Sabtu, 05 Januari 2008

Bersahabat dengan Cita-Cita

Semalam, hampir 4,5 jam sejak pukul 20.00 saya 'melahap' Edensor-nya Andrea Hirata. Entah, mungkin karena sudah diniatkan membaca, mata tak mau terpejam sebelum buku itu habis. Dua kali listrik padam, tapi kemudian menyala lagi. Saya masih belum mengantuk. Pada bagian tertentu yang sangat kocak, saya terkekeh-kekeh menahan tawa. Saya lihat kedua anak saya dan bapaknya tidur terlelap. Tentu saja, karena waktu itu sudah jam 12 malam. Takut membuat mereka terbangun, saya pindah ke ruang tamu, sekalian menyempatkan diri sebentar untuk shalat sunnah.

Berjuta persepsi menjuntai membentuk replika kehidupan. Bukan lagi replika atau mozaik kehidupan Ikal dan Arai yang tercitrakan di pikiran. Mozaik hidup saya-lah yang seolah bergantian menampakkan diri. Kalimat inspiratif yang menggugah hati saya terletak di bagian awal buku, "Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Inilah fakta penciptaan yang tak terbantahkan-Diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya-" (Andrea Hirata).

Tak pernah ada yang remeh, tak pernah ada yang sia-sia. Betapapun mungkin nasib kita tak sebaik orang lain, atau betapapun paras wajah kita tak semolek selebritis, atau tinggi badan kita tak semampai layaknya para model, kita adalah makhluk-Nya yang amat berharga. Bukan pandangan orang lain yang menentukan siapa kita, tapi kita-lah yang membentuk citra diri kita sendiri. Kenali diri sendiri dan galilah kemampuan tak terhingga yang dihadiahkan Allah untuk kita, maka kita akan temukan, bahwa segala sesuatu itu selalu mungkin ketika kita memang meyakininya.

Pesan yang saya tangkap dari perjalanan Ikal dan Arai di Eropa hingga Afrika adalah, Milikilah cita-cita walaupun mungkin begitu musykil kelihatannya. Suatu saat, cita-cita itu akan menjelma menjadi nyata tanpa kita menyadarinya. Itu adalah kejutan indah yang dihadiahkan Allah atas keyakinan kita.

Bertahun-tahun saya pernah dilanda perasaan imperior yang parah. Tak ada yang bisa meyakinkan saya tentang potensi yang saya miliki, karena saya terjerembab dalam perasaan rendah diri yang luar biasa berat. Namun, ternyata saya masih menyisakan cita-cita kecil di dalam hati yang mungkin sangat kuatnya, sehingga ia tak padam oleh dinginnya semangat. Sisa impian itulah yang nampaknya menggiring saya menuju potongan (mozaik) kehidupan yang saya cita-citakan. Tak masuk akal, tapi hal itu memang benar-benar terjadi. Saya dipertemukan dengan seorang suami yang baik, yang memahami saya apa adanya, dan menyulut semangat saya tanpa bosan. Prosesnya berliku, tapi waktu seolah memandu saya untuk terus memilih, menuju harapan yang lambat-lambat terus mengalun tak ubahnya semilir angin yang setiap hari berhembus menyapu wajah-wajah kita.

Sudah bisa ditebak, sejak mulai tertidur pukul 01.30, tidur saya diramaikan suasana hiruk-pikuk Ikal, Arai, dan teman-temannya yang tak jelas. Beruntung saya masih bisa mendapatkan subuh, meski mata terasa perih. Bersahabatlah dengan cita-cita, bertemanlah dengan impian-impian baik, alam pasti memberi ruang, dan memberi kita semesta sumber daya untuk mewujudkannya.

Ya Rabb, begitu melimpah 'ayat-ayat'-Mu, terbentang tak terbatas, bahkan melintasi ruang dan waktu. Berikan aku kearifan tuk bisa melihat dan memahami-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar