Kamis, 23 Juni 2011

MODEL PERANCANGAN PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

MODEL PERANCANGAN PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
OLEH : MAHURI GURU SMK NEGERI 4 KOTA BENGKULU

Desain merupakan rancangan atau rencana yang akan dilaksanakan dalam suatu pendidikan atau pelatihan dari awal sampai akhir. Desain makro atau rancangan secara luas, artinya desain tersebut digunakan secara luas dalam suatu lembaga atau instansi yang bersangkutan, misalnya dalam suatu sekolah atau suatu perusahaan. Desain mikro atau desain yang lingkupnya kecil, artinya bahwa desain tersebut digunakan hanya pada satu bidang keilmuan saja, misalnya hanya dalam satu mata pelajaran saja.
1) Model Pengembangan Pendidikan IT
Dunia Teknologi Informasi berkembang dua kali lipat setiap lima tahun, sehingga perlu pengembangan kontinu dan berkesinambungan sejalan dengan tutuntan dunia industri. Selain itu, pengembangan IT memungkinkan untuk mendapat ketrampilan dan pengetahuan baru bagi para tenaga terampil bidang IT.
Adapun bentuk pengembangan yang dimaksud berupa “Cyber Campus System” yaitu suatu Model pengembangan Pendidikan IT secara terpadu, berkesinambungan dan bermutu sesuai tuntutan dunia Industri dalam bentuk ; pelatihan dan pengembangan profesi IT, Sekolah menengah Informatika dan Politeknik Informatika sebagai suatu rangkaian yang utuh.
Guna mempermudah penyampaiannya, maka dalam tulisan pertama ini hanya membahas Model pertama yaitu pelatihan dan pengembangan profesi IT selanjutnya akan disusul dengan tulisan kedua dan ketiga.
2) Model Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
Model ini bersifat short course dalam upaya mengaplikasikan pendidikan berkesinambungan atau pendidikan sepanjang hayat. Menurut sebagian besar organisasi-organisasi profesi TI di seluruh dunia, melalui model ini diharapkan para anggotanya dapat menambah ketrampilan dan pengetahuan baru serta up to date. Ketentuan ini dituangkan dalam peraturan keanggotaan organisasi profesi tersebut sehingga mendorong para anggota agar tetap mengikuti perkembangan disiplin ilmu Teknologi Informasi (TI).
Oleh karena itu, perhimpunan profesi TI dapat mempeloporinya dengan memegang standard kompetensi yang kontinyu dalam profesi teknologi informasi. Standard kompetensi yang tepat dan teliti untuk profesi ini hanya memiliki sedikit relevansi jika tidak ada proses yang menjamin kemutakhiran pengetahuan profesi TI, artinya tenaga terampil IT yang telah memenuhi persyaratan kompetensi beberapa tahun yang lalu, belum tentu dapat memenuhi persyaratan sebagai profesional TI pada era 1990-an. Adapun tujuan khusus dari model pengembangan ini adalah :
a. Mempromosikan anggota IT agar mampu menunjukkan tingkat yang tinggi dalam pengembangan profesinya
b. Memberikan pengenalan formal terhadap prestasi seperti di atas. menjamin bahwa kesempatan pendidikan lanjut yang sesuai akan disediakan.
c. Media promosi karyawan yang berprofesi teknologi informasi sebagai bagian dari tugas normal karyawan.
d. Suatu metode untuk tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi, dan pengembangan profesi.
Hal ini sejalan dengan Kebijakan Australian Computer Society misalnya, mensyaratkan minimum 30 jam per tahun untuk mempertahankan status Practising Computer Professional (PCP). New Zealand Computer Society (NZCS) di pihak lain, mensyaratkan 10 jam pelatihan NZCS formal yang disahkan, dan 25 jam pelatihan pilihan yang relevan agar keanggotannya dalam perhimpunan dapat diperbaharui.
Didasarkan pada tujuan dan arah model pengembangan pendidikan IT tersebut, maka diperlukan dukungan dan pengakuan pemerintah dalam upaya mengembangkan mutu Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT, adapun bentuk nyata upaya-upaya yang dimaksud adalah :
1. Mengakreditasi dan melakukan pengakuan formal terhadap lembaga Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
2. Menghimbau kepada anggota masyarakat untuk ikut aktif dalam memsyarakatkan pendidikan IT
3. Memonitor mutu dan Program Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
4. Memberikan sertifikat bagi lembaga terbaik dalam menjalankan proses Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
5. Mempromosikan keuntungan program pengembangan profesi IT untuk anggota dan non-anggota profesi IT.
Model pelatihan pada awalnya berkembangan pada dunia usaha terutama melalui magang tradisional, dalam sebuah magang tradisional kegiatan belajar membelajarkan dilakukan oleh seorang warga belajar (sasaran didik) dan seorang sumber belajar (tutor), maka dalam perkembangan selanjutnya interaksi edukatif yang terjadi tidak hanya melalui perorangan akan tetapi terjadi melalui kelompok warga belajar (sasaran didik, sasaran pelatihan) yang memiliki kebutuhan dan tujuan belajar yang sama dengan seorang, dua orang, atau lebih pelatih (sumber belajar, trainers). Pelatihan sebagai sebuah konsep program yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang (sasaran didik), berkembang sangat pesat dan modern. Perkembangan model pelatihan (capacity building, empowering, training dll) saat ini tidak hanya terjadi pada dunia usaha, akan tetapi pada lembaga-lembaga profesional tertentu model pelatihan berkembang pesat sesuai dengan kebutuhan belajar, proses belajar ( proses edukatif), assessment, sasaran, dan tantangan lainnya (dunia global dll).
Ada beberapa model latihan yang dikembangkan para ahli yang disesuaikan dengan pendekatan, strategi serta materi latihan, model-model pelatihan tersebut sebenarnya sudah lama dikembangkan, namun sampai saat ini model-model tersebut masih tetap dipergunakan namun demikian proses dan langkah-langkahnya disesuaikan dengan perkembangan kemampuan sasaran pelatihan, masalah-masalah yang perlu dipecahkan, kebutuhan kurikulum dan metodelogi pelatihan itu sendiri. Pelatihan-pelatihan tersebut diantaranya adalah :
3)Model Latihan Keterampilan Kerja (Skill Training For The Job) model ini dikembangkan oleh Louis Genci (1966), yang mencakup empat langkah yang harus ditempuh dalam penyelenggaraan pelatihan.
1. Mengkaji alasan dan menetapkan program latihan. Kegiatan lainnya mencakup identifikasi kebutuhan, penentuan tujuan latihan, analisis isi latihan, dan pengorganisasian program latihan.
2. Merancang tahapan pelaksanaan latihan. Kegiatannya mencakup penentuan pertemuan-pertemuan formal dan informal selama latihan(training sessions), dan pemahaman terhadap masalah-masalah pada peserta latihan.
3. Memilih sajian yang efektif. Kegiatannya mencakup pemilihan dan penentuan jenis-jenis sajian, pengkondisian lingkungan termasuk di dalamnya penggunaan sarana belajar dan alat bantu, dan penentuan media komunikasi.
4. Melaksanakan dan menilai hasil latihan. Kegiatannya meliputi transformasi pengetahuan dan keterampilan dan nilai berdasarkan program latihan, serta evaluasi tentang perubahan tingkah laku peserta setelah mengikuti program latihan.
4) Model Rancang Bangun Latihan dan Evaluasi (Training Design and Evaluation Model) yang dikembangkan oleh Parker sebagaimana dimuat oleh Craig dalam buku Training and Development Handbook: A Guide to Human Resource Development (1976: 19-2). Model ini terdiri atas tujuh tahapan kegiatan (The Seven-step Model).
1. Melaksanakan identifikasi dan analisis kebutuhan latihan.
2. Merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan.
3. Merangcang kurikulum latihan.
4. Memilih dan mengembangkan metode latihan.
5. Menentukan pendekatan evaluasi latihan.
6. Melaksanakan program latihan.
7. Melakukan pengukuran hasil latihan. Langkah-langkah hendaknya secara berurutan.
Namun, hasil langkah ketujuh, yaitu pengukuran hasil latihan, dapat digunakan sebagai masukan bagi langkah kedua, yaitu untuk mengembangkan tujuan-tujuan latihan atau langkah pertama, yaitu untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan.
5) The Management of Training: A Handbook for Training and Development Personnel”, buku yang ditulis oleh Otto dan Glaser (1970), mengemukakan Model Pengembangan Strategi Latihan. Dalam model ini terdiri atas lima langkah kegiatan.
1. Menganalisis masalah latihan.
2. Merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan.
3. Memilih bahan latihan, media belajar, metode dan teknik latihan.
4. Menyusun kurikulum dan unit, mata latihan, dan topik latihan.
5. Menilai hasil latihan.
6) Crone dan Hunter (1980), dalam buku ”From the Field-Tested Participatory Activities for Trainer memaparkan Model Pelaksanaan Pelatihan yang terdiri atas empat langkah (model empat langkah).
1. Mempersiapkan kelompok belajar. Ke dalam langkah ini termasuk upaya menggali harapan warga berlajar terhadap program latihan, pembinaan keakraban dan kerjasama di antara mereka, pembagian sub-sub kelompok.
2. Mengidentifikasi kebutuhan belajar dan analisis tujuan latihan. Kegiatannya mencakup pengumpulan informasi tentang kebutuhan belajar para warga belajar dari para warga belajar, dan dari masyarakat dan lembaga terkait dengan tugas atau aktivitas warga belajar. Analisis tujuan latihan didasarkan atas kebutuhan belajar tersebut.
3. Memilih dan mengembangkan metode serta bahan belajar. Kegiatan ini mencakup analisis model tingkah laku yang sedang dan akan ditampilkan oleh warga belajar, menentukan bahan belajar dan tahapan pembelajaran, serta memilih teknik-teknik pembelajaran.
4. Menilai pelaksanaan dan hasil latihan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah menentukan strategi evaluasi terhadap proses dan perolehan latihan. Langkah-langkah tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
7) Model latihan lainnya dikembangkan oleh Centre for International Education (CIE) University of Massachusetts. Dengan model sembilan langkah. Urutan langkah model ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kebutuhan, sumber-sumber, dan kemungkinan hambatan.
2. Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus latihan.
3. Menyusun dan mengembangkan alat penilaian awal (pre-test) dan alat penilaian akhir (post-test) peserta latihan.
4. Menyusun urutan kegiatan latihan dan mengembangkan bahan belajar.
5. Melatih para pelatih dan staf program latihan.
6. Melakukan penilaian awal terhadap peserta latihan.
7. Melaksanakan program latihan.
8. Melakukan penilaian akhir terhadap peserta latihan.
9. Melakukan penilaian program latihan dan memberikan umpan balik. Umpan balik dari hasil evaluasi program dapat digunakan untuk kesembilan langkah tersebut diatas.
8) Model Latihan Partisipatif (Participatory Training Model). Pada Model pelatihan ini mencakup 10 langkah kegiatan berurutan yang dapat dilihat pada gambar sebagai berikut. Model pelatihan ini sebenarnya merupakan pembaharuan (inovasi) dari model-model yang telah diuraikan terdahulu. Model pembelajaran partisipatif sebenarnya menekankan pada proses pembelajaran, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibangun atas dasar partisipatif (keikutsertaan) peserta pelatihan dalam semua aspek kegiatan pelatihan, mulai dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan pembelajaran dalam pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya lebih ditekankan pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta.
Pada awal kegiatan pelatihan intensitas peranan pelatih adalah tinggi : Peranan ini ditampilkan dalam membantu peserta dengan menyajikan informasi mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan dengan melakukan motivasi dn bimbingan kepada peserta. Intensitas kegiatan pelatih (sumber) makin lama makin menurun sehingga perannya lebih diarahkan untuk memantau dan memberikan umpan balik terhadap kegiatan pelatihan dan sebaliknya kegiatan peserta pada awal kegiatan rendah, kegiatan awal ini digunakan hanya untuk menerima bahan pelatihan, informasi, petunjuk, bahan-bahan, langkah-langkah kegiatan dll. Kemudian partisipasi warga makin lama makin meningkat tinggi dan aktif membangun suasana pelatihan yang lebih bermakna.
Beberapa teknik yang dapat dipergunakan dalam model pelatihan ini adalah :
1. Teknik dalam tahap pembinaan keakraban : teknik diad, teknik pembentukan kelompok kecil, teknik pembinaan belajar berkelompok, teknik bujur sangkar terpecah
2. Teknik yang dipergunakan pada tahap identifikasi : curah pendapat, dan wawancara
3. Teknik dalam tahap perumusan tujuan : teknik Delphi dan diskusi kelompok (round table discussion)
4. Teknik pada tahap penyusunan program adalah : teknik pemilihan cepat(Q-shot technique) dan teknik perancangan program
5. Teknik yang dapat dipergunakan dalam proses pelatihan : Simulasi, studi kasus, cerita pemula diskusi (discussion starter story), Buzz group, pemecahan masalah kritis, forum, role play, magang, kunjungan lapangan dll
6. Teknik yang dapat dipergunakan dalam penilaian proses pelatihan, hasil dan pengaruh kegiatan : respon terinci, cawan ikan (fish bowl technique), dan pengajuan pendapat tertulis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar