Kamis, 27 November 2008

Datangnya Hari Akhir



Titik yang lebih ditekankan adalah sisi sifat dari dajjal itu. Berulang dalam artikel tersebut( yang dikirm ke ana) dalil-dalil kedatangan dajjal disebutkan jadi bukan tidak mungkin dajjal itu sekarang ada dalam bentuk manusia. Sebagaimana kita tahu salah satu kriteria dajjal adalah menawarkan kebahagiaan dunia dan menakut-nakuti dengan kesengsaraan didalamnya dimana keduanya merupakan kebalikan dari kebahagian dan kesengsaraan hakiki. Karena kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki tidak mungkin bisa diteraplakukan didunia yang tidak hakiki. sehingga jelas bahwa yang mampu diberika oleh dajjal hanya bersifat duniawi masih terbatasi dengan batas-batas tertentu. walau begitu pada saat kita tidak memiliki kesiapan diri maka hal itu perlu menjadi sumber kegelisahan diri kita.Jadi kesimpulannya kita harus siap dengan sudah datang atau belum datangnya dajjal dalam bentuk apapun dia.

Dajjal disebut-sebut sebagai salah satu tanda akan datangnya hari kiamat, namun hal itu bisa kita sebut sebagai tanda sekunder, karena ada tanda-tanda lain yang lebih pasti datangnya. dan berdampak secara langsung dalam kehidupan sosial spiritual kita. ketika tanda yang akan ana sampaikan dibawah ini tidak kita cermati secara benar maka ada noktah penting yang akan tertinggal dari kehidupan kita. mengapa ana menyampaikan seperti itu? Dengan meneliti salah satu bagian uraian yang tertuang apik dalam Al Qur’an kita akan tahu tanda yang berpengaruh secara langsung dalam kehidupan dan keberadaan kita di alam materiil ini.

Dalam Al Qur’an karim disebutkan Dan kami hendak memberikan karunia pada orang yang tertindas dibumi dan hendak menjadikan mereka (sebagai) pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi (Qasas : 5 )

Dikatakan bahwa Allah berjanji akan menjadikan dari orang yang sebelumnya tertindas menjadi seorang pemimpin di bumi dan ditekankan juga bahwa kepadanya akan diberikan warisan berupa bumi. Hal yang melintas dibenak kita adalah sudah terealisasikah janji Allah Swt ini? Siapakah orang yang memiliki kelayakan untuk menerima karunia besar ini. Mungkinkah janji Allah terkait masalah kekhalifahan dibumi ini diberikan pada orang dzalim, atau sembarangan orang? Kita semua pasti sepakat bahwa kepemimpinan ini hanya layak sampai pada orang dengan Kriteria khusus. Disinggung dalam Quran surah As Sajdah : 24

Dan kami jadikan diantara mereka pemimpin-pemimpin (imam) yang memberi petunjuk sesuai dengan perintah kami selama mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kam (As Sajdah : 24)

Dari sini sangat jelas sekali bahwa Allah SWT lah yang berkehendak untuk meng-adakan-seorang imam dari umat manusia. Menyitir hal ini sangat tepat kalau kita merujuk pada doa yang disampaikan oleh salah seorang nabi dibawah ini.

……dan jadikanlah kami para pemimpin (imam) dari orang-orang yang beriman Furqon : 74

Menanggapi harapan ini jawaban yang tertuang dalam quran berupa " inna ngahdi layanalul ahdidholimin". Bahwa janji Allah(untuk menjadikan seorang menjadi seorang imam dari para muttaqin) tidak mengenai (didapatkan) orang-orang yang dholim. Jadi Allah mengabulkan permintaan Nbai itu namun dengan persyaratan tertentu yaitu hanya dari keturunan nabi tersebut yang tidak melakukan perbuatan dzalim. Secara nalar kita pun terima, karena tidak mungkin seorang beriman dan bertaqwa disuruh untuk mengikuti dan mentaati orang dzhalim. Dan dalam tinjauan nilai fitriah kita pun mengatakan hal sama bahwa kita semua ingin dipimpin oleh sosok-sosok sempurna dengan segala kriteria kesempurnaan yang utuh.

Akan sangat menarik kalau kita maju selangkah lagi untuk menemui sosok-sosok yang memiliki kriteria khas sebagai seorang pemimpin sebagaimana sudah kita ulas diatas. Pada saat Nabi agung Muhammad Saaw ditantang beradu argument untuk saling melaknat dengan orang nasrani sehingga pihak yang sesat akan ditimpai azab, hal ini direpresentasikan dalam kitab suci Al Quran dalam surah Ali Imron : 61, yang perlu kita perhatikan disini ternyata orang –orang yang diajak oleh beliau adalah putri beliua, menantu beliau dan kedua cucu beliau, Fathimah, Ali, Hasan, dan Husain alaihimussalam. Dengan alasan apakah pribadi yang tidak pernah melakukan sesuatu kecuali sesuai isi wahyu Allah ini memilih orang-orang tersebut? Mungkinkah hal itu terjadi hanya sebagai suatu kebetulan semata? Bukankah Nabi juga memiliki istri yang lain yang bisa diajak kenapa hal ini tidak dilakukan?. Dalam shohih muslim jilid dua bab keutamaan Ahlul bait disebutkan bahwa pada saat ada yang bertanya siapakah ahlul bait yang dimaksud dalam surah Al Ahzab : 33 adalah Nabi itu sendiri, Ali Fathimah Hasan dan Husain. Hal ini memperjelas bahwa memang orang-orang tersebut adalah orang yang telah meraih kemuliaan yang diberikan Allah. Sehingga orang-orang ini layak untuk menduduki tampuk kepemimpinan atau juga sering disebut sebagai keimamahan di muka bumi.

Disebutkan juga bahwa likulli qoumin haadin, bahwa setiap umat memiliki seorang pemberi petunjuk. Pada saat zaman orang-orang istimewa tersebut tidak ada sedikit keraguan bahwa orang-orang tersebutlah yang menjadi seorang pemimpin yang bertugas memberi petunjuk pada seluruh umat. Begitu juga untuk zaman-zaman setelah orang-orang tesebut. Para imam selalu ada dan tidak akan pernah terputus hingga akhir zaman. Dalam beberapa ayat dapat kita temukan bahwa ketika masyarakat menemui suatu kesulitan atau ketidakjelaasan untuk bertanya pada ahli dzikr ( An Nahl : 43). Dikatakan juga bahwa Allah telah memilih diantara hamba-hamba-Nya untuk mewarisi ilmu Al Qura’an( Al father : 32) jelaslah bahwa orang-orang itu harus memiliki semua criteria ini. Sekarang siapakah orang yang memiliki kriteria kepemimpinan ini? Siapakah orang itu? Kita kembali menyimak Ayat yang menyatakan pelantikan seorang washi setelah kepergian Nabi Muhammad saaw. Pada saat prosesi pelantikan itu Allah menyatakan bahwa jika nabi tidak melakukan tugas itu maka segala jerih payah dalam menghadapi peperangan dan sikap kaum kafir yang sangat buruk pada saat nabi berdakwah tidak ada artinya sama sekali ( Al Maidah : 67) tugas tersebut adalah tugas untuk menyampaikan pada seluruh masyarakat bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah orang yang mendapat mandat dari Allah untuk melanjutkan misi dakwah Nabi yang belum “tuntas”. Orang yang menjadi calon pemimpin bumi sebagaimana dijanjikan oleh allah adalah keturunan dari orang yang telah dilantik oleh nabi agung Muhammad yaitu Muhammad Al Mahdi bin Hasan al Asykari. Orang yang mengenal sosok pemimpin zamannyalah yang akan selamat dikemudian nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar