Senin, 14 Januari 2008

PERAN MULTIMEDIA INTERAKTIF (MMI) DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

(Achmad Samsudin*, 2008)
*Mahasiswa S2 Pendidikan IPA (Fisika SL) SPs UPI Bandung


Model Pembelajaran MMI
Beberapa pakar MMI (Muhammad, 2002; Setiawan, 2007), mengemukakan bahwa model pembelajaran MMI diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Bentuk-bentuk media digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih konkret. Pengajaran menggunakan media tidak hanya sekedar menggunakan kata-kata (simbol verbal). Dengan demikian, dapat kita harapkan hasil pengalaman belajar lebih berarti bagi siswa. Muhammad (2002) menekankan pentingnya media sebagai alat untuk merangsang proses belajar.
Sutopo (2003) menjelaskan bahwa model MMI dalam banyak aplikasi, pengguna dapat memilih apa yang akan dikerjakan selanjutnya, bertanya, dan mendapatkan jawaban yang mempengaruhi komputer untuk mengerjakan fungsi selanjutnya. Model MMI mempunyai banyak aplikasi untuk menampilkan berbagai animasi dan simulasi, dalam hal ini simulasi dan animasi dalam konsep fisika. Siswa akan sangat tertolong dengan model MMI dalam memahami konsep yang abstrak. Karena MMI dapat membuat konsep yang bersifat abstrak tersebut menjadi lebih konkrit. Selanjutnya konsep yang sudah konkrit tersebut akan membuat siswa jadi lebih bermakna dalam pembelajarannya.

Aneka Ragam Media Pengajaran
Penelitian para ahli di Universitas California oleh Dr William Allen, dkk. dalam Jackson (1996), pada intinya menyatakan bahwa berbagai macam media pengajaran memberikan bantuan sangat besar kepada siswa dalam proses belajar mengajar. Namun demikian, peran guru juga menentukan terhadap efektifitas penggunaan media dalam pengajaran. Peran ini tercermin dari kemampuan memilih aneka ragam media pengajaran sesuai dengan situasi dan kondisi.
Aneka ragam media dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Muhammad (2002) dan Hartono (2007) membuat klasifikasi berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu: suara (audio), bentuk (visual), dan gerak (motion).

Kegunaan Media
Sutopo (2003) menerangkan bahwa media dapat digunakan untuk bermacam-macam bidang pekerjaan, tergantung kreativitas untuk mengembangkannya. Aplikasi media dibagi menjadi beberapa kategori, di antaranya yaitu:
1. Presentasi bisnis 6. Teleconferencing
2. Pelatihan dan Pendidikan 7. Film
3. Penyampaian Informasi 8. Virtual reality
4. Promosi dan penjualan 9. Web
5. Produktivitas 10. Game

Dari sepuluh kegunaan dari media pengajaran di atas, yang digunakan dalam dunia pendidikan pada umumnya adalah poin kedua dan sembilan yaitu mengenai aplikasi pelatihan dan pendidikan serta aplikasi web. Komputer dengan MMI mulai mendapat perhatian pada saat digunakan untuk pelatihan dan pendidikan dari suatu keadaan pembelajaran fisika khususnya ke keadaan pembelajaran fisika yang lain. Presentasi media dapat menggunakan beberapa macam teks, chart, audio, video, animasi, simulasi, atau foto. Jika macam-macam komponen tersebut (teks, chart, audio, video, animasi, simulasi, atau foto) dapat digabungkan secara interaktif, hal itu dapat menghasilkan suatu pembelajaran yang efektif (Sutopo, 2003).
Konsep fisika yang banyak mengandung konsep-konsep abstrak, sangat terbantu oleh adanya Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) ini. Kita jadi mengerti, bagaimana media komputer dapat membantu pembelajaran fisika khususnya secara maksimal. Siregar (2008) mengatakan bahwa hyperteks (PBK) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa minimal 2 sigma. Maksudnya, pembelajaran dengan bantuan komputer, siswa dapat meningkat dalam hasil belajarnya minimal 2 tingkatan pencapaian. Hal ini juga banyak dijumpai dari hasil-hasil penelitian yang dikembangkan baik menggunakan MMI atau media komputer lainnya.

