Sabtu, 03 Januari 2009

Palestina......Gaza........





Assalamualaikum



Hamas memang bukan Hizbullah dalam persenjataan maupun letak geografis. Namun semangat mereka sama, Muqawamah. Bila kemenangan Hizbullah adalah hujjah ilahi (bukti ilahi), semua harus mengakui bila Hamas dan para pejuang Islam Palestina menang (dan pasti menang dengan izin Allah), maka kemenangan itu adalah hujjah akbar (bukti ilahi paling besar). Posisi Hamas lebih sulit ketimbang Hizbullah. Mereka tidak bisa leluasa bergerak, karena semua pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar telah ditutup. Bahkan 'teman' juga ikut-ikutan menutup pintu penyeberangan Rafah. Hamas tidak punya teman seperti Suriah seperti yang dimiliki Hizbullah. Tapi semua tahu apa yang terjadi di Lebanon juga kini terjadi di Jalur Gaza.



Tadi malam (Rabu, 31/12) Ismail Haniyah dalam pernyataan yang disampaikan lewat saluran televisi Al-Aqsha milik Hamas yang sempat bangunan aslinya dibom oleh Israel mengatakan bahwa perang kali ini berbeda dengan perang-perang terdahulu. Dalam perang ini Israel begitu buas menghancurkan semua yang ada. Tidak ada yang disisakannya. Bila media-media menyebut anak-anak yang syahid di Gaza sekitar 40-an di hari kelima, Ismail Haniyah menyebut lebih dari 70. Bila disebut 6 masjid, rumah Allah yang dihancurkan, Ismail Haniyah menyebut 8 buah. Oleh karenanya, Ismail Haniyah menyebut perang ini adalah Perang Furqan. Apa yang terjadi sebelum perang dan sesudahnya benar-benar akan berbeda, karena kemenangan adalah kepastian bagi orang-orang yang sabar dan melakukan perlawanan.



Benar, Israel tidak tanggung-tanggung menggunakan bom smart paling canggih milik Amerika bernama Uni Bom Terarah (GBU-39) yang dipesan sebanyak 1.000 setelah kekalahan mereka dari Hizbullah. Sekalipun bom ini beratnya hanya 113 kilogram, namun kemampuan penetrasinya sama dengan satu ton. Belum lagi pesawat tanpa awak yang setiap harinya terbang berputar-putar di atas Gaza memonitoring yang terjadi di sana. Pesawat-pesawat ini hanya kembali bila helikopter atau jet-jet tempur Israel mulai beroperasi membombardir apa saja yang mereka anggap musuh. Dan begitulah setiap harinya. Belum lagi kapal-kapal perang yang tidak ingin ketinggalan menunjukkan kebrutalan mereka atas rumah-rumah penduduk. Semua itu ditambah pasukan darat Israel dengan tank-tank Merkavanya yang berjaga-jaga di perbatasan Gaza mulai menembak bangunan-bangunan di sana.



Namun cukupkah itu untuk meraih kemenangan di medan perang?



Sayyid Hasan Nasrullah tadi malam (Rabu, 31/12) dalam ceramah Asyuranya menyebut serangan udara dan laut tidak pernah menjadikan penyerangnya sebagai pemenang. Terlebih lagi bila menghadapi pemimpin yang berani dan rakyat yang sabar dan melakukan perlawanan. Ini tentu bukan tidak menerima kerusakan yang diakibatkan serangan biadab itu, tapi perang punya tujuan dan strategi.



Sayyid Hasan Nasrullah menyebut Israel tidak pernah menyebut tujuannya yang jelas dalam agresi brutalnya ke Gaza. Itu menunjukkan betapa mereka tidak percaya bahwa operasi yang mereka lakukan bakal berhasil dan yang paling penting adalah mereka sejak awal sudah khawatir akan kalah. Mereka sedang mengulur-ulur waktu sehingga Barack Obama masuk Gedung Putih dan dengan pertolongan negara-negara Eropa dan sebagian negara-negara Arab, Israel berharap dapat menekan para pejuang Palestina. Dan yang cukup lucu adalah Israel yang mengaku memiliki angkatan bersenjata terkuat di Timur Tengah masih harus menyebarkan propaganda agar warga Gaza dan Palestina secara keseluruhan tidak memberikan dukungannya kepada Hamaz.



Kenyataan ini telah menunjukkan Israel sejak awal serangannya terhadap telah menjadi PECUNDANG.



Koran Jerusalem Post hari Rabu (30/12) menulis, perang melawan Hamas merupakan langkah salah dan kekalahan Israel dalam perang ini sudah dapat dipastikan. Sementara Koran Haaretz menyebut mereka yang menentang Hamas kemarin kini telah berbalik mendukungnya.



Karena bukan hanya mereka tidak berhasil mencapai tujuan yang mereka sebut-sebut selama ini seperti ingin menjatuhkan pemerintahan Hamas yang dipilih rakyat Palestina dan menghentikan tembakan rudal-rudal ke arah Palestina pendudukan, tapi ternyata sejak hari pertama hingga kini serangan roket dari Gaza tidak pernah berkurang, malah sejak hari keempat telah dimulai babak baru serangan roket para pejuang Islam. Pada hari keempat Hamas lewat sayap militernya Syahid Ezzuddin Qassam menyerang kota Ashdod yang berjarak 30 kilometer dari perbatasan Jalur Gaza. Dan dengan mencermati lokasi peluncuran roket itu, berarti pada hari keempat Hamas telah melakukan penembakan roket hingga jarak 40 kilometer. Dan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Terlebih lagi karena roket yang ditembakkan itu jenis Qassam, buatan mereka sendiri.



Israel semakin tercengang di saat-saat terakhir perang hari keempat. Sebelum Abu Ubaidah, Jurubicara Ezzuddin Qassam lewat televisi Al-Aqsha, yang tampaknya memakai penerangan apa adanya karena sebentar-sebentar sorotan lampu berkurang dan kain latar yang agak kusut, menyatakan bahwa, bila serangan Israel terus berlanjut, kami akan menyerang ke daerah-daerah yang lebih jauh dari Ashdod, beberapa saat sebelum itu ternyata dilaporkan Hamas menggunakan roket Grad dan menembak Beersheba, kota ketujuh terbesar di Israel yang menewaskan 5 orang dan melukai 40 orang, 5 di antaranya luka parah. Bila mengukur jarak kota Beersheba yang berjarak 40 kilometer dari perbatasan Gaza, maka hitungannya roket Grad milik Hamas telah mampu menyerang target lebih dari 50 kilometer. Dan itu berarti peringatan yang disampaikan oleh Brigade Syhid Ezzuddin Qassam tidak main-main bahwa mereka akan menembakkan roketnya ke daerah yang lebih jauh dari itu.



Perang memasuki hari kelima dan kini kota Beersheba mulai dilanda ketakutan. Bila menengok televisi-televisi Israel yang ditayangkan oleh televisi Al-Aqsha kita bakal menyadari betapa penakutnya mereka. Universitas Ben Gurion dan sekolah-sekolah di Beersheba ditutup untuk sementara waktu. Brigade Syahid Ezzuddian Qassam juga menyebut setiap harinya mereka akan melakukan serangan roket ke daerah-daerah Palestina pendudukan.



Menarik sekali menyimak transformasi Gaza setelah memasuki hari keempat. Uni Eropa mulai melakukan pertemuan membicarakan gencatan senjata. Sekalipun terlambat dan sangat memalukan menteri-menteri luar negeri Arab melakukan pertemuan di Kairo. Hosni Mobarak dengan enteng dan sok patuh terhadap hukum internasional pada hari keempat menyebut jalur penyeberangan Rafah hanya dapat dibuka bila hadir dari pihak Eropa dan Otorita Palestina. Masih dengan gaya lama yang ingin memojokkan Hamas, Mobarak menyebut Mesir tidak bertanggung jawab mengenai perselisihan di Palestina antara Fatah dan Hamas. Mobarak meminta Mahmoud Abbas harus hadir bila Rafah ingin dibuka. Padahal sebagaimana biasanya, setiap kali Israel akan menyerang Gaza, Mahmoud Abbas keluar dari Palestina dengan berbagai alasan. Kali ini pun ketika Israel menyerang Gaza, Mahmoud Abbas berkunjung ke Arab Saudi. Dan negara-negara Arab 'moderat' ingin memojokkan Hamas seakan-akan mereka mengusir Mahmoud Abbas.



Ismail Haniyah, Perdana Menteri sah yang dipilih oleh rakyat Palestina tadi malam menyebut Hamas tidak pernah punya politik dualisme. Mereka tidak menerima tawaran berdialog dari Mahmoud Abbas bukan karena menganggapnya bukan Pemimpin Otorita Palestina, tapi lebih dikarenakan aksi-aksi Otorita Palestina yang memenjarakan 400 anggota dan pejuang Palestina Hamas. Haniyah juga membantah isu yang disebarkan sejumlah media Arab bahwa dalam serangan Israel banyak tawanan Fatah yang meninggal di penjara Hamas. Kata Haniyah, semua tahanan Fatah telah dibebaskan Hamas, kecuali beberapa orang yang punya masalah tersendiri. Dan itu pun mereka berada di tempat aman.



Hamas memang bukan Hizbullah. Namun kemenangan Muqawamah di Palestina akan menjadi hujjah akbar dan akan mengubah peta politik di Timur Tengah. Hamas hanya akan berunding dalam berbagai masalah dengan tiga syarat; Israel hentikan serangan, batalkan blokade dan buka semua jalur penyeberangan untuk selamanya.



Wassalam



Saleh Lapadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar