Rabu, 01 Juni 2011

PENGEMBANGAN KURIKULUM PELATIHAN

UJIAN TENGAH SEMESTER
PROGRAM MEGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FKIP UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2011

MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM PELATIHAN
PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN
SEMESTER : 3 (TIGA)
DOSEN PENGAMPU : DR. ALEXON, M.Pd
:

SOAL :
Petunjuk Jawablah setiap pertanyaan dibawah ini dengan uraian kajian dan analisis konseptual yang kuat. Boleh berdiskusi dengan teman lain dalam mencari solusi soal,namun penuangannyan dalam tulisan ( redaksional ) tidak boleh sama (plagiat) Jawaban diketik di kertas ukuran kwarto (A4),1,5 spasi ,dijilid dan dikumpulkan tanggal 16 April 2011
1. Banyak pakar mengemukakan pandangan mengenai konsep kurikulum . Salah
seorang diantaranya adalah Hamid Hasan.Hamid Hasan mengemukakan 4 dimensi
kurikulum ,yakni ide,rencana,implementasi dan hasil
a. Bagaimana konsep dan komponen kurikulum menurut saudara?
b. Bagaimana pandangan saudara mengenai ke 4 dimensi kurikulum tersebut serta
bagimana keterkaitan konseptual diantaranya?
c. Bagaimana perbedaan konsepsional antara pendidikan dan pelatihan
d. Bagimana model pengembangan kurikulum yang sering di gunakan di Indonesia ?
2. Bagimana pendapat saudara mengenai konsep model pelatihan berbasis suatu
proses yang integral ?
3. Bagimana karakteristik rancangan kurikulum pelatihan berbasis pembelajaran ?
4. Jelaskan model model perancangan program pendidikan dan pelatihan yang saudara
ketahuin!

Good LuckSee More
5 hours ago • LikeUnlike
1.a. Bagaimana konsep dan komponen kurikulum menurut saudara?
Kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu,sekarang maupun yang akan datang. atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapi tujuan pendidikan.
a. Kurikulum adalah sebuah ide yang dihasilkan atas norma yang berlaku melalui teori dan penelitian dalam bidang pendidikan
b. Kurikulum sebagai suatu rencana yang diprogramkan secara sistimatik
c. Kurikulum sebagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang dan yang akan datang.
d. Kurikulum sebagai suatu kegiatan dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik
e. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan proses pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan dan norma-norma yang berlaku bagi tenaga kependidikan dan peserta didik

a. Konsep kurikulum
Dari zaman dahulu hingga sekarang banyak para pakar telah mengemukakan defenisi kurikulum. Jika kita ambil defenisi dari asal kata kurikulum,yakni dari bahassa latin “curriculae” yang artinya adalah jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Dan jika kita kaitkan dengan pendidikan berarti jangka waktu yang harus ditempuh seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu jenjang pendidikan hingga memperoleh ijazah.

Menurut Hamalik (2009:17), ada beberapa tafsiran dari kurikulum, yakni:
 Kurikulum, memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum disini diartikan sebagai sejumlah mata ajar (berisi maeri pelajaran) yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan
 Kurikulum sebagai rencana pembelajaran, dimana kurikulum dipandang sebagai suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa.dengan program tersebut siswa melakukan kegiatan belajar sehingga terjadi perobahan dan perkembangan tingkah laku sesuai dengn tujuan pembelajaran
 Kurikulum sebagai pengalaman belajar.artinya bahwa kegiatan kurikulum tidak hanya sebatas ruang kelas, melainkan mencakup kegiatan di luar kelas
Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.( http://sobatbaru.blogspot.com)
Dari pendapat para ahli diatas dapat kita simpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan serta pedoman yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar. Kurikulum juga dapat dikatan sebagai semua kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik baik itu di diruang kelas atau didalam kelas. Dengan kata lain bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang memuat pengaturan isi dan materi pelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar pada siswa guna mencapai tujuan pendidikan. Jadi kurikulum itu mencakup semua yang terlibat dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan /pembelajaran.

b. Komponen kurikulum
Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lainya. Komponen tersebut, baik secara sendiri maupun secara keseluruhan akan menjadi dasar dalam upaya pengembangan suatu sistem pembelajaran. Sebagai suatu sistem kurikulum memilki beberapa komponen sbb
 Tujuan kurikulum, dimana setiap satuan pendidikan kurikulumnya harus mengacu pada tujuan pendidikan Nasional. Dalam kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional umumnya dan meningkatkan sumber daya manusia pada khususnya. Tujuan ini disebut sebagai tujuan pendidikan Nasional umumnya dan meningkatkan sumber daya manusia pada khususnya. Tujuan ini disebut sebagai tujuan kurikulum secara umum. Tujuan umum ini kemudian dijabarkan menjadi tujuan-tujuan secara khusus (tujuan mata ajaran, tujuan khusus), yang kemudian dtetapkan dalam perencanaan materi pelajara.
 Materi kurikulum/pelajaran atau isi kurikulum. Menurut Undang-Undang Pendidikan tentang sistem Pendidikan Nasional ditetapkan bahwa”…isi kurikulum merupakan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraansatuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka pencapai tujan pendidikan Nasional”.(Hamalik,2009:25).
Isi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a) Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam PBM
b) Materi kurikulum mengacu pada masing-masing tujuan satuan pendidikan
c) Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional
Dalam mengembangkan materi pelajaran tentu kita tidak dapa terlepas dari tujuan pendidikan hingga tujuan pembelajaran yang hendak kita capai.
 Metode disini adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Strategi atau metode disini memuat kegiatan guru dan siswa sehingga tercapainya tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
 Organisasi kurikulum,yang terdiri dari beberapa bentuk, dengan ciri-ciri ;
(a) Mata pelajaran terpisah-pisah, tiap mata pelajaran disampaikan sendiri-sendiri, tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lain
(b) Mata ajaran-mata ajaran berkorelasi, dimana mata pelajaranya terpisah, namun materinya saling berkaitan
(c) Bidang studi (broad field), dimana beberapa mata ajaran sejenis dan memilki ciri yang sama dikorelasikandalam satu bidang pengajaran.
(d) Program yang berpusat pada anak, dimana kurikulum dititik beratkan pada kegiatan peserta didik, bukan pada mata ajaran
(e) Core program, artinya inti/pusat
(f) Electic program, merupakan suau program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang berpusat pada mata ajarandan yang berpusat pada peserta didik
 Evaluasi kurikulum, dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh suatu kurikulum. Dengan melakukan evaluasi kita dapat menentukan sejauh mana ketercapaian kurikulum, kesulitan yang ditemui, kekurangan dan kelemahan serta upaya yang ungkin dapat dilakukan untuk mengatasinya. Evaluasi juga memerikan gambaran tentang keputusan yang harus diambil dari suatu kurikulum yang sedag diterapkan. Evaluasi disini tentulah berpatokan pada tujuan yang ingin diselenggarakan.
1.c. Bagaimana pandangan saudara mengenai ke-4 dimensi kurikulum tersebut dan keterkaitan dengan konsepsionalnya?
 Kurikulum sebagai ide, mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya.
 Kurikulum sebagai rencana, Makna dari dimensi kurikulum iniadalah sebagai seperangkat rencana da cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu
 Kurikulum sebagai implementasi/ proses kegiatan, memandang kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.
 Kurikulum sebagai hasil, Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjadi tujuan dari kurikulum tersebut.
Keterkaian konsepsionalnya : suatu kurikulum pada awalnya berangkat dari suatu ide-ide yang dianggap baik, yang kemudian dituangkan dalam suatu rencana yang terorganisasi (tertulis dan tidak tertulis) guna mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tersebut diimplementasikan dalam suatu kegiatan oleh guru dan siswa pada proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tersebut kemudian dievaluasi guna menentukan apakah tujuan yang ditetapkan dapat tercapai atau tidak.
Dari beberapa sumber dijelaskan bahwa kurikulum memilki dimensi seperti, ide, rencana, implementasi dan hasil. Ke-4 dimensi tersebut memang sangat berhubung erat. Ke-4 dimensi tersebut salaing berkesinambungan, dimana kurikulumtersebut berangkat dari suatu ide hingga diimplementasikan dan di evaluasi. Jika salah satu diantaranya tidak ada,maka ia tidak akan ideal sebagai suatu kurikulum. Idelanya suatu kurikulum berangkat suatu ide yang kemudian dituangkan dalam sebuah rencana (tertulis) dan kemudian dimplementasikan dan dinilai.dengan kata lain bahwa dimensi kurikulum ini adalah suatu proses yang berkesinambungan dantidak dapat dipisahkan.
1.c. Bagaimana perbedaan konsepsional antara pendidikan dan pelatihan
Jika kita lihat antara konsep pelatihan dengan pendidikan mempunyai persamaan dan perbedaan, dimana kesamaanya adalah sama-sama bertujuan memberikan pengetahuan, namun cakupan aspek pengetahuanya berbeda. Dalam pelatihan, ilmu/pengetahuan diberikan secara spesifik sesuai dengan bidang kerjanya/keahlianya, namun dalam pendidikan, ilmu/pengetahuan yang diberikan lebih bersifat umum. Dilihat dari konsepnya antara pelatihan dan pendidikan memiliki konsep yang berbeda, berikut akan dikemukakan beberapa konsep tentang pendidikan :
 Pendidikan adalah : usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agarpeserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdsan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.(UUSPN No.20 tahun 2003 Bab 1 pasal 1)
Berikut adalah beberapa defenisi pendidikan menurut para ahli
1) Pendidikan adalah bimbigan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaanya dengan tujuan agar anakcukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.(Langeveld)
2) Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia (Jhon dewey)
3) Pendidikan menurut Driyakarya, dapat kita simpulkan sebagai memanusiakan anak atau manusia muda menjadi manusia purnawan
4) Menurut kihajar dewantara pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan bathin-karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak). (Tim pembina mata kuliah Pengantar Pendidikan,2006:27)
Dari beberapa konsep yang dikemukakan diatas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah : adalah usaha (membimbing, mengajar, melatih) secara sadar yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk membantu peserta didik untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan mengembangkan nilai-nilai dalam usaha mencapai tujuan pendidikan baik dilakukan melalui jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Jadi pendidikan mengandung ciri sbb :
1) Pendidikan adalah usaha sadar dari pendidik
2) Usaha tersebut mempunyai tujuan yang ingin dicapai (tujuan umum dan khusus)
3) Dalam pencapaian tujuan pendidikan, anak didik perlu diikut sertakan secara aktif, baik dengan pemberian bimbingan, pengajaran dan pelatihan
4) Kegiatan tersebut terselenggara dalam jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah
5) Pendidikan ditempuh dengan jangka waktu tertentu (relatif lama)
Dengan demikian pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam mencapai keberhasilan perkembangan anak. Disamping jangka waktu yang ditempuh dalam menyelesaikan jenjang pendidikan relatif lama, cakupan aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh peserta didikpun lebih luas (aspek kognitif, afektif dan psikomotor)
 pelatihan adalah juga proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik dan metode tertentu. Secara konsepsional dapat dikatakan bahwa latihan dimaksudkan untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan kerja seseorang atau sekelompok orang. Biasanya sasaranya adalah seseorang atau sekelompok orang yang sudah bekerja pada suatu organisasi yang efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerjanya dirasakan perlu dan dapat ditingkatkan secara terarah dan progmatik.
Berikut akan dikemukakan beberapa konsep tentang pelatihan menurut beberapa para ahli :
 Pelatihan Menurut Gomes (1997 : 197), “Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya
 Pelatihan menurut Gary Dessler (1997 : 263) adalah “Proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”.
 Sedangkan menurut John R. Schermerhorn, Jr (1999 : 323), pelatihan merupakan “Serangkaian aktivitas yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan dan meningkatkan ketrampilan yang berkaitan dengan pekerjaan”.( http://jurnal-sdm.blogspot.com)
 Menurut Mathis (2002), Pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi (http://teorionline.wordpress.com)
 Pelatihan didefinisikan oleh Ivancevich sebagai “usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya segera”.
Dari beberapa defenisi diatas dapat kita simpulkan bahwa pelatihan adalah proses mengajarkan suatu pengetahuan/keterampilan terhadap karyawan/orang dengan tujuan agar dapat meningkatkan kualitas kinerjanya sesuai dengan bidang kerjanya, sehingga dapat membantu tercapainya tujuan organisasi.
Jadi kita lihat dari segi konsepsionalnya, antara pendidikan dan pelatihan mempunyai perbedaan yang esensial, yakni terletak pada tujuanya, dimana pendidikan bertujuan untuk memberikan pengetahuan (bersifat umum) sedangkan pelatihan bertujuan memerikan keterampilan (bersifat khusus) sesuai dengan bidang kerjanya. Jika kita uraikan secara rinci, perbedaan antara pendidikan dan pelatihan adalah sbb :
Dari segi tujuan, dimana pendidikan bertujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan (secara umum) sesuai dengan tingkat perkembangan anak, sedangkan pelatihan disusun berdsrkan kebutuhan bidang kerjanya
Dalam prosesnya, pendidikan berusaha mngembangkan seluruh aspek kemampuan (kognitif, afektif dan psikomotor), sedangkan dalam pelatihan hanya satu aspek saja, yakni aspek psikomotor, karena yang diharapkan dari suatu pelathan adalah meningkatkan keterampilan karyawan yang dilatih.
Untuk menyelesaikan suatu jenjang pendidikan biasanya orang membutuhkan jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pelatihan
Pada penndidikan materi yang diajarkan lebih bersifat umum dan lebih kompleks sedangkan pada pelatihan materinya cenderung lebih spesifik sesuai dengan bidang kerjanya
Pada saat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan ia akan memperoleh ijazah atau gelar sesuai dengan tingkat pendidikan/bidang khusus pendidikanya, sedangkan pada pelatihan akan diberikan sertifikat (surat keterangan)
1.d. Bagimana model pengembangan kurikulum yang sering di gunakan di Indonesia ?
Ada beberapa model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli dalam (Sugiarto dalam http://soegiartho.abatasa.com), antara lain :
1) Model pengembangan kurikulum Rogers
 Model I, dimana pendidikan dipandang sebagai suatu kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran)
 Model II, merupakan perkembangan dari model I, dimana sudah dipikirkan tentang organisasi, bahan pelajaran dan metode
 Model III, merupakan penyempurnaan model II, dimana unsur teknologi pendidikan sudah dimasukkan
 Model IV, merupakan penyempurnaan model III,dimana tujuan sudah dimasukkan sehingga mengikuti perkembangan lainya
2) Model pengembangan Zais
 Model administratif (atas ke bawah)
Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Model administrative / disebut juga model garis staf atau model dari atas ke bawah
 Model Grass Root (bawah Ke Atas)
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah

 Model Beuchamp
Sesuai dengan namanya, model ini diformulasikan oleh GA. Beucamp, yaitu mengemukakan lima langkah penting dalam pengambilan keputusan pengambangan kurikulum, yaitu :
1) Menentukan arena pengambangan kurikulum yang dilakukan, yaitu berupa kelas, sekolah, system persekolahan regional atau nasional.
2) Memilih dan kemudian mengikut sertakan pengembang kurikulum yang terdiri atas spesialis kurikulum, kelompok professional, penyuluh pendidikan dan orang awam.
3) Mengorganisasikan dan menentukan perencanaan kurikulum yang meliputi penentuan tujuan, materi dan kegiatan belajar.
4) Merapatkan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis di sekolah.
5) Melakukan penilaian.

 Model Terbalik Hilda Taba
Model ini dikembangkan dengan cara induktif, itulah sebabnya disebut sebagai model terbalik. Model ini diawali justru dengan percobaan, kemudian baru penyusunan dan kemudian penerapan
Pengembangan model ini dilakukan dengan lima tahap, yaitu :
1) Menyusun unit-unit kurikulum yang ada dan diujicobakan oleh staf pengajar.
2) Mengujicobakan untuk mengetahui kesahihan dan kelayakan kegiatan belajar mengajar.
3) Menganalisis dan merevisi hasil ujicoba, serta mengkonsolidasikannya.
4) Menyususn kerangka teroritis.
5) Menyususn kurikulum yang dikembangkan secara menyeluruh dan mengumumkannya




2. Bagaimana Pendapat Saudara Mengenai Konsep model pelatihan sebagai suatu proses yang integral
Manajemen suatu pelatihan terdiri atas proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Proses tersebut merupakan suatu siklus yang integral. Dimana proses proses tersebut dilakukan secara sistematis dan terarah. Antara suatu proses dengan proses lainya saling terkait. Jika suatu proses tidak dilaksanakan, maka akan mengganggu pada bagian lain. Itulah sebabnya proses tersebut disebut sebagai suatu proses yang integral, artinya tidak dapat dipisah-pisahkan dan saling berkaitan.Adapun konsep model pelatihan sebagai suatu proses yang integral digambarkan dengan diagram dibawah ini (sumber :Pusdiklat Kesehatan RI,2003:9)










Penjelasan :
a. Pengkajian kebutuhan pelatihan
b. Proses perumusan tujuan
Dalam proses perumusan suatu tujuan haruslah dilakukan dengan teliti, dimana tujuan haruslah dirumuskan berdasarkan kebutuhan keterampilan/pengetahuan yang dibutuhkan calon peserta pelatihan dan disesuaikan dengan tuntutan profesi (berdsarkan kesenjangan kinerja). Dengan mengetahui kesenjangan yang terjadi,maka dirumuskanlahtujuan pelatihan dalam bentuk kompetensi yang harus dimilikipesera setelh mengikuti pelatihan. Tujuan yang dirumuskan tersebut haruslah jelas, terukur dan dapat dicapai.

c. Proses merancang program pelatihan
Tahap selanjutnya, adalah tahap merancang program pelatihan, dimana kompetensiyang dirumuskan tersebut dijabarkan dalam suatu bentuk kegiatan operasional yang dapat diukur. Pada proses ini akan menghasilkan :
1) Kurikulum berbasis kompetensi yng harus dicapai dan diuraikan dalam bentuk : (a) materi pelatihan (sesuai dengan kompetensi yang diharapkan), (b) metode penyampaian materi (sesuai dengan tujuan yang ditetapkan), (c) proses pembelajaran tiap sesi, (d) proporsi dan alokasi waktu setiap bentuk kegiatan pelatihan.
2) Metode penyelenggaraan pelatihan, apakah dalam bentuk pelatihan dalam kelas, lokakarya, pembelajaran jarak jauh atau magang.
3) Rancanagan alur pelatihan


d. Proses pelaksanaan program pelatihan
Merupakan serangkaian kegiatan pelaksanaan dari program pelatihan yang telah direncanakan/dirancang berdasarkan ketiga proses sebelumnya. Dengan demikian diharapkan kompetensi yang ditetapkan dapat tercapai. Tahap ini juga melalui sebuah persiapan untuk menghasilkan komponen seperti :Kerangka acuan, jadwal pelatihan, pelatihan yang sesuai dengan kriteria, kelengkapan sarana dan prasarana, master of training, dan format yang dibutuhkan
Selama proses pelatihan berlangsung kegiatan pemantauan dan pengendalian harus terus dilakukan. Hal ini bertujuan agar proses pelatihan berjalan menurut perencanaan sebelumnya.
e. Proses evaluasi program pelatihan
Evaluasi disini adalah suatu kegiatan penilaian terhadap pelaksanaan program pelatihan. Adapun yang dievaluasi disini adalah menyangkut seluruh aspek yang terlibat dalam suatu pelatihan, baik itu peserta, pelatih, penyelenggara dan ketercapaia tujuan pelatihan. Terdapat 3 tahap evaluasi pelatihan, yakni
1) Penilaian tahap pra pelatihan, dengan komponen : peserta, kurikulum, pelatih dan institusi penyelenggara
2) Penilaian tahap selama pelatihan, mencakup input, proses dan output
3) Penilaian paska pelatihan, yakni setelah pelatihan, meliputi : hasil pelatihan dan dampak pelatihan (terutama terhadap peserta pelatihan)

Kelima proses ini saling berhubungan antara satu dengan lainya dan merupakan suatu proses yang berkesinambungan. contohnya seperti evaluasi, evaluasi harus mengacu pada tujuan pelatihan dan kebutuhan pelatihan, begitupun dengan proses pelaksanaan program pelatihan. Kelima proses ini tidak dapat dihilangkan, saling terkait dan merupakan suatu proses dalam pelatihan. Itulah sebanya model ini disebut sebagai suatu proses yang integral.
3. Karakteristik rancangan kurikulum pelatihan berbasis pembelajaran
Kurikulum berbasis pembelajaran adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang ditata dalam bentuk rencana proses pembelajaran pada pelatihandengan penekanan pada penggunaan berbagai metode pembelajaran sesuai dengan tujuan pelatihan sehingga setelah pelatihan peserta memperoleh peningkatan kompetensi yang dibutuhkan (Depkes RI,2003:14). Adapun karakteristik kurikulumberbasis pembelajaran ini adalah :
a. Dirancang berbasis kompetensi yaitu kurikulum dirancang untuk memenuhi pencapaian kompetensi yang harus dimiliki peserta latih (konsep dasar Competency Based Training/CBT). Artinya berdasarkan kompetensi atau tugas-tugas yang relevan dengan bidang keja peserta pelatihan. Kompetensi tersebut dideskripsikan secara jelas tentang apa yang harus dikerjakan, indikator ketercapaian kompetensi dan semuanya harus dikuasai dan dicapai secara lengkap oleh peserta pelatihanihan
b. Isi pelatihan diorientasikan pada kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas tertentu, artinya isi pelatihan atau penentuan materi pelatihan didasarkan atas kebutuhan bidang kerja peserta pelatihan. Materi pelatihan haruslah lebih spesifik, mengacu pada bidang yang lebih khusus sesuai dengan bidang kerja peserta pelatihan, mendukung tercapainya kompetensi yang ditetapkan
c. Proporsi waktu dengan persentase waktu terbesar untuk aktifitas peserta pelatihan. Artinya waktu yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk beraktifitas lebih besar dibanding waktu penyajian materi pelatihan oleh tutor, sehingga tujuan pelatihan untuk meningkatkan kinerja karyawan tercapai.biasanya pesentasenya berkisar 20-30% untuk penyajian materi dan 60-70% adalah aktifitas dari peserta pelatihan. Artinya porsi untuk praktek lebih besar dibanding dengan materi. Dengan demikan peserta dituntut untuk lebih aktif, hingga mampu menguasai kompetensi yang ditetapkan.
d. Pelatihan dapat berupa on job, off job atau kombinasi keduanya, artinya waktu peserta mengikuti pelatihan dapat dalam keadaan sambil bekerja(on job'4T pv1qBBelum bekerja ataupun kombinasi keduanya
 On job, artinya peserta pelatihan dalam mengikuti pelatihan juga dalam eadaan bekerja. Misalnya pelatihan pemanfaatan media bagi guru-guru SD, diadakan pada siang hari sehabis jam sekolah, artinya guru tersebut paginya mengajar (bekerja)dan siangnya mengikuti pelatihan
 Off job, artinya peserta pelatihan tidak sambil bekerja, misalnya pelatihan bagi calon pegawai baru disebuah perusahaan
 Kombinasi keduanya, artinya kombinasi antara on job dengan of job. Misalnya pelatihan pemanfaatan media bagi guru SD. Setelah peserta pelatihan mnerima materi pelatihan, mereka kembali kesekolah masing-masing dan menerapkan apa yang mereka pelajari,kemudian mereka kembali lagi ke tempat pelatihan untuk mengadakan review.
e. Pengujian berdasarkan kompetensi tertentu, artinya pengujian dilakukan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari suatu pelatihan sesuai dengan kompetensi dan materi pelatihan
f. Pengujian dilakukan jika peserta pelatihan sudah siap, artinya peserta pelatihan dapat menentukan waktu dilakukanya pengujian terhadap ketercapaian kompetensi pelatihan. Jika saat mengikuti pelatihan tentang penyusunan katalog bagi pegawai perpustakaan, setelah mengikuti pelatihan peserta diminta untuk menerapkanya dalam bidang kerjanya, setelah mereka benar-benar paham dengan apa dan bagaimana cara penyusunaan katalog tersebut, mereka (peserta pelatihan) dapat kembali ke Diklat untuk dilakukan pengujian tentang kompetensi yang diharapkan
g. Learner’s Oriented dimana Pelatihan dilakukan dengan berbagai metode yang menekankan pada keaktifan peserta pelatihan. Anatra lain dengan diskusi interaktif, peserta dengan pelatihan, peserta dengan pelatih, bermain peran, simulasi, latihan/praktek untuk penguasaan kompetensi. Leaners’s Oriented ini ditandai dengan
 Keterlibatan penuh dari peserta
 Memberikan kebebasan kepada peserta
 Kerjasama murni
 Variasi dan keragaman dalam metode belajar
 Adanya motivasi internal dari peserta (bukan hanya motivasi eksternal)
 Adanya kegembiraan dan kesenangandalam belajar
 Integrasi belajar yang lebih menyeluruh kedalam segenap kehidupan organisasi
h. Pelatih, akan berusaha untuk merangsang peserta pelatihan dengan pertanyaan-pertanyan terbuka, mengembangkan berbagai skenario pembelajaran dan berbagai alternatif metoda, sehingga peserta pelatihan benar-benar aktif
i. Pengujian menekankan pada kesanggupan untuk menstransfer pengetahuan dan keterampilan pada situasi baru
Singkatnya bahwa pelatihan lebih fokus pada peserta (berorientasi kepada pembelajar) ditandai dengan pembelajaran aktif (diskusi interaktif antar peserta dan antara peserta dengan pelatih, studi kasus, permainan peran, simulasi, latihan/praktik untuk mencapai kompetensi) yang diamati oleh fasilitator/ pelatih serta berkurangnya peran tradisional fasilitator/ pelatih (berceramah, memberikan instruksi, dan menguji yang bersifat hafalan bukan nalar). Pelatih merangsang diskusi dengan pertanyaan terbuka (problem posing), mengembangkan berbagai skenario pembelajaran dengan berbagai alternatif metode guna merangsang keaktifan peserta pelatihan.
4. Jelaskan model model perancangan program pendidikan dan pelatihan yang saudara ketahui!

Desain merupakan rancangan atau rencana yang akan dilaksanakan dalam suatu pendidikan atau pelatihan dari awal sampai akhir. Desain makro atau rancangan secara luas, artinya desain tersebut digunakan secara luas dalam suatu lembaga atau instansi yang bersangkutan, misalnya dalam suatu sekolah atau suatu perusahaan. Desain mikro atau desain yang lingkupnya kecil, artinya bahwa desain tersebut digunakan hanya pada satu bidang keilmuan saja, misalnya hanya dalam satu mata pelajaran saja.

1) Model Pengembangan Pendidikan IT
Dunia Teknologi Informasi berkembang dua kali lipat setiap lima tahun, sehingga perlu pengembangan kontinu dan berkesinambungan sejalan dengan tutuntan dunia industri. Selain itu, pengembangan IT memungkinkan untuk mendapat ketrampilan dan pengetahuan baru bagi para tenaga terampil bidang IT.
Adapun bentuk pengembangan yang dimaksud berupa “Cyber Campus System” yaitu suatu Model pengembangan Pendidikan IT secara terpadu, berkesinambungan dan bermutu sesuai tuntutan dunia Industri dalam bentuk ; pelatihan dan pengembangan profesi IT, Sekolah menengah Informatika dan Politeknik Informatika sebagai suatu rangkaian yang utuh.
Guna mempermudah penyampaiannya, maka dalam tulisan pertama ini hanya membahas Model pertama yaitu pelatihan dan pengembangan profesi IT selanjutnya akan disusul dengan tulisan kedua dan ketiga.
2) Model Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
Model ini bersifat short course dalam upaya mengaplikasikan pendidikan berkesinambungan atau pendidikan sepanjang hayat. Menurut sebagian besar organisasi-organisasi profesi TI di seluruh dunia, melalui model ini diharapkan para anggotanya dapat menambah ketrampilan dan pengetahuan baru serta up to date. Ketentuan ini dituangkan dalam peraturan keanggotaan organisasi profesi tersebut sehingga mendorong para anggota agar tetap mengikuti perkembangan disiplin ilmu Teknologi Informasi (TI).
Oleh karena itu, perhimpunan profesi TI dapat mempeloporinya dengan memegang standard kompetensi yang kontinyu dalam profesi teknologi informasi. Standard kompetensi yang tepat dan teliti untuk profesi ini hanya memiliki sedikit relevansi jika tidak ada proses yang menjamin kemutakhiran pengetahuan profesi TI, artinya tenaga terampil IT yang telah memenuhi persyaratan kompetensi beberapa tahun yang lalu, belum tentu dapat memenuhi persyaratan sebagai profesional TI pada era 1990-an. Adapun tujuan khusus dari model pengembangan ini adalah :
a. Mempromosikan anggota IT agar mampu menunjukkan tingkat yang tinggi dalam pengembangan profesinya
b. Memberikan pengenalan formal terhadap prestasi seperti di atas. menjamin bahwa kesempatan pendidikan lanjut yang sesuai akan disediakan.
c. Media promosi karyawan yang berprofesi teknologi informasi sebagai bagian dari tugas normal karyawan.
d. Suatu metode untuk tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi, dan pengembangan profesi.

Hal ini sejalan dengan Kebijakan Australian Computer Society misalnya, mensyaratkan minimum 30 jam per tahun untuk mempertahankan status Practising Computer Professional (PCP). New Zealand Computer Society (NZCS) di pihak lain, mensyaratkan 10 jam pelatihan NZCS formal yang disahkan, dan 25 jam pelatihan pilihan yang relevan agar keanggotannya dalam perhimpunan dapat diperbaharui.
Didasarkan pada tujuan dan arah model pengembangan pendidikan IT tersebut, maka diperlukan dukungan dan pengakuan pemerintah dalam upaya mengembangkan mutu Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT, adapun bentuk nyata upaya-upaya yang dimaksud adalah :
1. Mengakreditasi dan melakukan pengakuan formal terhadap lembaga Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
2. Menghimbau kepada anggota masyarakat untuk ikut aktif dalam memsyarakatkan pendidikan IT
3. Memonitor mutu dan Program Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
4. Memberikan sertifikat bagi lembaga terbaik dalam menjalankan proses Pelatihan dan Pengembangan Profesi IT
5. Mempromosikan keuntungan program pengembangan profesi IT untuk anggota dan non-anggota profesi IT.
Model pelatihan pada awalnya berkembangan pada dunia usaha terutama melalui magang tradisional, dalam sebuah magang tradisional kegiatan belajar membelajarkan dilakukan oleh seorang warga belajar (sasaran didik) dan seorang sumber belajar (tutor), maka dalam perkembangan selanjutnya interaksi edukatif yang terjadi tidak hanya melalui perorangan akan tetapi terjadi melalui kelompok warga belajar (sasaran didik, sasaran pelatihan) yang memiliki kebutuhan dan tujuan belajar yang sama dengan seorang, dua orang, atau lebih pelatih (sumber belajar, trainers). Pelatihan sebagai sebuah konsep program yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang (sasaran didik), berkembang sangat pesat dan modern. Perkembangan model pelatihan (capacity building, empowering, training dll) saat ini tidak hanya terjadi pada dunia usaha, akan tetapi pada lembaga-lembaga profesional tertentu model pelatihan berkembang pesat sesuai dengan kebutuhan belajar, proses belajar ( proses edukatif), assessment, sasaran, dan tantangan lainnya (dunia global dll).
Ada beberapa model latihan yang dikembangkan para ahli yang disesuaikan dengan pendekatan, strategi serta materi latihan, model-model pelatihan tersebut sebenarnya sudah lama dikembangkan, namun sampai saat ini model-model tersebut masih tetap dipergunakan namun demikian proses dan langkah-langkahnya disesuaikan dengan perkembangan kemampuan sasaran pelatihan, masalah-masalah yang perlu dipecahkan, kebutuhan kurikulum dan metodelogi pelatihan itu sendiri. Pelatihan-pelatihan tersebut diantaranya adalah :
3) Model Latihan Keterampilan Kerja (Skill Training For The Job) model ini dikembangkan oleh Louis Genci (1966), yang mencakup empat langkah yang harus ditempuh dalam penyelenggaraan pelatihan.
1. Mengkaji alasan dan menetapkan program latihan. Kegiatan lainnya mencakup identifikasi kebutuhan, penentuan tujuan latihan, analisis isi latihan, dan pengorganisasian program latihan.
2. Merancang tahapan pelaksanaan latihan. Kegiatannya mencakup penentuan pertemuan-pertemuan formal dan informal selama latihan(training sessions), dan pemahaman terhadap masalah-masalah pada peserta latihan.
3. Memilih sajian yang efektif. Kegiatannya mencakup pemilihan dan penentuan jenis-jenis sajian, pengkondisian lingkungan termasuk di dalamnya penggunaan sarana belajar dan alat bantu, dan penentuan media komunikasi.
4. Melaksanakan dan menilai hasil latihan. Kegiatannya meliputi transformasi pengetahuan dan keterampilan dan nilai berdasarkan program latihan, serta evaluasi tentang perubahan tingkah laku peserta setelah mengikuti program latihan.
4) Model Rancang Bangun Latihan dan Evaluasi (Training Design and Evaluation Model) yang dikembangkan oleh Parker sebagaimana dimuat oleh Craig dalam buku Training and Development Handbook: A Guide to Human Resource Development (1976: 19-2). Model ini terdiri atas tujuh tahapan kegiatan (The Seven-step Model).
1. Melaksanakan identifikasi dan analisis kebutuhan latihan.
2. Merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan.
3. Merangcang kurikulum latihan.
4. Memilih dan mengembangkan metode latihan.
5. Menentukan pendekatan evaluasi latihan.
6. Melaksanakan program latihan.
7. Melakukan pengukuran hasil latihan. Langkah-langkah hendaknya secara berurutan.
Namun, hasil langkah ketujuh, yaitu pengukuran hasil latihan, dapat digunakan sebagai masukan bagi langkah kedua, yaitu untuk mengembangkan tujuan-tujuan latihan atau langkah pertama, yaitu untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan.
5) The Management of Training: A Handbook for Training and Development Personnel”, buku yang ditulis oleh Otto dan Glaser (1970), mengemukakan Model Pengembangan Strategi Latihan. Dalam model ini terdiri atas lima langkah kegiatan.
1. Menganalisis masalah latihan.
2. Merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan latihan.
3. Memilih bahan latihan, media belajar, metode dan teknik latihan.
4. Menyusun kurikulum dan unit, mata latihan, dan topik latihan.
5. Menilai hasil latihan.
6) Crone dan Hunter (1980), dalam buku ”From the Field-Tested Participatory Activities for Trainer memaparkan Model Pelaksanaan Pelatihan yang terdiri atas empat langkah (model empat langkah).
