Minggu, 11 Januari 2009

Terjemah Tafsir Ayat Nikah




“Hunna libasu lakum wa antum libasu lahun”

Dalam tulisan dibawah ini kita akan dibawa oleh ustad Qiroati seorang ahli ilmu tafsir qu’ran untuk mengarungi sebuah lembah keilmuan hanya dengan memahami beberapa ayat yang ada dalam qur’an. Dengan membaca ini akan terasa sekali betapa pemilihan dan kedalaman bahasa yang dipakai dalam sangatlah mendalam dan begitu menakjubkan. Disini coba diungkap mengapa Allah swt mengatakan pasangan merupakan pakaian bagi yang lain.

Baju adalah kebutuhan ketiga manusia. Kebutuhan manusia pertama oksigen kedua makanan dan yang ketiga adalah pakaian. Dalam Istri diibaratkan sebagai baju bagi suaminya begitupun sebaliknya. Pakaian harus disesuaikan dengan keadaan yang ada baik tebal tipisnya, warnanya, besar kecilnya dan lain sebagainya. Posisi sebagai seorang istri maupun sebagai seorang suami pun tidak jauh berbeda. Antara keduanya harus ada penyesuaian sebiasanya dimana hal ini termasuk dalam cakupan pemikiran maupun hal-hal yang lain, sehingga pada akhirnya keduanya akan menjadi hiasan bagi masing-masing yang lain. Kegunaan pakaian yang lain adalah untuk menutupi keburukan atau kekurangan atau sesuatu hal yang tidak pantas dilihat oleh orang lain. Sebagai pasangan juga harus memahami peranan ini. Jadi masing masing menjadi pakaian atas hal-hal yang tidak pantas diketahui orang lain. Pakaian juga berfungsi untuk melindungi tubuh dari kedinginan dan kepanasan. Pasangan semestinya menjadi peran penutup kekurangan yang lain, jadi keduanya saling mengisi kekuarangan masing-masing. Karena sebagaiamana kita tahu tidak ada manusia yang sempurna, dengan bekerja bersama dan saling mengisi maka permasalahan dan pekerjaan akan lebih ringan dan lebih mudah terselsaikan disamping juga memperhatikan job description masing-masing. Manusia tanpa pakaian akan terkena berbagai penyakit atau suatu cela dan bahaya. Manusia tanpa seorang pasangan (ketika sudah waktunya) juga sama, tanpa kehati-hatian dia akan terjerumus pada lobang yang berbahaya.

Pada saat hawa dingin maka diperlukan pakaian tebal seperti jaket dan semacamnya, ketika hawa panas maka diperlukan pakaian yang tipis. Sebagai pasangan pun seperti itu ketika pasangan sedang marah maka yang lain semestinya menjadi penyejuk, ketika sedang dingin kebingungan, kehilangan jalan pemecahan memberikan songkongan untuk memperbesar hatinya begitu juga sebaliknya atas masing.

Pakaian adalah sebagai pelindung, sebagai pasangan pun sama. Masing –masing semestinya menjadi pelindung yang lain sehingga pasangannya terhindar dari perbuatan dosa. Masing-masing saling mengingatkan pada jalan yang benar dan diridhai oleh-Nya. Jadi keduanya saling menjaga agar tidak terjerumus pada tindak dosa, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi penyebab pasangan untuk berbuat dosa. Sebagaimana kita lihat dalam kehidupan hanya karena tuntutan istri banyak suami yang melakukan tindakan kriminal, dengan memahami makna ayat ini maka keluarga akan terhindar dari pasangan yang menuntut pasangannya tanpa melihat kondisi pasangannya.

Beberapa orang dengan mengenakan pakaian tertentu dia menjadi sakit ada juga yang karena memakai pakaian khusus menjadi selamat dari luka-luka saat kecelakaan. Begitu juga ketika mengambil pasangan yang tidak pas yaitu pasangan yang sakit ruhaninya, bisa jadi yang menikahi itu menjadi rusak ruhaninya atau sebaliknya akan menjadi lebih mulia ruhiyahnya. Pakaian karena alasan tertentu bisa menjadi rusak, ketika pakaian rusak hal itu akan berpengaruh buruk pada pemakainya, pasangan yang terkena polusi oleh lingkungan atau kawannya pun tidak jauh berbeda. Ketika pasangan terkena polusi maka pasangan yang satunya kalau tidak hati-hati juga akan terkena dampak buruknya oleh karena itu upaya saling menjaga itu sangatlah dibutuhkan antara satu pasangan atas pasangan yang lain. Pemilihan seseorang atas jenis warna dan pakaian menjadi tanda dari cirri khas pemilihnya. Begitu juga dalam pemilihan pasangan, orang yang dipilih itu menunjukkan kepribadian dari pemilihnya.

Adanya sebuah cela pada pakaian bisa jadi orang tidak akan pernah mau memilihnya, manusia pun sama ketika ada sebuah cela yang memang parah bisa jadi nilai dia akan hilang sama sekali, dia tidak akan dipilih oleh orang lain sebagai pasangan ketika tidak mau meninggalkan apa yang menjadi cela baginya misalnya karena memiliki sifat buruk yang sangat kentara hal itu bisa menjadi penyebab orang menjaga jarak darinya. Pakaian memiliki harga berfariasi, ada yang mahal ada yang murah. Pakaian dengan harga mahal tidak menjadi dalil bahwa pakaian itu benar-benar berkualitas begitu juga pakaian yang murah, hal itu tidak menjadi gambaran bahwa nilainya pasti rendah sebagaiman pakaian ikhram, pakaian ikhram murah tapi memiliki nilai yang tinggi, pasangan dengan mahar yang mahal tidak menjadi gambaran bahwa pasangan itu memang memiliki kualitas yang tinggi, hal ini mengisaratkan untuk memilih pasangan tidak hanya dari gelamornya tapi benar-benar dinilai secara selektif. Jadi mahal dan murahnya sesuatu bukalah timbangan untuk menilai kepribadian.

Pakaian terbaik tidak mesti sesuai dengan tubuh kita, bisa jadi pakaian yang bukan paling baik yang lebih sesuai dengan kita. Pasangan terbaik yaitu memiliki kriteria paling sempurna tidak mesti sesuai dengan kita. Bisa jadi pasangan yang biasa sederhana dengan kita lebih sesuai dan dengannya kehidupan rumah tangga menjadi lebih berarti. Dengan pakaian kita menjadi terbatasi,dengan pakaian shalat kita tidak bisa berenang begitu juga ketika memakai pakaian renang sangat tidak mungkin kita melakukan shalat. Ketika memiliki pasangan seorang suami semestinya sudah berada dirumah pada saat matahari terbenam jadi suami tidak bisa seenaknya pergi kemana-mana seolah tidak ada tanggungan. Mungkin hal ini terlihat sepele tapi akan sangat berarti sekali dalam membentuk keharmonisan rumah tangga.

Sebuah pakaian tidak bisa dipakai oleh beberapa orang, seorang istri hanya bisa dipinang oleh seorang suami. Dalam memilih pakaian tidak hanya dinilai bahwa ini pakaian untuk musim dingin atau musim panas tapi dilihat apakah masyarakat juga menerima jenis pakaian yang akan kita kenakan atau tidak. Pasangan pun sama, perlu dinilai tidak hanya dari satu dua sisi tapi kemampuan dia untuk membaur dengan masyarakat baik itu berupa keluarga kita atau masyarakat sekitar yang ada juga perlu menjadi timbangan dalam memilih. Disisi lain ketika seorang laki-laki mutadayin semestinya memilih orang yang mampu mengimbanginya, seorang muutadayin harus menjadi contoh masyarakat, dalam memilih pasangan harus memperhatikan jangan sampai memilih seorang pasangan yang tidak peduli dengan agama, atau sekedar memakai hijab saja merasa enggan. Hal ini tercermin juga pada saat Allah swt menegur istri-istri nabi. Ya ayyuhan nisaa an nabi, wahai para istri nabi kamu istri dari seorang nabi kamu semua berbeda dengan istri-istri yang lain. Jadi kedua pasangan menjadi cermin satu dengan yang lain.

Pakaian bisa menjadi penolong atau sebaliknya. Seperti pakaiannya nabi yusuf dimana digambarkan dalam quran ketika yang robek itu bagian belakang berarti nabi yusuf tidak berdosa sedang ketika yang robek bagian depan maka dia tidak suci. Disini pakaian bisa menjadi penolong bisa juga sebaliknya. Pasangan bisa menjadi saksi yang baik bagi suami bisa juga menjadi saksi yang mencelakakan suaminya. Sampai disini kurang lebih sudah Sembilan belas hal yang saya ungkapkan terkait ayat tadi, akan saya buka lebar-lebar sehingga kalian yang belum menikah setelah menikah menjadi bersemangat untuk membangun rumah tangga dengan dasar qu’rani. Pada saat belum beli kita memiliki ikhtiar penuh untuk memilih, pada saat pakain itu sudah kita beli maka ada ketentuan tertentu yang harus kita penuhi. Ketika sudah meminang seorang istri makan ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh suami. Dia harus membuat istrinya tentram dari ketakutan, berbuat baik, berlaku adil padanya, Dan buat dia ridha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar