mahasiswa adalah yang mempunyai hambatan , ada yang slowlearner,penyandang kursi roda,autis ringan dll.

Rumah saya sulap menjadi Kampus. Tujuan kuliah bukan untuk cari gelar tapi memberi bekal agar mereka nantinya bisa mandiri dalam usaha budidaya ikan atau tanaman atau bidang usaha lain yang diminati. Metode pengajaran diubah sesuai dg kebutuhan mereka walaupun tetap tidak keluar dari kurikulum yang telah digariskan.Saat ini kuliah sudah berjalan 3 bulan dan sudah ada perubahan yang berarti.

Bagi para pemerhati pendidikan barangkali bisa memberikan masukan kepada saya, dan bagi yang memiliki putra/putri berkebutuhan khusus dan masih ingin kuliah,silahkan hubungi say di k.penagading @gmail.com. No.telp 021 8581369 Terima kasih

Hak Normatif Mahasiswa

Artikel:
Hak Normatif Mahasiswa


Judul: Hak Normatif Mahasiswa
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): Muhammad Rizal.SE.,M.SI
Saya Dosen di UNIMED
Topik: Kemahasiswaan
Tanggal: 26 Desember 2007

Hak Normatif Mahasiswa Refleksi sembilan tahun gerakan Reformasi)

Pendahuluan

Dalam perjalanan panjang bangsa-bangsa di dunia tidak ada sebuah pergolakan (baca: pergerakan) yang tidak di dorong oleh mahasiswa, sebutlah peristiwa malari tahun 1966 peristiwa lapangan tianmen sampai jatuhnya pemerintahan orde baru 1998. Gerakan mahasiswa ditahun 1998 adalah suatu gerakan yang paling masif dalam sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, dengan melibatkan jutaan mahasiswa dalam sebuah komitmen gerakan reformasi, gerakan ini berhasil melengserkan kekuasaan selama 32 tahun.

Tak satu pun tokoh-tokoh besar politik dunia yang bukan seorang aktifis, di Indonesia sebutlah misalkan Sukarno, Hatta, Amin Rais, Akbar Tanjung dan lain sebagainya. Pertanyaan yang mendasar adalah mengapa mahasiswa yang selalu menjadi motor pergerakan dan perubahan suatu bangsa? dan hak serta kelebihan seperi apa yang di miliki mahasiswa sehingga memiliki predikat agent of Chenges (agen dari perubahan)?

Mahasiswa dan lingkungan Akademik

Mahasiswa sebenarnya adalah sebutan dari sekelompok warga belajar di perguruan tinggi yang mengenyam pendidikan untuk orang dewasa dengan pendekatan kemandiriaan, tidak ada yang istimewa dalam proses ini selain pendekatan pengajaran yang menekankan pada pemberian ilmu 25 % materi yang diberikan dosen dan 75% kemandirian, kemandirian ini sebenarnya menjadi sebab mahasiswa lebih kreatif dalam proses pencarian ilmu. pengalaman menempa sebuah kerangka pemikiran idiologis dalam wacana pemikiran yang terbuka, wawasan yang di kembangkan dalam sistem pendidikan dikampus menjadi pemicu lahirnya pemikir-pemikir muda yang haus akan penyempurnaan ilmu pengetahuan dalam idialisme yang kental. Di tambah lagi pada usia 18 s/d 25 adalah usia pancaroba (dalam konteks pencarian diri dan pendewasaan pemikiran) karenanya mahasiswa selalu dianggap agent of Chenges (agen dari perubahan)

Lingkungan akademis yang mengajarkan penalaran, logika, pemikiran secara ilmiah, kemandirian, demokratisasi yang biasa disebut lingkungan akademis (ilmiah: berdasarkan sains/ ilmu) telah mengantarkan mahasiswa berpikir kritis, terbuka dan merdeka ditambah lagi dengan tujuan universitas sebagai lembaga yang mendukung pembangunan masyarakat dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; (poin c) berperan besar dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, adil dan makmur; (poin e PP tentang BHMN UGM 26 des 2000) akhirnya mengatarkan mahasiswa pada posisi sebagai kekuatan moral yang mandiri dan demokratis mengikuti tujuan dari universitas sebagai lembaga akademis

lingkungan mahasiswa dalam kampus yang memiliki dimensi Tridarma perguruan tinggi yang menekankan kepada pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah pula mengukuhkan kampus sebagai lembaga yang bebas, merdeka dalam berpikir serta kritis terhadap lingkungan yang tidak sesuai dengan keilmuan yang di ajarkan, kondisi ini semakain kuat menjadikan mahasiswa pada posisi yang tidak jarang berseberangan dengan kepentingan politik kelompok, agama, budaya dan strata sosial yang menghendaki status quo, pada proses inilah yang melahirkan pertarungan- pertarungan panjang idiologi antara kepentingan rakyat yang di aspirasikan oleh mahasiswa dan kepentingan- kepentingan kelompok, golongan di lain pihak, pertarungan ini terkadang membawa dampak mahasiswa harus berhadapan pada moncong senjata, pentungan petugas, gas air mata dan intimidasi kelompok-kelompok preman yang mencoba memaksakan pemahaman kepada mahasiswa.

Kesadaran akan perubahan yang di tempa dalam alam keterbukaan pemikiran yang bebas dan merdeka menjadi sebab mengapa mahasiswa menjadi komonitas paling sering menjadi kritikor, pendemo dan istilah-istilah lainnya. Pertarungan antara idealisme yang di dapat di kampus (teori) dengan praktek yang terjadi dimasyarakat yang selalu saja berbeda dan menyimpang sering menggugah jiwa muda untuk segera mengkritisi dan mendorong perubahan, itu pula mengapa mahasiswa idiologis sering diartikan sebagai oposisi atau oposan.

Hak nomatif mahasiswa dalam lingkungan Akademis

Lingkungan kampus yang di identikan dengan akademis ternyata tidaklah seperti yang di gambarkan dalam visi serta misi universitas, terkadang kampus dimasuki, serta disusupi oleh kepentingan politik semisal parpol dan negara, tak jarang kekuasaan masuk sampai kampus dalam tataran kebijakan dan teknis, rektor yang bukan merupakan jabatan politis dalam kenyataanya tidaklah berbeda dengan jabatan politis semisal walikota dan bupati apa lagi pada kondisi negara ini yang masih belajar berdemokrasi. kondisi seperti ini takjarang menyebabkan kampus seperti negara kecil yang penuh dengan polemik dan intrik yang pada akhirnya menyebabkan mahasiswa kehilangan hak-hak normatifnya.

Hak nomatif mahasiswa mengikuti hak normatif yang ada pada warga negara yang biasa disebut hak azasi ditambah hak yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tabun 1990 Bab X pasal 106 memuat 11 butir hak mahasiswa dan pada Pasal 107 memuat 6 butir kewajiban mahasiswa. Adapun hak hak mahasiswa adalah sebagai berikut:

pertama Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik, kedua Memperoleh pengajaran sebaik baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan, ketiga Memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi dalam rangka kelancaran proses belajar ke empat Mendapat bimbangan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikutinya dalam penyelesaian studinya ke lima Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikutinya serta basil belajarnya. Ke enam Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku ke enam, Memperoleb layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku dan lainnya

Sedangkan kewajiban kewajiban mahasiswa adalah pertama lkut menanggung biaya penyelenggaraan pendidìkan kecuali bagi mahasiswa yang dibebankan dari kewajiban tersebut sesuai degan peraturan yang berlaku, kedua Memenuhi semua peraturan/ketentuan yang berlaku pada perguruan tinggí yang bersangkutan, ketiga lkut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan perguruan tinggi yang besangkutan, ke empat Menghargai Ilmu pengetahuan, teoknologi, dan /atau kesenian dan kelima Menjaga kewibawaan dan nama baik perguruan tìnggi yang bersangkutan

Hak normatif mahasiswa dalam bernegara

Hak normatif mahasiswa sebagai warga negara sama dengan warga negara lainnya seperti mendapatkan pendidikan, kebebasan berbicara dan berpendapat, kesehatan, keadilan dan sebagainya ditambah dengan Kebebasan akademis yang di peroleh dari kampus

Hak Kebebasan akademis sebagai nilai tambah (Value Add) mahasiswa inilah yang harus dijaga sebagai gerakan moral yang murni, lepas dari segala kepentingan dan tarikan-tarikan politik kekuasaan, kebebasan akademis yang biasanya di wujutkan dalam gerakan pembaharuan yang membawa hati nurani rakyat harus dijaga independensinya mengikuti visi dari sebuah universitas dimana mahasiswa itu menuntut ilmu.

Urgensi sebuah gerakan

Gerakan perubahan biasanya merupakan klimaks dari sebuah gagasan pemikiran yang telah terstuktur dari seluruh komponen masyarakat secara umum, yang merupakan bagian dari kepedulian mahasiswa terhadap lingkungannya yang berperilaku tidak seperti yang diajarkan di kampus, bisanya keterpanggilan ini akan dinama dengan sebuah tanggungjawab yang pada akhirnya akan diberi cap oleh masyarakat sebagai kewajiban mahasiswa untuk mendorong perubahan yang terjadi pada suatu tatanan masyarakat.

Gerakan akan perubahan yang merupakan kewajiban terhadap masyarakat dan hak dari setiap mahasiswa untuk menyalurkannya adalah suatu yang sangat penting, sama halnya dengan fitrah hidup manusia yang selalu bergerak dan tidak statis, mahasiswa sebagai agen perubahan harus terus melakukan gerakan-gerakan yang mendorong sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan menuju kearah yang di namis.

Ambifalensi yang terjadi adalah ketika mahasiswa telah di masuki oleh kepentingan-kepentingan politik jangka pendek, menyebabkan gerakan mahasiswa yang murni di kotori oleh kepentingan- kepentingan sesaat semisal aksi dukung mendukung pemilihan; legeslatif dan eksekutif seperti; Bupati, walikota, Gubernur dan Presiden. Kondisi ini selalu saja akan membawa implikasi terpecahnya gerakan mahasiswa, tumpulnya idiolegi dan menyebabkan gerakan mati muda, seperti gerakan reformasi yang saat ini terjadi. Kita berharap suatu saat nanti perubahan yang di dorong oleh mahasiswa tidak lagi mati muda seperti kondisi yang berulang-ulang terjadi.... semoga

* adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998 dalam Forum Mahasiswa Sumatera Utara (FORMASU) kini dosen Akuntansi Unimed. E-mail; ri4al@yahoo.com

BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?

Artikel:
BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?


Judul: BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?
Bahan ini cocok untuk Sekolah Lanjutan TP bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): imam wibawa mukti,s.pd
Saya Guru di SMP Taruna Bakti
Topik:
Tanggal: 18 Juni 2008



Dalam kegiatan mengajar, keberadaan siswa cerdas istimewa sering terabaikan. Hal ini disebabkan ketidakpahaman guru maupun sekolah dalam mengidentifikasi, memahami dan mengetahui berbagai hal tentang keberadaan siswa cerdas istimewa.

CERDAS ISTIMEWA?

Menurut Renzuli, anak cerdas istimewa adalah anak yang memiliki tiga komponen diatas rata-rata teman sebaya, yaitu Intellegence Quotient lebih dan sama dengan 130,Task Comitment dan Creativity Quotient diatas rata - rata (3). Dengan alat ukur ini maka siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan khusus yang bersifat individual untuk lebih memaksimalkan kemampuan mereka. Masalahnya muncul karena masih banyak guru yang belum mengenal karakteristik anak cerdas istimewa dan bentuk pelayanan yang tepat untuk memaksimalkan potensi terpendam mereka. (amanat Undang-undang No.2 Th 1989 tentang Sisdiknas pasal 24 ayat 6 dan Undang-undang Sisdiknas No.20 Th 2003 pasal 5 ayat 4).

Guru dapat melakukan pengamatan dini dengan memperhatikan beberapa karakteristik seperti diatas. Beberapa karakteristik lainnya diantaranya adalah seperti yang diungkap Prof. Dr. S.C. Utami Munandar yaitu mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat. Namun selain karakteristik positif diatas, anak cerdas istimewa juga memiliki karakter negatif diantaranya tidak sabaran, tidak suka campur tangan orang lain, tidak suka hal yang rutin, sensitif dan menyukai berpikir kompleks.

BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN MEREKA?

Karena mendapatkan pelayanan khusus merupakan hak mereka, maka semua sekolah wajib melakukan perbaikan dan pembenahan dalam menangani anak cerdas istimewa. Memang ada beberapa sekolah yang melaksanakan program akselerasi sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak cerdas istimewa, namun keberadaan mereka yang mungkin ada di setiap populasi (hasil penelitian menyebutkan 2 - 5 % dari jumlah populasi potensial cerdas istimewa) masih belum dapat merasakan pelayanan yang tepat, maka semua sekolah wajib memberikan layanan kepada mereka dengan maksimal.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan pendampingan pendidikan kepada anak cerdas istimewa diantaranya adalah :

Pertama, kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional dan lokal yang telah dimodifikasi dengan memasukan unsur pengayaan, pendalaman dan pemilihan materi essensi sehingga kurikulum dapat bersifat fleksibel dan mampu merangsang daya kreatif siswa. Kurikulum ini disebut dengan kurikulum berdiferensiasi. Guru dituntut untuk dapat melakukan rekayasan kurikulum secara cerdas sehingga memungkinkan guru dan siswa melakukan improvisasi dalam kegiatan belajar.

Kedua, metode pembelajaran. Karena karakteristik anak cerdas istimewa salah satunya adalah cepat bosan dan senang melakukan proyek sendiri, maka guru dituntut untuk kreatif dan cepat tanggap terhadap tingkat kebutuhan siswa. Siswa cerdas istimewa cenderung mudah bosan dengan materi yang bersifat hapalan dan banyak menulis. Memberikan tugas atau proyek dengan skala besar dan membutuhkan perhatian yang ekstra dan menantang sangat digemari mereka. Misalnya menugaskan siswa untuk mempersiapkan materi tertentu untuk kemudian mereka presentasikan di depan teman-temannya.

Ketiga, evaluasi. Evaluasi siswa cerdas istimewa harus dibedakan dengan siswa lainnya. Untuk mereka guru tidak bisa hanya menggunakan satu jenis tes seperti "pen and paper test". Guru bisa menguji mereka dari kemampuan presentasi, cerita, pentas drama, proyek, lisan, quiz atau membaca buku dengan bobot nilai diperlakukan dengan ulangan harian. Untuk memberi score pun lebih baik tidak terpaku pada angka 100, namun guru dapat memberikan nilai 120 atau 130 apabiila siswa mampu memberi jawaban lebih dari yang diharapkan. Hal ini akan meningkatkan motivasi mereka untuk meraih nilai optimal.

PENUTUP

Akhirnya, bagaimanapun sekolah dan guru harus mampu memberikan layanan pada siswa cerdas istimewa karena itu adalah hak bagi mereka. Juga keberadaan mereka yang selama ini termarginalkan dapat lebih eksis dan mampu menjadikan diri mereka sebagai asset bangsa di masa depan.

Pelayanan kepada siswa cerdas istimewa ini pun sejalan dengan program pendidikan inklusi yang memberikan perlakukan sama kepada semua siswa dengan berbagai ciri dan karakter yang berbeda di semua sekolah.

Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru serta Koordinator Program Akselerasi SMP Taruna Bakti dan
Sekretaris Resource Center Keberbakatan Jawa Barat
Jln. LL.RE Martadinata 52 Bandung (022) 4261468 085624098017

Peran Kerja Siswa Dalam Mengupayakan Pendidikan Menjadi Nomor Satu

Artikel:
PERAN KERJA SISWA DALAM MENGUPAYAKAN PENDIDIKAN MENJADI NOMER SATU


Judul: PERAN KERJA SISWA DALAM MENGUPAYAKAN PENDIDIKAN MENJADI NOMOR SATU
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): BHINUKO WARIH DANARDONO
Saya Mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta semester 8
Topik: PERAN KERJA SISWA DALAM MENGUPAYAKAN PENDIDIKAN MENJADI NOMER SATU
Tanggal: 14 September 2006



Di sini kita ketengahkan mengenai bagaimana peran kerja murid dalam mengupayakan pendidikan ini agar pendidikan adalah nomer satu. Memang dari hal ini pentingnya pendidikan itu sangat memberikan makna yang kompeten karena didasari oleh kemampuan pola pikir murid dan juga kepribadian murid. Arti penting pendidikan itu adalah membawa sebuah kebanggaan tersendiri seperti misalnya prestasi-prestasi di sekolah, prestasi dalam tim olimpiade di luar negeri dengan prestasi ini maka murid akan membawa nama harum bangsa kita. Persolan-persoalan dalam dunia pendidikan ini sangat mengacu sekali pada kemampuan daya berpikir murid dari satu murid ke murid lainnya oleh karena ini kita akan tahu mana murid yang berprestasi dan mana murid yang tidak berprestasi.

Upaya pemerintah dalam menindak lanjuti tentang pendidikan itu pemerintah lebih melihat siswa itu dari segi sektor pergulan pendidikan dan sifat dan karakteristik murid dalam kesehariannya. Dari sini sektor pergaulan itu ada 3 yaitu pergaulan di lingkungan rumah, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah begitu juga dengan sektor pendidikan juga sama kalau sektor pendidikan dibagi 3 yaitu pendidikan dirumah, pendidikan di masyarakat dan pendidikan di sekolah. sebelum kita berlanjut ke hal berikutnya kita bahas terlebih dahulu yang pertama mengenai sektor pergaulan, sektor ini dibagi 3 yaitu dirumah,di masyarakat dan di sekolah. sektor pergaulan dirumah yaitu bagaimana dia bergaul berkomunikasi dengan keluarganya apakah dia nyaman, dapat kasih sayang ,dukungan atau tidak oleh keluarganya dalam hal ini kakak adik ayah dan ibu karena dari sektor pergaulan dirumah inilah nantinya anak ini bisa maju dan berhasil. pergaulan di masyarakat apakah dia bisa beradaptasi di masyarakat atau tidak karena masyarakat adalah kuncinya manusia itu bisa berkembang dan punya banyak teman dan juga punya rasa sopan santun, hormat menghormati dan lain sebagainya.

Sektor pergaulan di sekolah antara lain apakah dia bisa beradaptasi tidak dengan orang lain yan sama sama bersekolah disekolahnya. Sektor pendidikan ada 3 yaitu dirumah, dimasyarakat dan di sekolah. Sektor pendidikan dirumah antara lain dapat bimbingan pengajaran dari orang tua tentang didikan ajaran baik dan buruknya dan juga yang lain, sektor pendidikan dimasyarakat antara lain menyangkut tentang tata krama atau sopan santun terhadap orang yang lebih tua dan lain sebagainya, sektor pendidikan di sekolah antara lain belajar hormat menghormati dan berkumpul atau bergaul. Dari beberapa sektor yang sudah dibahas satu persatu ini dapat disimpulkan bahwa manusia itu tak luput dari orang lain dan manusia itu tidak bisa individu karena manusia itu diciptakan oleh Allah itu untuk bersama sama dengan orang lain.

Murid adalah junjungan yang patut dibanggakan karena kalau muri berprestasi dan dan meraih gelar maka murid dapat membawa nama baik keluarga masyarakat dan juga negara tercinta kita ini.Kita tahu banyak generasi mudah sekarang ini yang senangnya hura-hura yaitu sering mabuk-mabukkan dan ngedrugs, sering tawuran, berkelahi, dan lain,lain halnya. Dengan perilaku generasi mudah kita ini maka negara kita ini yang terlalu banyak dilecehkan oleh negara lain dan negara kita ketinggalan oleh negara lain mengenai permasalahan pendidikan ini. kita ini lemah karena ada barang baru masuk ke Indonesia pun ikut mencoba-coba misalnya yang tadi miras dan obat obatan terlarang ini yang beredar sekarang .

Menghargai Keunikan Anak

Artikel:
Menghargai keunikan anak


Judul: Menghargai Keunikan Anak
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): fima rosyidah
Saya Mahasiswi di UNY
Topik: kecerdasan majemuk
Tanggal: 2 April 2005


MENGHARGAI KEUNIKAN ANAK

Setiap anak memiliki keunikan yang berbeda-beda. Oleh karena itu diharapkan orang tua dan pendidik dapat mengenali keunikan-keunikan tersebut dalam bentuk kecerdasan. Dahulu kita mengenal Intelligence Quotient (IQ) yang diperkenalkan oleh Alfred Binet, dimana IQ akan menentukan keberhasilan pendidikan anak. Sedangkan, pada saat ini Gardner telah mengenalkan kita dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) Setiap anak memiliki semua kecerdasan yang disebutkan oleh Gardner, dimana kecerdasan linguistik, logis-matematis, kinestetik-jasmani, musikal, antarpribadi, interpribadi dan naturalis diharapkan dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki manusia. Setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan setiap kecerdasan yang mereka miliki dengan bimbingan orang tua dan guru. Mereka juga dapat menunjukkan kemampuan yang sesuai dengan kecerdasannya.

Seorang anak yang "bodoh" di dalam kelas, dimana selalu mendapat rangking terakhir bukanlah anak yang tidak cerdas. Setiap anak, pasti memiliki kecerdasan yang disebutkan oleh Gardner. Mungkin anak yang tertinggal tersebut tidak memiliki kecerdasan logis-matematis atau linguistik yang banyak dimaksimalkan di dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kemungkinan dia memiliki kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan antarpribadi, kecerdasaran interpribadi atau kecerdasan naturalis.

Anak anda mungkin senang menulis cerpen, puisi atau juga memiliki prestasi tinggi dalam mata pelajaran menulis. Dari kecenderungannya ini, anak tersebut memiliki kecerdasan linguistik (bahasa). Tapi, jika anda pernah diberi pertanyaan oleh seorang anak seperti "mengapa langit biru" atau "dimana akhir alam semesta", maka anda perlu menyadari bahwa anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengikuti kecerdasan logis-matematisnya. Selain itu, seorang anak juga ada yang lebih senang menirukan gerakan orang lain dari pada menggambar. Jika dia senang bergerak menirukan orang lain maka ia memiliki kecerdasan kinestetik-jasmani. Kemudian, anak yang lebih senang menggambar dan menonjol dalam mata pelajaran seni memiliki kecerdasan spasial.

Setiap anak juga memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar yang lebih senang diiringi musik biasanya memiliki kepekaan terhadap musik. Menurut Armstrong (2002: 31), anak tersebut memiliki kecerdasan musikal yang perlu diasah dengan memberikan aktivitas belajar melalui musik.

Salah satu cara untuk melihat kecerdasan apa yang dimiliki seorang anak, kita bisa memperhatikan mereka saat bermain. Sering kali ketika bermain, anak lebih senang sendiri atau bergabung dengan teman-temannya. Jika dia lebih senang bersosialisasi dengan teman-temannya atau bahkan belajar bersama-sama, anak tersebut memiliki kecerdasan antarpribadi. Selain itu, anak yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah teman sebayanya juga memiliki kecerdasan ini. Tetapi, jika anak anda lebih senang belajar dan beraktivitas sendiri, maka dia memiliki kecerdasan interpribadi. Biasanya anak tersebut memperlihatkan sikap independen dan kemauan yang kuat.

Lingkungan alam di sekitar kita bisa dijadikan sebagai objek yang menarik bagi anak yang memiliki kecerdasan naturalis. Kecenderungan anak ini akrab dengan hewan peliharaannya atau tumbuhan yang dia rawat. Jangan heran, jika anak anda senang membawa pulang tumbuhan atau hewan untuk ditunjukkan kepada keluarganya.

Dari kedelapan kecerdasan tersebut, orang tua maupun pendidik perlu untuk menyadari adanya perbedaan kemampuan anak. Dari semua kecerdasan ini, anak dapat diarahkan sesuai dengan kecerdasan yang ia miliki. Sekolah, sebagai institusi yang mewadahi pendidikan perlu mempertimbangkan kecerdasan yang dimiliki anak supaya mereka dapat memperkuat kecerdasan yang mereka miliki.

Quo Vadis Ekstrakurikuler


Artikel:Quo Vadis Ekstrakulikuler
Judul: Quo Vadis Ekstrakulikuler
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): tri hayat ariwibowo
Saya Guru di SMAN 3 Banjarbaru, KALSEL
Topik:
Tanggal: 21 Februari 2008

Quo Vadis Ekstrakulikuler Sekolah (Oleh : Tri Hayat Ariwibowo, S.Pd)
Pada suatu kesempatan, penulis bertemu dengan orang tua murid. Beliau mengeluh karena nilai belajar si anak menurun. Orang tua siswa dipanggil ke sekolah oleh guru untuk diberitahu tentang kondisi belajar si anak. Menurut orang tua, si anak ke sekolah tiap hari bahkan sore hari juga ke sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler. Namun kenapa nilainya masih rendah. Si guru yang bijak kemudian menjelaskan mengapa nilai anak menurun. Diantara faktor penyebab menurunnya nilai tersebut adalah si anak terlalu aktif kegiatan ekstrakurikuler. Lho kok bisa ? Ternyata si anak aktif dikegiatan ekstrakurikuler sehingga mengesampingkan proses belajar yang wajib. Dengan termangut-mangut si orang tua tadi mendengarkan penjelasan guru. Rupanya penjelasan guru tadi masih dirasa kurang sreeg, makanya ketika bertemu penulis orang tua tadi masih bertanya. Berarti sekolah hanya mementingkan nilai, kalau begitu mengapa tidak dihapuskan saja ekstrakurikuler biar tidak mengganggu konsentrasi belajar anak ! Kalau memang tidak bermanfaat, ya mengapa tidak dihapuskan saja. Tetapi tunggu dulu. Potensi Siswa Ekstrakurikuler di sekolah seakan berada dalam dua sisi mata uang. Disatu sisi keberadaannya diperlukan siswa sebagai media untuk mengembangkan potensi diri, selain itu diharapkan mampu mengangkat dan mengharaumkan nama sekolah dengan prestasinya. Namun di sisi lain justru menjadi musabab menurunnya nilai siswa dan bukan tidak mungkin hanya menjadi formalitas saja untuk mencari keuntungan. Kenyataan di lapangan memang menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mendapat proporsi yang tidak seimbang, kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung disepelekan. Perhatian sekolah-sekolah juga masih kurang serius, hal ini terlihat dari kurangnya dukungan yang memadai baik dari segi dana, perencanaan, dan pelaksanaan, serta perannya sebagai bagian dari evaluasi keberhasilan siswa. Padahal dikalangan siswa, banyak proses aktualisasi potensi siswa yang terjadi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Misalnya aktualisasi tentang kepemimpinan, kesenian, olahraga, kepekaan sosial, nilai religius, dan sebagainya sering muncul ketika ekstrakurikuler. Jika dilihat secara mendalam, maka ada bebarapa manfaat mengukuti ektrakurikuler. Pertama, dapat mengakomodasi keragaman kecerdasan dan potensi siswa. Kedua, lebih mendekatkan pendidikan pada dunia riil. Ketiga, memiliki fleksibilitas yang tinggi dari segi program dan kurikulum. Keempat, pendidikan dilaksanakan secara menarik dan menyenangkan. Perlu diluruskan lagi bahwa kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual (IQ) saja, tetapi juga dilihat kecerdasan emosionalnya (EQ), kecerdasan kreativitasnya (CQ), dan kecerdasan religiusnya (RQ). Keberagaman kecerdasan ini sangat mungkin tidak terakomodasi selama proses pembelajaran. Sekolah hanya mengutamakan pencapaian logical dan mathematical intelegence. Padahal potensi anak beragam. Dengan demikian pemahaman dan pengelolaan ektrakurikuler yang baik akan membentuk siswa yang kreatif, inovatif, dan beradab. Memang, pada sekolah tertentu pengelolaan ekstrakurikuler belum menunjukkan hasil yang maksimal. Bahkan menimbulkan keprihatinan dan korban jiwa. Hal ini bukan tampa sebab. Kadang kala ekstrakulikuler menjadi ajang balam dendam bagi kakak-kakak senior kepada junior. Ini sudah tidak aneh lagi, apalagi jika berlaku undang-undang Senioritas ; pertama, senior selalu benar. Kedua, junior selalu salah. Ketiga, jika senior salah maka kembali ke pasal pertama. Kalau sudah begini, wah repot. Tentunya hal ini yang perlu dibenahi. Sekolah sekarang jangan hanya buat program ekstrakulikuler tetapi juga melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Menjadikan ekstrakerikuler sebagai salah satu andalan sekolah bukanlah persoalan mudah. Banyak hal yang harus dibenahi. Konferensi anak-anak sedunia di Gerenoble, Prancis tahun 1993 menyimpulkan bahwa kurikulum pendidikan formal memiliki kemampuan terbatas untuk menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konferensi ini juga merekomendasikan konsep pendidikan sains di luar sekolah melalui kegiatan-kegiatan ilmiah di luar sekolah. Hal tersebut membuat kulikulum formal menjadi terbatasi oleh birokrasi dan penjabwalan kegiatan yang terlambat. Akibatnya tidak seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi. Kondisi inilah yang sebenarnya dapat ditutupi oleh kegiatan ektrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler tidak seperti penjabwalan di dalam kelas. Pembuatan programnya pun terbilang mudah dan tidak serumit kurikulum formal. Program penyelenggaraan ekstrakurikuler dapat bersifat fleksibel sehingga sangat memungkinkan untuk mengadakan pendidikan yang integratif dan multidisiplin. Ekstrakurikuler membosankan Ekstrakurikuler sering terdengar membosanakan. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah sebagian besar masih bertumpu pada bentuk kegiatan yang berhubungan dengan penyaluran bakat dan minat siswa, seperti olahraga, kesenian, karya ilmiah, kesehatan, pramuka, pencinta alam, dan lainnya. Ekstrakurikuler masih belum menyentuh pada kegiatan yang mampu mempersiapkan siswa pada dunia kerja atau life skill. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis dunia kerja sebenarnya dapat dilakukan, seperti ekstrakurikuler wirausaha, otomotif, tata busana, tata boga, cetak sablon, internet, pengembangan bibit tanaman, pembuatan kolam ikan, pertanian hidroponik, dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler biasanya diikuti oleh siswa yang memang berminat pada kegiatan tersebut. Namun perkembangan psikologis anak di keluarga dan berhubungan dengan teman sepermainan menyebabkan alasan mengikuti ekstrakurikuler tidak lagi berdasarkan pada minat tetapi dapat juga dari faktor teman, misalnya ikut-ikutan saja. Atau juga faktor keluarga, yaitu bosan di rumah atau agar tidak disuruh-suruh di rumah. Maka ekstrakurikuler menjadi alasan yang tepat sebagai jalan keluar, apalagi ramai-ramai dengan teman atau doi, amoi asyiknya. Fleksibel, itulah yang dapat dilakukan agar ekstrakulikuler tidak membosankan. Pola pelaksanaan yang begitu-gitu saja diganti dengan pola integratif dan multidisiplin serta tidak melupakan fun. Misalnya, jika selama ini ektrakulikuler belum bisa menjadi suatu hal yang dibangggakan berarti ada yang salah. Atau sekedar menghabiskan anggaran biaya. Tentunya harus dirubah. Jika senior tidak bisa membimbing juniornya, maka ganti dengan tenaga yang memang ahli. Bayangkan selama 07.30-14.00 pelajaran wajib berlangsung, siswa bertemu dengan teman-teman sepermainan. Ketika ektrakulikuler juga demikian. Apalagi mereka tahu kualitas senior sehingga apresiasi mereka kurang. Mengapa tidak untuk mengambil dari luar sekolah atau instansi lain yang memang benar-benar berkualitas. Menciptakan pola kerja sama dengan instansi atau lembaga lain menjadi solusi. Ingat, serahkanlah pada ahlinya jika tidak tunggulah kehancurannya. Keuntungan Sesaat Yang lebih parah adalah adanya oknum-oknum guru yang mengambil keuntungan dari ekstrakulikuler. Penulis tidak tahu persis berapa anggaran tiap sekolah untuk kegiatan ekstrakulikulernya. Yang jelas, untuk yang satu ini biasanya ada dana pembinaan ataupun pengembangan diri. Walaupun tidak terlalu besar, namun yang namanya uang tetap saja berguna. Misalkan jika dalam satu semester program berjalan untuk kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan sebanyak 10-12 pertemuan namun hanya dilaksanakan 2 atau 3 saja, tentu ini merugikan bagi siswa. Apalagi jika tidak dilaksanakan sama sekali. Anehnya, oknum guru seperti ini santai saja seolah tidak tidak terjadi apa-apa. Malah ia berusaha mencari kambing hitam kepada siswa seolah mereka yang tidak aktif. Si guru tidak sadar bahwa ia telah menghilangkan kesempatan siswa untuk mengembangkan diri. Jika demikian bagaimana mau menghasilkan prestasi untuk membanggakan dan mengharumkan nama sekolah Tentunya yang begini ini yang harus direformasi. Alangkan adilnya jika tidak hanya senior yang memberikan materi tetapi juga bersinergi dengan guru dan siswa untuk melaksanakan ekstrakulikuler. Dari sini juga guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan potensi diri. Bagi guru yang jeli, ia dapat juga melihat seberapa besar apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar dengan kegiatan ektrakulikuler. Jika siswa terlalu asik dengan ekstrakulikuler maka guru dapat mengingatkan bahwa jangan meninggalkan hal yang wajib. Atau juga guru memberikan motivasi pengembangan diri bagai siswa yang kesulitan belajar melalui kegiatan ekstrakulikuler. Sehingga orang tua tidak perlu khawatir jika anaknya terlalu asik dengan ektrakulikuler nilainya akan jatuh karena guru mengawasi secara langsung. Jika ini mampu dilakukan guru maka ia berarti mampu mengembangkan 10 kompetensi guru secara baik. Terlebih dalam UU Sisdiknas No. 22/2003 terutama pasal 58 tentang evaluasi. Disebutkan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Inilah yang membuat profesi guru menjadi unik, ia tidak saja mengajar tetapi juga membimbing dan mengarahkan siswa.
Tri Hayat Ariwibowo, S.Pd Guru SMAN dan SMKN 3 Banjarbaru Tinggal di Banjarbaru
Email : aryasadewa@yahoo.com