1. Mempersiapkan kelompok belajar. Ke dalam langkah ini termasuk upaya menggali harapan warga berlajar terhadap program latihan, pembinaan keakraban dan kerjasama di antara mereka, pembagian sub-sub kelompok.
2. Mengidentifikasi kebutuhan belajar dan analisis tujuan latihan. Kegiatannya mencakup pengumpulan informasi tentang kebutuhan belajar para warga belajar dari para warga belajar, dan dari masyarakat dan lembaga terkait dengan tugas atau aktivitas warga belajar. Analisis tujuan latihan didasarkan atas kebutuhan belajar tersebut.
3. Memilih dan mengembangkan metode serta bahan belajar. Kegiatan ini mencakup analisis model tingkah laku yang sedang dan akan ditampilkan oleh warga belajar, menentukan bahan belajar dan tahapan pembelajaran, serta memilih teknik-teknik pembelajaran.
4. Menilai pelaksanaan dan hasil latihan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah menentukan strategi evaluasi terhadap proses dan perolehan latihan. Langkah-langkah tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
7) Model latihan lainnya dikembangkan oleh Centre for International Education (CIE) University of Massachusetts. Dengan model sembilan langkah. Urutan langkah model ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kebutuhan, sumber-sumber, dan kemungkinan hambatan.
2. Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus latihan.
3. Menyusun dan mengembangkan alat penilaian awal (pre-test) dan alat penilaian akhir (post-test) peserta latihan.
4. Menyusun urutan kegiatan latihan dan mengembangkan bahan belajar.
5. Melatih para pelatih dan staf program latihan.
6. Melakukan penilaian awal terhadap peserta latihan.
7. Melaksanakan program latihan.
8. Melakukan penilaian akhir terhadap peserta latihan.
9. Melakukan penilaian program latihan dan memberikan umpan balik. Umpan balik dari hasil evaluasi program dapat digunakan untuk kesembilan langkah tersebut diatas.
8) Model Latihan Partisipatif (Participatory Training Model). Pada Model pelatihan ini mencakup 10 langkah kegiatan berurutan yang dapat dilihat pada gambar sebagai berikut. Model pelatihan ini sebenarnya merupakan pembaharuan (inovasi) dari model-model yang telah diuraikan terdahulu. Model pembelajaran partisipatif sebenarnya menekankan pada proses pembelajaran, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibangun atas dasar partisipatif (keikutsertaan) peserta pelatihan dalam semua aspek kegiatan pelatihan, mulai dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan pembelajaran dalam pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya lebih ditekankan pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta.
Pada awal kegiatan pelatihan intensitas peranan pelatih adalah tinggi : Peranan ini ditampilkan dalam membantu peserta dengan menyajikan informasi mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan dengan melakukan motivasi dn bimbingan kepada peserta. Intensitas kegiatan pelatih (sumber) makin lama makin menurun sehingga perannya lebih diarahkan untuk memantau dan memberikan umpan balik terhadap kegiatan pelatihan dan sebaliknya kegiatan peserta pada awal kegiatan rendah, kegiatan awal ini digunakan hanya untuk menerima bahan pelatihan, informasi, petunjuk, bahan-bahan, langkah-langkah kegiatan dll. Kemudian partisipasi warga makin lama makin meningkat tinggi dan aktif membangun suasana pelatihan yang lebih bermakna.
Beberapa teknik yang dapat dipergunakan dalam model pelatihan ini adalah :
1. Teknik dalam tahap pembinaan keakraban : teknik diad, teknik pembentukan kelompok kecil, teknik pembinaan belajar berkelompok, teknik bujur sangkar terpecah
2. Teknik yang dipergunakan pada tahap identifikasi : curah pendapat, dan wawancara
3. Teknik dalam tahap perumusan tujuan : teknik Delphi dan diskusi kelompok (round table discussion)
4. Teknik pada tahap penyusunan program adalah : teknik pemilihan cepat(Q-shot technique) dan teknik perancangan program
5. Teknik yang dapat dipergunakan dalam proses pelatihan : Simulasi, studi kasus, cerita pemula diskusi (discussion starter story), Buzz group, pemecahan masalah kritis, forum, role play, magang, kunjungan lapangan dll
6. Teknik yang dapat dipergunakan dalam penilaian proses pelatihan, hasil dan pengaruh kegiatan : respon terinci, cawan ikan (fish bowl technique), dan pengajuan pendapat tertulis.



Sumber Naskah : Surya Wijaya
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1992). Undang-Undang Republik Indonesia dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Bagian Proyek Pengembangan Ketenagaan Diklusepora Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Pemuda, dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
2. Laird, Dugan. (1985). Approaches to Training and Development. Second Edition. Addison-Wesley Publishing Company.
3. Mustopa Kamal (2003). Model-model pelatihan. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
4. Rosset, Allison & W. Arwady, Joseph. (1987). Training Needs Assessment. Educational Technology Publications Englewood Cliffs, New Jersey.
5. Sudjana, D., (1993), Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung, Nusantara Press.
6. UNESCO, (1993), Appeal Traning Material for Continuing Education Personnel (ATLP-CE). Continuing Education: New polices and Directions. UNESCO Principal Regional Office Asia and the Pacific.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar