Selasa, 04 Oktober 2011

Perjalanan di Bulan Ramadhan 2


Baru sempat menulis lagi. Perjalanan berikutnya di bulan Ramadhan 1432 H adalah mengunjungi salah satu kota kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kota itu bernama Tapak Tuan. Kota di tepi pantai, bernuansa khas laut.

Inilah mungkin perjalanan terpanjang sejauh ini yang dirasakan anak-anak setelah mereka besar. Menempuh perjalanan 24 jam non stop, kecuali istirahat untuk makan dan tidur beberapa jam di dalam mobil. Pengalaman yang benar-benar di luar kebiasaan. Saya agak khawatir awalnya, apakah mereka akan kuat? Tapi ternyata semua bisa dilalui.

Pukul 11.00 start berangkat dari Bukittinggi. Setengah jam kemudian kami mulai menapaki jalanan berkelok-kelok. Panorama hutan lebat di kiri kanan jalan memang begitu memesona, tapi kelokan pendek-pendek membuat anak-anak mulai mabuk. Kantong kresek laku keras. Mobil tetap melaju hingga menemui sebuah masjid kami berhenti. Anak-anak ke toilet sekaligus beristirahat. Di situlah terasa, suasana di 'negeri' asing. Pohon-pohon atau bunga-bunga bolehlah sama, tapi bentuk-bentuk atap rumah tak bisa berbohong, terlebih-lebih lagi bahasa. Terasa pada suasana seperti itu, Indonesia memang beragam.

Usai istirahat perjalanan berlanjut menyusuri jalanan berhutan menuju perbatasan provinsi SUMBAR dan SUMUT.Kakek sebagai pemandu sangat antusias memberikan info pada cucu-cucunya tentang apa-apa yang ada di sepanjang daerah yang kami lewati. Sayang, kondisi sehabis mabuk mengganggu perhatian anak-anak untuk lebih cermat menyimak. Lewat area Equator di Bonjol kami hanya melintas saja, tidak singgah, padahal ada museum equator di sana. Kami mengejar waktu supaya tidak terlalu malam tiba di hutan Sawit.

Sore hari kami memasuki satu daerah yang sangat cantik, dan sudah termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara. Mandailing Natal nama daerah itu. Kami disuguhi pemandangan tertata alami. Hutan membentengi di ujung pandangan, pesawahan kemudian membentang di tahapan kedua, dan sungai besar yang jernih berada paling depan, tak jauh dari jalan raya.

Warna padi berselang-seling hijau dan kekuningan berlatarkan hutan hijau yang kaya oksigen dan menyimpan cadangan air berlimpah. Tak heran kalau sungainya tak henti mengalir, memberikan kehidupan pada penduduk di sana. Rasanya ingin turun untuk sekadar mencicip segarnya aliran air yang sangat jernih itu. Sayang, waktu terbatas. Kami hanya bisa menikmati selintasan, bahkan memotret pun hanya bisa dari balik jendela mobil. Hasilnya jelas kurang memuaskan.Namun kesimpulan sementara sampai sejauh itu, Sumatera memang 'surga' bagi para pecinta dan penikmat panorama sungai.

BERSAMBUNG



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar