Senin, 13 Agustus 2007

PAUD dan Calistung

(Dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi Kamis, 12 April 2007)

PEMBERITAAN "PR" tanggal 9 Maret 2007, halaman 25, memuat pernyataan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional, Dr. Ace Suryadi, dengan judul "Calistung pada PAUD Salah Besar!". Menurut Dr. Ace, pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak usia dini merupakan salah satu bentuk kesalahan terbesar yang diterapkan sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada usia dini, pengajaran calistung justru akan membatasi interaksi siswa dengan lingkungan. Meskipun begitu, ia pun mengatakan, jika keinginan belajar calistung datang dari diri anak secara langsung, hal itu sah-sah saja.

Di pihak lain, beberapa waktu lalu, di Surat Pembaca "PR" edisi Rabu, 20 Desember 2006, seorang bapak mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu SD, tempat anaknya sekolah. Ketika pendaftaran dilakukan dan anaknya dinyatakan lulus tes, pihak sekolah setuju untuk mengajar anak dari awal, dengan asumsi bahwa semua anak belum bisa membaca dan menulis. Namun, setelah waktu berlalu beberapa bulan ternyata si anak terus mengalami ketertinggalan dalam mengikuti pelajaran. Hal itu disebabkan ia belum juga bisa membaca, sedangkan pelajaran di kelas I sekolah dasar (SD) sekarang ini sudah berupa teks yang cukup banyak dan otomatis membutuhkan kemampuan membaca dan menulis untuk mengikuti dan memahaminya.

Tumpang tindih

Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung.

Kekhawatiran orang tua pun makin mencuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah "tidak lulus", "tidak naik kelas", kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

Selama ini taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B.

Akan tetapi, pada perkembangan terakhir hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Beberapa anak mungkin berhasil menguasai keterampilan tersebut, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan.

Paradigma belajar
Perbedaan definisi belajar menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apa pun, termasuk belajar calistung. Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi. Oleh karena itu, permainan dan nyanyian tidaklah dikatakan belajar walaupun mungkin isi permainan dan nyanyian adalah ilmu pengetahuan.

Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum.

Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK yang masih berusia balita.

Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Alih-alih ingin mencerdaskan anak, akhirnya anak-anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka beranjak besar.

Pesan yang ditangkap dari teori Piaget sering kali berhenti pada "larangan belajar calistung", namun tidak banyak orang memahami alasannya. Padahal perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapa pun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Belajar membaca, menulis, berhitung, dan bahkan sains kini tidaklah perlu dianggap tabu bagi anak usia dini. Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka tak ubahnya seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan.

Memang benar jika calistung diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan.

Merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak. Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain, seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

Penganut behavior-isme memang mencela pembelajaran baca-tulis dan matematika untuk anak usia dini. Mereka menganggap hal itu sebuah pembatasan terhadap keterampilan.

Namun, sesungguhnya pelajaran calistung bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum TK tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi poster-poster kata, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok.

Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Dalam waktu satu atau dua tahun, bisa kita hitung, lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Demikian halnya dengan pelajaran berhitung. Mengenalkan kuantitas benda adalah dasar-dasar matematika yang lebih penting daripada menghafal angka-angka, dan hal itu sangat mudah diajarkan pada anak usia dini. Poster berbagai benda berikut lambang bilangan yang mewakilinya bisa kita tempel di dinding kelas. Sambil bernyanyi, guru bisa mengajak anak-anak berkeliling kelas untuk membaca dan melihat bilangan.

Maria Montessori dan Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini. Maria Montessori, seorang dokter wanita pertama dari Italia, telah mempraktikkan pembelajaran multiindrawi lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, sebagian besar anak-anak itu mengalami kemajuan yang pesat. Mereka bahkan bisa membaca dan menulis pada usia yang relatif muda, sekitar 4 dan 5 tahun tanpa harus merasa terbebani.

Montessori menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Ia membuat alat belajar seperti perlengkapan bermain. Untuk mengajar anak-anak membaca, ia membuat berbagai macam kartu huruf dari papan kayu atau kertas tebal. Setiap huruf dicetak dari kertas ampelas yang cukup kasar. Selain anak-anak membunyikan huruf-huruf tersebut, mereka juga merabanya untuk membentuk kepekaan terhadap tekstur huruf. Kartu-kartu berisi kata bergambar yang dikelompokkan ke dalam jenis-jenis kata juga menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak.

Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Doman adalah seorang dokter bedah otak. Ia berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak lewat flash card. Ia membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal, dengan ukuran huruf yang cukup besar. Kartu-kartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kata. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi.

Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Karena, bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan kata-kata baru yang belum pernah dibacanya.

Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang, termasuk sebagian ahli psikologi. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional, merusak pembelajaran nalar dan logika. Flash cards berbasis hafalan, sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

Itulah letak perbedaan Doman dan para pengkritiknya. Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Bisa kita bayangkan, betapa sebentarnya, dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tak heran jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Mengembangkan kemampuan para pendidik PAUD untuk mengajar calistung secara menyenangkan, mungkin akan lebih baik daripada melarang pelajaran calistung pada anak usia dini secara keseluruhan, tanpa memberikan solusi untuk mengatasi persoalan baca-tulis di sekolah dasar. Bukan pelajarannya yang harus dipersoalkan, tetapi cara menyajikannya.***

Sabtu, 11 Agustus 2007

Obrolan Sebelum Tidur

Malam tiba, aura tidur mulai keluar. Sprei pun sudah dirapikan. Sebagian anak mungkin masih punya sisa energi untuk melanjutkan rasa penasaran mereka terhadap sesuatu. Termasuk anak kedua saya Luqman, menjelang tidur seringkali masih asyik dengan tali temali yang diikatkan di kursi atau meja. Sementara kakaknya Azkia, biasanya masih sibuk dengan pensil warna dan gambarnya yang sedang diwarnai. Semua mengalir tanpa komando, dan kami menikmatinya.

Saat mereka merasa siap untuk tidur,dengan kaki bersih dan perasaan damai menghampiri kami, sebuah perbincangan pendek tak terasa bergulir malam itu.

Terinspirasi dari buku 10 Prinsip Spiritual Parenting, saya mengajak anak-anak menikmati saat menjelang tidur itu. Saya katakan pada mereka, "Alhamdulillah, enak sekali ya bisa tidur di atas kasur. Anak-anak jalanan mungkin tak punya kasur untuk tidur".

"Kenapa anak-anak jalanan nggak punya kasur?" tanya si kecil Luqman antusias.

"Karena papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur. Mungkin juga mereka tidak punya rumah untuk berteduh kalau hujan dan panas," kata saya.

"Tapi kan ada pohon," celetuk Azkia.
"Iya, sih! Tapi kalau anginnya kencang, mereka bisa kedinginan," ujar saya.

Luqman tercenung dan berkata, "Jadi, anak-anak jalanan nggak punya kasur buat tidur. Papa dan mamanya nggak punya uang buat beli kasur, iya Ma?"

"Iya. Jadi kita harus bersyukur kepada Allah karena kita masih bisa tinggal di rumah yang punya dinding, tidak akan kedinginan dan kehujanan,"

Celotehan pun melebar ke mana-mana, hingga kue-kue yang kadang tidak dihabiskan setelah dibeli. Mereka punya pendapat dan kadang-kadang menyimpulkan sendiri.

Sering setelah malam itu, kami membiasakan diri untuk mengajak anak-anak mengobrol tentang sesuatu sebelum tidur. Memasukkan nilai-nilai mungkin cukup sulit jika berwujud perintah dan larangan ketika mereka sedang beraktivitas. Tetapi menjelang tidur, ternyata hal itu nampak begitu alami, mengalir tanpa protes dan kemarahan.

Kamis, 09 Agustus 2007

Bermain Air itu Asyik!



"Mamaaa, lihat sini!" teriak Azkia. Ternyata ia ingin menunjukkan spons berwarna kuning yang berubah menjadi hijau karena dicelupkan ke dalam air yang diberi warna biru. Tapi spons itu berubah menjadi kuning lagi setelah airnya diperas. Waah! itu biasa buat orang dewasa, tapi bagi anak-anak ternyata sangat menakjubkan.

Sudah sebulan terakhir, sejak kami pindah rumah, anak-anak diberi jadwal khusus untuk bermain air. Pagi hari sekitar jam 8, ketika matahari mulai cukup hangat, mereka siap dengan perlengkapan rutin. Satu buah waskom cukup besar, gelas plastik, botol air mineral, corong plastik, mangkuk berbagai ukuran, dan mobil-mobilan dibawa ke halaman depan.

Mereka bisa bereksperimen dengan macam-macam kegiatan ciptaan mereka sendiri. Mencuci mobil-mobilan atau memandikan boneka dan menyiram tanaman. Cuka, soda kue, pewarna makanan cair, dan sabun pencuci piring juga bisa jadi media yang asyik untuk memunculkan kejutan dan kegembiraan. Tak kalah serunya dengan permainan di playground.

Setelah satu kali ditunjukkan cara membuat lelehan gunung api dari campuran cuka, pewarna merah, dan soda, mereka bisa membuat variasi lain dengan bahan-bahan itu setiap hari. Memang sih tangan dan baju jadi belepotan macam-macam warna. Tapi, keasyikan mereka mengeksplorasi banyak gagasan lewat air membuat masalah itu menjadi kecil.

Setelah mereka puas, baju basah dan kadang belepotan tanah, air mandi yang hangat siap menanti di kamar mandi. Seru! Pasti begitu, setidaknya itulah yang terlihat dari celotehan mereka yang riang tentang temuan hari ini. Hari menjelang siang dan matahari mulai tinggi, kegiatan pun beralih di ruangan.

Aktivitas yang asyik dengan air tentu saja hampir tak bisa dijumpai di kelas-kelas prasekolah. Bermain bebas untuk pembelajaran penuh kejutan dan menumbuhkan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Saya yakin, justru itulah modal mereka untuk mencintai belajar sepanjang hidupnya.

Salam pendidikan!

Minggu, 05 Agustus 2007

Bersekolah di Gerbong Kereta


Totto-chan berhenti melangkah ketika melihat gerbang sekolah baru itu. Gerbang sekolahnya yang dulu terbuat dari pilar-pilar beton yang halus. Nama sekolah tertera di sana dengan huruf-huruf besar. Tapi gerbang sekolah baru ini hanya terdiri atas dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih ditumbuhi ranting dan daun. Ini tumbuh,” kata Totto-chan. “Mungkin akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon!”. Kedua “tiang gerbang” itu memang pohon hidup, lengkap dengan akar-akarnya. Ketika berjalan mendekati tiang-tiang tersebut, Totto-chan harus memiringkan kepalanya untuk membaca nama sekolah, karena papan namanya terpasang miring akibat tertiup angin. “To-mo-e Ga-ku-en”.

Penggalan cerita di atas adalah hasil goresan pena Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya berjudul Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela. Sebuah buku yang mengangkat kisah nyata sang penulis semasa kecil, dengan kenangan-kenangan manis, lucu, sekaligus mengharukan selama ia bersekolah di gerbong kereta. Buku ini menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbitan di Negeri Jepang karena mampu terjual hingga 4,5 juta eksemplar dalam setahun.

Buku setebal 271 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat kegiatan bersekolah yang kita temui hari ini ternyata sudah semakin jauh dari kata “menyenangkan”. Belajar di sekolah seringkali hanya menjadi sebuah beban, yang kebanyakan motifnya lebih karena dipaksakan.

Sosaku Kobayasi, sang kepala sekolah tempat Totto-chan belajar adalah figur dari seorang konseptor pendidikan yang maju. Ia mencoba memahami anak-anak sedemikian rupa, sehingga lahirlah gagasan-gagasan pembelajaran yang mampu menghidupkan naluri belajar setiap anak sampai pada taraf kecintaan pada belajar itu sendiri. Anak-anak selalu antusias belajar tanpa harus didorong oleh motivasi supaya mendapat nilai tinggi atau lulus dalam ujian.

Gerbong Kereta yang Penuh Kejutan

Totto-chan adalah murid baru di Tomoe. Sebelum bersekolah di Tomoe, Totto-chan dianggap sebagai anak nakal. Ia selalu nampak melamun di kelas, namun kadang-kadang asyik mengobrol dengan sepasang burung walet ketika gurunya sedang mengajar. Sering ia berdiri di depan jendela untuk memanggil para pemusik jalanan memainkan alat musiknya. Berkali-kali gurunya terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar sampai para pemusik jalanan itu selesai bermain, karena anak-anak lain di kelasnya juga berebut menuju jendela untuk melihat tontonan itu. Akibat perilaku-perilakunya yang dianggap mengacaukan kelas, Totto-chan akhirnya dikeluarkan dari sekolah pertamanya itu.

Hal yang berbeda justru terjadi di Tomoe. Sekolah yang dibuat dari gerbong kereta ini, telah membuat Totto-chan yang mulanya dianggap “bermasalah” justru bisa menjadi begitu manis. Gadis kecil itu selalu bersemangat untuk belajar setiap hari, bahkan ia selalu merasa waktu berputar terlalu lama di malam hari. Ia ingin hari segera pagi supaya bisa secepatnya pergi ke sekolah.

Mengapa Totto-chan senang dengan sekolah barunya? Rupanya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Setiap hari di Tomoe Gakuen, gadis itu selalu mendapatkan banyak kejutan. Anak-anak selalu menemukan pelajaran-pelajaran baru yang disajikan dengan cara yang mengasyikan dan merangsang rasa ingin tahu. Tak heran jika setiap murid Tomoe akhirnya memendam rasa penasaran ketika sekolah usai. Dalam hati mereka selalu bertanya, kejutan apa lagi yang akan mereka temui esok hari?


Berorientasi pada Praktek
“Inilah guru kalian hari ini. Dia akan mengajarkan banyak hal kepada kalian.” Dengan kata-kata itu, kepala sekolah memperkenalkan seorang guru baru. Totto-chan mengamati guru itu dengan seksama. Kesan pertamanya, guru itu tidak berpakaian seperti guru. Di luar kaus dalamnya ia mengenakan kemeja lengan pendek bermotif garis-garis. Dia tidak berdasi dan lehernya berkalung handuk. Celana panjangnya terbuat dari kain katun celup warna biru. Pipa celananya sempit dan penuh tambalan.. di kepalanya bertengger topi jerami yang sudah usang…”

Mr. Kobayashi sering mengabaikan hal-hal yang bersifat formal demi pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid-muridnya. Itulah yang ia lakukan ketika ia hendak memberikan pelajaran tentang pertanian. Ia tak segan memilih seorang petani tulen yang mungkin tak pernah kenal bangku sekolah untuk menjadi guru bagi murid-murid di Tomoe dalam ilmu pertanian. Ia berpendapat bahwa akan lebih baik bagi anak-anak jika mereka belajar dengan langsung mempraktekkannya.

Sang guru pun segera mengajar di lapangan, di sebuah lahan berumput, agar anak-anak bisa melihat dan melakukan langsung tahapan-tahapan dalam bertani, dari mulai membersihkan rumput liar hingga menanam, menyiram, memupuk, dan memelihara tanaman yang tumbuh. Bagi anak-anak pengalaman itu sangat menakjubkan dan membuat mereka benar-benar bersemangat untuk mengamati setiap perubahan dan pertumbuhan dari tanaman yang telah ditanam. Satu hal lainnya yang terjadi karena kegiatan itu, anak-anak belajar menghargai siapapun yang memberikan ilmu kepada mereka sekalipun guru itu bukanlah seorang lulusan akademi yang berijazah.

Ketika pelajaran musik berlangsung, Mr. Kobayashi mempersilakan anak-anak untuk mempergunakan lantai kelas-gerbong mereka, yang dilapisi kayu, untuk dijadikan “kertas”. Dengan mempergunakan kapur, sambil tengkurap di lantai gerbong, anak-anak belajar menuliskan not yang dimainkan Mr. Kobayashi lewat piano. Jika ternyata masih salah, mereka dengan segera bisa menghapusnya. Sisa waktu yang mereka miliki sebelum jam pelajaran musik usai juga bisa dipergunakan untuk corat-coret bebas. Pelajaran ditutup dengan kegiatan bergotong royong menghapus semua coretan, mempergunakan kain pel yang sudah tersedia di sekolah.

Siapa sangka, kegiatan corat-coret itu ternyata berdampak sangat positif bagi anak-anak ketika mereka berada di luar sekolah. Secara berangsur-angsur, puasnya mereka melakukan corat-coret di sekolah membuat mereka tak lagi berminat untuk mencorat-coret sembarangan di dinding bangunan orang lain.

Melejitkan Rasa Percaya Diri
Bagaimana jadinya jika seorang anak ternyata terlahir cacat atau mengalami kecelakaan sehingga ia terpaksa menjadi anak cacat? Tidak banyak sekolah umum yang mampu melayani kekhususan mereka sehingga anak-anak itu tetap merasa berarti di tengah-tengah kawan-kawannya yang bertubuh normal.

Sosaku Kobayashi sangat peduli pada kondisi psikis anak-anak, terlebih pada anak-anak dengan keadaan khusus. Ia menciptakan situasi sekolah yang secara tidak langsung telah menumbuhkan rasa percaya diri pada murid-muridnya. Ia menunjukkan kepada semua anak, termasuk anak-anak cacat, bahwa mereka itu sama. Bentuk fisik anak-anak yang beraneka macam bukanlah halangan untuk belajar, dan bukan pula ukuran untuk menilai seseorang. Ia menekankan pada murid-muridnya bahwa setiap anak memiliki keistimewaan.

Hal itu ditunjukkan pada sebuah festival yang diselenggarakan sekolah. Pada waktu itu dibuatlah berbagai lomba ketangkasan. Uniknya, pemenang pertama dari semua lomba itu selalu sama, yaitu seorang anak yang bertubuh paling kecil dan pendek. Ia mampu memenangkan perlombaan justru karena tubuhnya yang khusus. Ternyata Mr. Kobayashi sengaja membuat permainan-permainan yang memungkinan anak itu untuk menang, dengan harapan perasaan minder yang menghantuinya bisa memudar.

Sosaku Kobayashi bahkan pernah menegur dengan keras seorang guru di Tomoe karena sang guru mengucapkan kata-kata yang menyinggung ketidaknormalan seorang muridnya di depan murid-murid yang lain. Tidak ada yang mampu melakukan semua itu, melainkan orang yang sangat peduli dan sangat mencintai murid-muridnya.

Ruang untuk Rasa Ingin Tahu
Sekolah sering disebut-sebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sayangnya, tak banyak sekolah yang memberi ruang cukup bagi murid-muridnya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Tentu saja akan begitu, karena waktu yang tersedia di sekolah jauh lebih sedikit dibandingkan target materi dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin berhamburan di otak murid-muridnya yang berjumlah puluhan.

Uniknya, Tomoe mampu memberikan ruang itu bagi setiap muridnya. Anak-anak di Tomoe boleh memilih apa yang ingin dipelajarinya terlebih dahulu, sesuai dengan minat mereka.

Ketika pelajaran dimulai di pagi hari, guru menyiapkan daftar pertanyaan mengenai apa yang akan diajarkan pada hari itu. Guru akan mempersilakan anak-anak untuk memilih pelajaran apa yang akan mereka pelajari terlebih dahulu. Setiap anak boleh memilih pelajaran yang berbeda. Anak-anak yang ingin belajar fisika segera sibuk dengan tabung-tabung percobaan dan mencatat hasil temuan mereka.
Anak-anak yang suka mengarang, mereka sibuk menulis sesuatu. Sementara itu, anak-anak yang ingin belajar biologi, mereka asyik mengidentifikasi tumbuhan atau hewan.

Anak-anak itu begitu antusias dan jelas tidak khawatir kalau rasa penasaran mereka akan terjegal oleh pilihan topik yang ditetapkan guru, sebagaimana umumnya kita temui di sekolah biasa.
Setiap anak akhirnya belajar secara mandiri. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa harus saling mengganggu. Sebagian ada yang menggambar, dan yang lainnya mungkin membaca buku.

Guru akan mendatangi setiap anak jika diminta, dan menjelaskan segala hal yang diperlukan hingga anak itu benar-benar mengerti.

Inspirasi untuk Perubahan
Buku, yang edisi terjemahannya di Indonesia sudah mencapai cetakan kesebelas pada September 2006 ini, telah memberikan inspirasi bagi para pendidik di negeri Jepang untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih baik dalam pembelajaran di sekolah. Buku ini bahkan dijadikan bacaan wajib bagi para guru, terutama pada pelajaran pertanian, musik, dan para guru di sekolah luar biasa.

Pada saat orang-orang Jepang merasa jemu dengan sistem pendidikan yang berlaku pada waktu itu, mereka seperti disegarkan oleh model sekolah ala Totto-chan yang dirancang Sosaku Kobayashi. Bagi siapa saja yang membutuhkan inspirasi untuk menciptakan model sekolah yang lebih dinamis, mutlak perlu membaca buku ini.

Jumat, 03 Agustus 2007

Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini


Bisa membaca di usia dini mungkin bukanlah segalanya. Ada hal yang lebih penting dari kemampuan membaca, yang justru agak sering terlewatkan, yaitu bagaimana membuat anak-anak senang dengan buku dan kegiatan membaca. Jika pembentukan kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang, ada anak yang sudah bisa membaca tetapi tidak tertarik dengan buku.

Akan tetapi, tidaklah pula berlebihan jika orang tua mulai menyediakan media belajar membaca (apapun itu) pada saat anak-anak terlihat begitu antusias dengan buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka masih berusia balita atau bahkan batita. Kontroversi tentang hal tersebut memang masih selalu hangat dibicarakan dan tak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu. Beberapa pihak bahkan melarang orang tua atau guru untuk mengajarkan keterampilan membaca pada usia dini, dengan alasan takut anak-anak jadi terbebani, sehingga mereka menjadi benci dengan kata "belajar".

Namun sejauh pengalaman saya, selama prinsip belajar 'fun' yang dikembangkan, materi apapun yang diajarkan kepada anak usia dini selalu direspon dengan baik dan anak-anak suka untuk belajar. Mengajak anak-anak untuk belajar membaca menurut saya jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menonton TV seharian. Tanpa kita sadari sesungguhnya anak-anak juga belajar sesuatu lewat TV, yang sayangnya lebih banyak berupa hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif.

Seputar metode belajar
Metode mengajar balita membaca sangatlah beragam. Karena begitu beragamnya, lagi-lagi kita akan menemukan perbedaan dasar pemikiran dari metode-metode tersebut. Meskipun kadang-kadang sering mencuat pertentangan yang tajam antar berbagai metode, kita tak perlu bingung. Kenali saja semua konsep yang ditawarkan, dan kenali pula gaya belajar anak-anak kita. Jika metode dan gaya belajar cocok, kita bisa lebih mudah memotivasi anak untuk belajar.

Berdasarkan telaah saya, sejauh ini di dunia belajar ini dikenal 2 metode besar, yaitu metode terstruktur dan metode tidak terstruktur (acak). Keduanya tidak lebih baik atau lebih jelek dari yang lainnya. Metode terstruktur dan tidak terstruktur (acak) bisa saling melengkapi sesuai karakter dua belahan sisi otak kita yang kini populer dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, runut (sistematis), analitis, logis, dan karakter-karakter terstruktur lainnya. Kita membutuhkan kerja otak kiri ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, angka, urutan, dan logika.

Adapun karakteristik otak kanan berhubungan dengan rima, irama, musik, gambar, dan imajinasi. Aktivitas kreatif muncul atas hasil kerja otak kanan.

Melalui deskripsi tentang karakteristik dua belahan otak tersebut, kita tentu bisa melihat bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Apa jadinya para kreator-kreator seni jika tak punya tim manajemen yang handal. Bisa kita bayangkan pula sepi dan monotonnya dunia ini jika penghuninya hanyalah para ahli matematika atau akuntansi yang selalu sibuk dengan angka. Secara personal, kita pun akan menjelma menjadi orang yang "timpang" jika tidak mampu menyeimbangkan kinerja dua sisi otak kita. Kita pun bisa tumbuh menjadi orang yang "ekstrem" dalam memandang belajar dan cara belajar.

Selain metode belajar, karakteristik anak-anak juga perlu kita ketahui dan pahami agar kita bisa merancang model-model belajar yang menarik minat anak. Beberapa karakteristik anak secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi lebih pendek (relatif)
2. Tidak suka diatur/dipaksa
3. Tidak suka dites

Ketiga ciri tersebut jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengajar balita membaca tak bisa dilakukan dengan cara-cara orang dewasa. Kita membutuhkan teknik-teknik yang lebih bervariasi dan adaptif terhadap kecenderungan anak-anak. Dan hanya satu kegiatan yang bisa melumerkan 3 karakteristik di atas yaitu BERMAIN. Mengapa? Karena dalam bermain anak-anak tidak menemukan tes, paksaan, dan batas waktu. Ketika bermainlah anak-anak menemukan kebebasan dirinya untuk berekspresi. Ketika bermain pula mereka menemukan kesenangan mereka.

Model-model belajar membaca untuk inspirasi
Belajar membaca lewat kosa kata
Kosa kata adalah pembentuk kalimat. Lewat kosa kata yang makin beragam, kalimat yang kita keluarkan pun akan semakin kaya. Lewat kosa kata, anak-anak akan belajar tak hanya kemampuan membaca tetapi juga perbendaharaan dan pemahaman akan kata-kata yang akan mereka gunakan dalam berbicara.

Variasi yang bisa digunakan diantaranya, kartu kata yang disajikan dengan model Glen Doman, poster kata yang ditempel di dinding, buku-buku bergambar yang kalimatnya pendek dan ukuran hurufnya cukup besar. Prinsip yang dipakai dari metode tersebut adalah belajar dengan melakukannya. BELAJAR MEMBACA dengan MEMBACA.

Hal-hal khusus yang menyertai model ini adalah kemungkinan anak-anak untuk mengenal pola lebih lama. Artinya, bisa jadi untuk bisa benar-benar membaca semua kata yang diperlihatkan kepada mereka (meski belum diajarkan) membutuhkan waktu yang cukup lama, tergantung kecepatan anak.

Belajar Membaca lewat Suku Kata
Model ini paling banyak digunakan, terutama di sekolah-sekolah. Prinsip dasarnya adalah terlebih dulu mengenali pola sebelum masuk pada fase membaca.

Belajar lewat suku kata misalnya ba bi bu be bo dan seterusnya juga memiliki efek tersendiri, diantaranya kecepatan membaca yang sedikit lambat jika tidak diiringi latihan langsung lewat buku atau bacaan-bacaan. Mengapa demikian? Karena anak-anak akan terbiasa dengan membaca pola lebih dulu baru membaca. Kerja otak kiri lebih dominan dalam hal tersebut.

Untuk mengimbanginya, kita harus lebih sering memotivasi anak untuk membaca kata-kata secara langsung lewat buku tanpa harus memilah suku katanya.

Belajar membaca dengan mengeja
Model ini di awali dengan pengenalan huruf baru kemudian merangkainya menjadi gabungan huruf dan kemudian kata. Sebenarnya metode ini sudah jarang digunakan orang karena memang terbukti cukup sulit bagi anak.

Kerja otak kiri akan semakin dominan jika kita memakai metode ini. Anak-anak harus melewati tiga tahapan menuju kata, yaitu huruf, suku kata, lalu kata. Memang ada anak-anak yang bisa belajar dengan metode ini, tapi lagi-lagi latihan membaca kata secara intensif harus mengiringinya agar anak-anak merasa percaya diri untuk membaca.

Belajar Multi Metode

Adakalanya spesialisasi itu baik untuk mengenal kedalaman suatu ilmu, tapi dalam belajar membaca kita bisa mempergunakan multi metode sekaligus tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional.

Dengan kata lain, kita bisa memperkenalkan pada anak-anak kita semuanya, huruf, suku kata, ataupun kosa kata. Catatan pentingnya tentu saja: sajikan dengan perasaan riang sehingga anak-anak kita pun mendeteksi kegembiraan dan ketulusan yang kita berikan pada mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.

Tersisa dari itu semua, "kita memang tak boleh berhenti belajar".

Salam pendidikan!

Selasa, 31 Juli 2007

Reka Cipta Ruang Pendidikan

Seorang ibu termenung di teras rumahnya. Pikirannya menerawang entah ke mana. "Sekolah di mana ya anakku?" pikirnya.

Surat tanda lulus yang ditunggu-tunggu justru memberitahukan ketidaklulusan anaknya dari SMP. Sudah bisa ia bayangkan sedihnya sang anak saat mengetahui hal tersebut.

Sejak bergulirnya kebijakan-kebijakan pendidikan yang tidak konsisten dan aspiratif dari pemerintah, banyak tangis dan ratapan kekecewaan terdengar di mana-mana.

Belum lagi masalah biaya sekolah yang makin melambung, standar kelulusan yang makin tinggi membuat resah semua orang yang berhubungan dengan sekolah formal. Masalahnya, ujian yang hanya berlangsung beberapa hari itu akan menentukan nasib semua peserta didik yang mungkin setiap hari rajin mengerjakan PR, hebat dalam ulangan harian, ataupun pandai berdebat dalam diskusi. Semua prestasi yang pernah diraih selama bersekolah tak lagi diperhitungkan ketika berhadapan dengan standar lulus ujian nasional.

Pendidikan adalah hak setiap orang. Siapapun dan dari kalangan manapun berhak memperoleh pendidikan yang baik. Namun melekatnya identitas pendidikan hanya pada sekolah formal telah membuat ruang pendidikan jadi menyempit.

Sekolah formal dianggap solusi satu-satunya untuk memperoleh pendidikan. Sementara biaya dan sistem administrasi rumit yang mengiringi sekolah formal ternyata justru mempersulit orang untuk mengakses pendidikan.

Padahal kalau kita renungkan sejenak, kehidupan adalah pendidikan terbaik. Tak perlu teori terlalu detail untuk membuktikan pernyataan tersebut. Bukankah apapun yang kita kuasai hari ini diperoleh dari banyak fase dan pengalaman yang tak terbilang jumlahnya. Sekolah formal hanyalah sebagian kecil dari sumber pengetahuan dan kecakapan kita.

Dunia kerja yang kita geluti bahkan sering tak bersesuaian dengan materi yang kita pelajari di sekolah. Lagi-lagi kita harus belajar banyak justru dari pekerjaan itu sendiri, dari pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu terjun di bidang tersebut.

Jadi, betapa luasnya ruang pendidikan itu sesungguhnya. Andai setiap orang membawa paradigma ini, maka betapa luas kesempatan yang bisa diperoleh siapapun yang ingin belajar dan mendidik diri dan anak-anaknya, karena setiap orang bisa menjadi guru dan sekaligus murid di manapun ia berada.

Pendidikan untuk Perubahan
Tak dapat kita sangkal, hanya pendidikan yang akan mengubah masyarakat menjadi lebih baik, lebih percaya diri, dan lebih produktif dalam arti yang sebenarnya. Hanya pendidikan pula yang akan mengubah masyarakat menjadi lebih menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi perdamaian, meninggalkan sifat-sifat hewani yang serakah dan penuh intimidasi untuk mencapai keinginan.

Adapun pendidikan yang dimaksud bukanlah ruang sesempit sekolah formal. Pendidikan adalah seluruh usaha untuk memelihara sifat-sifat dan potensi-potensi baik pada diri manusia dan membuang segala bentuk penyakit jiwa yang akan merusak kemanusiaan seseorang.

Siapapun yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan masyarakat bisa melakukan usaha-usaha nyata untuk melakukan hal tersebut, betapapun kecilnya, di manapun ia berada, tanpa harus menunggu gedung sekolah berdiri atau kucuran dana mengalir dari pemerintah.

Sudah semestinya pendidikan tak lagi terbentur dengan persoalan-persoalan biaya, persoalan baju seragam, persoalan gedung sekolah, dan atribut-atribut pelengkap lainnya yang sesungguhnya bisa ditiadakan.

Ingin pintar melukis, belajarlah dari pelukis. Ingin pandai memasak, belajarlah dari para ahli memasak. Ingin pandai berdagang, belajarlah pada para pedagang yang sukses.

Di manapun pendidikan diselenggarakan, apakah hanya di sekolah formal, sekolah nonformal,informal, ataupun di ruang yang lebih luas dari itu semua, terpenting adalah pendidikan itu bisa dengan mudah dinikmati semua orang tanpa memandang usia, status sosial,jenis kelamin, dan batasan-batasan lainnya.

Salam pendidikan!

Minggu, 29 Juli 2007

Melirik Kembali ”Homeschooling”

(dimuat di harian Pikiran Rakyat, 26 Maret 2006)

UJIAN kesetaraan paket A, B, dan C baru-baru ini sudah dilaksanakan secara serentak. Uniknya, ujian kesetaraan tahun ini tidak hanya diikuti oleh mereka yang mengikuti sekolah terbuka atau nonformal, melainkan juga siswa sekolah formal yang tahun ini tidak lulus ujian nasional.

Bagi anak-anak dari sekolah formal, ujian kesetaraan itu mungkin menyisakan sedikit rasa kecewa. Mereka jelas membayar jauh lebih mahal untuk seluruh kegiatan belajar yang sudah dilakukan jika dibandingkan teman-temannya dari sekolah terbuka; namun penentuan kelulusan sama-sama ditetapkan oleh ujian kesetaraan.

Fenomena tersebut mungkin tampak tidak adil bagi mereka yang memilih sekolah formal. Namun bagi para pelaku atau peminat pendidikan alternatif peristiwa itu memberikan semacam kekuatan untuk terus berkreasi dengan model-model baru pembelajaran.

Ketika awalnya sekolah terbuka atau sekolah nonformal hanya dipandang sebelah mata, namun ujian kesetaraan yang berlaku umum membuat model sekolah tanpa gedung ini patut dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan. Tentu saja bukan lagi selalu biaya yang menjadi alasan untuk memilihnya, melainkan juga sudut pandang subjektif lainnya, seperti kualitas kurikulum, kualitas guru, atau kualitas metode pengajaran di sekolah yang dianggap kurang efektif.

Model pendidikan tertua

Pendidikan formal baru terselenggara selama kurang lebih 150 tahun. Itulah model pendidikan era revolusi industri yang secara berangsur-angsur menggantikan hampir seratus persen model pendidikan tradisional yang biasanya dilakukan oleh keluarga di rumah-rumah mereka. Meskipun terus menyisakan banyak persoalan, keberadaan pendidikan formal hingga kini masih dianggap sebagai solusi bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan, namun memiliki keterbatasan waktu atau ilmu untuk mengajar anak-anaknya.

Sebelum jenis pekerjaan di sektor formal bermunculan, kebutuhan akan pendidikan formal belum terlalu besar. Kurikulum atau muatan pendidikan lebih dititikberatkan kepada life skills (keterampilan hidup) sebagai bekal untuk memenuhi keperluan hidup serta etika perilaku yang didasarkan atas nilai-nilai agama ataupun adat kebiasaan masyarakatnya masing-masing. Proses belajarnya sendiri dilakukan di rumah masing-masing oleh orang tua ataupun keluarga besar. Hanya ketika anak-anak dianggap perlu memiliki keterampilan tambahan, orang tua mengirimnya "berguru" kepada orang-orang yang memang ahli di bidangnya.

Film Minggu siang berjudul, Little House on the Prairie yang pernah ditayangkan TVRI sekitar tahun 80-an silam menggambarkan kehidupan orang Amerika pada tahun 1870-an. Keluarga Charles yang dijadikan tokoh dalam cerita film itu adalah model keluarga harmonis yang menyukai belajar. Hal-hal pokok pendidikan pada masa itu, seperti prinsip-prinsip moral, bertani, beternak, dan keterampilan menjahit untuk wanita, semua dilakukan di rumah, dengan ayah-ibu sebagai gurunya. Baru ketika anak-anak dianggap perlu untuk belajar membaca dan menulis, orang tua mengirimnya ke sekolah.

Kalau kita menelusuri biografi para tokoh berpengaruh di masa lalu, sesungguhnya mereka pun ditempa oleh pendidikan "rumah" terlebih dahulu sebelum akhirnya merantau untuk berguru ke berbagai pelosok tempat. Dasar-dasar pendidikan dikuatkan di dalam keluarga, sehingga ketika anak-anak itu sudah dewasa, mereka mampu terus membawa spirit belajar ke mana pun mereka pergi. Mereka bisa belajar kepada banyak guru dari beragam disiplin ilmu, tanpa harus melewati jalur birokrasi yang rumit.

Oleh karena itulah, kalau homeschooling kini dilirik kembali sebagai sebuah model pendidikan, sebenarnya hal itu sangat memungkinkan dan bukan hal yang aneh.

Karena model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak sesungguhnya hanya bisa dipenuhi oleh orang yang peduli dan sangat memahami anak-anak tersebut. Dan tidak ada orang yang paling peduli dan paham tentang anak-anak, kecuali orang-orang yang mengasuhnya; dan jika anak-anak itu diasuh oleh orang tuanya, tentu orang tualah yang paling mengerti mereka.

Kurikulum yang fleksibel

Secara substansi, materi pelajaran ala sekolah formal bisa diadaptasikan dengan mudah di mana pun, termasuk di rumah. Bahkan ada banyak kelebihan yang bisa diperoleh jika itu dilakukan di rumah, yaitu terlaksananya pembelajaran secara individual. Dengan pembelajaran individual, guru akan lebih mudah mengamati keterserapan materi pelajaran oleh siswa. Oleh karena itu pula, siswa dapat menguasai pelajaran apa pun secara mendalam, karena waktu yang tersedia untuk bertanya dan menemukan jawaban jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang belajar di sekolah secara klasikal dengan murid yang mencapai puluhan orang.

Selain itu, pendidikan di rumah memungkinkan orang tua sebagai guru utama, bisa menetapkan muatan-muatan tambahan pada setiap pelajaran, dan bahkan bisa memperkaya kurikulum pembelajaran dengan tambahan pelajaran lain yang mungkin tidak bisa diperoleh di sekolah. Semua didasarkan kepada kebutuhan setiap anak, sesuai minat dan bakatnya.

Orang tua yang siap menjadi pembimbing dalam proses belajar anak-anaknya memang akan sedikit lebih sibuk dengan buku dan sumber-sumber pengetahuan lainnya. Karena anak-anak yang belajar di rumah biasanya memiliki rasa ingin tahu lebih banyak terhadap apa yang mereka temui. Satu hal yang menarik, seperti pengalaman ratusan pelaku homeschooling di Amerika yang dituturkan Linda Dobson dalam bukunya "Homeschooling: The Early Years", guru (dalam hal ini orang tua) lebih sering menempatkan dirinya bukan sebagai pemecah persoalan atau pemberi jawaban. Guru hanya memosisikan dirinya sebagai pemandu yang mungkin juga masih harus belajar lagi ketika data atau kesimpulan tidak bisa ditemukan. Guru tak segan untuk berkata "tidak tahu" dan selanjutnya mengajak anak-anak untuk bersama-sama mencari tahu.

"Fun", itulah kuncinya. Temuan Jeanette Vos dan Gordon Dryden tentang pembelajaran semakin menguatkan kelebihan pembelajaran individual yang paling mungkin dilakukan di rumah. Vos dan rekannya tersebut mengatakan, bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Kondisi itu hanya bisa terwujud jika guru dan muridnya berada dalam keadaan senang mengajar dan ingin belajar.

Jadwal belajar yang ketat seperti halnya di sekolah kurang mampu mengakomodasikan kepentingan ini. Bisa jadi, pada saat pelajaran berlangsung, siswa dan juga gurunya sedang malas untuk belajar. Efeknya tentu bisa kita tebak, proses belajar-mengajar menjadi tidak efektif. Esensi pelajarannya pun, mungkin terbang tanpa sempat "tertangkap" otak.

Berorientasi kepada anak

Pengelompokan anak-anak berdasarkan usia seperti halnya di sekolah formal hampir tidak pernah terjadi dalam pendidikan di rumah. Bahkan seringnya, anak-anak dibiarkan berkembang sesuai kemampuannya, bisa lebih cepat dari usia rata-rata anak pada umumnya, atau mungkin juga lebih lambat. Fokus orang tua adalah membantu anak-anaknya untuk terus berkembang sesuai dengan kemampuan mereka.

Bobot pelajaran ditingkatkan ketika anak-anak dianggap sudah siap untuk maju. Pelajaran diberikan ketika anak merasa siap untuk mempelajarinya. Anak usia 4 tahun yang belum ingin menulis, tak perlu dipaksa untuk menulis. Karena bisa jadi, motorik halusnya belum sempurna. Mereka bisa diarahkan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan persiapan menulis, seperti bermain lempung, meronce manik-manik, atau bermain air dan pasir. Semua dirancang sangat dinamis, dan dalam hal ini anak-anak dipandang sebagai subjek, dan bukan objek dalam belajar.

Payung hukum

Amerika merupakan salah satu negara yang sudah secara terbuka menerima konsep pendidikan di rumah, dengan menyediakan layanan ujian penyetaraan untuk setiap anak dari beragam usia. Di Indonesia sendiri, ujian persamaan paket A, B, dan C untuk sementara ini cukup membantu masyarakat pelaku homeschooling untuk mengurus legalisasi pendidikan anak-anak mereka, walaupun hal itu sebenarnya bukan target utama. ***