Pengajaran dengan Bantuan Komputer
Perkembangan zaman dapat ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Karena itu dalam proses pembelajaran perlu juga dikembangkan cara-cara mengajar yang baru pula, di antaranya ialah cara mengajar dengan mempergunakan komputer. Metode mengajar ini dikembangkan karena pertama-tama sudah jelas pada kehidupan modern di masa depan, komputer merupakan suatu alat yang penting. Dengan bantuan komputer dapat diajarkan cara-cara mencari inforamsi baru, yaitu dengan menyeleksi dan mengolah pertanyaan, sehingga terdapat jawaban terhadap suatu pertanyaan itu.
Roestiyah (2001) menjelaskan bahwa secara teori, komputer mempunyai kekuatan keahlian yang lebih daripada seorang guru, karena komputer dapat:
1. Menyimpan beberapa informasi
2. Memilih informasi tersebut dengan kecepatan yang tinggi
3. Menyajikan pada siswa dengan tanda diagram yang menantang
4. Memberi jawaban tipe kebutuhan siswa
5. Memberi umpan balik kepada siswa secara individual secepatnya
6. Memberikan informasi yang berbedaan dengan siswa yang berbeda pula.

Adapun keterbatasan media komputer menurut Arsyad (2002) adalah:
1. Meskipun harga perangkat keras komputer cenderung semakin menurun (murah), pengembangan perangkat lunaknya masih relatif mahal.
2. Untuk menggunakan komputer diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus tentang komputer.
3. Keragaman model komputer (perangkat komputer) sering menyebabkan program (software) yang tersedia untuk satu model tidak cocok dengan model yang lainnya.
4. Program yang tersedia saat ini belum memperhitungkan kreativitas siswa.
5. Komputer hanya efektif bila digunakan oleh satu orang atau beberapa orang dalam kelompok kecil.

Komputer dapat diprogram untuk dimanfaatkan dalam potensi mengajar dengan tiga cara, yaitu:
1. Tutorial
Dalam hal ini program menuntut komputer untuk berbuat sebagai seorang tutor yang memimpin siswa melalui urutan materi yang mereka harapkan menjadi pokok pengertian. Komputer dapat menemukan lingkup kesulitan tiap siswa, kemudian menjelaskan pendapat-pendapat yang ditemukan siswa, menggunakan contoh dan latihan yang tepat dan mentes siswa pada tiap langkah untuk mencek bagaimana siswa telah mengerti dengan baik.
2. Simulasi
Bentuk kedua pengajaran dengan komputer ialah untuk simulasi pada suatu keadaan khusus, atau sistem di mana siswa dapat berinteraksi. Siswa dapat menyebut informasi, sehingga dapat sampai pada jawabannya, karena mereka berpikir sehat, mencobakan interpretasinya dari prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Komputer akan menceritakan pada siswa apakah dampak dari keputusannya, terutama tentang reaksi dari kritikan atau pendapatnya.
3. Pengolahan Data
Rowntree (Roestiyah, 2001) menuliskan bahwa dalam hal ini komputer digunakan sebagai suatu penelitian sejumlah data yang luas atau memanipulasi data dengan kecepatan yang tinggi. Siswa dapat meminta kepada komputer untuk meneliti figur-figur tertentu, atau menghasilkan grafik dan gambar yang sulit/kompleks.
Menurut Hamalik (2003), ada tiga bentuk penggunaan komputer dalam kelas, yaitu untuk:
1. Mengajar siswa menjadi mampu membaca komputer atau Computer literate,
2. Mengajarkan dasar-dasar pemrograman dan pemecahan masalah dengan komputer,
3. Melayani siswa sebagai alat bantu pembelajaran.

Hamalik (2003) juga menjelaskan ada empat bentuk/jenis perangkat lunak pengajaran komputer, yaitu: (1) latihan dan praktik, (2) tutorial, (3) simulasi, (4) pengajaran dengan instruksi komputer (computer managed instruction).
Menurut Arsyad (2002), kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari instruksional secara keseluruhan. Untuk itu ada kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media, antara lain:
1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
3. Praktis, luwes, dan bertahan.
4. Guru terampil menggunakannya.
5. Pengelompokan sasaran.
6. Mutu teknis.

Selasa, 08 Januari 2008

Menularkan Keberanian pada Anak

Idul Adha bulan Desember 2007 lalu adalah momentum bersejarah buat saya. Untuk pertama kalinya saya berani membawa kedua anak saya berboncengan naik sepeda. Dua hari sebelumnya saya baru berani bawa si kecil Luqman (3 tahun). Itu pun diawali dengan perasaan ngeri. Bahkan saya tak mau membayangkannya.

Karena kasihan melihat mereka, yang beberapa hari di minggu itu tak bersentuhan dengan hal-hal menarik, sedikit keberanian mengalahkan sejuta ketakutan. Dengan basmalah, saya mengumpulkan energi untuk melakukan hal baru. Hebatnya, anak-anak justru begitu percaya pada saya yang sebenarnya sangat ragu bisa menjalankan sepeda dengan mulus.

Awalnya sedikit terseok-seok, tapi dengan tatapan lurus ke depan dan berpikir hanya selamat, akhirnya sepeda melaju dengan aman. Anak-anak tertawa gembira, apalagi saat sepeda melaju lebih kencang. Sebuah pengalaman yang luar biasa buat mereka. Celoteh mereka tak henti-henti selama dalam perjalanan. Mereka tak tahu, kalau saya justru sedang berjuang melawan rasa was-was.

Setibanya kembali ke rumah, hati rasanya begitu lapang. Suami saya bahkan mungkin tak tahu suasana batin saya saat itu, kecuali ia membaca tulisan ini. Pengalaman hari itu memang menjadi awal keberanian untuk hari-hari berikutnya.

Satu kesimpulan yang terpikir kemudian adalah, bahwa dalam banyak hal, kita orang tua pasti akan dihadapkan pada situasi-situasi semisal itu dalam menempuh kehidupan. Jika kita memberikan aura keberanian dan optimisme dalam menghadapi apapun, sikap mental itu akan menular pada anak-anak kita. Sebuah modal berharga bagi mereka untuk survive, kelak setelah dewasa.

Muatan Listrik dikaji dari Hukum Coulomb dan Hukum QED


MUATAN (CHARGE)

Pengarang
Lewis Ryder
School of Physical Sciences, University of Kent, Canterbury, UK

Rujukan
Physics Education, March (2007) 141-145.

Intisari
§ Secara umum fakta yang diketahui dengan baik tentang muatan listrik seperti penolakan muatan, tidak seperti penarikan muatan. Gaya penolakan atau penarikan muatan dinyatakan dengan Hukum Coulomb .
§ Muatan listrik q1 membentuk dirinya sendiri medan listrik .
§ Medan listrik adalah minus dari gradien Potensial Coulomb V .
§ Sesuai pengembangan Teori Maxwell, seperti halnya kelistrikan, di sini juga terjadi fenomena kemagnetan.
§ Kombinasi antara Persamaan Maxwell dengan Teori Quantum, cara yang paling sederhana mengenai dua partikel bermuatan menginteraksikan dalam ”pertukaran” satu foton diantara keduanya. Seperti pada Figur 1.
§ Dari Hukum Coulomb ke QED (Quantum Electrodynamics), kita memiliki cara yang panjang. Muatan listrik sebagai sumber untuk medan (medan magnetik); medan terkuantisasi dan kuanta sebagai foton; partikelnya memiliki massa nol.

Pendapat Pribadi
Dalam suatu eksperimen, jika kita hendak merumuskan secara alamiah banyak faktor yang terlibat. Begitu juga dalam studi muatan listrik ini. Ternyata bukan hanya konsep-konsep listrik saja, melainkan juga konsep-konsep gelombang dan Teori Quantum. Perpaduan dari Hukum Maxwell dengan Teori Quantum menghasilkan Quantum Electrodynamics (QED). Dengan kompleksitas kajian dari hukum-hukum yang terlibat seperti hukum Coulomb dan hukum grabitasi, serta teori quantum yang dipadukan dalam satu hukum tentang QED, tentu saja tidak kita jumpai dalam pembelajaran fisika di lingkungan sekolah lanjutan. Tetapi, di sekolah lanjutan sudah dibelajarkan untuk masing-masing teori secara terpisah dan lebih sederhana. Walaupun demikian, kajian dari artikel ini dapat memberikan masukan sebagai informasi baru baik bagi siswa, guru, mahasiswa, dan pembaca pada umumnya.

Pertanyaan
Bagaimanakah Teori Listrik Lemah (Electroweak Theory) berkembang? dan Apakah kajian utama dari teori ini?

Artikel dinalisis oleh Achmad Samsudin
2008

Sabtu, 05 Januari 2008

Bersahabat dengan Cita-Cita

Semalam, hampir 4,5 jam sejak pukul 20.00 saya 'melahap' Edensor-nya Andrea Hirata. Entah, mungkin karena sudah diniatkan membaca, mata tak mau terpejam sebelum buku itu habis. Dua kali listrik padam, tapi kemudian menyala lagi. Saya masih belum mengantuk. Pada bagian tertentu yang sangat kocak, saya terkekeh-kekeh menahan tawa. Saya lihat kedua anak saya dan bapaknya tidur terlelap. Tentu saja, karena waktu itu sudah jam 12 malam. Takut membuat mereka terbangun, saya pindah ke ruang tamu, sekalian menyempatkan diri sebentar untuk shalat sunnah.

Berjuta persepsi menjuntai membentuk replika kehidupan. Bukan lagi replika atau mozaik kehidupan Ikal dan Arai yang tercitrakan di pikiran. Mozaik hidup saya-lah yang seolah bergantian menampakkan diri. Kalimat inspiratif yang menggugah hati saya terletak di bagian awal buku, "Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Inilah fakta penciptaan yang tak terbantahkan-Diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya-" (Andrea Hirata).

Tak pernah ada yang remeh, tak pernah ada yang sia-sia. Betapapun mungkin nasib kita tak sebaik orang lain, atau betapapun paras wajah kita tak semolek selebritis, atau tinggi badan kita tak semampai layaknya para model, kita adalah makhluk-Nya yang amat berharga. Bukan pandangan orang lain yang menentukan siapa kita, tapi kita-lah yang membentuk citra diri kita sendiri. Kenali diri sendiri dan galilah kemampuan tak terhingga yang dihadiahkan Allah untuk kita, maka kita akan temukan, bahwa segala sesuatu itu selalu mungkin ketika kita memang meyakininya.

Pesan yang saya tangkap dari perjalanan Ikal dan Arai di Eropa hingga Afrika adalah, Milikilah cita-cita walaupun mungkin begitu musykil kelihatannya. Suatu saat, cita-cita itu akan menjelma menjadi nyata tanpa kita menyadarinya. Itu adalah kejutan indah yang dihadiahkan Allah atas keyakinan kita.

Bertahun-tahun saya pernah dilanda perasaan imperior yang parah. Tak ada yang bisa meyakinkan saya tentang potensi yang saya miliki, karena saya terjerembab dalam perasaan rendah diri yang luar biasa berat. Namun, ternyata saya masih menyisakan cita-cita kecil di dalam hati yang mungkin sangat kuatnya, sehingga ia tak padam oleh dinginnya semangat. Sisa impian itulah yang nampaknya menggiring saya menuju potongan (mozaik) kehidupan yang saya cita-citakan. Tak masuk akal, tapi hal itu memang benar-benar terjadi. Saya dipertemukan dengan seorang suami yang baik, yang memahami saya apa adanya, dan menyulut semangat saya tanpa bosan. Prosesnya berliku, tapi waktu seolah memandu saya untuk terus memilih, menuju harapan yang lambat-lambat terus mengalun tak ubahnya semilir angin yang setiap hari berhembus menyapu wajah-wajah kita.

Sudah bisa ditebak, sejak mulai tertidur pukul 01.30, tidur saya diramaikan suasana hiruk-pikuk Ikal, Arai, dan teman-temannya yang tak jelas. Beruntung saya masih bisa mendapatkan subuh, meski mata terasa perih. Bersahabatlah dengan cita-cita, bertemanlah dengan impian-impian baik, alam pasti memberi ruang, dan memberi kita semesta sumber daya untuk mewujudkannya.

Ya Rabb, begitu melimpah 'ayat-ayat'-Mu, terbentang tak terbatas, bahkan melintasi ruang dan waktu. Berikan aku kearifan tuk bisa melihat dan memahami-Nya.

PARADIGMA PEMBELAJARAN SAINS DI KALANGAN SANTRI

Sains merupakan salah satu disiplin ilmu yang cukup familiar terdengar di kalangan akademisi umum. Tetapi apakah Sains cukup familiar di kalangan pesantren? Ternyata, Sains kurang begitu familiar di kalangan para santri. Karena wawasan kita selama ini masih terbelenggu pada dikotomi yang kurang tepat mengenai ilmu ”dunia” dan ”akhirat”. Sehingga para santri cenderung enggan belajar ilmu-ilmu non-agamis. Mereka masih berpandangan bahwa ”ilmu dunia” kurang memberikan jaminan di kehidupan di akhirat. ”Ilmu dunia” cenderung diacuhkan dan kurang diperhatikan oleh para santri di lingkungan sekolah yang berada di pondok pesantren. Sekolah formal di lingkungan pondok pesantren hanya memasukkan materi subyek Sains sebagai tuntutan kurikulum belaka. Sehingga pembelajarannya cenderung ”asal hanya ada saja”. Lebih parah lagi guru yang mengampu materi subyek Sains bukan orang berlatar belakang pendidikan Sains (Fisika, Kimia, dan Biologi). Sehingga para santri sangat enggan belajar ilmu-ilmu yang konon katanya tidak berlandaskan agama itu. Padahal, perkembangan Sains dan Teknologi yang begitu pesat sekarang ini menuntut semua kalangan untuk bisa memanfaatkan maupun mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengacuhkan Sains dalam kehidupan, maka kita hanya akan terbelenggu pada pembelajaran yang bersifat konvensional belaka.
Munculnya pondok pesantren yang bernafaskan modern, cukup memberikan angin segar dengan perkembangan pembelajaran Sains pada khususnya dan pembelajaran materi subyek di luar lingkungan keagamaan. Walaupun begitu, perkembangan ini tidak begitu pesat sesuai yang diharapkan. Karena paradigma dikotomi ”ilmu agama” dan ”ilmu dunia” masih melekat di benak para santri. Selain itu, profesionalisme guru (ustadz) yang mengajarkan materi subyek Sains perlu untuk ditingkatkan lagi. Baik dari segi kuantitas yang masih sangat kurang, maupun kualitasnya yang cenderung tertinggal bila dibandingkan dengan sekolah formal di luar lingkungan pesantren (lembaga keagamaan) seperti DEPAG.
Baru-baru ini, DEPAG memberikan kucuran beasiswa bagi kalangan guru di lingkungan DEPAG (guru Sains di pesantren, MTs, dan MA) untuk melanjutkan studi Strata 2 (S2) di Perguruan Tinggi yang cukup bonafit di Indonesia seperti: ITB, UGM, ITS, dll. Apakah langkah ini sudah memberikan solusi terbaik? Menurut hemat penulis, langkah ini sudah memberikan solusi tetapi belum bisa memecahkan masalah intinya. Masalah yang dihadapi santri berkutat pada perlu tidaknya mereka belajar ilmu yang tidak menyangkut dalil-dalil agama di dalamnya (claim santri). Dengan menyekolahkan guru Sains (Fisika) di Perti yang bukan berlandaskan pendidikan, secara konsep guru-guru tersebut akan jauh meningkat di bandingkan aslinya. Tetapi, apakah mereka bisa menerapkannya di lingkungan kerjanya kelak? Pembelajaran tidak melulu mengenai penguasaan konsep saja, pedagogi melebihi dari hal itu. Jika kita tidak mengetahui strategi apa yang harus diterapkan dalam pembelajaran Sains di lingkungan pesantren, kita akan terjebak pada matematis dan logika ilmu belaka. Tidak ada gunanya guru yang memiliki wawasan yang luas, tetapi mereka tidak bisa membelajarkan siswanya (santrinya) dengan baik. Karena pembelajaran Sains (Fisika) tanpa menggunakan pedagogi (ilmu pendidikan dalam konteks strategi pembelajaran) akan hambar dan kurang bermakna. Seperti kata pepatah lama mengatakan ”bagai makan sayur tanpa garam”. Walaupun kita sudah merasa makan sayur (merasa membelajarkan para santri) tentang pendidikan Sains, sebenarnya kita (Guru) belum membubuinya dengan garam (melakukan pembelajaran dengan pedagogi) secara benar. Pembelajaran akan berjalan selayaknya yang guru dapatkan di perti, yaitu dengan intelektual dan idealitas keilmuwan yang tinggi dan cenderung mengabaikan pedagogi yang seharusnya. Sehingga pembelajaran cenderung kurang humanis (memanusiakan manusia), karena siswa akan dijejali dengan latihan-latihan soal tanpa mereka tahu fenomena alam yang lebih bermakna.
Perkembangan Sains dan teknologi yang sangat pesat sekarang ini, mau tidak mau para santri pada khususnya dan siswa pada umumnya harus selalu siap menghadapinya. Jika pembelajaran Sains saja belum bisa dikuasai dengan baik oleh para santri, maka santri akan terkungkung pada kajian ilmu agama saja. Sehingga kehidupan keilmuan mereka akan timpang dan tidak berimbang. Maka mereka akan cenderung menjadi manusia yang mengabaikan kehidupan dunianya. Jika umat Islam pada umumnya dan para santri sebagai generasi muda acuh terhadap perkembangan Sains dan teknologi, maka yang terjadi kita akan selalu tertindas oleh ”Globalisasi” yang didengung-dengungkan orang Barat.
Sains memang bukan ilmu utama bagi kalangan santri, tetapi tanpa Sains hidup di dunia menjadi kurang bermakna. Karena Sains berasal dari alam, tanpa kita tadabur dengan alam, kita tidak akan bisa mensyukuri nikmat Allah yang tiada taranya ini. Makanya kita jangan mendikotomikan ilmu sesuai pemahaman kita saja yaitu ”ilmu dunia” dan ”ilmu akhirat”. Padahal sesuai pemahaman penulis, semua ilmu berasal dari Sang Maha Mengetahui (Allah SWT).


Oleh:
Achmad Samsudin, S.Pd.
Ex. Guru Fisika di Pondok Modern Selamat Kendal Jateng
Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPA/ Fisika SL SPs UPI Bandung
Alamat Rumah:
Ds. Johorejo Rt 4 Rw 1 Gemuh Kendal Jateng Kode Pos 51356

Rabu, 02 Januari 2008

Tahun Baru dan Fotografi

Hari pertama tahun baru saya terpaksa keluar rumah tanpa suami dan anak-anak. Langit yang mendung sejak pagi tak menyurutkan niat saya untuk melakukan pemotretan. Ya, saya memang butuh foto beberapa tanaman untuk keperluan pekerjaan. Kamera digital 6.0 mega pixel yang dipinjam dari seorang teman kemarin sore saya kalungkan di leher. Wah, benar-benar seperti fotografer amatiran.

Berbekal referensi teman, saya ditemani adik, pergi ke kawasan Wisata Bunga Cihideung-Lembang. Hujan sesekali turun rintik-rintik, tapi sesaat kemudian kembali deras. Mobil-mobil pribadi mendominasi jalanan menuju Cihideung. Padat sekali. Memang situasi ini biasa terjadi setiap liburan tahun baru tiba. Angkot yang berbaris menunggu penumpang, sedikit membuat ciut. Harus menunggunya penuh untuk bisa segera jalan. Sementara calon penumpang nampaknya tidak terlalu banyak. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali menunggu.

Setelah kurang lebih 30 menit termangu, angkot yang saya tumpangi penuh juga. Satu demi satu pemandangan yang menakjubkan singgah di mata. Kabut tipis lambat laun pergi diganti semburat matahari yang berhasil lolos dari halangan awan hitam. Ada harapan...

Kami turun di perkampungan penduduk. Meski tak ada satu pun yang saya kenal di kampung itu, tapi saya tak begitu cemas. Walau bagaimanapun orang Bandung itu memang ramah. Cukup bertanya, mereka pasti mau menunjukkan arah, apalagi memakai bahasa daerah.

Memang tak semua tanaman yang saya butuhkan ada di perkampungan itu. Kami memutuskan berjalan menuju ke arah pulang, berharap menemukan sisanya di perjalanan. Bunga-bunga beraneka warna memanjakan mata yang bosan dengan polusi perkotaan. Udara sangat sejuk. Kami melewati banyak penjual tanaman hias dan juga buah-buahan. Beberapa tanaman yang menarik perhatian, saya ambil juga fotonya. Tentu saja saya minta ijin pemiliknya sebelum itu. Wah, mereka begitu ramah. Sikap mereka sesejuk air hujan yang malu-malu membasahi areal wisata itu.

Tak terasa, jauh juga kami berjalan. Tapi, keindahan tempat-tempat di sepanjang jalan membuat kami tak lagi merasakan lelah. Jagung bakar panas menemani istirahat kami di sebuah trotoar. Perjalanan pun berlanjut. Pejalan kaki seperti kami harus bersaing dengan berbaris-baris kendaraan yang memadati jalan. Jalanan di sana memang sempit. Kalau tak hati-hati, kami bisa terserempet mobil-mobil mewah itu.

Setelah kurang lebih 4 atau 5 kilo kami berjalan, ada angkot kosong yang berhenti. Kami selamat dari guyuran hujan deras yang turun setelah itu. Pengalaman yang indah di tahun baru.

Setiba kami di rumah, saya memasukkan hasil foto ke komputer. Saat itulah saya benar-benar dibuat takjub untuk yang ke sekian kalinya. Subhanallah! Tekstur buah, daun, dan bunga yang berhasil diambil begitu jelas. Luar biasa indahnya ciptaan-Mu Ya Robb. Sepertinya, saya jadi cinta fotografi setelah ini.

Saat Tahun Lama Pergi

Tak biasanya, malam pergantian tahun membuat saya menangis. Di tengah bisingnya suara petasan dan kembang api di luar rumah, tetesan hujan yang jatuh bersahutan seolah menyuarakan kesedihan yang saya rasakan. Ada sesuatu yang hilang bersamaan dengan datangnya tahun baru, dan tersisa pesan yang tak terungkapkan untuk saya, "Lanjutkan hidupmu! Selesaikan tugas-tugasmu!"

Berulang kali saya membangun semangat hidup yang kadang-kadang meredup. Bahkan setiap kali bangun dari tidur, hal pertama yang selalu harus saya bangunkan adalah semangat. Saya tahu, tanpa semangat, apa pun tak lagi berarti apa-apa. Saat malam semakin larut, saat kantuk tak juga datang, saya bersujud dalam tumpahan air mata yang tak mau berhenti mengalir.

Melihat anak-anak yang tertidur pulas menambah keharuan. Saya, seorang ibu yang masih begitu banyak melakukan kesalahan dan kaya dengan kekurangan. Hanya dengan Kasih Sayang Yang Maha Penyayang saya masih berdiri, dipercaya untuk menjaga titipan-Nya yang begitu berharga.

Saya percaya, hidup yang telah diberikan-Nya pada kita berisi tugas-tugas penting. Namun seringkali kita tak bisa melihat dengan jelas tugas-tugas itu. Kita terlalu disibukkan dengan rutinitas dan terkesima dengan kejadian-kejadian tak terduga yang menimpa kita.

Meski tersisa sedih, hidup harus berlanjut, dan tugas-tugas harus diselesaikan. Setiap orang mungkin punya tugas yang berbeda. Mari temukan tugas kita, dan berusaha untuk menyelesaikannya.