Kamis, 09 Agustus 2007

Bermain Air itu Asyik!



"Mamaaa, lihat sini!" teriak Azkia. Ternyata ia ingin menunjukkan spons berwarna kuning yang berubah menjadi hijau karena dicelupkan ke dalam air yang diberi warna biru. Tapi spons itu berubah menjadi kuning lagi setelah airnya diperas. Waah! itu biasa buat orang dewasa, tapi bagi anak-anak ternyata sangat menakjubkan.

Sudah sebulan terakhir, sejak kami pindah rumah, anak-anak diberi jadwal khusus untuk bermain air. Pagi hari sekitar jam 8, ketika matahari mulai cukup hangat, mereka siap dengan perlengkapan rutin. Satu buah waskom cukup besar, gelas plastik, botol air mineral, corong plastik, mangkuk berbagai ukuran, dan mobil-mobilan dibawa ke halaman depan.

Mereka bisa bereksperimen dengan macam-macam kegiatan ciptaan mereka sendiri. Mencuci mobil-mobilan atau memandikan boneka dan menyiram tanaman. Cuka, soda kue, pewarna makanan cair, dan sabun pencuci piring juga bisa jadi media yang asyik untuk memunculkan kejutan dan kegembiraan. Tak kalah serunya dengan permainan di playground.

Setelah satu kali ditunjukkan cara membuat lelehan gunung api dari campuran cuka, pewarna merah, dan soda, mereka bisa membuat variasi lain dengan bahan-bahan itu setiap hari. Memang sih tangan dan baju jadi belepotan macam-macam warna. Tapi, keasyikan mereka mengeksplorasi banyak gagasan lewat air membuat masalah itu menjadi kecil.

Setelah mereka puas, baju basah dan kadang belepotan tanah, air mandi yang hangat siap menanti di kamar mandi. Seru! Pasti begitu, setidaknya itulah yang terlihat dari celotehan mereka yang riang tentang temuan hari ini. Hari menjelang siang dan matahari mulai tinggi, kegiatan pun beralih di ruangan.

Aktivitas yang asyik dengan air tentu saja hampir tak bisa dijumpai di kelas-kelas prasekolah. Bermain bebas untuk pembelajaran penuh kejutan dan menumbuhkan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Saya yakin, justru itulah modal mereka untuk mencintai belajar sepanjang hidupnya.

Salam pendidikan!

Minggu, 05 Agustus 2007

Bersekolah di Gerbong Kereta


Totto-chan berhenti melangkah ketika melihat gerbang sekolah baru itu. Gerbang sekolahnya yang dulu terbuat dari pilar-pilar beton yang halus. Nama sekolah tertera di sana dengan huruf-huruf besar. Tapi gerbang sekolah baru ini hanya terdiri atas dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih ditumbuhi ranting dan daun. Ini tumbuh,” kata Totto-chan. “Mungkin akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon!”. Kedua “tiang gerbang” itu memang pohon hidup, lengkap dengan akar-akarnya. Ketika berjalan mendekati tiang-tiang tersebut, Totto-chan harus memiringkan kepalanya untuk membaca nama sekolah, karena papan namanya terpasang miring akibat tertiup angin. “To-mo-e Ga-ku-en”.

Penggalan cerita di atas adalah hasil goresan pena Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya berjudul Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela. Sebuah buku yang mengangkat kisah nyata sang penulis semasa kecil, dengan kenangan-kenangan manis, lucu, sekaligus mengharukan selama ia bersekolah di gerbong kereta. Buku ini menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbitan di Negeri Jepang karena mampu terjual hingga 4,5 juta eksemplar dalam setahun.

Buku setebal 271 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat kegiatan bersekolah yang kita temui hari ini ternyata sudah semakin jauh dari kata “menyenangkan”. Belajar di sekolah seringkali hanya menjadi sebuah beban, yang kebanyakan motifnya lebih karena dipaksakan.

Sosaku Kobayasi, sang kepala sekolah tempat Totto-chan belajar adalah figur dari seorang konseptor pendidikan yang maju. Ia mencoba memahami anak-anak sedemikian rupa, sehingga lahirlah gagasan-gagasan pembelajaran yang mampu menghidupkan naluri belajar setiap anak sampai pada taraf kecintaan pada belajar itu sendiri. Anak-anak selalu antusias belajar tanpa harus didorong oleh motivasi supaya mendapat nilai tinggi atau lulus dalam ujian.

Gerbong Kereta yang Penuh Kejutan

Totto-chan adalah murid baru di Tomoe. Sebelum bersekolah di Tomoe, Totto-chan dianggap sebagai anak nakal. Ia selalu nampak melamun di kelas, namun kadang-kadang asyik mengobrol dengan sepasang burung walet ketika gurunya sedang mengajar. Sering ia berdiri di depan jendela untuk memanggil para pemusik jalanan memainkan alat musiknya. Berkali-kali gurunya terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar sampai para pemusik jalanan itu selesai bermain, karena anak-anak lain di kelasnya juga berebut menuju jendela untuk melihat tontonan itu. Akibat perilaku-perilakunya yang dianggap mengacaukan kelas, Totto-chan akhirnya dikeluarkan dari sekolah pertamanya itu.

Hal yang berbeda justru terjadi di Tomoe. Sekolah yang dibuat dari gerbong kereta ini, telah membuat Totto-chan yang mulanya dianggap “bermasalah” justru bisa menjadi begitu manis. Gadis kecil itu selalu bersemangat untuk belajar setiap hari, bahkan ia selalu merasa waktu berputar terlalu lama di malam hari. Ia ingin hari segera pagi supaya bisa secepatnya pergi ke sekolah.

Mengapa Totto-chan senang dengan sekolah barunya? Rupanya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Setiap hari di Tomoe Gakuen, gadis itu selalu mendapatkan banyak kejutan. Anak-anak selalu menemukan pelajaran-pelajaran baru yang disajikan dengan cara yang mengasyikan dan merangsang rasa ingin tahu. Tak heran jika setiap murid Tomoe akhirnya memendam rasa penasaran ketika sekolah usai. Dalam hati mereka selalu bertanya, kejutan apa lagi yang akan mereka temui esok hari?


Berorientasi pada Praktek
“Inilah guru kalian hari ini. Dia akan mengajarkan banyak hal kepada kalian.” Dengan kata-kata itu, kepala sekolah memperkenalkan seorang guru baru. Totto-chan mengamati guru itu dengan seksama. Kesan pertamanya, guru itu tidak berpakaian seperti guru. Di luar kaus dalamnya ia mengenakan kemeja lengan pendek bermotif garis-garis. Dia tidak berdasi dan lehernya berkalung handuk. Celana panjangnya terbuat dari kain katun celup warna biru. Pipa celananya sempit dan penuh tambalan.. di kepalanya bertengger topi jerami yang sudah usang…”

Mr. Kobayashi sering mengabaikan hal-hal yang bersifat formal demi pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid-muridnya. Itulah yang ia lakukan ketika ia hendak memberikan pelajaran tentang pertanian. Ia tak segan memilih seorang petani tulen yang mungkin tak pernah kenal bangku sekolah untuk menjadi guru bagi murid-murid di Tomoe dalam ilmu pertanian. Ia berpendapat bahwa akan lebih baik bagi anak-anak jika mereka belajar dengan langsung mempraktekkannya.

Sang guru pun segera mengajar di lapangan, di sebuah lahan berumput, agar anak-anak bisa melihat dan melakukan langsung tahapan-tahapan dalam bertani, dari mulai membersihkan rumput liar hingga menanam, menyiram, memupuk, dan memelihara tanaman yang tumbuh. Bagi anak-anak pengalaman itu sangat menakjubkan dan membuat mereka benar-benar bersemangat untuk mengamati setiap perubahan dan pertumbuhan dari tanaman yang telah ditanam. Satu hal lainnya yang terjadi karena kegiatan itu, anak-anak belajar menghargai siapapun yang memberikan ilmu kepada mereka sekalipun guru itu bukanlah seorang lulusan akademi yang berijazah.

Ketika pelajaran musik berlangsung, Mr. Kobayashi mempersilakan anak-anak untuk mempergunakan lantai kelas-gerbong mereka, yang dilapisi kayu, untuk dijadikan “kertas”. Dengan mempergunakan kapur, sambil tengkurap di lantai gerbong, anak-anak belajar menuliskan not yang dimainkan Mr. Kobayashi lewat piano. Jika ternyata masih salah, mereka dengan segera bisa menghapusnya. Sisa waktu yang mereka miliki sebelum jam pelajaran musik usai juga bisa dipergunakan untuk corat-coret bebas. Pelajaran ditutup dengan kegiatan bergotong royong menghapus semua coretan, mempergunakan kain pel yang sudah tersedia di sekolah.

Siapa sangka, kegiatan corat-coret itu ternyata berdampak sangat positif bagi anak-anak ketika mereka berada di luar sekolah. Secara berangsur-angsur, puasnya mereka melakukan corat-coret di sekolah membuat mereka tak lagi berminat untuk mencorat-coret sembarangan di dinding bangunan orang lain.

Melejitkan Rasa Percaya Diri
Bagaimana jadinya jika seorang anak ternyata terlahir cacat atau mengalami kecelakaan sehingga ia terpaksa menjadi anak cacat? Tidak banyak sekolah umum yang mampu melayani kekhususan mereka sehingga anak-anak itu tetap merasa berarti di tengah-tengah kawan-kawannya yang bertubuh normal.

Sosaku Kobayashi sangat peduli pada kondisi psikis anak-anak, terlebih pada anak-anak dengan keadaan khusus. Ia menciptakan situasi sekolah yang secara tidak langsung telah menumbuhkan rasa percaya diri pada murid-muridnya. Ia menunjukkan kepada semua anak, termasuk anak-anak cacat, bahwa mereka itu sama. Bentuk fisik anak-anak yang beraneka macam bukanlah halangan untuk belajar, dan bukan pula ukuran untuk menilai seseorang. Ia menekankan pada murid-muridnya bahwa setiap anak memiliki keistimewaan.

Hal itu ditunjukkan pada sebuah festival yang diselenggarakan sekolah. Pada waktu itu dibuatlah berbagai lomba ketangkasan. Uniknya, pemenang pertama dari semua lomba itu selalu sama, yaitu seorang anak yang bertubuh paling kecil dan pendek. Ia mampu memenangkan perlombaan justru karena tubuhnya yang khusus. Ternyata Mr. Kobayashi sengaja membuat permainan-permainan yang memungkinan anak itu untuk menang, dengan harapan perasaan minder yang menghantuinya bisa memudar.

Sosaku Kobayashi bahkan pernah menegur dengan keras seorang guru di Tomoe karena sang guru mengucapkan kata-kata yang menyinggung ketidaknormalan seorang muridnya di depan murid-murid yang lain. Tidak ada yang mampu melakukan semua itu, melainkan orang yang sangat peduli dan sangat mencintai murid-muridnya.

Ruang untuk Rasa Ingin Tahu
Sekolah sering disebut-sebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sayangnya, tak banyak sekolah yang memberi ruang cukup bagi murid-muridnya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Tentu saja akan begitu, karena waktu yang tersedia di sekolah jauh lebih sedikit dibandingkan target materi dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin berhamburan di otak murid-muridnya yang berjumlah puluhan.

Uniknya, Tomoe mampu memberikan ruang itu bagi setiap muridnya. Anak-anak di Tomoe boleh memilih apa yang ingin dipelajarinya terlebih dahulu, sesuai dengan minat mereka.

Ketika pelajaran dimulai di pagi hari, guru menyiapkan daftar pertanyaan mengenai apa yang akan diajarkan pada hari itu. Guru akan mempersilakan anak-anak untuk memilih pelajaran apa yang akan mereka pelajari terlebih dahulu. Setiap anak boleh memilih pelajaran yang berbeda. Anak-anak yang ingin belajar fisika segera sibuk dengan tabung-tabung percobaan dan mencatat hasil temuan mereka.
Anak-anak yang suka mengarang, mereka sibuk menulis sesuatu. Sementara itu, anak-anak yang ingin belajar biologi, mereka asyik mengidentifikasi tumbuhan atau hewan.

Anak-anak itu begitu antusias dan jelas tidak khawatir kalau rasa penasaran mereka akan terjegal oleh pilihan topik yang ditetapkan guru, sebagaimana umumnya kita temui di sekolah biasa.
Setiap anak akhirnya belajar secara mandiri. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa harus saling mengganggu. Sebagian ada yang menggambar, dan yang lainnya mungkin membaca buku.

Guru akan mendatangi setiap anak jika diminta, dan menjelaskan segala hal yang diperlukan hingga anak itu benar-benar mengerti.

Inspirasi untuk Perubahan
Buku, yang edisi terjemahannya di Indonesia sudah mencapai cetakan kesebelas pada September 2006 ini, telah memberikan inspirasi bagi para pendidik di negeri Jepang untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih baik dalam pembelajaran di sekolah. Buku ini bahkan dijadikan bacaan wajib bagi para guru, terutama pada pelajaran pertanian, musik, dan para guru di sekolah luar biasa.

Pada saat orang-orang Jepang merasa jemu dengan sistem pendidikan yang berlaku pada waktu itu, mereka seperti disegarkan oleh model sekolah ala Totto-chan yang dirancang Sosaku Kobayashi. Bagi siapa saja yang membutuhkan inspirasi untuk menciptakan model sekolah yang lebih dinamis, mutlak perlu membaca buku ini.

Jumat, 03 Agustus 2007

Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini


Bisa membaca di usia dini mungkin bukanlah segalanya. Ada hal yang lebih penting dari kemampuan membaca, yang justru agak sering terlewatkan, yaitu bagaimana membuat anak-anak senang dengan buku dan kegiatan membaca. Jika pembentukan kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang, ada anak yang sudah bisa membaca tetapi tidak tertarik dengan buku.

Akan tetapi, tidaklah pula berlebihan jika orang tua mulai menyediakan media belajar membaca (apapun itu) pada saat anak-anak terlihat begitu antusias dengan buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka masih berusia balita atau bahkan batita. Kontroversi tentang hal tersebut memang masih selalu hangat dibicarakan dan tak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu. Beberapa pihak bahkan melarang orang tua atau guru untuk mengajarkan keterampilan membaca pada usia dini, dengan alasan takut anak-anak jadi terbebani, sehingga mereka menjadi benci dengan kata "belajar".

Namun sejauh pengalaman saya, selama prinsip belajar 'fun' yang dikembangkan, materi apapun yang diajarkan kepada anak usia dini selalu direspon dengan baik dan anak-anak suka untuk belajar. Mengajak anak-anak untuk belajar membaca menurut saya jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menonton TV seharian. Tanpa kita sadari sesungguhnya anak-anak juga belajar sesuatu lewat TV, yang sayangnya lebih banyak berupa hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif.

Seputar metode belajar
Metode mengajar balita membaca sangatlah beragam. Karena begitu beragamnya, lagi-lagi kita akan menemukan perbedaan dasar pemikiran dari metode-metode tersebut. Meskipun kadang-kadang sering mencuat pertentangan yang tajam antar berbagai metode, kita tak perlu bingung. Kenali saja semua konsep yang ditawarkan, dan kenali pula gaya belajar anak-anak kita. Jika metode dan gaya belajar cocok, kita bisa lebih mudah memotivasi anak untuk belajar.

Berdasarkan telaah saya, sejauh ini di dunia belajar ini dikenal 2 metode besar, yaitu metode terstruktur dan metode tidak terstruktur (acak). Keduanya tidak lebih baik atau lebih jelek dari yang lainnya. Metode terstruktur dan tidak terstruktur (acak) bisa saling melengkapi sesuai karakter dua belahan sisi otak kita yang kini populer dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, runut (sistematis), analitis, logis, dan karakter-karakter terstruktur lainnya. Kita membutuhkan kerja otak kiri ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, angka, urutan, dan logika.

Adapun karakteristik otak kanan berhubungan dengan rima, irama, musik, gambar, dan imajinasi. Aktivitas kreatif muncul atas hasil kerja otak kanan.

Melalui deskripsi tentang karakteristik dua belahan otak tersebut, kita tentu bisa melihat bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Apa jadinya para kreator-kreator seni jika tak punya tim manajemen yang handal. Bisa kita bayangkan pula sepi dan monotonnya dunia ini jika penghuninya hanyalah para ahli matematika atau akuntansi yang selalu sibuk dengan angka. Secara personal, kita pun akan menjelma menjadi orang yang "timpang" jika tidak mampu menyeimbangkan kinerja dua sisi otak kita. Kita pun bisa tumbuh menjadi orang yang "ekstrem" dalam memandang belajar dan cara belajar.

Selain metode belajar, karakteristik anak-anak juga perlu kita ketahui dan pahami agar kita bisa merancang model-model belajar yang menarik minat anak. Beberapa karakteristik anak secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi lebih pendek (relatif)
2. Tidak suka diatur/dipaksa
3. Tidak suka dites

Ketiga ciri tersebut jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengajar balita membaca tak bisa dilakukan dengan cara-cara orang dewasa. Kita membutuhkan teknik-teknik yang lebih bervariasi dan adaptif terhadap kecenderungan anak-anak. Dan hanya satu kegiatan yang bisa melumerkan 3 karakteristik di atas yaitu BERMAIN. Mengapa? Karena dalam bermain anak-anak tidak menemukan tes, paksaan, dan batas waktu. Ketika bermainlah anak-anak menemukan kebebasan dirinya untuk berekspresi. Ketika bermain pula mereka menemukan kesenangan mereka.

Model-model belajar membaca untuk inspirasi
Belajar membaca lewat kosa kata
Kosa kata adalah pembentuk kalimat. Lewat kosa kata yang makin beragam, kalimat yang kita keluarkan pun akan semakin kaya. Lewat kosa kata, anak-anak akan belajar tak hanya kemampuan membaca tetapi juga perbendaharaan dan pemahaman akan kata-kata yang akan mereka gunakan dalam berbicara.

Variasi yang bisa digunakan diantaranya, kartu kata yang disajikan dengan model Glen Doman, poster kata yang ditempel di dinding, buku-buku bergambar yang kalimatnya pendek dan ukuran hurufnya cukup besar. Prinsip yang dipakai dari metode tersebut adalah belajar dengan melakukannya. BELAJAR MEMBACA dengan MEMBACA.

Hal-hal khusus yang menyertai model ini adalah kemungkinan anak-anak untuk mengenal pola lebih lama. Artinya, bisa jadi untuk bisa benar-benar membaca semua kata yang diperlihatkan kepada mereka (meski belum diajarkan) membutuhkan waktu yang cukup lama, tergantung kecepatan anak.

Belajar Membaca lewat Suku Kata
Model ini paling banyak digunakan, terutama di sekolah-sekolah. Prinsip dasarnya adalah terlebih dulu mengenali pola sebelum masuk pada fase membaca.

Belajar lewat suku kata misalnya ba bi bu be bo dan seterusnya juga memiliki efek tersendiri, diantaranya kecepatan membaca yang sedikit lambat jika tidak diiringi latihan langsung lewat buku atau bacaan-bacaan. Mengapa demikian? Karena anak-anak akan terbiasa dengan membaca pola lebih dulu baru membaca. Kerja otak kiri lebih dominan dalam hal tersebut.

Untuk mengimbanginya, kita harus lebih sering memotivasi anak untuk membaca kata-kata secara langsung lewat buku tanpa harus memilah suku katanya.

Belajar membaca dengan mengeja
Model ini di awali dengan pengenalan huruf baru kemudian merangkainya menjadi gabungan huruf dan kemudian kata. Sebenarnya metode ini sudah jarang digunakan orang karena memang terbukti cukup sulit bagi anak.

Kerja otak kiri akan semakin dominan jika kita memakai metode ini. Anak-anak harus melewati tiga tahapan menuju kata, yaitu huruf, suku kata, lalu kata. Memang ada anak-anak yang bisa belajar dengan metode ini, tapi lagi-lagi latihan membaca kata secara intensif harus mengiringinya agar anak-anak merasa percaya diri untuk membaca.

Belajar Multi Metode

Adakalanya spesialisasi itu baik untuk mengenal kedalaman suatu ilmu, tapi dalam belajar membaca kita bisa mempergunakan multi metode sekaligus tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional.

Dengan kata lain, kita bisa memperkenalkan pada anak-anak kita semuanya, huruf, suku kata, ataupun kosa kata. Catatan pentingnya tentu saja: sajikan dengan perasaan riang sehingga anak-anak kita pun mendeteksi kegembiraan dan ketulusan yang kita berikan pada mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.

Tersisa dari itu semua, "kita memang tak boleh berhenti belajar".

Salam pendidikan!

Selasa, 31 Juli 2007

Reka Cipta Ruang Pendidikan

Seorang ibu termenung di teras rumahnya. Pikirannya menerawang entah ke mana. "Sekolah di mana ya anakku?" pikirnya.

Surat tanda lulus yang ditunggu-tunggu justru memberitahukan ketidaklulusan anaknya dari SMP. Sudah bisa ia bayangkan sedihnya sang anak saat mengetahui hal tersebut.

Sejak bergulirnya kebijakan-kebijakan pendidikan yang tidak konsisten dan aspiratif dari pemerintah, banyak tangis dan ratapan kekecewaan terdengar di mana-mana.

Belum lagi masalah biaya sekolah yang makin melambung, standar kelulusan yang makin tinggi membuat resah semua orang yang berhubungan dengan sekolah formal. Masalahnya, ujian yang hanya berlangsung beberapa hari itu akan menentukan nasib semua peserta didik yang mungkin setiap hari rajin mengerjakan PR, hebat dalam ulangan harian, ataupun pandai berdebat dalam diskusi. Semua prestasi yang pernah diraih selama bersekolah tak lagi diperhitungkan ketika berhadapan dengan standar lulus ujian nasional.

Pendidikan adalah hak setiap orang. Siapapun dan dari kalangan manapun berhak memperoleh pendidikan yang baik. Namun melekatnya identitas pendidikan hanya pada sekolah formal telah membuat ruang pendidikan jadi menyempit.

Sekolah formal dianggap solusi satu-satunya untuk memperoleh pendidikan. Sementara biaya dan sistem administrasi rumit yang mengiringi sekolah formal ternyata justru mempersulit orang untuk mengakses pendidikan.

Padahal kalau kita renungkan sejenak, kehidupan adalah pendidikan terbaik. Tak perlu teori terlalu detail untuk membuktikan pernyataan tersebut. Bukankah apapun yang kita kuasai hari ini diperoleh dari banyak fase dan pengalaman yang tak terbilang jumlahnya. Sekolah formal hanyalah sebagian kecil dari sumber pengetahuan dan kecakapan kita.

Dunia kerja yang kita geluti bahkan sering tak bersesuaian dengan materi yang kita pelajari di sekolah. Lagi-lagi kita harus belajar banyak justru dari pekerjaan itu sendiri, dari pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu terjun di bidang tersebut.

Jadi, betapa luasnya ruang pendidikan itu sesungguhnya. Andai setiap orang membawa paradigma ini, maka betapa luas kesempatan yang bisa diperoleh siapapun yang ingin belajar dan mendidik diri dan anak-anaknya, karena setiap orang bisa menjadi guru dan sekaligus murid di manapun ia berada.

Pendidikan untuk Perubahan
Tak dapat kita sangkal, hanya pendidikan yang akan mengubah masyarakat menjadi lebih baik, lebih percaya diri, dan lebih produktif dalam arti yang sebenarnya. Hanya pendidikan pula yang akan mengubah masyarakat menjadi lebih menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi perdamaian, meninggalkan sifat-sifat hewani yang serakah dan penuh intimidasi untuk mencapai keinginan.

Adapun pendidikan yang dimaksud bukanlah ruang sesempit sekolah formal. Pendidikan adalah seluruh usaha untuk memelihara sifat-sifat dan potensi-potensi baik pada diri manusia dan membuang segala bentuk penyakit jiwa yang akan merusak kemanusiaan seseorang.

Siapapun yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan masyarakat bisa melakukan usaha-usaha nyata untuk melakukan hal tersebut, betapapun kecilnya, di manapun ia berada, tanpa harus menunggu gedung sekolah berdiri atau kucuran dana mengalir dari pemerintah.

Sudah semestinya pendidikan tak lagi terbentur dengan persoalan-persoalan biaya, persoalan baju seragam, persoalan gedung sekolah, dan atribut-atribut pelengkap lainnya yang sesungguhnya bisa ditiadakan.

Ingin pintar melukis, belajarlah dari pelukis. Ingin pandai memasak, belajarlah dari para ahli memasak. Ingin pandai berdagang, belajarlah pada para pedagang yang sukses.

Di manapun pendidikan diselenggarakan, apakah hanya di sekolah formal, sekolah nonformal,informal, ataupun di ruang yang lebih luas dari itu semua, terpenting adalah pendidikan itu bisa dengan mudah dinikmati semua orang tanpa memandang usia, status sosial,jenis kelamin, dan batasan-batasan lainnya.

Salam pendidikan!

Minggu, 29 Juli 2007

Melirik Kembali ”Homeschooling”

(dimuat di harian Pikiran Rakyat, 26 Maret 2006)

UJIAN kesetaraan paket A, B, dan C baru-baru ini sudah dilaksanakan secara serentak. Uniknya, ujian kesetaraan tahun ini tidak hanya diikuti oleh mereka yang mengikuti sekolah terbuka atau nonformal, melainkan juga siswa sekolah formal yang tahun ini tidak lulus ujian nasional.

Bagi anak-anak dari sekolah formal, ujian kesetaraan itu mungkin menyisakan sedikit rasa kecewa. Mereka jelas membayar jauh lebih mahal untuk seluruh kegiatan belajar yang sudah dilakukan jika dibandingkan teman-temannya dari sekolah terbuka; namun penentuan kelulusan sama-sama ditetapkan oleh ujian kesetaraan.

Fenomena tersebut mungkin tampak tidak adil bagi mereka yang memilih sekolah formal. Namun bagi para pelaku atau peminat pendidikan alternatif peristiwa itu memberikan semacam kekuatan untuk terus berkreasi dengan model-model baru pembelajaran.

Ketika awalnya sekolah terbuka atau sekolah nonformal hanya dipandang sebelah mata, namun ujian kesetaraan yang berlaku umum membuat model sekolah tanpa gedung ini patut dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan. Tentu saja bukan lagi selalu biaya yang menjadi alasan untuk memilihnya, melainkan juga sudut pandang subjektif lainnya, seperti kualitas kurikulum, kualitas guru, atau kualitas metode pengajaran di sekolah yang dianggap kurang efektif.

Model pendidikan tertua

Pendidikan formal baru terselenggara selama kurang lebih 150 tahun. Itulah model pendidikan era revolusi industri yang secara berangsur-angsur menggantikan hampir seratus persen model pendidikan tradisional yang biasanya dilakukan oleh keluarga di rumah-rumah mereka. Meskipun terus menyisakan banyak persoalan, keberadaan pendidikan formal hingga kini masih dianggap sebagai solusi bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan, namun memiliki keterbatasan waktu atau ilmu untuk mengajar anak-anaknya.

Sebelum jenis pekerjaan di sektor formal bermunculan, kebutuhan akan pendidikan formal belum terlalu besar. Kurikulum atau muatan pendidikan lebih dititikberatkan kepada life skills (keterampilan hidup) sebagai bekal untuk memenuhi keperluan hidup serta etika perilaku yang didasarkan atas nilai-nilai agama ataupun adat kebiasaan masyarakatnya masing-masing. Proses belajarnya sendiri dilakukan di rumah masing-masing oleh orang tua ataupun keluarga besar. Hanya ketika anak-anak dianggap perlu memiliki keterampilan tambahan, orang tua mengirimnya "berguru" kepada orang-orang yang memang ahli di bidangnya.

Film Minggu siang berjudul, Little House on the Prairie yang pernah ditayangkan TVRI sekitar tahun 80-an silam menggambarkan kehidupan orang Amerika pada tahun 1870-an. Keluarga Charles yang dijadikan tokoh dalam cerita film itu adalah model keluarga harmonis yang menyukai belajar. Hal-hal pokok pendidikan pada masa itu, seperti prinsip-prinsip moral, bertani, beternak, dan keterampilan menjahit untuk wanita, semua dilakukan di rumah, dengan ayah-ibu sebagai gurunya. Baru ketika anak-anak dianggap perlu untuk belajar membaca dan menulis, orang tua mengirimnya ke sekolah.

Kalau kita menelusuri biografi para tokoh berpengaruh di masa lalu, sesungguhnya mereka pun ditempa oleh pendidikan "rumah" terlebih dahulu sebelum akhirnya merantau untuk berguru ke berbagai pelosok tempat. Dasar-dasar pendidikan dikuatkan di dalam keluarga, sehingga ketika anak-anak itu sudah dewasa, mereka mampu terus membawa spirit belajar ke mana pun mereka pergi. Mereka bisa belajar kepada banyak guru dari beragam disiplin ilmu, tanpa harus melewati jalur birokrasi yang rumit.

Oleh karena itulah, kalau homeschooling kini dilirik kembali sebagai sebuah model pendidikan, sebenarnya hal itu sangat memungkinkan dan bukan hal yang aneh.

Karena model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak sesungguhnya hanya bisa dipenuhi oleh orang yang peduli dan sangat memahami anak-anak tersebut. Dan tidak ada orang yang paling peduli dan paham tentang anak-anak, kecuali orang-orang yang mengasuhnya; dan jika anak-anak itu diasuh oleh orang tuanya, tentu orang tualah yang paling mengerti mereka.

Kurikulum yang fleksibel

Secara substansi, materi pelajaran ala sekolah formal bisa diadaptasikan dengan mudah di mana pun, termasuk di rumah. Bahkan ada banyak kelebihan yang bisa diperoleh jika itu dilakukan di rumah, yaitu terlaksananya pembelajaran secara individual. Dengan pembelajaran individual, guru akan lebih mudah mengamati keterserapan materi pelajaran oleh siswa. Oleh karena itu pula, siswa dapat menguasai pelajaran apa pun secara mendalam, karena waktu yang tersedia untuk bertanya dan menemukan jawaban jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang belajar di sekolah secara klasikal dengan murid yang mencapai puluhan orang.

Selain itu, pendidikan di rumah memungkinkan orang tua sebagai guru utama, bisa menetapkan muatan-muatan tambahan pada setiap pelajaran, dan bahkan bisa memperkaya kurikulum pembelajaran dengan tambahan pelajaran lain yang mungkin tidak bisa diperoleh di sekolah. Semua didasarkan kepada kebutuhan setiap anak, sesuai minat dan bakatnya.

Orang tua yang siap menjadi pembimbing dalam proses belajar anak-anaknya memang akan sedikit lebih sibuk dengan buku dan sumber-sumber pengetahuan lainnya. Karena anak-anak yang belajar di rumah biasanya memiliki rasa ingin tahu lebih banyak terhadap apa yang mereka temui. Satu hal yang menarik, seperti pengalaman ratusan pelaku homeschooling di Amerika yang dituturkan Linda Dobson dalam bukunya "Homeschooling: The Early Years", guru (dalam hal ini orang tua) lebih sering menempatkan dirinya bukan sebagai pemecah persoalan atau pemberi jawaban. Guru hanya memosisikan dirinya sebagai pemandu yang mungkin juga masih harus belajar lagi ketika data atau kesimpulan tidak bisa ditemukan. Guru tak segan untuk berkata "tidak tahu" dan selanjutnya mengajak anak-anak untuk bersama-sama mencari tahu.

"Fun", itulah kuncinya. Temuan Jeanette Vos dan Gordon Dryden tentang pembelajaran semakin menguatkan kelebihan pembelajaran individual yang paling mungkin dilakukan di rumah. Vos dan rekannya tersebut mengatakan, bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Kondisi itu hanya bisa terwujud jika guru dan muridnya berada dalam keadaan senang mengajar dan ingin belajar.

Jadwal belajar yang ketat seperti halnya di sekolah kurang mampu mengakomodasikan kepentingan ini. Bisa jadi, pada saat pelajaran berlangsung, siswa dan juga gurunya sedang malas untuk belajar. Efeknya tentu bisa kita tebak, proses belajar-mengajar menjadi tidak efektif. Esensi pelajarannya pun, mungkin terbang tanpa sempat "tertangkap" otak.

Berorientasi kepada anak

Pengelompokan anak-anak berdasarkan usia seperti halnya di sekolah formal hampir tidak pernah terjadi dalam pendidikan di rumah. Bahkan seringnya, anak-anak dibiarkan berkembang sesuai kemampuannya, bisa lebih cepat dari usia rata-rata anak pada umumnya, atau mungkin juga lebih lambat. Fokus orang tua adalah membantu anak-anaknya untuk terus berkembang sesuai dengan kemampuan mereka.

Bobot pelajaran ditingkatkan ketika anak-anak dianggap sudah siap untuk maju. Pelajaran diberikan ketika anak merasa siap untuk mempelajarinya. Anak usia 4 tahun yang belum ingin menulis, tak perlu dipaksa untuk menulis. Karena bisa jadi, motorik halusnya belum sempurna. Mereka bisa diarahkan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan persiapan menulis, seperti bermain lempung, meronce manik-manik, atau bermain air dan pasir. Semua dirancang sangat dinamis, dan dalam hal ini anak-anak dipandang sebagai subjek, dan bukan objek dalam belajar.

Payung hukum

Amerika merupakan salah satu negara yang sudah secara terbuka menerima konsep pendidikan di rumah, dengan menyediakan layanan ujian penyetaraan untuk setiap anak dari beragam usia. Di Indonesia sendiri, ujian persamaan paket A, B, dan C untuk sementara ini cukup membantu masyarakat pelaku homeschooling untuk mengurus legalisasi pendidikan anak-anak mereka, walaupun hal itu sebenarnya bukan target utama. ***

Kamis, 26 Juli 2007

Rak Buku Gantung dari Kardus Bekas


Punya ruang belajar yang luas, pasti menyenangkan. Segala macam perangkat belajar bisa tersimpan dan dipajang di satu ruang. Sayangnya, tidak semua orang punya ruangan belajar yang cukup luas, sehingga perlu kreativitas untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan membuat rak buku yang digantung atau di tempel di dinding.

Mau tahu cara membuatnya?
Bahan & Alat:
1. Kardus bekas yang agak tebal, dengan ukuran yang bermacam-macam
2. Lakban hitam
3. Plastik Mika (biasanya untuk plastik sampul-dijual per meter) atau plastik bening bekas.
4. Strapler
5. Gunting
6. Penggaris
7. pensil

Cara membuat:
1. Bukalah perekat kardus, sehingga kardus tampak memanjang
2. Ukurlah tinggi kardus sesuai ukuran tinggi buku. Tambah sedikit untuk memasang paku.
3. buat pola dengan pensil & penggaris supaya hasil guntingan lurus.
4. Guntinglah kardus sesuai pola
5. Tempelkan plastik mika ke kardus dengan bantuan strapler
6. Bagilah kardus yang sudah ditempeli mika menjadi beberapa bagian sesuai ukuran buku, tanpa harus memotong habis. (lebih jelas bisa dilihat di foto)
7. Hiasi pinggiran kardus dengan lakban hitam
8. Rak gantung siap dipasang di dinding dengan mempergunakan paku.
9. selipkan buku-buku di plastik

Selamat mencoba!

Minggu, 22 Juli 2007

Uniknya Temperamen Anak-Anak


Pasti kita sering mendengar bahwa anak-anak dilahirkan dengan kepribadian unik. Orang tua yang memiliki beberapa anak pasti dengan cepat bisa menyadari bahwa setiap anak memiliki sikap yang berbeda-beda. Anak pertama banyak bicara, anak kedua penyendiri, anak ketiga sering mengalah, dan sebagainya. Bagaimana menyikapi berbagai karakter tersebut, ternyata ada ilmunya, lho.

Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus for Parents membedah teori temperamen dari seorang ahli fisiologi Romawi bernama Galen. Menurut Galen, ada 4 kepribadian dasar manusia, yaitu: Sanguine (Sanguinis), Choleric (Koleris), Melancholy (Melankolis), dan Pleghmatic (Phlegmatis).

Supaya lebih mudah memahami keempat karakter tersebut, berikut ini gambaran yang dijelaskan Litteaur:

Karakter Sanguinis
·Terus berceloteh
.Suka mencari perhatian dari orang-orang di sekitar mereka
·periang
·tidak teratur
·emosi pasang surut
.pelupa
.cepat bosan
·Hipersensitif terhadap penilaian orang tentang mereka

Karakter Koleris
·Berani dan antusias
·Pekerja yang produktif
·Senang mengorganisasikan teman-teman di sekitarnya
·Berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan orang lain atas prestasinya
·Suka ditantang
·temperamen berubah-ubah
·Keras kepala
.suka berdebat
.manipulatif
.tidak peka terhadap perasaan orang lain

Karakter Melankolis
·Berpikir mendalam
·Bertalenta
.perfeksionis
.serius
.pemurung
.terlalu peka
.menghindari kritik

Karakter Pleghmatis
.mengamati yang lain
.mudah dihibur
.dapat diandalkan
.mudah setuju
.egois
.suka menggoda
.penakut
.pemalas
.diam-diam keras kepala


"Mama, kakak besok mau pergi ke warung sama mama, terus makan kue, habis itu baca buku, dan siap-siap mandi. Kalau sudah besar kakak mau membantu mama mencuci piring, menyapu, dan sebagainya, boleh kan Ma? Terus...."

Itulah anak pertama saya Azkia. Ekspresi dia atas apapun adalah suara. Sekali ia memulai pembicaraan, mengalirlah kalimat demi kalimat seolah tak sempat menghela nafas. Dia bisa menuturkan semua rencana yang akan dilakukannya dalam satu hari atau satu momen tertentu hingga detail lewat suaranya yang ramai.

Kalau bermain kejar-kejaran dengan adiknya, suara tawanya lebih kencang daripada larinya. Saat dia masih bayi, susah sekali meninggalkannya sendirian di kasur walau sebentar. Harus selalu ada seseorang yang menemani dia walaupun cuma duduk.

Menyimak teorinya Litteaur, jelas sekali kalau dia seorang SANGUINIS walau kadang-kadang juga nampak KOLERIS.

Dijamin deh! Tak akan kesepian punya anak seorang sanguinis. Tapi, bagaimana kalau ibunya justru termasuk tipe orang yang jarang bicara atau tidak suka berkomentar. Ternyata akibatnya bisa fatal juga, lho...

Kurang lebih setahun yang lalu, seorang ibu datang ke rumah saya. Ia meminta saya mengajar anaknya membaca. Selain bisa membaca, dia berharap anaknya bisa lebih baik dalam berkomunikasi.Di usianya yang menginjak 3 tahun ternyata si anak mengalami kesulitan bicara. Dia bisa bersuara, namun bahasa yang keluar tidak bisa kita pahami. Si ibu memang cukup paham maksud kata-kata anaknya, karena ia selalu bersama anaknya. Tetapi orang lain yang mendengarnya, termasuk saya, jelas-jelas tidak mengerti.

Waah! saya bingung juga. Saya kan bukan seorang terapis bicara. Tapi untuk menyenangkan si ibu, saya datang juga ke rumahnya.

Anak itu terlihat bersemangat dan gembira. Dia mau duduk di pangkuan saya sambil melihat kartu-kartu kata yang saya bawa.Dia tertawa dan kadang-kadang bicara. Saya cuma bilang, "Ooh!" Sungguh saya tak bisa mencerna suara dia.

Sebentar saya belajar bersama dia. Selanjutnya saya ngobrol pada ibunya. Penasaran saya tanya ibu muda itu, "Ibu kayaknya jarang ngobrol ya sama anak Ibu?" tanya saya.

Si ibu tertawa,"Koq tahu, sih!"
Saya kaget juga. Wah! Bener ya dugaan saya. Kelihatannya ibu ini memang agak jarang berkomunikasi dengan anaknya. Soalnya beberapa kali saya menemukan kasus serupa, dan ibunya memang termasuk orang yang jarang ngobrol. Entahlah!
"Habisnya, saya bingung Mbak. Emangnya ngobrol apa ya sama anak kecil?" lanjutnya lagi.

Benar-benar saya tertawa waktu itu.
"Ya ampun, Ibu. Ya obrolin apa aja. Kalau ibu lagi kerja kan bisa sambil ngajak dia ngobrol tentang apa pun yang ibu kerjakan,".

"Apanya yang diomongin, Mbak. Biasanya kalau saya mau beres-beres atau masak, sengaja anak saya sudah dimandikan dulu, lalu di suruh duduk di kursi sambil nonton TV. Berapa jam pun saya kerja dia asyik aja,"

"Aduh, Bu. Sayang sekali. Jangan-jangan itu juga yang menjadi sebagian penyebab, mengapa anak Ibu belum bisa bicara dengan jelas di usia tiga tahun. Dia memang tidak mendapat stimulus yang intensif dalam berbicara," kata saya.

"Mungkin iya, ya..." ibu itu tertawa - miris.

Lain halnya dengan Luqman, anak kedua saya. Dia fokus pada tujuan dan sedikit perfeksionis. Setiap kali sehabis mandi, dia akan meminta baju berlengan panjang. Karena bagian lengan baju agak panjang, dia meminta saya melipat sedikit ujungnya. Tapi menakjubkan, sebelum lipatannya pas menurut ukuran dia, dia belum mau beranjak untuk memakai celana ataupun menyisir. Kadang-kadang saya tertawa terpingkal-pingkal kalau beberapa kali lipatan yang saya buat masih juga belum tepat, dan dia protes. Merujuk teorinya Litteaur anak kedua saya tampaknya bertemperamen koleris-melankolis. Percuma mengkritiknya, yang perlu hanya memahaminya.

Nah! Cerita di atas sekedar cuplikan.Kalau tertarik untuk belajar lebih jauh tentang kepribadian anak, banyak lagi cerita dan pelajaran seru yang langsung diceritakan Florence Litteaur dalam bukunya,

Judul : Personality Plus for Parents
Penerbit : Binarupa Aksara.


Selamat membaca!